1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kopi (coffea sp) merupakan suatu jenis tanaman tropis. Kopi juga
merupakan minuman yang tidak mengandung alkohol dan memiliki kafein. Banyak
manfaat yang didapatkan dari mengkonsumsi kopi, diantaranya kafein yang
terkandung didalamnya dapat meningkatkan laju metabolisme tubuh. Bagi sebagian
orang dengan rutinitas yang mengharuskan mereka untuk beraktivitas dimalam hari,
kopi bisa menjadi alternatif minuman yang baik karena kandungan kafein yang
dimilikinya dapat mengatasi rasa kantuk. Kopi juga mempunyai sifat sebagai anti
bakteri yang baik hingga memungkinkan untuk menyembuhkan berbagai masalah
yang berkaitan dengan kesehatan (Panggabean, 2012).
Kopi dikenal dua jenis, yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Kadar kafein
pada kopi robusta sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kopi arabika. Di
Indonesia kopi robusta yang paling banyak diproduksi yaitu mencapai 87,1% dari
total produksi kopi diIndonesia. Di Indonesia kopi diperdagangkan dalam bentuk
kopi biji, kopi sangrai, kopi bubuk, kopi instan, dan bahan makanan lainnya yang
mengandung kopi (Aak, 2002).
Kopi merupakan tanaman tahunan yang bisa mencapai umur produktif selama
20 tahun. Secara umum tanaman kopi yang sering di budidayakan di dunia dikenal 4
jenis kopi yaitu Kopi Arabika (Coffee Arabica), Kopi Liberika (Coffee Liberica),
Kopi Robusta (Coffee Cannephora), Kopi Excelsa (Coffee Dewevrei). Diantara
keempat ini yang merupakan kopi terbaik adalah kopi Liberika. Kopi Arabika
2
merupakan kopi tradisional yang rasanya dianggap paling enak oleh para penikmat
kopi (Morganelli.2006).
Keberadaan dan pengembangan tanaman kopi saat ini dan masa mendatang
akan dihadapkan kepada berbagai kendala, diantaranya masalah serangan organisme
pengganggu tanaman hingga biofisik terutama ancaman perubahan iklim yang
disebabkan oleh pemanasan global akibat peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK).
Upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap tanaman kopi perlu
dikembangkan sistem budidaya tanaman kopi yang toleran (resilience) terhadap
variabilitas dan perubahan iklim saat ini dan di masa yang akan datang. Teknologi
inovatif dan adaptif tersebut salah satunya adalah dengan pemangkasan
(Supriadi, 2014).
Pemangkasan merupakan salah satu kegiatan penting dalam budidaya
tanaman kopi. Pemangkasan dapat meningkatkan produksi kopi per tanaman jika
dilakukan secara teratur dan terarah dengan pedoman yang telah ditetapkan. Tujuan
dari pemangkasan adalah untuk menghasilkan cabang tanaman baru yang lebih
banyak dan mempermudah tanaman dalam mendapatkan sinar matahari sebagai unsur
pembentuk bunga. Selain itu, pemangkasan tanaman kopi juga berguna untuk
menghilangkan cabang-cabang tua atau berpenyakit serta memperbaiki sirkulasi
udara di dalam kebun (Fontena et al., 2014).
3
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui Hama Kutu Daun
(Aphis gossypii) Dan Teknik Pengendalian.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
dapat memenuhi komponen penilaian di Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman
SUB-HAMA Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera
Utara, dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang membutuhkan.
4
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Kopi (Coffea)
termasuk dalam Kingdom: Plantae, Sub kingdom Tracheobionta, Super
divisi Spermatophyta, Divisi Magnoliophyta, Class Magnoliopsida/Dicotyledons,
Sub class Asteridae, Ordo Rubiales, Famili Rubiaceae, Genus Coffea, Spesies
Coffea arabica L (USDA, 2002).
