0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
832 tayangan13 halaman

Prinsip dan Fungsi Spektrofotometri AAS

Dokumen tersebut membahas tentang instrumen penelitian khususnya spektrofotometri serapan atom (SSA). SSA merupakan metode analisis kimia untuk mengukur konsentrasi unsur kimia berupa atom dengan memanfaatkan serapan sinar oleh atom-atom tersebut berdasarkan hukum Lambert-Beer. Dokumen tersebut juga menjelaskan komponen, prinsip kerja, dan aplikasi SSA dalam analisis kimia.

Diunggah oleh

IsTi Masivers
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
832 tayangan13 halaman

Prinsip dan Fungsi Spektrofotometri AAS

Dokumen tersebut membahas tentang instrumen penelitian khususnya spektrofotometri serapan atom (SSA). SSA merupakan metode analisis kimia untuk mengukur konsentrasi unsur kimia berupa atom dengan memanfaatkan serapan sinar oleh atom-atom tersebut berdasarkan hukum Lambert-Beer. Dokumen tersebut juga menjelaskan komponen, prinsip kerja, dan aplikasi SSA dalam analisis kimia.

Diunggah oleh

IsTi Masivers
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Balakang
Instrument merupakan alat-alat yang digunakan sebagai pengumpul
data dalam suatu penelitian. Dalam suatu penelitian, kita dapat menggunakan
instrumen yang sudah tersedia dan dapat pula menggunakan instrument yang
di buat sendiri. Langkah penyusunan instrumen yaitu dengan mencari
informasi dari kepustakaan mengenai hal-hal yang ada relevansinya dengan
tulisan, menentukan jenis penelitianyang akan dilakukan (kualitatif dan
kuantitatif), uji realiabilitas dan validitas instrument. Reliabilitas istilah yang
di pakai untuk menunjukan sejauh mana suatu hasil pengukuran relative
konsisten apabila pengukuran di ulangi dua kali atau lebih. Suatu alat ukur di
katakan memiliki reliabilitas tinggi atau dapat di percaya jika alat ukur itu
mantap dalam artian stabil, dapat di andalkan dan dapat di ramalkan. Suatu alat
ukur yang mantap, pengukurannya tidak akan berubah-ubah dan dapat di
andalkan karena penggunaan alat ukur tersebut berkali-kali akan memberikan
hasil yang serupa.
Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) atau Spektrofotometri
Serapan Atom (SSA) adalah salah satu jenis analisa spektrofometri dimana
dasar pengukurannya adalah pengukuran serapan suatu sinar oleh suatu atom,
sinar yang tidak diserap, diteruskan dan diubah menjadi sinyal listrik yang
terukur. AAS pertama kali diperkenalkan oleh Welsh (Australia) pada tahun
1955. AAS merupakan suatu metode yang populer untuk analisa logam, karena
disamping sederhana, ia juga sensitif dan selektif. Alat Atomic Absorption
Spectrophotometer.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berdampak
pada makin meningkatnya pengetahuan serta kemampuan dari manusia. Betapa
tidak setiap manusia lebih dituntut dan diarahkan kearah ilmu pengetahuan dan
teknologi di segala bidang. Tidak ketinggalan pula ilmu kimia yang identik

i
dengan ilmu mikropun tidak luput dari sosrotan perkebangan IPTEK ini.
Belakangan ini telah lahir IPTEK-IPTEK yang berpeluang mempermudah
dalam keperluan analisis kimia. Salah satu bentuk kemajuan IPTEK ini yang
biasa dikenal sekarang diantaranya alat serapan atom yang kemudian sangat
mendukung dalam analisis kimia dengan metode Spektroskopis Serapan Atom
(SSA).

B. RumusanMasalah
Rumusan masalah dalam makalah Spektrofotometri Serapan Atom
(SSA) sebagai berikut:
1. Apa itu Spektrofotometer Spektrofotometri Serapan Atom?
2. Bagaimana komponen Spektrofotometri Serapan Atom?
3. Bagaimana fungsi dari Spektrofotometri Serapan Atom?
4. Bagaimana prinsip kerja dari Spektrofotometri Serapan Atom?

A. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)
sebagai berikut:
1. Mengetahui apa itu Spektrofotometri Serapan Atom
2. Mengetahui komponen Spektrofotometer Serapan Atom
3. Mengetahui fungsi dari Spektrofotometer Serapan Atom.
4. Mengetahui prinsip kerja dari Spektrofotometri Serapan Atom?

B. Manfaat
Manfaat pembuatan makalah ini yaitu diharapkan dapat mengetahui
tentang Spektrofotometri Serapan Atom, cara penggunaan dan aplikasinya bagi
kehidupan sehari-hari.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Dasar
Salah satu metode analisis kimia, baik untuk analisis kuantitatif maupun
untuk analisis kualitatif adalah analisis dengan menggunakan alat instrumentasi
photometer. Pada garis besarnya alat ini dapat dibedakan menjadi alat kalorimeter
dan spektrophotometer. Untuk jenis alat kalorimeter, mengukur serapan sinar
diskontinyu melalui sampel larutan bahan / senyawa kimia yang berwarna atau
dibuat berwarna, sedangkan pada alat spektrophotometer mengukur serapan sinar
yang kontinyu melalui sampel bahan kimia baik berupa senyawa maupun berupa
atom. Tergantung jenis sinar yang dideteksi, dikenal spektrophotometer sinar
tunggal yang dipakai untuk kawasan spektrum ultraviolet dan cahaya tampak (uv-
visibel), juga dikenal spektrophotometer sinar ganda yang dapat mendeteksi sampai
kawasan spektrum inframerah.
Alat spektrophotometer yang secara khusus mengukur konsentrasi bahan
kimia berupa atom bukan senyawa disebut spektrophotometer nyala (flame
spectrofotometer) yang memakai obyek nyala api pembakar. Berdasarkan
metodenya (emisi atau absorpsi), dikenal dua jenis spektrophotometer nyala yaitu
Spektrophotometer Emisi Nyala disingkat SEN (Flame Emission
Spektrophotometer, FES) dan Spektrophotometer Serapan Atom disingkat SSA
(Atomic Absorbtion Spectroscopy, AAS). Perkembangan FES dimulai sejak tahun
1990, Spektrophotometer Serapan Atom 3 sedangkan AAS diperkenalkan sekitar
tahun 1960. Kedua jenis spektrophotometer nyala ini beroperasi pada suhu nyala
berkisar antara 1700 - 3200 0 C.
Gambar 1.1 Alat Instrumentasi AAS Type Buck 210 VGP 1.2 Proses
Absorpsi Pada Serapan Atom Pada alat spektrophotometer secara umum, seberkas
cahaya monokromatik dengan intensitas cahaya (Io) dilewatkan melalui kuvet
dengan diameter (d) dan berisi larutan sampel dengan konsentrasi (C), maka setelah
berkas tersebut menempuh jarak (x), intensitas cahaya akan turun menjadi I, seperti
Gambar 1.1. Pada alat spektrophotometer secara umum, seberkas cahaya

3
monokromatik dengan intensitas cahaya (Io) dilewatkan melalui kuvet dengan
diameter (d) dan berisi larutan sampel dengan konsentrasi (C), maka setelah berkas
tersebut menempuh jarak (x), intensitas cahaya akan turun menjadi I, seperti
Gambar 1.1.

Melalui lapisan tipis dx intensitas cahaya turun sebesar dI, dan akan
berbanding lurus dengan I dan jumlah mol [Link], atau dapat dituliskan:
dI = -[Link] …………………………............................ (1.1)
Dimana k adalah konstanta yang antara lain bergantung pada kemungkinan
peralihan antara dua nivo energi potensial molekul dalam larutan. Integrasi
persamaan diatas dengan batasan pada x=0 (I=Io) sampai x=x (I=I) sebagai berikut
:
ò ò = - l x l k C dx I dI o 0 . ………………………….... (1.2)
Hasil integrasi persamaan di atas :
ln(I / Io) = -k.C.x ................................ (1.3)
atau
k C x I Io e . . . - = ............................... (1.4)
Atau lebih lazim ditulis : C x I Io . . .10-e =
Di mana e disebut koefisien eksitasi dengan satuan lt/mol/cm Transmisi
total setebal kuvet (d) adalah : T = It/Io = Id/Io = .C.d 10-e ………........... (1.5)

