0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan21 halaman

Imunitas

imunitas

Diunggah oleh

Hakameri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan21 halaman

Imunitas

imunitas

Diunggah oleh

Hakameri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sistem imun merupakan mekanisme pertahanan tubuh sebagai perlindungan dari bahaya

berbagai bahan dalam lingkungan yang dianggap asing bagi tubuh seperti bakteri, virus,

jamur, parasit dan protozoa (Abbas et al., 2015; Baratawidjaja & Rengganis, 2009;

Benjamini et al., 2000). Ketika daya tahan tubuh lemah maka agen infektif akan dengan

mudah menembus pertahanan tubuh dan menyebabkan penyakit. Oleh karena itu, upaya

meningkatkan sistem imun menjadi penting untuk dilakukan, salah satunya adalah dengan

menggunakan imunomodulator khususnya yang bersifat imunostimulan.

Imunomodulator merupakan bahan atau agen yang dapat berinteraksi dengan sistem imun

dan meyebabkan peningkatan atau penurunan aspek spesifik respon imun. Beberapa

tanaman yang berpotensi sebagai imunomodulator antara lain meniran (Phyllanthus niruri

L.), sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) dan keladi tikus (Typhonium flagelliformae

(Lodd.) Blume). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak tunggal

herba meniran (Ash, 2012; Nworu et al., 2010; Lestarini, 2008; Eze et al., 2014), daun sirih

merah (Hartini, 2014; Apriyanto, 2011) dan umbi keladi tikus (Handayani, 2012; Titania,

2012; Daulay, 2012; Sriyanti, 2012) telah terbukti mampu meningkatkan respon imun.

Untuk meningkatkan efek terapetik dan meminimalisasi timbulnya efek samping 2


maka kombinasi obat atau herbal biasanya dilakukan dengan menggabungkan beberapa

obat atau herbal dengan dosis yang lebih kecil daripada dosis optimumnya.

Penelitian sebelumnya menggunakan kombinasi ekstrak etanolik herba meniran, daun

sirih merah dan umbi keladi tikus oleh Vania (2014) dan Diarini (2014) dengan

perbandingan 50mg EMN : 25mg ESM : 100mg EKT menunjukkan bahwa kombinasi

ketiganya pada dosis 10mg/kgBB, 50mg/kgBB dan 100mg/kgBB tidak mempengaruhi

aktivitas fagositosis makrofag dan proliferasi sel limfosit mencit. Pemberian fraksi

n-heksana ekstrak etil asetat dan ekstrak metanol meniran pada dosis 100mg/kgBB mencit

dapat meningkatkan repson imun nonspesifik (aktivitas fagositosis makrofag) dan respon

imun spesifik (meningkatkan prolifersi limfosit dan titer antibodi primer dan sekunder)

(Aldi et al., 2013; Eze et al., 2014). Ekstrak etanolik daun sirih merah pada dosis

100mg/kgBB dapat meningkatkan indeks fagsitosis tetapi tidak mempengaruhi kapasitas

fagositosis dan tidak meningkatkan proliferasi limfosit tikus (Apriyanto, 2011) dan

berdasarkan penelitian Nurrochmad et al. (2015) pemberian ekstrak etanolik umbi keladi

tikus dosis 250mg/kgBB pada tikus yang diinduksi CPA dapat meningkatkan kemampuan

fagositosis makrofag, sel T CD8+ dan mengurangi efek imunosupresi pada proliferasi

limfosit.

Berbeda dengan penelitian Vania (2014) dan Diarini (2014), dalam penelitian ini dosis

kombinasi ekstrak yang digunakan adalah 25%, 50% dan 75% dari dosis optimum

masing-masing ekstrak tunggal sehingga dosis kombinasinya 3


menjadi 12,5mg/kgBB EMN + 25mg/kgBB ESM + 62,5mg/kgBB EKT, 25mg/kgBB EMN +

50mg/kgBB ESM + 125mg/kgBB EKT dan 37,5mg/kgBB EMN + 75mg/kgBB ESM +

187,5mg/kgBB EKT. Pemilihan dosis optimum tersebut mengacu pada penelitian Aldi et al.