Secara alami, tanaman kopi memiliki akar tunggang sehingga tidak mudah
rebah. Namun, akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang berasal
dari bibit semai atau bibit sambung (okulasi) yang batang bawahnya berasal dari bibit
semai. Sementara tanaman kopi yang berasal dari bibit setek, cangkok, atau okulasi
yang batang bawahnya berasal dari bibit setek tidak memiliki akar tunggang sehingga
relatife mudah rebah (AAK, 1988).
Batang dan cabang kopi berkayu, tegak lurus dan beruas-ruas. Tiap ruas
hampir selalu ditumbuhi kuncup. Tanaman ini mempunyai dua macam pertumbuhan
cabang, yaitu cabang Orthrotrop dan Plagiotrop. Cabang Orthrotrop merupakan
cabang yang tumbuh tegak seperti batang, disebut juga tunas air atau wiwilan atau
cabang air. Cabang ini tidak menghasilkan bunga atau buah. Cabang Plagiotrop
merupakan cabang yang tumbuh ke samping. Cabang ini menghasilkan bunga dan
buah (AAK, 2008).
Pada umumnya, tanaman kopi berbunga setelah berumur sekitar dua tahun.
Bunga kopi berukuran kecil. Mahkota berwarna putih dan berbau harum. Kelopak
bunga berwarna hijau. Bunga tersusun dalam kelompok, masing-masing terdiri dari
4-6 kuntum bunga. Tanaman kopi yang sudah cukup dewasa dan dipelihara dengan
baik dapat menghasilkan ribuan bunga. Bila bunga sudah dewasa, kelopak dan
mahkota akan membuka, kemudian segera terjadi penyerbukan. Setelah itu bunga
akan berkembang menjadi buah (AAK, 1988).
Daun kopi berbentuk bulat, ujungnya agak meruncing sampai bulat dengan
bagian pinggir yang bergelombang. Daun tumbuh pada batang, cabang dan ranting.
Pada cabang Orthrotrop letak daun berselang seling, sedangkan pada cabang
Plagiotrop terletak pada satu bidang. Daun kopi robusta ukurannya lebih besar dari
arabika (Wachjar, 2004).
5
Buah kopi terdiri dari daging buah dan biji. Daging buah terdiri dari tiga
bagian yaitu lapisan kulit luar (eksokarp), lapisan daging buah (mesokarp), dan
lapisan kulit tanduk (endokarp) yang tipis, tetapi keras. Buah kopi yang muda
berwarna hijau, tetapi setelah tua menjadi kuning dan kalau masak warnanya menjadi
merah (Gambar 2). Besar buah kira-kira 1,5 x 1 cm dan bertangkai pendek. Pada
umumnya buah kopi mengandung dua butir biji, biji tersebut mempunyai dua bidang,
bidang yang datar (perut) dan bidang yang cembung (punggung). Tetapi ada kalanya
hanya ada satu butir biji yang bentuknya bulat panjang yang disebut kopi "lanang".
Kadang- kadang ada yang hampa, sebaliknya ada pula yang berbiji 3-4 butir yang
disebut polysperma (AAK, 2003).
Biji kopi kering mempunyai komposisi sebagai berikut: air 12%,
protein13%,lemak 12%, gula 9%, caffeine 1-1,5% (arabika), 2-2,5% (robusta),
caffetanic acid9%, cellulose dan sejenisnya 35%, abu 4%, zat-zat lainnya yang larut
dalam air 5%(Wachjar, 1984). Biji kopi secara alami mengandung cukup banyak
senyawa calonpembentuk citarasa dan aroma khas kopi antara lain asam amino dan
gula (PPKKI,2006).
Syarat Tumbuh
Pertumbuhan dan produksi tanaman kopi sangat dipengaruhi oleh keadaan
iklim dan tanah, bibit unggul yang produksinya tinggi dan tahan terhadap hama dan
penyakit. Hal yang juga penting harus dipenuhi adalah pemeliharaan antara lain:
pemupukan, pemangkasan, pohon peneduh dan pemberantasan hama dan penyakit
(AAK, 1988).
