Implementasi Pendidikan Multikultural SD
Implementasi Pendidikan Multikultural SD
[Link]
Sekarang ini, jumlah pulau di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berjumlah 17.667
pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah kira-kira 210 juta jiwa, terdiri dari 350 kelompok
etnis dan adat istiadat yang menggunakan hampir 200 bahasa dan dialek local yang berbeda. Dari sudut
agama mereka memeluk Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghu Cu serta berbagai macam aliran
kepercayaan lainnya. Dengan jumlah penduduk, etnis, suku, agama, adat, bahasa daerah dan pulau
yang banyak acapkali Indonesia dikatakan sebagai negara yang multi etnis dan multi agama (Yani
Kusmarni, 2010).
Keragaman yang begitu banyak, disadari atau tidak dapat menimbulkan konflik-konflik sosial apabila
tidak dikelola dengan baik, apalagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai
kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah dimensi kehidupan masyarakat Indonesia
dari waktu ke waktu. Perubahan budaya masyarakat seiring dengan proses globalisasi telah menembus
pola kehidupan masyarakat baik melalui kondisi nyata maupun dalam dunia maya. Proses globalisasi
yang kuat dibarengi dengan adanya ruang gerak untuk mengembangkan eksistensi memunculkan
dimensi dimana setiap orang dan kelompok ingin berkarya dan menampilkan eksistensinya dihadapan
kelompok lain. Arus globalisasi menjadikan batas-batas negara atau wilayah secara geografis tidak
diperhatikan lagi, hal tersebut sesuai dengan pendapat Suyatno bahwa “era global konsep negara
menjadi tidak penting lagi karena secara empirik suatu bangsa tidak akan mampu mengisolasi negara
dan pemerintahnya dari pengaruh-pengaruh global”.
Konsep-konsep kehidupan bernegara, kehidupan berbangsa dan eksistensi nilai-nilai demokrasi serta
pengakuan yang belum sepenuh dipahami oleh masyarakat dan bangsa Indonesia melahirkan suatu pola
atau pemikiran baru yang dapat memperkokoh dan mempersatukan keragaman tersebut yiatu konsep
Multikulturalisme. Multikulturalisme merupakan suatu konsep yang memberikan pemahaman untuk
mengakui akan keragaman budaya dan pengakuan eksistensi keragaman budaya. Agar konsep
multikulturalisme dapat berkembang dan disadari sebagai suatu perekat antar budaya perlu dilatih dan
didik pada generasi penerus melalui proses pendidikan pada Satuan Pendidikan baik pada tingkatan
Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas.
Pendidikan sebagai proses transformasi budaya diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu
generasi ke genarasi yang lain. Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi karena pendidikan
berfungsi sebagai suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian
peserta didik. Pada kenyataan proses pembentukan kepribadian ini berlangsung untuk dua sasaran yaitu
mereka yang belum dewasa oleh yang sudah dewasa, dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha
sendiri. Sedangkan pendidikan sebagai proses penyiapan warga Negara diartikan sebagai suatu
kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga Negara yang baik.
Implementasi Pendidikan multikultural pada satuan pendidikan dapat memberikan penguatan pada
peserta didik tentang pentingnya nilai saling menghargai antar sesama, menghargai keragaman budaya,
etnis, agama, suku, ras, perbedaan tingkatan ekonomi, pendidikan, sosial budaya bangsa Indonesia
sehingga sudah sejak dini konflik sosial dapat dicegah. Selain itu untuk mengimbangin materi pelajaran
yang selama ini menggrogoti pikiran peserta didik yang berakibat nilai-nilai humanis dan jati diri peserta
didik makin lama makin terkikis. Betapa pentingnya pendidikan Multikultural untuk diterapkan pada
Satuan Pendidikan seperti yang diungkap oleh Azyumardi Azra bahwa “Pembentukan masyarakat
multikultural Indonesia yang sehat tidak bisa secara taken for granted atau trial and error, melainkan
harus diupayakan secara sistematis, programatis, integrated dan berkesinambungan, dan bahkan perlu
percepatan (akselerasi). Salah satu strategi penting dalam mengakselerasikannya adalah pendidikan
multikultural yang diselenggarakan melalui seluruh lembaga pendidikan, baik formal atupun non-formal,
dan bahkan informal dalam masyarakat luas”.
B. Konsep Multikulturalisme
Menurut J. Sudarminta (2011 : 1) mengatakan multikulturakisme diartikan sebagai: 1) pahama/ideologi
yang mengakui dan meghormati dan merayakan keragaman budaya dalam kesederajatan, baik secara
individual maupun secara kelompok budaya; keragaman budaya dipandang sebagai mosaik yang indah;
2) faham yang memperjuangkan bukan hanya pengakuan adanya fakta kemajemukan budaya tetapi juga
bahwa fakta tersebut perlu dihormati, dilestarikan dan dikembangkan; 3) perbedaan budaya perlu diakui
dan dihormati, bukan hanya perbedaan antara budaya (inter cultural differences) tetapi juga perbedaan
dalam satu budaya (intra cultural defferences); 4) pergeseran pola pikir dari “berbeda-beda tetapi satu” ke
“satu tetapi berbeda-beda”; bukan sekedar pluralisme budaya; 5) pembedaan antara multikulturalisme
sebagai diskursus formal/dari atas dan multikulturalisme sebagai diskursus dari bawah; 6) secara politis
terkait dengan keadilan sosial, demokrasi dan hak asasi manusia; 7) politik mencari pengakuan (politic of
recognition) sebagai warga yang sederajat dan sama hak; 8) hak budaya sebagai salah satu hak sipil
(selain hak ekonomi dan sosial) yang wajib dihormati dalam negara demokrasi modern; 9) dikontraskan
dengan monokulturalisme dalam negara bangsa yang secara normatif menganut satu budaya yang sama
untuk semua.
Parekh dalam Azra, A (2007) mengklasifikasi lima model multikulturalisme yang dapat menjadi acuan
penyelenggaraan pendidikan di Tanah Air. Kelima model multikulturalisme yang dimaksud adalah: 1)
multikulturalisme isolasionis; 2) multikulturalisme akomodatif; 3) multikulturalisme otonomis; 4)
multikulturalisme Kritikal atau Interaktif ; 5) multikulturalisme kosmopolitan.
