0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan67 halaman

Pemasaran Efisien Bawang Merah Cimenyan

Skripsi ini membahas analisis pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi pemasaran dan saluran pemasaran bawang merah serta merekomendasikan alternatif pemasaran yang lebih efisien. Hasil analisis menunjukkan saluran pemasaran petani-pasar modern dan petani-pedagang besar-pedagang pengecer relatif efisien berdasarkan nilai marjin, farmer's share, dan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
265 tayangan67 halaman

Pemasaran Efisien Bawang Merah Cimenyan

Skripsi ini membahas analisis pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi pemasaran dan saluran pemasaran bawang merah serta merekomendasikan alternatif pemasaran yang lebih efisien. Hasil analisis menunjukkan saluran pemasaran petani-pasar modern dan petani-pedagang besar-pedagang pengecer relatif efisien berdasarkan nilai marjin, farmer's share, dan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS PEMASARAN BAWANG MERAH

DI KECAMATAN CIMENYAN, KABUPATEN BANDUNG,


PROVINSI JAWA BARAT

IVONY ANNISA

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Pemasaran


Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa
Barat karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di
bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2017

Ivony Annisa
NIM H34130019
ABSTRAK

IVONY ANNISA. Analisis Pemasaran Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan,


Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Dibimbing oleh RATNA WINANDI
ASMARANTAKA.

Bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikultura unggulan


nasional. Harga bwang merah cenderung berfluktuatif dan memiliki marjin
pemasaran yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemasaran
dan tingkat efisiensi pemasaran serta merekomendasikan alternatif pemasaran.
Metode pengumpulan data menggunakan purposive sampling untuk petani dan
snowball sampling untuk lembaga pemasaran. Hasil analisis menunjukkan saluran
pemasaran yang relatif efisien pada saluran3 (petani – pasar modern), saluran 4
(petani – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen) dan 5 (petani –
pedagang pengumpul – pedagang besar – pedagang pengecer – konsumen).
Indikator efisiensi pemasaran adalah marjin pemasaran, farmer’s share, rasio
keuntungan terhadap biaya, daya serap komoditas, serta fungsi-fungsi pemasaran.

Kata kunci: efisiensi pemasaran, bawang merah, marjin pemasaran, saluran


pemasaran

ABSTRACT

IVONY ANNISA. Marketing Analysis of Onion in Cimenyan Area, Bandung


District, West Java Province. Supervised by RATNA WINANDI
ASMARANTAKA.

Onion is one of the national superior horticultural crops. The price of onion
tends to be fluctuating and has a great marketing margin. Ths research aimed to
analyze marketing system, marketing efficiency, and recommend marketing
alternative. Data were collected using purposive sampling method for farmers and
snowball sampling for marketing institutions. The analysis showed marketing
channel that relative efficient were channel 3 (farmer – modern wholesaler),
channel 4 (farmer – wholesaler – retailer), and channel 5 (farmer – trader –
wholesaler – retailer). Marketing efficiency indicator were marketing margin,
farmer’s share, benefit-cost ratio, absorb volume of commodity, and marketing
function, market’s behavior, and also relationship among institutions. Marketing
management was formulated by optimalizing agribusiness’ subsistems.
ANALISIS PEMASARAN BAWANG MERAH
DI KECAMATAN CIMENYAN, KABUPATEN BANDUNG,
PROVINSI JAWA BARAT

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Agribisnis

DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PRAKATA

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke Hadirat Allah Swt yang telah


memberikan hidayah dan rahmat-Nya, sehingga karya ilmiah ini berhasil
diselesaikan.
Topik yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Januari
2017 ini ialah pemasaran agribisnis, dengan judul Analisis Pemasaran Bawang
Merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis efisiensi pemasaran bawang merah
melalui pendekatan pemasaran operasional dengan indikator kuantitaif dan
kualititaf. Indikator kuantitatif yaitu dengan membandingkan nilai marjin
pemasran, farme’s share, sebaran nilai rasio keuntungan terhadap biaya, dan
penjualan petani, sedangkan indikator kualitatif yaitu dengan melihat fungsi-
fungsi pemasaran yang dilakukan tiap lembaga pemasaran.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terma kasih kepada kepada Ibu
Dr Ir Ratna Winandi Asmarantaka, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang
telah membimbing dan memberi saran untuk penulisan karya ilmiah ini sampai
selesai, Bapak Dr Ir Harianto, MS selaku dosen penguji utama, dan Bapak
Maryono, SP [Link] selaku doesen penguji akademik yang telah memberi kritik
dan saran yang membangun untuk penyempurnaan karya ilmiah ini, Bapak Dr Ir
Joko Purwono, MS selaku dosen pembimbing akademik yang telah banyak
memberi bimbingan dan arahan selama masa perkuliahan, staff dosen dan tenaga
kependidikan Departemen Agribisnis IPB, serta Herlinda selaku pembahas pada
seminar hasil penelitian. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada
kedua orangtua (Papa Ahmad Hartono dan Mama Cucum Ratna Suminar) atas
dukungan serta doa yang tak terhingga, adik-adik (Rassel, Faiz, dan Bela), kakak-
kakak (Zulfi dan Riska), sahabat-sahabat terdekat (Helmi Alfiansyah, Ayu
Adinda, Tika, dan Agesty), teman-teman Agribisnis 50, serta teman-teman MSA
7.
Akhir kata penulis mengharapkan karya ilmiah ini dapat bermanfaat.

Bogor, Juni 2017

Ivony Annisa
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN i
PRAKATA ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL iv
DAFTAR GAMBAR iv
DAFTAR LAMPIRAN iv
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 5
Manfaat Penelitian 5
Ruang Lingkup Penelitian 6
TINJAUAN PUSTAKA 6
Kajian Mengenai Saluran Pemasaran 6
Kajian Mengenai Fungsi-fungsi Pemasaran 7
Kajian Mengenai Efisiensi Pemasaran 8
KERANGKA PEMIKIRAN 9
Kerangka Pemikiran Teoritis 9
Pemasaran 9
Lembaga, Fungsi, dan Saluran Pemasaran 10
Efisiensi Pemasaran 11
Kerangka Pemikiran Operasional 13
METODE PENELITIAN 15
Lokasi dan Waktu Penelitian 15
Jenis dan Sumber Data 15
Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Responden 16
Metode Pengolahan dan Analisis Data 17
Analisis Lembaga dan Saluran Pemasaran 17
Analisis Fungsi-fungsi Pemasaran 17
Analisis Efisiensi Pemasaran 17
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 20
Keadaan Wilayah 20
Karakteristik Petani Responden 21
Karakteristik Lembaga Pemasaran 23
HASIL DAN PEMBAHASAN 24
Analisis Saluran Pemasaran 24
Analisis Lembaga Pemasaran 29
Analisis Fungsi-fungsi Pemasaran 31
Analisis Efisiensi Pemasaran 37
Analisis Efisiensi Operasional Saluran Pemasaran 39
SIMPULAN DAN SARAN 40
Simpulan 40
Saran 41
DAFTAR PUSTAKA 41
LAMPIRAN 44
RIWAYAT HIDUP 53

DAFTAR TABEL
1 Produksi Bawang Merah menurut Sentra Produksi Bawang Merah di Indonesia
Tahun 2011-2015 2
2 Produksi Bawang Merah Provinsi Jawa Barat Tahun 2015 2
3 Luas Tanam, Produksi, dan Rata-rata Produksi Bawang Merah di Kabupaten
Bandung Tahun 2015 3
4 Kebutuhan data penelitian 15
5 Pemanfaatan lahan usahatani di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung,
Provinsi Jawa Barat 20
6 Keadaan Penduduk Kecmatan Cimenyan berdasarkan mata pencaharian tahun
2016 21
7 Karakteristik Petani Responden Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan 22
8 Karakteristik lembaga pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan 23
9 Marjin pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten
Bandung 38
10 Marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran,
dan volume penjualan petani bawang merah 39

DAFTAR GAMBAR
1 Tingkat Inflasi Indonesia Bulan Juli-Desember 2016 1
2 Harga bawang merah (Rp/kg) di Kabupaten Bandung bulan Januari sampai
Desember tahun 2016 4
3 Kurva Marjin Pemasaran 12
4 Kerangka Operasional Pemasaran Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan 14
5 Saluran Pemasaran Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan 24

DAFTAR LAMPIRAN

1 Data petani bawang merah responden di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten


Bandung, Provinsi Jawa Barat 44
2 Fungsi-fungsi pemasaran oleh partisipan pemasaran bawang merah di
kecamtan Cimenyan pada setiap saluran pemasaran 45
3 Biaya pemasaran tiap saluran pemasaran bawang merah di Kecamatan
Cimenyan 46
4 Marjin Pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten
Bandung 49
5 Rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran bawang merah di Kecamatan
Cimenyan 52
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Komoditas hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang


mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan, mengingat Indonesia
memiliki keanekaragaman hayati dan ketersediaan lahan pertanian. Menurut
Direktorat Jenderal Hortikultura, terdapat 323 jenis tanaman hortikultura yang
dikembangkan di Indonesia. Oleh karena itu, kementerian pertanian menetapkan
komoditas unggulan, di mana komoditas tersebut akan mendapatkan perhatian
secara intensif sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019.
Bawang merah termasuk salah satu komoditas hortikultura jenis sayuran
yang menjadi komoditas unggulan nasional dan mendapat perhatian intensif oleh
Direktorat Jendral Hortikultura 1 . Tanaman bawang merah yang dibudidayakan di
Indonesia telah lama diusahakan oleh petani sebagai usahatani komersial. Tingkat
permintaan dan kebutuhan bawang merah yang tinggi menjadikan komoditas ini
sangat menguntungkan untuk diusahakan. Bawang merah merupakan salah satu
komoditas yang mempengaruhi tingkat inflasi di Indonesia (BPS 2016). Tingkat
inflasi nasional pada bulan November 2016 yaitu sebesar 0.47 persen, di mana
angka tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi bulan Oktober 2016
yaitu sebesar 0.14 persen. Andil bawang merah terhadap tingkat inflasi bulan
November 2016 yaitu sebesar 0.10 persen. Tingkat inflasi nasional Bulan Juli
sampai dengan Desember 2016 dapat dilihat pada Gambar 1.
% 0.8
0.7 0.69
0.6
0.5
0.47
0.4 0.42
0.3
0.2 0.22
0.14
0.1
0 0.02
Juli Agust Sept Okt Nov Des Bulan

Gambar 1 Tingkat Inflasi Indonesia Bulan Juli-Desember 2016


Sumber: Laporan Data Sosial Badan Pusat Statistika Tahun 2016

Peningkatan inflasi disebabkan karena peningkatan harga produk-produk


kebutuhan pokok masyarakat, salah satunya yaitu harga bawang merah.
Peningkatan harga bawang merah dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu
terjadinya pembusukan dan gagal panen, kurangnya pasokan sentral, dan terlalu
panjangnya rantai pemasaran atau sisitem pola pemasaran yang terbentuk. Hal ini

1 [Ditjen horti] Direktorat Jenderal Hortikultura. 2015. Rencana Strategis Direktorat


Jenderal Hortikultura Tahun 2015-2019. [Internet]. [diunduh 2017 Jan 9]. Tersedia pada:
[Link]
2

berarti bahwa bawang merah menjadi salah satu indikator perekonomian secara
nasional, sehingga sistem atau pola pemasaran bawang merah perlu diperhatikan
secara lebih intensif.
Berdasarkan data produksi bawang merah nasional tahun 2011-2015 yang
tercatat di Badan Pusat Statistika (BPS), menunjukkan bahwa terdapat empat
provinsi sentra utama bawang merah di Indonesia. Provinsi Jawa Tengah
merupakan produsen bawang merah terbesar dengan persentasi kontribusi rata-
rata 41 persen, Provinsi Jawa Timur 23 persen, Provinsi Jawa Barat 11 persen,
dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) 10 persen. Produksi bawang merah di
empat provinsi sentra secara rinci dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Produksi Bawang Merah menurut Sentra Produksi Bawang Merah di


Indonesia Tahun 2011-2015
Produksi (Ton) Share
Provinsi
2011 2012 2013 2014 2015 Rata-rata (%)
Jawa Tengah 372 256 381 813 419 472 519 356 471 169 432 813 41
Jawa Timur 198 399 222 862 243 087 293 179 277 121 246 930 23
Jawa Barat 101 273 115 896 115 585 130 082 129 148 118 397 11
NTB 78 300 100 989 101 628 117 513 160 201 111 726 10
Provinsi Lain 142 896 142 635 131 001 173854 191545 156 386 14
Indonesia 893 124 964 195 1 010 773 1 233 984 1 229 184 1 066 252 100
Sumber: Badan Pusat Statistika, 2016

Jawa Barat merupakan provinsi terdekat dengan ibu kota, namun nilai share
Jawa Barat terpaut rendah jika dibandingkan dengan Provinsi Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Jawa Barat merupakan daerah sentra ketiga, di mana rata-rata
produksi dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2015 sebesar 118 397 ton dan
memiliki nilai share sebesar 11 persen. Nilai tersebut hanya memiliki selisih 1
persen dengan daerah sentra keempat, Nusa Tenggara Barat (NTB), namun
memiliki selisih yang cukup besar dengan daerah sentra kedua, yaitu Jawa Timur.
Pola tanam di Provinsi Jawa Barat masih tergolong musiman, artinya walaupun
Jawa Barat merupakan salah satu daerah sentra, Jawa Barat belum bisa
berproduksi dan memasok bawang merah ke pasar-pasar induk ibu kota secara
berkelanjutan. Lain halnya dengan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur yang
dapat memberi pasokan produksi secara nasional dan berkelanjutan.

Tabel 2 Produksi Bawang Merah Provinsi Jawa Barat Tahun 2015


Kabupaten/Kota Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Persentase (%)
Bandung 3 254 37 259 28.85
Majalengka 2 696 32 408 25.09
Cirebon 3 437 31 782 24.61
Garut 2 252 22 039 17.06
Lainnya 694 5 660 4.38
Jawa Barat 12 333 129 148 100
Sumber: Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian 2016

Kabupaten yang membudidayakan bawang merah di Jawa Barat antara lain


adalah Bandung, Garut, Cirebon, Majalengka, Sukabumi, Cianjur, Tasikmalaya
3

Kuningan, Sumedang, Indramayu, Bekasi, dan Bandung Barat. Tahun 2015,


Kabupaten Bandung menjadi sentra produksi bawang merah di Jawa barat dengan
total produksi 37 259 ton di mana Kabupaten Bandung merupakan daerah yang
dekat dengan ibu kota Provinsi Jawa barat sehingga pada mestinya kebutuhan
produk bawang untuk wilayah Jawa Barat dapat terpenuhi. Tabel 2 menyajikan
luas panen, produksi, serta presentase daerah penghasil bawang merah di Jawa
Barat tahun 2015.

Tabel 3 Luas Tanam, Produksi, dan Rata-rata Produksi Bawang Merah di


Kabupaten Bandung Tahun 2015
Rata-rata Produksi
Kecamatan Luas tanam (Ha) Produksi (Ton)
(Ton/Ha)
Cimaung 634 7 062.2 174
Pangalengan 569 6 481.0 125
Pacet 320 3 892.3 110
Cimenyan 1 260 16 892.8 209
Lainnya 471 3 930.7 32
Sumber: Badan Pusat Statistika Kabupaten Bandung, 2016

Kecamatan di Kabupaten Bandung yang memproduksi bawang merah


dengan jumlah produksi yang besar yakni Kecamatan Cimaung, Pangalengan,
Pacet, dan Cimenyan (Tabel 3). Kecamatan Cimenyan merupakan kecamatan
dengan produksi tertinggi pada Tahun 2015). Hal ini disebabkan oleh luas lahan
pertanian di kecamatan tersebut.
Tingginya potensi produksi bawang merah tersebut perlu diimbangi dengan
sistem pemasaran yang baik, di mana pemasaran merupakan semua aktivitas
usaha yang berkaitan dengan arus penyerahan produk atau jasa dari produsen ke
konsumen akhir. Pemasaran memiliki peran strategis dikaitkan dengan hasil
priduksi pertanian dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan petani sebagai
produsen utama. Bawang merah di sentra produksi Indonesia tidak hanya
didistribusikan untuk memenuhi permintaan di pasar lokal saja, melainkan
didistribusikan untuk memenuhi permintaan nasional terhadap bawang merah
yang sangat tinggi, dengan pertimabangan tertentu seperti harga, biaya pemasaran,
dan keuntungan yang diperoleh.
Kondisi tersebut menimbulkan terciptanya beberapa saluran pemasaran dan
lembaga pemasaran yang terlibat dalam menyalurkan bawang merah dari
produsen ke konsumen. Banyanya lembaga pemasaran yang terlibat akan
mempengaruhi panjang pendeknya salurna pemasaran yang terbentuk. Setiap
lembaga pemasaran melakukan fungsi-fungsi pemasaran untuk meningkatkan
nilai tambah produk yang dapat memuaskan konsumen. Fungsi-fungsi pemasaran
tersebut menimbulakan biaya pemasaran serta keuntungan yang akan
mempengaruhi marjin pemasaran.
Pemaparan di atas memperlihatkan bahwa Provinsi Jawa Barat sebagai
salah satu sentra produksi bawang merah di Indonesia yang menarik untuk diteliti
bagaimana pemasaran bawang merah dengan menggunakan beberapa pendekatan
serta melihat efisiensi pemasaran. Pemasaran yang efisien merupakan indikator
penting dalam memasarkan produk hortikultura, sehingga bagian yang diterima
petani lebih tinggi, usaha tanaman menguntungkan, tercipatanya nilai tambah
4

produk, serta pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan pemasran dan konsumen
merasa puas. Sistem pemasaran yang efisien merupakan tujuan dari pelaku-pelaku
pemasaran yang terlibat, baik itu petani, lembaga pemasaran, konsumen, dan
masyarakat umum.

Perumusan Masalah

Tanaman bawang merupakan tanaman hortikultura musiman, sehingga


jumlah produksi akan berfluktuasi bergantung pada musim tanamnya. Produksi
yang berfluktuasi menyebabkan harga bawang merah mengalami fluktuasi
mengikuti jumlah produksi yang dihasilkan. Pada saat jumlah produksi bawang
merah tinggi, harga bawang merah cenderung turun, dan sebaliknya, pada saat
produksi bawang merah rendah, harga bawang merah cenderung tinggi. Keadaan
tersebut menyebabkan terjadinya fluktuasi harga
Kabupaten Bandung merupakan sentra pruduksi bawang merah terbesar di
Provinsi Jawa Barat, di mana Kabupaten Bandung mampu memproduksi lebih
dari 30 000 ton bawang merah dalam satu tahun, di mana Kecamatan Cimenyan
menjadi daerah yang memproduksi bawang merah tertinggi. Jumlah produksi
yang tinggi diharapkan mampu membuat harga di daerah sentra stabil, namun
kenyataannya harga bawang merah di Kabupaten Bandung mengalami fluktuasi.
Perbedaan harga di tingkat produsen dan konsumen yang berfluktiasi
menyebabkan marjin pemasaran mengalami flukuasi juga. .

