Arsip untuk Kategori 'Jaminan mutu hasil pengujian'
Ketertelusuran Pengukuran dan Bahan Acuan
Pada ISO/IEC 17025 : 2005 pada pasal 5.6 ketertelusuran Pengukuran
Semua peralatan yang digunakan untuk pengujian dan/atau kalibrasi. termasuk untuk pengukuran
subsider (seperti kondisi lingkungan) yang mempunyai pengaruh yang signifikan pada akurasi atau
keabsahan hasil dari pengujian, kalibrasi dan pengambilan sampel harus dikalibrasi sebelum
digunakan. Laboratorium harus memiliki program dan prosedur yang ditetapkan untuk kalibrasi
peralatannya.
Sedangkan pada pasal 5.6.2 tentang persyaratan khusus
1. Kalibrasi
untuk lab kalibrasi
Kalibrasi danp pengukuran yang dilakukan harus tertelusur ke siistem satuan internasional (SI).
Ketertelusuran ke SI dapat diperoleh melalui acuan ke standar primer, melalui standar pengukuran
nasional
2. Pengujian
Persyaratan untuk lab pengujian sama dengan untuk lab kalibrasi yaitu untuk peralatan ukur dan
pengujian. bila ketertelusuran pengukuran ke SI tidak mungkin / tidak relevan, diperlukan
ketertelusuran ke CRM. Metode atau standar konsensus.
Sehingga ada 2 standar : SI dan CRM untuk acuan ketertelusuran.
KETERTELUSURAN
(mampu telusur, traceability)
adalah sifat dari suatu hasil pengukuran yang dapat dikaitkan dengan standar tertentu tepat,
umumnya standar nasional atau internasional, melalui rantai perbandingan yang tidak terputus.
Kemampuan dari suatu pengukuran secara individual untuk dihubungkan ke :
Standar nasional/internasional untuk satuan ukuran
Dan/atau sistem pengukuran yang disahkan secara nasional maupun internasional melalui suatu
rantai perbandingan yang tak terputus
SI (INTERNATIONAL SYSTEM OF UNITS)
satuan SI untuk analisis kimia : “mol”
KALIBRASI PERALATAN
Yang perlu dilakukan pihak luar (laboratorium kalibrasi terakreditasi)
Neraca
Oven
Furnace
Termometer
Barometer
Stopwatch
Neraca dikalibrasi, laboratorium akan mendapat sertifikat kalibrasi. Sedangkan waktu kalibrasi ulang
tergantung dari frekuensi pemakaian neraca tersebut. Perlu dilakukan pengecekan antara
menggunakan anak timbangan yang telah dikalibrasi. Apabila berat yang ditunjukan masih berada
dalam range yang ada pada sertifikat kalibrasi, maka neraca belum perlu dikalibrasi ulang.
Sedangkan apabila berat yang ditunjukan telah berada di luar range yang ada pada sertifikat
kalibrasi, maka neraca perlu dikalibrasi ulang.
Kalibrasi Peralatan Gelas
Yang perlu dikalibrasi adalah labu takar, volume pipet dan buret.
