Rencana Pembelajaran Integral Matematika
Rencana Pembelajaran Integral Matematika
id/
Rencana Pembelajaran
Learning Outcome
Setelah mengikuti proses pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa dapat
1) Menentukan anti turunan dari sebuah fungsi
2) Menyelesaikan integral tentu dengan integrasi ke-x dan integrasi ke-y.
3) Menghitung luas daerah dengan menggunakan integral tentu dengan integrasi ke-x dan
integrasi ke-y.
4) Menghitung luas daerah yang dibatasi oleh dua buah kurva dengan menggunakan integral
tentu.
5) Menghitung volume benda putar dengan sumbu putar merupakan salib sumbu menggunakan
metode kulit tabung dan metode cakram
6) Menghitung volume benda putar dengan sumbu putar garis yang sejajar dengan salib sumbu
menggunakan metode kulit tabung dam metode cakram
Prasyarat
Pokok bahasan yang harus dipelajari oleh mahasiswa sebelum mengikuti perkuliahan
integral dan penerapannya, adalah
Fungsi Real: Sistem Bilangan Real, Fungsi dan Grafik, Limit dan kekontinuan, Limit tak
Hingga dan Limit di Tak Hingga
Turunan dan Penggunaan: Turunan Fungsi, Turunan Fungsi Trigonometri, Teorema
Rantai, Turunan Tingkat Tinggi, Fungsi Implisit, Kemonotonan dan Kecekungan Fungsi,
Nilai Ekstrim dan Asymtot, Dalil Delhopital
Referensi
Untuk mendukung dan mempermudah dalam mempelajari materi integral dan
penggunaannya, disarankan untuk menggunakan buku berikut
Mursita, Danang. (2011). Matematika untuk Perguruan Tinggi. Rekayasa Sains.
Bandung. [Link]
matematika_untuk_perguruan_tinggi.html
Holdbrook, Jerita. Calculus at Work. Chapter 7 Applications of Definite Integrals.
Integral Tentu [Link]
calculus-fall-2010/unit-3-the-definite-integral-and-its-applications/
Page 1 of 29
[Link]
Page 2 of 29
[Link]
3
Rumusan di atas dapat digunakan untuk menyelesaikan integral berikut, ∫ [𝑥 3 − 2𝑥 + + 2] 𝑑𝑥.
√𝑥
Bentuk integral tersebut diselesaikan,
3 −1
∫ [𝑥 3 − 2𝑥 + + 2] 𝑑𝑥 = ∫ [𝑥 3 − 2𝑥 + 3𝑥 ⁄2 + 2] 𝑑𝑥
√𝑥
−1⁄
= ∫ 𝑥 3 𝑑𝑥 − ∫ 2𝑥 𝑑𝑥 + ∫ 3 𝑥 2 𝑑𝑥 + ∫ 2 𝑑𝑥
1 2 3 1⁄ 1 2 1
= 𝑥4 − 𝑥2 + 𝑥 2 + 2𝑥 = 𝑥 4 − 𝑥 2 + 6 𝑥 ⁄2 + 2𝑥
4 2 1⁄2 4 2
x 4 = 200 km. Tetapi, apakah hal ini dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahwa seseorang
dapat mengendari kendaraan selama 4 jam berturut-turut dengan kecepatan konstan? Mustahil
terjadi, meskipun di jalan tol sekalipun. Bisa jadi, satu jam pertama ditempuh dengan kecepatan
60 km / jam, setengah jam berikutnya dengan kecepatan 20 km/jam, dua jam selanjutnya dengan
kecepatan 40 km / jam dan setengah jam sisanya ditempuh dengan kecepatan 70 km/jam. Lantas,
bila terjadi seperti kondisi tersebut maka berapa jarak tempuh selama 4 jam? Untuk menjawab
permasalahan tersebut dapat ditunjukkan dengan Gambar 1 berikut.
Daerah yang diarsir pada Gambar 1 merupakan jarak tempuh, sehingga jarak tempuh
selama 4 jam dihitung sebagai berikut, (60 x 1) + (20 x ½) + (40 x 2) + (70 x ½) = 220 km. Jadi,
jarak tempuh sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 1 merupakan luas dari daerah yang diarsir.
Pendekatan menghitung luas daerah (jarak tempuh) akan dipergunakan untuk membantu
mendefinisikan pengertian integral tentu.
Diberikan permasalahan tentang menghitung luas daerah yang bentuknya tidak beraturan.
Misalkan diberikan daerah tertutup D yang dibatasi diatas oleh kurva 𝑦 = 𝑥 2 , dibawah oleh sumbu
X, disamping kiri oleh sumbu Y, dan disamping kanan oleh garis x = 2. Daerah D diperlihatkan
oleh Gambar 2 berikut.
Gambar 2 Daerah D
Page 4 of 29
[Link]
Untuk menghitung luas daerah D, maka dilakukan pendekatan luas segiempat. Perhatikan
bila interval [0,2], dibagi menjadi dua sub interval, maka dapat dibuat segiempat yang terletak di
dalam daerah D, seperti terlihat pada Gambar 3 (i). Bila interval [0,2] dibagi menjadi empat sub
interval, maka akan ada tiga segiempat yang terletak di dalam daerah D, Gambar 3 (ii) dan bila
[0,2] dibagi menjadi enam sub interval, maka ada lima segiempat yang terletak di dalam daerah
D, Gambar 3 (iii).
