Metode Geomagnetik dalam Geofisika
Metode Geomagnetik dalam Geofisika
PENDAHULUAN
2
BAB II
DASAR TEORI
3
mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan ini terhadap
waktu jauh lebih cepat.
3. Medan magnet anomali
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung mineral
4
2.4 Komponen Magnet Bumi
Komponen medan magnet bumi biasa disebut elemen medan magnet bumi,
mempunyai tiga arah utama yaitu komponen arah utara, komponen arah timur dan
komponen ke arah bawah. Pada koordinat kartesian ketiga komponen tersebut
dinyatakan X, Y, Z. Elemen-elemen isinya adalah :
1. Deklinasi (D) adalah sudut utara magnet bumi dengan komponen horisontal
yang dihitung dari utara menuju timur (sudut antara utara geomagnetic dan
utara geografis).
2. Inklinasi (I) adalah sudut antara medan magnet total dengan bidang
horisontal yang dihitung dari horisontal menuju ke bidang vertikal ke bawah
(sudut antara bidang horizontal dan vektor medan total).
3. Intensitas horisontal (H) adalah magnitudo dari mean magnet total pada arah
horisontal
4. Medan magnet total adalah magnitudo dari medan vektor magnet total
5
dengan menggunakan beberapa koreksi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pada
saat pengukuran.
Medan magnet total yang terukur dilapangan merupakan medan magnet
semu karena banyak hal yang mempengaruhinya. Dari beberapa faktor yang
mempengaruhi medan magnet tersebut perlu diadakanya koreksi sehingga akan
didapatkan besar medan magnet anomaly di lapangan. Pengukuran medan magnet
dilapangan dilakukan dengan beberapa kali yang bertujuan untuk mengontrol data
pengukuran. Pada saat pengolahan data, data medan magnet dan waktu yang terukur
harus direratakan terlebih dahulu, untuk menghilangkan kesalahan yang terjadi
pada saat pengukuran,dengan menggunakan rumus :
ΔH = Htotal ± ΔHharian
2. Koreksi IGRF
6
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi
dari tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar
dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika
nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi
medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat
dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik
total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis
yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan
sebagai berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0
Dimana H0 = IGRF
8
Komple
0 T T
Gambar 2.2 Grafik hubungan antara
Ferimagnetik
Pada bahan yang bersifat, dipole yang berdekatan memiliki arah yang
berlawanan tetapi momen magnetiknya tidak sama besar. Bahan ferrimagnetik
memiliki nilai suseptibilitas tinggi tetapi lebih rendah dari bahan feromagnetik,
beberapa contoh dari bahan ferimagnetik adalah ferriete dan magnetite.
Dalam aplikasi modern ferriete lebih berguna dibanding semua jenis bahan
magnetik, karena selain dari sifat magnetiknya, bahan ini juga merupakan isolator
yang baik (Omar, 1993).
Antiferomagnetik
Jika jumlah momen magnetik dari sub-domain paralel dan antiparalel
mengganti satu sama lain pada material yang seharusnya feromagnetik, nilai
suseptibilitasnya sangat kecil, mendekati subtansi paramagnetik. Material ini
disebut antiferomagnetik dan contohnya hematite (Telford dkk.,1976 ).
Diamagnetik
Bahan diamagnetik merupakan bahan yang memiliki nilai suseptibilitas
negatif dan sangat kecil. Sifat diamagnetik ditemukan oleh Faraday pada tahun
1846 ketika sekeping bismuth ditolak oleh kedua kutub magnet, hal ini
memperlihatkan bahwa medan induksi dari magnet tersebut menginduksi momen
magnetik pada bismuth pada arah yang berlawanan dengan medan induksi pada
magnet (Tipler, 2001).
9
Paramagnetik
Bahan paramagnetik adalah bahan- bahan yang memiliki suseptibiitas
magnetik m yang positif dan sangat kecil. Paramagnetik muncul dalam bahan yang
atom- atomnya memiliki momen magnetik hermanen yang berinteraksi satu sama
lain secara sangat lemah. Apabila tidak terdapat Medan magnetik luar, momen
magnetik ini akan berorientasi acak. Dengan daya Medan magnetik luar, momen
magnetik ini arahnya cenderung sejajar dengan medannya, tetapi ini dilawan oleh
kecenderungan momen untuk berorientasi acak akibat gerakan termalnya.
Perbandingan momen yang menyearahkan dengan medan ini bergantung pada
kekuatan medan dan pada temperaturnya. Pada medan magnetik luar yang kuat
pada temperatur yang Sangat rendah, hampir seluruh momen akan disearahkan
dengan medannya (Tipler, 2001).
