0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
370 tayangan43 halaman

Pengujian Tahanan Isolasi Trafo 3 Fasa

Laporan ini menyajikan hasil pengujian rutin transformator 3 fasa di laboratorium mesin listrik. Pengujian meliputi tahanan isolasi, tahanan kumparan, perbandingan belitan, open circuit, dan short circuit. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi transformator dan memastikan transformator aman digunakan.

Diunggah oleh

Aan Afriansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
370 tayangan43 halaman

Pengujian Tahanan Isolasi Trafo 3 Fasa

Laporan ini menyajikan hasil pengujian rutin transformator 3 fasa di laboratorium mesin listrik. Pengujian meliputi tahanan isolasi, tahanan kumparan, perbandingan belitan, open circuit, dan short circuit. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi transformator dan memastikan transformator aman digunakan.

Diunggah oleh

Aan Afriansyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN LABORATORIUM MESIN LISTRIK

( Pengujian Rutin Transformator 3 Fasa)

KELAS : D4 SKL-2E
NAMA PJ :
Penanggung Jawab Short Circuit :
1. ACHMAD SOLEHUDIN / 1641150094
Penanggung Jawab Tahanan Kumparan :
2. ASRORI / 1641150039
Penanggung Jawab Open Circuit & Perbandingan
Belitan :
3. FEDY ALAMSYAH / 1641150026
Penanggung Jawab Tahanan Isolasi :
4. NIZAR NURDIANSYAH / 1641150070

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
A. Tujuan Pengujian Rutin Transformator 3 Fasa

1. Pengujian Tahanan Isolasi :

a. Untuk mengetahui secara dini kondisi isolasi transformator.

b. Untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan hubung singkat.

c. Untuk memastikan transformator cukup aman untuk diberi tegangan.

2. Pengujian Tahanan Kumparan :

a. Untuk mengetahui tahanan belitan Transformator.

b. Untuk mengetahui dan memastikan sisi HV dan LV.


c. Untuk mengetahui keseimbangan dan kontinuitas Transormator.
3. Pengujian Perbandingan Belitan :
a. Untuk mengetahui perbandingan jumlah kumparan sisi HV dan LV pada setiap tapping.

4. Pengujian Open Circuit :

a. Untuk mengetahui rugi inti transformator 3 Fasa.

b. Untuk mengetahui arus tanpa beban (Io, Ic, Im) Transformator 3 Fasa.

c. Untuk mengetahui parameter Rc dan Xm dalam kondisi tanpa beban.

5. Pengujian Short Circuit :

a. Untuk mengetahui rugi tembaga Transfomator 3 Fasa.

b. Untuk mengetahui parameter Rek dan Xek Transformator 3 Fasa.

c. Untuk mengetahui tegangan impedansi Transformator 3 Fasa.


B. Dasar Teori Pengujian Rutin 3 Fasa

1. Pengujian Tahanan Isolasi :

Pengukuran tahanan isolasi belitan trafo ialah proses pengukuran dengan suatu
alat ukur Insulation Tester untuk memperoleh hasil (nilai/besaran) tahanan isolasi trafo
tenaga antara bagian yang diberi tegangan (fasa) terhadap badan (Case) maupun antar
belitan primer dan sekunder. Mengukur tahanan isolasi tidak boleh dilakukan dengan
antar fasa dan netral yang sama pada sisi HV maupun LV karena tahanan pada kumparan
bernilai kecil dan arus yang diberikan megger cukup besar, jika ini terjadi maka terjadi
kemungkinan kumparan akan rusak. Jika menginginkan hasil yang maksimal pada waktu
pengukuran kita harus menunggu sekitar 30 detik pada saat diukur .ini dilakukan agar
arus yang mengalir pada alat yg diukur mengalir secara keseluruhan. Mengukur tahanan
isolasi lebih baik menggunakan megger walaupun menggunakan AVO meter juga bias,
karena arus yg dihasilkan megger lebih besar dari pada AVO meter salah satu cara
meyakinkan bahwa trafo cukup aman untuk diberi tegangan adalah dengan mengukur
tahanan isolasinya, dengan kita mengetahui tahanan isolasi trafo maka itu akan
memberikan jaminan keamanan bagi trafo itu sendiri sehingga terhindar dari kegagalan
isolasi. Hasil pengukuran tahanan isolasi belitan trafo juga dipengaruhi oleh kebersihan
permukaan isolator bushing, suhu trafo, faktor usia dan kelembaban udara di sekitarnya.

Standart tahanan isolasi transformator sesuai rekomendasi


NEMA
Megger :
Meger adalah alat untuk mengukur besarnya nilai tahanan isolasi. Salah satu contoh
penggunaan dari alat ukur ini adalah untuk mengukur kemungkinan gangguan lain adalah
terjadinya hubung singkat pada belitan antar phasa, antara phasa dengan bodi dan antar
belitan pada phasa yang sama, Megger digunakan untuk mengukur tahanan isolasi instalasi
tegangan menengah maupun tegangan rendah. Untuk menentukan sumber tegangan megger
yang dipilih tidak hanya tergantung dari batas pengukur, akan tetapi juga terhadap tegangan
kerja (system tegangan) dari peralatan ataupun instalasi yang akan diuji isolasinya.

