Peran Ombudsman dalam Pelayanan Publik
Peran Ombudsman dalam Pelayanan Publik
2
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat,karunia,serta taufik dan hidayatNya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
pendekatan empiris dari mata kuliah pengantar ilmu politik dengan sebaik mungkin meski
masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Dan kami berterima kasih kepada Bapak Rizky
Godjali [Link] selaku dosen mata Sistem Pemerintahan Indonesia1 kelas IA jurusan ilmu
pemerintahan fakultas FISIP UNTIRTA yang telah memberikan tugas kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah ilmu
serta pengetahuan kita mengenai pelayanan Ombudsman. kami juga menyadari untuk menuju
makalah yang sempurna sangatlah [Link] karena itu, kami berharap adanya kritik,saran
atau usulan demi perbaikan makalah yang kami buat untuk makalah berikutnya, mengingat
bahwa saran adalah cara membangun menuju suatu [Link] berharap semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya, baik
untuk guru sebagai bahan mengajar mahasiswa serta sebagai bahan pengetahuan.
Demikian yang dapat kami sampaikan, mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam
kata-kata maupun penulisan makalah ini.
3
BAB I
PENDAHULUAN
4
untuk reformasi birokrasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan untuk terwujudnya
good governance. Sebelum lembaga Ombudsman lahir pengaduan pelayan publik hanya
disampaikan kepada instansi yang dilaporkan dan penanganannya sering dilakukan oleh
pejabat yang dilaporkan sehingga masyarakat belum memilki perlindungan yang benar –
benar memadai. Selain hal yang demikian ada hal yang lain yaitu untuk menyelesaikan
pengaduan pelayanan public itu, selama ini dilakukan dengan mengajukan gugatan –
gugatan kepengadilan. Tetapi, hal yang disayangkan pada hal ini adalah penanganan
yang lama dan lagi – lagi uang yang cukup banyak dikeluarkan untuk proses penanganan
gugatan itu sendiri. Maka dari berbagai hal – hal inilah maka harus dilahirkanlah
Ombudsman Republik Indonesia untuk menanganinya. Dalam perkembangannya
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) ini memiliki perwakilan – perwakilan yang
letaknya hamper diseluruh provinsi di Indonesia, kecuali provinsi baru seperti
Kalimantan Utara dan Madura juga Jakarta karena pusat dari Ombudsman Republik
Indonesia ini terltak di provinsi DKI Jakarta lebih tepatnya di kuningan Jakarta Selatan.
Jadi, bila ada keluhan mengenai pelayanan publik bisa langsung melaporkan ke
perwakilan Ombudsman Republik Indonesia di daerah atau provinsi masing –
masing.
Atas dasar diatas, tim peneliti tertarik untuk meneliti dan mencari informasi
lebih jauh tentang lembaga Ombudsman Republik Indonesia (ORI) untuk penyadaran
masyarakat. Dan dari hasil praktikum ke lembaga Ombudman dapat memperoleh
informasi dan menjadi bahan untuk kajian masalah. Khususnya kami sebagai mahasiswa
yang perannya sebagai agen perubahan dana agen pengontrol. Dan untuk bagaimana
pelayanan publik yang baik dan tentunya bebas dari maladministrasi.
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ombudsman
Ombudsman adalah lembaga negara yang mempunyai kewenangan mengawasi
penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggaraan negara
dan pemerintah termasuk yang diselenggarakan oleh badan usaha milik negara (
BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan hukum milik negara (BHMN)
serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas untuk menyelenggarakan
pelayanan publik tertentu yang sebagian atau sekuruh dananya bersumber dari anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) dan atau anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APBD).
Dalam Ensiklopedia Columbia, ombudsman diartikan dengan:
“as a government agent serving as an intermediary between citizen and the
govertment bureaucracy, the ombudsman is ussualy independent, impartial,
universally accesible and empowered only to recommended.”
6
Lebih dari itu, ketetapan MPR nomor VIII/MPR/2001 tentang rekomendasi arah
kebijakan pemberantasan dan pencegahan korupsi, kolusi dan nepotisme telah
memerintahkan penyelenggara negara agar segera membentuk undang-undang beserta
peraturan pelaksanaannya untuk pencegahan korupsi yang muatannya meliputi salah satu
diantaranya adalah komisi ombudsman. Dengan demikian posisi komisi ombudsman
nasional dalam pemberantasan korupsi sesuai dengan TAP MPR No. VIII/MPR/2001
berada pada wilayah prevensi.
7
Fungsi Komisi Ombudsman berdasarkan Keppres No. 44 Tahun 2000, yaitu sebagai
berikut :
8
menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya
bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan
dan belanja daerah.”
