0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
295 tayangan30 halaman

Metode Geomagnetik dalam Geofisika

Bab I memberikan latar belakang tentang ilmu geofisika khususnya metode geomagnetik. Metode ini digunakan untuk mendeteksi struktur bawah permukaan dengan memanfaatkan sifat magnetik batuan. Bab II menjelaskan dasar teori dari metode geomagnetik termasuk komponen-komponen medan magnet bumi dan koreksi data yang perlu dilakukan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
295 tayangan30 halaman

Metode Geomagnetik dalam Geofisika

Bab I memberikan latar belakang tentang ilmu geofisika khususnya metode geomagnetik. Metode ini digunakan untuk mendeteksi struktur bawah permukaan dengan memanfaatkan sifat magnetik batuan. Bab II menjelaskan dasar teori dari metode geomagnetik termasuk komponen-komponen medan magnet bumi dan koreksi data yang perlu dilakukan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu geofisika merupakan disiplin ilmu yang mempelajari bumi beserta
isinya dengan menggunakan prinsip-prinsip fisika, seperti perambatan gelombang,
listrik, medan magnet, dan medan gravitasi bumi. Umumnya ilmu geofisika
berperan dalam hal interpretasi struktur maupun mineral-mineral di bawah
permukaan bumi (Dobrin dan Savit, 1988).
Banyak sekali metode-metode yang telah dikembangkan untuk pemetaan
struktur bawah permukaan tersebut. Salah satu dari metode tersebut adalah metode
geomagnetik. Metode geomagnetik adalah metode yang digunakan untuk
menyelidiki kondisi permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat kemagnetan
batuan yang diidentifikasikan oleh kerentanan magnet batuan (Syamsu, 2008).
Metode ini didasarkan pada pengukuran variasi intensitas magnetik di
permukaan bumi yang disebabkan adanya variasi distribusi (anomali) benda
termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi intensitas medan magnetik yang
terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik dibawah
permukaan, kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang
mungkin teramati. Pengukuran intensitas medan magnetik dapat dilakukan di darat,
laut maupun udara (Rosid dan Syamsu, 2008).
Suseptibilitas magnet batuan adalah harga magnet suatu batuan terhadap
pengaruh magnet, yang pada umumnya erat kaitannya dengan kandungan mineral.
Semakin besar kandungan mineral magnetit di dalam batuan, akan semakin besar
harga suseptibilitasnya. Perbedaan permeabilitas itu sendiri pada dasarnya
diakibatkan oleh perbedaan distribusi mineral yang bersifat ferromagnetik,
paramagnetik, dan diamagnetik. Metode magnetik sering dijadikan survei awal
dalam kegiatan eksplorasi minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral. Selain itu
metode geomagnetik juga dapat digunakan untuk mendeteksi benda-benda
feromagnetik yang memang sengaja ditanam dalam tanah, misalnya pipa air bawah
tanah, atau kabel bawah tanah (Telford dan Sheriff,1990).
1
1.2 Maksud dan Tujuan
Kegiatan ini dimaksudkan agar setiap khalayak dapat mengerti dan
memahami konsep perhitungan dan pengolahan data filtering dari metode
geomagnetik ini.
Sedangkan tujuan dari kegiatan ini yaitu dari hasil pengolahan data tersebut
nantinya akan dibuat grafik dan peta.

2
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Metode Magnet Bumi


Metode Geomagnetik adalah salah satu metode geofisika yang mengukur
variasi medan magnet bumi dibawah permukaan dengan menggunakan alat tertentu.
Metode Geomagnetik sering digunakan untuk survey pendahuluan dalam eksplorasi
minyak bumi, panas bumi, batuan mineral, maupun untuk keperluan pemantauan
(monitoring) gunungapi. Metode ini mempunyai akurasi pengukuran yang relatif
tinggi, instrument dan pengoperasian dilapangan relatif sederhana, mudah dan cepat
jika dibandingkan dengan metode geofisika lainnya.
Variasi medan magnetik yang terukur dipermukaan merupakan target dari
survey magnetik (anomali magnetik), dimana anomali magnetik timbul akibat
adanya kontras suseptibilitas batuan terhadap sekelilingnya. Secara garis besar
anomali ini disebabkan oleh medan magnetik remanen dan medan magnet induksi.
Medan magnet remanen mempunyai peranan yang besar pada magnetisasi batuan
yaitu pada besar dan arah medan magnetnya serta sangat rumit diamati karena
berkaitan dengan peristiwa kemagnetan yang dialami sebelumnya. Sisa kemagnetan
ini disebut dengan Normal Residual Magnetism yang merupakan akibat dari
magnetisasi medan utama (Telford, 1979).

