MAKALAH
METODOLOGI PENELITIAN
“ Kerangka Teoritis, Kerangka Konsep dan
Pengembangan Kerangka Konsep “
Penanggung jawab:
EWA ADELLA
P0 5130116052
D3 GIZI 2B
POLTEKKES KEMENKES BENGKULU
TAHUN AKADEMIK 2017/2018
BAB I
PEMBAHASAN
A. Kerangka Teori
Teori besar adalah teori yang menjelaskan suatu fenomena secara utuh dan
menyeluruh. Teori fisika kuantum, teori psiko-Nlia FREUD, TEORI EKONOMI
MAKRO, DAN SEBGAINYA ADALAH BEBERAPA CONTOH TEORI
BESAR. TEORI TEORI BESAR DIBANGUN OLEHBNAYK SEKALI TEORI
teori kecil. Tidak ada atau hampir ada seorang pun di jagad raya ini yang pernah
atau akan mampu membuat suatu teori besar dengan sendirian.
Kerangka Teori adalah hubungan antar konsep berdasarkan studi
empiris.6 Kerangka teori harus berdasarkan teori asal / grand theory. Sebagai
contoh masalah perilaku ibu hamil dalam memeriksakan kehamilannya dapat
menggunakan kerangka teori dari Green yang sering digunakan mahasiswa, atau
dapat juga menggunakan kerangka teori reason action,Health Believe Model, atau
teori lain yang sesuai dengan masalah penelitian yang dapat di temukan dalam
buku ajar Health Behavior Theory for Public Health dan buku ajar lainnya.
Jika masalah yang diteliti berhubungan dengan penyakit tetapi yang di dalami
adalah pengetahuan tentang penyakit tersebut, maka dapat menggunakan teori
pengetahuan seperti tacit knowledge dan explicit knowledge. Contoh PERCEDE
teori Green dapat dilibat pada gambar berikut ini.7
Kerangka teoritis adalah suatu model yang menerangkan bagaimana
hubungan suatu teori dengan faktor‐faktor penting yang telah diketahui dalam
suatu masalah tertentu. Arti teori adalah sebuah kumpulan proposisi umum yang
saling berkaitan dan digunakan untuk menjelaskan hubungan yang timbul antara
beberapa variabel yang diobservasi
Penyusunan teori merupakan tujuan utama dari ilmu karena teori merupakan
alat untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena yang diteliti. Teori selalu
berdasarkan fakta, didukung oleh dalil dan proposisi. Secara defenitif, teori harus
berlandaskan fakta empiris karena tuijuan utamanya adalah menjelaskan dan
memprediksikan kenyataan atau realitas. Suatu penelitian dengan dasar teori yang
baik akan membantu mengarahkan si peneliti dalam upaya menjelaskan fenomena
yang diteliti.
Setiap peneliti yang ingin meneliti sesuatu sebenranya, sadar atapun tidak,
telah mempunyai semacam gambaran, tentang apa yang bakal diketemukannya
melalui penelitianya itu. Peneliti tersebut, dengan kata lain, mempunyai semacam
“teori’’ tentang apa yang aka ditelitinya itu .
“ teori’’ itu sendiri dipahami berbeda-beda oleh para pakar. Borg & call (
1983), misalnya memberi definisi sebagai berikut :
“ Teori adalah sistem yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena
dengan cara merinci kontruk konstruk ( yang membentuk fenomena itu ), berserta
hukum atau aturan yang mengatur keterkaitan antara konstruk dengan lainnya.
Selanjutnya , para pakar juga membagi teori menjadi dua , yaitu teori
kecildan teori besar. Teori kecil adalah teori yang menjelaskan suatu fenomena
dalam skla kecil dan terbatas. Seseorang peneliti biasanya membangun teori ‘’
kecil ‘’ di dalam penelitiannya. Teorinya ini hanya melibatkan satu atau dua
variable untuk menjelaskan suatu secara singkat.