Rp50 000

Rp40 000

Rp30 000

Rp20 000

Rp10 000

Rp0

Harga Produsen Harga Konsumen

Gambar 2 Harga bawang merah (Rp/kg) di Kabupaten Bandung bulan Januari


sampai Desember tahun 2016
Sumber: Distanbunhut (2016)

Kenaikan harga bawang merah di tingkat konsumen cenderung tidak diikuti


dengan seimbang oleh kenaikan harga di tingkat produsen, begitu juga pada
kondisi turunnya harga bawang merah. Gambar 2 memperlihatkan bahwa harga
bawang merah di tingkat konsumen pada bulan Mei tahun 2016 mengalami
penungkatan sebesar Rp18 188 per kilogram, sedangkan harga di tingkat produsen
mengalami penurunan sebesar Rp22 300 per kilogram. Kecenderungan yang sama
terjadi ketika pada bulan Agustus tahun 2016 di mana harga di tingkat konsumen
5

mengalami penurunan sebesar Rp2 250 per kilogram, sedangkan harga di tingkat
produsen mengalami peningkatan sebesar Rp1 750 per kilogram.
Margin pemasaran merupakan selisih harga yang dibayarkan konsumen
dengan yang diterima oleh produsen (Kohl dan Uhl 2002). Tinggi rendahnya
margin pemasaran dapat disebabkan karena pola dan sistem pemasaran yang
terbentuk serta fungsi-fungsi pemasaran yang terjadi di dalamnya. Sistem
pemasaran yang terbentuk diharapkan efisien karena sistem pemasaran dapat
mempengaruhi pendapatan dan kepuasan tiap lembaga pemasaran yang terlibat.
Petani melibatkan beberapa lembaga pemasaran agar dapat menyalurkan produk
dengan cepat dan tepat sehinga dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Tingkat harga yang berfluktuatif akan menciptakan marjin pemasaran yang
berfluktuatif. Tinggi rendahnya margin pemasaran salah satunya disebabkan oleh
sistem pemasaran yang terjadi di daerah tersebut sehingga diperlukan penelitian
terkait dengan pemasaran untuk mengetahui penyebab margin yang berfluktuatif.
Oleh karena itu, maka rumusan masalah untuk penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten
Bandung, Provinsi Jawa Barat?
2. Apakah pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten
Bandung, Provinsi Jawa Barat sudah efisien?
3. Bagaimana sebaiknya petani dan lembaga pemasaran melakukan kegiatan
pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung,
Provinsi Jawa Barat?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan pemaparan dari latar belakang dan perumusan masalah, maka


tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:
1. Mengidentifikasi dan menganalisis pemasaran bawang merah di Kecamatan
Cimenyan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
2. Menganalisis efisiensi pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan,
Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
3. Merekomendasikan pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan,
Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian mengenai efisiensi pemasaran bawang merah ini diharapkan


berguna untuk beberapa pihak, terutama untuk petani dan lembaga pemasaran
yang terlibat dalam kegiatan pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan,
Kabupaten Bandung. Penulis berharap hasil penelitian dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam proses pemasaran sehingga menguntungkan semua pihak
yang terlibat. Penelitian ini juga diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar
untuk membuat dan mengevaluasi kebijakan untuk pemerintah dan instansi
terkait. Informasi yang tersedia didalam penelitian ini diharpakan dapat menjadi
sumber informasi, bahan rujukan, dan pembanding untuk penelitian selanjutnya
6

terutama yang terkait dengan analisis pemasaran bawang merah bagi akademisi
maupun peneliti.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis


pemasaran bawang merah dalam perspektif ekonomi di Kecamatan Cimenyan,
Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Analisis deskriptif digunakan untuk
menjelaskan saluran pemasaran, fungsi pemasaran, perilaku pasar, serta aktivitas
dan hubungan kelembagaan. Selain itu, digunakan juga analisis kuantitatif untuk
menganalisis keragaan pasar secara ekonomi dengan menggunakan perhitungan
marjin pemasaran, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya untuk
melihat tingkat efisiensi operasional pemasaran bawang merah. Hasil analisis
tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana pemasaran bawang merah yang
terjadi di daerah penelitian. Penelitian ini dibatasi pada lembaga pemasaran yang
terlibat dalam kegiatan pemasaran bawang merah yang berlokasi di wilayah
Bandung hingga pedagang distributor di pasar induk dan konsumen akhir lokal.

TINJAUAN PUSTAKA

Kajian Mengenai Saluran Pemasaran

Melalui penelitian yang dilakukan oleh Siringo-ringo et al. (2015),


disimpulkan bahwa pemasaran bawang merah yang terjadi di Kecamatan
Silahisabungan terdiri dari dua pola saluran pemasaran yang dibedakan
berdasarkan konsumen akhir di mana terdiri dari dua pola saluran pemasaran. Pola
saluran pemasaran pertama melibatkan pedagang pengumpul dan pedagang
pengecer dengan konsumen akhir lokal. Pola saluran dua melibatkan lembaga
pemasaran yang lebih banyak yaitu pedagang pengumpul, pedagang besar, dan
pedagang pengecer dengan konsumen akhir non lokal yaitu Kabuaten Karo dan
Kota Medan.
Berbeda dengan Apriliani dan Fahmi (2016) yang membedakan saluran
pemasaran berdasarkan produk bawang merah yang kering dan yang basah.
Penelitian yang dilakukan dilakukan di Kabupaten Lombok Barat menemukan
bahwa terdapat empat alternatif saluran pemasaran bawang merah dalam bentuk
kering dan dua alternatif saluran pemasaran bawang merah dalam bentuk basah.
Jumlah petani yang menjual bawang merah dalam bentuk basah lebih sedikit jika
dibandingkan dengan petani yang menjual bawang merah dalam bentuk kering.
Hal tersebut dikarenakan konsumen bawang merah dalam bentuk basah sangat
sedikit. Saluran terpanjang terdapat pada saluran pemasaran bawang merah dalam
bentuk basah yaitu melbatkan pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul
kecamatan, dan pedagang pengecer.
Terdapat empat pola saluran pemasaran bawang merah di Desa
Parangtritirs, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul pada penelitian Brahmantyo
dan Sukamto (2014), di mana dalam tiga saluran diantaranya pedagang
7

pengumpul memiliki peran penting dalam melakukan kegiatan pemasaran. Hanya


teerdapat satu saluran pemasaran yang tidak melalui pedagang pengumpul.
Penelitian tersebut hanya difokuskan pada dua saluran yang melakukan
pemasaran di Desa prangtritis. Dua saluran tersebut yakni saluran (I) dari petani
ke pedagang pengumpul, kemudian pedagang grosir pasar induk, dan pedagang
eceran di pasar kecamatan untuk dijual ke konsumen akhir, dan saluran (II) dari
petani ke pedagang pengumpul, kemudia ke pedagang eceran untuk dijual ke
konsumen akhir.
Analisis terhadap saluran pemasaran memperlihatkan bahwa jumlah saluran
pemasaran setiap daerah bervariasi. Banyaknya jumlah saluran pemasaran
terutama dipengaruhi oleh jumlah lembaga yang terlibat dalam proses pemasaran,
serta jangkauan daerah distribusi dari komoditi yang dipasarkan. Jika jumlah
lembaga pemasaran yang terlibat sedikit maka saluran pemasaran yang terbentuk
akan pendek dan sebaliknya jika banyak lembaga pemasaran yan terlibat dalam
proses pemasaran maka saluran pemasaran yang terbentuk akan panjang. Selain
itu, semakin luas jangkauan distribusi suatu komoditas yang dipasarkan maka
akan semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran tersebut.

Kajian Mengenai Fungsi-fungsi Pemasaran

Fungsi pemasaran merupakan serangkaian kegiatan fungsional, baik


aktivitas fisik maupun aktivitas jasa, yang ditujukan untuk memberikan kepuasan
kepada konsumen oleh lembaga-lembaga pemasaran. Dalam penelitian mengenai
pemasaran bawang merah di fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh
lembaga pemasaran pada penelitian yang dilakukan di Kabupaten Dairi oleh
Siringo-ringo et al. (2015), adalah fungsi pertukaran (penjualan dan pembelian),
fungsi fisik (transportasi, penyimpanan berupa biaya bongkar muat dan
pendistribusian berupa biaya kemasan) dan fungsi fasilitas (risiko berupa biaya
marketing loss dan penyediaan dana berupa biaya retribusi). Lembaga pemasaran
yang melakukan keseluruhan aktivitas fungsional tersebut adalah pedagang
penumpul, pedagang besar, dan pedang pengecer. Sedangkan petani hanya
melakukan fungsi pertukaran yaitu penjualan dan fungsi fisik yaitu penyimpanan.
Penelitian yang dilakukan oleh Brahmantyo dan Sukamto (2014) juga
mendapatkan bawa fungsi pemasaran dilakukan pada tingkat lembaga pemasaran
yaitu pedagang pengumpul, pedagang grosir, dan pedagang eceran. Petani belum
melakukan fungsi pemasaran seperti fungsi fisik dan fungsi fasilitas. Hal ini
disebabkan karena rata-rata sistem penjualan yang dilakukan oleh petani
merupakan sistem tebasan, sehingga fungsi-fungsi pemasaran dilakukan oleh
lembaga pemasaran selanjutnya.
Berbeda halnya dengan penelitan yang dilakukan oleh Wacana (2011), di
mana fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas sudah dilakukan oleh
beberapa petani. Hal ini disebabkan karena petani memanen hasil bawang merah
sendiri dan mengantarkan hasil panen bawang merah langsung ke pedagang besar
dan pedagang pengecer. Petani melakukan fungsi fisik yaitu pengangkutan,
penyimpanan, dan pengolahan, sedangkan fungsi fasilitas yang dilakukan yaitu
penanggungan risiko, pembiayaan, serta informasi pasar.
8

Analisis terhadap fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan oleh partisipan


pemasaran baik petani maupun lembaga pemasaran memperlihatkan peningkatan
atau penciptaan nilai guna produk terserbut. Efisiensi pemasaran tidak hanya
terlihat dari saluran pemasaran yang terbentuk, melainkan juga dlihat dari fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh setiap partisipan pemasaran dalam menciptakan
nilai tambah yang dapat meningkatkan kepuasan konsumen akhir.

Kajian Mengenai Efisiensi Pemasaran

Penilian pemasaran bawang merah di Kecamatan Gerung, Kabupaten


Lombok Barat yang dilakukan oleh Apriliani dan Fahmi (2016) menemukan
bahwa perbedaan marjin pemasaran yang berbeda pada setiap lembaga pemasaran
disebabkan perbedaan biaya pemasaran. Biaya pemasaran yang berbeda
disebabkan oleh komponen biaya yang bervariasi, seperti upah, biaya
pengemasan, peningmbangan, sortasi, retribusi, dan biaya angkut. Sehingga pada
penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemasaran dalam bentuk bawang
merah kering merupakan pemasaran yang paling banyak digunakan petani, hal ini
disebabkan karena penjualan bawang merah dalam bentuk kering memberikan
harga jual yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan penjualan bawang merah
dalam bentuk basah. Saluran pemasaran yang dianggap efisien pada penelitian
tersebut adalah saluran pemasaran yang melalui pedagang pengumpul desa dan
pedagang pengecer sebelum pada akhirnya ke konsumen akhir. Hal ini diihat dari
farmer’s share sebesar 85 persen dan distribusi keuntungan yang diterima oleh
setiap lembaga pemasaran yang terkait sebesar 0.7 persen.
Sama halnya dengan Apriliani dan Fahmi (2016), Dewi (2015) melihat
efisiensi pemasaran berdasarkan dua kriteria yaitu marjin pemasaran dan farmer’s
share. Marjin pemasaran yang efisien terjadi jika besarnya marjin berada pada
interval 0-33 persen, sedangkan jika dilihat berdasarkan farmer’s share, efisiensi
terjadi jika nilai farmer’s share lebih besar dari marjin pemasaran. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan di Desa Pinggirsari, Kecamatan Ngantru, Kabupaten
Tulungagung, didapatkan bahwa marjin pemasaran pada lembaga pemasaran 1
yaitu sebesar 10.74 persen dan marjin pemasaran di salurna 2 yaitu sebesar 9.72
persen. Farmer’s share yang terbentuk sebesar 79.54 persen. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pemasaran bawang krei di lokasi penelitian tersebut sudah
efisien.
Penelian Siringo-ringo et al. (2015) menyatakan bahwa analisis marjin
pemasaran digunakan untuk mengetahui distribusi marjin pemasaran yan terdiri
dari biaya dan keuntungan, serta untuk mengetahui besarnya farmer’s share yang
diterima petani. Total marjin pemasaran pada saluran pemasaran 2 lebih besar
yaitu Rp16 871 per kilogram jika dibandingkan dengan marjin pemasaran pada
saluran satu yaitu Rp8 871 per kilogram. Hal ini disebabkan karena saluran
pemasaran 2 lebih panjang, artinya bahwa lembaga pemasaran yang terliibat lebih
banyak jika dibandingkan dengan saluran pemasaran 1.
Penelitian pemasaran bawang merah yang dilakukan oleh Wacana (2011)
menemukan bahwa rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran bawang merah
terbesar terdapat pada pola saluran pemasaran 3, yaitu sebesar 7.25 di mana rasio
keuntungan terhadap biaya pemasaran terbesar pada pola salurna pemasaran 4
9

diperoleh oleh pedagang besar yaitu 9.50. Sari (2014) menyatakan bahwa saluran
pemasaran dapat dikatakan efisien jka penyebaran rasio kentungan terhadap biaya
di setiap lembaga pemasaran merata, sehingga biaya yang dikeluarkan dapat
memberikan keuntungan yang tidak berbeda jauh pada masin-masing lembaga
pemasaran.

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka Pemikiran Teoritis

Kerangka pemikiran teoritis merupakan batasan teori yang akan dipakai


sebagai landasan dalam penelitian. Kerangka pemikiran teoritis memberikan
gambaran mengenai variabel yang akan diteliti. Variabel yang akan diteliti dalam
penelitian analisis pemasaran bawang merah di Kabupaten Bandung, Jawa Barat
ini terdiri dari sistem dan pola saluran pemasaran, fungsi lembaga pemasaran,
struktur dan perilaku pasar serta efisiensi pemasaran yang dilihat dari margin
pemasaran, farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya.

Pemasaran
Pemasaran (marketing) merupakan aktivitas atau kegiatan yang dilakukan
dalam mengalirkan produk mulai dari produsen sampai ke konsumen
(Asmarantaka 2012). Pemasaran produk agribisnis merupakan analisis semua
aktivitas bisnis yang terjadi dalam komoditas pertanian atau produk agribisnis
setelah produk tersebut lepas dari petani produsen primer sampai ke tangan
konsumen akhir (Purcell 1979 dalam Asmarantaka 2012). Kohls dan Uhl (2002)
mendefinisikan pemasaran pertanian sebagai suatu keragaan dari semua aktivitas
bisnis dalam aliran barang dan jasa komoditas pertanian mulai dari tingkat
produsen (petani) sampai konsumen akhir, yang mencakup aspek input dan output
pertanian.
Pemasaran dapat dilihat dari perspektif ekonomi dan manajemen.
Pemasaran dalam perspektif ekonomi yang didefinisikan oleh Kohls dan Uhl
(2002) merupakan suatu proses yang memiliki dua karakteristik dasar yaitu
pemasaran sebagai suatu proses dari pergerakan dan pemasaran sebagai bentuk
koordinasi yang diperlukan dari serangkaian aktivitas dalam mengalirnya produk
dan jasa dari tangan produsen primer hingga ke tangan konsumen akhir.
Terdapat banyak aktivitas produktif dalam proses mengalirkan produk ke
konsumen akhir. Menurut Asmarantaka (2012), kegiatan produktif yang terjadi
yaitu dalam upaya menciptakan atau menambah nilai guna, baik nilai guna
bentuk, nilai guna tempat, nilai guna waktu, dan nilai guna kepemilikan, dengan
tujuan untuk memenuhi kepuasan konsumen akhir. Penciptaan nilai tambah terdiri
dari nilai guna bentuk, di mana nilai guna bentuk yaitu menciptakan produk yang
memiliki kegunaan dan bentuk yang dapat menarik serta menciptakan kepuasan
tersendiri bagi konsumen, nilai guna tempat yaitu konsumen dapat menemukan
produk yang diinginkannya dengan mudah, nilai guna waktu yaitu untuk produk
yang jika disimpan dalam waktu yang lama dapat meningkatkan nilai produk
10

tersebut, nilai guna kepemilikan yaitu barang akan mempunyai nilai tambah jika
berpindah kepemilikan pada orang yang tepat.
Pendekatan-pendekatan dilakukan dalam mempelajari pemasaran produk
pertanian. Sudiyono (2002) mengemukakan bahwa terdapat lima pendekatan yang
biasa digunakan dalam mempelajari pemasaran produk pertanian, yaitu
pendekatan komoditi, pendekatan lembaga, pendekatan fungsi, pendekatan teori
ekonomi, dan pendekatan sistem. Pendekatan komoditi dilakukan dengan
menetapkan komoditi yang diteliti dan diikuti aliran komoditi dari produsen
sampai ke konsumen akhir serta menggambarkan apa yang dilakukan terhadap
komoditi pertanian dan bagaimana suatu komoditi pertanian dipasarkan secara
efisien. Pendekatan lembaga dilakukan untuk mengidentifikasi lembaga-lembaga
pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran komoditi pertanian. Pendekatan
fungsi digunakan untuk mempelajari fungsi-fungsi yang dilakukan lembaga-
lembaga pemasaran terhadap komoditi pertanian. Pendekatan teori ekonomi
dilakukan utnuk mengidentifikasi permasalahan pertanian dalam teori ekonomi
dan pendekatan sistem dilakukan untuk menganalisis sistem pemasaran yang
sedang dan terus berlangsung.