4
Gambar 1.2 Absorpsi sinar oleh larutan sampel dalam kuvet

Persamaan (1.5) ini disebut hukum Lambert-Beer, atau biasa dinyatakan


dalam persen transmisi :
% T = T . 100 = 2 .C.d 10 -e ……………….......................... (1.6)
Jadi transmisi berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya
konsentrasi sampel. Oleh karena penjabaran yang melibatkan fungsi eksponensial
sangat rumit, maka digunakan pengertian Ekstingsi (E) yang dapat dituliskan dalam
transmisi (T):
E = - log T ………………………........................................ (1.7)
Sedangkan hubungan E dengan konsentrasi C :
E = e .C.d .................................................................. (1.8)

Berdasarkan persamaan ini ekstingsi itu berbanding lurus dengan


konsentrasi zat yang menyerap cahaya.
Untuk T = 1 (atau 100%) maka ekstingsi E = 0, sebaliknya,
Untuk T = 0 maka ekstingsi E = tak terhingga.

B. Prinsip Kerja Serapan Atom


Sampel berupa molekul akan didisosiasikan (terurai) menjadi atom-atom di
dalam nyala api pada alat spektrophotometer serapan atom, atom menyerap energi
sehingga elektron-elektronnya mengalami eksitasi. Energi eksitasi ini berasal dari
pancaran sinar sebuah sumber cahaya lampu, dimana energi yang terserap sama
dengan selisih energi antara dua nivo energi. Peralihan antara dua nivo energi yang
melibatkan posisi dasar biasanya mempunyai intensitas pancaran dan serapan yang

5
lebih kuat daripada kemungkinan peralihan yang lain. Peralihan dari posisi dasar ke
posisi eksitasi yang pertama disebut garis resonansi. Garis resonansi ini sangat
penting artinya pada atomaborpsi, sebab pada atom absorpsi ini tiap elemen dalam
sampel akan menyerap sinar dengan jumlah jarak gelombang yang terbatas dalam
kawasan spektrum yang sempit. Dari spektrum serapan ini akan dapat diperoleh
data-data Spektrophotometer Serapan Atom 6 mengenai zat sampel. Nyala api gas
pembakar molekul / atom yang ada dalam sebuah proses spektrophotometer serapan
atom seolah-olah berfungsi sebagai kuvet pada spektrophotometer Ultra Violet –
Visibel (UV-Vis).
Dalam prakteknya, kita diharuskan membuat kurva standar antara ekstingsi
(serapan) dengan konsentrasi larutan sampel. Dari grafik standar ini kemudian
dilarutkan sampel yang telah diukur serapannya, kemudian dapat ditentukan
konsentrasinya secara interpolasi atau ekstrapolasi. Namun untuk
spektrophotometer serapan atom moderen yang diperlengkapi dengan sistem
komputer kalibrasi, standarisasi dan perhitungan semuanya secara otomatis
dilaporkan dalam bentuk print out oleh alat tersebut.
Prinsip pengukuran spekterophotometer serapan atom analog dengan
prinsip pengukuran pada serapan molekuler spektrofotometer. Garis yang
terpenting dalam spektrophotometer serapan atom adalah garis resonansi. Ukuran
lebar alami garis resonansi ini terletak dalam kisaran 0,005 nm. Pada garis ini tidak
akan muncul pelebaran garis akibat peralihan vibrasi dan rotasi, sebagaimana
halnya pada molekuler spekterofotometer. Garis serapan yang sangat sempit ini
merupakan penyebab langsung mengapa sumber cahaya normal yang kontinyu
tidak dapat dipergunakan dalam absorpsi. Sebuah monokromator hanya dapat
mengisolasikan seberkas sinar sumber cahaya dari suatu kawasan gelombang yang
lebarnya sama dengan himpunan spektrum monokromator itu sendiri. Bagi sebuah
spektrofotometer, lebar itu terletak pada ordo 0,5 nm. Selain itu sumber cahaya
yang kontinyu hanya memancarkan energi yang kecil jumlahnya bagi tiap-tiap
kawasan spektrum yang kecil.
Dengan demikian hampir seluruh sinar dalam batas-batas himpunan
gelombang monokromator akan jatuh pada detektor, seandainya terjadi serapan