Faktor-faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan kopi yang terpenting
adalah distribusi curah hujan. Kopi memerlukan tiga bulan kering berturut-turut yang
kemudian diikuti curah hujan yang cukup. Masa kering ini diperlukan untuk
pembentukan primordia bunga, florasi dan penyerbukan, terutama lebih penting bagi
kopi robusta. Jumlah curah hujan yang optimal bagi pertumbuhan kopi adalah 2000-
6
3000 mm per tahun. Daerah kopi terbaik di Brasil mempunyai curah hujan 1778-2032
mm per tahun, dengan curah hujan 127-152,4 mm selama tiga bulan yang terkering.
Kopi arabika walaupun tidak memerlukan bulan kering seperti robusta, tetapi dapat
tahan terhadap masa kering yang berat. Hal ini disebabkan karena kopi arabika
ditanam pada elevasi tinggi yang dingin dan relatif lebih lembab serta akarnya yang
lebih dalam dari pada robusta (Wachjar, 1984).
Setiap jenis kopi menghendaki suhu atau ketinggian tempat yang
[Link], kopi robusta dapat tumbuh optimum pada ketinggian 400-700 m
dpl dengan temperatur rata-rata tahunan 20°-24°C, tetapi beberapa diantaranya juga
masih tumbuh baik dan ekonomis pada ketinggian 0-1000 m dpl. Kopi arabika
menghendaki ketinggian tempat antara 500 - 1700 m dpl dengan temperatur rata-rata
tahunan 17°-21°C. Bila kopi arabika ditanam di dataran rendah (kurang dari 500
mpl), biasanya produksi dan mutunya rendah serta mudah terserang penyakit karat
daun yang disebabkan oleh cendawan Hemmileia vastatrix (HV) (AAK, 1988).
Tanaman kopi menghendaki penyinaran matahari yang cukup panjang, akan
tetapi cahaya matahari yang terlalu tinggi kurang baik. Oleh karena itu dalam praktek
kebun kopi diberi naungan dengan tujuan agar intensitas cahaya matahari tidak terlalu
kuat. Sebaliknya naungan yang terlalu berat (lebat) akan mengurangi pembuahan
pada kopi. Produksi kopi dengan naungan sedang, akan lebih tinggi dari pada kopi
tanpa naungan. Kopi termasuk tanaman hari pendek (short day plant), yaitu
pembungaan terjadi bila siang hari kurang dari 12 jam (Wachjar, 1984).
7
HAMA KUTU DAUN (Aphis gossypii) PADA TANAMAN KOPI (coffea) DAN
TEKNIK PENGENDALIAN
Biologi Kutu Daun (Aphis gossypii)
Klasifikasi dari kutu daun
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insekta
Ordo : Hemiptera
Famili : Aphididae
Genus : Aphis
Spesies : Aphis gossypii
Kutu Aphis berukuran 0,8 mm. Distribusinya berupa kosmopolit.
Perkembangannya secara parthenogenesis (tanpa kawin dulu). Hama ini berbentuk
seperti pear, warnanya bervariasi dari hijau muda sampai hitam dan kuning.
Mempunyai kornikel pada bagian ujung abdomen. Imago dapat hidup selama 28 hari.
Satu ekor imago betina dapat menghasilkan 2-35 nimfa/hari. Siklus hidup dari nimfa
sampai imago 5-7 hari. Selama satu tahun dapat menghasilkan 16-47 generasi.
Menurut Hochberg & Ives (2000) konservasi agen-agen biologi kontrol pada
tanaman pangan monokultur semusim sulit dilakukan, karena lingkungan habitat
musuh alami seperti predator terganggu. Perubahan pola tanam dengan pertanian
organik dapat membantu konservasi musuh alami. Faktor yang mempengaruhi
perkembangan populasi Kutu daun adalah keberadaan musuh alami seperti predator,
parasitoid dan entomopatogen. Sebaiknya mempertahankan musuh alami kutu daun
diperantarai dengan cara memanipulasi habitat sekitar tanaman budidaya.
