Nama : Eris Septian Maulana
NIM : 11915023
Mata kuliah : Pengendalian Hama & Patogen Pasca Panen (PP3102)
Preferensi Makan Rayap
Rayap merupakan serangga sosial dan tinggal di dalam sarang atau
termitarium yang dibangun sendiri. Serangga ini memiliki ukuran tubuh yang relatif
kecil seringkali pada kasta reproduktif bersayap atau alates ukuran panjang tubuh
tidak lebih dari 20 mm kecuali kasta reproduktif primer yang mengalami
physogastry atau pembesaran pada bagian abdomen sehingga dapat mencapai
ukuran panjang 8 cm (Nandika, et. al, 2003). Rayap merupakan serangga sosial
dengan sistem kasta polimorfik (Ningsih, et. al, 2014). Morfologi kasta-kasta rayap
dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Morfologi kasta rayap Schedorhinotermes javanicus Kemner: (a)
pekerja, (b) prajurit minor, dan (c) reproduktif (Sumber: Ningsih, et. al, 2014 ).
Rayap secara taksonomi dikelompokkan ke dalam ordo Isoptera (iso = sama
dan ptera = sayap). Rayap memiliki tubuh yang lunak dan berwarna terang. Ordo
Isoptera dicirikan dengan kepala yang prognatik (prognathous head, yaitu posisi
alat mulut searah dengan arah bidang tubuh atau mengarah ke depan). Memiliki
mata majemuk dan umumnya mengalami pereduksian sebagai pola adaptasi
terhadap kebiasaan hidup di habitat yang gelap (Handru dan Herwina, 2012).
Antena berbentuk manik-manik (moniliform) panjang, multisegmen dari 11 sampai
dengan 31 segmen. Alat mulut bertipe menggigit-mengunyah (mandibulata) yang
berkembang sesuai dengan tipe kastanya. Tarsi terdiri dari tiga sampai dengan lima
segmen. Cerci pendek terbagi dalam satu sampai lima segmen. Sayap hanya
dimiliki oleh kasta reproduktif yang terdiri dari dua pasang sayap tipe membran
dengan venasi yang rumit serta memiliki ukuran dan bentuk yang sama, kecuali
pada Mastotermes dengan venasi sayap yang lebih rumit. Rayap mengalami
metamorfosis paurometabola (Haneda dan Firmansyah, 2013).
Cara Penyerangan
Rayap juga dapat membuat lubang di atas pondasi, terus ke atas hingga
mencapai kuda-kuda dan di seluruh permukaan tembok (Frick dan Setiawan, 2001).
Menurut Taufan, et. al (2010), mekanisme rayap menyerang bangunan antara lain
:
1. Menyerang melalui kayu yang berhubungan langsung dengan tanah.
2. Masuk melalui retakan-retakan atau rongga pada dinding dan pondasi.
3. Membuat liang-liang kembara di atas permukaan kayu, beton, pipa dan lain-lain
(sheltertubes).
4. Menembus objek-objek penghalang seperti plastik, logam tipis, dan
lainlainwalaupun objek tersebut bukan makanannya.
Rayap kayu kering mampu menyerang bangunan melalui laron (kasta
reproduktif) yang terbang keluar dari sarangnya dan hinggap di kayu yang tidak
terlindungi. Di kayu tersebut, laron akan menetap dan berkembang biak untuk
membangun koloni baru (Praktis, 2007). Serangan rayap kayu kering umumnya
tidak terbatas pada kayu struktur bangunan (kuda-kuda, kaso, gording, reng dan
lain-lain) tetapi juga seringkali menyerang barang-barang mebel (meja, kursi,
dipan, kitchen set, dan lain-lain), kusen, jendela dan pintu, tetapi tidak menyerang
barang berlignoselulosa lainnya seperti kertas atau buku, kain karpet, dan lain-lain
(Sumarni dan Muslich, 2009).
