0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan111 halaman

Manajemen Keperawatan Profesional di RS Brawijaya

Dokumen tersebut membahas tentang manajemen keperawatan, mencakup pengertian proses manajemen keperawatan, komponennya seperti perencanaan, organisasi, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi, serta tujuan dari penerapan model asuhan keperawatan profesional tim di rumah sakit.

Diunggah oleh

Supardi Al-Jelantik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan111 halaman

Manajemen Keperawatan Profesional di RS Brawijaya

Dokumen tersebut membahas tentang manajemen keperawatan, mencakup pengertian proses manajemen keperawatan, komponennya seperti perencanaan, organisasi, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi, serta tujuan dari penerapan model asuhan keperawatan profesional tim di rumah sakit.

Diunggah oleh

Supardi Al-Jelantik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I
PENDAHULUAAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen keperawatan merupakan suatu proses bekerja dalam melibatkan
anggota keperawatan dalam memberikan pelayanaan asuhan keperawatan
profesional. Pembarian pelayanan perawatan secara profesional perawat di
harapkan mampu menyelesaikan tugasnya dalam memberikan asuhan keperawatan
untuk meningkatkan derajat pasien menuju kearah kesehatan yang optimal (
Nursalam 2002). Pelaksanaan asuhan keperawatan profesional berkaitan dengan
tuntutan profesi dan tuntutan global bahwa setiap perkembangan dan perubahan
memerlukan pengelolaaan secara profesional dengan memperhatikan setiap
perubahan yang terjadi di Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui bahwa sistem pelayanan kesehatan mengalami
perubahan mendasar dalam memasuki abad 21. Perubahan tersebut sebagai dampak
dari perubahan sosial politik, kependudukan serta perkembangan pengetahuan dan
teknologi. Dari ketiga perubahan membawa implikasi terhadap perubahan sistem
pelayanan kesehatan atau keperawatan sebagai tantangan bagi tenaga keperawatan
indonesia dalam proses profesionalisasi. Manajemen keperawatan harus dapat
diaplikasikan dalam tatanan pelayanan nyata yaitu dirumah sakit dan komunikasi
sebagai perawatan perlu memahami konsep dan aplikasinya. Konsep yang harus
dikuasai adalah konsep tentang pengelolaan bahan, konsep menejemen
keperawatan, perencanaan, yang berupa rencana strategi melalui pendekatan,
pengumpulan data analisa swot dan penyusunan langkah perencanaan secara
operasional khususnya dalam pelaksanaan MAKP delegasi dan melakukan
pengawasan dan pengendalian (Nursalam 2002).
Proses manajemen keperawatan dalam aplikasi dilapangan berada sejajar
dengan proses keperawatan sehingga keberadaan manajemen keperawatan
dimaksudkan untuk mempermudah proses keperawatan (Arwani,2005) sehingga
dapat mengarahkan keperawatan menuju profesionalisme. Salah satu sistem
pelayanan keperawatan profesional adalah dengan melaksanakan suatu Model
Asuhan Keperawatan Profesional Tim yang merupakan suatu metode penugasan
2

menggunakan tim yang terdiri dari atas anggota yang berbeda - beda dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap sekelompok pasien. Perawat ruangan
dibagi menjadi 2 tim/grup yang terdiri atas tenaga profesional. Teknikal dan
pembantu dalam satu kelompok kecil yang saling membantu.
Keuntungan dari MAKP Tim antara lain asuhan keperawatan yang
diberikan bermutu tinggi dan tercapainya pelayanan yang efektif terhadap
pengobatan,dukungan, proteksi, informasi dan advokasi. Selain itu pembagian
tugas yang jelas dan dilakukan sesuai peran akan meringankan beban kerja perawat.
Hal ini dapat meningkatkan kepuasan bagi pasien, perawat dan tenaga kesehatan
lainnya sehingga tercapai suatu pelayanan yang paripurna.
Berdasarkan pengkajian yang kami laksanakan di ruang Rawat Inap Rumah
Sakit Brawijaya Lawang, kami mendapatkan bahwa model asuhan keperawatan
yang digunakan di ruang Rawat Inap Rumah Sakit Brawijaya Lawang adalah model
tim.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Setelah mengikuti praktek keperawatan manajemen diharapkan
mahasiswa mampu menjelaskan dan menerapkan bagaimana suatu model
asuhan keperawatan profesional dapat berkontribusi dalam praktik
keperawatan yang profesional.
1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah mengikuti proses praktek manajemen keperawatan
diharapkan mahasiswa mampu:
a. Melakukan pengkajian
b. Melakukan analisis situasi berdasarkan analisis SWOT
c. Menentukan rumusan masalah
d. Memprioritaskan masalah
e. Menyusun rencana strategi : (1) Peran MAKP Primer, (2) Supervisi, (3)
Discharge Planning, (4) Timbang terima, (5) Dokumentasi, (6) Ronde
Keperawatan, (7) Sentralisasi Obat
3

f. Melaksanakan rencana strategi: (1) peran MAKP Semi Tim, (2)


Supervisi, (3) Discharge Planning, (4) Timbang Terima, (5)
Dokumentasi, (6) Ronde Keperawatan, (7) Sentralisasi Obat.
g. Melakukan evaluasi pelaksanaan: (1) peran MAKP Primer, (2)
Supervisi, (3) Discharge Planning, (4) Timbang terima, (5) Dokumentasi,
(6) Ronde Keperawatan, (7) Sentralisasi Obat.

1.3 Manfaat
a. Bagi Pasien dan Keluarga
1. Mendapatkan pelayanan yang optimal
2. Tercapainya kepuasan klien dan keluarga yang ada di ruang Rawat Inap
perawatan Rumah Sakit Brawijaya Lawang secara optimal
b. Bagi Perawat Ruang Rawat Inap perawatan RSUD brawijaya lawang
1. Tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
2. Terbinanya hubungan atau komunikasi yang adekuat antara perawat dengan
perawat, perawat dengan tim kesehatan yang lain, dan perawat dengan
pasien serta keluarga
3. Tumbuh dan terbinanya akuntabilitas, dan disiplin diri perawat
c. Bagi Rumah Sakit
1. Mengetahui masalah - masalah yang ada di ruang rawat inap perawatan
RSUD brawijaya lawang yang berkaitan dengan pelaksanaan asuhan
keperawatan profesional
2. Dapat menganalisa masalah yang ada dengan motode SWOT serta
menyusun rencana strategi
3. Mempelajari penerapan model keperawatan profesional (MAKP)
d. Bagi Mahasiswa
1. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan kritis dalam pengelolaan
pelayanan keperawatan
2. Dapat memperoleh pengalaman nyata dalam pengelolaan perawatan
profesional.
4

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Proses Manajemen


Proses manajemen keperawatan sesuai dengan pendekatan system terbuka
dimana masing - masing komponen saling berhubungan dan berinteraksi dan
dipengaruhi oleh lingkungan. Karena merupakan suatu system maka akan terdiri
dari lima elemen yaitu input, proses, output, control dan mekanisme umpan balik.
Input dari proses manajemen keperawatan antara lain informasi, personil,
peralatan dan fasilitas. Proses dalam manajemen keperawatan adalah kelompok
manajer dari tingkat pengelola keperawatan tertinggi sampai ke perawat pelaksana
yang mempunyai tugas dan wewenang untuk melakukan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dalam pelaksanaan pelayanan
keperawatan. Output adalah asuhan keperawatan, pengembangan staf dan riset
control yang digunakan dalam proses manajemen keperawatan termasuk budget
dari bagian keperawatan, evaluasi penampilan kerja perawat, prosedur yang
standar dan akreditasi. Mekanisme timbal balik berupa laporan financial, audit
keperawatan, survey kendali mutu dan penampilan kerja perawat.

2.2. Komponen Manajemen Keperawatan


2.2.1. Planning
Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan
secara matang hal - hal yang akan dikerjakan di masa mendatang dalam
rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan (Siagian, 1990).
Perencanaan dapat juga diartikan sebagai suatu rencana kegiatan tentang
apa yang harus dilakukan, bagaiman kegiatan itu dilaksanakan, dimana
kegiatan itu dilakukan. Sehingga perencanaan yang matang akan memberi
petunjuk dan mempermudah dalam melaksanakan suatu kegiatan. Dalam
suatu organisasi perencanaan merupakan pola pikir yang dapat menentukan
keberhasilan suatu kegiatan dan titik tolak dari kegiatan pelaksanaan
selanjutnya.
Kegiatan perencanaan dalam praktik keperawatan professional
merupakan upaya meningkatkan profesionalisme dalam pelayanan
5

keperawatan sehingga mutu pelayanan bukan saja dapat dipertahankan tapi


bisa terus meningkat sampai tercapai derajat kepuasan tertinggi bagi
penerima jasa pelayanan keperawatan dan pelaksanaan pelayanan itu
sendiri. Dengan demikian sangat dibutuhkan perencanaan yang profesional
juga.
Jenis - jenis perencanaan terdiri dari rencana jangka panjang,
rencana jangka jangka mencegah, dan rencana jangka pendek. Perencanaan
jangka panjang disebut juga perencanaan strategis yang disusun untuk 3
sampai 10 tahun. Perencanaan jangka mencegah dibuat dan berlaku 1
sampai 5 tahun. Sedangkan perencanaan jangka pendek dibuat satu jam
sampai dengan satu tahun. Hierarki dalam perencanaan terdiri dari
perumusan visi, misi, filosofi, peraturan, kebijakan dan prosedur (Marquis
& Huston, 1998).
1. Visi
Mewujudkan Rumkitban 05.08.04 Lawang menjadi rumah sakit
yang melayani Prajurit, PNS dan keluarganya dan masyarakat umum
dengan di landasi professionalism, disiplin, bermoral, solidaritas dan
paripurna.
2. Misi
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas, terjangkau
dan paripurna dalam upaya peningkatan derajat kesehatan
masyarakat;

b. Menyelenggarakan dukungan kesehatan yang handal, pelayanan


yang prima dan fungsi organik yang seksama.
2. Falsafah Keperawatan
a) Manusia adalah individu yang unik (bio, psiko, sosial, dan
spiritual)
b) Keperawatan merupakan bentuk pelayanan bagi umat manusia
tanpa membedakan suku, ras, asal, dan status sosial
c) Pelayanan keperawatan dilaksanankan secara optimal
6

d) Keperawatan bertanggung jawab dan memiliki wewenang


melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan standar asuhan
keperawatan.
e) Tujuan asuhan keperawatan dapat dicapai melalui usaha bersama
(tim kesehatan, pasien, dan keluarga).
f) Pembinaan dan pengembangan staf perlu dilaksanakan sejalan
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Tujuan keperawatan
Terlaksananya tugas pokok dalam rangka memberikan asuhan
keperawatan secara tepat guna dan efisien dengan di dukung sumber
daya manusia yang profsional.

2.2.2. Rencana Harian


Menurut (WHO & FKUI, 2006) rencana harian adalah kegiatan yang
akan dilaksanakan oleh perawat sesuai dengan perannya masing - masing,
yang dibuat pada setiap shift. Isi kegiatan disesuaikan dengan peran dan
fungsi perawat. Rencana harian dibuat sebelum operan dilakukan dan
dilengkapi pada saat pre-conference dan post-conference serta operan.
1. Rencana Harian Kepala Ruangan
Rencana harian kepala ruang meliputi asuhan keperawatan,
supervise Ketua Tim dan Perawat Pelaksana, dan supervise tenaga selain
perawat dan kerjasama dengan unit terkait.
3. Rencana Harian Kepala Tim
Rencana harian Ka. Tim meliputi penyelenggaraan asuhan
keperawatan pasien pada tim yang menjadi tanggung jawabnya,
melakukan supervise perawat pelaksana, berkolaborasi dengan dokter
atau tim kesehatan lain dan mengalokasi pasien sesuai dengan perawat
yang dinas.
4. Rencana Harian Perawat Pelaksana
Rencana harian perawat pelaksana adalah tindakan keperawatan
untuk sejumlah pasien yang dirawat pada shift dinasnya. Rencana harian
perawat pelaksana shift sore dan malam agak berbeda jika hanya satu
7

orang dalam satu tim maka perawat tersebut berperan sebagai ketua tim
dan perawat pelaksana sehingga tidak ada kegiatan pre dan post-
conference.
5. Penilaian Perawat Pelaksana.
Untuk menilai keberhasilan dari perencanaan harian dilakukan
melalui observasi menggunakan instrument jurnal harian. Setiap ketua
tim mempunyai instrument dan mengisinya setiap hari. Pada akhir bulan
dapat dihitung presentasi pembuatan rencana harian masing-masing
perawat.

[Link] Bulanan
Menurut (WHO & FKUI, 2006) rencana bulanan adalah kegiatan
yang akan dilaksanakan oleh kepala ruang dan ketua tim sesuai dengan
perannya masing - masing, yang dibuat pada akhir bulan. Isi kegiatan
berdasarkan hasil evaluasi dan pembuatan rencana tindak lanjut.
1. Rencana Bulanan Kepala Ruangan
Setiap akhir bulan kepala ruang melakukan evaluasi hasil
keempat pilar atau nilai MAKP dan berdasarkan hasil evaluasi tersebut
kepala ruang akan membuat rencana tindak lanjut dalam rangka
peningkatan kualitas hasil.
Kegiatan yang mencakup rencana bulanan kepala ruang adalah:
a). Membuat jadwal dan memimpin case conference
b). Membuat jadwal dan memimpin pendidikan kesehatan kelompok
keluarga
c). Membuat jadwal dinas
d). Membuat jadwal dan memimpin rapat bulanan perawat
e). Melakukan jadwal dan memimpin rapat tim kesehatan
f). Membuat jadwal supervise dan penilaian kinerja ketua tim dan
perawat pelaksana
g). Melakukan audit dokumentasi
h). Membuat laporan bulanan.
8

Setiap akhir bulan ketua tim melakukan evaluasi tentang


keberhasilan kegiatan yang dilakukan timnya. Kegiatan – kegiatan
yang mencakup rencana bulanan ketua tim adalah:
i). Mempresentasikan kasus dalam case conference
j). Memimpin pendidikan kesehatan kelompok keluarga
k). Melakukan supervise perawat pelaksana

[Link] tahunan
Menurut (WHO & FKUI, 2006) rencana tahunan adalah setiap akhir
tahun kepala ruang melakukan evaluasi hasil kegiatan dalam satu tahun yang
dijadikan sebagai acuan rencana tindak lanjut serta penyusunan rencana
tahunan berikutnya. Rencana kegiatan tahunan mencakup:
1) Menyusun laporan tahunan yang berisi tentang kinerja MAKP baik
proses kegiatan (aktivitas yang sudah dilaksanakan dari 4 pilar praktek
professional) serta evaluasi mutu pelayanan.
2) Melaksanakan rotasi untuk penyelenggaraan anggota masing - masing
tim.
3) Penyelenggaraan terkait dengan materi MAKP khusus kegiatan yang
masih rendah pencapaiannya. Ini bertujuan mempertahankan kinerja
yang telah dicapai MAKP bahkan meningkatkannya dimasa mendatang.
4) Pengembangan SDM dalam bentuk rekomendasi peningkatan jenjang
karir perawat (pelaksana menjadi ketua tim, ketua tim menjadi kepala
ruang), rekomendasi untuk melanjutkan pendidikan formal, membuat
jadwal untuk mengikuti pelatihan - pelatihan.

[Link]
Menurut (Sutopo, 2000) pengorganisasian adalah pengelompokan
aktivitas untuk mencapai tujuan, penugasan suatu kelompok, tenaga
keperawatanm menentukan cara dari pengkoordinasian aktivitas yang tepat,
baik vertical maupun horizontal, yang bertanggung jawab untuk mencapai
tujuan organisasi. Pengorganisasian kegiatan dan tenaga keperawatan di
Ruang RS Brawijaya Lawang MAKP menggunakan pendekatan system
9

penugasan modifikasi keperawatan metode tim. Secara vertikal ada kepala


ruang, ketua tim, dan perawat pelaksana.

[Link] Organisasi
Struktur organisasi adalah susunan komponen - komponen dalam
suatu organisasi. Pada pengertian struktur organisasi menunjukkan adanya
pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi - fungsi atau kegiatan
yang berbeda - beda diintegrasikan atau dikoordinasikan. Struktur organisasi
juga menunjukkan spesialisasi pekerjaan. Struktur organisasi Ruang Perawat
MAKP menggunakan system penugasan tim keperawatan. Ruang Perawat
RS Brawijaya Lawang, dipimpin oleh kepala ruang yang membawahi dua
atau lebih ketua tim. Ketua tim berperan sebagai perawat primer membawahi
beberapa perawat pelaksana yang memberikan asuhan keperawatan secara
menyeluruh kepada sekelompok pasien.

Struktur organisasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan:

KEPALA RUANG

KETUA TIM I KETUA TIM II KETUA TIM III

ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Teori Sistem Pemberian Asuhan Keperawatan “Team
Nursing” (Marque dan Houston,1998:138).
10

[Link] Tugas (Job Deskripsi) Personil di MAKP


a. Kepala Ruang
1). Management Approach:
 Perencanaan: Dalam perencanaan kepala ruang menyusun visi,
misi, filosofi, dan rencana jangka pendek; harian, bulanan dan
tahunan.
 Pengorganisasian: Kepala ruang menyusun struktur organisasi,
jadwal dinas, dan membuat daftar alokasi pasien.
 Pengarahan: Kepala ruang memimpin operan, menciptakan iklim
motivasi, dan mengatur pendelegasian serta melakukan supervise.
 Pengendalian: Kepala ruang mengevaluasi indicator mutu,
melakukan audit dokumentasi, melakukan survey kepuasan;
pasien, keluarga, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya,
melakukan survey masalah kesehatan atau keperawatan.
2). Compensatory reward
Kepala ruang melakukan penilaian kinerja ketua tim dan
perawat pelaksana, dan merencanakan atau melaksanakan
pengembangan staf.
3). Profesional relationship
Kepala ruang memimpin rapat keperawatan, memempin
konferensi kasus, melakukan rapat tim kesehatan, dan melakukan
kolaborasi dengan dokter.
4). Pasien care delivery
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien
dengan gangguan; konsep diri dan harga diri rendah, perilaku
kekerasan, halusinasi, waham, risiko bunuh diri, dan defisit
perawatan diri.
b. Ketua Tim
1. Management Approach
 Perencanaan; Dalam perencanaan ketua tim menyusun rencana
jangka pendek; harian dan bulanan.
11

 Pengorganisasian; Ketua tim menyusun jadwal dinas bersama


kepala ruang, dan membagi alokasi pasien kepada perawat
pelaksana.
 Pengarahan: Ketua tim memimpin pre post conference,
menciptakan iklim motivasi di timnya, dan mengatur
pendelegasian dalam tim serta melakukan supervise kepada
anggota timnya.
 Pengendalian: Ketua tim mengobservasi pelaksanaan asuhan
keperawatan pada pasien yang dilakukan perawat pelaksana, dan
memberikan umpan balik pada perawat pelaksana.
2. Compensatory reward
Ketua tim melakukan penilaian kinerja perawat pelaksana.
3. Profesional relationship
Ketua tim melaksanakan konferensi kasus dan melakukan
kolaborasi dengan dokter.
4. Pasien care delivery
Mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien.
c. Perawat pelaksana
Dalam perencanaan perawat pelaksana menyusun rencana jangka
pendek (rencana harian).
d. Daftar dinas ruangan
Daftar yang berisi jadwal dinas, perawat yang bertugas,
penanggung jawab dinas atau shift. Daftar dinas disusun berdasarkan
tim, dibuat dalam satu minggu sehingga perawat sudah mengetahui dan
mempersiapkan dirinya untuk melakukan dinas. Pembuatan jadwal dinas
perawat dilakukan oleh kepala ruang pada hari terakhir minggu tersebut
untuk jadwal dinas pada minggu yang selanjutnya bekerjasama dengan
ketua tim. Setiap tim mempunyai anggota yang berdinas pada pagi, sore,
dan malam, dan yang lepas dari dinas (libur) terutama yang telah
berdinas pada malam hari.
e. Daftar pasien
12

Daftar pasien adalah daftar yang berisi nama pasien, nama dokter,
nama perawat dalam, penanggung jawab pasien, dan alokasi perawat
dalam menjalankan dinas di tiap shift. Daftar pasien menjadi tanggung
jawab tiap tim selama 24 jam. Setiap pasien mempunyai perawat yang
bertanggung jawab secara total selama dirawat dan juga setiap shift
dinas. Dalam daftar pasien tidak perlu mencantumkan diagnose dan
alamat agar kerahasiaan pasien terjaga. Daftar pasien juga
menggambarkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat atas
asuhan keperawatan pasien sehingga terwujudlah keperawatan pasien
yang holistik. Daftar pasien juga memberi informasi bagi kolega
kesehatan lain dan keluarga untuk berkolaborasi tentang perkembangan
dan perawatan pasien. Daftar pasien di ruangn diisi oleh ketua tim
sebelum operan dengan dinas berikutnya dan dapat dimodifikasi sesuai
kebutuhan (WHO & FKUI, 2006).