Perhatikan Gambar 3, hanya tersedia gambar (i) sampai dengan gambar (iii). Lengkapilah
tabel berikut. Bagaimana cara anda menentukan untuk banyak partisi dan jumlah luas
partisi untuk gambar (iv) dan gambar (v)? Jelaskan jawaban anda.
Misalkan luas daerah D disingkat dengan LD dan jumlah luas segiempat yang terletak di
dalam daerah D disingkat dengan PD.
Apakah yang bisa anda ketahui tentang LD dan PD?
Adakah hubungan yang bisa anda simpulkan tentang nilai LD dan PD?
Bila interval [0,2] dibuat banyak sekali (banyaknya bisa mendekati tak
hingga) sub interval, apakah kesimpulan anda masih berlaku?
Perhatikan Gambar 4, hanya tersedia gambar (i) sampai dengan gambar (iii). Lengkapilah
tabel berikut. Bagaimana cara anda menentukan banyak partisi dan jumlah luas partisi
untuk gambar (iv) dan gambar (v)? Jelaskan jawaban anda.
Page 5 of 29
[Link]
Sekarang perhatikan bila interval [0,2] dibuat menjadi dua sub interval maka terdapat dua
segiempat yang terletak di luar daerah D, Gambar 4 (i). Bila interval [0,2] dibuat menjadi empat
dan enam sub interval maka berturut-turut didapatkan empat dan enam segiempat, Gambar 4 (ii)
dan (iii). Misalkan jumlah luas segiempat yang terjadi dinyatakan dengan PL.
Apa yang bisa anda simpulkan tentang nilai dari LD dan PL?
Adakah hubungan antara LD dan PL?
Misalkan interval [0,2] dibuat menjadi sebanyak n buah sub interval (n
banyak sekali dan bahkan mendekati tak hingga), apakah kesimpulan anda
masih berlaku?
Perhatikan Gambar 2. Misalkan interval [0,2] dibagi menjadi sebanyak n sub interval yaitu
0 = x1 < x2 < x3 < …< xk<…< xn = 2. Maka diperoleh nilai dari PD (jumlah luas partisi segiempat
yang terletak di dalam daerah D) dan PL (jumlah luas partisi segiempat yang terletak di luar
daerah D) sebagai berikut
n n
PD f x k 1 x k x k 1 f xk 1 xk
k 1 k 0
n n
PL f x k x k x k 1 f xk xk
k 1 k 1
Notasi sigma diatas seringkali dinamakan dengan jumlah Riemann. Secara visualisasi dan
perhitungan, nampak bahwa
Page 6 of 29
[Link]
n n
PD ≤ LD ≤ PL atau f x k 1 x k LD f xk xk
k 0 k 1
Bila n (n menuju atau mendekati tak hingga) maka akan diperoleh bahwa x k 0
maka akan diperoleh limit jumlah Riemann dari luasan tersebut yaitu
n n
lim f xk 1 xk LD lim f xk xk atau
n k 0 n k 1
n n
lim f x k 1 x k LD lim f x k x k
xk 0 k 0 xk 0 k 1
Sebab ruas kiri dan ruas kanan bernilai sama maka dapat dituliskan
n n
LD lim f x k x k lim f xk xk
x k 0 k 1 n k 1
Misal diberikan daerah D yang dibatasi oleh fungsi 𝑦 = 𝑓(𝑥 ), 𝑓(𝑥 ) > 0, sumbu X, garis
𝑥 = 𝑎, dan garis 𝑥 = 𝑏 yang didefinisikan pada suatu interval tutup [a,b], diperlihatkan oleh daerah
yang diarsir pada Gambar 5 berikut.
Gambar 5. Daerah D
Perhitungan luas daerah D dapat juga dilakukan dengan menghitung jumlah luas partisi
segiempat, namun partisi segiempat tersebut bukan partisi yang terletak di dalam ataupun diluar
daerah D.
Perhatikan Gambar 6. Misal dipilih sembarang nilai 𝑥 = 𝑥1 di antara a dan b.
Selanjutnya dibuat segiempat dengan tinggi 𝑓(𝑥1 ) dan lebar (b – a), maka luas
segiempat adalah 𝐿1 = (𝑏 − 𝑎) 𝑓(𝑥1 ).
Page 7 of 29
[Link]
Gambar 6
Gambar 7
Page 8 of 29
[Link]
Gambar 8
Bagaimana cara yang harus dilakukan untuk menentukan jumlah luas n buah segiempat?
Perhatikan Gambar 9. Pandang segiempat ke – k (partisi ke – k) dengan lebar partisi
x k x k x k 1 dan panjang partisi f x k , sehingga luas segiempat (partisi) ke-k adalah
f x k xk dengan ̅̅̅
𝑥𝑘 terletak pada interval (𝑥𝑘−1 , 𝑥𝑘 ). Sebab fungsi 𝑓 (𝑥 ) > 0 maka nilai dari
f x k 0
dan f x k x k 0 sebab xk xk xk 1 selalu positif. Bila fungsi 𝑓(𝑥) terletak
dibawah sumbu X maka nilai f x k dan f x k xk juga akan negatif. Oleh karena itu, jumlah
Riemann dari partisi bisa bernilai positif atau bernilai negatif.
