Memahami Discharge Pompa Sentrifugal
Memahami Discharge Pompa Sentrifugal
Content:
I. Klasifikasi Pompa
II. Prinsip Pompa Sentrifugal- Bernoulli, NPSH and Minimum Re-circulation Line
III. Membaca Kurva Karakteristik Pompa
A. Flow Rate vs Head dan Beban Pompa
B. Friction
IV. Cavitation
A. Kavitasi Suction
B. Kavitasi Discharge
V. Operasional Pompa
A. Air Pocket
B. High DP pada Strainer Suction
C. Kurangnya Tekanan pada Tangki
D. Akselerasi Fluida
[Link]
I. Klasifikasi Pompa
Secara umum, pompa dibagi menjadi dua jenis:
1. Positive displacement pump, pompa jenis ini bekerja dengan cara menjebak fluida yang
masuk, kemudian mendorong fluida terjebak dalam ruang dengan volume tetap tersebut
menuju ke bagian discharge. Oleh karena kekhasan inilah, pompa ini memiliki flow rate
yang tetap. Positive displacement pump, dibagi lagi menjadi dua bagian: Pompa
reciprocating (gerakan bolak-balik) dan juga rotary (gerakan berputar)
2. Centrifugal Pump, pompa jenis ini memanfaatkan gaya sentrifugal untuk memberikan
gaya dorong terhadap fluida,
Berbeda dalam hal mekanisme kerja tentu saja akan memberikan perbedaan dalam hal kapan dan
untuk aplikasi apa pompa ini digunakan. Positive displacement ("PD") pump dalam dunia
industri biasanya dipakai untuk menangani fluida yang bukan air. Misalkan, bahan kimia dan
juga minyak.
Macam-macam pompa PD
Injeksi kimia biasanya memakai pompa PD dikarenakan pompa jenis ini bisa disetting untuk
memiliki kapasitas yang kecil. Bahan kimia, misalkan NaOH biasanya digunakan dalam
industri dalam dosis yang kecil, misalkan untuk mengganti ion resin yang sudah jenuh. Selain
itu, keuntungan dari mneggunakan pompa PD untuk injeksi bahan kimia adalah flowrate nya
[Link]
yang tetap dan bisa diubah sesuai dengan settingan stroke yang kita inginkan. Begitupun
aplikasinya untuk memompa minyak. Pompa PD biasa digunakan untuk memompa minyak yang
memiliki viscositas yang tinggi. Bayangkan betapa beratnya kerja impeller pada pompa
sentrifugal bila ia digunakan untuk memompa fluida yang bersifat kental.
Lain daripada pompa PD, pompa sentrifugal biasanya digunakan untuk menangani fluida air.
Prinsip daripada pompa sentrifugal ini adalah fluida masuk melalui mata impeller. Di sini, air
akan mendapatkan tambahan energi kinetik ketika ia diputar oleh impeller karena gaya
sentrifugal. Setelah keluar dari impeller, air akan memasuki ruang yang memiliki kecenderungan
untuk melebar yang disebut volute. Di volute, energi kinetik akan diubah menjadi head yang
dinyatakan dalam satuan meter.
Dalam pompa sentrifugal, lebih sering kita menggunakan kata head daripada pressure
karena tekanan discharge (luaran) pompa akan selalu berubah-ubah tergantung dari
specific gravity (s.g) dari fluida. Misalkan, air yang memiliki s.g =1 akan memiliki pressure
discharge lebih tinggi daripada methanol yang memiliki s.g =0.6. Hal ini akan berpengaruh pada
kebutuhan beban yang dibutuhkan oleh motor untuk memutar pompa. Hal ini akan dibahas pada
penjelasan kurva karakteristik pompa.
Pola perlakuan yang berbeda juga harus dilakukan antara pompa PD dan juga pompa sentrifugal
ketika ia akan dijalankan.
Persiapan yang harus dilakukan sebelum menjalankan pompa PD adalah memastikan bahwa
bagian inlet pompa dan juga discharge harus dalam keadaan terbuka. Biasanya, pompa PD
[Link]
juga dilengkapi pressure safety valve (PSV) pada bagian discharge. Hal ini sebaga pengaman
jika kita lupa membuka valve discharge. Ingat, meskipun valve discharge ditutup, pompa PD
akan terus memompa. Akibatnya, terjadi build-up pressure yang bisa sangat berbahaya
dan bisa merusak peralatan jika tekanan sudah melebihi desain yang diijinkan.
Untuk pompa sentrifugal, persiapan yang harus dilakukan sebelum men-start pompa adalah:
1. Pastikan bagian dalam pompa telah terisi penuh dengan fluida, jangan sampai ada
udara yang terjebak. Hal ini dengan cara membuka valve drain yang terhubung
langsung dengan bagian dalam pompa. Istilah teknisnya disebut dengan "priming"
2. Usahakan jangan buka valve discharge pompa langsung 100% terbuka. Hal ini untuk
menghindari kavitasi. Sesaat setelah pompa di-start akan ada proses akselerasi dari fluida
yang menyebabkan turunnya pressure di bagian inlet pompa. Hal ini menyebabkan
vakum, jika NPSH pompa kurang, maka dapat mengakibatkan kavitasi. Demi
menghindari hal tersebut, maka kapasitas pompa harus diturunkan untuk mengurangi
jumlah pressure drop dengan cara tidak membuka 100% open valve discharge ketika
pertama kali pompa dijalankan.