[Link]
Pengarahan adalah langkah keempat dari fungsi manajemen, yaitu
penerapan perencanaan dalam bentuk tindakan dalam rangka mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Istilah lain yang
digunakan sebagai padanan pengarahan adalah pengkoordinasian,
pengaktivan. Apapun istilah yang digunakan pada akhirnya akan bermuara
pada “melaksanakan” kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya
(Marquis & Huston, 1998).
Dalam pengarahan pekerjaan diuraikan dalam tugas-tugas yang
mampu dikelola, jika perlu dilakukan pendelegasian.

[Link] budaya motivasi


Motivasi adalah perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang individu
untuk memuaskan kebutuhannya. Karena kebutuhan manusia bervariasi,
maka motivasi memiliki rentang yang sangat luas. Pemenuhan kebutuhan
individu merupakan salah satu cara memotivasi (Marquis & Huston, 1998).
Iklim motivasi dapat ditumbuhkan melalui (Marquis & Huston, 1998):
13

1) Memberikan harapan yang jelas kepada staf dan mengkomunikasikan


harapan tersebut secara efektif
2) Bersikap fair dan konsisten terhadap semua staf
3) Membuat keputusan yang bijaksana
4) Mengembangkan konsep kerja kelompok
5) Mengintegrasikan kebutuhan dan keinginan staf dengan kebutuhan dan
tujuan organisasi
6) Mengenali staf secara pribadi dan membiarkan staf mengetahui bahwa
pimpinan mengetahui keunikan dirinya
7) Menghilangkan blok tradisional antara staf dengan pekerjaan yang telah
dikerjakan.
8) Memberikan tantangan kerja sebagai kesempatan untuk mengembangkan
diri.
9) Melibatkan staf dalam pengambilan semua keputusan.
10) Memastikan bahwa staf mengetahui alasan dibelakang semua keputusan
dan tindakan.
11) Memberi kesempatan kepada staf untuk membuat penilaian sesering
mungkin.
12) Menciptakan hubungan saling percaya dan saling tolong dengan staf.
13) Memberi kesempatan staf untuk mengontrol lingkungan kerjanya.
14) Menjadi role model bagi staf.
15) Memberikan reinforcement sesering mungkin.
Di Ruang RS Brawijaya Lawang MAKP, penciptaan iklim
diterapkan dengan cara sebagai berikut:
1) Budaya pemberian reinforcement positif
2) Do’a bersama sebelum memulai kegiatan
3) Memanggil staf secara periodic untuk mengenal setiap personil secara
mendalam dan membantu penyelesaiannya.
4) Manajemen sumber daya manusia melalui penerapan pengembangan
jenjang karir dan kompetensi.
5) Sistem reward yang fair sesuai dengan kinerja.
14

2.3.10. Manajemen Waktu


Manajemen waktu adalah penggunaan secara optimal waktu yang
dipunyai. Tahapan manajemen waktu meliputi pembuatan perencanaan
waktu dan membuat prioritas, melengkapi prioritas tertinggi dan
menyelesaikan tugas sebelum memulai tugas yang lain, membuat
prioritas ulang berdasarkan informasi yang diterima.
Dalam MAKP manajemen waktu diterapkan dalam bentuk
penerapan rencana kerja harian yaitu suatu bentuk perencanaan kerja
melalui jadwal kerja yang disusun secara berurutan yang disusun
sebelum pekerjaan tersebut dilaksanakan (WHO & FKUI, 2006).

2.3.11. Komunikasi Efektif


Berkomunikasi merupakan salah satu fungsi pokok manajemen
khususnya pengarahan. Setiap orang berkomunikasi dalam suatu
organisasi. Komunikasi yang kurang baik dapat mengganggu kelancaran
organisasi dalam mencapai tujuan organisasi. Komunikasi adalah proses
tukar - menukar pikiran, perasaan, pendapat, dan saran yang terjadi
antara dua manusia atau lebih yang bekerja bersama. Beberapa bentuk
komunikasi di Ruang RS Brawijaya Lawang MAKP:
1) Operan yaitu komunikasi dan serah terima antara shift pagi, sore, dan
malam. Operan dari dinas malam ke dinas pagi dan dinas pagi ke
dinas sore di pimpin oleh kepala ruang, sedangkan operan dari dinas
sore ke dinas malam dipimpin oleh penanggung jawab shift sore.
2) Pre conference yaitu komunikasi Ketua tim dan perawat pelaksana
setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut
yang dipimpin oleh Ketua tim atau PJ tim. Jika yang dinas pada tim
tersebut hanya satu orang, maka pre conference di tiadakan. Isi pre
conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan
tambahan rencana dari Ketua tim atau PJ tim.
3) Post conference yaitu komunikasi Ketua tim dan perawat pelaksana
tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelumnya operan pada
shift berikutnya. Isi post conference adalah hasil asuhan keperawatan
15

tiap perawat dan hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post
conference dipimpin oleh Ketua tim atau PJ tim.

2.3.12. Manajemen Konflik


Manajemen konflik adalah perbedaan pandangan atau ide antara
satu orang dengan orang lain. Dalam organisasi yang dibentuk dari
sekumpulan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda konflik
mudah terjadi. Demikian juga di Ruang RS Brawijaya Lawang MAKP
konflik pun bisa terjadi. Untuk mengantisipasi terjadinya konflik maka
perlu dibudidayakan upaya - upaya mengantisipasi konflik dan mengatasi
konflik se konflik sedini mungkin di Ruang RS Brawijaya Lawang
MAKP.
Cara - cara penanganan konflik ada beberapa macam, meliputi:
Bersaing, Berkolaborasi, Meghindar, Mengakomodasi, Berkompromi.
Upaya mengatasi konflik yang diterapkan di MAKP adalah upaya yang
win - win solution. Suatu upaya berkolaborasi. Untuk itu pembudayaan
kolaborasi antar staf menjadi prioritas utama dalam menyelenggarakan
pengelolaan ruangan MAKP.

2.3.13. Pendelegasian dan Supervisi


Pendelegasian adalah melakukan pekerjaan melalui orang lain.
Dalam organisasi pendelegasian dilakukan agar aktivitas organisasi tetap
berjalan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Delegasi
dilaksanakan di MAKP dalam bentuk pendelegasian tugas oleh Kepala
ruang kepada Ketua Tim, Ketua Tim kepada perawat pelaksana.
Pendelegasian dilakukan melalui mekanisme pelimpahan tugas dan
wewenang. Pendelegasian tugas ini dilakukan secara berjenjang.
Penerapannya dibagi menjadi dua jenis yaitu pendelegasian terencana
dan pendelegasian insidentil. Pendelegasian terencana adalah
pendelegasian yang secara otomatis terjadi sebagai konsekuensi sistem
penugasan yang diterapkan di Ruang RS Brawijaya Lawang MAKP.
16

Bentuknya dapat berupa:


1. Pendelegasian tugas kepala ruang kepada Ketua Tim untuk
menggantikan tugas sementara karena alasan tertentu
2. Pendelegasian tugas Kepala ruang kepada Penanggung Jawab Shift
3. Pendelegasian Ketua Tim kepada perawat pelaksanaan tindakan
keperawatan yang telah direncanakan.
Pendelegasian insidentil terjadi apabila salah satu personil Ruang
RS Brawijaya Lawang MAKP berhalangan hadir maka pendelegasian
tugas harus dilakukan. Dalam hal ini yang mengatur pendelegasian
adalah Kepala Seksi Perawatan, Kepala ruang, Ketua Tim, atau
Penanggung Jawab Shift, tergantung pada personil yang berhalangan.
Mekanismenya sebagai berikut:
a) Bila Kepala ruang berhalangan, Kepala Seksi menunjuk salah satu
Ketua Tim untuk menggantikan tugas Kepala ruang.
b) Bila Ketua Tim berhalangan hadir maka Kepala ruang menunjuk
salah satu anggota Tim (perawat pelaksana) menjalankan tugas ketua
Tim.
c) Bila ada perawat pelaksana yang berhalangan hadir sehingga satu tim
kekurangan personil maka Kepala ruang atau penanggung jawab
Shift berwenang memindahkan perawat pelaksana dari tim lain
masuk tim yang kekurangan personil tersebut atau Ketua tim
melimpahkan pasien kepada perawat pelaksana yang hadir.
d) Prinsip - prinsip pendelegasian tugas di Ruang RS Brawijaya Lawang
MAKP:
1) Pendelegasian tugas yang terencana harus menggunakan format
pendelegasian tugas.
2) Personil yang menerima pendelegasian tugas adalah personil
yang berkompeten dan setara dengan kemampuan yang
digantikan tugasnya.
3) Uraian tugas yang didelegasikan harus secara verbal dan
terperinci, disertai tertulis.
17

4) Pejabat yang mengatur pendelegasian tugas wajib memonitor


pelaksanaan tugas dan menjadi rujukan bila ada kesulitan yan
dihadapi.
5) Setelah selesai pendelegasian dilakukan serah terima tugas yang
sudah dlaksakan sebelumnya.
Supervisi atau pengawasan adalah proses memastikan kegiatan
dilaksanakan sesuai dengan tujuan organisasi dengan cara melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Supervisi dilakukan
untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan standar
yang telah ditetapkan.
Supervisi dilaksanakan oleh orang yang memiliki kemampuan
yang cukup dalam bidang supervisi. Dalam struktur organisasi, supervise
biasanya dilakukan oleh atasan tehadap bawahan atau konsultan terhadap
pelaksana. Dengan supervisi diharapkan kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan tujuan organisasi, tidak menyimpang dan menghasilakan produk
sesuai hasil yang diharapkan.
Supervisi tidak diartiakan sebagai pemeriksa atau mencari
kesalahan, tapi lebih kepengawasan partisipatif yaitu mendahulukan
penghargaan terhadap pencapaian atau hal positif yang dilakukan dan
memberikan jalan keluar untuk hal yang masih belum dapat dilakukan.
Demikian bawahan tidak merasakan bahwa ia sekedar dinilai.
Di MAKP kegiatan supervisi dilaksanakan secara optimal untuk
menjamin kegiatan pelayanan di MAKP sesuai standar mutu profesional
yang telah ditetapkan. Supervisi dilakukan oleh perawat yang memiliki
kompetensi baik dalam manajemen maupun asuhan keperawatan serta
menguasai pilar - pilar profesionalisme yang diterapkan di MAKP.
Untuk itu pengawasan berjenjang dilakukan sebagai berikut:
1) Kepala Seksi Keperawatan atau konsultan melakukan pengawasan
terhadap Kepala ruang
2) Kepala ruang melakukan pengawasan terhadap Ketua Tim dan
Perawat Pelaksana
3) Ketua Tim melakukan pengawasan terhadap Perawat Pelaksana
18

2.2.4. Controlling
Proses manajemen adalah pendelegasian atau pengontrolan (Fayol,
1999). Mendefinisikan control sebagai “pemeriksaan apakah segala
sesuatunya terjadi sesuai dengan rencana yang disepakati, intrusi yang
dikeluarkan serta prinsip - prinsip yang ditentukan, yang bertujuan untuk
menunjukan kekurangan dan kesalahan agar dapat diperbaiki dan tidak
terjadi lagi “pengontrolan penting dilakukan untuk imengetahui fakta yang
ada, sehingga jika muncul issue dapat segera direspon dengan cara duduk
bersama.
Menurut Mockler (1984), pendelegasian managemen adalah usaha
sistematis untuk menetapkan standar prestasi dengan tujuan perencanaan,
untuk mendesain sistem umpan balik informasi untuk membandingkan
prestasi yang sesungguhnya dengan standart yang telah ditetapkan, untuk
menetapkan apakah ada devisi dan untuk mengukur signifikasi, serta
mengambil tindakan yang diperlukan untuk memasikan bahwa sumber
daya digunakan dengan cara yang efektif dan efisien mungkin mencapai
tujuan.
Pengendalian manajemen adalah proses untuk memastikan bahwa
aktivitas sebenarnya sesuai dengan aktivitas yang direncanakan dan
berfungsi untuk menjamin kualitas serta pengevaluasian penampilan
langkah - langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian atau
pengontrolan meliputi: menetapkan standar dan metode mengukur prestasi
kerja, melakukan pengukuran prestasi kerja, menetapkan pakah prestasi
kerja sesuai dengan standar, mengambil tindakan korektif.
Peralatan atau instrument dipilih untuk mengumpulkan bukti dan
untuk menunjukkan standar yang telah ditetapkan atau tersedia. Audit
merupakan penilaian pekerjaan yang telah dilakukan. Terdapat 3 kategori
audit keperawatan yaitu: audit instruktur, audit proses dan audit hasil.
Audit struktur berfokus pada sumber daya manusia: lingkungan
perawatan, termasuk fasilitas fisik, peralatan organisasi, kebijakan,
prosedur, standar, SOP, dan rekam medik: pelangan (internal maupun
eksternal). Standar dan indikator diukur dengan menggunakan checklist.
19

Audit proses merupakan pengukuran pelaksanaan pelayanan


keperawtan untuk menetukan apakah standar keperawatan tercapai.
Pemeriksaan dapat bersifat restropektif, concurrent, atau pereview.
Restropektif adalah audit dengan menelaah dokumen pelaksanaan asuhan
keperawatan melalui pemeriksaaan dokumentasi asuhan keperawatan.
Cuncurrent adalah mengobservasi saat kegiatan keperawatan sedang
berlamgsung. Prereview adalah umpan balik sesama anggota tim terhadap
pelaksanaan kegiatan.
Audit hasil adalah audit produk kerja yang dapat berupa kondisi
pasien, kondisi SDM, atau indikator mutu. Kondisi pasien dapat berupa
keberhasilan pasien dan kepuasan. Kondisi SDM dapat berupa efektifitas
dan efisien serta kepuasan. Untuk indikator mutu dapat berupa: BOR,
ALOS, TOI, angka infeksi nosokomial (INOS) dan angka dekubitus.
Pada model asuhan keperawatan profesi (MAKP) kegiatan
pengendalian diterapkan dalam bentuk kegiatan pengukuran:

2.2.4 Indikator mutu umum:


Penghitungan lama hari rawat (BOR)
Bed occupancy rate adalah prosentase pemakaian tempat tidur pada
satu satuan waktu tertentu. Indikator ini memberikan gambaran tinggi
rendahnya tingkat pemanfaatan tempat tidur rumah sakit. Standar
internasional BOR adalah 70-80 %

Rumus perhitungan BOR:

Keterangan:
1. Jumlah hari perawatan adalah jumlah total pasien dirawat dalam satu
hari kali jumlah hari dalam satu satuan waktu
20

2. Jumlah hari persatuan waktu. Kalau diukur per satu bulan, maka
jumlahnya 28-31 hari, tergantung jumlah hari dalam satu bulan
tersebut.

2.4.5 Penghitungan rata-rata lama dirawat (ALOS)


Average Length of Stay (ALOS) adalah rata - rata lama rawat
seseorang pasien. Indikator ini disamping memberikan gambaran tingkat
efisiensi, juga dapat memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila
diterapkan pada diagnose tertentu yang dijadikan tracer (yang perlu
pengamatan lebih lanjut). Secara umum ALOS yang ideal antara 6 - 9 hari.
Di MAKP pengukuran ALOS dilakukan oleh kepala ruang yang
dibuat setiap bulan:

Keterangan:
1. Jumlah hari perawatan pasien keluar adalah jumlah hari perawatan
pasien keluar hidup atau mati dalam satu periode waktu.
2. Jumlah pasien keluar (hidup atau mati): jumlah pasien yang pulang
atau meninggal dalam satu periode waktu.

[Link] lama tempat tidur tidak terisi (TOI)


Turn Over Interval adalah rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati
dari saat diisi ke saat terisi berikutnya. Indikator ini dapat memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur. Idealnya tempat tidur
kosong hanya dalam waktu 1 – 3 hari.
Di MAKP pengukuran TOI dilakukan oleh kepala ruang yang dibuat
setiap bulan dengan rumus sbb:
21

Keterangan:
1. Jumlah TT: jumlah total kapasitas tempat tidur yang dimiliki.
2. Hari perawatan: jumlah total hari perawatan pasien yang keluar hidup
dan mati.
3. Jumlah pasien keluar: jumlah pasien yang dimutasikan keluar baik
pulang, mutasi lari, atau meninggal.

2.4.6. Penghitungan kasus lari


Angka pelarian adalah jumlah pasien yang meninggalkan rumah
sakit tanpa ijin dan tidak didampingi petugas. Indikator ini dapat
menggambarkan tingkat keamanan dan kenyamanan pasien dalam
perawatan di rumah sakit. Idealnya angka lari adalah 0 (zero defect).
Di MAKP pengukuran jumlah angka pasien lari dilakukan oleh
kepala ruang yang dibuat setiap bulan dengan cara menghitung jumlah
pasien yang meninggalkan ruangan tanpa ijin dalam satu periode waktu
tertentu (per bulan).

2.4.7. Penghitungan Angka Pengekangan


Angka pengekangan adalah jumlah tindakan pembatasan gerak
bagi pasien karena membahayakan bagi diri pasien sendiri, lingkungan,
dan orang lain. Indikator ini dapat juga menggambarkan mutu pelayanan
yang diberikan pada pasien.
Di MAKP pengukuran angka pengekangan dilakukan oleh kepala
ruang yang dibuat setiap bulan dengan cara menghitung jumlah pasien
yang dilakukan pengekangan fisik baik isolasi maupun pengikatan dalam
satu periode waktu tertentu disertai lama pelaksanaannya.

