BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Dasar Teori
II.1.1 Wortel (Daucus carota L.)
Menurut Berlian Nur et al. (2003), tanaman wortel dalam tata
nama atau sistematika (Taksonomi) tumbuh-tumbuhan, wortel diklasifikasi
sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Umbilleferales
Famili : Umbilleferae
Genus : Daucus
Spesies : Daucus carota L. Daucus carota L.
Tanaman wortel (Daucus carrota L) memiliki kandungan gizi yang
banyak diperlukan oleh tubuh terutama sebagai sumber vitamin A.
Umbi wortel banyak mengandung vitamin A yang disebabkan oleh
tingginya kandungan karoten yakni suatu senyawa kimia pembentuk
vitamin A.
Wortel segar mengandung air, protein, karbohidrat, lemak, serat,
abu, zat anti kanker (alkaloid, flavonoid), gula alamiah (fruktosa, sukrosa,
dektrosa, laktosa, dan maltosa), pektin, glutanion, mineral (kalsium, fosfor,
besi, kalium, natrium, magnesium, kromium), vitamin (beta karoten, B1,
dan C), asam lemak tak jenuh ganda serta asparagine (Dalimartha, 2006).
Wortel merupakan salah satu komoditas hortikultura yang berasal
dari kelompok sayuran yang memiliki potensi sebagai sumber vitamin A,
senyawa ini pula yang membuat umbi wortel berwarna kuning kemerahan.
Selain vitamin A, wortel memiliki kandungan gizi yang lain.
Berdasarkan angka yang tercantum dalam daftar komposisi bahan
makanan yang di susun Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI.
Kandungan gizi wortel tertera pada tabel berikut :
4
5
Tabel 1. Komposisi Kimia Wortel
Soewito (1989) menyatakan bahwa wortel mengandung provitamin
A yaitu karoten yang dapat mencegah penyakit rabun senja, diare, dan
mengandung enzim pencernaan yang bersifat diuretik. Selain itu β-karoten
(provitamin A) juga memegang peranan penting dalam kesuburan
(fertilitas), menghadang laju kolesterol darah dan pencegahan kanker
(Linder, 1985).
Pigmen pada wortel yang memiliki potensi sebagai sumber vitamin
A adalah karoten (α-, β-, γ-karoten). Karoten pada wortel tersebar di
seluruh sitoplasma sel dan terdapat dalam tiga bentuk, yakni: (1)
membentuk ikatan dengan protein; (2) membentuk kompleks dengan butir-
butir pati; (3) sebagai caroten bodies (Paul dan Palmer, 1972).
II.1.2 β-karoten
Istilah karoten digunakan untuk menunjuk ke beberapa senyawa
yang berhubungan yang memiliki formula C40H56. Karotenoid terdapat
di dalam kloroplas tanaman dan berperan sebagai katalisator dalam
fotosintesis yang dilakukan oleh klorofil. Oleh karena itu karoten paling
banyak terdapat dalam sayuran berwarna hijau tua. Secara kimia, karoten
adalah terpena, disintesis secara biokimia dari delapan satuan isoprena.
6
Di antara ratusan karetenoid yang terdapat di alam, hanya alfa, beta,
dan gama serta krirtosntin yang berperan sebagai provitamin A. β-
karoten adalah bentuk provitamin A paling aktif yang terdiri atas 2
molekul retinol yang saling berkaitan (Amatsier, 2001).
β-karoten sebagaimana karotenoid lain di alam sebagian besar
berupa hidrokarbon yang larut dalam air dan lemak serta berikatan dengan
senyawa yang strukturnya menyerupai lemak. Adanya struktur ikatan
rangkap pada molekul β-karoten (11 ikatan rangkap pada 1 molekul
beta karoten) menyebabkan bahan ini mudah teroksidasi ketika terkena
udara. Oksidasi karotenoid akan lebih cepat dengan adanya sinar dan
katalis logam, khususnya tembaga, besi dan mangan (Masni, 2004). Secara
umum karotenoid mempunyai sifat fisik dan kimia yaitu larut dalam
lemak, larut dalam kloroform, pewarna, karbon disulfida, petroleum
eter, sukar larut dalam alkohol, sensitif terhadap oksidasi, stabil
terhadap panas di dalam udara bebas oksigen kecuali untuk beberapa
perubahan stereo isometric (Surfiana, 2002).