NOTE : Kavitasi adalah peristiwa khas yang dapat terjadi ketika menjalankan pompa
sentrifugal. Lebih jauh lagi, akan dibahas pada bab selanjutnya.
Untuk mengetahui berapa tenaga yang dibutuhkan dalam hal memindahkan sebuah liquid,
kita biasa menggunakan persamaan konservasi energy mekanik (atau lebih umum dikenal
sebagai persamaan Bernoulli):
[Link]
Seorang engineer proses tidak pernah membuat pompa ataupun kompresor. Namun, mereka
membelinya pada seorang penyedia spesialis (vendor), kemudian merangkainya pada sebuah
system dan menggunakannya. Bagian dari merangkai dan menggunakan pompa tersebut
merupakan sebuah pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang engineer proses.
Konsekuensinya, mereka harus mengetahui tipe dari pompa yang akan dipakai, property
daripada liquid yang akan ditangani dan kapasitas pompa yang ingin digunakan.
Untuk analisa yang akan digunakan kali ini, kita berasumsi bahwa liquida
bersifat incompressibles; memiliki densitas yang cukup tinggi, dan ia bisa menguap jika kita
meletakkannya pada kondisi dimana tekanan cukup rendah dan suhu tinggi.
Maka, semakin besar ketinggian pompa terhadap liquid, semakin Pa akan berkurang. Batasnya
adalah ketika Pa menjadi sama dengan tekanan vapor Pv dari liquid pada suhu kerja. Setiap
kenaikan tambahan dari delta h akan menyebabkan vaporisasi dari liquid dalam system
[Link]
perpipaan, dan pompa tidak akan bisa berfungsi lagi karena tugas dari pompa adalah untuk
memindahkan liquid bukan gas. Nilai maksimal dari delta h adalah
Catatan :
a) Delta h max menjadi lebih rendah ketika tekanan yang berlaku dalam tanki
diperendah.
b) Untuk sebuah tanki yang terbuka pada atmosfer, yang memompa air pada suhu 20 C,
kondisi dimana tekanan uap rendah, delta h max sekitar 10 m.
c) Tekanan uap memberikan peran yang sangat penting, terutama pada liquid dengan
temperature tinggi atau volatil.
d) Kondisi seperti diatas tidak bisa ditandingi, ketika liquid terletak pada level yang cukup
rendah (ex: terletak di dasar sumur), maka satu-satunya solusi adalah dengan menurunkan
pompa mendekati liquid supaya delta h tetap lebih rendah dibanding nilai maksimal
yang diijinkan.
Kenyataannya, titik dari tekanan minimal atas system perpipaan dimana liquid berpindah,
tidaklah pada bagian entrance pompa, tetapi pada suatu tempat pada bagian dalam alat ini.
Oleh karena itu, limitasi dari delta h lebih kecil dari yang ditunjukkan. Dengan kata lain, ia
bergantung dari karakteristik alat dan juga debit; informasi ini disediakan oleh pabrikan.
Banyak pabrikan eropa yang menyatakan data tersebut dalam bentuk variasi dari ketinggian
aspirasi, delta h max, dengan kondisi tanki terbuka pada atmosfer, p = p atm, dan dimana
liquid yang dipompa memberikan tekanan uap nol. Sedangkan, untuk konstruktor Inggris-
Amerika, lebih kearah menyediakan data ini dalam bentuk NPSH (Net Positif Suction Head).
NPSH adalah nilai minimal dari tekanan, yang diekspresikan dalam meter liquid yang dipompa
yang harus dijaga pada tempat masuk liquid (entrance) pompa.
Sebagai tambahan, aliran dalam perpipaan menyebabkan kehilangan energi karena friksi, yang
bisa menurunkan delta h max yang diijinkan. Prakteknya, kita meminimalkan energy yang
hilang karena friksi ini dengan menggunakan diameter yang lebar, meminimalkan penggunaan
elbow, dan membatasi penggunaan alat untuk mengatur/mengukur debit (ex: valve).
Untuk mengakhiri analisis dari aspirasi ini, jika kondisi yang dibutuhkan oleh pompa tidak
dijalankan, maka pompa tidak bisa bekerja. Dalam kasus dimana kondisi mendekati batas yang
diijinkan, sedikit perubahan dari parameter operasi (misalkan: suhu atau temperature liquid) bisa
mengakibatkan peristiwa kavitasi. Melalui kavitasi, akan mendatangkan berbagai macam
phenomena yang kompleks seperti penguapan dalam zona tekanan rendah, diikuti dengan
[Link]
rekondensasi ketika tekanan naik, yang kemudian bisa diikuti dengan getaran yang intens dan
juga cepat, yang pada akhinya bisa menyebabkan rusaknya pompa.