Angka Pengekangan :
Rerata Pengekangan
: x 100%
22

2.4.8. Kasus Cidera


Angka cidera adalah jumlah pasien yang mengalami luka selama
dalam perawatan yang disebabkan karena tindakan fiksasi, pemukulan dari
pasien lain atau petugas, dan karena jatuh. Indikator ini dapat
menggambarkan mutu pelayanan yang diberikan pada pasien. Idealnya
tidak ada kasus pasien dengan cidera artinya 0 (zero defect).
Di MAKP pengukuran angka cidera dilakukan oleh kepala
ruangyang dibuat setiap bulan dengan cara menghitung jumlah pasien yang
mengalami cidera atau perlukaan yang tidak termasuk decubitus selama
masa perawatan dalam periode waktu tertentu.
2.4.9. Infeksi nosokomial; scabies
Angka infeksi nosokomial adalah jumlah pasien yang didapat
atau muncul selama dalam perawatan di rumah sakit. Di rumah sakit jiwa
angka ini diukur melalui penghitungan jumlah pasien scabies dalam satu
periode waktu tertentu.
Di MAKP pengukuran angka scabies dilakukan oleh kepala ruang
yang dibuat setiap bulan dengan cara menghitung jumlah pasien yang
mengalami scabies dalam satu periode satuan waktu tertentu.
2.4.10. Survey masalah
Survey masalah keperawatan adalah survey masalah keperawatan
dengan standar NANDA untuk pasien baru yang dilakukan untuk satu
periode waktu tertentu (satu bulan).
2.4.11. Audit dokumentasi
Audit dokumentasi adalah kegiatan mengevaluasi dokumen
asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan oleh perawat pelaksana.
Di MAKP kegiatan audit dilakukan oleh kepala ruang, pada
status setiap pasien yang telah pulang atau meninggal dan hasil audit di
buat rekapan dalam satu bulan.
2.4.12. Survey kepuasan
Menurut Philip Kotler, survey kepuasan pelanggan adalah tingkat
keadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari
23

membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam


hubungannya dengan harapan seseorang.
Survey kepuasan yang akan dilakukan di ruang MAKP adalah
kepuasan pasien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.
Di MAKP survey kepuasan pasien dilakukan setiap pulang,
diberikan saat selesai menyelesaikan administrasi atau saat
mempersiapkan pulang dengan cara pasien dan keluarga mengisi angket
yang disediakan. Survey kepuasan untuk dilakukan tiap 6 bulan sekali.
2.4 Compensatory Reward
Perawat merupakan SDM kesehatan yang mempunyai kesempatan paling
banyak melakukan praktik profesionalnya pada pasien yang dirawat di rumah sakit.
Seorang perawat akan mampu memberikan pelayanan dan asuhan keperawatan
yang professional apabila perawat tersebut sejak awal bekerja diberikan program
pengembangan staf yang terstruktur. Metode dalam menyusun tenaga keperawatan
seharusnya teratur, sistematis, rasional yang digunakan unutk menentukan jumlah
dan jenis tenaga keperawatan yang dibutuhkan agar dapat memberikan asuhan
keperawatan kepada pasien sesuai dengan setting tertentu.
Kemampuan perawat melakukan praktek professional perlu dipertahankan,
dikembangkan dan ditingkatkan melalui manajemen SDM perawat yang konsisten
dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pengembangan SDM di rumah sakit adalah untuk menciptakan iklim kerja yang
menyenangkan dan memberikan kepuasan bagi staf dan pasien. Pengembangan
SDM digambarkan sebagai suatu proses pengelolaan motivasi staf sehingga dapat
bekerja secara produktif. Hal ini juga merupakan penghargaan bagi profesi
keperawatan karena melalui manajemen SDM yang baik maka perawat
mendapatkan kompensasi berupa penghargaan (compensatory reward) sesuai
dengan apa yang telah dikerjakan.
Manajemen SDM di ruang Model Asuhan Keperawatan Professional
(MAKP) berfokus pada proses rekruitmen, seleksi, kontrak kerja, orientasi,
penilaiaan kinerja dan pengembangan staf perawat. Proses ini selalu dilakukan
sebelum membuka ruang MAKP dan setiap ada penambahan perawat baru.
24

2.5. Melakukan proses rekruitmen di RS Rumkit Brawijaya Lawang


Rekruitmen di Ruang RS. Rumkit Brawijaya Lawang MAKP berfokus
pada rekruitmen perawat yang ada di rumah sakit bukan mencari tenaga perawat
baru dari luar rumah sakit.
Dalam menentukan perawat yang diperlukan di Ruang RS. Rumkit
Brawijaya Lawang MAKP, perlu diketahui kategori Ruang MAKP yang akan
dikembangkan. Ruang MAKP dikategorikan menjadi tiga level, yaitu level
professional I, II, III pemula dan transisi. Untuk level MAKP transisi diharapkan
kondisinya sama dengan level pemula, tetapi latar belakang pendidikan perawat
pelaksana dapat SPK dengan jenjang karir minimal PK2.
2.6 Pengembangan tenaga perawat
Pengembangan tenaga perawat merupakan salah satu poses berhubungan
dengan manajement SDM. Tujuan pengembangan tenaga perawat adalah
membantu masing-masing perawat mencapai kinerja sesuai dengan posisinya dan
untuk pengakuan atau penghargaan terhadap kemampuan professional tenaga
perawat yanga akan memaksimalkan pencapaian jenjang karir. Bentuk
pengembangan tenaga perawat di ruang MAKP adalah Pendidikan Keperawatan
Berkelanjutan (PKB) dan program pengembangan jenjang karir.
Pada tahap awal bekerja di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP, perawat
mendapat penjelasan tentang proses pengembangan yang dapat diikuti. Berikut
uraian tentang lingkup kerja perawat di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP,
yaitu:
a. Kepala ruang
1. Masa percobaan 3 bulan
2. Setiap tahun dilakukan evaluasi
3. Bila dalam waktu 2 tahun berhasil maka akan diusulkan hal-hal berikut sesuai
dengan kebijakan dan kemampuan rumah sakit.
a. Melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi
b. Mengikuti pelatihan sesuai dengan jenjang karir
c. Mendapat sertifikasi pengalaman kerja di ruang MAKP
4. Masa kerja kepala ruang 2 tahun dan maksimal menjadi kepala ruang 2 kali
b. Perawat primer/ketua tim
25

1. Masa percobaan selama 3 bulan


2. Setiap tahun dievaluasi
3. Bila dalam waktu 2 tahun berhasil dan memenuhi kriteria maka akan
diusulkan hal-hal berikut sesuai dengan kebijakan dan kemampuan rumah
sakit:
1) Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
2) Magang persiapan menjadi kepala ruang
3) Mengikuti pelatihan sesuai dengan program jenjang karir
4) Mendapat sertifikat pengalaman kerja di ruang MAKP.
4. Menduduki jabatan sebagai perawat primer selama 2 tahun untuk satu kali
kurun waktu. Jika tidak ada kesempatan promosi maka kembali menjadi
perawat pelaksana tetapi kemampuan yang baik.
c. Perawat pelaksana
1. Masa percobaan selama 3 bulan
2. Setiap 6 bulan dilakukan evaluasi
3. Jika kompetensi tidak tercapai diberi kesempatan perbaikan selama 2 bulan.
4. Bila lebih dari 8 bulan yang bersangkutan tidak berhasil akan dikembalikan di
bidang keperawatan.
5. Bila dalam satu tahun berhasil dengan memenuhi criteria diusulkan untuk
pelatihan.
6. Bila telah menguasai keterampilan merawat 7 macam kasus dan pelatihan
dipersiapkan magang untuk persiapan perawat primer.
Pendidikan Keperawatan berkelanjutan dapat berupa pendidikan
formal, yaitu peningkatan pendidikan dari D3 keperawatan ke S1 Ners
Keperawatan, atau S1 ners keperawatan ke S2/spesialisasi keperawatan, dan
seterusnya. Selain itu dapat berupa pendidikan informal melalui on the job
training dan out the job training. On the job training yaitu
pelatihan/bimbingan secara terus-menerus sambil bekerja, misalnya: perawat
pelaksana dapat meningkatkan kompetensinya dengan bimbingan ketua tim
dan kepala ruang. Kepala ruang dan ketua tim dapat meningkatkan
kompetensinya dengan bimbingan kepala bidang keperawatan/fasilitator
nasional. Out the job training yaitu pelatihan yang diselenggarakan dalam
26

kurun waktu tertentu (misalnya: pelatihan 4 hari/lebih), perawat harus


meninggalkan pekerjaaannya sementara. Pelatihan yang diikuti oleh perawat
akan dirancang sesuai dengan pengembangan kemampuan yang terkait.
Pengembangan jenjang karir adalah pengembnagan peran dan
tanggung jawab. Seorang kepala ruang yang telah sukses mengembangkan
ruang MAKP merupakan aset keperawatan untuk pengembangan MAKP di
ruang rawat lain, artinya menjadi pembaharu. Ia dapat pula berperan sebagai
narasumber bagi rumah sakit lain yang ingin mengembangkan MAKP.
Perawat primer/ketua tim dapat berkembang menjadi kepala ruang, dan
perawat pelaksana dapat berkembang menjadi perawat primer/ketua tim.
Sesuai dengan jenjang karir yang dikembangkan oleh PPNI dan
direktorat keperawatan Depkes RI maka di RS program pengembangan karir
di RS direncanakan sebagai berikut:
1) Perawat lulusan D3 keperawatan hanya dapat berkembang mencapai
jenjang perawat klinis 2 (PK 2) dan perawat manajer 1 (PM)
2) Perawat lulusan S1 Ners keperawatan dapat berkembang sampai jenjang
perawat klinis 3 (PK 3), perawat manajer 2 (PM 2), dan perawat pendidik
1 (PP 1).
3) Perawat lulusan S2/spesialis keperawatan dapat berkembang, sampai
jenjang PK 5, PM 5, PP 4, dan perawat riset 3 (PR 3).
4) Perawat lulusan S3 keperawatan/kesehatan dapat berkembang menjadi
jenjang PK5, PM 5, PP 5, PR 5 dengan syarat pendidikan sebelumnya
adalah bidang keperawatan.
Seiring dengan jenjang karir maka ditetetapkan pula karir perawat
yang dapat menduduki struktur keperawatan, sebagai berikut :
1) Perawat pelaksana dapat dari PK 1- PK 5
2) Ketua tim dapat dari PK 2- PK 5 dan diharapkan mempunyai kemampuan
minimal PM 1 dan PP 1. Ketua tim diharapkan mempunyai kemampuan
PM 1 karena ketua tim akan berperan sebagai pembimbing klinik bagi
mahasisiwa yang ditempatkan pada timnya.
3) Kepala ruang dapat dari PK 3- PK 5 dan diharapkan mempunyai
kemampuan minimal PM 2 dan PP 2.
27

4) Kepala seksi keperawatan dapat dari PK 4 - PK 5 dan diharapkan


mempunyai kemampuan minimal PM 4, PP 4 dan PR 2
5) Kepala Bidang Perawatan dapat dari PK 4 - PK 5 dan diharapkan
mempunyai kemampuan minimal PM 4, PP 4, dan PR 2.
6) Direktur keperawatan dapat dari PK 4 - PK 5 dan diharapkan mempunyai
kemampuan minimal PM 5, PP 4 dan PR2.
d. Profesional Relationship
Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawatan
merupakan standart dari hubungan antara pemberi perawatan keperawatan (tim
kesehatan) dan penerima pelayanan keperawatan (klien dan keluarga) (Cameron,
1997 dalam Elizabeth & Kathleen, 2003)
Pada pelaksanaannya hubungan profesional bisa saja terjadi secara
internal artinya hubungan yang terjadi antara pemberi pelayanan kesehatan
misalnya antara perawat dengan perawat, antara perawat dengan tim kesehatan
dan [Link] hubungan professional secara eksternal adalah
hubungan yang terjadi antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Kedua
hubungan tersebut merupakan suatu siklus yang tidak terpisahkan dalam
pemberi pelayanan kesehatan.
Fokus dari makalah ini adalah lebih pada hubungan professional secara
internal artinya hubungan yang terjadi diantara perawat dengan perawat, perawat
dengan tim kesehatan lainnya. Hubungan yang terjadi diantara tim tidak terlepas
dari komunikasi secara professional di dalam bekerjasama secara tim. Menurut
Gillies (1994) hubungan professional yang terjadi diantara tim tergantung pada
kemampuan memimpin.
Bentuk jaringan dalam komunikasi hubungan profesional ada beberapa cara
yaitu :
1. Horisontal yaitu komunikasi yang terjadi antara sesama manajer.
2. Vertikal yaitu komunikasi yang terjadi antara pimpinan atas dengan bawahan.
3. Diagonal yaitu komunikasi yang terjadi antara berbagai jenjang dan masih
dalam lingkuangan yang sama (Cameron, 1997 dalam Elizabeth & Kathleen
2003).
28

Di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP komunikasi horizontal


dapat terjadi antara ketua tim, antar perawat pelaksana sedangkan komunikasi
vertical antara Kepala ruang dan Ketua tim, perawat pelaksana dan antara
ketua tim dan perawat pelaksana. Komunikasi diagonal dilakukan antara
perawat dan profesi lain.
1) Rapat keperawatan di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP
Yang dimaksud dengan rapat tim keperawatan adalah satu media
komunikasi untuk menyampaikan informasi permasalahan yang di
temukan pada klien, evaluasi hasil keseluruhan, informasi atau peraturan
atau perkembangan IPTEK, dan lain-lain. Focus pembicaraan adalah
membahas hasil-hasil keperawatan selama sebulan untuk semua aktivitas
Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP (laporan bulanan).
1. Tujuan kegiatan
2. Mengidentifikasi keberhasilan tindakan keperawatan.
3. Mengidentifikasi hambatan-hambatan yang ditemukan.
4. Mendiskusikan penyelesaian masalah.
5. Menyusun POA bulan berikut.
6. Meningkatkan hubungan antara perawat di ruangan.
2) Case conference keperawatan di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP
Yang dimaksud dengan case conference adalah diskusi kelompok
tentang kasus asuhan keperawatan klien atau keluarga. Dilakukan dua kali
per bulan dan kasusnya bergantian antar tim.
Tujuan kegiatan:
1. Mengenal kasus dengan permasalahan.
2. Mendiskusikan alternative penyelesaiaan masalah asuhan
keperawatan.
3. Meningkatkan koordinasi dalam rencana pemberian asuhan
keperawatan.
4. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan dalam menangani kasus
3) Melakukan rapat tim kesehatan di Ruang RS. Brawijaya Lawang
MAKP
29

Yang dimaksud dengan rapat tim kesehatan adalah media


komunikasi antara tim kesehatan (rapat multidisiplin) untuk membahas
manajerial Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP Fokus pembicaraan
rapat ini adalah membahas hal-hal yang terkait dengan manajerial.
Tujuan kegiatan:
1. Menyamakan persepsi terhadap informasi yang didapatkan dari
masalah yang ditemukan, khususnya masalah manajerial.
2. Meningkatkan kesinambungan pemberian pelayanan kesehatan.
3. Mengurangi kesalahan informasi antar tim kesehatan
4. Meningkatkan koordinasi antara tim kesehatan
4) Melakukan kolaborasi dengan dokter
Yang dimaksud dengan visit dokter adalah kunjungan dokter ke
ruangan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan pada pasien, dan ketua
tim bertanggung jawab melakukan kolaborasi serta mendampingi dokter
saat melakukan pemeriksaan dan menyampaikan informasi tentang
pasien.
Tujuan kegiatan:
1. Meningkatkan pemberian pelayanan kesehatan.
2. Meningkatkan koordinasi dalam pemberian pelayanan kesehatan.
3. Meningkatkan kesinambungan pemberian pelayanan kesehatan.
e. Patient Care Deliver
1. Pendahuluan
a. Manajemen asuhan keperawatan
Manajemen asuhan keperawatan yang baik sangat dibutuhkan
dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien secara sistematis
dan terorganisasi. Manajemen keperawatan merupakan pengaturan
sumber daya dalam menjalankan kegiatan keperawatan dengan
menggunakan metode proses keperawatan untuk memenuhi kebutuhan
klien atau menyelesaikan masalah klien (Keliat, 2000). Tiga komponen
penting dalam manajemen asuhan keperawatan yaitu manajemen sumber
daya manusia dengan menggunakan system pengorganisasian pekerjaan
30

perawat atau asuhan keperawatan dan sistem klasifikasi kebutuhan klien


dalam metode pemberian asuhan keperawatan yaitu proses keperawatan.
b. Proses Keperawatan
Proses keperawatan adalah suatu pendekatan penyelesaian masalah
yang sistematis dalam pemberian asuhan keperawatan, kebutuhan dan
masalah klien merupakan titik sentral dalam proses penyelesaian masalah
ini.
Menurut craven dan Hirnle (2000), proses keperawatan merupakan
suatu panduan untuk memberikan asuhan keperawatan profesional, baik
untuk individu, kelompok, keluarga, dan komunitas. Berdasarkan prinsip
inilah tim pengembang modul ini menyusun pedoman pemberian asuhan
keperawatan di ruang MAKP yang dapat diterapkan baik pada individu,
pasien, kelompok pasien, dan keluarga pasien.
Selanjutnya Craven dan Hirnle (2000) menyatakan bahwa proses
keperawatan memiliki 6 fase yaitu pengkajian, diagnosa, tujuan, rencana
tindakan, implementasi dan evaluasi. Pada Ruang RS. Brawijaya Lawang
MAKP tim pengembang modul memasukkan tujuan ke dalam fase
diagnosa sehingga proses keperawatan di ruang ini terdiri dari 5 fase,
yaitu pengkajian, diagnosa, rencana tindakan, implementasi dan evaluasi.
Untuk pengkajian telah disusun suatu format beserta panduan pengisian
format tersebut. Rencana keperawatan yang mencakup diagnosa, tujuan
dan rencana tindakan keperawatan dibuat standarnya berdasarkan ke tujuh
masalah keperawatan utama yang telah disebutkan sebelumnya.
Sedangkan untuk implementasi telah disusun panduan tindakan
keperawatan per masalah keperawatan dengan menetapkan paket tindakan
keperawatan pada tiap pertemuan dengan pasien sebanyak tujuh buah
masalah keperawatan. Format evaluasi telah dibuat dan di tujukan untuk
menilai kemampuan pasien setelah diberikan tindakan keperawatan sesuai
dengan masalah keperawatan yang dimiliki. Format evaluasi untuk
perawat juga dibuat untuk menilai kemampuan perawat dalam
memberikan tindakan keperawatan sesuai dengan masalah keperawatan
pasien.
31

c. Pedoman pengkajian
Dalam keperawatan pengkajian merupakan pengumpulan data
subjektif dan objektif secara sistematis dengan tujuan membuat penentuan
tindakan keperawatan bagi individu, keluarga dan komunitas (Craven dan
Hirnle, 2000). Oleh karena itu dibutuhkan suatu format pengkajian yang
dapat menjadi alat bantu perawat dalam pengumpulan data.
Format pengkajian di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP
meliputi aspek-aspek identitas pasien, alasan masuk, faktor predisposisi,
fisik, psikososial, status mental, kebutuhan persiapan pulang, mekanisme
koping, masalah psikososial, dan lingkungan, pengetahuan, dan aspek
medik. Format pengkajian ini dibuat agar semua data relevan tentang
masalah pasien saat ini, yang lampau atau yang potensial didapatkan
sehingga diperoleh suatu data dasar yang lengkap.
d. Pedoman rencana tindakan keperawatan
Pedoman rencana tindakan keperawatan mencakup perumusan
diagnosa, tujuan umum dan tujuan khusus, dan juga rencana tindakan yang
telahdistandarisasi. Pedoman tindakan keperawatan pada individu pasien
dan keluarga
Tindakan keperawatan merupakan suatu tindakan yang dilakukan
langsung kepada klien, keluarga, dan komunitas berdasarkan rencana
keperawatan yang dibuat.
Berdasarkan manajemen asuhan keperawatan maka perlu
dilakukan sistem klasifikasi pasien dalam pemberian asuhan keperawatan.
System ini dikembangkan untuk meyakinkan adanya pelayanan prima
yang berfokus pada layanan pelanggan. Dengan system ini dikaji
kebutuhan pasien terhadap pelayanan keperawatan dan dirancang
pemenuhan kebutuhannya melalui standar pelayanan dan asuhan
keperawatan. Di Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP klien
diklasifikasikan berdasarkan tingkat kebutuhannya terhadap tindakan
keperawatan. Klasifikasi ini terdiri dari perawatan total, parsial, dan
mandiri.
32

Menurut Gillies ( 1995 ) rata-rata pasien membutuhkan perawatan


sehari selama 4 jam dengan rincian sebagai berikut:
1. Self care kurang dari 2 jam
2. Minimal care 2 jam
3. Moderate care 3.5 jam
4. Extensive care 5-6 jam
5. Intensive care 7 jam
Berdasarkan rincian ini maka ditetapkan tindakan keperawatan di
Ruang RS. Brawijaya Lawang MAKP untuk pasien dibagi dalam 3
kategori :
1. Keperawatan total 6 jam
2. Keperawatan total 4 jam
3. Keperawatan mandiri 2 jam
Jumlah jam untuk tindakan keperawatan diatas dialokasikan untuk
tinakan bagi individu pasien selama 24 jam, tidak termasuk tidakan
keperawatan dalam bentuk kelompok dan ADL pasien.
Semua rincian waktu dan tindakan keperawatan diatas dibuatkan
pedoman tindakan dan jadwal aktivitas per masalah keperawatan per
sistem klasifikasi pasien. Diharapkan untuk selanjutnya perawat di Ruang
RS. Brawijaya Lawang MAKP memiliki panduan yang jelas dalam
pemberian tindakan keperawatan untuk setiap pasien sesuai masalah
keperawatan dan tingkat kebutuhan tindakan keperawatannya. Pedoman
tingkat keperawatan dibuat untuk tindakan kepada pasien baik secara
individual, kelompok, maupun yang terkait dengan ADL. Dengan adanya
rincian kebutuhan waktu, diharapkan setiap perawat memiliki jadwal
kegiatan harian untukpasien masing-masing sehingga waktu kerja perawat
menjadi lebih efektif dan efisien.
Selanjutnya semua tindakan keperawatan yang telah dilakukan
oleh perawat di dokumentasikan dalam format implementasi dan evaluasi
dengan menggunakan pendekatan SOAP. Disamping itu terkait dengan
pendekatan SOAP setiap kali berinteraksi dengan pasien, perawat
memberikan penugasan yang terkait dengan tindakan keperawatan yang
33

telah dilakukan sebagai tindak lanjut. Penugasan ini dimasukan kedalam


jadwal aktivitas pasien dan diklasifikasikan apakah tugas tersebut
dilakukan secara mandiri (M), dengan bantuan sebagian (B), atau dengan
bantuan total (T). Setiap hari kemampuan melakukan tugas atau ktivitas ini
di evaluasi.
34

