0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan72 halaman

Arti dan Penerapan PBL dalam Pendidikan

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks untuk siswa belajar tentang pemecahan masalah dan memperoleh pengetahuan esensial, dimana siswa belajar secara kolaboratif dalam kelompok kecil untuk menyelidiki masalah, mengembangkan strategi pembelajaran mandiri, dan mempresentasikan hasilnya. PBL memiliki empat prinsip utama yaitu pembelajaran sebagai pro

Diunggah oleh

Nida Adillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
109 tayangan72 halaman

Arti dan Penerapan PBL dalam Pendidikan

Problem Based Learning (PBL) adalah metode pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai konteks untuk siswa belajar tentang pemecahan masalah dan memperoleh pengetahuan esensial, dimana siswa belajar secara kolaboratif dalam kelompok kecil untuk menyelidiki masalah, mengembangkan strategi pembelajaran mandiri, dan mempresentasikan hasilnya. PBL memiliki empat prinsip utama yaitu pembelajaran sebagai pro

Diunggah oleh

Nida Adillah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Pengertian Problem Based Learning (PBL)


Problem Based Learning (PBL) adalah kurikulum dan proses
pembelajaran. Dalam kurikulumnya, dirancang masalah-
masalah yang menuntut siswa mendapat pengetahuan yang
penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan
masalah, dan memiliki strategi belajar sendiri serta memiliki
kecakapan berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya
menggunakan pendekatan yang sistematik untuk
memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang
nanti diperlukan dalam karir dan kehidupan sehari-hari.

Rumusan dari Dutch (1994), Problem Based Learning (PBL)


merupakan metode instruksional yang menantang siswa agar
“belajar dan belajar”, bekerja sama dengan kelompok untuk
mencari solusi masalah yang nyata. Masalah ini digunakan
untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta kemampuan
analisis siswa dan inisiatif atas materi pelajaran. Problem
Based Learning (PBL) mempersiapkan siswa untuk berpikir
kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan
sumber pembelajaran yang sesuai.

Problem Based Learning (PBL) mempunyai perbedaan


penting dengan pembelajaran penemuan. Pada
pembelajaran penemuan didasarkan pertanyaan-pertanyaan
berdasarkan disiplin ilmu dan penyelidikan siswa
berlangsung di bawah bimbingan guru terbatas dalam ruang
lingkup kelas, sedangkan Problem Based Learning (PBL)
dimulai dengan masalah kehidupan nyata yang bermakna
dimana siswa mempunyai kesempatan dalam memlilih dan
melakukan penyelidikan apapun baik di dalam maupun di
luar sekolah sejauh itu diperlukan untuk memecahkan
masalah.

Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan yang


efektif untuk pengajaran proses berpikir tingka tinggi,
pembelajaran ini membantu siswa untuk memproses
informasi yang sudah jadi dalam benaknya dan menyusun
pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan
sekitarnya. Dengan Problem Based Learning (PBL) siswa
dilatih menyusun sendiri pengetahuannya, mengembangkan
keterampilan memecahkan masalah. Selain itu, dengan
pemberian masalah autentik, siswa dapat membentuk makna
dari bahan pelajaran melalui proses belajar dan
menyimpannya dalam ingatan sehingga sewaktu-waktu
dapat digunakan lagi.

Jadi Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis


masalah adalah suatu strategi pembelajaran yang
menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks
bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis
dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari
materi pelajaran.

B. Ciri-ciri Problem Based Learning (PBL)


Menurut Arends berbagai pengembangan pengajaran
Problem Based Learning (PBL) telah memberikan model
pengajaran itu memiliki karakteristik sebagai berikut:
Pengajuan pertanyaan atau masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan
pengajaran disekitar pertanyaan dan masalah yang dua-
duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna
untuk siswa.
Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun pembelajaran berdasarkan masalah mungkin
berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika,
ilmu-ilmu sosial), masalah-masalah yang diselidiki telah
dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya, siswa
meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
Penyelidikan autentik
Pembelajaran berdasarkan masalah mengharuskan siswa
melakukann penyelidikan autentik untuk mencari
penyelesaian nyata terhadap masalah nyata.
Menghasilkan produk dan memamerkannya
Pembelajaran berdasarkan masalah menuntut siswa untuk
menghasilkan produk tertentu dalam karya nyata. Produk
tersebut bisa berupa laporan, model fisik, video maupun
program komputer. Dalam pembelajaran kalor, produk yang
dihasilkan adalah berupa laporan.
Kolaborasi dan kerja sama
Pembelajaran bersdasarkan masalah dicirikan oleh siswa
yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering
secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.

C. Langkah-Langkah Proses Problem Based Learning (PBL)


Problem Based Learning (PBL) akan dapat dijalankan bila
pengajar siap dengan segala perangkat yang diperlukan.
Pemelajar pun harus harus sudah memahami prosesnya, dan
telah membentuk kelompokkelompok kecil. Umumnya,
setiap kelompok menjalankan proses yang dikenal dengan
proses tujuh langkah:
Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas

Memastikan setiap anggota memahami berbagai istilah dan


konsep yang ada dalam masalah. Langkah pertama ini dapat
dikatakan tahap yang membuat setiap peserta berangkat dari
cara memandang yang sama atas istilah-istilah atau konsep
yang ada dalam masalah.
Merumuskan masalah

Fenomena yang ada dalam masalah menuntut penjelasan


hubungan-hubungan apa yang terjadi di antara fenomena itu.
Menganalisis masalah

Anggota mengeluarkan pengetahuan terkait apa yang sudah


dimiliki anggota tentang masalah. Terjadi diskusi yang
membahas informasi faktual (yang tercantum pada masalah),
dan juga informasi yang ada dalam pikiran anggota.
Brainstorming (curah gagasan) dilakukan dalam tahap ini.
Menata gagasan secara sistematis dan menganalisis

Bagian yang sudah dianalisis dilihat keterkaitannya satu sama


lain kemudian dikelompokkan; mana yang paling menunjang,
mana yang bertentangan, dan sebagainya. Analisis adalah
upaya memilahmemilah sesuatu menjadi bagian-bagian yang
membentuknya.
Memformulasikan tujuan pembelajaran
Kelompok dapat merumuskan tujuan pembelajaran karena
kelompok sudah tahu pengetahuan mana yang masih kurang,
dan mana yang masih belum jelas. Tujuan pembelajaran akan
dikaitkan dengan analisis masalah yang dibuat
Mencari informasi tambahan dari sumber lain

Saat ini kelompok sudah tahu informasi apa yang tidak


dimiliki, dan sudah punya tujuan pembelajaran. Kini saatnya
mereka harus mencari informasi tambahan itu, dan
menemukan kemana hendak dicarinya.
Mensistesis (menggabungkan) dan menguji informasi baru
dan membuat laporan.

