0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan21 halaman

Peran Ombudsman dalam Pelayanan Publik

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas peran Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik di Indonesia 2) Ombudsman bertugas mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik oleh instansi pemerintah dan swasta serta menangani keluhan masyarakat 3) Dokumen tersebut juga menjelaskan peraturan yang mengatur tentang Ombudsman di Indonesia seperti Kepres No.44 Tahun 2000

Diunggah oleh

bayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
34 tayangan21 halaman

Peran Ombudsman dalam Pelayanan Publik

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1) Dokumen tersebut membahas peran Ombudsman sebagai lembaga pengawas pelayanan publik di Indonesia 2) Ombudsman bertugas mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik oleh instansi pemerintah dan swasta serta menangani keluhan masyarakat 3) Dokumen tersebut juga menjelaskan peraturan yang mengatur tentang Ombudsman di Indonesia seperti Kepres No.44 Tahun 2000

Diunggah oleh

bayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

2
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat,karunia,serta taufik dan hidayatNya kami dapat menyelesaikan makalah tentang
pendekatan empiris dari mata kuliah pengantar ilmu politik dengan sebaik mungkin meski
masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Dan kami berterima kasih kepada Bapak Rizky
Godjali [Link] selaku dosen mata Sistem Pemerintahan Indonesia1 kelas IA jurusan ilmu
pemerintahan fakultas FISIP UNTIRTA yang telah memberikan tugas kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah ilmu
serta pengetahuan kita mengenai pelayanan Ombudsman. kami juga menyadari untuk menuju
makalah yang sempurna sangatlah [Link] karena itu, kami berharap adanya kritik,saran
atau usulan demi perbaikan makalah yang kami buat untuk makalah berikutnya, mengingat
bahwa saran adalah cara membangun menuju suatu [Link] berharap semoga
makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca umumnya dan penulis khususnya, baik
untuk guru sebagai bahan mengajar mahasiswa serta sebagai bahan pengetahuan.
Demikian yang dapat kami sampaikan, mohon maaf bila terdapat kesalahan dalam
kata-kata maupun penulisan makalah ini.

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ombudsman Republik Indonesia (ORI) sebelumnya bernama Komisi
Ombudsman Nasional. Ombudsman Republik Indonesia adalah lembaga negara di
Indonesia yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik
baik itu yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan, termasuk
juga yang diselenggarakan oleh Badan Uasaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) dan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) serta Badan Swasta
atau perseorangan yang diberi tugas untuk menyelenggarakan pelayanan publik tertentu
yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Undang –
Undang yang membahas Ombudsman Republik Indonesia adalah Undang – Undang
Nomor 37 Tahun 2008 kata Ombudsman berasal dari Bahasa swedia kuno
‘’Ombudmann’’ yang artinya perwakilan. Maksud perwakilan disini adalah Ombudsman
adalah lembaga nergara yang menjadi perwakilan di daerahnya untuk menjebatani
aspirasi, kritik, dan keluhan mengenai prilaku atau perbuatan yang melawan hukum,
melampaui wewenang, menggunakan wewenang untuk tujuan lain dari yang menjadi
tujuan wewenang tersebut, termasuk kelainan atau pengabaian kewajiban hukum dalam
penyelenggraan pelayanan publik yang dilakukan penyelenggara negara dan
pemerintahan yang menimbulkan kerugian materil dan / atau immaterial bagi masyarakat
dan orang perseorangan atau yang disebut maladministrasi menurut Undang – Undang
Nomor 37 Tahun 2008 Bab 1 Pasal 1 angka 3
Pemerintah sepertinya mulai menyadari betapa pentingnya kehadiran
Ombudsman di Republik Indonesia, karena begitu banyaknya tuntutan – tuntutan
masyarakat yang ingin mewujudkan penyelenggaraan negara dengan baik atau good
governance. Maka dibentuklah lembaga Ombudsman untuk Republik Indonesia yang
memiliki dasar hukum yakni Undang – Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang
Ombudsman Republik Indonesia, setelah itu setahun berikutnya Ombudsman Republik
Indonesia diperkuat dengan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan
publik. Sebelum lahirnya era reformasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan
diwarnai dengan praktik maladministrasi antara lain terjadinya Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme (KKN) sehingga lembaga pengawasan seperti Ombudsman ini diperlukan