D. Pendidikan Multikultural
1. Pengertian Pendidikan Multikultural
Sudarminta, J (2011 : 3) mengatakan pendidikan multikultural adalah: 1) upaya untuk menanggapi
semakin banyaknya sekolah diberbagai belahan dunia yang dihadiri oleh peserta didik dari berbagai latar
belakang budaya, etnis, ras, warna kulit dan kelas sosial; 2) tanggapan praktis terhadap
ketidakmemadaian beberapa pendekatan sebelumnya menghadapi keanekaragaman budaya seperti
model asismilasi budaya minoritas ke dalam budaya mayoritas, model “salad bowl”, “melting pot” serta
rasisme dan deskriminasi terhadap minoritas; 3) upaya mereformasi sekolah guna menciptakan iklim
pembelajaran yang memberikan kesempatan sama kepada macam-macam siswa dari kelompok yang
kurang beruntung karena latar belakang budaya, suku, agama, ras, jenis kelamin, kelas sosial, sehingga
mereka nantinya juga dapat memperoleh kesempatan yang sama dalam memasuki pasar kerja dan
membangun masyarakat yang adil, demokratis dan sejahtera.
Menurut Lasmawan (2004) mengatakan pendidikan multikultur adalah proses penanaman cara hidup
menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah
masyarakat plural. Hal yang sama juga dikatakan Banks, J.A, (2001) bahwa pendidikan multikultural
adalah konsep, ide atau falsafah sebagai suatu rangkaian kepercayaan (set of believe) dan penjelasan
yang mengakui dan menilai pentingnya keragaman budaya dan etnis di dalam membentuk gaya hidup,
pengalaman sosial, identitas pribadi, kesempatan-kesempatan pendidikan dari individu, kelompok
maupun negara.
Pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap
keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. Dengan pendidikan
multikultural, diharapkan adanya kekenyalan dan kelenturan mental bangsa menghadapi benturan konflik
sosial, sehingga persatuan bangsa tidak mudah patah dan retak (Asy’arie, M. 2004).
Jadi pendidikan multikultural adalah proses pendidikan yang dilaksanakan di sekolah untuk memberikan
pemahaman pada peserta didik mengenai keragaman budaya, etnik, ras, agama baik di sekolah maupun
di masyarakat serta pola interaksi akibat adanya keanaekaragaman sehingga tidak ada sikap diksriminasi
terhadap kelompok tertentu dan terhindarnya konflik antara kelompok.
2. Tujuan dan fokus pendidikan multikultural
a. Tujuan pendidikan multikultural
Menurut Sudarminta, J (2011 : 5) mengatakan tujuan pendidikan multikultural sebagai berikut: 1)
mengadakan gerakan reformasi pendidikan guna mengusahakan agar keragaman latar belakang
budaya, ras, etnik, agama dan gender peserta didik dapat memperkaya budaya bangsa dan tidak
menjadi sumber konflik ataupun deskriminasi sosial; 2) membantu individu memperoleh pemahaman diri
yang lebih mendalam dengan melihat dirinya dari pespektif budaya lain sehingga tumbuh pengenalan,
saling pengertian, bersikap toleran dan hormat terhadap individu dari budaya lain yang berbeda dengan
dirinya; 3) mengintegrasikan muatan multikultural dalam kurikulum yang ada sehingga dampak negatif
dari dominasi budaya dan etnik tertentu dalam kurikulum yang sudah ada dapat dihindarkan; 4)
mengurangi prasangka negatif dan sentimen kesukuan, etnik, budaya, gender dan keagamaan di sekolah
dan di masyarakat; 5) menunjang terciptanya masyarakat yang lebih demokratis, adil, damai dan
sejahtera secara merata; 6) mengembangkan nasionalisme baru yang menekankan kesatuan dalam
kebhinekaan; 7) mengurangi derita dan deskriminasi yang diamali oleh anggota etnik tertentu dan
kelompok ras tertentu karena ciri-ciri budaya mereka yang dianggap tidak selaras dengan budaya arus
utama; 8) menyadarkan semua akan pentingnya kebudayaan dalam pendidikan dan bahwa ilmu
pengetahuan dikosntruksi secara sosial dan kultural.
Pendidikan multikultural merupakan pendidikan yang menekankan pada pendekatan progresif untuk
memungkinkan semua peserta didik dengan berbagai latar belakang budaya mendapat pendidikan yang
adil dan berkualitas sesuai dengan latar belakang yang dimiliki tersebut (Zamroni, 2007). Sedangkan
Nieto (1992) dalam Akhmad Sudrajat (2008) menyebutkan bahwa pendidikan multibudaya bertujuan
untuk sebuah pendidikan yang bersifat anti rasis; yang memperhatikan ketrampilan-ketrampilan dan
pengetahuan dasar bagi warga dunia; yang penting bagi semua murid; yang menembus seluruh aspek
sistem pendidikan; mengembangkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang memungkinkan murid
bekerja bagi keadilan sosial; yang merupakan proses dimana pengajar dan murid bersama-sama
mempelajari pentingnya variabel budaya bagi keberhasilan akademik; dan menerapkan ilmu pendidikan
yang kritis yang memberi perhatian pada bangun pengetahuan sosial dan membantu murid untuk
mengembangkan ketrampilan dalam membuat keputusan dan tindakan sosial.
Tujuan pendidikan dengan berbasis multikultural dapat diidentifikasi: (1) untuk memfungsikan peranan
sekolah dalam memandang keberadaan siswa yang beraneka ragam; (2) untuk membantu siswa dalam
membangun perlakuan yang positif terhadap perbedaan kultural, ras, etnik, kelompok keagamaan; (3)
memberikan ketahanan siswa dengan cara mengajar mereka dalam mengambil keputusan dan
keterampilan sosialnya; (4) untuk membantu peserta didik dalam membangun ketergantungan lintas
budaya dan memberi gambaran positif kepada mereka mengenai perbedaan kelompok (Nasrudin, I.
2010).
b. Fokus pendidikan multikultural
Fokus pendidikan multikultural menurut Tilaar, H.A.R (2002) mengatakan bahwa dalam program
pendidikan multikultural, fokus tidak lagi diarahkan semata-mata kepada kelompok sosial, agama dan
kultural mainstream. Pendidikan multikultural sebenarnya merupakan sikap peduli dan mau mengerti
ataupun pengakuan terhadap orang lain yang berbeda. Dalam konteks ini, pendidikan multikultural
melihat masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan pandangan dasar bahwa sikap indeference dan non-
recognition tidak hanya berakar dari ketimpangan struktur rasial, tetapi paradigma pendidikan
multikultural mencakup subyek-subjek mengenai ketidakadilan, kemiskinan, penindasan, dan
keterbelakangan kelompok-kelompok minoritas dalam berbagai bidang baik itu sosial, ekonomi, budaya,
pendidikan dan sebagainya.