Dengan demikian beberapa data kunci yang harus diperhatikan oleh
oeneliti dalam pembuatan kerangka teoritik atau kerangka berfikir penelitiannya
adalah :
1. Penjelasan yang rasional
2. Dukugan data teoritis dan empiris
3. Variable-variable penelitian
4. Keterkatitan antar variable.
B. TUJUAN DAN MANFAAT KERANGKA TEORITIK
1. Menjelaskan definisi operasional variable penelitian kita
2. Menjleaskan pola hubungn antara satu dan lain variable
3. Menentukan metodologi penelitian secara akurat
4. Menentukan metode analisis yang tepat dan
5. Menentukan cara penafsiran temuan secara objektif
Pertama, kerangka teoritik membantu kita menjelaskan definisi
operasional variable yang akan kita teliti.
Kedua, kerangka teoritik membantu ita menjelaskan dan
menggambaarkan pola hubungan antara satu variable dangan lainnya. Tak
menjadi soal apakah hubungan tersebut bersifat korelasioanal atau kausal ( sebab
akibat ) tetapi pola yang tergambar ini membantu peneliti untuk mengeksplisitkan
hal – hal yang ditelitinya. Dalam hal ini patut dicatat bahwa tidak semua
penelitian melibatkan lebih dari satu variable yang saling berhubungan.
Ketiga, kerangka teoritik membantu ita menentukan metodologi penelitian
secara akurat. Kita akan bisa menentukan apakah metode yang kita pakai nanti
adalah survei yang bersifat deskriktif – eksploratif, dengan kerangka teoritik yang
jelas kita juga mampu menentukan jenis data yang kita perlukan, intrumen data
yang kita pakai, dan menentukan sumber data yang benar-benar sangat
ditentukannya.
Keempat, kerangka teortik memberi gambaran kepada kita tentang rencana
analisis data yang akan kita lakukan. Jika peneltian kita bersifat dekskriktif tanpa
harus meneliti hubungan satu dan lain variable.
Kelima, kerangka teoritik yang akan membantu kita melakukan penafsiran temuan
penelitian secara prposional, realitas, dan objektif. Kerangka teoritik yang baik
dapat berfungsi sebagai ‘’ pagar’ yang membatasi area penelitian kita.
Dengan demikian, dapatlah kita simpulkan bahwa teoritik menempati
posisi yang sangat strategis dalam suatu penelitian. Tanpa kerangka teoritik yang
baik, penelitian kita tidak akan jelas arahnya.
C. Variable
Dalam rumusan sederhana , variable adalah segala sesuatu yang diteliti
oleh seorang peneliti. Sesuatu itu mungkin, benda, sistem dan lain lain.
Dalam hal ini, kita menyadari bahwa sebagian besar dari kita percaya bahwa
penelitian selalu melibatkan statistik. Sedangkan statistik selalu berhubungan
dengan variasi nilai. Karena itu, variable sering kali diartikan sebagai’’ sesuatu
yang mempunyai variasi nilai. Untuk penyebutan dan pembahasan, parapakar
memeberi nama untuk suatu variable penelitiannya, ada variable bebas, terikat ,
antecedent, eksperimental, moderator,pengacau,kriterion dan lain lain.
Variable bebas adalah : Variable yang direkayasa
Variable terikat adalah Yang menjadi sasaran
Variable moderator adalah ( penengah )
Dalam penelitian observasi, Borg & Gall ( 1993) membagi ‘’ varable
observasioanl’’ menajdi tiga macam yaitu, varaible deskriptif, varable inferensial,
dan variable evaluatif. Variable desktriptif adalah veriable yang relatif bebas
penilaian atau infrensi dari pengamat. Apa saja yang direkam oleh peniliti seperti
apa adanya di lapangan disebut variable deskriftip.
Variable evaluatif adalah variable yang dalam pengukurannya banyak
dipengaruhi oleh subjektif penilaian peniliti. Misalnya peneliti mengamati
perilaku pegawai dengan menggunakan ‘’skla prilaku’’. Disini ;; kualitas’’
perilaku yang diamati banyak dipengaruhi olehsubjektifits peniliti dalam skala
penilaiannya.
D. INDIKATOR
Satu konsep lain yang sangat penting dan pasti berhubungan dengan
variable adalah ‘’ indikator’’. Indikator sangat penting, sebab data yang
dibutuhkan oleh peneliti tergantung sepenuhnya pada kejelasan indikator bukan
pada variable. Jika indikator tidak jelas, maka peneliti akan mendapatkan
kesulitan serius dalam pengupulan data. Karena itu perlu dikaji, apa itu indikator.