4
untuk reformasi birokrasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan untuk terwujudnya
good governance. Sebelum lembaga Ombudsman lahir pengaduan pelayan publik hanya
disampaikan kepada instansi yang dilaporkan dan penanganannya sering dilakukan oleh
pejabat yang dilaporkan sehingga masyarakat belum memilki perlindungan yang benar –
benar memadai. Selain hal yang demikian ada hal yang lain yaitu untuk menyelesaikan
pengaduan pelayanan public itu, selama ini dilakukan dengan mengajukan gugatan –
gugatan kepengadilan. Tetapi, hal yang disayangkan pada hal ini adalah penanganan
yang lama dan lagi – lagi uang yang cukup banyak dikeluarkan untuk proses penanganan
gugatan itu sendiri. Maka dari berbagai hal – hal inilah maka harus dilahirkanlah
Ombudsman Republik Indonesia untuk menanganinya. Dalam perkembangannya
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) ini memiliki perwakilan – perwakilan yang
letaknya hamper diseluruh provinsi di Indonesia, kecuali provinsi baru seperti
Kalimantan Utara dan Madura juga Jakarta karena pusat dari Ombudsman Republik
Indonesia ini terltak di provinsi DKI Jakarta lebih tepatnya di kuningan Jakarta Selatan.
Jadi, bila ada keluhan mengenai pelayanan publik bisa langsung melaporkan ke
perwakilan Ombudsman Republik Indonesia di daerah atau provinsi masing –
masing.
Atas dasar diatas, tim peneliti tertarik untuk meneliti dan mencari informasi
lebih jauh tentang lembaga Ombudsman Republik Indonesia (ORI) untuk penyadaran
masyarakat. Dan dari hasil praktikum ke lembaga Ombudman dapat memperoleh
informasi dan menjadi bahan untuk kajian masalah. Khususnya kami sebagai mahasiswa
yang perannya sebagai agen perubahan dana agen pengontrol. Dan untuk bagaimana
pelayanan publik yang baik dan tentunya bebas dari maladministrasi.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana peran Ombudsman?

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup pembahasan dalam makalah ini menyangkut dengan peranan ombusdman
dalam pengawas penyelenggaraan pelayanan public.

5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Ombudsman
Ombudsman adalah lembaga negara yang mempunyai kewenangan mengawasi
penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggaraan negara
dan pemerintah termasuk yang diselenggarakan oleh badan usaha milik negara (
BUMN), badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan hukum milik negara (BHMN)
serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas untuk menyelenggarakan
pelayanan publik tertentu yang sebagian atau sekuruh dananya bersumber dari anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) dan atau anggaran pendapatan dan belanja
daerah (APBD).
Dalam Ensiklopedia Columbia, ombudsman diartikan dengan:
“as a government agent serving as an intermediary between citizen and the
govertment bureaucracy, the ombudsman is ussualy independent, impartial,
universally accesible and empowered only to recommended.”

”Agen pemerintah yang melakukan fungsi mediasi antara masyarakat dengan


penyelenggara atau aparat pemerintah, ombudsman biasanya bersifat independen,
tidak berat sebelah, umum dan berwewenang hanya untuk rekomendasi”.

Awal mula ombudsman sebenarnya berasal dari swedia yang mempunyai


beberapa definisi. Kata ombudsman bisa diartikan dengan representative, agent,
delegate, lawyer, guardian or any other person who is authorized by other to act on their
behalf and serve their interest, yang berarti “ perwakilan, agen, delegasi, pengacara,
pelindung atau orang-orang yang diminta oleh orang lain untuk melakukan mewakili
kepentingan mereka dan melayani keuntungan mereka. Cita-cita untuk
menyelenggarakan pemerintahan negara yang bersih merupakan cikal bakal didirikannya
komisi ombudsman, hal ini tertuang dalam keputusan presiden republik Indonesia nomor
44 tahun 2000 tentang komisi ombudsman nasional yang menyatakan :
“ pemberdayaan mesyarakat melalui peran serta mereka untuk melakukan pengawasan
akan lebih menjamin penyelenggaraan negara yang jujur, bersih, transparan, bebas
korupsi, kolusi, dan nepotisme “

6
Lebih dari itu, ketetapan MPR nomor VIII/MPR/2001 tentang rekomendasi arah
kebijakan pemberantasan dan pencegahan korupsi, kolusi dan nepotisme telah
memerintahkan penyelenggara negara agar segera membentuk undang-undang beserta
peraturan pelaksanaannya untuk pencegahan korupsi yang muatannya meliputi salah satu
diantaranya adalah komisi ombudsman. Dengan demikian posisi komisi ombudsman
nasional dalam pemberantasan korupsi sesuai dengan TAP MPR No. VIII/MPR/2001
berada pada wilayah prevensi.

