2.
Serangga Hama Gudang
Kerusakan bahan pakan akibat serangan serangga merupakan kasus yang paling sering
terjadi. Serangga mengambil dan memakan zat makanan dari bahan baku dan menyebabkan
kerusakan lapisan pelindung bahan. Selain kerusakan secara fisik, karena sifat serangga yang
suka bermigrasi, serangga juga dapat memindahkan spora jamur perusak bahan pakan dan
membuka jalan bagi kontaminasi jamur atau kapang yang menghasilkan mikotoksin. Serangga
perusak bahan pakan antara lain ngengat, penggerek dan kumbang.
2.1. Siklus Hidup Serangga
Serangga hama gudang mempunyai 4 tanda spesifik yaitu: tubuhnya terdiri adari 3
bagian (kepala, dada, perut); tubuh tertutup kulit luar; serangga dewasa mempunyai 3 pasang
kaki dan mengalami perubahan bentuk (metamorfosis).
Gambar 1. Morfologi eksternal serangga Coleoptera
Siklus hidup serangga melalui beberapa tahapan perubahan bentuk baik secara sempurna
maupun tidak sempurna. Proses perubahan bentuk (metamorfosis) sempurna melalui tahapan:
telur menetas menjadi ulat (larva) kemudian menjadi kepompong (pupa) dan serangga dewasa
(imago). Proses metamorfosis tidak sempurna (gradual) terjadi jika telur yang menetas
menyerupai bentuk serangga dewasa dan tumbuh tanpa melalui tahap pupa (kepompong).
2.1.2. Ekologi serangga hama gudang
Terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi komoditas di saat penyimpanan, adalah
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, adalah faktor yang berasal dari bahannya
sendiri dan berhubungan dengan komponen mutu. Faktor eksternal berasal dari luar bahannya
sendiri, termasuk didalamnya kondisi lingkungan dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi
komoditas (Suharno, 2005).
Serangga-serangga utama yang menyerang beras dan gabah antara lain Sitophilus ,
Tribolium castaneum, Coryra ceph alonica, Ephestia cautella, dan Rhyzopertha dominica.
Serangga ini hidup dan berkembang biak di dalam gudang penyimpanan baik sebagai hama
primer, hama sekunder, maupun sebagai pemakan kapang/ jamur di berbagai jenis komoditas
pangan dan bahkan ada yang hidup sebagai predator/ pemangsa (Syarif & Halid, 1993)
1. Klasifikasi Tribolium confusum
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Famili : Pholipagaceae
Genus : Tribolium
Spesies : Tribolium confusum.
2. Morfologi Tribolium confusum
Tribolium confusum dengan bentuk tubuhnya yang pipih, memanjang berukuran 3-4
mm. Warnanya merah kecoklatan sampai coklat gelap. Perbedaan Tribolium confusum dengan
Tribolium casteneum adalah pada bentuk sungut atau antena kapitat. Pada Tribolium
casteneum bagian ujung membesar secara mendadak, sedangkan Tribolium confusum bertipe
klavat atau sungut membesar sacara bertahap. Tiga sampai tujuh ruas terakhir antena umumnya
meluas menjadi struktur-struktur seperti lempeng yang dibentangkan lebar. Selain antena juga
dapat dibedakan antara bagian mata. Bagian mata tersempit pada Tribolium casteneum tidak
tertutup dan terdiri dari 3-4- mata faset, sedangkan Tribolium confusum hanya memiliki 1-2
mata faset. Telur Tribolium confusum berwarna putih, larva Tribolium confusum berbentuk
pipih berwarna kekuningan dan pada bagian abdomen terdapat tonjolan berbentuk garpu yang
berukuran kecil dan berwarna gelap. Panjang larva instar Tribolium confusum adalah 5-6 mm.
Larva mempunyai tungkao thorakal yang digunakan untuk bergerak. Pupa bertipe bebas,
berwarna putih kekuningan dengan panjang 3-5 mm.