2.2 Medan Magnet Bumi


Medan magnet bumi terdiri dari 3 bagian :
1. Medan magnet utama (main field)
Medan magnet utama dapat didefinisikan sebagai medan rata-rata hasil
pengukuran dalam jangka waktu yang cukup lama mencakup daerah dengan luas
lebih dari 106 km2..
2. Medan magnet luar (external field)
Pengaruh medan magnet luar berasal dari pengaruh luar bumi yang
merupakan hasil ionisasi di atmosfer yang ditimbulkan oleh sinar ultraviolet dari
matahari. Karena sumber medan luar ini berhubungan dengan arus listrik yang

3
mengalir dalam lapisan terionisasi di atmosfer, maka perubahan medan ini terhadap
waktu jauh lebih cepat.
3. Medan magnet anomali
Medan magnet anomali sering juga disebut medan magnet lokal (crustal
field). Medan magnet ini dihasilkan oleh batuan yang mengandung mineral

bermagnet seperti magnetite (


Fe 7 S 8 ), titanomagnetite ( Fe 2Ti O4 ) dan lain-lain yang

berada di kerak bumi.

2.3 Variasi Medan Magnet


Intensitas medan magnetik yang terukur di atas permukaan bumi senantiasa
mengalami perubahan terhadap waktu. Perubahan medan magnetik ini dapat terjadi
dalam waktu yang relatif singkat ataupun lama. Berdasarkan faktor-faktor
penyebabnya perubahan medan magnetik bumi dapat terjadi antara lain:
[Link] sekuler
Variasi sekuler adalah variasi medan bumi yang berasal dari variasi medan
magnetik utama bumi, sebagai akibat dari perubahan posisi kutub magnetik bumi.
Pengaruh variasi sekuler telah diantisipasi dengan cara memperbarui dan
menetapkan nilai intensitas medan magnetik utama bumi yang dikenal dengan
IGRF setiap lima tahun sekali.
[Link] harian
Variasi harian adalah variasi medan magnetik bumi yang sebagian besar
bersumber dari medan magnet luar. Medan magnet luar berasal dari perputaran arus
listrik di dalam lapisan ionosfer yang bersumber dari partikel-partikel terionisasi
oleh radiasi matahari sehingga menghasilkan fluktasi arus yang dapat menjadi
sumber medan magnet. Jangkauan variasi ini hingga mencapai 30 gamma dengan
perioda 24 jam. Selain itu juga terdapat variasi yang amplitudonya berkisar 2
gamma dengan perioda 25 jam. Variasi ini diasosiasikan dengan interaksi ionosfer
bulan yang dikenal dengan variasi harian bulan (Telford, 1976).

4
2.4 Komponen Magnet Bumi
Komponen medan magnet bumi biasa disebut elemen medan magnet bumi,
mempunyai tiga arah utama yaitu komponen arah utara, komponen arah timur dan
komponen ke arah bawah. Pada koordinat kartesian ketiga komponen tersebut
dinyatakan X, Y, Z. Elemen-elemen isinya adalah :
1. Deklinasi (D) adalah sudut utara magnet bumi dengan komponen horisontal
yang dihitung dari utara menuju timur (sudut antara utara geomagnetic dan
utara geografis).
2. Inklinasi (I) adalah sudut antara medan magnet total dengan bidang
horisontal yang dihitung dari horisontal menuju ke bidang vertikal ke bawah
(sudut antara bidang horizontal dan vektor medan total).
3. Intensitas horisontal (H) adalah magnitudo dari mean magnet total pada arah
horisontal
4. Medan magnet total adalah magnitudo dari medan vektor magnet total

Gambar 2.1 Elemen Magnetik Bumi

2.5 Koreksi Data Magnetik


Survey geomagnetik bertujuan mencari variasi medan magnet di bawah permukaan.
Dari akusisi data yang dilakukan maka diperlukan pengolahan data yang akan
menghasilkan suatu keluaran berupa anomali medan magnet dibawah permukaan

5
dengan menggunakan beberapa koreksi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor pada
saat pengukuran.
Medan magnet total yang terukur dilapangan merupakan medan magnet
semu karena banyak hal yang mempengaruhinya. Dari beberapa faktor yang
mempengaruhi medan magnet tersebut perlu diadakanya koreksi sehingga akan
didapatkan besar medan magnet anomaly di lapangan. Pengukuran medan magnet
dilapangan dilakukan dengan beberapa kali yang bertujuan untuk mengontrol data
pengukuran. Pada saat pengolahan data, data medan magnet dan waktu yang terukur
harus direratakan terlebih dahulu, untuk menghilangkan kesalahan yang terjadi
pada saat pengukuran,dengan menggunakan rumus :

Hroover rata-rata= jumlah Hobs pengukuran / n

troover rata-rata = jumlah tobs pengukuran / n

Dimana n = banyaknya pengukuran


Untuk memperoleh nilai anomali medan magnetik yang diinginkan, maka
dilakukan koreksi terhadap data medan magnetik total hasil pengukuran pada setiap
titik lokasi atau stasiun pengukuran, yang mencakup koreksi harian, IGRF dan
topografi.
1. Koreksi Harian
Koreksi harian (diurnal correction) merupakan penyimpangan nilai medan
magnetik bumi akibat adanya perbedaan waktu dan efek radiasi matahari dalam satu
hari. Waktu yang dimaksudkan harus mengacu atau sesuai dengan waktu
pengukuran data medan magnetik di setiap titik lokasi (stasiun pengukuran) yang
akan dikoreksi. Apabila nilai variasi harian negatif, maka koreksi harian dilakukan
dengan cara menambahkan nilai variasi harian yang terekan pada waktu tertentu
terhadap data medan magnetik yang akan dikoreksi. Sebaliknya apabila variasi
harian bernilai positif, maka koreksinya dilakukan dengan cara mengurangkan nilai
variasi harian yang terekan pada waktu tertentu terhadap data medan magnetik yang
akan dikoreksi, datap dituliskan dalam persamaan