Pada dasarnya ombudsman sangat erat hubungannnya dengan keluhan


masyarakat terhadap suatu tindakan dan keputusan dari pejabat administrasi publik yang
dinilai merugikan masyarakat. Pemilihan anggota ombudsman dilakukan melalui suatu
pemilihan oleh parlemen dan diangkat oleh kepala negara dalam hal ini presiden setelah
berkonsultasi dengan pihak parlemen. Peranan ombudsman adalah untuk melindungi
masyarakat terhadap pelanggaran hak, penyalahgunaan wewenang, kesalahan, kelalaian,
keputusan yang tidak fair dan mal administrasi dalam rangka meningkatkan kualitas
administrasi publik dan membuat tindakan-tindakan pemerintah lebih terbuka dan
pemerintah serta pegawainya lebih akuntabel terhadap anggota masyarakat.

2.2 Pengaturan Mengenai Ombudsman Dalam Sistem Hukum Indonesia Sebagai


Lembaga Pengawas Penyelenggara Pelayanan Publik

A. Kepres No.44 Tahun 2000 Tentang Komisi Ombudsman Nasional


Kepres No.44 Tahun 2000 tentang Komisi Ombudsman Nasional merupakan
dasar hukum bagi operasionalisasi Ombudsman di Indonesia. Pada Kepres ini banyak
pengaturan yang masih bersifat umum. Pada Kepres ini kewenangan Ombudsman masih
sangat terbatas sehingga ruang geraknya pun sangat sempit. Apalagi Komisi ini, hanya
berada di Ibukota Jakarta padahal kewenangannya mencakup seluruh wilayah di
Indonesia. Dari kepres No.44 Tahun 2000 ini komisi ombudsman menyiapkan sebuah
konsep Rancangan Undang-Undang Ombudsman Nasional.
Pasal 2 menyatakan “Ombudsman Nasional adalah lembaga pengawasan
masyarakat yang berasaskan pancasila dan bersifat mandiri, serta berwenang melakukan
klarifikasi, monitoring dan pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai
penyelenggaraan negara khususnya pelaksanaan oleh aparatur pemerintah termasuk
lembaga peradilan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.”

7
Fungsi Komisi Ombudsman berdasarkan Keppres No. 44 Tahun 2000, yaitu sebagai
berikut :

1. Memberdayakan masyarakat melalui peran serta mereka untuk melakukan


pengawasan akan lebih menjamin penyelenggaraan negara yang jujur, bersih,
transparan, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme.
2. Menganjurkan dan membantu masyarakat memanfaatkan pelayanan publik secara
optimal untuk penyelesaian persoalan.
3. Memberdayakan pengawasan oleh masyarakat merupakan implementasi demokrasi
yang perlu dikembangkan serta diaplikasikan agar penyalahgunaan kekuasaan,
wewenang ataupun jabatan oleh aparatur negara dapat diminimalisasi.
4. Dalam penyelenggaraan negara khususnya penyelenggaraan pemerintahan
memberikan pelayanan dan perlindungan terhadap hak-hak anggota masyarakat oleh
aparatur pemerintah termasuk lembaga peradilan merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari upaya untuk menciptakan keadilan dan kesejahteraan.
5. Lembaga Ombudsman merupakan suatu komisi pengawasan yang bersifat mandiri
dan berdiri sendiri lepas dari campur tangan lembaga kenegaraan lainnya. Pasal 2
Keppres No. 44 Tahun 2000 tentang Komisi Ombudsman Indonesia.

B. Undang-Undang Republik Indonesia No. 37 Tahun 2008


Undang-Undang Republik Indonesia nomor 37 tahun 2008 tentang
ombudsman republik Indonesia adalah undang-undang yang baru mengatur tentang
ombudsman menggantikan keppres nomor 44 tahun 2000. Huruf a Pasal 45 bab XI
tentang ketentuan peralihan dalam undang-undang nomor 37 tahun 2008 menjelaskan
bahwa Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku “Komisi Ombudsman Nasional yang
dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000 tentang Komisi
Ombudsman Nasional dinyatakan sebagai Ombudsman menurut Undang-Undang ini.”
Pengertian ombudsman dalam undang-undang ini sebagaimana yang dimuat dalam pasal
1 angka 1, yaitu :
“Ombudsman Republik Indonesia yang selanjutnya disebut Ombudsman adalah lembaga
negara yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik
baik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan termasuk yang
diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan
Hukum Milik Negara serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas

8
menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya
bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan
dan belanja daerah.”
Penyelenggara negara yang dimaksud adalah pejabat yang menjalankan fungsi
pelayanan publik yang tugas pokoknya berkaitan dengan penyelenggaraan negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Adapun perbuatan melawan hukum
yang dilakukan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan yang dapat dilaporkan oleh
masyarakat adalah maladministrasi. Maladministrasi sesuai dengan pasal 1 angka 3
undang-undang nomor 37 tahun 2008 adalah :
“perilaku atau perbuatan melawan hukum, melampaui wewenang, menggunakan
wewenang untuk tujuan lain dari yang menjadi tujuan wewenang tersebut, termasuk
kelalaian atau pengabaian kewajiban hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik
yang dilakukan oleh Penyelenggara Negara dan pemerintahan yang menimbulkan
kerugian materiil dan/atau immaterial bagi masyarakat dan orang perseorangan.” Apabila
masyarakat menjadi korban dari maladministrasi ini maka berhak melaporkan baik
secara lisan maupun tulisan kepada lembaga ombudsman.