3. Daur hidup
Daur hidup Tribolium confusum bertahan hingga 45 hari pada suhu 25°C. Bahkan
dewasa dapat hidup selama 6 bulan. Imago akan meletakkan telurnya secara acak didalam biji
yang disimpan. Telur tersebut biasanya terlihat seperti tepung. Serangga betina dapat hidup
selama satu tahun dan dapat menghasilkan telur sebanyak 350-400 telur. Setelah menetas larva
dapat bergerak aktif pada biji-bijian yang digudang. Menjelang masa pupa larva naik ke
permukaan biji tersebut. Setelah menjadi Imago, Tribolium confusum masuk dan memakan
kembali biji tersebut. Kebiasaannya adalah terbang mencari makanan, pada praktikum ini
Tribolium confusum ditemukan menyerang biji kopi.
4. Gejala Serangan dan Pengendalian
Tribolium confusum tersebar luas di seluruh Indonesia. Hama ini termasuk hama
penting karena sering menyerang pproduk yang disimpan di gudang. Kumbang ini dikenal
sebagai kumbang tepung dan banyak menyerang beras, kopi, jagung, kedelai, sorgum, tepung
terigu, kako, kopra, kacang tanah, gaplek dan rempah-rempah. Pada material yang keras, hama
Tribolium confusumhanya biasanya menjadi hama perusak sekunder setelah ada hama lain
yang terlebih dahulu merusaknya. Gejala serangan yang terlihat pada material tersebut adalah
lubang-lubang bekas gerekan Tribolium confusum yang masuk dan memakan material tersebut
dari dalam. Pengendalian yang dilakukan adalah Manipulasi lingkungan fisik untuk menekan
ppopulasi hama Tribolium confusum. Faktor fisik yang dimanipulasi adalah: temperatur,
kelembapan relatif, kadar air, tempat penyimpanan (silo,elevator, karung, wadah lain.
Pengaruh temperatur rendah pada hama adalah penurunan laju perkembangan dan aktivitas
makan.
2.1.1 Klasifikasi Sitophilus oryzae L
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insekta Ordo : Coleoptera
Famili : Curculionidae
Genus : Sitophilus
Spesies : Sitophilus oryzae
2. Morfologi Sitophilus oryzae L
Morfologi dan biologi Sitophilus oryzae, imago muda berwarna coklat merah dan umur
tua berwama hitam. Pada kedua sayap depannya terdapat 4 bintik kuning kemerah-merahan
(masing-masing sayap terdapat 2 bintik). Kumbang ini mempunyai moncong panjang, warna
cokelat kehitaman dan kadang-kadang ada 4 bercak kemerahan pada elytranya, umur dapat
mencapai 5 bulan. Jika akan bertelur, kumbang betina membuat liang kecil dengan
moncongnya sedalam kurang lebih 1 mm. Kumbang betina menggerek butiran beras dengan
moncongnya dan meletakkan sebutir telur lalu lubang itu ditutup dengan sekresi yang keras.
Masa kovulasi relatif lebih lama dibanding dengan hama gudang lainnya (Azwana dan Marjun,
2009).
3. Daur hidup
Telur berbentuk lonjong diletakkan satu per satu di dalam liang yang ditutupi dengan
sisa gerekan, berwarna putih dengan panjang ± 0,5. Tiap imago memproduksi telur selama ±
3-5 bulan dengan jumlah telur 300 – 400 butir. Fase telur 5-7 hari, Setelah menetas larvanya
tidak berkaki, gemuk berwarna putih, berukuran ± 3 mm, menggerek beras dan memakannya
yang juga merupakan tempat tinggalnya dan berkembang di dalamnya sampai menjadi pupa
(Azwana dan Marjun, 2009).
Fase larva 13-15 hari dan merupakan tingkat hidup yang paling aktif. Bila akan
berpupa, larva terakhir akan membuat rongga dalam butiran. Setelah mengalami fase pupa
selama 4-7 hari, keluarlah kumbang muda dari beras. Setelah 2-5 hari kemudian serangga
dewasa yang berada dalam butiran beras keluar untuk mengadakan perkawinan. Daur hidup
dari telur sampai dewasa 28 – 29 hari. Perkembangan optimum terjadi pada temperatur 30°C
dan kelembaban relatif 70%. Serangan daur hidup dari telur sampai dewasa 28 – 29 hari
(Azwana,dan Marjun, 2009).
4. Gejala Serangan dan Pengendalian
Perkembangan optimum terjadi pada temperatur 30°C dan kelembaban relative 70%.
Serangan kumbang ini kadang-kadang juga diikuti oleh serangan ulat Corcyra cephalonica St.