ΔH = Htotal ± ΔHharian

2. Koreksi IGRF
6
Data hasil pengukuran medan magnetik pada dasarnya adalah konstribusi
dari tiga komponen dasar, yaitu medan magnetik utama bumi, medan magnetik luar
dan medan anomali. Nilai medan magnetik utama tidak lain adalah niali IGRF. Jika
nilai medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi harian, maka kontribusi
medan magnetik utama dihilangkan dengan koreksi IGRF. Koreksi IGRFdapat
dilakukan dengan cara mengurangkan nilai IGRF terhadap nilai medan magnetik
total yang telah terkoreksi harian pada setiap titik pengukuran pada posisi geografis
yang sesuai. Persamaan koreksinya (setelah dikoreksi harian) dapat dituliskan
sebagai berikut :
ΔH = Htotal ± ΔHharian ± H0

Dimana H0 = IGRF

2.6 Sifat-Sifat Kemagnetan Bumi


Berdasarkan perilaku molekulnya di dalam Medan magnetik luar, bahan
terdiri atas tiga kategori, yaitu paramagnetik, feromagnteik dan diamagnetik.
Sebagian besar mineral di alam bersifat diamagnetik atau paramagnetik. Namun,
ada beberapa mineral yang bersifat feromagnetik. Mineral-mineral ini yang
umumnya tergolong dalam oksida besi- titanium, sulfide besi dan hidrooksida besi
yang disebut sebagai mineral magnetik. Dari segi kuantitas keberadaan mineral-
mineral ini sangat kecil. Meskipun demikian, keberadaan mineral- mineral tersebut
pada tanah atau batuan, fasanya, ukuran dan bentuk bulirnya erat kaitannya dengan
ganesa serta perubahan lingkungan yang dialami oleh tanah atau batuan tersebut.
Feromagnetik
Feromagnetik merupakan bahan yang memiliki nilai suseptibilitas
magnetik  m positif, yang sangat tinggi. Dalam bahan ini sejumlah kecil medan
magnetik luar dapat menyebabkan derajat penyearahan yang tinggi pada momen
dipol magnetik atomnya. Dalam beberapa kasus, penyearahan ini dapat bertahan
sekalipun Medan pemagnetannnya telah hilang. Ini terjadi karena momen dipol
magnetik atom dari bahan- bahan feromagnetik ini mengerahkan gaya- gaya yang
kuat pada atom tetangganya sehingga dalam daerah ruang yang sempit momen ini
disearahkan satu sama lain sekalipun medan luarnya tidak ada lagi. Daerah ruang
7
tempat momen dipol magnetik disearahkan ini disebut daerah magnetik. Dalam
daerah ini, semua momen magnetik disearahkan, tetapi arah penyearahannya
beragam dari daerah ke daerah sehingga momen magnetik total dari kepingan
mikroskopik bahan feromagnetik ini adalah nol dalam keadaan normal (Tipler,
2001).
Pada temperatur tertentu bahan feromagnetik akan berubah menjadi bahan
paramagnetik, temperatur transisi ini dinamakan temperatur curie. Diatas
temperatur curie orientasi momen magnetik akan menjadi acak, dan suseptibilitas
magnetiknya diberikan oleh persamaan:
C

T  Tf

Dimana C adalah tetapan Curie dan Tf adalah temperatur Curie. Persamaan


diatas merupakan hukum Curie- Weiss, besar tetapan Curie adalah
Tf
C

0 N ( g B ) 2
C
kB

Dimana  adalah konstanta Weiss yang besarnya


k BT f

0 N g B 2

8

Komple
0 T T
Gambar 2.2 Grafik hubungan antara

magnetik  terhadap temperatur T pada bahan feromagnetik


(Kittel, 1996)