Lembaga, Fungsi, dan Saluran Pemasaran


Lembagaan pemasaran merupakan organisasi bisnis, baik perorangan atau
kelompok bisnis yang melaksanakan atau mengembangkan aktivitas bisnis berupa
fungsi-fungsi pemasaran untuk meningkatkan nilai guna dari suatu barang baik
nilai guna bentuk, tempat, waktu dan kepemilikan. Kelembagaan pemasaran
dalam Asmarantaka (2012) terdiri dari:
1. Pedagang perantara (merchant middlemen), merupakan pedagang yang
melakukan berbagai fungsi pemasaran dalam pembelian dan penjualan
produk dari produsen ke konsumen. Pedagang perantara terdiri dari
pedagang pengumpul (assembler), pedagang eceran (retailers) dan
pedagang grosir (wholesalers).
2. Agen perantara (agent middlemen), merupakan individu yang merupakan
perwakilan dari suatu lembaga atau insttusi dalam melakukan penanganan
produk atau jasa.
3. Spekulator (speculative middlemen) merupakan pedagang perantara yang
membeli dan menjual produk dengan memanfatkan fluktuatif harga untuk
mencari keuntungan.
4. Pengolah dan Pabrikan (processor and manufacturers) merupakan individu
atau kelompok yang melakukan kegiatan perubahan bentuk dari produk
primr menjadi produk setengah jadi atau produk akhir.
5. Organisasi (facilitative organization) yaitu kelompok yang dapat membantu
kelancaran pelaksanaan pemasaran atau pelaksanaan dari fungsi-fungsi
pemasaran.

Proses penyampaian produk agribisnis dari produsen primer ke konsumen


akhir akan melibatkan berbagai aktivitas atau kegiatan terhadap produk yang
dikenal dengan fungsi pemasaran. Salah satu metode dalam mengklasifikasikan
aktivitas yang terjadi dalam proses pemasaran adalah dengan memecah aktivitas-
aktivitass tersebut menjadi fungsi. Kohl dan Uhl (2002) mengklasifikasikan
fungsi-fungsi tersebut menjadi tiga fungsi yaitu fungsi pertukaran, fungsi fisik,
11

dan fungsi fasilitas. Adapun penjelasan fungsi-fungsi pemasaran yaitu sebagai


berikut:
1. Fungsi pertukaran terdiri atas pembelian (buying) dan penjualan (selling).
Pembelian merupakan fungsi yang meliputi aktivitas-aktivitas mencari,
mengumpulkan, dan melakukan kegiatan yang terkait dengan pembayaran.
Sedangkan penjualan merupakan fungsi yang harus diinterpretasikan secara
luas. Aktivitas-aktivitas dalam fungsi penjualan yaitu mencari calon
pembeli produk yang diawarkan, aktivitas iklan dan promosi, keputusan
terkait jumlah penjualan, pengemasan yan tepat, penetapan saluran
pemasara, serta waktu dan tempat yan tepat untuk mendekati pembeli
potensial.
2. Fungsi fisik terdiri dari aktivitas penyimpanan, pengangkutan, dan
pengoalhan. Fungsi penyimpanan terkait dengan membuat produk tersedia
pada waktu yang diinginkan. Fungsi pengangkutan terkait dengan
pendistribusian atau pemindahan produk ke tempat lain sehingga produk
tersedia di tempat yang tepat. Fungsi pengolahan yaitu proses perubahan
bentuk produk.
3. Fungsi fasilitas merupakan fungsi yang memungkinkan terjadinya
kelancaran pada fungsi pertukaran dan fungsi fisik. Adapun fungsi fasiltas
terdiri dari standarisasi, penanggulangan risiko, informasi pasar (market
intelligence), dan keuangan.

Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses mengalirkan


produk ke konsumen akhir akan membentuk saluran pemaaran. Saluran
pemasaran adalah serangkaian organisasi yang saling tergantung serta terlibat
dalam proses untuk menjadikan produk atau jasa siap digunakan atau dikonsumsi
oleh konsumen.

Efisiensi Pemasaran
Secara normatif, pemasaran yang efisien terjadi pada struktur pasar
persaingan sempurna (perfect competition). Namun struktur pasar ini secara
realita tidak dapat ditemukan (Asmarantaka, 2012). Ukuran efisiensi adalah
kepuasan dari konsumen, produsen, serta lembaga-lembaga yang terlibat dalam
mengalirkan produk atau jasa mulai dari petani sampai konsumen akhir, di mana
ukuran untuk menentukkan tingkat kepuasan tersebut sulit dan sangat relatif.
Sehingga para ahli menggunakan indikator ukuran efisiensi operasional, efisiensi
harga, dan efisiensi relatif (Hammond dan Dahl 1977; Kohls dan Uhl 2002;
Asmarantaka 2012).
Indikator efisiensi pemasaran produk agribisnis (pangan dan serat) dapat
dikelompokkan ke dalam dua jenis (Purcell 1979; Kohls dan Uhl 2002) yaitu
efisiensi operasional dan efisiensi harga. Efisiensi operasional atau teknis
berhubungan dengan pelaksanaan aktivitas pemasaran yang dapat meningkatkan
rasio output-input pemasaran, di mana indikator yang sering dilakukan dalam
kajian efisiensi operasional adalah marjin pemasaran, farmer’s share, dan rasio
keuntungan terhadap biaya. Efisiensi harga merupakan kemampuan sistem
pemasaran dalam mengalokasikan sumber daya dan mengoordinasikan seluruh
produksi pertanian dan proses pemasaran sehingga efisien sesuai dengan
keinginan konsumen. Efisiensi harga dapat tercapai apabila masing-masing pihak
12

yang terlibat puas atau responsif terhadap harga yang berlaku dan terjadi
koordinasi yang tinggi antar tingkat lembaga pemasaran dalam sistem tersebut.
Pemasaran agribisnis dapat dinyatakan efisien (efisiensi relatif) apabila
terdapat indikator-indikator antara lain (1) menciptakan atau meningkatkan nilai
tambah (value added) yang tinggi terhadap produk agribisnis, (2) menghasilkan
keuntungan bagi setiap lembaga pemasaran (perusahaan) yang terlibat sesuai
dengan nilai korbanannya (biaya-biaya yang dikeluarkan), (3) marjin pemasaran
(biaya dan keuntungan) yang terjadi relatif sesuai dengan fungsi-fungsi atau
aktivitas bisnis yang meningkatkan kepuasan konsumen akhir, dan (4)
memberikan bagian yang diterima petani produsen (farmer’s share) yang relatif
akan merangsang petani berproduksi ditingkat usaha tani (Asmarantaka 2012).
Artinya bahwa proses pemasaran agribisnis yang efisien merupakan proses yang
memberikan kontribusi (share) yang adil, mulai dari petani, perusahaan, lembaga
pemasaran, sesuai dengan korbanan masing-masing dan konsumen puas.

[Link] Pemasaran
Margin pemasaran digunakan untuk menganalisis efisiensi pemasaran baik
efisiensi teknis maupun efisiensi harga. Perbedaan margin pemasaran disetiap
lembaga pemasaran dapat disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap produk
untuk menciptakan nilai tambah yang menimbulkan kepuasan konsumen akhir.
Asmarantaka (2012) menyatakan bahwa marjin pemasaran merupakan kumpulan
balas jasa karena adanya kegiatan produktif (menambah atau menciptakan nilai
guna) dalam mengalirnya produk-produk agribisnis mulai dari tingkat petani
sampai ke tangan konsumen akhir. Marjin menunjukkan nilai tambah yang terjadi
selepas produk dari tingkat petani sebagai produsen primer, sampai produk yang
dihasilkan diterima konsumen akhir.

P Sr

Sf
Pr

Pf
Dr
Df
Pr
Q
Q r,f

Gambar 3 Kurva Marjin Pemasaran


Sumber: Asmarantaka (2012)

Keterangan
Pf : harga di tingkat produsen
Pr : harga di tingkat konsumen
Df : kurva permintaan turunan (permintaan di tingkat petani)
Dr : kurva permintaan primer (permintaan di tingkat pengecer)
Sf : kurva penawaran primer (permintaan di tingkat petani)
Sr : kurva penawaran turunan (permintaan di tingkat pengecer)
13

Qr,f : jumlah keseimbangan di tingkat produsen dan konsumen

B. Farmer’s Share
Farmer’s share didefinisikan sebagai rasio antar harga di tingkat produsen
(petani) dengan harga di tingkat konsumen akhir (Asmarantaka, 2012). Farmer’s
share menunjukkan proporsi atau bagian dari nilai yang dibayarkan konsumen
akhir yang diterima oleh petani, dalam bentuk persentase (%).

Sumber:

C. Rasio Keuntungan atas Biaya


Rasio keuntungan atas biaya antar lembaga pemasaran sering digunakan
sebagai indikator untuk menilai efisiensi pemasaran (Asmarantaka 2012). Rasio
keuntungan atas biaya pemasaran menunjukkan besarnya keuntungan yang
diterima atas biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pelakaksanaan aktivitas
pemasran, dengan demikian semakin meratanya penyebaran rasio keuntungan dan
biaya, maka dari segi operasional sistem pemasaran semakin efisien (Limbong
dan Sitorus, 1985).

Kerangka Pemikiran Operasional

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura unggulan


nasional di Indonesia, sehingga dengan produksi yang tinggi perlu diimbangi
dengan sistem pemasaran yang baik dan efisien. Bawang merah di sentra produksi
dijual di pasar lokal dan non lokal utnuk memenuhi permintaan nasional.
Pemasaran merupakan salah satu cara petani produsen utnuk memperoleh imbalan
atas usahatani yang dilakukan, sehingga untuk mendapatkan imbalan yang adil
petani perlu mengetahu sistem pemasaran yang efisien. Bawang merah merupakan
tanaman musiman sehingga harga bawang merah bergantung pada jumlah
produksi bawang merah.
Penelitian ini didasari oleh marjin pemasaran bawang merah yang tinggi di
tingkat produsen dan konsumen, di mana perhitungan marjin dilakukan
menggunakan data harga di tingkat konsumen dan produsen di Kabupaten
Bandung pada tahun 2016. Dalam memasarkan bawang merah, kendala utama
bagi petani yaitu harga yang diterima petani terlalu rendah jika dibandingkan
dengan harga di tingkat konsuemen. Berdasarkan studi literatur, analisis penelitian
dilakukan menggunakan analisis kualutatif dan analisis kauntitati. Analisis
kualitatif dilakukan untuk menganalisis saluran pemasaran, lembaga pemasaran
yang terlibat, fungsi pemasaran yang dilakukan, perilaku pasar, serta hubungan
kemitranaan atau kelembagaan. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis
nilai marjin pemasaran, farmer’s share, dan rasio keuntungan terhadap biaya.
Penelitian ini, diharapkan dapat diketahui bagaimana harga di tingkat petani
dan lembaga pemasaran, siapa saja pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas
pendistribusian bawang merah, fungsi pemasaran apa saja yang membuat marjian
tiap lembaga pemasaran berbeda, bagaimana perilaku pasar yang terjadi di setiap
14

saluran. Penelitian pemasaran bawang merah diukur dengan dua analisis yaitu
analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif mencakup saluran
pemasaran, lembaga pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran, perilaku pasar, seeta
hubungan kelembagaan atau kemitraa. Sedangkan analisis kuantitatif meliputi
marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan terhadap biaya,d an volume
penjualan. Keseluruhan analisis digunakan untuk menilai efisiensi pemasaran,
menentukan rekomendasi saluran pemasaran yang relatif. Alur kerangka
pemikiran operasioal pemasaran bawang merah dapat dilihat pada Gambar 3.

Kabupaten Bandung merupakan salah satu daerah sentra produksi bawang merah
di Indonesia dengan perbedaan harga bawang merah yang tinggi di tingkat
produsen dan konsumen akhir.

 Bagaimana pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan,


kabupaten Bandung, Jawa Barat?
 Apakah pemasaran tersebut sudah efisien?
 Bagaimana sebaiknya petani dan lembaga pemasaran melakukan
kegiatan pemasaran bawang merah?

Analisis kualitatif Analisis Kuantitatif

1. saluran pemasaran 1. marjin pemasaran


2. lembaga pemasaran 2. farmer’s share
3. fungsi-fungsi pemasaran 3. rasio keuntungan terhadap
4. perilaku pasar biaya
5. kelembagaan atau kemitraan

Gambaran pemasaran dan efisiensi pemasaran bawang merah

 Rekomendasi alternatif saluran pemasaran bawang merah yang efisien


 Rekomendasi pemasaran bawang merah

Gambar 4 Kerangka Operasional Pemasaran Bawang Merah di Kecamatan


Cimenyan
15

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian pemasaran bawang merah dilakukan di Kecamatan Cimenyan,


Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan dengan
sengaja (purposive) yang didasarkan pada pertimbangan bahwa menurut data
yang tercatat di Badan Pusat Statistika (2016), Kabupaten Bandung merupakan
salah satu daerah sentra produksi bawang merah di Indonesia, Kecamatan
Cimenyan merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten bandung
yang memiliki rata-rata produksi bawang merah terbesar di Kabupaten Bandung.
Penelitian yang berlangsung meliputi pengumpulan data untuk keperluan
pengolahan data. Pengumpulan data berlangsung pada bulan Januari sampai
dengan bulan Februari 2017.

Jenis dan Sumber Data

Tabel 4 Kebutuhan data penelitian


Jenis Data Data Sumber Data Periode
Primer - Produksi bawang merah di - Petani Desember 2016-
Kecamatan Cimenyan Januari 2017
- Biaya Pemasaran dan - Petani, lembaga Desember 2016
fungsi pemasaran pemasaran – Januari 2017
- Harga bawang merah di - Petani, lembaga Januari –
tingkat petani dan pemasaran Februari 2017
lembaga pemasaran
responden
Sekunder - Produksi bawang merah - BPS 2011-2016
nasional
- Tingkat inflasi nasional - BPS 2016-2017
- Monografi Kecamatan - UPTD Cimenyan 2016
Cimenyan
- Produksi dan harga - BPS 2015-2016
bawang merah Kabupaten
Bandung
- Teori-teori dan rujukan - Buku Teks dan
penelitian jurnal

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer didapat melalui hasil pengamatan langsung (observasi) dan
wawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah
dipersiapkan sebelumnya. Kuesioner tersebut ditujukan kepada beberapa
responden yang terlibat sebagai pelaku pemasaran, yatu petani dan lembaga
pemasaran yang berada pada lingkup pembahasan. Wawancara dilakukan secara
mendalam dan dibimbing oleh peneliti kepada petani responden dan lembaga
16

pemasaran yang terlibat. Pengamatan secara langsung juga dilakukan di lapang


untuk melihat kegiatan pemasaran yang terjadi dan penelusuran saluran serta
lembaga pemasaran.
Data sekunder diperoleh dari studi literatur, pustaka-pustaka ilmiah, sera
penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian ini. Data sekunder lainnya
diperoleh dari intansi-intansi terkait yaitu Pusat Data dan Informasi Kabupaten
Bandung, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bandung, Dinas
Perdagangan Kabupaten Bandung, Kantor Kecamatan Cimenyan, Unit Pelaksana
Teknis Dinas Pertanian Kecamatan Cimenyan, Perpustakaan LSI IPB, dan
lainnya. Data sekunder digunakan sebagai pelengkap data primer serta penguatan
argumentasi, baik secara teori maupun angka. Data yang digunakan dalam
penelitian secara rinci akan dijelaskan pada Tabel 5.

Metode Pengumpulan Data dan Penentuan Responden

Metode pengumpulan data primer dalam penelitan pemasaran bawang


merah dilakukan melalui wawancara dan pengamatan (observasi) langsung
terhadap petani dan lembaga pemasaran bawang merah yang terlibat. Data primer
yang dikumpulkan melalui wawancara adalah data penjualan bawang merah di
tingkat petani pada periode panen bulan Desember 2016 sampai Januari 2017.
Data lain yang dikumpulkan yaitu data pembelian dan data penjualan bawang
merah di tingkat lembaga pemasaran pada periode waktu yang sama. Informasi
harga digunakan untuk menghitung marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio
keuntungan terhadap biaya. Data primer yang dikumpulkan melalui pengamatan
(observasi) adalah informasi tentang aktivitas-aktivitas pemasaran yang dilakukan
oleh petani dan lembaga pemasaran untuk mengetahui lembaga, fungsi, dan
saluran pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan.
Penentuan responden petani dilakukan secara sengaja (purposive sampling).
Kriteria yang ditentukan berdasarkan skala usaha tani untuk mengakomodir petani
skala besar dan kecil. Petani yang dijadikan responden juga ditentukan
berdasarkan arahan dari petuas penyuluh lapang kecamatan. Pemilihan sengaja ini
bertujuan agar saluran pmasaran bawang merah di Kecamtan Cimenyan terlihat
sehingga memberikan gambaran sistem pemasaran bawang merah di Kecamatan
Cimenyan. Petani yang dijadikan responden berjumlah 30 orang. Jumlah tersebut
dianggap telah mewakili keragaman saluran pemasaran bawang merah yang
digunakan di Kecamatan Cimenyan.
Penentuan responden lembaga pemasaran dilakukan dengan metode
penelusuran (snowball sampling). Metode ini dipilih karena peneliti belum
mengetahui lembaga pemasaran apa saja yang terlibat dalam pemasaran bawang
merah setelah petani. Informasi dan metode snowball sampling ini diawali
dengan porelahan informasi dari petani sebagai responden awal. Lembaga
pemasaran selanjutnya akan diektahui dari lembaga pemasaran sebelumnya. Hal
tersebut dilakukan pada penelusuran selanjutnya hingga sampai pada konsumen
akhir atau pada batas ruang lingkup yang diteliti. Metode ini berusaha
menggambarkan aliran produk serta lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat
dalam saluran pemasaran yan terbentuk. Lembaga yang menajdi responden
berjumlah 18 orang yang terdiri dari penangkar bibit, pegawai BULOG sub-divre
17

Bandung, manajer pasar modern, pedagang pengumpul, pedagang besar lokal,


pedagang pengumpul besar non-lokal, dan pedagang pengecer lokal.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis


deskriptif kualitatif bertujuan untuk menguraikan gambaran keadaan lokasi
penelitian dan mendeskripsikan saluran pemasaran, lembaga pemasaran, fungsi-
fungsi pemasaran, serta perilaku pasar. Analisis kualitatif juga digunakan untuk
menginterpretasikan hasil pengolahan data yang dilakukan menggunakan analisis
kuantitatif, tabulasi, dan gambar. Analisis kuantitatif dilakukan untuk
menganalisis marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio keuntungan terhadap
biaya. Analisis kuantitatif diolah menggunakan kalkulator dan software Microsoft
excel. Selanjutnya, data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabulasi untuk
dianalisis tingkat efisiensi pemasaran.

Analisis Lembaga dan Saluran Pemasaran


Analisis lembaga pemasaran dilakukan untuk melihat pihak-pihak yang
terlibat dalam pemasaran bawang merah di lokasi penelitian. Lembaga pemasaran
dapat terdiri dari pedagang perantara, agen perantara, spekulator, atau organisasi
lainnya baik individu maupun kelompok. Analisis saluran pemasaran (marketing
channel) dilakukan untuk mengetahui jumlah saluran pemasaran yang dilalui oleh
komoditas bawang merah di Kecamatan Cimenyan. Masing-masing saluran
pemasaran dianalisis dengan mengamati lembaga pemasaran yang terlibat dalam
kegiatan pemasaran melalui kuesioner dari petani produsen hingga lembaga
pemasaran terkahir bawang merah. Selain itu, tujuan dilakukannya analisis ini
adalah ntuk mengetahui seberapa banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam
proses pemasaran bawang merah serta bagaimana pola saluran pemasaran yang
terjadi. Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat akan membentuk
saluran pemasaran yang semakin panjang.