Indikator adalah, sesuatu yang diteliti dan di ukur, tetapi indikator yang berbeda
dari variable dari segi derajat empirinya. Jika variable terletak pada derajat yang
abstrak dan konseptual, maka indikator terletak pada derajat operasionalnya.
Jadi, indikator itu sebenarnya variable juga, tetapi posisinya ada di dunia
empiris dan siap dijadikan data. Dengan kata lain yang agak teknis, indikator
adalah hasil turunan variable yang memiliki sifat cukup empirisnya untuk dapat
ditransformasikan menjadi data.
E. Model PENELITIAN
Model penelitian adalah visualisasi kerangka teoritik penelitian. Bila di
dalam kerangka teoritik peniliti menjelaskan variable variable. Maka di dalam
model penelitian penjelasan digambarkan melalui visual, tetai, tidak semua
peneliti mempunyai model podel penelitian sebab tidak semua penelitian yang
mengandung variable-variable dapat divisualisasikan.
F. HIPOTESIS
Satu hal yang berhubugan erat dengan kerangka teoritik, adalah hipotesis.
Hipoteisis juga terkait dengan permasalahan penelitian. Secara singkat, dapat
dikatakan bahwa hipotesis penelitian yang baik pasti berdasarkan pada kerangka
teoritik yang baik. Tetapi suatu kerangka teoritik belum tentu bermuara pada suatu
hipotesis.
Semua peneliti dimulai dengan pertanyaan yang diajukan oleh seorang
peniliti. Hipotesis pada hakikatnya adalah jawaban penliti terhadap pertanyaan
yang diajukan itu. Jawaban ini diberikan sebelum penelitian itu sendiri dilakukan.
Karena itu, jawaban ini masih perlu diuji kebenarannya.
a. MACAM MACAM HIPOTESIS
1. Hipotesis not
Hipotesis yang berisi pertanyaan ketiadaan hubungan antar variable yang
diteliti atau ketiadaan perbedaan anatar entetias-entetitas yang dibandingkan.
2. Hipotesis Alternatif
Hipotesis yang menjadi lawan dari hipotesis not. Hipotesis nol tidak
menunjukkan adanya hubungan , perbedaan atau arah kecendrungan variable yang
diteliti, maka hipotesis justru berisi pernyataan sebaliknya, karena itu, hupotesis
alternatif disebut juga hipoesis direksioanal.
B. Kerangka Konsep
Kerangka Konsep adalah hubungan antara konsep yang dibangun berdasarkan
hasil-hasil studi empiris terdahulu sebagai pedoman dalam melakukan penelitian.6
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-hal yang
khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi, maka konsep tidak dapat
langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati dan diukur melalui
konstruk yang dikenal dengan istilah variabel.
Variabel adalah sesuatu yang bervariasi. Variabel penelitian adalah sesuatu
yang bervariasi yang dapat diukur. Contoh variabel dalam penelitian kesehatan
adalah Hb darah, tekanan darah, berat badan, kunjungan ANC, jenis tenaga
kesehatan, dan lain sebagainya.
Kerangka Konsep dapat berpijak pada kerangka teori yang dibentuk pada
bab II. Kerangka teori biasanya lebih kompleks dari kerangka konsep, karena
tidak semua variabel dalam kerangka teori diangkat menjadi variabel penelitian.
Oleh karena itu pada BAB II sebelum gambar kerangka konsep penelitian
dipaparkan, peneliti wajib menjustifikasi mengapa variabel lain tidak diteliti.
Alasan yang disampaikan harus ilmiah, buka sekedar keterbatasan waktu, dana,
tenaga dan kemampuan penelitia saat itu. Contoh gambar kerangka konsep dapat
dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2. Contoh Kerangka Konsep 1
Contoh Kerangka Konsep lain yang meneliti variabel perancu/confounding
variablesdapat dilihat pada gambar berikut ini.
