Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
%
od
Menteri Perindustrian Republik Indonesia
PERATURAN
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR: 84/M-IND/PER/8/2012 ,
TENTANG
PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
UBIN KERAMIK SECARA WAJIB
Menimbang
Mengingat
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI PERINDUSTRIAN REPUBLIK INDONESIA,
a.
bahwa dalam rangka optimalisasi penerapan Standar
Nasional Indonesia (SNI) Ubin Keramik secara wajib guna
meningkatkan mutu hasil industri, melindungi konsumen
serta menciptakan persaingan usaha yang sehat dan adil,
perlu mengatur kembali pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) Ubin Keramik secara wajib;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
dalam huruf a perlu menetapkan Peraturan Menteri
Perindustrian tentang Pemberlakuan Standar Nasional
Indonesia (SNI) Ubin Keramik Secara Wajib .
Undang - Undang Nomor § Tahun 1984 _ tentang
Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1984 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3274);
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Agreement Establishing The Word Trade
Organization (Persetujuan Pembentukan —Organisasi
Perdagangan Dunia) (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1994 Nomor 57, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3564);
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3612) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 93. Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4661);10.
Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84/M-IND/PER/8/2012
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3821);
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008
Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4844);
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang
Kewenangan Pengaturan, Pembinaan dan Pengembangan
industri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1986
Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik
indonesia Nomor 3330);
Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2000 Nomor 199, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4020);
Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4737);
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun
2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian
Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir
dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 91
Tahun 2011;
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun
2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian
Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi
Eselon | Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa
kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 92 Tahun 2011;Menetapkan
1
12.
13.
14,
15,
16.
Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84/¥-IND/PER/8/2012
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun
2001 tentang Komite Akreditasi Nasional;
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84/P
Tahun 2009 tentang Pembentukan Kabinet Indonesia
Bersatu Il Periode 2009 - 2014 sebagaimana telah diubah
dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor
59/P Tahun 2011;
Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 62/M-
DAG/PER/12/2009 tentang Kewajiban Pencantuman Label
pada Barang sebagaimana telah diubah Peraturan Menteri
Perdagangan Nomor 22/M-DAG/PER/5/2010;
Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 86/M-
IND/PER/9/2009 tentang Standar Nasional Indonesia
Bidang Industri;
Peraturan Menteri Perindustrian Nomor — 105/M-
IND/PER/10/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Perindustrian;
Peraturan Kepala Badan Standardisasi Nasional Nomor 1
Tahun 2011 tentang Pedoman Standardisasi Nasional
Nomor 301 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberlakuan
Standar Nasional Indonesia Secara Wajib;
MEMUTUSKAN:
PERATURAN MENTERI PERINDUSTRIAN — TENTANG
PEMBERLAKUAN STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI)
UBIN KERAMIK SECARA WAJIB
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan
1
Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI Ubin Keramik,
yang selanjutnya disebut SPPT-SNI Ubin Keramik adalah
Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI yang dikeluarkan
oleh Lembaga Sertifikasi Produk kepada produsen yang
mampu memproduksi Ubin Keramik sesuai persyaratan
SNI10.
1
Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: §4/M-IND/PER/8/2012
Lembaga Sertifikasi Produk, yang selanjutnya disebut
LSPro adalah lembaga yang meiakukan kegiatan Sertifikasi
Produk Penggunaan Tanda SNI.
Laboratorium Penguji adalah laboratorium yang melakukan
kegiatan pengujian terhadap contoh barang sesuai
spesifikasi/metode uji SNI
Komite Akreditasi Nasional, yang selanjutnya disebut KAN
adalah lembaga non struktural, yang berada di bawah dan
bertanggung jawab langsung kepada Presiden dengan
tugas menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi serta
berwenang untuk = mengakreditasi_ lembaga dan
laboratorium untuk melakukan kegiatan sertifikasi.