(2013), Eze et al. (2014), Apriyanto (2011) dan Nurrochmad et al. (2015) setelah terlebih

dahulu dilakukan konversi dosis ke tikus.

B. Rumusan Masalah

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Sistem Imun

Kata imun berasal dari bahasa Latin immunis yang berarti bebas dari beban (Benjamini et al.,

2000). Dahulu imunitas diartikan sebagai daya tahan realtif hospes terhadap mikroba tertentu

(Bellanti, 1985). Sistem imun adalah semua mekanisme yang digunakan tubuh untuk

mempertahankan keutuhannya sebagai perlindungan terhadap bahaya yang ditimbulkan

berbagai bahan dalam lingkungan hidup yang dianggap asing bagi tubuh (Baratawidjaja,

2000; Benjamini et al., 2000). Mekanisme tersebut melibatkan gabungan sel, molekul, dan

jaringan yang berperan dalam resistensi terhadap infeksi yang disebabkan oleh berbagai

unsur patogen yang terdapat di lingkungan sekitar kita seperti virus, bakteri, fungus,

protozoa dan parasit (Kresno, 1996; Baratawidjaja & Rengganis, 2009). Sedangkan reaksi
yang dikoordiansi oleh sel-sel, molekul-molekul dan bahan lainnya terhadap mikroba

disebut dengan respon imun (Baratawidjaja & Rengganis, 2009). 6


Sistem imun memiliki tiga fungsi yaitu fungsi pertahanan (melawan patogen, fungsi

homeostasis (mempertahankan keseimbangan kondisi tubuh dengan cara memusnahkan

sel-sel yang sudah tidak berguna) dan pengawasan (surveillance). Pada fungsi pengawasan

dini (surveillance) sistem imun akan mengenali sel-sel abnormal yang timbul di dalam tubuh

dikarenakan virus maupun zat kimia. Sistem imun akan mengenali sel abnormal tersebut dan

memusnahkannya. Fungsi fisiologis sistem imun yang terpenting adalah mencegah infeksi

dan melakukan eradikasi terhadap infeksi yang sudah ada (Abbas et al., 2014).

Respon imun ada dua yaitu imunitas alamiah atau nonspesifik/

natural/innate/native/nonadaptif dan imunitas dapatan atau spesifik/adaptif/ acquired.

Gambar 1. Mekanisme imunitas bawaan dan imunitas adaptif (Abbas et al., 2014).
Mekanisme imunitas bawaan merupakan pertahanan awal melawan infeksi. Sedangkan

respon imun adaptif timbul setelahnya dan dimediasi oleh limfosit dan produknya. Antibodi

mengeblok infeksi dan mengeliminasi mikroba, eradikasi mikroba ekstrasel dilakukan oleh

sel T. Kinetika respon imun bawaan dan adaptif berbeda tergantung dari jenis infeksinya. 7
a. Respon imun nonspesifik

Respon imun nonspesifik merupakan imunitas bawaan (innate imunity) dimana respon

imun terhadap zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar oleh

zat tersebut (Kresno, 1996). Imunitas nonspesifik berperan paling awal dalam pertahanan

tubuh melawan mikroba patogen yaitu dengan menghalangi masuknya mikroba dan dengan

segera mengeliminasi mikroba yang masuk ke jaringan tubuh (Abbas et al., 2014). Respon

imun jenis ini akan selalu memberikan respon yang sama terhadap semua jenis agen infektif

dan tidak memiliki kemampuan untuk mengenali agen infektif meskipun sudah pernah

terpapar sebelumnya. Yang termasuk dalam respon imun nonspesifik adalah pertahanan

fisik, biokimia, humoral dan seluler (Baratawidjaja & Rengganis, 2009).