Gambar 9
Misalkan interval [a,b] dibagi menjadi n sub interval (dalam hal ini diambil yang
panjangnya sama walaupun hal ini tidaklah mutlak), misal a x0 x1 .... xn 1 xn b dan
xk x xk xk 1 . Pada setiap sub interval xk 1 , xk kita ambil suatu titik xk (titik
sembarang namun untuk memudahkan penjelasan dipilih titik tengah sub interval) yaitu
Page 9 of 29
[Link]
x xk 1
xk k
2
. Partisi yang terbentuk merupakan segiempat dengan ukuran x dan f x k
sebagai lebar dan panjang partisi, sehingga luas tiap partisi adalah f x k x . Oleh karena itu
n
didapatkan jumlah luas partisi pada interval [a,b] yaitu : f x k x . Jumlah ini dinamakan
k 1
jumlah Riemann untuk 𝑓(𝑥) yang bersesuaian dengan partisi. Maka luas daerah yang dibatasi
oleh 𝑦 = 𝑓(𝑥), garis 𝑥 = 𝑎, garis 𝑥 = 𝑏, dan sumbu X akan didekati oleh jumlah Riemann di atas
bila diambil n (n mendekati tak hingga). Dari sini dapat didefinisikan suatu integral tentu
yaitu integral dari fungsi 𝑦 = 𝑓(𝑥) pada suatu interval [a,b].
f xk x
b n n
f ( x )dx lim f xk x lim
a x 0 k 1 n k 1
Bila limit ada maka fungsi 𝑓(𝑥) dikatakan integrabel (dapat diintegralkan) pada interval
[a,b]. Integral ini disebut Integral Riemann atau Integral Tentu.
2 x 1dx x
2 2
2
kalkulus pertama maka diperoleh x 0 6 . Nilai integral ini positif sebab
0
integran f ( x ) 2 x 1 positif pada interval [0,2].
Page 10 of 29
[Link]
𝑏
Bila fungsi 𝑓 (𝑥 ) < 0 pada interval [a,b] maka nilai integral ∫𝑎 𝑓(𝑥 ) 𝑑𝑥 < 0. Tunjukkan
bahwa fungsi 𝒇(𝒙) = −𝟑𝒙 + 𝟑 bernilai negatif pada interval [1,3]? Berapa nilai dari integral
𝟑
∫𝟏 (−𝟑𝒙 + 𝟑) 𝒅𝒙 ? Selanjutnya, mungkinkah nilai dari integral sebuah fungsi kontinu akan
bernilai 0 (nol)? Jelaskan jawaban Anda.
Bila dua buah fungsi 𝑓 (𝑥 ) dan 𝑔(𝑥) integrabel (dapat diintegralkan) pada interval [a,b],
dan berlaku 𝑓(𝑥 ) ≤ 𝑔(𝑥) untuk setiap nilai x pada interval [a,b], 𝑥 ∈ [𝑎, 𝑏], maka berlaku sifat
b b
perbandingan yaitu f ( x ) dx g( x ) dx . Misal diberikan fungsi 𝑓 (𝑥 ) = 𝑥 2 − 2𝑥 −
a a
3 dan 𝑔(𝑥 ) = 1 − 2𝑥 maka berlaku 𝑓 (𝑥 ) ≤ 𝑔(𝑥) untuk setiap nilai x pada interval [-2, 2].
Bagaimana cara anda menunjukkan bahwa berlaku 𝒇(𝒙) ≤ 𝒈(𝒙) untuk setiap nilai x pada
𝟐 𝟐
interval [-2, 2]? Selanjutnya hitunglah nilai integral ∫−𝟐 𝒇(𝒙)𝒅𝒙 , ∫−𝟐 𝒈(𝒙)𝒅𝒙 ,
𝟐 𝟐
∫−𝟐[𝒈(𝒙) − 𝒇(𝒙)]𝒅𝒙 , dan ∫−𝟐[𝒇(𝒙) − 𝒈(𝒙)]𝒅𝒙.
𝑏
Misal diberikan integral ∫𝑎 𝑓 (𝑥 )𝑑𝑥 dan nilai c terletak pada interval [a,b], maka dapat
𝑏 𝑐 𝑏
dituliskan ∫𝑎 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥 = ∫𝑎 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥 + ∫𝑐 𝑓 (𝑥 )𝑑𝑥. Bentuk integral ini dapat digunakan untuk
2 , x 0
3
menyelesaikan integral ∫−2 𝑓 (𝑥 )𝑑𝑥 dengan fungsi f ( x ) 1 x , 0 x 2 . Perhatikan bahwa
3x 2 , x 2
fungsi 𝑓(𝑥) terdefinisi untuk tiga buah interval yaitu 𝑥 < 0, 0 < 𝑥 < 2, dan 𝑥 > 2 sehingga
penyelesaian integral diberikan berikut,
3 0 2 3
∫ 𝑓 (𝑥)𝑑𝑥 = ∫ 𝑓(𝑥)𝑑𝑥 + ∫ 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥 + ∫ 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥
−2 −2 0 2
3 0 2 3
∫ 𝑓 (𝑥 )𝑑𝑥 = ∫ −2 𝑑𝑥 + ∫ (1 + 𝑥 ) 𝑑𝑥 + ∫ 3𝑥 2 𝑑𝑥
−2 −2 0 2
3
0 1 2 3
∫ 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥 = −2𝑥 | + (𝑥 + 𝑥 2 ) | + 𝑥 3 |
−2 −2 2 0 2
3
∫ 𝑓 (𝑥 )𝑑𝑥 = [0 − (−4)] + [(2 + 2) − 0] + [27 − 8] = 27
−2
𝟓
Lantas, bagaimana cara menyelesaikan ∫𝟎 𝒇(𝒙) 𝒅𝒙? Uraian secara detail jawaban Anda.