Ferimagnetik
Pada bahan yang bersifat, dipole yang berdekatan memiliki arah yang
berlawanan tetapi momen magnetiknya tidak sama besar. Bahan ferrimagnetik
memiliki nilai suseptibilitas tinggi tetapi lebih rendah dari bahan feromagnetik,
beberapa contoh dari bahan ferimagnetik adalah ferriete dan magnetite.
Dalam aplikasi modern ferriete lebih berguna dibanding semua jenis bahan
magnetik, karena selain dari sifat magnetiknya, bahan ini juga merupakan isolator
yang baik (Omar, 1993).
Antiferomagnetik
Jika jumlah momen magnetik dari sub-domain paralel dan antiparalel
mengganti satu sama lain pada material yang seharusnya feromagnetik, nilai
suseptibilitasnya sangat kecil, mendekati subtansi paramagnetik. Material ini
disebut antiferomagnetik dan contohnya hematite (Telford dkk.,1976 ).
Diamagnetik
Bahan diamagnetik merupakan bahan yang memiliki nilai suseptibilitas
negatif dan sangat kecil. Sifat diamagnetik ditemukan oleh Faraday pada tahun
1846 ketika sekeping bismuth ditolak oleh kedua kutub magnet, hal ini
memperlihatkan bahwa medan induksi dari magnet tersebut menginduksi momen
magnetik pada bismuth pada arah yang berlawanan dengan medan induksi pada
magnet (Tipler, 2001).

9
Paramagnetik
Bahan paramagnetik adalah bahan- bahan yang memiliki suseptibiitas
magnetik  m yang positif dan sangat kecil. Paramagnetik muncul dalam bahan yang
atom- atomnya memiliki momen magnetik hermanen yang berinteraksi satu sama
lain secara sangat lemah. Apabila tidak terdapat Medan magnetik luar, momen
magnetik ini akan berorientasi acak. Dengan daya Medan magnetik luar, momen
magnetik ini arahnya cenderung sejajar dengan medannya, tetapi ini dilawan oleh
kecenderungan momen untuk berorientasi acak akibat gerakan termalnya.
Perbandingan momen yang menyearahkan dengan medan ini bergantung pada
kekuatan medan dan pada temperaturnya. Pada medan magnetik luar yang kuat
pada temperatur yang Sangat rendah, hampir seluruh momen akan disearahkan
dengan medannya (Tipler, 2001).
Karakteristik dari bahan yang bersifat paramagnetik adalah memiliki
momen magnetik permanen yang akan cenderung menyearahkan diri sejajar dengan
arah medan magnet dan harga suseptibilitas magnetiknya berbanding terbalik
dengan suhu T. Variasi dari nilai susceptibilitas magnetik yang berbanding terbalik
dengan suhu T adalah merupakan hukum Curie
N g B  J J  1
2

V 3 k BT

N B P2
2

3V k BT

C

T
Persamaan di atas adalah merupakan persamaan hukum Curie dimana T adalah suhu
pengamatan, B adalah bilangan Bohr Magneton, N adalah jumlah atom bahan, k B
adalah konstanta Boltzman, C adalah tetapan Curie, P adalah bilangan Bohr
Magneton efektif, dan g adalah faktor Lande.

P  g J J  1
1
2

3 1  S S  1  LL  1
g 
2 2  J J  1 

10
Gambar 2.3 Grafik hubungan antara suseptibilitas
magnetik  terhadap temperatur T pada bahan
paramagnetik (Kittel, 1996)

Sifat dari bahan dapat diketahui dengan mengetahui kandungan mineral


magnetik pada bahan tersebut. Kandungan mineral magnetik ini dapat diketahui
dengan serangkaian penelitian, salah satunya adalah dengan mengukur temperatur
curie dari bahan tersebut. Batuan merupakan bahan yang komplek, tersusun dari
lebih satu mineral magnetik. Dengan pengukuran temperatur curie, dapat
menentukan mineral magnetik yang terkandung dalam batuan.

2.7 Akuisisi Data Metode Geomagnetik (Base Rover)


Metode Geomagnetik merupakan metode geofisika pasif, yaitu metode
tanpa memberikan suaut respon kedalam bumi atau hanya memanfaatkan medan
alamiah dalam hal ini medan magnet yang terdapat di dalam bumi. Dalam metode
geomagnetic terdapat beberapa cara survey yaitu secara looping dan Base-Roover.
Looping merupaakan survey geomagnetik dengan cara titik pengukuran
geomagnetik akan kembali lagi ketitik semula. Sedangkan Base-Roover suatu cara
survey geomagnetic dengan memanfaatkan suatu titik ikat sebagai base ( titik yang
tidak bergerak ) dan titik lain yang bergerak yang disebut Roover.
Sebelum melakukan survey magnetik dengan cara ini maka perlu ditentukan
lintasan, arah lintasan, dan spasi lintasan. Pada survey geomagnetik Base-Roover
salah satu alat dari magnetik terletak pada titik base yang berfungsi sebagai
pengontrol data karena variasi harian. Pembacaan alat pada base biasanya dilakukan
dengan orde 2 ( dua ) menit yang bertujuan untuk mengetahui perubahan nilai
medan magnet yang tergantung perubahan waktu dan kondisi loaksi survey. Alat
11
pada roovver bergerak sesuai dengan lintasan yang telah ditentukan dan setiap titik
dengan spasi yang telah ditentukan dialkukan pengukuran dan pembacaan pada alat.
Konsep dari pengukuran dengan konsep ini dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 2.4 Konsep dasar pengukuran Base-Roover

