67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
1K tayangan199 halaman

Salinan Kotbah

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
1K tayangan199 halaman

Salinan Kotbah

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Selain bentuk khotbah ekspositori, bentuk khotbah yang sering diterapkan di kalangan pembicara

adalah bentuk khotbah topikal dan tekstual.

I. Bentuk Khotbah Topikal


Khotbah yang dibangun dengan garis besarnya berdasarkan sebuah topik.

Cara membuat khotbah topikal:

1. Buatlah judul satu topik dalam sebuah kalimat pendek.


Contoh: Menguasai Diri
2. Buatlah pokok besar untuk menguraikan judul topik tersebut.
Ide pokok besar bisa dari penjelasan topik, bisa juga dengan menjawab pertanyaan.
3. Isilah pokok bestir dengan ayat pendukung.
Ayat dukungan harus sesuai isi pokok besar.
4. Berilah isian dalam setiap pokok besar.
Untuk menjelaskan pokok besar bisa diisi dengan uraian, tafsiran, ilustrasi, penerapan.
5. Buatlah pendahuluan dan penutup.
Membuat pendahuluan dan penutup sesingkat mungkin, tetapi menarik.

Contoh khotbah topikal (1)

Topik : Menguasai Diri


Ayat emas : "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya,
melebihi orang yang merebut kota" (Amsal 16:32).

Pendahuluan

Di antara sembilan buah Roh, salah satu di antaranya adalah menguasai diri. Menguasai diri
artinya kemampuan mengontrol, mengatur, mengendalikan diri sendiri.

1. Apa maksud menguasai diri?


1. Menguasai diri dari keinginan hawa nafsu (1 Korintus 7:9).
2. Menguasai diri dari karakter atau watak pribadi (Titus 1:8, 2:6).
3. Menguasai diri dalam segala hal (2 Timotius 4:5; Titus 2:6).
4. Menguasai diri dalam: makan, tidur, bekerja, berkata, di jalan, kelimpahan,
kekurangan, dan lain-lain.
2. Menguasai diri untuk apa?
1. Menguasai diri supaya bisa berdoa (1 Petrus 4:7).
2. Menguasai diri demi kepentingan bersama (2 Korintus 5:13).
3. Menguasai diri menurut ukuran iman (Roma 12:3).
4. Menguasai diri karena suara hati nurani (Roma 13:5).
5. Menguasai diri karena ada mahkota (1 Korintus 9:25).
Ilustrasi contoh buruk: Kain tidak bisa menguasai diri, sehingga membunuh adiknya
sendiri (Habel). Saul tidak bisa menguasai diri, sehingga sebagai seorang raja, memburu
anak menantunya (Daud) seperti memburu anjing, atau melenyapkan kutu? (1 Samuel
24:15).

3. Apa gambaran orang yang bisa menguasai diri?


1. Menguasai diri seperti pahlawan (Amsal 16:32, 25:28)
2. Menguasai diri seperti olahragawan (1 Korintus 9:25).
3. Menguasai diri seperti nahkoda (Yakobus 3:4).
4. Menguasai diri seperti pawang (Yakobus 3:8).

Ilustrasi: Dalam mobil, terdapat pedal gas dan pedal rem. Seorang pengemudi harus
bisa menguasai diri, kapan waktu yang tepat untuk menggunakan pedal gas dan pedal
rem tersebut, sehingga memperlancar perjalanan.

Kesimpulan:

Kedewasaan perilaku seseorang dapat dilihat taktala ia bisa menguasai diri. Ia seperti
pahlawan (Amsal 16:32), bukan seperti tembok yang mau roboh (Amsal 25:28). Dan, bagi
mereka yang dapat menguasai diri, tersedia mahkota (1 Korintus 9:25).

Contoh khotbah topikal (2)

Topik : Kamu Adalah Garam Dunia


Ayat emas : "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang" (Matius
5:13).

Pendahuluan

Menjadi garam bukan sebuah perintah, bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah ketetapan
(kodrat baru) bagi orang percaya. Tidak ada perintah: Jadilah garam dunia. Tidak ada
pertanyaan: Maukah jadi garam dunia? Yang ada adalah pernyataan: Kamu adalah garam dunia.

1. Menjadi garam adalah kodrat murid Kristus


"Kamu adalah garam dunia" (Matius 5:13).
Dua macam garam:
1. Garam Laut Mati
Luas Laut Mati 85x16 kilometer, dalamnya 491 meter. Disebut Laut Mati karena
hanya menerima aliran air, tanpa mengalirkan ke tempat lain. Airnya berasa pahit
atau asin. Lingkungan Laut Mati yang membahayakan kehidupan dipandang
sebagai kutukan dan melambangkan kesunyian maupun kerusakan. Sering disebut
dengan nama Laut Asin (Bilangan 34:12). Namun, banyaknya plankton
menjadikan kadar garam di laut mati enam kali lebih baik dibanding Danau
Galilea. Untuk membuat garam, air itu tidak perlu diberi campuran.
2. Garam Danau Galilea
Luas Danau Galilea 21x11 kilometer. Banyak ikan, dan sebagian besar murid
berasal dari daerah ini. Namun airnya tawar, dan mengandung kadar garam sangat
kecil, sehingga pembuatan garam sering dicampur dengan tepung. Dan, jika kadar
garamnya habis, yang tinggal adalah tepungnya (hilang asinnya).
2. Menjadi garam harus berfungsi
'"Kamu adalah garam dunia" (Matius 5:13). Untuk berfungsi garam harus, ditabur,
dilebur, dihanyutkan:
1. Sebagai bumbu masakan (Ayub 6:6).
2. Sebagai tanda perjanjian (Bilangan 18:19; 2 Tawarikh 13:5).
3. Sebagai pelengkap persembahan (Imamat 2:13).
4. Sebagai pupuk tanah (Lukas 14:34,35).
5. Sebagai pelarut kotoran dalam air (2 Raja-raja 2:2 1).
6. Mensterilkan tali pusar bayi (Yehezkiel 16:4).

Fungsi lainnya: Mengawetkan, membersihkan atau menyegarkan sayuran, mengusir


ular.

3. Garam bisa menjadi tawar


"Jika garam itu menjadi tawar" (Matius 5:13). Garam campuran bisa hilang asinnya.
Atau kalau kena panas atau angin akan luntur asinnya. Hasilnya? Tidak ada gunanya!
Selain diinjak-injak orang. Garam yang hilang fungsinya, tidak ada gunanya sama sekali.

Penerapan

Sebagai murid Yesus, kita digambarkan sesuai kebutuhan lingkungan. Kita adalah garam,
kita adalah terang. Prinsipnya, kita harus memengarui lingkungan, bukan dipengaruhi
lingkungan, sebab kita adalah manusia baru. "Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah
ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus
5:17).

II. Bentuk Khotbah Tekstual


Khotbah yang dibangun dengan garis besarnya berdasarkan sebuah teks ayat Alkitab.

Cara membuat khotbah tekstual:

1. Bacalah satu perikop atau nas secara berulang-ulang.


2. Dapatkan satu ayat kunci (ayat emas) dalam perikop tersebut.
3. Kupaslah ayat kunci (ayat emas) tersebut dalam beberapa pokok pikiran.
4. Pokok pikiran bukan hanya menjelaskan ayat tersebut, melainkan juga menjelaskan
perikop, sehingga ayat kunci tidak akan terlepas dari konteksnya.
5. Pokok pikiran tersebut disusun secara logis dan sistematis. Dan, perlu diperlengkapi
dengan uraian, definisi, ilustrasi, dan penerapan.
6. Buatlah pendahuluan dan penutup. Membuat pendahuluan dan penutup sesingkat
mungkin, tetapi menarik.
7. Sangat baik jika ayat kunci (ayat emas) dijadikan ayat hafalan.

Contoh bentuk khotbah tekstual (1)

Judul : Doa Pagi


Teks Ayat : "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi
ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana" (Markus 1:35).

Pendahuluan

Martin Luther mengatakan, "Doa adalah napas orang beriman." Alkitab mengatakan bahwa
kita harus berdoa tidak putus-putusnya (Efesus 6:18), tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Tetapi,
semua itu harus diatur. Lihat contoh doa pagi dari Tuhan Yesus.

1. Doa pagi waktunya perlu diatur


o Ada frasa "pagi-pagi benar" (Markus 1:35).
o "Hiduplah dengan penuh hikmat, pergunakanlah waktu yang ada" (Kolose 4:5).
o "Karena itu kuasailah dirimu dan waspadalah, supaya kamu dapat berdoa"(1
Petrus 4:7).
o "TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku
mengatur nersembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu" (Mazmur 5:4).
o "Berdoalah setiap waktu ... itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya"
(Efesus 6:18).
2. Doa pagi tempatnya perlu disediakan
o Ada frasa "Ia bangun dan pergi ke luar" (Markus 1:35).
o "Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering
berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya" (Yohanes 18:2). Getsemani adalah
tempat rutin Yesus berdoa.
3. Doa pagi acaranya perlu disiapkan
Ada frasa "berdoa di sana" (Markus 1:35). Doa pagi memungkinkan kita berkonsentrasi
tanpa terganggu oleh hiruk pikuknya sekeliling kita. Pagi hari memungkinkan kondisi
fisik, emosi, pikiran kita masih segar, belum terforsir untuk hal lain, sehingga pada pagi
hari kita bisa berdoa dengan tenang, menyembah, memohon, dan berserah kepada Tuhan.
Acaranya bisa penyembahan, pujian, renungan, saat teduh, berdoa untuk keluargaa
gereja, dan syafaat, doa untuk pekerjaan (Mazmur 90:14, 5:4).

Ilustrasi: Menurut tradisi Yahudi, para pemuka agama Yahudi merasa malu jika
mendengar ayam berkokok lebih dahulu, sebelum mereka berdoa pagi. Seolah-olah ayam telah
lebih dahulu menyapa Sang Pencipta. Untuk itu, sebelum ayam berkokok, para pemuka agama
Yahudi menyediakan diri untuk berdoa. Doa pagi.

Penerapan: Aturlah waktu, pilihlah tempat, mari bersaat teduh, bersimpuh di hadapan
Tuhan.

Contoh bentuk khotbah tekstual (2)


Judul : Sikap Kita terhadap Firman Allah
Teks ayat : "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya
serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel" (Ezra 7:10).

Pendahuluan

Sekarang zaman informasi. Televisi, koran, internet, beritanya sangat sensasional, up to


date. Adapun Alkitab beritanya tidak berubah. Bagaimana sikap kita terhadap Alkitab?

Pendahuluan Sejarah

Israel dibuang ke Babel selama tujuh puluh tahun. Pada zaman Raja Koresy, mereka mulai
dipulangkan dalam tiga tahap. Dan, Ezra merupakan pemimpin tahap ketiga. Ezra merupakan
imam diaspora, kemudian menjadi imam di Israel. Pemimpin lainnya pulang untuk membangun
politik, bangunan, sosial, keamanan, dan lain-lain. Tetapi, Ezra bertekad lain.

1. Dimulai dengan tekad


"Sebab Ezra telah bertekad" (Ezra 7:10). Sebuah tekad. "Mencurahkan segala
perhatiannya" (BIS); "Membetulkan hatinya" (TL), bukan usaha emosional mendadak,
bukan otomatis, melainkan ada suatu usaha keras. Ia menjadi imam di Pembuangan.
Budaya Yahudi mengajarkan membaca kepada kita sejak kecil (Ulangan 6:6-9).
2. Ada usaha meneliti
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan" (Ezra 7:10).
Begitu pentingnya Firman Tuhan digambarkan dengan banyak hal:
o "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105)
o "Roti" (Matius 4:4).
o "Benih" (Matius 13:20)
o "Pedang bermata dua mana pun" (Ibrani 4:12).
o "Cermin" (Yakobus 1:23).
o "Air susu yang murni" (1Petrus 2:2).
o "Gada-Mu dan tongkat-Mu" (Mazmur 23:4).
o "Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya" (Amsal 30:5 ).
3. Ada bukti mempraktikkan
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya" (Ezra
7:10).
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab
jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri" (Yakobus 1:22).
Ilustrasi empat sikap terhadap firman: Benih jatuh di jalan, di tanah berbatu, di tengah
semak duri, tanah yang baik (Matius 13:1-8).
4. Ada sukacita untuk mengajarkan
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta
mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel" (Ezra 7:10). Ada banyak
metode dalam Ulangan 6:6-9. Setiap keluarga bangsa Israel diwajibkan mengajarkan
firman Allah dalam setiap usia dan kegiatannya-melalui cerita, melalui lagu, melalui
tulisan, melalui percakapan, melalui SMS, melalui sarana formal (renungan, PA), dan
sebagainya.
Ada sebuah lingkaran yang tak terputus: Bertekad, meneliti, melakukan, mengajar firman Tuhan.

Dampak positif dari suka firman Tuhan

"Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan
malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada
musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil" (Mazmur 1:2,3).

Diambil dari:

Judul buku : "Khotbah itu Indah Khotbah itu Mudah"


Penulis : Thomas Eny Marsudi
Penerbit : Gloria Grafika, 2010
Halaman : 278-286

5. SASARAN YANG HENDAK DICAPAI MELALUI KHOTBAH

1. Benih yang terpilih

# Menanamkan kebenaran-kebenaran yang teringat seumur hidup.

# Keseimbangan antara batu-batu fondasi dan batu-batu bangunan.

Tidak mengulang-ulang prinsip dasar terus menerus, tidak juga mengabaikan mereka

yang baru hadir.

2. Bukan untuk bela diri.


# Anda harus menang dahulu terhadap persoalan pribadi anda. Kemenangan itu yang

berharga untuk ditiru pendengar anda.

# Membeberkan persoalan anda dengan orang lain sering menjadi sumber gossip yang tak

sehat bagi jemaat.

3. Bukan untuk tembak orang lain.

# Khotbah tempelak bisa terjadi karena Roh Kudus yang memberi bahan secara murni,

bukan karena anda dengar masukan dari orang lain.

# Pelihara kekudusan mimbar dengan tidak mencela hamba-hamba Tuhan lain.

4. Bukan untuk orang lain bisa mengerti pergumulan pribadi anda.

# Menangkan perasaan tertolak atau kesepian sebelum anda naik mimbar. Anda adalah

representative Allah.

Maz 106: 32-33 Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena

celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan

kata-katanya.

6. PERSIAPAN-PERSIAPAN

1.

Terlalu banyak kesaksian dalam sebuah khotbah juga dapat membosankan

pendengar. Orang datang untuk mendengar Firman Allah. Kesaksian-kesaksian hanya

sebagai peneguhan dari Firman yang anda sampaikan.

2.

Pakai kutiban-kutiban yang benar dari Alkitab. Baca dahulu kutiban-kutiban itu

dengan teliti sebelum anda pakai sebagai ilustrasi.

Elia melawan para dukun……………………..?


Ketika Abraham keluar dari Mesir……………….

Wanita Samaria itu telah mempunyai empat suami dan yang kelima bukan suaminya

juga.

3.

Buat keseimbangan waktu antara pokok-pokok pembicaraan, jangan coba

memasukkan terlalu banyak bahan dalam satu khotbah. Empat atau lima point saja

biasanya sudah cukup untuk 60 sampai 75 menit.

4.

Tiap khotbah jangan lebih dari 75 menit.

5.

Menyebutkan pokok-pokok percakapan anda pada awal khotbah anda akan

membantu pendengar mengikuti arah pembicaraan anda dan memudahkan editing kaset

khotbah anda, kalau itu direkam.

6.

Susun khotbah anda secara sistimatik agar proses pemindahan fikiran anda jelas

dan maksimal. Anda harus menolong pendengar anda menyusun dengan teratur didalam

fikiran mereka.

7.

Bagi bahan khotbah anda menjadi beberapa blok dan beri alokasi waktu yang

masuk diakal dan secukupnya untuk menguraikannya sedemikian hingga anda tak

melanggar alokasi waktu itu ketika berbicara.

PRAKTEK

1.
Topic hari ini: Khotbah topical tentang Hidup berkemenangan !

Sampaikan Satu saja pokok fikiran dalam 15 menit.

7. BERKHOTBAH DENGAN KUASA

1. Keluar dari keyakinan pribadi

Mr 1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai

orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

2. Pemberi bukti ( proof producer )

Mr 1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa

ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya

dan mereka taat kepada-Nya."

3. Hanya Firman Allah yang murni

# Hindari apa kata koran hari ini, apa kata penyiar TV, apa kata theolog, apa kata Hamba

Tuhan lain.

4. Persekutuan Pribadi dengan Tuhan.

Acts 4:13 Now when they saw the boldness of Peter and John, and perceived that they

were uneducated and untrained men, they marveled. And they realized that they had been

with Jesus.

5. Pengalaman yang baru dengan Yesus

Mark 16:8 Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya

memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang

keselamatan yang kekal itu.


8. SUMBER-SUMBER INSPIRASI

1. Roh Kudus langsung.

# Ayat demi ayat langsung muncul dalam vision atau mental picture anda.

2. Konseling pribadi.

# Suatu conflict dalam konseling dan bagaimana Allah memecahkannya.

3. Pergumulan dan kemenangan pribadi.

# Konflik anda pribadi dan cara mencari jawaban dari Tuhan.

4. Situasi saat ini.

# Bersifat memberi penyuluhan atau mempersiapkan jemaat untuk menghadapinya

dengan iman.

5. Kebenaran-kebenaran baru.

# Jadikan hidupmu sendiri dan pelayananmu sebagai laboratorium hidup pekerjaan Roh

Kudus.

9. PENYAMPAIAN

1.

Langsung mulai dengan Firman Tuhan, hindari perkenalan yang bertele-tele atau

lelucon-lelucon yang tidak ada hubungannya. Apa berita utama ?

2.

Perulangan kata terlalu sering akan menjemukan pendengar.

3.

Buang kebiasaan mengucapkan suara-suara seperti : eeeee, mmmmm, apa itu-apa

itu, saudaraku, sesedaraku, sudareku !


4.

Jangan terlalu sering menggunakan kata-kata penekan seperti: amin! amin!, yah!,

yah! bener nggak? Ya nggak ……etc.

5.

Jangan terlalu sering memakai penekanan kata dengan suara tinggi pada setiap

akhir kalimat demi menuntut response pendengar.

6.

Menangis karena emosi anda tersentuh dalam suatu kesaksian adalah baik tapi

jaga agar tidak terus meledak tak terkendalikan. Belajar untuk menguasai diri sesegera

mungkin dengan menghela nafas panjang beberapa kali.

7.

Jangan memakai bahasa daerah atau dialek yang tak sesuai dengan lingkungan

pendengar anda. Misalnya memakai istilah-istilah bahasa Jawa ditengah-tengah orang

Batak tidaklah tepat.

8.

Jangan terlalu cepat melompat dari suatu pokok percakapan ke pokok yang lain,

itu membingungkan pendengar anda. Akibatnya anda akan kehilangan kontrol terhadap

konsentrasi mereka.

9.

Akhiri tiap kalimat sampai sempurna sebelum anda ganti kalimat lain.

10. Hindari menceriterakan ilustrasi atau ceritera-ceritera yang telah sering didengar

orang.

11. Bicara terlalu cepat cenderung memberi kesan bahwa anda tak terlalu yakin akan

apa yang anda percakapkan.

12. Pakai tatabahasa yang baik. Batasi pemakaian bahasa ‘slang’ hanya bila perlu sekali
untuk menekankan topic yang anda bicarakan.

13. Hati-hati mempergunakan bahasa asing, ucapkan dengan lafal yang benar dan

hanya kalau anda tahu betul artinya.

14. Jangan memasukkan terlalu banyak topik dalam satu khotbah. Ingat kemampuan

manusia untuk mengingat terbatas. Terlalu banyak yang harus diingat membuat mereka

lelah dan kehilangan minat. Khotbah anda malah menjadi mubazir.

15. Hati-hati dengan tekanan suara yang salah atau lagu membaca yang keliru. Beri

tekanan yang benar pada suku kata yang betul.

16. Lelucon yang tak ada sangkut pautnya dengan pokok pembahasan anda akan

mengganggu dan menyimpangkan konsentrasi pendengar.

17. Jangan-jangan-jangan pernah mengkritik ajaran pendeta lain, apalagi menyebut

nama-nama mereka diatas mimbar.

18. Nikmati khotbah anda sendiri, karena anda tak akan mampu membuat orang lain

menikmati khotbah anda lebih dari anda.

19. Bila pendengar tidak memberi response seperti yang anda harapkan, jangan-jangan-

jangan pernah marah atau menyalahkan mereka, salahkan dirimu sendiri yang kurang

mempersiapkan diri dengan baik.

PRAKTEK

1.

Topic hari ini: Khotbah Textual: Ibr 12:1-2

2.

Jangan lupa membuat rangkuman khotbah anda pada akhir khotbah

10. KUASA DALAM KHOTBAH


1. Urapan yang mengerjakannya

Kis 2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada

hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

# Urapan pertobatan di Pensacola.

# urapan yang mengalir dari pembicara.

# Urapan yang turun dari atas.

2. Team doa dan peperangan rohani

# Manado – pembersihan penguasa udara dan dibeli dengan darah Yesus.

# Christian – pendukung doa kecil.

3. Persiapan pribadi

# Christian dominion dan pengakuan Iman

# Doa puasa dan expectation.

11. MEMAKAI KONKORDANSI DAN BIBLE SOFTWARE

[Link]

# Membantu memilih topic yang tepat dengan ayat-ayat yang lengkap

# Cara memakai Strong Concordance & Dictionary.

2. Bible Software

# Mempercepat persiapan khotbah.

# Arti kata yang sebenarnya, Mencari ayat pembanding, Apa pendapat para akhli ?

# Opini Theologia sebagai pembanding.

12. BERCERITERA MEMBUTUHKAN BEBERAPA TEKNIK


1.

Bagaimana caranya agar tidak kehilangan jejak bila anda menyimpang dari

pembicaraan utama anda? Sebelum anda menyimpang, ingat baik-baik titik dimana anda

meninggalkan ceritera utama., seperti program computer yang hendak jump kedalam

subroutine. Ia menaruh catatan program counter dan stack pointer serta status kedalam

stack sebelum meloncat ke subroutine.

2.

Jangan pernah membicarakan persoalan pribadi anda terlalu banyak dan

berpanjang-panjang didepan jemaat karena mereka datang untuk mendengar firman,

bukan problem anda sampai yang sekecil-kecilnya.

3.

Perhatikan perpindahan suasana, dari ceritera yang sedih kedalam suasana yang

lucu, lakukan dengan logis, tidak berubah terlalu mendadak.

4.

Jangan menyebut terlalu banyak nama-nama orang sekaligus dalam sebuah kisah,

kemampuan mengingat nama-nama pendengar terbatas.

5.

Lebih baik pakai nama-nama palsu supaya pendengar anda bisa membedakan siapa

yang sedang anda maksudkan, sebagai ganti pakai ‘ia’, ‘dia’ dan sebagainya.

13. YANG MENARIK DAN YANG MEMBOSANKAN

1.

Kesaksian-kesaksian selalu menarik untuk didengar, asal tidak terlalu banyak.

2.

Jangan bicarakan hal-hal yang sudah biasa dan sering didengar orang.
3.

Mengulang-ulang hal yang tak penting hanya mengesankan pendengar anda bahwa

anda tak siap atau sedang kehilangan arah pembicaraan.

4.

Buat suatu pernyataan ( statement ) atau definisi dan ulang berkali-kali supaya

tertanam dalam sanubari pendengar anda.

5.

Sedikit lelucon disana sini akan melepaskan ketegangan dan menolong kembalinya

konsentrasi.

6.

Jangan membuat lelucon sama sekali bila urapan Roh Kudus sedang penuh !

7.

Pertanyaan-pertanyaan yang tepat membuat pendengar anda berfikir sebagai ganti

kebosanan karena terlalu panjang mendengar khotbah.

8.

Lukiskan gagasan anda! Ilustrasi, perumpamaan, pengalaman pribadi, pengalaman

orang lain adalah lukisan-lukisan khotbah yang menarik.

PRAKTEK

1.

Buat khotbah expository singkat tentang : Elia. Tidak perlu sampai sempurna

dan mendetail. Tapi usahakanlah membuatnya dari dalam diri anda sendiri hanya

berdasarkan Alkitab.
==========================================

CONTOH KHOTBAH EXPOSITORY

DIDASARKAN PADA INJIL YOHANES PASAL 1.

Saya paling suka berkhotbah dengan jenis Expository. Saya biasanya mengambil

bahan khotbah saya dari Alkitab secara langsung dan mengupasnya ayat demi ayat.

Keuntungan dari khotbah seperti ini adalah karena itu berisi kebanyakan Firman Allah

dan bukan manusia. Kemudian kalau anggota kita dibelakang hari membaca pasal atau

ayat-ayat itu kembali secara pribadi, mereka akan teringat beberapa hal yang kita pernah

khotbahkan mengenai nats itu, dan menyebabkan mereka mengulangi kembali dan

jadi lebih mendalam dan matang dalam kupasan yang pernah kita bawakan.

Saya akan kirimkan khotbah-khotbah saya yang berdasarkan Injil Yohanes, buku yang

saya paling sukai dan rasa paling penting untuk kita ketahui dan selidiki disamping

Daniel dan Wahyu. Dari permulaan sampai akhirnya Rasul Yohanes mengatakan bahwa

Yesus , Firman itu adalah Tuhan Allah. TEmanya dari pe=rtama adalah "Tengoklah

Yesus dari Nazaret, yang adalah Allah sendiri menjelma menjadi manusia!"

Pada ayat pertama saja dia langsung tanpa basa basi dan maaf serta dalih dengan tegas

memaparkan bahwa Kristus Yesus adalah Kalam dan Allah sendiri. Begitu seterusnya

dalam kitab Injil itu dia menyampaikan peristiwa-peristiwa sekitar pelayanan Tuhan

Yesus yang dia paparkan dengan hanya satu tujuan:

Yesus adalah Allah, dan kamu harus percaya kepadaNya supaya beroleh selamat! Beda

dengan Injil-injil lainnya, yaitu Matius, Markus dan Lukas, yang juga digolongkan
kepada Synoptic Gospel atau Injil sinoptis yang artinya: Ringkasan dan mempunyai

persamaan atau kemiripan. Jadi ketiga Injil yang terdahulu itu mempunyai persamaan

dalam isinya, tapi Injil yang keempat itu ada menyimpang dari kebiasaan menulis

dizaman itu dan dengan lantang langsung membeberkan temanya: Yesus adalah Allah,

tengoklah kepadaNya supaya kamu percaya dan boleh selamat! Yohanes juga adalah

murid Tuhan Yesus yang paling akrab dengan Dia, sehingga digelar murid yang terkasih,

atau dikasihi. The Beloved Disciple. Selain dari Paulus, Yohanes adalah yang kedua

terbanyak menulis buku dalam Alkitab, yaitu Injil Yohanes, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3

Yohanes dan Wahyu. Dalam semua tulisannya itu, kata "Tengoklah!" menjadi ciri yang

khas.

Pada penutup bukunya Yohanes menegaskan apa maksudnya menuliskan buku itu:

20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-

Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa

Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh

hidup dalam nama-Nya.

Berbeda dengan ketiga penulis Injil yang mendahuluinya Yohanes tidak

merasa perlu untuk menceritakan silsilah Tuhan Yesus, atau mengenai

tempat dan cara kelahiranNya, masa kanak-kanakNya, pencobaanNya,

pengangkatan murid-muridNya, saat Dia dipermuliakan diatas bukit,

perumpamaanNya, kenaikanNya kesorga, atau Amanat Agung yang

diberikanNya kepada murid-muridNya.


Bagi Yohanes Yesus adalah Pencipta, Allah yang kekal, yang selalu ada

sejak dari permulaan dan tidak ada akhirnya. Dia adalah Firman yang

penuh kuasa yang dengan mengucapkan sepatah saja, maka semuanya

bermunculan. Dia adalah Pembuat mujizat yang mengherankan. Dia adalah

Allah yang tak terbatas kuasanya. Dari 8 mujizat yang disebutkan dalam

buku itu, 7 diantaranya hanya ada didalam Injil Yohanes dan tidak muncul

dalam Injil-injil lainnya. Begitu pula dengan percakapan Yesus dalam pasal

14 sampai 17, itu hanya terdapat dalam buku Yohanes, dan tidak terdapat

dalam buku lainnya. Malah boleh dikata 90 persen dari isi Yohanes itu

hanya ada disitu, dan tidak disebutkan penulis Injil lainnya.

Buku ini kemungkinan telah dituliskan pada saat mendekati akhir hidupnya,

yaitu sekitar tahun 85 - 90 TM. Ini dituliskan sesudah terjadi kehancuran

dari kota Yerusalem dan sebelum dia dibuang ke Pulau Patmos.

Kitab ini boleh dibagi menjadi tiga bagian:

I. (Yohanes 1:1-2:11) Kelahiran dan Persiapan Yesus Anak Allah dalam

palayananNya sebagai Messias.

II. Yohanes 2:11-12:50) Pekabaran dan Pelayanan Yesus sebagai Anak

Allah.