Tujuan ombudsman menurut undang-undang ini diatur dalam pasal 4, yaitu :

1. Mewujudkan negara hukum yang demokratis, adil, dan sejahtera;


2. mendorong penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang efektif dan efisien, jujur,
terbuka, bersih, serta bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme;
3. Meningkatkan mutu pelayanan negara di segala bidang agar setiap warga negara dan
penduduk memperoleh keadilan, rasa aman, dan kesejahteraan yang semakin baik;
4. Membantu menciptakan dan meningkatkan upaya untuk pemberantasan dan
pencegahan praktekpraktek Maladministrasi, diskriminasi, kolusi, korupsi, serta
nepotisme;
5. Meningkatkan budaya hukum nasional, kesadaran hukum masyarakat, dan supremasi
hukum yang berintikan kebenaran serta keadilan.

C. Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik


Dalam UU RI No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang disahkan pada
tanggal 18 Juli 2009, menyatakan bahwa Ombudsman merupakan salah satu lembaga
pengawas ekternal selain pengawasan masyarakat dan pengawasan DPR/DPRD yang

9
berhak untuk melakukan pengawasan pelayanan publik. Hal ini termuat dalam pasal 35
ayat 3 UU RI No. 25 Tahun 2009: “pengawasan eksternal penyelenggaraan pelayanan
publik dilakukan melalui”:

1. Pengawasan oleh masyarakat berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam


penyelenggaraan pelayanan publik
2. Pengawasan oleh Ombudsman sesuai dengan peraturan perundang-undangan
3. Pengawasan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Propinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota.

2.3 Peran dan Kedudukan Ombudsman Sebagai Lembaga Pengawas Penyelenggara


Pelayanan Publik
A. Peran Ombudsman
Lembaga Ombudsman mempunyai peran yang sangat penting dalam menangani
maladministrasi. Peran tersebut dapat dilihat dari fungsi lembaga Ombudsman yang
dijalankan melalui pelaksanaan tugas-tugasnya, Pasal 7 UU Ombudsman menyebutkan
tugas Ombudsman yaitu:

1. Menerima laporan atas dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan


publik;
2. Melakukan pemeriksaan substansi atas laporan;
3. Menindak lanjuti laporan yang tercakup dalam ruang lingkup kewenangan
Ombudsman;
4. Melakukan investigasi atas prakarsa sendiri terhadap dugaan maladministrasi dalam
penyelenggaraan pelayanan publik;
5. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga negara atau lembaga
pemerintahan lainnya serta lembaga kemasyarakatan dan perseorangan;
6. Membangun jaringan kerja;
7. Melakukan upaya pencegahan maladiminstrasi dalam penyelenggraan pelayanan
publik;
8. Melakukan tugas lain yang diberikan undang-undang;

10
Dalam pasal 8 untuk menjalankan fungsi dan tugasnya, Ombudsman berwenang:

1. Meminta keterangan secara lisan dan/atau tertulis dari pelapor, terlapor atau pihak lain
yang terkait mengenai laporan yang disampaikan kepada ombudsman.
2. Memeriksa keputusan, surat menyurat atau dokumen lain yang ada pada pelapor atau
pun terlapor untuk mendapatkan kebenaran atau suatu laporan.
3. Meminta klarifikasi dan/atau salinan dokumen yang diperlukan dari instansi manapun
untuk pemeriksaan laporan dari instansi terlapor.
4. Melakukan pemanggilan terhadap pelapor, terlapor dan pihak lain yang terkait
laporan.
5. Menyelesaikan laporan melalui mediasi dan konsiliasi atas permintaan para pihak.
6. Membuat rekomendasi mengenai penyelesaian laporan, termasuk rekomendasi untuk
membayar ganti rugi dan/atau rehabilitasi kepada para pihak yang dirugikan.
7. Demi kepentingan umum mengumumkan hasil temuan, kesimpulan dan rekomendasi.
8. Menyampaikan saran kepada presiden, kepala daerah atau pimpinan penyelenggara
negara lainnya guna perbaikan dan penyempurnaan organisasi dan/atau prosedur
pelayanan publik.
9. Menyampaikan saran kepada presiden dan/atau DPR, DPD dan/atau kepala daerah
agar terhadap undang-undang dan peraturan perundang-undangan lainnya diadakan
perubahan dalam rangka mencegah maladministrasi.
10. Melakukan penyelidikan terhadap penyelenggaraan administrasi pemerintahan yang
bertentangan dengan undang-undang atau tidak fair.
11. Jika setelah dilakukan penyelidikan secara obyektif ternyata ditemukan administrasi
yang tidak layak, maka dibuatlah rekomendasi untuk mengeliminasi tindakan
administratif yang tidak layak tersebut.
12. Melaporkan kegiatannya dalam kasus-kasus tertentu kepada pemerintah dan
pengadu/pelapor dan jika rekomendasi yang dibuat dalam kasus tertentu tersebut tidak
diterima oleh pemerintah, maka diteruskan kepada legislator. Pada umumnya,
ombudsman juga membuat laporan tahunan kinerjanya kepada legislator dan
masyarakat.