Penyelenggara negara yang dimaksud adalah pejabat yang menjalankan fungsi
pelayanan publik yang tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Adapun perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan yang dapat dilaporkan oleh
masyarakat adalah maladministrasi. Maladministrasi sesuai dengan pasal 1 angka 3
undang-undang nomor 37 tahun 2008 adalah :
“perilaku atau perbuatan melawan hukum, melampaui wewenang, menggunakan
wewenang untuk tujuan lain dari yang menjadi tujuan wewenang tersebut, termasuk
kelalaian atau pengabaian kewajiban hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik
yang dilakukan oleh Penyelenggara Negara dan pemerintahan yang menimbulkan
kerugian materiil dan/atau immaterial bagi masyarakat dan orang perseorangan.” Apabila
masyarakat menjadi korban dari maladministrasi ini maka berhak melaporkan baik
secara lisan maupun tulisan kepada lembaga ombudsman.
9
berhak untuk melakukan pengawasan pelayanan publik. Hal ini termuat dalam pasal 35
ayat 3 UU RI No. 25 Tahun 2009: “pengawasan eksternal penyelenggaraan pelayanan
publik dilakukan melalui”:
10
Dalam pasal 8 untuk menjalankan fungsi dan tugasnya, Ombudsman berwenang:
1. Meminta keterangan secara lisan dan/atau tertulis dari pelapor, terlapor atau pihak lain
yang terkait mengenai laporan yang disampaikan kepada ombudsman.
2. Memeriksa keputusan, surat menyurat atau dokumen lain yang ada pada pelapor atau
pun terlapor untuk mendapatkan kebenaran atau suatu laporan.
3. Meminta klarifikasi dan/atau salinan dokumen yang diperlukan dari instansi manapun
untuk pemeriksaan laporan dari instansi terlapor.
4. Melakukan pemanggilan terhadap pelapor, terlapor dan pihak lain yang terkait
laporan.
5. Menyelesaikan laporan melalui mediasi dan konsiliasi atas permintaan para pihak.
6. Membuat rekomendasi mengenai penyelesaian laporan, termasuk rekomendasi untuk
membayar ganti rugi dan/atau rehabilitasi kepada para pihak yang dirugikan.
7. Demi kepentingan umum mengumumkan hasil temuan, kesimpulan dan rekomendasi.
8. Menyampaikan saran kepada presiden, kepala daerah atau pimpinan penyelenggara
negara lainnya guna perbaikan dan penyempurnaan organisasi dan/atau prosedur
pelayanan publik.
9. Menyampaikan saran kepada presiden dan/atau DPR, DPD dan/atau kepala daerah
agar terhadap undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya diadakan
perubahan dalam rangka mencegah maladministrasi.
10. Melakukan penyelidikan terhadap penyelenggaraan administrasi pemerintahan yang
bertentangan dengan undang-undang atau tidak fair.
11. Jika setelah dilakukan penyelidikan secara obyektif ternyata ditemukan administrasi
yang tidak layak, maka dibuatlah rekomendasi untuk mengeliminasi tindakan
administratif yang tidak layak tersebut.
12. Melaporkan kegiatannya dalam kasus-kasus tertentu kepada pemerintah dan
pengadu/pelapor dan jika rekomendasi yang dibuat dalam kasus tertentu tersebut tidak
diterima oleh pemerintah, maka diteruskan kepada legislator. Pada umumnya,
ombudsman juga membuat laporan tahunan kinerjanya kepada legislator dan
masyarakat.
11
diskriminatif dan tidak patut didasarkan seluruhnya atau sebagian atas ketentuan
undang-undang atau fakta tidak termasuk akal, atau berdasarkan tindakan unreasonable,
unjust, oppresive, dan diskriminasi.
Adapun bentuk-bentuk maladministrasi antara lain:
1. Penundaan atas Pelayanan (Berlarut larut);
2. Tidak Menangani;
3. Melalaikan Kewajiban;
4. Persekongkolan;
5. Kolusi dan Nepotisme;
6. Bertindak Tidak Adil;
7. Nyata-nyata Berpihak;
8. Pemalsuan;
9. Pelanggaran Undang-Undang;
10. Perbuatan Melawan Hukum;
11. Diluar Kompetensi;
12. Tidak Kompeten;
13. Intervensi;
14. Penyimpangan Prosedur;
15. Bertindak Sewenang-wenang;
16. Penyalahgunaan Wewenang;
17. Bertindak Tidak Layak/ Tidak Patut;
18. Permintaan Imbalan Uang/Korupsi;
19. Penguasaan Tanpa Hak;
20. Penggelapan Barang Bukti;
B. Kedudukan Ombudsman
Ombudsman atau ombudsman republik Indonesia merupakan lembaga negara
yang tidak terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kelahirannya dilakukan oleh
Undang-undang dalam rangka pengawasan kinerja aparatur negara dan pemerintahan
serta menampung keluhan masyarakat. Lembaga yang menjalankan fungsi seperti ini
belum diatur dalam UUD 1945. Oleh sebab itu, dalam sistem pemisahan kekuasaan,
Ombudsman Republik Indonesia dapat dikatagorikan sejajar dan tidak dibawah pengaruh
satu kekuasaan lain. Dengan tugas dan fungsi seperti itu, keberadaan Ombudsman
12
Republik Indonesia sangat vital dalam pemenuhan perlindungan dan kesejahteraan
masyarakat sebagai bagian tujuan bernegara.