𝟐 𝟐 𝟎
Kemudian selesaikan integral ∫𝟐 (𝟐𝒙 − 𝟏) 𝒅𝒙 , ∫𝟎 (𝟐𝒙 − 𝟏) 𝒅𝒙, ∫𝟐 (𝟐𝒙 − 𝟏) 𝒅𝒙. Kesimpulan
apa yang bisa Anda peroleh?
Page 11 of 29
[Link]
Page 12 of 29
[Link]
Misal fungsi 𝑓(𝑥) kontinu pada [a,b], maka terdapat nilai c di dalam interval (a,b), 𝑐 ∈
b
(𝑎, 𝑏) sehingga berlaku f ( x )dx f ( c )( b a ) . Bentuk integral ini dikatakan sebagai Nilai
a
𝑏
∫𝑎 𝑓(𝑥) 𝑑𝑥
Rata-rata Integral, dengan 𝑓 (𝑐 ) = merupakan nilai rata-rata integral dari fungsi 𝑓(𝑥).
𝑏−𝑎
Pengertian nilai rata-rata integral ini akan digunakan untuk mendapatkan turunan dari fungsi dalam
notasi integral.
x
Misal fungsi 𝑓(𝑥) kontinu pada interval [a,b] dan diberikan fungsi g ( x) f (t ) dt .
a
dg
f (t ) dt f (t ) dt x
lim a a
(definisi fungsi g ( x) f (t ) dt )
dx h0 h a
xh a
dg
f (t ) dt f (t ) dt 𝑎 𝑏
lim a x
(sifat integral ∫𝑏 𝑓 (𝑥 )𝑑𝑥 = − ∫𝑎 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥)
dx h0 h
xh
dg
f (t ) dt
𝑏 𝑐 𝑏
lim x
(sifat integral ∫𝑎 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥 = ∫𝑎 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥 + ∫𝑐 𝑓(𝑥 )𝑑𝑥)
dx h0 h
Perhatikan ruas kanan (yang terletak di dalam kurung). Nilai tersebut merupakan nilai rata-
rata dari integral fungsi 𝑓(𝑡) pada interval [x, x+h], sehingga dapat dituliskan
xh
f ( t ) dt
x
f c dengan c terletak pada interval [x, x+h]
h
lim f c
dg
Oleh karena itu dapat didapatkan,
dx h0
Apa yang terjadi pada c, bila h mendekati nol? Mengapa? Jelaskan jawaban anda. Akhirnya
kita peroleh lim f c f x , sehingga
dg
f (x) . Dari bentuk terakhir ini, apabila dihadapkan
h0 dx
x
suatu fungsi dalam notasi integral g ( x) f (t ) dt , maka turunan dari fungsi 𝑔(𝑥 ) adalah 𝑓(𝑥).
a
Page 13 of 29
[Link]
𝑥 𝑡
Misal diberikan fungsi 𝑔(𝑥 ) = ∫1 𝑑𝑡, maka untuk mendapatkan turunan dari fungsi 𝑔(𝑥)
√𝑡+1
tanpa harus menyelesaikan integral terlebih dahulu, namun cukup dengan mensubstitusikan x
dengan t pada integran, sehingga turunan dari 𝐹(𝑥 ) adalah
𝑑𝑔 𝑥
= 𝑓 (𝑥 ) =
𝑑𝑥 √𝑥 + 1
Lantas bagaimana mendapatkan turunan dari sebuah fungsi dalam notasi integral namun
2𝑥+1
batas atas integral tidak hanya x, misalkan 𝑔(𝑥 ) = ∫1 √𝑡 sin 𝑡 𝑑𝑡. Atau bahkan batas atas dan
x2
1
batas bawah juga merupakan fungsi dalam x, seperti g ( x) t
x
2
1
dt . Untuk menyelesaikan
d
v( x )
f v( x ) v ' ( x ) f w( x ) w' ( x )
dx w(x )
f ( t ) dt
Hal ini berarti bahwa untuk mendapatkan turunan dari fungsi yang dinyatakan dengan
notasi integral dapat dilakukan tanpa harus menghitung integralnya terlebih dahulu, namun cukup
x2
dengan melihat bentuk integrannya. Misal diberikan fungsi g ( x ) t 2 1 dt . Integran dari
2x
bentuk integral ini adalah 𝑓 (𝑡) = √𝑡 2 + 1 , batas atas integral 𝑣 (𝑥 ) = 𝑥 2 , dan batas bawah
Page 14 of 29
[Link]
integral 𝑤 (𝑥) = 2𝑥. Bila digunakan rumusan g ' ( x ) f v( x ) v ' ( x ) f w( x ) w' ( x ) maka
diperoleh hasil turunan dari fungsi 𝑔(𝑥),
𝑔′ (𝑥 ) = 𝑓 (𝑥 2 ) (2𝑥) + 𝑓 (2𝑥 ) (2)
𝑔′ (𝑥 ) = √(𝑥 2 )2 + 1 (2𝑥 ) + √(2𝑥 )2 + 1 (2)
𝑔 ′ (𝑥 ) = 2𝑥 √𝑥 4 + 1 + 2√4𝑥 2 + 1
6 Luas Daerah
Perhatikan daerah D merupakan daerah yang diarsir pada Gambar 10. Daerah D merupakan
bentuk bangun segitiga, luas segitiga merupakan ½ dikalikan alas (6) dan tinggi (3). Adakah cara
lain untuk mendapatkan luas segitiga dengan bantuan integral? Mengapa harus dilakukan dengan
menggunakan metode integral? Integral dapat digunakan untuk mendapatkan luasan daerah yang
tidak beraturan dengan cara yang lebih mudah. Ingat penjelasan awal sub bab integral tentu. Bila
diterapkan integral tentu untuk menghitung luas daerah D maka diperoleh bentuk integral berikut
dan tunjukkan bahwa L = 9.