b. Respon imun spesifik

Respon imun spesifik merupakan respon yang didapat dari stimulasi oleh agen infektif

(antigen/imunogen) dan dapat meningkat pada paparan berikutnya. Target dari respon imun

spesifik adalah antigen, yaitu suatu substansi yang asing (bagi hospes) yang dapat

menginduksi respon imun spesifik (Benjamini et al., 2000). Antigen bereaksi dengan T-cell

Receptor (TCR) dan antibodi. Antigen dapat berupa molekul yang berada di permukaan

unsur patogen maupun toksin yang diproduksi oleh antigen yang bersangkutan.

Ada tiga tipe sel yang terlibat dalam respon imun spesifik yaitu sel T, sel B dan APC

(makrofag dan sel dendritik) (Benjamini et al., 2000). Respon imun 8


spesifik meliputi aktivasi dan maturasi sel T, sel mediator dan sel B untuk memproduksi

antibodi yang cukup untuk melawan antigen (Kresno, 1996). Pada hakekatnya respon imun

spesifik merupakan interaksi antara bebagai komponen dalam sistem imun secara

bersama-sama.

Respon imun spesifik terdiri dari respon imun seluler (cell-mediated immunity) dan respon

imun humoral. Perbedaan kedua respon imun tersebut terletak pada molekul yang berperan

dalam melawan agen infektif, namun tujuan utamanya sama yaitu untuk menghilangkan

antigen (Benjamini et al., 2000). Respon imun seluler diperlukan untuk melawan mikroba

yang berada di dalam sel (intraseluler) seperti virus dan bakteri. Respon ini dimediasi oleh

limfosit T (sel T) dan berperan mendukung penghancuran mikroba yang berada di dalam

fagosit dan membunuh sel yang terinfeksi. Beberapa sel T juga berkontribusi dalam

eradikasi mikroba ekstraseluler dengan merekrut leukosit yang menghancurkan patogen dan

membantu sel B membuat antibodi yang efektif (Abbas et al., 2015).

Agen infektif yang berada di luar sel dapat dilawan dengan respon imun humoral. Respon ini

dimediasi oleh serum antibodi, suatu protein yang disekresikan oleh sel B (Benjamini et al.,

2000). Sel B berdiferensiasi menjadi satu klon sel plasma yang memproduksi dan

melepaskan antibodi spesifik ke dalam darah serta membentuk klon sel B memori

(Kresno,1996). Sel B menghasilkan antibodi yang spesifik untuk antigen tertentu. Antibodi

ini berikatan dengan antigen membentuk suatu kompleks antigen-antibodi yang 9


dapat mengaktivasi komplemen dan mengakibatkan hancurnya antigen tersebut (Kresno,

1996).

Respon imun humoral ada dalam darah dan cairan sekresi seperti mukosa, saliva, air mata

dan ASI. Elemen lain yang berperan penting dalam respon imun humoral adalah sistem

komplemen. Sistem komplemen diaktivasi oleh reaksi antara antigen dan antibodi. Ketika

aktif sistem komplemen akan melisiskan sel target atau meningkatkan kemampuan

fagositosis sel fagosit (Benjamini et al., 2000).

Interaksi respon imun seluler dengan humoral disebut antibody dependent cell mediated

cytotoxicity (ADCC) karena sitolisis baru terjadi bila dibantu antibodi. Dalam hal ini

antibodi berfungsi melapisi antigen sasaran sehingga sel NK dapat melekat pada sel atau

antigen sasaran dan menghancurkannya (Kresno,1996).

2. Imunomodulator

Imunomodulator adalah berbagai macam bahan baik rekombinan, sintetik maupun alamiah

yang merupakan obat-obatan yang digunakan dalam imunoterapi yang dapat

mengembalikan dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu atau untuk

menekan yang fungsinya berlebihan (Baratawidjaja, 2000). Pengaruh senyawa tersebut

terhadap respon imun dapat tergantung pada dosis, rute pemberian dan waktu pemberian.