III. Yohanes 3:1-21:25) Kematian dan Kebangkitan dari Yesus sebagai

Anak Allah.
Yohanes memulaikan dengan mengingatkan pembacanya bagaimana langit

dan bumi ini diciptakan oleh Firman dan hanya dengan bersabda saja.

Kemudian dia langsung perkenalkan bahwa yang menjadi Pencipta alam

semesta ini kemudian, menjelma dengan secara ajaib, lahir menjadi manusia

biasa, yang terdiri dari darah dan daging, dan memilih untuk tinggal diantara

kita diatas dunia ini.

Setelah memaklumkan siapa Yesus sebenarnya dari semula, yaitu Allah

Pencipta semesta alam ini sendiri, walaupun telah dilahirkan diantara

manusia dan mengenakan tubuh fana seperti manusia, dia langsung

membuktikan bahwa Yesus itu adalah Allah.

Buku Injil Yohanes sungguh merupakan suatu buku yang penuh dengan

action. Kita seolah-olah diajak olehnya keatas panggung sandiwara dan

dengan bangga dia menunjukkan pemegang peranan pentingnya, atau

hoofdrollnya, bintang utamanya dan dengan berapi-api dia memberikan

narasinya dengan berkata: Nah, tengoklah, bukankah Dia itu satu-satuNya

Messias yang dijanjikan akan datang? Dia adalah Allah sendiri.

Walaupun dia katakan bahwa mujizat yang pertama itu dibuat oleh Yesus

di Kana dan dicatat pada pasal ke 2. Namun dari pertama Dia sudah

menyebutkan temanya bahwa Yesus yang diperkenalkannya itu adalah

Allah, tidak mungkin manusia belaka.


Dia sebutkan bagaimana Yohanes Pembaptis, yaitu gurunya sendiri

sudah mengumumkan kepada orang banyak dengan kesaksiannya yang

tidak terdapat keragu-raguan sedikitpun bahwa Yesus yang telah datang

kepadanya untuk dibaptiskan itu tidak lain dari Allah sendiri, dan bahwa dia

adalah sang Pembaptis itu hanyalah satu suara yang memberikan kesaksian

dan mempersiapkan jalanNya.

Walaupun Yohanes menuliskan bukunya lebih dari setengah abad kemudian,

tapi peristiwa yang terjadi itu masih sangat jelas pada ingatannya seolah-

olah baru terjadi sehari sebelumnya. Dia masih ingat dengan sangat terang

bagaimana gurunya Yohanes Pembaptis telah membaptiskan Yesus disungai

Yordan dan mengumumkan kepada khalayak ramai keesokan harinya

bahwa Dialah Anak Domba Allah yang mengangkat dosa seisi dunia.

Karena seruannya yang menggemparkan itu, menyebabkan Yohanes dengan

kawannya Andreas telah mengikuti Yesus dari belakang, ingin berkenalan

lebih jauh dan menjadi muridNya yang pertama.

Terngiang terus ditelinganya ucapan dari gurunya, ketika Yohanes

Pembaptis itu ditanya oleh orang-orang Lewi dan imam-imam yang

mendatanginya. "Siapakah anda ini?" tanya mereka. "Apakah anda Messias

itu? mengapa anda membaptiskan orang disungai ini?"

Yohanes menjawab bahwa dia bukan Messias dan bukan pula Elia bahkan

bukan Nabi. Dia hanyalah seorang yang menjadi penyedia jalan atau satu
suara yang berseru-seru untuk mempersiapkan kedatangan Raja itu. Apa

yang dikatakan oleh Yohanes adalah sebagai suatu pekerjaan sederhana

dan seorang yang biasanya diutus kesebuah desa yang akan dikunjungi

oleh seorang raja di zaman dahulu. Orang itu bertugas menyampaikan

berita bahwa raja akan berkunjung ketempat mereka, dan supaya penduduk

menyediakan jalan supaya rata dan tidak berlubang-lubang dan berbatu-batu

yang sulit dilalui oleh para pengusung usungannya ataupun kereta kuda yang

akan ditungganginya.

Yohanes Pembaptis mengutip dari buku nabi Yesaya yang terdapat pada

pasal 40:3-5.

40:3 Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk

TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!40:4 Setiap

lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-

bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi

dataran;40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia

akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."

Orang-orang Lewi dan imam-imam sebagai penyelidik yang dikirim dari Yerusalem

untuk mengecek siapa sebenarnya Yohanes Pembaptis dan apakah yang

diajarkannya sehingga mereka mendengar bahwa banyak orang yang telah

menjadi pengikutnya. Mereka menanyakan siapa dia sebenarnya, tapi Yohanes

Pembaptis tidak mau menjawab dengan terus terang. Dia hanya menyatakan

ketidak layakannya untuk menjadi seorang hamba dari Messias itu pun. Malah
dia hanya mau meperkenalkan siapa Kristus yang dia persiapkan jalanNya. Dia

katakan: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku

akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."

(Yohanes 1:15) Seolah-olah Yohanes Pembaptis berkata: Siapa aku ini tidaklah

penting sama sekali. Tapi siapa Dia yang kukabarkan adalah yang paling penting.

Siapa aku ini tidak akan mempengaruhi kehidupan kamu, tapi Dia itulah yang

penting kamu pelajari dan percayai serta terima untuk mendapat pengampunan

dosa dan kehidupan yang kekal. Dialah esensi dari semua persembahan bangsa

Israel selama 1500 tahun ini, bahkan sejak dari permulaan alam. Dialah Anak

Domba Allah yang tersembelih untuk kita. Dialah benih perempuan yang dijanjikan

dalam Kejadian 3:15 itu.

Bayangkan anda hidup pada zamannya Yohanes Pembaptis. Kira-kira apa yang

tersebar sebagai desas desus di gereja anda? “Saudara, apakah sudah mendengar

mengenai itu pengkhotbah aneh di padang belantara disamping sungai Yordan? Dia

katakan bahwa Messias yang kita tunggu-tunggu itu sudah hampir tiba, dan bahwa

kita harus bertobat.” Ditambah dengan keanehan pakaiannya, dan makanannya,

dan tegurannya yang sangat berani bahkan sampai tidak gentar dan segan-segan

menegur raja Herodes yang telah berzinah memelihara isteri dari saudaranya

sendiri. Ini telah membuat kehebohan dan menjadi bahan perbincangan dimana-

mana, dan menimbulkan perasaan panasaran masyarakat untuk pergi ke tepian

sungai Yordan yang di Bethany.

Yohanes Pembaptis mengerti benar akan tugasnya sebagaimana diceritakan


kepadanya oleh orang tuanya, bahwa dia telah disisihkan sejak sebelum lahir pun,

untuk satu tugas khusus, mempersiapkan tanah hati bangsanya untuk menyambut

kedatangan Messias. Dia tidak memikirkan kenyamanan dirinya sendiri, tidak

perduli dengan pandangan orang lain terhadap dirinya. Tidak mau berkompromi

dengan dosa dan tidak gentar meletakkan nyawanya sekalipun.

Sama seperti nabi Elia dizaman dahulu. Dia pun tidak takut langit akan runtuh

diatas kepalanya. Baginya tidak ada jalan tengah, tidak ada warna kelabu. Dia

tidak peduli apa yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin agama. Dia berani berdiri

sendiri, sama seperti Elia yang menjadi renungan dan panutannya. Rakyat ataupun

raja dia lakukan sama.

Tuhan Yesus tidak menjanjikan jalan kita akan bertaburan dengan bunga

mawar. Dia katakan jalan orang benar itu sukar, curam dan berbatu-batu. Dia

amarkan bahwa akan ada penganiayaan dan ancaman bahaya kematian. Dia

perintahkan kita mengangkat salib, bukan mengangkat piala penghargaan dunia,

melainkan palang penderitaan. Tapi hidup ini bukanlah hidup yang sebenarnya

kecuali kita menurut perintahNya dan melakukan kehendakNya. Dunia berlalu

begitu cepat. Umur manusia begitu singkat. Senyaman-nyamannya, dan

semakmur-makmur masih diselingi penderitaan. Lebih baik tidak pernah hidup

didalam dunia ini daripada memiliki semuanya yang dapat ditawarkan, tapi tidak

boleh melanjutkan dalam dunia yang baru.

Bagi Yohanes Pembaptis lebih baik menderita terus dari lahir sampai mati,

hidup sengsara tidak punya apa-apa di padang belantara, terpencil dan terpisah
dari semua. Baginya setiap hari hanyalah untuk melakukan perintah Tuhan,

menyerukan sabdaNya, walaupun dianggap orang gila atau apa pun juga.

Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa dari antara orang yang dilahirkan oleh

seorang perempuan tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis bukan Terang itu. Dia hanya lampu atau pelita kecil yang

digunakan untuk menuntun orang yang berjalan dalam kegelapan sehingga tiba

pada fajar yang menyingsing dipagi hari dan berubah menjadi siang yang terang

benderang. Pada saat mana pelita atau suluh yang kecil itu tidak diperlukan lagi.

Dia insyaf akan hal itu. Dia tahu setelah tugasnya selesai, dan setelah Dia yang

dipersiapkan jalanNya itu tiba, maka dia harus mengundurkan diri. Dia harus

berkurang-kurang dan Terang itu harus bertambah-tambah menjadi cerah dan

benderang selamanya. Dia tahu murid-muridNya seperti Yohanes dan Andreas

akan meninggalkan dia untuk mengikuti Yesus. Dia tidak merasa sakit hati, malah

dengan bersuka dia memperkenalkan Yesus yang dia telah rintis jalanNya. Dengan

penuh kesukaan dia berseru: ”Tengoklah Anak Domba Allah yang mengangkut dosa

seisi dunia. Dia tahu tugasnya hanya mempersiapkan hati mereka dengan basuhan

air. Tapi Yesus telah datang dengan tugas yang lebih besar, membaptiskan mereka

itu dengan Roh Kudus.

Yohanss Pembaptis hanya menjadi ”saksi”, hanya sebagai suara yang berseru

dipadang belantara. Hanya kalau kita insyaf akan hal ini, bahwa kita hanya

memantulkan cahaya dari Yesus, sebagai reflektor lampu, dan bukan lampunya

sendiri. Kita hanya sebagai alat yang dimaksudkan untuk menyampaikan Pemberian

dari Sorga itu.


Berbeda dengan Simson yang juga dipersiapkan sejak dari saat mulai dikandung

untuk menjadi azis Tuhan. Malah pada saat itu, Yesus sendiri yang datang

menyampaikan kabar tentang kelahirannya kepada ibu dan bapanya, dan bukan

hanya malaikat Gabriel yang mendatangi Elizabeth, ibu dari Yohanes Pembaptis.

Namun demikian Yohanes Pembaptis memusatkan perhatiannya hanya kepada

tugasnya sebagai utusan Allah. Sebaliknya Simson hanya memikirkan wanita cantik

saja. Kiranya kita boleh menjadi sama seperti Yohanes Pembaptis dan Elia. Kedua-

duanya mempunyai sifat yang sama. Berdedikasi penuh atas tugas yang telah

ditanggungkan kepada mereka. Kedua-duanya tidak gentar terhadap ancaman

manusia, walapun benar pada saat yang terakhir ada juga keragu-raguan sedikit

pada keduanya. Ini adalah menyatakan bahwa mereka adalah manusia biasa yang

tidak luput dari godaan Setan tapi menang pada akhirnya. Nabi Elia dianggap layak

untuk diangkat hidup-hidup dan langsung bergaul dengan para malaikat disorga,

sedangkan Yohanes Pembaptis mengalami nasib yang lebih buruk tampaknya.

Namun sebenarnya dalam penyampaian tugasnya yang begitu singkat, berhasil

mendapat penghargaan dari Tuhan Yesus sendiri yang menyebutkannya sebagai

seorang yang terbesar dari semua yang pernah menjadi bayi dan dilahirkan ibunya.

Semoga kita boleh mengikuti teladan keduanya, apa pun yang akan terjadi kepada

kita. Baik kita akan hidup sampai pada akhirnya dan diangkat hidup-hidup seperti

nabi Elia, atau mengalami kematian dipancung kepala kita atau cara sahid yang

lain, tapi kalau kita setia sampai pada akhirnya, mahkota kita tidak akan berpindah

keatas kepala orang lain. Dan kita tidak akan menyesal tak berguna karena

menyangkal Dia dalam menghadapi ancaman maut.


Kalau kita mempunyai sikap dan dedikasi seperti Yohanes Pembaptis, tidak dapat

ditawar atau dibeli dengan apa pun, tidak bergeming menghadapi ancaman maut

dan kematian yang paling mengerikan pun, tetap gamblang menyampaikan

pekabaran yang diletakkan pada lidah kita untuk disampaikan, maka dimanapun

kita berada, bahkan dipadang belantara yang terpencil, orang akan datang mencari

kita untuk mendengarkan khotbah kita. Tapi kalau kita tidak mempunyai tekad dan

penyerahan seperti Yohanes Pembaptis, maka kita hanya akan menjadi seperti gong

yang gemerincing tetapi kosong melompong, tak ada isinya, dan tak berarti pada

pemandangan sorga

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik)


Book Review
This entry was posted on January 23, 2012, in Book Reviews and tagged Bagaimana Berkotbah, Cara
Berkotbah, Cara Berkotbah yang Baik, Expository Preaching. Bookmark the permalink. Leave a comment

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik) adalah sebuah

karya yang luar biasa yang dirumuskan dari pengalaman mengajar Homiletika Haddon W.

Robinson selama kurang lebih sembilan belas tahun di Dallas Theological Seminary. Dalam

bukunya kali ini, ia mencoba menyampaikan sebuah metode berkotbah yang Alkitabiah dan di

dasari oleh teori-teori Homiletika yang mendalam namun disertai dengan cara-cara penerapan

yang praktis.
Robinson, sesuai dengan pengalamannya sebagai Guru Besar Homiletika, mampu menyajikan

uraian-uraian yang sistematis, namun juga sederhana dalam arti sangat mudah dipahami oleh

pembaca. Apalagi ia juga langsung memberikan contoh-contoh untuk menjelaskan lebih lanjut

setiap poin pembahasannya. Dalam buku ini, ia secara eksplisit juga menekankan akan “the

spirit within” dari dua aspek utama dari penyampaian Firman Tuhan, yaitu: Firman Tuhan dan

Pengkotbah itu sendiri.

Oleh sebab itu dalam penjelasannya, ia bukan sekedar menyampaikan metode atau bagaimana

cara berkotbah yang baik itu dalam pengertian pelaksanaan kotbah itu sendiri yaitu di mimbar,

namun lebih kepada proses pergumulan yang mendalam, menyeluruh terhadap Firman Tuhan

yang benar-benar harus dihayati oleh Pengkotbah di dalam kehidupannya.

Buku ini menjelaskan tentang kotbah dalam pengertian kotbah ekspositori, yang memang bagi

sebagian orang tidak begitu populer. Oleh sebab itu Robinson justru mencoba memberikan suatu

pengantar yang sangat terperinci dan alkitabiah mengenai kotbah ekspositori, yang baginya

merupakan kotbah yang berisi kebenaran Firman Tuhan yang disertai dengan otoritas ilahi.

Jadi kotbah ekspositori merupakan sebuah komunikasi yang berasal dari suatu proses

pengintegrasian dari studi yang mendalam mengenai Alkitab baik secara historis, gramatikal,

maupun konteks yang harus dialami dulu oleh pengkotbahnya dan kemudian baru diterapkan

kepada pendengar, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Menurut Robinson, proses ini dimulai

dari pemahaman akan teks dari perikop yang dipilih yang nantinya akan memberikan suatu

konsep tertentu.

Konsep inilah yang menurutnya disebut konsep Alkitabiah yang kemudian harus dihayati dan

diterapkan pertama oleh pengkotbah dan pada pendengar. Selanjutnya menurut Robinson,

kotbah ekspositori harus difokuskan pada satu ide (ide tunggal), yaitu ide yang muncul dari

proses pergumulan hidup pengkotbah bersama dengan Tuhan, yang mana akan menghasilkan

suatu konsep Alkitabiah yang berkuasa untuk menegur dan menguatkan jemaat sebagai

pendengar.

Oleh karenanya sangat penting bagi pengkotbah untuk mengembangkan wawasan, imajinasi dan

kepekaan rohaninya sebagai sebuah proses yang dinamis. Proses ini merupakan penggabungan

dari pergumulan yang erat dengan Tuhan maupun dengan menggali Alkitab dengan bantuan
alat-alat yang ada (Alkitab, Leksikon, Konkordansi dll). Semua ini akan dapat dipakai Allah untuk

membangkitkan ide-ide dasar dari kotbah ekspositori yang Alkitabiah tersebut.

Setelah menguraikan bagian-bagian mendasar seperti di atas, Robinson dalam bukunya ini juga

menjelaskan akan kekuatan sebuah tujuan di dalam menghasilkan kotbah yang [Link]

setelah itu ia membahas secara teknis bagaimana membedakan jenis kotbah, bagaimana

menyusun outline kotbah yang berisi dan menghidupkan. Dan pada akhirnya ia menutup

penjelasannya dengan menguraikan aspek-aspek yang sangat penting dan praktis berkaitan

dengan penyampaian kotbah itu sendiri yaitu di mimbar.

Pengalaman-pengalaman inilah yang pada akhirnya coba dibagikan oleh Robinson dalam buku

ini. Pemahaman yang ditulis bukan dari pemahaman teori saja, namun lebih kepada sebuah

perjalanan panjang seorang pendengar kotbah, dan seorang pengajar Homelitika.

Dari sisi kedalaman isi dan sistematika penulisan, serta cara penyampaian, buku ini patut

diacungi jempol, karena mampu menggabungkan dengan sangat baik tentang teori-teori

Homiletika yang mungkin sangat monoton dengan gaya penyampaian yang segar dan

sederhana, sehingga menjadikan buku ini sangat mudah dibaca dan tidak membosankan.

Selain itu, penjelasan Robinson dalam buku ini tentu saja sangat efektif, karena telah diuji

waktu dan berdasarkan pengalaman yang kompeten di bidangnya. Oleh sebab itu sesuai dengan

judulnya, Robinson telah berhasil menguraikan dengan sangat jelas, ringkas dan kompeten

dalam kaitan dengan Homiletika, yaitu mampu menjadi sumber inspirasi yang dalam, sederhana

dan praktis.

Dalam hal ini saya setuju dengan pendapatnya yang terdapat di dalam bagian pendahuluannya

yang sangat mencerminkan suatu inti pemahaman yang ingin disampaikannya dalam kaitan

dengan penerapan praktis kita sebagai pengkotbah, “Namun untuk menjadi alat yang demikian

(Pemberita Firman Tuhan), pembaca perlu mempersembahkan dirinya sendiri terlebih dahulu-

hidupnya, wawasannya, kedewasaannya, imajinasinya, dan dedikasinya.” (hlm.3).

Christopher Andios

Rate this:
.
Nama :Silvana Hermanses

Khotbah Textual

Judul : “ Kunci Keberhasilan dlm Kehidupan”

[Link]:I

[Link] : Kota Korintus adalah kota metropolitan yang menjadi

pusat perdagangan,diabat 54 SM juga kota Korintus terkenal karena

keagungannya juga terkenal dalam hal kebejatan moralnya,kita melihat

sekarang gambarannya hampir sama dengan apa yang kita lihat di

kehidupan kota Manado,yang sedang terjadi degradasi moral dimana

perilaku kehidupan di Korintus sama dengan di Manado sekalipun

berbeda zaman,berbeda lokasi dan berbeda budaya.

[Link] : Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk

mengatasi ujian dan pencobaan.


[Link] pertanyaan : Bagaimana cara kita untuk dapat bertahan

menghadapi pencobaan?

[Link] peralihan : Mari kita lihat 3 cara yang dijanjikan Allah kepada

kita?

[Link] khotbah:

[Link] dari ayat [Link] Allah setia,Dia tidak akan membiarkan

mencobai melebihi kekuatanmu,Allah setia dalam bahasa Yunani

ada dua hal dapat dipercaya dan dapat diandalkan,bukankah

Tuhan mau anda dapat mengandalkan,contoh kesaksian seorang

ibu rumah tangga yang hilang berpuluh-puluh tahun tapi dengan

keyakinannya anak itu pasti kembali,contoh lain seorang anak

yang hilang yang menghabiskan harta,dan ketika dia kembali,dia

tidak dihukum bapanya,tapi malah disambut dengan sukacita dan

pesta,karena bapanya mengasihi anaknya sekalipun anaknya

berdosa.
[Link] dalam ayat 13c dikatakan Dia tidak akan membiarkan kamu

dicobai dalam bahasa aslinya bahasa Yunani tak membiarkan

adalah sama dengan tidak melepaskan dengan kata lain

digenggam dan sebagai ilustrasi ,seorang ibu bilang kepada

anaknya jangan bermain di jurang nanti jatuh,sedangkan Allah

,Dia datang dan memegang kita dan tidak melepaskannya.

[Link] dalam ayat 13c dikatakan Dia akan memberikan kepada kita

jalan keluar,Allah menjamin hidupmu sebagai ilustrasi saat kita

membeli kulkas atau mobil pasti ada garansinya,jangan takut

hidup kita ada jaminan Bapa kita menjamin hidup kita .

[Link] mau kita bertahan menghadapi cobaan tetapi kita

harus setia,hidup dalam kasih dan iman karena allah menjamin

kehidupan kita.

[Link] call ,Jika engkau mempunyai beban karena menghadapi

pencobaan,yang mungkin belum ada jawaban atau sedang putus

asa…….
Mari angkat tangan kananmu dan tangan kiri didadamu,kita

berdoa karena Allah sebagai pemilik kehidupan menjamin

kehidupan kita

Nama : Paula Pangow

Khotbah Topikal.

Judul : Kutahu Dia penolongku.

[Link] : Mazmur 116 :1.

[Link].

Melihat situasi sekarang ini dengan adanya modernisasi,maka

pengaruh teknologi banyak yang kita lihat di Media Elektronik

maupun media cetak,maka banyak orang hilang

pengharapan,putus asa ,kecewa,frustasi yang akhirnya

menghabisi nyawanya dengan bunuh diri,karena merasa tidak ada

yang bias menolongnya.

[Link] : Allah peduli.


[Link] Tanya: Mengapa kita dipulihkan Tuhan.

[Link] peralihan.:Siapa peduli yang menolong kita?

[Link] Khotbah.

[Link] Allah yang kita perlukan?

Allah yang hebat (Kel 18:11).Allah yang menyediakan atau

Allah Jehova Jireh (Kej 22:14).

Allah yang perkasa (Mzm 13:24).

Allah maha tahu (Mzm 139:6).

Allah maha peduli (Mzm 139:13-22).

[Link] Allah menolong kita?

Pada saat kita setia,pada saat Abraham setia (Kej 22:13)

membawa satu-satunya anaknya Ishak untuk dikorbankan,maka

Allah menyediakan domba sebagai penggantinya,pada saat kita


taat dan setia dalam menjalani kehidupan. Masmur;139:6,7-

12,13-24.

Ketika kita taat dan setia, maka Allah peduli dgn kberadaan

kita. Dia adalah penolong kita.

Altar call; jika engkau merasa putus asa, kecewa, merasa

tidak ada lagi yg menolongmu , maka saat ini percaya dan

katakan bahwa kutau DIA menolongku.


Nama : Paula Pangow

Khotbah Expositori.

Judul : Keadaan kehabisan akal

[Link] : kel.14:1-4a.

[Link].

Seperti umat Israel dilaut merah.

[Link] : kadang kala Tuhan mengijinkan kita dalam keadaan

kehabisan akal.
[Link] Tanya: Mengapa Tuhan mengijinkan kita dalam keadaan

habis akal.

[Link] peralihan.: Karena Allah menguji kita.

[Link] Khotbah.

Mari kita lihat 4 hal sbb:

1. Allah menguji kita: Ayat 46-9

-Dlm jalan ketaatan.4b.

-dgn mengijinketidak kepercayaan kt

keadaan yg membingungkan menimpa kita,5,-9

2. Kadang kala kt mengecewakan Tuhan dlm keadaan

“keadaaan kehabisan Akal’

-dgn ketidak kepercayaan kita,10

Dgn keluhan-keluhan kta;10-2

[Link] bertindak krn kt dlm keadaan kehabisan akal


[Link] Ketika Dia memulihkan hati murid-muridNya untuk

tetap percaya dan men;13-14.

Pada waktu yang tepat,13.

Dengan mengambil alih pimpinan,14.

[Link] call: Kalau kt kehabisan akal, percaya Dia sanggup

menolong kita, bahwa pertolongan tepat pada waktunya.


Nama : Paula Pangow

Khotbah Topikal.

Judul : Kuasa Kebangkitan.

[Link] : Lukas 24:25-36

[Link].

Selama tiga setengah tahun Tuhan Yesus didunia melakukan

banyak hal antara lain mengajar,membuat mujizat seperti :

-memberi makan 5000 orang dengan 2 roti dan 5 ikan masih sisa 5

bakul

Orang buta melihat,orang lumpuh berjalan ,air diubah jadi anggur

di pesta perkawinan di Kanan bahkan membangkitkan Lazarus

dari kematian.
Akhirnya Dia berkata berkali-kali kepada murid-muridNya bahwa

Anak Manusia akan diserahkan kepada orang Farisi dan ahli

Taurat,Dia akan menderita,disesah kemudian mati dan bangkit

pada hari yang ketiga.

[Link] : Dipulihkan lewat kuasa Kebangkitan.

[Link] Tanya: Mengapa Tuhan berkali-kali menampakkan diriNya.

[Link] peralihan.: Kepercayaan dan pengenalan murid-muridnya

perlu dipulihkan

[Link] Khotbah.

Mari kita lihat 4 hal pemulihan kepercayaan murid-muridnya sbb:

[Link] berkata hai orang kamu orang bodoh,betapa lambannya

hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu,yang telah

dikatakan oleh para nabi


[Link] mata mereka dan mengenal Dia Lukas 24:31

,terkadang karena kita kecewa membuat kita dibutakan,kita selalu

cenderung mengingat-ingat masa lalu,dulu Dia yang kita harapkan

memimpin bangsa Israel tapi sekarang pupuslah sudah harapan.

Dalam Lukas 24:32 Hati mereka berkobar-kobar ketika dekat

dengan Yesus,demikian juga halnya dengan kita pada saat kita dekat

dengan Dia atau Firman maka pasti hati kita bersukacita.

Dalam Lukas 24 ayat 36 Yesus berkata “Damai sejahtera bagi

kamu”,damai sejahtera tidak dijual ditoko,

[Link] Ketika Dia memulihkan hati murid-muridNya untuk

tetap percaya dan mengenal Dia maka hati yang putus pengharapan

berubah menjadi sukacita dan hati yang berkobar-kobar,maka disitulah

Dia memberkati murid-muridNya dengan damai sejahtera.

[Link] call:
Karena berbagai permasalahan membuat kita kecewa,putus

pengharapan,hilang kepercayaan bahkan kehilangan akan pengenalan

akan Allah sehingga tidak ada damai sejahtera,mari angkat tangan dan

percaya dengan iman lewat kuasa kebangkitan,kita dipulihkan,hanya

Dia yang sanggup memulihkan semuanya,terimalah damai sejahtera

dari Allah dalam nama Yesus yang sudah bangkit sehingga menjadi

pemenang bahkan lebih dari pemenang,Amin


Nama : Silvana Hermanses

Khotbah Expositori.

Judul : Yesus ku dahsyat

[Link] : Pilipi 2:9-=10

[Link].

Rasul Paulus menasehati jemaat di Pilipi agar bersatu dan merendahkan

diri

[Link] :Allah berkuasa atas segala keadaan.

[Link] Tanya: Mengapa Allah berkuasa?

[Link] peralihan.: Karena Allah menguasai segalanya,mari kita lihat.

[Link] Khotbah.

Mari kita lihat 3 hal sbb:

[Link] Yesus tak terkalahkan :


[Link] Allah sangat meninggikan Dia ay 9a

[Link] Allah mengaruniakan nama segala nama ay 9b

[Link] nama Yesus:

[Link] lutut segala yang [Link] 10

[Link] lutut segala yang diatas [Link] 10

[Link] lutut segala yang dibawah bumi ay 10.

[Link] mendapat pengakuan dihadapan Allah dan manusia:

[Link] orang mengaku Yesus dengan lidah ay 11.

[Link] sendiri memuliakan Yesus.

[Link] Marilah kita sebagai murid-murid Kristus

memberitakan kepada dunia bahwa Yesus itu dahsyat


Nama :Silvana Hermanses

Khotbah Textual

Judul : “ Kunci Keberhasilan dlm Kehidupan”

[Link]:Mzm 1:1-2

[Link] :

Orang yang berhasil dalam kehidupan menurur Daud adalah

orang yang tidak berjalan menurut nasehat orang fasik

[Link] : Tuhan memberikan pilihan kepada kita.

[Link] pertanyaan : Mengapa kita harus memilih?

[Link] peralihan
Karena pilihan kita akan menentukan keberhasilan kita.

[Link] khotbah:

[Link] pilihan Mzm 1:1

[Link] yang kita pilih hari ini menentukan masa depan kita.