Dalam kamus ilmiah populer maladminstrasi artinya administrasi yang buruk


atau pemerintahan yang buruk. Soenaryati Hartono mengartikan maladministrasi
dengan perilaku yang tidak wajar, kurang sopan dan tidak peduli terhadap masalah yang
menimpa seseorang disebabkan penggunaan kekuasaan secara semena-mena atau
kekuasaan yang digunakan untuk perbuatan yang tidak wajar, tidak adil, intimidatif atau

11
diskriminatif dan tidak patut didasarkan seluruhnya atau sebagian atas ketentuan
undang-undang atau fakta tidak termasuk akal, atau berdasarkan tindakan unreasonable,
unjust, oppresive, dan diskriminasi.
Adapun bentuk-bentuk maladministrasi antara lain:
1. Penundaan atas Pelayanan (Berlarut larut);
2. Tidak Menangani;
3. Melalaikan Kewajiban;
4. Persekongkolan;
5. Kolusi dan Nepotisme;
6. Bertindak Tidak Adil;
7. Nyata-nyata Berpihak;
8. Pemalsuan;
9. Pelanggaran Undang-Undang;
10. Perbuatan Melawan Hukum;
11. Diluar Kompetensi;
12. Tidak Kompeten;
13. Intervensi;
14. Penyimpangan Prosedur;
15. Bertindak Sewenang-wenang;
16. Penyalahgunaan Wewenang;
17. Bertindak Tidak Layak/ Tidak Patut;
18. Permintaan Imbalan Uang/Korupsi;
19. Penguasaan Tanpa Hak;
20. Penggelapan Barang Bukti;

B. Kedudukan Ombudsman
Ombudsman atau ombudsman republik Indonesia merupakan lembaga negara
yang tidak terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945. Kelahirannya dilakukan oleh
Undang-undang dalam rangka pengawasan kinerja aparatur negara dan pemerintahan
serta menampung keluhan masyarakat. Lembaga yang menjalankan fungsi seperti ini
belum diatur dalam UUD 1945. Oleh sebab itu, dalam sistem pemisahan kekuasaan,
Ombudsman Republik Indonesia dapat dikatagorikan sejajar dan tidak dibawah pengaruh
satu kekuasaan lain. Dengan tugas dan fungsi seperti itu, keberadaan Ombudsman

12
Republik Indonesia sangat vital dalam pemenuhan perlindungan dan kesejahteraan
masyarakat sebagai bagian tujuan bernegara.
Sehubungan dengan kedudukan ombudsman republik Indonesia seperti di atas,
maka Ombudsman bukan lagi menjadi domain pemerintah seperti halnya masa
berlakunya Keppres No.44 Tahun 2000. Pemerintah sudah tidak dapat lagi membentuk
Ombudsman atau badan-badan dengan nama lain yang secara prinsip menjalankan tugas
dan fungsi Ombudsman Republik Indonesia. Tugas mengawasi kinerja lembaga negara
dan pemerintahan serta menampung keluhan masyarakat telah beralih dan dilakukan oleh
lembaga negara tersendiri dan menjalankan tugas dan fungsinya secara mandiri.
Ketatanegaraan Indonesia menurut amandemen UUD 1945 juga menempatkan
lembaga negara penunjangyaitu lembaga-lembaga negara yang diatur dalam konstitusi
untuk membantu lembaga negara yang ditetapkan untuk menyelenggarakan fungsi
negara demi terwujudnya tujuan negara. Pasal 2 UU No. 37 Tahun 2008 menegaskan
bahwa kedudukan Ombudsman adalah: Lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak
memiliki hubungan organik dengan lembaga negara dan instansi pemerintahan lainnya,
serta dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan kekuasaan
lainnya.
Berikut akan dijelaskan kedudukan ombudsman dalam menjalankan tugasnya
sebagaimana yang dimuat dalam undang-undang nomor 37 tahun 2008 pasal 5, yaitu :

1. Ombudsman berkedudukan di ibu kota negara Republik Indonesia dengan wilayah


kerja meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
2. Ombudsman dapat mendirikan perwakilan Ombudsman di provinsi dan/atau
kabupaten/kota.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, susunan, dan tata kerja perwakilan
Ombudsman di daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan
Pemerintah.