6
maksimal oleh atom-atom dalam nyala api, yang diserapkan hanya sebesar 1% dari
seluruh sinar dalam himpunan spektrum itu (kawasan spektrum selebar 0,005 nm
dari himpunan yang lebarnya 0,5 nm). Pada alat spektrophotometer serapan atom
ini, sinar lampu diarahkan dengan sebuah lensa kepada nyala api dan kemudian
Spektrophotometer Serapan Atom 7 dilewatkan melalui sebuah monokromator.
Mengingat bahwa lampu tersebut memancarkan beberapa garis karakteristik dari
pada unsur, maka umumnya dipergunakan sebuah monokromator yang
mengisolasikan garis resonansi yang terpenting, yaitu garis yang timbul akibat
perubahan dari posisi teeksitasi dari garis dasar.
Untuk melakukan pengamatan dengan menggunakan alat
spektrophotometer serapan atom terhadap unsur-unsur yang dalam nyala api sudah
dapat mengemisikan sinar, maka dalam alat spektrophotometer serapan atom
tersebut sering diperlengkapi dengan sebuah alat interuptor sinar cahaya (chopper).
Alat ini dipasangkan antara lampu dengan nyala api sehingga kepada nyala api
tersebut akan jatuh sinar lampu yang terputus-putus secara periodik. Sinar cahaya
yang berperiodik ini bertepatan dengan sinar emisi dari nyala api ke detektor.
Apabila detektor dihubungkan dengan aplifator arus bolak-balik yang frekwensinya
sama dengan frekwensi interuptor, maka yang diregistrasikan hanya sinar yang
berasal lampu bukan cahaya yang berasal dari nyala api.
Unsur atau atom yang diselidiki dengan spektrophotometer serapan atom
ialah terutama unsur-unsur yang garis resonansinya berada di bawah 500 nm. Untuk
unsur-unsur natrium, kalium dan kalsium dapat diukur dangan alat
spektrophotometer serapan atom tanpa saling mengganggu terhadap garis-garis
spektrumnya. Sedangkan unsur-unsur dalam Tabel 1.1 berikut harus diselidiki
secara sendiri bila menggunakan alat spektrophotometer serapan atom. Kegunaan
spektrophotometer serapan atom lebih berfokus pada analisis kuantitatif atom-atom
logam, hingga saat ini sudah ada sekitar 70 jenis atom yang dapat dianalisis,
diantaranya tercantum dalam Tabel 1.1.

7
Konsentrasi larutan sampel sekecil mungkin, tidak lebih 5% dalam pelarut
yang sesuai (biasanya dalam skala ppm bahkan ppb). Larutan sampel dikehendaki
dalam kondisi asam, sehingga jika sampel logam harus dilebur dalam alkali maka
kemudian harus diasamkan lagi. Hindari pemakaian pelarut aromatik atau
halogenida, pelarut organik yang lazim dipakai adalah keton, ester, dan etil asetat
dengan tingkat kemurnian yang tinggi atau pro analitis (p.a).

C. Instrumentasi Serapan Atom


Pada sistem instrumentasi spektrophotometer serapan atom dikenal dua
jenis sistem optik yaitu berkas tunggal dan berkas ganda, namun yang banyak
digunakan dalam spektrophotometer serapan atom modern adalah jenis berkas
ganda, seperti Gambar 1.3.