Menurut Amatsier (2001), fungsi β-karoten tersebut adalah :
1. Sebagai prekusor vitamin A yang secara enzimatis berubah menjadi
retinol, zat aktif vitamin A dalam tubuh. Dilaporkan konsumsi vitamin
A yang selalu cukup dalam jangka waktu beberapa tahun, di dalam hati
akan tertimbun cadangan vitamin A yang dapat memenuhi
kebutuhan sampai sekitar tiga bulan tanpa konsumsi vitamin A dari
makanan. Vitamin A sangat berperan dalam proses pertumbuhan,
reproduksi, penglihatan, serta pemeliharaan sel-sel epitel pada mata.
Vitamin A juga sangat penting dalam meningkatkan daya tahan
dan kekebalan tubuh terhadap serangan penyakit.
7
2. Sebagai anti-oksidan yang kuat untuk menetralisir keganasan
radikal bebas, penyebab penuaan dini dan pencetus aneka peyakit
degenerative seperti kanker dan penyakit jantung.
3. Menghaluskan kulit dan menyehatkan mata. Hal ini sangat penting
terutama bagi wanita yang ingin berkulit halus dan memiliki
kecantikan alami.
II.1.3 Stabilitas β-karoten
Beberapa macam kerusakan karotenoid yang mungkin terjadi:
1. Kerusakan pada suhu tinggi
Karotenoid akan mengalami kerusakan pada suhu tinggi melalui
degradasi thermal sehingga terjadi dekomposisi karotenoid yang
mengakibatkan turunnya intensitas warna karoten atau terjadi
pemucatan warna. Hal ini terjadi dalam kondisi oksidatif (Eskin, 1979).
Suhu pengeringan 60⁰C dapat mempertahankan asam askorbat dan
rehidrasi wortel kering, sedangkan suhu pengeringan 45 ⁰C baik
untuk mempertahankan kandungan karoten dan warna wortel kering
(Mohamed et al. 1994).
2. Oksidasi
Oksidasi dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu oksidasi enzimatis
dan oksidasi non enzimatis. Oksidasi enzimatis dikatalis oleh enzim
lipoksigenase. Hasil proses oksidasi ini berupa hidroksi beta karoten,
semi karoten, beta karotenon, aldehid, dan hidroksi beta neokaroten
yang menyebabkan penyimpangan cita rasa (Eskin, 1979).
II.1.4 Serbuk
Serbuk adalah campuran homogen dua atau lebih obat yang
diserbukkan. Pada pembuatan serbuk kasar, terutama serbuk nabati, digerus
terlebih dahulu sampai derajat halus tertentu setelah itu dikeringkan pada
suhu tidak lebih 50○C. Serbuk obat yang mengandung bagian yang mudah
menguap dikeringkan dengan pertolongan bahan pengering yang cocok,
setelah itu diserbuk dengan jalan digiling, ditumbuk dan digerus sampai
diperoleh serbuk yang mempunyai derajat halus serbuk (Anief, 2000).
8
II.1.5 Serbuk Effervescemt
Serbuk effervescent adalah serbuk yang mengandung unsur
obat dalam campuran yang kering, biasanya terdiri dari natrium
bikarbonat, asam sitrat, dan asam tartrat, yang jika ditambah dengan
air maka asam dan basanya bereaksi membebaskan karbondioksida
sehingga menghasilkan gelembung gas yang menimbulkan efek
menyegarkan di sediaan serbuk effervescent. Pembuatan sediaan
effervescent, biasanya dibuat dalam bentuk granul atau partikel kasar,
sehingga dalam pembuatan serbuk effervescent dibuat granul agar tidak
cepat lembek (Ansel, 1989).