BAB III
PENGUMPULAN DATA

3.1 Tenaga Dan Pasien (M1 - Man)


3.1.1 Tenaga
Analisis ketenagaan jumlah tenaga keperawatan dan non keperawatan,
latar belakang pendidikan,masa kerja, jenis pelatihan yang diikuti, struktur
organisasi, kebutuhan tenaga perawat berdasarkan tingkat ketergantungan
pasien dan alur masuk pasien. Keunggulan Rawat Inap Rumah Sakit
Brawijaya Lawang salah satunya adalah memiliki SOP dan SAK yang
menjadi acuan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan.
3.2 Tugas Pokok dan Fungsi
3.1.1 Kepala Ruangan
Pengertian adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi tanggung
jawab dan wewenang dalam mengatur dan mengendalikan kegiatan
pelayanan keperawatan di rawat inap.
Kepala ruangan mempunyai tugas dan fungsi sebagi berikut :
1. Menyusun rencana kerja pelayanan diruang inap
2. Menyusun rencana kebutuhan tenaga keperawatan sesuai kebutuhan
3. Menyusun rencana kebutuhan peralatan dan obat-obatan sesuai
kebutuhan
4. Menyusun daftar dinas
5. Mengikuti timbang terima pasien
6. Melakukan orentasi pada perawat baru
7. Melaksanakan program bimbingan mahasiswa
8. Mengatur alat agar dalam keadaan siap pakai
9. Mengatur dan mengendalikan pemberian asuhan keperawatan
10. Meningkatkan kolaborasi dengan tim lain
11. Melakukan program bimbingan para staf yang mengalami kesulitan
12. Mendelegasikan tugas pada katim pada saat karu tidak ada
13. Mengatur penugasan PRS
14. Mengadakan pertemuan berkala setiap bulan dengan staf
35

15. Mengecek kelengkapan dokumentasi asuhan keperawatan


16. Mengendalikan mutu pelayanan keperawatan
17. Mengadakan diskusi dengan staf apabila ada masalah
18. Membuat penilaian kinerja karyawan
19. Merencanakan dan mengevaluasi mutu asuhan keperawatan
20. Membuat laporan tahunan
3.1.2 Tugas Ketua Tim
Pengertian adalah seorang perawat yang diberi wewenang dan
tanggung jawab dalam mengelola satu tim pelayanan keperawatan pada setiap
shift jaga. Uraian tugas :
1. Bertanggung jawab atas terselenggaranya pelayanan shift jaga.
2. Bersama kepala ruangan melakukan timbang terima pasien.
3. Membagi tugas tingkat ketergantungan pasien.
4. Menyusun rencana asuhan keperawatan
5. Mengikuti visite dokter
6. Mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan bersama anggota tim
7. Mengorientasi pasien baru
8. Menjelaskan renpra yang telah ditetapkan pada perawat pelaksana
9. Memonitor pendokumentasian askep yang dilakukan perawat pelaksana
10. Melakukan bimbingan dan evaluasi pada perawat pelaksana
11. Melakukan tindakan keperwatan yang tidak dapat dilakukan oleh perawat
pelaksana
12. Mengatur pelaksanaan konsul dan pemeriksaan laborat
13. Melakukan evaluasi perkembangan pasien pada setiap shift jaga
14. Memberi HE pada pasien dibawah tanggung jawabnya
15. Membuat rencana pasien pulang
16. Menyelenggarakan diskusi apabila ada masalah pasien setiap shift jaga
17. Membuat laporan kerja
18. Meaksanakan tugas limpah yang diberikan kepala ruangan
3.1.3 Perawat Pelaksana
Pengertian adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi wewenang
untuk melaksanakan asuhan keperawatan diruang keperawatan. Uraian tugas :
36

1. Mengikuti timbang terima pasien dengan katim dan karu


2. Membaca renpra yang telah ditetapkan
3. Menerima pasien baru dan memberikan informasi tentang pasien dan
keluarga
4. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang akan dilakukan
5. Melakukan tindakan keperawatan sesuai perencanaan
6. Mengikuti visite dokter
7. Mengecek kerapian dan kelengkapan status pasien
8. Mengkomunikasikan kepada katim apabila ada masalah
9. Menyiapkan pasien untuk pemeriksaan laboraturium, pengobatan dan
tindakan
10. Berperan serta dalam tindakan keperawatan
11. Melakukan inventaris fasilitas yang dilakukan dalam pelayanan
12. Membantu tim apabila diperlukan
13. Memberikan resep dan menerima obat dari keluarga pasien
14. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh katim atau karu
3.1.4 PRS (Pekarya Rumah Sakit) atau POS
Pengertian seorang tenaga non keperawatan yang diberikan wewenang
untuk melaksanakan administrasi di ruangan dan membantu keperawatan di ruang
perawatan.
Tugas PRS sebagai berikut:
1. Melakukan timbang terima dengan prs dengan jaga sebelumnya
2. Melakukan kebersihan dan melakukan pekerjaan yang tidak menjadi tugas
cleaning service
3. Membantu memberikan makanan pada pasien
4. Mengantar dan mengambil cucian
5. Mengantar bahan dan mengambil hasil pemeriksaaan laboratorium
6. Mengantar pasien dan mengambil hasil pemeriksaan radiologi
7. Mengantar blangko bon dan mengambil permintaan obat/alkes
8. Mengantar berbagai laporan keinstalasi rawat inap lainnya
9. Melakukan infentaris alat rumah tangga
10. Melaksanakan tugas administrasi di ruangan
37

11. Mengantarkan pasien keruangan lain untuk tindakan atau pindah ruangan
12. Mengantarkan pasien saat pulang
13. Mengantar dan mengambil alat yang perlu diperbaiki
14. Melaksanakan tugas lain yang diberikan perawat/ karu
3.1.5 Tenaga Keperawatan
Tabel 1.1 Tenaga Keperawatan di Ruang Rawat Inap RS Brawijaya Lawang
No Jenis Status Kepegawaian
Nama Pendidikan Jabatan
. kelamin Tetap Magang Kontrak
1. Maulina M P S,Kep Ns √ - - Karu
2. Aning R P Amd,Keb √ - - Bidan
3. Farida Dwi N P Amd,Kep √ - - Perawat
4. Pranita N P Amd,Kep √ - - Perawat
5. Silvia I P Str,Keb √ - - Bidan
6. Ika Chandra P Amd,Keb √ - - Bidan
7. Lia A P Amd,Keb √ - - Bidan
8. Camelia C P Amd,Keb √ - - Bidan
9. Puput P Amd,Keb √ - - Bidan
10. Bertha Sopi P S,Kep Ns √ - - Perawat

Diagram 2.1 Struktur Organisasi Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Brawijaya Lawang
38

3.1.8 Tingkat Ketergantungan Pasien


Tingkat ketergantungan pasien secara keseluruhan di ruang rawat inap
RS Brawijaya Lawang pada tanggal 30 October s/d 01 November 2017 dibagi
menjadi tiga yaitu tingkat ketergantungan pasien dengan total care, partial
care, dan minimal care.
Tanggal 30 October 2017

Jumlah Kebutuhan tenaga Perawat


Klasifikasi Pasien
pasien Pagi Sore Malam
Total Care
Partial care 2 2x0,27= 0,54 2x0.15=0.3 2x0.10=0.2
Minimal care 8 8x0.17= 1,36 8 x 0.14= 1,12 8x0.07=0,56
Jumlah 1,9 1,42 0,76
10
2 1 1

Kesimpulan jumlah total tenaga perawat :


 Pagi :2
 Siang :1
 Malam :1
Jumlah :4
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan di Rumah Sakit Brawijaya Lawang Pada
Tanggal 30 October 2017 sejumlah 4 orang.
Tanggal 31 October 2017

Jumlah Kebutuhan tenaga Perawat


Klasifikasi Pasien
pasien Pagi Sore Malam
Total Care
Partial care 2 2x0,27= 0,54 2x0.15=0.3 2x0.10=0.2
Minimal care 15 15x0.17= 2.55 15 x 0.14= 2.1 15x0.07=1.05
Jumlah 3.09 2,4 1.25
17
3 2 1

Kesimpulan jumlah total tenaga perawat :


 Pagi :3
 Siang :2
 Malam :1
Jumlah :6
39

Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan di Rumah Sakit Brawijaya Lawang Pada
Tanggal 31 October 2017 sejumlah 6 orang.
Tanggal 01 November 2017

Jumlah Kebutuhan tenaga Perawat


Klasifikasi Pasien
pasien Pagi Sore Malam
Total Care
Partial care 2 2x0,27= 0,54 2x0.15=0.3 2x0.10=0.2
Minimal care 14 14x0.17= 2.55 14 x 0.14= 2.1 14x0.07=1.05
Jumlah 2.38 1.96 0.98
16
2 2 1

Kesimpulan jumlah total tenaga perawat :


 Pagi :2
 Siang :2
 Malam :1
Jumlah :5
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan di Rumah Sakit Brawijaya Lawang Pada
Tanggal 01 November 2017 sejumlah 5 orang.
Tanggal 30 Oktober 2017 : 4 orang
Tanggal 31 Oktober 2017 : 6 orang
Tanggal 01 November 2017 : 5 orang
Jumlah : 15 orang
Jadi jumlah perawat yang dibutuhkan per hari yang bertugas di ruang perawat
rumah sakit brawijaya dari tanggal 30 Oktober s/d 01 November 2017
berjumlah: Orang
Total tenaga perawat perhari berjumlah : 5 orang
Jumlah tenaga lepas per hari
 Jumlah hari tak kerja pertahun
Hari minggu pertahun = 51 hari Hari + cuti tahunan 12 Hari
Hari besar setahun 17 hari + cuti sakit / izin 12 hari
Jadi jumlah keseluruhan : 51 + 12 + 17 + 12 = 92 hari
 Jumlah tenaga yang dibutuhkan di Rumah sakit Brawijaya Lawang per
24 jam = 5 orang
40

 Jumlah hari kerja efektif perorangan pertahun = 365 hari – 92 hari = 273
hari.
 Jadi jumlah perawat yang bebas tugas perhari :
RUMUS
Jumlah hari tak kerja pertahun x jumlah tenaga yang diperlukan per 24 jam
Jumlah hari kerja efektif perorangan pertahun

92 x 5 644
1.68 Di bulatkan menjadi = 2 orang
273 273
jadi jumlah tenaga perawat yang dibutuhkan untuk bertugas perhari di ruang
perawat Rumkit Brawijaya Lawang adalah = 5 orang + 1 orang struktural (
kepala paviliun ) + 2 orang lepas dinas = 8 orang.
perawat yang dibutuhkan di Rumah Sakit Brawijaya Lawang berdasrakan
hasil perhitungan tanggal 30 Oktober s/d 01 November 2017 sebanyak 8
orang
Jadwal dinas Libur
Tenaga
Pagi Siang Malam
KARU 1 - - -
PP 3 3 3 -
PA 3 1 1 1
Total 8 4 4 1

Adapun jumlah tenaga mahasiswa Profesi manajemen yang dibutuhkan


di Rumah Sakit Brawijaya Lawang adalah 8 orang.
41

4.1 Sarana Dan Prasarana (M2 Material)


4.1.1 Gambaran Umum Ruang
Gambaran umum sarana dan prasarana yang ada di RS Brawijaya
Lawang didapatkan hasil dengan pengkajian data awal yang di lakukan pada
tanggal 30-10-2017. Adapun data yang di dapat adalah sebagai berikut :
a. Sejarah Singkat RS Brawijaya Lawang
Rumah Sakit ini memulai perjalanan sejarahnya sejak tahun 1967
yang di beri nama BKIA (Balai Kesehatan Ibu dan Anak) di Jln. Raya
Surabaya Malang. BKIA ini kemampuan pelayananya masih terbatas pada
pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (Persalinan termasuk di dalamnya). Nama
–nama pejabat yang pernah menduduki jabatan sebagai kepala yaitu :
a. Tahun 1967 – tahun 1976 di jabat oleh : Bdn Umi Salamah
b. Tahun 1967 - tahun 1980 di jabat oleh : Bdn Ana Retna
c. Tahun 1980 – tahun 2001 di jabat oleh : Bdn Elly Orry
d. Tahun 2001 – tahun 2003 di jabat oleh : Bdn Asifah
e. Tahun 2003 – tahun 2005 di jabat oleh : Kapten Ckm (K) Sudarti,
[Link]
f. Tahun 2005 – tahun 2007 di jabat oleh : Kapten Ckm (K) dr. Ana
Dwiningrum (TMT tgl 16 Agustus 2006 nama BKIA di ganti menjadi
Rumkitban 05.08.04 Lawang)
g. Tahun 2007 – tahun 2009 di jabat oleh : Pjs. Mayor Ckm dr.I
Nyoman Kendra, MM
h. Tahun 2009 – September 2013 : Kapten Ckm [Link] Lulus
Budiyanto
i. Oktober 2013 – 5 Nopember 2016 : Kapten Ckm (K) dr. Andina
Wirathmawati
j. 6 Nopember 2016 – sekarang : Mayor Ckm (K) dr. Tiwik
Eriskawati, [Link]., [Link].
Pada tahun 2003 BKIA pindah ke Jln. Sumber Waras no 32 Kalirejo
Lawang. Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No:
YM.[Link].3465 tanggal 1 Agustus 2006 nama BKIA di ubah menjadi
Rumkitban 05.08.04 Lawang.
42

Lawang diberi nama ”Rumkit TNI AD 05.08.04 Lawang”. Namun nama itu
di sesuaikan dengan Tingkat rumah sakit yang minimal syarat yang bisa di
akreditasi, sehingga nama Rumkitban 05.08.04 Lawang di sesuaikan menjadi
Rumkit TNI AD 05.08.04 Lawang.
Rumkitban 05.08.04 Lawang berada di Jalan Sumber Waras No. 32 Lawang,
utara dibatasi [Link], selatan dibatasi Perkampungan, timur dibatasi dengan
Lahan kosong, barat dibatasi oleh Perkampungan.
a. Visi
Mewujudkan Rumkitban 05.08.04 Lawang Menjadi Rumah Sakit Yang
Melayani Prajurit, PNS dan Keluarganya dan Masyarakat Umum Dengan
di Landasi Professionalism, Disiplin, Bermoral, Solidaritas dan Paripurna.
b. Misi
a. Memberikan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas, Terjaungkau dan
Paripurna dalam Upaya Peningkatan Derajat Kesehatan Masyarakat.
b. Menyelenggarakan Dukungan Kesehatan yang Handal, Pelayanan yang
Prima dan Fungsi Organik yang Seksama.
c. Motto
CERAH (Cepat, Efisien, Ramah, Akuntabel, Handal)
4.1.2 Ruang Penunjang
Rumah sakit memiliki ruang penunjang untuk, Radiologi, laboratorium,
sterilisasi alat.
4.1.3 Perlengkapan Pada Ruang Perawat Rumah Sakit Brawijaya Lawang
a. Inventaris Ruang Perawat

No Nama Alat Jumlah Kondisi Ideal Usulan


1. Kofus bayi 5 Baik
2. Dispenser + gallon 1 Baik
3. Meja 2 Baik
4. Lemari es 1 Baik
5. Lemari kecil 1 Baik
6. Tabung o2 + regulator 3 Baik
7. Matras 3 Baik
43

8. Lampu belajar 2 Baik


10 Rak 1 Baik
11 Timbangan bayi 1 Baik
12 Bak bayi 1 Baik
13 Timbangan injak 1 Baik
14 Baskom 1 Baik
15. Tempat sampah medis 2 Baik
16. Tempat sampah non medis 2 Baik
17. Sterilisator 1 Baik
18 Incubator 1 Baik
19 Kursi 4 Baik
20. Tromol 2 Baik
21 Foto terapi 1 Baik
22 Lemari kaca 1 Baik
23. Lemari kayu 3 Baik
23 Standar infus 2 Baik
24 Head box 1 Baik
25 Ambubag bayi 1 Baik
26 Baging 1 Baik
27 Nebulizer kit 2 Baik
28 feeding tube 2 Baik
29 NGT 4 Baik
30 Kateter 1 Baik
31 Terufisiuon 1 Baik
32 Infusset 2 Baik
33 Abocat 11 Baik
34 Jarum insulin 25 Baik
35 Term elektrik 1 Baik
36 Alat spo2 1 Baik
37 Nebulizer 1 Baik
38 Doupler 1 Baik
44

39 Jam dinding 2 Baik


40 Pengharum ruangan 1 Baik
27 Troley 1 Baik
28 Tv 1 Baik
29 Stavol 1 Baik
31 Tempat APD 1 Baik
32 Loker obat 1 Baik
33 Tensi raksa 2 Baik
34 Tensi lapangan 1 Baik
35 Stetoskop 4 Baik
36 Wireles 32 Baik
37 Safety box 1 Baik
38 Anti septic 3 Baik
39 Wastavel 1 Baik
40 Jarum insulis 25 Baik
41 Tem digital 1 Baik
42 Torniquit 1 Baik
43 Gunting 1 Baik
44 Senter 1 Baik
45 Kursi roda 1 1 Baik
55 Tempat alat steri 1 Baik
56 Troley obat 1 Baik
57 Lemari laci 1 Baik
58 Telepon 1 Baik
59 Kipas 2 Baik
60 Bengkok 2 Baik
61 Selang NGT 4 Baik
62 Hepafik 1 rol baik
63 Washlap 1 BAIK
45

b. Perlengkapan Setiap Ruangan


Kartika 1
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 1 Baik
2. Kursi sova panjang 1 Baik
3. Lemari 1 Baik
4. Standar infuse 1 Baik
5. Bed bayi 1 Baik
6. Ac 1 Baik
7. Pengharum ruangan 1 Baik
8. Kipas flower 1 Baik
9. Toilet 1 Baik
10. Kulkas 1 Baik
11. Despenset + gallon 1 Baik
12. Bel 1 Baik
13. Handscrub 1 Baik
14. Kasur tambahan 1 Baik
15. Televise 1 Baik
16. troley emergenci 1 Baik

Kartika 2
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 1 Baik
2. Kursi sova pendek 2 Baik
3. Lemari 1 Baik
4. Standar infuse 1 Baik
5. Bed bayi 1 Baik
6. Ac 1 Baik
7. Pengharum ruangan 1 Baik
8. Kipas flower 1 Baik
46

9. Toilet 1 Baik
10. Kulkas 1 Baik
11. Despenset + gallon 1 Baik
12. Bel 1 Baik
13. Handscrub 1 Baik
14. Televise 1 Baik

Kartika 3
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 1 Baik
2. Kursi sova 2 Baik
3. Tolet 1 Baik
4. Toilet 1 Baik
5. Ac 1 Baik
6. Pengharum ruangan 1 Baik
7. Kipas flower 1 Baik
8. Toilet 1 Baik
9. Kulkas 1 Baik
10. Despenset + gallon 1 Baik
11. Bel 1 Baik
12. Handscrub 1 Baik
13. Televise 1 Baik

Kartika 4
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 2 Baik
2. Lemari 1 Baik
3. Kursi 1 Baik
4. Kipas 1 Baik
5. Standart infuse 2 Baik
6. Televise 1 Baik
47

7. Toilet 1 Baik
8. Box bayi 1 Baik
9. Handscrub 1 Baik
10. Pengharum ruangan 1 Baik
11. Kipas 1 Baik
12. Galon + dispenser 1 Baik
13. Kulkas 1 Baik

Eka paksi 1
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 2 Baik
2. Lemari 2 Baik
3. Handscrub 2 Baik
4. Bel 2 Baik
5. Standart infuse 2 Baik
6. Kursi 1 Baik
7. Kipas 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. Pispot 1 Baik

Eka paksi 2
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 2 Baik
2. Lemari 2 Baik
3. Handscrub 2 Baik
4. Bel 2 Baik
5. Standart infuse 2 Baik
6. Kursi 2 Baik
7. Kipas 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. Pispot 1 Baik
48

Eka paksi 3
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 2 Baik
2. Lemari 2 Baik
3. Handscrub 2 Baik
4. Bel 2 Baik
5. Standart infuse 2 Baik
6. Kursi 2 Baik
7. Kipas 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. oxygen 1 Baik
10. Toilet 1 Baik

Wira sakti 1
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 3 Baik
2. Lemari 2 Baik
3. Handscrub 2 Baik
4. Bel 3 Baik
5. Standart infuse 2 Baik
6. Kursi 3 Baik
7. Kipas 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. Toilet 1 Baik
10. Tempat sampah non infeksi 1 Baik
11. Wastavel 1 Baik
12. Kotak tisue 1 Baik
13. Tv 1 Baik
49

wira sakti 2
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 2 Baik
2. Lemari 2 Baik
3. Handscrub 1 Baik
4. Standart infus 2 Baik
5. Kursi 2 Baik
6. Kipas 1 Baik
7. Pengharum ruangan 1 Baik
8. Toilet 1 Baik
9. Tv 1 Baik
10. Bed bayi 2 Baik
11. Jam dinding 1 Baik
12. Pispot 1 Baik
13. Oxygen 1 Baik
14. Pispot 1 Baik

Wira sakti 3
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 3 Baik
2. Lemari laci 1 Baik
3. Lemari 3 Baik
4. Handscrub 4 Baik
5. Standart infus 4 Baik
6. Kursi 1 Baik
7. Ac 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. Oxygen 1 Baik
10. Kotak APD 1 Baik
11. Pispot 1 Baik
50