Sebaiknya laboratorium menggunakan peralatan gelas A
Cara mengkalibrasi/verifikasi labu takar adalah
Kalibrasi peralatan gelas dilakukan dengan neraca
timbang labu takar kosong
ISI dengan aquadest sampai tanda batas, timbang kembali
hitung berat air dalam labu takar
Cari BD air dalam handbook pada suhu tercata
Hitung volume air, bandingkan volume tersebut dengan range volume pada labu takar
Cara Memverifikasi Volum Pipet
Timbang beaker/erlenmeyer kosong
pipet aquadest dalam volume pipet yang kana dikalibrasi sampai pada tanda batas, masukan
dalam beaker/erlenmeyer
Hitung berat air dalam beaker/erlenmeyer
Cari BD air dalam handbook pada suhu tercatat
Hitung volume air, bandingkan volume tersebut dalam range pada volum pipet
Cara memverifikasi Buret
timbang beaker/erlenmeyer kosong
turunkan aquadest dari buret yang akan dikalibrasi sampai volume tertentu, tampung dalam
beaker/erlenmeyer
Hitung berat air dalam beaker/erlenmeyer
Cari BD air dalam handbook pada suhu yang tercatat
Hitung volume air, bandingkan volume tersebut dengan range volume pada buret
Cari Kalibrasi pH Meter
Untuk kalibrasi pH-meter diperlukan buffer standar 4, 7 dan 10
Siapkan alat pH-meter beserta elektrode dan larutan buffer
Nyalakan allat dan pilih mode kalibrasi
Bilas elektrode dengan aquadest dan celupkan dalam larutan buffer yang pertama (pH buffer
4)
Bilas elektrode dengan aquadest dan celupkan dalam larutan buffer yang kedua (pH buffer 7)
Bilas elektrode dengan aquadest dan celupkan dalam larutan buffer yang ketiga (pH buffer 10)
catat slope dan bandingkan dengan range slope pada manual alat, pH meter dapat digunakan
bila berada dalam range yang terdapat pada manual alt
Kalibrasi Spektro UV/Vis
Yang perlu dikalibrasi adalah panjang gelombang dan absorbansi
Kalibrasi Panjang gelombang
menggunakan filter gelas holium oksida yang memupnyai panjang gelombang acuan (nm) :
Pasang filter gelas holium
oksida pada kompartemen sampel dan kompartemen pembanding dibiarkan kosong (udara)
Scan spektrum serapan holium oksida, bandingkan panjang gelombang spektrum yang
diperoleh dengan data panjang gelombang acuan
kalibrasi Absorbans
Buat larutan kalium dikromat 50 + 0,5 mg dalam 1 liter 0,005 mol/L asam sulfat (larutan A)
Buat larutan kalium dikromat 100 + 1 mg dalam 1 liter 0,005 mol/L asam sulfat (larutan B)
buat larutan 0,005 mol/L asam sulfat sebagai pembanding dan bandingkan hasilnya dengan
data acuan (+ 2%)
Kalibrasi Peralatan kromatografi
Kecepatan aliran fasa gerak : kromatografi gas menggunakan soap buble flowmeter dan HPLC
menggunakan gelas ukur dan stopwatch
Repeatabilitas injeksi
Perhitungan N-Kolom
SI pada PENGUKURAN KIMIA
kuntitas zat ( amount of subtance ), dinyatakan dalam mole,mol
ketertelusuran pengukuran/pengujian kimia dipandang lebih kompleks daripada pengukuran
fisika, karena rangkaian proses analisis kimia sangat panjang
dalam proses mungkin terjadi kelihalangan analit atau terjadi penambahan dari luar karena
kontaminasu, sehingga rantai perbandingan menjadi terputus
Metode Gravimetri
Contoh ditimbang menggunakan neraca yang terkalibrasi (traceable)
Dilarutkan (diandaikan efisiensi 100%)
ditammbahkan pereaksi pengendap dalam keadaaan berlebih (diandaikan efisiensi 100%)
diendapkan, disaring, dicuci, dikeringkan (diandaikan efisiensi 100%)
ditimbang kembali menggunakan neraca kalibrasi (traceable)
METODE TITRASI
Dibuat larutan standar primer
standar ditimbang menggunakan neraca terkalibrasi (traceable)
Standar dilarutkan dalam labu takar terkalibrasi
titrasi contoh menggunakan standar primer
Contoh ditimbang menggunakan neraca terkalibrasi (traceable)
Contoh dilarutkan, larutan dititrasi dengan standar primer menggunakan buret terkalibrasi
Disini diandaikan efisiensi reaksi titrasi 100%
METODE AAS
Contoh dipipet dengan volum pipet terkalibrasi (traceable)
dekstruksi (tidak diyakini efisiensi 100 % berarti tidak traceable)
Diukur pada panjang gelombang tertentu dengan nenggunakan AAS (meskipun terverifikasi
namun panjang gelombang (nm) bukan merupakan satuan internasional
Ketertelusuran pada pengukuran/pengujian kimia
Hanya dapat dicapai melalui metode absolut primer yang mempunyai bias minimum karena mampu
tertelusur langsung ke standar massa (Kg)
Beberapa contoh Metode Absolut (Primer) adalah
metode gravimetri
Metode titrimetri
Metode Coulometri
Metode ID/MS (Isotop Dilution Mass Spectrometri)
Dalam prakteknya pengujian kimia lebih banyak menggunakan metode instrumental seperti UV/Vis,
AAS, GLC, HPLC, dll. efisiensi atau recovery proses analisis umumnya kurang dari 100% atau bahkan
lebih dari 100% bila ada kontaminasi dari luar.
