Karakterisasi Tepung Terigu Komersial
Karakterisasi Tepung Terigu Komersial
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknologi Pertanian
pada
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
DAFTAR GAMBAR
1 Diagram alir tahapan penelitian karakterisasi tepung terigu komersial
protein tinggi 10
2 Diagram alir pembuatan roti tawar 13
3 Grafik tinggi dan lebar roti tawar dari berbagai tepung terigu protein
Tinggi 23
4 Grafik perimeter roti tawar dari berbagai tepung terigu protein tinggi 24
5 Grafik uji sensori parameter volume roti tawar 25
6 Grafik uji sensori parameter color of crust roti tawar 26
7 Grafik uji sensori parameter evenness of bake roti tawar 27
8 Grafik uji sensori parameter symetry of form roti tawar 27
9 Grafik uji sensori parameter character of crust roti tawar 28
10 Grafik uji sensori parameter break and sherd roti tawar 29
11 Fisik eksternal roti tawar (a-i) 30
12 Grafik uji sensori parameter grain roti tawar 31
13 Grafik uji sensori parameter color of crumb roti tawar 31
14 Grafik uji sensori parameter aroma roti tawar 32
15 Grafik uji sensori parameter taste roti tawar 33
16 Grafik uji sensori parameter texture roti tawar 34
17 Grafik uji sensori parameter mastication and chewability roti tawar 35
18 Fisik internal roti tawar (a-i) 36
DAFTAR LAMPIRAN
1.1 Sensory form untuk uji skoring roti tawar 42
2.1 Hasil uji statistik ANOVA pada parameter eksternal
roti tawar tepung terigu komersial protein tinggi 43
2.2 Hasil uji statistik ANOVA pada parameter internal
roti tawar tepung terigu komersial protein tinggi 46
3.1 Hasil uji statistik ANOVA tinggi, lebar dan perimeter 50
4.1 Hasil uji korelasi kadar protein dan kadar gluten 51
4.2 Hasil uji korelasi reologi adonan terhadap komposisi kimia
tepung terigu 52
4.3 Hasil uji korelasi unit operasi pembuatan roti tawar terhadap
komposisi kimia tepung terigu 53
4.4 Hasil uji korelasi unit operasi pembuatan roti tawar terhadap
parameter reologi adonan 54
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Gandum (Titricum aesticum L.) merupakan komoditas seralia yang berasal dari
daerah subtropik dan merupakan bahan dasar dalam pembuatan berbagai makanan yang
penting di dunia. Gandum dapat memenuhi sumber kalori serta protein bagi manusia.
Menurut FAO (2013), pada tahun 2012 produksi gandum di dunia mencapai 675.1 juta
ton. Sebagian besar gandum diolah menjadi tepung terigu, dan sekitar 55% dari tepung
terigu digunakan di industri roti dan confectionery.
Kebutuhan tepung terigu di Indonesia saat ini terus meningkat. Asosiasi Produsen
Tepung Terigu Indonesia (APTINDO) (2015) melaporkan bahwa terjadi kenaikan
konsumsi terigu nasional pada tahun 2013 sebanyak 5.35 juta metrik ton atau sekitar
4,1% dibandingkan tahun 2012 dan pada tahun 2014 semester pertama terjadi kenaikan
sebanyak 2.78 juta metrik ton atau sebesar 5.4% dibanding jumlah konsumsi pada tahun
2013 disemester pertama. Hal ini mendorong minat para investor untuk menanamkan
modal dalam pasar tepung terigu di Indonesia. Sepanjang tahun 2014-2015 terdapat 6
Flour Mills di Indonesia. Hal tersebut menumbuhkan persaingan diantara produsen
tepung terigu terutama dalam segi kualitas produk sehingga dapat diterima oleh pasar
dalam skala besar dan mampu bersaing secara kompetitif. Oleh sebab itu, diperlukan
informasi mengenai karakteristik fisikokimia tepung terigu komersial yang beredar di
pasaran untuk mengetahui kualitas, keunggulan dan kelemahan dari masing-masing
tepung guna memperbaiki kualitas tepung terigu dari suatu produsen tepung terigu.
Kualitas tepung terigu dapat diketahui melalui beberapa pengujian diantaranya,
sifat kimia tepung terigu, fisik (reologi) adonan tepung terigu, aplikasinya dalam proses
pembuatan produk, serta sifat fisik dan sensori produk. Karakteristik sifat kimia tepung
terigu dapat diketahui melalui analisis kadar air, abu, protein dan gluten. Karakteristik
fisik tepung terigu dapat dilihat dari sifat reologi adonan terutama sifat kekuatan adonan
saat proses pencampuran. Menurut Wheat Marketing Center (2004) karakteristik tepung
terigu dapat diketahui dengan cara baking test untuk mengetahui performa tepung terigu
pada proses pembuatan produk akhir serta memprediksi kegunaanya secara komersial.
Produk yang digunakan untuk mempelajari kualitas tepung terigu pada penelitian ini
adalah roti tawar. Roti tawar merupakan salah satu pangan yang banyak dikonsumsi
oleh masyarakat luas dengan harga yang relatif murah sehingga mudah dijangkau oleh
berbagai kalangan. Selain itu, roti tawar juga dapat dikonsumsi secara langsung maupun
diaplikasikan dengan produk lainnya. Menurut Muchtadi dan Suginono (2013), dalam
pembuatan produk roti dan produk sejenisnya yang memerlukan fermentasi sebaiknya
digunakan tepung terigu dengan kadar protein tinggi (kadar glutenin dan gliadinnya
tinggi) karena gluten dapat menahan gas saat fermentasi atau pemanggangan dalam
pembutan roti. Oleh sebab itu, penentuan karakterisasi tepung terigu komersial yang
beredar di pasaran dalam penelitian ini menggunakan tepung terigu protein tinggi.
Perumusan Masalah
produk sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan daya saing tepung terigu. Salah
satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk tepung terigu adalah
dengan mempelajari karakteristik fisikokimia tepung terigu komersial yang beredar
dipasaran, serta penggunaan tepung terigu tersebut dalam proses pembuatan roti tawar,
sifat fisik dan sensori roti tawar. Diharapkan diperoleh hasil yang dapat menjadi acuan
dalam mengembangkan dan menjamin mutu produk roti tawar.
Tujuan Penelitian
Tujuan kegiatan magang di PT. Bungasari Flour Mills Indonesia adalah untuk
mempelajari:
1. Karakteristik kimia tepung terigu komersial yang beredar di pasaran.
2. Karakteristik fisik adonan tepung terigu komersial yang beredar di pasaran
dalam proses pembuatan roti tawar.
3. Karakteristik fisik dan sensori roti tawar yang dihasilkan dari tepung terigu
yang beredar dipasaran.
4. Faktor pemilihan tepung terigu sebagai bahan baku pembuatan roti tawar.
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk mengetahui positioning dan memperbaiki
kualitas produk tepung terigu yang telah diproduksi oleh PT Bungasari Flour Mills
Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
Tepung Terigu
Penentuan kualitas mutu tepung terigu di Indonesia telah diatur dalam Standar Nasional
Indonesia (SNI) yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Komponen penyusun tepung terigu dari kandungan yang terbesar hingga yang
terkecil terdiri dari pati, protein, lemak, serat, mineral dan vitamin. Menurut Keran [Link]
(2009), dalam penentuan kualitas tepung terigu diperlukan adanya analisa karakteristik
secara kimia dan fisik. Karakteristik kimia yang diteliti terdiri dari kadar air, kadar abu,
kadar protein dan kadar gluten.
Kadar air digunakan sebagai standar sebelum penggilingan gandum guna
mendapatkan kadar air yang tepat pada produk tepung terigu. Kadar air juga berpengaruh
pada umur simpan tepung terigu, jika kadar air melebihi 14,5% maka akan memikat jamur,
bakteri dan serangga untuk hidup di dalamnya, sehingga mengakibatkan penurunan kualitas
tepung terigu selama penyimpanan (Keran [Link] (2009).
Kadar abu digunakan untuk mengetahui performa penggilingan gandum dan secara
tidak langsung menunjukkan kontaminasi dedak pada tepung terigu. Kadar abu dapat
mempengaruhi warna produk akhir, semakin tinggi kandungannya mengakibatkan warna
produk semakin gelap. Kadar abu tidak selalu menunjukkan kualitas penggilingan, namun
tergantung pada produk akhir yang akan dihasilkannya. White flour (tepung yang berasal
dari endosperm gandum) memiliki kadar abu yang rendah bila dibandingkan dengan whole
wheat flour (tepung yang berasal dari seluruh komponen gandum) yang memiliki kadar abu
yang tinggi (Keran [Link] 2009). Menurut USAID (2000) kadar abu pada tepung terigu
menunjukkan kandungan mineral yang terkandung di dalamnya. Kandungan mineral yang
tinggi dapat disebabkan oleh fortifikan tepung terigu.
Kadar protein sangat berpengaruh pada kualitas proses pembuatan serta hasilnya
sebagai suatu produk roti. Gluten merupakan komponen protein tepung terigu yang tidak
larut air. Gluten berfungsi sebagai pembentuk struktur kerangka roti. Gluten terdiri atas
komponen gliadin dan glutenin yang menghasilkan sifat viskoelastis, sehingga adonan
dapat dibuat lembaran, digiling maupun dibuat mengembang. Gliadin akan menyebabkan
gluten bersifat elastis sedangkan glutenin menyebabkan adonan menjadi kuat menahan gas
dan menentukan struktur pada produk yang dibakar (Ratnawati 2003).