Dalam konteks deskriptif, pendidikan multikultural seyogyanya berisikan tentang tema-tema mengenai
toleransi, perbedaan ethno-cultural dan agama, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi,
hak asasi manusia, demokratisasi, pluralitas, kemanusiaan universal dan subje-subjek lain yang relevan
(Tilaar, H.A.R. 2002).
Menurut Laswama (2004) bahwa untuk bisa melaksanakan pendidikan multikultural, maka guru sebagai
pengembang dan pelaksana kurikulum dituntut untuk mampu: (1) mengintegrasikan materi multikultur
kedalam mata pelajaran/bidang studinya secara holistik, (2) memilih dan mengembangkan model
pendidikan multikultur yang visibel bagi siswa, (3) mengembangkan model penilaian multikultur yang
sesuai dengan tuntutan kurikulum formal, dan (4) melaksanakan tindak lanjut dari pendidikan multikultur
yang telah dilaksanakan bagi ketuntasan pencapaian hasil belajar siswa.
Peran guru dan sekolah dalam implementasi pendidikan multikultural dan pengembangan pendidikan
multikulutural pada satuan pendidikan sebagai berikut : 1) membangun paradigma keberagamaan; 2)
menghargai keragaman bahasa; 3) membangun sensitivitas gender; 4) membangun sikap kepeduliaan
sosial; 5) membangun sikap anti diskriminasi etnis; 6) membangun sikap anti Diskriminasi terhadap
perbedaan kemampuan; 9) membangun sikap anti diskriminasi umur.
H. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat simpulkan sebagai berikut :
1. Pendidikan Multikultural adalah proses pendidikan yang memberikan pemahaman pada peserta dididk
tentang pola interaksi dalam masyarakat akibat keanaekaragaman masyarakat. Pendidikan Multikultural
merupakan alternatif dalam mengantisipasi timbulnya konflik sosial dikalangan peserta didik maupun
masyarakat.
2. Dimensi pendidikan multikultural antara lain: 1) dimensi integrasi isi/materi (content integration); 2)
dimensi konstruksi pengetahuan (knowledge construction); 3) dimensi pengurangan prasangka (prejudice
reduction); 4) dimensi pendidikan yang sama/adil atau kesetaraan dalam pendidikan (equitable
pedagogy); 5) dimensi pemberdayaan budaya sekolah dan struktur sosial (empowering school culture
and social structure).
3. Strategi dan menajemen pendidikan pendidikan multikultural pada satuan pendidikan dapat dilakukan
pada beberapa aspek yaitu: 1) aspek kurikulum; 2) aspek pengelolaan kelas; 3) aspek perencanaan
pembelajaran dan bahan ajar; 4) aspek proses pembelajaran; 5) aspek evaluasi pembelajaran
pendidikan multikultural.
4. Implementasi pendidikan multikultural pada satuan pendidikan dapat dilakukan melalui: 1) terintegrasi
dengan mata pelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler; 2) kegiatan pengembangan diri yang terprogram
maupun tidak terprogram, 3) kegiatan muatan lokal; 4) pendidikan berwawasan lingkungan.
5. Pengembangan pendidikan multikultural dapat dilakukan dengan cara : 1) peningkatan pendidikan,
penanaman pemahaman dan kesadaran (literasi) terhadap keberagaman kultur kebangsaan; 2)
perbaikan kualitas proses dan produk pembelajaran melalui pengembangan model dan strategi
pembelajaran yang visibel bagi pembelajara multikultur; 3) pengintegrasian domain multikultur secara
holistik ke dalam beberapa mata pelajaran; 4) pengembangan konsep dan generalisasi pokok pendidikan
multikultur; 5) model pengorganisasian materi pendidikan multikultur; dan 6) pengembangan model
penilaian kompetensi multikultur
6. Peran guru dan sekolah bagi keberhasilan implementasi dan pengembangan pendidikan multikultural
pada satuan pendidikan yaitu: 1) membangun paradigma keberagaman; 2) menghargai keragaman; 3)
membangun sensitif gender; 4) membangun sikap kepedulian sosial; 5) membangun sikap anti
diskriminasi etnis; 6) membangun sikap anti diskriminasi terhadap perbedaan kemampuan; 7)
membangun sikap anti diskriminasi terhadap umur.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah Aly. (2003). Menggagas Pendidikan Islam Multikultural di Indonesia. dalam Jurnal Ishraqi,
Volume II Nomor 1, Januari-Juli 2003, hlm. 60-73.
A. Effendi Sanusi. (2009). Pendidikan multikultural dan implikasinya. dapat diakses secara On-line di
[Link]
bXGeRoJ:[Link]/effendisanusi/%3Fp%3D412+pendidikan+multikultural&cd=4&hl=id&ct=clnk&gl
=id
Akhmad Sudrajat. (2008). Wacana pendidikan multikultural di Indonesia. dapat di akses secara on-line di
[Link]
[Link]/2008/04/04/wacana-pendidikan-multikultural-di-
indonesia/+pendidikan+multikultural&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id
Asy’arie, M. (2004). Pendidikan multikultural dan konflik bangsa, Kompas, Jumat, 03 September 2004
Azra, A .(Agustus 2007). Keragaman Indonesia: Pancasila dan multikulturalisme, makalah yang
disampaikan pada Semiloka Nasional “Keragaman Suku, Agama, Ras, Gender sebagai Modal Sosial
untuk Demokrasi dan Masyarakat Madani: Resiko, tantangan dan Peluang”. Diselenggaran oleh Fakultas
Psikologi UGM dengan Institute for Community Behavioral Change (ICBC) dan Konrad Adenauer Stiftung
(KAS) di Yogyakarta 13 Agustus 2007.
Banks, J. 1993. Multicultural Education: Historical Development, Dimension, and Practice. Review of
Research in Education.
Banks, J. and Banks. (1995). Teaching strategies for ethnic studies. Boston: Allyn and Bacon.