12. Wastavel 1 Baik

Wira sakti 4
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 4 Baik
2. Lemari 4 Baik
3. Handscrub 3 Baik
4. Standart infus 6 Baik
5. Kursi 3 Baik
6. Ac 1 Baik
7. Pengharum ruangan 1 Baik
8. Kipas flower 1 Baik
9. Bel 4 Baik

Hesti 1
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 8 Baik
2. Lemari 5 Baik
3. Handscrub 8 Baik
4. Standart infus 8 Baik
5. Bed bayi 8 Baik
6. Kipas 3 Baik
7. Pengharum ruangan 1 Baik
8. Kipas flower 2 Baik
9. Bel 8 Baik
10. Kotak tisue 1 Baik
11. Jam dinding 1 Baik
12. Wastavel 1 Baik
51

Hesti 2
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 2 Baik
2. Lemari 2 Baik
3. Lemari laci 2 Baik
4. Handscrub 2 Baik
5. Standart infus 3 Baik
6. Bed bayi 2 Baik
7. Kipas 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. Sampah non infeksi 1 Baik
10. Bel 2 Baik
11. Kotak tisue 1 Baik
12. Wastavel 1 Baik
13. Oxygen 1 Baik

ISOLASI
No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan
1. Bed 1 Baik
2. Lemari 1 Baik
3. Kursi 1 Baik
4. Handscrub 1 Baik
5. Standart infus 1 Baik
6. Toilet 1 Baik
7. Kipas 1 Baik
8. Pengharum ruangan 1 Baik
9. Kipas flower 1 Baik
10. Bel 1 Baik
11. Kotak tisue 1 Baik
12. Tempat APD Baik
13. Troley piring Baik
52

DAFTAR OBAT TROLEY EMERGENCI


NO NAMA OBAT
1 As tranexamat 4 ampul
2 Antropine 1 ampl
3 Benodon 1 vial
4 Bledstop 1 amp
5 Bisolvon 1 amp
6 Dexametason 5 amp
7 D40 % 1 fles
8 Epineprine 1 amp
9 Hes 1 fles
10 Mgso4 20% 1 fles
11 Mgso4 40% 1 fles
12 Methayprednisolon 125mg 1 viral
13 Pecahin 1 amp
14 Recodryl 1 vial
15 Valisanbe 1 amp
16 Stesolid 5mg rect 1 tube
17 Suprafenid supp 1 sup
18 Combivent nebul 1 vial

DAFTAR OBAT HIGH ALERT


NO NAMA OBAT HIGH ALRT
1 Atropine 0,25mg
2 Bledstop 1 ml
3 D40%
4 Epedrine 50mg
5 Epineprin 1 mg
6 Kcl 7.46%
7 Lidocain 2% 2 mg
8 Lidodex 100 mg /2 ml
9 Mgso4 20%
10 Mgso4 40%
11 Ocytosin 1 ml
53

12 Oxyla
13 Proanes 1 % / fresofol /safol/marcain/recovol
14 Dopanin
15 Fentanyl
16 KTM /ivanes /ketamin

c. secara kesuluran perlengkapan perruangan

No Nama barang jumlah Kondisi ideal usulan


1. Bed 32 Baik
2. Lemari 28 Baik
3. Sova 3 Baik
4. Kursi 16 Baik
5. Handscrub 28 Baik
6. Standart infuse 38 Baik
7. Bed bayi 11 Baik
8. Ac Baik
9. Televise 4 Baik
10. Bed bayi Baik
11. Jam dinding Baik
12. Pispot Baik
13. Oxygen Baik
14. Pispot Baik
15. Ac Baik
16. Toilet Baik

5.1 Metode Asuhan Keperawatan (M3-Methods)


5.1.1 PENERAPAN MAKP
Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi
Profesi Ners Stikes Husada Jombang pada praktek Manajemen Keperawatan
mulai dari tanggal 30 Oktober-01 November 2017 diketahui bahwa model
asuhan keperawatan profesional (MAKP) yang dilakukan di Ruang Rawat
Inap RS Brawijaya Lawang saat ini menerapkan metode asuhan keperawatan
54

tim, dimana Ruang perawat Rawat Inap RS Brawijaya Lawang masih


menjalankan metode Asuhan Keperawatan tim.
Perawat ruangan di bagi menjadi 2-3 tim/ group yang terdiri dari
tenaga professional (karu), tehnikal (katim) dan pembantu (PP) dalam satu
grup kecil yang saling membantu, perawat profesinal,tehnikal dan perawat
pembantu terjalin dengan baik, jika ada masalah yang tidak bisa diatasi
maka perawat profesinal membantu untuk menyelesaikan. Ruangan sudah
mempunyai SOP setiap tindakan.
1.1.2 Timbang Terima
Kepala ruangan perawat rumah sakit brawijaya mengatakan dalam
timbang terima terbagi menjadi dua tahap dan pembagian 2 kelompok, yaitu :
1. Pra Timbang
Kedua kelompok (shif) dalam dinas sudah siap untuk melakukan masalah
keperawatan dan intervensi keperawatan untuk semua pasien yang harus
dilaksanakan dan didokumentasikan oleh perawat dinas sebelumnya untuk
diminta diterimakan dalam keadaan rapi dan siap ditimbang terimakan.
Hal-hal yang khusus perlu dicatat untuk diserah terimakan kepada perawat
yang dinas berikutnya.
2. Timbang Terima
Perawat pelaksana menerima timbang terima serta melakukan kelarifikasi
dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang telah ditimbang terimakan.
Secepatnya mengupayakan penyampaian dengan jelas singkat dan padat.
Lamanya timbang terima tiap pasien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada
pasien kondisi khusus.
Tahap-tahap pra penerimaan pasien baru :
1. Menyiapkan kelengkapan adminitrasi (checklist rawat inap)
2. Menyiapkan kelengkapan kamar sesuai pesanan
3. Menyiapkan format Asuhan Keperawatan
4. Menyiapkan lembar hak dan kewajiban pasien
5. Menyiapkan kartu penunggu dan kunci lemari
Tahap pelakasanaan penerimaan pasien baru :
55

1. Pasien datang diruangan diterima oleh kepala ruangan atau perawat


yang diberi delegasi (PP)
2. Perawat menunjukan kamar atau tempat tidur pasien dan mengantar
ketempat yang telah ditetapkan
3. Perawat bersama karyawan lain memindahkan pasien ketempat tidur
4. Perawat melakukan pengkajian terhadap pasien sesuai format
5. Setelah pasien tenang dan situasi memungkinkan perawat memberikan
informasi tentang orienstai ruangan.
5.1.3 Ronde keperawatan
Selama ini ronde keperawatan di Ruang Rawat Inap RS Brawijaya Lawang
belum dilakukan secara rutin, karena masih banyak terdapat kekurangan baik
itu jumlah SDM dan lain-lain.
5.1.4 Pengelolaan Sentralisasi Obat
Dalam melakukan sistem pengeloalaaan sentralisasi obat dilakukan dengan
alur sebagai berikut :
56

Dokter

Perawat Farmasi/Apotik

Keluarga/Pasien Karu/PP Yang Menerima

Pengaturan/Pengelolaan Oleh Perawat

Surat Persetujuan

Lembar Serah Terima Pasien


(Sisa Terima Pasien)
57

5.1.5 Supervisi
Setelah melakukan pengkajian di kepala ruangan Rawat Inap tentang
supervisi yaitu pengawasan langsung, pengamaatan sendiri melalui laporan
secara langsung, dan lisan, memperbaikai dan mengamati kelemahan atau
kesalahan yang ada saat jaga.

5.1.6 Dischard Planing

Setelah dokter visite keRuang Rawat Inap RS Brawijaya Lawang


memutuskan untuk pasien krs (pulang), karu/pp melakukan alur sebagai
berikut ;
Tim kesehatan (dokter, perawat, tenaga kesehatan lain)

Keadaan Pasien : Klinis Dan Pemeriksaan Penunjang, Tingkat


Ketergantungan Pasien

Perencanaan Pulang

Penyelesaian Administrasi

Program HE : Control Dan Perawatan Lanjutan, Minum Obat, Nutrisi,


Aktifitas Dan Istirahat, Perawatan Diri, Perawatan Insulin dll
58

5.1.7 Dokumentasi Keperawatan


Pendokumentasian asuhan keperawatan di Ruang Rawat Inap RS
Brawijaya Lawang segera setelah pasien masuk dan saat terjadi masalah
keperawatan.
Penerimaan Pasien Baru
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, proses menerimaan
pasien baru yang datang di ruang rawat inap RS Brawijaya Lawang,
dilakukan kegiatan PPB ( penerimaan Pasien baru. Perawat dari ruangan lain
akan memberikan status pasien dan melakukan timbang terima dengan
perawat di ruangan. Bila ada pasien baru yang masuk perawat akan
menyiapkan tempat tidur dan memberikan petunjuk untuk pengambilan obat
dan pengambilan hasil laboratorium. Pasien baru yang datang diorientasikan
secara lisan berdasarkan format penerimaan pasien baru yang berisi identitas
pasien, dokter yang bertanggung jawab dan perawat yang bertanggung jawab.
Untuk pasien akan dirawat disini berapa hari tidak diberitahukan pada pasien.

6.1 Sumber Keuangan (M4-Money)


Sebagian besar pembiayaan ruangan berasal dari rumah sakit. Pembiayaan
pasien yang masuk di Ruang Perawatan Ruang Rawat Inap RS Brawijaya Lawang
berasal dari BPJS dan biaya sendiri (Umum). Biaya perawatan yang berlaku saat ini
sesuai kelas perawatan. Untuk pengelolaan keuangan di Ruang Rawat Inap RS
Brawijaya Lawang dikelola oleh seksi administrasi ruangan.
Tarif VIP Kelas I Kelas II Kelas III R. Bayi
Administrasi Rp. 45.000 Rp. 45.000 Rp. 45.000 Rp. 45.000 Rp. 45.000
Sewa Kamar/
Rp. 130.000 Rp. 110.000 Rp. 90.000 Rp. 80.000 Rp. 85.000
Fasilitas RS
Jasa Paramedis Rp. 55.000 Rp. 45.000 Rp. 35.000 Rp. 30.000 Rp. 25.000
Cucian Rp. 55.000 Rp. 55.000 Rp. 55.000 Rp. 55.000 -
Jumlah Rp. 285.000 Rp. 255.000 Rp. 225.000 Rp. 210.000 Rp.115.000
59

7.1 M5-Market
7.1.1 Sistem Pemasaran
Ruang perawatan Rawat Inap RS Brawijaya Lawang merupakan bagian
rawat inap keperawatan umum dan menggunakan sistem pemasaran publik
melalui: leaflet, kesetiaan pelanggan.
7.1.2 BOR (Bed Occupation Rate)
Kebutuhan tenaga perawat di ruang Rawat Inap Rumah Sakit Brawijaya
Lawang dari hasil pengkajian sebagai berikut:
BOR pada hari senin tanggal 30 Oktober-01 November 2017 adalah
BOR 3 hari berturut-turut (mulai tanggal 30 Oktober-01 November 2017)
1. BOR hari senin, tanggal 30 Oktober 2017:
NO SHIF VIP KELAS 1 KELAS 2 KELAS 3 BOR
1 PAGI 2 BED 1 BED 12 BED 17 BED 12 : 32 x
(0 KOSONG) (0 KOSONG) 6 (kosong) 14 (KOSONG) 100% =
37,5%

[Link] hari selasa, tanggal 31 oktober 2017:


NO SHIFT VIP KELAS 1 KELAS 2 KELAS 3 BOR
1 PAGI 2 BED (0 1 BED 12 BED (4 17 BED(11 15:32X100%
KOSONG) (0 KOSONG) KOSONG) KOSONG) =46,87%
2 SIANG 2 BED (0 1 BED (0 12 BED (5 17 BED (7 20:32x100%
KOSONG KOSONG KOSONG KOSONG) =62,5%

[Link] hari rabu, tanggal 01 november 2017:

NO SHIFT VIP KELAS 1 KELAS 2 KELAS 3 BOR


1 PAGI 2 BED (2 1 BED (O 12 BED (2 17 BED (9 19:32x100%=
KOSONG) KOSONG) KOSONG) KOSONG) 59,37%
2 SIANG 2 BED (2 1 BED (0 12 BED (2 17 BED (9 19:32x100%=
KOSONG) KOSONG) KOSONG) KOSONG) 59,37%
60

71.3 Penghitungan Ketergantungan Pasien


Klasifikasi Tingkat Ketergantungan Pasien
Berdasarkan Teori [Link] : Self-Caer Deficit

MINIMAL CARE
Pasien bisa mandiri/hampir tidak memerlukan bantuan
 Mampu naik turun tempat tidur.
 Mampu ambulasi dan berjalan sendiri
 Mampu makan dan minum sendiri
 Mampu membersihkan diri, mandi/mandi sebagian dengan bantuan
dan ganti pakaian dan mampu membersihkan mulut dilakukan sendiri.
 Mampu melakukan BAB dan BAK dengan sedikit bantuan
 Observasi TTV tiap pergantian jaga.
 Status psikologis stabil dan pengobatan mimimal.
 Perawatan luka sederhana/operasi kecil

PARTIAL CARE
Pasien memerlukan bantuan sebagian
 Dibantu 1 orang untuk naik turun tempat tidur.
 Membutuhkan bantuan untuk ambulasi /berjalan.
 Membutuhkan bantuan untuk menyiapkan makan.
 Makan disuap.
 Bantuan untuk membersihkan mulut dan membersihkan diri.
 BAB dan BAK dibantuan.
 Observasi TTV tiap 4 jam.
 Fase awal dari penyembuhan.
 Pengobatan dengan injeksi.
 Pasien dengan pemasangan cateter urine.
 Balance cairan ketat.
 Pasien dengan pemasangan infus.
 Gangguan emosional ringan.
61

TOTAL CARE
Pasien memerlukan bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu
perawatan lebih banyak
 Membutuhkan bantuan 2 orang atau lebih untuk mobilisasi
 Membutuhkan latihan pasif.
 Kebutuhan cairan dan nutrisi dipenuhi melalui Intra Vena dan NGT (selang
lambung).
 Kebersihan mulut, mandi, berpakaian dibantu dan dilakukan perawat.
 Menggunakan kateter.
 Perubahan posisi, obs TTV tiap 2 jam.
 Pengobatan IV perdrip.
 Pemakaian suction.
 Klien tidak sadar dan tidak stabil.
 Gangguan emosional berat, gelisah /disorientasi.
 Perawatan luka kompleks

BAB IV
ANALISA SITUASI LINGKUNGAN

4.1 Analisa SWOT


Analisis SWOT adalah suatu metoda analisis yang digunakan untuk
menentukan dan mengevaluasi, mengklarifikasi dan memvalidasi perencanaan yang
telah disusun, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
Analisis ini merupakan suatu metode untuk menggali aspek-aspek kondisi
yang terdapat di suatu wilayah yang direncanakan maupun untuk menguraikan
berbagai potensi dan tantangan yang akan dihadapi dalam pengembangan wilayah
tersebut. Kata SWOT itu sendiri merupakan kependekan dari variabel – variable
penilaian, yaitu:
1. S, merupakan kependekan dari STRENGTHS, yang berarti potensi dan kekuatan
pembangunan.
2. W, merupakan kependekan dari WEAKNESSES, yang berarti masalah dan
tantangan pembangunan yang dihadapi.
3. O, merupakan kependekan dari OPPORTUNITIES, yang berarti peluang
pembangunan yang dapat.
62

4. T, merupakan kependekan dari TREATS, yang merupakan factor eksternal yang


berpengaruh dalam pembangunan.
Analisis SWOT bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai factor secara
sistematis untuk merumuskan suatu strategi pembangunan daerah. Sebagai sebuah
konsep dalam manajemen strategi, teknik ini menekankan mengenai perlunya
penilaian lingkungan eksternal dan internal, serta kecenderungan perkembangan
atau perubahan di masa depan sebelum menetapkan sebuah strategi.
Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).
Berikut ini adalah hasil dari analisa lingkungan dengan menggunakan analisa
SWOT di RS Brawijaya Lawang.

M1 (KETENAGAAN) Bobot Rating Bobot x Rating


a. Internal Factor (IFAS)
STRENGTH
1. Tersedianya Nurse station 0,1 3 0,3 S-W =
2. Adanya tugas, peran, 0,1 3 0,3 2,8-
wewenang yang jelas 2 = 0,8
3. Jenis ketenagaan : 0,2 3 0,6
a. S1 keperawatan 2 orang 0,1 2 0,2
b. D3 keperawatan 10 orang 0,1 2 0,2
4. Kepala ruangan mendukung 0,1 3 0,3
kegiatan
5. Adanya tenaga perawat yang 0,1 3 0,3
pernah mengikuti pelatihan
atau workshop
6. Semua tenaga pekerja di 0,2 3 0,6
ruang perawat sopan dan
ramah

Total 1 2,8
63

WEAKNESS
1. Jumlah perawat masih belum 0,3 2 0,6
sebanding dengan jumlah
pasien
2. Pelaksanaan MAKP masih 0,3 2 0,6
belum maksimal
3. Beban kerja perawat diruangan 0,4 2 0,8
cukup tinggi.

0,4
Total 1 2

b. External Factor Analysis


Strategi (EFAS) O-T=
OPPORTUNITY 2,3-1,8=
0,5
1. Adanya program pelatihan 0,3 2 0,6
atau seminar khusus Ruang
perawat (BTCLS, BTLS,
VCT dll.)
2. Adanya mahasiswa S1 yang 0,3 3 0,9
sedang praktek manajemen
keperawatan
3. Adanya kesempatan 0,2 2 0,4
melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi
4. Ada kebijakan pemerintah 0,2 2 0,4
tentang profesionalisasi
perawat
Total 1 2,3
THREATENED
1. Ada tuntutan dari pasien untuk 0,3 2 0,6
pelayanan yang lebih
profesional
2. Makin tingginya kesadaran 0,2 3 0,6
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
3. Persaingan antar RS yang 0,2 3 0,6
semakin kuat

Total 1 1,8

M2 (SARANA PRASRANA) Bobot Rating Bobot x Rating

Internal Factor (IFAS)


STRENGTH
1. Semua sarana dan prasarana 0,1 3 0,3 S-W =
64

sudah digunakan secara 2,8-2=


optimal 0,8
2. Mempunyai ECG, Infus pump, 0,2 2 0,4
shyring pump dan semua
perawat mampu
menggunakanya
3. Terdapat administrasi 0,2 3 0,6
penunjang : buku ekspedisi,
buku timbang terima
4. Semua administrasi penunjang 0,1 3 0,3
sudahdigunaka secara optimal
5. Tersedianya nurse station 0,2 3 0,6
6. Pengelolaan sampah ruangan 0,1 3 0,3
sudah terpisah antara sampah
medis dan non medis
7. Sudah ada intermediet pasien 0,1 3 0,3
dengan pasien khusus

Total 1 2,8

WEAKNESS

1. Jumlah tenaga perawat tidak 1 2 2


sebanding dengan kebutuhan
ruangan.