D. Kelebihan Problem Based Learning (PBL)


Pembelajaran Problem Based Learning atau berdasarkan
masalah memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan
model pembelajaran yang lainnya, di antaranya sebagai
berikut:
Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus
untuk memahami isi pelajaran.
Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan siswa
serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan
baru bagi siswa.
Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas
pembelajaran siswa
Pemecahan masalah dapat membantu siswa bagaimana
menstansfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah
dalam kehidupan nyata.
Pemecahan masalah dapat membantu siswa untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung
jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
Melalui pemecahan masalah bisa memperlihatkan kepada
siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA,
sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan
cara berfikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa,
bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku
saja.
Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan
disukai siswa
Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan
siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan
mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada
siswa yang mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki
dalam dunia nyata.
Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat siswa
untuk secara terus menerus belajar sekalipun belajar pada
pendidikan formal telah berakhir.
E. Kekurangan Problem Based Learning (PBL)
Sama halnya dengan model pengajaran yang lain, model
pembelajaran Problem Based Learning juga memiliki
beberapa kekurangan dalam penerapannya. Kelemahan
tersebut diantaranya:
Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk
dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk
mencoba
Keberhasilan strategi pembelajaran malalui Problem Based
Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka
tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.

Sumber:
M. Taufiq Amir (2009). Inovasi Pendidikan Melalui Problem
Based Learning. Jakarta: Media Group
Trianto. (2007). Model-model Pembelajaran Inovatif
Berorientasi Konstrutivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka
Wina sanjaya. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi
Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNIN (PBL) DALAM


KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
Amelia Dwi Fitri
Bagian Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Universitas Jambi
Email: [Link]@[Link]
Abstrak
Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan
dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah
Problem Based Learning. Donald Woods McMaster
merupakan orang yang pertama kali memperkenalkan
istilah PBL, dan Fakultas Kedokteran Universitas McMaster,
Ontario Kanada merupakan institusi
kedokteran yang memperkenalkan PBL dalam dunia
pendidikan.
Ada empat prinsip penting dalam pembelajaran PBL, yaitu :
pembelajaran merupakan suatu proses
konstruktif. (Learning should be a constructive process),
pembelajaran merupakan suatu proses yang
dimotori oleh keinginan dari dalam diri sendiri (Learning
should be a self directed process), pembelajaran
merupakan suatu proses yang dimotori oleh keinginan dari
dalam diri sendiri (Learning should be a self
directed process) dan pembelajaran merupakan sesuatu yang
diberikan kontekstual (Learning should be a
contextual process).
Salah satu metode yang digunakan dalam melaksanakan PBL
adalah seven jumps tutorial. Metode ini
terdiri dari tujuh langkah yang disusun sistematis sehingga
diskusi mahasiswa tentang suatu masalah
dapat berjalan dengan optimal dan mencapai tujuan baik
sesuai karakteristik PBL
Keywords : KBK, PBL, seven jumps
PENDAHULUAN
Standar Kompetensi Dokter
Indonesi (SKDI) merupakan bagian dari
standar pendidikan profesi dokter Indonesia
yang disahkan oleh Konsul Kedokteran
Indonesia. Setiap perguruan tinggi yang
menyelenggarakan pendidikan profesi
dokter, dalam mengembangkan kurikulum
harus menerapkan standar kompeteni
tersebut. Salah satu metode pembelajaran
yang dapat diterapkan dalam Kurikulum
Berbasis Kompetensi (KBK) adalah
Problem Based Learning (PBL).1
SEJARAH PROBLEM BASED LEARNING
Pada tahun 1966, Fakultas
Kedokteran Universitas McMaster, Ontario,
Kanada berencana untuk membuat suatu
perubahan, suatu metode pendekatan baru
dalam hal penyelanggaraan pendidikan
kedokteran.2
Kesiapan untuk melakukan
perubahan ini juga didorong oleh
kesadaran akan perlunya suatu kurikulum
baru bagi mahasiswa preklinik di
pendidikan kedokteran. Donald Woods
McMaster merupakan orang yang pertama
kali memperkenalkan istilah PBL, dan
universitas McMaster merupakan institusi
JMJ, Volume 4, Nomor 1, Mei 2016, Hal: 95 –100 Amelia Dwi
Fitri. Penerapan Problem...
96
kedokteran yang memperkenalkan PBL
dalam dunia pendidikan.2
Setelah melalui beberapa tahun
perjuangan melawan keraguan dan kritik
dari berbagai pihak, akhirnya pada tahun
1969 pertama kali dibuka angkatan
pertama yang menggunakan PBL di
Universitas McMaster yang terdiri dari 19
orang mahasiswa. Barrows & Tamblyn, dua
staf pengajar di sana mulai mengenalkan
metode pembelajaran dengan
menggunakan pasien simulasi yang dibuat
mirip dengan kondisi pasien dalam praktik
dokter sehari- sehari. Mereka juga mulai
mengarahkan mahasiswa untuk berdiskusi
dalam kelompok kecil yang didampingi oleh
seorang tutor.2
Ketika kelompok diskusi yang
mengikuti format PBL ketika dibandingkan
dengan kelompok mahasiswa lain yang
menjalani metode pembelajaran dengan
metode kuliah tradisional, ternyata memiliki
motivasi yang lebih tinggi, peningkatan
kemampuan menyelesaikan masalah
(problem solving) dan keterampilan belajar
mandiri. Selanjutnya Universitas McMaster
mulai menerapkan kurikulum PBL yang
antara lain bertujuan membangun
kemampuan mahasiswa kedokteran untuk
memanfaatkan dan menerapkan ilmu
pengetahuan yang mereka miliki dalam
berbagai permasalahan pasien sejak
mereka dalam masa praklinik. 2,3
Setelah Universitas McMaster
menerapkan kurikulum PBL, dua fakultas
kedokteran lainnya di Universitas Limburg,
Maastrict, Belanda dan Universitas
Newcastle, Australia juga mulai
mengadaptasi metode PBL ini. Universitas
Limburg (sekarang dikenal dengan
Maastricht) pada tahun 1975 mulai
menerapkan PBL sebagai strategi
pembelajaran utama untuk fase preklinik
tahun pertama sampai dengan tahun
keempat. Institusi ini kemudian juga
membangun perpustakaan baru yang
sesuai untuk keperluan sistem PBL ini pada
tahun 1992.
2,3
Metode PBL ini kemudian juga
mulai diterapkan di Universitas Newcastle
pada tahun 1978, yang merupakan salah
satu solusi untuk memperbaiki citra institusi
pendidikan kedokteran di Australia yang
terkesan terlalu berorientasi pada ilmu
pengetahuan dan menelantarkan
kemampuan praktis dan juga perawatan
primer. 2,3

