PLANNING APPROACH
Pendekatan dalam perencanaan di bagi kedalam 4 model pendekatan perencanaan,meliputi :
Rational Comprehensive Approach
Incremental Planning Approach
Mixed Scanning Planning Approach ; dan
Pendekatan Perencanaan Advokasi/ transaktif
Rational Comprehensive Approach
Pendekatan ini merupakan suatu kerangka pendekatan yang logis dan teratur, mulai dari
diagnosis sampai kepada tindakan, yang didasarkan kepada analisis fakta yang relevan.
Diagnosa masalah yang dikaji melalui kerangka teori dan nilai – nilai, perumusan tujuan dan
sasaran dalam rangka pemecahan masalah, merancang alternatif cara – cara untuk mencapai
tujuan, dan pengkajian atas efektivitas cara – cara tersebut.
Asumsi Yang Mendasari
Suatu konsensus umum terhadap tujuan yang mempunyai makna kepentingan /
kesejahteraan umum (public interest / common good) dapat dicapai.
Pemilihan rencana terbaik merupakan suatu proses teknikal yang dapat diselesaikan
melalui analisis dengan data-data yang relevan.
Dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien dengan mekanisme perencanaan yang
sentralistik
Tahapan Rational Comprehensive Approach
Definisi masalah
Klarifikasi nilai
Tujuan- analisis
Alternatif rencana
Melakukan prediksi terhadap alternatif rencana
Evaluasi dari setiap pemilihan alternatif
Melakukan implementasi
Evaluasi akhir
Permasalahan pada model rasional komprehensif yaitu :
Diperlukan survey yang terperinci, membutuhkan waktu yang banyak, dan dana yang
besar.
Memerlukan cara analisis yang rumit dengan data yang baik.
Hasil analisis terkadang tidak sesuai dengan kenyataan.
Sering mengabaikan kenyataan (realita) politik, karena adanya anggapan koordinasi
selalu berjalan dengan baik.
Contoh produk dari model rasional komprehensif ini adalah masterplan, RTRW.
Disjointed Incremental Planning Approach
Disjointed incremental planning aprroach merupakan pendekatan denagn memilih diantara
rentang alternatif yang terbatas yang berbeda sedikit dari kebijaksanaan yang ada.
Asumsi yang mendasari
Menolak kemungkinan terjadinya konsensus dalam isu perencanaan yang luas.
Konsensus sangat sulit dicapai, dan kemunkinan besar yang terjadi hanya pada usulan
yang menghendaki perubahan yang incremental.
Membutuhkan suatu mekanisme perencanaan yang terdesentralisasi.
Permasalahan pada pendekatan disjointed incremental
Pemecahan masalah tidak ada kaitan dengan masalah lain (berdiri sendiri).
Pemecahan masalah secara “tambal sulam” sering masih mengambang.
Penanggulangan jangka pendek kurang tanggap terhadap wawasan masyarakat yang
luas dan mendasar.
PERBEDAAN RATIONAL MODEL DAN INCREMENTAL MODEL
Rational Model Incremental Model
Harus adanya teori Menggunakan teori lama
Masalah baru yang ada Modifikasi masalah lama yang pernah
ditangani sebelumnya
Sumberdaya tersedia banyak Sumberdaya terbatas
Waktu yang banyak untuk melakukan kajian Waktu yang terbatas
Banyaknya ketetkaitan dengan kebijakan Isu kebijakan relatif kecil sehingga tidak
lain, isu-isu lain akan terlalu berpengaruh terhadap kebijakan
lain
Interval banyak kebijakan tersedia Pilihan kebijakan terbatas
Mixed Scanning Planning
Mixed scanning planning merupakan penengah antar rational model dan incremental model.
Maka pilihannya disebut middle range planning model/ the third planning model.
Maka kombinasi antara rational model dan incremental model. Rational model menekankan
pada tugas analitik, sedangkan penelitian dan pengumpulan data dengan elemen incremental
menekankan pada tugas untuk mencapai konsesus.
Pendekatan Perencanaan Advokasi/Transaktif
Transaksif merupakan kesepakatan dalam perencanaan sedangkan advokasi merupakan
nasihat. Dalam perencanaan ini terdapat tiga pendekatan,meliputi :
Advokat
Merupakan nasihat kepada client,misalnya adalah antara planner dengan client seperti
LSM
Birokrat
Merupakan stuktur birokrasi atau administrasi negara yang menjalankan kebijakan
dalam negara, kewenangan dan berdasarkan administrasi negara
Teknokrat
Merupakan perencanaan teknis sesuai dengan kompetensinya.