Kualitas gluten dapat ditentukan dari pengukuran reologi adonan tepung terigu,
hal tersebut berkaitan dengan seberapa kuat adonan yang diukur dari besarnya tekanan
atau stress yang diberikan pada suatu adonan. Menurut Eiman et al (2015), penentuan
reologi adonan tepung terigu merupakan hal yang penting karena dapat menentukan
perilaku adonan selama proses penanganan mekanis pada saat proses produksi dan hal
tersebut mempengaruhi kualitas roti yang dihasilkan. Karakteristik reologi adonan dapat
ditentukan dengan farinograph, mixograph dan ekstensograph. Farinograph adalah alat
yang digunakan untuk mengukur tegangan dan viskositas dari campuran tepung dan air
pada saat proses pengadukan pada kecepatan dan suhu yang tetap.
Parameter yang ditetapkan menggunakan farinograph terdiri dari water
absorption (daya serap air), development time (waktu pengembangan adonan), stability
time (waktu stabilitas), dan mixing tolerance index (indeks toleransi adonan). Water
absorption (daya serap air) adalah jumlah air maksimal yang dapat diserap oleh tepung
terigu. Development time (waktu pengembangan adonan) yaitu waktu yang diperlukan
pada saat penambahan air hingga adonan mencapai konsistensi yang maksimum. Hal ini
mengindikasikan waktu pencampuran optimum dibawah kondisi standar. Stability time
(waktu stabilitas) adalah perbedaan waktu pada saat grafik farinogram menyentuh garis
500 BU (arrival time) dan pada saat garis meninggalkan 500 BU (depature time). Hal
4
Tabel 1 Standar mutu tepung terigu menurut SNI 01-3751-2009 (BSN 2009)
Roti Tawar
Roti merupakan produk fermentasi yang terbuat dari tepung terigu, air, ragi dan
garam dengan seperangkat unit operasi yang terdiri dari proses pencampuran (mixing),
pengadonan (kneading), pengembangan (proofing), pembentukan (shaping) dan
pembakaran (baking) (Dewettick [Link] 2008). Terdapat dua unit opeasi yang diamati
pada penelitian ini yaitu kebutuhan air dan waktu pencampuran (mixing time).
Menurut Rauf dan Sarbini (2015), diperlukan penambahan air dalam jumlah yang
tepat untuk membentuk adonan dengan sifat viskoelastisitas yang optimal. Menurut
(Shewry et al 2001) jika jumlah air yang ditambahkan kurang maka interaksi antar
komponen akan terhambat, namun jika air yang ditambahkan berlebih dapat merusak
interaksi antar komponen. Menurut Matz (1992), penambahan air yang berlebihan akan
menyebabkan adonan lengket, sulit untuk diolah, mengembang sangat cepat, roti yang
dihasilkan mudah untuk ditumbuhi mikroorganisme. Sebaliknya, jika penambahan air
yang kurang menyebabkan adonan kering, keras dan tidak mengambang dengan baik.
Menurut Mudjajanto dan Yulianti (2008) waktu pengadukan merupakan hal yang
sangat penting yang perlu diamati. Apabila adonan dalam keadaan over atau under
mixing akan menyebabkan kualitas yang kurang baik bagi produk akhir yang dihasilkan.
Over mixing akan merusak susunan gluten, adonan lengket, panas sehingga
menghasilkan volume yang buruk dan mempunyai remah pada bagian dalam. Under
mixing akan menyebabkan adonan kurang elastis dan volumenya menjadi kurang
mengembang. Menurut Fawumagun et. al (2016) apabila adonan berada pada keadaan
over mixing dan under mixing maka akan menurunkan kualitas produk akhir.
Secara umum roti terdiri dari dua jenis, yaitu roti tawar dan roti manis,
perbedaanya terletak pada penggunaan gula biasanya roti tawar menggunakan gula di
bawah 10% sedangkan roti manis menggunakan gula diatas 20% (Santoni 2009). Roti
tawar adalah roti yang dibuat dari tepung terigu berprotein tinggi, air, yeast, lemak dan
garam yang difermentasi dengan ragi roti dan dipanggang (Mudjajanto 2008). Roti
tawar merupakan salah satu jenis makanan yang berbentuk sponge, yaitu makanan yang
sebagian besar volumenya tersusun dari gelembung-gelembung gas (Matz 1962). Roti
tawar termasuk kedalam kategori raised goods, yaitu adonan mengembang karena
adanya karbondioksida yang dihasilkan dari proses fermentasi gula oleh ragi (yeast)
(Potter 1978 ).
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan roti tawar terdiri dari tepung
terigu, gula, shortening, susu bubuk, ragi, garam, bread impover dan air. Terigu merupakan
bahan terbanyak dalam pembuatan roti. Bahan ini berfungsi membentuk jaringan dan
kerangka roti sebagai akibat dari pembentukan gluten. Gluten berperan dalam
pengembangan produk roti karena sifatnya yang mampu menahan gas pada saat proses
fermentasi. Oleh sebab itu, pada pembuatan roti digunakan tepung terigu berprotein tinggi
(kadar glutenin dan gliadin tinggi). Gula diperlukan sebagai makanan ragi dan untuk
memperbaiki cita rasa. Gula juga berperan dalam pembentukan warna kulit roti
(karamelisasi) dan menjaga kelembaban produk karena dapat mengikat air. Shortening atau
lemak dalam pembuatan roti berfungsi sebagai pengempuk produk. Selain itu, penggunaan
lemak dapat menjaga kelembaban roti karena mampu manahan air, membantu menahan gas
hasil fermentasi, memperbaiki remah roti dan teksturnya. Susu bubuk digunakan untuk
memperbaiki rasa, warna kulit dan remah roti, meningkatkan rendemen produk, masa
simpan dan volume roti. Ragi diperlukan dalam pembuatan roti untuk melakukan
fermentasi. Selama fermentasi dihasilkan gas CO 2 yang
6
memungkinkan adonan roti mengembang, serta alkohol dan asam yang memberikan
rasa dan aroma spesifik pada roti. Garam dalam pembuatan roti diperlukan untuk
memberikan rasa gurih pada produk, mengontrol fermentasi, memperkuat gluten,
meningkatkan daya serap air dan menjaga kelembapan produk (bersifat higroskopis)
sehingga dapat memperpanjang umur simpan (Muchtadi dan Sugiono 2013). Bread
improver terdiri dari bahan-bahan yang dapat memperbaiki atau memperkuat mutu roti.
Bahan – bahan tersebut diantaranya, bahan penguat gluten (ascorbic acid dan
bromated), pelunak gluten seperti hidrokoloid, makanan ragi (ammonium chloride,
ammonium sulphate, enzim α-amilase dan β-amilase) serta crumb softener atau
emulsifier (surfactant, lechitan dan SSL) (Fahrudin 2009). Air dalam pembuatan roti
untuk memungkinkan terbentuknya adonan, gluten, dan memungkinkan proses
gelatinisasi pati selama pemanggangan. Air melarutkan bahan-bahan seperti gula,
garam, ragi dan susu bubuk, serta menyebarkan bahan-bahan tersebut ke seluruh bagian
adonan. Air dapat mengontrol suhu adonan, menjaga kelembaban roti, serta menentukan
besarnya rendemen produk (Muchtadi dan Sugiono 2003).
Untuk mengetahui kualitas roti tawar maka dilakukan analisa secara fisik dan
sensori. Analisa fisik roti tawar terdiri dari pengukuran tinggi, lebar, dan perimeter
(keliling) roti tawar. Analisa sensori roti tawar menggunakan uji deskriptif dengan metode
skoring. Analisa sensori roti tawar terdiri dari uji eksternal dan internal roti tawar.
Parameter uji eksternal terdiri dari volume, color of crust (warna kulit roti), evenness of
bake (keseragaman warna), symetry of form (kesimetrisan bentuk), character of crust
(karakter kulit roti), dan break and shared (pecahan dan retakan ovenspring). Sedangkan uji
internal terdiri dari grain (serat roti), color of crumb (bagian dalam roti), aroma, taste (rasa),
texture (tekstur), dan mastication & chewability (pengunyahan dan daya kunyah).
Berdasarkan standar yang ditetapkan PT. Bungasari Flour Mills Indonesia, secara
ekstenal roti tawar yang berkualitas baik memiliki volume yang normal dan besar, warna
kulit yang coklat mengilap, memiliki keseragaman warna yang merata atau seragam pada
seluruh bagian, kesimetrisan bentuk yang bulat sempurna dan sangat simetris, karakter kulit
yang tidak retak dan tidak mudah rontok, serta retakan oven spring yang halus dan teratur.
Secara internal roti tawar yang berkualitas baik memiliki crumb (bagian dalam roti) yang
seragam dan rapat tidak terdapat remahan roti yang terlepas, warna crumb putih cerah,
aroma khas roti segar, rasa normal (tidak ada rasa pahit dan sedikit asam khas roti), terkstur
halus tidak liat dan mudah di telan, dan apabila dikunyah memiliki tekstur yang kenyal.
Standar penilaian eksternal dan internal roti tawar PT. Bungasari Flour Mills Indonesia
(Tabel 2). Selain faktor sensori eksternal dan internal roti tawar, dalam pemilihan tepung
terigu pada pembuatan roti tawar dipengaruhi oleh faktor cost production seperti harga
tepung, kebutuhan air dan mixing time atau waktu pengadukan.
7
Tabel 2 Standar eksternal dan internal pengujian sensori roti tawar di PT. Bungasari
Flour Mills Indonesia
METODE
Alat
Alat yang digunakan pada ini adalah sparmixer 7MX-B 220 V, pengaduk
sparmixer tipe anchor, oven deck merek Mahyih, loyang roti tawar, bowl, timbangan
digital Tanita, molder, proofer merek CAHO SR-T701, tali meteran, pisau roti,
penggaris dan brabender farinograph,
Bahan
Tepung terigu yang dikarakterisasi terdiri dari 9 tepung terigu komersial protein
tinggi yang terdiri dari Golden Crown, Cakra Kembar Emas, Tali Emas Spesial, Golden
Eagle, Cakra Kembar, Gerbang Biru, Krakatau, Tipe A, dan Gerbang Jingga. Bahan
baku yang digunakan adalah gula, shorthening, susu bubuk, garam, ragi, bread
improver, air, dan carlo.