Analisis Fungsi-fungsi Pemasaran


Analisis fungsi-fungsi pemasaran dilakukan dengan melihat fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses
pemasaran bawang merah, analisis fungsi pemasaran dapat diidentifikasi dari
fungsi pertukaran yang terdiri dari fungsi penjualan dan pembelian, fungsi fisik
yang terdiri dari pengangkuran, penyimpanan, dan pengemasan, serta fungsi
fasilitas yang terdiri dari sortasi, grading, penanggungan risiko, pembiayaan, dan
informasi pasar. Analisis fungsi pemasaran juga dilakukan untuk melihat nilai
tambah yang diberikan pada masing-masing lembaga sehingga dapat diketahui
penyebab bertambahnya biaya serta total keuntungan yang diambil oleh lembaga
pemasaran.

Analisis Efisiensi Pemasaran


Efisiensi pemasaran terbagi menjadi tiga yaitu efisiensi harga, efisiensi
operasional, dan efisiensi relatif. Dalam penelitian pemasaran bawang merah yang
dilakukan, penilaian efisiensi yang digunakan adalah efisiensi operasional dan
18

efisiensi relative. Penilaian efisiensi dari segi operasional dapat dilihat dari
indikator volume penjualan, marjin pemasaran, farmer’s share, serta rasio
keuntungan terhadap biaya pemasaran. Penilaian untuk efisiensi relatif dilakukan
dengan membandingkan saluran pemasaran satu dengan yang lainnya dari
pemasaran produk yang setara dengan melihat indikator secara kualitatif yaitu
fungsi-fungsi pemasaran, perilaku pasar, serta hubungan kelembagaan. Proses
pemasaran yang efisien adalah pemasaran yang memberikan kontirbusi atau share
yang merata mulai dari petani, lembaga pemasaran, sesuai dengan korbanan
masing-masing lembaga pemasaran (Asmarantaka, 2012). Artinya bahwa proses
pemasaran yang efisien memberikan keuntungan yang merata atau adil pada
setiap lembaga pemasaran yang terlibat.

a. Marjin Pemasaran
Marjin pemasaran merupakan perbedaan atau selisih harga di tingkat petani
produsen (Pf) dengan harga di tingkat konsumen akhir (Pr). Marjin pemasaran
total (MT) digunakan untuk menghitung nilai marjin absolut mulai dari petani
sampai konsumen akhir. Marjin total diperoleh dari selisih harga jual petani (Pf)
dengan harga jual pedagang pengecer (Pr). Disamping itu marjin total juga
diperoleh dari jumlah marjin yang dihasilkan oleh semua lembaga pemasaran
yang terlibat. Besarnya marjin pemasaran merupakan jumlah dari biaya-biaya
pemasaran dan keuntungan yang diperoleh dari lembaga terkait. Secara
matematis, penghitungan marjin pemasaran dapat dirumuskan sebagai berikut:

MT = Pr – Pf = Ci + i =
Sumber: Asmarantaka (2012)
di mana,
MT : Marjin pemasaran total
Pr : Harga di tingkat retail (tingkat konsumen akhir)
Pf : Harga di tingkat petani produsen
Mi : Marjin pemasaran tingkat ke-i
Ci : Biaya lembaga pemasaran tingkat ke-i
i : Keuntungan tingka ke-i

Perhitungan marjin pemasaran total juga dapat dilakukan dengan


menggunakan persentase. Marjin pemasaran dalam bentuk persentase sering
digunakan sebagai indikator efsieinsi dalam pemasaran karena lebih mudah untuk
dibandingkan. Adapun rumus sistematis marjin pemasaran secara persentase yaitu
sebagai berikut:

Sumber: Asmarantaka (2012)

b. Farmer’s Share
Farmer’s share dilakukan utnuk membandingkan seberapa besar bagian
yang diterima petani dari harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir dalam
bentuk persentase. Besar kecilnya farmer’s share berbanding tebalik dengan
marjin pemasaran. Semakin besar marjin pemasaran, maka akan mengurangi
farmer’s share, begitu juga sebaliknya. Semakin rendah marjin pemasaran, maka
akan meningkatkan nilai farmer’s share. Secara sistematis, penghitungan farmer’s
19

share adalah sebagai berikut:

Sumber: Asmarantaka (2012)

di mana,
F’s : farmer’s share
Pf : harga di tingkat petani
Pr : harga di tingkat konsumen akhir

c. Rasio Keuntungan terhadap Biaya


Rasio keuntungan terhadap biaya atau ditulis dengan merupakan
persentase keuntungan pemasaran terhadap biaya pemasaran. Keuntungan
pemasaran diperoleh dari selisih harga jual dengan harga beli (marjin pemasaran)
pada setiap lembaga pemasaran dikurangi dengan biaya pemasaran yang
dikorbankan oleh masing-masing lembaga pemasaran. Hasil rasio keuntungan
terhadap biaya menunjukkan seberapa besar setiap satuan biaya yang dikeluarkan
selama proses pemasaran dapat memberikan besaran keuntungan. Jika
posotif, maka sistem pemasaran efisien, sedangkan jika negatif maka
sistem pemasaran tidak efisien. Secara sistematis, perhitungan rasio keuntungan
terhadap biaya dapat dituliskan sebagai berikut:
Rasio keuntungan terhadap biaya =
di mana,
: keuntungan lembaga pemasaran ke-i
: biaya pemasaran ke-i

Saluran pemasaran yang efisien dapat dilihat dari besarnya nilai rasio
keuntungan terhadap biaya yang merata pada setiap lembaga dalam saluran
pemasaran (Limbong dan Sitorus 1987), yang berarti bahwa setiap lembaga
memperoleh keuntungan yang merata.

Definisi dan Batasan Operasional

1. Bentuk bawang merah yang dijual oleh petani terbagi menjadi tiga bentuk
yaitu:
a. konde basah : bawang merah yang baru saja dipanen, belum melalui proses
pengeringan dan pembersihan dari daun, serta dijual dalam
bentuk ikatan.
b. konde kering : bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan
namun belum melalui proses pembersihan dari daun, serta
dijual dalam bentuk ikatan.
c. Rogol askip : bawang merah yang sudah melalui proses pengeringan dan
pembersihan, bawang merah sudah tidak berupa ikatan.
2. Bawang dikemas dalam karung atau kemasan waring yang memuat bawang
merah sebanyak 30 kilogram per kemasan.
3. Pengangkutan menggunakan mobil pick-up mampu memuat bawang merah
tiga sampai dengan empat ton per sekali angkut.
20

4. Biaya angkut yang digunakan merupakan biaya bahan bakar per kilometer,
biaya sewa kendaraan, dan biaya supir.
5. Jumlah bawang merah yang dipasarkan merupakan jumlah panen bawang
merah dikurang jumlah bawang merah yang disimpan untuk bibit di musim
panen yang akan datang.
6. Peneliti tidak dapat menjangkau konsumen akhir yang berada di pasar induk
luar Kabupaten Bandung karena keterbatasan peneliti.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Keadaan Wilayah

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten bandung,


Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Cimenyan berjarak 30 km dari ibukota
kabupaten dan berjarak 9 km dari ibukota provinsi. Kecamatan Cimenyan
memiliki luas 40 580.13 Ha yang terdiri dari tujuh Desa dan dua Kelurahan.
Berdasarkan tinjauan topografi, Kecamatan Cimenyan terdiri dari tiga strata
daerah. Daerah bagian selatan dengan topografi tanah datar dengan ketinggian
600 sampai dengan 625 meter di atas permukaan laut, daerah bagian tengah
memanjang dari barat ke timur dengan topografi tanah bergelombang dengan
ketinggian 625 sampai dengan 750 meter di atas laut, dan daerah bagian utara
memanjang daribarat ke timur dengan topografi berbukit dengan ketinggian tanah
750 sampai dengan 1 200 meter di atas laut.
Komoditas unggulan pertanian di wilayah Kecamatan Cimenyan terdiri dari
beberapa subsektor. Subsektor pangan terdiri dari padi, jagung hibrida, dan ubi
kayu. Subsektor hortikultura terdiri dari bawang, kentang, kubis, cabai, dan tomat.
Subsektor peternakan terdiri dari sapi, domba, kerbau, dan ayam. Subsektor
perkebunan dan kehutanan terdiri dair kopi, cengkeh, jabon, dan gamelina.
Subsektor perikanan terdiri dari lele dan nila. Di samping itu, daerah ini juga
didukung oleh potensi parwisata kawasan perbukitan yang sangat unik yaitu Bukit
Bintang dan Tebing Keraton.
Luas lahan yang dimanfaatkan untuk pertanian di wilayah Kecamatan
Cimenyan adalah 3 933 Ha yang terdiri dari 224 ha lahan sawah, 3 704 ha lahan
darat, 5 Ha kolam, dan 5 Ha kolam. Adapun pemanfaatan lahan usahatani secara
lengkap dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Pemanfaatan lahan usahatani di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten
Bandung, Provinsi Jawa Barat
No Penggunaan Lahan Luas Lahan (Ha) Persentase (%)
1 Lahan sawah 224 5.70
2 Tegal/kebun 1 909 48.54
3 Ladang 482 12.26
4 Perkarangan 258 6.56
5 Pengangonan 37 0.94
6 Perkebunan 50 1.27
7 Hutan 968 24.61
8 Kolam 5 0.13
Total 3 933 100.00
Sumber: UPTD Kecamatan Cimenyan 2016
21

Keadaan penduduk menurut mata pencaharian digunakan untuk mengetahui


tingkat sosial ekonomi serta karakter daerah. Mata pencaharian penduduk di
kecamatan Cimenyan sangat beragam, mulai dari sektor pertanian, perdagangan,
kerajinan, pemerintahan, serta jasa. Sebanyak 17 340 orang atau setara dengan
16.9 persen penduduk bekerja sebagai petani. Hal ini menunjukkan bahwa sektor
pertanian mempunyai peranan yang penting bagi Kecamatan Cimenyan dalam hal
penyerapan tenaga kerja. Selain itu hal ini dikarenakan kondisi lahan dan iklim di
Kecamatan Cimenyan cocok untuk berbagai macam tanaman seperti tanaman
hortikultura, perkebunan, dan kehutanan. Keadaan penduduk menurut mata
pencaharian di kecamatan Cimenyan dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6 Keadaan Penduduk Kecmatan Cimenyan berdasarkan mata


pencaharian tahun 2016
No Jenis Pekerjaan Jumlah (orang) %
1 Petani 17 334 16.90
2 Pengrajin 1 240 1.20
3 Pedagang 2 592 2.50
4 Jasa 691 0.67
5 PNS/Polri 713 0.69
6 Pensium 387 0.40
Total 22 957 100
Sumber : UPTD Kecamatan Cimenyan 2016

Karakteristik Petani Responden

Petani responden dalam peelitian ini adalah petani yang aktif dalam
melakukan kegiatan budidaya dan pemasaran bawang merah. Petani responden
yang dipilih berdasarkan metode purposive sampling yang terdiri dari 30 petani
responden. Usahatani yang dilakukan petani mulai dari penanaman bibit umbi
hingga pemanenan bawang merah. Usahatani bawang merah merupakan mata
pencaharian utama bagi petani responden. Selain mengusahakan budidaya bawang
merah, beberapa petani aktif dalam kegiatan kelompok tani dan kegiatan-kegiatan
pertaian yang dilaksanakan oleh Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan
Kabupaten bandung. Selain itu, sebagian petani juga memliki usaha seperti
membuka warung, berdagang sayuran, dan bekerja di kantor desa. Berdasarkan
hasil penelitian, terlihat bahwa petani responden memiliki karakteristik yang
berbeda-beda dilihar dari usia, tigkat pendidikan, luas lahan yang diusahakan, dan
pengalaman bertani.
Usia petani responden didominasi oleh petani usia 41 tahun sampai 50 tahun
berjumlah 12 orang (40 persen), petani berusia kurang dari 30 tahun berjumlah
dua orang (7 persen), petani berusia 31 tahun sampai 40 tahun berjumlah enam
orang (20 persen), petani berusia 51 sampai 60 tahun berjumlah empat orang (13
persen), dan petani berusia lebih dari 60 tahun berjumlah enam orang (20 persen).
Usia petani akan mempengaruhi kemampuan petani dalam melakukan budidaya
bawang merah yang akan mempengaruhi produktivitas hasil panen. Petani yang
usianya tergolong muda akan lebih aktif dalam mencari informasi yang dapat
22

meningkatkan hasil panen serta memiliki kinerja fisik yang lebih baik jika
dibandinkan dengan petani yang relatif tua.
Tingkat pendidikan petani juga bervariasi mulai dari sekolah dasar sampai
ke perguruan tinggi. Petani yang berpendidikan terakhir SD sebanyak 25 orang
(83 persen), petani yang berpendidikan terakhir SMP sebanyak dua orang (7
persen), petani yang mampu menyelesaikan pendidikan sampai dengan SMA
sebanyak dua orang (7 persen) dan petani yang menyelesaikan pendiidikan di
perguruan tinggi masing satu orang (3 persen). Tingkat pendidikan juga
berpengaruh terhadap cara petani dalam menerima informasi pasar serta dalam
proses pengambilan keputusan.
Pengalaman bertani responden cukup bervariasi dengan mayoritas petani
responden memiliki pengalam usahatani bawang merah 10 hingga 20 tahun.
Namun ada beberapa petani yang baru memulai usahatani bawang merah setelah
sebelumnya membudidayakan komoditi lain. Hal ini menunjukkan bahwa
budidaya bawang merah telah ada sejak lama dan terus berkembang hingga
sekarang. Pengalaman bertani menunjukkanbahwa semakin lama pengalaman
petani dalam melakukan budidaya bawang merah, maka akan semakin baik dalam
proses budidaya serta pemasaran hasil panennya. Status kepemilikan lahan dari
petani responden adalah milik sendiri dan sewa. Biaya sewa yang harus
dibayarkan oleh petani yaitu sebesar Rp3 000 per tumbak dalam satu tahun, di
man asatu tumbak yaitu 14 .

Tabel 7 Karakteristik Petani Responden Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan


No Keterangan Jumlah Petani (Jiwa) Persentase (%)
1 Jenis Kelamin
Laki-laki 28 93
Perempuan 2 7
2 Usia (Tahun)
30 tahun 2 7
31-40 tahun 6 20
41-50 tahun 12 40
51-60 tahun 4 13
60 tahun 6 20
3 Pendidikan Terakhir
SD 25 83
SMP 2 7
SMA 2 7
D4/S1 1 3
4 Lama Pengalaman
15 tahun 10 33
15 tahun 20 67
5 Luas Lahan
0.5 12 40
0.5-0.9 8 27
1-5 9 30
5 1 3
23

Karakteristik Lembaga Pemasaran

Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran bawang merah di


Kecamatan Cimenyan berjumlah 18 responden yang terdiri dari satu orang
penangkar bibit, dua orang pegawai BULOG Sub-Divre Bandung, satu orang
manajer pasar modern, lima orang pedagang besar, lima orang pedagang
pengumpul, tiga orang pedagang pengecer, dan satu orang pedagang besar non
lokal. Adapun karakteristik lembaga pemasaran dikategorikan berdasarkan tingkat
usia, pendidikan terakhir, serta pengalaman usaha.
Sebagian besar responden lembaga pemasaran beada pada usia produktif (15
sampai 59 tahun). Responden yang berusia kurang dari 35 tahun yaitu sebanyak
satu orang (5.88 persen), usia 35 tahun sampai dengan usia 44 tahun sebanyak tiga
orang (17.65 persen), usia 45 sampai dengan usia 54 tahun sebanyak 12 orang
(70.59), dan usia lebih dari 54 tahun sebanyak satu orang (5.88 persen).
Pengalaman merupakan hal yang cukup penting dalam kegiatan pemasaran
bawang merah di mana pengalaman dapat mempermudah responden dalam
mengidentifikasi serta mengantisipaso seggala kemungkinan yang terjadi. Dari
hasil wawanca yan telah dilakukan kepada 18 responden menunjukkan bahwa
responden telah melakukan kegiatan perdagangan bawang merah secara
bervariasi, yaitu mulai dari satu tahun sampai 30 tahun. Factor lain ang dimiliki
responden yang berpengaruh adalah tingkat pendidikan, sebab tingkat pendidikan
akan menentukan sikap seseorang dalam emenentukan pilihan dan strategi yang
tepat dalam emnjalankan suatu usaha, termasuk dalam emmasarkan bawang
merah. Tingkat penddikan formal yang ditempuh responden beragam. Responden
yang menempuh pendidikan SD dan SMP masing masing sebanyak enam orang
(35.29 persen), responden yang menempuh SMA sebanyak satu orang (5.88), dan
responden yang menempuh pendidikan tingkat universitas sebanyak empat orang
(23.54).