Dalam peletakan kedudukan base tidak boleh sembarangan karena harus


mencakupi seluruh lintasan roover, jika hal ini tidak dilakukan maka data roover
yang bberada jauh atau diluar area base maka akan sulit diadakan kontrol data.
Misalnya terdapat beberapa lintasan maka peletakan base harus berada diskitar
lintasan tersebut. Sehingga dari data yang didapatkan akan terdapat hubungan
antara base dan roover yang akan dilakukan koreksi berdasarkan variasi harian.
Pengukuran secara Looping merupakan suaut konsep pengukuran
geomagnetik dengan memanfaatkan suatu titik base yang digunakan sebagai titik
acuan dan pengukuran awal hingga terakhir akan kembali pada titik tersebut
(looping). Konsep looping sebenarnya pengukuran yang kurang akurat
dibandingkan pengukuran secara base-roover, dikarenakan pengukuran secara
looping hanya memperhitungkan variasi harian dari suatu daerah berdasarkan dua
titik saja. Yaitu titik base dan titik looping. Dimana selisih intensitas medan magnet
pada awal pengukuran dengan intnsitas medan magnet pengukuran terakhir adalah
sebagai koreksi variasi harian. Sedangkan pada saat pengukran berlangsung terjadi
perubahan kondisi matahari. Pengukuran looping biasa jarang dilakukan karena
tingkat akurasi datanya agak kurang baik dibandingkan pengukuran secara base-
roover yang ,enghitung variasi harian setiap beberapa jam sekali karena perubahan
12
kondisi yang berbeda dari matahari. Berikut ini merupakan contoh konsep
pengukuran secara looping.

Base
lintasan

Looping

Gambar 2.5 Konsep Dasar Pengukuran Base Roover

Gambar diatas menjelaskan tentang konsep dasar dari pengukuran


geomagnetic yang dilakukan secara looping. Seperti yang dilihat pada gambar
pengukuran pertama dilakukan di titk base kemudian beru dilanjutkan ke lintasan
dan pengukuran tersebut diakhiti pada titk base tadi yang disebut sebagai titk
Looping. Pada pengukuran ini akan terdapat variasi harian yang terjadi selama
pengukuran dengan kondisi matahari pada saat pengukuran dilakukan dan diakhir
adalah berbeda yang mengikatkan intensitas dari daerah pengukuran juga
bervariasi.

2.8 Upward Continuation dan Downward Continuation


Upward continuation merupakan suatu proses untuk mengubah data
pengukuran medan potensial yang telah dikoreksi dalam satu permukaan ke
beberapa permukaan yang lebih tinggi dari permukaan ketika melakukan
pengukuran hingga beberapa meter. Untuk penentuan ketinggiannya tergantung
pada keinginan dalam melihat target yang prospek sehingga dapat terlihat lebih
jelas tanpa tergabung dengan noise – noise yang ada atau pengaruh dari benda
– benda dekat permukaan yang bersifat magnet sehinggaakan membuat data
lebih agak sulit untuk dilihat prospeknya. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada
Gambar 2.14.

13
P (xo ,yo,h)

R
h

y Q x

z
Gambar 2.6 Upward Continuation

Parameternya downward continuation:


H adalah jarak pada ground unit, yang relatif digunakan untuk kelanjutan
kebawah pada observasi .
R adalah bilangan gelombang (radians per ground unit) Catatan r =
2πk
dimana k adalah 1 lingkaran per ground unit
Ground unit adalah satuan yang akan digunakan untuk peng-grid-an (misal
dalam meter, feet,dsb).
Downward continuation digunakan untuk memperkuat respon dari sumber
pada kedalaman dengan lebih efektif. Hal ini dapat diartikan pengukurannya
menjadi lebih dekat dengan sumbernya.
14
2.9 Reduce To Pole

(Ia|<|I), Ia=I
Keterangan :

I = inklinasi
geomagnetik

D = deklinasi geomagnetik
L(Ɵ) = tujuan vektor gelombang dengan derajat azimutnya
Ia = inklinasi yang digunakan untuk koreksimagnetik
RTP (Reduction to The Pole) merupakan salah satu dari beberapa filter yang
digunakan untuk membantu proses interpretasi. Filter RTP pada dasarnya
mentransformasikan anomali magnetik disuatu lokasi berada pada kutub utara
magnetik bumi. Sehingga, anomali medan magnet terletak tepat diatas tubuh benda
penyebab anomali dan anomali magnet bersifat monopol/satu kutub. Reduksi
kekutub diakukan dengan dengan cara mengubah sudut inklinasi menjadi 90 o dan
deklinasi menjadi 0o.
Filter RTP mengasumsikan bahwa pada seluruh lokasi pengambilan data
nilai medan magnet bumi (terutama I dan D) memiliki nilai dan arah yang
konstan (Arkani-Hamed, 1988). Asumsi ini dapat diterima apabila lokasi tersebut
memiliki luas area yang relatif sempit. Namun hal ini tidak dapat diterima apabila
luas daerah pengambilan data sangat luas karena melibatkan nilai lintang dan bujur
yang bervariasi, dimana harga medan magnet bumi berubah secara bertahap.