Berikut adalah contoh standart pemberian tegangan pada megger pada pengukuran tahanan
isolasi transformator`:

Pengukuran tahanan isolasi terdiri dari :


- Sisi kumparan HV – Ground
- Sisi kumparan HV – sisi kumparan LV
- Sisi kumparan LV – Ground

2. Pengujian Tahanan Kumparan :

Pengukuran tahanan kumparan adalah untuk mengetahui berapa nilai tahanan pada
kumparan trafo yang akan menimbulkan panas bila kumparan tersebut dialiri [Link]
tahanan kumparan tersebut dapat digunakan untuk membuktikan benar tidaknya keterangan
sisi HV dan LV yang ada pada name [Link] HV memiliki banyak lilitan dibanding dengan
sisi LV sehingga besarnya tahanan belitan pada sisi HV lebih besar di banding pada sisi
[Link] untuk memastikan sisi HV dan LV dapat kita ketahui dari pengukuran tahanan
kumparan pada trafo dimana menurut persamaan :
𝑁𝑝 𝑉𝑝 𝐼𝑠
= 𝑉𝑠 = 𝐼𝑝
𝑁𝑠

Dimana : Ns = jumlah lilitan sekunder pada trafo


Np = jumlah lilitan primer pada trafo
Vp = tegangan sisi primer pada trafo
Vs = tegangan sisi sekunder pada trafo
Is = Arus sisi sekunder pada trafo
Ip = Arus sisi primer pada trafo
Sehingga dapat disimpulkan:
1. Besarnya tegangan output pada trafo sebanding dengan jumlah belitan sekunder (Vs ~ Ns)
2. Besarnya tegangan output pada trafo berbanding terbalik dengan jumlah belitan primer
1
pada trafo ( Vs ~ 𝑁𝑝 )

3. Besarnya tegangan output pada trafo berbanding terbalik dengan arus yang mengalir pada
sisi sekunder

Pada trafo nilai tahanan tiap kumparan dapat dimungkinkan tidak sama. Hal ini dapat terjadi
karena perbedaan panjang lilitan yang terdapat pada tiap kumparan. Semakin panjang lilitan
kumparan maka semakin besar nilai tahanan, dan semakin pendek lilitan kumparan semakin
kecil pula nilai tahanannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan rumus :
𝑙
R=ρ𝐴

Dimana : R = tahanan (ohm)


ρ = hambatan jenis (ohm)
L = panjang penghantar (m)
A = luas penampang penghantar (mm2)

Sehingga panjang lilitan, luas penampang serta hambatan jenis mempengaruhi besarnya nilai
tahanan. Apabila panjang lilitan pada tiap kumparan berbeda, hal ini menyebabkan
ketidaksamaan nilai tahanan pada masing-masing kumparan. Sehingga hal ini akan
mempengaruhi tegangan yang ada pada tiap kumparan. Hal ini dapat dibuktikan dengan
rumus :
𝛥𝛷
ε= -N 𝛥𝑡

dimana : ε = ggl induksi (volt)


N = jumlah lilitan
𝛥𝛷
= perubahan jumlah fluks magnet per waktu
𝛥𝑡

Menurut standard NEMA ketidakseimbangan beban yang di izinkan melakukan


deariting adalah 1% dan ketidak seimbangan maksimum di izinkan adalah 5% ,karena
dengantingginya ketidak seimbangan beban maka berpengaruh sekali terhadap
besarnya arus netral. Kontuinitas bertujuan untuk memastikan kabel saling terhubung tidak
dalam kondisi terputus, dengan cara menyambungkan ohm di masing-masing terminal sesuai
langkah kerja
Pengukuran tahanan kumparan tersebut terdiri dari:
Pengukuran sebelum dihubungkan
Untuk terminal HV:
Fasa R – Netral R
Fasa S – Netral S
Fasa T – Netral T
Untuk terminal LV:
Fasa r – Netral r
Fasa s – Netral s
Fasa t – Netral t
Pengukuran sesudah dihubungkan
Untuk terminal HV:
Fasa R – Fasa S
Fasa S – FasaT
Fasa T – Fasa R
Untuk terminal LV:
Fasa r – Fasa s
Fasa s – Fasa t
Fasa t – Fasa r
Alat ukur yang digunakan dalam percobaan pengujian tahanan kumparan adalah ohmmeter.
Pada percobaan ini tidak dapat diukur menggunakan megger. Karena tegangan yang
dihasilkan megger sangat besar sehingga akan terjadi short circuit pada trafo yang akan
menyebabkan megger yang digunakan akan rusak.