Metodologi Penelitian
Penelitian dalam kegiatan magang ini dibagi ke dalam empat tahap. Tahap
pertama dilakukan karakterisasi komposisi kimia tepung terigu yang terdiri dari analisa
kadar air, kadar abu, kadar protein dan kadar gluten. Tahap kedua dilakukan
karakterisasi fisik (reologi) adonan tepung terigu menggunakan metode farinograph.
Tahap ketiga dilakukan analisa pada proses pembuatan roti tawar terutama pada unit
operasi penambahan air dan waktu pengadukan (mixing time). Tahap keempat dilakukan
karakterisasi sifat fisik dan sensori roti tawar. Berikut merupakan diagram alir tahapan
penelitian karakterisasi tepung terigu komersial protein tinggi (Gambar 1).
10
Tepung
terigu
komersial
protein tinggi
1. Kadar air
Metode Roti
(AACC No. farinograph Tawar
44-15) AACC No. 51
2. Kadar abu (AACC 2000):
(AACC No.
08-01) 1. Water Karakterisasi Karakterisasi sensori roti tawar (uji skoring):
3. Kadar protein absorption fisik roti
tawar: 1. Parameter eksternal (volume, color of crust,
(AACC No. 2. Developme
evenness of bake, symetry of form, character
46-10) nt time 1. Tinggi
4. Kadar gluten of crust, dan break and sherd)
3. Stability 2. Lebar
(AACC No, 2. Parameter internal (grain, color of crumb, aroma,
38-10)
4. Tolerance 3. Perimeter taste, texture, dan mastication and chewability)
Gambar 1 Diagram alir tahapan penelitian karakterisasi tepung terigu komersial protein tinggi.
11
(% )
(% ) = 100 − ( ) × 100
Keterangan:
bb = Basis basah
bk = Basis kering
Pembulatan Adonan
0
Proofing ±50 menit, 38 C,
RH 85%
Pemanggangan
0
Suhu atas 180 C dan suhu bawah
0
250 C, 40 menit
Roti tawar
Gambar 2 Diagram Alir pembuatan Roti Tawar berdasarkan resep PT. Bungasari Flour
Mills Indonesia
14
Sampel tepung terigu komersial diolah sesuai dengan resep dan diagram alir
pembuatan roti tawar (Gambar 2) di PT Bungasari Flour Mills Indonesia. Resep roti tawar
(Tabel 3) dibuat dengan basis 1000 gram. Timbang seluruh bahan yang akan digunakan.
Tepung terigu, gula, susu, garam, ragi dan bread improver (seluruh bahan kering) diaduk di
dalam bowl sparemixer dengan kecepatan rendah (kecepatan 1). Air ditambahkan seara
merata ke dalam bowl dengan kecepatan rendah selama 2 menit. Setelah terbentuk adonan
yang kompak, shortening ditambahkan dan diaduk pada kecepatan sedang (kecepatan 2).
Pengadukan dilanjutkan sampai adonan membentuk struktur yang kompak, seragam dan
mudah diregangkan (kalis). Adonan yang telah kalis dibulatkan dan diistirahatkan selama 5
menit. Adonan kemudian dibagi menjadi 3 bagian dengan berat masing-masing 515 gram,
kemudian dibulatkan dan diistirahatkan kembali selama 10 menit, setelah itu adonan
dipipihkan dan dilipat pada alat molder. Kemudian, adonan dimasukan ke dalam loyang
yang telah diolesi oleh carlo dan dimasukkan ke dalam alat proofer selama ±50 menit.
Setelah adonan mengembang sempurna (template), adonan dimasukkan ke dalam oven
o o
dengan suhu atas 180 C dan suhu bawah 250 C selama 40 menit. Pembuatan roti tawar
terbagi menjadi 3 batch, setiap batch terdiri dari tiga tepung terigu dari kelas yang sama.
Pembuatan roti tawar dari tiap sampel tepung terigu dilakukan secara duplo, dan direkam
melalui pengisian process form (Lampiran 1.1)
pembakaran dapat diketahui karena menunjukkan hasil dari proses pengembangan roti yang
dihasilkan. Pengukuran tinggi dan lebar, roti tawar yang telah stabil dipotong menjadi dua
bagian kemudian diukur tinggi dari bagian dasar roti tawar hingga ujung atas dan lebarnya
dari bagian ujung samping kiri ke samping kanan menggunakan pennggaris.
5. Faktor Pemilihan Tepung Terigu sebagai Bahan Baku Pembuatan Roti Tawar
Tabel 4 Hasil uji analisis komposisi kimia tepung terigu komersial protein tinggi
Tepung Terigu Kadar Air (%) Kadar Kadar Protein Kadar Wet
Abu (%) (%) Gluten (%)
Kadar Air
Kadar air tepung terigu komersial protein tinggi dapat dilihat pada Tabel 4.
Menurut SNI 3751-2009 batas maksimal kadar air tepung terigu sebesar 14,5%. Secara
keseluruhan, kadar air seluruh sampel telah memenuhi ketentuan SNI yaitu berada di
bawah standar maksimal yang telah ditetapkan. Tepung terigu yang memiliki kadar air
tertinggi adalah tepung Golden Eagle sebesar 14,05%, sedangkan kadar air terendah
adalah tepung Tali Emas Spesial sebesar 13,30%.
Menurut Kweon et. al (2009), perbedaan kadar air pada setiap tepung terigu
disebabkan terjadinya perbedaan pada proses produksi terutama saat proses tampering.
Tampering adalah proses penyesuaian kadar air dengan menambahkan air pada gandum
sebelum penggilingan untuk mengeraskan kulit luar (bran) dan melembutkan
endosperm sehingga waktu penggilingan akan lebih efisien. Berdasarkan Wheat
Marketing Center (2004), kadar air merupakan indikator profitability pada proses
penggilingan. Semakin banyak air yang ditambahkan pada proses tampering (kadar air
tinggi), maka berat tepung yang diperoleh akan semakin besar. Dari pernyataan diatas
dapat disimpulkan bahwa tepung terigu yang berasal dari PT. Bungasari Flour Mills
Indonesia (Golden Crown dan Golden Eagle) cenderung memiliki kadar air tinggi
sehingga memiliki nilai profitability yang tinggi bagi produsen tepung terigu.
Kadar Abu
Menurut Wheat Makreting Center (2004), kadar abu dapat diatur atau dapat
diperkirakan pada proses pembuatan tepung, kadar abu juga dapat menunjukkan kinerja
pada saat penggilingan yang dapat dilihat dari jumlah kontaminasi dedak pada tepung.
Menurut USAID (2000) kadar abu pada tepung terigu menunjukkan kandungan mineral
17
yang terkandung di dalamnya. Kandungan mineral yang tinggi dapat disebabkan oleh
fortifikan tepung terigu. Selain dipengaruhi oleh mineral dari fortifikasi tepung terigu,
kadar abu dipengaruhi oleh efisiensi ekstraksi. Semakin rendah efisiensi ekstraksi maka
semakin tinggi kadar abu tepung terigu. Tingkat ekstraksi atau extraction rate tepung
terigu adalah proporsi berat tepung yang diperoleh saat penggilingan dari jumlah
gandum yang telah diketahui beratnya (NIR Board of Consultants and Engginers 2006).
Menurut Prabowo (2010) kadar abu berpengaruh terhadap proses pembuatan serta hasil
akhir suatu bahan pangan. Tingginya kadar abu dapat mempengaruhi hasil akhir produk
seperti warna produk akan manjadi gelap (warna remahan pada roti, warna mie) dan
tingkat kestabilan adonan.
Berdasarkan SNI 3751-2009 kadar abu maksimal yang terdapat pada tepung
terigu adalah 0,70%. Berdasarkan hasil kadar abu dari keseluruhan sampel, seluruh
sampel telah memenuhi standar yang telah ditetapkan. Tepung terigu yang berasal dari
PT Bungasari Flour Mills Indonesia (Golden Crown dan Golden Eagle) memiliki kadar
abu yang cenderung rendah kecuali tepung Krakatau memiliki kadar abu yang paling
tinggi. Tepung Krakatau memiliki kadar abu sebesar 0,67%, sedangkan kadar abu
terendah berasal dari Cakra Kembar Emas dan Tipe A sebesar 0,44%.
Menurut Ranhotra (1999) kadar abu digunakan untuk mengetahui grade tepung
dari segi efisiensi ekstraksi pada pembuatan tepung terigu. Berdasarkan hal tersebut
menunjukkan bahwa tepung Krakatau memiliki efisiensi ekstraksi terendah.
Kadar Protein
Kandungan protein dipengaruhi oleh fertilisasi nitrogen pada gandum, sedangkan
kualitasnya ditentukan oleh genotipe gandum. Namun, keduanya dipengaruhi juga oleh
kondisi iklim saat maturasi gandum. Oleh karena itu, protein dari tepung terigu sangat
ditentukan dari jenis gandum yang digunakan (Al-Saleh dan Brennan 2012). Tepung terigu
mengandung protein sekitar 7-22%. Tepung terigu minimal tersusun dari 5 jenis protein
yaitu albumin, globulin, proteosa, gliadin dan glutenin. Jumlah albumin dan globulin hanya
sekitar 1% dan protease hanya sebesar 0,3%. Giladin dan glutenin merupakan protein yang
paling banyak dalam tepung terigu (masing-masing sekitar 40% dari total protein) kedua
protein tersebut paling penting dalam pembuatan roti. Kedua protein ini jika dicampur
bersama air akan membentuk adonan liat dan elastis disebut gluten. Fraksi glutenin bersifat
padat dan kenyal sedangkan fraksi gliadin bersifat lunak dan lengket (Muchtadi 2013).