Cardinas, Jose A.. (1975). Multicultural education: A generation of advocacy. America: Simon & Schuster
Custom Publishing.
Dadang Iskandar, Wajah Kepala Sekolah dapat diakses secara on-line di Internet.
Direktorat Pembinaan SMA . ( 2010). Bahan bimtek standar nasional pendidikan-kurikulum tingkat satuan
pendidikan. Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia Jakarta.
Dewey, J. (1964). Democracy and Education. New York: The Mac Millan Company, 1964
DEPAG RI dan IRD. (2003). Kurikulum berbasis multikulturalism, Majalah Inovasi Kurikulum Edisi IV,
Tahun 2003.
Edi Hayat dan Miftahus Surur. (2005). Perempuan multikultural: negosiasi dan representasi. Jakarta:
Desantara Utama.
Gustiana Isya Marjani. (November 2009). Multikulturalisme dan pendidikan: relevansi pendidikan dalam
membangun wacana multikulturalisme di Indonesia. The 9th Annual Conference on Islamic Studies
(ACIS) Surakarta, 2-5 November 2009
Gollnick, Donna M. (1983). Multicultural education in a pluralistik society. London: The CV Mosby
Company.
Hamid Hasan. (2010). Pendekatan multikultural untuk penyempuraan kurikulum nasional dapat diakses
secara on-line di [Link] Jurnal/No_026/pendekatan_hamid_hasan.htm
[Link] Pendidikan Multikultural.
[Link] Multikultural dalam
Pengembangan Kurikulum di Sekolah.
Ibrahim, R. (2008). Pendidikan multikultural : upaya meminimalisir konflik dalam era pluralitas agama.
Jurnal Pendidikan Islam El-Tarbawi No. 1 Volume I tahun 2008.
Iis Arifudin. (2007). Urgensi implementasi pendidikan multikultural di sekolah. Jurnal Pemikiran Alternatif
Pendidikan P3M STAIN Purwokerto INSANIA/Vol. 12/No. 2/Mei-Agustus 2007/220-233.
____________. (2010). Pendidikan multikultur dalam IPS dapat diakses secara On-line di
[Link]
Naim, N. (2008). Pendidikan multikultural dalam tinjauan pedagogik. Dapat diakses melalui
[Link]
Nasruddin, I. (2010). Menggagas pendidikan multikultural, dapat diakses secara on-line pada
[Link]
Res Fobia. (2010). Peluang pendidikan multikultural di NTT dapat diakses secara on-line pada
[Link]
Sarilan dan Tsabit Azinar Ahmad. (2009). Urgensi pendidikan multikultural, Makalah Tugas Mata Kuliah
Landasan Ilmiah Pendidikan Program Studi Pendidikan Sejarah Program Pascasarjana Universitas
Sebelas Maret dapat diakses secara on-line pada [Link]
Pendidikan-Multikultural-Di-Indonesia
Sauqi, A dan Naim, N. (2008). Pendidikan multikultural konsep dan aplikasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Sudarminta, J. (2011). Pendidikan multikultural : pengertian, sejarah, tujuan, persoalan pokok dan
relevansinya untuk Indonesia. Materi Kuliah Epistemologi Kultural Program Doktor Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta.
Sutjipto. (2005). Konsep pendidikan formal dengan muata budaya multikultural, Jurnal Pendidikan
Penabur, No. 04/[Link]/Juli 2005.
Suyatno, (2006). Dinamika pendidikan nasional : dalam percaturan dunia global. Jakarta: PSAP
Muhammadyah.
Starr, Linda. (2004). Creating a Climate for Learning: Effective Classroom Management Technique,
dalam [Link]
Garcia, Ricardo L. (1982). Teaching in a Pluristic Society: Concepts, Models, Strategies. New York:
Harper & Row Publisher.
Tan, S. (2010). Pendidikan multikulturalisme : solusi ancaman disintegrasi bangsa. Yayasan Perguruan
Sultan Iskandar Muda, Medan dapat di akses secara on-line di internet
Tilaar, H.A.R., (2002). Perubahan sosial dan pendidikan : pengantar paedagogik transormatif untuk
Indonesia. Jakarta : Grasindo.
Yani Kusmarni. (2010). Pendidikan multikultural suatu kajian tentang pendidikan alternatif di Indonesia
untuk merekatkan kembali nilai-nilai persatuan, kesatuan dan berbangsa di era global, dapat diakses
secara On-line di internet.
Zamroni. (2010) The Implementation of multicultural education, A Reader. Graduate Program The State
University of Yogyakarta.
Abstrak
Sebagai negara dengan latar belakang budaya, suku, bahasa, dan agama yang sangat majemuk,
Indonesia memerlukan pendekatan dan instrumen strategik yang dapat dijadikan sebagai sebuah
gerakan nasional untuk mewujudkan persatuan, kesatuan, dan keutuhan bangsa agar menjadi
bangsa yang berdaulat dan bermartabat. Salah satu instrumen pendekatannya adalah melalui
pendidikan multikultural.
Praktek pendidikan multikultural di Indonesia dapat dilaksanakan secara fleksibel, tidak harus dalam
bentuk mata pelajaran yang terpisah atau monolitik. Pelaksanaan pendidikan multikultural
didasarkan atas lima dimensi: (1) integrasi konten, (2) proses penyusunan pengetahuan, (3)
mengurangi prasangka, (4) pedagogi setara, serta (5) budaya sekolah dan struktur sekolah yang
memberdayakan.
1. A. LATAR BELAKANG
Pendidikan merupakan bagian dari kegiatan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Oleh sebab
itu kegiatan pendidikan merupakan perwujudan dari cita-cita bangsa. Dengan demikian kegiatan
pendidikan nasional perlu diorganisasikan dan dikelola sedemikian rupa supaya pendidikan nasional
sebagai suatu organisasi dapat menjadi sarana untuk mewujudkan cita-cita nasional.
Secara rinci cita-cita nasional yang terkait dengan kegiatan pendidikan telah dituangkan dalam
Undang-Undang Sisdiknas No.20 Tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertkwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
Negara yang demokraatis serta bertanggung jawab.
Selanjutnya prinsip penyelenggaraan pendidikan secara jelas juga telah diuraikan dalam Undang-
Undang Sisdiknas tersebut, yaitu tercantum pada pasal 4, bahwa : 1) Pendidikan diselenggarakan
secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan mejunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai cultural, dan kemajemukan bangsa, 2) Pendidikan diselenggarakan
sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan system terbuka dan multimakna, 3) Pendidikan
diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat, 4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran,
5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan berhitung
bagi segenap warga masyarakat, 6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua
komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan
pendidikan.