3. Pengujian Perbandingan Belitan :


Transformator merupakan salah satu alat listrik yang banyak digunakan oleh
masyarakat. Bahkan transmisi dan pendistribusian tenaga litrik dari pusat tenaga listrik ke
konsumen juga menggunakan perangkat transformator. Seceara umum transformator adalah
suatu perangkat kelistrikan yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan tegangan pada
suatu rangkaian listrik. Transformator terbuat dari sebuah inti besi berlapis yang dililit oleh 2
buah kumparan, yaitu kumparan primer dan kumparan sekunder. Rasio tegangan tergantung
dari rasio jumlah lilitan pada kedua kumparan tersebut.
Pengujian perbandingan belitan adalah untuk mengetahui jumlah kumparan sisi HV dan
LV pada setiap tappingnya. Toleransi yang diijinkan adalah: 0,5 % dari rasio tegangan atau
1/10 dari persentase impedansi pada tapping nominal sehingga tegangan yang dihasilkan
oleh trafo sesuai dengan yang dikehendaki (standart IEEE C57.125.1991). Pengukuran
perbandingan belitan dilakukan pada saat semi assembling yaitu setelah coil trafo di
assembling dengan inti besi dan setelah tap changer terpasang, pengujian kedua ini
bertujuan untuk mengetahui apakah posisi tap trafo telah terpasang secara benar dan
juga untuk pemeriksaan vector group trafo.

4. Pengujian Open Circuit :


Transformator adalah suatu peralatan listrik elektrostatis yang berfungsi untuk
memindahkan serta mengubah daya listrik dari suatu sumber tegangan ke rangkaian listrik
dengan frekuensi yang sama dan perbandingan transformasi melalui magnet berdasarkan
prinsip Elektromagnetiks. Didalam percobaan Open Circuit (tanpa beban), kumparan trafo
yang digunakan adalah jenis trafo Step Up, hal ini dikarenakan pada percobaan Open Circuit
dasarnya yaitu digunakan untuk mencari besarnya rugi inti, jika dilakukan jenis percobaan
trafo Step Up maka akan memperoleh kemudahan dan keamanan dalam percobaan. Lilitan
Sekunder pada percobaan open circuit dibiarkan dalam kondisi terbuka (tanpa beban).
Sehingga diperoleh besar I₂ = 0 (karena adanya arus tergantung dengan kondisi saat
berbeban), maka berakibat pada Nilai I₁ menjadi kecil sekali, sehingga I².R (Pcu) atau Rugi
tembaga dapat diabaikan. Kemudian pada kumparan Primer dihubungkan dengan sumber
tegangan (V₁), maka pada sisi kumparan Primer terdapat arus yang mengalir Iin (I₀).

Dengan demikian hasil dari pengukuran Open Circuit (kondisi tanpa beban) dapat diketahui
harga Rc dan Xm yang kemudian berfungsi untuk menentukan besar rugi inti pada trafo.

Rangkaian ekuivalen trafo Oc :

Rangkaian diatas merupakan rangkaian ekuivalen trafo dalam keadaan tanpa [Link]
trafo diberi tegangan bolak-balik,maka Ip akan mengalir dalam rangkaian dan melewati Rek
dan Xek ,karena terjadi proses induksi pada kumparan [Link] kumparan sekunder juga
mengalir Is. Karena kumparan sekunder merupakan rangkaian terbuka,hambatan menjadi
sangat besar ( R tak hingga).Maka arus cenderung menuju Rc dan [Link] dianggap
rangkaian pada kumparan sekunder tidak ada karena keadaannya open. Pada rangkaian
ekuivalen diatas arus akan mengalir pada Rek, Xek dan Rc Xm karena rugi pada kumparan
RekXek < RcXm. Maka Rek dan Xek diabaikan Pada saat sisi sekunder dari transformator
tidak diberi beban, tegangan sisi primer hanya akan mengalirkan arus pada rangkaian
primer yang terdiri dari impedansi bocor primer Z1 = R1 + JX1 Karena umumnya Z1 jauh
lebih kecil dari Zm, maka Z1 biasa diabaikan tanpa menimbulkan suatu kesalahan yang
berarti.
Pada umumnya percobaan beban nol dilakukan dengan alat ukur diletakkan di sisi
tegangan rendah dengan besarnya tegangan yang diberikan sama dengan tegangan
nominalnya. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan sebagai berikut :
- Bekerja pada sisi tegangan tinggi lebih berbahaya
- Alat-alat ukur tegangan rendah lebih mudah didapat, dan tidak merusak alat ukur itu sendiri
Untuk parameter trafo 3 phasa LV In D dan LV in Y didapatkan rumus
perhitungan sebagai berikut :
LV in D :
𝑃𝑂𝐶
P ɸ oc = V ɸ oc = Voc
3
𝐼𝑂𝐶 𝑉²ɸ𝑜𝑐 3 V² oc
I ɸ oc = Rc = =
√3 P oc√3 P oc
P oc I oc
Cos θ oc = Iɸ = sin θ oc
√3Voc Ioc √3
= V ɸ oc √3V oc
Xm LV = Total P h + e = Poc
Iɸ I oc sin θ oc
V2 ɸoc 3V2 oc
ReLV = =
𝑃𝑜𝑐√3 𝑃𝑜𝑐