15
Gambar 2.7. (a)Sebelum direduksi (b)Setelah direduksi ([Link]
[Link])
2.10 Reduce To Equator

Reduksi ke ekuator digunakan untuk latitude magnetik yang bernilai rendah


pada puncak anomali magnetik yang berada diatas sumbernya. Reduksi ke ekuator
dapat mempermudah interpretasi ketika data yang lainnya tidak sesuai. Pada
kondisi tertentu, saat anomali medan magnet difilter RTP tidak menunjukan
anomali medan magnet yang monopole maka filter RTE perlu dilakukan agar
menjadi anomali medan magnet yang monopole. Pada prinsipnya filter RTP
dan RTE adalah mengubah anomali medanmagnet yang dipole menjadi monopole.

16
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Diagram Alir Pengolahan Data

Mulai

Data Sintetik

Pengolahan Data Ms. EXCEL

Koreksi Vhar Koreksi IGRF

Ha

EXCEL Oasis Montaj

Grafik Hvar vs Peta TMI, RTP, RTE, Upward


waktu, Ha vs posisi Continuation & Residual

Analisa

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1 Diagram alir pengolahan data

17
3.2 Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data
Dalam pengolahan data terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan agar
suatu hasil data yang didapat akan meminimalisir kesalahan yang dilakukan ketika
mengolah data. Adapun tahapan-tahapan tersebut yaitu:

1. Menginput data sintetik yang diperoleh sebelumnya untuk dilakukan


perhitungan,
2. selanjutnya apabila data telah diinput dilakukan perhitungan menggunakan
excel, kemudian dari hasil perhitungan tersebut didapat nilai koreksi Vhar
dan koreksi IGRF, dari hasil koreksi tersebut dihitung dan diperoleh nilai
Ha.
3. Nilai Ha akan dimasukkan ke excel dan dihasilkan grafik Vhar vs waktu
dan grafik Ha vs posisi, sedangkan untuk oasis montaj akan dihasilkan peta
TMI, RTP, RTE, Upward Continuation dan residual.
4. Selanjutnya dilakuakn interpretasi dan dibuat kesimpulan. Tahap terakhir
yaitu membuat laporan.

18
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengolahan Data


Tabel 4.1 Pengolahan Data Line 4
Koordinat UTM
No Time
x y
1 14.43.00 444685 9160840
2 14.46.51 444685 9160820
3 14.48.46 444685 9160800
4 14.54.18 444685 9160780
5 14.56.51 444685 9160760
6 15.00.18 444685 9160740
7 15.04.56 444685 9160720
8 15.07.16 444685 9160700
9 15.09.30 444685 9160680
10 15.12.35 444685 9160660
11 15.15.31 444685 9160640
12 15.19.14 444685 9160620
13 15.24.23 444685 9160600
14 15.26.43 444685 9160580
15 15.29.51 444685 9160560
16 15.33.38 444685 9160540
17 15.36.13 444685 9160520
18 15.39.40 444685 9160500
19 15.42.43 444685 9160480
20 15.48.23 444685 9160460
21 15.51.03 444685 9160440
22 15.53.54 444685 9160420
23 15.56.50 444685 9160400
24 16.00.05 444685 9160380
25 16.02.20 444685 9160360
26 16.03.00 444685 9160340
27 16.06.28 444685 9160320
28 16.07.48 444685 9160300
29 16.17.10 444685 9160280
30 16.18.31 444685 9160260
31 16.21.20 444685 9160240
32 16.23.34 444685 9160220
33 16.27.17 444685 9160200
34 16.30.10 444685 9160180
35 16.32.10 444685 9160160
36 16.33.55 444685 9160140

19
37 16.35.35 444685 9160120
38 16.37.17 444685 9160100
39 16.39.57 444685 9160080
40 16.42.22 444685 9160060