Adapun fungsi pendidikan nasional sebagaimana tercantum pada Bab II pasal 3 disebutkan bahwa
fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu,
fungsi pendidikan juga dapat dilihat dalam dua perspektif. Pertama, secara mikro ( sempit ),
pendidikan berfungsi untuk membantu secara sadar perkembangan jasmani dan rohani peserta
didik. Kedua,secara makro ( luas ), pendidikan berfungsi sebagai pengembangan pribadi,
pengembangan warga Negara, pengembangan kebudayaan dan pengembangan bangsa.
Dari paparan tentang tujuan, prinsip penyelenggaraan maupun fungsi pendidikan sebagai mana
tertuang dalam Undang-Undang Sisdiknas No.20 Th.2003 sebenarnya sudah memberi gambaran
ruang gerak yang representative untuk terselenggaranya pendidikan nasional yang sesuai dengan
latar belakang budaya dan kebhinekaan bangsa Indonesia. Akan tetapi keberadaan suatu bangsa
tidak bisa dilepaskan dari dependensi bangsa lain. John Naisbit dan Alvin Tofler memberi gambaran
bahwa dunia saat ini terasa semakin sempit. Dunia merupakan suatu kampung besar (global
village). Di era globalisasi dewasa ini kita tidak dapat melepaskan diri dari kehidupan global.
Gelombang demokrasi semakin terbuka yang dampaknya bukan saja membawa nilai-nilai positif
dalam pengertian penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia ( HAM ) dan eksistensi kelompok
masyarakat, tetapi juga mengandung bahaya perpecahan suatu negara. Samuel P. Huntington
dalam the Clash of Civilization meramalkan akan terjadinya benturan antarperadaban. Benturan itu
bisa disebabkan oleh faktor : politik, social, budaya, ekonomi, ras, bahkan agama ( Mahfud, 2006 :
viii ).
Melihat fenomena tersebut, kegiatan pendidikan di Indonesia dituntut untuk memiliki kepekaan
menghadapi arus perputaran globalisasi. Pola doktrinasi monokulturalisme yang dipaksakan selama
orde baru perlu dievaluasi, karena telah berimplikasi negatif bagi rekonstruksi kebudayaan
Indonesia yang multicultural. Di lain pihak masih sering kita jumpai adanya fenomena perpecahan di
tengah masyarakat, baik berupa kerusuhan/ tawuran antar pelajar, antar RT, antar suku sampai
keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI sampai saat ini masih sering mewarnai media nasional
baik cetak maupun elektronik.
Gelombang demokrasi menuntut pengakuan perbedaan dalam tubuh bangsa Indonesia yang
majemuk. Oleh sebab itu untuk membangun rasa persatuan dan kesatuan serta rasa nasionalisme
sekaligus menjawab beberapa problematika kemajemukan seperti yang digambarkan di atas
dibutuhkan langkah sistematis yang dapat dijadikan sebagai sebuah gerakan nasional. Dalam
makalah ini kami menawarkan solusi melalui “Implementasi Pendidikan Multikultural dalam Praksis
Pendidikan di Indonesia”.
Melalui pendidikan multicultural kita dapat memberi seluruh siswa-tanpa memandang status
sosioekonomi; gender; orientasi seksual; atau latar belakang etnis, ras atau budaya-kesempatan
yang setara untuk belajar di sekolah. Pendidikan multibudaya juga didasarkan pada kenyataan
bahwa siswa tidak belajar dalam kekosongan, budaya mereka memengaruhi mereka untuk belajar
dengan cara tertentu ( Parkay dan Stanford, 2011 : 35 ).
Pendidikan multikultural adalah merupakan suatu gerakan pembaharuan dan proses untuk
menciptakan lingkungan pendidikan yang setara untuk seluruh siswa. Sebagai sebuah gerakan
pembaharuan, istilah pendidikan multicultural masih dipandang asing bagi masyarakat umum,
bahkan penafsiran terhadap definisi maupun pengertian pendidikan multicultural juga masih
diperdebatkan di kalangan pakar pendidikan.
Seperti pendapat Andersen dan Cusher ( 1994 ) sebagaimana dikutip Mahfud ( 2008 ), bahwa
pendidikan multicultural diartikan sebagai pendidikan mengenai keragaman kebudayaan.
Sedangkan Hernandez ( 1989 ), mengartikan pendidikan multikultural sebagai perspektif yang
mengakui realitas sosial, politik, dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam
pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya
budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status social, ekonomi, dan pengecualian-
pengecualian dalam proses pendidikan.
Ahli lain, Sleeter dan Grant ( 2007, 2009 ) dan Smith ( 1998 ) sebagaimana dikutip Zamroni ( 2011 )
mendefinisikan pendidikan multikultural sebagai suatu pendekatan progresif untuk melakukan
transformasi pendidikan yang secara holistik memberikan kritik dan menunjukkan kelemahan-
kelemahan, kegagalan-kegagalan dan diskriminasi yang terjadi di dunia pendidikan ( Zamroni, 2011:
144 )
Sebagai suatu gerakan pembaharuan dan proses untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang
setara untuk seluruh siswa, pendidikan multikultural memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut :
Prinsip pertama: pendidikan multikultural adalah gerakan politik yang bertujuan menjamin keadilan
sosial bagi seluruh warga masyarakat tanpa memandang latar belakang yang ada.
Prinsip kedua : pendidikan multikultural mengandung dua dimensi: pembelajaran (kelas) dan
kelembagaan (sekolah) dan antara keduaanya tidak bisa dipisahkan, tetapi justru harus ditangani
lewat reformasi yang komprehensif
Prinsip ketiga : pendidikan multikultural menekankan reformasi pendidikan yang komprehensif dapat
dicapai hanya lewat analisis kritis atas sistem kekuasaan dan privileges untuk dapat dilakukan
reformasi komprehensif dalam pendidikan.
Prinsip keempat : berdasarkan analisis kritis ini, maka tujuan pendidikan multikultural adalah
menyediakan bagi setiap siswa jaminan memperoleh kesempatan guna mencapai prestasi
maksimal sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Prinsip kelima : pendidikan multikultural adalah pendidikan yang baik untuk seluruh siswa, tanpa
memandang latar belakangnya.