LV in Y :
𝑃𝑂𝐶 𝑉𝑜𝑐
P ɸ oc = V ɸ oc =
3 √3
𝑉²ɸ𝑜𝑐 3 V² oc
I ɸ oc = Ioc Rc = =
P oc√3 P oc
P oc
Cos θ oc = Iɸ = Ioc sin θ oc
√3Voc Ioc
= V ɸ oc V oc
Xm LV = Total P h + e = Ioc
Iɸ √3I oc sin θ oc
V2 ɸoc V2 oc √3 V2 oc
ReLV = = =
𝑃𝑜𝑐√3 𝑃𝑜𝑐√3 𝑃𝑜𝑐
5. Pengujian Short Circuit :

Suatu kumparan dari trafo yang dihubung singkat dan tegangan digunakan pada
kumparan lain. Sisi tegangan tinggi menjadi sisi masukan yang dihubungkan dengan
sumber tegangan. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan impedansi ekuivalen Ze1 dan
Ze2,, reaktansi bocor ekuivalen diperkecil menjadi nol, sehingga hanya impedansi Zek =
Rek + Xek yang membatasi arus. Karena harga Rek dan Xek ini relatif kecil, harus dijaga
agar tegangan yang masuk (Vhs) cukup kecil sehingga arus yang dihasilkan tidak melebihi
arus nominal.
Untuk melakukan percobaan short circuit lebih baik menggunakan trafo step down karena
jika kita melakukan percobaan short circuit, kita akan lebih banyak melakukan percobaan di
bagian HV dari trafo tersebut

C. Rangkaian Percobaan dan Daftar Peralatan

1. Pengujian Tahanan Isolasi :

Daftar Peralatan :

a. Transformator 3 Fasa 5 kVA (1 Buah)

b. Insullation Tester (Megger) (1 Buah)

c. Kabel Penghubung (Secukupnya)

Gambar Rangkaian Percobaan :

Sisi HV- Ground


Sisi LV- Ground

Antar Kumparan di sisi HV


Antar Kumparan di sisi LV

Sisi HV-LV
2. Pengujian Tahanan Kumparan :

Daftar Peralatan :

a. Transformator 3 Fasa 5 kVA (1 Buah)

b. Ohm Meter (1 Buah)

c. Kabel Penghubung (Secukupnya)

Rangkaian Percobaan :

Sebelum Dihubungkan :

Sesudah Dihubungkan :
Hubungan D- d
Hubungan Y-y

Hubungan Y-d
Hubungan D-y

Pengujian Perbandingan Belitan :

Daftar Peralatan :
1. Sumber tegangan bolak – balik (AC) (1 Buah)
2. Transformator 3 Fasa 5 kVA ( 1 Buah)
3. Voltmeter (1 Buah)
4. Kabel Penghubung ( Secukupnya)

Gambar Rangkaian Percobaan :

Hubungan D-d

V in : 127 V
Hubungan Y-y

V in : 220 V

Hubungan Y-d

V in : 220 V

Hubungan D-y

V in : 127 V
Pengujian Open Circuit :
Daftar Peralatan :
1. Transformator 3 phasa 5 kVA ( 1 Buah )
2. Voltmeter (Avometer) ( 1 Buah )
3. Amperemeter ( 1 Buah )
4. Wattmeter ( 2 Buah )
5. Kabel Penghubung / Banana (Secukupnya)
6. Power Meter ( 1 Buah )

Gambar Rangkaian Percobaan :


Hubungan D-d

V in : 127 V

Hubungan Y-y

V in : 220 V
Hubungan Y-d

V in : 220 V

Hubungan D-y

V in : 127 V
Pengujian Short Circuit :
Daftar Peralatan :
1. Transformator 3 phasa 5 kVA ( 1 Buah )
2. Voltmeter (Avometer) ( 1 Buah )
3. Amperemeter ( 1 Buah )
4. Wattmeter ( 2 Buah )
5. Kabel Penghubung / Banana (Secukupnya)
6. Power Meter ( 1 Buah )

Gambar Rangkaian Percobaan :


Hubungan D-d

HV D
In : 11,9 A

LV D
In : 22,7 A

Hubungan Y-y

HV Y
In : 6,9 A

LV Y
In : 13,1 A
Hubungan Y-d

HV Y

In : 6,9 A

LV D

In : 22,7 A

Hubungan D-y

HV D

In : 11,9 A

LV Y

In : 13,1 A
D. Prosedur Percobaan

Pengujian Tahanan Isolasi :

1. Alat dan Bahan dipersiapkan


2. Transformator telah dipastikan tidak terhubung dengan sumber tegangan.
3. Kondisi baterai pada megger telah diperiksa, kondisi batrei dipastikan melewati “baterai
good”
4. Peralatan dirangkai sesuai gambar rangkaian percobaan.
5. Megger dihubungkan secara pararel dengan titik yang akan diukur.
6. Mengukur tahanan isolasi pada setiap ring pada megger
7. Menunggu sekitar 30 detik saat dilakukan pengukuran agar pengukuran akurat
8. Hasil pengukuran pada megger dicatat pada tabel
9. Analisis dan kesimpulan dibuat dari hasil pengujian tahanan isolasi pada transformator
yang telah diuji tersebut

Pengujian Tahanan Kumparan :


1. Pengukuran dapat dilakukan jika transformator tersebut tidak diberi tegangan selama 2-

3 jam, karena faktor suhu sangat mempengaruhi hasil pengukuran ini.