Imunoterapi merupakan suatu pendekatan pengobatan dengan cara merestorasi,

meningkatkan atau mensupresi respon imun. 10


Ada dua cara mekanisme kerja dari obat imunomodulator yaitu up regulation (menguatkan

sistem imun tubuh/imunostimulasi dan imunorestorasi) dan down regulation (menekan

reaksi sistem imun yang berlebihan atau imunosupresi) (Baratawidjaja, 2000).

Imunostimulasi adalah cara memperbaiki fungsi sistem imun menggunakan bahan yang

merangsang sistem tersebut. Bahan yang dapat menginduksi atau meningkatkan sistem imun

disebut dengan imunomostimulan, yang diperlukan pada pengobatan penyakit infeksi,

imunodefisiensi dan keganasan (kanker). Imunorestorasi adalah suatu cara mengembalikan

fungsi sistem imun yang terganggu dengan memberikan berbagai komponen sistem imun,

seperti immunoglobulin dalam bentuk immune serum globulin (ISG), hyperimmune serum

globulin (HSG), plasma, transplantasi sumsum tulang, jaringan hati, timus, plasmaferesis,

dan leukoferesis (Baratawidjaja, 2000). Imunosupresi merupakan tindakan menekan respon

imun. Senyawa yang dapat menekan respon imun disebut dengan imunosupresan.

Penekanan sistem imun diperlukan pada beberapa kondisi misalnya transplantasi organ dan

penyakit inflamasi yang menimbulkan kerusakan atau gejala sistemik seperti autoimun atau

auto inflamasi (Baratawidjaja, 2000).

3. Makrofag

Sel fagosit mononuklear adalah sel efektor yang berperan penting dalam imunitas

nonspesifik maupun imunitas spesifik. Sel fagosit mononuklear yang paling dominan adalah

makrofag. Makrofag berperan penting dalam pertahanan hospes karena memproduksi

sitokin yang menginisiasi dan meregulasi inflamasi. 11


Makrofag akan memakan dan menghancurkan mikroba, serta membersihkan jaringan

yang mati dan menginisiasi proses perbaikan jaringan (Abbas et al., 2014). Makrofag

berperan dalam imunitas nonspesifik melalui aksi fagositosis mikroba dan produksi sitokin

yang selanjutnya akan mengaktifkan mediator-mediator inflamasi. Sedangkan dalam

imunitas spesifik makrofag berperan sebagai efektor yang mengekspresikan protein mikroba

yang telah difagosit kepada sel T. Selanjutnya sel T akan menstimulasi makrofag untuk

menghancurkan mikroba tersebut. Pada permukaan makrofag terdapat reseptor untuk

antibodi yang apabila diduduki oleh antibodi akan memicu fagositosis makrofag (Abbas et

al., 2015).

Sel ini berasal dari sel induk pluripoten yang mengalami diferensiasi menjadi sel

pre-monosit yang meninggalkan sumsum tulang dan masuk ke dalam sirkuasi untuk

selanjutnya berdiferensiasi menjadi monosit matang (Baratawidjaja & Rengganis, 2009).

Monosit adalah fagosit yang didistribusikan secara luas di organ limfoid dan organ lainnya,

berperan sebagai APC yang akan mengenal dan menyerang mikroba dan sel kanker,

memproduksi sitokin, mengarahkan pertahanan sebagai respon terhadap infeksi, remodeling

dan perbaikan jaringan (Baratawidjaja & Rengganis, 2009). Sel monosit yang matang akan

bermigrasi ke berbagai jaringan untuk berdiferensiasi menjadi makrofag jaringan spesifik

dengan berbagai fungsi. Makrofag yang hidup dalam jaringan sebagai makrofag residen

(fixed macrophage) berbentuk khusus tergantung jaringan yang ditempati, misalnya di usus

(makrofag intestinal), kulit (sel dendritik atau sel Langerhans), 12


paru (makrofag alveolar, sel Langerhans), hati (sel Kuppfer), otak (sel mikroglia), ginjal (sel

mesangial), jaringan ikat (histosit), tulang (osteoklas) dan cairan peritoneum (makrofag

peritoneal) (Baratawidjaja & Rengganis, 2009).

