MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
PEMUTUSAN HAK KERJA (PHK)
Dosen Pengampu: Hilma Harmen., SE., MBA
Disusun Oleh:
Kelompok 10
Ayu Indah Lestari 7171210002
Novi Arika 7173510052
Olivia Febrina Saragih 7173210024
Patardo Simangunsong 7173210025
Sri Muntari 7173510063
MANAJEMEN A
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan
Rahmat, dan Berkat-Nya sehinggai kami dapat menyusun dan menyelesaikan tugas
makalah Pendapatan Nasional guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Manajemen Sumber Daya Manusia.. Harapan kami semoga makalah ini membantu
menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat
memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Karena keterbatasan ilmu maupun pengalaman kami, kami percaya tetap
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat berharap saran
dan kritik yang membangun berasal dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Medan, Februari 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................... i
Daftar Isi .............................................................................................................. ii
BAB I : PENDAHULUAAN
A. Latar Belakang ............................................................................. . 1
B. Tujuan Penulisan .......................................................................... . 1
BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengkuran Penadapatan Nasional Bruto ........................................ 2
B. Hal-Hal Penting Dalam Pengukuran PNB ................................... . 4
C. Pendapatan Nasional Bruto dan Pendapatan Disposible ............... . 4
D. Identitas Ekonomi Makro Dasar ..................................................... 6
BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 8
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemutusan hubungan kerja adalah keadaan yang mungkin terjadi dalam
perusahaan,yang dapat disebabkan oleh berbagai macam alasan seperti disiplin,
ekonomi, bisnis, dan alasan-alasan pribadi (Hariandja, 2009). Alasan disiplin
misalnya prestasi kerja yang rendah, absensi yang tinggi, pencurian, dan lain-lain.
Alasan ekonomi misalnya perubahan-perubahan lingkunganekonomi yang dapat
mengakibatkan turunnya aktivitas perusahaan, yang mengakibatkan kebutuhan
akan tenaga kerja berkurang. Alasan bisnis dapat berupa keputusan-keputusan
perusahaan dalam perubaha strategi atau penggunaan teknologi baruyang dapat
mengakibatkan kebutuhan tenaga kerja yang kecil, Sedangkan alasan pribadi, yaitu
keputusan karyawan untuk keluar dari perusahaan.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui
2. Mengetahui
3. Mengetahui
4. Mengetahui
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian PHK
PHK adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang
mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara karyawan dan perusahaan.
Apabila kita mendengar istilah PHK, yang biasa terlintas adalah pemecatan
sepihak oleh pihak perusahaan karena kesalahan karyawan. Karenanya,
selama ini singkatan PHK memiliki konotasi negatif. Padahal, kalau kita
tilik definisi di atas yang diambil dari UU No. 13/2003 tentang
Ketenagakerjaan, dijelaskan.
Pemutusan Hubungan kerja dapat terjadi karena bermacam sebab.
Intinya tidak persis sama dengan pengertian dipecat. Tergantung
alasannya,Pemutusan hubungan kerja mungkin membutuhkan
penetapan Lembaga Penyelesaian Perselisihan Hubungan
Industrial (LPPHI) mungkin juga tidak. Meski begitu, dalam praktek tidak
semua Pemutusan Hubungan kerja yang butuh penetapan dilaporkan kepada
instansi ketenagakerjaan, baik karena tidak perlu ada penetapan, Pemutusan
Hubungan kerja tidak berujung sengketa hukum, atau karena karyawan
tidak mengetahui hak mereka.
Sebelum Pengadilan Hubungan Industrial berdiri pada 2006,
perselisihan hubungan Industrial masih ditangani pemerintah lewat Panitia
Penyelesaian Perselisihan Perburuhab Pusat (P4P) dan Panitia Penyelesaian
Perselisihan Perburuan Daerah (P4D) serta Pengadilan Tata Usaha Negara.
B. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya PHK
Pemutusan Hubungan Kerja dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara
lain:
1. Faktor-faktor yang bersifat intern seperti:
Pelanggaran Disiplin
Pekerjaan melanggar hukum atau merugikan perusahaan seperti
penggelapan, pencurian dan melalaikan kewajiban secara serampangan
Adanya itikad idak baik pekerja
Rasionalisasi
Pekerjaan tidak cakap melaksanakan pekerjaan
2. Faktor-faktor yang bersifat ekstern seperti:
Pengaruh ekonomi dunia
Kebijaksanaa pemerintah, seperti kebijaksanaan dalam bidang ekspor
Bencana alam seperti banjir, kebakaran dan lain-lain
Pasal 158 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
mengatur bahwa pengusaha dapat memutuskan hubungan kerja terhadap
pekerjaan/buruh dengan alasan pekerjaan/buruh telah melakukan kesalahan berat
sebagai berikut:
1. melakukan penipuan, pencurian dan penggelapan barang dan/atau uang
milik perusahaan.
2. Memberikan keterangan palsu atau dipalsukan sehingga merugikan
perusahaan.
3. Mabuk, meminum minuman keras yang memabukkan, memakai
dan/atau mengedarkan narkoba, psikotropika, dan zat adiktif lainnya
dilingkungan kerja
4. Melakukan perbuatan asusila atau perudian dilingkungan kerja
5. Menyerang, menganiaya, mengancam, atau mengintimidasi teman kerja
atau pengusaha dilingkungan kerja
6. Membujuk teman kerja atau pengusaha untuk melakukan perbuatan
yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
7. Dengan ceroboh atau sengaja merusak atau membiarkan dalam keadaan
bahaya barang memiliki perusahaan yang menimbulkan kerugian bagi
perusahaan
8. Dengan ceroboh atau sengaja membiarkan teman sekerja atau
pengusaha dalam keadaan bahaya di tempat kerja
9. Membongkar atau membocorkan rahasia perusahaan yang seharusnya
dirahasiakan kecuali untuk kepentingan negara, atau
10. Melakukan perbuatan lainnya di lingkungan perusahaan yang diancam
penjara 5(lima) tahun atau lebih.
C. Akibat Pemutusan Hubungan Kerja
Pemutusan hubungan kerja dapat berakibat bagi Pekerja, Pengusaha, dan
Masyarakat. Untuk lebih jelasnya dapat diuraikan seperti berikut ini:
1. Bagi pekerja pemutusan hubungan kerja merupakan permulaan
kesengsaraan bagi hidupnya beserta keluarga.
2. Bagi pengusaha dengan adanya pemutusan hubungan kerja yang dilakukan
secara gampang akan berakibat pekerja yang sedang bekerja akan terganggu
ketenangannya karena kuatir suatu saat dirinya akan terkena pemutusan
hubungan kerja yang demikan.
3. Bagi masyarakat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja maka akan
menimbulkan pengangguran baru yang dapat berakibat terjadinya
keresahan sosial.
D. Jenis-Jenis PHK
a. PHK Pada Kondisi Normal (Sukarela)
Dalam kondisi normal, pemutusan hubungan kerja akan menghasilkan
sesuatu keadaan yang sangat membahagiakan. Setelah menjalankan tugas dan
melakukan peran sesuai dengan tuntutan perusahaan, dan pengabdian kepada
perusahaan maka tiba saatnya seseorang untuk memperoleh penghargaan yang
tinggi atas jerih payah dan usahanya tersebut.
Ketika seseorang mengalami kepuasan yang tinggi pada pekerjaannya,
maka masa pensiun ini harus dinilai positif, artinya ia harus ikhlas melepaskan
segala atribut dan kebanggaan yang disandangnya selama melaksanakan tugas, dan
bersiap untuk memasuki masa kehidupan yang tanpa proses.