2. Alat dan Bahan dipersiapkan.

3. Transformator telah dipastikan tidak terhubung dengan sumber tegangan.

4. Alat ukur yang akan digunakan di kalibrasi terlebih dahulu.

5. Peralatan dirangkai sesuai dengan gambar.

6. Ohm-meter dihubungkan dengan terminal sesuai pada tabel.

7. Hasil pengukuran yang tertera pada Ohm meter dicatat pada tabel.

Pengujian Tahanan Belitan :

1. Alat dan Bahan dipersiapkan terlebih dahulu


2. Alat yang akan digunakan diperiksa dan dikalibrasi dahulu
3. Peralatan dirangkai sesuai dengan gambar
4. Berikan Supply pada sisi Incoming transformator
5. Ukur antar fasa pada sisi HV dan LV (R-S, S-T, T-R) (r-s, s-t, t-r)
6. Hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh alat ukur dicatat pada tabel percobaan.

Pengujian Open Circuit :

1. Persiapkan alat percobaan.


2. Periksa dan kalibrasi alat yang digunakan.
3. Rangkailah trafo 3 fasa di dalam hubungan D-d, D-y, Y-d, Y-y seperti pada gambar di atas
4. Masukkan tegangan pada terminal R, S, dan T, dengan membiarkan terminal r, s, dan t
terbuka. Dengan V in = 127 V untuk sisi primer yang D (Delta), dan V in = 220 V untuk sisi
primer yang Y ( Bintang)
5. Amperemeter dipasang bergantian, setelah Ir terukur maka amperemeter dipindahkan pada
terminal S untuk mengukur arus Is, selanjutnya pada terminal T untuk mengukur It
6. Ukurlah tegangan antara R-S, R-T, S-T, r-s, r-t, dan s-t secara bergantian dengan
menggunakan voltmeter.
7. Untuk mengetahui besarnya daya pada sisi Low Voltage (LV), maka cara mengukurnya
dengan menggunakan metode 2 wattmeter 1-phasa yangdirangkaikan pada sisi LV.
8. Daya pada wattmeter adalah nilai rugi inti ( arus eddy dan histerisis).
P Open Circuit = P Rugi Inti
9. Catatlah setiap hasil pengukuran pada tabel.
10. Buatlah analisa dari hasil percobaan

Pengujian Short Circuit :


1. Alat dan Bahan dipersiapkan.

2. Alat ukur yang akan digunakan dikalibrasi terlebih dahulu

3. Alat dan bahan dirangkai sesuai dengan gambar rangkaian percobaan.

4. Terminal pada sisi Outgoing transformator dihubungkan semua

5. Sisi Incoming transformator diberi supply

6. Arus nominal pada sisi HV diukur menggunakan amperemeter

7. Arus pada sisi HV / Incoming diatur sehingga mendekati arus nominal S = 3


V.I

I = S / 3 V = 5000 / 3 400 = 7,5 A Arus


Nominal = 12,5 A
8. Daya pada sisi HV diukur dengan menggunakan metode 2 wattmeter 3 Ø

E. Tabel Data Hasil Percobaan dan Perhitungan

Pengujian Tahanan Isolasi :


Pengukuran Hubungan D-d Sebelum Dihubungkan :
Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R - Ground ∞
S - Ground ∞
T - Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r - Ground ∞
s - Ground ∞
t - Ground ∞


Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R-r ∞
S-s ∞
T-t ∞

Pengukuran hubungan D-d Sesudah Dihubungkan :


Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R - Ground ∞
S - Ground ∞
T - Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r - Ground ∞
s - Ground ∞
t - Ground ∞

Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R-r ∞
S-s ∞
T-t ∞

Pengukuran Hubungan Y-y Sebelum Dihubungkan :


Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R – Ground ∞
S – Ground ∞
T – Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r – Ground ∞
s – Ground ∞
t – Ground ∞


Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R–r ∞
S–s ∞
T–t ∞

Pengukuran hubungan Y-y Sesudah Dihubungkan :


Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R – Ground ∞
S – Ground ∞
T – Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r – Ground ∞
s – Ground ∞
t – Ground ∞

Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R–r ∞
S–s ∞
T–t ∞
Pengukuran Hubungan Y-d Sebelum Dihubungkan :
Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R – Ground ∞
S – Ground ∞
T – Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r – Ground ∞
s – Ground ∞
t – Ground ∞


Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R–r ∞
S–s ∞
T–t ∞

Pengukuran hubungan Y-d Sesudah Dihubungkan :


Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R – Ground ∞
S – Ground ∞
T – Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r – Ground ∞
s – Ground ∞
t – Ground ∞

Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R–r ∞
S–s ∞
T–t ∞
Pengukuran Hubungan D-y Sebelum Dihubungkan :
Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R – Ground ∞
S – Ground ∞
T – Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r – Ground ∞
s – Ground ∞
t – Ground ∞


Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R–r ∞
S–s ∞
T–t ∞

Pengukuran hubungan D-y Sesudah Dihubungkan :


Pengukuran sisi HV- Ground

Uraian Hasil
R – Ground ∞
S – Ground ∞
T – Ground ∞
Pengukuran sisi LV - Ground

Uraian Hasil
r – Ground ∞
s – Ground ∞
t – Ground ∞

Pengukuran antar kumparan HV dan LV

Uraian Hasil
R–r ∞
S–s ∞
T–t ∞

Pengujian Tahanan Kumparan :

Tabel pengukuran tahanan kumparan transformator sebelum dihubungkan :

Hubungan D-d :

Sisi HV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1. R–S 242 1

1
2. S–T 242
1
3. T–R 242

Sisi LV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 r-s 127 1

2 s-t 127 3

3,5
3 t-r 127
Hubungan Y-y :

Sisi HV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

242 1
1. R–N
242 1
2. S–N
242 1
3. T–N

Sisi LV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

127 0,5
1 r-n
127 0,4
2 s-n
127 0,5
3 t-n

Hubungan Y- d :

Sisi HV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

242 1
1. R–N
242 1
2. S–N
242 1
3. T–N
Sisi LV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

127 1
1 r-n
127 3
2 s-n
127 3,5
3 t-n

Hubungan D-y :

Sisi HV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

242 1
1. R-N
242 1
2. S-N
242 1
3. T-N

Sisi LV :

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

127 0,5
1 r-n
127 0,4
2 s-n
127 0,5
3 t-n
Tabel pengukuran tahanan kumparan transformator sesudah dihubungkan :

Hubungan D-d :

Sisi HV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 R-S 242 1

2 S-T 242 1

3 R-T 242 1

Sisi LV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 r-s 127 1

2 s-t 127 1

3 r-t 127 1

Hubungan Y-y :

Sisi HV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 R-S 242 1,5

2 S-T 242 1,2


3 R-T 242 1,2

Sisi LV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 r-s 127 1

2 s-t 127 0,8

3 r-t 127 0,8

Hubungan Y-d :

Sisi HV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 R-S 242 1,3

2 S-T 242 1,1

3 R-T 242 1,5

Sisi LV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 r-s 127 0,25

2 s-t 127 0,2


3 r-t 127 0,15

Hubungan D-y :

Sisi HV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 R-S 242 0,35

2 S-T 242 0,25

3 R-T 242 0,20

Sisi LV

NO Phasa Tap Tegangan (V) Tahanan (Ohm


Ω)

1 r-s 127 0,4

2 s-t 127 0,5

3 r-t 127 0,4

Pengujian Tahanan Belitan :

Hubungan Delta - Delta (D – d)

No Vp Line Vs Line A

1 VR-S = 242V Vr-s =127,5V

2 VR-T = 242V Vr-t =127V

3 VS-T = 242V Vs-t =127,6V VP/VS =242/127,03


=1,90
Vp line=242V VS line=127,03V
Hubungan Bintang - Bintang (Y – y)

No Vp Line Vs Line A

1 V R-S =219V Vr-s =420V

2 VR-T =220V Vr-t =420V

3 VS-T =218V Vs-t =420V VP/VS =219/420

VP line=219V VS line=420V =0,52

Hubungan Bintang – Segitiga (Y – d)

No Vp Line Vs Line A

1 V R-S =410V Vr-s =127V

2 VR-T =405V Vr-t =127V

3 VS-T =410V Vs-t =127V VP/VS =408,33/127

VP line=408,33V VS line=127V =0,52

Hubungan Segitiga – Bintang (D – y)

No Vp Line Vs Line A

1 V R-S =240V Vr-s =220V

2 VR-T =238V Vr-t =220V

3 VS-T =241V Vs-t =220V VP/VS =240,3/220

VP line=240,3V VS line=220V =1,09

Pengujian Open Circuit :

Hubungan Bintang – Bintang ( Y – y)


Vp Line-Line Sisi Vp Line-Line Sisi I Line (A) PR PT P3
Primer (V) Sekunder (V) (Wat (Wa Fasa
t) tt) (Watt
)
R-S S-T T-R r-s s-t t-r R s t

219 220 218 420 420 400 0,57 0,96 0,33 40 52 92


Powe
R-N S-N T-N r-n s-n t-n r
Meter
127 127 126 240 240 250 0,09
Kw

Untuk angka transformasi


219+220+218
∑ Vp = = 219 V
3
420 + 420 +400
Z Vs = = 413 V
3
𝑉𝑝
a= = 219/420 = 0,52
𝑉𝑠

Untuk Nilai Rc
(420+420+400)
∑ Voc = = 413,3V
3

𝑉𝑜c² 413,3²
Rc Lv = = = 1856,7Ω
𝑝𝑜𝑐 92
𝑝𝑜c 92
Cosᶿ oc= 𝑟3.𝑣𝑜𝑐.𝑖𝑜𝑐 =√3.413.0,62

ᶿ=78˚
sinᶿ=0,97
Untuk nilai Xm
0,57+0,96+0,33
∑ Vp = = 0,62A
3
𝑉𝑜c 413,3
Xm Lv = =√3.0,62.0,97=396,77Ω
√3.𝐼∅.𝑆𝑖𝑛ᶿ𝑐
Hubungan Segitiga - Segitiga (D – d )