−1 2
𝐿 = ∫ (𝑥 + 4) 𝑑𝑥 + ∫ (−𝑥 + 2) 𝑑𝑥
−4 −1
Gambar 10 Daerah D
Secara umum, penjelasan penerapan integral tentu untuk menghitung luas daerah yang
dibatasi oleh kurva dan atau garis diberikan berikut. Misal suatu daerah D dibatasi oleh kurva 𝑦 =
𝑓 (𝑥 ) ≥ 0, garis x = a , garis x = b, dan sumbu X (perhatikan Gambar 11 (a)), maka luas daerah
dihitung dengan integral tentu sebagai berikut :
b
L f ( x ) dx
a
Bila fungsi 𝑓 (𝑥 ) terletak di bawah sumbu X, 𝑓(𝑥) ≤ 0 maka integral dari fungsi 𝑓(𝑥)
pada interval [a,b] akan bernilai negatif atau nol. Oleh karena itu luas daerah yang dibatasi oleh
kurva 𝑦 = 𝑓 (𝑥 ) ≤ 0, garis x = a, garis x = b, dan sumbu X (Perhatikan Gambar 11 (b)) dituliskan
sebagai berikut :
Page 15 of 29
[Link]
b
L f ( x ) dx
a
Misal diberikan daerah D yang dibatasi oleh kurva 𝑓(𝑥 ) = 𝑥 (𝑥 2 − 1), garis 𝑥 = −1, garis
𝑥 = 1, dan sumbu X, sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 12. Perhatikan bahwa daerah D
terdiri dari dua daerah, terletak di atas sumbu X untuk interval [-1,0] dan terletak di bawah sumbu
X untuk interval [0,1]. Nilai integral fungsi 𝑓 (𝑥 ) = 𝑥(𝑥 2 − 1) atas interval [-1,0] dan interval [0,1]
berturut-turut adalah positif dan negatif, sehingga luas daerah D dapat dinyatakan dengan,
0 1
𝐿 = ∫ 𝑥(𝑥 − 1)𝑑𝑥 − ∫ 𝑥(𝑥 2 − 1) 𝑑𝑥
2
−1 0
Gambar 12 daerah D
Bagaimana penyelesaian detail dari integral di atas? Masih dengan menerapkan integral
tentu, apakah ada cara lain untuk mendapatkan luas daerah D pada Gambar 3-3? Jelaskan.
Bentuk integral tentu yang dipakai untuk menghitung luas daerah D diatas, integrasi
dilakukan ke-x. Kadang dijumpai daerah D akan lebih mudah dihitung luasnya dengan integrasi
ke-y. Bentuk daerah D yang dimaksud dijelaskan berikut. Misalkan diberikan daerah D yang
dibatasi 𝑥 = 𝑣 (𝑦) ≥ 0, garis 𝑦 = 𝑐, garis 𝑦 = 𝑑, dan sumbu Y (Perhatikan Gambar 13 (a)) maka
luas daerah dituliskan dengan norasi integral berikut (dengan integrasi ke-y) :
Page 16 of 29
[Link]
d
L v( y ) dy
c
Sedangkan untuk daerah D ditunjukkan oleh Gambar 13 (b), dibatasi oleh grafik 𝑥 =
𝑤(𝑦) ≤ 0, garis 𝑦 = 𝑐, garis 𝑦 = 𝑑, dan sumbu Y, maka luas daerah D diberikan dengan :
d
L w( y ) dy
c
Gambar 13 Daerah D
Perhatikan daerah D yang ditunjukkan oleh Gambar 14, dibatasi oleh kurva 𝑥 = 𝑦(𝑦 −
4), garis 𝑦 = 2, garis 𝑦 = 5, dan sumbu Y. Daerah D terdiri dari dua daerah, terletak di sebelah
kiri sumbu Y, untuk interval [2,4] dan terletak di sebelah kanan sumbu Y, untuk interval [4,5].
Nilai integral fungsi 𝑥 = 𝑦(𝑦 − 4) pada interval [2,4] bernilai negatif dan pada interval [4,5]
bernilai positif, sehingga luas daerah D dituliskan sebagai berikut,
4 5
𝐿 = − ∫ 𝑦(𝑦 − 4)𝑑𝑦 + ∫ 𝑦(𝑦 − 4)𝑑𝑦
2 4
Page 17 of 29
[Link]
Gambar 14 Daerah D
Kadang dijumpai daerah D dibatasi oleh dua buah kurva, misal 𝑦 = 𝑓(𝑥 ) dan 𝑦 = 𝑔(𝑥).
Untuk mendapatkan luas daerah tertutup D yang dibatasi oleh dua kurva tersebut maka dilakukan
langkah berikut.