Makrofag memiliki dua fungsi utama yaitu menelan dan menghancurkan agen infektif

yang masuk ke dalam tubuh serta mengambil antigen dan memprosesnya untuk kemudian

menyajikan antigen tersebut pada permukaannya kepada sel T. Fungsi makrofag yang

kedua disebut dengan Antigen Presenting Cell (APC). Makrofag dan monosit dapat hidup

lama, mempunyai beberapa granul dan melepas berbagai bahan di antaranya lisozim,

komplemen, interferon dan sitokin yang semuanya berkontribusi dalam pertahanan

nonspesifik maupun spesifik.


Gambar 2. Tahapan fagositosis mikroba oleh sel fagosit (Abbas et al., 2014). Mikroba

yang masuk ke dalam tubuh akan berikatan dengan reseptor sel fagosit kemudian membran

sel fagosit akan mengelilingi mikroba yang terikat tadi dan pada akhirnya mikroba akan

dicerna di dalam fagosom. Di dalam sel fagosit terjadi fusi antara fagosom dan lisosom

membentuk fagolisosom. Sel fagosit menghasilkan ROS, NO dan enzim lisosomal dalam

fagolisosom sehingga menyebabkan mikroba mati.


Makrofag yang teraktivasi adalah makrofag yang memiliki kemampuan membunuh

mikroba yang lebih berkembang dibanding makrofag yang tidak aktif (Coligan et al., 2010).

Makrofag diaktivasi oleh berbagai rangsangan misalnya LPS (Lipopolisakarida) yang

dihasilkan bakteri, IFN-γ yang diproduksi oleh sel NK dan aktivasi TLR (Toll-like Receptor)

oleh ligan PAMPs (Pathogen Associated Molecular Patterns) (Baratawidjaja & Rengganis,

2009; Coligan et al., 2010). Makrofag yang aktif dapat menangkap, memakan dan mencerna

antigen eksogen, seluruh mikroba, partikel tidak larut dan bahan endogen seperti sel pejamu

yang cedera atau mati karena makrofag akan menghasilkan NO, TNF dan IL-12 (Coligan et

al., 2010). Penghancuran mikroorganisme atau antigen terjadi dalam beberapa tingkat yaitu

kemotaksis, menangkap, memakan, fagositosis, memusnahkan dan mencerna (Baratawidjaja

& Rengganis, 2009). Fagositosis merupakan proses ingesti partikel yang dilakukan oleh sel

fagosit. MAF (Macrophage Activating Factor) adalah kemoatraktan untuk makrofag

(Bellanti, 1985). Fagositosis yang efektif pada invasi dini antigen dapat mencegah terjadinya

infeksi. Sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik. Aktivitas

fagositosis makrofag dapat ditentukan dengan menghitung indeks dan kapasitas

fagositosisnya.

4. Limfosit

Limfosit merupakan turunan dari sel darah putih (leukosit) yang berperan penting dalam

sistem kekebalan tubuh dalam melawan berbagai penyakit infeksi. Limfosit berasal dari sel

induk ploripoten yang berdiferensiasi melalui jalur 14


limfoid di dalam hati, sumsum tulang, dan timus sehingga menjadi beberapa kelas utama

(Kresno, 1996). Limfosit terdiri atas sel T (TH, TC, TR), sel B dan sel NK (Baratawidjaja &

Rengganis, 2009). Sel T berdiferensiasi di dalam timus, sedangkan sel B berdiferensiasi di

dalam sumsum tulang belakang dan organ limfoid perifer. Pada burung sel B

berdiferensiasi dalam bursa Fabricius (Baratawidjaja & Rengganis, 2009). Sel B

mengalami maturasi menjadi sel plasma, atau sel B memori di bawah pengaruh makrofag.