Perlu kita tahu, bahwa tidak selamanya proses yang berjalan pada sebuah plant selalu
berjalan continous, meskipun pada dasarnya ia di-desain untuk berjalan demikian.
Misalkan, sistem yang didepannya mengalami ketidakstabilan (upset) yang membutuhkan waktu
untuk proses pen-tuningan operasi. Hal ini mengakibatkan kerja sistem yang dibelakangnya
menjadi terhambat.
Contoh nyata adalah sistem boiler feed water (BFW) treatment unit.
Suatu saat BFW treatment unit tidak bekerja dengan bagus. Air hasil olahan BFW masih
menghasilkan konduktifitas yang masih tinggi. Hal ini bisa terjadi jika resin yang berada dalam
vessel sudah dalam kondisi jenuh kedua-duanya. Artinya ia butuh diregenerasi dengan
menggunakan bahan kimia dan dalam kondisi ini, ia tidak bisa menerima air kiriman dari
permeate tank.
[Link]
Apakah pompa permeate harus dimatikan karena ia sudah tidak dibutuhkan lagi dalam
mentransfer air?
Disinilah salah satu fungsi dari adanya minimum re-circulation line. Jalur discharge dari pompa
dibagi menjadi dua, satu menuju ke arah BFW treatment unit dan satunya lagi balik ke dalam
tanki. Yang balik ke dalam tanki inilah yang disebut minimum re-circulation line. Line ini dibuat
agar meskipun tidak ada fluida yang ditransfer ke distribusi, pompa masih bisa dijalankan
dengan aliran yang cukup untuk menjaganya agar tetap bekerja secara aman.
Minimum flow
Pompa memiliki aliran minimum yang perlu ditransfer untuk menjaga agar pompa tersebut
bekerja secara aman, tanpa vibrasi berlebihan etc. Disinilah fungsi daripada minimum re-
circulation line. Supaya pompa sentrifugal tetap mendapatkan aliran minimal yang diperlukan
untuk bekerja dalam kondisi aman. Gambar berikut menunjukkan perkiraan yang terjadi jika
pompa tidak bekerja di dalam kondisi optimal.
[Link]
Fungsi line re-sirkulasi minimal adalah menjaga agar jumlah aliran yang dibutuhkan pompa
selalu berada dalam kondisi yang aman jika sesuatu terjadi pada line distribusi yang
menyebabkan fluida tidak bisa dialirkan ke dalam jalur distribusi.
Sebagai tambahan, pompa yang bekerja hanya dengan menggunakan aliran minimum re-sirkulasi
harus selalu kita monitor. Sebab, ia bekerja dalam kondisi closed. Tidak ada air yang keluar dan
air tersebut selalu mendapat energi dari pompa.
Suatu kejadian nyata pernah terjadi, air hanya mengalami proses sirkulasi balik dari pompa
injeksi yang tekanan luarannya 130 bar selama dua hari berturut-turut. Tidak ada air yang
dialirkan ke distribusi. Akibatnya suhu air meningkat secara drastis dan dikabarkan adanya uap
air / steam yang keluar dari vent tanki tersebut. Sungguh sangat berbahaya. Hal ini bisa
menimbulkan peristiwa kavitasi yang bisa merusak pompa.
[Link]
[Link]
[Link]
III. Membaca Kurva Karakteristik Pompa
Pada tulisan sebelumnya, telah sedikit disinggung mengenai penggunaan kurva karakteristik
pompa dengan tujuan untuk melihat apakah pompa beroperasi pada kondisi yang optimal. Kali
ini, akan dijelaskan mengenai cara membaca kurva karakteristik pompa untuk mengetahui
performa suatu pompa.
Diatas disajikan sebuah kurva karakteristik pompa fire water. Pompa ini, sesuai namanya,
dipakai dalam keadaan darurat, yakni ketika terjadi kebakaran.
Kita lihat, pada bagian sebelah kiri menunjukkan kilowatts dan juga total head dalam meters.
Kilowatts berarti menyatakan mengenai daya listrik yang terpakai. Daya pada pompa biasanya
disuplai melalui motor menggunakan energi listrik. Semakin tinggi load/beban kerja, tentu akan
butuh tenaga lebih besar untuk menggerakkan pompa dalam putaran yang sama. Beban kerja
dalam hal ini ditanyatakan dalam flow rate cairan. Beban kerja juga bisa bergantung dari densitas
fluida. Semakin besar densitas fluida, maka akan semakin besar beban kerja.
[Link]
Flow rate naik menyebabkan Beban kerja naik sehingga Power yang dibutuhkan naik
Pada sisi kiri vertical pada grafik, ada tulisan “Total Head” yang dinyatakan dalam satuan
meter. Untuk memahami apakah yang dimaksud “Total Head”, mari simak gambar berikut
Total head
Dari gambar diatas dapat kita ketahui, head adalah ukuran tinggi fluida. Maka satuannya
dinyatakan dalam meter. Total head (Ht) sendiri didefinisikan sebagai head discharge (hd)
dikurangi head suction (hs). Perhatikan cara mengukur total head pada gambar diatas.