Selain itu ada juga karyawan yang mengundurkan diri. Karyawan dapat
mengajukan pengunduran diri kepada perusahaan secara tertulis tanpa
paksaan/intimidasi. Terdapat berbagai macam alasan pengunduran diri, seperti
pindah ke tempat lain, berhenti dengan alasan pribadi, dan lain-lain. Untuk
mengundurkan diri, karyawan harus memenuhi syarat: (a) mengajukan
permohonan selambatnya 30 hari sebelumnya, (b) tidak ada ikatan dinas, (c) tetap
melaksanakan kewajiban sampai mengundurkan diri.
b. PHK Pada Kondisi Tidak Normal (Tidak Sukarela)
Perkembangan suatu perusahaan ditentukan oleh lingkungan dimana
perusahaan beroperasi dan memperoleh dukungan agar dirinya tetap dapat bertahan
(Robbins, 2004). Tuntutan yang berasal dari dalam (inside stakesholder) maupun
tuntutan dari luar (outside stakesholders) dapat memaksa perusahaan melakukan
perubahan-perubahan, termsuk di dalam pengunaan tenaga kerja. Dampak dari
perubahan komposisi sumder daya manusia ini ialah pemutusan hubungan kerja.
Pada dewasa ini tuntutan lebih banyak berasal dari kondisi ekonomi dan
politik global, perubahan nilai tukar uang yang pada gilirannya mempersulit
pemasaran suatu produk diluar negeri, dan berimbas pada kemampuan menjual
barang yang sudah jadi, sehingga mnegancam proses produksi. Kondisi yang
demikian akan mempersulit suatu perusahaan mempertahankan kelangsungan
pekerjaan bagi karyawan yang bekerja di perusahaan tersebut. Hal ini berdampak
pada semakin seringnya kasus pemutuusan hubungan kerja.
Manullang, (2005) mengemukakan bahwa istilah pemutusan hubungan
kerja dapat memberiikan beberapa pengertian yaitu:
a. Termination yaitu putusnya hubungan kerja karena selesainya atau berakhirnya
kontrak kerja yang telah disepakati.
b. Dismisal yaitu putusnya hubungan kerja karena karyawan melakukan tindakan
melanggar disiplinyang telah ditetapkan.
c. Redundancy,yaitu pemutusan hubungan kerja karena perusahaan melakukan
pengembangan dengan mesin-mesin berteknologi baru.
d. Retrenchment yaitu pemutusan hubungan kerja yang dikaitkan dengan masalah-
masalah ekonomi.
Flippo (2008) membedakan pemjtusan hubungan kerja diluar konteks
pensiun menjadi 3 kategori yaitu:
a. Layoff, keputusan ini menjadi kenyataan ketika seseorang karyawan benar-benar
memiliki kualifikasi yang membanggakan harus dipurnahtugaskan karena
perusahaan tidak lagi membutuhkan sumbangan jasanya.
b. Autplacement, ialah kegiatan pemutusan hubungan kerja disebabkan perusahaan
ingin mengurangi banyak tenaga kerja baik profesional, manajerial, pelaksana
biasa. Dasar dari kegiatan ini ialah kenyataan bahwa perusahaan mempunyai tenaga
kerja yang skill nya masih dapat dijual kepada perusahaan lain dan sejauh mana
kebutuhan pasar terhadap keahlian atau skill ini masih tersembunyi.
c. Dischard, kegiatan ini dilakukan berdasar bahwa karyawan kurang mempunyai
sikap atau perilaku kerja yang memuaskan.
E. Prosedur Tata Cara Pemutusan Hubungan Kerja
Sebelum melakukan pemutusan hubungan kerja maka pengusaha harus
lebih dulu melakukan daya upaya untuk menghindari terjadinya pemutusan
hubungan kerja. Upaya tersebut melalui penigkatan efisiensi dan penghematan
seperti:
1. Mengurangi shift apabila perusahaan menggunakan beberapa shift.
2. Mebatasi atau menghapuskan kerja lembur sehingga dapat mengurangi
biaya tenaga kerja.
3. Apabila upaya di atas belum membawa hasil perlu diadakan pengurangan
jam kerja.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemutusan hubungan kerja:
1. Perlu dibuktikan adanya usaha untuk menghindarkan terjadinya pemutusan
hubungan kerja.
2. Bila mana hubungan kerja diputus atas persetujuan pekerja masih
diperlukan izin dari P4D atau P4P.