Ketertelusuran pengukuran/pengujian kimia disini dilakukan melalui penggunaan bahan acuan
bersertifikat (CRM, SRM)
BAHAN ACUAN
adalah suatu bahan yang mempunyai satu atau lebih sifat bahan yang homogen dan cukup stabil
untuk dapat digunakan dalam mengkalibrasi peralatan, menguji metode atau sebagai standar dalam
pengukuran/analisis contoh.
KLASIFIKASI BAHAN ACUAN
Bahan Acuan Primer
Bahan Acuan Tersertifikasi
Bahan Acuan Sekunder
tergantung dari
tingkat akurasi
posisi dalam mata rantai kemamputelusuran (Keterelusuran)
TIGA KLASIFIKASI BAHAN ACUAN
1. Bahan Acuan Primer
Bahan Murni
2. Bahan Acuan Tersertifikasi
NIST (National Institute of Standard and Technology, Gaithersburf, Maryland, USA)
BCR : Community Bureau of Reference di Belgia
LGC : Laboratory of Goverment Chemist di UK
3. Bahan Acuan sekunder
Bahan acuan dengan nilai konsensus
Bahan acuan dengan nilai yang telah ditetapkan (assigned value)
BAHAN ACUAN (Reference Materials)
Di dalam pengukuran/pengujiann kimia diperlukan bahan acuan untuk memeriksa kebenaran dari :
preparasi Contoh
Pelarutan Contoh
Pemisahan Kimia
Proses Pengukuran
Bahan ini disampaikan oleh Prof Sumardi dan Dr Julia Kantasubrata di RC chem Learning Centre.
Semoga bermanfaat
Prosedur Pembuatan dan Penggunaan Control Sampel
I. Prosedur Pembuatan Control Sampel
1. ambil contoh uji atau contoh uji yang dispike dengan larutan standar yang akan digunakan sebagai
kontrol sampel (disediakan sesuai dengan jenis dan lama pengawetan)
2. Contoh uji dihomogenkan
3. contoh uji dikemas dalam bentuk kemasan sekali pakai
4. Uji homogenitas dari kontrol sampel tersebut dengan cara sebagai berikut :
ambil secara random 10 contoh control sampel
analisis dilakukan secara duplo
data analisis dihitung secara statistika dengan langkah-langkah berikut :
1. hitung MSB dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
2. Hitung MSW dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
3. Uji homogenitas kontrol sampel dengan empat kriteria berikut :
3.1 Kriteria I : Fhitung < Ftabel (p;db1;db2)
3.2 kriteria II :
dengan sigma = 1,1 (nilai target untuk SD acuan, nilai ini tidak diturunkan dari data)
3.3 Kriteria III :
dimana C adalah fraksi konsentrasi
3.4 Kriteria IV :
Jika dari hasil uji homogenitas sampai dengan kriteria IV masih tidak homogen, control sampel tidak
digunakan maka seluruh kontrol sampel disatukan kembali dan dihomogenkan ulang kemudian
dikemas dalam bentuk sekali pakai dan uji homogenitasnya sampai memenuhi persyaratan
homogenitasnya
II. Penetapan Nilai Control Sampel
1. ditetapkan minimal 7 kali secara duplo dan diambil harga rata-rata dari 7 kali analisis atau dapat
digunakan nilai grand mean dari uji homogenitas control sampel
2. dibandingkan terhadap CRM (apabila laboratorium memilikinya) atau dibandingkan dengan
standar. (pemeriksaan dilakukaan secara simultan atau pada saat yang sama dengan kontrol
sampel menggunakan metode yang sama memberikan nilai yang berada pada daerah
keberterimaan sesuai dengan nilai yanng tercantum pada sertifikatnya maka hasil analisis pada
kontrol sampel dapat dikatakan valid dan nilainya dapat dipakai sebagai acuan
III. Uji stabilitas Kontrol Sampel
1. untuk uji stabilitas , diambil dua data sebagai berikut :
Data dari hasil uji homogenitas (Grand mean,Xrata-rata)
Data hasil dari analisis yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu yaitu jika kontrol sampel
telah disimpan selama kurun waktu tertentu
1. Kedua data tersebut di atas diolah secara statistik dengan menggunakan uji t
Uji t (student) digunakan untuk melihat apakah kedua jumputan data adalah sama atau
mungkin berbeda nyata
Data I
Data 2
1. Hitung t hitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