Ht = hd – hs
Informasi lain yang bisa diambil pada gambar tersebut: semakin tinggi head suction, maka
akan semakin tinggi pula head discharge, dan sebaliknya.
Ada kalanya, head juga dinyatakan dalam satuan tekanan. Hal ini dilakukan, jika kita sudah
mengetahui fluida apa yang akan dipakai karena untuk fluida yang berbeda akan memberikan
tekanan head yang berbeda-beda.
Berapakah nilai dari total head jika kita mengambil air dari sumur yang ketinggiannya rendah:
Perhitungannya menjadi sebagai berikut : Ht = hd – (-hs) = hd + hs
hs adalah ketinggian yang diambil dari mata impeller pompa sampai pada ketinggian permukaan
air dalam sumur.
Jika dilihat pada kurva karakteristik pompa diatas, total head akan semakin menurun dengan
semakin bertambahnya flow rate. Mengapa hal ini terjadi? Mari simak gambar dibawah:
[Link]
Flow and head
Jika kita memasang selang setinggi mungkin pada discharge pompa dan kemudian menyalakan
pompa tersebut, akan sampai pada keadaan bahwa fluida mencapai tinggi maksimum dimana
tidak ada aliran yang mengalir (gambar kiri). Nah, jika kita kurangi ketinggian selang, tentu saja
fluida mulai mengalir keluar. Semakin rendah tinggi selang, maka akan semakin banyak volume
air yang mengalir keluar.
Hal ini identik dengan percobaan yang pernah kita lakukan sewaktu duduk masih kecil, yang
diperlihatkan melalui gambar dibawah ini:
[Link]
Bagaimana untuk mendapatkan nilai total head yang berbeda-beda dalam suatu sistem
perpipaan?
Mudah saja, salah satunya dengan men-throttle (menutup secara pelan-pelan) katup yang berada
di discharge pompa. Otomatis hal ini akan menaikkan total head sehingga membatasi jumlah
aliran yang keluar. Dengan menggunakan grafik kurva karakteristik pompa, bisa diketahui
apakah pompa masih bekerja sesuai dengan kurva karakteristik yang dibuat oleh vendor ataukah
telah terjadi suatu penurunan performa pompa.
Nah, sekarang kita sudah mengetahui hubungan antara power dengan flowrate dan juga total
head dengan flowrate. Hubungan antara flowrate dengan total head inilah yang menjadi bagian
penting dalam pemilihan suatu pompa yang akan digunakan. Artinya, data mengenai seberapa
jauh lintasan yang akan dilalui fluida dari tempat A ke tempat B (total head) dan berapa laju alir
yang dibutuhkan (flow rate) supaya proses bisa berjalan secara kontinu menjadi dasar
pertimbangan dalam pemilihan seberapa kapasitas pompa yang akan dipilih.
B) Friction
Friksi atau gaya gesek adalah sebuah gaya yang dtimbulkan apabila dua buah benda
saling bersentuhan yang menyebabkan kehilangan energy, biasanya hilang dalam bentuk
panas.
Jika dilihat kurva hubungan antara flowrate dengan head, akan ditemukan buah tiga garis yang
ketinggiannya berbeda. Dari grafik bisa diketahui bahwa perbedaan kurva tersebut diakibatkan
oleh diameter impeller yang berbeda-beda.
Dengan, diameter 540 mm, dihasilkan total head tertinggi adalah 113 meter (m),
untuk 573 mm, total head tertinggi adalah 126 m dan yang terakhir,
pada diameter 584 mm dihasilkan head sekitar 130 m.
Dari data tersebut, kita tahu bahwa semakin besar diameter impeller akan menghasilkan
jumlah total head yang semakin besar. Jika kita tarik garis horizontal untuk menghubungkan
ketiga garis tersebut seperti gambar dibawah:
[Link]
Perbandingan head dengan flowrate untuk diameter impeller yang berbeda
Terlihat bahwa untuk total head yang sama, akan menghasilkan flowrate yang berbeda-beda
untuk jenis diameter pompa yang berbeda. Dan, pompa dengan diameter terbesarlah yang
menghasilkan flow rate paling tinggi. Informasi ini penting, jika kita ingin menambah atau
mengurangi flowrate tanpa ingin membeli pompa yang baru jika ada perubahan dalam proses.
Untuk kasus berikutnya, apakah pengaruh yang dihasilkan jika pompa dipasang pada diameter
perpipaan yang berbeda-beda? Mari kita lihat tabel berikut:
[Link]
Pembacaan friksi dalam psi untuk dua buah pipa yang berbeda
Diatas disajikan sebuah data untuk dua buah pipa sepanjang 100 feet dengan beda diameter
berlainan: 0.5 inch dan 1 inch. Sedikit menjelaskan mengenai bagaimana eksperimen ini
dilakukan:
Fluida dialirkan melalui dua buah pipa tersebut secara bergantian. Pada ujung kedua pipa,
dilakukan pemasangan pressure gauge, yakni pada posisi 0 feet dan 100 feet. Maka, perbedaan
kedua pembacaan tersebut lalu dianggap sebagai kehilangan tekanan karena friksi.