Menurut Widyati (2013), apabila rayap mampu mencapai sasarannya, serta
faktor biotik dan abiotik mendukung perkembangannya maka rayap akan dengan
mudah memperluas serangannnya. Jangkauan serangan sampai bagian-bagian yang
tinggi dengan membuat sarang di dalam bangunan yang jauh dari tanah dan
memanfaatkan sumber-sumber kelembaban yang tersedia dalam bangunan tersebut.
Kondisi ini berlaku pada rayap tanah Coptotermes curvignathus yang hidupnya
mutlak tergantung dari adanya air dan tanah sebagai kebutuhan penting untuk
kehidupan rayap.
Aktivitas makan rayap pada suatu jenis kayu tergantung faktor luar yaitu
jenis kayu. Pada tahap awal, kompenen kimia kayu merangsang saraf perasa
gustatory rayap yaitu pada waktu rayap mulai makan. Kedua adalah tingkat ambang
rasa rayap itu sendiri. Dengan demikian tingkat kesukaan makan rayap pada
beberapa jenis kayu tergantung pada jenis-jenis kayu dan jenis rayap itu sendiri.
Perbedaan sifat kayu dan ambang rasa rayap menimbulkan perbedaan aktivitas
makan setiap jenis rayap pada berbagai jenis kayu (Mansur dan Tuheteru, 2010).
Gejala serangan
Rayap kayu kering tergolong dalam famili Kalotermitidae. Sesuai namanya,
rayap kayu kering dapat hidup pada kayu-kayu berkadar air rendah yang ada pada
bangunan rumah, gedung-gedung, atau bangunan lainnya. Mereka cenderung tidak
membangun sarang-sarang atau terowongan-terowongan pada tempat terbuka
sehingga sulit untuk diketahui. Pada kayu yang diserang terjadi lubang dan lorong-
lorong yang saling berhubungan. Kayu yang diserang menjadi keropos dan
menyebabkan rongga-rongga tidak teratur dalam kayu. Ada lapisan kayu tipis yang
disisakan pada bagian permukaan kayu sehingga dari luar kurang tampak
serangannya, tetapi dengan tekanan sedikit saja kayu akan rusak (Zulkaidhah, et.
al, 2014). Tanda serangan yang kelihatan adalah keluarnya ekskremen berupa butir-
butir kecil berdiameter 0,6- 0,8 mm, berwarna kecoklatan yang dikeluarkan dari
lubang serangan dalam jumlah yang besar (Windasari, et. al, 2012).
Berdasarkan penelitian Mariana, et. al (2013), bubuk kayu kering
disebabkan oleh Coleoptera (kumbang) yang makan dan merusak kayu kering.
Kerusakan kayu terutama disebabkan oleh larvanya. Sesuai dengan namanya,
kumbang memiliki sayap depan yang tebal dan menjadi pelindung sayap
belakangnya. Kumbang yang menyerang kayu kering terutama dari tiga famili,
yaitu Anobiidae, Bostrychidae, dan Cerambycidae (Windasari, et. al, 2012).
Preferensi Makan Rayap
Perilaku makan rayap di alam berbeda dengan contoh uji dalam cawan
petridish. Di alam rayap bebas untuk memilih sendiri lingkungan yang paling sesuai
bagi hidupnya. Sedangkan pada contoh uji, rayap dipaksa makan (forced feeding
test). Dalam keadaan terpaksa, rayap akan memakan bahan (umpan) yang
diberikan. Kehilangan berat dapat menjadi indikasi respon serangan rayap terhadap
contoh uji, kehilangan berat dapat dihitung dengan persamaan
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
% Kehilangan Berat = 𝑥 100
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑢𝑚𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙
Preferensi makan rayap dipengaruhi oleh faktor rangsangan dari luar yang
berasal dari kayu, dan faktor tingkat ambang rasa rayap. Peran syaraf perangsang
gustatory rayap dipengaruhi oleh bau khas makanannya (Subekti, 2012).