Keanekaragam tumbuhan yang berada di sekitar tanaman budidaya mempengaruhi
kehadiran predator dan parasitoid kutu daun.
8
Tanaman yang diserang/inang:Hama bersifat polifag, artinya dapat
menyerang banyak tanaman baik tanaman perkebunan, tanaman pangan dan
[Link] tanaman sayuran seperti asparagus, mentimun, terung, tomat, cabai,
bayam, papaya, semangka, kacang panjang, katuk, selada dll.
Warna kutu daun (A. gossypii) hijau tua sampai hitam atau kuning coklat.
Umumnya aphids tidak bersayap, tetapi kadang yang dewasa mempunyai sayap
transparan (tembus cahaya). Kutu daun (A. gossypii) biasa menularkan penyakit pada
tanaman. Di dataran rendah tropis, perkembangan kutu daun sangat subur, terutama
pada waktu permulaan musim kemarau. Tunas-tunas muda pun banyak
dikerumuni [Link] mengeluarkan kotoran embun madu sehingga mengundang
cendawan jelaga, kutu daun juga mengekskresikan embun madu. Adanya embun
madu yang dikeluarkan dapat dilihat dengan terdapatnya semut atau embun jelaga
yang berwarna hitam. Munculnya embun jelaga ini menyebabkan permukaan daun
tertutupi sehingga akan menghambat proses fotosintesis.
Siklus hidup kutu daun dimulai dari telur yang menetas pada umur 3 sd 4
hari setelah diletakan. Telur menetas menjadi larva dan hidup selama 14 s.d 18 hari
dan berubah menjadi imago. Imago kutu daun mulai bereproduksi pada umur 5 sd 6
hari pasca perubahan dari larva menjadi imago. Imago kutu daun dapat bertelur
sampai 73 telur selama hidupnya
Gejala serangan
Serangan berat biasanya terjadi pada musim kemarau. Bagian tanaman yang
diserang oleh nimfa dan imago biasanya pucuk tanaman dan daun muda. Daun yang
diserang akan mengkerut, pucuk mengeriting dan melingkar sehingga pertumbuhan
tanaman terhambat atau tanaman kerdil. Hama ini juga mengeluarkan cairan manis
seperti madu sehingga menarik datangnya semut yang menyebabkan adanya
cendawan jelaga berwarna hitam. Adanya cendawan pada buah dapat menurunkan
kualitas buah. Aphid juga dapat berperan sebagai vektor virus penyakit tanaman
seperti Papaya Ringspot Virus, Watermelon Mosaic Virus , Cucumber Mosaic Virus
(CMV)
9
Cara Pengendalian
Pengendalian dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a) Mengatur waktu tanam.
b) Pergiliran tanaman.
c) Mengurangi pemupukan N.
d) Penggunaan musuh alami seperti parasitoid Aphelinus gossypi (Timberlake),
Lysiphlebus testaceipes (Cresson). Predator CoccinellaNeozygites fresenii, Beuferia
bassiana.
e) Dengan insektisida kimia yang berbahan aktif antara lain monokrotophos,
profenofos, methidathion,malathion,phosphamidon dll secara spot spray pada tunas-
tunas yang terserang. Pengendalian dilakukan segera setelah koloni kutu terlihat.
f) Dengan insektisida nabati seperti tembakau, transversalis dan Cendawan
entomopatogen berenuk (Crescentia cujete L.), gadung (Dioscorea hispida Dennst,
daun mindi (Melia azedarah L.), daun srikaya (Annona squamosa), daun suren
(Toona sureni Merr), buah/daun picung (Pangium edule).