Jika kelembaban beras tinggi akan menurunkan temperatur sehingga cendawan pun ikut
menyerang beras yang mengakibatkan beras rusak berat dan berbau busuk. Pertambahan
populasi sangat cepat bila kadar air material paling sedikit 15% (Azwana dan Marjun, 2009).
Serangan Sitophilus oryzae menyebabkan temperatur beras sesuai bagi perkembangan
cendawan tertentu dan mengakibatkan tidak sesuai untuk dikonsumsi. Serangga ini menyerang
beras, sehingga disebut juga kumbang beras atau bubuk beras. Tanaman inangnya padi, jagung,
sorghum, gandum dan semua jenis biji-bijian baik yang masih di lapangan ataupun yang sudah
disimpan di gudang. Selain beras dan biji-bijian, serangga ini juga menyerang berbagai jenis
tepung (Azwana dan Marjun, 2009).
1. Klasifikasi dari kumbang tepung (T. castaneum) sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Coleoptera
Famili : Tenebrionidae
Genus : Tribollium
Spesies : Tribolliumcastaneum Herbst.
2. Morfologi Tribolium castaneum
T. castaneum dikenal sebagai kumbang tepung (rust red flour beetle). Kumbang
tersebut bertubuh pipih dan berwarna merah karat dengan panjang tubuh 2,3 - 4,4 mm. Lama
perkembangan serangga sangat bervariasi, bergantung pada suhu, kelembaban, dan jenis
makanan. Pada kondisi optimum yakni suhu 350C dan kelembaban 75%, lama perkembangan
dari telur hingga menetas menjadi larvamencapai 20 hari (Haines 1991).
3. Daur hidup
Kumbang betina meletakkan telur di antara butiran tepung, secara acak. Telur
menempel pada tepung dan dilindungi oleh partikel-pertikel tepung. Kumbang betina dapat
meletakkan telur sampai dengan 1000 telur selama masa hidupnya. Rata-rata produksi telur
tiap induk mencapai 450 butir. Beberapa hari kemudian telur menetas. Larva bergerak aktif
dengan menggunakan ketiga pasang tungkainya. Selama masa pertumbuhannya larva
mengalami pergantian kulit sebanyak 6-11 kali (rata-rata sebanyak 6-7 kali). Pada
pertumbuhan penuh larva mencapai panjang 8-11 mm. Menjelang masa berkepompong larva
naik ke permukaan bahan dan berkepompong tanpa membuat kokon lebih dulu dengan posisi
terlentang. Pupa dapat ditemukan di antara komoditas yang diserang tanpa dilindungi kokon.
Fase telur dan pupa relatif singkat, lebih dari 60% dari siklus hidupnya dihabiskan sebagai
larva (Ress 2004).
4. Gejala Serangan dan Pengendalian
T. castaneum merupakan salah satu spesies serangga penting di daerah tropika.
Serangga ini merupakan serangga yang paling banyak ditemukan di gudang penyimpanan biji-
bijian serealia, khususnya pada produk olahan seperti tepung dan beras giling. Bahan pangan
yang terserang berat biasanya tercemar oleh benzokuinon (ekskresi T. castaneum) sehingga
tidak layak untuk dikonsumsi (Sunjaya & Widayanti 2006). Saat ini upaya pengendalian
populasi serangga gudang masih bertumpu pada fumigasi dan penyemprotan insektisida
kontak, karena cukup mudah dan hasilnya cepat diketahui. Fumigan yang efektif untuk
mengendalikan serangga gudang adalah metil bromida (CH3Br) dan fosfin (PH3). Kedua jenis
fumigan ini dapat digunakan secara bergiliran untuk memperlambat munculnya resistensi pada
serangga gudang. Namun sejak Protocol Montreal diberlakukan pada tahun 1995 penggunaan
metil bromida dibatasi karena mengandung bahan kimia yang reaktif, merubah sifat dari unsur-
unsur beberapa bahan yang biasanya difumigasi, selain itu juga berbahaya karena beracun dan
dapat merusak lapisan ozon. Saat ini satusatunya fumigan yang dapat digunakan untuk
mengendalikan serangan gudang adalah gas fosfin (ACIAR 1998).