Total 1 2

External Factor Analysis Strategi


(EFAS)
OPPORTUNITY
1. Adanya kerjasama dengan 0,3 2 0,6 O-T =
perusahaan Alkes 2,2-2=
2. Tersedianya dana untuk 0,2 3 0,6 0,2
perbaikan dan pergantian alat-
alat yang tidak layak pakai
3. Kebersihan lingkungan 0,2 3 0,6
ruangan dijaga setiap hari
4. Kesempatan meningkatkan 0,2 2 0,4
kemampuan kerja melalui
pellatihan atau pendidikan
tambanhan
Total 2,2
THREATENED
1. Adanya tuntutan yang tinggi 0,4 2 0,8
dari pasien untu memberikan
65

sarana dan prasaran yang


memadai 0,6 2 1,2
2. Adanya kesenjangan jumlah
pasien dengan peralatan yang
diperlukan

Total 1 2

M3 – METODE ( MAKP )
A. Internal Factor (IFAS)
STRENGTH
1. RS memiliki visi,misi, dan motto 0.2 3 0.6 S-W
2.1-0,85
sebagian acuan melaksanakan
= 1,25
kegiatan pelayanan
2. Sudah ada model MAKP yang 0.2 3 0.6
digunakan metode semi tim
3. Mempunyai standar asuhan 0.1 3 0.3
keperawatan dan standar
operasional perawat.
[Link] protap setiap tindakan 0.1 2 0.2
[Link] dilakukan KARU 0.2 2 0.2
[Link] struktur organisasi rungan 0.2 2 0.2

TOTAL 1 2.1
WEAKNESS
1. Pelaksanaan model makp belum 0.5 3 0.15
secara optimal dilaksanakan
dengan model tim dan masih
menggunakan model semi tim
2. jumlah perawat kurang dari 0.4 3 0,7
kebutuhan

TOTAL 1 0,85
B. Eksternal Factor ( EFAS )
OPPRTUNITY
1. Adanya kesempatan bagi perawat
0.2 3 0.6 O-T
rungan untuk melanjutkan
2,8-2,3=
pendidikan
0.5
2. Adanya mahasiswa S1 0.4 3 1,2
keparawatn praktek manajemen
66

keperawatan
3. Ada kebijakan pemerintah tentang 0.2 2 0,4
profesionalisme perawat.
4. Adanya kerjasama antara institusi
0.2 3 0,6
S1 keperawatan dengan RS
TOTAL 1 2,8
THEREATENED
1. Persaingan dengan RS yang lain 0.3 2 0,6
semakin ketat
2. Adanya tuntunan masyarakat 0.3 3 0,9
yang semakin tinggi terhadap
peningkatan pelayanan
keperawatan yang lebih
Profesional
3. Bebasnya pers yang dapat 0.4 2 0.8
langsung menyebarkan
informasi dengan cepat.
TOTAL 1 2.3
Dokomentasi Keperawatan
a. Internal Factor (IFAS)
STRENGTH
1. Tersedianya sarana dan 0.2 3 0.6
prasarana dokumentasi untuk
tenaga kesehatan (sarana
S-W
administrasi penunjang) 3-2=1

2. Format asuhan keperawatan 0.2 3 0.6


sudah ada
3. Dokumentasi keperawatan :
- Pengkajian per system
- Diagnosa keperawatan 0.2 3 0.6
sampai dengan evaluasi
menggunakan SOAP dan
format pendukung yang
lain (lembar konsul,
informed consent dll)
4. Adanya kesadaran perawat
tentang tanggung jawab dan 0.2 3 0.6
tanggu gugat.
TOTAL 1 3
WEAKNESS
67

1. Kurangnya SDM dalam 0.5 2 1


pendokumentasian di ruangan
2. Jumlah tenaga yang tidak 0.5 2 1
sesuai dengan beban kerja
TOTAL 1 2
a. Eksternal Factor (EFAS)
OPPORTUNITY
1. Peluang perawat untuk 0.3 3 0.9
meningkatkan pendidikan
(pengembangan SDM).

2. Mahasiswa S-1 keperawatan


Stikes Husada Jombang 0.3 3 0.9
praktek managemen untuk
mengembangkan system
O-T
dokumentasi 3-2.6=0.4
3. Kerja sama yang baik antara 0.4 4 1.2
perawat dan mahasiswa
TOTAL 1 3
THREATENED
1. Tingkat kesadaran masyarakat 0.6 3 1.8
(pasien dan keluarga) akan
tanggung jawab dan tanggung
gugat.
2. Adanya tuntunan yang lebih 0.4 2 0.8
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan yang
lebih profesional
3.
TOTAL 1 2.6
Ronde Keperawatan
a. Internal Factor (IFAS) S-W
STRENGTH 2,7-2=
1. Terdapatnya 0.3 4 1,2 0,7
Dokter Spesialis, Dokter
Umum, Rehabilitasi medic,
Fisio Terapi, Ahli Gizi, dan
Laboratorium
2. Jenis ketenagaan
S1 Keperawatan : 2 Orang 0.3 3 0,9
D3 Keperawatan : 10 Orang 0.2 3 0,6
68

TOTAL 1 2,7
WEAKNESS
1. Belum terlaksananya ronde 0.4 2 0.8
keperawatan secara optimal
dan maksimal.
2. Jumlah tenaga yang tidak
0.6 2 1.2
seimbang dengan jumlah
tingkat ketergantungan pasein
TOTAL 1 2
b. Eksternal Factor (EFAS)
OPPORTUNITY 0.3 3 0.9
1. Adanya kesempatan
melanjutkan pendidikan. O-T
0.4 4 1.6 3.4-3=0.4
2. Terdapat mahasiswa S1
Keperawatan praktek
0.3 3 0.9
manajemen
3. Terdapat kerja sama antara
mahasiswa S1 keperawatan
dengan perawat ruangan
TOTAL 1 3.4
THREATENED
1. Adanya tuntunan yang lebih 1 3 3
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan yang
lebih profesional

TOTAL 1 3
Sentralisasi Obat
S-W
3-2,5=
a. Internal Factor (IFAS) 0.3 4 1.2 0,5
STRENGTH
1. KARU mendukung kegiatan
sentralisasi obat

2. Adanya lembar
pendokumentasian obat yang 0.3 2 0.6
diterima di status pasien
3. Adanya buku injeksi dan obat oral 0.4 3 1,2
bekerja sama dengan depo farmasi
TOTAL 1 3
WEAKNESS
1. Belum maksimalnya 0,5 3 1,5
69

Pelaksanaan sentralisasi obat


2. Kurang maksimalnya 0,5 2 1
pengawasan dalam sentralisasi
obat

TOTAL 1 2,5

b. Eksternal factor (EFAS)


OPPORTUNITY O-T
1. Kerja sama yang baik 1 3 3 3-2=
antara perawat dan 1
mahasiswa S1
keperawatan
TOTAL 1 3
THREATENED 1 2 2
1. Adanya tuntunan pasien untuk
mendapatkan pelayanan yang
profesional

TOTAL 1 2
Supervisi
a. Internal Factor (IFAS)
STRENGTH S-W
1. Adanya observasi langsung 0.5 2 1 2,5-2=
dan tidak langsung 0,5
2. KARU mendukung kegitan 0.5 3 1,5
supervisi demi peningkatan
mutu pelayanan keperawatan
Total 1 2,5
WEAKNESS
1. Belum adanya 0,5 2 1
dokumentasi supervisi
yang jelas
2. Belum mempunyai format
0,5 2 1
yang baku dalam
pelaksanaan supervise

Total 1 2
b. Eksternal Factor (EFAS)
OPPORTUNITY

O-T
1. Adanya komunikasi yang 0.5 2 1 2.5-2=
70

baik dengan sesama 0.5


profesi keperawatan.
2. Adanya teguran dari kepala 0,5 3 1.5
ruangan bagi perawat yang tidak
melaksanakan tugas dengn baik
Total 1 2.5
THREATENED
1. Tuntutan pasien sebagai 1 2 2
konsumen untuk mendapatkan
pelayanan yang profesional
dan bermutu sesuai dengan
peningkatan biaya perawatan
TOTAL 1 2

Timbang Terima S-W


a. Internal Factor (INFAS) 3-4=-1
STRENGTH
1. Adanya laporan jaga setiap 0,4 3 1,2
shift.

2. Timbang terima sudah 0.3 3 0,9


merupakan kegiatan rutin yang
telah dilaksanakan
3. Adanya buku khusus untuk 0.3 3 0,9
laporan timbang terima

TOTAL 1 3
WEAKNESS
1. Pelaksanaan timabng terima
belum dilaksanakan secara 1 4 4
optimal

TOTAL 1 4
b. Eksternal factor ( EFAS)
OPPORTUNITY O-T
1. Adanya mahasiswa S1 0.3 3 0,9 2.1-3=
-0.9
keperawatan praktek
0.4 4 1.6
managemen
2. Adanya kerjasamyang baik
antara mahasiswa yang 0.3 2 0.6
praktek dengan perawat
ruangan
71

TOTAL 1 2.1
THREATENED 1 3 3
1. Adanya tuntunan yang lebi
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan yang lebih
profesional

TOTAL 1 3
Discharage Planning S-W
a. Internal factor (IFAS) 3.6-2=
STRENGTH 1.6
1. Discharge planning sudah 0.4 3 1,2
dilaksanakan dengan baik
dan sudah ada
pendokumentasian

2. Adanya dokumentasi rencana 0.3 4 1.2


keperawatan untuk pasien
pulang
3. Isi materi sudah mencakup :
Obat, control perawatan, diit 0.3 4 1.2
nutrisi, aktivitas dan istirahat
serta lanjutan perawatan
dirumah
TOTAL 1 3.6

WEAKNESS
1. Keterbatasan waktu untuk 1 2 2
pendidikan kesehatan
2. Pendidikan kesehatan belum
terdokumentasi
3. Pemberian penkes dilakukan
secara lisan (komunikasi)
saja

TOTAL 1 2
OPPORTUNITY (EFAS)
1. Adanya mahasiswa S1 0.3 4 1,2
Keperawatan yang
melakukan managemen
keperawatan

2. Adanya kerja sama yang baik 0.3 3 0,9


antra mahasiswa dengan
perawat klinik O-T
72

3. Adanya kemauan klien dan 0,4 2 0,8 2,9-2=


keluarga terhadap anjuran 0,9
perawat
TOTAL 1 2,9
THREATENED
1. Adanya tuntunan masyarakat 1 2 2
untuk mendapatkan
pelayanan yang lebih
professional
2. Makin tinngi kesadaran
masyarakat akan pentingnya
kesehatan

TOTAL 1 2

M4 (MONEY) Bobot Rating Bobot x Rating

Internal Factor (IFAS)


STRENGTH S-W =
1. Pengelolaan RS Brawijaya 0,2 4 0,8 3,5 – 3,3
Lawang di kelola oleh ? = 0,2
2. Pengadaan dana dan 0,3 4 1,2
operasional ruangan didapatan
dari yayasan GKJW, bekerja
sama dengan BPJS dan
Asuransi yang lain 0,5 3 1,5
3. Daftar biaya perawatan dan
tariff ruangan perawat sudah
tertera

Total 1 3,5
WEAKNESS
0,3 4 1,2
1. Administrasi ruangan belum
ada per ruangan dan terlaksana. 0,7 3 2.1
2. Belum secara sepenuhnya atau
optimal pemanfaatkan lahan
RS yang masih luas

Total 1 3,3
External Factor Analysis Strategi
(EFAS)
OPPORTUNITY O-T =
1. Adanya kerja sama dengan 0,3 4 1,2 3,3-3=
73

pihak asuransi 0,3


2. Tersedianya dana untuk 0,7 3 2,1
operasional ruangan

Total 1 7 3,3
THREATENED
1. Adanya tuntutan yang lebih 1 3 3
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
kesehatan yang lebih
professional sehingga
membutuhkan pendanaan yang
lebih besar untuk menandai
sarana dan prasarana
Total 1 3

M5 (MARKET) Bobot Rating Bobot x Rating

Internal Factor (IFAS)


STRENGTH S-W =
1. Masyarakat bisa menggunakan 0,3 3 0,9 2,6- 2=
BPJS dan asuransi lainya yang 0,6
telah bekerjasama dengan RS
brawijaya lawang
2. System pemsaran dilakukan 0,3 3 0,9
secara broadcasting
3. Rata-Rata BOR cukup baik 0,4 2 0,8

Jumlah 1 2,6
WEAKNESS
1. Dari jumlah pasien terbanyak
ternyata pasien dari kabupate 1 2 2

Jumlah 1 2
External Factor Analysis Strategi
(EFAS)
OPPORTUNITY O-T
1. Adanya mahasiswa Profesi 0,5 3 0,3 1,8-2,5=-
Ners Stase Manajemen STIKes 1,5
Husada Jombang
2. Adanya kerjasama antara 0,5 3 1,5
perawat dan mahasiswa
praktikan
Jumlah 1 1,8
THREATENED
74

1. Adanya persaingan RS dalam 0,5 2 1


memberikan pelayanan
2. Adanya peningkatan standar
masyarakat yang harus 0,5 3 1,5
dipenuhi
Jumlah 1 2,5

4.2 Diagram Layang

BAB V
PERENCANAAN

5.1 Pengorganisasian
Untuk efektifitas pelaksanan Model Asuhan Keperaawatan Profesional
adalah menentukan kebijakan-kebijakan internal yang sifatnya umum kelompok
menyusun organisasi sebagai berikut:
Ketua : Jalaluddin [Link]
Wakil : Supardi [Link]
Sekretaris : Ita Nuriyanti [Link]
Bendahara : Ansari Nurul Quddusi [Link]
Anggota klompok :
a) Agus Habibi [Link]
b) Ahyar Rosidi [Link]
c) Andiani Masra Waiola [Link]
75

d) Cintami Pricilia Wally [Link]


e) Dandara Sikoda [Link]
f) Dedy Firmansyah [Link]
g) Dorince Yulia Lindy Malo [Link]
h) Kristiana Maria Daima [Link]
i) M. Diki Wahyudi [Link]
j) Roni Putra Andani [Link]
k) Sapri Rosadi [Link]
l) Sriwati Ina Tanggela [Link]
m) Triyo Priyantono [Link]

Adapun dalam pengolahan ruang yordan maka diselenggarakan


pengorganisasian dengan pembagian peran sebagai berikut:
1. Kepala ruangan
2. Kepala tim
3. Perawat primer
4. Perawat associate

Pembagian peran ini secara rinci akan dilampirkan setelah pelaksanaan


Model Asuhan Keperawatan Profesional di ruangan yordan.

5.1.1 Strategi Kegiatan


[Link] Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
Setelah dilakukan analisah masalah dengan menggunakan
pendekatan analisa swot, kelompok menerapkan Model Asuhan
Keperawatan Profesional yaitu Modifikasi Tim.
Model MAKP Modifikasi Tim digunakan secara sistem.
Menurut sitorus (2002) penetapan model MAKP ini didasarkan pada
beberapa alasan berikut:
1. Keperawatan tim tidak digunakan secara murni, karena tanggung
jawab asuhan keperawatan pasien terfrakmentasi pada berbagai
tim.
76

Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan


keperawatan dimana seorang perawat profesional memimpin
sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan
keperawatan kelompok klien melalui upaya kooperatif dan
kolaburatif (Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada
keyakinan bahwa setiap anggota kelompok mempunyai
kontribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan
keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab
perawat yang tinggi sehingga diharapkan mutu asuhan
keperawatan meningkat.
Berikut sistem pemberian asuhan keperawatan TIM

Kepala Ruangan

Perawat Primer Perawat Primer Perawat Primer

Perawat Asosiet Perawat Asosiet Perawat Asosiet

Pasien/Klien Pasien/Klien Pasien/Klien

Gambar 1: sistem pemberian asuhan keperawatan tim nursing (marquis


dan huston, 1998: 138)
Kelebihan:
1. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh.
2. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.
3. Memungkinkan komunikasi antartim, sehingga konflik mudah di
atasi dan memberi kepuasan kepada anggota tim.
Kelemahan:
Komunikasi antar anggota tim terbentuk terutama dalam bentuk
konferensi tim, yang biasanya membutukan waktu, yang sulit untuk
dilaksanakan pada waktu-waktu sibuk.
77

5.1.2 Job Description Model Praktek Keperawatan Tim.


[Link] Metode TIM
1. Konsep Metode Tim:
a) Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu
menggunakan berbagai teknik kepemimpinan.
b) Pentingnya komunikasi yang efektif agar kontinuitas
rencana keperawatan terjamin.
c) Anggota tim harus menghargai kepemimpinan ketua
tim.
d) Peran kepala ruang penting dalam model tim, model tim
akan berasil bila didukung oleh kepala ruang.
2. Tanggung jawab anggota tim:
a) Memberikan asuhan keperawatan pada pasien di bawah
tanggung jawabnya.
b) Kerjasama dengan anggota tim dan antar tim.
c) Memberikan laporan
3. Tanggung ketua tim:
a) Membuat perencanaan
b) Membuat penugasan, supervisi dan evaluasi
c) Mengenal atau mengetahui kondisi pasien dan dapat
menilai tingkat kebutuhan pasien
d) Mengembangkan kemampuan anggota
e) Menyelenggarakan konferensi
4. Tanggung Jawab Kepala Ruang:
1) Perencanaan:
a. Menunjuk ketua tim yang akan bertugas di ruangan
masing-masing.
b. Mengikuti serah terima pasien pada shift
sebelumnya
c. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan pasien :
gawat, transisi dan persiapan pulang bersama ketua
tim.
78

d. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan


berdasarkan aktivitas dan kebutuhan pasien
bersama ketua tim, mengatur penugasan atau
penjadwalan
e. Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan
f. Mengikuti visite dokter untuk mengetahui kondisi,
patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan,
program pengobatan, dan mendiskusikan dengan
dokter tentang tindakan yang akan dilakukan
terhadap pasien.
g. Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan
termasuk kegiatan membimbing pelaksanaan
asuhan keperawatan, membimbing penerapan
proses keperawatan dan menilai asuhan
keperawatan, mengadakan diskusi untuk
memecahkan masalah, serta memberikan informasi
kepada pasien atau keluarga yang baru masuk.
h. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan
latihan diri
i. Membantu membimbing peserta didik keperawatan
j. Menjaga terwujudnya visi & misi keperawatan dan
rumah sakit
2) Pengorganisasian
a. Merumuskan metode penugasan yang digunakan
b. Merumuskan tujuan metode penugasan
c. Membuat rincian tugas ketua tim dan anggota tim
secara jelas
d. Membuat rentang kendali, kepala ruangan
membawahi 2 ketua tim, dan ketua membawahi 2-3
perawat
79

e. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan:


membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada
setiap hari dan lain – lain.
f. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan
g. Mengatur dan mengendalikan situasi tempat praktik
h. Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak
berada di tempat kepada ketua tim
i. Memberi wewenang kepada tata usaha untuk
mengurus administrasi pasien
j. Mengatur penugasan jadwal post dan pakarnya
k. Identifikasi masalah dan cara penanganannya
3) Pengarahan
a. Memberikan pengarahan tentang penugasan kepada
ketua tim
b. Memberi pujian kepada anggota tim yang
melaksanakan tugas dengan baik
c. Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan,
ketrampilan, dan sikap
d. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting
dan berhubungan dengan asuhan keperawatan pada
pasien
e. Melibatkan bawahan sejak awal hingga akhir
kegiatan
f. Membimbing bawahan yang mengalami kesulitan
dalam melaksanakan tugasnya
g. Meningkatkan kolaborasi dengan tim lain
4) Pengawasan
a. Melalui komunikasi: mengawasi dan berkomunikasi
langsung dengan ketua tim maupun pelaksana
mengenai asuhan keperawatan yang diberikan
kepada pasien
b. Melalui supervisi :
80

 Pengawasan langsung dilakukan dengan cara


inspeksi, mengamati sendiri, atau melalui laporan
langsung secara lisan dan memperbaiki
mengawasi kelemahan-kelemahan yang ada saat
itu juga
 Pengawasan tindak langsung, yaitu mengecek
daftar hadir ketua tim, membaca dan memeriksa
rencana keperawatan serta catatan yang dibuat
selama dan sesudah proses keperawatan
dilaksanakan (didokumentasikan), mendengar
laporan ketua tim tentang pelaksanaan tugas
 Evaluasi
 Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan
membandingkan dengan rencana keperawatan
yang telah disusun bersama ketua tim
 Audit keperawatan

5.2 Persiapan Pelaksanaan MAKP


5.2.1 Model Asuhan Keperawatan Profesional (MAKP)
Penanggung jawab:
1. M. Azroi, S. Kep : Kepala Ruang
2. Fatoni, S. Kep : Perawat Primer
3. Ahmad indrayani, S. Kep : Perawat Associate
4. Mansur, S. Kep : Perawat Associate
5. Lalu Sundra, S. Kep : Perawat Associate
6. Nenin Utami, S. Kep : Pos
7. Tutut Lestari, S. Kep : Pos
Pelaksanaan : 03 Mei 2017
Tujuan : Diharapkan setelah dilakukan praktek
manajemen oleh mahasiswa STIKES HUSADA JOMBANG, ruang yordan mampu
menerapkan MAKP Modifikasi Tim secara optimal.
Rencana strategi :
81

1) Mendiskusikan bentuk dan penerapan model asuhan keperawatan


profesional (MAKP) yang dilaksanakan yaitu Modifikasi Tim.
2) Merencanakan kebutuhan tenaga perawat.
3) Melakukan pembagian peran perawat.
4) Menentukan deskripsi tugas dan tanggung jawap perawat.
5) Melakukan pembagian jadwal serta pembagian tenaga perawat.
6) Menerapkan model MAKP yang direncanakan.
5.2.2 Timbang Terima Keperawatan
Penanggung jawab :
1. Wahyuni Fitri K [Link] : Kepala Ruangan
2. Muksin, S. Kep : Perawat Primer
3. Muhammad Afrizal, S. Kep : Perawat Associate
4. Mahrun, S. Kep : Perawat Associate
5. Akhmad Tahir, S. Kep : Perawat Associate
6. Sri Wahyuningsih [Link] : Pos
7. Fefi Rita Indah H [Link] : Pos
Pelaksanaan : Rabu, 3 Mei 2017
Timbang terima pasien (operan) merupakan teknik atau cara
untuk menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan
dengan keadaan pasien. Timbang terima pasien harus di lakukan
seefektif mungkin dengan menjelaskan secara singkat, jelas, dan lengkap
tentang tindakan mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah di
lakukan atau belum, dan perkembangan pasien saat itu. Informasi yang di
sampaikan harus akurat sehingga kesinambungn asuhan keperawatan
dapat berjalan dengan sempurna. Timbang terima di lakukan oleh
perawat primer keperawatan kepada perawat primer (penanggung jawab)
dinas malam secara tertulis dan lisan.
1. Tujuan
1) Tujuan Umum
 Mengkomunikasikan keadaan pasien dan menyampaikan
keadaan yang penting.
 Meningkatkan kemampuan komunikasi antara perawat.
82

 Menjalin kerjasama dan bertanggung jawab antar perawat.


 Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien yang
berkesinambungan.
 Perawat dapat mengikuti perkembangan pasien secara
paripurna.
2. Evaluasi
1) Struktur (Input)
Pada timbang terima sarana dan prasarana yang menunjang
telah tersedia antara lain: catatan timbang terima, status klien dan
kelompok shift timbang terima. Kepala ruangan selalu memimpin
kegiatan timbang terima yang dilaksanakan pada pergantian shift,
yaitu pagi ke sore dan sore ke malam. Kegiatan timbang pada shift
sore ke malam dipimpin oleh perawat primer yang bertugas saat
itu.
2) Proses
Proses timbang terima dipimpin oleh kepala ruang dan
dilaksanakan oleh seluruh perawat yang bertugas maupun yang
akan mengganti shift. Perawat primer mengoperkan ke perawat
primer berikutnya yang akan mengganti shift. Timbang terima
pertama dilakukan di nurse station kemudian ke ruang perawatan
pasien dan kembali ke nurse station. Isi timbang terima
mencangkup jumlah pasien, diagnosis keperawatan, intervensi dan
implementasi yang belum dan yang sudah dilakukan. Waktu untuk
setiap pasien tidak lebih dari lima menit saat klarifikasi ke pasien.
Setelah pelimpahan tugas dari perawat primer pagi ke perawat
primer sore. Katim, PP, PA pagi wajib tanda tangan pelimpahan
tugas dari pagi ke sore dan sebaliknya Katim, PP, PA sore wajib
bertanda tangan penerimaan tugas-tugas yang dilimpahkan.
3) Hasil
Timbang terima dapat dilaksanakan setiap pergantian shift.
Setiap perawat dapat mengetahui perkembangan pasien.
Komunikasi antar perawat berjalan dengan baik.
83

4) Alur Timbang Terima

5.2.3 Sentralisasi Obat


Penanggung Jawab :
1. M. Azroi, S. Kep : Kepala Ruang
84

2. Fatoni, S. Kep : Katim


3. Mansur, S. Kep : Perawat Primer
4. Ahmad Indrayani, S. Kep : Perawat Associate
5. Lalu Sundera, S. Kep : Perawat Assiciate
6. Neni Utami. S. Kep : POS
7. Tutut Lestari, S. Kep : POS
Pelaksanaan : Rabu, 3 Mei 2017
Kegiatan sentralisasi obat dilaksanakan pada minggu ketiga selama
mahasiswa praktek di Ruang Yordan. Ruangan yang digunakan dalam
mengelola sentralisasi obat adalah ruang nurse station dan ruang
perawatan.
Teknik pengelolaan sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana
seluruh obat yang diberikan kepada pasien baik obat oral maupun obat
injeksi diserahkan sepenuhnya kepada perawat. Penanggung jawab
pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara operasional dapat
didelegasikan kepada staf yang ditunjuk. Pengeluaran dan pembagian
obat tersebut dilakukan oleh perawat dimana pasien atau keluarga wajib
mengetahui, ikut mengontrol penggunaan obat dan menandatangani
lembar STP yang dibawa perawat setiap pemberian obat.
1) Penerimaan obat
a. Resep obat dari dokter yang diserahkan pada klien atau keluarga
diberikan pada depo farmasi. Obat yang telah diresepkan
kemudian disediakan oleh depo farmasi ruangan dan disimpan.
b. Obat diberikan pada perawat oleh petugas farmasi dengan model
ODD (One Day Dose). Obat yang telah diterima oleh perawat
dicatat di format serah terima obat dan format pemberian obat oral
dan injeksi yang meliputi, identitas klien, no. reg, diagnosa medis,
nama obat, dosis, rute pemberian, tanggal penerimaan dan jumlah
obat yang diterima dan kemudian diberikan paraf. Kolom paraf
pada format pemberian obat ditanda tangani oleh perawat dan
keluarga pasien. Sementara kolom paraf di format serah terima
obat ditanda tangani oleh perawat dan petugas farmasi.
85

c. Kemudian obat yang sudah diterima disimpan di dalam lemari


obat dan dikelola oleh perawat.
2) Pembagian obat
a. Obat-obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh
perawat dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam format
pemberian obat oral atau injeksi dengan terlebih dahulu
dicocokkan dengan terapi yang diinstruksi dokter (status rekam
medik).
b. Sebelum obat diberikan pada pasien, sebelumnya perawat harus
melakukan cross check dengan perawat lain untuk meminimalkan
kesalahan dalam pemberian obat. Kemudian perawat menjelaskan
macam obat, manfaat, dosis obat, cara pemberian, kontra-indikasi
dan jumlah obat pada klien atau keluarga. Usahakan tempat obat
kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi oleh klien dan
observasi adanya efek samping setelah minum obat. Kemudian
perawat yang memberikan obat dan melakukan cross check obat
membubuhkan tanda-tangan pada kolom paraf.
c. Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap shift oleh
perawat yang bertugas berdasarkan format pemberian obat. Obat
yang hampir habis akan diinformasikan oleh depo farmasi kepada
perawat dan kemudian oleh perawat akan dimintakan resep kepada
dokter penanggung jawab klien.
3) Penambahan Obat Baru
a. Bilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau
jadwal pemberian obat, maka informasi ini akan dimasukkan
dalam format pemberian obat oral atau injeksi dan diinformasikan
pada depo farmasi.
b. Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu saja),
maka dokumentasi dilakukan pada format pemberian obat oral
atau injeksi.
4) Obat Khusus
86

a. Obat disebut khusus apabila sediaan yang memiliki harga yang


cukup mahal, memiliki jadwal pemberian yang cukup sulit,
memiliki efek samping yang cukup besar atau hanya diberikan
dalam waktu tertentu atau sewaktu saja.
b. Pemberian obat khusus dilakukan dengan menggunakan format
pemberian obat oral atau injeksi khusus untuk obat tersebut dan
dilakukan oleh perawat primer.
c. Informasi yang diberikan kepada klien atau keluarga meliputi
nama obat, kegunaan obat, waktu pemberian, efek samping,
penanggung jawab pemberian dan tempat obat, sebaiknya
diserahkan atau ditunjukkan kepada keluarga setelah pemberian
obat. Usahakan terdapat saksi dari keluarga pada saat pemberian
obat.
5) Pengembalian Obat
Bila klien pulang atau pindah ruangan dan obat masih ada sisa
maka obat dikembalikan kepada klien atau keluarga dengan
ditandatangani oleh klien atau keluarga serta tanggal dan waktu
penyerahan.
Persiapan Sentralisasi Obat
Penanggung Jawab : Mansur, S. Kep
Tujuan :
Mampu melaksanakan peran katim dalam pengelolaan
sentralisasi obat dan mendokumentasikan hasil pengelolaan
sentralisasi obat dengan benar.
Rencana Strategi :
1) Melakukan persiapan sentralisasi obat meliputi informed consent,
format serah terima obat dan format pemberian obat oral/ injeksi.
2) Melaksanakan sentralisasi obat berkolaborasi dengan dokter dan
bagian farmasi.
3) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan pengelolaan sentralisasi
obat.
5.2.4 Ronde Keperawatan
87

Penanggung jawab :
1. M. Azroi, S. Kep : Kepala Ruang
2. Ahmad I, S. Kep (Malam) : Katim
3. Mahrun, S. Kep (Malam) : Perawat Primer
4. L. Sundera, S. Kep (Malam) : Perawat Associete
5. Wahyulu F, S. Kep (Pagi) : Katim
6. M. Afrizal, S. Kep (Pagi) : Perawat Primer
7. A. Tahir, S. Kep (Pagi) : Perawat Associete
Pelaksanaan : Sabtu, 6 Mei 2017
Ronde keperawatan merupakan suatu sarana bagi perawatan baik
perawat primer maupun perawat associate untuk membahas masalah
keperawatan dengan melibatkan klien dan seluruh tim keperawatan
termasuk konsultan keperawatan. Ronde keperawatan juga merupakan
suatu proses belajar bagi perawat dengan harapan dapat meningkatan
kemampuaan kognitif, afektif, dan psikomotor. Kepekaan dan cara
berfikir perawat secara kritis akan tumbuh dan terlatih melalui suatu
transfer pengetahuan dan pengaplikasian konsep teori secara langsung
pada kasus nyata.
Ronde keperawatan adalah kegiatan yang bertujuan untuk
mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat
dengan melibatkan pasien untuk membahas dan melaksanakan asuhan
keperawatan. (Nursalam, 2002).
Kriteria klien yang dilakukan ronde :
Pasien dapat dipilih untuk melakukan ronde keperawatan adalah
pasien yang memiliki kriteria sebagai berikut:
1) Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun
sudah dilakukan tindakan keperawatan.
2) Pasien dengan kasus baru atau langka
Karakteristik :
1) Pasien dilibatkan secara langsung
2) Pasien merupakan fokus kegiatan.
3) Karu,PP, PA dan konselor melakukan diskusi
88

4) Konselor memfasilitasi kreatifitas.


5) Konselor membantu mengembangkan kemampuan Katim dan PA
dalam meningkatkan kemampuan mengatasi masalah.
Tujuan :
1) Menumbuhakan cara berfikir kritis dan sistematis dalam pemecahan
masalah keperawatan klien.
2) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien.
3) Meningkatkan kemampuan validasi data pasien.
4) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa keperawatan.
5) Meningkatkan kemampuan justifikasi.
6) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.
7) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan.
1. Peran Masing-Masing Anggota Tim
1) Peran Perawat Primer dan Perawat Assosiate
h. Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien.
i. Menjelaskan diagnosis keperawatan
j. Menjelaskan intervensi yang dilakukan
k. Menjelaskan hasil yang didapat
l. Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil
m. Menggali masalah-masalah pasien yang belum terkaji
2) Peran Perawat Konselor
a. Memberikan justifikasi
b. Memberikan reinforcement
c. Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi
keperawatan serta rasional tindakan
d. Mengarahkan dan koreksi
e. Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari
2. Langkah-Langkah Kegiatan Ronde Keperawatan
89

Tahap Pra PP

1. Penetapan pasien

Tahap Pelaksanaan-
di Nurse Station
2. persiapan pasien:
 Informed consent
 Hasil pengkajian/
validasi data

Tahap Pelaksanaan
di kamar pasien
 Apa diagnosis
3. penyajian keperawatan?
Pascaronde masalah
 Apa data yang
(Nurse Station)
mendukung?
 Bagaimana intervensi
yang sudah dilakukan?
 Apa hambatan
ditemukan?
4. validasi data di bed
pasien

PP, konselor,
KARU

6. kesimpulan dan
rekomendasi solusi 5. Lanjutan-
Diskusi di Nurse
90

3. Keterangan Langkah-langkah Ronde keperawatan


1) Pra ronde
a. Menentukan kasus dan topik
b. Menentukan tim ronde
c. Mencari sumber atau literatur
d. Membuat proposal
e. Mempersiapkan pasien (inform konsent dan pengkajian)
2) Pelaksanaan ronde
a. Penjelasan tentang pasien oleh perawat primer yang difokuskan
pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan
dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan.
b. Diskusi antar anggota tim tentang kasus tersebut
c. Pemberian justifikasi oleh perawat primer atau konselor atau
kepala ruangan tentang masalah pasien serta rencana tindakan
yang akan dilakukan
3) Pasca ronde
a. Evaluasi, revisi, dan perbaikan
b. Kesimpulan dan rekomendasi penegakkan diagnosis, intervensi
keperawatan selanjunya.
c. Persiapan ronde keperawatan :
Tujuan : Setelah dilakukan praktek manajemen keperawatan,
diharapkan di ruangan Yordan mampu menerapkan
rode keperawatan secara optimal.
91

d. Rencana strategi :
1) Menentukan klien yang akan dijadikan subyek dalam ronde
keperawatan
2) Menentukan strategi ronde keperawatan yang akan dilakukan
3) Menentukan materi dalam pelakaanaan ronde Keperawatan
4) Menyiapkan petunjuk teknis pelaksanaan ronde
keperawatan.
5) Melaksanakan ronde keperawatan bersama-sama kepala
ruangan dan staf keperawatan
6) Mendokumentasikan hasil pelaksanaan ronde keperawatan.

5.2.5 Discharge planning


Penanggung Jawab :
1. Mansur, S. Kep : Kepala Ruangan
2. L. Sundera, S. Kep : Katim
3. Fatoni, S. Kep : Perawat Primer
4. A. Indrayani, S. Kep : Perawat Associete
5. M. Azroi, S. Kep : Perawat Associete
Pelaksanaan : Kamis, 04 Mei 2017
1. Latar Belakang
Asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien dilakukan
secara berkesinambungan sampai dengan pasien pulang. Untuk itu
diperlukan adanya suatu perencanaan klien pulang (Discharge
planning), yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian klien
dalam melakukan perawatan di rumah serta dapat meningkatkan
pengetahuan, sikap dan ketrampilan dalam memperbaiki dan
mempertahankan status kesehatan. Dalam pelaksanaan dan
pendokumentasian perencanaan pulang diperlukan komunikasi yang
efektif dan tepat antara klien dan perawat sehingga diharapkan tujuan
dari discharge planning dapat tercapai.
Discharge planning merupakan suatu proses terintegrasi yang
terdiri dari fase-fase yang ditujukan untuk memberikan asuhan
keperawatan yang berkesinambungan (Raden dan Tafft, 2010).
92

Perencanaan pasien pulang bertujuan untuk memandirikan pasien


saat di rumah. Dalam pelaksanaan dan pendokumentasian
perencanaan pulang diperlukan komunikasi yang efektif dan tepat
antara pasien dan perawat sehingga diharapkan tujuan dari discharge
planning dapat tercapai.
Fokus discharge planning adalah masalah pasien, yaitu
pencegahan, terapeutik, rehabilitatif, serta perawatan rutin yang
sebenarnya. Dengan dilaksanakannya discharge planning, diharapkan
pasien dan keluarga memiliki kesiapan fisik, psikologis dan sosial
terhadap kesehatannya, tercapainya kemandirian pasien dan keluarga,
terlaksananya perawatan pasien yang berkelanjutan, ketrampilan dan
sikap pasien serta keluarga menjadi meningkat dalam memperbaiki
dan mempertahankan status kesehatan pasien. Selebihnya discharge
planning diharapkan dapat mendukung upaya mengurangi angka
kekambuhan dan komplikasi.

2. Tujuan
1) Tujuan Umum
Setelah dilaksanakan praktik manajemen keperawatan diharapkan
mahasiswa mampu menerapkan discharge planning.
2) Tujuan Khusus
a. Mengkaji kebutuhan rencana pemulangan
b. Mengidentifikasi masalah pasien
c. Memprioritaskan masalah pasien yang utama
d. Membuat perencanaan pasien pulang yaitu mengajarkan pada
pasien perawatan di rumah
e. Melaksanakan Health Education pada pasien dan keluarga
tentang perawatan di rumah
f. Melakukan evaluasi pada pasien selama diberikan penyuluhan
g. Mendokumentasikan discharge planning
3) Manfaat
93

1) Bagi Pasien
a. Meningkatkan kemandirian pasien dalam melakukan
perawatan di rumah setelah pulang dari rumah sakit
b. Meningkatkan kemampuan pasien dalam kesiapan
melakukan perawatan di rumah
c. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan pasien
dalam memperbaiki dan mempertahankan status
kesehatannya
2) Bagi Mahasiswa Perawat
a. Terjadinya pertukaran informasi antara mahasiswa
manageman STIKES HUSADA JOMBANG sebagai
perawat dan pasien sebagai penerima pelayanan
b. Mengevaluasi pengaruh intervensi yang terencana dalam
discharge planning pada penyembuhan pasien
c. Meningkatkan kualitas perawatan secara berkelanjutan
pada pasien saat di rumah
d. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam mengkaji
kebutuhan pasien secara komprehensif untuk menentukan
perencanaan pulang bagi pasien secara tepat
e. Membantu mahasiswa dalam mengembangkan ilmu yang
dimiliki serta mengaplikasikannya
Perencanaan pelaksanaan discharge planning
adalah suatu dokumentasi untuk menyelesaikan maslah,
tujuan dan intervensi pasien yang akan pulang dan asuhan
keperawatan saat pasien dirumah.
3) Langkah-Langkah Dalam Perencanaan Pulang
1) Pra Discharge Planning
a. Perawat primer mengidentifikasikan pasien yang
direncanakan untuk pulang
b. Perawat primer melakukan identifikasi kebutuhan
pasien yang akan pulang
c. Perawat primer membuat perencanaan pasien pulang
94

d. Melakukan kontrak waktu dengan pasien dan keluarga


2) Tahap Pelaksanaan Discharge Planning
a. Menyiapkan pasien dan keluarga, peralatan, status,
kartu dan lingkungan
b. Perawat primer dibantu perawat associate melakukan
pemeriksaan fisik sesuai kondisi pasien
c. Perawat primer memberikan pendidikan kesehatan
yang diperlukan pasien dan keluarga untuk perawatan
dirumah tentang: aturan diet, obat yang harus
diminum di rumah, aktivitas, yang harus dibawa
pulang, rencana kontrol, yang perlu di bawa saat
kontrol, prosedur kontrol, jadwal pesan khusus
d. Perawat primer memberikan kesempatan kepada
pasien dan keluarga untuk mencoba
mendemonstrasikan pendidikan kesehatan yang telah
diajarkan.
e. Perawat primer memberikan kesempatan kepada
pasien dan keluarga untuk bertanyabila belum
mengerti
3) Tahap Post Pelaksanaan Discharge Planning
a. Karu melakukan evaluasi terhadap perencanaan
pulang
b. Karu memberikan reinforcement atau reward kepada
pasien dan keluarga jika dapat melakukan dengan
benar apa yang sudah dilaksanakan
c. Follow up
4) Penerapan Discharge Planing
Penanggung jawab : Mansur, S. Kep
Tujuan : Setelah dilaksanakan praktek manajemen
keperawatan, diharapkan mahasiswa mampu
mengaplikasikan discharge planning dengan
benar.
95

Waktu : Sabtu, 6 Mei 2017


Rencana strategi :
a. Menentukan penanggung jawab discharge planning
b. Menentukan materi discharge planning
c. Menentukan klien yang akan diajak subyek discharge
planning
d. Menentukan jadwal pelaksanaan discharge planning
e. Melaksanakan discharge planning
5) Kriteria Evaluasi
1) Evaluasi struktur
a. Persiapan pasien, peralatan, status, kartu dan
lingkungan
b. Penyusunan struktur pelaksanaan discharge
planning

2) Evaluasi proses
a. Discharge planning dilaksanakan pada semua
pasien pulang
b. Materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan
klien
3) Evaluasi hasil
a. Terdokumentasinya pelaksanaan pasien pulang
Pasien dan keluarga dapat mengetahui
perawatan dirumah tentang : aturan diet, obat yang
harus diminum dirumah, aktivitas, yang harus
dibawa pulang, rencana kontrol, yang prlu dibawa
saat kontrol, jadwal pesan khusus.
5.2.6 Dokumentasi Keperawatan
Dokumentasi keperawatan merupakan salah satu pilar utama
dalam pelaksanaan MAKP. Untuk itu kelompok kami mencoba untuk
membuat suatu model pendokumentasian yang aplikatif dan efektif.
96

Kelompok kami merencanakan pendokumentasian yang mengacu pada


Data Aktion dan Respon (DAR). Secara garis besarnya model
pendokumentasian ini terdiri dari format pengkajian klien dan catatan
tambahan (observasi vital sign dan keseimbangan cairan). Setiap klien
dilakukan pengkajian oleh PP kemudian di analisa. Setelah diagnosa
keperawatan ditegakkan kemudian dituliskan pada lembar perkembangan
klien dan dituliskan rencana intervensi. Pada lembar perkembangan
tersebut tersedia juga kolom tindakan, jadi setiap melakukan tindakan
dituliskan oleh PA dengan mencantumkan waktu dan menuliskan respon
klien. Untuk observasi tanda vital, pemberian obat ditulis di lembar
tambahan oleh PA. Bagian dari dokumentasi keperawatan :
1. Format pengkajian khusus jantung dengan menggunakan format
pengakjian persistem dengan prioritas B1 dan B2.
2. Lembar dokumentasi keperawatan dengan system DAR, berisi
tentang
a. Nama klien
b. Umur klien
c. Jenis kelamin
d. Kamar, nomor tempat tidur
e. Nomor register
f. Diagnosa keperawatan
g. Tujuan keperawatan
h. Kolom nomor
i. Kolom Tanggal
j. Kolom data
k. Kolom action yang berisi rencana dan tindakan
l. Kolom respon
m. Kolom tanda tangan
3. Teknik Pengisian Lembar Dokumentasi Keperawatan
1) Format pengkajian
Pengkajian ini dilakukan secara komprehensip dengan
mengutamakan pengkajian B1 dan B2
97