Tabel 1. Tingkat preferensi makan rayap
Tingkat Preferensi makan Kehilangan berat (%)
Sangat suka > 28,10
Suka 8.20-28.10
Sedang 4.40 – 8.20
Tidak suka 2.00-4.40
Sangat tidak suka <2.00
(Sumber : Subekti, 2012)
Pengujian preferensi makan rayap menggunakan 4 jenis kayu atau bambu,
yaitu kayu manglid, sengon, gmelina, dan bambu. Hasil pengamatan disajikan
dalam tabel 2.
Tabel 2. Persentase kehilangan bobot dan tingkat preferensi makan rayap dengan
metode pemilihan makanan dan metode yang dipaksanakan
%
Berat Awal Berat Akhir Tingkat
Kehilangan
(gram) (gram) Preferensi
Berat
A. Metode Pemilihan Makanan
1. Kayu Sengon 0.41 0.4 2.43 Tidak Suka
2. Bambu 0.55 0.52 5.45 Sedang
Sangat Tidak
3. Kayu Gmelina 0.9 0.89 1.11 suka
4. Kayu Manglid 0.91 0.89 2.19 Tidak Suka
B. Metode yang Dipaksakan
1. Kayu Sengon 3.4 0.41 87.94 Sangat suka
2. Bambu 6 0.59 90.16 Sangat suka
3. Kayu Gmelina 1.2 0.86 28.33 Sangat suka
4. Kayu Manglid 8.69 1.17 86.54 Sangat suka
Persentase Kehilangan Bobot dengan Metode
Pemilihan Makanan
6 5.45
Kehilangan Berat (%)
4
Kayu Sengon
3 2.43 2.19 Bambu
2
1.11 Kayu Gmelina
1 Kayu Manglid
0
Jenis Kayu/bambu
Gambar 2. Presentase kehilangan bobot dengan metode pemilihan makanan.
Presentase Kehilangan Bobot dengan Metode yang
Dipaksakan
100 90.16
87.94 86.54
90
Kehilangan Berat (%) 80
70
60 Kayu Sengon
50 Bambu
40 Kayu Gmelina
28.33
30
Kayu Manglid
20
10
0
Jenis Kayu
Gambar 3. Presentase kehilangan bobot dengan metode yang dipaksakan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang disajikan pada tabel 1, metode
pemilihan makanan kehilangan bobot yang tertinggi pada bambu dengan tingkat
preferensi sedang dan kehilangan bobot yang terkecil pada kayu gmelina dengan
tingkat preferensi sangat tidak suka, sedangkan dengan metode yang dipaksakan
kehilangan bobot yang tertinggi pada bambu dengan tingkat preferensi sangat suka
dan yang terkecil pada kayu gmelina dengan tingkat preferensi paling suka. Metode
yang berbeda dengan contoh uji yang sama mendapatkan hasil bahwa bambu paling
rentan terhadap serangan rayap. Menurut Febrianto et. al (2014), bambu sangat
rentan terhadap serangan organisme perusak terutama oleh rayap dan bubuk kayu
kering (powder post beetle). Akibatnya bambu solid dan produk turunannya
mempunyai masa pakai yang relatif singkat terutama jika digunakan sebagai bahan
bangunan. Setiap jenis bambu memiliki karakteristik tersendiri baik sifat anatomi,
kimia, fisis dan mekanis sehingga kerentanan terhadap faktor perusak dan
penggunaannya pun akan berbeda untuk setiap jenis bambu. Ketahanan bambu
tergantung kepada kondisi iklim dan lingkungan. Bambu tanpa perlakuan khusus
dapat bertahan antara satu sampai tiga tahun jika berinteraksi dengan tanah dan
udara, namun jika berinteraksi dengan air laut masa pakainya kurang dari satu
tahun. Kayu gmelina termasuk dalam kategori kelas kuat III−IV, dan kelas awet IV.
Kayu gmelina ringan dan memiliki berat jenis 0,42−0,64. Sehingga pengamatan ini
sesuai dengan pengamatan (Iskandar dan Supriadi, 2011), bahwa kayu gmelina
memiliki tingkat kerusakan yang sedang terhadap serangan rayap.