Konsep merupakan abstraksi yang terbentuk oleh generalisasi dari hal-
hal khusus. Oleh karena konsep merupakan abstraksi maka konsep tidak dapat
langsung diamati atau diukur. Konsep hanya dapat diamati atau diukur melalui
konstruk atau yang lebih dikenal dengan nama variabel. Jadi variabel adalah
simbol atau lambang yang menunjukkan nilai atau bilangan dari konsep.
Variabel adalah sesuatu yang bervariasi.
Contoh: Sehat adalah konsep; istilah ini mengungkap sejumlah
observasi tentang hal-hal atau gejala-gejala yang mencerminkan kerangka
keragaman kondisi kesehatan seseorang. Untuk mengetahui apakah seseorang
itu “sehat” atau “tidak sehat” maka pengetahuan konsep “sehat” tersebut harus
melalui konstruk atau variabel-variabel misalnya: tekanan darah, denyut nadi,
Hb darah, dan sebagainya. Tekanan darah, denyut nadi, Hb darah dan
sebagainya ini variabel-variabel yang digunakan untuk mengobservasi atau
mengukur apakah seseorang itu “sehat” atau “tidak sehat”.
Sosial-ekonomi adalah suatu konsep, dan untuk mengukur sosial
ekonomi keluarga misalnya, harus melalui variabel-variabel: tinggi
pendidikan, pekerjaan dan pendapatan keluarga itu.
Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan
antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-
penelitian yang akan dilakukan.
Dari contoh kerangka konsep penelitian tersebut di atas dapat dilihat
bahwa di sana ada 4 konsep yaitu konsep tentang faktor predisposisi, faktor
pendukung, faktor pendorong terhadap terjadinya perilaku, dan konsep faktor
perilaku pemberian ASIitu sendiri. Tiap konsep, masing-masing mempunyai
variabel-variabel sebagai indikasi pengukuran masing-masing konsep tersebut.
Misalnya untuk mengukur faktor predisposisi maka dapat melalui variabel
pengetahuan, pendidikan, sikap, dan persepsi.
Konsep perilaku pemberian ASI sebagai variabel dependen (vanabel
tergantung) di sini dapat diukur melalui variabel “praktek menyusui”. Artinya
perilaku pemberian ASI oleh ibu-ibu dapat diobservasi atau diukur dari
praktek ibu-ibu dalam memberikan (Air Susu Ibu) kepada anak atau bayi
mereka. Apakah mereka memberikan ASI kepada bayi-bayi mereka atau tidak,
bila memberikan bagaimana frekuensinya, caranya dan sebagainya.
C. Pengembangan Kerangka Konsep
Jenis penelitian (research type).
Jenis penelitian ini berkaitan dengan sifat data dan cara atau teknik analisis
data yang digunakan. Apabila data yang digunakan atau data yang dianalisis
adalah data numerik (angka) dan cara analisisnya dengan cara matematis atau
menggunakan teknik statistik, maka jenis penelitian tersebut adalah penelitian
kuantitatif. (quantitative research) (kuantitas berkaitan dengan angka nominal
atau bilangan yang dapat dihitung) Sedangkan, apabila data yang digunakan
dalah data string atau sebagai bentuk record atas suatu kondisi tertentu
(seperti kondisi sosial, kondisi seseorang / individu) yang lebih berkaitan
dengan kualitas atau sifat dan perilakunya, maka jenis penelitian ini
merupakan penelitian kualitatif. Disamping itu, terdapat jenis penelitian
lainnya, yaitu apabila data yang akan dianalisis adalah data tunggal yang
diperoleh dari kasus tertentu, maka penelitian ini merupakan penelitian studi
kasus (case research). Dapat juga dalam jenis penelitian ini dimasukkan
berdasarkan cara dan tujuan penelitiannya, yaitu dengan jenis penelitian
eksperimen atau jenis penelitian tindakan (action research) (seperti tindakan
kelas). Jenis penelitian eksperimen adalah penelitian untuk mencari suatu
hubungan atau pengaruh suatu hal tertentu terhadap hal lainnya dalam kondisi
alamiah. Maksud dari dalam kondisi alamiah disini adalah dalam penelitian
tersebut tidak dilakukan tindakan yang sikluistik berulang-ulang yang
sifatnya untuk memperbaiki hubungan yang terjadi. Apabila penelitian
dilakukan dalam konteks mengkaji suatu tindakan tertentu dengan tujuan
untuk mengembangkan suatu metode kerja yang efisien, maka jenis penelitian
ini adalah penelitian tindakan (action research). Dalam metode tindakan,
pada umumnya dilakukan dengan cara menganlisis tindakan pertama
(mungkin dalam bentuk analisis pengaruh atau hubungan suatu hal dengan
hal lainnya), yang selanjutnya dilakukan upaya solusi terhadap masalah
dalam tindakan pertama untuk dikembangkan dalam tindakan kedua, yang
selanjutnya diteliti lagi pengaruh yang ditrimbulkan dari suatu hal terhadap
hal lain dalam tindakan kedua ini, dan seterusnya hingga membentuk
beberapa siklus tindakan. Penelitian tindakan yang umum dilakukan adalah
penelitian tindakan kelas untuk mengembangkanlangkah-langkah efisien
dalam model pembelajaran yang diterapkan. Dalam kaitannya dengan
menyusun metodologi penelitian (metode penelitian), jenis penelitian ini
tidak mutlak untuk dicantumkan.