Sel T dibedakan menjadi sel TH (CD4+) yang dapat mengenali antigen, sel T supresor yang

mengatur dan sel TC (CD8+) yang langsung memusnahkan zat asing. Beberapa sel CD4+

termasuk dalam subset sel T spesial karena berfungsi mencegah atau membatasi respon

imun, yaitu limfosit T regulatori (TR) (Abbas et al., 2014). Sel NK termasuk dalam

kelompok limfosit granuler besar yang memiliki banyak sitoplasma, granul plasma

azurofilik, pseudopodia dan nukleus eksentris (Baratawidjaja & Rengganis, 2009).

Limfosit mampu mengenali antigen secara spesifik karena mempunyai reseptor pada

permukaannya yang mampu mengenal antigen tertentu. Reseptor tersebut pada sel T disebut

dengan TCR dan surface immunoglobulin (sIg) pada sel B (Kresno, 1996). Limfosit B

memiliki protein marker surface immunoglobulin M (sIgM), sedangkan marker protein pada

limfosit T adalah limfosit TC berupa CD8+ dan limfosit TH berupa CD4+ (Shen & Louie,

2005). Sel T CD4+ memiliki peran yang sangat penting dalam imunitas spesifik yaitu

membantu APC dan T CD8+ memulai respon imun spesifik. Secara umum, 15
limfosit yang teraktivasi akan segera membelah/berproliferasi dan mengekspresikan serta

memproduksi sitokin yang dapat mengaktivasi proliferasi limfosit dalam organ limfoid

(Baratawidjaja, 2000; Delves et al., 2011). Respon proliferasi limfosit terhadap antigen

hanya terjadi jika pasien sudah diimunisasi dengan antigen, sudah sembuh dari infeksi

mikroorganisme yang mengandung antigen, atau sudah divaksinasi.

Selain aktivitas fagositosis makrofag, perubahan respon imun dapat diukur dari jumlah

proliferasi limfosit. Uji proliferasi limfosit dapat dilakukan dengan mengukur kemampuan

limfosit yang ditempatkan pada short-term tissue culture untuk membentuk suatu koloni

proliferasi ketika distimulasi oleh molekul asing, antigen atau mitogen secara in vitro

(Anonim, 2000). Salah satu metode yang dapat digunakan dalam uji proliferasi limfosit

adalah MTT reduction. Penentuan sel dengan metode MTT biasanya digunakan untuk

mengukur pertumbuhan sel sebagai respon terhadap adanya mitogen, stimulasi antigenik,

growth factor dan reagen lain yang memicu pertumbuhan sel, untuk studi sitotoksisitas dan

dalam derivasi kurva pertumbuhan sel (Anonim, 2007).

Di dalam mitokondria sel hidup terdapat enzim mitokondria dehidrogenase yang dapat

memotong cincin tetrazolium pada MTT

(3-(4,5-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyltetra-zolium bromide) dan membentuk kristal

ungu formazan. Absorbansi dari larutan berwarna ungu tersebut dapat dikuantifikasi dengan

pengukuran panjang gelombang 500-600 nm. Peningkatan jumlah sel ditunjukkan 16


dengan peningkatan jumlah formazan MTT yang terbentuk dan peningkatan absorbansi.

5. Antibodi

Antibodi atau yang disebut juga imunoglobulin merupakan molekul glikoprotein yang terdiri

atas komponen polipeptida sebanyak 82-96% dan selebihnya karbohidrat (Kresno, 1996).