Karakteristik dari bahan yang bersifat paramagnetik adalah memiliki
momen magnetik permanen yang akan cenderung menyearahkan diri sejajar dengan
arah medan magnet dan harga suseptibilitas magnetiknya berbanding terbalik
dengan suhu T. Variasi dari nilai susceptibilitas magnetik yang berbanding terbalik
dengan suhu T adalah merupakan hukum Curie
N g B J J 1
2
V 3 k BT
N B P2
2
3V k BT
C
T
Persamaan di atas adalah merupakan persamaan hukum Curie dimana T adalah suhu
pengamatan, B adalah bilangan Bohr Magneton, N adalah jumlah atom bahan, k B
adalah konstanta Boltzman, C adalah tetapan Curie, P adalah bilangan Bohr
Magneton efektif, dan g adalah faktor Lande.
P g J J 1
1
2
3 1 S S 1 LL 1
g
2 2 J J 1
10
Gambar 2.3 Grafik hubungan antara suseptibilitas
magnetik terhadap temperatur T pada bahan
paramagnetik (Kittel, 1996)
Base
lintasan
Looping
13
P (xo ,yo,h)
R
h
y Q x
z
Gambar 2.6 Upward Continuation
(Ia|<|I), Ia=I
Keterangan :
I = inklinasi
geomagnetik
D = deklinasi geomagnetik
L(Ɵ) = tujuan vektor gelombang dengan derajat azimutnya
Ia = inklinasi yang digunakan untuk koreksimagnetik
RTP (Reduction to The Pole) merupakan salah satu dari beberapa filter yang
digunakan untuk membantu proses interpretasi. Filter RTP pada dasarnya
mentransformasikan anomali magnetik disuatu lokasi berada pada kutub utara
magnetik bumi. Sehingga, anomali medan magnet terletak tepat diatas tubuh benda
penyebab anomali dan anomali magnet bersifat monopol/satu kutub. Reduksi
kekutub diakukan dengan dengan cara mengubah sudut inklinasi menjadi 90 o dan
deklinasi menjadi 0o.
Filter RTP mengasumsikan bahwa pada seluruh lokasi pengambilan data
nilai medan magnet bumi (terutama I dan D) memiliki nilai dan arah yang
konstan (Arkani-Hamed, 1988). Asumsi ini dapat diterima apabila lokasi tersebut
memiliki luas area yang relatif sempit. Namun hal ini tidak dapat diterima apabila
luas daerah pengambilan data sangat luas karena melibatkan nilai lintang dan bujur
yang bervariasi, dimana harga medan magnet bumi berubah secara bertahap.
15
Gambar 2.7. (a)Sebelum direduksi (b)Setelah direduksi ([Link]
[Link])
2.10 Reduce To Equator
16
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Mulai
Data Sintetik
Ha
Analisa
Kesimpulan
Selesai
17
3.2 Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data
Dalam pengolahan data terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan agar
suatu hasil data yang didapat akan meminimalisir kesalahan yang dilakukan ketika
mengolah data. Adapun tahapan-tahapan tersebut yaitu:
18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
19
37 16.35.35 444685 9160120
38 16.37.17 444685 9160100
39 16.39.57 444685 9160080
40 16.42.22 444685 9160060
20
4.2 Grafik Hvar vs Waktu
Hvar vs Waktu
0
14:24:00 14:52:48 15:21:36 15:50:24 16:19:12 16:48:00 17:16:48
-5
-10
-15
-20
-25
-30
Terlihat pada grafik Hvar vs Waktu ini menunjukkan adanya suatu fluktuasi,
namun kenaikannya tidak banyak dan penurunannya sangat signifikan sekali. Pada
saat jam 14.43.00 nilai intensitasnya diperoleh yaitu 0 nT, sedangkan nilai intensitas
yang turun ditunjukkan pada jam 16.42.22 dengan nilai sebesar -408,3056667 nT.
Hal ini terjadi dikarenakan adanya pengaruh dari medan magnet luar dimana yang
menyebabkannya yaitu dari matahari. Adapun pengaruh medan magnet luar ini
sangat mempengaruhi nilai Ha karena ionisasi dari atmosfer yang dipengaruhi oleh
arus listrik pada atmosfer tersebut.
21
4.3 Grafik Ha vs Posisi
Ha vs Posisi
600
400
200
0
9160000 9160100 9160200 9160300 9160400 9160500 9160600 9160700 9160800 9160900
-200
-400
-600
-800
-1000
Sama halnya pada grafik Hvar vs Waktu, pada grafik Ha vs Posisi ini juga
memiliki fluktuasi yang cukup signifikan. Dilihat dari grafik menunjukkan
didominasi nilai Ha yang naik yaitu pada posisi koordinat x yaitu 444685 dan y
yaitu 9160740 dengan nilai 427,5945 nT, sedangkan nilai Ha yang turun
ditunjukkan pada posisi x yaitu 444685 dan y yaitu 9160360 dengan nilai yang
diperoleh sebesar -842,235 nT. Dilihat dari adanya fluktuasi tersebut kemungkinan
pada grafik tersebut terdapat nilai anomali. Hal ini dipengaruhi oleh variasi sekuler
dari matahari (IGRF) yang diperbarui setiap lima tahun sekali.