[Link] hati kita untuk memilih yang benar.

[Link] hari kita selalu diperhadapkan dengan pilihan Ulangn 30:19-20.

[Link] kesukaan Mzm 1:2.

[Link] apa yang menjadi kesukaan dalam hidup kita.

[Link] bias menjadikan kita berhasil,namun juga bias menjadikan

kita hancur.

[Link] waktu Mzm 2:2b

[Link] firman siang dan malam ,

[Link] memberikan kita waktu.

.
[Link]. .Masa depan kita ada ditangan Tuhan,untuk itu milikilah

kunci keberhasilan dalam kehidupan agar supaya hidup menjadi

berkat bagi orang lain ,Amin


Nama :Silvana Hermanses

Khotbah Topikal.

Judul : Milikilah sifatdan karakter Kristus dalam kehidupan kita.

[Link] : 1Petrus 1:18-19

[Link].

Kerinduan hati Tuhan untuk kita yaitu memiliki sifat dan

karakterNya agar supaya berkenan kepadanya Kej 2:26 Tuhan

menciptakan manusia,ayat 18 tentang cara hidup yang lama yang

sia-sia,ayat 19

[Link] : Yesus menebus kita dengan darah yang mahal Efesus 4:21-

24

[Link] Tanya:Bagaimana cara meninggalkan hidup yang lama?.


[Link] peralihan.:Mari kita belajar sifat dan karakter yang Tuhan

inginkan dalam hidup kita

[Link] Khotbah.

! Sifat rendah hati yaitu menghargai orang lain.

[Link] lemah lembut menanggung penderitaan

[Link] sabar,tahan dalam penderitaan

[Link] orang yang sudah ditebus kita harus memiliki sifat

dan karakter Kristus dalam hidup kiat

2. Menyiapkan Khotbah Alkitabiah


Jangan pernah berkhotbah tanpa persiapan! Pengkhotbah yang tidak melakukan persiapan
menghasilkan khotbah setengah matang dan menghasilkan jemaat yang setengah hidup.
Ada tiga persiapan yang harus dilakukan pengkhotbah sebelum berkhotbah, yakni:
- menyiapkan pengkhotbah
- menyiapkan alat-alat
- menyiapkan khotbah

Menyiapkan pengkhotbah

Sebelum menyiapkan khotbah, pengkhotbah hendaknya menyiapkan dirinya terlebih dulu.


Memahami khotbah Alkitabiah, seperti diuraikan sebelumnya, merupakan bagian persiapan yang
tak boleh dilewatkan. Tetapi ada persiapan khusus yang tak boleh diabaikan.
Ketekunan berdoa.
Pengkhotbah haruslah seorang yang senantiasa hidup dalam doa. Secara khusus seorang
pengkhotbah harus tetap bersikap doa dalam seluruh rangkaian persiapan khotbah.
Rasul Petrus telah mengkhususkan dirinya untuk pelayanan doa dan firman Tuhan (Kis.6:4).
Rasul Paulus juga seorang pendoa (Kol.1:9).
Pengkhotbah, semua yang melayani dalam pemberitaan Firman, juga memerlukan dukungan doa
dari jemaat dan rekan-rekan kerjanya.
Ef.6:18-20 – Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu
dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus, juga untuk aku, supaya
kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan
keberanian aku memberitakan rahasia Injil, yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan.
Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku
berbicara.
Kis.4:39, 41 – Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan
berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu… Dan ketika
mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh
dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.
Doa meningkatkan kepekaan kita terhadap kehendak Roh Kudus yang berkarya dalam hidup
kita. Roh Kudus yang membuat para murid berkhotbah dengan berani. Roh Kudus juga yang
membuat keberhasilan pemberitaan Firman. Dari sisi ini dipenuhi Roh Kudus berarti
memperoleh keberanian luar biasa dalam memberitakan Injil.
Tekad untuk belajar
Pengkhotbah harus memiliki tekad mempelajari Firman Tuhan dengan bersungguh-sungguh.
Ingat Ezra! (Ezr.7:10). Ingat Paulus! (2Tim.4:13). Petrus juga belajar, ia membaca tulisan Paulus
(2Ptr.3:15-16).
Pengkhotbah tidak boleh berhenti belajar selama mempersiapkan khotbah. Dalam proses
mempersiapkan khotbah itulah Roh Kudus mengajar pengkhotbah. Hal ini penting karena
pengkhotbah cenderung untuk menafsirkan nas yang hendak dikhotbahkannya menurut
kehendaknya sendiri. Sedangkan menurut rasul Petrus Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut
kehendak sendiri (2Ptr.1:20-21).
Dalam proses ini pengkhotbah harus meningkatkan kepekaannya terhadap pimpinan dan
pengajaran Roh Kudus. “…yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku,
Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan
semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh.14:26).
Ia juga harus memiliki kesiapan untuk diubah pengertiannya sendiri, diganti pengertian yang
diberikan oleh-Nya.

Menyiapkan peralatan

Peralatan yang kita perukan untuk berkhotbah sebenarnya Alkitab saja. Kita berkhotbah dari
Alkitab, bukan sumber lain.
Prinsipnya kita harus bersungguh-sungguh merenungkan Firman Tuhan dengan kerendahan hati
dan mengandalkan pimpinan Roh Kudus. Tetapi kita harus mengakui bahwa ada hal-hal yang
sukar dipahami dari Alkitab. Rasul Petrus sendiri mengakui hal ini. Perhatikan ia berbicara
tentang surat-surat rasul Paulus dalam 2Ptr.3:16 – Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya,
apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar
difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya,
memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat
dengan tulisan-tulisan yang lain.
Maka untuk membantu kita memahami Alkitab kita memerlukan alat bantu. Inilah alat-alat yang
dimaksud:
- Alkitab lebih dari satu versi terjemahan: Terjemahan Lama, Terjemahan Baru, Bahasa
Indonesia Sehari-hari, Bahasa Daerah, Bahasa Inggeris.
- Konkordansi Alkitab.
Untuk melihat penggunaan kata-kata yang sama dalam ayat-ayat lain dalam Alkitab.
- Kamus Alkitab.
Untuk melihat kata-kata yang tidak kita ketahui artinya, misalnya: burung nazar, narwastu,
firdaus, talenta, orang Filistin… Di halaman belakang Alkitab kita terdapat kamus ringkas.
Cukup membantu, tetapi kita perlu memiliki yang lebih lengkap.
- Atlas Alkitab.
Untuk melihat letak dan jarak tempat-tempat yang disebut dalam Alkitab.
- Kamus istilah teologi.
Untuk melihat kata-kata atau istilah-istilah teologi seperti kelahiran baru, adopsi, pembenaran
dan sebagainya.
- Buku Tafsiran.
Ada Alkitab yang dilengkapi dengan survei dan garis besar kitab-kitab serta penafsiran
secukupnya.
Ada buku tafsiran lengkap dari Kejadian sampai Wahyu.
Ada buku tafsiran satu kitab saja, misalnya Tafsiran Kitab Matius.
Panggilan berkhotbah akan membuat kita berani menyisihkan dana untuk membeli buku-buku
yang berguna demi memperluas pemahaman Alkitab dan meningkatkan kemampuan
menyampaikan firman Tuhan.
Selain itu kita juga perlu menyiapkan alat tulis: kertas dan pena. Kita perlu mencatat semua yang
kita pelajari. (Ingat: kita pelupa!) Ide-ide yang muncul saat mempelajari firman Tuhan harus kita
catat. Kita juga perlu menulis bagan atau skema khotbah.

Menyiapkan khotbah

Sebelum menyiapkan khotbah kita harus memeriksa dahulu definisi kerjanya. Yang dimaksud
definisi kerja adalah batasan yang terdiri dari urutan tahap-tahap yang harus kita lakukan.
Definisi kerja khotbah Alkitabiah:
Memilih nas, menggali arti dari dalamnya, menemukan temanya, menyusun bagannya,
menghayatinya dan menyampaikannya kepada jemaat.
Dari definisi tersebut dapat dikerjakan bagian-bagian dari khotbah Alkitabiah seperti berikut:
- Memilih nas
- Menggali arti dari dalamnya
- Menemukan temanya
- Menyusun garis besarnya
- Menghayatinya
- Menyampaikannya kepada jemaat
Memilih nas sampai dengan menyusun bagan khotbah kita pelajari pada bab ini, sedangkan
menghayati dan menyampaikannya, pada bab berikutnya.
Mari kita mempelajari tahap-tahapnya.
MEMILIH NAS

Memilih nas adalah pekerjaan awal dari menyiapkan khotbah. Banyak pengkhotbah yang
merasakan kesulitan dalam hal ini, baik pemula maupun mereka yang telah berpengalaman
berkhotbah bertahun-tahun. Tetapi jika kita setiap hari bergaul dengan Alkitab, kesulitan tersebut
pasti segera dapat diatasi.
Bagaimana memilih nas?
Memilih kitab
Memilih nas khotbah bisa kita lakukan dengan memilih kitab dan mengkhotbahkan bagian-
bagiannya secara berseri.
Berkhotbah dengan cara ini akan membuat kita memiliki pemahaman yang dalam terhadap suatu
kitab dan tentu saja akan membuat kita memiliki pemahaman Alkitab secara luas dan dalam.
Kita menjadi penuh percaya diri karena sudah menguasai atau mempelajari khotbah dengan baik.
Dan jemaat pun akan menjadi terpelajar atau memiliki pengetahuan yang luas tentang Kitab
Suci.
Dengan memilih kitab dan mengkhotbahkannya secara berseri, kita pun terhindar dari
kecenderungan mengarahkan khotbah pada seseorang atau sekelompok orang dan melindungi
diri kita dari akibatnya jika kita berkhotbah seperti itu.
Bersaat teduh.
Ketika bersaat teduh kita dapat menemukan nas yang akan kita khotbahkan. Kita biasanya
bersaat teduh dengan membaca bagian Alkitab berurutan atau membaca buku renungan harian.
Pengkhotbah haruslah seorang yang membiasakan diri dengan bersaat teduh.
Pembacaan Alkitab harian berurutan akan memperluas pemahaman kita tentang firman Tuhan
secara menyeluruh. Dengan membaca Alkitab secara berurutan kita akan menikmati berkat
firman-Nya tiap hari. Pada hari-hari tertentu kita akan menikmati berkat yang luar biasa yang
membangkitkan gejolak dalam hati kita untuk membagikannya kepada orang lain.
Buku renungan dapat menolong kita untuk menemukan nas yang akan kita khotbahkan.
Beberapa orang tertentu menyampaikan renungan dengan memegang buku renungan harian dan
membacakannya. Meskipun kita sangat diberkati dengan renungan harian tersebut sebaiknya kita
mendalami lagi ayat atau nasnya agar kita dapat menyampaikannya sebagai hasil kebersamaan
kita dengan Tuhan secara pribadi.
Memperhatikan kebutuhan jemaat.
Jika kita seorang gembala jemaat atau pengerja gereja Roh Kudus akan memimpin kita
menemukan nas yang akan kita khotbahkan sementara kita memperhatikan kebutuhan orang-
orang yang kita layani. Tetapi kita harus memahami bahwa kebutuhan mereka tidak selalu
bersifat jasmani atau materi. Kebutuhan terpenting manusia adalah kerohaniannya. “Tetapi
carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan
kepadamu” (Mat.6:33).
Berapa panjang nas?
- Bisa 1 (satu) ayat (Ezr.7:10; Yoh.3:16; 1Kor.15:58).
- Bisa 1 (satu) bagian dari paragrap (Ef.4:11-16)
- Bisa 1 (satu) paragrap (Ibr.4:12-13).
- Bisa 1 (satu) perikop (Kis.3:1-10; Rm.5:1-11)
- Bisa 1 (satu) pasal (Yoh.6; 21)
- Bisa 1 (satu) kitab (Filemon, 2-3 Yohanes, Yudas)
Hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan memilih nas:
Nas harus merupakan satu gagasan utuh, bukan sepotong. Hati-hati jika kita memilih nas yang
berakhir dengan koma. Jika nas terdiri dari lebih dari satu gagasan, sebaiknya kita penggal.
Nas harus merupakan informasi penting. Semua bagian Alkitab penting, tetapi ada yang sangat
penting untuk kita sampaikan pada waktu dan kondisi tertentu.
Nas merupakan jawaban atas kebutuhan mendesak. Alkitab adalah jawaban bagi semua
kebutuhan umat manusia, tetapi ada ayat-ayat yang sangat mendesak untuk disampaikan sebagai
jawaban atas pergumulan jemaat.
Nas terjangkau oleh kemampuan kita menafsirkannya.
Terakhir, kita memilih nas dengan memperhatikan ketersediaan waktu kita untuk
menyelidikinya.

MENGGALI ARTI DARI DALAM NAS

Berkhotbah berarti memahami melalui mempelajari nas dan menjelaskannya kepada pendengar.
Tidak mungkin kita menjelaskan kebenaran Alkitab tanpa mempelajari sebelumnya.
Jika kita tidak mempelajarinya, apa yang dapat kita sampaikan?

Tiga tahap mempelajari nas


Mengamati: berurusan dengan semua rincian yang dapat dilihat dalam nas
Mencari: mempelajari nas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada bagian-bagian
rinci dari nas dan menyimpulkannya.
Menerapkan: membuat penerapan

1. Mengamati Bagian-bagian Rinci Nas


Mengamati nas adalah memperhatikan informasi yang Allah taruh dalam nas Alkitab. Semua
bagian nas adalah penting karena kita percaya sepenuhnya pengilhaman Alkitab.
Allah telah memilih kata-kata untuk ditulisnya pada Kitab Suci, jadi kita perlu mempelajarinya.

Mengamati kata-kata
Pada tahap ini kita mencatat kata-kata kunci dari nas. Penting mengamati kata-kata karena
menentukan isi nas dan mempengaruhi arti atau makna secara keseluruhan.
Kata-kata yang harus diamati:
- Kata-kata panjang atau ungkapan
- Kata-kata istimewa
- Kata-kata yang diulang
- Kata-kata yang pengkhotbah sendiri kurang mengerti artinya
Contoh: Rm.5:1-11
Kata-kata panjang atau ungkapan:
dibenarkan karena iman;
hidup dalam damai sejahtera;
bermegah dalam pengharapan;
masih lemah;
pasti akan diselamatkan.
Kata-kata istimewa:
dibenarkan,
bermegah,
ketekunan,
tahan uji,
pengharapan,
dicurahkan.
Kata-kata yang diulang:
dibenarkan (ay 1,9),
kasih karunia (ay 2, 2x),
bermegah (ay 2,3,11),
pengharapan (ay 2,4,5)
Ungkapan yang diulang:
pasti akan diselamatkan (ayat 9 dan 10).
Dan bukan hanya itu saja (ayat 3); Dan bukan hanya itu saja! (ayat 11). Perhatikan: pada ayat 3
tanpa tanda seru, tapi pada ayat 11 dengan tanda seru. Ada maksud tertentu dari penulis surat itu!

Mengamati hubungan-hubungan
Kata- kata berhubungan satu dengan yang lain. Ayat-ayat berhubungan satu dengan yang lain.
Demikian juga paragrap dan perikop, saling berhubungan satu dengan yang lain. Jenis hubungan
tentu saja berbeda-beda. Kita harus memperhatikan semuanya dengan teliti.
Beberapa jenis hubungan yang perlu diamati:
Hubungan tata bahasa
Apakah kegiatan atau peristiwa berlangsung pada masa lalu (telah, sudah, yang lalu).
Rm.5:5 – Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam
hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.
Yoh.5:24 – Aku berkata kepadamu: Sesunguhnya barangsiapa mendengar perkaaan-Ku dan
percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut
dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Apakah kegiatan berlangsung pada masa kini (sedang, kini).
Rm.5:10 – Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian
Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan…
Apakah kegiatan berlangsung pada masa akan datang (akan, kelak).
Rm.5:10 – …pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!
Ef.2:7 – supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih
karunia-Nya yang melimpah-limpah
Hubungan logis
Sebab-akibat: karena
Rm.5:9 – Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan
diselamatkan dari murka Allah.
1Yoh.4:19 – Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Kita sanggup mengasihi
Allah dan sesama sebagai akibat kasih-Nya yang telah kita terima.
Alasan: karena itu
Kol.3:1 – Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di
atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
Kis.26:19 – Sebab itu, ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku
tidak taat.
Hasil: menimbulkan, menerima
Rm.5:3-4 – Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita,
karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan
tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Rm.5:11 – Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus,
Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.
Kontras: tetapi
Rm.5:7-8 – Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin
untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. – Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya
kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.
Ef.2:4 – Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang
dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun
kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan…
Ef.2:8 – Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu,
tetapi pemberian Allah.
Perbandingan: lebih besar
Yoh.15:14 – Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan
nyawanya untuk sahabatnya.
1Yoh.4:4 – Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu
itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.
Persyaratan: jikalau; jika … maka
Why.3:20 – Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar
suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-
sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
2Taw.7:14 – …dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan
mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalan-Nya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari
sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.
Tujuan: supaya, untuk
Ef.1:6 – supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di
dalam Dia, yang dikasihi-Nya.
Ef.2:7 – Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih
karunia-Nya yang melimpah-limpah…
Ef.4:12 – Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi
pembangunan tubuh Kristus.
Hubungan kronologis atau geografis
Kronologis berhubungan dengan perpindahan waktu.
Geografis berhubungan dengan perpindahan tempat.
Kis.3:7-10 – Lalu ia memegang tangan kanan orang itu dan membantu dia berdiri. Seketika itu
juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu. Ia melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan
mengikuti mereka ke dalam bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah.
Yoh.4:4 – Ia harus melintasi daerah Samaria.
Hubungan psikologis
Hubungan yang lembut antara gembala dan domba (Mzm.23; Yoh.10). Memahami perasaan
gembala terhadap dombanya membantu kita memahami perasaan gembala rohani terhadap
jemaat.
Hubungan kontekstual
Konteks paragrap atau pasal.
Unit dasar dari mempelajari Alkitab bukanlah ayat atau kalimat, tetapi paragrap. Kita tidak bisa
mempelajari kata terlepas dari kalimatnya, kalimat terlepas dari ayatnya, dan ayat terlepas dari
paragrapnya. Kita tidak dapat mempelajari paragrap tanpa mempelajari perikop atau pasalnya.
Konteks kitab.
Mempelajari nas harus mempelajari kitab di mana nas tersebut tercantum.
Setiap kitab dalam Alkitab ditulis oleh pengarang yang cerdas di bawah pimpinan Roh Kudus.
Mengetahui latar belakang kitab menolong kita untuk dapat memahami lebih benar tentang nas
yang akan kita khotbahkan.
Mengetahui keseluruhan kitab menolong kita bergumul serius dari apa yang pengarang
maksudkan dengan tulisannya. Memahami maksud pengarang adalah sasaran dari semua
penafsiran.
Mempelajari kitab berarti mencari tahu tahun berapa ditulisnya, siapa pengarangnya, kepada
siapa dialamatkan, apa latarbelakangnya, apa tujuan penulis, prinsip-prinsip kebenaran apa yang
dikemukakannya dan sebagainya. Untuk memperoleh semua keterangan yang dimaksud
pengkhotbah perlu membuka buku survey kitab-kitab Alkitab.
Konteks Perjanjian.
Alkitab terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Nas kita terletak di mana? Hal ini
penting kita perhatikan, karena Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memiliki bukan
pertentangan, tapi perbedaan-perbedaan tertentu.
Konteks Alkitab.
Keseluruhan Alkitab adalah sebuah kisah besar. Yakni pandangan Allah mengenai sejarah
(history) sejarah-Nya (His Story).
Asal mula manusia dan alam semesta, tindakan Allah dalam memilih orang-orang dalam
Perjanjian Lama, kedatangan pertama Kristus, penyataan rahasia bahwa seluruh bangsa dapat
menjadi ahli waris yang sama pada keselamatan Allah dalam Yesus Kristus, serta kejadian-
kejadian akhir dari dunia kita berputar seputar Yesus Kristus sebagai Penebus atau Juruselamat
umat manusia. Isi seluruh Alkitab adalah penciptaan bumi sampai penciptaan bumi baru.
Pengkhotbah harus mengerti posisi nas dalam Alkitab, agar dapat memahami hubungannya
dengan Alkitab sebagai keseluruhan. Misalkan kita mengadakan perjalanan dari Denpasar ke
Jakarta melalui jalur darat. Peta yang kita pegang akan menunjukkan antara lain jarak Denpasar-
Jakarta; kota-kota apa saja yang akan kita lalui dan mungkin makanan favorit apa yang terdapat
di kota-kota tersebut. Andaikan kita sudah tiba di Probolinggo, melalui peta kita akan
mengetahui sudah sejauh mana perjalanan dan masih berapa sisa jarak yang harus ditempuh.
Konteks historis.
Alkitab adalah catatan sejarah Kristus yang dinyatakan dalam umat-Nya Israel dan Gereja. Kita
harus memahami konteks sejarah dari nas yang akan kita khotbahkan. Harus kita pelajari dan
perhatikan apakah nas terletak di zaman Musa, zaman Yosua, zaman Hakim-hakim, zaman Raja-
raja, zaman pembuangan, zaman pemulangan, zaman pelayanan Tuhan Yesus, zaman pelayanan
para rasul dan seterusnya…
Misalnya kita memilih nas dari kitab Daniel. Kita harus tahu pada zaman apa Daniel hidup,
bagaimana kisah hidupnya, apa saja yang dikerjakannya, bagaimana Allah memakai dia untuk
kemuliaan nama-Nya…
Hubungan Gaya Sastra
Apakah nas berbentuk cerita, puisi, hikmat, nubuatan, perumpamaan, surat atau pewahyuan?
Pendekatan penafsiran kita pada nas akan dipengaruhi oleh gaya tulisan. Sebagai contoh, kita
melihat nas yang ditulis dalam gaya narasi berbeda dari yang kita lihat dari sebuah surat.
Peringatan penting dalam hal ini adalah kita tidak dapat mencomot bagian nas yang berbentuk
narasi apalagi perumpamaan dan mengkhotbahkannya terlepas dari keseluruhan kisahnya.
Mengamati dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
Kita dapat mengamati nas dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kata bantu tanya yang
dapat diajukan adalah Apa, Siapa, Dimana, Kapan, Mengapa dan Bagaimana.
“Apa” mencari jawaban mengenai benda (pedang, roti), peristiwa (kehabisan anggur, dirampok
habis-habisan) dan definisi atau pengertian (kebenaran, pembenaran, dibenarkan).
“Siapa” mencari jawaban mengenai nama orang (Yudas, Petrus), atau pribadi (Raja, Roh Kudus,
penguasa kerajaan angkasa, malaikat, Iblis, roh jahat).
“Dimana” mencari jawaban mengenai tempat baik secara geografis (Betlehem, Bait Allah),
anatomis (kepala, pundak, punggung) atau rohani (surga, neraka, kegelapan).
“Kapan” mencari jawaban mengenai waktu (pagi, malam, yang lalu, kini, yang akan datang).
“Mengapa” mencari jawaban mengenai alasan, sebab-akibat dan lain-lain. Mengapa Petrus
menyangkal Yesus? Mengapa Paulus menangkap dan membunuh orang Kristen? Mengapa
Paulus menjadi pelayan yang bekerja keras? Mengapa orang tidak percaya dihukum? Mengapa ia
bersukacita? Mengapa Allah murka terhadap Israel?
“Bagaimana” mencari jawaban tentang suatu proses. Bagaimana bangsa Israel keluar dari Mesir?
Bagaimana orang berdosa diselamatkan? Bagaimana Tuhan memberi makan lima ribu orang?
Bagaimana Tuhan menyembuhkan orang buta? Bagaimana Roh Kudus membimbing umat-Nya?
Mari kita menerapkannya pada Kis.3:1-10.
Apa yang terjadi? Petrus dan Yohanes ke Bait Allah (ayat 1). Orang lumpuh meminta-minta
sedekah (ayat 2). Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu (ayat 6-7). Orang lumpuh itu berdiri,
berjalan kian kemari dan melompat-lompat sambil memuji Allah (ayat 7-9).
Apa yang diminta pengemis itu? Sedekah! (ayat 2-3).
Apa yang diperolehnya? Kesembuhan! (ayat 6-8).
Apa yang terjadi setelah orang lumpuh disembuhkan? Ia melonjak, berjalan, melompat-lompat
serta memuji Allah (ayat 8). Seluruh rakyat melihat, takjub dan tercengang (ayat 9-10)
Siapa tokoh-tokoh dalam kisah ini? Petrus, Yohanes, orang lumpuh, para pengusung orang
lumpuh, orang banyak.
Siapa tokoh utamanya? Yesus! (ayat 6).
Dimana peristiwanya terjadi? Di Bait Allah, di pintu Gerbang Indah (ayat 1-2).
Kapan terjadi? Pukul tiga petang (ayat 1). Jawaban yang berkaitan dengan konteks: Setelah
pencurahan Roh Kudus dan pertobatan tiga ribu jiwa melalui khotbah Petrus (pasal 2).
Mengapa orang lumpuh diusung?
Mengapa orang lumpuh meminta sedekah?
Mengapa Petrus ke Bait Allah?
Mengapa Petrus tidak memberi uang kepada pengemis itu?
Mengapa Petrus menyembuhkan?
Mengapa orang lumpuh itu bisa sembuh?
Mengapa orang banyak tercengang?
Bagaimana Petrus menyembuhkan orang lumpuh itu? “Demi nama Yesus Kristus…” (ayat 6). Ia
memegang tangan dan membantu orang itu berdiri (ayat 7).
Bagaimana proses penyembuhan itu terjadi? Lumpuh – dipegang tangannya – dibantu berdiri –
kuat kaki dan mata kakinya – melonjak berdiri – berjalan kian kemari – mengikuti ke dalam Bait
Allah – melompat-melompat – memuji Allah.
Bagaimana sikap orang terhadap peristiwa itu?
Bagaimana Petrus menyikapi peristiwa itu?
Lebih banyak pertanyaan dapat diajukan sesuai dengan kejelian kita dalam mengamati.
Sebanyak-banyaknya pertanyaan dapat kita kemukanan. Jawaban-jawaban juga bisa lebih rinci
diberikan sesuai ketelitian pengamatan kita.