8
Gambar 1.3 Skema instrumentasi spektrophotometer serapan atom berkas ganda

1. Sumber Cahaya
Sumber cahaya berupa lampu yang dapat memancarkan energi yang cukup.
Ada jenis lampu yang dapat memancarkan spektrum kontinyu sebaliknya ada
lampu yang dapat memancarkan spektrum [Link] spektrofotometer tipe
spektrophotometer serapan atom dipergunakan jenis lampu katoda dengan
spektrum garis. Dalam hal ini diperlukan sinar dengan lebar berkas yang sangat
sempit dimana garis emisinya harus sesuai dengan garis resonansi unsur atau atom
yang diselidiki. Lampu katoda terdiri atas sebuah katoda berongga berbentuk
tabung dan berhadapan dengan anoda dari kawat wolfram, keduanya terbungkus
dengan bahan gelas. Lampu ini diisi dangan gas mulia seperti argon, neon, helium
atau krypton sampai tekanan maksimal 1 [Link] anoda dan katoda dipasang
tegangan sebesar kira-kira 300 V dan melalui katoda dialirkan arus sebesar 10 mA.
Karenanya katoda menjadi pijar dan mengakibatkan penguapan atom logam yang
elektronelektronnya mengalami eksitasi dalam rongga katoda. Lampu ini akan
memancarkan emisi spektrum yang khas untuk logam bahan penyusun katoda.
Kelemahan lampu katoda berongga ini adalah bahwa pada alat
spektrophotometer serapan atom harus dipergunakan lampu dengan katoda yang

9
dibuat dari elemen atau unsur yang sejenis dengan unsur yang dianalisis. Untuk itu
menjadi perhatian bahwa jumlah unsur yang akan diteliti bergantung pada jumlah
lampu yang sesuai dan tersedia, setiap unsur masing-masing memiliki lampu
sendiri. Sebetulnya ada jenis lampu yang baru yang dapat dipergunakan untuk
beberapa jenis unsur. Tetapi pada prinsipnya katoda lampu ini dibuat dari campuran
beberapa logam, ada jenis lampu yang terdiri dari gabungan logam tembaga dan
magnesium, ada lampu gabungan tembaga dan krom. Bahkan telah ada lampu
gabungan dari enam unsur logam, yaitu logam tembaga, magnesium, krom, besi,
nikel dan kobal.

2. Monokromator
Monokromator merupakan suatu alat yang diletakkan diantara nyala dan
detektor pada suatu rangkaian instrumentasi spektrophotometer serapan atom. Ada
dua jenis monokromator yang dipakai yaitu monokromator celah dan kisi difraksi.

3. Detektor
Detektor berfungsi sebagai alat penguat dari spektrum cahaya yang telah
melewati sampel. Syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah detektor adalah memiliki
respon yang linear terhadap energi sinar dalam kawasan spektrum yang
bersangkutan. Pada spektrophotometer serapan atom detektor yang lazim dipakai
adalah Detektor Tabung Pengadaan(Photon Multiplier Tube Detector, PMTD).

4. Pembakar dan Tanur


Gas dan alat pembakar pada spektrophotometer serapan atomdikenal dua
jenis gas pembakar yang bersifat oksidasi dan bahan [Link] pengoksidasi
misalnya udara (O2) atau campuran O2 dan N2O,sedangkan sebagai bahan bakar
adalah gas alam, propane, butane,asetilen dan H2. Gas pembakar dapat pula berupa
campuran udara dengan propane, udara dengan asetilen (terbanyak dipakai) dan
N2O dengan asetilen. Alat pembakar untuk mendapatkan nyala api juga perlu
diperhatikan. Ada kalanya dipakai teknik tanpa nyala yang dikembangkan pada
spektrophotometer serapan atom modern. Baik teknik nyala api maupun teknik

10
tanpa nyala api diharapkan memperoleh uap atom netral suatu unsur dalam sampel.
Teknik dengan nyala api yang banyak terpakai, yang perlu dikembangkan adalah
panjang atau lebar nyala api (sebab dianggap sebagai kuvet) sehingga dapat
memenuhi hukum Lambert-Beer di atas. Kuvet merupakan suatu tempat untuk
nyala api dan atom-atom yang ada didalamnya, seolah-olah berfungsi sebagai
kuvet.