Surveilan adalah pengecekan secara berkala dan/atau
secara khusus terhadap perusahaan/produsen yang telah
memperoleh SPPT-SNI atas konsistensi penerapan SPPT-
SNI, yang dilakukan oleh LSPro,
Petugas Pengawas Standar Produk yang selanjutnya
disebut PPSP adalah Pegawai Negeri Sipil di pusat atau
daerah yang ditugaskan untuk melakukan pengawasan
barang dan/atau jasa di lokasi produksi dan di luar lokasi
kegiatan produksi yang SNinya telah diberlakukan secara
wajib.
Menteri adalah Menteri yang menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang perindustrian
Direktorat Jenderal Pembina Industri adalah Direktorat
Jenderal Basis Industri Manufaktur, | Kementerian
Perindustrian.
Direktur Jenderal Pembina Industri adalah Direktur
Jenderal Basis Industri Manufaktur, | Kementerian
Perindustrian.
Direktur Pembina Industri adalah Direktur yang membina
industri Ubin Keramik pada Direktorat Jenderal Basis
Industri Manufaktur, Kementerian Perindustrian.
BPKIMI adalah Badan Pengkajian Kebijakan Iklim dan Mutu
Industri, Kementerian PerindustrianPeraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: g4/4-IND/PFR/8/2012
12. Dinas Provinsi adalah Dinas di tingkat Provinsi_ yang
menyelenggarakan urusan _pemerintahan
perindustrian.
13. Dinas
Kabupaten/Kota adalah Dinas di
Kabupaten/Kota yang __ menyelenggarakan
pemerintahan bidang perindustrian.
Pasal2
bidang
tingkat
urusan
(1) Memberlakukan secara wajib SNI ISO 13006:2010 pada
Ubin Keramik yang memiliki nomor Harmonize System
(HS):
a
b.
ex.
ex.
ex.
ex.
ex.
ex.
ex.
ex.
ex.
ex.
6907.10.10,00;
6907.10.90.00;
6907.90.10.00;
6907.90.90.00;
6908.10.10.00;
6908.10.90.00;
6908.90.11.00;
6908.90.19.00;
6908.90.91.00; dan
6908.90.99.00.
(2) Ubin Keramik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan suatu lempeng tipis yang dibuat dari lempung /
tanah fiat dan/atau material anorganik lain, biasanya
digunakan untuk melapisi dinding dan lantai yang pada
umumnya dibentuk dengan cara ekstrusi (A) atau dipress/di
tekan (B) pada suhu ruang ,tetapi dapat juga dibentuk
dengan proses lain (C), kemudian dikeringkan dan sesudah
itu dibakar pada suhu yang cukup untuk memperoleh sifat —
sifat yang diinginkan ; ubin dapat diglasir (GL) atau tanpa
glasir (UGL) , tidak mudah terbakar dan tidak dipengaruhi
cahaya0)
2
(1)
(2)
(3)
Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84 /M-IND/PER/8/2012
Pasal3
Perusahaan yang memproduksi Ubin Keramik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 wajib menerapkan
SNI dengan:
a. _memiliki SPPT-SNI Ubin Keramik sesuai ketentuan SNI
sebagaimana tersebut dalam Pasal 2; serta
b. membubuhkan tanda SNI pada setiap kemasan berisi
Ubin Keramik yang memenuhi SNI ISO 13006:2010 di
tempat yang mudah dibaca dengan tanda yang tidak
mudah hilang;
Penandaan pada setiap kemasan Ubin Keramik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan objek
pengawasan kesesuaian kualitas produk atas penerapan
SNI ISO 13006:2010.
Pasal 4
Ketentuan SNI sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
dikecualikan pada Ubin Keramik impor apabila
a. digunakan sebagai contoh uji dalam rangka penerbitan
SPPT-SNI;
b. digunakan sebagai contoh uji untuk penelitian dan
Pengembangan (Research and Development) industri;
dan/atau
c. sebagai barang contoh dalam pameran.
Ubin Keramik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib
memiliki Surat Pertimbangan Teknis dari Direktorat
Jenderal Basis Industri Manufaktur.