Tabel 8 Karakteristik lembaga pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan


Jumlah Responden
No Keterangan Persentase (%)
(orang)
1 Usia (Tahun)
<35 1 5.56
35-44 3 16.66
45-54 13 72.22
>54 1 5.56
2 Tingkat Pendidikan
SD 6 33.33
SMP 7 38.89
SMA 1 5.56
Universitas 4 22.22
3 Pengalaman usaha
<5 3 16.66
5-15 1 5.56
16-25 12 66.67
>25 2 11.11
24

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Saluran Pemasaran

Hasil produksi bawang merah 30 responden petani pada periode panen


bulan Desember 2016 sampai dengan Bulan Januari 2017 secara keseluruhan
yaitu 185.4 ton, di mana 18.91 ton (10.20 persen) disisihkan oleh para petani
sebagai bibit untuk musim tanamn periode selanjutnya sedangkan sisanya 166.53
ton (89.80 persen) dilakukan penjualan ke lembaga pemasaran. Saluran
pemasaran bawang merah yang terbentuk pada periode panen bulan Desember
2016 sampai dengan Januari 2017 dengan volume yang dipasarkan oleh 30 petani
responden sebesar 166.53 ton adalah sebagai berikut:

1) Saluran 1 : petani Penangkar Bibit


2) Saluran 2 : Petani Bulog Konsumen Lokal
3) Saluran 3 : Petani Pasar Modern Konsumen Lokal
4) Saluran 4 : Petani Pedagang Besar Lokal Pedagang Pengecer
Konsumen Lokal
5) Saluran 5 : Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Lokal
Pedagang Pengecer Konsumen Lokal
6) Saluran 6 : Petani Pedagang Pengumpul Pedagang Besar non Lokal

Saluran pemasaran 1
Penangkar bibit 20 ton (12.01%)
n=1

Saluran pemasaran 2
BULOG 14.8 ton (8.89%)
n=1

Saluran pemasaran 3
Petani
166.53 ton Pasar Modern 5 ton (3 %)
(100%) n=1
N =30

34.24 (20.56) Pedagang besar lokal Pedagang 92.62 ton


n=7 pengecer lokal (55.62%)
Saluran pemasaran 4
58.38 ton
(35.06%)
Saluran pemasaran 5
Pedagang pengumpul Pedagang besar 34.10 ton
92.488 ton (55.54%) non lokal (20.47%)
Saluran pemasaran 6 n=20

Gambar 5 Saluran Pemasaran Bawang Merah di Kecamatan Cimenyan


25

Saluran Pemasaran 1
Saluran Pemasaran 1 hanya dilakukan oleh satu orang petani responden
(3.33 persen) dengan kuantitas bawang merah yang dipasarkan sejumlah 20 ton
(12.01 persen). Saluran Pemasaran 1 merupakan saluran pemasaran satu tingkat
karena hanya melibatkan satu lembaga pemasaran, yaitu penangkar bibit. Petani
yang melakukan pemasaran melalui saluran 1 merupakan petani mandiri yang
memiliki volume panen rata-rata lebih dari 10 ton dan memiliki fasilitas gudang
penyimpanan yang besar untuk mengeringkan bawang merah. Selain itu, petani
merupakan ketua salah satu kelompok tani yang ada di Kecamatan Cimenyan.
Penangkar bibit melakukan pembelian dengan mendatangi langsung petani
setelah sebelumnya diberi informasi menganai petani-petani yang melakukan
pembibitan umbi bawang merah. Harga yang diterima petani pada saluran 1
adalah Rp 33 965 setelah dikurangi biaya pemasaran yang ditanggung petani
sebesar Rp 1 035. Petani menanggung biaya pemasaran diantaranya biaya
pengemasan dan biaya tenaga kerja. Biaya pemanenan diperhitungkan dan
dikeluarkan petani menggunakan sistem borongan tenaga kerja, namun biaya ini
termasuk biaya usahatani sehingga tidak diperhitungkan dalam menentukan biaya
pemasaran.
Harga yang diterima petani pada saluran 1 merupakan harga tertinggi jika
dibandingkan dengan harga yang diterima petani pada saluran lain. Hal ini
disebabkan karena bawang merah yang dijual pada saluran satu berbeda dengan
bawang yang dijual pada saluran lain. Pada saluran 1, bawang merah telah melalui
proses pengeringan yang cukup lama yaitu 30 sampai 40 hari sedangkan pada
saluran lain bawang merah hanya melalui proses pengeringan paling lama yaitu
tujuh hari.
Bibit bawang merah yang diperoleh sudah dikemas oleh petani
menggunakan karung dengan kapasitas 30 kilogram. Pembayaran yang dilakukan
oleh penangkar bibit melalui sistem transfer. Setelah transaksi selesai dilakukan,
penangkar bibit membawa bibit bawang tersebut ke kantor Dinas Pertanian,
Perkebunan, dan Kehutanan (Distanbunhut) menggunakan mobil truk. Biaya yang
dikeluarkan oleh penangkar bibit yaitu biaya pengangkutan dan biaya tenaga
kerja. Biaya pemasaran yang ditanggung oleh penangkar bibit sebesar Rp670 per
kilogram. Jika bibit bawang merah dijual secara komersial, petani yang membeli
bibit bawang merah membeli bibit bawang merah dengan harga Rp40 00 per
kilogram, namun pada saluran 1 bibit bawang tidak dijual secara komersial,
melainkan dibagikan sebagai bantuan dari Kementerian Pertanian.

Saluran Pemasaran 2
Petani yang melakukan pemasaran melalui saluran 2 merupakan petani yang
memiliki hasil produksi yang tinggi. Petani juga merupakan angota kelompok
tani, sehingga penjualan melalui saluran 2 merupakan arahan dari petugas
penyuluh lapang Kecamatan Cimenyan. Sama halnya seperti Saluran Pemasaran
1, Saluran Pemasaran 2 juga termasuk saluran pemasaran satu tingkat karena
hanya melibatkan satu perantara di antara produsen dan konsumen yaitu BULOG.
Total kuantitas bawang merah yang dipasarkan sejumlah 14.8 ton (8.89 persen).
Bawang merah yang dipasarkan pada saluran ini adalah bawang merah rogol
askip, artinya bahwa bawang merah telah dibersihkan dari daun dan batang serta
telah melalui proses pengeringan selama tiga sampai dengan tujuh hari. Petani
26

yang menjual bawang merah kepada BULOG dikarenakan telah melalui


perjanjian atau kontrak putus dengan pihak BULOG yang menyatakan bahwa
petani bersedia menjual bawang merah untuk membantu menjaga stabilisasi harga
di tingkat konsumen. Adapun harga yang ditetapkan oleh pihak BULOG yaitu
Rp20 000 per kilogram.
Pada Saluran Pemasaran 2, biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani
sebesar Rp1 800. Biaya pemasaran tersebut terdiri dari biaya pengangkutan dari
gudang penyimpanan bawang merah ke kantor BULOG, biaya pengemasan
bawang merah dalam karung berkapasitas 30, serta biaya tenaga kerja. Kemudian
pihak BULOG melakukan kegiatan sortasi dan pengemasan kembali dengan
menggunakan waring berukuran satu kilogram. Biaya pemasaran yang
dikeluarkan oleh BULOG yaitu sebesar Rp2 650, di mana biaya tersebut terdiri
dari biaya pengangkutan dari kantor BULOG ke lokasi yang dijadikan tempat
operasi pasar, biaya pengemasan, biaya sortasi dan grading, biaya penyusutan,
serta biaya tenaga kerja. Sehingga total biaya pemasaran pada saluran 2 sebesar
Rp4 450 dan harga yang diterima konsumen yaitu sebesar Rp25 000.

Saluran Pemasaran 3
Pola Saluran Pemasaran 3 dilakukan oleh satu orang petani responden (3.33
persen) dengan total kuantitas bawang merah yang dijual sejumlah 5 ton (3
persen). Petani yang melakukan saluran pemasaran melalui Saluran Pemasaran 3
merupakan petani yang tergabung dalam kelompok tani. Sama seperti saluran-
saluran sebelumnya, saluran pemasaan tiga merupakan saluran pemasaran satu
tingkat karena hanya terdapat satu perantara antara produsen dengan konsumen
yaitu pasar modern. Petani yang menggunakan saluran pemasaran ini adalah
petani mandiri dan memiliki fasilitas pengangkutan sendiri sehingga dapat
langsung memasarkan bawang merah langsung ke pasar modern. Pasar modern
pada saluran 3 adalah Lottemart di Kota Bandung. Harga yang diterima petani
dalam saluran ini sebesar Rp22 000. Harga tersebut tergolong lebih tinggi namun
pemasaran pada saluran ini tidak dapat dilakukan secara berkelanjutan karena
volume yang diterma oleh pihak pasar modern dibatasi.
Kegiatan panen, pasca panen, pengangkutan, serta pengemasan dilakukan
oleh petani bawang merah. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani yaitu
sebesar Rp2 000, di mana bawang merah telah dikemas menggunakan waring
berukuran satu kilogram. kemudian pihak pasar modern melakukan penambahan
label harga pada tiap kemasan bawang merah. Biaya pemasaran yang ditanggung
oleh pihak pasar modern yaitu biaya pengemasan, biaya tenaga kerja, serta biaya
penyusutan. Besar biaya tersebut adalah Rp3 350 sehingga total biaya pemasaran
pada saluran ini yaitu RP5 350. Harga konsumen akhir pada saluran 3 pada waktu
penelitian yakni sebesar Rp44 500 per kilogram.

Saluran Pemasaran 4
Saluran Pemasaran 4 dilakukan oleh tujuh orang petani responden (23.33
persen) dengan total volume bawang merah yang dijual sejumlah 34.24 ton (20.56
persen). Saluran pemasaran 4 merupakan saluran pemasaran dua tingkat karena
melibatkan dua perantara antara produsen dan konsumen, yakni pedagang besar
lokal serta pedagang pengecer lokal. Petani yang melalui saluran ini merupakan
petani yang memliki kendaraan pribadi untuk mengangkut hasil panen langsung
27

ke pasar induk. Selain itu, petani telah melakukan proses jual beli melalui saluran
ini cukup lama yaitu lebih dariPedagang besar dalam saluran ini merupakan
pedagang yang memiliki kios di pasar induk Caringin, Bandung. Pedagang besar
membeli bawang merah dari petani dalam jumlah besar, per hari bisa mencapai
lima sampai 10 ton bergantung dari berapa banyak bawang merah yang dibawa
petani.
Bawang merah yang dibeli oleh pedagang besar merupakan bawang merah
rogol askip yang telah dikemas per karung oleh petani. Harga yang diterima oleh
petani ketika menjual langsung kepada pedagang besar yaitu Rp18 292 per
kilogram setelah dikurang biaya pemasaran yang dikeluarkan petani sebesar Rp1
708 per kilogram. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh petani yaitu biaya
pengangkutan dari rumah atau lokasi gudang penyimpanan bawang merah petani
ke pasar induk Caringin dengan menggunakan mobil pick up, biaya pengemasan,
biaya tenaga kerja, dan biaya retribusi atau biaya masuk pasar. Setelah itu
pedagang besar akan melakukan bongkar muat untuk memindahkan bawang
merah dari mobil pick up ke kios penjualan. Biaya pemasaran yang dikeluarkan
pedagang besar yaitu Rp737 per kilogram, di mana biaya tersebut termasuk biaya
kemasan, biaya tenaga kerja, serta biaya penyimpanan karena bawang merah yang
tidak habis terjual akan disimpan daam kios tersebut. Harga jual di tingkat
pedagang besar yaitu Rp26 000 per kilogram. Pedagang besar hanya melakukan
penjualan dalam jumlah besar, sehingga rata-rata konsumen ang membeli bawang
merah pada pedagang besar adalah pedagang pengecer.
Pedagang pengecer merupakan pedagang yang menjual bawang merah di
kios kecil atau warung, di mana tidak hanya bawang yang dijual. Pedagang
pengecer menjual bawang merah tanpa dibatasi volume penjualan. Harga bawang
merah di tingkat pedagang pengecer yaitu Rp35 000. Biaya pemasaran yang
dikeluarkan oleh pedagang pengecer yaitu biaya penemasan, biaya tenaga kerja
yang mengangkut bawang merah, biay pengangkutan (transportasi dan bahan
bakar), biaya penyimpanan, dan biaya penyusutan. Bawang merah yang tidak
habis terjual dalam satu hari akan disimpan oleh pedagang pengecer di kios atau
warungnya untuk dijual keesokan harinya. Total biaya pemasaran pada saluran
pemasaran 4 yaitu sebesar Rp4 534 per kilogram.

Saluran pemasaran 5
Pemasaran bawang merah melalui Saluran Pemasaran 5 memiliki volume
penjualan terbesar jika dibandingkan dengan saluran lain, yaitu 58.38 (35.06
persen). Saluran pemasaran ini melibatkan lembaga pemasaran terbanyak yaitu
pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer. Banyaknya
volume penjualan pada saluran ini karena cukup banyak petani yang memilih
Saluran Pemasaran 5 sebagai tujuan penjualan hasil panen mereka. Hal ini
disebabkan karena petani tidak memiliki kendaraan pribadi untuk mengangkut
hasil panen langsung ke pasar, sehingga memilih untuk menjual kepada pedagang
pengumpul yang ada di desa. Sebelum menjual ke pedagang pengumpul, petani
melakukan penjemuran dan pembersihan bawang merah sehingga bentuk bawang
merah yang dijual yaitu rogol askip. Setelah itu petani melakukan pengemasan
dalam karung dengan kapasitas 30 sampai dengan 45 kilogram. Biaya pemasaran
yang dikeluarkan oleh petani meliputi biaya pengemasan dan biaya tenaga kerja,
yaitu sebesar Rp550 per kilogram.
28

Pedagang pengumpul kemudian akan mendatangi gudang atau rumah para


petani bawang untuk membeli bawang. Harga bawang merah di tingkat petani
yaitu Rp18 000 per kilogram. harga di tingkat petani pada saluran ini lebih rendah
jika dibandingkan harga petani pada Saluran Pemasaran 4, hal tersebut disebabkan
karena adanya margin yang diambil oleh pedagang pengumpul. Pedagang
pengumpul melakukan pembayaran secara tunai kepada petani. Kemudian
pedagang pengumpul membawa bawang merah tersebut ke pasar induk Caringin
untuk dijual kepada pedagang besar. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
pedagang pengumpul yaitu biaya pengangkutan menggunakan mobil pick up dari
gudang penyimpanan ke pasar induk lokal, serta biaya tenaga kerja yakni sebesar
Rp850 per kilogram. Harga bawang merah di tingkat pedagang pengumpul yaitu
sebesar Rp20 000.
Bongkar muat bawang merah dilakukan oleh tenaga kerja milik pedagang
besar di pasar induk Caringin. Bawang merah yang telah dibeli kemudian dibawa
ke kios pedagang besar. Pembayaran yang dilakukan pedagang besar kepada
pedagang pengumpul dilakukan setalh sebagian bawang merah terjual, sehingga
pedagang pengumpul akan menunggu di pasar sampai siang atau sore hari sampai
pembayaran selesai dilakukan. Pedagang besar hanya melakukan penjualan pada
jumlah besar atau tidak diecer, sehingga pembeli yang datang ke kios pedagang
besar merupakan pembeli yang akan melakukan kegiatan jual-beli lagi. Harga
yang bawang merah di tingkat pedagang besar sama seperti harga pada Saluran
Pemasaran 4 yaitu sebesar Rp26 000. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh
pedagang besar yaitu Rp737. Setelah itu pedagang pengecer akan mengangkut
hasil pembeliannya untuk dijual di kios atau warung yang dimiliki. Harga di
tingkat pedagang pengecer yaitu Rp35 000, dengan biaya pemasaran yang
dilakukan yaitu sebesar Rp2 089 per kilogram. sehingga total biaya pemasaran
pada Saluran Pemasaran 5 yaitu sebesar Rp4 226 per kilogram.

Saluran Pemasaran 6
Saluran Pemasaran 6 termasuk saluran pemasaran dua tingkat karena
terdapat dua perantara antara produsen dan konsumen, yaitu pedagang pengumpul
dan pedagang besar. Total kuantitas bawang merah yang dipasarkan pada saluran
ini sejumlah 34.10 to (24.07 persen). Sama halnya dengan Saluran Pemasaran 5,
petani menjual bawang merah kepada pedagang pengumpul dalam bentuk rogol
askip yang telah dikemas dalam karung. Pedagang pengumpul mengirim bawang
merah ke pedagang besar di pasar induk non-lokal, yaitu pasar induk Keramatjati
di Jakarta. Petani tidak mengetahui tujuan pasti pemasaran bawang merah oleh
pedagang pengumpul sehingga harga yang diterima petani pada Saluran
Pemasaran 6 sama seperti harga pada saluran pemasaran 5, yaitu Rp18 000 per
kilogram. harga jual rata-rata di tingkat pedagang besar di pasar induk Keramatjati
sebesar Rp24 000 per kilogram. harga ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan
harga yang di pasar induk lokal, namun biaya pemasaran yang dikeluarkan untuk
sampai ke pedagang besar non-lokal juga lebih besar karena jarak yang ditempuh
lebih jauh sehingga membutuhkan biaya pemasaran lebih pada proses
pengangkutan.
Petani menaggung biaya panen dan pasca panen yang termasuk pada biaya
usahatani, sedangkan biaya pemasaran yang dikeluarkan yaitu untuk pengemasan
dan biaya tenaga kerja sebesar Rp550 per kilogram. Pedagang pengumpul
29

membawa bawang merah ke pasar induk non-lokal menggunakan mobil pick up


yang disewa. Sehingga biaya pengangkutan yang dikeluarkan pedagang
pengumpul tidak hanya untuk biaya bahan bakar, melainkan biaya untuk
menyewa mobil. Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul
terdiri dari biaya pengangkutan, biaya tenaga kerja, dan biaya penyimpanan yaitu
sebesar Rp1 653. Harga yang diterima konsumen di pasar induk Kramat Jati yaitu
sebesar Rp27 286. Harga tersebut didapatkan bukan melalui proses observasi,
karena keterbatasan waktu serta ruang lingkup penelitian sehingga data harga rata-
rata konsumen di pasar induk Keramat Jati diperoleh dari statistik harga
konsumen yang dikeluarkan oleh Kementrian Perdagangan

Analisis Lembaga Pemasaran

Penelitian analisis pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan


melibakan beberapa lembaga pemasaran yang membentuk saluran pemasaran.
Lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran bawang merah di Kecamatan
Ciemnyan adalah penangkar bibit, BULOG, pasar modern, pedagang pengumpul,
pedagang besar, dan pedagang pengecer lokal.

Penangkar Bibit
Penangkar bibit merupakan perusahaan yang memenangkan kegiatan lelang
yang diadakan oleh kemetrian pertanian melalui Layanan Pengadaan Secara
Elektronik (LPSE) dalam rangka pengadaan bibit untuk bawang merah.
Perusahaan yang memenangkan lelang sekaligus yang menjadi responden dalam
penelitian ini adalah CV Raihan. Dalam memenuhi bibit bawang merah sesuai
kontrak yang sudah diberikan, penangkar bibit mencari petani yang melakukan
pembibitan bawang merah dalam skala besar. Penangkar bibit melakukan
pembelian dengan mendatangi langsung rumah petani. Kemudian penangkar bibit
membawa bibit yang sudah dibeli dari petani ke Dinas Pertanian, Perkebunan, dan
Kehutanan Kabupaten Bandung (Distanbunhut) untuk nantinya dibagikan ke
mayarakat Kabupaten Bandung sebagai bantuan dari kementerian pertanian.

BULOG
BULOG adalah perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang
logistik pangan. Peran BULOG pada saluran pemasaran bawang merah di lokasi
penelitian adalah sebagai lembaga pemasaran yang membeli bawang merah untuk
menjaga stabilisasi harga bawang merah nasional. Pada dasarnya BULOG telah
melakukan perjanjian dengan petani-petani di Kecamatan Cimenyan, yang
merupakan salah satu sentra produksi bawang merah di Kabupaten Bandung.
Adapun perjanjiannya adalah jika harga nasional bawang merah mengalami
peningkatan, maka petani harus bersedia menjual hasil panen bawang merah
kepada BULOG untuk menjaga stabilisasi harga. Namun pada kenyataannya,
hanya beberapa petani yang berkontribusi menjual hasil panennya ke BULOG.
Hal itu dikarenakan harga yang ditetapkan BULOG tidak mengikuti
perkembangan pasar, sehingga banyak petani yang enggan menjual hasil
panennya ke BULOG. Petani yang berkontribusi menjual hasil panen ke BULOG
kemudian membawa hasil panen dengan menggunakan mobil pick up dengan
30

muatan empat sampai lima ton. Kemudian BULOG akan menyimpan bawang
tersebut di gudang penyimpanan sampai pada waktu kegiatan operasi pasar.