Tentukan titik potong kedua kurva tersebut, misal 𝑥 = 𝑎 dan 𝑥 = 𝑏, dengan 𝑎 ≤ 𝑏
Tentukan kurva yang terletak di atas dan di bawah pada interval 𝑎 ≤ 𝑥 ≤ 𝑏,
Integrasikan (kurva di atas – kurva di bawah) terhadap interval [a,b]
Dengan kata lain, misal daerah D dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥 ) dan 𝑦 = 𝑔(𝑥 ), garis 𝑥 = 𝑎, dan
garis 𝑥 = 𝑏 dengan 𝑓 (𝑥 ) ≥ 𝑔(𝑥) untuk 𝑥 ∈ [𝑎, 𝑏] seperti ditunjukkan oleh Gambar 15, maka
luas daerah D dituliskan serbagai berikut,
b
L f ( x ) g( x )dx
a
Gambar 15 Daerah D
Seperti halnya uraian terdahulu, kadang dijumpai daerah tertutup D akan lebih mudah
dihitung luasnya bila integrasi dilakukan ke-y. Misal daerah D dibatasi oleh kurva 𝑥 = 𝑤 (𝑦), 𝑥 =
Page 18 of 29
[Link]
𝑣(𝑦), garis 𝑦 = 𝑐, dan garis 𝑦 = 𝑑 dengan 𝑤(𝑦) ≥ 𝑣(𝑦)untuk 𝑦 ∈ [𝑐, 𝑑] seperti ditunjukkan oleh
Gambar 16, maka luas daerah D ditulsikan sebagai berikut,
d
L w( y ) v( y )dy
c
Gambar 16 Daerah D
Misal diberikan daerah tertutup D yang dibatasi oleh dua kurva 𝑦 = 𝑥 − 1 dan 𝑦 2 = 2𝑥 +
6, seperti ditunjukkan oleh Gambar 17. Jelaskan bagaimana langkah-langkah yang dilakukan
untuk mendapatkan gambar tersebut? Daerah tertutup D dibatasi oleh kurva 𝑥 = 𝑦 + 1, 𝑥 =
1 1
𝑦 2 − 3, garis 𝑦 = 4, dan garis 𝑦 = −2, dengan 𝑦 2 − 3 ≤ 𝑦 + 1 untuk 𝑦 ∈ [−2,4].
2 2
1
Menggunakan notasi himpunan, daerah D dapat dituliskan menjadi, 𝐷 = {(𝑥, 𝑦)| 𝑦 2 − 3 ≤ 𝑥 ≤
2
Gambar 17 Daerah D
Page 19 of 29
[Link]
Berapakah luas daerah D dengan notasi integral di atas? Uraikan secara lengkap. Apakah
ada cara lain untuk mendapatkan luas daerah D? Jelaskan.
Metode Cakram
Misal daerah D dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥), garis 𝑦 = 0, garis 𝑥 = 𝑎, dan garis 𝑥 = 𝑏
diputar dengan sumbu putar sumbu X. Volume benda putar (berupa pejal / padat) yang terjadi
ditunjukkan oleh Gambar 19, dapat dihitung dengan memandang bahwa volume benda putar
tersebut merupakan jumlah tak berhingga cakram yang berpusat di titik-titik pada interval [a,b].
Gambar 18
Benda putar di atas dapat dipandang sebagai jumlah dari n buah cakram. Misal diambil
cakram ke-k (sangat tipis) dengan pusat cakram x k ,0 dan jari-jari r f x k , maka luas cakram
Page 20 of 29
[Link]
maka hasilkali antara jumlah luas cakram dengan ketebalan cakram akan mendekati volume benda
n
putar, yaitu V lim f 2 xk xk . Menggunakan limit jumlah Riemann maka volume benda
n k 1
putar dinyatakan sebagai berikut :
b
V f ( x )2 dx
a
Misal diberikan daerah tertutup D yang dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑥 3 − 2𝑥 + 5, garis 𝑥 = 1,
garis 𝑥 = 2, dan sumbu X. Bila daerah D diputar mengelilingi sumbu X, maka volume benda putar
dapat dihitung dengan menggunakan metode cakram. Cara yang dilakukan adalah memilih
sembarang nilai x pada interval [1,2], maka jari-jari cakram adalah 𝑓 (𝑥 ) = 𝑥 3 − 2𝑥 + 5.
Perhatikan Gambar 19. Volume benda putar dihitung dengan integral berikut (penyelesaian
integral ditinggalkan sebagai latihan),
2 2
V f ( x )2 dx x 3 - 2x + 5 dx
2
1 1
Gambar 19
Bila sumbu Y sebagai sumbu putar dan perhitungan volume benda putar digunakan metode
cakram maka integrasi dilakukan ke-y. Oleh karena itu, daerah yang akan diputar dibatasi oleh
kurva 𝑥 = 𝑤(𝑦), garis 𝑦 = 𝑐, garis 𝑦 = 𝑑, dan sumbu X. Untuk mendapatkan volume benda putar
dilakukan dengan cara memilih sembarang nilai y pada interval [c,d] dan tinggi cakram adalah 𝑥 =
𝑤(𝑦), sehingga volume benda putar dinyatakan dengan,
d
V w( y )2 dy
c
Perhatikan daerah D yang dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑥 2 , garis 𝑦 = 1, garis 𝑦 = 4, dan sumbu
Y. Gambar dan arsir daerah D tersebut. Bila D diputar mengelingi sumbu Y dan akan
digunakan metode cakram, maka volume benda putar dihitung dengan melakukan integrasi ke-y.