Instalasi eksperimen ini seperti ditunjukkan pada gambar dibawah:
Percobaan untuk mencari besarnya friksi yang dinyatakan dalam hilang tekanan
Beberapa hal yang bisa kita simpulkan dari data eksperimen yang dihasilkan :
• Semakin tinggi flow, semakin tinggi kecepatan, semakin tinggi pula friksinya
• Untuk flow yang sama, pada diameter yang berbeda, akan memberikan nilai friksi
yang berbeda. Friksi yang lebih kecil didapatkan oleh diameter yang lebih besar.
[Link]
Mari kita telaah dulu dua pernyataan diatas. Data diatas sekilas seperti tidak masuk akal.
Logikanya: jika kita perbesar flow, maka makin cepat kecepatan fluida. Semakin cepat suatu
aliran, maka waktu tinggal dalam pipa akan semakin sedikit. Jika waktu tinggal fluida dalam
pipa sedikit, logikanya kehilangan tekanan juga lebih sedikit karena waktu kontak fluida dengan
dinding pipa semakin singkat. Namun, mengapa semakin cepat fluida, semakin tinggi pula
kehilangan tekanan?
Untuk membedakan pola alir ini biasanya dinyatakan secara matematis melalui bilangan tidak
berdimensi yakni bilangan reynold. Bilangan Reynold akan memberikan suatu estimasi pola alir
yang disebut laminar, transisi atau turbulen pada range angka tertentu. Semakin tinggi
kecepatan aliran, semakin tinggi bilangan Reynold dan akan membuat pola aliran semakin
bersifat turbulen. Bilangan Reynold berhubungan dengan diameter perpipaan, densitas,
kecepatan fluida dan viskositas.
Diatas, sebagaimana kita ketahui adalah profil aliran dalam sebuah pipa. Kita bisa melihat bahwa
untuk aliran turbulen, kontak fluida dengan dinding cenderung lebih banyak jika
dibandingkan dengan pola aliran laminar. Sebagaimana kita tahu, semakin banyak kontak,
semakin besar friksi. Sehingga, menyebabkan akan semakin tinggi hilang tekanan pada fluida.
Nah, inilah mengapa, semakin cepat fluida, malah membuat friksinya semakin naik.
Hubungan kecepatan fluida dengan hilang tekanan bisa dilihat dalam grafik dibawah:
[Link]
Grafik hubungan kecepatan alir dengan friksi
Untuk aliran laminar, jumlah kehilangan tekanan setara dengan kenaikan kecepatan alir.
Sementara untuk aliran turbulen, jumlah kehilangan tekanan setara dengan kenaikan kecepatan
alir pangkat 1.7 sampai 2.0. Inilah yang membuat perbedaan friksi antara dua diameter yang
berbeda bisa jadi tidak berbanding lurus.
Dalam dunia industri, kita selalu berhadapan dengan aliran turbulen, jarang kita menggunakan
aliran laminar. Maka, hilang friksi juga menjadi sangat signifikan. Aliran yang sangat kencang
bisa dideteksi dari suara aliran fluida dalam suatu perpipaan. Hal ini karena adanya peristiwa
gesekan antara fluida dengan sistem perpipaan yang menimbulkan bunyi. Hal positif dari aliran
turbulen adalah membantu proses pencampuran karena pola aliran yang tak beraturan.
IV. Cavitation
Kavitasi adalah lahirnya sebuah rongga yang berisi uap dalam fluida. Biasanya hal ini terjadi
ketika ada sebuah gaya yang bekerja dalam fluida tersebut yang menyebabkan turunnya tekanan.
Jika turunnya tekanan tersebut sangat tinggi dan mengalahkan tekanan uap jenuh fluida. Maka,
akan ada kecenderungan untuk terbentuk gelembung karena penguapan akibat tekanan uap jenuh
fluida telah mengalahkan tekanan lingkungannya.
Sebelum menerangkan mengenai kavitasi, alangkah baiknya kita belajar mengenai peristiwa
kesetimbangan uap-cair lewat ilustrasi berikut:
[Link]
Air yang mendidih, gelembung uap
Dikatakan sebelumnya bahwa gelembung terbentuk jika tekanan uap jenuh fluida melebihi
tekanan lingkungannya. Hal ini sama dengan fenomena air pada titik didihnya. Air dikatakan
pada kondisi mendidih ketika tekanan uap air adalah sama/ melebihi tekanan atmosferik yang
melawannya. Sehingga terbentuklah uap air. Uap air ini akan dilihat sebagai gelembung karena
terbentuk di dalam permukaan air. Biasanya gelembung akan terbentuk dari permukaan dasar
wadah air karena bagian tersebut memiliki panas yang lebih tinggi.