2. Menafsirkan atau Mencari Arti


Langkah berikut setelah mengamati adalah menafsirkan. Menafsirkan berarti mencari atau
menemukan arti dari nas. Di sini kita tiba pada kerja keras penafsiran yang sebenarnya.
Penafsiran natural atau literal adalah penafsir mencari arti. Pada dasarnya, bagian paling penting
menafsirkan teks adalah memahami artinya, menemukan prinsip atau kebenarannya.
Dalam melakukan pekerjaan ini kita harus berhati-hati bahwa kita tidak akan memanipulasi atau
menguasainya.
Perhatikan adanya tiga bahaya dalam penafsiran:
- Misinterpretasi – memberi arti salah pada nas
- Subinterpretasi – kegagalan mengetahui dengan pasti arti sepenuhnya dari nas
- Superinterpretasi – menambahkan arti pada nas lebih dari yang sebenarnya
Kita juga harus berhati-hati dalam menafsirkan nas dengan mengajukan tes kejujuran dalam
penafsiran: Tidakkah kita menafsirkan berdasar prasangka terhadap nas?
Seringkali pengkhotbah sudah memiliki pemahaman tertentu dan memilih nas untuk mendukung
pemahamannya tersebut. Sikap seperti ini keliru! Yang benar adalah pengkhotbah meletakkan
pemikirannya di bawah otoritas Alkitab dengan menguji pemahamannya untuk diteguhkan atau
dikoreksi oleh firman Tuhan.
Ingat 2Ptr.1:20-21, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri.
Kita harus bersikap rendah hati dalam menafsirkan. Penafsiran kita tidak sempurna, maka kita
harus terbuka pada kemungkinan perubahan. Ketika kita mempelajari nas, Roh Kudus
meneguhkan kebenaran yang telah kita miliki atau mengajarkan kebenaran-kebenaran baru.
Dari hasil pengamatan yang telah kita lakukan kita memperoleh banyak informasi. Kini kita
mempelajarinya untuk memperoleh kebenaran-kebenaran Alkitabiah dari nas yang kita pelajari.
Mari perhatikan lagi Kis.3:1-10. Inilah kebenaran-kebenaran yang dapat kita temukan:
- Orang yang tak berdaya mengandalkan bantuan orang lain untuk hidupnya.
- Emas dan perak, harta benda atau uang tidak dapat mengubah hidup seseorang
- Hamba Tuhan harus mengarahkan pengharapan orang yang menderita kepada Kristus.
- Nama Kristus berkuasa membarui hidup manusia.
- Kristus mengubah hidup dari tak berdaya menjadi berdaya.
- Kristus mengubah orang untuk memuji nama-Nya.
- Karya Kristus mengakibatkan orang-orang di sekitar orang yang diperbarui melihat dan
kagum atas kuasa-Nya.
- Orang yang telah diperbarui hidupnya akan membuat banyak orang berkumpul di sekitarnya.
- Orang yang telah dibarui hidupnya menjadi kesaksian bagi banyak orang lain.
Menetapkan penerapan
Sebelum menunjukkan pada jemaat bagaimana menyatukan kebenaran Alkitab ke dalam hidup
mereka, pertama kita harus dan mau menerapkan firman Allah dalam hidup kita.
Pada tahap ini kita berpikir apa yang Alkitab katakan kepada saya, pengkhotbah. Pada tahap
berikutnya kita berpikir apa yang dikatakan Allah pada jemaat yang kita layani berdasarkan pada
arti nas Alkitab.
Penerapan bisa berorientasi pada isi, berhubungan dengan apa yang pendengar harus percayai
atau hargai.
Atau bisa berorientasi pada perilaku, berhubungan dengan apa yang mereka harus lakukan atau
taati.
Sering dua orientasi ini bercampur, karena orang akan melakukan yang mereka hargai.
Kita tidak boleh membuat penerapan yang semberono, artinya tidak sesuai dengan nas, karena
akan membuat sia-sia khotbah kita. Maka, untuk dapat membuat penerapan yang layak kita harus
mengajukan pertanyaan keras berikut:
Apa jenis penerapan yang harus digambarkan dari nas? Isi, tindakan, atau tindakan berdasarkan
isi?
Benarkan penerapan kita berdasar pada nas? Adakah ia mempunyai kebenaran yang berasal dari
nas?
Apakah akan meyakinkan pendengar bahwa ini penerapan dari nas?
Bagaimana kita dapat yakin bahwa jemaat akan mengerti penerapan nas? Kita tidak dapat merasa
pasti bawa mereka menangkap penerapan itu. Penerapan tidak otomatis. Sesungguhnya, orang
tidak senang menerapkan kebenaran bagi diri sendiri. Orang lebih senang menerapkan kebenaran
pada orang lain.
Untuk menetapkan penerapan kita dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
- Apakah ada perintah untuk ditaati?
- Apakah ada janji untuk dimiliki?
- Apakah ada bahaya untuk dijadikan peringatan?
- Apakah ada kebenaran yang perlu direnungkan?
- Apakah ada kebenaran yang perlu dibagikan?
- Apakah ada dorongan untuk masa depan?
- Apakah ada dosa yang perlu diakui di hadapan Tuhan?
- Apakah ada doa atau ucapan syukur kepada Tuhan?
- Apakah ada teladan hidup untuk diikuti?
- Apakah ada kebenaran atau pengetahuan baru yang ditemukan?
Mari mencari penerapan dari Kis.3:1-10
- Perintah untuk ditaati:
Beritakan Kristus!
Nyatakan kuasanya dengan memberdayakan orang-orang tak berdaya. Bantu mereka agar
mandiri.
- Janji untuk dimiliki:
Pembaruan hidup melalui kuasa Nama Yesus.
- Kebenaran yang perlu direnungkan:
Apakah pola pikirku sudah diperbarui? Dari memikirkan perkara-perkara lahiriah pada
memikirkan perkara-perkara rohani.
Apakah perilakuku sudah diubahkan?
Apakah tutur kataku memuliakan Tuhan?
Apakah hidupku menjadi kesaksian?
- Doa atau ucapan syukur:
Terima kasih Tuhan, Engkau telah memperbarui hidupku.
- Teladan hidup yang harus diikuti:
Dari rasul Petrus: memberi perhatian dan menolong orang demi nama Yesus Kristus.
Dari orang lumpuh yang disembuhkan: memuliakan Tuhan melalui perilaku, tutur kata dan hidup
kita.
- Kebenaran atau pengetahuan baru yang ditemukan: orang yang telah diperbarui hidupnya
harus menjadi kesaksian.

MENEMUKAN TEMA

Kesimpulan atau hasil akhir dari pengamatan dan pencarian arti dari nas disimpulkan dalam
sebuah kalimat tema. Artinya, tema keluar dari nas. Tema disarikan dari ayat-ayat nas.
Alkitab memiliki tema besar, yakni “Sejarah penyelamatan dalam Yesus Kristus.” Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru mempunyai tema tersendiri, tapi tetap searah dengan tema Alkitab.
Tiap-tiap kitab memiliki tema khas sesuai dengan pimpinan Roh Kudus yang diberikan kepada
penulis kitab. Tiap-tiap pasal, perikop atau paragrap, memiliki temanya masing-masing, tetapi
masih berhubungan dengan tema sentral Alkitab. Demikian pula nas yang kita pilih memiliki
tema yang telah diilhamkan. Jadi, mari kita temukan tema dengan menggali sedalam-dalamnya
nas yang kita akan khotbahkan.
Menemukan tema merupakan pekerjaan sangat sulit, tetapi banyak berkat rohani diperoleh
melaluinya. Pengkhotbah harus melewati proses ini.
Tema adalah gagasan utama dari nas yang tersusun dalam sebuah kalimat lengkap.
Tema terdiri dari pokok (topik atau subjek) ditambah pelengkap (penekanan).
Setelah mempelajari nas dengan mengajukan banyak pertanyaan, kini kita akan menemukan
tema dengan mengajukan dua pertanyaan yang akan membantu kita menentukan tema.
Pokok menjawab pertanyaan:
Apa yang dibicarakan dalam nas.
Atau, nas berbicara tentang apa?
Pelengkap menjawab pertanyaan:
Apa yang dikatakan tentang pokok dalam nas.
Mari melihat tema: Kis.3:1-10
Nas ini berbicara tentang apa?
Pembaruan oleh Nama Yesus Kristus
Pembaruan dalam hal apa?
Dalam pola pikir (ay 1-6)
Dalam perilaku (ay 7-8)
Dalam tutur kata (ay 8-9, memuji Allah)
Dalam kesaksian (ay 9-10)
Rumusan tema:
Nama Yesus Kristus berkuasa memperbarui hidup kita dalam pola pikir, perilaku, tutur kata dan
kesaksian.

Mari kita perhatikan lagi: Rm.5:1-11


Nas ini berbicara tentang apa?
Bermegah di dalam kasih karunia.
Atau: Di dalam kasih karunia kita bermegah.
Kita dapat bermegah dalam hal apa?
Dalam pengharapan (ay 2)
Dalam kesengsaraan (ay 3)
Dalam Allah oleh Yesus Kristus (ay 11)
Rumusan tema:
Di dalam kasih karunia kita dapat bermegah dalam pengharapan, dalam kesengsaraan dan dalam
Allah oleh Yesus Kristus.

MENYUSUN BAGAN KHOTBAH

Bagan, struktur atau skema adalah rancangan susunan khotbah yang dibuat untuk menjadi
penuntun khotbah kita.
Menyusun bagan khotbah merupakan bagian penting dalam menyiapkan khotbah.
Alkitab telah ditulis Allah dengan struktur atau garis besar yang indah. Tiap-tiap kitab memiliki
struktur yang menakjubkan. Bagan khotbah dapat kita temukan dalam nas yang akan kita
khotbahkan. Tidak perlu kita mereka-rekanya.
Bagan khotbah harus keluar dari nas, bukan dari pikiran atau kehendak pengkhotbah. Isi khotbah
haruslah serasi dengan tema nas. Sesungguhnya, tema yang sudah digali dari nas yang menuntun
pengkhotbah menyusun bagan khotbahnya.
Bagan khotbah seharusnya menunjukkan ciri-ciri berikut:
Kesatuan.
Seluruh rangkaian khotbah merupakan satu kesatuan yang kait-mengait. Khotbah terdiri dari
sebuah ide atau gagasan besar yang dijelaskan sepanjang khotbah.
Keteraturan.
Bagian-bagian khotbah harus berhubungan secara teratur dengan keseluruhan khotbah. Ini
menolong kita agar dapat menyampaikan khotbah secara teratur dan jelas. Cara ini
menghindarkan kita dari berbicara berputar-putar.
Keterukuran.
Tiap-tiap bagian khotbah harus memiliki ukuran panjang yang serasi.
Kemajuan.
Atau perkembangan. Menunjukkan agaimana setiap bagian bergerak maju, sehingga khotbah
mencapai puncaknya tanpa lompatan-lompatan yang membingungkan pendengar.
Unsur-unsur dalam Bagan Khotbah
Unsur-unsur penting yang harus terdapat dalam bagan khotbah, yang tak boleh diabaikan, adalah
sebagai berikut:

1. Judul

Khotbah memerlukan judul.


Judul khotbah akan muncul atau disebut beberapa kali dalam khotbah.
Jika kita sudah bekerja keras menemukan tema, kita dapat mempergunakan bagian tema sebagai
judul.
Judul harus menjadi sebuah “iklan” dengan dampak memperoleh perhatian pendengar.
Judul adalah identitas khotbah.
Judul adalah intisari khotbah. Ia harus mewakili seluruh isi khotbah. Ia adalah mahkota khotbah.
Ia menarik karena unik, akurat, jelas dan pendek. Ia harus menarik perhatian pendengar agar
terarah kepada khotbah. Unik artinya khas, berbeda dengan yang lain, tetapi tidak perlu nyentrik
atau nyeleneh. Akurat artinya benar-benar mewakili isi khotbah. Jelas artinya terdiri satu gagasan
sederhana.
2. Nas
Nas yang akan kita khotbahkan diambil dari satu bagian Alkitab dan harus ditulis secara jelas.
Nas khotbah tidak terdiri dari ayat-ayat yang terpencar-pencar.
Mungkin kita memerlukan ayat-ayat lain, tetapi itu akan kita gunakan sebagai referensi.
3. Tema
Tema adalah intisari khotbah dalam satu kalimat lengkap. Tema khotbah ditentukan setelah
mengadakan penelitian terhadap nas.
Pendengar tidak akan mengingat semua khotbah kita, tetapi mereka harus mengingat temanya.
Jika mereka tidak dapat mengingat temanya, maka kita gagal berkhotbah.
Tema khotbah ibarat sekrup yang harus diulirkan beberapa kali putaran supaya menancap lebih
dalam. Tema harus diungkapkan beberapa kali, dalam pendahuluan, garis-garis besar,
kesimpulan dan mungkin penerapan.

4. Pendahuluan

Pendahuluan menentukan keefektifan khotbah. Jika kita tidak memperoleh hasrat pendengar
(dalam beberapa menit awal) sebagai sandaran khotbah, mereka mungkin segera tertidur.
Pendahuluan harus menarik perhatian pendengar. Mereka sudah tertarik pada khotbah melalui
penyampaian judul, kini mereka semakin tertarik melalui mendengar pendahuluan khotbah.
Pendahuluan harus membangkitkan kebutuhan pendengar. Melalui pendahuluannya pengkhotbah
membuat pendengar merasakan kebutuhan akan firman Tuhan yang dikhotbahkan. Ketika
pendahuluan disampaikan mereka akan berkata dalam hatinya: “Aku perlu mendengar khotbah
ini! Aku perlu mengerti kebenaran yang disampaikan!”
Pendahuluan memperkenalkan tema. Pendahuluan berfungsi untuk mengarahkan pendengar pada
tema. Dalam pendahuluan tema dikemukakan sehingga pendengar mengetahui arah khotbah.
Dalam pendahuluan kita mengumumkan nas dan latar belakangnya.
Pendahuluan juga menyatakan tujuan khotbah. Pengkhotbah memiliki tujuan atau harapan atas
pendengar.
5. Tujuan

Tujuan ditentukan oleh tema yang telah ditemukan dari nas.


Tujuan juga harus sesuai dengan isi khotbah.
Tujuan ditempatkan di bagian akhir pendahuluan. Disampaikan kepada jemaat agar mereka
mengetahui sasaran apa yang hendak dicapai oleh pengkhotbah.
Dari sisi akal budi pengkhotbah memiliki tujuan agar jemaat memahami kebenaran yang
dikhotbahkan.
Dari sisi kehendak pengkhotbah memiliki tujuan atau harapan agar jemaat menghendaki untuk
hidup dalam kebenaran yang disampaikan.
Dari sisi tindakan pengkhotbah berharap agar jemaat menerapkan kebenaran yang diterimanya.

6. Isi/ Tubuh

Isi khotbah terdiri dari dua atau lebih bagian atau garis besar. Banyaknya garis besar ditentukan
oleh nas. Bagian-bagian ini ditentukan oleh penekanan-penekanan pada kalimat tema. (Bukan
kita yang menentukannya!).

ISI GARIS BESAR KHOTBAH:


KALIMAT TRANSISI: Kalimat transisi menghubungkan tema dengan tubuh khotbah, atau
menghubungkan garis besar sebelumnya dengan sesudahnya, atau menghubungkan garis besar
dengan kesimpulan.
PERNYATAAN KEBENARAN: Garis besar merupakan pernyatan kebenaran dalam sebuah
kalimat lengkap.
BAGIAN NAS yang dijelaskan. Garis besar harus mencantunkan bagian nas yang dijelaskan.
PENJELASAN:
Bisa berupa definisi kata seperti “kebenaran,” “pembenaran,” “dosa” dan sebagainya.
Bisa berupa keterangan suatu proses seperti penyangkalan Petrus atau pertobatan Paulus.
REFERENSI (jika memerlukan peneguhan ayat-ayat lain).
ILUSTRASI
Pengaruh khotbah selalu berhubungan dengan ilustrasi di dalamnya. Komunikasi yang baik
mempergunakan banyak ilustrasi yang efektif. Ilustrasi membawa pendengar dari yang diketahui
(ilustrasi tersebut) pada yang tak diketahui (kebenaran Alkitab).
Nilai ilusrasi
Adalah salah menggunakan ilustrasi dengan tujuan memperpanjang khotbah. Ilustrasi
dipergunakan untuk menambah kejelasan, bukan menambah panjangnya.
Ilustrasi membuat halnya dapat dimengerti. Ilustrasi dipergunakan untuk menolong pendengar
memahami isi atau materi atau bagian khotbah yang diilustrasikan.
Ketika menemukan ilustrasi yang kuat kita kadang-kadang tergoda untuk membuat khotbah
cocok dengannya. Khotbah kemudian diarahkan pada ilustrasi, dan pendengar akhirnya
mengingat ilustrasinya ketimbang gagasan yang sebenarnya mau diperjelas dengan ilustrasi
tersebut.
Kita tidak boleh mengkhotbahkan ilustrasi. Ilustrasi harus digunakan pada tempat yang tepat,
waktu yang tepat serta alasan yang tepat.
Keuntungan mempergunakan ilustrasi
Menghindarkan kesalahmengertian. Ilustrasi menerangi. Ia menambah terang pada konsep dan
arah khotbah. Ia menolong pendengar mengerti dan menolong pengkhotbah menjelaskan
khotbahnya. Ilustrasi menolong rincian khotbah dalam pikiran pendengar.
Menghindarkan kesalahan dan kekacauan. Tugas kita adalah untuk meringankan apa yang terasa
berat dari khotbah kita dengan mengilustrasikan semua rincian yang memerlukan ilustrasi.
Ilustrasi kita dapat membangkitkan dan memelihara atau mempertahankan ketertarikan hadirin
selama khotbah.
Menghindarkan kelalaian. Ilustrasi juga membangkitkan imaginasi ketika pendengar
menghubungkan kebenaran dengan apa yang telah diketahuinya. Dalam cara seperti ini mereka
tetap mendengar khotbah dalam pikiran mereka, bahkan sesudah khotbah berakhir.
Menghindarkan kedataran isi dan argumen. Kita harus kreatif. Kita harus berkhotbah dengan
cara yang menarik. Kita harus menaburi khotbah dengan berbagai ilustrasi. Ini diperlukan dalam
memperluas gaya berbicara.
Menghindarkan kelesuan. Sering dalam penerapan kita menggunakan ilustrasi untuk menantang
orang agar bertindak. Ilustrasi dalam penerapan atau pada kesimpulan benar-benar
mempertunjukkan khotbah yang dapat dilaksanakan dalam kehidupan nyata, sehingga jemaat
tidak mempunyai alasan lagi untuk tidak mentaati.
Menemukan ilustrasi
Menemukan ilustrasi yang tepat merupakan bagian dari pembimbingan Roh Kudus atas
pengkhotbah sementara menyiapkan khotbah. Kita harus mencari dan mendoakannya.
Hanya ada satu jalan untuk memperoleh ilustrasi. Kita harus mengamati kehidupan. Amati, amati
dan amati! Maka, kita akan menemukan ilustrasi-ilustrasi yang cocok untuk khotbah kita.
Sumber ilustrasi
Kehidupan pribadi kita merupakan ilustrasi yang baik, dan sering menjadi yang terbaik, sebab
kita mengenalnya dengan baik. Tapi jangan berlagak menjadi pahlawan!
Kita dapat mengilustrasikan dari pengalaman seseorang – jemaat, tokoh Alkitab, tokoh sejarah
atau kesusasteraan. Hati-hatilah agar tidak membeberkan keburukan orang.
Pikirkan seluruh khotbah dan bertanyalah dimana ilustrasi diperlukan.
Ilustrasi apa yang dibutuhkan untuk menambahkan penjelasan pada bagian tertentu?
Ilustrasi apa yang menolong pendengar melihat dan menerima kebenaran yang kita kemukakan?
Ilustrasi apa yang menolong pendengar melatih implikasi dan aplikasi dari kebenarannya?

7. Kesimpulan

Kesimpulan melengkapi khotbah. Kesimpulan menyatukan berbagai hal, mengungkapkan


kembali tema, mengatasi keraguan atau kebingungan, dan menantang pendengar untuk mentaati.
Kesimpulan berisi penerapan.
Kesimpulan adalah kesempatan terakhir untuk mengulirkan sekrup, menancapkan firman Tuhan
ke pikiran dan hati jemaat.
Kesimpulan adalah puncak khotbah, maka ia mendaki menuju klimaks. Pengkhotbah mengulang
atau menyatakan kembali tema untuk memfokuskan kembali pikiran pendengar pada kehendak
Allah bagi mereka.
Dalam kesimpulan, pendengar kini mendengar pernyataan-pernyataan pendek tapi penuh makna
mengenai seluruh kebenaran yang disampaikan oleh pengkhotbah.
Juga melalui kesimpulan pendengar merasakan bahwa tujuan yang dinyatakan dalam
pendahuluan akan menjadi kebenaran yang dapat diterapkan.
Kesimpulan yang salah
Kesimpulan yang salah adalah yang tidak mendorong atau tidak bersemangat. Inilah cara untuk
menghindarinya:
- Jangan berhenti begitu saja.
- Jangan menutup Alkitab sebelum khotbah berakhir. Jangan berkata “akhirnya,” tetapi masih
berbicara panjang lebar.
- Jangan memberi kesimpulan ganda. Kelihatannya mau mendarat tetapi naik lagi.
Kelihatannya mau selesai, ternyata nyambung lagi.
- Jangan menyampaikan gagasan baru.
- Jangan menyampaikan kesimpulan lebih panjang dari khotbah.
- Jangan menyampaikan kesimpulan sebelum tiba pada kesimpulan.
- Jangan lemah, bersemangatlah! Kesimpulan bukanlah bagian tidak penting dari khotbah. Jika
kesimpulan nampak tidak penting, pendengar tidak akan memberi perhatian.
Kesimpulan yang tepat
Beberapa gagasan cara membuat kesimpulan yang cerdas:
- Pernyataan yang jelas dari tema dengan ringkasan garis-garis besar.
- Pengertian ditenun dengan komitmen pribadi untuk menerapkan menjadi kesimpulan yang
efektif.
- Sebuah kalimat yang meneguhkan kebenaran. Ungkapan tema dalam kata-kata lain akan
menjadi kesimpulan yang sangat bagus.
- Suatu cerita yang mengilustrasikan tema (atau garis besar akhir) akan dapat digunakan untuk
mendorong kemauan pendengar.

8. Penerapan

Berkhotbah bukan hanya memindahkan informasi. Berkhotbah mentransfer informasi yang


mentransformasi manusia. Apa yang kita khotbahkan haruslah mengubah hidup. Itu harus
menantang jemaat untuk menerapkan kebenaran Alkitab dalam hidup mereka. Tanggung jawab
pengkhotbah adalah melukiskan tidak hanya prinsip-prinsip untuk diterapkan tetapi juga
petunjuk-petunjuk untuk menerapkannya.
Penerapan harus dipikirkan dengan serius. Jangan biarkan jemaat memahami kebenaran tanpa
tantangan untuk menerapkannya. Penjelasan Alkitabiah tanpa penerapan menghasilkan
kerohanian kosong. Tidak ada faedahnya menjadi akurat secara akademis jika kebenarannya
tidak ditransformasikan pada hadirin. Penerapannya adalah jika kita menggerakkan pendengar
dari menerima kebenaran kepada dorongan yang kuat untuk menerapkan kebenaran Allah.
Penerapan haruslah khusus dan kongkret. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa Tuhan
menghendaki jemaat menjadi kudus. Kita harus mengkomunikasikan apa arti menjadi kudus.
Kita harus memberi contoh spesifik dari kekudusan yang akan menjadi relevan pada situasi masa
kini.
Penerapan dipergunakan untuk menantang pendengar agar berkomitmen menaati Firman Tuhan.
Menempatkan penerapan.
Kita harus membuat penerapan dalam khotbah. Kita dapat menempatkannya kapan dan dimana
kita memerlukan. Penerapan tidak boleh menjadi sekadar “tambahan” pada khotbah. Ia harus
diberi tempat dan waktu yang semestinya.
Membangun penerapan.
Pada akhir khotbah pendengar harus mempunyai jawaban atas tiga pertanyaan penting:
Tentang apa pengkhotbah berbicara?
Lalu, apa yang harus saya lakukan atau perbuat?
Sekarang, apa yang akan saya lakukan?

Kesimpulan Bab Ini


Sebelum menyiapkan khotbah pengkhotbah harus mempersiapkan dirinya terlebih dulu dengan
merendahkan dirinya di hadapan Tuhan dalam sikap doa dan komitmen untuk diajar oleh Roh
Kudus selama proses menyiapkan khotbahnya.
Pengkhotbah juga harus menyiapkan peralatan seperti Alkitab dalam beberapa versi terjemahan,
konkordansi, kamus Alkitab, kamus teologi, atlas Alkitab dan buku-buku tafsiran.
Menyiapkan khotbah berarti memilih nas, menggali arti dari dalamnya, menemukan temanya,
menyusun bagannya, menghayatinya dan menyampaikannya kepada pendengar.
Memilih nas bisa dilakukan melalui saat teduh. Juga bisa dilakukan dengan memilih kitab untuk
dikhotbahkan secara berseri dan memperhatikan kebutuhan jemaat. Menggali arti dari dalam nas
adalah mengamati atau mempelajari dengan melihat hubungan-hubungan dan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan, menafsirkan artinya dan menetapkan penerapan darinya.
Menemukan tema adalah menyarikan (memadatkan) nas menjadi sebuah kalimat tema. Tema
harus muncul dari nas dan bukan dari pengkhotbah. Setelah tema ditemukan bagan khotbah
dapat disusun.
Penerapan Bab Ini
Mari bersungguh-sungguh menyiapkan khotbah kita dengan merendahkan diri di hadapan Tuhan
dalam sikap doa dan komitmen untuk bersedia diajar oleh Roh Kudus.
Milikilah peralatan yang diperlukan untuk menyiapkan khotbah, sisihkanlah dana untuk
membelinya.
Pilihlah nas yang terdiri dari ayat-ayat yang berdekatan, atau dalam satu paragrap atau perikop.
Amatilah dengan sebaik-baiknya dan temukanlah kebenaran dari dalamnya.
Jangan malas untuk menemukan kalimat tema, karena itu proses yang paling penting dalam
menyiapkan khotbah.
Susunlah bagan berdasarkan tema dan hasil penelitian terhadap nas. Jangan lupa
memperlengkapinya dengan ilustrasi, kesimpulan dan penerapan.

Share this:
 Twitter
 Facebook1

Like this:
Suka

Be the first to like this post.

21 Januari 2012 - Posted by pengkotbah | Homiletik | roh kudus

Belum ada komentar.

Nama : Paula Pangow

Khotbah Topikal.

Judul : Kuasa Kebangkitan.

[Link] : Lukas 24:25-36

[Link].
Selama tiga setengah tahun Tuhan Yesus didunia melakukan

banyak hal antara lain mengajar,membuat mujizat seperti :

-memberi makan 5000 orang dengan 2 roti dan 5 ikan masih sisa 5

bakul

Orang buta melihat,orang lumpuh berjalan ,air diubah jadi anggur

di pesta perkawinan di Kanan bahkan membangkitkan Lazarus

dari kematian.

Akhirnya Dia berkata berkali-kali kepada murid-muridNya bahwa

Anak Manusia akan diserahkan kepada orang Farisi dan ahli

Taurat,Dia akan menderita,disesah kemudian mati dan bangkit

pada hari yang ketiga.

[Link] : Dipulihkan lewat kuasa Kebangkitan.

[Link] Tanya: Mengapa Tuhan berkali-kali menampakkan diriNya.


[Link] peralihan.: Kepercayaan dan pengenalan murid-muridnya

perlu dipulihkan

[Link] Khotbah.

Mari kita lihat 4 hal pemulihan kepercayaan murid-muridnya sbb:

[Link] berkata hai orang kamu orang bodoh,betapa lambannya

hatimu sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu,yang telah

dikatakan oleh para nabi

[Link] mata mereka dan mengenal Dia Lukas 24:31

,terkadang karena kita kecewa membuat kita dibutakan,kita selalu

cenderung mengingat-ingat masa lalu,dulu Dia yang kita harapkan

memimpin bangsa Israel tapi sekarang pupuslah sudah harapan.

Dalam Lukas 24:32 Hati mereka berkobar-kobar ketika dekat

dengan Yesus,demikian juga halnya dengan kita pada saat kita dekat

dengan Dia atau Firman maka pasti hati kita bersukacita.


Dalam Lukas 24 ayat 36 Yesus berkata “Damai sejahtera bagi

kamu”,damai sejahtera tidak dijual ditoko,

[Link] Ketika Dia memulihkan hati murid-muridNya untuk

tetap percaya dan mengenal Dia maka hati yang putus pengharapan

berubah menjadi sukacita dan hati yang berkobar-kobar,maka disitulah

Dia memberkati murid-muridNya dengan damai sejahtera.

[Link] call:

Karena berbagai permasalahan membuat kita kecewa,putus

pengharapan,hilang kepercayaan bahkan kehilangan akan pengenalan

akan Allah sehingga tidak ada damai sejahtera,mari angkat tangan dan

percaya dengan iman lewat kuasa kebangkitan,kita dipulihkan,hanya

Dia yang sanggup memulihkan semuanya,terimalah damai sejahtera

dari Allah dalam nama Yesus yang sudah bangkit sehingga menjadi

pemenang bahkan lebih dari pemenang,Amin


Nama : Silvana Hermanses

Khotbah Expositori.

Judul : Yesus ku dahsyat

[Link] : Pilipi 2:9-=10

[Link].

Rasul Paulus menasehati jemaat di Pilipi agar bersatu dan merendahkan

diri
[Link] :Allah berkuasa atas segala keadaan.

[Link] Tanya: Mengapa Allah berkuasa?

[Link] peralihan.: Karena Allah menguasai segalanya,mari kita lihat.

[Link] Khotbah.

Mari kita lihat 3 hal sbb:

[Link] Yesus tak terkalahkan :

[Link] Allah sangat meninggikan Dia ay 9a

[Link] Allah mengaruniakan nama segala nama ay 9b

[Link] nama Yesus:

[Link] lutut segala yang [Link] 10

[Link] lutut segala yang diatas [Link] 10

[Link] lutut segala yang dibawah bumi ay 10.


[Link] mendapat pengakuan dihadapan Allah dan manusia:

[Link] orang mengaku Yesus dengan lidah ay 11.

[Link] sendiri memuliakan Yesus.

[Link] Marilah kita sebagai murid-murid Kristus

memberitakan kepada dunia bahwa Yesus itu dahsyat

Nama :Silvana Hermanses

Khotbah Textual

Judul : “ Kunci Keberhasilan dlm Kehidupan”


[Link]:Mzm 1:1-2

[Link] :

Orang yang berhasil dalam kehidupan menurur Daud adalah

orang yang tidak berjalan menurut nasehat orang fasik

[Link] : Tuhan memberikan pilihan kepada kita.

[Link] pertanyaan : Mengapa kita harus memilih?

[Link] peralihan

Karena pilihan kita akan menentukan keberhasilan kita.

[Link] khotbah:

[Link] pilihan Mzm 1:1

[Link] yang kita pilih hari ini menentukan masa depan kita.

[Link] hati kita untuk memilih yang benar.

[Link] hari kita selalu diperhadapkan dengan pilihan Ulangn 30:19-20.


[Link] kesukaan Mzm 1:2.

[Link] apa yang menjadi kesukaan dalam hidup kita.

[Link] bias menjadikan kita berhasil,namun juga bias menjadikan

kita hancur.

[Link] waktu Mzm 2:2b

[Link] firman siang dan malam ,

[Link] memberikan kita waktu.

[Link]. .Masa depan kita ada ditangan Tuhan,untuk itu milikilah

kunci keberhasilan dalam kehidupan agar supaya hidup menjadi

berkat bagi orang lain ,Amin


Nama :Silvana Hermanses

Khotbah Topikal.