Page 21 of 29
[Link]
Oleh karena itu, D dapat dinyatakan dengan notasi himpunan dengan batas-batas y adalah
konstanta. Bagaimana notasi himpunan yang menunjukkan daerah D? Selanjutnya,
nyatakan volume benda putar dalam notasi integral.
Misal diberikan daerah tertutup D yang dibatasi oleh dua kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥 ) dan 𝑦 = 𝑔(𝑥),
garis 𝑥 = 𝑎 dan garis 𝑥 = 𝑏 . Bila berlaku 𝑓(𝑥 ) ≥ 𝑔(𝑥) untuk setiap 𝑥 ∈ [𝑎, 𝑏] dan daerah D
diputar dengan sumbu putar sumbu X (perhatikan Gambar 20), dengan metode cakram, maka
volume benda putar merupakan volume dari perputaran daerah yang dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥 ),
garis 𝑥 = 𝑎, garis 𝑥 = 𝑏, dan sumbu X dikurangi oleh volume dari perputaran daerah yang dibatasi
oleh kurva 𝑦 = 𝑔(𝑥 ), garis 𝑥 = 𝑎, garis 𝑥 = 𝑏, dan sumbu X. Oleh karena itu, volume benda putar
dituliskan dengan,
𝑏 𝑏
𝑉 = ∫ 𝜋 [𝑓(𝑥) ]2 𝑑𝑥 − ∫ 𝜋 [𝑔(𝑥)]2 𝑑𝑥
𝑎 𝑎
atau
b
V f ( x )2 g( x )2 dx
a
Gambar 20 Daerah D
Bila daerah tertutup D dibatasi dua kurva 𝑥 = 𝑤 (𝑦), 𝑥 = 𝑣 (𝑦), dengan 𝑤 (𝑦) ≥ 𝑣(𝑦)
untuk setiap 𝑦 ∈ [𝑐, 𝑑], garis 𝑦 = 𝑐, dan garis 𝑦 = 𝑑 diputar mengelilingi sumbu Y (diperlihatkan
oleh Gambar 21) maka dengan menggunakan metode cakram, volume benda putar dinyatakan
dengan,
d
V w( y )2 v( y )2 dy
c
Page 22 of 29
[Link]
Gambar 21 Daerah D
Diberikan daerah D seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 22. Bila daerah D diputar
dengan sumbu Y sebagai sumbu putar dan digunakan metode cakram untuk menghitung volume
benda putar, maka integrasi dilakukan ke-y, sehingga D dinyatakan sebagai daerah tertutup yang
dibatasi oleh kurva 𝑥 = 𝑦 2 dan 𝑥 = 𝑦 3 dengan 𝑦 2 ≥ 𝑦 3 untuk setiap 𝑦 ∈ [0,1], garis 𝑦 = 0, dan
garis 𝑦 = 1. Volume benda putar dapat dinyatakan dengan (perhitungan integral ditinggalkan
sebagai latihan),
1
𝑉 = ∫ 𝜋 {[𝑦 2 ]2 − [𝑦 3 ]2 } 𝑑𝑦
0
Gambar 22 Daerah D
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bila akan menghitung volume benda putar
dari sebuah daerah tertutup D, dengan menggunakan metode cakram dengan sumbu putar:
Page 23 of 29
[Link]
Sumbu Y, maka integrasi dilakukan ke-y dan volume benda putar dari perputaran
1
daerah tertutup D pada Gambar 22, dinyatakan dengan 𝑉 = ∫0 𝜋 {[𝑦 2 ]2 −
[𝑦 3 ]2 } 𝑑𝑦
Sumbu X, maka integrasi dilakukan ke-x dan bagaimana rumusan volume benda
putar dari perputsan daerah tertutup D pada Gambar 22?
Metode berikut sebagai alternatif lain dalam perhitungan volume benda putar yang
mungkin lebih mudah diterapkan bila dibandingkan dengan metode cakram. Benda putar yang
terjadi dapat dipandang sebagai tabung dengan jari-jari kulit luar dan kulit dalam berbeda, maka
volume benda putar yang akan dihitung adalah volume dari kulit tabung. Untuk lebih memperjelas
pengertian metode kulit tabung, diberikan uraian berikut. Pandang tabung (Gambar 23) dengan
jari-jari kulit dalam dan kulit luar berturut-turut 𝑟1 dan 𝑟2, tinggi tabung h. Maka volume kulit
tabung adalah
V r2 r1 h 2r h r
r r
dengan : 2 1 r ( rata rata jari jari ),r2 r1 r
2
Gambar 23 Tabung
Bila daerah tertutup D (diarsir kuning) dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑓(𝑥), garis 𝑦 = 0, garis
𝑥 = 𝑎, dan garis 𝑥 = 𝑏 diputar mengelilingi sumbu Y maka kita dapat memandang sebagai bangun
yang menyerupai kulit tabung dengan jari-jari 𝑟 = 𝑥, ∆𝑟 = ∆𝑥, dan tinggi tabung ℎ = 𝑓(𝑥),
diperlihatkan oleh Gambar 24 berikut. Dengan menggunakan pendekatan kulit tabung, maka
diperoleh,
∆𝑉 = 2𝜋 𝑟 ℎ ∆𝑥 = 2𝜋 𝑥 𝑓(𝑥) ∆𝑥
Page 24 of 29
[Link]
Berdasarkan uraian limit jumlah Riemann, maka volume benda putar dapat dinyatakan sebagai
berikut :
b
V 2 x f ( x ) dx
a
Gambar 24
Bila daerah tertutup D (diarsir kuning, pada Gambar 25) dibatasi oleh kurva 𝑥 = 𝑤 (𝑦),
garis 𝑥 = 0, garis 𝑦 = 𝑐, dan garis 𝑦 = 𝑑 diputar mengelilingi sumbu X, maka jari-jari kulit
tabung 𝑟 = 𝑦 dan tinggi kulit tabung ℎ = 𝑤(𝑦), sehingga volume benda putar dinyatakan dengan,
d
V 2 y w( y )dy
c
Gambar 25
Daerah tertutup D ditunjukkan oleh Gambar 26. Kurva atau garis apa saja yang menjadi
batas daerah tertutup D? Bila daerah D diputar mengelilingi sumbu Y dan digunakan metode
kulit tabung, maka dipilih jari-jari kulit tabung merupakan sembarang nilai 𝑟 = 𝑥 pada interval
[0,2] dan tinggi kulit tabung ditentukan sebagai berikut. Perhatikan 𝑥 = 𝑦 2 , diperoleh 𝑦 = √𝑥
Page 25 of 29
[Link]
atau 𝑦 = −√𝑥. Sebab kurva terletak di atas sumbu X maka tinggi kulit tabung adalah 𝑦 = √𝑥.