1. Klasifikasi Rattus norvegicus
Klasifikasi ilmiah
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Rodentia
Famil : Muridae
Subfamili : Murinae
Genus : Rattus
Spesies : R. Norvegicus
2. Morfologi
Tikus memiliki indera penciuman, peraba dan pendengaran yang peka tetapi
mempunyai indra penglihatan yang rendah dan buta warna. Tikus hama merupakan hewan
omnivora dan akan memilih makanan yang disukai jika tersedia banyak pilihan. Tikus
menyukai bahan makanan yang mengandung karbohidrat. Jumlah konsumsi makanan
bervariasi yang dipengaruhi oleh genetik, pembiasaan, cuaca dan faktor lain.
3. Daur hidup
Tikus pada habitat alam mempunyai umur yang relatif pendek yaitu sekitar satu tahun
namun tikus merupakan hewan prolifik. Tingkat kematangan seksual dan siap berkembang
biak tikus pada umur 1.5-5 bulan. Kebuntingan tikus selama 21 hari. Jumlah anak sekelahiran
selalu berjumlah genap dengan jumlah betina sama dengan jumlah jantan. Tikus betina mampu
mempunyai frekuensi kelahiran sebanyak 4-5 kali sepanjang hidupnya dengan ratarata anak
tikus yang hidup sekitar 6 ekor per kelahiran.
Tikus melalukan aktivitasnya pada saat gelap. Puncak aktivitas terjadi setelah matahari
tenggelam dan sebelum matahari terbit. Tikus yang lapar atau dalam kondisi yang kacau dapat
melakukan aktivitasnya pada siang hari. Tikus mempunyai kemampuan untuk beradaptasi
dengan lingkungan baru secara cepat dan mobilitas yang tinggi yang memungkinkan berpindah
ke daerah lain yang lebih disukai. Tikus menyukai tempat dengan banyak persediaan makanan
dan vegetasi yang dapat memberikan makanan dan perlindungan.
4. Gejala Serangan dan Pengendalian
Tikus memakan dan merusak bahan makanan. Tikus mengkonsumsi bahan makanan
ekuivalen dengan 7 persen berat badan per hari. Tikus dengan berat badan 300-350 gram
mampu mengkonsumsi bahan makanan sekitar 20-25 gram per hari atau sekitar 7-9 kg per
tahun. Kerusakan bahan makanan yang ditimbulkan bukan semata karena jumlah bahan
makanan yang dikonsumsi tetapi juga akibat kontaminasi oleh feses, urin dan bulu.
Kontaminasi bahan makanan akan menurunkan kualitas bahan. Kebiasaan untuk mengerat dan
membuat lubang menyebabkan kerusakan perlengkapan bangunan penyimpanan. Tikus
membuat lubang pada karung dan dapat merusak kabel listrik. Tikus juga bertanggung jawab
terhadap proses penularan berbagai jenis penyakit berbahaya ke manusia seperti tifoid,
paratifoid dan scabies.
Pengendalian hama tikus dapat dilakukan secara fisik dan kimiawi. Perlakuan secara
fisik dapat dilakukan dengan meningkatkan kebersihan, membangun tempat penyim-panan
antitikus dan pencegahan alami. Pengendalian hama tikus secara kimiawi dapat dilakukan
dengan pemberian rodentisida akut atau kronis dan fumigasi
2.1 klasifikasi Sitotroga cerealella ( Ngengat gabah atau ngengat gabah Angoumous)
Domain : Eukaryota
Kingdom : Metazoa
Phylum : Arthropoda
Subphylum : Uniramia
Class : Insecta
Order : Lepidoptera
Family : Gelechiidae
Genus : Sitotroga
Species : Sitotroga cerealella
1. Morfologi Sitotroga cerealella
Ngengat dewasa tubuhnya berwarna kekuningan hingga merah muda yang mengilap.