Pendekatan ini lebih memperhatikan keinginan dari clientnya. Pendekatan dengan cara tata
muka antara advokat dengan client.
Sumber-sumber otoritas untuk perencanaan
1. Keahlian Profesional
Dalam hal ini tidak diikuti oleh otoritas untuk mengimplementasikannya karena tidak
memiliki kekuatan politis hanya berupa masukan-masukan teknis.
2. Perencanaan Birokrat
Perencanaan biroktat memiliki otoritas untuk mengimplementasikan tetapi perlu
memperhatikan keinginan masyarakat
3. Pengguna/masyarakat
Masyarakat atau pengguna memiliki otoritas untuk perencanaan karena adanya
partisipasi masyarakat yaitu melalui advokasi antara advokat dengan client
PLANNING PROCESS
Dalam proses pembuatan kebijakan publik memerlukan model dalam menyusun suatu
kebijakan, dengan adanya model tersebut pembuatan kebijakan publik dapat dilakukan untuk
mengambil suatu keputusan atau pendapat dari berbagai pihak. Model ini juga dapat
membantu dalam memahami kebijakan publik yang kompleks, sehingga mempermudah dalam
mengupayakan dalam memahami bagaimana proses perumusan atau proses implementasi
kebijakan publik itu. Proses implementasi kebijakan lebih penting dari seluruh kegiatan proses
kebijakan (Wahab, 1990:45) dan secara umum Secara umum implementasi adalah
menghubungkan antara tujuan kebijakan terhadap realisasi dengan hasil kegiatan pemerintah
Adapun tahapan dalam proses pembuatan kebijakan(Menurut Stillman 1988) :
Decideng To Decide
Decide to decide dalah tahapan pembuatan kebjakan dianggap penting untuk
merumuskan kebijakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Decide How To Decide
Decide how to decide adalah tahapan mulai dari pengorganisasian(kerangka untuk
merumuskan), siapa yang terlibat dan kapan dilaksanakan.
Issue Definition
Issue definition dengan mengidentifikasi isu yang dihadapi dengan merumuskan
kebijakan.
Forecasting
Forecasting merupakan kegiatan untuk memperkirakan kondisi yang akan datang,
sifatnya analisis dengan melakukan prediksi dan simulasi.
Setting Objectives and Priorities
Setting objectives and priorities adalah untuk menyatakan tujuan dan sasaran menjadi
suatu prioritas.
Option Analysis
Option analysis merupakan alternatif untuk dianalisis( kelebihan/kekurangan) setiap
alternatif yang dipilih.
Policy Adaption
Policy adaption adalah megadopsi dari setiap kebijakan yang dirumuskan.
Policy Implementation, Monitoring and Control
Dalam tahapan ini dengan menerapkan kebijakan yang telah dirumuskan yang
kemudian melakukan pengawasan dan pengendalian dari hasil pelaksanaan kebijakan.
Evaluation and Review
Kegiatan untuk melakukan penilaian terhadap kebijakan dan pelaksanaannya. Untuk
penilaian kebijakan melihat metodologinya,data dan analisisnya.
Policy Maintenance, Succesion and Termintanion
Apabila kebijakannya terlah berjalan dengan harapan maka kebijakan tersebut
dipertahankan dan apabila kebijakannya tidak sesuai maka dilakukan perbaikan atau
tidak dilanjutkan.
Tahapan proses pembuat kebijakan menurut William Dunn :
Agenda Setting
Agenda setting dilakukan untuk mengetahui permasalahan yang ada.
Policy Formulation
Policy Formulation yaitu merumuskan alternatif kebijakan untuk menjawab
permasalahan.
Policy Adaption
Policy adaption yaitu melakukan penetapa/ ditetapkan kebijakan dari alternatif-
alternatif yang ada.
Policy Implementation
Policy implementation yaitu menerapkan atau melaksanakan kebijakan.
Policy Assesment
Policy assement adalah untuk melakukan audit atau analisis untuk menentukan apakah
kebijakan tersebut sesuai dengan kebutuhan atau tidak.