Judul : Milikilah sifatdan karakter Kristus dalam kehidupan kita.

[Link] : 1Petrus 1:18-19

[Link].
Kerinduan hati Tuhan untuk kita yaitu memiliki sifat dan

karakterNya agar supaya berkenan kepadanya Kej 2:26 Tuhan

menciptakan manusia,ayat 18 tentang cara hidup yang lama yang

sia-sia,ayat 19

[Link] : Yesus menebus kita dengan darah yang mahal Efesus 4:21-

24

[Link] Tanya:Bagaimana cara meninggalkan hidup yang lama?.

[Link] peralihan.:Mari kita belajar sifat dan karakter yang Tuhan

inginkan dalam hidup kita

[Link] Khotbah.

! Sifat rendah hati yaitu menghargai orang lain.

[Link] lemah lembut menanggung penderitaan

[Link] sabar,tahan dalam penderitaan


[Link] orang yang sudah ditebus kita harus memiliki sifat

dan karakter Kristus dalam hidup kiat

Khotbah (teologi)

The Khotbah di Bukit oleh Carl Heinrich Bloch, Danish painter

Khotbah adalah salah satu cara yang dipakai untuk mengkomunikasikan pesan.[1] Dalam tradisi Kristen, pesan
ini didasarkan pada apa yang tertulis di dalam Alkitab atau yang biasa disebut kabar baik. [1] Dalam bahasa
Yunani, kabar baik ini disebut Yunani eungalion.[2] Alkitab sebagai sumber pemberitaan Firman Tuhan melalui
proses.[2] Sehingga khotbah yang disampaikan bukan pemikiran subjektif si pengkhotbah. [2] Pesan dari teks
Alkitab itu yang menjadi inti khotbah.[2]
Sampul Alkitab Terjemahan Baru

Pesan yang diberitakan itu di dalam bahasa Yunani disebut Kerygma.[1] Kerygma merupakan pesan dari teks
Alkitab yang telah ditafsirkan sebelumnya.[3] Cara mengkomunikasikan khotbah juga berbeda dengan cara
komunikasi yang lain.[1] Khotbah di Bukit merupakan salah satu contoh khotbah yang dilakukan oleh Yesus. [1]
Khotbah di Bukit juga menjadi salah satu rujukan di dalam etika Perjanjian Baru.[2]Yesus di dalam pemberitaan-
Nya tersebut berisi tentang Kerajaan Allah yang akan datang.[2] Khotbah itu pun berisi panggilan atau seruan
Yesus kepada setiap orang untuk bertobat.[2] Selain Yesus, tokoh yang terkenal dengan khotbahnya di dalam
Perjanjian Baru adalah Paulus.[1] Pemberitaan berita kesukaan dari Paulus terpusat pada kematian dan
kebangkitan Kristus menurut Kitab Suci.[2] di dalam berkhotbah ada cara-cara tertentu di dalam ilmu
berkhotbah.[3]Ilmu Khotbah juga dikenal dengan istilah homiletika.[3] Homiletika merupakan alat yang harus
dikuasai oleh seorang pengkhotbah.[3] Di dalam penyusunan khotbah juga diperlukan proses hermeneutik.[3]
Proses Hermeneutik ini membantu pengkhotbah dalam menafsir teks sehingga kontekstual. [4]

Khotbah di dalam Tradisi Kekristenan

Khotbah dalam kekristenan pertama kali muncul dari praktek Yahudi.[5] Kemudian, praktik tersebut berkembang
di dalam liturgi Kristen.[5] Khotbah di dalam gereja zaman Perjanjian Baru bersifat Injili, yaitu pidato dari
perkembangan komunitas dan sebuah perluasan perkembangan misionaris.[5] Khotbah bertujuan untuk
menyampaikan pesan dalam Alkitab, seperti inti di dalam kehidupan, kematian, kebangkitan, dan pengharapan
akan kedatangan Yesus Kristus.[5] Pada masa mehidupan gereja awal, pengkhotbah itu adalah guru, pemimpin
spiritual, dan apologetis.[5] Gereja-gereja awal juga tidak membedakan khotbah dengan pengajaran.[5] Dengan
kata lain pengajaran adalah khotbah.[5]

Fungsi Khotbah

Khotbah memiliki funsi yang bersifat pendidikan, sosial, etis, dan politis. [5] Pengkhotbah memberikan
pengetahuan, cara beribadah, dan norma yang bersifat sosial dan etis di dalam sebuah komunitas.[5]
Pengkhotbah, yang juga dipahami sebagai seorang guru, menjadi pemimpin di dalam ibadah, pengajar di
dalam peraturan etis, dan guru spiritual di dalm komunitasnya.[5] Khotbah sangat erat kaitannya dengan
fungsinya sebagai pengajaran.[5] Di dalam gereja, khotbah menjadi alat seorang pemimpin dalam mengajar
umat.[5] Khotbah pun membantu umat Krtisten dalam memahami kehendak Allah. Injil yang menjadi inti dari
pengajaran ini.[5]

Sistematika Khotbah

Secara umum, sistematika khotbah dapat dibagi sebagai berikut:[6]

Pendahuluan

Bagian ini berisi latar belakang teks. Pendahuluan sebuah khotbah memiliki fungsi untuk membawa pendengar
menuju pesan atau inti khotbah yang hendak disampaikan. Pendahuluan yang disampaikan ini disajikan
dengan bahasa yang sederhana dan mengungkapkan sedikit permasalahan.

Isi

Isi khotbah adalah bagian yang sentral dari struktur khotbah. Pada bagian ini, yang disampaikan adalah Firman
Tuhan atau kerygma dari sebuah teks Alkitab. Bagian ini membutuhkan waktu yang panjang dalam
mempersiapkannya. Isi sebuah khotbah harus melewati proses penafsiran.

Penutup

Bagian terakhir adalah penutup khotbah. Kesimpulan dari isi atau pesan dari khotbah disampaikan pada
bagian ini. Hal ini mempermudah pendengar dalam menarik pesan dari nas khotbah. Pada bagian ini, aplikasi
yang menjadi penekanan. Pendengar pun dapat dengan mudah memahami pesan yang hendak disampaikan.
Aplikasi yang relevan dengan kehidupan pendengar akan lebih membuat pendengar memahami khotbah yang
disampaikan. Bagian ini juga dapat diisi dengan sebuah ilustrai.

Langkah-langkah Menyusun Khotbah

1. Mengumpulkan beberapa gagasan di dalam teks. [7]


2. Menyaring gagasan-gagasan tersebut.[7]
3. Memilih tujuan khotbah.[7]
4. Membuat kerangka khotbah.[7]
5. Menyusun khotbah.[7]

Metode-metode Berkhotbah

Metode Pembacaan Naskah[8]


Metode Penghafalan Naskah[8]
Metode Spontan[8]

Jenis-jenis Khotbah

Khotbah Tekstual[9]
Khotbah Topikal (Tematik)[9]
Khotbah Ekspositori[9]

Referensi
1. ^ a b c d e f W. R. F Browning. terj. Lim Kim Yang dan Bambang [Link] Mulia.201.
2. ^ a b c d e f g h J. A. B. [Link] Kemerdekaan: Buku Pegangan Etik [Link] Mulia.30-89.
3. ^ a b c d e Robinson [Link] art and craft of biblical preaching : a comprehensive resource for today’s
[Link] [Link].24-59.
4. ^ [Link] D. [Link] The [Link] Preacher’s Library.15-30.
5. ^ a b c d e f g h i j k l m ed. Mircea [Link] Encyclopedia of [Link] [Link] Publhising Company.494-496.
6. ^ Hasan [Link]: Prinsip dan Metode dalam [Link] Mulia.18-28.
7. ^ a b c d e John [Link]-dasar [Link]. Liem Sien dan Yosafat [Link] Mulia.47-88.
8. ^ a b c Lukas [Link] Khotbah Yang [Link] Literatur SAAT.151-177.
9. ^ a b c P. H. [Link] Singkat Tentang Homiletika Ilmu [Link] Kalam Hidup.44.

1
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).13
“Tanpa kuasa ilahi itu, khotbah dapat saja berbunyi seperti suara angin yang dahsyat, tetapi
kuasa rohaninya kosong.”
2
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).1
Berkhotbah ialah prosedur yang unik di mana Allah, melalui hamba pilihan-Nya, turun kepada
umat manusia dan membawa mereka bertatap muka dengan Dia sendisi.
3
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).2
4 William F. Albright, From the Stone Age to Christianity, (New York : Doubleday & Co, Inc, Garden
City, 1957).393
“Dalam Perjanjian Lama pengkhotbah adalah “nabi” yang berarti “orang yang dipanggil oleh
Tuhan untuk menjalankan tugas khusus, di mana kemauannya tunduk kepada kehendak Allah
yang disampaikan kepadanya melalui ilham langsung”
5
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).11
“Hendaklah selalu diingat bahwa berhasil tidaknya pelayanan seseorang bukan hanya tergantung
pada bakatnya, penendidikannya, ketrampilannya, dan usahanya, tetapi terlebih lebih bergantung
pada apa yang ditambahkan atau ditahan oleh Tuhan”
.
6
Halford E. Luccock, . In th Minister’s Workshop (New York : Abington Cokesbury, 1944).200.
Khotbah adalah tempat bertemunya jiwa seseorang dengan Allah
7
David R. Breed, Preparing to Prech (New York : George H Duran & Co, 1944).112
“Khotbah yang hendak menyelamatkan harus diisi dengan unsur yang memperbaharui moral
dan pikiran; dan khotbah yang bertujuan untuk memperbaharui kehidupan pendengar-
pendengarnya harus berisi unus-unsur yang menyelamatkan.”
8
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).19
Jika suatu analisis diperluas dengan tafsiran dan ilustrasi, maka hal itu menjadi eksposisi atau
penjelasan, suatu ceramah Alkitab. Ini mencakup eksegese dari ayat-ayat berdasarkan penilitian
yang saksama dari kata-kata dan ungkapan-uangkapan yang dipakai, dan juga memperhatikan
konteks dekat dan jauh, serta latar belakang sejarah geografinya. Akan tetapi suatu eksposisi
tidak mengandung penerapan bagi pendengarnya, dan tidak mengundang suatu tanggapan
9
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).15
Dalam semua khotbah alkitabiah, melalui hamba-hambaNya Allah terutama berusaha untuk
membawa manusia masuk dalam persekutuan dengan diriNya sendiri, sehingga akan
memberikan tanggapan positif.
10
D.W. Lee, KhobahEkspositori yang Membangun Pendengar Krisis dan Kesempatan Mimbar Masa
Kini (Bandung : Lembaga Literatur Baptis, 2000).13
D.W. Lee mengutip pernyataan dari Karl Rhaner sbb :
Banyak orang meninggalkan gereja disebabkan karena perkataan yang keluar dari mimbar tidak
berarti bagi mereka. Seringkali khotbah tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka dan
terlepas dari segala persoalan yang mengancam mereka sehingga orang tidak lagi
mendengarkannya.
11
Charles W. Koller, Khobah Ekspositori Tanpa Catatani (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,, 2001).16
Pertumbuhan rohani dan motivasi yang diperlukan untk kehidupan kristiani mencakup sasaran-
sasaran berikut :
(1) Pengudusan, makin terpisah dari dunia dan dosa. Persembahkanlah tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup (Rom 12 : 1)
(2) Indoktrinasi (pemberian pemahaman), umat Tuhan harus dididik agar bukan lagi anak-
anak yang diombang-ambingkan ole rupa[rupa angin pengajaran (Ef 4 : 14).
(3) Ilham untuk menghangatkan hati dengan sukacita karena Tuhan (Nehe 8 : 11).
(4) Penghiburan hiburkanlah seorang akan yang lain (I Tes 4 : 18).
(5) Menguatkan. Orang percaya perlu diteguhkan dan dikuatkan dalam iman (Kol 1 : 11)
(6) Keyakinan, anggapan-anggapan dan pendapat-pendapat yang tidak sungguh-sungguh
diyakini harus dimatangkan menjadi keyakinan-keyakinan sebelum dapat dibagikan
kepada orang-orang lain. (Kis 4 : 20).
(7) Tindakan. Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja (Yak
1 : 22).
:

11
D.W. Lee, KhobahEkspositori yang Membangun Pendengar Krisis dan Kesempatan Mimbar Masa
Kini (Bandung : Lembaga Literatur Baptis, 2000).112-114
Jenis-jenis khotbah :
Khotbah topikal :
Bersifat deduktif (kesimpulan dari yang umum ke hal khusus). Topik yang ingin
disampaikan oleh pengkhotbah ditentukan terlebih dulu, kemudian apa yang dikatakan tentang
topik dicarikan didalam Alkitab supaya topik itu dapat didukung dan dibuktikan.

Pengkhotbah topikal :
Emmerson Fosdick, seorang pengkhotbah Baptis, Pdt, Billy Graham adalah pengkhotbah
gaya topikal.
Bahaya dan kelemahan khotbah topikal :
Asumsi khotbah ini bisa menjadi manusiawi
Khotbah tekstual :
Dasar khotbah dari satu teks ayat yang pendek, judul dan garis besarnya dari teks

Kelemahannya : khotbah ini dapat mengabaikan konteks karena terlalu pendek, mudah
memasukkan arti dari pada mengeluarkan arti sebenarnya dari teks, penerapan kadang-kadang
salah karena mengabaikan konteksnya.

Pengkhotbah tekstual : Spurgeon


Khotbah ekspositori 119.
Khotbah yang menjelaskan tentang suatu bagian Alkitab firman Tuhan, kemudian teks
itu dikembangkan berdasarkan arti asli teks itu, kemudian disusun dan dikembangkan
berdasarkan satu tema dan akhirnya diterapkan dalam situasi pendengar.

John Stott mengatakn bahwa semua khotbah harus menjadi khotbah ekspositori Liefeld
menyatakan, dasar khotbah ekspositori ada lima macam (1) Mempunyai teks Alkitab (2)
Berdasarkan tafsiran (3) Ada kesatuan yang logis (4) mempunyai alur dan arah khotbah (5) ada
penerapan praktis dalam kehidupan
Keunggulan khotbah ekspositori :
(1) Firman Allah diajarkan
(2) Perhatian pengkhotbah diluaskan
(3) Obyektif
(4) Teks tidak meluas ke yang lain tapi dari pembacaan
(5) Pengkhotbah diyakinkan

Kelemahan khotbah ekspositori :


(1) Dapat menjadi kering dan kurang menarik
(2) Mudah membatasi pekerjaan Roh Kudus
(3) Kesatuan secara struktur mudah berkurang
(4) Dapat kurang realistis atau kurang memperhatikan peristiwa-peristiwa dari pada khotbah
topikal

Khotbah Topical adalah khotbah yang disusun berdasar suatu topik yang diuraikan kedalam berbagai

aspeknya dengan dasar-dasar ayat secukupnya. ...

[Link]/philips/[Link] - Mirip

Editorial : Khotbah
Resensi Buku : 1. Homiletik: Uraian Singkat Tentang
Ilmu Berkhotbah, Kalam Hidup
2. Khotbah Ekspositori yang Membangunkan
Pendengar, Lembaga Literatur Baptis
3. Cara Mempersiapkan Khotbah, Gandum Mas
4. Menyiapkan Khotbah Ekspositori Secara
Praktis, ANDI
5. Cara Berkhotbah yang Baik: Pedoman untuk
Mengembangkan dan Menyampaikan Khotbah
Ekspositori, ANDI
Artikel Buku : Pentingnya Literatur Kristen sebagai Sumber
Bacaan Anda
Dari Halaman Redaksi: Publikasi Bio-Kristi
Edisi Juni : Sekolah Minggu
Penerbit Edisi Ini
______________________________________________________________________
EDITORIAL

Salam kasih,

Salah satu faktor yang membuat seseorang tidak suka mendengarkan


khotbah ialah faktor pengkhotbah. Penyampaian khotbah yang terlalu
monoton, penggalian yang tidak mendalam, dan ilustrasi yang tidak
tepat sering membuat jemaat akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Padahal cara pengkhotbah menggali, meramu, dan menyampaikan isi
khotbah kepada jemaat atau pendengar, memegang peranan yang penting,
tentunya selain campur tangan Roh Kudus.

Menanggapi fenomena ini, e-Buku hadir ke hadapan Anda dengan


sejumlah resensi buku seputar khotbah. Mulai dari ilmu berkhotbah,
cara mempersiapkan khotbah, dan cara menyampaikan khotbah yang baik,
kami hadirkan dalam edisi ini. Bagi Anda yang terlibat dalam
pelayanan khotbah, tentu edisi kali ini sangat layak untuk Anda
simak. Bagi pelanggan e-Buku yang lain, tidak ada salahnya juga
menyimak edisi kali ini. Selain resensi buku, artikel dan informasi
yang disajikan, sayang untuk Anda lewatkan. Selamat belajar, selamat
menyatakan kebenaran di dalam Kristus.

Pimred e-Buku,
Puji Arya Yanti

"Kata-kata orang berhikmat seperti kusa dan kumpulan-kumpulannya


seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala."
(Pengkhotbah 12:11)
< [Link] >
______________________________________________________________________
RESENSI 1

Penulis : P. H. Pouw
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
Ukuran : 12,5 x 18,5 cm
Tebal : 166 halaman

HOMILETIK: URAIAN SINGKAT TENTANG ILMU BERKHOTBAH


=================================================

Merasa terpanggil melayani Tuhan sebagai pemberita firman Tuhan?


Tertarik dengan teknik khotbah yang dipakai para hamba Tuhan? Atau
hanya ingin mengetahui tentang ilmu berkhotbah? Tidak salah jika
Anda membaca tulisan Pdt. P. H. Pouw ini. Dengan bahasa yang
sederhana, buku ini memberitahu Anda bahwa untuk berbicara di depan
jemaat diperlukan teknik yang tepat.
Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas
pentingnya mempersiapkan uraian atau khotbah yang akan disampaikan.
Hal ini penting supaya pendengar dapat dengan mudah memahami maksud
dan tujuan pengkhotbah. Secara sistematis, bagian pertama ini
menguraikan tahap-tahap dalam penyusunan sebuah khotbah yang baik.
Bagian ini ditutup dengan penekanan mengenai bagaimana menyampaikan
khotbah kepada orang yang belum percaya maupun yang sudah percaya,
bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat.

Bagian kedua dikemas dengan contoh-contoh praktis untuk membantu


mengembangkan karunia pembawaan lahir kita dalam berkata-kata.
Teristimewa bila kita ingin memakainya untuk mengabarkan Injil
Tuhan. Dalam buku ini kita juga bisa lebih mengenal macam-macam
khotbah dan psikologi penyampaiannya.

Bersumber dari pengalaman penulis selama melayani, buku ini memberi


contoh nyata mengenai apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan
ketika menguraikan khotbah. Buku ini akan sangat bermanfaat bagi
siapa saja yang merasa terpanggil untuk melayani Tuhan melalui
pemberitaan Injil. Tentunya buku ini juga akan memperkenalkan apa
dan bagaimana khotbah bagi kaum awam.

Kiriman dari: Dian L.

RESENSI 2

Penulis : Dr. D. W. Lee


Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung 2000
Ukuran : 13,7 x 21 cm
Tebal : 353 halaman

KHOTBAH EKSPOSITORI YANG MEMBANGUNKAN PENDENGAR


===============================================

Zaman yang semakin modern jelas menghadirkan tantangan tersendiri


bagi para pengkhotbah. Permasalahan hidup manusia juga semakin
kompleks. Kenyataan ini menuntut seorang pengkhotbah untuk dapat
memadukan dua konteks sekaligus, konteks zaman modern dan konteks
alkitabiah. Pengkhotbah harus berjuang dengan keras agar firman
Tuhan yang disampaikan meliputi seluruh sisi kehidupan.

Seorang pengkhotbah itu ibarat sebuah "sampang tambang". Dia


menerima pesan dari Allah, kemudian menyampaikannya kepada jemaat.
Demikian pernyataan penulis buku ini, Dr. D. W. Lee, pengkhotbah
asal Korea yang terkenal. Pengkhotbah seharusnya bergumul dengan nas
Alkitab sehingga pengkhotbah dan pendengar dapat bertumbuh secara
alkitabiah (hlm. 120). Itulah salah satu hal penting yang menjadi
dasar dari khotbah ekspositori. Meski memiliki sejumlah keunggulan,
dikemukakan pula kelemahan khotbah ekspositori. Di antaranya, jika
dibandingkan dengan khotbah topikal, khotbah ekspositori akan
menjadi kurang menarik.

Buku ini boleh dibilang mengupas dengan lengkap mengenai apa dan
bagaimana khotbah ekspositori sampai syarat-syarat menyampaikan
khotbah tersebut kepada jemaat. Beberapa penjelasan yang mendukung
khotbah ekspositori seperti pembahasan hermeneutik, pembahasan
hubungan khotbah dengan teologi eksegese, teologi sistematis, dan
misi, juga disampaikan oleh penulis. Penekanan khotbah ekspositori
secara induktif, bagaimana teknis menyiapkan khotbah ekspositori,
dan contoh khotbah ekspositori, akan lebih memperjelas sasaran buku
ini.

Buku ini bisa menjadi sebuah panduan yang bagus bagi para
pengkhotbah, baik pendeta, majelis gereja, maupun orang yang ingin
belajar banyak tentang khotbah. Siapkah Anda untuk membangunkan
jemaat dengan khotbah Anda? Selamat membagikan berkat lewat khotbah
Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Kiriman dari: Kristina

RESENSI 3

Penulis : James Braga


Penerbit : Gandum Mas, Malang
Ukuran : 15 X 21,5 cm
Tebal : 226 halaman

CARA MEMPERSIAPKAN KHOTBAH


==========================

Dalam buku pedoman ini, James Braga menguraikan langkah demi langkah
proses mempersiapkan dan menyampaikan khotbah yang efektif secara
jelas dan logis. Petunjuk-petunjuknya diterangkan dengan sederhana
sehingga orang yang belum berpengalaman pun dapat mengikutinya tanpa
bantuan seorang guru. Metode yang dikemukakannya menggabungkan
teknik-teknik yang diakui dalam berpidato di depan umum dengan
teori-teori berkhotbah yang telah teruji.

Buku ini bukan buku biasa mengenai persiapan khotbah yang


semata-mata menerangkan jenis-jenis khotbah dan mencantumkan contoh
khotbah yang terbaik dari pengarang. Sebaliknya, buku ini
benar-benar suatu buku pedoman yang membimbing seseorang atau kelas
langkah demi langkah dalam proses membangun khotbah.

Buku ini dibagi dalam dua bagian utama. Bagian pertama menyajikan
definisi dan pembahasan tiap-tiap jenis khotbah dasar -- topikal,
tekstual, dan ekspositori -- dengan prinsip-prinsip dasar dan
ilustrasi-ilustrasi untuk membimbing calon penyusun khotbah. Bagian
kedua buku ini menguraikan teknik penyusunan khotbah, dengan
memperbincangkan susunan homiletika, judul, pendahuluan, proposisi,
bagian-bagian, diskusi, penggunaan ilustrasi, penerapan, dan
kesimpulan. Prinsip-prinsip dasar ditekankan dan diberi ilustrasi
yang menarik dari permulaan sampai akhir agar buku ini sesuai dengan
judulnya, menjadi sarana untuk menolong hamba Tuhan dalam
mempersiapkan khotbahnya.

Bahan diambil dan diedit seperlunya dari sumber:


Nama situs: Penerbit Gandum Mas
URL : [Link]

RESENSI 4

Penulis : Pdt. Noor Anggraito, M. Div.


Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2001
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 143 halaman

MENYIAPKAN KHOTBAH EKSPOSITORI SECARA PRAKTIS


=============================================

Firman Tuhan yang merupakan suara Allah, sangatlah penting bagi


kehidupan manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah tidak
dapat langsung berkomunikasi dengan manusia. Ia memakai para nabi
pada zaman-Nya untuk menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya.
Demikian pula saat ini, Ia memakai para pengkhotbah untuk
menyampaikan kehendak-Nya pada manusia. Panggilan seseorang dalam
menyampaikan firman Tuhan perlu dilengkapi dengan metode-metode
khusus agar kebenaran tersebut dapat membuat orang yang mendengarnya
bertumbuh sesuai dengan kehendak Allah.

Buku yang berjudul "Mempersiapkan Khotbah Ekspositori secara


Praktis" dimulai dengan pandangan-pandangan umum mengenai khotbah
ekspositori. Penulis menekankan betapa "back to the Bible" adalah
hal yang tidak boleh dihilangkan dalam berkhotbah. Secara umum,
khotbah ekspositori dikategorikan dalam dua bagian besar, yaitu
khotbah tekstual (berdasarkan pada teks Alkitab) dan topikal
(berdasarkan pada topik). Kelemahan dan kelebihan dari kedua
kategori juga disajikan di sini.

Sebelum melangkah lebih dalam tentang khotbah ekspositori, penulis


menyoroti pribadi pengkhotbah. Alasan tentang pentingnya
pengkhotbah, kriteria, dan kendala-kendala yang sering dialami para
pengkhotbah dapat Anda temukan pada bab kedua dari buku ini.
Bagaimana membuat khotbah secara tekstual dan topikal dijelaskan
dengan rinci pada dua bab selanjutnya. Menariknya, buku ini disertai
dengan latihan-latihan dan contoh-contoh khotbah yang memudahkan
pembaca untuk mengerti secara langsung apa yang dimaksud oleh
penulis. Di akhir buku, penulis yang merupakan gembala sidang dan
dosen ilmu berkhotbah STII Yogyakarta, memberikan tips-tips khusus
bagaimana cara berkhotbah yang baik.

Tujuh bab dalam buku ini perlu dibaca, khususnya bagi Anda yang
rindu untuk mempersiapkan khotbah dan berkhotbah dengan baik.
Setelah membaca buku ini, diharapkan pembaca dapat membuat khotbah
ekspositori yang praktis dan dapat langsung diterapkan dalam
pelayanan.

Kiriman dari: Ani

RESENSI 5

Judul asli: Biblical Preaching


Penulis : Haddon W. Robinson
Penerjemah: Basuki, Suryadi, dan Xavier Q.P.
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2004
Halaman : vii + 278 halaman
Ukuran : 15,8 cm x 24 cm

CARA BERKHOTBAH YANG BAIK: PEDOMAN UNTUK


MENGEMBANGKAN DAN MENYAMPAIKAN KHOTBAH EKSPOSITORI
==================================================

Ada beberapa jenis khotbah yang dapat disampaikan kepada jemaat.


Salah satunya ialah khotbah ekspositori. Haddon W. Robinson, penulis
buku ini, menyebutkan bahwa khotbah ekspositori merupakan jenis
khotbah yang paling baik untuk menyampaikan kuasa otoritas ilahi
(hlm. 13).

Sayangnya, khotbah ekspositori dapat menimbulkan kejemuan, terutama


bila penerapannya kurang kreatif sehingga dua keluhan
mengenai khotbah yang demikian. Pertama, ketika pengkhotbah
memberikan penerapan yang monoton -- atau malah tidak memberi
penerapan sama sekali, khotbah itu dianggap hanya menyampaikan hal
kuno yang sama. Kedua, akan timbul reaksi negatif karena khotbah
dianggap tidak memiliki kaitan langsung dengan realitas hidup
sehari-hari dan tidak dapat dimanfaatkan secara praktis.

Oleh karena itu, Haddon W. Robinson menawarkan sepuluh tahap untuk


mengembangkan pesan-pesan ekspositori. Kesepuluh tahap berikut
diuraikannya dalam buku ini.

1. Memilih nukilan Alkitab.


2. Mempelajari nukilan Alkitab.
3. Menemukan ide eksegetikal.
4. Menganalisis ide eksegetikal.
5. Merumuskan ide homilitikal.
6. Menentukan tujuan khotbah.
7. Memutuskan cara mencapai tujuan (khotbah) ini.
8. Membuat kerangka khotbah.
9. Mengisi kerangka khotbah.
10. Menyiapkan pengantar dan kesimpulan.

Buku ini sendiri merupakan sebuah revisi dari edisi sebelumnya.


Penulisnya telah melengkapi edisi kedua ini dengan sejumlah
bibiliografi yang lebih mutakhir (up-to-date). Selain itu, di
beberapa bab, seperti di bab satu, tiga, enam, dan tujuh, Anda akan
menemukan sejumlah bahan bacaan lanjutan. Ada juga latihan yang
disajikan pada bab dua dan empat. Malahan, Anda akan mendapatkan
sebuah contoh khotbah dan bagaimana mengevaluasinya; keduanya
merupakan penerapan dari proses yang telah dibahas dalam buku ini.
Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan halaman indeks yang
sering kali lebih membantu daripada daftar isi.

Kiriman dari: Raka


______________________________________________________________________
ARTIKEL

PENTINGNYA LITERATUR KRISTEN SEBAGAI SUMBER BACAAN ANDA


=======================================================
Oleh: Puji Arya Yanti

Keberadaan literatur memainkan peranan penting dalam kehidupan


manusia. Melaluinya, kita dihantar pada jendela dunia yang
membukakan wawasan setiap orang yang menikmatinya. Dalam
kekristenan, literatur juga memiliki peranan vital, yakni sebagai
sarana pembinaan iman dan penginjilan. Menurut George Verwer,
literatur Kristen sering disebut sebagai "Utusan Injil Tercetak".
Sisi praktis dan kekuatannya terlihat dalam hal-hal berikut.