Waktu dan tempat penelitian.
Waktu dan tempat penelitian mutlak harus dicantumkan dalam metodologi
penelitian (metode penelitian). Waktu adalah watu keseluruhan dari jalannya
penelitian yang berkaitan dengan pengambilan data saat penelitian. Sebagai
contoh adalah apabila hendak mengambil data untuk nilai siswa semester II,
maka waktu penelitian adalah semester II tahun ajaran…. yang dimulai pada
bulan … tahun …. sampai dengan bulan … tahun …. Sedangkan apabila
tidak berkaitan dengan waktu-waktu khusus seperti itu, maka dicantumkan
waktu dari awal dilaksanaknnya penelitian sampai akhir penelitian. Tidak
boleh dilupakan adalah tempat penelitian, dan usahakan untuk memberikan
alasan yang logis ilmiah mengapa tempat tersebut dipilih sebagai lokasi
penelitian.
Data dan Pengumpulan (collecting) Data.
Dalam poin ini, perlu diuraikan apakah data dalam penelitian adalah data
primer atau data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui
pengukuran langsung oleh peneliti yang bukan berasal dari data yang telah
ada, sedangkan data sekunder adalah data yang dikumpulkan oleh pihak lain
dan telah didokumentasikan sehingga dapat digunakan oleh pihak lain
(peneliti). Perlu juga diuraikan data-data apa saja yang digunakan dalam
penelitian secara jelas. Sedangkan dalam pengumpulan data, perlu diuraikan
bagaimana cara peneliti memperoleh dan mengumpulkan data, dengan
menggunakan media apa. Pengumpulan data dapat dilakukan dengan
instrumen (media) kuisioner yaitu serangkain pertanyaan untuk dijawab
responden, instrumen alat pengukur lainnya (seperti alat pengukur kondisi
fisik suatu benda). Dapat juga digunakan teknik wawancara, yaitu data
diambil bersadarkan wawancara peneliti terhadap responden. Dalam hal ini,
peneliti melakukan wawancara berdasarkan panduan wawancara yang telah
disusun untuk penelitian. Apabila panduan wawancara yang digunakan
hanyalah bersifat pertanyaan dasar dan responden diharapkan dapat
menjawab secara mengembang, maka tekik ini disebut dengan wawancara
mendalam (circumstantial interview). Apabila data yang digunakan adalah
data sekunder, maka pada umumnya pengumpulan data yang dilakukan
adalah dengan dokumentasi dan observasi. Dokumentasi
adalah memanfaatkan dokumen yang sudah ada, dan dalam hal ini perlu
diuraikan dokumen apa saja secara jelas, sedangkan observasi adalah
pengamatan kualitatif secara langsung oleh peneliti untuk mengambil data-
data berdasarkan kondisi tertentu sesuai dengan maksud penelitian. Sebagai
contoh observasi disini adalah tindakan peneliti mengamati perilaku siswa
saat dilaksanakannya penelitian.
Populasi, Sampel, dan Sampling.