Berdasarkan standar SNI 3751-2009, kadar protein minimal dalam tepung terigu adalah
sebesar 7,00%. Secara keseluruhan sampel uji, kadar protein dari masing-masing sampel
tepung terigu telah memenuhi standar SNI.
Berdasarkan uji protein secara keseluruhan, tepung yang mempunyai kadar
protein tertinggi adalah Cakra Kembar Emas sebesar 14,81%. Tepung yang memiliki
kadar protein terendah adalah Gerbang Jingga sebesar 13,18%. Seacara umum
kandungan protein dari tepung terigu yang berasal dari PT. Bungasari Flour Mills
Indonesia (Golden Crown, Golden Eagle dan Krakatau) berada di posisi menengah.
Kadar Gluten
Gluten merupakan protein yang terdapat pada tepung terigu yang tidak larut dalam
air, garam dan alkohol. Gluten berasal dari protein glutenin dan gliadin yang bercampur
dengan air. Senyawa gluten ini memiliki sifat kohesif dan viskoelastis yang dapat meregang
secara elastis. Dalam pembuatan roti, gluten berfungsi menahan gas yang
18
dihasilkan selama proses fermentasi dengan ragi. Selain itu gluten pula pembentuk tekstur
pada roti. Mutu gluten mempengaruhi mutu crumb yang dihasilkan (Koswara 2009).
Dalam SNI 3751-2009 tidak disebutkan kadar maksimal atau minimal kandungan
gluten. Berdasarkan hasil analisa kadar wet gluten (gluten basah) didapatkan kadar
gluten tertinggi pada tepung Cakra Kembar Emas sebesar 37,10% sedangkan kadar
gluten terkecil berasal dari tepung Tipe A sebesar 30,40%. Setelah dilakukan uji korelasi
menggunakan Bivarriate Corelations (Pearson) kadar gluten memiliki korelasi yang
positif atau berbanding lurus dengan kadar protein, dengan angka pearson corelation
yang tinggi yaitu sebesar 0,977. Berdasarkan hasil korelasi tersebut sesuai dengan
Wheat Marketing Center (2004), kandungan wet gluten mencerminkan kandungan
protein dan spesifikasi umum yang dibutuhkan oleh pengguna di indutri makanan.
Tepung terigu yang berasal dari PT. Bungasari Flour Mills Indonesia (Golden Eagle dan
Krakatau) memiliki kadar gluten yang cukup tinggi. Berbeda dengan Golden Crown
yang memiliki kadar gluten yang rendah karena tepung ini dirancang untuk tidak
mengedepankan volume pada hasil akhirnya melainkan pada kualitas crumbnya.
Tabel 5 Hasil uji analisis reologi tepung terigu dengan Brabender Farinograph
Bila dikaitkan dengan Muchtadi (2013) tepung berdaya serap air tinggi dalam
pembentukan adonan dengan konsistensi tertentu dibutuhkan dalam produk bakery.
Jumlah adonan yang dihasilkan akan meningkat dengan adanya penyerapan air. Hal ini
penting secara ekonomi karena air merupakan salah satu ingridient yang murah. Industri
bakery dapat meningkatkan rendemennya dengan memilih tepung yang memiliki daya
serap air tinggi. Berdasarkan hasil yang diperoleh bila dikaitkan dengan teori yang ada,
secara daya serap air tepung yang berasal dari PT Bungasari Flour Mills Indonesia dapat
menjadi rujukan untuk pemilihan tepung terigu bila dilihat aspek ekonomisnya (jumlah
rendemen yang dihasilkan).
Setelah dilakukan uji korelasi dengan metode Bivariate Correlations (Pearson),
faktor kimia yang mempengaruhi water absorption adalah kadar gluten (r = 0,718) dan
faktor kedua adalah kadar protein (r = 0,650). Kedua faktor tersebut memiliki korelasi
yang kuat terhadap water absorption. Dari hasil korelasi tersebut sesuai dengan Rakkar
(2007) semakin banyak kandungan gluten pada tepung terigu maka kecepatan absorpsi
air semakin tinggi. Hasil korelasi pun sesuai dengan Mis (2005), semakin kuat tepung
terigu (kandungan protein tinggi) maka semakin besar kemampuan tepung dalam
menyerap air bila dibandingkan tepung yang lemah (kandungan protein rendah),
sehingga adonan kohesif dan menyatu.
Stabilty (Stabilitas)
Stability adalah perbedaan waktu pada saat grafik farinogram menyentuh garis
500 BU dengan pada saat grafik meninggalkan garis 500 BU. Stabilitas adonan dapat
digunakan sebagai indikasi terhadap daya tahan adonan selama proses (waktu)
pengadonan (Sim dan Cheng 2011). Nilai stabilitas mengindikasikan kekuatan tepung,
semakin besar nilainya maka semakin kuat adonan tepung (Rosell et. al 2001)
Dari data yang tertera pada tabel 5, nilai stabilitas pada tepung terigu dari hasil
analisis memiliki range antara 13,47 – 41,51 menit. Berdasarkan Barros et. al (2010) tepung
terigu yang berasal dari gandum hard winter wheat (rata-rata kadar protein = 12% dan rata-
rata kadar wet gluten = 33,2) memiliki nilai stabilitas antara 10,7-31,6 menit.
20
Tepung terigu protein tinggi yang berasal dari PT. Bogasari Flour Mills (Cakra Kembar
Emas, Cakra Kembar, dan Tipe A) memiliki nilai stabilitas yang cenderung tinggi.
Tepung terigu yang berasal dari PT. Bungasari Flour Mills (Golden Crown, Golden
Eagle, dan Krakatau) memiliki nilai stabilitas yang cenderung rendah. Hal tersebut
menandakan bahwa tepung yang berasal dari PT. Bogasari Flour Mills lebih stabil atau
tahan terhadap proses pengadukan, sedangkan tepung yang berasal dari PT. Bungasari
Flour Mills kurang stabil atau kurang tahan terhadap proses pengadukan. Adonan yang
memiliki nilai stabilitas rendah akan menghasilkan roti yang mudah kempis.
Proses pembuatan roti tawar terdiri dari beberapa unit operasi yang berpengaruh
pada hasil akhir roti tawar, namun yang diamati pada penelitian ini adalah kebutuhan air
dan waktu pengadukan (mixing time). Setiap tepung terigu memiliki karakter yang
berbeda, terutama dalam faktor kebutuhan air yang ditambahkan dan waktu pengadukan
saat pembuatan roti tawar. Oleh karena itu, unit operasi lain dalam proses pembuatan
roti tawar dianggap tetap atau sama.
Kebutuhan Air
Menurut U.S Wheat Associates (1983) dalam pembuatan roti, air mempunyai
banyak fungsi. Air memungkinkan terbentuknya gluten, berperan mengontrol kepadatan
adonan, melarutkan garam, menahan dan menyebarkan bahan-bahan bukan tepung
secara seragam, membasahi dan mengembangkan pati serta menjadikannya dapat
dicerna dan juga memungkinkan terjadinya kegiatan enzim. Amjid [Link] (2013),
menyatakan bahwa air merupakan faktor kritis dalam pembuatan adonan yang
menentukan pengembangan adonan.
Berdasarkan Tabel 6, kebutuhan air terbesar berasal dari tepung terigu produk
PT. Bungasari Flour Mills Indonesia (Golden Crown, Golden Eagle dan Krakatau)
sedangkan kebutuhan air terendah berasal dari tepung terigu produk PT. Bogasari Flour
Mills (Cakra Kembar Emas, Cakra Kembar dan Tipe A). Kebutuhan air dalam
penelitian ini berikisar antara 600 – 620 gram, hal tersebut sesuai dengan formulasi
pembuatan roti tawar metode straight dough pada Koswara (2009) yang memiliki
kebutuhan air sebanyak 550-650 gram dengan basis tepung 1000 gram.
Kebutuhan air dari setiap tepung berbeda-beda hal ini dipengaruhi oleh sifat
water absorption tepung terigu (r = 0,784). Water absorption dan kebutuhan air
memiliki tingkat korelasi yang tinggi. Menurut Andarwulan (2008) tepung yang
memiliki kemampuan water absorption yang tinggi (kebutuhan air tinggi) dapat
meningkatkan rendemen adonan roti. Air merupakan ingridient yang murah, sehingga
secara ekonomis tepung yang memiliki kebutuhan air yang tinggi dapat menguntungkan
bagi produsen roti dari segi rendemen yang di hasilkan.
22
Karakterisasi fisik roti tawar diukur dari segi tinggi, lebar dan perimeter (keliling)
roti tawar. Ketiga aspek tersebut menentukan kualitas pengembangan roti tawar.
Karakterisasi sensori roti tawar menggunakan metode skoring yaitu dengan memasukan
rating atribut mutu dimana suatu atribut mutu dikategorikan dengan suatu kategori skala
yang telah distandarisasi dan menjadi acuan bagi PT. Bungasari Flour Mills Indonesia.
Uji sensori roti tawar ini terbagi menjadi dua uji yaitu uji ekstrenal dan internal roti
tawar. Uji eskternal lebih melihat kepada penampakan dan bentuk roti tawar, parameter
ujinya terdiri dari volume, color of crust, evenness of bake, symetry of form, character
of crust, dan break and shared. Parameter uji internal terdiri dari jumlah grain yang
dihasilkan, color of crumb, aroma, taste, texture, dan mouthfeel and chewability.