Tetapi ada perbedaan antara gelembung yang terbentuk oleh air yang dididihkan dengan
gelembung yang terjadi karena peristiwa kavitasi. Pada peristiwa air yang didihkan,
gelembung memiliki tekanan yang sama dengan lingkungan. Energi yang berasal dari panas
yang disuplai oleh kompor membuat molekul memperoleh energi yang cukup kuat. Hal ini
menyebabkan pecahnya aggregat fasa cair pada air tersebut. Peristiwa ini menjadikan
terbentuknya gelembung yang berisi uap air.
Cara mempercepat pembentukan gelembung ini bisa dengan dua macam cara: yakni dengan
menambahkan suplai energi panas atau dengan mengurangi tekanan lingkungan. Inilah mengapa,
ketika kita di pegunungan, memasak makanan sebaiknya dilakukan dengan waktu relatif lebih
lama jika dibandingkan dengan di dataran rendah. Ini untuk menjamin bahwa masakan benar-
benar matang karena titik didihnya yang menurun akibat rendahnya tekanan atmosfer.
Rendahnya tekanan atmosfer ini juga membuat suhu lingkungan di pegunungan menjadi lebih
dingin.
Sedangkan, pada peristiwa kavitasi, gelembung yang terbentuk tidaklah memiliki tekanan.
[Link]
Gelembung terbentuk dalam peristiwa kavitasi
Diatas adalah sebuah contoh kavitasi dalam perpipaan. Kita bisa melihat, bahwa ada uap dalam
pipa tersebut, seperti ditunjukkan dalam lingkaran kuning. Untuk mengetahui bagaimana hal
tersebut bisa terjadi, kita merujuk pada hukum Bernoulli yakni, tekanan dalam fluida (energi
potensial fluida) ditambah dengan kecepatan fluida (energi kinetik fluida) adalah selalu
konstan. Jadi, jika tekanan naik, otomatis kecepatan fluida turun. Hukum Bernoulli ini
merupakan akibat dari hukum kekekalan massa.
Untuk mempertahankan massa aliran agar tetap, kecepatan alir pada bagian pipa yang mengecil
harus lebih cepat daripada pada bagian yang besar. Konsekuensinya, nilai tekanannya akan
turun. Tekanan yang turun tersebut mengakibatkan gaya yang menahan agar fluida tetap dalam
fasa cair menjadi terkalahkan. Akibatnya, terbentuklah gelembung.
Berdasar penjelasan diatas, maka gelembung yang terbentuk tidak memiliki tekanan/ vakum.
Jika kita melihat pada gambar, kita bisa mengetahui, bahwa kavitasi terjadi secara lokal pada
tempat tertentu.
[Link]
Shockwave karena meletusnya gelembung kavitasi
Pada pompa, ada jenis dua kavitasi, yakni kavitasi suction dan kavitasi discharge.
A. Kavitasi Suction
Kavitasi suction terjadi karena pressure yang rendah pada bagian suction. Salah satu konsep yang
wajib kita ingat adalah bahwa pompa tidak menghisap fluida, tetapi tekanan suction fluida yang
membuat pompa bisa berjalan dengan baik.
Masih bingung ?
Kita mungkin pernah mendengar istilah memancing pompa, dalam bahasa inggis
disebut priming the pump. Priming pompa ini dapat dilakukan dengan dua macam langkah,
yakni mengisi pompa dengan fluida dan mengeluarkan udara terjebak dalam pompa.
Jadi, pompa itu bukan menghisap fluida. Namun, tekanan dari fluida itu sendiri yang bisa
membuat fluida bisa dipompakan. Meskipun begitu, tekanan suction pompa ini haruslah berada
pada nilai tertentu, jika tidak, dia tidak akan bisa dipindahkan dengan baik. Dan, ini dikenal
dengan istilah NPSH. NPSH adalah nilai bersih yang harus dimiliki setelah tekanan suction
fluida dikurangi dengan tekanan friksi pada sistem perpipaan pada bagian suction dan
tekanan uap fluida.
Kalau prinsip kerja pompa adalah menghisap fluida, maka kita tidak usah susah-susah
melakukan proses pemancingan/priming pompa
Agar memudahkan, pada kurva karakteristik pompa dilampirkan tekanan suction bersih yang
dibutuhkan agar pompa bisa bekerja dengan baik, yang disebut dengan Net Positive Suction
Head Required (NPSHr). NPSHr ini merupakan data vendor.
[Link]
Mari kita lihat NPSHr pada kurva karakteristik pompa.
Jika NPSHr adalah data yang berasal dari vendor, ada juga yang dinamakan NPSH available
(NPSHa). NPSHa adalah NPSH aktual yang ada pada sistem. Kita bisa menghitungnya atau
mendapatkannya pada pembacaan instrumentasi yang membaca tekanan yang terpasang di
bagian suction pompa. Tentu saja, nilai ini masih harus dikurangi friksi yang hilang di perpipaan
suction, dari tempat pemasangan instrumentasi tersebut sampai mata impeller. Pressure gauge
yang berada pada bagian suction pompa biasanya akan memiliki range pembacaan negatif.