2. apabila thitung < t tabel pada P = 95% dan
derajat bebas (u) = nH + nS – 2, maka berarti tidak ada perbedaan yang nyata antara kedua nilai
rata-rata uji , control sample stabil dan masih dapat digunakan
3. apabila thitung > t tabel pada P =95% dan derajat bebas (u) = nH + nS -2, maka berarti ada
perbedaan yang nyata antara kedua nilai rata-rata uji , control sample tidak stabil dan tidakdapat
digunakan
IV. Cara Menggunakan Control Sampel
pilih jenis kontrol sampeel yang sesuai dan lakukan analisis contoh tersebut sekurang-
kurangnya 7 kali atau gunakan data konentrasi 10 control sampel dari hasil uji homogenitas
hitung nilai rata-rata dan simpangan baku
gambarkan harga rata-rata pada kertas grafik
gambar pula garis +/- SD; +/-2SD dan +/- 3SD
Batas kendali atas (Upper control Limit) :
UCL = Xrata-rata + 3SD
Batas peringatan atas (upper warning limit) :
UWL = Xrata-rata + 2 SD
Batas peringatan bawah (Lower warning limit) :
LWL = Xrata-rata – 2SD
Batas kendali bawah (lower control limit) :
LCL = xrata-rata – 3SD
gunakan control sampel ini pada analisis berikutnya dan catat hasil yang diperoleh pada control
chart
Hasil analisis sampel yang diperiksa dapat dilaporkan bila hasil analisis dari kontrol sampel
berada dalam batas X + 1SD dan X + 2 SD dengan syarat tidak berlaku 15 titik terus menerus
Hasil analisis sampel yang diperiksa harus segera dilakukan pengujian ulang jika :
1. hasil analisis 3 dari 4 control sampel berurutan lebih dari X + 2SD
2. hasil analisis control sampel lebih besar dari X + 3SD
3. rentang analisis 2 control sampel berurutan lebih 4SD
4. hasil analisis 4 dari 5 control sampel secara berurutan lebih besar dari X + 1SD atau lebih kecil
dari 1SD
5. hasil analisis 7 control sampel secara berurutan berada pada 1 sisi
Jika pengulangan analisis kontrol sampel :
1. hasil analisis lebih kecil dari X + 2SD hasil pengujian sampel dapat diterima dan tidak perlu
diadakan tindakan perbaikan
2. hasil analisis lebih besar dari X + 2SD hasil pengujian contoh tidak dapat diterimaa dan perlu
diadakan tindakan perbaikan
3. hasil analisis lebih kecil dari X + 1SD atau lebih besar X + 1SD tetapi tidak berada pada sisi
yang sama maka hasil pengujian contoh dapat diterima dan tidak perlu diadakan tindakan
perbaikan
Jaminan Mutu Hasil Pengujian
Berdasarkan ISO/IEC 17025 : 2005 point 5.9.1 Laboratorium harus memiliki prosedur pengendalian
untuk memantau keabsahan pengujian dan kalibrasi yang dilakukan. Data yang dihasilkan harus
direkam sedemikian rupa sehingga semua kecenderungan dapat dideteksi dan bila memungkinkan
teknik statistik harus diterapkan dalam pengkajian hasil. Pemantauan tersebut harus direncanakan
dan dikaji serta mencakup, tapi tidak terbatas pada hal-hal berikut :
keteraturan dalam penggunaan bahan acuan bersertifikat dan/atau pengendalian mutu internal
menggunakan bahan acuan sekunder
partisipasi dalam uji bandingatar laboratorium atau program uji profisiensi
replika pengujian atau kalibrasi menggunakan metode yang sama atau berbeda
pengujian ulang atau kalibrasi ulang atas barang yang masih ada
korelasi hasil untuk karakteristik yang berbeda dari suatu barang
Sehingga dapat dikatakan bahwa jaminan mutu dalah salah satu usaha yang bertujuan untuk
memperkecil kesalahan data hasil analisis dan menjamin agar mutu data hasil analisis dapat diterima
Kualitas dari suatu laboratorium terukur dengan keandalan/reabilitas data (dinyatakan sebagai
presisi dan akurasi data yang diukur terhadap bahan acuan atau kontrol sampel), kinerja
laboratorium dalam uji banding laboratorium atau uji profisiensi, kepuasan pelanggan dan
kesesuaian dengan atau terakreditasi menurut standar internasional terutama ISO/IEC 17025 :
2005.