Oleh karena itu volume benda putar dengan metode kulit tabung dituliskan sebagai berikut,
2
𝑉 = ∫ 2𝜋 𝑥 √𝑥 𝑑𝑥
0
Selesaikan integral di atas sehingga diperoleh nilai volume benda putar. Adakah ada cara
lain untuk mendapatkan volume benda putar bila daerah D diputar mengelilingi sumbu Y?
Jelaskan.
Gambar 26
Misal daerah D dibatasi oleh kurva 𝑦 = 𝑓 (𝑥), 𝑦 = 𝑔(𝑥) yang memenuhi 𝑓 (𝑥 ) ≥ 𝑔(𝑥)
untuk 𝑥 ∈ [𝑎, 𝑏], garis 𝑥 = 𝑎, dan garis 𝑥 = 𝑏 ditunjukkan oleh Gambar 27. Bila daerah D diputar
mengelilingi sumbu Y dan digunakan metode kulit tabung maka jari-jari kulit tabung adalah
sembarang nilai 𝑟 = 𝑥 pada interval [𝑎, 𝑏] dan tinggi kulit tabung adalah ℎ = 𝑓 (𝑥 ) − 𝑔(𝑥),
sehingga volume benda putar dapat dinyatakan dengan,
b
V 2 x f ( x ) g( x )dx
a
Gambar 27
Page 26 of 29
[Link]
Daerah tertutup D dibatasi oleh kurva 𝑥 = 𝑤(𝑦) dan 𝑥 = 𝑣(𝑦) yang berlaku 𝑤 (𝑦) ≫ 𝑣(𝑦)
untuk 𝑦 ∈ [𝑐, 𝑑], garis 𝑦 = 𝑐, dan garis 𝑦 = 𝑑 diputar mengelilingi sumbu X. Bila digunakan
metode kulit tabung maka jari-jari kulit tabung adalah sembrang nilai 𝑟 = 𝑦 pada interval [𝑐, 𝑑]
dan tinggi kulit tabung adalah ℎ = 𝑤 (𝑦) − 𝑣(𝑦), diperlihatkan oleh Gambar 28. Oleh karena itu
volume benda putar dinyatakan dengan,
d
V 2 y w( y ) v( y )dy
c
Gambar 28
sumbu Y dan digunakan metode kulit tabung untuk menghitung volume benda putar, maka jaro-
jaroi kulit tabung adalah sembarang nilai 𝑟 = 𝑥 pada interval [0,1] dan tinggi tabung adalah ℎ =
𝑤(𝑦) = 𝑣(𝑦), sehingga volume benda putar dinyatakan dengan,
1
V 2 x 2 x 2 x 2 dx
0
Selesaikan integral di atas sehingga diperoleh nilai volume benda putar. Apakah ada
cara lain untuk mendapatkan volume benda putar bila daerah D diputar mengelilingi sumbu
Y? Jelaskan.
Page 27 of 29
[Link]
Gambar 29
Misal diberikan daerah tertutup D yang terletak di kuadran pertama yang dibatasi oleh
kurva 𝑦 = 1 − 𝑥 2, sumbu X, dan sumbu Y. Bila daerah D diputar mengelilingi garis 𝑥 = 1 dan
digunakan metode kulit tabung untuk menghitung volume benda putar, maka integrasi dilakukan
ke-x. Untuk menentukan jari-jari kulit tabung dilakukan dengan menetukan sembarang nilai 𝑟 =
𝑥 pada interval [0,1], sehingga jari-jari kulit tabung adalah jarak antara x ke sumbu putar (x = 1).
Jadi jari-jari kulit tabung adalah 1 − 𝑥, sedangkan tinggi kulit tabung adalah ℎ = 1 − 𝑥 2 .
Perhatikan Gambar 30. Oleh karena itu, volume benda putar dituliskan dengan,
1
𝑉 = ∫ 2𝜋 (1 − 𝑥 )(1 − 𝑥 2 ) 𝑑𝑥
0
Gambar 30
Page 28 of 29
[Link]
garis 𝒙 = −𝟏 dan putaran kedua dengan sumbu putar garis 𝒚 = −𝟏, apakah menghasilkan
volume yang sama? Jelaskan.
Page 29 of 29