Tinggi-Lebar (cm)
8,00
6,00
4,00
2,00
0,00
Golden Cakra Tali Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Emas Eagle Kembar Biru Jingga Emas Spesial
Merek Tepung
Gambar 3 Grafik tinggi dan lebar roti tawar dari berbagai tepung terigu protein tinggi
Menurut Onyango et. al (2015), pengukuran tinggi dan lebar merupakan faktor
penting dalam penentuan kualitas roti tawar yang dapat mempengaruhi penerimaan
konsumen. Berdasarkan uji ANOVA pada taraf siginifikansi 0,05 terdapat perbedaan
yang nyata pada parameter tinggi dan lebar. Setelah dilakukan uji lanjut Duncan pada
parameter tinggi, terdapat 5 subset yang berbeda. Tinggi roti tawar dari tepung Golden
Eagle berbeda nyata dengan seluruh tepung kecuali tepung Gerbang Biru dan Tali Emas
Spesial. Tinggi roti tawar tepung Cakra Kembar dan Tipe A tidak berbeda nyata satu
sama lain, namun berbeda nyata dengan seluruh tepung. Berdasarkan hasil pengukuran,
roti yang memiliki ukuran tertinggi adalah roti yang terbuat dari tepung Golden Eagle
sebesar 15,05 cm, sedangkan roti yang memiliki ukuran terendah terbuat dari tepung
Cakra Kembar sebesar 14,05 cm.
Setelah dilakukan uji lanjut Duncan pada parameter lebar, terdapat 3 subset yang
berbeda. Lebar roti tawar dari tepung Krakatau tidak berbeda nyata dengan seluruh
tepung kecuali tepung Golden Crown, Tipe A dan Cakra Kembar. Lebar roti tawar dari
tepung Golden Crown berbeda nyata dengan seluruh tepung kecuali tepung Tipe A dan
Cakra Kembar. Roti dengan ukuran terlebar terbuat dari tepung Golden Eagle sebesar
24
10,73 cm, sedangkan roti dengan ukuran lebar terendah terbuat dari tepung Golden
Crown sebesar 9,70 cm. Secara keseluruhan tepung dari PT. Bungasari Flour Mills
Indonesia cenderung memiliki ukuran yang cukup tinggi dan lebar, namun tidak berlaku
pada tepung Golden Crown yang tidak mementingkan volume pada produk hasilnya
tetapi lebih kepada kualitas crumb. Hal tersebut berkorelasi dengan kandungan gluten
tepung Golden Crown yang cenderung rendah.
Perimeter (cm)
48,00
46,98g
47,00 46,23f 46,40f
46,00 45,35de 45,60e
Perimeter (cm) 45,00cd
44,70c
45,00
44,23b
44,00 43,65a
43,00
42,00
41,00
Volume
12,00
6,00
4,00
2,00
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga Emas
Color of crust
8,00 7,50d
7,13cd
7,00 6,75bcd 6,88bcd 7,00bcd 6,63bc
6,38bc 6,25b
6,00 5,50a
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga
Emas
Terdapat perbedaan yang nyata berdasarkan hasil uji ANOVA pada taraf
signifikansi 0,05 parameter color of crust. Setelah dilakukan uji lanjut duncan, color of
crust tepung tipe A berbeda nyata dengan 8 tepung lainnya. Color of crust tepung Tali
Emas Spesial berbeda nyata dengan tepung Krakatau, Gerbang Jingga dan Gerbang
Biru, namun tidak berbeda nyata dengan tepung Golden Crown, Cakra Kembar, Golden
Eagle dan Cakra Kembar Emas.
Skor color of crust terbesar diperoleh dari tepung Tali Emas Spesial dengan nilai
7,50. Nilai tersebut mengartikan bahwa warna kulit roti coklat muda dan mengkilap.
Skor color of crust terendah berasal dari tepung Tipe A dengan nilai 5,50. Nilai tersebut
mengartikan bahwa kulit roti yang dihasilkan memiliki warna coklat agak pucat dan
kurang mengkilap. Tepung terigu dari PT. Bungasari Flour Mills Indonesia cenderung
memiliki skor yang tinggi kecuali pada tepung Krakatau memiliki skor color of crust
terendah kedua. Hasil dari uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa color of crust tepung
Krakatau tidak berbeda nyata dengan tepung Gerbang Biru, Gerbang Jingga, Cakra
Kembar Emas, Golden Eagle dan Cakra Kembar.
Salah satu faktor terbentuknya color of crust adalah berdasarkan reaksi maillard.
Reaksi maillard adalah rekasi yang terjadi antara protein dan gula dalam adonan tepung
terigu pada saat proses pemanggangan. Semakin banyak kandungan protein dan gula pada
adonan tepung terigu maka color of crust roti yang dihasilkan semakin gelap (Cauvain S
dan Young L 2006). Bila dikaitkan dengan hasil penelitian, warna roti tepung Tipe A lebih
pucat dibandingkan tepung Tali Emas Spesial hal tersebut dikarenakan kandungan protein
tepung Tipe A lebih rendah dibandingkan Tali Emas Spesial.
27
Evenness of bake
4,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga Emas
Setelah dilakukan hasil uji ANOVA pada parameter evenness of bake atau
keseragaman warna pemanggangan, pada taraf signifikansi 0,05 tidak terdapat
perbedaan yang nyata pada ke-9 sampel tepung terigu protein tinggi komersial (p>0,05).
Parameter evenness of bake menunjukkan ketepatan pada saat proses pemanggangan.
Ketepatan pada saat proses pemanggangan terdiri dari ketepatan jumlah isi oven pada
saat pembakaran, jarak yang tepat saat penempatan adonan dalam loyang dan waktu
pemanggangan yang tepat (NPCS Board of Consultans and Engineers 2011).
Berdasarkan hasil uji ANOVA evenness of bake roti tawar dari 9 tepung yang berbeda
tidak ada perbedaan yang nyata menunjukkan terdapat keseragaman pada proses
pembakaran (proses pembakaran sudah tepat).
Symetry of form
4,00
3,50b 3,50b
3,50
3,13ab
3,00 2,75a 2,75a 2,75a 2,75a 2,88a 2,75a
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga
Emas
Berdasarkan hasil uji ANOVA pada parameter symetry of form, Tepung Tipe A dan
Gerbang Jingga tidak berbeda nyata satu sama lain, namun berbeda nyata dengan ke-6
tepung lainnya. Tepung Krakatau masih terdapat pada satu subset dengan Tipe A,
Gerbang Jingga dan ke-6 tepung lainnya (tepung Krakatau terletak pada dua subset).
Skor tertinggi dimiliki oleh tepung Tipe A dan Gerbang Jingga dengan nilai 3,50.
Nilai tersebut mengartikan bentuk bulat simetris. Skor terendah dimiliki oleh tepung
Golden Crown, Cakra Kembar Emas, Tali Emas Spesial, Golden Eagle dan Gerbang
Biru dengan nilai 2,75. Nilai tersebut mengaikan bahwa roti yang dihasilkan memiliki
bentuk bulat sempurna kurang simetris. Tepung yang berasal dari PT. Bungasari Flour
Mills Indonesia cenderung memiliki kesimetrisan bentuk roti tawar yang rendah kecuali
tepung Krakatau yang memiliki skor yang cukup tinggi.
Character of crust
4,50 4,25b
4,00 3,88ab 3,88ab
3,63a 3,63a 3,63a 3,50a 3,38a 3,38a
3,50
3,00
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga
Emas
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga Emas
Gambar 10 Grafik uji sensori parameter break and sherd roti tawar
Berdasarkan hasil uji ANOVA pada parameter break and sherd, Tepung Gerbang
Biru dan Tali Emas Spesial berbeda nyata dengan 5 tepung lainnya kecuali Golden
Crown dan Krakatau (2 tepung tersebut masih dalam satu subset).
Roti tawar yang memiliki skor break and sherd tertinggi berasal dari tepung
Gerbang Biru dengan nilai 3,75. Angka tersebut mengartikan bahwa retakan oven spring
halus, terdapat tonjolan besar bentuk teratur. Skor terendah dimiliki oleh tepung Cakra
Kembar dan Tipe A dengan 2,63. Angka tersebut mengartikan bahwa terdapat sedikit
tonjolan oven spring. Tepung dari PT. Bungasari Flour Mills Indonesia memiliki skor
yang cukup tinggi pada parameter break and sherd. Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan,
tepung terigu dari PT. Bungasari Flour Mills Indonesia tidak memiliki perbedaan yang
nyata dengan tepung Cakra Kembar Emas dan Gerbang Jingga.
30
Golden Crown (a) Cakra Kembar Emas (b) Tali Emas Spesial (c)
Grain
14,00
13,80 13,75a 13,75a
Berdasarkan hasil uji ANOVA pada parameter grain atau sifat remah, pada taraf
signifikansi 0,05 tidak terdapat perbedaan yang nyata pada 9 sampel tepung terigu
protein tinggi komersial yang diujikan (p>0,05).
Color of crumb
4,50 4,13c
4,00bc 4,00bc
4,00 3,75bc 3,75
3,50abc 3,50abc
3,50 3,25ab
3,00 2,88a
2,50
2,00
1,50
1,00
0,50
0,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga
Emas
Setelah dilakukan uji ANOVA pada parameter color of crumb menunjukkan bahwa
Color of crumb roti tawar yang berasal dari tepung Golden Eagle berbeda nyata dengan
tepung Gerbang Biru dan Krakatau. Skor color of crumb tertinggi berasal dari tepung
Golden Eagle dengan nilai 4,13. Angka tersebut mengartikan bahwa crumb yang dihasilkan
bewarna putih cerah. Skor color of crust terendah berasal dari tepung Krakatau
32
dengan nilai 2,88. Angka tersebut mengartikan bahwa warna crumb putih kusam.
Tepung dari PT Bungasari Flour Mills Indonesia menunjukkan hasil yang beragam pada
parameter color of crumb. Tepung Krakatau menunjukkan hasil yang kurang baik,
Golden Crown hasil yang menengah dan tepung Golden Eagle menunjukkan hasil yang
sangat baik.