Pada sayap mukanya ada titik-titik hitam. Sayap belakangnya berjumbai dengan ujung yang
meruncing, panjangnya lebih kurang 7 mm, Tubuhnya ramping dengan panjang 5-7 mm,
panjang rentang sayapnya depan 11-15 mm, pada posisi istirahat sayap depan dilipat menutupi
tubuh dan sayap belakang, dan keseluruhan berbentuk segitiga. Ngengat ini aktif pada malam
hari. Telurnya mula-mula berwarna putih kemudian berubah jadi kemerahan. Bentuknya bulat
memanjang, sekitar kurang lebih 0.5 mm. Larva berwarna putih kekuning-kuningan dengan
bagian kepala berwarna kehitaman, panjangnya kurang lebih 6 mm. Tubuhnya beruas-ruas dan
pada ruas ke 1-3 dilengkapi dengan kaki. S. cerealella bermetamorfosis sempurna Siklus hidup
ngengat pada lingkungan ideal berlangsung 25-28 hari. Kondisi lingkungan yang optimal bagi
perkembangan ngengat adalah pada suhu 320C dan kelembaban udara 75%. Betina mampu
menghasilkan telur 40-200 butir dan akan menetas setelah 3-4 hari.
2. Daur hidup
Ngengat betina bertelur 1-12 butir diantara kelopak pada pangkal gabah. Selama
hidupnya, ngengat bisa bertelur sampai 200 butir . Stadium telur ±5-6 hari. Ulat (larva) yang
baru saja menetas untuk beberapa hari jalan-jalan diantara gabah kemudian segera masuk
kedalam gabah, setiap gabah biasanya hanya ada satu ulat yang hidup didalamnya. Kemudian
sesudah berumur ±7 sampai 15 hari mulai berkepompong (pupa) yang lamanya ±7 hari.
Kemudian jadi ngengat yang aktif pada malam hari.
3. Gejala Serangan dan pengendalian
Gejala kerusakan berupa lubang-lubang bekas gerekan dan adanya sisa gerekan
berbentuk tepung (serasah halus). Ngengat ini bersama dengan R. dominica menyebabkan
kerusakan berat pada gabah dalam simpanan.
Pengendalian Sitotroga cerealella dapat dilakukan secara fisik dan kimiawi. Perlakuan secara
fisik dapat dilakukan dengan meningkatkan kebersihan, membangun tempat penyimpanan
harus bersih , jangan sampai ada celah-celah untuk bersembunyi ulat. Bahan yang sudah
terserang jangan ikut di simpan atau digabungkan. Pengendalian hama secara kimiawi dapat
dilakukan dengan pemberian pestisida nabati dan fumigasi
1. klasifikasi Rhyzopertha dominica
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Order : Coleoptera
Family : Bostrichidae
Genus : Rhyzopertha
Species : dominica (Lesser Grain Borer)
2. Morfologi Rhyzopertha dominica
Rhyzopertha dominica atau yang sering disebut sebagai kumbang bubuk/gabah bubuk
ini merupakan salah satu hama utama pada pertanaman sorgum, karena dapat menurunkan
kualitas dan kuantitas hasil produksi dari sorgum. Hama ini menyerang pada biji dari sorgum
pada saat masa simpan(gudang). Rhyzoperta dominica ini masuk dalam ordo Coleptera dan
famili Bostrichidae. Serangga ini mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yaitu
perkembangannya melalui fase telur, larva, pupa, dan imago (Haines 1991). Serangga ini
termasuk hama primer dan banyak ditemukan di daerah tropika dan subtropika, namun daerah
hangat lebih disukai. R. dominica dikenal sebagai lesser grain borer (kumbang bubuk gabah)
dan merupakan serangga yang sebagian besar masa hidupnya (larva dan imago) menyebabkan
kerusakan yang cukup tinggi. Kerugian yang ditimbulkan akibat serangan [Link] yaitu
biji yang diserang menjadi berlubang-lubang dan menghasilkan banyak debu hasil gerekan
(Rivai dan Indrosancoyo 2006).
3. Daur hidup
Rhyzopertha dominica dikenal sebagai kumbang bubuk gabah (lesser grain borer).
Kumbang ini banyak ditemukan pada penyimpanan gabah. Fase larva dan imago memakan
bahan yang sama. Serangga dewasa melubangi biji-bijian dan membuat lubang yang bentuk
nya tidak beraturan sehingga menghasilkan bubuk dalam jumlah yang banyak. Imago
berbentuk silindris, panjang 2 - 3 mm, dan berwarna coklat gelap sampai hitam, tepi elitra
paralel, kepala menekuk ke bawah; tidak terlihat dari arah dorsal, antena capitate dengan tiga
ruas terakhir membentuk bendolan, pada sisi depan pronotum terdapat barisan duri-duri halus
(Harahap 2009).