Pengendalian dengan insektisida baik kimia maupun nabati dilakukan setelah
populasi hama berada atau di atas ambang kendali, agar pembasmiannya
tidakberlebihan dan tepat sasaran. Ambang ekonomi kutu lebih besar dari 10 %
tanaman dijumpai koloni kutu (setiap koloni sekitar 50 ekor kutu). Pada semua
tanaman sayuran penggunaan insektisida kimia sebaiknya dihindari, karena umumnya
tanaman sayuran dikonsumsi langsung
Faktor Yang Mempengaruhi Hama Kutu Daun (Aphis gossypii)
Hufbauer (2002) menyatakan faktor yang mempengaruhi perkembangan
populasi A. gossypii adalah keberadaan musuh alami seperti predator, parasitoid dan
entomopatogen. Sebaiknya mempertahankan musuh alami A. gossypii diperantarai
dengan cara memanipulasi habitat sekitar tanaman budidaya. Keanekaragam
tumbuhan yang berada di sekitar tanaman budidaya mempengaruhi kehadiran
predator dan parasitoid kutudaun (Brewer & Elliot, 2004).
10
KESIMPULAN
Populasi kutu tempurung (C. viridis) lebih banyak dijumpai dibandingkan
kutudaun (A. gossypii), di pembibitan kopi arabika yaitu sebanyak
81,23%.Kopivarietas Kartika merupakan varietas yang paling disukai oleh kutu
tempurung (C. viridis), sedangkan varietas yang paling sedikit populasi serangannya
ialah kopi arabikaS795. Perkembangan populasi kutu tempurungmembentuk garis
lurus dengan persamaan regresi Y1 = -11+17X1 pada varietas Sigarar utang; Y2 =
28+37X1 pada varietas Kartika; dan Y3 = 43+51X1 pada varietas S795, ketiga garis
regresi tersebut sejajar. Kutudaun (A. gossypii) juga menunjukkan bahwa varietas
benih kopi arabika jenis Kartika yang paling banyak diserang oleh
kutudaun,sementara varietas yang paling sedikit populasi serangannya ialah kopi
arabika jenis Sigarar Utang. Perkembangan populasi kutudaun membentuk dua buah
garis yang bertemu di satu titik dan sebuah garis lurus dengan persamaan regresi Y1
= 18+15,62X1 pada varietas Sigarar Utang; Y2 = 63+31X1 pada varietas Kartika;
dan Y3 = 51+47X1 pada varietas S795.
11
DAFTAR ISI
AFSHARI, A., N.E. SOLEIMAN, and P. SHISHEBOR. 2009. Population density
and spatial distribution of Aphis
gossypii glover (Homoptera : Aphididae) on cotton in Gorgan, Iran. Journal
Agriculture Science Technology. 11: 27-38.
ALNOPRI. 2004. Variabilitas genetik dan heritabilitas sifat-sifat pertumbuhan bibit
tujuh genotipe kopi robusta-arabika. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian
Indonesia.6: 13-18.
BLACKMAN, R.L. and V.F. EASTOP. 2000. Aphids on The World’s Crop : An
Identification and Information Guide 2nded. Wiley, Chichester. 181-185.
DIEZ, J.M. 2007. Extension Entomologi. Hawaii :
Department of Entomology Honolulu. 34-37.
HARA., H. ARNOLD., Y.A. LEMAR., A. JULIANA., JANG. B., ERIC,
MOY., H. JAMES. 2000. Irradiation as a possible quarantine treatment for green
scale, Coccus viridis (Homoptera: Coccidae). Journal Postharvest Biology
and Technology. 25: 349-358.
HULUPI, R. 2003. Laporan Evaluasi Sigarar Utang dan Seleksi Penetapan Sumber
Benih. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Jember. 26-33.
HULUPI, R. dan A. SIPAYUNG. 2005. Varietas kopi arabika dari Sumatera Utara
“Sigarar Utang”. Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. 21(2): 9-21.
JURANDIR, Z., H. PINTO., A.D. EDUARDO., H.M. ANA. 2011. Potential for
growing arabica coffee in the extreme south of Brazil in a warmer world. Climatic
Change Journal. 109: 535-548.