[Link]
Sebagaimana gambar diatas, pressure terendah terdapat pada mata impeller. Maka dari itu,
perhitungan NPSH harus dilakukan sampai dengan mata impeller.
Jadi, kita sudah jelas sekarang mengenai kasus kavitasi suction. Kavitasi suction
adalah peristiwa kavitasi akibat tekanan suction yang terlalu kecil sehingga tidak mampu
menjaga tekanan fluida agar tetap berada pada kondisi tekanan di atas kondisi uap
jenuhnya.
B. Kavitasi discharge
Sesuai dengan namanya, kavitasi ini terjadi pada bagian discharge pompa. Hal ini bisa terjadi
ketika tekanan discharge pompa yang terlalu tinggi, namun mengalami hambatan sehingga
menghalangi aliran keluar pompa. Secara normal, hal ini terjadi ketika kita menjalankan pompa
yang berada pada posisi kurang dari 10% dari titik efesiensi terbaiknya, best efficiency point
(BEP).
BEP biasa digunakan untuk mengetahui titik dimana pompa sentrifugal beroperasi pada titik
efisiensi paling tinggi, yaitu ketika kehilangan energi akibat transfer energi dari penggerak
[Link]
utama, yakni motor ke sistem fluida paling kecil. Sehingga, secara fisik, fluida yang ditransfer
memiliki karakter alir yang bagus dan pompa berjalan dengan optimal.
Kembali kepada bahasan mengenai kavitasi pada bagian discharge, adanya pressure yang tinggi
pada bagian discharge namun aliran tidak bisa keluar seluruhnya dari pompa, menyebabkan
fluida sebagian besar akan bersirkulasi di dalam pompa dan terjadi peristiwa sirkulasi internal.
[Link]
Saat liquid mengalir disekitar impeller, dia harus melewati celah sempit yang berada diantara
impeller dan titik cutwater pompa sehingga kecepatannya naik dengan sangat tinggi.
Kavitasi ini akan menyebabkan keausan prematur pada bagian ujung impeller dan pump housing.
Kavitasi suction terjadi ketika kita menjalankan pompa dengan berada pada kurva
karakteristik yang terlalu ke kanan, sehingga NPSHr tidak bisa tercapai. Sedangkan
untuk kavitasi discharge terjadi ketika kita menjalankan pompa dengan kondisi operasi
pada kurva karakteristik pompa terlalu kekiri, dimana terjadi sirkulasi internal yang
menyebabkan kavitasi.
[Link]
Jadi, dengan kita mempelajari kurva karakteristik pompa, kita akan mengetahui kondisi optimal
yang seharusnya dijalankan pada pompa. Hal ini akan menghindari akibat dari salah
pengoperasian, salah satunya adalah menghindari peristiwa kavitasi, baik itu kavitasi suction
maupun kavitasi discharge.
Hal ini, tentu saja akan bisa membuat umur pompa kita menjadi lebih panjang karena dijalankan
dalam kondisi pengoperasian yang baik. Itulah salah satu manfaat yang didapat dari mempelajari
kurva karakteristik pompa ini.
V. Operasional Pompa
Sudah dijelaskan mengenai kurva karakteristik pompa untuk menjaga agar pompa tetap berada
pada kondisi yang optimal sehingga tidak terjadi kavitasi. Kali ini, akan dibahas dari sudut
praktis pengoperasian pompa di lapangan.
Terkadang ada beberapa hal yang bisa membuat pompa berjalan tidak optimal meskipun kurva
karakteristik pompa telah dijalankan dengan baik. Beberapa diantaranya meliputi:
a) Air Pocket
Udara terjebak dalam suction pompa bisa membuat pompa berjalan dengan tidak optimal. Hal ini
dikarenakan adanya udara terjebak akan menghalangi laju alir fluida. Akibatnya, meskipun
NPSHr sudah terpenuhi, namun saat pompa di-start masih menunjukkan gejala mirip kavitasi,
misalkan adanya noise dan getaran pada pompa. Maka dari itu, sebelum pompa distart, pastikan
tidak ada udara yang terjebak dengan membuka high venting point pada discharge pompa dan
terutama low drain point pada suction piping dan juga pompa
Adanya DP yang besar pada suction strainer, akan membuat aliran terhambat dan juga membuat
berkurangnya tekanan suction pompa. Hal ini juga akan membuat gejala kavitasi pompa jika
tekanan suction tersebut kurang dari NPSHr. Untuk kasus pada air pocket, kita tidak perlu men-
stop pompa, cukup buka vent/drain point untuk membuang udara terjebak. Namun, pada kasus
high DP pada suction, mau tidak mau kita harus menggunakan pompa stand-by, dan men-stop
pompa on-duty.
Bagaimana jika pompa on-duty masih harus digunakan karena pompa stand-by masih ada
masalah?
Kita bisa men-throttle bagian discharge pompa untuk mengurangi NPSHr, sehingga pompa
masih bisa berjalan dengan lancar, namun hal ini akan mengurangi kapasitas pompa. Dan, pompa
juga berpotensi menderita kavitasi discharge jika throttle yang kita lakukan terlalu besar. Maka
dari itu, cara ini adalah cara sementara dan pompa yang sedang berjalan perlu untuk di-awasi.