Antibodi dibentuk oleh sel B sebagai respon atas adanya antigen yang bersifat imunologik

masuk ke dalam tubuh dan berperan dalam respon imun humoral. Antibodi yang terbentuk

bersifat spesifik terhadap antigen. Interaksi antara antigen dengan membran antibodi pada

sel B naive, menyebabkan terjadinya respon imun humoral. Setelah disekresikan ke dalam

sirkulasi darah dan cairan mukosal, antibodi akan menetralkan dan mengeliminasi mikroba

dan toksin mikroba yang berada di luar sel inang (Abbas et al., 2014).

Antibodi memiliki dua fungsi yaitu fungsi netralisasi (mengikat antigen) dan fungsi efektor

yang diperantarai antibodi (Kresno, 1996). Fungsi efektor terdiri atas netralisasi mikroba

atau produknya yang toksik, aktivasi sistem komplemen, opsonisasi antigen, lisis sel target

dan hipersensitivitas tipe segera. Molekul antibodi dibentuk sel B dalam dua bentuk yaitu

sebagai reseptor permukaan antigen dan sebagai antibodi yang disekresikan ke dalam cairan

ekstraseluler. Pengikatan antigen harus disertai dengan fungsi efektor sekunder agar antigen

terikat kuat dengan imunoglobulin. Fungsi efektor sekunder yaitu memacu aktivasi

komplemen dan merangsang pelepasan hitamin oleh basofil atau 17


sel mast. Opsonisasi antigen oleh imunoglobulin memudahkan APC memproses dan

menyajikan antigen kepada sel T.


Gambar 3. Respon imun primer dan sekunder sel B (Abbas et al., 2014). Antigen X dan

Y akan menginduksi produksi antibodi yang berbeda, yang merefleksikan spesifisitas

antibodi tersebut. Respon sekunder terhadap antigen X lebih cepat dan besar dibandingkan

dengan respon primer dan berbeda dengan respon primer terhadap antigen Y. Level produksi

antibodi dinyatakan sebagai nilai arbitrari dan bervariasi tergantung tipe antigen yang

memapar. Setelah imunisasi, repon imun primer akan muncul 1-3 minggu sedangkan respon

imun sekunder muncul akan muncul 2-7 hari tetapi kecepatannya sangat dipengaruhi oleh

antigen dan sifat imunisasi.

Antibodi/imunoglobulin dapat ditemukan dalam berbagai cairan tubuh seperti darah, air

mata, saliva dan ASI. Imunoglobulin memiliki 5 kelas utama yaitu IgG, IgA, IgM, IgD dan

IgE. Klasifikasi ini dilakukan berdasarkan perbedaan struktur kimia yang mengakibatkan

perbedaan sifat biologis maupun fisik. Imunoglobulin memiliki dua bentuk yaitu sIg dan Ig.
Perbedaannya adalah pada domain terminal-C, di mana sIg memiliki bagian transmembran

dan bagian intrasitoplasmik yang lebih pendek (Kresno, 1996).

Kadar antibodi dalam darah dapat meningkat karena adanya respon primer dan respon

sekunder terhadap antigen yang masuk ke dalam tubuh. Salah satu cara yang digunakan

untuk mendeteksi antibodi atau antigen dalam sampel ialah dengan Enzym Linked

Immunosorbent Assay (ELISA). Metode ELISA dapat dikelompokkan menjadi ELISA

langsung, ELISA tidak langsung, ELISA antibody-sandwich, ELISA double

antobody-sandwich, ELISA direct cellular dan ELISA indirect cellular (Coligan et al.,

2010). Prinsip dasar ELISA adalah bahwa suatu antibodi dapat mengenali satu epitop

tertentu secara spesifik dan membentuk kompleks antigen-antibodi yang kemudian

divisualisasikan dengan cara menambahkan antibodi kedua yang dikonjugasikan dengan

enzim. Pemaparan substrat pada kompleks tadi akan menghasilkan warna yang dapat diukur

intensitasnya.

Anda mungkin juga menyukai