Hobs Bln IGRF Hvar ∆H

45152,1 43995,875 44887,6 0 264,5


44802 43993,79075 44887,6 -2,08425 -83,51575
44872,5 43993,21192 44887,6 -2,663083333 -12,43691667
44517,4 43994,0405 44887,6 -1,8345 -368,3655
44598 43994,18713 44887,6 -1,687875 -287,912125
45314,5 43995,1805 44887,6 -0,6945 427,5945
44830,8 43995,603 44887,6 -0,272 -56,528
44517,1 43995,4105 44887,6 -0,4645 -370,0355
44231,8 43994,93375 44887,6 -0,94125 -654,85875
44309,8 43993,89 44887,6 -1,985 -575,815
44580,5 43992,13 44887,6 -3,745 -303,355
44893,9 43988,43692 44887,6 -7,438083333 13,73808333
44830,9 43987,893 44887,6 -7,982 -48,718
44752,8 43988,12808 44887,6 -7,746916667 -127,0530833
44672,2 43978,71788 44887,6 -17,157125 -198,242875
44376 43976,264 44887,6 -19,611 -491,989
44699,8 43988,44908 44887,6 -7,425916667 -180,3740833
44418,7 43983,49833 44887,6 -12,37666667 -456,5233333
44558,3 43985,954 44887,6 -9,921 -319,379
44672,3 43982,28821 44887,6 -13,58679167 -201,7132083
44639,3 43982,12 44887,6 -13,755 -234,545
45079,3 43982,519 44887,6 -13,356 205,056
44592,4 43982,76792 44887,6 -13,10708333 -282,0929167
44492,2 43981,19979 44887,6 -14,67520833 -380,7247917
44030,1 43980,61 44887,6 -15,265 -842,235
44777,7 43980,2825 44887,6 -15,5925 -94,3075
44558,3 43979,85783 44887,6 -16,01716667 -313,2828333
44333,8 43979,7275 44887,6 -16,1475 -537,6525
44734,8 43976,95958 44887,6 -18,91541667 -133,8845833
45249,1 43976,12596 44887,6 -19,74904167 381,2490417
44678,1 43973,76 44887,6 -22,115 -187,385
44479,4 43971,07667 44887,6 -24,79833333 -383,4016667
44623,8 43969,21833 44887,6 -26,65666667 -237,1433333
44699,4 43969,71042 44887,6 -26,16458333 -162,0354167
44586,7 43970,36458 44887,6 -25,51041667 -275,3895833
44610,6 43969,67771 44887,6 -26,19729167 -250,8027083
44472,9 43969,02354 44887,6 -26,85145833 -387,8485417
44414,9 43968,34988 44887,6 -27,525125 -445,174875
44586,9 43967,28988 44887,6 -28,585125 -272,114875
44450,5 43967,08067 44887,6 -28,79433333 -408,3056667

20
4.2 Grafik Hvar vs Waktu

Hvar vs Waktu
0
14:24:00 14:52:48 15:21:36 15:50:24 16:19:12 16:48:00 17:16:48
-5

-10

-15

-20

-25

-30

-35 Hvar vs Waktu

Gambar 4.1 Grafik Hvar vs Waktu

Terlihat pada grafik Hvar vs Waktu ini menunjukkan adanya suatu fluktuasi,
namun kenaikannya tidak banyak dan penurunannya sangat signifikan sekali. Pada
saat jam 14.43.00 nilai intensitasnya diperoleh yaitu 0 nT, sedangkan nilai intensitas
yang turun ditunjukkan pada jam 16.42.22 dengan nilai sebesar -408,3056667 nT.
Hal ini terjadi dikarenakan adanya pengaruh dari medan magnet luar dimana yang
menyebabkannya yaitu dari matahari. Adapun pengaruh medan magnet luar ini
sangat mempengaruhi nilai Ha karena ionisasi dari atmosfer yang dipengaruhi oleh
arus listrik pada atmosfer tersebut.

21
4.3 Grafik Ha vs Posisi

Ha vs Posisi
600

400

200

0
9160000 9160100 9160200 9160300 9160400 9160500 9160600 9160700 9160800 9160900
-200

-400

-600

-800

-1000

Gambar 4.2 Grafik Ha vs Posisi

Sama halnya pada grafik Hvar vs Waktu, pada grafik Ha vs Posisi ini juga
memiliki fluktuasi yang cukup signifikan. Dilihat dari grafik menunjukkan
didominasi nilai Ha yang naik yaitu pada posisi koordinat x yaitu 444685 dan y
yaitu 9160740 dengan nilai 427,5945 nT, sedangkan nilai Ha yang turun
ditunjukkan pada posisi x yaitu 444685 dan y yaitu 9160360 dengan nilai yang
diperoleh sebesar -842,235 nT. Dilihat dari adanya fluktuasi tersebut kemungkinan
pada grafik tersebut terdapat nilai anomali. Hal ini dipengaruhi oleh variasi sekuler
dari matahari (IGRF) yang diperbarui setiap lima tahun sekali.

22
4.4 Peta TMI

Gambar 4.3 Peta TMI

Pada peta TMI menunjukkan adanya nilai variasi Ha dengan berbagai warna
yang memiliki rentang nilai yaitu 910,3 nT sampai dengan -1362,8 nT. Pada peta
tersebut, warna merah memiliki nilai yang tinggi sebesar 12,2 nT menunjukkan
adanya batuan beku dan terendah ditunjukkan oleh warna biru dengan nilai -1362
nT menunjukkan adanya suatu mineral. Sedangkan untuk warna hijau memiliki
nilai -310,4 nT yang menunjukkan adanya suatu mineral didalamnya.

23
4.5 Peta Reduce To Pole

Gambar 4.4 Peta RTP

Peta RTP ini dipengaruhi oleh adanya oleh kutub magnetik, hal ini terlihat
pada kontur yang mengarah pada kutub. Peta ini diolah menggunakan software
Oasis Montaj yang ditujukan agar peta searah pada kutub. Dari skala warna terlihat
nilai positif terdapat pada warna ungu muda yaitu 1276,6 nT dan warna biru
memiliki nilai negatif yaitu -1716,2 nT.