Ombudsman berkedudukan di ibukota negara republik Indonesia yaitu kota


Jakarta, namun wilayah kerja dari ombudsman itu sendiri mencakup seluruh wilayah di
Indonesia. Untuk bisa menjangkau kedaerah pelosok, serta memberikan pelayanan yang
optimal maka ombudsman dapat mendirikan perwakilannya di wilayah provinsi, atau
kabupaten/kota.

13
Pengaturan mengenai ombudsman dengan perwakilannya di daerah, lebih lanjut
diatur dengan peraturan pemerintah setempat. Pengaturan Ombudsman dalam Undang-
undang tidak hanya mengandung konsekuensi posisi politik kelembagaan, namun juga
perluasan kewenangan dan cakupan kerja Ombudsman yang akan sampai di daerah-
daerah. Dalam undang-undang ini dimungkinkan mendirikan kantor perwakilan
Ombudsman di daerah Propinsi, Kabupaten/Kota. Dalam hal penanganan laporan juga
terdapat perubahan yang fundamental karena Ombudsman diberi kewenangan besar dan
memiliki kekuatan memaksa (subpoena power), rekomendasi yang bersifat mengikat,
investigasi, serta sanksipidana bagi yang mengahalang-halangi ombudsmandalam
menangani laporan.

3.2 Proses Penanganan Laporan di Lembaga Ombudsman


Berikut ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan proses penanganan laporan di
lembaga Ombudsman:

A. Yang boleh melapor?


Seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) atau penduduk, khususnya yang menjadi
korban langsung tindakan maladministrasi.

B. Laporan yang ditangani Ombudsman:

1. Harus jelas identitas pelapornya (Ombudsman tidak melayani surat kaleng).


2. Substansi yang dilaporkan merupakan kewenangan Ombudsman.
3. Disertai data kronologis yang jelas dan sistematis.
4. Tidak harus menggunakan bahasa hukum, cukup bahasa yang sederhana.

C. Laporan yang tidak ditindak lanjuti apabila:

1. Identitas pelapor tidak lengkap;


2. Tidak disertai alasan yang mendasar;
3. Tidak mendapat kuasa dari korban;
4. Sedang dalam pemeriksaan di pengadilan atau instansi yang berwenang;
5. Sudah diselesaikan oleh instansi yang berwenang;
6. Pelapor sudah terlebih dahulu menyampaikan keluhan atau dilaporkan kepada
instansi yang berwenang;

14
7. Peristiwa tindakan atau keputusan yang dikeluhkan atau dilaporkan sudah lewat 2
(dua) tahun sejak peristiwa, tindakan, atau keputusan yang bersangkutan terjadi.

D. Proses penanganan laporan:


1. Keluhan masyarakat akan ditelaah oleh Ombudsman.
2. Apabila berkas belum lengkap, pelapor akan dihubungi kembali agar melengkapi
data yang diperlukan;
3. Bila dirasa perlu, pelapor dapat berkonsultasi di Kantor Ombudsman Republik
Indonesia atau kantor Perwakilan Ombudsman Republik Indonesia;
4. Ombudsman akan menyiapkan permintaan klarifikasi dan rekomendasi yang
ditujukan kepada instansi yang dilaporkan dengan tembusan kepada instansi yang
terkait serta pelapor tentunya;

E. Pemeriksaan dapat dihentikan apabila:


1. Substansi yang dilaporkan merupakan kebijakan umum pemerintah;
2. Perilaku dan keputusan aparat telah sesuai ketentuan yang berlaku;
3. Masalah yang dilaporkan masih dapat diselesaikan sesuai prosedur administrasi
yang berlaku;
4. Masalah yang dilaporkan sedang diperiksa di Pengadilan, dalam proses banding
atau kasasi di Pengadilan yang lebih tinggi;
5. Tercapainya penyelesaian dengan cara mediasi;
6. Pelapor meninggal dunia atau mencabut laporannya.