Konsep multikulturakisme menekankan pentingnya memandang dunia dari bingkai referensi budaya
yang berbeda, dan mengenali serta manghargai kekayaan ragam budaya di dalam Negara dan di
dalam komunitas global. Multikulturakisme menegaskan perlunya menciptakan sekolah di mana
berbagai perbedaan yang berkaitan dengan ras, etnis, gender, orientasi seksual, keterbatasan, dan
kelas sosial diakui dan seluruh siswa dipandang sebagai sumber yang berharga untuk memperkaya
proses belajar mengajar.
Proses belajar mengajar atau proses pembelajaran merupakan suatu proses yang rumit dan
kompleks, karena tidak semua faktor yang terlibat bisa dikendalikan oleh guru. Dalam analisisnya,
Maurianne Adams and Barbara J. Love (2006). Menyebutkan bahwa ada empat faktor yang terdapat
dalam proses pembelajaran, yaitu : 1). Faktor bawaan siswa, 2) faktor bawaan guru, 3) faktor
pedagogy, dan 4) faktor isi kurikulum. Faktor-faktor dalam pembelajaran tersebut dapat
digambarkan dapat digambarkan sebagai berikut :
Kegagalan dalam proses meramu guru menyebabkan siswa dengan status sosial ekonomi rendah
tidak dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana mereka siswa yang datang dari kelompok sosial
ekonomi tinggi. Demikian pula halnya bagi siswa yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda
akan gagal beradaptasi dalam proses pembelajarannya.
Pendidikan multikultural merupakan suatu proses transformasi yang tentunya membutuhkan waktu
panjang untuk mencapai maksud dan tujuannya. Menurut Zamroni ( 2011 ) disebutkan beberapa
tujuan yang akan dikembangkan pada diri siswa dalam proses pendidikan multikultural, yaitu :
1. Siswa memiliki kemampuan berpikir kritis atas apa yang telah dipelajari.
2. Siswa memiliki kesadaran atas sifat sakwasangka atas fihak lain yang dimiliki, dan mengkaji
mengapa dan dari mana sifat itu muncul, serta terus mengkaji bagaimana cara menghilangkannya
3. Siswa memahami bahwa setiap ilmu pengetahuan bagaikan sebuah pisau bermata dua: dapat
dipergunakan untuk menindas atau meningkatkan keadilan sosial.
4. Para siswa memahami bagaimana mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam
kehidupan.
5. Siswa merasa terdorong untuk terus belajar guna mengembangkan ilmu pengetahuan yang
dikuasainya.
6. Siswa memiliki cita-cita posisi apa yang akan dicapai sejalan dengan apa yang dipelajari.
7. Siswa dapat memahami keterkaitan apa yang dilakukan dengan berbagai permasalahan dalam
kehidupan masyarakat-berbangsa.
1. 2. Paradigma Pendidikan Multikultural
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masyarakatnya sangat majemuk atau pluralis.
Kemajemukan sudah menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Kemajemukan ini dapat dilihat dari dua
perspektif, yaitu : perspektif horizontal dan dan vertikal. Dalam perspektif horizontal, kemajemuan
bangsa kita dapat dilihat dari perbedaan agama, etnis, bahasa daerah, geografis, dan budayanya.
Sedangkan dalam perspektif vertikal, kemajemukan bangsa Indonesia dapat dilihat dari perbedaan
tingkat pendidikan, ekonomi, dan tingkat sosial budayanya.
Fenomena kemajemukan ini bagaikan pisau bermata dua, satu sisi memberi dampak positif, yaitu
kita memiliki kekayaan khasanah budaya yang beragam, akan tetapi sisi lain juga dapat
menimbulkan dampak negatif, karena terkadang justru keragaman ini dapat memicu konflik antar
kelompok masyarakat yang pada gilirannya dapat menimbulkan instabilitas baik secara keamanan,
sosial, politik maupun ekonomi.
Dalam menghadapi pluralisme budaya tersebut, diperlukan paradigma baru yang lebih toleran dan
elegan untuk mencegah dan memecahkan masalah benturan-benturan budaya tersebut, yaitu
paradigma pendidikan multikultural. Hal ini penting untuk mengarahkan anak didik dalam mensikapi
realitas masyarakat yang beragam, sehingga mereka akan memiliki sikap apresiatif terhadap
keragaman perbedaan tersebut. Bukti nyata tentang maraknya kerusuhan dan konflik yang berlatar
belakang suku, adat, ras, dan agama menunjukkan bahwa pendidikan kita telah gagal dalam
menciptakan kesadaran akan pentingnya multikulturalisme.
Adapun bangunan paradigma pendidikan multikultural yang ditawarkan Zamroni ( 2011 ) adalah
sebagai berikut :
1. Pendidikan multikultural adalah jantung untuk menciptakan kesetaraan pendidikan bagi seluruh
warga masyarakat.
2. Pendidikan multikultural bukan sekedar perubahan kurikulum atau perubahan metode
pembelajaran.
3. Pendidikan multikultural mentransformasi kesadaran yang memberikan arah kemana transformasi
praktik pendidikan harus menuju.
4. Pengalaman menunjukan bahwa upaya mempersempit kesenjangan pendidikan salah arah yang
justru menciptakan ketimpangan semakin membesar.
e. Pendidikan multikultural bertujuan untuk berbuat sesuatu, yaitu membangun jembatan antara
kurikulum dan karakter guru, pedagogi, iklim kelas, dan kultur sekolah guna membangun visi
sekolah yang menjunjung kesetaraan.
Menurut James A. Banks ( 2002 : 14 ), pendidikan multikultural adalah cara memandang realitas
dan cara berpikir, dan bukan hanya konten tentang beragam kelompok etnis, ras, dan budaya.
Secara spesifik, Banks menyatakan bahwa pendidikan multikultural dapat dikonsepsikan atas lima
dimensi, yaitu :
1. Integrasi konten ; pemaduan konten menangani sejauh mana guru menggunakan contoh dan
konten dari beragam budaya dan kelompok untuk menggambarkan konsep, prinsip, generalisasi
serta teori utama dalam bidang mata pelajaran atau disiplin mereka.