2) Lembar Dokumentasi Keperawatan


b. Pengisian nama, umur, jenis kelamin, nomor tempat tidur,
dan nomor register klien
c. Tiap lembar diisi satu diagnosa sekaligus tujuannya.
3) Kolom data
Diisi dengan data subyektif dan data obyektif sesuai dengan
diagnosa keperawatan
4) Kolom action
Kolom ini terdapat 3 bagian, yaitu perencanaan,waktu tindakan,
dan tindakan.
5) Kolom rencana
Dituliskan perencanaan keperawatan sesuai dengan diagnosa
keperawatan yang dibuat oleh perawat primer. Penulisan rencana
keperawatan sesuai dengan SAK.
6) Kolom Jam
Dituliskan waktu pelaksanaan tiap rencana keperawatan, diisi
oleh PA.
7) Kolom Tindakan
Dituliskan nomor rencana keperawatan yang dilaksanakan. Diisi
oleh PA
8) Kolom Tindakan
Tanda tangan diisi oleh PP dan PA yang melaksanakan tindakan.
9) Lembar Evaluasi Akhir
Dituliskan evaluasi akhir sesuai dengan tujuan.
10) Persiapan Pendokumentasian
Penanggung Jawab : Ahmad Indrayani, S. Kep
Deskripsi : Yang perlu dipersiapkan antara lain bentuk system
dokumentasi keperawatan, format pengkajian, format
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi proses keperawatan.
Termasuk dalam persiapan meliputi penyiapan petunjuk teknis
pengisian format dan atau pendokumentasian
5.2.7 Supervisi Keperawatan
98

Penanggung jawab :
1. Ayu Nurliana, S. Kep : Kepala Ruangan
2. Ahmad Fathi, S. Kep : Perawat Primer
3. Gantar Segara, S. Kep : Perawat Associate
4. Hendri, [Link] : Perawat Associate
Pelaksanaan : Kamis, 04 Mei 2017
Tujuan :Setelah dilakukan praktik manajemen
keperawatan diharapkan ruangan teratai mampu
menerapkan supervise keperawatan dengan
optimal.
Rencana strategi :
1. Menyusun konsep supervise keperawatan
2. menentukan mater isupervisi keperawatan
3. menyiapkan format supervise
4. melaksanakan supervise keperawatan bersama-sama perawat
ruangan
5. mendokumentasikan hasil pelaksanaaan supervisi

secara teori, supervise keperawatan adalah salah satu


fungsi pokok manager berupa proses pemerian sumber-sumber
yang dibutuhkan perawat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang
mencapai tujuan, meliputi:
 langkah-langkah supervise
 prinsip supervise
 peran dan fungsi supervise
 tugas supervise.
 teknik supervise.
 manfaat supervise
99

1. Alur Supervise
Kepala bidang
perawatan

Kepala per IRNA

pra Menetapkan kegiatan dan Kepala per IRNA


tujuan serta instrument/alat
ukur
KEPALA
RUANGAN

Menilai kinerja perawat:


pelaksanaan responsibility-
Accountablity-Authorithy( PP1 PP 2
R-A-A)

PA PA
PEMBINAAN
 Penyampaian penilaian
pasca  Umpan balik
 Tindak lanjut (
Kinerja perawat dan
pemecahan masalah dan
kualitas pelayanan
reward)

Keterangan: supervisi
2. Langkah-langkah supervise:

a. pra supervise
100

 supervisor menetapkan kegiatan yang akan disupervisi


 supervisor menetapkan tujuan supervise
b. supervise
 supervisor ikut mendokumentsikaan kegiatan pelayanan
bersama pp dan PA
 supervisor meneliti dokumentasi status pasien
 supervisor mendapatkan hal-hal yang perlu dilakukan
pembinaan
 supervisor memanggil PA dan PP yang perlu dilakukan
pembinaaan
 supervisor mengklasifikasin permasalahan yang ada
 supervisor menentukan masukan kepada PP dan PA
c. evaluasi
 supervisor mengevaluasi hasil bimbingan
 supervisor memberikan reward atau umpan balik kepada
PP dan PA

3. Prinsip Supervise

1) supervisi dilakukan sesuai struktur organisasi


2) supervisi memerlukan pengetahuan dan keterampilan dasar
manajemen, kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan
kepemimpinan
3) fungsi supervise diuraikan dengan jelas, terorganisir sesuai
standar
4) supervise merupakan proses kerjasama yang demokrasi antara
supervisor dan perawat pelaksana
5) supervise menerapkan visi, misi, falsafah, tujuan dan rencana
yang spesifik
6) supervise menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi
efektif, kreativitas dan motivasi.
7) supervise menciptakan lingkungan yang kondusif, komunikasi
efektif, kreativitas dan motivasi.
101

8) supervise mempunyai tujuan yang berhasil guna dan berdaya


guna dalam pelayanan keperawatan yang member kepuasan
klien ,perawat dan manajer

4. fungsi dan peran supervisi

fungsi dan peran supervisor khususnya dalam supervise


keperawatan mempertahankan keseimbangan manajemen
pelayanan keperawatan, manajemen sumberdaya, dan manajemen
anggaran yang tersedia.
Manajemen pelayanan keperawatan meliputi: mendukung
pelayanan keparawatan, rencana program keperawatan,
implementasi dan evaluasi keperawatan.
5. tugas supervisor

 mempertahankan standar praktik keperawatan


 menilai asuhan keperawatan yang diberikan
 mengembangkan peraturan dan prosedur pelayanan
keperawatan, kerja sama dengan tenaga kesehatan lain
 mementapkan kemampuan perawat
 memestikan asuhan keperawatan professional dilaksanakan

6. Teknik Supervise

1) Secara Langsung

supervise dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang


berjalan. Supervisor terlibat dalam kegiatan, memberikan
reward dan perbaikan.
Prosesnya:
 perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu tindakan
keperawatan didampingi supervisor
 selama proses, supervisor member dukungan, reinforcement
dan petunjuk.
102

 Supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi setelah


kegiatan selesai dan memperbaiki kekurangan dan
reinforcement positif dari supervisor.

2) Secara Tidak Langsung


supervise dilakukan melalui laporan tertulis maupun lisan.
Supervisor tidak terlibat atau melihat langsung apa yang terjadi
dilapangan, sehingga mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan
balik dapat diberikan secara tertulis.
7. Manfaat Supervise

 Meningkatkan efektivitas kerja


Peningkatan efektivitas kerja ini erat hubungannya dengan makin
meningkatkannyan pengetahuan dan keterampilan,” bawahan” ,
serta makin bembinanya hubungan dan suasana hubungan yang
lebih harmonis antara “ atasan” dengan “ bawahan”.
 Meningkatkan efisiensi kerja
Peningkatan efisiensi kerja ini erat hubungannya dengan makin
berkurangnya kesalahan yang dilakukan oleh “ bawahan”,
sehingga pemakaian sumberdaya ( tenaga, dana, dan saran ) yang
sia-sia dapat dicegah.
103

BAB VI

PELAKSANAAN MAKP

6.1Timbang Terima Pasien


Pelaksanaan serah terima pasien dilakukan mulai tanggal 3 Mei 2017
dibawah bimbingan perawat. Dalam kegiatan serah terima klien, perawat Asosiate
yang bertugas pada shift sebelumnya melakukan serah terima kepada perawat
Asosiate yang bertugas pada shift berikutnya. Materi yang diserah terimakan adalah
perkembangan klien, masalah medis/kolaboratif, masalah keperawatan, serta
tindakan keperawatan yang sudah ataupun belum dilaksanakan. Serah terima
diawali dengan penyampaian informasi perkembangan pasien di Nurse Station
dengan menjelaskan detil permasalahan. Setelah itu kami lanjutkan ke ruangan
untuk menyapa pasien.
1. Pelaksanaan
Pelaksanaan timbang terima di laksanakan pada minggu ke tiga, saat
pergantian ship. Pelaksanaan dilakukan pada pergantian sift pagi dengan sore,
maupun yang shif malam, untuk malam dengan sift pagi mengikuti ruangan.
Untuk memperoleh persepsi yang sama dengan peningkatan keterampilan,
pengetahuan dan sikap mengenai pelaksanaan timbang terima yang benar,
kelompok telah mempraktekan timbang terima setiap pergantiaan sift jaga yang
di bimbing dan di arahkan oleh perawat yang diberi delegasi oleh CI ruangan.
Kegiatan timbang terima yang di lakukan minggu ketiga.
104

Berikut nama-nama petugas yang jaga dan peran masing-masing :


a. Karu : M. Azroi
b. Katim : Fatoni
c. PP : Ahmad Indrayani, dan Mansur
d. PA : Lalu Sundera
e. POS : Nenin Utami, Tutut Lestari, Fefi Rita Indah, Sri Wahyuningsih,
Ira Puspita dan Maria Yunita
f. Pembimbing : Gusti Aji Oktavia, [Link]
Proses timbang terima di pimpin oleh perawat yang diberi delegasi
oleh kepala ruangan dan di laksanakan oleh seluruh perawat yang bertugas
maupun yang akan bertugas sift berikutnya, di mana yang berperan
melaksanakan timbang terima adalah Perawat Asosiate sift berikutnya.
Adapun urutan pelaksanaannya di mulai dari nurse station kemudian di
lanjutkan ke setiap kamar pasien yang tidak lebih dari 10 menit tiap pasien,
kecuali yang kondisinya buruk dan perlu di perhatikan. Setelah itu kembali ke
nurse station untuk membahas hal- hal yang kurang jelas dan membutuhkan
perhatian dalam perawatan selanjutnya.
2. Dukungan
Perawat yang jaga memberikan dukungan lebih kepada mahasiswa dalam
melakukan kegiatan timbang terima keperawatan.
3. Evaluasi Hasil
Dalam pelaksanaan timbang terima yang dilakukan kurang optimal,
kurang koordinasi, kurang komunikasi serta kurang dalam kelengkapan
pendokumentasian.

6.2 Discharge planning


1. Persiapan
Dalam pelaksanakan kegiatan discharge planning kelompok
menyiapkan beberapa hal sebagai berikut :
Menetapkan pasien yang akan di lakukan discharge planning
a. Penanggung jawab, materi dan mekanisme discharge planning
105

b. Menyusun instrumen dan format lainya yang berhubungan dengan


discharge planning
2. Tentang Pelaksanaan
Discharge planning di laksanakan pada pasien kelolaan yang akan
pulang RS. Klien di beri penjelasan tentang perawatan dan aktifitasnya di
rumah, waktu dan tempat kontrol, dan jadwal obat yang harus di minum
selama di rumah, obat klien yang masih sisa di serahkan pada klien
Kegiatan discharge planning di hadiri oleh pembimbing klinik di
laksanakan pada hari Rabu 3 Mei 2017. Kegiatan ini di hadiri oleh seluruh
anggota kelompok.
Mahasiswa yang berperan adalah :
Ka ruangan : Wahyuli Fitri Kasalo
Katim : Muksi
PP : Muhammad Afrizal
PA : Ahmad Tahir

Pada pelaksanaan Discharge Planning ini berjalan lancar, akan tetapi


penyampaian yang kurang bagus terkait dengan menyampaikan masalah
tempat kontrol, kapan kontrol kembali, obat obatan dan kegunaannya serta
cara minum obat, dan langsung ke pendidikan kesehatan/penyuluhan.
3. Dukungan
Ketika melakukan kegiatan discharge plainning ini kami mendapat
banyak bantuan, support dan arahan dari pembimbing lahan dan perawat
yang jaga diruangan.
4. Evaluasi Hasil
Dalam kegiatan discharge planning yang di hadiri oleh perawat yang
diberi delegasi kelompok mengalami kesulitan yang terkait dengan kurang
komunikasi dengan pasien dan tidak menjelaskan tentang tujuan discharge
planning pada pasien, tidak kontrak waktu terlebih dahulu.

6.3 Supervisi Keperawatan


106

Pelaksanaan supervisi dilakukan pada hari Kamis tanggal 4 Mei 2017 dengan
obyek supervisi pendokumentasian asuhan keperawatan melalui pendekatan proses
keperawatan. Ketika dilakukannya supervisi kepala ruangan memeriksa
pendokumentasian proses keperawatan yang dilakukan oleh perawat Asosiate.
Kepala ruangan menggunakan instrumen supervisi seperti terlampir. Hasil supervisi
didapati kondisi pendokumentasian yang kurang optimal. Setelah diklarifikasi
ternyata akibat kurangnya pengalaman dan keterampilan dalam mengisi format
dokumentasi. Selanjutnya kepala ruangan selaku supervisor melakukan pembinaan
dan pengarahan pada point pendokumentasian yang dianggap sulit dilakukan oleh
perawat primer.
1. Pelaksanaan
Kegiatan supervisi tindakan yang dilakukan yaitu injeksi di laksanaan pada
hari Kamis tanggal 4 Mei 2017 pukul 10.00 sampai selesai. Kegiatan ini di
hadiri oleh seluruh anggota kelompok, supervisior, pembimbing klinik.
Petugas yang berperan adalah :
Karu : Gantar Segara
Katim : Ahmad Fathi
PA : Hendri
PP : Mahrun
Supervisor : Ayu Nurliana

Dalam pelaksanaan supervisi ini supervisior menyampaikan hasil


evaluasi kinerja yang telah dilakukan PA dalam melakukan injeksi yaitu :
kurangnya komunikasi antara PA dengan pasien, kurangnya keterampilan PA
dalam memperhatikan tekhnik aseptik dan septiknya.
2. Dukungan
Dalam melaksanakan kegiatan supervisi ini kami banyak mendapatkan
dukungan dan pengarahan dari pembimbing lahan dan perawat yang diberi
delegasi.
3. Evaluasi Hasil
Dari hasil supervisi yang sudah dilakukan oleh mahasiswa ada banyak
kekurangan, seperti sebelum melakukan tindakan injeksi kepada pasie PA
107

kurangnya terjalin komunikasi yang baik, tidak mencuci tangan sebelum


melakukan tindakan, tidak menjelaskan tujuan dilakukannya injeksi.

6.4 Sentralisasi Obat


Dalam pelaksanaan sentralisasi obat terdapat kekurangan-kekurangan
dilakukan oleh mahasiswa praktik. Kelompok mencoba melakukan pemberian
jadwal minum obat dari perawat ruangan sesuai advice dokter. Dan dalam
pelaksanaan sentralisasi obat tidak ditemukan hambatan yang berarti. Dalam
proses penyiapan obat mengacu pada lembar monitoring pemberian obat yang
disesuaikan dengan instruksi medis.
1. Pelaksanaan
Pelaksanaan sentralisasi obat di laksanakan pada hari Rabu tanggal 4
Mei 2017. Pada saat pelaksanaan kami melakukan sentralisasi obat pada obat
oral, yang sebelumnya sudah dikirim oleh apoteker sesuai advis dokter setelah
visiter. Obat yang di terima oleh perawat di catat dalam format pemberian
obat. Obat di berikan sesuai dengan jadwal yang di berikan.
2. Dukungan
Pada pelaksanaan sentralisasi obat ini kami mendapat banyak masukan
dari pembimbing ruangan dan perawat yang diberi delegasi oleh CI ruangan
untuk menyusun suatu format pendokumentasian sentralisasi obat yang efektif
dan praktis.
3. Evaluasi Hasil
Dalam melaksanakan sentralisasi obat kami sedikit menemukan
hambatan yaitu komunikasi yang kurang terjalin. Akan tetapi, informasi yang
disampaikan dapat diterima oleh klien dan keluarga. Keluarga sangat
kooperatif untuk dilakukan sentralisasi obat :
a. Keluarga mengerti tentang penjelasan sentralisasi obat
b. Keluarga mau dilakukan sentralisasi obat
c. Selama kegiatan, masing-masing mahasiswa bekerja sesuai dengan tugas
masing-masing.
d. Kegiatan berjalan lancar dan tujuan mahasiswa tercapai dengan baik.
6.5 Ronde Keperawatan
108

1. Persiapan
Persiapan ronde keperawatan sudah mulai di lakukan ketika uji coba MAKP (
6 Mei 2017) dengan uraian sebagai berikut :
a. Penaggung jawab kegiatan menyusun proposal ronde keperawatan
b. Menetapkan masalah keperawatan pasien yang akan di lakukan ronde
keperawatan dengan persetujuan pembimbing klinik dan akademik
c. Meminta inform content untuk di lakukan ronde keperawatan pada klien
dan keluarga
d. Menyiapkan skenario pelaksanaan ronde keperawatan
e. Menyiapkan materi ronde keperawatan dengan kasus
f. Konsultasi kepada pembimbing klinik tentang proposal ronde keperawatan
2. Pelaksanaan
Kelompok melaksanakan ronde keperawatan di ruang ruang Bethesda pada
hari Sabtu 6 Mei 2017, jam 08.00 s/d selesai. Pada klien “G” dengan diagnosa
medis Kolik Abdomen.
Tim ronde berperan adalah
Kepala Ruangan : M. Azroi
PP : Muhamad Afrizal
PA : Ahmad Tahir
3. Dukungan
Pada pelaksanaan ronde keperawatan ini kami mendapat banyak
masukan dari pembimbing kampus untuk menyusun suatu format
pendokumentasian ronde keperawatan dan sentralisasi obat yang efektif dan
praktis.
4. Evaluasi
a. Ronde Keperawatan dilaksanakan di ruang BethesdaRS Marsudi Waluyo.
b. Peserta ronde keperawatan hadir di tempat pelaksanaan ronde
keperawatan
c. Persiapan dilakukan sebelumnya
d. Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir
e. Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran yang
telah ditentukan
109

BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan
7.1.1 Sarana dan Prasarana di ruangan secara kuantitas dan kualitas sudah
mencukupi dan secara kualitas sudah baik untuk memberikan pelayanan
keperawatan sehari-hari.
7.1.2 Supervisi yang terstruktur akan memberikan dampak positif bagi perawat
dan kepala ruangan, karena akan dapat digunakan sebagai bahan penilaian
kinerja yang obyektif dan bisa memberikan umpan balik untuk
meningkatkan kinerja perawat.
7.1.3 Discharge Planning sangat bermanfaat bagi pasien dan keluarga untuk
mencegah angka kekambuhan pasien sehingga harus dilaksnakan secara
terstruktur dan dilengkapi dengan informasi dan leaflet yang lengkap.
Pelaksanaan Discharge Planning di Ruang Yordan RS Marsudi Waluyo
telah berjalan dengan baik dan terdokumentasi dengan baik pula.
7.1.4 Pelaksanaan SO (Sentralisasi Obat) meningkatkan efisiensi dan efektifitas
kerja perawat dan petugas kesehatan yang lain mengurangi tingkat
kesalahan pemberian obat. Di Ruang Yordan RS Marsudi Waluyo
pelaksanaan sentralisasi obat sudah berjalan dengan baik.
7.2 Saran
7.2.1 Bagi Mahasiswa
110

a. Diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan konsep manajemen


keperawatan dalam tatanan praktek klinik, pengembangan wawasan
pengetahuan atau teori manajemen melalui penerapan fungsi manajemen.
b. Diharapkan mahasiswa dapat mengidentifikasikan kelebihan dan
kekurangan penerapan model metode penugasan keperawatan di ruang
Yordan.
c. Diharapkan mahasiswa dapat menganalisis masalah dengan metode
SWOT dan menyusun rencana strategi.

7.2.2 Bagi Perawat


a. Diharapkan perawat dapat mencapai tingkat kepuasan kerja yang optimal.
b. Diharapkan agar terbinanya hubungan antar perawat dengan perawat,
perawat dengan tim kesehatan yang lain, perawat dengan pasien dan
keluarga.
c. Diharapkan agar dapat tumbuh dan terbinanya akuntabilitas dan displin
diri perawat.
7.2.3 Bagi Pasien dan Keluarga
a. Diharapkan pasien dan keluarga mendapatkan pelayanan yang
memuaskan.
b. Diharapkan tingkat kepuasan pasien dan keluarga terhadap pelayanan
tinggi.
7.2.4 Bagi Rumah Sakit
a. Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan keperawatan kepada klien
secara komprehensif.
111

DAFTAR PUSTAKA

Nursalam, (2007). Manajemen Keperawatan : Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Jakarta : Salemba Medika
Nursalam, (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan dan Praktik. Jakarta :
Salemba Medika

Anda mungkin juga menyukai