[Link]
Ini adalah kejadian nyata yang penulis alami ketika melakukan kegiatan commissioning pompa
Acid Gas Enrichment Unit (AGE) Lean Amine Regenerator. Kondisi operasi tangki regenerator
AGE adalah 1 barg, sedangkan pompa dijalankan dengan tangki pada tekanan atmosferik.
Akibatnya, pompa berjalan dengan tidak optimal. Hal ini dikarenakan penulis harus men-throttle
bagian discharge pompa untuk menghindari peristiwa kavitasi. Normalnya, tidak dibutuhkan
throttling pada katup discharge pompa.
Setelah penulis melakukan injeksi nitrogen pada bagian reboiler untuk menjaga tekanan AGE
regenerator sebesar 1 barg, akhirnya penulis bisa membuka penuh bagian discharge pompa dan
mendapatkan flowrate sesuai kondisi normal tanpa menderita kavitasi.
d) Akselerasi fluida
Akselerasi fluida bisa menyebabkan peristiwa kavitasi. Hal ini bisa terjadi ketika pertama kali
pompa dijalankan. Meskipun begitu, pompa bisa berjalan dengan baik setelah dilakukan throttle
pada discharge pompa, selama beberapa detik, dan kemudian mengembalikan kembali katup
yang di-throttle tersebut ke kondisi buka penuh.
Mari kita lihat skematik gambar dibawah, untuk melihat bagaimana peristiwa ini bisa terjadi:
Kurva diatas menjelaskan mengenai perubahan level sebuah sump (sumur reservoir yang
letaknya berada dibawah permukaan tanah), dimana fluida dari sump tersebut akan dipompa
menggunakan submersible pump (pompa yang terbenam). Fluida dari sump diambil dari danau
dengan menggunakan pipa sepanjang 3 mil. Perubahan ketinggian sump relatif terhadap danau
tersebut diamati ketika pompa pertama kali distart.
[Link]
Ilustrasi diambil dari A Working Guide to Process Equipment by Norman P Lieberman
Pada point 0 ft, merupakan point dimana ketika pompa belum mulai dijalankan. Bisa kita lihat
bahwa ketinggian fluida yang ada di sump sama dengan ketinggian fluida yang ada di danau.
Sedangkan, pada posisi kesetimbangan, equilibrium level adalah posisi dimana pompa sudah
berjalan dengan steady, sehingga tidak lagi ditemukan adanya perubahan dari ketinggian fluida
di sump terhadap danau.
Ketinggian level sump lebih tinggi pada waktu pompa belum distart karena masih belum adanya
aliran. Dimana, dengan adanya aliran karena disebabkan pompa berjalan akan menyebabkan
adanya friksi yang menyebabkan turunnya tekanan suction. Hal ini yang menyebabkan level
sump ketika pompa sudah berjalan lebih rendah ketika sebelum pompa dijalankan.
Selain itu, kita juga melihat adanya kondisi transisi sebelum sump mencapai level
kesetimbangan. Dimana, level pada masa transisi lebih rendah dari masa kesetimbangan, yakni -
15 ft. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Hal ini diakibatkan oleh adanya proses akselerasi fluida yang sebelumnya dalam kondisi diam,
kemudian ketika pompa di-start, secara otomatis dia akan berakselerasi hingga mencapai
kecepatan tertentu. Proses ini membutuhkan banyak energi, sehingga ia mengambil banyak dari
tekanan suction fluida, sebelum akhirnya ia mendapatkan posisi kesetimbangan dan
mendapatkan tambahan tekanan karena sistem telah bergerak dengan kecepatan yang tetap.
Adanya akselerasi inilah yang kadang menyebabkan adanya gejala kavitasi pada waktu pompa
pertama kali di-start. Disebabkan, ia akan banyak memakan tekanan suction. Jika NPSH tidak
mencukupi untuk proses akselerasi ini, maka sistem tidak akan pernah mencapai proses
kesetimbangan. Karena adanya kavitasi disebabkan proses akselerasi akan menyebabkan
turunnya kinerja pompa, sehingga kesetimbangan tidak akan pernah tercapai.
Maka dari itulah, untuk mengurangi akselerasi tersebut, pada waktu sebelum pompa di-start, kita
harus men-throttling bagian discharge pompa. Setelah pompa di-start, maka kemudian dilakukan
pembukaan bagian discharge sedikit demi sedikit, hingga mencapai kondisi full open. Hal ini
bertujuan untuk mengurangi kehilangan tekanan suction akibat proses akselerasi.
[Link]
Hal ini biasa diterapkan pada pompa yang memiliki kapasitas yang besar karena tentu saja akan
menghasilkan akselerasi yang besar apabila pompa di-start. Selain itu, juga diterapkan ketika
level tangki penyimpan yang rendah karena menimbulkan nilai NPSHa yang juga rendah, namun
belum sampai mencapai kondisi interlock, sehingga pompa masih bisa dijalankan.
[Link]