2. Proses penyusunan pengetahuan; sesuatu yang berhubungan dengan sejauh mana guru
membantu siswa paham, menyelidiki, dan untuk menentukan bagaimana asumsi budaya yang
tersirat, kerangka acuan, perspektif dan prasangka di dalam disiplin mempengaruhi cara
pengetahuan disusun di dalamnya.
3. Mengurangi prasangka; dimensi ini fokus pada karakteristik dari sikap rasial siswa dan bagaimana
sikap tersebut dapat diubah dengan metode dan mater pengajaran.
4. Pedagogi kesetaraan; pedagogi kesetaraan ada ketika guru mengubah pengajaran mereka ke
cara yang akan memfasilitasi prestasi akademis dari siswa dari berbagai kelompok ras, budaya,
dan kelas sosial. Termasuk dalam pedagogi ini adalah penggunaan beragam gaya mengajar yang
konsisten dengan banyaknya gaya belajar di dalam berbagai kelompok budaya dan ras.
5. Budaya sekolah dan struktur sekolah yang memberdayakan ; praktik pengelompokan dan
penamaan partisipasi olah raga, prestasi yang tidak proporsional, dan interaksi staf, dan siswa
antar etnis dan ras adalah beberapa dari komponen budaya sekolah yang harus diteliti untuk
menciptakan budaya sekolah yang memberdayakan siswa dari beragam kelompok, ras, etnis dan
budaya.
Untuk itu, para guru yang memberikan pendidikan multibudaya harus memiliki keyakinan bahwa;
perbedaan budaya memiliki kekuatan dan nilai, sekolah harus menjadi teladan untuk ekspresi hak-
hak manusia dan penghargaan untuk perbedaan budaya dan kelompok, keadilan dan kesetaraan
sosial harus menjadi kepentingan utama dalam kurikulum, sekolah dapat menyediakan
pengetahuan, keterampilan, dan karakter ( yaitu nilai, sikap, dan komitmen ) untuk membantu siswa
dari berbagai latar belakang, sekolah bersama keluarga dan komunitas dapat menciptakan
lingkungan yang mendukung multibudaya.
Spektrum kultur masyarakat Indonesia yang amat beragam memang merupakan tantangan
tersendiri bagi dunia pendidikan untuk mengolah bagaimana ragam perbedaan tersebut justru dapat
dijadikan asset, bukan sumber perpecahan. Di era globalisasi ini pendidikan multikultural memiliki
tugas ganda, yaitu selain menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam budaya
tersebut, juga harus menyiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi arus budaya luar yang
masuk ke negeri ini.
Pendidikan multikultural juga dapat dimanfaatkan untuk membina siswa agar tidak tercerabut dari
akar budayanya, sebab pertemuan antar budaya di era globalisasi ini bisa jadi dapat menjadi
ancaman serius bagi anak didik kita. Dalam kaitan ini siswa perlu diberi penyadaran akan
pengetahuan yang beragam, sehingga mereka memiliki kompetensi yang luas akan pengetahuan
global, termasuk aspek kebudayaan.
Sampai saat ini pendidikan multicultural memang masih sebatas wacana. Praktek pendidikan
multikultural di Indonesia nampaknya tidak dapat dilaksanakan seratus persen ideal seperti di
Amerika Serikat, walaupun ditinjau dari keragaman budaya memang banyak kemiripan. Hal itu
disebabkan oleh perjalanan panjang histori penyelenggaraan pendidikan yang banyak
dilatarbelakangi oleh primordialisme. Misalnya pendirian lembaga pendidikan berdasar latar
belakang agama, daerah, perorangan maupun kelompok.
Oleh karenanya praktek pendidikan multikultural di Indonesia dapat dilaksanakan secara fleksibel
dengan mengutamakan prinsip-prinsip dasar multikultural. Apapun dan bagaimanapun bentuk dan
model pendidikan multikultural, mestinya tidak dapat lepas dari tujuan umum pendidikan
multikultural, yaitu : (1) Mengembangkan pemahaman yang mendasar tentang proses menciptakan
sistem dan menyediakan pelayan pendidikan yang setara. (2) Menghubungkan kurikulum dengan
karakter guru, pedagogi, iklim kelas, budaya sekolah dan konteks lingkungan sekolah guna
membangun suatu visi “lingkungan sekolah yang setara”
Prinsip fleksibilitas pendidikan multikultural juga disarankan oleh Gay ( 2002 ) sebagaimana dikutip
Zamroni ( 2011 : 150 ), dikatakan bahwa amat keliru kalau melaksanakan pendidikan multikultural
harus dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah atau monolitik. Sebaliknya, dia mengusulkan agar
pendidikan multikultural diperlakukan sebagai pendekatan untuk memajukan pendidikan secara utuh
dan menyeluruh. Pendidikan multikultural juga dapat diberlakukan sebagai alat bantu untuk
menjadikan warga masyarakat lebih memiliki toleran, bersifat inklusif, dan memiliki jiwa kesetaraan
dalam hidup bermasyarakat, serta senantiasa berpendirian suatu masyarakat secara keseluruhan
akan lebih baik, manakala siapa saja warga masyarakat memberikan kontribusi sesuai dengan
kemampuan dan kesempatan yang dimiliki bagi masyarakat sebagai keutuhan.
Bahkan Gay merekomendasikan agar pembelajaran perlu memberi kesempatan bagi siswa untuk
mempelajari bagaiman suatu kultur masyarakat bisa berperan dalam upaya peningkatan
kemakmuran dan kesejahteraan bagi warganya.
Dalam pandangan Zamroni ( 2011 ), pendidikan multikultural diusulkan untuk dapat dijadikan
instrument rekayasa sosial lewat pendidikan formal, artinya institusi sekolah harus berperan dalam
menanamkan kesadaran hidup dalam masyarakat multikultural dan mengembangkan sikap
tenggang rasa dan toleransi untuk mewujudkan kebutuhan serta kemampuan bekerjasama dengan
segala perbedaan yang ada.
Sekolah harus dipandang sebagai suatu masyarakat, masyarakat kecil; artinya, apa yang ada di
masyarakat harus ada pula di sekolah. Perspektif sekolah sebagai suatu masyarakat kecil ini
memiliki implikasi bahwa siswa dipandang sebagai suatu individu yang memiliki karakteristik yang
terwujud dalam bakat dan minat serta aspirasi yang menjadi hak siswa.