24
4.6 Peta Reduce To Equator

Gambar 4.5 Peta RTE

Berbeda dengan peta RTP sebelumnya peta RTE ini menunjukkan kontur
yang mengarah pada arah khatulistiwa. Pada peta ini terlihat persebaran variasi
warna yang didominasi oleh warna hijau, merah, dan orange yang memiliki nilai
masing-masing yaitu -242,7 nT, -33,6 nT, dan -128,9 nT.
Daerah yang memiliki intensitas tinggi ditunjukkan oleh warna dengan
warna merah sebesar 50%, intensitas sedang dengan warna hijau sebesar 30% dan
intensitas rendah sebesar 20 %.

25
4.7 Peta Upward Continuation

25x 50x

75x 100x

Gambar 4.6 Peta Upward Continuation

Peta Upward Continuation merupakan peta yang diproyeksikan pada


bidang datar dan peta ini akan menunjukkan penebalan dan penipisan anomali serta
mengubah medan potensial yang telah dikoreksi. Tampak pada warna merah
terlihat adanya kontras yang cukup jelas dengan nilai -157,9 nT. Pada elevasi ke
100 terlihat ada perubahan warna yang mencolok yaitu dengan warna hijau dengan
persebaran yang mendominasi pada peta tersebut. Semakin besar pertambahan
ketinggian, maka diperoleh data lokal yang diinginkan.

26
4.8 Peta Residual

25x 50x

75x 100x
Gambar 4.7 Peta Residual

Pada peta residual ini menunjukkan adanya suatu keberadaan meneralisasi


dengan warna ungu muda yang mendominasi dengan nilai yaitu 641,3 nT. Setiap
warna pada peta ini tersebar di setiap ruang. Adapun nilai yang paling kecil
ditunjukkan oleh warna biru yaitu sebesar -553,7nT. Pada peta dengan elevasi ke
75 tampak warna ungu yang mendominasi, namun penyebarannya tidak memenuhi
semua pada peta tersebut. Warna ungu didominasi dengan nilai 641,3 nT.

27
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil pengolahan data sampai ke pembuatan grafik dan peta, maka
dapat disimpulkan yaitu :
1. Pada grafik Hvar vs Waktu saat jam 14.43.00 nilai intensitasnya diperoleh
yaitu 0 nT, sedangkan nilai intensitas yang turun ditunjukkan pada jam
16.42.22 dengan nilai sebesar -408,3056667 nT.
2. Pada grafik Ha vs Posisi menunjukkan didominasi nilai Ha yang naik yaitu
x = 444685 dan y = 9160740 dengan nilai 427,5945 nT, sedangkan nilai Ha
yang turun yaitu x = 444685 dan y = 9160360 dengan nilai yang diperoleh
sebesar -842,235 nT.
3. Pada peta TMI, warna merah memiliki nilai sebesar 12,2 nT menunjukkan
adanya batuan beku dan terendah pada warna biru dengan nilai -1362 nT
menunjukkan adanya suatu mineral.
4. Pada peta RTP nilai positif terdapat pada warna ungu muda yaitu 1276,6 nT
dan warna biru memiliki nilai negatif yaitu -1716,2 nT. Sedangkan pada
peta RTE warna yang didominasi oleh warna hijau, merah, dan orange yang
memiliki nilai masing-masing yaitu -242,7 nT, -33,6 nT, dan -128,9 nT.
5. Pada peta Upward Continuation pada warna merah terlihat adanya kontras
yang cukup jelas dengan nilai -157,9 nT. Pada elevasi ke 100 terlihat ada
perubahan warna yang mencolok yaitu dengan warna hijau dengan
persebaran yang mendominasi pada peta tersebut.
6. Untuk peta residual menunjukkan adanya suatu keberadaan mineralisasi
dengan ungu yang mendominasi dengan nilai yaitu 641,3 nT. dengan nilai
641,3 nT.

5.2 Saran
Dalam eksplorasi geofisika, dengan metode apapun terutama magnetik yang
merupakan metode pasif dengan ambiguitas yang tinggi, Khususnya magnetik yang
dipengaruhi oleh variasi harian yang jika diamati dengan grafik, maka

28
perubahannya tidak linier. Sehingga penggunaan satu alat dengan metode loop tidak
akan menggambarkan anomali bawah permukaan secara akurat dibanding dengan
metode base-rover.

29
DAFTAR PUSTAKA

Dobrin, M.B., Savit CH., 1988. Introduction to Geophysical Prospecting, edisi 4.


Mc Graw Hill: Singapore
Hunt, C.P., Moskowitz, B.M,. Banerjee, S.K.1995. Magnetic Properties of Rocks
and Minerals
Robinson, Edwin and Cahit., 1988. Basic Exploration Geophysics Using Magnetic
Method. John Wiley and Sons Inc.: Canada
Rosid, Syamsu., 2008. Geomagnetic Method Lecture Note. Physic Departement,
FMIPA UI: Depok
W. M. Telford, L. P. Geldart, R. E. Sheriff., 1990. Applied Geophysics. Cambridge
University: Press New York

30

Anda mungkin juga menyukai