Telur diletakkan pada celah-celah di permukaan biji. Larva dan pupa terdapat di dalam
biji. Fase larva lebih cepat berkembang pada biji-bijian yang masih utuh daripada tepung. Larva
kumbang ini berwarna putih sampai kuning pucat. Larva kumbang ini berbentuk seperti huruf
C (seperti larva kumbang penggerek batang). Pupa R. dominica berukuran hampir 2 mm,
berwarna putih sampai hijau pucat (Munro 1966). Kondisi optimum untuk perkembangannya
adalah pada suhu 34 0C dan kelembaban 70%. Pada suhu 25 0C imago betina dapat bertelur
rata-rata 244 butir dan 418 butir pada suhu 34 0C (Sunjaya & Widayanti 2006). Pada kondisi
lingkungan yang mendukung perkembangannya adalah tempat penyimpanan yang tertutup
dengan bebijian yang ditimbun dalam jumlah banyak untuk waktu yang lama. Kumbang ini
menyukai tempat yang berada di bagian bawah tumpukan bahan simpanan (Vardeman [Link]
2007).
4. Gejala Serangan dan pengendalian
Hama ini dikenal sebagai kumbang bubuk gabah (lesser grain borer) dan banyak
ditemukan pada penyimpanan gabah. Tanda serangan R. dominica pada gabah adalah adanya
serbuk gerek yang ditemukan di sekitar gabah tersebut dan kumbang yang terbang dari tumpukan
gabah tersebut menuju ke arah cahaya. Selain itu, material yang diserang menjadi berlubang-lubang
dan menghasilkan banyak serbuk atau tepung hasil [Link] kumbang ini dapat
meningkatkan temperatur sehingga memicu pertumbuhan cendawan (Harahap 2009).
Pengendalian serangga R. dominica yang sering dilakukan di gudang penyimpanan yaitu
dengan sanitasi gudang, mengatur sirkulasi udara, dan kelembaban gudang. Selain itu,
pengendalian dilakukan dengan cara fumigasi (Minarti, 2012).
Hama gudang akan dapat diatasi (dicegah, diperkecil populasinya dan daya
pengrusakannya) kalau kita dengan sungguh-sungguh memperhatikan teknologi perawatan
gudang. Tanpa kita memperhatikan dan meningkatkan teknologi pemeliharaannya, maka
hama-hama gudang (terutama apabila populasinya telah meningkat) sekaligus dapat merusak
kualitas dan kuantitas produk pertanian dalam simpanan. Kualitas menjadi mundur
dikarenakan terjadinya pengotoran dan pengrusakan pada produk, sedangkan kualitas akan
menurun karena hama itu memakan pula produk- produk tersebut. Khusus mengenai hama
gudang, golongan serangga merupakan yang terbanyak anggotanya. Dari golongan serangga
dikenal 4 ordo yaitu Coleoptera, Lepidoptera, Orthoptera, dan Diptera. (Kartosapoetra, 1991).
Perlu diketahui bahwa untuk semua kelompok tanaman baik tanaman pangan,
hortikultura maupun perkebunan, kerusakan dan kerugian akibat gangguan hama dan penyakit
pasca panen sangat besar. Kerugian yang diderita oleh petani akibat serangan hama pasca
panen adalah penurunan kualitas produksi ataupun produksi. Diperkirakan rata-rata kerugian
hasil antara 25-30 %. Kerugian terjadi sewaktu pengangkutan dan penyimpanan hasil panen
sebelum diolah dan dipasarkan (Untung, 2004).
Di lapangan, kehilangan hasil selama penanganan pascapanen dapat mencapai 20,51%
(BPS, 1996). Proses pemanenan dan perontokkan merupakan tahapan kegiatan terjadinya
kehilangan hasil yang terbesar disebabkan oleh masalah-masalah yang bersifat teknis maupun
non teknis. Kegiatan non teknis berkaitan dengan faktor sosial dan budaya (Mulya et al., 2007).
Perlindungan terhadap penyimpanan produk pertanian dari ancaman hama serangga
biasanya bergantung pada insektisida buatan, seperti organoklor, organofosfat, dan karbamat
(Rahman et al., 2007). Namun demikian, penggunaan insektisida buatan secara terus-menerus
dapat mengakibatkan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan suatu sarana pengendalian
hama lain yang ramah lingkungan ( Metcalf, 1975).