F. Biaya/Imbalan:
Ombudsman tidak memungut biaya (GRATIS) dan tidak menerima imbalan
dalam bentuk apapun.

G. Kerahasiaan:
Atas pertimbangan tertentu Ombudsman dapat menjaga kerahasiaan identitas
pelapor.

H. Cara menyampaikan laporan:


1. Datang langsung ke kantor Ombudsman RI atau perwakilannya;

15
2. Melalui surat pos atau jasa ekspedisi ke alamat kantor Ombudsman RI atau
perwakilannya;
3. Melalui telepon atau faksimili; atau
4. Melalui internet

4.2 Perwakilan Ombudsman RI di Aceh Sebagai Lembaga Pengawas Penyelenggara


Pelayanan Publik
Banda Aceh, Pemerintah Kota/Kabupaten masih menjadi penyelenggara
pelayanan publik yang paling banyak mendapatkan pengaduan. Selama tahun 2015 ada
88 pengaduan, dan Banda Aceh paling sering menjadi terlapor dengan 13 laporan,
disusul Aceh Selatan dan Pidie sebanyak 10 laporan, Bireuen 9 laporan dan Aceh Besar
8 laporan. Selanjutnya, Lhokseumawe dan Nagan Raya sama 6 laporan, Kota Langsa dan
Aceh Timur masing-masing 5 laporan. “Statistik tersebut tidak berarti mencerminkan
kinerja yang buruk. Banyaknya laporan terhadap Pemko Banda Aceh lebih karena akses
dan jarak tempuh ke Ombudsman RI yang dekat dan mudah dijangkau,” demikian
penjelasan Kepala Perwakilan Ombudsman RI Aceh, Taqwaddin Husin, Selasa
(5/1/2015) dalam siaran persnya.
Namun sebaran laporan terhadap kabupaten kota sudah menunjukkan
peningkatan kualitas dari partisipasi masyarakat dibanding tahun 2014. “Tahun lalu,
Laporan terhadap Banda Aceh dominan sekali dan sangat timpang dengan kab/kota
lainnya,” tambah Taqwaddin.
Tahun ini, khusus Pemerintah Aceh mendapat ‘jatah’ sebagai Terlapor sebanyak
25 Laporan. Laporan tersebut selain Gubernur/Sekda sebagai Terlapor juga tersebar ke
beberapa SKPA, seperti Dinas Syariat Islam, Dishubkomintel, Dinas Pendidikan, Dinas
Sosial, Dinas Bina Marga dan Dinkes serta beberapa dinas lainnya.
Selain itu dari lembaga/instansi vertikal, Kepolisian mendapat ‘bagian’ 9
Laporan, Kementrian Agama (6), Kejaksaan (2) Kemenkumham (2) dan BPN (1). “Itu
akumulasi untuk instansi/lembaga vertikal seluruh Aceh,”jelas Taqwaddin.
Untuk BUMN/BUMD sebanyak 22 pengaduan. BUMN terlapor didominasi oleh
pengaduan terhadap kinerja PDAM Banda Aceh (5 Laporan), BPJS Kesehatan (3), PLN
(3), Telkom (3). Total, Ombudsman Republik Indonesia perwakilan Aceh sebagai
Lembaga Negara Pengawas Pelayanan Publik telah menerima 175 pengaduan dari
selama tahun 2015.

16
Dari jumlah Laporan tersebut, substansi aduan terbesar ada pada masalah
kepegawaian, sebanyak 47 kasus, disusul kasus perhubungan/Infrastruktur sebanyak 20,
18 kasus tentang pelayanan kesehatan, pendidikan (17), pertanahan (9), dan adm
kependudukan (8). “Masih seperti tahun lalu, penanganan kasus kepegawaian dominan,
termasuk masalah honorer K2 yang insya Allah akan tetap kita tangani pada tahun 2016.
Langkah kita sudah sampai ke DPR,” jelas Taqwaddin.
Untuk jenis maladministrasi (prilaku buruk) yang dilaporkan, dugaan
penyimpangan prosedur di rangking teratas dengan 43 laporan. Menyusul penundaan
berlarut (35), tidak patut (34), tidak melayani (29), diskriminasi (11), permintaan
imbalan uang, barang dan jasa (9), penyalahgunaan wewenang (8),tidak kompeten (5)
dan konflik kepentingan (1). “Angka-angka ini menegaskan wajah pelayanan birokrasi di
aceh belum baik, masih banyak yang suka menyimpang dan menunda-nunda urusan serta
tidak melayani dengan baik dan prosedural. Artinya, belum hilang pameo ‘kalau masih
dipersulit ngapain dipermudah’,” sesal Taqwaddin Husin.
Terkait kendala, menurutnya keberadaan Ombudsman RI yang belum dikenal
secara massif menjadi permasalahan tersendiri. Hal tersbut mungkin disebabkan oleh
beberapa hal seperti, nama yang ‘asing’, SDM yang terbatas, belum menjadi ‘incaran’
media dan belum mempunyai perwakilan di kabupaten kota. ”Sosialisasi akan tetap kita
lakukan, disamping penanganan laporan juga akan kita tingkatkan. Ini proyeksi dan
target umum kita di tahun 2016,” sambung Taqwaddin didampingi 5 Asisten
Ombudsman RI, Ayu Parmawati, M. Fadhil Rahmi, Rudi Ismawan, Andy Syahputra dan
Mirza Sahputra.
Untuk tahun 2016, diharapkan kesadaran dan tingkat partisipasi masyarakat untuk
mendapatkan hak pelayanan yang baik dari pemerintah lebih meningkat. Sebagai bagian
dari control social, peran masyarakat, elemen sipil juga pelajar dan mahasiswa dalam
pengawasan terhadap kinerja pemerintah, sangat penting. “Apa saja yang terkait
kekecewaan dan penyimpangan yang ditemukan oleh masyarakat saat berurusan dengan
pemerintah, silahkan laporkan. Identitas bisa dirahasiakan,” pungkas pakar hukum
Unsyiah tersebut.
Seperti diketahui, Ombudsman RI sebagai Lembaga Negara pengawas
Penyelenggaraan Pelayanan Publik telah hadir di Aceh sejak 3 tahun yang lalu. Salah
satu konsentrasi/tugas Ombudsman RI Perwakilan Aceh adalah menerima pengaduan
terkait maladministrasi, baik yang berupa penundaan berlarut, penyalahgunaan
wewenang, penyimpangan prosedur, permintaan imbalan jasa dan uang, tidak kompeten,