3. Masa pecobaan harus diberitahukan sewaktu membuat perjanjian kerja
antara pengusaha dan pekerja.
Pasal 158 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan (“UU
Ketenaga Kerjaan”) menyatakan pembuktian bahwa pekerja teah melakukan
kesalahan berat harus didukung dengan bukti sebagai berikut:
1. Pekerja tertangkap tangan
2. Ada pengakuan drai pekerja yang bersangkutan, atau
3. Bukti lain berupa laporan kejadian yang dibuat oleh pihak yang berwenang
diperusahaan yang bersangkutan dan didukung oleh sekurang kurangnya
dua orang saksi.
Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap pekerja
dengan alasan sebagai berikut:
1. Pekerja berhalangan masuk kerja karena sakit menurut keterangan dokter
selama waktu tidak melampaui 12 bulan secara terus menerus
2. Pekerja berhalangan menjalankan pekerjaannya karena memenuhi
kewaijban terhadap negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku
3. Pekerja menjalankan ibadah yang diperintahkan agamanya
4. Pekerja menikah
5. Pekerja perempuan hamil, melahirkan, gugur kandungan atau menyusui
bayinya
6. Pekerja mampunyai pertalian darah atau ikatan perkawinan dengan pekerja
lainnya di dalam satu perusahaan kecuali telah di atur di dalam perjanjian
kerja peraturan perusahaan atau perjanjian kerja sama
7. Pekerja mendirikan, menjadi anggota atau pengurus serikat pekerja/serikat
buruh, pekerja melakukan kehgiatan serikat pekerja diluar jam kerja atau
didalam jam kerja atas kesepakatan pengusaha atau berdasarkan ketentuan
yang di atur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian
kerja sama.
8. Pekerja yang mengadukan pengusaha kepada yang berwajib mengenai
perbuatan pengusaha yang melakukan tindak pidana kejahatan
9. Karena perbedaan paham agama aliran politik, suku, warna kulit, golongan,
jenis kelamin, kondisi fisik dan status perkawinan
10. Pekerja dalam keadaan cacat tetap, sakit akibat kecelakaan kerja atau sakit
karena hubungana kerja yang menurut surat keterangan dokter dengan
jangka waktu penyembuhannya belum dapat dipastikan
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pemutusan Hubungan kerja sebagai manifestasi pensiun yang dilaksanakan
pada kondisi tidak normal nampaknya masih merupakan ancaman yang
mencemaskan karyawan. Dunia industri negara maju yang masih saja mencari upah
buruh yang murah, senantiasa berusaha menempatkan investasinya di negara-
negara yang lebih menjanjikan keuntungan yang besar, walaupun harus menutup
dan merelokasi atau memindahkan pabriknya ke Negara lain.
Keadaan ini tentu saja berdampak Pemutusan Hubungan kerja pada
karyawan di negara yang ditinggalkan. Efisiensi yang diberlakukan oleh
perusahaan pada dewasa ini, merupakan jawaban atas penambahan posisi-posisi
yang tidak perlu di masa lalu, sehingga dilihat secara struktur organisasi, maka
terjadi penggelembungan yang sangat besar. Ketika tuntutan efisiensi harus
dipenuhi, maka restrukturisasi merupakan jawabannya. Di sini tentu saja terjadi
pemangkasan posisi besar-besaran, sehinggaPemutusan Hubungan kerja masih
belum dapat dihindarkan.
Ketika perekonomian dunia masih belum adil, dan program efisiensi yang
dilakukan oleh para manajer terus digulirkan, maka Pemutusan Hubungan
kerja masih merupakan fenomena yang sangat mencemaskan, dan harus
diantisipasi dengan penyediaan lapangan kerja dan pelatihan ketrampilan yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat (mantan karyawan).
B. SARAN
Adapun saran yang dapat kami berikan dalam makalah ini adalah,
hendaknya dalam melakukan Pemutusan hubungan kerja harus sesuai dengan
Undang-Undang Ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia agar tidak akan ada
pihak-pihak yang merasa dirugikan
DAFTAR PUSTAKA