Surat Pertimbangan Teknis sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) sekurang-kurangnya memuat infomasi sebagai
berikut
a, identitas perusahaan / lembaga pemohon;
b. Kegunaan;
c. kapasitas produksi dan rencana produksi perusahaan
(bagi produsen);
jumlah produk yang akan diimpor;
spesifikasi produk
oa(4)
(6)
(1)
(2)
Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: g4/M-IND/PER/8/2012
Pemberian Surat Pertimbangan Teknis sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilakukan _berdasarkan
permohonan perusahaan industri / lembaga dan dilengkapi
dengan Surat Pernyataan bermeterai cukup yang
menyatakan bahwa produk yang diimpor tersebut :
a. digunakan sebagai contoh uji dalam rangka penerbitan
SPPT-SNI;
b. digunakan sebagai contoh uji untuk penelitian dan
pengembangan (Research and Development) industri;
dan/atau
d. sebagai barang contoh dalam pameran.
dengan bukti yang dapat dipertanggung jawabkan.
Ketentuan dan persyaratan pemberian Surat Pertimbangan
Teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Direktur Jenderal Pembina
industri
Pasal 5
Penerbitan SPPT-SNI Ubin Keramik sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3 huruf a dilaksanakan oleh LSPro
yang telah diakreditasi oleh KAN dengan ruang lingkup
Ubin Keramik serta ditunjuk oleh Menteri, melalui:
a. pengujian kesesuaian mutu produk terhadap Ubin
Keramik sesuai dengan ketentuan dalam SNI
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1);
b. audit penerapan Sistem Manajemen Mutu SNI ISO
9001-2008 atau revisinya, atau Sistem Manajemen
Mutu lain yang diakui.
Pengujian Ubin Keramik dalam rangka penerbitan SPPT-
SNI sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a,
sertifikasi_ulang, surveilan oleh LSPro dan pengawasan
oleh PPSP dilakukan oleh
a. laboratorum penguji dalam negeri yang telah
diakreditasi olen KAN dengan ruang lingkup Ubin
Keramik dan ditunjuk oleh Menteri; atau
b. Laboratorium di luar negeri yang telah terakreditasi
oleh lembaga akreditasi di tempat Laboratorium
7Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84/M-IND/PFR/8/2012
Penguji dimaksud berada yang mempunyai perjanjian
saling pengakuan (Mutual Recognition of Arrangement
(MRA)) dengan KAN (seperti /nternational Laboratory
Accreditation (ILAC) atau The Asia Pacific Laboratory
Accreditation Cooperation (APLAC)), dan negara
dimaksud memiliki perjanjian bilateral atau multilateral
di bidang regulasi teknis dengan Pemerintah Republik
Indonesia dan ditunjuk oleh Menteri
(3) Audit penerapan Sistem Manajemen Mutu sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) hurufb berdasarkan:
a. Surat pemyataan diri atas penerapan Sistem
Manajemen Mutu; atau
b. Seriiikat penerapan Sistem Manajemen Mutu sesuai
SNI ISO 9001:2008 atau system manajemen mutu lain
yang setara dari Lembaga Sertifikasi Sistem
Manajemen Mutu yang telah terakreditasi oleh KAN
atau Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu
yang telah menandatangani Perjanjian Saling
Pengakuan (Mutual Recognition of Arrangement
(MRA)) dengan KAN.
(4) Apabila LSPro dan atau Laboratorium penguji_ yang
terakreditasi oleh KAN sesuai ruang lingkup SNI Ubin
Keramik, belum tersedia atau belum mencukupi kebutuhan,
Menteri dapat menunjuk LSPro dan atau Laboratorium
Penguji yang kompetensinya telah dievaluasi oleh BPKIML
(5) LSPro_dan/atau Laboratorium Penguji yang ditunjuk
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) paling lama 2 (dua)
tahun sejak penunjukan harus telah diakreditasi KAN.
Pasal 6
LSPro sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 wajib
menerbitkan SPPT-SNI Ubin Keramik dengan mencantumkan
minimal informasi:
nama dan alamat perusahaan;
alamat pabrik;
nama penanggung jawab;
merek;
nama dan alamat importir (bagi produk impor);
nomor dan judul SNI; dan
jenis produk
enmeaoco(1)
(2)
(1)
(2)
(1)
(2)
(1)
Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84/M-IND/PER/8/2012
Pasal 7
LSProsebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 wajib
melaporkan penerbitan SPPT SNI Ubin Keramik selambat
lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak SPPT-SNI diterbitkan
kepada Direktur Jenderal Pembina Industri dan Kepala
BPKIMI.