17
tidak patut, diskriminasi, berpihak, konflik kepentingan dan berbagai bentuk pelayanan
buruk dari pemerintah, BUMN, BUMD, Lembaga/institusi vertikal dan siapa saja yang
sebagian atau seluruh anggaran penyelenggaraannya berasal dari APBN/APBD.

18
BAB III
PENUTUP

1.3 Kesimpulan
Pemikiran yang melatar belakangi pembentukan Ombudsman Republik Indonesia yaitu:

1. Lembaga yang telah ada belum dapat menjalankan tugas dan wewenangnya dengan
baik, korup dan tidak efektif
2. Untuk mempercepat proses konsolidasi good governance karena adanya persoalan-
persoalan di era transisi
3. Adanya motivasi pengawasan untuk mewujudkan good governance.

Pemikiran yang melatar belakangi pembentukan Ombudsman Republik Indonesia


sangat berkaitan erat dengan upaya reformasi birokrasi demi terciptanya good
governance itu sendiri dalam bidang pelayanan publik. Ombudsman merupakan salah
satu lembaga pengawas eksternal selain pengawasan masyarakat dan pengawasan
DPR/DPRD yang berhak untuk melakukan pengawasan pelayanan publik. Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mengamanahkan kepada
Ombudsman Republik Indonesia untuk:

1. Wajib menerima dan berwenang memproses pengaduan dari masyarakat mengenai


penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan Undang-Undang ini
2. Wajib menyelesaikan pengaduan masyarakat apabila pengadu menghendaki
penyelesaian pengaduan tidak dilakukan oleh Penyelenggara
3. Wajib membentuk perwakilan di daerah yang bersifat hierarkis untuk mendukung
tugas dan fungsi ombudsman dalam kegiatan pelayanan publik paling lambat 3 (tiga)
tahun sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik.
4. Wajib melakukan mediasi dan konsiliasi dalam menyelesaikan pengaduan atas
permintaan para pihak.

Pengaturan Ombudsman dalam Undang-Undang tidak hanya mengandung


konsekuensi posisi politik kelembagaan, namun juga perluasan kewenangan dan cakupan

19
kerja ombudsman yang akan sampai di daerah-daerah. Dalam undang-undang ini
dimungkinkan mendirikan kantor perwakilan Ombudsman di daerah Propinsi,
Kabupaten/Kota. Dalam hal penanganan laporan juga terdapat perubahan yang
fundamental karena Ombudsman diberi kewenangan besar dan memiliki subpoena power
(kekuatan memaksa), rekomendasi yang bersifat mengikat, investigasi, serta sanksi
pidana bagi yang mengahalang-halangi Ombudsman dalam menangani laporan.
Rekomendasi dari Ombudsman Republik Indonesia tidak mempunyai kekuatan hukum
(non legally binding), tetapi bersifat morally binding. Rekomendasi yang bersifat morally
binding pada dasarnya mecoba menempatkan manusia pada martabat mulia sehingga
untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu seorang pejabat publik tidak
harus diancam dengan sanksi hukum, melainkan melalui kesadaran moral yang tumbuh
dari lubuk hati.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. [Link]
2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman
Republik Indonesia
3. Tim [Link] Elektronik Fakultas Hukum Unsrat,
[Link] Hukum Unsrat:[Link]-Undang No.37 Tahun 2008 tentang
Ombudsman Republik Indonesia Pasal 1
4. Sujata antonius, dkk. Ombudsman indonesia. jakarta. komisi ombudsman
nasional.2002
5. [Link]
aceh/
6. [Link]

21

Anda mungkin juga menyukai