Dalam pembuatan sediaan effervescent biasanya ditambahkan
dua jenis asam yaitu asam sitrat dan asam tartrat, jika hanya
digunakan asam sitrat saja maka menghasilkan campuran yang lengket
dan granul akan sulit terbentuk dan jika hanya ditambahkan asam tartrat
saja maka granul yang dihasilkan akan mudah rapuh (Ansel, 1989).
II.2 Studi Preformulasi Zat Aktif
-Nama Resmi : Beta Carotene
-Nama Lain : Betacarotene; b-carotene; b,b-carotene; E160a.
-Rumus Molekul : C40H56
-Berat Molekul : 536,85 g/mol
-Rumus Struktur :
-Kelarutan : larut 1 dalam 30 bagian kloroform; praktis tidak
larut dalam etanol, gliserin, dan air (HOPE:
193)
-pKa :-
-Ukuran Partikel :-
-Inkompatibilitas : Terhadap agen pengoksidasi (HOPE: 193)
-Stabilitas : Beta-karoten sangat rentan terhadap oksidasi
dan antioksidan seperti asam askorbat, natrium
9
askorbat, atau tokoferol harus ditambahkan.
Penyimpanan terlindung dari cahaya pada suhu
rendah (-20oC) dalam wadah tertutup di bawah
nitrogen (HOPE: 193).
-Koefisien Partisi : -
-Dosis : Kadar β-karoten yang dikonsumsi oleh tubuh
normal sebesar 3-6 mg per hari (Adelina, 2013).
-Efek Farmakologi : β-karoten adalah pro-vitamin A yang digunakan
dalam tubuh untuk berbagai keperluan seperti
pertumbuhan, mencegah kebutaan, untuk
reproduksi pemeliharaan sel epitel, dan
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap
berbagai macam penyakit. karoten berfungsi
sebagai antioksidan dan itu sangat baik untuk
kesehatan kulit (Khomsan dkk, 2008).
-Penyimpanan : Simpan di wadah tertutup rapat, di tempat yang
sejuk berventilasi baik.
II.3 Analisis Permasalahan
- Wortel mengandung provitamin A yaitu β-karoten yang dapat
mencegah penyakit rabun senja, diare, dan mengandung enzim
pencernaan yang bersifat diuretik. Tubuh akan mengkonversi β-karoten
menjadi vitamin A dalam jumlah secukupnya saja dan selebihnya akan
tetap tersimpan sebagai β-karoten yang berfungsi sebagai antioksidan
(Linder, 1985).
- Ditinjau dari pemberian zat aktif berupa wortel, sehingga dibuat sediaan
granul effervescent, karena Effervescent merupakan salah satu alternatif
yang dapat dipilih dalam pengolahan wortel karena praktis, cepat larut
dalam air, memberikan larutan yang jernih, dan memberikan efek yang
menyegarkan. Menurut Siregar dan wiharsa (2010) keuntungan lain
sediaan effervescent yaitu selain memberi cita rasa menyenangkan
karena membantu menutupi rasa zat aktif yang tidak menyenangkan,
10
dapat dikemas secara individual untuk mencegah masuknya
kelembaban sehingga masalah ketidakstabilan kandungan selama
penyimpanan, dapat diberikan kepada pasien yang sulit menelan
tablet/kaspul (setelah dilarutkan terlebih dahulu dalam air minum), zat
aktif yang tidak stabil apabila disimpan dalam larutan cair akan lebih
stabil dalam tablet/ serbuk effervescent.
- Bentuk sediaan granul effervescent lebih disukai masyarakat karena
selain penyiapannya yang mudah juga mempunyai warna dan rasa yang
enak. Granul effervescent memiliki keunggulan lebih stabil secara fisik
dan kimia serta tidak segera menggumpal atau mengeras bila dibanding
dengan sediaan serbuk (Faradiba & Nursiah, 2013).
- Kekuatan sediaan serbuk effervescent ini adalah 0,4 g / 4 g. Menurut
Adelina (2013), rata-rata β-karoten tertinggi pada kelompok wortel
mentah sebesar 7,63 μg/g, dan kadar β-karoten yang dikonsumsi oleh
tubuh secara normal sebesar 3-6 mg per hari. Maka untuk memenuhi
kebutuhan 3 mg β-karoten per hari setara dengan mengkonsumsi
sebanyak 0,4 g ekstrak sari wortel.