Sehubungan dengan kedudukan ombudsman republik Indonesia seperti di atas,
maka Ombudsman bukan lagi menjadi domain pemerintah seperti halnya masa
berlakunya Keppres No.44 Tahun 2000. Pemerintah sudah tidak dapat lagi membentuk
Ombudsman atau badan-badan dengan nama lain yang secara prinsip menjalankan tugas
dan fungsi Ombudsman Republik Indonesia. Tugas mengawasi kinerja lembaga negara
dan pemerintahan serta menampung keluhan masyarakat telah beralih dan dilakukan oleh
lembaga negara tersendiri dan menjalankan tugas dan fungsinya secara mandiri.
Ketatanegaraan Indonesia menurut amandemen UUD 1945 juga menempatkan
lembaga negara penunjangyaitu lembaga-lembaga negara yang diatur dalam konstitusi
untuk membantu lembaga negara yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi
negara demi terwujudnya tujuan negara. Pasal 2 UU No. 37 Tahun 2008 menegaskan
bahwa kedudukan Ombudsman adalah: Lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak
memiliki hubungan organik dengan lembaga negara dan instansi pemerintahan lainnya,
serta dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan kekuasaan
lainnya.
Berikut akan dijelaskan kedudukan ombudsman dalam menjalankan tugasnya
sebagaimana yang dimuat dalam undang-undang nomor 37 tahun 2008 pasal 5, yaitu :
13
Pengaturan mengenai ombudsman dengan perwakilannya di daerah, lebih lanjut
diatur dengan peraturan pemerintah setempat. Pengaturan Ombudsman dalam Undang-
undang tidak hanya mengandung konsekuensi posisi politik kelembagaan, namun juga
perluasan kewenangan dan cakupan kerja Ombudsman yang akan sampai di daerah-
daerah. Dalam undang-undang ini dimungkinkan mendirikan kantor perwakilan
Ombudsman di daerah Propinsi, Kabupaten/Kota. Dalam hal penanganan laporan juga
terdapat perubahan yang fundamental karena Ombudsman diberi kewenangan besar dan
memiliki kekuatan memaksa (subpoena power), rekomendasi yang bersifat mengikat,
investigasi, serta sanksipidana bagi yang mengahalang-halangi ombudsmandalam
menangani laporan.
14
7. Peristiwa tindakan atau keputusan yang dikeluhkan atau dilaporkan sudah lewat 2
(dua) tahun sejak peristiwa, tindakan, atau keputusan yang bersangkutan terjadi.
F. Biaya/Imbalan:
Ombudsman tidak memungut biaya (GRATIS) dan tidak menerima imbalan
dalam bentuk apapun.
G. Kerahasiaan:
Atas pertimbangan tertentu Ombudsman dapat menjaga kerahasiaan identitas
pelapor.
15
2. Melalui surat pos atau jasa ekspedisi ke alamat kantor Ombudsman RI atau
perwakilannya;
3. Melalui telepon atau faksimili; atau
4. Melalui internet
16
Dari jumlah Laporan tersebut, substansi aduan terbesar ada pada masalah
kepegawaian, sebanyak 47 kasus, disusul kasus perhubungan/Infrastruktur sebanyak 20,
18 kasus tentang pelayanan kesehatan, pendidikan (17), pertanahan (9), dan adm
kependudukan (8). “Masih seperti tahun lalu, penanganan kasus kepegawaian dominan,
termasuk masalah honorer K2 yang insya Allah akan tetap kita tangani pada tahun 2016.
Langkah kita sudah sampai ke DPR,” jelas Taqwaddin.