Pada level sekolah, dengan adanya berbagai perbedaan yang dimiliki masing-masing individu, maka
sekolah harus memperhatikan : a) setiap siswa memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda-
beda, termasuk kebutuhan personal dan sosial, b) kebutuhan vokasi dan karier, c) kebutuhan
psikologi dan perkembangan moral spiritual.
Pada level masyarakat, yang perlu dipenuhi kebutuhannya adalah mencakup : a) kebutuhan
akademik, b) kebutuhan psikologis, c) kebutuhan kebersamaan, dan d) kebutuhan rasa aman.
Pendidikan harus dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Sekolah harus dapat dijadikan tempat yang
aman, memiliki suasana kekerabatan dan juga terdapat semangat saling dukung mendukung.
Berkaitan dengan itu, maka prosses pembelajaran diarahkan pada pengembangan individu secara
utuh yang mencakup intelektual, sosial, dan moral spiritual. Tekanan dan dorongan siswa untuk
bekerja keras tidak hanya bersifat ekstrinsik, bahkan lebih dari itu harus ditekankan pada
penggunaan instrinsik motivation.
Dari perspektif hasil pembelajaran, pendidikan multikultural memiliki tiga sasaran yang
dikembangkan pada diri setiap siswa;
Pertama, pengembangan identitas kultural yakni merupakan kompetensi yang dimiliki siswa untuk
mengidentifikasi dirinya dengan suatu etnis tertentu. Kompetensi ini mencakup pengetahuan,
pemahaman dan kesadaran akan kelompok etnis dan menimbulkan kebanggaan serta percaya diri
sebagai warga kelompok etnis tertentu.
Kedua, hubungan interpersonal. Yakni, kompetensi untuk melakukan hubungan dengan kelompok
etnis lain, dengan senatiasa mendasarkan pada persamaan dan kesetaraan, serta menjauhi sifat
syakwasangka dan stereotip.
Ketiga, memberdayakan diri sendiri. Yakni suatu kemampuan untuk mengembangkan secara terus
menerus apa yang dimiliki berkaitan dengan kehidupan multikultural.
1. Kompetensi invidu untuk menerima, menghormati dan membangun kerjasama dengan siapapun
juga yang memiliki perbedaan-perbedaan dari dirinya.
2. Kompetensi kultural merupakan hasil dari kesadaran atas pengetahuan dan “bias kultural” yang
dimilikinya atau sebagai faktor yang mempengaruhi perbedaan kultur
3. Proses pengembangan komptensi kultural memerlukan pengembangan pengetahuan,
ketrampilan, sikap dan perilaku yang memungkinkan seseorang memahami dan berinteraksi
secara efisien dengan orang yang memiliki perbedaan kultur.
Berkaitan dengan kompetensi kultural dan bagaimana kompetensi tersebut dibentuk, Papadopoulos
& Lee ( 2003) mengajukan model pengembangan kompetensi kultural sebagai berikut : Kompetensi
kultural dibentuk oleh berbagai faktor: penguasaan pengetahuan, critical thingking, daya kritis,
kemampuan mengembangkan sesuatu, dan kemampuan praktis. Keempat faktor tersebut tidak
statis melainkan dinamis terus bergerak, membentuk kompetensi kultural.
Pendidikan multikultural juga sangat relevan dengan pendidikan demokrasi di masyarakat plural
seperti Indonesia, yang menekankan pada pemahaman akan multi etnis, multi ras, dan multikultur
yang memerlukan konstruksi baru atas keadilan, kesetaraan dan masyarakat yang demoktratis.
1. E. KESIMPULAN
1. Pendidikan multikultural di Indonesia masih menjadi wacana baru yang perlu direspon untuk
menjaga keutuhan bangsa yang kaya akan multi kultur.
2. Pendidikan multikultural merupakan wujud kesadaran tentang keanekaragaman kultural, hak-hak
asasi manusia serta pengurangan atau penghapusan jenis prasangka atau prejudice untuk suatu
kehidupan masyarakat yang adil dan maju. Pendidikan multikultural juga dapat dijadikan instrumen
strategis untuk mengembangkan kesadaran atas kebanggaan seseorang terhadap bangsanya.
3. Dalam menghadapi pluralisme budaya, diperlukan paradigma baru yang lebih toleran dan elegan
untuk mencegah dan memecahkan masalah benturan-benturan budaya tersebut, yaitu perlunya
dilaksanakan pendidikan multicultural.
4. Oleh karenanya praktek pendidikan multikultural di Indonesia dapat dilaksanakan secara fleksibel
dengan mengutamakan prinsip-prinsip dasar multikultural.
5. Pendidikan multikultural juga sangat relevan dengan pendidikan demokrasi di masyarakat plural
seperti Indonesia, yang menekankan pada pemahaman akan multi etnis, multi ras, dan multikultur
yang memerlukan konstruksi baru atas keadilan, kesetaraan dan masyarakat yang demoktratis.
DAFTAR PUSTAKA
Banks, James A. (ed.). 1989. Multicultural Education: Issues and Perspectives. Boston-London:
Allyn and Bacon Press.
Banks, James A. 1993. Teaching strategies for ethnic studies. Boston: Allyn and Bacon Inc.
Banks, James A. 2002. An introduction to Multicultural Education, Boston-London: Allyn and Bacon
Press.
Banks, James A. 2007. Educating citizens in multicultural society. Second edition. New York:
Teachers College Columbia University.
Djohar. 2003. Pendidikan Strategik, Alternatif untuk Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta : LESFI
Hernandez, Hilda. 1989. Multicultural Education: A teacher Guide to linking Context, Process, and
Content,New Jersy & Ohio : Prentice Hall
Mahfud, Choirul. 2008. Pendidikan Multikultura, Yogyakarta : Pustaka Pelajar
M. Ainul Yaqin. 2005. Pendidikan multikultural: cross-cultural understanding untuk demokrasi dan
keadilan. Yogyakarta: Pilar Media.
Tilaar, H.A.R. 2002. Pendidikan, kebudayaan dan masyarakat madani Indonesia. Jakarta: Remaja
Rosdakarya.
Zamroni. (2010a). The implementation of multicultural education. A reader. Yogyakarta: Graduate
Program The State University of Yogyakarta.
Zamroni. (2010b). A conception frame-work of multicultural teachers education. A reader.
Yogyakarta: Graduate Program The State University of Yogyakarta.
Zamroni, 2011. Pendidikan Demokrasi pada Masyarakat Multikultural. Yogyakarta: Gavin Kalam
Utama