Berdasarkan NPCS Board of Consultans and Engineers (2011), color of crumb
dipengaruhi oleh warna tepung dan ukuran tepung. Warna tepung dipengaruhi oleh
efisiensi proses penggilingan tepung. Semakin rendah efisiensi tepung terigu maka
semakin banyak kontaminasi dedak yang bersatu dengan tepung. Semakin banyak
kandungan dedak yang bersatu dengan tepung, maka semakin tinggi kadar abu tepung
terigu dan color of crumb yang dihasilkan akan semakin gelap. Berdasakan hasil
penelitian, tepung Krakatau menghasilkan warna crumb roti yang lebih gelap atau
kusam dibandingkan roti dari tepung Golden Eagle. Tepung Krakatau memiliki kadar
abu tertinggi dari 9 tepung yang diujikan. Tepung Golden Eagle memiliki kadar abu
terendah kedua dari 9 tepung yang diujikan.
Aroma
8,60
8,40 8,38a 8,38a
7,80 7,75a
7,40
7,20
7,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga Emas
Hasil uji ANOVA menunjukkan pada parameter aroma dari 9 sampel tepung
terigu protein tinggi komersial yang diujikan, tidak terdapat perbedaan yang nyata pada
taraf signifikansi 0,05 atau (p>0,05).
33
Taste
13,60 13,50b 13,50b
13,40 13,38 13,38b
13,25b 13,25b
13,20
13,00ab
13,00
12,75ab
12,80
12,60 12,50a
12,40
12,20
12,00
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga Emas
Setelah dilakukan uji ANOVA pada parameter taste atau rasa dari 9 sampel
tepung terigu protein tinggi komersial yang diujikan menunjukkan bahwa Tepung Cakra
Kembar Emas berbeda nyata dengan 6 tepung lainnya kecuali Krakatau dan Golden
Eagle karena masih dalam satu subset.
Skor taste tertinggi berasal dari tepung Tipe A dan Tali Emas Spesial dengan
nilai 13,50. Angka tersebut mengartikan bahwa rasa roti normal (tidak ada rasa pahit
dan sedikit asam khas roti). Skor taste terendah berasal dari tepung Cakra Kembar Emas
dengan nilai 12,5. Angka tersebut mengartikan bahwa rasa roti kurang sesuai. Taste atau
rasa roti tawar dari tepung terigu PT. Bungasari Flour Mills Indonesia cenderung berada
diposisi menengah kecuali tepung Krakatau tergolong dalam posisi terendah kedua.
Setelah dilakukan uji lanjut Duncan pada parameter taste, tepung Krakatau tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata dengan tepung Cakra Kembar Emas dan Cakra
Kembar (masih terdapat pada subset yang sama).
34
Texture
14,00
13,75c
13,50bc
13,50 13,38bc 13,38bc 13,38bc
13,00abc 13,00abc
13,00
12,75ab
12,50 12,38a
12,00
11,50
Golden Cakra Tali Emas Golden Cakra Gerbang Krakatau Tipe A Gerbang
Crown Kembar Spesial Eagle Kembar Biru Jingga Emas
Berdasarkan uji ANOVA pada taraf signifikansi 0,05 menunjukkan bahwa texture
roti tawar dari tepung Cakra Kembar Emas berbeda nyata dengan tepung Krakatau dan
Cakra Kembar.
Diperoleh skor texture tertinggi berasal dari tepung Cakra Kembar Emas dengan
nilai 13,75. Nilai yang diperoleh tersebut mengartikan bahwa roti tawar yang dihasilkan
memiliki tekstur halus, tidak liat dan mudah ditelan. Skor texture terendah berasal dari
tepung Cakra Kembar dengan nilai 12,38. Nilai yang diperoleh tersebut mengartikan
bahwa roti tawar yang dihasilkan memiliki tekstur yang liat dan menempel di atas gigi
atau bagian atas langit – langit rongga mulut.
Berdasarkan penelitian Rozylo dan Laskowski (2011), faktor yang berkorelasi
kuat dengan texture kekerasan crumb roti adalah kandungan abu tepung terigu, falling
2
number dan kekuatan adonan (r = 0,801). Jika dikaitkan dengan hasil penelitian yang
telah di lakukan, tepung Cakra Kembar termasuk kedalam tepung yang memiliki
kandungan abu kedua tertinggi sedangkan tepung Cakra Kembar Emas termasuk
kedalam tepung yang memiliki kandungan abu terendah dari 9 tepung yang diujikan.
35
Gambar 17 Grafik uji sensori parameter mastication and chewability roti tawar
Golden Crown (a) Cakra Kembar Emas (b) Tali Emas Spesial (c)
Tabel 7 Pembobotan parameter pemilihan tepung terigu sebagai bahan baku roti tawar
No Nama Tepung Faktor Faktor Faktor Faktor Faktor Total Perin
Harga Sensori Sensori Kebutuhan Waktu gkat
(30%) Internal Eksternal Air (10%) Pengadukan
(30%) (20%) (10%)
1 Gerbang Biru 1,5 2,1 1,6 0,3 0,3 5,8 1
2 Tali Emas
1,5 1,2 1,8 0,3 0,3 5,1 2
Spesial
3 Golden Eagle 1,2 2,4 0,8 0,4 0,1 4,9 3
4 Gerbang Jingga 1,8 0,9 1,2 0,2 0,6 4,7 4
5 Krakatau 2,1 0,3 1 0,5 0,5 4,4 5
6 Tipe A 2,1 1,5 0,2 0,1 0,5 4,4 5
7 Golden Crown 0,6 1,8 1,4 0,3 0,3 4,4 5
8 Cakra Kembar
0,3 1,2 0,6 0,2 0,2 2,5 6
Emas
9 Cakra Kembar 0,9 0,6 0,4 0,1 0,4 2,4 7
Harga dan faktor sensori internal menempati posisi pembobotan tertinggi karena
menunjukkan faktor utama keberlangsungan produksi roti tawar. Harga tepung
menentukan biaya produksi dan harga jual tepung terigu, semakin murah tepung terigu
maka semakin besar profit atau keuntungan yang bisa didapatkan oleh produsen roti
tawar. Faktor internal sensori menentukkan acceptence ability dari konsumen terutama
dari indera pengecapnya. Harga dan faktor internal memiliki nilai pembobotan masing-
masing sebesar 30%. Faktor sensori eksternal roti tawar menempati posisi kedua
pembobotan sebesar 20% karena berpengaruh pada acceptance ability konsumen dari
indera pengelihatannya. Faktor kebutuhan air menentukan acceptance ability dari
produsen roti tawar. Semakin besar jumlah air yang dibutuhkan oleh suatu tepung
dengan berat yang sama maka akan semakin besar pula rendemen roti tawar yang
dihasilkan. Semakin banyak rendemen roti yang dihasikan maka semakin besar profit
yang bisa didapatkan. Waktu pengadukan berpengaruh kepada cost production
pembuatan roti tawar. Semakin lama waktu pengadukan (semakin lama penggunaan
mixer), maka cost yang dikeluarkan untuk pembayaran listrik semakin meningkat.
Faktor kebutuhan air dan waktu pengadukan memiliki nilai pembobotan masing-masing
10%. Jika dijumlahkan dari keseluruhan nilai pembobotan maka akan menghasilkan
nilai 100% (nilai faktor pemilihan tepung terigu).
Berdasarkan hal yang telah disebutkan di atas, setelah dilakukan pembobotan dan
dilakukan penjumlahan setiap faktor. Diperoleh total nilai tertinggi (peringkat ke-1)
berasal dari tepung Gerbang biru dengan total nilai 5,8. Nilai terendah (peringkat ke-7)
berasal dari tepung Cakra Kembar dengan nilai total nilai 2,4. Tepung yang berasal dari
PT. Bungasari Flour Mills Indonesia berada pada peringkat ke-3 (Golden Eagle) dengan
total nilai 4,9 dan peringkat ke-5 (Krakatau dan Golden Crown) dengan total nilai 4,4.
38
Simpulan
Berdasarkan hasil dari karakterisasi tepung terigu komersial secara kimia dan fisik
(reologi) menunjukkan tepung terigu yanng berasal dari PT. Bungasari memiliki
keunggulan pada kandungan protein dan gluten yang cenderung tinggi, kadar air yang
tinggi (nilai profitability yang tinggi), dan water absorption (daya serap air) tinggi.
Kelemahannya terletak pada kadar abu yang tinggi (efesiensi ekstraksi tepung yang
rendah) pada produk tepung Krakatau, development time dan stability yang cenderung
rendah, sehingga memiliki nilai indeks toleransi adonan yang tinggi (roti yang
dihasilkan akan mudah kempis).
Karakterisasi fisik roti tawar menunjukkan bahwa tepung Golden Eagle unggul
pada aspek tinggi dan lebar. Berdasarkan pengukuran perimeter tepung Golden Eagle
dan Krakatau yang cukup unggul, kecuali tepung Golden Crown yang memang
dirancang tidak mengedepankan pada segi volume.
Aspek pemilihan tepung terigu sebagai bahan baku dalam pembuatan roti tawar
terdiri dari 5 faktor dengan nilai pembobotnya, yaitu harga tepung terigu (30%), sensori
internal roti tawar (30%), sensori eksternal tepung terigu (20%), kebutuhan air (10%),
dan waktu pengadukan (10%). Berdasarkan 5 faktor tersebut, dari 9 tepung yang diuji
ditentukan peringkatnya. Peringkat pertama adalah tepung Gerbang Biru dan peringkat
terakhir adalah tepung Cakra Kembar. Tepung terigu dari PT. Bungasari memperoleh
peringkat ketiga untuk Golden Eagle, Krakatau dan Golden Crown memperoleh
peringkat kelima.