Fakultas kedokteran Universitas


New Mexico juga mulai menerapkan
kurikulum dengan pendekatan PBL pada
tahun 1979, namun tidak mengadopsi
secara penuh model McMaster, mereka
menerapkan kurikulum yang mirip dengan
PBL namun tetap berjalan paralel dengan
kurikulum tradisional.
2,3
Howard Barrow mulai menerapkan
PBL di Fakultas kedokteran Universitas
Southern Illinois pada tahun 1981. PBL
diterapkan pada mahasiswa selama dua
tahun pertama, di mana mereka sama
sekali tidak menerima perkuliahan, mereka
menjalani diskusi tutorial yang
beranggotakan 5-7 mahasiswa dengan
didampingi satu orang tutor untuk
membahas masalah atau skenario yang
diberikan kepada mereka secara tertulis
atau dalam bentuk pasien simulasi. 2,3
JMJ, Volume 4, Nomor 1, Mei 2016, Hal: 95 –100 Amelia Dwi
Fitri. Penerapan Problem...
97
Sejak awal terbentuknya, saat ini
kurikulum PBL telah digunakan secara luas
di berbagai Fakultas kedokteran di negaranegara
Eropa, Amerika Utara, Amerika
Selatan, Afrika, Asia mulai dari Inggris,
swedia, Brazili, Chili, Afrika Selatan dan
Hongkong. 2,3
DEFINISI DAN KARAKTERISTIK
PROBLEM BASED LEARNING
Problem Based Learning
merupakan suatu metode pembelajaran
dengan penggunaan skenario yang disusun
secara seksama dengan mengintegrasikan
berbagai disiplin ilmu berdasarkan suatu
tema pembelajaran tertentu untuk
menginisiasi dan menstimulasi
pembelajaran mahasiswa melalui diskusi
dalam suatu kelompok kecil yang difasilitasi
oleh seorang tutor. Metode ini kemudian
dikenal dengan diskusi tutorial.4,5
Pada diskusi tutorial, mahasiswa
diberi skenario tentang berbagai
permasalahan klinis yang sering dijumpai
dalam masyarakat. Mahasiswa diharapkan
dapat mengeksplorasi skenario tersebut
dan membahas berbagai aspek yang terkait
dengan skenario tersebut, mulai dari aspek
pengetahuan dasar (basic science) seperti
anatomi, fisiologi, histologi dan ilmu
biomolekular, aspek klinis seperti gejala
dan tanda dari suatu penyakit, patogenesis
dan patofisiologi dari berbagai gejala yang
timbul serta pemeriksaan penunjang dan
juga aspek sosial seperti epidemiologi dari
suatu penyakit. Dengan metode belajar
seperti ini diharapkan nantinya pada saat
berhadapan dengan pasien yang
sesungguhnya, mereka telah memiliki
keterampilan yang cukup dalam
penanganan pasien termasuk kemampuan
interpersonal dan profesionalisme sebagai
seorang dokter. 4,5
Ada empat prinsip penting dalam
pembelajaran PBL, yaitu :
1. Pembelajaran merupakan suatu
proses konstruktif. (Learning should be
a constructive process)
Pembelajaran merupakan suatu
proses di mana mahasiswa secara aktif
membangun pengetahuan mereka sendiri.
Mahasiswa tidak lagi secara pasif
mendapatkan pengetahuan tentang faktafakta
melalui perkuliahan satu arah oleh
dosen (one-way lecture), mereka
diharapkan dapat memahami tentang suat
teori berdasarkan pengalaman mereka
sendiri dan juga interaksi dengan
lingkungan sekitar.6
Pada pertemuan pertama diskusi
tutorial mahasiswa berusaha untuk
menjawab berbagai pertanyaan yang timbul
dalam diskusi dengan menggunakan prior
knowledge. Selanjutnya dalam proses
diskusi dengan sesama anggota kelompok
dan juga belajar mandiri, mereka akan
mendapatkan pengetahuan baru.6
2. Pembelajaran merupakan suatu
proses yang dimotori oleh keinginan
dari dalam diri sendiri (Learning should
be a self directed process)
Dalam proses pembelajaran,
mahasiswa memiliki tanggung jawab mulai
dari perencanaan, monitoring, dan evaluasi
proses belajar mereka sendiri. Mahasiswa
harus dapat menentukan tujuan belajar
mereka, kemudian mencari cara yang
dapat dilakukan untuk mencapai tujuan
JMJ, Volume 4, Nomor 1, Mei 2016, Hal: 95 –100 Amelia Dwi
Fitri. Penerapan Problem...
98
belajar tersebut termasuk didalamnya
strategi belajar yang harus diterapkan,
sumber pembelajaran yang bisa digunakan,
apa saja kemungkinan kelemahan yang
dapat menghambat keberhasilannya dalam
mencapai tujuan belajar.
6
Dalam hal monitoring, mahasiswa
harus mampu mengevaluasi pencapaian
apa saja yang sudah ia dapatkan, tindakan
apa saja yang dapat dilakukan untuk
mengatasi berbagai kekurangannya. Hal ini
antara lain dapat dilakukan mahasiswa
dengan melatih diri melakukan proses
refleksi terhadap proses belajar dan
pencapaian yang sudah didapat. 5,6
Prinsip kedua ini diharapkan dapat
diterapkan mahasiswa pada langkah kelima
dan keenam dalam diskusi tutorial. Pada
langkah kelima, mahasiswa berusaha
mengidentifikasi permasalahan apa saja
yang belum mereka pahami dan masih
perlu dipelajari selama proses belajar
mandiri, dan dalam langkah keenam, yaitu
belajar mandiri mahasiswa diharapkan
mampu mengatur dirinya untuk mencari
sumber-sumber pembelajaran yang dapat
membantu mereka memahami berbagai
permasalahan yang telah disepakati
sebagai learning objective pada diskusi
pertama. 5,6
3. Pembelajaran merupakan suatu
proses kolaborasi (learning should be a
collaborative process)
Dalam diskusi tutorial, mahasiswa
didorong untuk berinteraksi satu sama lain,
melalui interaksi dengan sesama anggota
kelompok, mahasiswa akan mampu
membentuk suatu pemahaman baru
tentang suatu permasalahan
4. Pembelajaran merupakan sesuatu
yang diberikan kontekstual (Learning
should be a contextual process)
Proses pembelajaran dengan
sistem PBL akan memfasilitasi mahasiswa
untuk dapat belajar dengan permasalahan
yang bersifat nyata, masalah yang nantinya
akan sering mereka jumpai pada saat
pendidikan klinik dan pada saat mereka
menjadi dokter.
TUJUH LANGKAH DALAM TUTORIAL
(SEVEN JUMPS TUTORIAL)
Salah satu metode yang digunakan
dalam melaksanakan PBL adalah seven
jumps tutorial. Metode ini terdiri dari tujuh
langkah yang disusun sistematis sehingga
diskusi mahasiswa tentang suatu masalah
dapat berjalan dengan optimal dan
mencapai tujuan baik sesuai karakteristik
PBL. Tujuh langkah tersebut adalah :
1. Klarifikasi istilah (Clarifyng unfamiliar
terms)
Mahasiswa bekerja dalam
kelompok, mengidentifikasi dan
mengklarifikasi istilah- istilah asing/ belum
dikenal (unfamiliar terms) yang terdapat di
dalam skenario; sekretaris kelompok
membuat daftar istilah yang oleh kelompok
dinggap masih belum jelas maknanya
Pada langkah ini mahasiswa menggunakan
pengetahuan awal (prior knowledge) yang
dimiliki atau dengan menggunakan kamus
bahasa atau kamus kedokteran.
Mahasiswa perlu meyakinkan bahwa
JMJ, Volume 4, Nomor 1, Mei 2016, Hal: 95 –100 Amelia Dwi
Fitri. Penerapan Problem...
99
seluruh anggota dalam diskusi memiliki
pemahaman yang sama terhadap istilahistilah
yang dimaksud dalam skenario.7,8,9