Bahan Acuan
adalah suatu bahan yang mempunyai satu atau lebih sifat bahan yang homogen dan cukup stabil
untuk dapat digunakan dalam mengkalibrasi peralatan, menguji metode atau sebagai standar dalam
pengukuran/analsis contoh.
Klasifikasi Bahan Acuan
1. bahan acuan primer
2. Bahan acuan tersertifikasi
3. Bahan acuan sekunder
klasifikasi tersebut tergantung dari tingkat akurasi dan keberadaannya dalam mata rantai
kemamputelusuran.
tiga klasifikasi bahan Acuan
1. Bahan acuan murni
Bahan murni
2. Bahan acuan Tersertifikasi
NIST : nasional Institute of Standards and Technology, gaithersburg, Maryland USA
BCR : Community Bureau of Refereence di Belgia
LGC : Laboratory of goverment Chemist di UK
3. Bahan Acuan Sekunder
Bahan acuan dengan nilai konsensus
Bahan acuan dengan nilai yang ditetapkan (assigned value)
Dilihat dari cara penetapan nilainya
Bahan acuan dengan “assigned value” : ditetapkan dengan metode absolut
Bahan acuan dengan nilai konsensus : ditetapkan dengan nilai konsensus dari suatu uji banding
antar laboratorium
Beberapa contoh Metode absolut (Primer)
Metode gravimetri
metode titrimetri
metode coulometri
Metode ID-MS (Isotop Dilution Mass spectrometry)
Bahan Acuan yang tersedia di pasaran :
1. Bahan acuan tersertifikasi (CRMs)
NIST : nasional Institute of Standards and Technology, gaithersburg, Maryland USA
BCR : Community Bureau of Refereence di Belgia
LGC : Laboratory of goverment Chemist di UK
2. Bahan acuan yang diperoleh dari Uji Profisiensi
IAEA : International Atomic energy Agency
NATA : National Association of Testing Authorities, Australia
BRI : Bread Research Institute, australia
FAPAS : Foos analysis performance assesment Scheme
Persyaratan Bahan Acuan
Mempunyai matriks yang menyerupai bahan alamiah
Bahan mudah diperoleh dan murah
Bahan cukup homogen dan stabil ditinjau dari kandungan analitnya
Bahan mengandung sejumlah memadai analit yang akan dianalisis
Bahan seminimal mungkin terkontaminasi
Kegunaan bahan acuan
didalam pengukuran/pengujian kimia diperlukan bahan acuan untuk :
1. Memeriksa kebenaraan dari :
Preparasi contoh
Pelarutaan contoh
Pemisahan kimia
Proses pengukuran
2. Mengetahui adanya kesalahan dalam analisis
3. Mengukur akurasi suatu metode pengujian/pengukuran
4. Memvalidasi suatu metode
5. Mengukur kompetensi seorang analis
6. mengukur kompetensi suatu laboratorium
7. Memonitor unjuk kerja laboratorium dari waktu ke waktu
8. Sebagai kontrol sampel
Yang dibutuhkan oleh laboratorium adalah bahan acuan yang ketersediaannya kontinyu, tidak terlalu
mahal dan mudah diperoleh.
Karena mahalnya bahan acuan tersertifikasi maka laboratorium disarankan membuat kontrol sampel
yang pada mulanya dianalisis secara simultan dengan bahan acuan tersertifikat bila control sampel
menghasilkan hasil yang berada dalam batas keberterimaan yang terdapat dalam sertifikat bahan
acuan, maka control sampel tersebut dapat digunakan sebagai bahan acuan in house.
Control chart
adalah suatu grafik yang terdiri dri suatu nilai ekspektassi (nilai rata-rata) dan suatu rentang data
yang dapat diterima dinyatakan sebagai batas kendali (Control limits)
grafik ini dapat digunakan sebagai dokumen ketidakpastian pengukuran dan variasi aspek proses
dan variasi aspek pengukuran misalnya sensitivitas instrumen
Materi ini saya peroleh dari Ibu Julia Kantasubrata pada modul pelatihan prosedur pembuatan bahan
acuan di RC LIPI dan Bapa Drs Tahid MSc dalam training asesor laboratorium lingkungan BPLHD –
Jabar .