Pasar Modern
Pasar modern adalah lembaga pemasaran yang berperan melakukan
pembelian bawang merah dari petani dan menyalurkannya kembali kepada
konsumen akhir. Pasar modern yang dijadikan responden pada penelitian ini
adalah Lottemart yang terletak di Jalan Soekarno Hatta Nomor 646, Bandung.
Pembelian bawang merah oleh Lottemart dilakukan dengan sistem kontrak putus
karena pihak Lottemart menyesuaikan dengan ketersediaan yang dimiliki.
Transaksi pembelian bawang merah yang dilakukan oleh pasar modern setelah
sebelumnya petani datang untuk memberikan sampel hasil panen bawang merah.
Jika pihak pasar modern setuju dengan kualiats dan mutu bawang merah yang
ditawarkan oleh petani maka keesokan harinya petani membawa hasil panennya
ke pasar modern dengan menggunakan pick up. Pasar modern membatasi jumlah
bawang merah yang dibeli dari petani untuk menghindari risiko turunnya mutu
bawang merah akibuat busuk, karena gudang tempat penyimpanan bawang merah
yang dimiliki pihak pasar modern tidak cocok untuk menyimpan bawang merah.

Pedagang Pengumpul
Pedagang pengumpul yang dimaksud yakni pedagang perantara yang
membeli bawang merah dari petani yang nantinya akan dijual kepada pedagang
besar baik lokal maupun non lokal. Pedagang pengumpul umumya menyimpan
persediaan bawang merah di rumah atau gudang penyimpanan sebelum dibawa ke
pasar induk menggunakan mobil pick up. Pedagang pengumpul tidak melakukan
penjualan langsung kepada konsumen atau pedagang pengecer karena pedagang
pengumpul tidak memiliki kios di pasar induk sehingga prosen penjualan harus
dilakukan melalui pedagang besar di pasar induk. Hal ini berlaku baik di pasar
induk lokal yaitu pasar induk Caringin serta pasar induk di luar Kabupaten
Bandung, yaitu Pasar Induk Keramatjati.

Pedagang Besar Lokal


Pedagang besar lokal yang dimaksud adalah pedagang besar yang berada
atau memiliki kios di pasar induk di wilayah Bandung, yaitu pasar induk
Caringin. Pedagang besar umumnya membeli bawang merah dari pedagang
pengumpul dalam jumlah cukup besar, yaitu minimal satu ton. Kemudian
pedagang besar menyimpan bawang merah tersebut dalam kiosnya. Jika supply
bawang merah di pasar induk berlimpah, maka harga akan turun sehingga
beberapa pedagang akan melakukan penyimpanan terlebih dahulu sampai harga di
pasar meningkat. Pedagang besar hanya melakukan proses penjualan dalam
jumlah besar yaitu minimal 20 kilogram, sehingga umumnya pembeli yang
melakukan pembelian di kios pedagang besar adalah pedagang pengecer lokal
yang melakukan kegiatan pembelian untuk menjualnya kembali pada warung atau
took yang dimiliki.

Pedagang Pengecer Lokal


Pedagang pengecer lokal merupakan pedagang perantara yang membeli
bawang merah dari pedagang besar di paar induk yang kemudian menjual bawang
31

merah ke konsumen akhir secara eceran. Pedagang pengecer dalam penelitian ini
merupakan pengecer menetap karena mempunyai tempat berjualan khusus di
pasar tradisional maupun warung yang berada dekat rumah mereka. Pedagang
pengecer pada kios atau warung umumnya tidak hanya menjual bawang merah.
Ada produk lain yangdijual seperti sayuran ataupun bahan-bahan makanan seperti
beras, gula, dan lain-lain. Volume bawang merah yang dibeli pedagang pengecer
dari pedagang besar berkisar antara 20 hingga 30 kilogram, dan dapat membeli
lebih pada hari-hari tertentu seperti hari perayaan agama.

Pedagang Besar Non-lokal


Pedagang besar non-lokal yang dimaksud adalah pedagang besar yang
berada di luar Kabupaten Bandung yaitu pasar induk Keramatjati. Pedagang besar
umumnya membeli bawang merah dari pedagang pengumpul dalam jumlah cukup
besar, yaitu minimal satu ton. Kemudian pedagang besar menyimpan bawang
merah tersebut dalam kiosnya. Jika supply bawang merah di pasar induk
berlimpah, maka harga akan turun sehingga beberapa pedagang akan melakukan
penyimpanan terlebih dahulu sampai harga di pasar meningkat. Namun karena
keterbatasan ruang lingkup penelitian, analisis lembaga pemasaran pedagang
besar non-lokal tidak dapat dilakukan terlalu dalam untuk melihat kepada siapa
saja pedagang besar non-lokal menjual bawang merah.

Analisis Fungsi-fungsi Pemasaran

Lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat melakukan funsi-fungsi


pemasaran untuk memperlancar penyaluran produk dari produsen (petani) ke
konsumen akhir. Petani pada umumnya memiliki keterbatasan waktu, jarak,
tempat, serta informasi pasar. sehingga lembaga pemasaran berperan melakukan
fungsi-fungsi pemasaran yang dapat meningkatkan nilai tambah dan kepuasan
konsumen. Fungsi pemasaran terdiri dari fungsi pertukaran (pembelian dan
penjualan), fungsi fisik (penympanan, pengangkutan, pengemasan), dan fungsi
fasilitas (penanggungan risiko, pembiayaan, grading dan sortasi, informasi pasar).
setiap lembaga pemasaran melakukan fungus pemasaran yang berbeda-beda
bergantung pada kebutuhan.

Fungsi Pemasaran di Tingkat Petani


Petani merupakan pihak yang melakukan kegiatan budidaya bawang merah
di Kecamatan Cimenyan, Bandung. Petani berperan untuk memproduksi bawang
merah dan menjualnya ke beberapa lembaga pemasaran. Oleh karena itu, petani
berperan sebagai produsen primer, bukan sebagai lembaga pemasaran.
Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung,
petani bawang merah melakukan ketiga fungsi pemasaran yaitu fungsi pertukaran,
fisik, dan fasilitas. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh petani adalah kegiatan
penjualan bawang merah ke lembaga pemasaran selanjutnya, yaitu penangkar
bibit, BULOG, pedagang pengumpul, pedagang besar, dan pedagang pengecer.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh petani bawang merah dalam memasarkan
bawang merah adalah fungsi pengangkutan, fungsi pengemasan, dan fungsi
penyimpanan. Fungsi pengangkutan dilakukan oleh seluruh petani dalam
32

mengangkut hasil panen ke tempat atau gudang penyimpanan. Pada saluran


pemasaran 2, 3, dan 4 petani melakukan fungsi pengangkutan ke tempat lembaga
pemasaran selanjutnya. Fungsi pengemasan dilakukan menggunakan waring
(karung) yang dapat memuat rata-rata 30 kilogram bawang dan waring yang dapat
memuat satu kilogram bawang merah. Sedangkan fungsi penyimpanan dilakukan
oleh seluruh petani responden untuk mengurangi kadar air dalam bawang merah
selama tiga sampai tujuh hari, sehingga bawang yang dijual merupakan bawang
kering (askip). Bawang merah yang dijual petani responden dalam penelitian ini
telah meelalui proses pengeringan dan pembersihan dari daun serta tanah, hal ini
dilakukan untuk meningkatkan harga jual di tingkat petani.
Selain fungsi pertukaran dan fungsi fisik, petani juga melakukan fungsi
fasilitas. Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh petani responden adalah sortasi,
penanggungan risiko, fungsi pembiayaan, dan informasi pasar. Kegiatan sortasi
dilakukan oleh petani untuk memilih bawang merah yang akan dijadikan sebagai
umbi bibit pada musim panen yang akan datang. Selain itu kegiatan sortasi
dilakukan oleh petani yang akan menjual hasil panen ke pasar modern, yaitu
pemilihan bawang merah yang baik dan yang buruk. Risiko yang ditanggung
petani adalah risiko terjadinya penurunan harga di pasar, risiko tidak terjualnya
bawang merah karena ketersediaan pasar melimpah atau penurunan kualitas
bawang merah (busuk), dan penurunan produksi karena cuaca yang tidak
mendukung. Penurunan harga biasanya terjadi di tingkat pedagang pengumpul,
pedagang besar, dan pedagang pengecer. Berbeda dengan lembaga pemasaran
BULOG, harga yang ditetapkan cenderung stabil. Risiko keuangan yang dihadapi
oleh petani yaitu terundanya pembayaran yag dilakukan oleh pedagang atau
lembaga pemasaran yang membeli langsung kepada petani. Fungsi pembiayaan
yang dilakukan petani adalah penanggungan biaya pemasaran bawang merah.
Fungsi informasi pasar yang dilaukan petani ketika mendapatkan informasi harga
bawang yang diterima dari sesame petani atau lembaga di atasnya. Namun
informasi pasar yang diterima oleh petani tersebut masih kurang mendukung dan
tidak lengkap sehingga posisi tawar menawar petani masih lemah.

Fungsi Pemasaran di Tingkat Penangkar Bibit


Penangkar bibit melakukan fungsi pemasaran yaitu fungsi pertukaran dan
fungsi fisik. Fungsi pertukaran yang dilakukan yaitu pembelian bibit bawang
merah kepada petani. Pembelian dilakukan dengan mendatangi petani secara
langsung. Bawang merah yang diserahkan kepada penangkar bibit sudah dikemas
oleh petani dalam kemasan waring (karung). Fungsi pemasaran selanjutnya yaitu
fungsi fisik, di mana penangkar bibit melakukan aktivitas pengangkutan dari
tempat pembelian bibit ke kantor Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan
Kabupaten Bandung yang nantinya bibit bawang merah akan dibagikan kepada
petani-petani di wilayah Kabupaten Bandung. Sedangkan untuk fungsi fasilitas
yang dilakukan ada fungsi pembiayaan serta fungsi informasi pasar. Fungsi
pembiayaan yang dilakukan petani adalah penanggungan biaya pemasaran
bawang merah yaitu biay apengangkutan, sedangkan fungsi informasi pasar
dilakukan untuk mencari tahu harga pasaran bibit bawang merah di tingkat petani.
33

Fungsi Pemasaran di Tingkat BULOG


BULOG adalah perusahaan umum milik negara yang bergerak di bidang
logistik pangan. Namun peran BULOG pada saluran pemasaran bawang merah di
lokasi penelitian adalah sebagai lembaga pemasaran yang membeli bawang merah
untuk menjaga stabilisasi harga bawang merah nasional. Adapun fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh BULOG adalah fungsi pertukaran, fungsi fisik,
dan fungsi fasilitas.
Fungsi pertukaran yang dilakukan yang dilakukan oleh BULOG yaitu
fungsi pembelian dan penjualan. BULOG melakukan pembelian bawang merah
kepada petani setelah sebelumnya melakukan kontrak perjanjian secara terputus
dengan petani. Kontrak tersebut berisi tentang perjanjian bahwa petani akan
berkontribusi membantu menjaga stabilisasi harga bawang merah dengan
menyalurkan hasil panen bawang merah ke BULOG dengan harga harga yang
sudah ditetapkan. Sedangkan untuk fungsi penjualan dilakukan pada kegiatan
operasi pasar yang dilakukan di wilayah Kabupaten dan Kota Bandung ketika
harga di pasar cenderung tinggi.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh BULOG yaitu fungsi pengangkutan,
pengemasan, dan penyimpanan. Fungsi pengangkutan dilakukan pada saat
kegiatan operasi pasar berlangsung, yaitu membawa bawang merah ke lokasi
kegiatan operasi pasar dengan menggunakan mobil truck. Fungsi pengemasan
dilakukan dengan mengemas kembali bawang merah menggunakan waring per
kilogram. Pengemasan ulang per kilogram dilakukan karena BULOG tidak
melakukan penjualan dalam bentuk grosir pada saat operasi pasar dilakukan. Hal
tersebut dilakukan untuk menghindari pembeli melakukan pembelian untuk dijual
kembali. Sedangkan fungsi penyimpanan dilakukan setelah pembelian bawang
merah dari petani, bawang akan disimpan sampai kegiatan operasi pasar
dilakukan di dalam gudnag penyimpanan BULOG.
Fungsi terakhir yaitu fungsi fasilitas. Adapun fungsi fasilitas yang dilakukan
oleh BULOG adalah fungsi sortasi, penanggungan risiko, fungsi pembiayaan, dan
informasi pasar. Fungsi sortasi dilakukan untuk memisahkan jika ada bawang
merah yang busuk. Sortasi dilakukan ketika bawang merah sudah berada di
gudang penyimpanan. Fungsi penanggungan risiko dilakukan karena gudang
penyimpanan tidak sesuai dengan kondisi bawang merah sehingga bawang cepat
mengalami penurunan kualitas (busuk) dan bawang merah tidak dapat dijual.
Fungsi pembiayaan yang dilakukan petani adalah penanggungan biaya pemasaran
bawang merah seperti biaya pengangkutan, biaya pengemasan, biaya penyusutan,
dan lainnya. Pencarian informasi dilakukan utnuk mengetahui stabilitas harga
bawang merah secara nasional untuk menentukan perlu atau tidak dilakukannya
operasi pasar.

Fungsi Pemasaran di Tingkat Pasar Modern


Pasar modern merupakan lembaga pemasaran yang berperan dalam menjual
bawang merah langsung kepada konsumen akhir. Fungsi pemasaran yang
dilakukan oleh pasar modern adalah fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi
fasilitas. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pasar modern meliputi aktivitas
pembelian dan penjualan. Pasar modern membeli bawang merah dari petani yang
telah melakukan persetujuan seminggu setelah panen. Petani akan datang kepada
34

piak pasar modern untuk memberikan contoh hasil panen bawang merah. Jika
pihak pasar modern setuju, maka terjadilah transaksi jual-beli. Pada umumnya
pasar modern membeli bawang merah maksimal adalah lima ton. Kemudian pasar
modern akan melakukan penjualan langsung kepada konsumen akhir.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pasar modern meliputi kegiatan
pengemasan dan penyimpanan. Aktivitas pengemasan yang dilakukan oleh pihak
pasar modern adalah dengan memberi label harga pada kemasan yang telah
diberikan oleh petani, yaitu kemasan waring per satu kilogram. Sedangkan untuk
fungsi penyimpanan, pihak pasar modern melakukan penyimpanan di rak bumbu
dan sayuran yang ada di pasar modern dan di dalam gudang penyimpanan. Fungsi
pengangkutan tidak dilakukan karena pengangkutan dilakukan oleh petani dari
lokasi petani ke pasar modern.
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pasar modern meliputi kegiatan sortasi,
penanggungan risiko, fungsi pembiayaan, dan informasi pasar. Pasar modern
melakukan pernyortiran sebelum dilakukan transaksi jual beli bawang merah
seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Penanggungan risiko yang dilakukan
oleh pihak pasar modern berupa kerugian yang disebabkan karena bawang merah
busuk sehingga tidak dapat dilakukan kegiatan penjualan. Gudang tempat
menyimpan bawang merah bukan gudang khusus untuk satu komoditas,
melainkan bercampur dengan produk lain. Selain itu, fungsi yang ada pada
gudang penyumpanan tidak cocok untuk menyimpan bawang merah dalam waktu
lama sehingga bawang merah cepat busuk. Fungsi pembiayaan yang dilakukan
petani adalah penanggungan biaya pemasaran bawang merah. Adapun biaya
pemasaran yang dikeluarkan yaitu biaya tenaga kerja, biaya pengemasan, dan
biaya penyusutan. Selanjutnya, aktivitas informasi pasar yang dilakukan oleh
pasar modern adalah pencarian informasi terkait dengan harga, kuantitas, serta
kualitas bawang merah dari petani.

Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengumpul


Pedagang pengumpul merupakan lembaga yang berhubungan dengan petani
dan berperan untuk membeli bawang merah serta menjual kepada lembaga
pemasaran berikutnya. Fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang
pengumpul berupa kegiatan pembelian dan penjualan bawang merah. Pedagang
pengumpul membeli bawang merah dari petani di Kecamatan Cimenyan. Bawang
merah yang dibeli oleh pedagang pengumpul adalah bawang merah askip, yaitu
bawang merah yang telah melalui proses penjemuran selama empat tiga sampai
dengan tujuh hari. Kemudian pedagang pengumpul menjual bawang merah
kepada pedagang besar di pasar induk baik di wilayah Kabupaten Bandung
ataupun di luar Kabupaten Bandung. Sistem pembayaran yang ditetpakan secara
tunai, baik langsung ataupun tidak langsung. Beberapa pedagang pengumpul
harus menunggu sampai sebagian bawang merah yang dijual kepada pedagang
besar terjual.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang pengumpul adalah kegiatan
pengangkutan dan penyimpanan. Aktivitas pengangkutan bawang merah
dilakukan dari rumah atau gudang penyimpanan bawang merah petani sampai
rumah atau tempat penyimpanan pedagang pengumpul dengan menggunakan
mobil pick-up, sedangkan aktivitas penyimpanan dilakukan di dalam gudang atau
rumah pedagang pengumpul. Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang
35

pengumpul berupa kegiatan penanggungan risiko, fungsi pembiayaan, dan


pencarian informasi pasar. Fungsi penanggungan risiko yang dihadapi adalah
risiko keuangan yaitu keterlambatan pembayaran dari pedagang selanjutnya.
Risiko lainnya yakni harga jual yang fluktuatif terlebih jika ketersediaan bawang
merah di tingkat lembaga pemasaran selanjutnya berlimpah. Pedagang pengumpul
melakukan fungsi pembiayaan dengan adanya biaya pemasaran yang ditanggung
seperti sewa mobil, biaya pengangkutan, biaya masuk pasar, serta biaya
penyimpanan jika tempat penyimpanan harus menyewa. Fungsi informasi pasar
yang didapat berdasarkan mekanisme harga di pasar lokal maupun non lokal.

Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Besar


Pedagang besar merupakan lembaga pemasaran yang memiliki kios di
pasar-pasar induk dan berperan membeli bawang merah serta menjual kepada
lembaga pemasaran selanjutnya. Jumlah pedagang besar yang dijadikan
responden dalam penelitian ini sebanyak lima orang pedagang besar di pasar
induk Caringin. Dalam melakukan fungsi pemasaran, fungsi pertukaran yang
dilakukan oleh pedagang besar adalah fungsi pembelian dan fungsi penjualan.
Fungsi pembelian yang dilakukan oleh pedagang besar yaitu dilakukan secara
bebas atau tanpa kontrak. Para pedagang besar membeli bawang merah kepada
pedagang pengumpul atau petani yang langsung membawa bawang merah ke
pasar. Sistem penentuan harga dilakukan dengan mengikuti harga sesuai keadaan
di pasar. Fungsi penjualan yang dilakukan oleh pedagang besar adalah dengan
menunggu pedagang pengecer yang datang untuk membeli bawang merah.
Umumnya para pedagang besar hanya menjual bawang merah dalam volume di
atas 20 kilogram. Pada saat ketersediaan bawang merah di pasar melimpah, para
pedagang akan menyimpan ketersediaan dan akan menjualnya pada saat harga
tinggi. Sistem pembayaran dilakukan secara tunai, langsung saat pembelian
bawang merah di kios yang ada di pasar.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang besar yaitu fungsi pengangkutan,
pengemasan, dan penyimpanan. Untuk fungsi pengangkutan yang dilakukan oleh
pedagang besar adalah bongkar muat dari kendaraan yang digunakan oleh
pedagang pengumpul atau petani untuk mengangkut bawang sampai ke kios para
pedagang besar. Fungsi pengemasan yang dilkaukan yaitu sesuai dengan
kebutuhan konsumen yang membeli bawang merah di kios pedagang besar.
Sedangkan untuk fungsi penyimpanan dilakukan jika bawang merah yang dibeli
oleh pedagang besar tidak langsung habis atau jika kondisi di pasar rendah karena
melimpahnya ketersediaan bawang maka para pedagang besar akan menyimpan
bawang merah di kiosnya.
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang besar adalah fungsi
penanggungan risiko, fungsi pembiayaan, dan informasi pasar. Fungsi
penanggulangan risiko dilakukan jika terjadi penurunan harga karena ketersediaan
bawang merah di pasar yang melimpah, sehigga bawang merah harus disimpan
terlebih dahulu di kios. Risiko lain yang mungkin terjadi yaitu jika terjadinya
pencurian. Fungsi pembiayaan juga dilakukan oleh pedagang besar dalam biaya
pengemasan, biaya penyimpanan, serta biaya tenaga kerja. Sedangkan untuk
fungsi pencarian informasi dilakukan untuk mencari tahu ketersediaan bawang
merah dan harga bawang merah melalui sesama pedagang.
36

Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Pengecer


Pedagang pengecer merupakan lembaga pemasaran yang membeli bawang
merah melalui pedagang besar di pasar dan menjual langsung kepada konsumen
akhir dalam jumlah sedikit atau eceran. Jumlah pedagang eceran yang dijadikan
responden sebanyak tiga orang. Dua pedagang eceran tersebut adalah pedagang
yang menjual bawang merah di kios-kios kecil di sekitar Pasar Induk Caringin.
Fungsi pemasaran yang dilakukan oleh pedagang pengecer berupa fungsi
pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Fungsi pertukaran meliputi kegiatan
pembelian dan penjualan. Pedagang pengecer membeli bawang merah dari
pedagang besar dengan sistem pembayaran tunai dengan cara mendatangi
pedagang besar di pasar induk. Pedagang pengecer tidak melakukan pembelian
langsung ke petani karena lokasi petani bawang merah yang jauh dan cukup sulit
dijangkau menggunakan kendaraan umum. Kemudian pedagang pengecer
menjualnya di kios kecil bersama barang dagangan lainnya, seperti sayuran dan
sembako. Volume rata-rata penjualan pedagang pengecer adalah 10-20 kilogram
per hari.
Fungsi fisik yang dilakukan pedagang pengecer adalah kegiatan
pengangkutan, pengemasan, dan penyimpanan. Pengangkutan dilakukan dari
tempat pembelian bawang merah ke tempat berjualan pedagang pengecer dengan
menggunakan sepeda motor, di mana biaya ditanggung oleh pedahgang pengecer.
Fungsi pengemasan dilakukan menggunakan plastic kemasan bergantung pada
kuatitas yang dibeli oleh [Link] penyimpanan dilakukan oleh
pedagang pengecer apabila bawang merah tidak habis terjual dalam satu hari dan
akan dijual kembali pada hari berikutnya.
Pedagang pengecer melakukan fungsi fasilitas meliputi penanggungan
risiko, fungsi pembiayaan, dan informasi pasar. Penanggungan risiko pedagang
pengecer berupa penurunan kualitas bawang merah yang tidak terjual sehingga
bawang merah busuk. Fungsi pembiayaan yang dilakukan adalah modal untuk
membeli bawang merah, biaya pengangkutan, biaya pengemasan, serta biaya
penyimpanan. Sedangkan fungsi informasi harga diperoleh dari perkembangan
harga jual dan harga beli sesame pedagang pengecer.

Fungsi Pemasaran di Tingkat Pedagang Besar non-lokal


Pedagang besar merupakan lembaga pemasaran yang memiliki kios di
pasar-pasar induk di luar Kabupaten Bandung dan berperan membeli bawang
merah serta menjual kepada lembaga pemasaran selanjutnya. Jumlah pedagang
besar yang dijadikan responden dalam penelitian ini sebanyak saatu orang
pedagang besar di pasar induk Keramatjati. Dalam melakukan fungsi pemasaran,
fungsi pertukaran yang dilakukan oleh pedagang besar adalah fungsi pembelian
dan fungsi penjualan. Fungsi pembelian yang dilakukan oleh pedagang besar yaitu
dilakukan secara bebas atau tanpa kontrak. Para pedagang besar membeli bawang
merah kepada pedagang pengumpul yang ada di pasar. Sistem penentuan harga
dilakukan dengan mengikuti harga sesuai keadaan di pasar. Fungsi penjualan yang
dilakukan oleh pedagang besar tidak dapat diidentifikasi karen keterbatasan
penulis. Pada saat ketersediaan bawang merah di pasar melimpah, para pedagang
akan menyimpan ketersediaan dan akan menjualnya pada saat harga tinggi.
37

Sistem pembayaran dilakukan secara tunai, langsung saat pembelian bawang


merah di kios yang ada di pasar.
Fungsi fisik yang dilakukan oleh pedagang besar yaitu fungsi pengangkutan,
pengemasan, dan penyimpanan. Untuk fungsi pengangkutan yang dilakukan oleh
pedagang besar adalah bongkar muat dari kendaraan yang digunakan oleh
pedagang pengumpul atau petani untuk mengangkut bawang sampai ke kios para
pedagang besar. Fungsi pengemasan yang dilakukan yaitu sesuai dengan
kebutuhan konsumen yang membeli bawang merah di kios pedagang besar.
Sedangkan untuk fungsi penyimpanan dilakukan jika bawang merah yang dibeli
oleh pedagang besar tidak langsung habis atau jika kondisi di pasar rendah karena
melimpahnya ketersediaan bawang maka para pedagang besar akan menyimpan
bawang merah di kiosnya.
Fungsi fasilitas yang dilakukan oleh pedagang besar adalah fungsi
penanggungan risiko, fungsi pembiayaan, dan informasi pasar. Fungsi
penanggungan risiko dilakukan jika terjadi penurunan harga karena ketersediaan
bawang merah di pasar yang melimpah, sehigga bawang merah harus disimpan
terlebih dahulu di kios. Risiko lain yang mungkin terjadi yaitu jika terjadinya
pencurian. Fungsi pembiayaan juga dilakukan oleh pedagang besar dalam biaya
pengemasan, biaya penyimpanan, serta biaya tenaga kerja. Sedangkan untuk
fungsi pencarian informasi dilakukan untuk mencari tahu ketersediaan bawang
merah dan harga bawang merah melalui sesama pedagang

Analisis Efisiensi Pemasaran

Pemasaran yang efisien merupakan pemasaran yang memberikan kepuasan


pada tingkat lembaga pemasaran yang terlibat, sesuai dengan biaya yang
dikorbankan masing-masing lembaga tersebut (Asmarantaka 2012). Analisis
efisiensi pemasran dilakukan untuk menentukan saluran pemasran bawang merah
yang efisien, di mana ukuran efisiensi menggunakan indikator efisiensi
operasional. Analisis efisiensi operasional dapat digunakan untuk menentukan
efisiensi sistem dari sisi kuantitatif dengan menggunakan analisis marjin
pemasran, farmer’s share¸ dan biaya pemasaran.

Marjin Pemasaran
Analisis marjin pemasaran merupakan salah satu indikator kuantitatif untuk
menilai efisiensi pemasaran. Marjin pemasaran merupakan selisi harga di tingkat
prodesen dengan harga di tingkat konsumen akhir. Perbedaan harga yang terjadi
disebabkan oleh adanya biaya pemasaran yang dikeluarkan serta fungsi-fungsi
pemasaran yang dilakukan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran
pemasaran, serta keuntungan yang diambil sebagai balas jasa atas fungsi-fungsi
pemasaran yang dilakukan.
Analisis marjin pemasaran dilakukan pada saluran pemasaran yang setara
(equivalent). Artinya, satuan volume di setiap tingka lembaga pemasaran harus
sama. Saluran Pemasaran 1 tidak dapat dijadikan sebagai perbandingan karena
produk yang dipasarkan dalam bentuk bibit bawang merah, berbeda dengan
saluran-saluran lain. Saluran Pemasaran 2 dan 3 tidak dapat dijadikan
perbandingan karena lembaga pemasaran yang dituju pada Saluran Pemasaran 2
38

dan 3 tidak dapat menampung hasil panen bawang merah dalam jumlah banyak
dan kontinu, sehingga petani yang melalui saluran tersebut sangat sedikit. Saluran
Pemasaran 6 tidak dapat dijadikan sebagai perbandingan karena konsumen akhir
pada saluran tersebut tidak setara dengan saluran lain, yaitu konsumen luar
Bandung. Sehingga saluran pemasaran yang dapat dibandingkan untuk melihat
saluran yang efisien yaitu hanya Saluran Pemasaran 4 dan Saluran Pemasaran 5.

Tabel 9 Marjin pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten


Bandung
Harga di Harga di tingkat Marjin Marjin
Saluran
tingkat petani Konsumen pemasaran pemasaran
Pemasaran
(Rp/kg) (Rp/kg) absolut (Rp/kg) persentase (%)
4 18 292 35 000 16 708 47.74
5 17 450 35 000 17 550 50.14

Tabel 9 menunjukkan bahwa nilai marjin pada Saluran Pemasaran 4 yaitu


sebesar Rp16 708 per kilogram, di mana nilai tersebut lebih rendah jika
dibandingkan dengan Saluran Pemasaran 5 yaitu sebesar Rp17 550 per kilogram.
Hal ini disebabkan karena Saluran Pemasaran 4 tidak melalui pedagang
pengumpul terlebih dahulu, sehingga total marjin pada Saluran Pemasaran 4 lebih
rendah. Sehingga jika dilihat berdasarkan nilai marjin pemasaran, maka Saluran
Pemasaran 4 lebih efisien dibandingkan Saluran Pemasaran 5.

Farmer’s Share
Farmer’s share merupakan perbandingan antara harga yang diterima petani
dengan harga yang dibayarkan konsumen akhir. Farmer’s share juga merupakan
salah satu alat ukur kuantitatf untuk menilai efisiensi pemasaran selain marjin
pemasaran. Farmer’s share merupakan bagian yang diterima petani yang
dinyatakan dalam bentuk persentase. Nilai farmer’s share yang tinggi tidak
mutlak menunkukkan bahwa sistem pemasaran tersebut berjalan dengan efisien.
Hal ini berkaitan dengan besar atau kecilnya nilai tambah yang diberikan kepada
suatu produk oleh lembaga pemasaran yang terlibat. Nilai farmer’s share
berbanding terbalik dengan marjin pemasaran. Artinya, semakin tinggi nilai
farmer’s share makan nilai marjin pemasaran semakin rendah, begitu pula
sebaliknya. Pada pemasaran luar lokal (tingkat pedagang besar non-lokal), harga
konsumen merupakan harga jual di tingkat lembaga pemasaran terakhir atau di
tingkat harga pedagang besar. Sedangkan pada pemasaran lokal, harga konsumen
merupakan harga konsumen akhir yang mengnsumsi bawang merah atau harga
jual di tingkat pedagang pengecer.
Sama halnya dengan marjin pemasaran, analisis farmer’s share dilakukan
pada Saluran Pemasaran 4 dan 5. Hal ini dimaksudkan agar saluran yang menjadi
perbandingan merupakan saluran yang setara. Nilai farmer’s share pada Saluran
Pemasaran 4 yaitu sebesar 57.14 persen, di mana nilai tersebut lebih besar
dibandingkan Saluran Pemasaran 5 yaitu sebesar 51.43 persen. Perbedaan nilai
farmer’s share ini disebabkan karena nilai marjin yang ditetapkan oleh lembaga
pemasaran. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa saluran pemasaran yang efisien
berdasarkan analisis farmer’s share yaitu Saluran Pemasaran 4 karena bagian
yang diterima petani lebih besar jika dibandingkan dengan Saluran Pemasaran 5.
39

Rasio Keuntungan terhadap Biaya


Rasio keuntungan terhadap biaya dapat dilihat sebagai indikator kuantitatif
efisiensi pemasaran. Analisis rasio terhadap biaya merupakan besarnya
keuntungan yang diterima oleh lembaga pemasaran terhadap biaya yang
dikeluarkan. Dengan demikian, meratanya penyebaran nilai rasio keuntungan
terhadap biaya disetiap lembaga pemasaran, maka secara teknis pemasaran
tersebut semakin efisien. Setiap saluran pemasaran memiliki rasio keuntungan
terhadap biaya yang berbeda-beda.
Nilai rasio keuntungan terhadap biaya pada Saluran Pemasaran 4 yaitu
sebesar 4.31, artinya bahwa setiap Rp1 000 yang dikeluarkan akan memberikan
keuntungan sebesar Rp4 310 (lihat Lampiran 5). Nilai rasio keuntungan pada
Saluran Pemasaran 4 yaitu sebesar 3.62, artinya bahwa setia Rp1 000 yang
dikeluarkan akan memberikan keuntungan sebesar Rp3 620. Jika dilihat dari
besaran nilai, nilai rasio keuntungan terhadap biaya pada Saluran Pemasaran 4
lebih besar jika dibandingkan dengan Saluran Pemasaran 5. Penentuan saluran
pemasran yang efisien tidak hanya dilihat dari besarnya nilai rasio keuntungan
terhadap biaya, melainkan tingkat kemerataan rasio pada tiap saluran. Artinya,
tiap lembaga pemasaran yang terlibat merasakan keuntungan yang sama atau adil.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran yang efisien jika dilihat
berdasarkan analisis rasio terhadap biaya yaitu Saluran Pemasaran 4.

Analisis Efisiensi Operasional Saluran Pemasaran

Indikator kuantitatif dalam efisiensi operasional pemasaran bawang merah


di Kecamatan Cimenyan dapat diukur dengan membandingkan nilai marjin
pemasaran, farmer’s share, sebaran nilai rasio keuntungan terhadap biaya, dan
volume penjualan petani. Nilai marjin pemasaran yang rendah akan berdampak
pada farmer’s share yang lebih tinggi. Nilai farmer’s share yang tinggi
merupakan bentuk insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi. Nilai rasio
keuntungan terhadap biaya yang tersebar merata di seluruh lembaga pemasaran
juga menunjukkan efisiensi pemasaran. Volume penjualan oleh petani pada setiap
saluran sebagai penentu apakah saluran tersebut efisien berdasarkan daya serap
komoditasnya.

Tabel 10 Marjin pemasaran, farmer’s share, rasio keuntungan terhadap biaya


pemasaran, dan volume penjualan petani bawang merah
Volume Total biaya Total keuntungan total marjin farmer's
Saluran Rasio
penjualan pemasaran pemasaran pemasaran share
pemasaran
(ton) (Rp/kg) (Rp/kg) (Rp/kg) (100%)
1 20.00 1 705 1 226 5 000
2 14.80 4 450 2 350 6 800 80.00 0.89
3 5.00 5 350 19 150 24 500 49.44 5.72
4 34.24 4 534 12 174 16 708 57.14 4.31
5 58.38 4 226 13 324 17 550 51.43 3.62
6 34.10 2 767 9 069 11 286 65.97 4.09

Penentuan efisiensi pemasaran tidak hanya dilihat melalui indikator


40

kuantitatif. Efisiensi pemasaran juga melihat indikator secara kualitatif seperti


fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan masing-masing lembaga pemasaran.
Analisis ini merupakan efisiensi relatif yang membandingkat setiap saluran
pemasaran yang terbentuk. Nilai marjin pemasaran, farmer’s share, rasio
keuntungan terhadap biaya, dan volume penjualan pemasaran bawang merah di
Kecamatan Cimenyan pada tiap saluran pemasaran dapat dilihat pada Tabel 10.
Analisis efisiensi dilakukan dengan membandingkan saluran pemasaran
yang setara (equivalent). Sehingga perbandingan dilakukan pada Saluran
Pemasaran 4 dan 5, di mana produk merupakan bawang merah konsumsi dan
konsumen akhir yaitu pasar induk Caringin, Bandung. Jika dianalisis secara
kuantitatif, saluran pemasaran yang efisien adalah saluran 4 di mana marjin
pemasaran saluran 4 lebih rendah yaitu sebesar Rp16 708, farmer’s share lebih
tinggi yaitu sebesar 57.14, dan rasio keuntungan terhadap biaya lebih tinggi yaitu
sebesar 4.31. Tetapi volume bawang merah yang dipasarkan melalui saluran 4
lebih sedikit jika dibandingkan saluran 5. Hal ini disebabkan karena petani yang
melalui saluran 4 merupakan petani yang mempunyai fasilitas pengangkutan,
sehingga memilih untuk langsung memasarkan bawang merah ke pasar induk
tanpa melalui pedagang pengumpul terlebih dahulu.
Fungsi-fungsi pemasaran yang dilakukan pada saluran pemasaran dalam
penyampaian bawang merah ke konsumen sudah efektif. Lembaga pemasaran
telah melakukan fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas pemasaran.
nilai guna bentuk telah tercipta pada saluran pemasaran tersebut, di mana bawang
merah yang dijual sudah melalui proses pembersihan dan pengurangan kadar air.
Nilai guna tempat juga tercipta di mana konsumen dapat menemukan produk yang
diinginkan dengan mudah, baik di pasar tradisional, pasar modern, warung,
maupun pada saat operasi pasar. Nilai guna waktu tercipta karena bawang merah
telah melalui proses penyimpanan (penjemuran) sehingga bawang yang diterima
konsumen tidak mudah busuk dan nilai guna kepemilikan tercipta saat bawang
merah berpindah tangan dari penjual ke pembeli. Dari uraian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa saluran pemasaran yang efisien terdapat pada saluran 4.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian di Kecamatan Cimenyan, Kabupatn Bandung,


Provinsi Jawa Barat diperoleh simpulan sebagai berikut:
1. Pemasaran bawang merah terdiri atas 6 (enam) saluran pemasaran, di mana
melibatkan enam lembaga pemasaran yaitu penangkar bibit, BULOG, pasar
modern, pedagang besar, pedagang pengumpul, dan pedagang pengecer.
Saluran Pemasaran 1 dan Saluran Pemasaran 2 merupkan saluran pemasaran
yang melibatkan kerjasama dengan lembaga pemasaran penangkar benih dan
BULOG, sedangkan Saluran Pemasaran3, 4, 5 merupakan saluran pemasaran
dengan konsumen akhir wilayah Bandung. Saluran Pemasaran 6 merupakan
saluran pemasaran dengan konsumen akhir luar wilayah Bandung. Lembaga
pemasaran yang terlibat dalam melakukan pemasaran bawang merah telah
41

melakukan keseluruhan fungsi pemasaran dengan baik, adapun yang


membedakan yaitu pada fungsi penyimpanan. Saluran Pemasaran 1 melakukan
proses pengeringan atau penyimpanan lebih lama dari saluran lain karena
bawang merah yang dipasarkan merupakan bawang merah bibit.
2. Pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung,
Provinsi Jawa Barat sudah cukup efisien karena telah menciptakan nilai
tambah berupa nilai guna bentuk, waktu, tempat, serta kepemilikan. Banyak
alternatif pilihan saluran pemasaran, marjin pemasaran yang terjadi relatif
sesuai dengan fungsi pemasaran yang dilakukan. Saluran pemasaran yang
relatif efisien terdapat pada saluran pemasaran dengan konsumen akhir wilayah
Bandung, yaitu Saluran Pemasaran 3, 4, dan 5 berdasarkan indikator kuantitatif
operasional dan indikator kualitatif efisiensi relatif.
3. Petani dan lembaga pemasaran sebaiknya bekerja sama dalam memasarkan
bawang merah, sehingga tercipta kepuasan pada masing-masing lembaga yang
terlibat.