Secara keseluruhan tepung terigu yang berasal dari PT. Bungasari (Golden Crown,
Golden Eagle dan Krakatau) masih dapat dikategorikan dalam produk yang memiliki
kualitas cukup baik dibandingkan produk kompetitor pesaingnya, namun perlu
dilakukan perbaikan lebih lanjut pada tepung terigu Krakatau karena memiliki banyak
kelemahan terutama pada parameter internal roti tawar, hal tersebut dapat diakibatkan
oleh kadar abu yang tinggi.
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Kaletunc G, Breslauer KJ. 2003. Characterization of Cereals and Flours. New York
(US): Marcel Dekker Inc.
Keran H, Salkic M, Odobasic A. 2009. The importance of determintation of some
physical-chemical properties of wheat flour. Agriculturae Conspectus Scientificus.
74(3): 197-200.
Koppel R, Ingver A. 2010. Stability and predictability of baking quality of winter wheat.
Agronomy Research. 8(3): 637-644.
Koswara S. 2009. Teknologi Pembuatan Roti: [Link]. [Internet]. [diunduh
2016 Mei 29]. Tersedia pada [Link]
Roti...
Kweon M, Martin R, Souza E. 2009. Effect of tempering conditions on milling
performance and flour functionality. Cereal Chem. 86(1): 12-17.
rd
Matz SA. 1992. Bakery Technology and Engineering 3 edition. Texas (US): Van
Nostrand Reinhold.
Madhiv D, Hemlata P. 2015. A review on assessment of flour quality using rheological
test. Intl J Ad Sci. 6(5):157-165.
McWilliams M. 2001. Foods Experiental Perspevtive Forth Edition. New Jersey (US):
Prentice Hall.
Mis A. 2005. Influence of chosen factors on water absorption and rheological properties
of gluten of bread wheat (Triticum aestivum L.). Acta agrophys. 128(8):1-120.
Muchtadi T, Sugiono. 2013. Prinsip Proses Teknologi Pangan. Bogor (ID): Penerbit
Alfabeta.
Mudjajanto E, Yulianti 2008. Membuat Aneka Roti. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
NIR Board of Consultants and Engineers. 2006. Wheat, Rice, Corn, Oat, Barley and
Sorghum Processing Handbook (Cereal Food Technology). Kamla Nagar (IN): Asia
Pacific Business Press.
NPCS Board of Concultants and Engineers. 2011. Handbook on Fermented Food and
Chemicals. Kamla Nagar (IN): Asia Pacific Business Press.
Onyango C, Unbehend L, Unbehend G. 2015. Rheological properties of wheat maize
dough with the quality of bread treated with ascorbic acid and malzeperle classic
bread improver. Afrcn J Food Sci. 9(2):84-91.
Potter W. 1987. Food Science. Westport Connecticut (US): The AVI Publishing Co Inc
Prabowo B. 2010. Kajian Sifat Fisikokimia Tepung Millet Kuning dan Tepung Millet
Merah [Skripsi]. Program Studi Teknologi Hail Pertanian Fakultas Pertanian
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Ranhotra GS. 1999. Wheat: Contribution to World Supply and Human Nutrition. London
(UK): Blackie Academic & Professional.
Ratnawati I. 2003. Pengayakan Kandungan β-karoten Mie Ubi Kayu dengan Tepung
Labu Kuning (Curcubita maxima Dutchenes). [Skripsi]. Fakultas Teknologi
Pertanian Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Rauf R, Sarbini D. 2015. Daya serap air sebagai acuan untuk menentukan volume air
dalam pembuatan adonan roti dari campuran tepung terigu dan tepung singkong.
Agritech. 35(3): 324-330.
Rakkar PS. 2007. Development of A Gluten Free Comercial Bread. [Thesis]. Auckland
University of Technology. Auckland.
Rosell CM, Rajan J A, Benedito DE, Barder C. 2001. Influence of hydrocoloids on
dough rheology and bread quality. Food Hydrocoloids.15(1): 75-81.
41
Rozylo R, Laskowski J. 2011. Predicting bread quality (bread loaf volume and crumb
texture). J. Food Nutr Sci. 61(1):61-67.
Santoni. 2009. Tips Meningkatkan Mutu Roti. Food Review 4(4): 56-59. Jakarta (ID)
Sim SY, LH Cheng. 2011. Characteristics of wheat dough and chinese steamed bread
added alginates or konjac glucomannan. Food Hydrocoloids. 25(5):951-957.
Shewry PR, Popineau Y, Lafiandra D, Belton. 2001. Wheat glutenin subunits and dough
elasticity findings of eurowheat project. Trends Food Sci Tech. 11: 433-441.
US Wheat Associates. 1983. Pedoman Pembuatan Kue dan Roti. Jakarta (ID):
Djambatan.
US Wheat Associates. 2006. Elementary Cookie and Craker Course. Thailand: UFM
Baking and Cooking School.
USAID. 2000. Manual for Wheat Flour Fortification with Iron. Washington DC (US):
The USAID Micronurist in Program.
Wijayanti. 2007. Subtitusi Tepung Gandum (Triticum aestivum) Dengan Tepung Garut
(Maranta arundinaceae L) Pada Pembuatan Roti Tawar. [Skripsi] Fakultas Teknologi
Pertanian Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.
Wheat Marketing Center. 2004. Wheat and Flour Testing Methods: A Guide to
Understanding Wheat and Flour Quality. Portland (US): Wheat Marketing Center,
Inc.
42
LAMPIRAN
Komentar:
43
Lampiran 2.1 Hasil uji statistik ANOVA pada parameter eksternal roti tawar
tepung terigu komersial protein tinggi
ANOVA
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Volume Between Groups 57,944 8 7,243 20,281 ,000
Total 80,444 71
ColorOfCrust Between Groups 21,500 8 2,688 5,551 ,000
Total 52,000 71
EvennessOfBake Between Groups 3,528 8 ,441 1,837 ,087
Total 18,653 71
SymetryOfForm Between Groups 6,694 8 ,837 3,457 ,002
Within Groups 15,250 63 ,242
Total 21,944 71
CharacterOfCrust Between Groups 5,028 8 ,628 2,126 ,046
Total 23,653 71
BreakAndSherd Between Groups 12,278 8 1,535 4,321 ,000
Total 34,653 71
JenisTepung N 1 2 3 4
Tipe A 8 6,7500
Cakra Kembar 8 7,8750
Cakra Kembar Emas 8 8,3750
Golden Crown 8 9,0000
Gerbang Biru 8 9,2500 9,2500
Gerbang Jingga 8 9,2500 9,2500
Golden Eagle 8 9,3750 9,3750
44
ColorOfCrust
a
Duncan
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2 3 4
Tipe A 8 5,5000
Krakatau 8 6,2500
Gerbang Biru 8 6,3750 6,3750
Gerbang Jingga 8 6,6250 6,6250
Cakra Kembar Emas 8 6,7500 6,7500 6,7500
Golden Eagle 8 6,8750 6,8750 6,8750
Cakra Kembar 8 7,0000 7,0000 7,0000
Golden Crown 8 7,1250 7,1250
Tali Emas Spesial 8 7,5000
Sig. 1,000 ,062 ,062 ,057
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
EvennessOfBake
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2
Cakra Kembar Emas 8 2,7500
Tipe A 8 2,7500
Cakra Kembar 8 2,8750 2,8750
Golden Eagle 8 3,0000 3,0000
Krakatau 8 3,1250 3,1250
Golden Crown 8 3,2500 3,2500
Tali Emas Spesial 8 3,2500 3,2500
Gerbang Biru 8 3,2500 3,2500
Gerbang Jingga 8 3,3750
Sig. ,085 ,082
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
45
SymetryOfForm
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2
Golden Crown 8 2,7500
Cakra Kembar Emas 8 2,7500
Tali Emas Spesial 8 2,7500
Golden Eagle 8 2,7500
Gerbang Biru 8 2,7500
Cakra Kembar 8 2,8750
Krakatau 8 3,1250 3,1250
Tipe A 8 3,5000
Gerbang Jingga 8 3,5000
Sig. ,196 ,155
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
CharacterOfCrust
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2
Tipe A 8 3,3750
Gerbang Jingga 8 3,3750
Krakatau 8 3,5000
Tali Emas Spesial 8 3,6250
Golden Eagle 8 3,6250
Cakra Kembar 8 3,6250
Golden Crown 8 3,8750 3,8750
Cakra Kembar Emas 8 3,8750 3,8750
Gerbang Biru 8 4,2500
Sig. ,122 ,199
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
46
BreakAndSherd
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2 3
Cakra Kembar 8 2,6250
Tipe A 8 2,6250
Cakra Kembar Emas 8 2,7500 2,7500
Gerbang Jingga 8 2,7500 2,7500
Golden Eagle 8 2,8750 2,8750
Golden Crown 8 3,2500 3,2500 3,2500
Krakatau 8 3,3750 3,3750
Tali Emas Spesial 8 3,6250
Gerbang Biru 8 3,7500
Sig. ,069 ,064 ,131
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
Lampiran 2.2 Hasil uji statistik ANOVA pada parameter internal roti tawar tepung
terigu komersial protein tinggi
ANOVA
Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Grain Between Groups 8,028 8 1,003 1,519 ,169
Total 49,653 71
ColorOfCrumb Between Groups 10,361 8 1,295 2,530 ,019
Within Groups 32,250 63 ,512
Total 42,611 71
Aroma Between Groups 7,111 8 ,889 1,561 ,155
Within Groups 35,875 63 ,569
Total 42,986 71
Taste Between Groups 7,750 8 ,969 2,160 ,043
Within Groups 28,250 63 ,448
Total 36,000 71
Texture Between Groups 11,500 8 1,438 2,131 ,046
Within Groups 42,500 63 ,675
47
Total 54,000 71
MasticationAndChewabili Between Groups 11,278 8 1,410 3,172 ,004
Total 39,278 71
ColorOfCrumb
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2 3
Krakatau 8 2,8750
Gerbang Biru 8 3,2500 3,2500
Tali Emas Spesial 8 3,5000 3,5000 3,5000
Gerbang Jingga 8 3,5000 3,5000 3,5000
Golden Crown 8 3,7500 3,7500
Cakra Kembar 8 3,7500 3,7500
Cakra Kembar Emas 8 4,0000 4,0000
Tipe A 8 4,0000 4,0000
Golden Eagle 8 4,1250
Sig. ,116 ,073 ,137
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
48
Aroma
Duncan
a
Subset for alpha =
0.05
JenisTepung N 1
Krakatau 8 7,5000
Gerbang Jingga 8 7,5000
Tipe A 8 7,7500
Cakra Kembar Emas 8 8,0000
Golden Crown 8 8,1250
Tali Emas Spesial 8 8,1250
Cakra Kembar 8 8,1250
Golden Eagle 8 8,3750
Gerbang Biru 8 8,3750
Sig. ,052
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
Taste
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2
Cakra Kembar Emas 8 12,5000
Krakatau 8 12,7500 12,7500
Cakra Kembar 8 13,0000 13,0000
Golden Eagle 8 13,2500
Gerbang Jingga 8 13,2500
Golden Crown 8 13,3750
Gerbang Biru 8 13,3750
Tali Emas Spesial 8 13,5000
Tipe A 8 13,5000
Sig. ,164 ,058
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
49
Texture
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2 3
Cakra Kembar 8 12,3750
Krakatau 8 12,7500 12,7500
Golden Crown 8 13,0000 13,0000 13,0000
Tali Emas Spesial 8 13,0000 13,0000 13,0000
Gerbang Biru 8 13,3750 13,3750
Tipe A 8 13,3750 13,3750
Gerbang Jingga 8 13,3750 13,3750
Golden Eagle 8 13,5000 13,5000
Cakra Kembar Emas 8 13,7500
Sig. ,171 ,120 ,120
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
MasticationAndChewability
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
JenisTepung N 1 2 3
Cakra Kembar 8 3,1250
Krakatau 8 3,1250
Gerbang Jingga 8 3,5000 3,5000
Cakra Kembar Emas 8 3,6250 3,6250 3,6250
Tipe A 8 3,6250 3,6250 3,6250
Golden Crown 8 3,8750 3,8750 3,8750
Golden Eagle 8 3,8750 3,8750 3,8750
Gerbang Biru 8 4,1250 4,1250
Tali Emas Spesial 8 4,3750
Sig. ,054 ,105 ,051
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 8,000.