Untuk jenis maladministrasi (prilaku buruk) yang dilaporkan, dugaan
penyimpangan prosedur di rangking teratas dengan 43 laporan. Menyusul penundaan
berlarut (35), tidak patut (34), tidak melayani (29), diskriminasi (11), permintaan
imbalan uang, barang dan jasa (9), penyalahgunaan wewenang (8),tidak kompeten (5)
dan konflik kepentingan (1). “Angka-angka ini menegaskan wajah pelayanan birokrasi di
aceh belum baik, masih banyak yang suka menyimpang dan menunda-nunda urusan serta
tidak melayani dengan baik dan prosedural. Artinya, belum hilang pameo ‘kalau masih
dipersulit ngapain dipermudah’,” sesal Taqwaddin Husin.
Terkait kendala, menurutnya keberadaan Ombudsman RI yang belum dikenal
secara massif menjadi permasalahan tersendiri. Hal tersbut mungkin disebabkan oleh
beberapa hal seperti, nama yang ‘asing’, SDM yang terbatas, belum menjadi ‘incaran’
media dan belum mempunyai perwakilan di kabupaten kota. ”Sosialisasi akan tetap kita
lakukan, disamping penanganan laporan juga akan kita tingkatkan. Ini proyeksi dan
target umum kita di tahun 2016,” sambung Taqwaddin didampingi 5 Asisten
Ombudsman RI, Ayu Parmawati, M. Fadhil Rahmi, Rudi Ismawan, Andy Syahputra dan
Mirza Sahputra.
Untuk tahun 2016, diharapkan kesadaran dan tingkat partisipasi masyarakat untuk
mendapatkan hak pelayanan yang baik dari pemerintah lebih meningkat. Sebagai bagian
dari control social, peran masyarakat, elemen sipil juga pelajar dan mahasiswa dalam
pengawasan terhadap kinerja pemerintah, sangat penting. “Apa saja yang terkait
kekecewaan dan penyimpangan yang ditemukan oleh masyarakat saat berurusan dengan
pemerintah, silahkan laporkan. Identitas bisa dirahasiakan,” pungkas pakar hukum
Unsyiah tersebut.
Seperti diketahui, Ombudsman RI sebagai Lembaga Negara pengawas
Penyelenggaraan Pelayanan Publik telah hadir di Aceh sejak 3 tahun yang lalu. Salah
satu konsentrasi/tugas Ombudsman RI Perwakilan Aceh adalah menerima pengaduan
terkait maladministrasi, baik yang berupa penundaan berlarut, penyalahgunaan
wewenang, penyimpangan prosedur, permintaan imbalan jasa dan uang, tidak kompeten,
17
tidak patut, diskriminasi, berpihak, konflik kepentingan dan berbagai bentuk pelayanan
buruk dari pemerintah, BUMN, BUMD, Lembaga/institusi vertikal dan siapa saja yang
sebagian atau seluruh anggaran penyelenggaraannya berasal dari APBN/APBD.
18
BAB III
PENUTUP
1.3 Kesimpulan
Pemikiran yang melatar belakangi pembentukan Ombudsman Republik Indonesia yaitu:
1. Lembaga yang telah ada belum dapat menjalankan tugas dan wewenangnya dengan
baik, korup dan tidak efektif
2. Untuk mempercepat proses konsolidasi good governance karena adanya persoalan-
persoalan di era transisi
3. Adanya motivasi pengawasan untuk mewujudkan good governance.
19
kerja ombudsman yang akan sampai di daerah-daerah. Dalam undang-undang ini
dimungkinkan mendirikan kantor perwakilan Ombudsman di daerah Propinsi,
Kabupaten/Kota. Dalam hal penanganan laporan juga terdapat perubahan yang
fundamental karena Ombudsman diberi kewenangan besar dan memiliki subpoena power
(kekuatan memaksa), rekomendasi yang bersifat mengikat, investigasi, serta sanksi
pidana bagi yang mengahalang-halangi Ombudsman dalam menangani laporan.
Rekomendasi dari Ombudsman Republik Indonesia tidak mempunyai kekuatan hukum
(non legally binding), tetapi bersifat morally binding. Rekomendasi yang bersifat morally
binding pada dasarnya mecoba menempatkan manusia pada martabat mulia sehingga
untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu seorang pejabat publik tidak
harus diancam dengan sanksi hukum, melainkan melalui kesadaran moral yang tumbuh
dari lubuk hati.
20
DAFTAR PUSTAKA
1. [Link]
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman
Republik Indonesia
3. Tim [Link] Elektronik Fakultas Hukum Unsrat,
[Link] Hukum Unsrat:[Link]-Undang No.37 Tahun 2008 tentang
Ombudsman Republik Indonesia Pasal 1
4. Sujata antonius, dkk. Ombudsman indonesia. jakarta. komisi ombudsman
nasional.2002
5. [Link]
aceh/
6. [Link]
21