- Bobot sediaan effervescent wortel ini adalah sebanyak 4 gram, karena
ditinjau dari berbagai sediaan serbuk effervescent yang beredar di
pasaran rata-rata memiliki bobot sebanyak 4 gram.
- Dalam 1 batch produk sediaan ini berisi 4 sachet serbuk effervescent
wortel, dengan aturan pakai 2 sachet per hari. Karena menurut Adelina
(2013) kadar β-karoten yang dikonsumsi oleh tubuh secara normal
sebesar 3-6 mg per hari.
- Dalam formulasi sediaan effervescent ini diperlukan penambahan zat
tambahan berupa campuran natrium bikarbonat dan kombinasi asam
sitrat dan asam tartrat. Bila ditambah air, asam dan basanya bereaksi
membebaskan karbondioksida sehingga menghasilkan buih. Menurut
Ansel (1989), sediaan effervescent biasanya diolah dari suatu
kombinasi asam sitrat dan asam tartrat daripada hanya satu macam
asam saja, karena penggunaan bahan asam tunggal saja akan
11
menimbulkan kesukaran. Apabila asam tartrat sebagai asam tunggal,
serbuk yang dihasilkan akan mudah kehilangan kekuatannya dan akan
menggumpal. Asam sitrat saja akan menghasilkan campuran lekat dan
sukar menjadi serbuk.
- Pembuatan sediaan effervescent ini menggunakan metode granulasi
basah karena dapat meningkatkan daya ikat serbuk melalui penambahan
larutan pengikat sehingga sebuk bersifat menyatu satu sama lain, dapat
meningkatkan laju alir partikel obat berdosis besar, mendapatkan
keseragaman kandungan partikel obat dan distribusi warna yang baik,
memudahkan penanganan massa serbuk tanpa menyebabkan
kontaminasi udara (Bandelin, 1992).
- Bahan pengikat yang digunakan adalah PVP K25 dengan konsentrasi
3%. Menurut Voight (1994), PVP mudah larut dalam air, dpat
meningkatkan kelarutan bahan obat dalam air dan tidak meninggalkan
residu. Polivinil Pirolidon dalam kelarutan dengan konsentrasi 0,5-3%
dapat sekaligus meningkatkan kelarutan granul. Menurut Kibbe (2009),
pada penelitian yang dilakukan oleh Yulaikhah (2009), PVP pada kadar
3% merupakan formula yang paling baik.
- Bahan pemanis yang digunakan adalah aspartam dengan konsentrasi
sebesar 0,75%. Karena menurut Gozali (2016) penambahan aspartam
sebagai bahan pemanis dengan konsentrasi 0,75% lebih baik rasanya
dibandingkan dengan konsentrasi 0,5% dan 1%.
- Bahan pengawet yang digunakan adalah Natrium Benzoat dengan
konsentrasi 0,02%. Menurut Saputro (2008), sesuai dengan ketentuan
pada Depkes RI, pengawet dikatakan efektif bila jumlah kapang dan
khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari
jumlah awal (hari ke-0) dan jumlah tiap mikroba uji selama hari tersisa
dari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang dibandingkan dengan
hari ke 14. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa konsentrasi minimal
yang masih dapat menghambat pertumbuhan kapang pada penambahan
0,02% natrium benzoat.
12
- Bahan pengisi yang digunakan adalah maltodekstrin. Menurut Hui
(1992), maltodekstrin adalah bahan pengisi yang sering digunakan
dalam pembuatan makanan yang dikeringkan. Maltodekstrin dapat
digunakan pada makanan karena maltodekstrin memiliki kelebihan-
kelebihan seperti mampu melewati proses dispersi yang cepat. memiliki
daya larut yang tinggi, mampu membentuk film, memiliki sifat
higroskopis yang rendah dan mampu menghambat kristalisasi.