LSPro yang menerbitkan SPPT-SNI Ubin Keramik
bertanggung jawab tas _pelaksanaan _surveilan
penggunaan tanda SNI dari SPPT-SNI yang diterbitkan.
Pasal 8
Ubin Keramik produksi dalam negeri yang berada dalam
kemasan bertanda SNI_namun berisi Ubin Keramik yang
tidak memenuhi SNI ISO 13006:2010 dan telah beredar di
pasar, harus ditarik dari peredaran oleh produsen yang
bersangkutan.
Tata cara penarikan produk dari peredaran sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 9
Ubin Keramik impor yang tidak memenuhi SNI ISO
13006:2010 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
dilarang masuk Daerah Pabean Indonesia
Ubin Keramik asal impor yang tidak memenuhi ketentuan
SNI ISO 13006:2010 sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 dan telah berada di dalam Kawasan Pabean Indonesia
wajib di re-ekspor atau dimusnahkan oleh pelaku usaha
apabila permohonan SPPT-SNI ditolak atau tidak memiliki
Sertifikat SPPT-SNI
Pasal 10
Pembinaan dan pengawasan tethadap _pelaksanaan
penerapan SNI Ubin Keramik sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pembina
IndustriPeraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84/M-IND/PFR/8/2012
(2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditakukan di
a. lokasi produksi dengan cara pengambilan contoh dalam
proses produksi; dan/atau
b. luar lokasi produksi dengan cara pembelian Ubin
Keramik dalam kemasan bertanda SNI di pasar/toko;
dilaksanakan oleh PPSP dengan bekerjasama dan/atau
berkoordinasi dengan instansi terkait sekurang-kurangnya 1
(satu) kali dalam setahun
(3) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) Direktorat Jenderal Pembina Industri
bekerjasama dan berkoordinasi dengan Dinas Provinsi
dan/atau Dinas Kabupaten/Kota atau instansi terkait.
(4) BPKIMI melaksanakan pembinaan terhadap Lembaga
Penilaian Kesesuaian dalam rangka penerapan SNI Ubin
Keramik.
(5) Dalam melaksanakan pembinaan sebagaimana dimaksud
pada ayat (4), BPKIMI dapat memberikan teguran tertulis
dan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan
kepada LSPro dan Laboratorium Penguji yang melanggar
ketentuan dalam Peraturan Menteri ini
Pasal 11
Direktur Jenderal Pembina Industri menetapkan Petunjuk
Teknis dan Petunjuk Pengawasan Penerapan SNI Ubin
Keramik,
Pasal 12
Pada saat Peraturan Menter’ ini berlaku ketentuan yang terkait
dengan Ubin Keramik dalam Peraturan Menteri Perindustrian
Nomor 46/M-IND/PER/3/2012 tentang Pemberlakuan Standar
Nasional Indonesia (SNI) Keramik Tableware, Kloset Duduk
dan Ubin Keramik Secara Wajib dinyatakan dicabut dan tidak
berlaku,
10Peraturan Menteri Perindustrian RI
Nomor: 84/M-IND/PER/8/2012
Pasal 13
Pelaku usaha, LSPro dan/atau Laboratorium Penguji yang
melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan
Menteri ini dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 14
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 Januari
2013
Agar setiap orang mengetahuinya, Peraturan Menteri ini
diundangkan dengan menempatkannya dalam Berita Negara
Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 16 Agustus 2012
MENTERI PERINDUSTRIAN
REPUBLIK INDONESIA
tt.
MOHAMAD S. HIDAYAT
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 24 Agustus 2012
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA,
REPUBLIK INDONESIA
AMIR SYAMSUDIN
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012 NOMOR 857
Salinan sesuai dengan aslinya
iat Jenderal
Perindustrian