50
Lampiran 3.1 Hasil uji statistik ANOVA tinggi, lebar dan perimeter
ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Tinggi Between Groups 3,926 8 ,491 8,716 ,000
Total 5,446 35
Lebar Between Groups 2,494 8 ,312 3,290 ,009
Total 5,052 35
Perimeter Between Groups 37,087 8 4,636 56,831 ,000
Total 39,290 35
Homogeneous Subsets
Tinggi
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
NamaTepung N 1 2 3 4 5
Cakra Kembar 4 14,0500
Tipe A 4 14,0750
Cakra Kembar Emas 4 14,4500
Gerbang Jingga 4 14,4750
Golden Crown 4 14,5250 14,5250
Krakatau 4 14,6500 14,6500 14,6500
Gerbang Biru 4 14,8500 14,8500 14,8500
Tali Emas Spesial 4 14,9250 14,9250
Golden Eagle 4 15,0500
Sig. ,883 ,287 ,077 ,132 ,271
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 4,000.
Lebar
a
Duncan
Subset for alpha = 0.05
NamaTepung N 1 2 3
Golden Crown 4 9,7000
51
Perimeter
Duncan
a
Subset for alpha = 0.05
NamaTepung N 1 2 3 4 5 6 7
Tipe A 4 43,6500
Gerbang Jingga 4 44,2250
Krakatau 4 44,7000
Cakra Kembar 4 45,0000 45,0000
Cakra Kembar
4 45,3500 45,3500
Emas
Gerbang Biru 4 45,6000
Golden Crown 4 46,2250
Golden Eagle 4 46,4000
Tali Emas Spesial 4 46,9750
Lampiran 4.1 Hasil uji korelasi kadar protein dan kadar gluten
Correlations
KadarProtein KadarGluten
**
KadarProtein Pearson Correlation 1 ,953
Sig. (2-tailed) ,000
N 72 72
**
KadarGluten Pearson Correlation ,953 1
52
N 72 72
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Lampiran 4.2 Hasil uji korelasi parameter reologi adonan terhadap komposisi
kimia tepung terigu
Correlations
Kadar KadarA KadarProt KadarGlut WaterAbso DevTim Stabilit Toleran
Air bu ein en rption e y ce
KadarAir Pearson
* * **
1 -,245 -,009 ,111 ,237 ,215 -,010 ,423
Correlation
N 72 72 72 72 72 72 72 72
KadarAbu Pearson
* * * ** **
-,245 1 ,131 -,036 ,254 ,247 -,487 ,500
Correlation
Sig. (2-tailed) ,038 ,274 ,765 ,031 ,036 ,000 ,000
N 72 72 72 72 72 72 72 72
KadarProtein Pearson
** ** ** **
Correlation -,009 ,131 1 ,953 ,650 ,351 -,214 ,320
N 72 72 72 72 72 72 72 72
KadarGluten Pearson
** ** * **
Correlation ,111 -,036 ,953 1 ,718 ,153 -,272 ,327
N 72 72 72 72 72 72 72 72
WaterAbsorp Pearson
* * ** ** ** **
,237 ,254 ,650 ,718 1 -,130 -,431 ,366
tion Correlation
Sig. (2-tailed) ,045 ,031 ,000 ,000 ,278 ,000 ,002
N 72 72 72 72 72 72 72 72
DevTime Pearson
* ** ** *
,215 ,247 ,351 ,153 -,130 1 ,368 ,273
Correlation
N 72 72 72 72 72 72 72 72
Stability Pearson
** * ** ** **
Correlation -,010 -,487 -,214 -,272 -,431 ,368 1 -,688
N 72 72 72 72 72 72 72 72
Tolerance Pearson
** ** ** ** ** * **
Correlation ,423 ,500 ,320 ,327 ,366 ,273 -,688 1
N 72 72 72 72 72 72 72 72
Lampiran 4.3 Hasil korelasi unit operasi pembuatan roti tawar terhadap komposisi
kimia tepung terigu
Correlations
KebutuhanA WaktuPenga KadarAb KadarProtei KadarGlute
ir dukan KadarAir u n n
KebutuhanAir Pearson
* * ** ** **
Correlation 1 ,258 ,284 ,622 ,510 ,500
N 72 72 72 72 72 72
WaktuPengaduk Pearson
* ** ** ** **
an Correlation ,258 1 ,415 -,377 ,623 ,771
N 72 72 72 72 72 72
KadarAir Pearson
* ** *
Correlation ,284 ,415 1 -,245 -,009 ,111
N 72 72 72 72 72 72
KadarAbu Pearson
** ** *
Correlation ,622 -,377 -,245 1 ,131 -,036
N 72 72 72 72 72 72
KadarProtein Pearson
** ** **
Correlation ,510 ,623 -,009 ,131 1 ,953
N 72 72 72 72 72 72
KadarGluten Pearson
** ** **
Correlation ,500 ,771 ,111 -,036 ,953 1
N 72 72 72 72 72 72
Lampiran 4.4 Hasil korelasi unit operasi pembuatan roti tawar terhadap parameter
reologi adonan
Correlations
KebutuhanAi WaktuPenga WaterAbsorp
r dukan tion DevTime Stability Tolerance
KebutuhanAir Pearson
* ** ** **
Correlation 1 ,258 ,784 ,138 -,666 ,768
N 72 72 72 72 72 72
WaktuPengaduk Pearson
* **
,258 1 ,596 -,077 -,106 ,033
an Correlation
Sig. (2-tailed) ,029 ,000 ,523 ,376 ,785
N 72 72 72 72 72 72
WaterAbsorption Pearson
** ** ** **
,784 ,596 1 -,130 -,431 ,366
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000 ,000 ,278 ,000 ,002
N 72 72 72 72 72 72
DevTime Pearson
** *
Correlation ,138 -,077 -,130 1 ,368 ,273
N 72 72 72 72 72 72
Stability Pearson
** ** ** **
-,666 -,106 -,431 ,368 1 -,688
Correlation
Sig. (2-tailed) ,000 ,376 ,000 ,001 ,000
N 72 72 72 72 72 72
Tolerance Pearson
** ** * **
Correlation ,768 ,033 ,366 ,273 -,688 1
N 72 72 72 72 72 72
Lampiran 4.5 Hasil korelasi karakterisasi fisik roti tawar terhadap parameter kimia
tepung terigu
Correlations
Perimeter KadarAir KadarAbu KadarProtein KadarGluten
** ** **
Perimeter Pearson Correlation 1 ,051 ,349 ,573 ,505
Sig. (2-tailed) ,668 ,003 ,000 ,000
N 72 72 72 72 72
*
KadarAir Pearson Correlation ,051 1 -,245 -,009 ,111
Sig. (2-tailed) ,668 ,038 ,937 ,353
N 72 72 72 72 72
** *
KadarAbu Pearson Correlation ,349 -,245 1 ,131 -,036
Sig. (2-tailed) ,003 ,038 ,274 ,765
N 72 72 72 72 72
** **
KadarProtein Pearson Correlation ,573 -,009 ,131 1 ,953
Sig. (2-tailed) ,000 ,937 ,274 ,000
N 72 72 72 72 72
** **
KadarGluten Pearson Correlation ,505 ,111 -,036 ,953 1
Sig. (2-tailed) ,000 ,353 ,765 ,000
N 72 72 72 72 72
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).
56
RIWAYAT HIDUP