2. Mendefinisikan masalah (define the


problem)
Di antara mahasiswa mungkin ada
berbagai macam perbedaan pendapat
tentang pokok bahasan yang didiskusikan,
tapi semuanya harus dipertimbangkan oleh
kelompok; sekretaris kelompok membuat
daftar masalah yang telah disetujui
kelompok. Pada langkah kedua ini, setiap
mahasiswa memperoleh kesempatan untuk
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
berkaitan dengan permasalahan di dalam
skenario yang perlu dibahas secara lebih
mendalam. Dalam tahapan ini, masingmasing
mahasiswa berhak mengajukan
pertanyaan tanpa interupsi dari anggota
kelompok lain atau tutor. 7,8,9
3. Curah pendapat (brainstorming)
Mahasiswa berdiskusi dengan
menggunakan prior knowledge, setiap
mahasiswa menyumbangkan pendapat
mereka dan kemudian mengidentifikasi
area yang masih belum jelas atau belum
lengkap; sekretaris kelompok mencatat
hasil diskusi mereka. Pada langkah ini
mahasiswa memberikan jawaban
sementara (hipotesis) terhadap pertanyaanpertanyaan
yang telah disepakati dalam
langkah kedua. Setiap mahasiswa dapat
mengemukakan pendapat dan
pengetahuannya mengenai topik yang
sedang dibahas (brainstorming).
Selanjutnya jawaban-jawaban tersebut
didiskusikan bersama untuk dicari
kesepakatan kelompok atas hipotesis dari
pertanyaan yang sedang dibahas. Pada
tahap ketiga ini, mahasiswa diharapkan
mampu menjadi menerapkan prinsip belajar
secara aktif, mahasiswa harus mampu
mendengarkan, menulis dan berdiskusi
dengan mahasiswa lain untuk
menyelesaikan masalah yang dihadapi
dalam skenario. 7,8,9
4. Mahasiswa membuat kesimpulan
secara terstruktur (review step 2 and 3)
Mahasiswa membuat tinjauan
terhadap hasil pada langkah kedua dan
ketiga, kemudian membuat penjelasan
sementara; sekretaris kelompok
mengorganisasikan penjelasan tadi, bila
perlu membuat restrukturisasi. 7,8,9
5. Mahasiswa membuat formulasi tujuan
belajar (formulating learning objectives)
Kelompok mencapai konsensus
tentang tujuan belajar mereka; tutor
memastikan bahwa tujuan belajar telah
terfokus, tercapai, bersifat komprehensif
dan tepat. 7,8,9
6. Mahasiswa bekerja secara mandiri
untuk mencapai tujuan pembelajaran
(private study)
Setiap mahasiswa belajar secara
mandiri untuk mengumpulkan informasi
yang berkaitan dengan masing- masing
tujuan belajar, mereka dapat menggunakan
berbagai sumber pembelajaran yang
tersedia, baik berupa textbook, artikel dan
jurnal ilmiah maupun melalui konsultasi
dengan pakar terkait topik yang sedang
dibahas. 7,8,9
JMJ, Volume 4, Nomor 1, Mei 2016, Hal: 95 –100 Amelia Dwi
Fitri. Penerapan Problem...
100
7. Pelaporan (reporting)
Pada langkah ini, Mahasiswa
kembali bertemu untuk mendiskusikan
informasi yang telah didapat, masingmasing
mahasiswa menyampaikan hasil
belajar mandirinya dan mendiskusikan
dengan mahasiswa lain dalam kelompok.
Mahasiswa kemudian dapat membuat
suatu kesimpulan atau sintesis berdasarkan
kesepakatan bersama. Pada langkah ini
tutor memperhatikan diskusi dan hasil
temuan mahasiswa dan dapat membuat
penilaian terhadap kinerja kelompok.
7,8,9
DAFTAR PUSTAKA
1. Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Standar Kompetensi
Dokter Indonesia, Cetakan Pertama, edisi
kedua, penerbit Konsil Kedokteran Indonesi, Jakarta, 2012
2. Baden, M.S., & Major, C.H. Foundations of Problem-based
Learning. London: Open University
Press.2004
3. Savin-Baden, M., & Major, C.H. A brief history of problem-
based learning. In: Savin-Baden, M.,
Major, C.H. Foundations of problem-based learning, London:
Open University Press, pp. 10-22.2004
4. De Grave,W.S., Moust J., & Hommes J. The role of the tutor
in a problem-based learning curriculum,
Maastricht: Universitaire Pers Maastricht.2003
5. Taylor, D., & Miflin, B.,Problem-based learning: where are
we now?. Medical teacher, 30, pp. 742-
763.2008
6. Dolmans,D.H.J.M., & Wolfhagen, [Link]
interaction between tutor performance, tutorial
group productivity and the effectiveness of PBL units as
perceived by students, Advance in health
Sciences Education, 10, pp. 253-261.2005
7. Davis, M. H., & Harden, R.M. AMEE Medical education
Guide No. 15: problem-based learning: a
practical guide, Medical Teacher; 21, pp. 130-140.1999
8. Harsono. Pengantar problem-based learning. Yogyakarta:
Penerbit MEDIKA FK UGM. 2008
9. Wood, Diana F. ABC of Learning and Teaching in Medicine,
problem Based learning, Clinical
Review. British Medical Journal, Vol 326. 2003