Penelitian yang melibatkan banyak data akan menjadi sulit dilaksanakan
atau tidak efektif apabila dilakukukan dengan menggunakan seleuruh data
yang ada. Apabila jumlah data yang diteliti kurang dari 100 atau dirasa masih
mudah untuk diambil semuanya, maka sebaiknya seluruh data tersebut
digunakan, sedangkan apabila jumlah data lebih dari 100 atau dirasa akan
banyak kesulitan apabila digunakan seluruhnya, maka sebaiknya dilakukan
sampling. Populasi merupakan seluruh unit yang dikaji dalam penelitian.
Sebagai contoh adalah siswa SMP Negeri 1 Yogyakarta. Sedangkan sampel
adalah sebagian dari populasi yang digunakan sebagai data dalam penelitian.
Sampel ini haruslah representatif atau mewakili, yaitu satu sampel diambil
pada data yang sekiranya memiliki kesamaan sifat dengan data lainnya
(sampel diambil darai kelompok yang homogen). Cara pengambilan sampel
agar memenuhi kriteria representatif ini disebut sebagai sampling. Terdapat
beragamteknik sampling atau pengambiulan sampel, yaitu:
Random sampling, yaitu sampel diambil secara acak dari populasi yang
heterogen atau memiliki variasi sifat yang besar. Teknik ini merupakan
pengambilan secara acak, tidak memilih, agar memperoleh sampel yang
merata. Dengan teknik random, seluruh anggota populasi memiliki
peluang yang sama untuk terpilih. Teknik random ini dapat dilakukan
seperti dengan loteray atau pemilihan secara acak dengan media lainnya.
stratified sampling. Stratifikasi adalah perilaku pemberian tingkatan atau
kelas pada data. Dalam stratified sampling, data sebelumnya
dikelompokkan kedalam tingkatan-tingkatan tertentu, seperti tingkatan
tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, buruk, kemudian sampel diambil
dari setiap tingkatan tersebut. Misalkan penelitian yang dilakukan adalah
pengaruh Kurikulum saat ini (KTSP) terhadap perstasi siswa, maka dapat
dilakukan stratified sampling dengan cara mengelompokkan siswa
kedalam tingkatan pandai, sedang, tidak pandai, dan kemudian dari
masing-masing tingkatan tersebut diambil dalam jumlah yang memadai.
Apabila cara pengambilan sampel dalam setiap tingkatan (strata) tersebut
adalah acak, maka teknik sampling ini dikenal dengan stratified random
sampling. Dalam stratified sampling ini, tiap kelompok jelas memiliki
populasi yang homogen bersadarkan tingkatannya. Sebagai contoh adalah
dalam kelompok siswa berprestasi baik, maka seluruh anggota kelompok
jelas memiliki nilai tertentu yang dikategorikan dalam tingkatan baik.
Cluster Sampling. Cluster adalah kelompok. Cluster sampling
merupakan pengambilan sampel dari kelompok-kelompok kecil yang
sifat antar kelompok tersebut tidak menunjukkan tingkatan. Dalam
cluster sampling ini, anggota setiap kelompok tidaklah homogen seperti
dalam strtified sampling. Pengelompokan dalam cluster sampling ini
sifatnya sekedar untuk mempermudah jalannya penelitian. Sebagai
contoh adalah dalam penelitian tentang pemanfaatan biotech di
Kabupaten Klaten, maka dilakukan pemabgian wilayah kabupaten
menjadi kelompok kecamatan-kecamatan, dan kemudian sampel
diambil dari setiap kecamatan tersebut. Apabila pengambilan sampel
tiap kelompok ini dilakukan secara random, makateknik ini dikenal
dengan cluster random sampling. Tentusaja kondisi petani dalam setiap
kecamatan tersebut tidaklah homogen, sehingga dengan memadukannya
dengan random sampling akan lebih mampu memberikan data yang
lebih representatif.
DAFTAR PUSTAKA
Moh. Pabundu Tika, 2009. Metode Penelitian Geografi. Yang
Menerbitkan PT Bumi Aksara : Jakarta
Anshori, Muslich dan Sri Iswati. 2009. Buku Ajar Metodologi Penelitian
Kuantitatif. Surabaya: Airlangga University Press.
Azril, Sudarto. 2013. Indikator, Dimensi, Konsep, Proposisi dan Teori.
[Link]
proposisi-dan_588.html