Keterkaitan Mortalitas dan Preferensi Makan Rayap
Mortalitas rayap meningkat karena rayap tidak mampu beradaptasi dengan
lingkungan yang baru karena terdapat perbedaan suhu, kelembaban dan intensitas
cahaya. Selain itu, rayap dihadapkan pada kondisi tidak ada pilihan bahan makanan
lain (Febrianto et. al, 2014).
Berdasarkan penelitian Windasari et. al (2012), preferensi makan rayap
memiliki hubungan dengan penurunan susut bobot kayu sampel uji. Pada
pengamatan dengan metode yang dipaksakan, rayap dihadapkan dengan satu
pilihan makanan yang ada sehingga terpaksa memakan kayu contoh uji akibatnya
rayap akan mati bila contoh uji mengandung bahan yang bersifat termisida.
Penyusutan berat memiliki korelasi yang negatif dengan mortalitas rayap, dimana
semakin tinggi mortalitas rayap maka semakin kecil kehilangan berat contoh uji.
Dengan bertambahnya jumlah rayap yang mati akan memperkecil kehilangan berat
kayu contoh uji yang diumpankan.
Tabel 3. Kondisi rayap metode pemilihan makan (setelah 1 jam pengamatan)
Jenis Jumlah Tingkat
Kayu/Bambu Rayap Preferensi
Kayu Sengon 10 Sedang
Bambu 7 Tidak Suka
Kayu Gmelina 24 Suka
Kayu Manglid 56 Sangat Suka
Berdasarkan tabel 2, setelah 1 jam pengamatan kayu manglid paling banyak
ditempeli oleh rayap, berbeda hasil dengan tabel 1 yang menunjukan bahwa kayu
manglid tidak disukai oleh rayap, hasil pada tabel 2 menunjukan bahwa kayu
manglid memiliki zat ekstraktif yang merangsang syaraf perangsang gustatory yang
sangat sensitif terhadap bau khas dari kayu itu sendiri. Berdasarkan penelitian
Munawar (2011), kekhasan dari jenis kayu akan mempengaruhi perilaku rayap,
pada saat rayap mencicipi sumber makanan dan jika dirasakan adanya zat ekstraktif
maka rayap akan berpindah ke bagian lain dari makanan tersebut atau mencari
sumber makanan lain. Kedatangan rayap menuju seluruh contoh uji diduga karena
aroma gula yang terdapat dalam kayu atau bambu yang merupakan rangsangan awal
bagi rayap untuk mendatanginya.
Tingkat Preferensi Makan Rayap
Tabel 4. Tingkat preferensi makan rayap
Kehilangan Berat
Nama Kayu (%) Tingkat Preferensi
Kelapa 65.539 Sangat Suka
Kamper 13.52 Suka
Sungkai 7.83 Sedang
Jati 4 Tidak suka
Laban 1.044 Sangat Tidak suka
Perbandingan Metode
Keuntungan penggunaan metode prefensi makan rayap adalah mengetahui
jenis kayu yang tidak disukai oleh rayap dan dapat dilakukan pengurangan terhadap
jenis kayu yang disukai oleh rayap, selain itu dapat diketahui tingkat mortalitas dari
rayap yang menyerang dari jenis kayu yang akan digunakan, namun metode
tersebut memiliki kelemahan yaitu harus dilakukan uji terhadap kayu yang akan
digunakan untuk bangunan atau penggunaan lainnya karena kayu memiliki tingkat
preferensi makan rayap yang berbeda. Jika dibandingkan dengan metode pestisida
memiliki perbedaan, yaitu keuntungan menggunakan pestisida adalah dapat
mengendalikan rayap tanpa harus dilakukan uji, karena metode tersebut dapat
dilakukan dengan cara penyemprotan yang memiliki tingkat efektivitas yang sangat
tinggi terhadap rayap, namun metode pestisida memiliki kekurangan yaitu
penggunaan bahan kimia yang dapat mengganggu kesehatan manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Febrianto, F., Gumilang, A., Maulana, S., & Purwaningsih, A. 2014. Natural
Durability of Five Bamboo Species Against Termites and Powder Post
Beetle. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis, 12(2), 146-156.