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Problem Based Learning (PBL)
1. Definisi Problem Based Learning (PBL)
Menurut Alexander et al, (2007) PBL dikembangkan oleh
Harold
Barrow di Mc Master University Medical School dalam
menanggapi
ketidakpuasan mahasiswa dengan format pembelajaran
kuliah dan lulusan
yang tidak dapat menerapkan konten yang dipelajari di kelas
ke dalam
praktek klinik. Harsono (2009) juga menambahkan bahwa
PBL
menekankan Active Student Center Learning (AASCL) yang
mana para
mahasiswa ditantang untuk menguji, mencari, menyelidiki,
merefleksikan,
memahami makna, dan memahami ilmu dalam konteks yang
relevan
dengan profesi mereka di masa mendatang.
PBL memadukan sejumlah teori dan prinsip pendidikan yang
saling
melengkapi ke dalam suatu sistem pembelajaran. PBL
mengandalkan
strategi belajar yang berpusat kepada pelajar itu sendiri
(student-centered),
kolaboratif, kontekstual, terpadu dan reflektif. Desain dan
pelaksanaan
pembelajaran meliputi belajar dalam kelompok–kelompok
kecil dan peer
teaching. Mahasiswa bekerja sama dalam kelompok–
kelompok kecil untuk
membangun pengetahuan dengan menggunakan kasus
masalah yang
realistis untuk memicu proses belajar (Gwee, 2009). Menurut
Richrad I
dalam (Arends, 2008). Pembelajaran berbasis masalah
merupakan metode
pembelajaran aktif yang digunakan untuk masalah
terstruktur yang
7
merupakan tanggapan dari hasil pembelajaran. Pada model
pengajaran ini,
digunakan untuk menyelesaikan masalah yang mempunyai
struktur yang
kompleks dan tidak cukup bila dikerjakan hanya dengan
algoritma yang
sederhana. Pada Pembelajaran Berbasis Masalah ini,
mahasiswa diberi
kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya sendiri
dalam
menelaah sebuah masalah.
Metode PBL bercirikan penggunaan masalah kehidupan
nyata
sebagai sesuatu yang harus dipelajari oleh mahasiswa.
Dengan metode
PBL diharapkan mahasiswa mendapatkan lebih banyak
kecakapan dari
pada pengetahuan yang dihafal. Mulai dari kecakapan
memecahkan
masalah, kecakapan berpikir kritis, kecakapan bekerja dalam
kelompok,
kecakapan interpersonal dan komunikasi, serta kecakapan
pencarian dan
pengolahan informasi. Pembelajaran berbasis masalah
relevan dengan
profesi kesehatan karena mempromosikan berpikir reflektif
dan kritis serta
menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek (Rogal &
Snider,
2008).
2. Metode Pembelajaran Dalam PBL
Berdasrkan buku panduan akademik Farmasi UMY, Metode
PBL
dengan kriteria SPICES (student centered, Problem based,
integrated,
Community oriented, Elective dan Systematic) bertujuan
menyiapkan
mahasiswa sebagai life long learner atau pembelajar
sepanjang hayat
sehingga di masa mendatang sudah terlatih untuk
menghadapi
permasalahan dan bagaimana cara pemecahannya.
8
Adapun dalam metode PBL kegiatan belajar mengajar
meliputi:
a. Tutorial
Tutorial adalah diskusi kelompok kecil dimana setiap
kelompok
beranggotakan sekitar 10-15 mahasiswa dan dibantu oleh
satu tutor
yang bertugas sebagai fasilitator. Dalam sekenario modul
terdapat
tujuan belajar dalam bentuk tujuan instruksional yang harus
dicapai
oleh mahasiswa selama proses tutorial. Agar lebih
memahami alasan
klinis dalam memecahkan masalah, dalam berdiskusi
mahasiswa
menggunakan metode langkah seven jump yang dikombinasi
dengan
CBL (Case Based Learning) yang terdiri dari:
1) Mengklarifikasi istilah atau konsep
2) Menetapkan masalah
3) Menganalisis masalah
4) Menarik kesimpulan dari langkah 3
5) Menentukan tujuan belajar
6) Melakukan belajar mandiri sesuai dengan tujuan belajar
yang telah
ditetapkan
7) Melakukan sintesis dari hasil belajar mandiri
Langkah 1 sampai 5 dilaksanakan pada pertemuan pertama
sedangkan langkah 6 dan 7 pada pertemuan kedua. Tutorial
merupakan komponen pokok dalam pembelajaran PBL,
dimana semua
aktivitas dalam tutorial tersebut akan dievaluasi. Tutor dalam
diskusi
tutorial bertugas mengarahkan mahasiswa untuk untuk
mencapai
9
proses dan tujuan belajar yang telah ditentukan, akan lebih
baik bila
tutor selalu memotivasi mahasiswa agar berani
mengemukakan
pendapat atau analisanya.
b. Kuliah
Kuliah dalam metode PBL bertujuan mendukung modul
skenario
dan memberikan hal-hal yang bersifat konseptual, mutakhir
dan
menambah pengayaan pengetahuan bagi mahasiswa,
sehingga alokasi
waktu kuliah dapat juga memberi kesempatan mahasiswa
untuk aktif.
Kegiatan kuliah disini tidak mendominasi proses
pembelajaran,
melainkan disesuaikan dengan kebutuhan blok. Pada sesi
kuliah ini
diharapkan lebih interaktif dengan melibatkan partisipasi
aktif baik
berupa diskusi atau ada kesempatan bagi mahasiswa untuk
mempersentasikan hasil diskusi.
c. Praktikum Ilmu Farmasi
Praktikum bertujuan selain meningkatkan pemahaman
pengetahuan yang sudah didapat juga untuk menambah
keterampilan
mahasiswa bekerja di labolatorium. kegiatan praktikum
disetiap blok
ini mendukung modul dan skenario.
d. Praktikum Keterampilan Farmasi
Keterampilan farmasi bertujuan untuk melatih keterampilan
farmasi mahasiswa dengan menggunakan model-model
pembelajaran
yang ada. Kegiatan ini dilaksanakan secara dini, berkelanjutan
serta
terintegrasi dalam setiap bloknya. Perlu diperhatikan bahwa
10
keterampilan farmasi yang di pelajari dan dilatih di
labolatorium
merupakan salah satu kompetensi inti pendidikan farmasi,
sehingga
mahasiswa perlu berlatih terus menerus untuk menguasai
suatu
kompetensi yang ditentukan pada setiap tahapan belajar baik
selama
jam kegiatan yang sudah terjadwal maupun di luar jadwal,
dengan
atau tanpa bantuan instruktur.
e. Early Pharmaceutical Exposure (EPhE)
Early Pharmaceutical Exposure bertujuan memberikan
pengalaman belajar secara nyata dan lebih awal baik di
masyarakat
maupun rumah sakit sehingga mereka dapat melihat dan
membandingkan antara kondisi di kampus dengan kondisi
lapangan.
f. Konsultasi Pakar
Konsultasi pakar dilaksanakan bila ada masalah atau
kesulitan
dalam diskusi tutorial, waktu konsultasi bisa pada saat
perkuliahan
atau di luar perkuliahan sesuai kesepakatan antara
mahasiswa dengan
pakar. Penanggungjawab blok akan menginformasikan pakar
yang
ditunjuk untuk konsultasi pakar.
g. Belajar Mandiri
Belajar mandiri atau self directed learning merupakan salah
satu
kriteria pokok keberhasilan pembelajaran PBL untuk
menyiapkan
mahasiswa sebagai lifelong learner. Belajar mandiri
dilaksanakan
dalam rangka mencari informasi dari tujuan belajar yang
sudah
ditetapkan bersama pada pertemuan pertama tutorial.
Belajar mandiri
11
dilakukan pada waktu luang di luar kegiatan kuliah, tutorial
maupun
praktikum dengan cara belajar ke perpustakaan atau
internet,
membaca juornal atau text book, konsultasi pakar atau
menggunakan
sumber belajar lain di skill lab. Sesuai prinsip PBL, maka
belajar
mandiri ini dapat memacu active learning mahasiswa dan
lebih
difokuskan pada deep learning sehingga dalam belajar
mahasiswa
harus mengutamakan pemahaman suatu topik, kontens atau
materi
tertentu jadi tidak sekedar hapalan. Mahasiswa dapat
memanfaatkan
berbagai sumber belajar sesuai yang diminati dan dibutuhkan
untuk
menunjang belajar mandiri tersebut.
h. Plenary Discussion
Kegiatan belajar ini berupa diskusi pleno klasikal dengan
mengambil topik salah satu problem dalam skenario yang
dinilai
paling menarik dan uptodate dilaksanakan satu kali setiap
semester.
Dengan diperbaikinya kegiatan pembelajaran dan adanya