Vp Line-Line Sisi Vp Line-Line Sisi I Line (A) PR PT P3


Primer (V) Sekunder (V) (Wat (Wa Fasa
t) tt) (Watt
)
R-S S-T T-R r-s s-t t-r R s t

242 242 242 127,5 127,6 127 0,77 0,54 0,56 0 70 70


Powe
r
Meter
0,09
Kw

𝑃𝑂𝐶 70
P ɸ oc = = = 23,33 w
3 3
V ɸ oc = Voc = (127,5+127,6+127 )/3=127,03V
𝐼𝑂𝐶 0,623
I ɸ oc = = =0,359 A
√3 √3
𝑉²ɸ𝑜𝑐 3 V² oc 3 .127² 48387
Rc = = = = = 691,2 Ω
P oc√3 P oc 70 70
P oc 70
Cos θ oc = = = 0,51
√3Voc Ioc √3.127,03.0,623
I oc 0,623 0,53
Iɸ = sin θ oc = .0,86 = = 0,306 A
√3 √3 √3
V ɸ oc √3V ɸ oc √3V.127,03 220
Xm LV= = = = = 415,09 Ω
Iɸ [Link] ɸoc 0,623.0,86 0,53
Total P h + e = Poc = 70 w

Hubungan Bintang Segitiga (Y – d)

Vp Line-Line Sisi Vp Line-Line Sisi I Line (A) PR PT P3


Primer (V) Sekunder (V) (Wat (Wa Fasa
t) tt) (Watt
)
R-S S-T T-R r-s s-t t-r R s t

410 405 410 127,8 127,1 127 0,75 0,56 0,5 240 240 235
Powe
r
Meter
0,08
Kw

𝑃𝑂𝐶 70
P ɸ oc = = = 23,3 w
33
V ɸ oc = Voc = 127 V
𝐼𝑂𝐶 0,6
I ɸ oc = = = 0,34
√3 √3
𝑉²ɸ𝑜𝑐 3 V² oc 3 .127² 48387
Rc = = = = = 691,2Ω
P oc√3 P oc 70 70
P oc 𝑃𝑂𝐶
Cos θ oc = = = 0,53
√3Voc Ioc √3.127.0,6
I oc 0,6 0,6
Iɸ = sin θ oc = sin 58 = sin 0,85 = 0,29 A
√3 √3 √3
= V ɸ oc 127
Xm LV = = 437,9 Ω
Iɸ 0,29
Total P h + e = Poc = 70 w

Hubungan Segitiga – Bintang (D – y)

Vp Line-Line Sisi Vp Line-Line Sisi I Line (A) PR PT P3


Primer (V) Sekunder (V) (Wat (Wa Fasa
t) tt) (Watt
)
R-S S-T T-R r-s s-t t-r R s t

240 241 238 220 220 220 0,92 0,83 0,68 0 28 28


Powe
r-n r-n r-n r
Meter
99,06 98,49 99,05 0,31
Kw
𝑃𝑂𝐶 28
P ɸ oc = = = 9,3 w
3 3
𝑉𝑂𝐶 220
V ɸ oc = = = 127 V
√3
√3
I ɸ oc = Ioc =0,803𝐴
𝑉²𝑜𝑐 220²
Rc = = = 1.728,57Ω
P oc 28
P oc 28
Cos θ oc = = = 0,0917
√3Voc Ioc √3.220.0,803

Iɸ = Ioc sin θ oc = 0,803.0,0174=0,0139A


= V ɸ oc 127
Xm LV = = 9136,69 Ω
Iɸ 0,0139
Total P h + e = Poc = 28 w
Pengujian Short Circuit :

Hubungan Y- y

VHV ILV(nominal) Ptot


(volt) (A) P1 P2 Rek Xek Zsc
(watt)
(watt) (watt) (Ω) (Ω) (%)
R-S S-T T-R R S T

18 18 18 7,9 7,2 6,9 80 116 196

R-N S-N T-N

1
10 10 0

Hubungan D - d

VHV ILV(nominal) Ptot


(volt) (A) P1 P2 Rek Xek Zsc
(watt)
(watt) (watt) (Ω) (Ω) (%)
R-S S-T T-R R S T

14,5 15 15,5 0,15 0,13 0 39 56 95 146,38 237,90 6,2

𝑃𝑠𝑐 95
P ɸ sc = = = 31,6 w
3 3
√3.𝑉𝑠𝑐 √3.15 25,98
Zek = = = = 279,35 V
𝐼 𝑠𝑐 0,093 0,093
𝐼𝑠𝑐 0,093
I ɸ oc = = = 0,053 A
√3 √3
𝑃𝑠𝑐 95 95
Rek = = = = 146,38 Ω
(Isc)² (0,093)² 0,649
Xek= √Zek² - Rek²
= √279,35² - 146,38²
= √78028,04 - 21427
= √56601,04 = 237,90 Ω
V ɸ Sc = Vsc
Vsc = 14,5+15+15,5
= 15 V
𝑉 𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 .100 % 15.100 %
100 % V Impedansi = = = 6,2 %
𝑉 𝑁𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑙 242