- Ia dapat pergi ke mana-mana karena dalam bentuk cetak.


- Ia mengulang-ulang beritanya terus menerus tanpa istirahat dan
cuti.
- Ia mempersembahkan beritanya menurut kesenangan pembacanya.
- Melalui pos, ia dapat pergi ke berbagai tempat di mana seorang
utusan Injil tidak diizinkan masuk.
- Ia memungkinkan pembacanya mendengar berita yang sama itu berulang
kali.
- Ia memungkinkan para pembaca mempelajari hanya satu bagian khusus
berita yang menarik hatinya.
- Dalam bentuk buku, ia dapat memberi banyak hati yang kelaparan
berjam-jam bahkan berhari-hari khotbah yang berkesinambungan dan
makanan rohani berupa kebenaran secara terus-menerus.

Selain itu, literatur juga dapat digunakan sebagai alat untuk


mengantisipasi ajaran sesat yang beredar di masyarakat. Seperti yang
terjadi pada Ignatius yang menulis pembelaannya ketika gereja berada
dalam ancaman ajaran Gnostisisme. Hal yang sama juga dilakukan
Polikarpus dan Tertualianus dalam melawan Marcion melalui
tulisannya.

Kekuatan literatur untuk menggerakkan hati manusia ini juga disadari


oleh Napoleon Bonaparte. Pada puncak karier militernya, dia
menyatakan, "Hanya ada dua kekuatan di dunia ini, yakni pedang dan
pena; dan pada akhirnya yang terakhir ini selalu menaklukkan yang
terdahulu."

Di samping Alkitab, literatur Kristen jelas sangat dibutuhkan oleh


setiap kelompok generasi; mulai dari anak-anak, remaja, sampai
dewasa. Mereka membutuhkan bacaan-bacaan yang dapat membawa iman
mereka semakin bertumbuh di dalam Tuhan sesuai kebutuhan berdasarkan
usia mereka. Kebutuhan terpenuhi lewat literatur Kristen karena
literatur dijadikan sebagai media penyampaian firman Allah yang
efektif. Walaupun tidak dimungkiri juga bahwa keberadaan buku-buku
yang tidak mendidik juga akan menyebabkan masalah tersendiri,
khususnya bagi anak-anak.

Kalau kita melongok ke luar dunia kekristenan, hal ini juga sudah
disadari oleh kelompok mereka. Misalnya, kaum Komunis yang tidak
segan mengeluarkan uangnya untuk membantu menerbitkan buku-buku atau
traktat-traktat Komunisme. Pengikut bidat pun rela mengeluarkan
uangnya untuk menyebarluaskan ajaran mereka.

Meskipun literatur memberikan manfaat yang positif, kekuatannya juga


dapat berdampak negatif. Literatur-literatur bermuatan pornografi,
kekerasan, dan kebenaran yang dibelokkan, malah akan mendidik
generasi muda menuju kehancuran. Hal ini perlu mendapat perhatian
khusus, baik dari pemerintah, gereja, dan keluarga. Sehingga
diperlukan pengawasan dan seleksi untuk buku-buku yang akan dibaca.

Menyadari aspek negatif tersebut, para pelaku literatur Kristen


perlu semakin giat dalam menyampaikan kebenaran. Karena seperti
dikatakan Daniel Webster, "Kalau kebenaran tidak disebarkan,
kesalahanlah yang akan menyebar; kalau Allah dan firman-Nya tidak
dikenal dan diterima, Iblis dan pekerjaannya akan berkuasa dan
berpengaruh; kalau buku-buku injili tidak menjangkau sampai ke
desa-desa kecil, tulisan-tulisan yang tidak bermoral dan merusaklah
yang akan menggantikannya; kalau kuasa Injil tidak dirasakan di
seluruh pelosok negeri ini, kekacauan dan salah atur, kemerosotan
moral dan kesengsaraan, korupsi dan kegelapan, akan merajalela tanpa
kendali atau tanpa akhir."

Sudah saatnya kita membentengi diri kita dengan bacaan-bacaan yang


bermanfaat dan membangun, tentunya di dalam Tuhan. Disadari atau
tidak, bacaan yang tidak bermanfaat akan semakin menjauhkan kita
dari kebenaran Allah. Segeralah tambah koleksi bacaan Anda dengan
literatur Kristen yang mendukung iman Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Sumber bacaan:

Salihin, Rohyati. 1989. Bertumbuh Melalui Literatur, dalam "Visi


Pelayanan Literatur: Bunga Rampai". Yogyakarta: Yayasan ANDI.
Stevens, Antoni. 1989. Pelayanan Literatur dari Masa ke Masa, dalam
"Visi Pelayanan Literatur: Bunga Rampai". Yogyakarta: Yayasan
ANDI.
Weiner, Bob dan Rose Weiner. 1993. "Lebih Tajam Daripada Pedang
Kekuatan Pena". Koinoia.
Verwer, George. 1995. "Dinamika Pelayanan Literatur". Jakarta dan
Surabaya: Yayasan Obor Menyuluh dan Yakin.
______________________________________________________________________
DARI HALAMAN REDAKSI

PUBLIKASI BIO-KRISTI
====================

Apa jadinya kekristenan tanpa seorang pengkhotbah? Siapakah yang


akan berbicara kepada jemaat yang haus akan kebenaran firman Tuhan?
Syukur kepada Allah bila Ia membangkitkan anak-anak-Nya untuk
berkhotbah, membangunkan iman jemaat, sekaligus menantang zaman ini.
Martin Luther, John Wesley, Charles Haddon Spurgeon, John Sung, dan
George Whitefield merupakan beberapa orang besar yang dikenal
sebagai pengkhotbah. Bila ingin mengenal mereka dan tokoh-tokoh
Kristen dari bidang-bidang lainnya, Anda perlu berlangganan Buletin
Elektronik Biografi Kristiani (Bio-Kristi). Publikasi terbitan
Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) yang hadir tiap bulan ini akan
memperkenalkan berbagai tokoh Kristen yang akan menginspirasikan
banyak hal kepada Anda. Segeralah bergabung dengan mendaftar di:

==> < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)[Link] >

Untuk melihat arsip-arsip edisi terdahulu silakan akses:


==> [Link]

Kunjungi dan jadilah salah satu pengguna dari situs Bio-Kristi:


==> [Link]
______________________________________________________________________

"A winner knows how much he still has to learn,


even when he is considered by others;
a loser wants to be condsidered an expert by others
before he has learned enough to how little he knows."
(Sydney Harris)
______________________________________________________________________
EDISI JUNI

SEKOLAH MINGGU
==============

Untuk edisi Juni, e-Buku akan hadir dengan tema Sekolah Minggu. Bagi
Anda para guru sekolah minggu yang ingin berbagi berkat dari buku
yang sudah dibaca, kami undang Anda untuk berpartisipasi pada edisi
kali ini. Pembaca yang lain juga kami tunggu untuk berpartisipasi
mengisi edisi bulan depan dengan cara mengirimkan resensi, kesaksian
buku yang sudah Anda baca, dan informasi buku baru seputar sekolah
minggu yang Anda ketahui ke alamat:

==> < staf-buku(at)[Link] >

Mari bersama-sama mengobarkan semangat membaca dan berbagi berkat


melalui buku demi kemuliaan-Nya. Kami tunggu kiriman Anda.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Buku 2007
YLSA -- [Link]
[Link]
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Arsip Publikasi e-Buku bisa dibaca online di:


[Link]
[Link]
______________________________________________________________________
PENERBIT EDISI INI

YAYASAN KALAM HIDUP


Jl. Naripan 67
Bandung 40112
Kotak Pos 1061, Bandung 40010

LEMBAGA LITERATUR BAPTIS


Jl. Tamansari 16 -- Kotak Pos 1119 -- 40011 Bandung
Telp. 022-4203484, 4397341

PENERBIT GANDUM MAS


Kotak Pos 46, Malang 65101
E-mail: infobuku(at)[Link]
URL: [Link]

PENERBIT ANDI
Jln. Beo 38-40 Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 55281
E-mail: pemasaran(at)[Link]
URL: [Link]
[Link]
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi : Puji Arya Yanti
Berlangganan : subscribe-i-kan-buku(at)[Link]
Berhenti : unsubscribe-i-kan-buku(at)[Link]
Kontak e-Buku : staf-buku(at)[Link]
______________________________________________________________________
"Sementara itu, sampai aku datang
bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci,
dalam membangun dan dalam mengajar."
(1 Timotius 4:13)
[Link]
Tampilan cetak edisi sebelum | edisi berikut

BAB V

PENUTUP

Latar Belakang

Pandangan ilmu Theologia, percakapan yang dimaksud adalah pemberitaan Firman

Tuhan Luk.24:14-15, Kis. 24-26. Menurut kamus Teologi Inggris – Indonesia Preach artinya

memberitakan, berhotbah , dan Preacher adalah penghotbah.1 Pada buku New Strong’s Exhausti

concordance Bible kata Preach 49 kali ditulis dalam Alkitab. Yunus 3:2 tentang sampaikanlah

firman, Preach adalah pelayanan atau menyelenggarakan.2 Didalam bahasa ibrani baca

artinya3 didalam bahasa Yunani baca euangliso.4

1
Henk ten Napel, kamus Teologi Inggris Indonesia (Jakarta BPK Gunung Mulia,2005) 251.
2
James strong’s, UD,STD, (New Strong,s Exhausti Concordance Bible thn .....)1113.
3
Ibid, hal 2097
Khotbah berasal dari kata homilein dan kata ttg Homelitika Ilmu berubah, bergaul atau

persekutuan, kontak dgn orang lain, bergaul, bercakap-cakap, pembicaraan. Kemudian hari

semakin terinci artinya, yaitu bercakap-cakap atau berbicara dengan seseorang atau beberapa

orang, maka khotbah adalah pembicaraan yang merenungkan jalan keselamatan manusia melalui

Yesus Kristus yang dilakukan oleh mulut manusia, supaya menjadi kesaksian bagi manusia lain.5

Ada dua hal yang penting dalam khotbah pertama, pribadi yang berkotbah dan kedua, isi

khotbahnya, karena itu adalah karisma atau pemberian Allah.6

Keyakinan dan kekuatan roh sebagai suatu keyakinan akan kekuatan roh Kudus ,

pemberitaan Paulus meliputi tindakan roh dalam menginsafkan orang akan dosa, kebenaran, dan

penghakiman, dan membawa kesaksian tentang kuasa penyelamatan dari Kristus yang sudah

bangkit Kis.2:36-41 (b) kuasa untuk mengubah kehidupan kuasa yang mengerjakan kekudusan

dalam hidup orang percaya.7 Dan Kis. 2:36-41 Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak

kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan

kekuatan roh 1 Kor.2:4

Pertumbuhan rohani, dimulai dari mendengarkan firman Tuhan Jadi, iman timbul dari

pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus ( Rom 10:17)

Selanjutnya Program Di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, seluruh

pegawai dianjurkan mengikuti ibadah setiap hari Selasa jam 08.30 pagi di Aula Kantor Dinas

Kesehatan. Pelayanan khotbah dari bermacam-macam Denominasi atau secara oikumene antara

4
Ibid.
5
Pdt. Dr.E.P. Gintings, (Khotbah dan penghotbah) Jakarta Gunung Mulia 2002) 1

6
[Link], Uraian singkat (Kalam hidup 2006) 9
7
Alkitab Penuntun, Hidup berkelimpahan 2009) 1881
lain Kristen Protestan, Pantekosta, Khatolik, Advent dst. Dengan type khotbah yang berbeda-

beda sesuai dengan karunia masing-masing.

Selanjutnya setelah orang percaya mengenal akan Allah dan bertumbuh kerohaniannya

sehingga orang percaya akan menghasilkan buah-buah roh dalam kehidupannya. Namum pada

kenyataannya pelaksanaan Pelayanan belum membawa dampak yang signifikan dalam

kehidupan Pegawai sehari-hari.

Hal inilah yang membuat penulis tertarik melakukan wawancara dengan beberapa

pegawai. Apakah yg menyebabkan pelayanan khotbah belum berdampak secara significan di

kantor Dinas Kes [Link].? Jawabannya spontan antara lain, tentang kehadiran Pegawai

dalam mengikuti ibadah masih berfluktuasi atau belum semuanya hadir dalam ibadah, tapi ketika

mereka mendengar dan melihat ada hamba – hamba Tuhan tertentu yang melayani kelihatan

banyak yang hadir pada ibadah tsb,\ dan ada juga yang ikut ibadah hanya sebagai kegiatan

rutinitas, belum merasa terpanggil.

Pertanyaan untuk Angket

I. Definisi khotbah topikal :

1. Apakah khotbah yang disampaikan setiap minggu ada tema atau judul khotbah ?

2. Apakah Saudara sedang mengalami suatu masalah atau pergumulan dalam hidup ?

3. Apakah khotbah yang disampaikan setiap minggu ada kaitannya dengan masalah

yang Saudara hadapi ?

4. Apakah masalah yang Saudara hadapi saat ini di alami juga oleh jemaat yang lain ?
II. Unsur-unsur khotbah topikal :

1. Apakah khotbah yang disampaikan semuanya diambil dari firman Tuhan ?

2. Apakah firman Tuhan yang dikhotbahkan membuat Saudara lebih dalam lagi

pengenal akan Allah ?

3. Apakah firman Tuhan yang dikhotbahkan mengandung pengajaran yang berharga

bagi Saudara ?

4. Apakah firman Tuhan yang dikhotbahkan menyingkkapkan hal-hal yang belum

pernah Saudara ketahui sebelumnya ?

5. Apakah firman Tuhan yang disampaikan memberikan pengharapan, kekuatan dan

penghiburan bagi Saudara ?

III. Pentingnya khotbah topikal :

1. Didalam setiap ibadah apakah Saudara merasakan hadirat Tuhan ?

2. Apakah Saudara mendapat banyak pelajaran yang mendidik dari firman Tuhan

dalam setiap khotbah hari Minggu ?

3. Apakah ada jemaat didalam ibadah hari minggu yang belum sungguh percaya ?

4. Menurut Saudara apakah firman Tuhan yang disampaikan setiap hari Minggu

memberikan pemahaman mengenai suatu doktrin (pengajaran) yang alkitabiah ?

5. Apakah firman Tuhan yang disampaikan Saudara lakukan setiap hari ?

6. Apakah dampak dari firman Tuhan yang Saudara lakukan bisa mempengaruhi

kehidupan orang lain ?


IV Bagaiman menyampaikan khotbah topikal

1. Apakah Saudara merasakan atmosfir rohani saat berkhotbah yang berbeda ?

2. Apakah pengkhotbah menekankan pentingnya kehidupan doa ?

3. Apakah setiap khotbah yang disampaikan terstruktur (tersusun dengan baik),

berurutan ?

4. Apakah kehidupan gembala Saudara menunjukkan apa yang dikhotbahkan ?

5. Apakah kehidupan gembala Saudara menunjukkan buah-buah yang baik ?

V. Dampak khotbah topikal

1. Apakah khotbah yang Saudara dengar mengubah iman Saudara ?

2. Apakah Saudara percaya dengan sungguh bahwa saat ini Saudara sudah

diselamatkan?

3. Apakah Saudara hidup menerapkan buah-buah Roh dalam Galatia 5 : 22-23) ?

4. Dari buah-buah Roh dalam Galatia 5 : 22 – 23; lingkari yang sudah Saudara terapkan

dan alami didalam karakter hidup Saudara setiap hari :

a. Kasih d. Kesabaran g. Kesetiaan

b. Sukacita e. Kemurahan h. Kelemahlembutan

c. Damai sejahtera f. Kebaikan i. Penguasaan diri


1
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).13
“Tanpa kuasa ilahi itu, khotbah dapat saja berbunyi seperti suara angin yang dahsyat, tetapi
kuasa rohaninya kosong.”
2
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).1
Berkhotbah ialah prosedur yang unik di mana Allah, melalui hamba pilihan-Nya, turun kepada
umat manusia dan membawa mereka bertatap muka dengan Dia sendisi.
3
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).2
4 William F. Albright, From the Stone Age to Christianity, (New York : Doubleday & Co, Inc, Garden
City, 1957).393
“Dalam Perjanjian Lama pengkhotbah adalah “nabi” yang berarti “orang yang dipanggil oleh
Tuhan untuk menjalankan tugas khusus, di mana kemauannya tunduk kepada kehendak Allah
yang disampaikan kepadanya melalui ilham langsung”
5
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).11
“Hendaklah selalu diingat bahwa berhasil tidaknya pelayanan seseorang bukan hanya tergantung
pada bakatnya, penendidikannya, ketrampilannya, dan usahanya, tetapi terlebih lebih bergantung
pada apa yang ditambahkan atau ditahan oleh Tuhan”
.
6
Halford E. Luccock, . In th Minister’s Workshop (New York : Abington Cokesbury, 1944).200.
Khotbah adalah tempat bertemunya jiwa seseorang dengan Allah
7
David R. Breed, Preparing to Prech (New York : George H Duran & Co, 1944).112
“Khotbah yang hendak menyelamatkan harus diisi dengan unsur yang memperbaharui moral
dan pikiran; dan khotbah yang bertujuan untuk memperbaharui kehidupan pendengar-
pendengarnya harus berisi unus-unsur yang menyelamatkan.”
8
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).19
Jika suatu analisis diperluas dengan tafsiran dan ilustrasi, maka hal itu menjadi eksposisi atau
penjelasan, suatu ceramah Alkitab. Ini mencakup eksegese dari ayat-ayat berdasarkan penilitian
yang saksama dari kata-kata dan ungkapan-uangkapan yang dipakai, dan juga memperhatikan
konteks dekat dan jauh, serta latar belakang sejarah geografinya. Akan tetapi suatu eksposisi
tidak mengandung penerapan bagi pendengarnya, dan tidak mengundang suatu tanggapan
9
Charles W. Koller, Khotbah Ekspositori Tanpa Catatan, (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,2001).15
Dalam semua khotbah alkitabiah, melalui hamba-hambaNya Allah terutama berusaha untuk
membawa manusia masuk dalam persekutuan dengan diriNya sendiri, sehingga akan
memberikan tanggapan positif.
10
D.W. Lee, KhobahEkspositori yang Membangun Pendengar Krisis dan Kesempatan Mimbar Masa
Kini (Bandung : Lembaga Literatur Baptis, 2000).13
D.W. Lee mengutip pernyataan dari Karl Rhaner sbb :
Banyak orang meninggalkan gereja disebabkan karena perkataan yang keluar dari mimbar tidak
berarti bagi mereka. Seringkali khotbah tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka dan
terlepas dari segala persoalan yang mengancam mereka sehingga orang tidak lagi
mendengarkannya.
11
Charles W. Koller, Khobah Ekspositori Tanpa Catatani (Bandung : Yayasan Kalam Hidup,, 2001).16
Pertumbuhan rohani dan motivasi yang diperlukan untk kehidupan kristiani mencakup sasaran-
sasaran berikut :
(8) Pengudusan, makin terpisah dari dunia dan dosa. Persembahkanlah tubuhmu sebagai
persembahan yang hidup (Rom 12 : 1)
(9) Indoktrinasi (pemberian pemahaman), umat Tuhan harus dididik agar bukan lagi anak-
anak yang diombang-ambingkan ole rupa[rupa angin pengajaran (Ef 4 : 14).
(10) Ilham untuk menghangatkan hati dengan sukacita karena Tuhan (Nehe 8 : 11).
(11) Penghiburan hiburkanlah seorang akan yang lain (I Tes 4 : 18).
(12) Menguatkan. Orang percaya perlu diteguhkan dan dikuatkan dalam iman (Kol 1 :
11)
(13) Keyakinan, anggapan-anggapan dan pendapat-pendapat yang tidak sungguh-
sungguh diyakini harus dimatangkan menjadi keyakinan-keyakinan sebelum dapat
dibagikan kepada orang-orang lain. (Kis 4 : 20).
(14) Tindakan. Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar
saja (Yak 1 : 22).
:

11
D.W. Lee, KhobahEkspositori yang Membangun Pendengar Krisis dan Kesempatan Mimbar Masa
Kini (Bandung : Lembaga Literatur Baptis, 2000).112-114
Jenis-jenis khotbah :
Khotbah topikal :
Bersifat deduktif (kesimpulan dari yang umum ke hal khusus). Topik yang ingin
disampaikan oleh pengkhotbah ditentukan terlebih dulu, kemudian apa yang dikatakan tentang
topik dicarikan didalam Alkitab supaya topik itu dapat didukung dan dibuktikan.

Pengkhotbah topikal :
Emmerson Fosdick, seorang pengkhotbah Baptis, Pdt, Billy Graham adalah pengkhotbah
gaya topikal.
Bahaya dan kelemahan khotbah topikal :
Asumsi khotbah ini bisa menjadi manusiawi
Khotbah tekstual :
Dasar khotbah dari satu teks ayat yang pendek, judul dan garis besarnya dari teks

Kelemahannya : khotbah ini dapat mengabaikan konteks karena terlalu pendek, mudah
memasukkan arti dari pada mengeluarkan arti sebenarnya dari teks, penerapan kadang-kadang
salah karena mengabaikan konteksnya.

Pengkhotbah tekstual : Spurgeon

Khotbah ekspositori 119.


Khotbah yang menjelaskan tentang suatu bagian Alkitab firman Tuhan, kemudian teks
itu dikembangkan berdasarkan arti asli teks itu, kemudian disusun dan dikembangkan
berdasarkan satu tema dan akhirnya diterapkan dalam situasi pendengar.

John Stott mengatakn bahwa semua khotbah harus menjadi khotbah ekspositori Liefeld
menyatakan, dasar khotbah ekspositori ada lima macam (1) Mempunyai teks Alkitab (2)
Berdasarkan tafsiran (3) Ada kesatuan yang logis (4) mempunyai alur dan arah khotbah (5) ada
penerapan praktis dalam kehidupan
Keunggulan khotbah ekspositori :
(6) Firman Allah diajarkan
(7) Perhatian pengkhotbah diluaskan
(8) Obyektif
(9) Teks tidak meluas ke yang lain tapi dari pembacaan
(10) Pengkhotbah diyakinkan

Kelemahan khotbah ekspositori :


(1) Dapat menjadi kering dan kurang menarik
(2) Mudah membatasi pekerjaan Roh Kudus
(3) Kesatuan secara struktur mudah berkurang
(4) Dapat kurang realistis atau kurang memperhatikan peristiwa-peristiwa dari pada khotbah
topikal

Khotbah Topical adalah khotbah yang disusun berdasar suatu topik yang diuraikan kedalam berbagai

aspeknya dengan dasar-dasar ayat secukupnya. ...

[Link]/philips/[Link] - Mirip

Editorial : Khotbah
Resensi Buku : 1. Homiletik: Uraian Singkat Tentang
Ilmu Berkhotbah, Kalam Hidup
2. Khotbah Ekspositori yang Membangunkan
Pendengar, Lembaga Literatur Baptis
3. Cara Mempersiapkan Khotbah, Gandum Mas
4. Menyiapkan Khotbah Ekspositori Secara
Praktis, ANDI
5. Cara Berkhotbah yang Baik: Pedoman untuk
Mengembangkan dan Menyampaikan Khotbah
Ekspositori, ANDI
Artikel Buku : Pentingnya Literatur Kristen sebagai Sumber
Bacaan Anda
Dari Halaman Redaksi: Publikasi Bio-Kristi
Edisi Juni : Sekolah Minggu
Penerbit Edisi Ini
______________________________________________________________________
EDITORIAL

Salam kasih,

Salah satu faktor yang membuat seseorang tidak suka mendengarkan


khotbah ialah faktor pengkhotbah. Penyampaian khotbah yang terlalu
monoton, penggalian yang tidak mendalam, dan ilustrasi yang tidak
tepat sering membuat jemaat akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.
Padahal cara pengkhotbah menggali, meramu, dan menyampaikan isi
khotbah kepada jemaat atau pendengar, memegang peranan yang penting,
tentunya selain campur tangan Roh Kudus.

Menanggapi fenomena ini, e-Buku hadir ke hadapan Anda dengan


sejumlah resensi buku seputar khotbah. Mulai dari ilmu berkhotbah,
cara mempersiapkan khotbah, dan cara menyampaikan khotbah yang baik,
kami hadirkan dalam edisi ini. Bagi Anda yang terlibat dalam
pelayanan khotbah, tentu edisi kali ini sangat layak untuk Anda
simak. Bagi pelanggan e-Buku yang lain, tidak ada salahnya juga
menyimak edisi kali ini. Selain resensi buku, artikel dan informasi
yang disajikan, sayang untuk Anda lewatkan. Selamat belajar, selamat
menyatakan kebenaran di dalam Kristus.

Pimred e-Buku,
Puji Arya Yanti

"Kata-kata orang berhikmat seperti kusa dan kumpulan-kumpulannya


seperti paku-paku yang tertancap, diberikan oleh satu gembala."
(Pengkhotbah 12:11)
< [Link] >
______________________________________________________________________
RESENSI 1

Penulis : P. H. Pouw
Penerbit: Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1995
Ukuran : 12,5 x 18,5 cm
Tebal : 166 halaman

HOMILETIK: URAIAN SINGKAT TENTANG ILMU BERKHOTBAH


=================================================

Merasa terpanggil melayani Tuhan sebagai pemberita firman Tuhan?


Tertarik dengan teknik khotbah yang dipakai para hamba Tuhan? Atau
hanya ingin mengetahui tentang ilmu berkhotbah? Tidak salah jika
Anda membaca tulisan Pdt. P. H. Pouw ini. Dengan bahasa yang
sederhana, buku ini memberitahu Anda bahwa untuk berbicara di depan
jemaat diperlukan teknik yang tepat.
Buku ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas
pentingnya mempersiapkan uraian atau khotbah yang akan disampaikan.
Hal ini penting supaya pendengar dapat dengan mudah memahami maksud
dan tujuan pengkhotbah. Secara sistematis, bagian pertama ini
menguraikan tahap-tahap dalam penyusunan sebuah khotbah yang baik.
Bagian ini ditutup dengan penekanan mengenai bagaimana menyampaikan
khotbah kepada orang yang belum percaya maupun yang sudah percaya,
bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat.

Bagian kedua dikemas dengan contoh-contoh praktis untuk membantu


mengembangkan karunia pembawaan lahir kita dalam berkata-kata.
Teristimewa bila kita ingin memakainya untuk mengabarkan Injil
Tuhan. Dalam buku ini kita juga bisa lebih mengenal macam-macam
khotbah dan psikologi penyampaiannya.

Bersumber dari pengalaman penulis selama melayani, buku ini memberi


contoh nyata mengenai apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan
ketika menguraikan khotbah. Buku ini akan sangat bermanfaat bagi
siapa saja yang merasa terpanggil untuk melayani Tuhan melalui
pemberitaan Injil. Tentunya buku ini juga akan memperkenalkan apa
dan bagaimana khotbah bagi kaum awam.

Kiriman dari: Dian L.

RESENSI 2

Penulis : Dr. D. W. Lee


Penerbit : Lembaga Literatur Baptis, Bandung 2000
Ukuran : 13,7 x 21 cm
Tebal : 353 halaman

KHOTBAH EKSPOSITORI YANG MEMBANGUNKAN PENDENGAR


===============================================

Zaman yang semakin modern jelas menghadirkan tantangan tersendiri


bagi para pengkhotbah. Permasalahan hidup manusia juga semakin
kompleks. Kenyataan ini menuntut seorang pengkhotbah untuk dapat
memadukan dua konteks sekaligus, konteks zaman modern dan konteks
alkitabiah. Pengkhotbah harus berjuang dengan keras agar firman
Tuhan yang disampaikan meliputi seluruh sisi kehidupan.

Seorang pengkhotbah itu ibarat sebuah "sampang tambang". Dia


menerima pesan dari Allah, kemudian menyampaikannya kepada jemaat.
Demikian pernyataan penulis buku ini, Dr. D. W. Lee, pengkhotbah
asal Korea yang terkenal. Pengkhotbah seharusnya bergumul dengan nas
Alkitab sehingga pengkhotbah dan pendengar dapat bertumbuh secara
alkitabiah (hlm. 120). Itulah salah satu hal penting yang menjadi
dasar dari khotbah ekspositori. Meski memiliki sejumlah keunggulan,
dikemukakan pula kelemahan khotbah ekspositori. Di antaranya, jika
dibandingkan dengan khotbah topikal, khotbah ekspositori akan
menjadi kurang menarik.

Buku ini boleh dibilang mengupas dengan lengkap mengenai apa dan
bagaimana khotbah ekspositori sampai syarat-syarat menyampaikan
khotbah tersebut kepada jemaat. Beberapa penjelasan yang mendukung
khotbah ekspositori seperti pembahasan hermeneutik, pembahasan
hubungan khotbah dengan teologi eksegese, teologi sistematis, dan
misi, juga disampaikan oleh penulis. Penekanan khotbah ekspositori
secara induktif, bagaimana teknis menyiapkan khotbah ekspositori,
dan contoh khotbah ekspositori, akan lebih memperjelas sasaran buku
ini.