D. Prosedur Kerja Serapan Atom


Pada prakteknya, ada dua tahap utama yang perlu dilakukan dalam analisis
logam menggunakan spektrophotometer serapan atom. Tahap pertama adalah
pembuatan kurva standar dangan menggunakan larutan standar logam yang telah
tersedia sesuai dengan jenis logam yang akan dianalisis (minimal tiga titik). Kurva
standar di sini merupakan hubungan antara serapan sebagai fungsi konsentrasi
(biasanya skala ppm atau ppb), sesuai hukum Lambert-Beer maka kurva ini
diharapkan linear. Tahap kedua adalah tahap analisis yang sesungguhnya, yaitu
dengan mengukur langsung serapan sampel larutan logam. Nilai serapan ini
kemudian diplotkan pada kurva standar secara ekstrapolasi atau interpolasi
sehingga konsentrasi sampel yang diukur dapat ditentukan.

E. Penerapan Absorbsi Atom


Untuk pemerian metode absorpsi atom yang rinci, pembaca yang perminat
hendaknya memeriksa literatur. Teknik ini telah diterapkan pada penetapan sekitar
60 unsur, dan teknik ini merupakan alat utama dalam pengkajian yang meliputi
logam runutan dalam lingkungan dan dalam sampel biologis. Seringkali lebih
disukai daripada pengabuan kering mengingat susut karena menguap dari unsur-
unsur runutan tertentu (pengabuan kering semata –mata adalah pasangan sampel
dalam suatu tanur untuk mengoksidasi bahan organik). Kemudian absorpsi atom
dilakukan terhadap larutan pengabuan basah atau terhadap larutan yang dibuat dari
residu pengabuan-kering.
Segi utama sbsorpsi atom tertentu saja adalah kepekaan. Beberapa contoh
batas deteksi, dalam kebanyakan kasus, nilai–nilai itu adalah konsetrasi dalam

11
larutan akhir yang diserahkan ke pengabutan dan pengukuran yang menghasilkan
nilai absorbans yang sama dengan dua kali deviasi standar nilai absorbans latar
belakang yang diperoleh dengan air murni. Nilai–nilai itu dipaparkan hanya untuk
memberikan gambar betapa pekanya absorpsi atom itu.
Dalam satu segi, absorpsi atom menyolok sekali bebasnya dari gangguan
perangkat tingkat –tingkat energi elektronik untuk sebuah atom adalah unit untuk
unsur itu. Gangguan utama dalam absorpsi atom adalah efek matriks yang
mempengaruhi proses pengatoman. Baik jauhnya disosiasi menjadi atom –atom
pada suatu temperatur tertentu maupun laju proses bergantung sekali pada
komposisi keseluruhan dari sampel. Misalnya jika suatu larutan kalsium klorida
dikabutkan dan dilarutkan partikel–partikel halus CaCl2 padat akan berdisosiasi
menghasilkan atom Ca dengan jauh lebih mudah daripada kalsium fosfat. Terutama
pentig bahwa larutan standar sangat mirip dengan sampel tk diketahui dalam hal
komposisi umum, sehubungan dengan komponen –komponen yang berada dengan
kuantitas besar. Di mana diharapkan variasi dalam komposisi keseluruhan dari satu
ke lain sampel, umumnya diinginkan agar si analis menciptakan sendiri matriksnya
denga menambahkan sesuatu bahan secukupnya untuk menenggelamkan variasi
sampel.

F. Contoh Analisa
Diukur serapan larutan standar Pb dangan konsentrasi 0,5 ; 1 dan 2,5 ppm
pada panjang gelombang optimumnya yaitu l = 283,3 nm, diperoleh hasil
pengukuran berupa serapan sebagai berikut:

Tabel 1.2. Data konsentrasi dan serapan


Konsentrasi (ppm) Serapan
0,5 0,04

12
1 0,091
2,5 0,1789

Jika misalnya pengukuran larutan contoh Pb memberikan serapan sebesar


A=0,09, maka konsentrasi larutan contoh Pb tersebut dapat ditentukan dengan cara
memplotkan nilai serapan tersebut pada grafik di atas atau dihitung menggunakan
persaman regresi linear di atas, yaitu:

A = 0,0669C + 0,014
C = (A-0,014)/0,0699
= (0,09-0,014)/0,0699
= 1,0873 ppm

13

Anda mungkin juga menyukai