Frick, I. H., & Setiawan, P. L. 2001. Seri Konstruksi Arsitektur 4: Ilmu Konstruksi
Struktur Bangunan. Yogyakarta : Kanisius.
Handru, A., & Herwina, H. 2012. Jenis-jenis Rayap (Isoptera) di Kawasan Hutan
Bukit Tengah Pulau dan Areal Perkebunan Kelapa Sawit, Solok
Selatan. JURNAL BIOLOGI UNAND, 1(1) 98-103.
Haneda, N. F., & Firmansyah, A. 2013. Termite Biodiversity in Gunung Walat
Education Forest, Sukabumi. Jurnal Silvikultur Tropika, 3(2) 1-12.
Iskandar, M. I., & Supriadi, A. 2011. Pengaruh besaran kempa terhadap sifat papan
partikel serutan kayu. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 29(3), 226-233.
Mansur, I. I.& Tuheteru, F. D. 2010. Kayu Jabon. Jakarta : Penebar Swadaya Grup.
Mariana, E., Ariyanti, A., & Erniwati, E. 2013. Uji Retensi dan Efektivitas
Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus) Terhadap Serangan Rayap
Tanah (Coptotermes sp) pada Kayu Durian (Durio zibethinus). Jurnal
Warta Rimba, 1(1) 1-12.
Munawar, S. S. 2001. Preferensi Makan Rayap Kayu Kering (Cryptotermes
cynocephalus Light) pada Empat Jenis Bambu. (Doctoral Dissertation).
Yogyakarta : Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.
Nandika, D., Rismayadi, Y., & Diba, F. 2003. Rayap: Biologi dan
Pengendaliannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press.
Ningsih, D. S., Dahelmi, D., & Rahayu, R. 2014. Jenis-Jenis Rayap (Isoptera) Pada
Kawasan Cagar Alam Lembah Anai Kabupaten Tanah Datar Sumatera
Barat. Natural Science: Journal of Science and Technology, 4(2) 18-24.
Praktis, K. 2007. Mencegah & Membasmi RAYAP. Jakarta : PT Niaga Swadaya.
Subekti, N. 2012. Biodeteriorasi kayu pinus (Pinus merkusii) oleh rayap tanah
Macrotermes gilvus Hagen (Blattodea: Termitidae). Jurnal
Bioteknologi, 9(2), 57-65.
Sumarni, G., & Muslich, M. 2009. Kelas Awet 25 Jenis Kayu Andalan Setempat
Terhadap Rayap Kayu Kering dan Rayap Tanah. Jurnal Penelitian Hasil
Hutan, 26(4), 323-331.
Taufan, S., Radhitya, M., & Zulfahmi, Z. 2010. Pemanfaatan Limbah Kulit Udang
sebagai Bahan Anti Rayap (Bio-termitisida) pada Bangunan Berbahan
Kayu. (Doctoral dissertation). Semarang : Fakultas Teknik, Universitas
Diponegoro.
Widyati, E. 2013. Pentingnya Keragaman Fungsional Organisme Tanah Terhadap
Produktivitas Lahan. Jurnal Tekno Hutan Tanaman 6(1), 29-37.
Windasari, N., Priyono, B., & Martuti, N. K. T. 2012. Toksisitas Ekstrak Biji
Srikaya dan Pengaruhnya terhadap Viabilitas Rayap Kayu Kering. Life
Science, 1(1) 18-26.
Zulkaidhah, Z., Musyafa, M., Soemardi, S., & Hardiwinoto, S. 2014. Kajian
Komunitas Rayap Akibat Alih Guna Hutan Menjadi Agroforestri di Taman
Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Jurnal Manusia dan
Lingkungan, 21(2), 213-219.