Buku ini bisa menjadi sebuah panduan yang bagus bagi para
pengkhotbah, baik pendeta, majelis gereja, maupun orang yang ingin
belajar banyak tentang khotbah. Siapkah Anda untuk membangunkan
jemaat dengan khotbah Anda? Selamat membagikan berkat lewat khotbah
Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Kiriman dari: Kristina

RESENSI 3

Penulis : James Braga


Penerbit : Gandum Mas, Malang
Ukuran : 15 X 21,5 cm
Tebal : 226 halaman

CARA MEMPERSIAPKAN KHOTBAH


==========================

Dalam buku pedoman ini, James Braga menguraikan langkah demi langkah
proses mempersiapkan dan menyampaikan khotbah yang efektif secara
jelas dan logis. Petunjuk-petunjuknya diterangkan dengan sederhana
sehingga orang yang belum berpengalaman pun dapat mengikutinya tanpa
bantuan seorang guru. Metode yang dikemukakannya menggabungkan
teknik-teknik yang diakui dalam berpidato di depan umum dengan
teori-teori berkhotbah yang telah teruji.

Buku ini bukan buku biasa mengenai persiapan khotbah yang


semata-mata menerangkan jenis-jenis khotbah dan mencantumkan contoh
khotbah yang terbaik dari pengarang. Sebaliknya, buku ini
benar-benar suatu buku pedoman yang membimbing seseorang atau kelas
langkah demi langkah dalam proses membangun khotbah.

Buku ini dibagi dalam dua bagian utama. Bagian pertama menyajikan
definisi dan pembahasan tiap-tiap jenis khotbah dasar -- topikal,
tekstual, dan ekspositori -- dengan prinsip-prinsip dasar dan
ilustrasi-ilustrasi untuk membimbing calon penyusun khotbah. Bagian
kedua buku ini menguraikan teknik penyusunan khotbah, dengan
memperbincangkan susunan homiletika, judul, pendahuluan, proposisi,
bagian-bagian, diskusi, penggunaan ilustrasi, penerapan, dan
kesimpulan. Prinsip-prinsip dasar ditekankan dan diberi ilustrasi
yang menarik dari permulaan sampai akhir agar buku ini sesuai dengan
judulnya, menjadi sarana untuk menolong hamba Tuhan dalam
mempersiapkan khotbahnya.

Bahan diambil dan diedit seperlunya dari sumber:


Nama situs: Penerbit Gandum Mas
URL : [Link]

RESENSI 4

Penulis : Pdt. Noor Anggraito, M. Div.


Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2001
Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 143 halaman

MENYIAPKAN KHOTBAH EKSPOSITORI SECARA PRAKTIS


=============================================

Firman Tuhan yang merupakan suara Allah, sangatlah penting bagi


kehidupan manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, Allah tidak
dapat langsung berkomunikasi dengan manusia. Ia memakai para nabi
pada zaman-Nya untuk menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya.
Demikian pula saat ini, Ia memakai para pengkhotbah untuk
menyampaikan kehendak-Nya pada manusia. Panggilan seseorang dalam
menyampaikan firman Tuhan perlu dilengkapi dengan metode-metode
khusus agar kebenaran tersebut dapat membuat orang yang mendengarnya
bertumbuh sesuai dengan kehendak Allah.

Buku yang berjudul "Mempersiapkan Khotbah Ekspositori secara


Praktis" dimulai dengan pandangan-pandangan umum mengenai khotbah
ekspositori. Penulis menekankan betapa "back to the Bible" adalah
hal yang tidak boleh dihilangkan dalam berkhotbah. Secara umum,
khotbah ekspositori dikategorikan dalam dua bagian besar, yaitu
khotbah tekstual (berdasarkan pada teks Alkitab) dan topikal
(berdasarkan pada topik). Kelemahan dan kelebihan dari kedua
kategori juga disajikan di sini.

Sebelum melangkah lebih dalam tentang khotbah ekspositori, penulis


menyoroti pribadi pengkhotbah. Alasan tentang pentingnya
pengkhotbah, kriteria, dan kendala-kendala yang sering dialami para
pengkhotbah dapat Anda temukan pada bab kedua dari buku ini.
Bagaimana membuat khotbah secara tekstual dan topikal dijelaskan
dengan rinci pada dua bab selanjutnya. Menariknya, buku ini disertai
dengan latihan-latihan dan contoh-contoh khotbah yang memudahkan
pembaca untuk mengerti secara langsung apa yang dimaksud oleh
penulis. Di akhir buku, penulis yang merupakan gembala sidang dan
dosen ilmu berkhotbah STII Yogyakarta, memberikan tips-tips khusus
bagaimana cara berkhotbah yang baik.

Tujuh bab dalam buku ini perlu dibaca, khususnya bagi Anda yang
rindu untuk mempersiapkan khotbah dan berkhotbah dengan baik.
Setelah membaca buku ini, diharapkan pembaca dapat membuat khotbah
ekspositori yang praktis dan dapat langsung diterapkan dalam
pelayanan.

Kiriman dari: Ani

RESENSI 5

Judul asli: Biblical Preaching


Penulis : Haddon W. Robinson
Penerjemah: Basuki, Suryadi, dan Xavier Q.P.
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2004
Halaman : vii + 278 halaman
Ukuran : 15,8 cm x 24 cm

CARA BERKHOTBAH YANG BAIK: PEDOMAN UNTUK


MENGEMBANGKAN DAN MENYAMPAIKAN KHOTBAH EKSPOSITORI
==================================================

Ada beberapa jenis khotbah yang dapat disampaikan kepada jemaat.


Salah satunya ialah khotbah ekspositori. Haddon W. Robinson, penulis
buku ini, menyebutkan bahwa khotbah ekspositori merupakan jenis
khotbah yang paling baik untuk menyampaikan kuasa otoritas ilahi
(hlm. 13).

Sayangnya, khotbah ekspositori dapat menimbulkan kejemuan, terutama


bila penerapannya kurang kreatif sehingga dua keluhan
mengenai khotbah yang demikian. Pertama, ketika pengkhotbah
memberikan penerapan yang monoton -- atau malah tidak memberi
penerapan sama sekali, khotbah itu dianggap hanya menyampaikan hal
kuno yang sama. Kedua, akan timbul reaksi negatif karena khotbah
dianggap tidak memiliki kaitan langsung dengan realitas hidup
sehari-hari dan tidak dapat dimanfaatkan secara praktis.

Oleh karena itu, Haddon W. Robinson menawarkan sepuluh tahap untuk


mengembangkan pesan-pesan ekspositori. Kesepuluh tahap berikut
diuraikannya dalam buku ini.

1. Memilih nukilan Alkitab.


2. Mempelajari nukilan Alkitab.
3. Menemukan ide eksegetikal.
4. Menganalisis ide eksegetikal.
5. Merumuskan ide homilitikal.
6. Menentukan tujuan khotbah.
7. Memutuskan cara mencapai tujuan (khotbah) ini.
8. Membuat kerangka khotbah.
9. Mengisi kerangka khotbah.
10. Menyiapkan pengantar dan kesimpulan.

Buku ini sendiri merupakan sebuah revisi dari edisi sebelumnya.


Penulisnya telah melengkapi edisi kedua ini dengan sejumlah
bibiliografi yang lebih mutakhir (up-to-date). Selain itu, di
beberapa bab, seperti di bab satu, tiga, enam, dan tujuh, Anda akan
menemukan sejumlah bahan bacaan lanjutan. Ada juga latihan yang
disajikan pada bab dua dan empat. Malahan, Anda akan mendapatkan
sebuah contoh khotbah dan bagaimana mengevaluasinya; keduanya
merupakan penerapan dari proses yang telah dibahas dalam buku ini.
Sayangnya, buku ini tidak dilengkapi dengan halaman indeks yang
sering kali lebih membantu daripada daftar isi.

Kiriman dari: Raka


______________________________________________________________________
ARTIKEL

PENTINGNYA LITERATUR KRISTEN SEBAGAI SUMBER BACAAN ANDA


=======================================================
Oleh: Puji Arya Yanti

Keberadaan literatur memainkan peranan penting dalam kehidupan


manusia. Melaluinya, kita dihantar pada jendela dunia yang
membukakan wawasan setiap orang yang menikmatinya. Dalam
kekristenan, literatur juga memiliki peranan vital, yakni sebagai
sarana pembinaan iman dan penginjilan. Menurut George Verwer,
literatur Kristen sering disebut sebagai "Utusan Injil Tercetak".
Sisi praktis dan kekuatannya terlihat dalam hal-hal berikut.

- Ia dapat pergi ke mana-mana karena dalam bentuk cetak.


- Ia mengulang-ulang beritanya terus menerus tanpa istirahat dan
cuti.
- Ia mempersembahkan beritanya menurut kesenangan pembacanya.
- Melalui pos, ia dapat pergi ke berbagai tempat di mana seorang
utusan Injil tidak diizinkan masuk.
- Ia memungkinkan pembacanya mendengar berita yang sama itu berulang
kali.
- Ia memungkinkan para pembaca mempelajari hanya satu bagian khusus
berita yang menarik hatinya.
- Dalam bentuk buku, ia dapat memberi banyak hati yang kelaparan
berjam-jam bahkan berhari-hari khotbah yang berkesinambungan dan
makanan rohani berupa kebenaran secara terus-menerus.

Selain itu, literatur juga dapat digunakan sebagai alat untuk


mengantisipasi ajaran sesat yang beredar di masyarakat. Seperti yang
terjadi pada Ignatius yang menulis pembelaannya ketika gereja berada
dalam ancaman ajaran Gnostisisme. Hal yang sama juga dilakukan
Polikarpus dan Tertualianus dalam melawan Marcion melalui
tulisannya.

Kekuatan literatur untuk menggerakkan hati manusia ini juga disadari


oleh Napoleon Bonaparte. Pada puncak karier militernya, dia
menyatakan, "Hanya ada dua kekuatan di dunia ini, yakni pedang dan
pena; dan pada akhirnya yang terakhir ini selalu menaklukkan yang
terdahulu."

Di samping Alkitab, literatur Kristen jelas sangat dibutuhkan oleh


setiap kelompok generasi; mulai dari anak-anak, remaja, sampai
dewasa. Mereka membutuhkan bacaan-bacaan yang dapat membawa iman
mereka semakin bertumbuh di dalam Tuhan sesuai kebutuhan berdasarkan
usia mereka. Kebutuhan terpenuhi lewat literatur Kristen karena
literatur dijadikan sebagai media penyampaian firman Allah yang
efektif. Walaupun tidak dimungkiri juga bahwa keberadaan buku-buku
yang tidak mendidik juga akan menyebabkan masalah tersendiri,
khususnya bagi anak-anak.

Kalau kita melongok ke luar dunia kekristenan, hal ini juga sudah
disadari oleh kelompok mereka. Misalnya, kaum Komunis yang tidak
segan mengeluarkan uangnya untuk membantu menerbitkan buku-buku atau
traktat-traktat Komunisme. Pengikut bidat pun rela mengeluarkan
uangnya untuk menyebarluaskan ajaran mereka.

Meskipun literatur memberikan manfaat yang positif, kekuatannya juga


dapat berdampak negatif. Literatur-literatur bermuatan pornografi,
kekerasan, dan kebenaran yang dibelokkan, malah akan mendidik
generasi muda menuju kehancuran. Hal ini perlu mendapat perhatian
khusus, baik dari pemerintah, gereja, dan keluarga. Sehingga
diperlukan pengawasan dan seleksi untuk buku-buku yang akan dibaca.

Menyadari aspek negatif tersebut, para pelaku literatur Kristen


perlu semakin giat dalam menyampaikan kebenaran. Karena seperti
dikatakan Daniel Webster, "Kalau kebenaran tidak disebarkan,
kesalahanlah yang akan menyebar; kalau Allah dan firman-Nya tidak
dikenal dan diterima, Iblis dan pekerjaannya akan berkuasa dan
berpengaruh; kalau buku-buku injili tidak menjangkau sampai ke
desa-desa kecil, tulisan-tulisan yang tidak bermoral dan merusaklah
yang akan menggantikannya; kalau kuasa Injil tidak dirasakan di
seluruh pelosok negeri ini, kekacauan dan salah atur, kemerosotan
moral dan kesengsaraan, korupsi dan kegelapan, akan merajalela tanpa
kendali atau tanpa akhir."

Sudah saatnya kita membentengi diri kita dengan bacaan-bacaan yang


bermanfaat dan membangun, tentunya di dalam Tuhan. Disadari atau
tidak, bacaan yang tidak bermanfaat akan semakin menjauhkan kita
dari kebenaran Allah. Segeralah tambah koleksi bacaan Anda dengan
literatur Kristen yang mendukung iman Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Sumber bacaan:

Salihin, Rohyati. 1989. Bertumbuh Melalui Literatur, dalam "Visi


Pelayanan Literatur: Bunga Rampai". Yogyakarta: Yayasan ANDI.
Stevens, Antoni. 1989. Pelayanan Literatur dari Masa ke Masa, dalam
"Visi Pelayanan Literatur: Bunga Rampai". Yogyakarta: Yayasan
ANDI.
Weiner, Bob dan Rose Weiner. 1993. "Lebih Tajam Daripada Pedang
Kekuatan Pena". Koinoia.
Verwer, George. 1995. "Dinamika Pelayanan Literatur". Jakarta dan
Surabaya: Yayasan Obor Menyuluh dan Yakin.
______________________________________________________________________
DARI HALAMAN REDAKSI

PUBLIKASI BIO-KRISTI
====================

Apa jadinya kekristenan tanpa seorang pengkhotbah? Siapakah yang


akan berbicara kepada jemaat yang haus akan kebenaran firman Tuhan?
Syukur kepada Allah bila Ia membangkitkan anak-anak-Nya untuk
berkhotbah, membangunkan iman jemaat, sekaligus menantang zaman ini.
Martin Luther, John Wesley, Charles Haddon Spurgeon, John Sung, dan
George Whitefield merupakan beberapa orang besar yang dikenal
sebagai pengkhotbah. Bila ingin mengenal mereka dan tokoh-tokoh
Kristen dari bidang-bidang lainnya, Anda perlu berlangganan Buletin
Elektronik Biografi Kristiani (Bio-Kristi). Publikasi terbitan
Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) yang hadir tiap bulan ini akan
memperkenalkan berbagai tokoh Kristen yang akan menginspirasikan
banyak hal kepada Anda. Segeralah bergabung dengan mendaftar di:

==> < subscribe-i-kan-bio-kristi(at)[Link] >

Untuk melihat arsip-arsip edisi terdahulu silakan akses:


==> [Link]

Kunjungi dan jadilah salah satu pengguna dari situs Bio-Kristi:


==> [Link]
______________________________________________________________________

"A winner knows how much he still has to learn,


even when he is considered by others;
a loser wants to be condsidered an expert by others
before he has learned enough to how little he knows."
(Sydney Harris)
______________________________________________________________________
EDISI JUNI
SEKOLAH MINGGU
==============

Untuk edisi Juni, e-Buku akan hadir dengan tema Sekolah Minggu. Bagi
Anda para guru sekolah minggu yang ingin berbagi berkat dari buku
yang sudah dibaca, kami undang Anda untuk berpartisipasi pada edisi
kali ini. Pembaca yang lain juga kami tunggu untuk berpartisipasi
mengisi edisi bulan depan dengan cara mengirimkan resensi, kesaksian
buku yang sudah Anda baca, dan informasi buku baru seputar sekolah
minggu yang Anda ketahui ke alamat:

==> < staf-buku(at)[Link] >

Mari bersama-sama mengobarkan semangat membaca dan berbagi berkat


melalui buku demi kemuliaan-Nya. Kami tunggu kiriman Anda.
______________________________________________________________________
Isi dan bahan adalah tanggung jawab Yayasan Lembaga SABDA.
Didistribusikan melalui sistem network I-KAN.
Copyright(c) e-Buku 2007
YLSA -- [Link]
[Link]
Rekening: BCA Pasar Legi Solo
No. 0790266579 / a.n. Yulia Oeniyati

Arsip Publikasi e-Buku bisa dibaca online di:


[Link]
[Link]
______________________________________________________________________
PENERBIT EDISI INI

YAYASAN KALAM HIDUP


Jl. Naripan 67
Bandung 40112
Kotak Pos 1061, Bandung 40010

LEMBAGA LITERATUR BAPTIS


Jl. Tamansari 16 -- Kotak Pos 1119 -- 40011 Bandung
Telp. 022-4203484, 4397341

PENERBIT GANDUM MAS


Kotak Pos 46, Malang 65101
E-mail: infobuku(at)[Link]
URL: [Link]

PENERBIT ANDI
Jln. Beo 38-40 Yogyakarta 55281
Telp. (0274) 55281
E-mail: pemasaran(at)[Link]
URL: [Link]
[Link]
______________________________________________________________________
Pimpinan Redaksi : Puji Arya Yanti
Berlangganan : subscribe-i-kan-buku(at)[Link]
Berhenti : unsubscribe-i-kan-buku(at)[Link]
Kontak e-Buku : staf-buku(at)[Link]
______________________________________________________________________
"Sementara itu, sampai aku datang
bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci,
dalam membangun dan dalam mengajar."
(1 Timotius 4:13)
[Link]
Tampilan cetak edisi sebelum | edisi berikut

Pertanyaan untuk Angket

Data Pribadi

Jenis kelamin : Pria / Wanita * Usia : …………….. tahun

Pendidikan : SD / SLTP / SLTA / D1 / D2 / D3 / S1 / S2 / S3 *

Menjadi Jemaat Bethany sejak tahun : ……………………….. .………………..

Melayani di gereja : Ya / Tidak *

Melayani sebagai apa : ……………………………………………

Menjadi anggota di Familly Cell : Ya / Tidak. *

Menjadi pengurus di Familly Cell : Ya / Tidak *


*
Lingkari yang sesuai
Definisi khotbah topikal :

5. Apakah khotbah yang disampaikan tiap minggu ada tema atau judul khotbah ?

Ya Tidak Ragu-ragu

………………………………………………………………………………

………………………………………………………………………………

6. Apakah Saudara sedang mengalami suatu masalah atau pergumulan dalam

hidup ? Ya Tidak Ragu-ragu

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………

7. Apakah khotbah yang disampaikan setiap minggu ada kaitannya dengan masalah

yang Saudara hadapi ?

Ya Tidak Ragu-ragu

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………

8. Apakah masalah yang Saudara hadapi saat ini di alami juga oleh jemaat yang lain ?

Ya Tidak Ragu-ragu

…………………………………………………………………………………………

…………………………………………………………………………

IV. Unsur-unsur khotbah topikal :

6. Apakah khotbah yang disampaikan semuanya diambil dari firman Tuhan ?

Ya Tidak Ragu-ragu
……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

7. Apakah firman Tuhan yang dikhotbahkan membuat Saudara lebih dalam lagi

memahami akan Allah ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

8. Apakah firman Tuhan yang dikhotbahkan mengandung pengajaran yang berharga

bagi Saudara ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

9. Apakah firman Tuhan yang dikhotbahkan menyingkapkan hal-hal yang belum

pernah Saudara ketahui sebelumnya ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

10. Apakah firman Tuhan yang disampaikan memberikan pengharapan, kekuatan dan

penghiburan bagi Saudara ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………
V. Pentingnya khotbah topikal :

7. Didalam setiap ibadah apakah Saudara merasakan hadirat Tuhan ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

8. Apakah Saudara mendapat banyak pelajaran yang mendidik dari firman Tuhan

dalam setiap khotbah hari Minggu ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

9. Apakah ada jemaat didalam ibadah hari minggu yang belum sungguh percaya ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

10. Menurut Saudara apakah firman Tuhan yang disampaikan setiap hari Minggu

memberikan pemahaman mengenai suatu doktrin (pengajaran) yang alkitabiah

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

11. Apakah firman Tuhan yang disampaikan Saudara lakukan setiap hari ?

Ya Tidak Ragu-ragu
……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

12. Apakah dampak dari firman Tuhan yang Saudara lakukan bisa mempengaruhi

kehidupan orang lain ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

IV Bagaiman menyampaikan khotbah topikal

6. Apakah Saudara merasakan atmosfir rohani saat berkhotbah yang berbeda ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

7. Apakah setiap khotbah yang disampaikan terstruktur (tersusun dengan baik),

berurutan ? Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

8. Apakah kehidupan gembala Saudara menunjukkan apa yang dikhotbahkan ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………
9. Apakah Saudara pernah berselisih dengan gembala Saudara

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

VI. Dampak khotbah topikal

5. Apakah khotbah yang Saudara dengar mengubah iman Saudara ?

Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

6. Apakah Saudara percaya dengan sungguh bahwa saat ini Saudara sudah

diselamatkan? Ya Tidak Ragu-ragu

……………………………………………………………………………………………………………………………………

………………………………

7. Dari Sembilan buah-buah Roh dalam Galatia 5 : 22 – 23; lingkari yang sudah Saudara

terapkan dan alami didalam karakter hidup Saudara setiap hari :

d. Kasih d. Kesabaran g. Kesetiaan

e. Sukacita e. Kemurahan h. Kelemahlembutan

f. Damai sejahtera f. Kebaikan i. Penguasaan diri

…………………………………………………………………………………………………………………………………………

…………………....
Berdasarkan hasil angket yang telah disebarkan, maka hasil peneltian menunjukkan

bahwa pengaruh khotbah terhadap keadaan kerohanian pegawai Dinas Kesehatan Popinsi

Sulawesi Utara sebagian besar atau ( 80 %) telah mengalami perubahan karakter dan imannya

bertumbuh, namun 17% masih dalam proses pertumbuhan, dan sebagian kecil yaitu 3%

keadaan kerohaniannya belum ada kepastian karena belum hidup baru.

Hamba Tuhan dan Khotbah


Editorial:

Dear e-Reformed Netters,

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh besar bagi gereja-gereja
(termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah penekanannya yang sangat kuat dalam
"pelayanan Firman". Dengan membaca artikel yang saya ambil dari buku Rev. Yap Un Han,
Th.M. ini, mudah-mudahan kita dapat diingatkan kembali akan urgensi dan keseriusan tugas
"berkotbah".

Selamat merenungkan,
Yulia

Artikel Terkait
 Surat-surat Terbuka kepada Pendeta
 Tak Ada Kebangunan Rohani Tanpa Reformasi
 Tujuh Menit Bersama Tuhan
 Panggilan -- Apakah Pelayanan itu Suatu Karier
 Prinsip Dasar Etika Kristen tentang Perang: Sebuah Tinjauan terhadap Pacifism dan Just War
Theory
 Dataran Tinggi Doa Syafaat
 Pasang Surut Kehidupan Doa

Edisi:
014/III/2001

Isi:

Tugas apakah yang terpenting bagi seorang hamba Tuhan? Berdasarkan pengalaman penulis
selama 56 tahun, penulis mengambil kesimpulan bahwa tugas yang terpenting dari seorang
hamba Tuhan adalah menyampaikan Firman (berkotbah). Jika seorang hamba Tuhan tidak
menyampaikan Firman, maka ia ibarat seekor kucing yang tidak mau menangkap tikus, seekor
anjing yang tidak mau menjaga pintu, sehingga ia kehilangan fungsi dan tugasnya yang
terpenting.

Dari pengamatan penulis selama puluhan tahun, penulis menemukan banyak sekali hamba Tuhan
yang hanya berkhotbah satu kali sebulan dalam Kebaktian Hari Minggu di gerejanya dan jika
sudah ditahbiskan menjadi pendeta, maka akan ditambah dengan khotbah pendek sebelum
Perjamuan Kudus. Selebihnya selama tiga minggu gereja mengundang para dosen teologia,
pimpinan organisasi rohani, pendeta yang sudah pensiun atau tamu yang kebetulan lewat untuk
mengisi mimbar gereja. Gereja-gereja yang demikian ini, secara umum pasti tidak mempunyai
program tema khotbah dan karena pengkhotbahnya terlalu sibuk maka ia selalu menyampaikan
khotbah yang sudah pernah disampaikan sehingga penyampaiannya tidak lagi sesuai kebutuhan
dan akibatnya anggota jemaat tentu tidak memperoleh apa-apa dari khotbahnya.

Memang diakui bahwa menyiapkan naskah khotbah tidak mudah. Apalagi naskah khotbah yang
bisa mencukupi kebutuhan anggota jemaat, ini akan jauh lebih sulit. Penulis ingin membagikan
pengalaman masa lalu yang cukup pahit. Pada waktu itu penulis memegang jabatan rangkap,
disamping menjadi pendeta gereja juga menjadi dosen di sekolah teologia. Tugas "berkhotbah"
penulis rasakan sebagai suatu beban yang berat. Jika Minggu itu kebetulan ada pendeta lain yang
sedang lewat dan dapat diundang untuk berkhotbah, maka penulis merasa seperti baru saja
terlepas dari pikulan yang berat dan sepanjang minggu itu, khususnya malam minggu, hati
merasa ringan dan enak sekali.

Seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk menggembalakan, ia sebenarnya bukan saja
bertanggung-jawab terhadap Tuhan dan bertanggung-jawab kepada gereja yang digembalakan
tetapi ia juga bertanggung-jawab kepada ribuan jiwa yang belum diselamatkan. Menurut hemat
penulis, tugas penting seorang hamba Tuhan dalam menggembalakan sidang adalah
"menyampaikan Firman" (berkhotbah).

Hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari anggota jemaat dari pada
pendeta tamu. Rasul Paulus menganggap hubungannya dengan anggota jemaat adalah seperti
hubungan seorang ibu dengan anaknya. Ia pernah berkata kepada anggota jemaat di Tesalonika,
"Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati
anaknya" (1 Tes. 2:7). Tugas seorang ibu adalah menyusui bayi, dan ia tidak akan mengizinkan
ibu lain untuk menggantikan tugasnya. Demikian juga, seorang hamba Tuhan yang bertanggung-
jawab, ia akan menganggap bahwa "berkhotbah" adalah tugas yang mendesak, sehingga ia tidak
akan dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada orang lain. Ia akan
secara sistematis, berdasarkan kebenaran Alkitab dan sesuai dengan kebutuhan gereja dan
masyarakat, mengajar dan membina para anggota jemaatnya.

URGENSI KHOTBAH

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster Chapel, Inggris, Dr.
Martyn Lloyd-Jones, dalam bukunya yang berjudul "I Believe in Preaching" mengatakan,
"Menurut hematku, 'berkhotah' adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan
yang ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa
kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen adalah khotbah yang benar dan sejati."
Lebih lanjut ia mengatakan, "Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan
pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar, yang patut digandrungi,
yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan pekerjaan yang paling ajaib." Apakah pernyataan
Dr. Lloyd-Jones ini berlebihan? Jawaban penulis adalah, "Tidak!".

Dalam bukunya yang berjudul "History of Preaching, E. C. Dargon mengatakan, "Berkhotbah


adalah unsur dan ciri penting dari agama Kristen." Lebih lanjut ia mengatakan bahwa "Khotbah"
adalah ciptaan dari agama Kristen. Mengapa demikian? Ia mengatakan, "Karena Pendiri Agama
Kristen adalah seorang 'Pengkhotbah'. Baik pendahuluNya, yaitu Yohanes Pembaptis maupun
penerusNya, yaitu para rasul, semuanya adalah pengkhotbah yang menyampaikan Firman Allah.
Sebab itu, khotbah yang mengajar dan memproklamasikan Firman Tuhan, merupakan
karakteristik dasar yang tidak berubah dari agama Kristen."

Injil Matius 9:35, "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam
rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit
dan kelemahan."

Dengan berdirinya gereja hasil Pentakosta, para rasul disibukkan dengan urusan sosial, akhirnya
mereka meminta pada anggota jemaat, agar mereka dilepaskan dari tugas sosial, sehingga dapat
mengkonsentrasikan diri pada doa dan khotbah (Kis. 6:4).

Setelah itu, rasul Paulus yang dikenal sebagai rasulnya orang kafir, juga berpendapat bahwa
tugas "berkhotbah" itu sangat penting. Ia mengatakan bahwa Kristus mengutusnya bukan untuk
membaptis, melainkan untuk mengabarkan Injil. Ia menekankan bahwa "berkotbah" adalah
model yang ditentukan Tuhan agar orang berdosa mendengar berita Injil dan dapat diselamatkan.
Paulus dengan nada tanya, berkata, "Bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka
tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak
mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang
memberitakanNya." (Rom. 10:14). Ia bersaksi di dalam 2 Timotius 4:6, "Mengenai diriku,
darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat." Waktu
menjelang ajalnya, ia merasa perlu menyampaikan pesan terakhirnya kepada Timotius. Apakah
pesan terakhirnya itu? Tidak lain, yaitu: "Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik
waktunya...." (2 Tim. 4:2)

Mari kita membaca sejarah dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang dipakai
Tuhan tentang urgensinya "khotbah".