Saran

Rekomendasi saluran pemasaran yang sebaiknya dilakukan petani dapat


melalui kerjasama dengan lembaga pemasaran ataupun tanpa melakukan
kerjasama. Petani dapat memasarkan bawang merah dalam bentuk bibit maupun
konsumsi melalui sistem kerjasama untuk mendapatkan harga jual yang lebih
tinggi jika dibandingkan tanpa melalui kerjasama. Namun perlu diperhatikan
bahwa kerjasama baik dengan penangkar bibit (Saluran Pemasaran 1)
membutuhkan waktu yang cukup panjang dan biaya yang lebih tinggi, sedangkan
memasarkan bawang merah konsumsi melalui BULOG (Saluran Pemasaran 2)
tidak dapat dilakukan setiap musim panen datang karena BULOG melakukan
pembelian dari petani hanya jika mendapat perintah dari Kementerian Pertanian.
Rekomendasi saluran pemasaran tanpa melalui kerjasama yang baik yaitu petani
langsung menjual kepada pedagang di pasar induk (Saluran Pemasaran 4)
dibandingkan melalui pedagang pengumpul terlebih dahulu untuk mendapatkan
harga yang lebih tunggi, sehingga marjin yang tercipta akan lebih rendah an
bagian yang diterima petai akan lebih tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Potensi, Permasalahan, dan tantangan Pembangunan Hortikultura
[Internet]. [diakses 2017 Januari 9]. Tersedia pada:
[Link]
Apriliani TL, Fahmi A. 2016. Analisis Efisiensi Pemasaran Bawang Merah di
Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat. Volume 10 No. 2. Indonesia
(ID): Universitas Islam Al-Azhar.
Amalia AN. 2012. Analisis Pemasaran Wortel (Daucus Carota L) di Kecamatan
Pacet Kabupaten Cianjur, Jawa Barat [Skripsi]. Bogor (ID): IPB
Anita et all. 2012. Analisis Efisiensi Pemasaran Jeruk Siam di Kecamatan tebas
Kabupaten Sambas [Jurnal]. UNTAN.
42

Asmarantaka RW. 2012. Pemasaran Agribisnis (Agrimarketing). Bogor (ID):


Departemen Agribisnis FEM-IPB
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan
Agustus 2016 [Internet]. [diunduh 2016 Desember 5]. Tersedia pada:
[Link]
Ekonomi-Agustus-2016_rev.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan
September 2016 [Internet]. [diunduh 2016 Desember 5]. Tersedia pada:
[Link]
Ekonomi-September-2016_rev.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan
Oktober 2016 [Internet]. [diunduh 2016 Desember 5]. Tersedia pada:
[Link]
Ekonomi-Oktober-2016_rev.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan
November 2016 [Internet]. [diunduh 2016 Desember 5]. Tersedia pada:
[Link]
Ekonomi-November-2016_rev.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2016. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan
Desember 2016 [Internet]. [diunduh 2017 Januari 31]. Tersedia pada:
[Link]
Ekonomi-Desember-2016_rev.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2017. Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Bulan
Januari 2016 [Internet]. [diunduh 2017 Januari 31]. Tersedia pada:
[Link]
Ekonomi-Januari-2017_rev.pdf
[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung. 2016. Kabupaten Bandung
dalam Angka. Bandung.
Brahmantyo A, Sukamto A. 2014. Tataniaga Bawang Merah (Studi Kasus: Desa
Parangtritis, Kecamatan Kretek Kabupaten Bantul, DIY). Yogyakarta (ID):
Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Dewi E. 2015. Analisa Usaharani dan Efisiensi Pemasaran Bawang Prei (Allium
Porrum BI.) di Kecamatan Ngantru Kabupaten Tulungagung [Internet].
[diunduh 2017 April 5]. 11(13): 29-44. Tersedia pada:
[Link]
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perhutanan Kabupaten Bandung. 2016.
Produksi Bawang Merah dirinci per kecamatan di Kabupaten bandung
Tahun 2015.
Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perhutanan Kabupaten bandung 2016. Harga
bawang merah dirinci per kecamatan di Kabupaten Bandung Tahun 2016.
[Distanbunhut] Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan. 2016. Laporan Tahun
2015 [Internet]. [diunduh 2016 September 18]. Tersedia pada:
[Link]
[Dirjen horti] Direktorat Jendral Hortikultura. 2015. Rencana Strategis Direktorat
Jendral Hortikultura 2015-2019. [Internet]. [diunduh 2017 Januari 9].
Tersedia pada: [Link]
content/uploads/2015/06/Rencana Strategis Direktorat Jendral Hortikultura
2015-2019. Jakarta (ID): Direktorat Jendral Hortikultura.
43

Fatimah. 2011. Analisis Pemasaran Kentang (solanum tuberosum L.) di


Kabupaten Wonosobo [Skripsi]. Bogor (ID): IPB
Kohls RL, Uhl JN. 2002. Marketing of Agricultural Product Nineth Edition. New
Jerssey (US): Prentice-Hall Inc.
Limbong, W.H dan Sitorus, Panggabean. 1987. Pengantar Pemasaran Pertanian
jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Pertanian. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor
Purcell, Wayne D. 1979. Agricultural Marketing. Reston Publishing Company,
inc. Virginia.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian. 2016.
Produksi Bawang Merah Provinsi Jawa Barat Tahun 2015.
Sari BW. 2014. Analisis Sistem Pemasaran Jeruk Siam di Desa Sumberagung,
Kecamatan Sumberbaru, Kabupaten Jember, Jawa Timur. [skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Siringo-ringo FAK, Sebayang T, Kesumua SI. 2012. Analisis Tataniaga Bawang
Merah (Kasus Hasil Produksi Bawang Merah Kecamatan Silahisabungan
Kabupaten Dairi). Medan (ID): Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara.
Sudiyono, A. 2002. Pemasaran Pertanian. Malang (ID): UMM Press.
[UPTD] Unit Pelaksana Teknis Daerah. 2016. Program Penyuluhan Pertanian
Kecamatam Cimenyan. Bandung.
Wacana, ADS. 2011. Analisis Tataniaga Bawang Merah (Kasus di Kelurahan
Brebes, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes). [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
44

LAMPIRAN

Lampiran 1 Data petani bawang merah responden di Kecamatan Cimenyan,


Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat
Usia lama bertani mata pendidikan luas lahan jumlah
No Nama
(tahun) (tahun) pencaharian terakhir (Ha) produksi (ton)

1 Dana 45 20 petani SD 2.00 14.00

2 aep 65 40 petani SD 1.50 10.50

3 yana 55 35 petani SD 2.50 17.50

4 ujang 23 2 petani S1 2.00 16.00

5 yayat 48 10 petani smp 2.00 14.00

6 apong 62 40 petani SD 1.50 10.50

7 ade 42 10 petani SD 0.56 4.00

8 usep 40 20 petani SD 0.42 1.50

9 amim 60 35 petani SD 0.16 0.50

10 ayi 34 10 petani smu 0.70 4.90

11 ice 28 5 petani SD 0.56 2.00

12 edi 44 20 petani SD 0.56 3.90

13 iyep 42 20 petani SD 0.28 2.00

14 jajang 40 20 petani SD 0.31 2.20

15 dayat 63 30 petani SD 0.40 2.80

16 nene 56 30 petani smp 0.11 0.77

17 yaya 50 20 petani SD 0.56 3.90

18 alit 45 20 petani SD 0.35 2.45

19 ajang 36 19 petani SD 0.52 3.64

20 ukip 43 10 petani SD 0.35 2.45

21 ica 62 20 petani SD 0.01 0.10

22 ita 61 29 petani SD 1.00 7.00

23 odeh 63 20 petani SD 9.00 30.00

24 mpen 49 10 petani Smu 0.28 1.96

25 uun 44 10 petani sd 1.00 7.00

26 aca 32 5 petani sd 0.60 4.20

27 acep 50 25 petani sd 1.00 7.00


28 jamhir 53 28 petani sd 0.30 2.20

29 oyi 35 10 petani sd 0.38 2.67

30 nurdin 49 20 petani sd 0.53 3.80


45

Lampiran 2 Fungsi-fungsi pemasaran oleh partisipan pemasaran bawang merah di


kecamtan Cimenyan pada setiap saluran pemasaran
Fungsi-fungsi Pemasaran
Lembaga Pertukaran Fisik Fasilitas
Pemasaran Informasi
Jual Beli Angkut Kemas Simpan Sortasi Biaya Risiko
pasar
Saluran 1
Petani
Penangkar

Bibit
Saluran 2
Petani
BULOG
Saluran 3
Petani
Pasar modern
Saluran 4
Petani
Pedagang Besar
Pedagang
Pengecer
Saluran 5
Petani
Pedagang
pengumpul
Pedagang besar
Pedagang
pengecer
Saluran 6
Petani
Pedagang
pengumpul
Pedagang besar
non-lokal
46

Lampiran 3 Biaya pemasaran tiap saluran pemasaran bawang merah di Kecamatan


Cimenyan
Saluran 1
Partisipan Pemasaran Biaya (Rp/kg)
Petani
biaya pengemasan 35
biaya tenaga kerja 1 000
Penangkar Bibit
biaya tenaga kerja 20
biaya pengangkutan 650
total biaya pemasaran 1 705

Saluran 2
Partisipan Pemasaran Biaya (Rp/kg)
Petani
biaya pengangkutan 750
biaya pengemasan 50
biaya tenaga kerja 1000
BULOG
biaya pengangkutan 650
biaya pengemasan 250
biaya penyusutan 750
biaya tenaga kerja 1 000
total biaya pemasaran 4 450

Saluran 3
Partisipan Pemasaran Biaya (Rp/kg)
Petani
biaya pengangkutan 750
biaya pengemasan 250
biaya tenaga kerja 1000
Pasar Modern
biaya pengemasan 250
biaya penyusutan 1 100
Biaya tenaga kerja 2 000
Total Biaya Pemasaran 5 350
47

Saluran 4
Partisipan Pemasaran Biaya (Rp/kg)
Petani
biaya pengangkutan 650
biaya pengemasan 50
biaya tenaga kerja 1 000
biayaadministrasi 8
pedagang besar
biaya pengemasan 100
biaya tenaga kerja 500
biaya penyimpanan 137
pedagang pengecer
biaya pengemasan 100
biaya tenaga kerja 350
biaya pengangkutan 500
biaya penyimpanan 273
biaya penyusutan 866
total biaya pemasaran 4 534

Saluran 5
Partisipan Pemasaran Biaya (Rp/kg)
petani
biaya pengemasan 50
biaya tenaga kerja 500
pedagang pengumpul
biaya pengangkutan 650
biaya tenaga kerja 200
pedagang besar
biaya pengemasan 100
biaya tenaga kerja 500
biaya penyimpanan 137
pedagang pengecer
biaya pengemasan 100
biaya tenaga kerja 350
biaya pengangkutan 500
biaya penyimpanan 273
biaya penyusutan 866
total biaya pemasaran 4 226
48

Saluran 6
Partisipan Pemasaran Biaya (Rp/kg)
petani
biaya pengemasan 50
biaya tenaga kerja 500
pedagang pengumpul
biaya pengangkutan 1 587
biaya tenaga kerja 66
Pedagang besar non-lokal
Biaya tenaga kerja 500
Biaya penyimpanan 64
total biaya pemasaran 2 767
49

Lampiran 4 Marjin Pemasaran bawang merah di Kecamatan Cimenyan,


Kabupaten Bandung
Saluran 1
Lembaga Pemasaran Keterangan
petani
harga jual 33 965
biaya pemasaran 1 035
Penangkar bibit
harga beli 35 000
harga petani konsumen 40 000
biaya pemasaran 670
keuntungan 4 330
marjin 5 000
TOTAL BIAYA 1 705
TOTAL KEUNTUNGAN 4 330
TOTAL MARJIN 5 000

Saluran 2
Lembaga Pemasaran Keterangan
petani
harga jual 18 200
biaya pemasaran 1 800
BULOG
harga beli 20 000
harga jual 25 000
biaya pemasaran 2 650
keuntungan 2 350
marjin 5 000
TOTAL BIAYA 4 450
TOTAL KEUNTUNGAN 2 350
TOTAL MARJIN 6 800

Saluran 3
Lembaga Pemasaran Keterangan
petani
harga jual 20 000
biaya pemasaran 2 000
Pasar Modern
harga beli 22 000
harga jual 44 500
biaya pemasaran 3 350
keuntungan 19 150
marjin 22 500
TOTAL BIAYA 5 350
TOTAL KEUNTUNGAN 19 150
50

TOTAL MARJIN 24 500


Saluran 4
Lembaga Pemasaran Keterangan
petani
harga jual 18 292
biaya pemasaran 1 708
Pedagang Besar
harga beli 20 000
harga yang diterima 26 000
biaya pemasaran 737
keuntungan 5 263
marjin 6 000
Pedagang Pengecer
harga beli 26 000
harga yang diterima 35 000
biaya pemasaran 2 089
keuntungan 6 911
marjin 9 000
TOTAL BIAYA 4 534
TOTAL KEUNTUNGAN 12 174
TOTAL MARJIN 16 708

Saluran 5
Lembaga Pemasaran Keterangan
petani
harga jual 17 450
biaya pemasaran 550
Pedagang Pengumpul
harga beli 18 000
harga yang diterima 20 000
biaya pemasaran 850
keuntungan 1 150
marjin 2 000
Pedagang Besar
harga beli 20 000
harga yang diterima 26 000
biaya pemasaran 737
keuntungan 5 263
marjin 6 000
Pedagang Pengecer
harga beli 26 000
harga yang diterima 35 000
biaya pemasaran 2 089
keuntungan 6 911
marjin 9 000
TOTAL BIAYA 4 226
TOTAL KEUNTUNGAN 13 324
51

TOTAL MARJIN 17 550


SALURAN 6
Lembaga Pemasaran Keterangan
petani
harga jual 17 450
biaya pemasaran 550
Pedagang Pengumpul
harga beli 18 000
harga yang diterima 24 000
biaya pemasaran 1 653
keuntungan 4 347
marjin 6 000
Pedagang Besar non-Lokal
harga beli 20 000
harga yang diterima 27 286
biaya pemasaran 564
keuntungan 6 722
marjin 7 286
TOTAL BIAYA 2 767
TOTAL KEUNTUNGAN 11 069
TOTAL MARJIN 13 286
52

Lampiran 5 Rasio keuntungan terhadap biaya pemasaran bawang merah di


Kecamatan Cimenyan

Keuntungan Biaya
Lembaga Pemasaran Rasio
(Rp/kg) (Rp/kg)
Saluran 1
petani - 1 035 -
penangkar bibit - 670 -
Rasio - - -
saluran 2
petani - 585 -
BULOG 2 350 2 650 0.89
rasio 2 350 2 650 0.89
saluran 3
petani - 800 -
pasar modern 19 150 3 350 5.72
rasio 19 150 3 350 5.72
saluran 4
petani - 210 -
pedagang besar 5 263 737 7.14
pedagang pengecer 6 911 2 089 3.31
rasio 12 174 2 826 4.31
saluran 5
petani - 535 -
pedagang pengumpul 1 150 850 1.35
pedagang besar lokal 5 263 737 7.14
pedagang pengecer 6 911 2 089 3.31
rasio 13 324 3 676 3.62
saluran 6
petani - 535 -
pedagang pengumpul 4 347 1 653 2.63
pedagang besar non-lokal 6 722 564 11.92
rasio 11 069 2 217 4.99
53

RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Ivony Annisa yang dilahirkan di Jakarta pada
tanggal 1 Mei 1995 dari pasangan Bapak Ahmad Hartono dan Ibu Cucum Ratna
Suminar. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Cibatok 3 pada
Tahun 2007, kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke
Sahid Islamic Boarding School hingga tahun 2010. Tahun 2013 penulis lulus dari
SMA Negeri 1 Leuwiliang dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk
Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. Penulis tergabung sebagai mahasiswi S2 Magister
Sains Agribisnis (MSA) IPB Program Fasttrack angkatan 7 tahun 2016.
Selain aktif diperkuliahan, penulis juga beberapa kali ikut serta dalam
kegiatan kepanitian, antara lain; Divisi Sponsorship TPB Cup (2014), Divisi
Humas FEM Ambassador (2014), Divisi Humas MPF Orange FEM 2015, dan
Divisi Humas MPD Agribisnis 2015. Selain itu penulis tergabung sebagai tim
asisten praktikum mata kuliah Dasar-dasar Komunikasi sejak tahun 2015. Bulan
Juli-September 2016 penulis melaksanakan Gladikarya di Desa Sirnagalih,
Kecamaan Bayongbong, Kabupaten Garut.

Anda mungkin juga menyukai