pengurangan
frekuensi kuliah, maka memungkinkan untuk ditingkatkan
pelaksanaan kegiatan plenary discussion ini. Dalam plenary
discussion menggunakan bahasa pengantar yaitu bahasa
inggris.
Diskusi ini diikuti oleh semua mahasiswa dalam satu
angkatan, 1 atau
2 kelompok sebagai persentator dan menghadirkan pakar-
pakar dari
bagian yang terlibat serta dosen tetap serta bagian yang lain
yang
terkait. Plenary discussion bermanfaat sebagai media untuk
melatih
keberanian mahasiswa berdiskusi dalam skala besar,
menyampaikan
12
argumntasi, bertanya, kemampuan bahasa inggris dan
melatih critical
thinking.
i. English Hours
English hours adalah kegiatan kemahasiswaan di bawah
bimbingan dan dan koordinasi dosen yang dirangkai
sedemikian rupa
dalam rangka peningkatan kemampuan mahasiswa dalam
berbahasa
inggris. Kegiatan English Hours, diselenggarakan setiap hari
jumat
pukul 13.00-14.00, wajib diikuti oleh mahasiswa tetapi tidak
mempunyai beban SKS.
3. Kelebihan Metode PBL
Menurut Sanjaya (2007) keunggulan dari model Problem
Based
Learning (PBL) adalah sebagai berikut:
a. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk memahami isi
pelajaran.
b. Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan
kepuasan
untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c. Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d. Dapat membantu siswa untuk bagaimana mentransfer
pengetahuan
mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e. Dapat membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan barunya
dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka
lakukan.
f. Dapat mengetahui cara berpikir siswa dalam menerima
pelajaran
dengan menggunakan model Problem Based Learning.
g. Problem based learning dianggap menyenangkan dan
disukai siswa.
13
h. Dapat mengembangkan kemampuan siswa berpikir kritis
dan
mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan
dengan
pengetahuan baru.
i. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengaplikasikan
pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
j. Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-
menerus
belajar sekaligus belajar pada pendidikan formal telah
berakhir.
4. Kekurangan Metode PBL
a. Model pembelajaran Problem Based Learning biasa
dilakukan secara
berkelompok membuat mahasiswa yang malas semakin
malas.
b. Sangat memerlukan kemampuan dan keterampilan guru
untuk
menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai
dengan
tingkat berpikir peserta didik.
c. Pembelajaran berdasarkan masalah memerlukan berbagai
sumber
untuk memecahkan masalah, merupakan kesulitan tersendiri
bagi
mahasiswa.
d. Peserta didik yang memiliki kelemahan dalam percobaan
dan
pengumpulan informasi akan merasa kesulitan.
e. Pengetahuan yang didapat melalui PBL cenderung tidak
teratur
mahasiswa dapat mempelajari apa saja yang mereka anggap
perlu bagi
diri mereka, sehingga tidak ada batasan cakupan
pengetahuan. Hal ini
dapat diminimalisasi dengan memberikan panduan belajar
(study
14
guide) pada mahasiswa guna menginformasikan
pengetahuan minimal
yang harus dikuasai mahasiswa.
f. Biaya yang dibutuhkan cukup besar dengan membagi
mahasiswa
menjadi kelompok-kelompok kecil, mempersiapkan ruangan
yang
banyak bagi seluruh kelompok dengan fasilitas yang
diperlukan
selama pelaksanaan PBL, menyediakan fasilitator terlatih
untuk
masing-masing kelompok, memperbanyak skenario sejumlah
mahasiswa, dan sebagainya, sangat jelas akan menguras
dana fakultas
dan universitas.
B. Pengetahuan terhadap PBL
1. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan ialah kesan yang ditangkap oleh pikiran
seseorang
terhadap sesuatu yang ia pelajari atau yang ia terima dalam
lingkungannya,
pengetahuan juga bisa diartikan sebagai hasil penginderaan
seseorang
terhadap suatu objek baik itu dengan penginderaan (mata,
hidung dan
sebagainya) sehingga memperoleh pengetahuan dari proses
yang terjadi.
Notoatmodjo (2007) menambahkan hal tersebut sangat
dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek.
Suriasumantri (2003)
menjabarkan ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang
memiliki ciri
khusus. Ilmu bersifat rasional, empiris dan dapat
dipertanggungjawabkan
kebenarannya. Fungsi dari ilmu sendiri adalah untuk
membantu manusia
menuntaskan permasahalan-permasalahan yang hadir dalam
kehidupannya
melalui mekanisme meramalkan dan mengontrol. Agar dapat
15
dipertanggunjawabkan maka ilmu didapatkan melalui cara-
cara ilmiah
pula. Soerjono (2006) menambahkan ilmu pengetahuan
adalah
pengetahuan yang tersusun sistematis dengan menggunakan
kekuatan
pemikiran, pengetahuan dimana selalu dapat diperiksa dan
ditelah
(dikontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang
mengetahuinya.
Sedangkan pengetahuan terhadap PBL sendiri adalah
mahasiswa
dapat memahami mereka adalah pusat dari pembelajaran itu
sendri,
mahasiswa dapat mengetahui secara jelas bagaiamana
proses
pembelajarana PBL berjalan. Ciri khususnya sendiri adalah
mahasiswa
mempunyai kelompok untuk berdiskusi kemudian pengajar
(guru) sebagai
fasilitator atau pembimbing (Barrows, 1996).
2. Tingkat Pengetahuan
Tingkat pengetahuan adalah sebuah tolak ukur bagi institusi
pendidikan untuk mengetahui sejauh mana mahasiswanya
telah memahami
materi-materi perkuliahan yang sudah diberikan. Lebih jauh
Notoatmodjo
(2005) menjabarkan pengetahuan atau kognitif yang
merupakan domain
yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.
Pengetahuan
diperlukan sebagai dorongan fisik dalam menumbuhkan rasa
percaya diri
maupun dengan dorongan sikap perilaku setiap orang
sehingga dapat
dikatakan bahwa pengetahuan merupakan stimulasi
terhadap tindakan
seseorang.
Menurut Notoatmodjo (2005), tingkat pengetahuan terdiri
dari 6
(enam) tingkatan, yakni:
16
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
pelajari
sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini
adalah
mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan
yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh
sebab itu
tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
Kata
kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari
antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,
menyatakan
dan sebagainya.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat
menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang
yang telah
paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,
menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan
sebagainya
terhadap objek yang dipelajari
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real
(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi
atau
penggunaan hukumhukum, rumus, metode, prinsip dan
sebagainya
dalam konteks atau situasi yang lain.
17
d. Analisa (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu
objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam
satu
struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja,
seperti dapat menggambarkan (membuat bagan),
membedakan,
memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah
suatu
kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-
formulasi
yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
Penilaianpenilaian itu didasarkan pada suatu kreteria yang
ditentukan
sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Faktor-Faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut
Dewi &
Wawan (2010) yaitu :
a. Faktor Internal
1) Pendidikan
18
Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya
hal-hal
yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan
kualitas
hidup. Menurut YB Mantra dalam Notoatmodjo (2003),
pendidikan
dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku
seseorang
akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap
berperan
serta dalam pembangunan pada umumnya makin tinggi
pendidikan
seseorang makin mudah menerima informasi.
2) Pekerjaan
Menurut Thomas dalam Nursalam (2003), pekerjaan adalah
kebutuhan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang
kehidupannya dan kehidupan keluarga.
3) Umur
Menurut Elisabeth BH dalam Nursalam (2003), usia adalah
umur
individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang
tahun.
Sedangkan menurut Hurlock (1998) semakin cukup umur,
tingkat
kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang
dalam dalam
berfikir dan bekerja.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor lingkungan
Menurut [Link] dalam Nursalam (2003) lingkungan
merupakan suatu kondisi yang ada disekitar manusia dan
pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan
perilaku
orang atau kelompok.
19
2) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.
4. Kriteria Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat
diketahui
dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat kualitatif,
yaitu :
a. Baik : hasil presentase 76%-100%.
b. Cukup : hasil presentase 56% - 75%.
c. Kurang baik : hasil presentase 40%-55%.
d. Tidak baik : hasil persentase kurang dari 40%.
C. Persepsi
1. Definisi Persepsi
Persepsi adalah tanggapan seseorang melalui indera yang
dimilikinya setelah menerima sesuatu yang ia dapatkan
dalam
lingkungannya. Lebih dalam Robbins (2003) mendeskripsikan
bahwa
persepsi merupakan kesan yang diperoleh oleh individu
melalui panca
indera kemudian di analisa (diorganisir), diintepretasi dan
kemudian
dievaluasi, sehingga individu tersebut memperoleh makna.
Slameto (2010)
menambahkan persepsi adalah proses yang menyangkut
masuknya pesan
atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi
manusia terus
menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya.
Hubungan ini
20
dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihatan,
pendengar, peraba,
perasa dan pencium.
Sedangkan persepsi menurut Sugihartono dkk (2007), adalah
kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau
proses untuk
menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera
manusia.
Persepsi manusia terdapat perbedaan sudut pandang dalam
penginderaan.
Ada yang mempersepsikan sesuatu itu baik atau persepsi
yang positif
maupun persepsi negatif yang akan mempengaruhi tindakan
manusia yang
tampak atau nyata. Perbedaan persepsi yang terjadi dapat
dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti pengetahuan, pengalaman dan sudut
pandangnya.
Karena itu faktor-faktor tersebut mempengaruhi persepsi
yang dimiliki
seseorang dalam menilai sebuah keadaan.
Jalaludin Rakhmat (2011) menyatakan persepsi adalah
pengalaman
tentang objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh
dengan
menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Dari
pemaparan
beberapa ahli di atas dapat dikemukan bahwa persepsi
adalah proses yang
dialami seseorang untuk menilai suatu keadaan melalui
indera yang
dimilikinya sehinnga terbentuk tanggapan maupun sudut
pandang yang
bersifat positif maupun negatif.
2. Syarat-syarat terjadinya persepsi
Menurut Sunaryo (2010), syarat-syarat terjadinya persepsi
adalah
sebagai berikut:
21
a. Adanya objek yang dipersepsi.
b. Adanya perhatian yang merupakan langkah pertama
sebagai suatu
persiapan dalam mengadakan persepsi.
c. Adanya alat indera/reseptor yaitu alat untuk menerima
stimulus saraf
sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak,
yang
kemudian sebagai alat untuk mengadakan respon.
3. Faktor yang mempengaruhi persepsi
Menurut Bimo Walgito (2004), faktor-faktor yang berperan
dalam
persepsi dapat dikemukakan beberapa faktor, yaitu:
a. Objek yang dipersepsi
Objek menimbulkan stimulus yang mengenai alat indera atau
reseptor. Stimulus dapat datang dari luar individu yang
mempersepsi,
tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang
bersangkutan
yang langsung mengenai syaraf penerima yang bekerja
sebagai
reseptor.
b. Alat indera, syaraf dan susunan syaraf
Alat indera atau reseptor merupakan alat untuk menerima
stimulus. Di samping itu juga harus ada syaraf sensoris
sebagai alat
untuk meneruskanstimulus yang diterima reseptor ke pusat
susunan
syaraf, yaitu otaksebagai pusat kesadaran. Sebagai alat untuk
mengadakan respon diperlukan motoris yang dapat
membentuk
persepsi seseorang.
22
c. Perhatian
Memberikan persepsi diperlukan adanya perhatian, ini
merupakan langkah utama sebagai suatu persiapan dalam
rangka
mengadakan persepsi. Perhatian merupakan pemusatan atau
konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan
kepada
sesuatu sekumpulan objek.
Faktor-faktor diatas menjadikan persepsi seseorang berbeda-
beda
meskipun apa yang mereka dapat dari sebuah proses
persepsi sama dengan
individu lain. Perbedaan persepsi dari individu tersebut dapat
terjadi
karena adanya perbedaan keperibadian, perbedaan dalam
sikap maupun
perbedaan dalam motivasi. Proses terbentuknya persepsi
dalam diri
seseorang juga dipengaruhi oleh proses belajar, pengetahuan
dan
pengalamannya.
4. Proses persepsi
Menurut Jalaludin Rakhmat (2011), proses terbentuknya
persepsi
didasari pada beberapa tahapan, yaitu:
a. Stimulus atau rangsangan
Terjadinya persepsi diawali ketika seseorang dihadapkan
pada
Suatu stimulus atau rangsangan yang hadir dari
lingkungannya.
b. Registrasi
Dalam proses registrasi, suatu gejala yang nampak adalah
Mekanisme fisik yang berupa penginderaan dan syarat
seseorang
berpengaruh melalui alat indera yang dimilikinya.
23
c. Interpretasi
Interpretasi merupakan suatu aspek kognitif dari persepsi
yang
Sangat penting yaitu proses memberikan arti kepada
stimulus yang
diterimanya. Proses interpretasi tersebut bergantung pada
cara
pendalaman, motivasi, dan kepribadian seseorang.
5. Tingkatan Persepsi
Mulla Sadra dalam Kuswanjono. A, (2009), terdapat empat
tingkatan
persepsi harus dibedakan berdasarkan derajat keterlepasan
yang dicapai
oleh objek-objek persepsi (perceptibles), yaitu :
a. Tingkatan pertama, yakni persepsi indra, dapat dipahami di
dalam tiga
kondisi yang ditentukan oleh sifat-sifatnya: pertama, materi
harus
hadir pada instrumen persepsi, yakni bahwa jiwa memahami
sesuatu
secara eksternal di dalam wujud materialnya. Kedua, bentuk
sesuatu
tertutupi oleh kualitas-kualitas dan sifat-sifatnya yang bisa
dipahami.
Ketiga, sesuatu yang dipersepsi secara indrawi adalah
sesuatu yang
partikular, bukan universal.
b. Pada tingkatan kedua, yakni imajinasi, objek-objek
persepsi terlepas
dari syarat pertama dari tiga syarat pada persepsi indra, yakni
objek
tersebut terlepas dari wujud material karena kehadiran
eksternal
sesuatu dalam persepsi imajinasi tidak dipersyaratkan.
c. Pada tingkatan ketiga, objek-objek intuisi indra terlepas
dari wujud
material maupun kualitas-kualitas dan sifat-sifat khususnya.
24
d. Pada tingkatan terakhir, objek-objek pahaman akal
terlepas dari ketiga
syarat di atas, karena akal hanya memahami objek-objek
universal. 6)