22
4.4 Peta TMI
Pada peta TMI menunjukkan adanya nilai variasi Ha dengan berbagai warna
yang memiliki rentang nilai yaitu 910,3 nT sampai dengan -1362,8 nT. Pada peta
tersebut, warna merah memiliki nilai yang tinggi sebesar 12,2 nT menunjukkan
adanya batuan beku dan terendah ditunjukkan oleh warna biru dengan nilai -1362
nT menunjukkan adanya suatu mineral. Sedangkan untuk warna hijau memiliki
nilai -310,4 nT yang menunjukkan adanya suatu mineral didalamnya.
23
4.5 Peta Reduce To Pole
Peta RTP ini dipengaruhi oleh adanya oleh kutub magnetik, hal ini terlihat
pada kontur yang mengarah pada kutub. Peta ini diolah menggunakan software
Oasis Montaj yang ditujukan agar peta searah pada kutub. Dari skala warna terlihat
nilai positif terdapat pada warna ungu muda yaitu 1276,6 nT dan warna biru
memiliki nilai negatif yaitu -1716,2 nT.
24
4.6 Peta Reduce To Equator
Berbeda dengan peta RTP sebelumnya peta RTE ini menunjukkan kontur
yang mengarah pada arah khatulistiwa. Pada peta ini terlihat persebaran variasi
warna yang didominasi oleh warna hijau, merah, dan orange yang memiliki nilai
masing-masing yaitu -242,7 nT, -33,6 nT, dan -128,9 nT.
Daerah yang memiliki intensitas tinggi ditunjukkan oleh warna dengan
warna merah sebesar 50%, intensitas sedang dengan warna hijau sebesar 30% dan
intensitas rendah sebesar 20 %.
25
4.7 Peta Upward Continuation
25x 50x
75x 100x
26
4.8 Peta Residual
25x 50x
75x 100x
Gambar 4.7 Peta Residual
27
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data sampai ke pembuatan grafik dan peta, maka
dapat disimpulkan yaitu :
1. Pada grafik Hvar vs Waktu saat jam 14.43.00 nilai intensitasnya diperoleh
yaitu 0 nT, sedangkan nilai intensitas yang turun ditunjukkan pada jam
16.42.22 dengan nilai sebesar -408,3056667 nT.
2. Pada grafik Ha vs Posisi menunjukkan didominasi nilai Ha yang naik yaitu
x = 444685 dan y = 9160740 dengan nilai 427,5945 nT, sedangkan nilai Ha
yang turun yaitu x = 444685 dan y = 9160360 dengan nilai yang diperoleh
sebesar -842,235 nT.
3. Pada peta TMI, warna merah memiliki nilai sebesar 12,2 nT menunjukkan
adanya batuan beku dan terendah pada warna biru dengan nilai -1362 nT
menunjukkan adanya suatu mineral.
4. Pada peta RTP nilai positif terdapat pada warna ungu muda yaitu 1276,6 nT
dan warna biru memiliki nilai negatif yaitu -1716,2 nT. Sedangkan pada
peta RTE warna yang didominasi oleh warna hijau, merah, dan orange yang
memiliki nilai masing-masing yaitu -242,7 nT, -33,6 nT, dan -128,9 nT.
5. Pada peta Upward Continuation pada warna merah terlihat adanya kontras
yang cukup jelas dengan nilai -157,9 nT. Pada elevasi ke 100 terlihat ada
perubahan warna yang mencolok yaitu dengan warna hijau dengan
persebaran yang mendominasi pada peta tersebut.
6. Untuk peta residual menunjukkan adanya suatu keberadaan mineralisasi
dengan ungu yang mendominasi dengan nilai yaitu 641,3 nT. dengan nilai
641,3 nT.
5.2 Saran
Dalam eksplorasi geofisika, dengan metode apapun terutama magnetik yang
merupakan metode pasif dengan ambiguitas yang tinggi, Khususnya magnetik yang
dipengaruhi oleh variasi harian yang jika diamati dengan grafik, maka
28
perubahannya tidak linier. Sehingga penggunaan satu alat dengan metode loop tidak
akan menggambarkan anomali bawah permukaan secara akurat dibanding dengan
metode base-rover.
29
DAFTAR PUSTAKA
30