Hubungan Y- d

VHV ILV(nominal) Ptot


(volt) (A) P1 P2 Rek Xek Zsc
(watt)
(watt) (watt) (Ω) (Ω) (%)
R-S S-T T-R R S T

18 18 18 7,5 5,6 5 38 51 89 0,81 1,49 4,3

R-N S-N T-N

10,5 10 10

𝑃𝑠𝑐 89
P ɸ sc = = = 29,6 w
3 3
𝑉𝑠𝑐 18
Zek = = = 1,7 V
√3 𝐼𝑠𝑐 10,44
I ɸ sc = Isc = 6,03 A
𝑃𝑠𝑐 89
Rek = = = 0,81 Ω
3 I² sc 109,08
Xek= √Zek² - Rek²
= √1,7² - 0,81²
= √2,89 – 0,65

= √2,24 = 1,49 Ω
𝑉𝑠𝑐 18
V ɸ Sc = = = 10,3 V
√3 √3

𝑉 𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 .100 % 18.100 %


100 % V Impedansi = = = 4,3 %
𝑉 𝑁𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑙 419
Hubungan D- y

VHV ILV(nominal) Ptot


(volt) (A) P1 P2 Rek Xek Zsc
(watt)
(watt) (watt) (Ω) (Ω) (%)
R-S S-T T-R R S T

12,5 12,5 14,5 12,06 12,34 11,42 39 51 120 0,84 1,75 5,4

𝑃𝑠𝑐 120
P ɸ sc = = = 40 w
3 3
√3.𝑉𝑠𝑐 √13,66
Zek = = = 1,91 V
𝐼 𝑠𝑐 11,92
𝐼𝑠𝑐 11,92
I ɸ oc = = = 6,88 A
√3 √3
𝑃𝑠𝑐 120
Rek = = = 0,84 Ω
(Isc)² (11,92)²
Xek= √Zek² - Rek²
= √11,91² - 0,84²
= √3648 - 07056

= √29425 = 1,75 Ω
V ɸ Sc = Vsc
Vsc = 13,66 V

𝑉 𝐼𝑚𝑝𝑒𝑑𝑎𝑛𝑠𝑖 .100 % 13.100 %


100 % V Impedansi = = = 5,4 %
𝑉 𝑁𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑙 242
LAPORAN LABORATORIUM MESIN LISTRIK

( Analisa dan Kesimpulan )

KELAS : D4 SKL-2E
NAMA PJ :
Penanggung Jawab Short Circuit :
1. ACHMAD SOLEHUDIN / 1641150094
Penanggung Jawab Tahanan Kumparan :
2. ASRORI / 1641150039
Penanggung Jawab Open Circuit & Perbandingan
Belitan :
3. FEDY ALAMSYAH / 1641150026
Penanggung Jawab Tahanan Isolasi :
4. NIZAR NURDIANSYAH / 1641150070

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
LAPORAN LABORATORIUM MESIN LISTRIK

( Jawaban Individu)

KELAS : D4 SKL-2E
NAMA PJ :
Penanggung Jawab Short Circuit :
1. ACHMAD SOLEHUDIN / 1641150094
Penanggung Jawab Tahanan Kumparan :
2. ASRORI / 1641150039
Penanggung Jawab Open Circuit & Perbandingan
Belitan :
3. FEDY ALAMSYAH / 1641150026
Penanggung Jawab Tahanan Isolasi :
4. NIZAR NURDIANSYAH / 1641150070

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
LAPORAN LABORATORIUM MESIN LISTRIK

( Analisa dan Kesimpulan )

KELAS : D4 SKL-2E
NAMA PJ :
Penanggung Jawab Short Circuit :
1. ACHMAD SOLEHUDIN / 1641150094
Penanggung Jawab Tahanan Kumparan :
2. ASRORI / 1641150039
Penanggung Jawab Open Circuit & Perbandingan
Belitan :
3. FEDY ALAMSYAH / 1641150026
Penanggung Jawab Tahanan Isolasi :
4. NIZAR NURDIANSYAH / 1641150070

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017
LAPORAN LABORATORIUM MESIN LISTRIK

( Jawaban Kelompok)

KELAS : D4 SKL-2E
NAMA PJ :
Penanggung Jawab Short Circuit :
1. ACHMAD SOLEHUDIN / 1641150094
Penanggung Jawab Tahanan Kumparan :
2. ASRORI / 1641150039
Penanggung Jawab Open Circuit & Perbandingan
Belitan :
3. FEDY ALAMSYAH / 1641150026
Penanggung Jawab Tahanan Isolasi :
4. NIZAR NURDIANSYAH / 1641150070

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN

Anda mungkin juga menyukai