e. Mulla Sadra menyimpulkan penjelasannya tentang
tingkatan-tingkatan
persepsi dengan mengatakan bahwa keempat tingkatan
tersebut dapat
direduksi menjadi tiga saja, karena baik imajinasi maupun
intuisi
indra, keduanya merupakan penghubung antara akal dan
indra.
D. Pembelajaran
1. Definisi Pembelajaran
Darsono (2002) menjelaskan pengertian pembelajaran
sebagai suatu
kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa sehingga
tingkah laku
mahasiswa berubah kearah yang lebih baik. Belajar
merupakan kegiatan
yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan
dalam dirinya
melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman.
Oemar Hamalik
(2008) juga menambahkan bahwa pembelajaran merupakan
kombinasi
yang tertata meliputi segala unsur manusiawi, perlengkapan,
fasilitas,
prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan
dari
pembelajaran. Beliau mengemukakan tiga rumusan yang
dianggap penting
tentang pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran merupakan upaya dalam mengorganisasikan
lingkungan
pendidikan untuk menciptakan situasi dan kondisi belajar
bagi siswa.
b. Pembelajaran merupakan upaya penting dalam
mempersiapkan siswa
untuk menjadi warga masyarakat yang baik dan diharapkan.
25
c. Pembelajaran merupakan proses dalam membantu siswa
untuk
menghadapi kehidupan atau terjun di lingkungan
masyarakat.
Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh
individu dalam
perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman
yang
menyangkut aspek-aspek kognitif, efektif dan psikomotorik
untuk
memperoleh tujuan tertentu. Salah satu ciri dari aktivitas
belajar menurut
para ahli pendidikan dan psikologi ialah Perubahan tingkah
laku biasanya
berupa penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang baru
dipelajarinya,
atau penguasaan terhadap keterampilan dan perubahan
yang berupa sikap
sehingga belajar memberikan dampak positive untuk
kehidupan secara
individual maupun untuk individu lain (Aunurrahman,2010).
2. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran adalah sebuah perubahan yang dicapai
oleh
seseorang pembelajar kearah yang lebih baik melalui proses-
proses yang
sudah terskematis oleh pemberi jasa pendidikan. Menurut
Oemar Hamalik
(2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah
suatu deskripsi
mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa
setelah
berlangsung pembelajaran.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini
beberapa
pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager
(1962)
mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku
yang hendak
dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi
dan tingkat
kompetensi tertentu. Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981)
26
menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran suatu pernyataan
yang spesifik
yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang
diwujudkan dalam
bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang
diharapkan.
Adapun manfaat tujuan pembelajaran dalam Permendiknas
RI No.
52 Tahun 2008 tentang standar proses disebutkan bahwa
tujuan
pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata
pelajaran,
menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk
dalam
memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran,
serta
menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur prestasi
belajar siswa.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Belajar merupakan aktivitas kompleks yang terjadi pada
seseorang,
sehingga banyak faktor yang mempengaruhinya. Menurut
Sardiman A.M.
(2004) dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar,
secara garis
besar dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor intern
(berasal dari
dalam diri siswa) dan faktor ekstern (berasal dari luar diri
siswa).
Faktor intern menyangkut faktor-faktor fisiologis dan faktor
psikologis. Faktor fisiologis merupakan faktor yang berkaitan
dengan
kondisi jasmaniah siswa. Menurut Slameto (2003) faktor
fisiologis terdiri
dari faktor kesehatan dan cacat tubuh. Faktor psikologis
merupakan faktor
yang berkaitan dengan kondisi psikis dari siswa. Banyak
klasifikasi yang
dilakukan oleh para ahli berkaitan dengan faktor psikologis
dalam belajar.
Menurut Thomas F. Staton dalam Sardiman A.M (2004)
faktor psikologis
yang mempengaruhi belajar dapat diklasifikasikan menjadi
enam faktor
27
yaitu: motivasi, konsentrasi, reaksi, organisasi dan
pemahaman. Slameto
(2003) menyebutkan bahwa faktor psikologis yang
mempengaruhi belajar
antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, dan
kesiapan.
Faktor ekstern yang mempengaruhi belajar berkaitan dengan
factorfaktor
yang berasal dari luar diri siswa. Menurut Slameto (2003),
faktor
ekstern yang mempengaruhi belajar dapat dikelompokkan
menjadi tiga
faktor, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor
masyarakat. Faktor
keluarga meliputi cara mendidik orang tua, relasi antar
anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian
orang tua, dan latar
belakang kebudayaan. Faktor sekolah yang mempengaruhi
belajar siswa
dapat berupa metode mengajar, kurikulum, relasi guru
dengan siswa, relasi
siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu
sekolah, standar
pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas
rumah. Sedangkan
faktor masyarakat yang mempengaruhi belajar antara lain
kegiatan siswa
dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk
kehidupan
masyarakat.
4. Evaluasi Pembelajaran
Kegiatan belajar mengajar merupakan bagian utama dalam
sebuah
sistem pendidikan. Pendidikan yang berkualitas sangat
tergantung
bagaiman pembelajaran tersebut dilaksanakan dengan baik.
Djemari
Mardapi dalam (Eko Putro Widiyoko, 2009) memaparkan hal
serupa,
bahwa usaha peningkatan kualitas pendidikan dapat
ditempuh melalui
28
peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem
penilaian.
Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan
menghasilkan kualitas belajar yang baik. Selanjutnya sistem
penilaian
yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi
mengajar yang
baik dan memotivasi siswa untuk belajar yang lebih baik.
Mengevaluasi
kegiatan belajar mengajar akan berdampak langsung
terhadap kualitas
pendidikan sebuah perguruan tinggi, evaluasi pembelajaran
tidak hanya
dilihat dari penilaian hasil belajar, namun bisa juga terlihat
dari proses
pembelajaran itu sendiri. Optimalisasi sistem evaluasi
menurut Djemari
Mardapi dalam (Eko Putro Widiyoko, 2009) memiliki dua
makna, pertama
adalah sistem evaluasi yang memberikan informasi yang
optimal. Kedua
adalah manfaat yang dicapai dari evaluasi. Manfaat yang
utama dari
evaluasi adalah meningkatkan kualitas pembelajaran dan
selanjutnya akan
terjadi peningkatan kualitas pendidikan.
29
Metode PBL
Tingkat Pengetahuan Persepsi
Kegiatan
1. Tutorial
2. Kuliah
3. Praktikum ilmu farmasi
4. Praktikum keterampilan farmasi
5. Early Pharmaceutical Exposure (EphE)
6. Interprofessional Education (IPE)
7. Plenary discussion
8.
Hasil
1. Baik
2. Cukup
3. Kurang Baik
4. Tidak Baik
E. Kerangka Konsep
Gambar 1. Kerangka konsep
F. Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1. Tingkat pengetahuan mahasiswa Farmasi UMY terhadap
metode
pembelajaran PBL adalah baik.
2. Persepsi mahasiswa terhadap metode pembelajaran PBL
adalah baik.

Anda mungkin juga menyukai