Reformator Martin Luther mengatakan, "Keberadaan dan hidup gereja adalah bersandarkan pada
'Firman' yang penuh berisi perjanjian Tuhan dan karena "Firman' inilah gereja didirikan, dibina
dan bertahan. Lebih lanjut ia mengatakan, "Jiwa roh manusia, boleh tidak diisi oleh apapun, tapi
tidak bisa jika tidak diisi oleh 'Firman Tuhan'.... dengan adanya 'Firman Tuhan' ia menjadi kaya
dan tidak kekurangan apapun". Luther berpendapat bahwa "penyampaian Firman" tidak dapat
ditawar-tawar, karena dengan menyampaikan tentang Kristus, berarti memberi makan pada jiwa
roh manusia.

Yohanes Kalvin juga sangat menitik-beratkan Firman Tuhan. Ia menekankan bahwa ciri gereja
yang sejati adalah kesetiaannya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Ia mengatakan, "Di mana
saja, asal Firman Tuhan dijaga kemurniannya, lalu dikabarkan, diterima dan Perjamuan Kudus
dilaksanakan sesuai dengan yang diadakan oleh Tuhan, maka di sana pasti gereja Tuhan itu
eksis."

Pendiri gereja Methodis, John Wesley dalam buku hariannya menulis, "Aku dilahirkan adalah
untuk menyampaikan Firman Tuhan." Pada usia yang ke 86, ia pernah berkunjung ke Irlandia
memimpin Kebaktian Kebangunan Rohani. Ia menggunakan waktu selama sembilan minggu,
mengunjungi 60 kota dan desa dan berkotbah sebanyak seratus kali dan enam kali berkotbah di
lapangan terbuka.

Meskipun kita tidak menyetujui pandangan teologia Karl Barth, tapi kesaksiannya tentang
penyampaian Firman Tuhan perlu kita dengar. Ia mengatakan, "Semua orang mengakui bahwa
tidak ada satu pekerjaan yang lebih bernilai, lebih mendesak, lebih berguna, lebih bisa
menyelamatkan, lebih berfaedah dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan.
Dari sudut langit dan bumi kita boleh melihat, tidak ada perkara yang situasinya lebih praktis
dari pada menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan."

Deitrich Benhoeffer meskipun pandangan teologianya dipermasalahkan, tapi mempunyai


pandangan yang baik tentang penyampaian Firman Tuhan. Ia mengatakan "Keberadaan semua
bahasa di dunia, dipakai untuk menyampaikan Firman Tuhan. Dengan berkotbah telah diletakkan
dasar dunia baru. Melalui khotbah orang mendengarkan Firman Tuhan ....., setiap hamba Tuhan
harus berkeyakinan bahwa Kristus akan masuk ke dalam setiap hati manusia melalui khotbah
yang berlandaskan pada Alkitab."

KESUAMAN GEREJA DAN KHOTBAH

Mungkin banyak orang tidak menyetujui sebutan "kesuaman gereja" untuk mengungkapkan
keadaan gereja masa kini. Memang benar, secara lahiriah, keadaan gereja sekarang menunjukkan
kemajuan. Gereja-gereja di Amerika ramai dikunjungi orang dan gejala seperti ini belum pernah
terlihat pada waktu-waktu sebelumnya. Dari segi kepadatan penduduk, Jamaika yang berada di
Amerika Latin Tengah adalah negara yang paling banyak gedung gerejanya di seluruh dunia.
Filipina adalah negara Katolik satu-satunya di Asia yang boleh dikatakan di setiap rumah ada
tanda salib dan gereja setiap minggu dipenuhi dengan orang yang berbakti.

Tetapi jika diamati dengan seksama keadaan masyarakat Amerika, maka jelas terlihat kejahatan,
kerawanan di bidang keamanan, kemerosotan moral dan kehancuran rumah tangga yang
menjamur, menunjukkan ketimpangan yang menyolok dengan keadaaan pertumbuhan gereja.
Kejahatan yang terjadi di Jamaika merupakan suatu pelecehan terhadap banyak gedung gereja di
sana. Demikian pula dengan keadaaan yang terjadi di Filipina.

Pada abad ke-20 gereja dan jemaat di berbagai daerah Afrika dikabarkan makin bertambah dan
berkembang secara pesat. Tetapi Afrika, yang pada abad ke 18 dikenal sebagai "tempat
pemakaman para misionaris" yang gelap ini, sampai saat ini tetap dinaungi oleh suasana
kegelapan, bahkan makin hari makin kelam. Banyak terjadi pembantaian etnis, sistem politik
yang bobrok, perekonomian yang memprihatinkan, kemiskinan yang meluas, ditambah lagi
dengan bencana alam dan sebagainya, sehingga nyawa penduduk tidak terjamin. Peristiwa yang
terjadi di Afrika, menimbulkan suatu tanda tanya besar, berapa besarkah sebenarnya pengaruh
pertambahan gereja dan Injil bagi suasana yang "gelap" di Afrika ini?

Penulis sudah melayani selama 56 tahun, sebagian besar hidup penulis hanya mengerjakan satu
hal, yaitu mengabarkan tentang Yesus Kristus. Melalui pengalaman dan penyelidikan selama 56
tahun ini, secara jujur dalam lubuk hati selalu timbul satu pertanyaan: pada abad yang
menggalakkan gerakan misi ini, seberapa besarkah pengaruh yang telah diberikan oleh agama
Kristen terhadap dunia ini? Kita sering melagukan bahwa agama Kristen adalah satu-satunya
yang menyediakan keselamatan yang sejati, tapi sebenarnya berapakah diantara mereka yang ada
di dunia ini sudah mendengar tentang berita keselamatan?

Sepertinya unsur yang ditekankan oleh "Ilmu Pertumbuhan Gereja", adalah "pertumbuhan" dari
segi kwantitas di dalam gereja saja. Pimpinan gereja sering bergembira dan puas dengan
bertambahnya anggota tetapi terhadap permintaan Tuhan Yesus agar anggota jemaat menjadi
"garam dunia" dan gereja menjadi "terang dunia", masih jauh dari kenyataan.

Tidak dapat disangkal bahwa gereja masa kini termasuk gereja yang disebut Tuhan sebagai
"Gereja Laodikia", yaitu gereja yang suam-suam. Memang tidak salah jika gereja masa kini
disebut 'tidak dingin', karena seruan untuk mengerjakan pelayanan misi keluar begitu nyaring,
tetapi didalamnya tidak ada kehangatan dan kegairahan. Tata ibadah dipersiapkan sedemikian
baik, sehingga para pengunjung kebaktian merasa keenakan; khotbah yang disampaikan dengan
sebutan yang terbaik itu, sering menjadi "irama yang membuaikan". Tetapi Tuhan mengatakan,
"Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika
engkau dingin atau panas, jadi karena kamu suam-suam kuku.... Aku akan memuntahkan engkau
dari mulutKu." (Wahyu 3:15-16).

Tuhan menghendaki gereja menjadi "panas" dan cobalah kita bertanya pada diri sendiri, "Apakah
jiwa pelayanan kita "panas" (bergairah)? Apakah pelayanan mimbar kita "panas"? apakah
kehidupan doa kita, juga "panas"? Apakah kita yang sering meninggikan "rasio", mencela
"emosi" dan "gerakan" ini bersikap "suam-suam kuku" dalam memimpin jemaat, sehingga
akhirnya menjadi orang dan gereja yang "dimuntahkan" Tuhan?

Menurut pendapat penulis, jika gereja mau memperoleh "kebangunan", tidak ada jalan lain
kecuali kembali ke hadirat Tuhan yang menunggu "kebangunan" itu. Mencari kehendakNya,
mentaati pimpinan Roh Kudus agar Tuhan memakai alat yang membangunkan gereja selama dua
ribu tahun ini, yaitu: Khotbah!

Tuhan Yesus di dalam Matius 24:45 mengatakan, "Siapakah hamba yang setia dan bijaksana,
yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makan pada
waktunya?" Siapakah yang dimaksud hamba yang setia dan bijaksana itu? Mereka adalah
hamba-hamba yang memberi makan orang-orang pada waktunya! Untuk memberi "pada
waktunya", dibutuhkan "kesetiaan" sedangkan untuk memberi "makan", dibutuhkan
"kebijaksanaan". Jika dipakai istilah masa kini, maka yang dimaksudkan memberi "makan"
adalah "menyampaikan khotbah".

Dr. W. Sangster dalam bukunya yang berjudul "Skill Berkhotbah" tidak mempunyai kata-kata
yang tepat untuk mengungkapkan keagungan pekerjaan dari hamba Tuhan ini. Ia hanya menulis
demikian, "Hamba Tuhan yang dipanggil, adalah orang yang diutus untuk mengajarkan
kebenaran; adalah utusan dari Maha Raja adalah saksi dari Injil yang kekal! Adakah pekerjaan
yang lebih mulia dari pekerjaan ini? Allah Bapa mengutus PutraNya adalah untuk mengerjakan
pekerjan yang tidak ada bandingnya ini." Pada akhir dari bukunya, ia mengungkapkan kesannya
dengan mengatakan, "Mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus, adalah persembahan
aktivitas yang tertinggi yang bisa dilakukan seseorang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang
sangat dirindukan para malaekat, bahkan penghulu malaekat akan rela meninggalkan kedudukan
tinggi di sorga, asal bisa mendapatkan pekerjaan ini."

Profesor Homiletik terkenal di Amerika, Dr. Andrew Blackwood mengatakan, "Profesi sebagai
pengkhotbah, seyogyanya ditempatkan dijajaran yang tertinggi dari semua profesi yang ada."
Berdasarkan penelitian pendeta terkenal asal Inggris, Dr. John Stott, ditemukan bahwa sejak
tahun 60-an, secara umum kesan orang terhadap "khotbah" semakin hari semakin merendah.
Menurut pendapatnya "kemerosotan" penilaian terhadap khotbah adalah suatu tanda dari
kemerosotan gereja."

Pentingnya pengajaran "khotbah" yang dulu sering diabaikan oleh pihak Katolik, sekarang sudah
mendapat tempat yang penting. Teolog Karl Rahner berpandangan bahwa hal yang urgen dan
yang perlu diselesaikan sekarang adalah "kesulitan dalam berkhotbah". Masalah yang sangat
berat yang sedang dihadapi gereja masa kini adalah ketidak serasian keyakinan Kristen dengan
dunia nyata, ia mengatakan, "Banyak orang meninggalkan gereja, karena apa yang disampaikan
melalui mimbar tidak berarti bagi mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan mereka.
Banyak masalah dan tekanan yang dialami dalam kehidupan tetapi tidak dibicarakan dalam
pelayanan mimbar; .... hal ini membawa problem yang semakin besar dalam "khotbah".

Uskup Agung gereja Anglikan di Inggris, Donald Logen berusaha menggalakkan pembaharuan
dalam hal berkhotbah. Ia mengatakan, "Allah mengerjakan satu hal yang mengherankan, yaitu:
yang berdiri di antara Allah Sang Pengampun dengan manusia yang berdosa adalah
"pengkhotbah"; yang berdiri di antara Allah sebagai Pemberi dengan manusia sebagai penerima
adalah "Pengkhotbah; yang berdiri di antara Allah sebagai Kebenaran dan manusia sebagai
pencari Kebenaran adalah "pengkhotbah". Sebab itu fungsi dari pengkhotbah adalah pekerjaan
"menyatukan" antara dosa manusia dengan pengampunan Allah, antara kebutuhan manusia dan
kemahakuasaan Allah, antara yang didambakan manusia dengan wahyu dari Allah.

PEMBAHARUAN KHOTBAH

Kunci kebangunan gereja yang sebenarnya terletak pada kebangunan hamba Tuhan itu sendiri,
dan salah satu tanda kebangunan hamba Tuhan tersebut adalah kesungguhannya,
kehangatannnya dan kerajinan sikapnya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Yang
dimaksudkan dengan "kesungguhan" adalah sikapnya terhadap Tuhan; "kehangatan" adalah
sikapnya terhadap orang yang mendengarkan khotbahnya; "kerajinan" adalah sikapnya dalam
menyiapkan diri dalam khotbah.

KESUNGGUHAN - SIKAP TERHADAP TUHAN

Hamba Tuhan adalah orang yang berdiri antara Allah dan manusia, sebab itu seyogyanya ia
menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah
juru bicara Allah dan bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap
melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak akan berani
menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan", sehingga dirinya disebut "tukang khotbah"
... melainkan dengan sikap gentar dan takut ia akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mohon
rahmatMu untuk memakai dan memimpin saya, agar sebelum menyampaikan khotbah di depan
orang banyak, saya tahu bahwa terlebih dahulu saya akan berkhotbah bagi diri sendiri. Dan saya
lebih dulu akan memberi contoh dengan melaksanakan kebenaran tersebut; biarlah keberadaan
saya di depan orang, bukan hanya menjadi "terompet" dari kebenaran itu, melainkan menjadi
fakta kebenaran itu sendiri.

Pendeta Amerika yang terkenal di abad ke 19, Dr. Philips Brooks mengatakan, "Pengkhotbah
adalah orang yang menyampaikan kebenaran kepada khalayak ramai. Di dalamnya terdapat dua
unsur, yaitu: kebenaran dan karakter...... Pengkhotbah melalui karakternya menunjukkan
kebenaran.... Kebenaran itu sendiri adalah unsur yang tidak berubah, tetapi karakter adalah unsur
yang berubah dan bertumbuh."

Colin Morris mengatakan, "Berita yang mengandung kuasa, bukan disampaikan melalui mimbar,
melainkan melalui salib. Khotbah yang berhasil, bukan hanya "didengar" tapi juga "dilihat". Jika
hanya mengandalkan "kefasihan lidah", "skill berkhotbah", "pengetahuan Alkitab" hal itu
belumlah cukup, karena masih perlu ditambah dengan kesedihan yang sangat, penderitaan,
pergumulan, keringat, darah, sehingga bisa mengekspresikan kebenaran yang disampaikan.
Hanya dengan demikianlah baru kita bisa menaklukkan hati para pendengar.

KEHANGATAN - SIKAP TERHADAP PARA PENDENGAR

Abad ini dikenal dengan abad yang menitik-beratkan pada "rasio". Banyak sekali cendekiawan
dan pendeta besar berpendapat bahwa kita hanya bisa menggunakan "rasio" untuk menaklukkan
hati para pendengar dan bukan dengan "emosi". Ada seorang pendeta yang bertemu dengan
seorang aktor dan bertanya, bagaimana bisa memainkan peran yang begitu mengesankan dan
menarik? Dimana letak rahasianya? Dan pendeta itu juga mengemukakan bahwa dalam
menyampaikan khotbah, ia tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Dengan tertawa aktor itu
menjawabnya, "Peran yang kami tampilkan bisa sedemikian menarik karena cerita fiktif itu telah
kami mainkan dengan sungguh-sungguh, sehingga cerita itu seperti sungguh-sungguh terjadi.
Tetapi tidak demikian dengan kalian yang menyampaikan kebenaran yang sejati, anda
menampilkannya dengan sembrono, sehingga orang menerimanya seperti berita yang hanya
bohong-bohongan saja.

Siapa yang mengatakan bahwa dalam berkhotbah tidak diperlukan "emosi"? Tuhan Yesus
menangis untuk penduduk Yerusalem yang tidak mau bertobat (Luk. 19:4). Paulus sangat marah
terhadap orang Atena yang menyembah kepada berhala; demi Allah yang benar, hatinya menjadi
panas (Kis. 17:16). Ia sangat peduli terhadap kemuliaan Allah, sebab itu ia memberitahukan
orang di Filipi, "karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan
pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus." (Flp.
3:18). Paulus juga memberitahukan para penatua di Efesus, "Sebab itu, berjaga-jagalah dan
ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati
kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata." (Kis. 20:31).

Jangan mengira mempunyai perasaan demikian (mengucurkan air mata), hanya berlaku pada
masa Perjanjian Baru saja, karena kita juga harus memilikinya pada masa kini. James Alexander
mengatakan, "Hamba Tuhan yang tidak memiliki perasaan yang demikian besar tidak akan bisa
menjadi hamba Tuhan yang besar pula."

Pada waktu berdiri di atas mimbar, hendaklah ingat bahwa kita sedang mengurusi masalah antara
hidup kekal dan mati kekal, dan kita berdiri di antara orang yang hidup dan mati. Sebab itu,
hendaklah kita memandang penting pelayanan mimbar dan jauhkanlah sikap apatis dan anggapan
bahwa mimbar hanya sebagai sarana untuk berbicara saja.

Richard Baxter pernah mengutarakan kata-kata bagi dirinya sebagai berikut: "Aku merasa heran
terhadap diriku, bagaimana aku bisa berkhotbah dengan sikap yang dingin tanpa perasaan dan
bagaimana aku bisa bersikap apatis terhadap mereka yang sedang berada di dalam belenggu
dosa? Seharusnya aku mendatangi mereka dan memohon dengan sangat agar mereka demi kasih
Tuhan bertobat.... Aku sering turun dari mimbar dengan hati nurani yang tidak tenang, karena
merasa khotbahku tadi kurang sungguh-sungguh dan kurang semangat. Aku tidak
mempersalahkan diri karena kurang fasih dalam berkata-kata dan aku juga tidak menyalahkan
diri karena tidak menggunakan kata-kata yang tepat, tapi aku sering bertanya pada diri sendiri,
'bagaimana kamu bisa bersikap demikian di dalam menyampaikan masalah besar yang
mempunyai kaitan mati dan hidupnya manusia, bukankah seharusnya aku menangis untuk
mereka dan membiarkan air mataku menyela khotbahku? Bukankah seharusnya aku berteriak
dengan kesungguhan untuk mengatakan dosa dan kesalahan mereka dan dengan sangat
memohon seperti seorang yang sedang menghadapi pilihan antara hidup dan mati?"

John Stott menganggap sikap yang penuh dengan kesungguhan sangat mudah menarik hati dan
perhatian orang. Dr. John R. Rice mengatakan, "Pada waktu seorang hamba Tuhan berdiri di
mimbar, menyampaikan tema yang sangat penting dan serius tentang neraka dan api yang tanpa
padam; seharusnya ini menyebabkan ia bertelut di hadapan Tuhan dan bersikap sungguh-
sungguh dalam penyampaiannya. Tapi patut disesalkan, karena banyak hamba Tuhan dalam
menyampaikan tema yang penting dan serius ini dengan sikap santai tanpa perasaaan. Berbicara
panjang lebar tentang teologi "nekara" tanpa bara api dalam hati dan air di mata. Gembala
Sidang di Inggris, Campbell Morgan mengatakan, tiga unsur khotbah adalah: kebenaran,
kejelasan dan emosi."

RAJIN - SIKAP MEREVISI KHOTBAH

Seorang hamba Tuhan yang bersikap sungguh-sungguh pada Tuhan dan hangat pada para
pendengarnya, pasti pula seorang hamba Tuhan yang rajin untuk selalu merevisi bahan
khotbahnya. Ia pasti rajin membaca Alkitab dan berdoa, rajin pula menunggu berita dari hadirat
Tuhan; rajin membaca buku-buku rohani dan buku-buku lain yang bisa menambah wawasannya;
rajin berkunjung dan mengetahui secara jelas kebutuhan rohani dari individu maupun keluarga
anggota gereja; rajin mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan khotbahnya.

Dr. Harry E. Jesssop mengatakan, "Seorang hamba Tuhan yang tidak putus-putusnya menuntut
kemajuan, bisa menjaga hati yang bersifat rohani dan sensitif akan memiliki otak yang terisi
dengan pengetahuan yang luas. Seorang hamba Tuhan yang sudah berusia pertengahan, yang
tidak lagi menuntut kemajuan, yang tidak lagi membaca buku-buku akan mendatangkan
malapetaka bagi gereja. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja sering mengulang khotbah
yang sudah disampaikan tapi juga malas untuk mengubah dan menyempurnakan bahan
khotbahnya. Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja kehilangan semangat untuk
menyelamatkan jiwa yang tersesat, bahkan semangat untuk berdoa bagi jiwa-jiwa yang tersesat
pun sudah tidak ada lagi.... Tidak ada hamba Tuhan yang karena usia tua tidak lagi perlu
berkhotbah. Jika ia benar-benar rajin membaca, rajin berpikir, rajin berdoa, maka usianya yang
tua bukan menjadi penghalang tapi sebaliknya menjadi sumber berkat!"

Sumber:

Judul Buku: Problematika Hamba Tuhan


Pengarang : Rev. Yap Un Han, Th.M.
Penerbit : Persekutuan Alumni Singapore Bible College, Jakarta
dan Yayasan Daud Family, Menado,
Tahun : 1998
Halaman : 67 - 83
KEMBALI KEPADA KHOTBAH EKSPOSITORI
ANDRI KOSASIH
PENDAHULUAN
Disadari atau tidak disadari, abad 21 telah memberikan tantangan
tersendiri bagi dunia kekristenan. Tantangan-tantangan ini telah coba
ditanggapi dan diantisipasi oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Daniel
Lucas Lukito lewat tulisannya di Veritas tiga edisi lalu. Dalam tulisannya,
Lukito memberikan empat kecenderungan pemikiran teologi abad 21
sebagai tantangan yang harus diwaspadai oleh setiap orang Kristen,
khususnya yang sangat dekat dengan disiplin teologi.1
Tulisan tersebut telah menggelitik penulis untuk mengaitkan dan
menghubungkannya dengan masa depan khotbah Kristen. Penulis
melihat bahwa khotbah memegang peranan penting di dalam gereja.
Dalam hal ini, penulis sangat setuju dengan D. Martyn Lloyd-Jones yang
menyatakan bahwa sejarah gereja mencatat bahwa khotbah selalu
mendominasi kehidupan gereja.2 Bahkan bagi Earl V. Comfort, mimbar
adalah suatu faktor yang menentukan dalam sejarah gereja.3 Intinya,
mereka ingin mengatakan bahwa khotbah adalah faktor yang harus ada
dalam kehidupan gerejawi.
Ironisnya, yang terjadi ialah khotbah mendapat perhatian yang
kurang serius dari beberapa golongan Kristen. Jika Lukito melihat bahwa
teologi telah dianggap sebagai urusan “sepele,” penulis mengamati hal
yang sama juga telah merambat dan terjadi dalam dunia khotbah.
Sebagian orang Kristen lebih mempedulikan bagaimana khotbahnya bisa
dimengerti dan memuaskan pendengar, tanpa memikirkan
kealkitabiahannya. Yang lebih menguatirkan lagi, ada pengkhotbah yang
membaca suatu bagian Alkitab sebagai “pendahuluan” khotbah, tetapi
kemudian mengkhotbahkan suatu topik yang lain, misalnya isu-isu
kontemporer, atau disiplin ilmu tertentu yang menjadi keahliannya.
Bagian Alkitab yang sudah dibaca tidak sedikit pun disinggung.
1“Kecenderungan Perkembangan Pemikiran Teologi Abad 21: Sebuah Kajian
Retrospektif dan Prospektif” Veritas 1/1 (April 2000).
2Preaching and Preachers (Grand Rapids: Zondervan, 1972) 11.

3“Is the Pulpit a Factor in Church Growth” Bibliotheca Sacra 140/157 (1983) 67.
238 Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
Persoalan di atas hanyalah sekelumit masalah yang dihadapi dalam
khotbah Kristen, khususnya khotbah ekspositori yang menurut beberapa
pakar homiletika disebut sebagai khotbah alkitabiah.4 Lewat tulisan ini
penulis mencoba untuk mengajak para pembaca dan pengkhotbah Kristen
untuk melihat dan menemukan kembali esensi dan keefektivitasan
khotbah ekspositori guna menghadapi tantangan abad 21. Melalui artikel
ini penulis mencoba untuk melihat apakah khotbah ekspositori itu dalam
pengertian yang benar, kepentingan serta keuntungannya. Dalam artikel
ini penulis tidak akan memberikan pelajaran homiletika, khususnya dalam
hal membuat khotbah ekspositori. Pada bagian penutup, penulis akan
memberikan kesimpulan dan aplikasi dari artikel ini bagi dunia khotbah
di Indonesia. Diharapkan lewat tulisan ini para pembaca dan
pengkhotbah Kristen tetap memiliki semangat dalam berkhotbah dan
membakar kembali semangat mereka yang mulai memudar.
PENGERTIAN KHOTBAH EKSPOSITORI
Menurut Richard L. Mayhue, kata “ekspositori” dalam bahasa Inggris
termasuk dalam kelompok kata “expose, exposition, expositor,
expository.” Ia mengutip Webster’s Ninth New Collegiate Dictionary
yang mengatakan bahwa suatu eksposisi adalah “a discourse to convey
information or explain what is difficult to understand.”5 Selanjutnya,
Mayhue juga mengatakan bahwa ekspositori adalah menjelaskan Alkitab
dengan membukakan teks kepada pandangan publik, untuk memaparkan
maknanya, menjelaskan apa yang sulit untuk dimengerti dan membuat
aplikasi yang tepat.6
Haddon W. Robinson, seorang pakar khotbah ekspositori
mengatakan khotbah ekspositori adalah:
Komunikasi atas suatu konsep alkitabiah yang diperoleh dan
disampaikan melalui suatu studi sejarah, gramatikal, dan sastra, atau
suatu perikop sesuai dengan konteksnya, yang pertama diterapkan
oleh Roh Kudus kepada pribadi dan pengalaman pengkhotbahnya,
dan melaluinya kepada jemaatnya.7
4Sebagai contoh, lih. John R. W. Stott, “Biblical Preaching is Expository Preaching”
dalam Evangelical Roots: A Tribute to Wilbur Smith (ed. Kenneth S. Kantzer;
Nashville: Nelson, 1978) 159-169.
5“Rediscovering Expository Preaching” dalam Rediscovering Expository

Preaching (eds. John F. MacArthur, Jr., et al.; Dallas: Word, 1992) 10-11.
6Ibid. 11.

7Haddon W. Robinson, Biblical Preaching: The Development and Delivery of

Expository Messages (Grand Rapids: Baker, 1980) 20.


Kembali kepada Khotbah Ekspositori 239
Dari pendefinisian di atas, bisa dikatakan bahwa khotbah ekspositori
adalah “khotbah yang mempresentasikan kebenaran alkitabiah, yang
diperoleh dari suatu proses eksegesis dan penafsiran yang sesuai dengan
makna asli teks Alkitab tersebut, di mana Roh Kudus mengaplikasikannya
pertama kali kepada diri sang pengkhotbah, sebelum ia, dengan kuasa
Roh Kudus, mengaplikasikannya kepada jemaat.” Bagi John Stott,
ekspositori bukan berbicara tentang suatu bentuk khotbah tetapi isi
khotbah.8 Dengan kata lain, ekspositori lebih berbicara tentang hakikat
suatu khotbah daripada tentang cara membuat atau bentuk khotbah.9
Berangkat dari pemahaman di atas, dapat dikatakan bahwa pada
intinya khotbah ekspositori adalah khotbah yang memaparkan kebenaran
Alkitab. Karena itu tepatlah jika dikatakan bahwa semua khotbah harus
merupakan khotbah ekspositori.10 Donald G. Miller, sebagaimana dikutip
oleh Sydney Greidanus, mengatakan, “all true preaching is expository
preaching, and that preaching which is not expository is not preaching.”11
Jadi, bisa dikatakan bahwa khotbah ekspositori adalah khotbah alkitabiah.
APA YANG BUKAN DIMAKSUDKAN DENGAN EKSPOSITORI
Para ahli homiletika berusaha memberikan pengertian yang benar
tentang khotbah ekspositori. Pada intinya, mereka mengatakan bahwa
khotbah ekspositori merupakan penyampaian kebenaran alkitabiah
kepada jemaat. Mereka lebih melihat ekspositori sebagai jiwa atau filosofi
khotbah. Oleh karena itu, kita perlu memahami dua hal yang sepertinya
merupakan maksud ekspositori, tetapi bukan maksud sebenarnya.
Pertama, ekspositori bukan berbicara tentang metode khotbah. Pada
umumnya, dunia khotbah membagi khotbah menjadi tiga bentuk, yaitu
khotbah ekspositori, tekstual dan topikal. Untuk membedakannya
beberapa ahli homiletika cenderung menjelaskannya dengan melihat cara
pengambilan bagian Alkitab yang digunakan sebagai dasar khotbah.
Sebagai contoh, khotbah ekspositori sering didefinisikan sebagai khotbah
yang menggunakan minimal empat ayat Alkitab sebagai dasar khotbah.12
8John R. W. Stott, Between Two Worlds: The Art of Preaching in the Twentieth
Century (Grand Rapids: Eerdmans, 1988) 125.
9Robinson mengatakan, “Expository preaching is more a philosophy than a

method” (“What is Expository Preaching” 58).


10James Daane, Preaching with Confidence (Grand Rapids: Eerdmans, 1980) 55-56.

11The Modern Preacher and the Ancient Text: Interpreting and Preaching Biblical

Literature (Grand Rapids: Eerdmans, 1988) 11.


12James Braga, Cara Mempersiapkan Khotbah (Malang: Gandum Mas, 1996) 45.

Buku ini dipakai secara luas di beberapa sekolah teologi di Indonesia sebagai buku
pegangan mata kuliah homiletika. Hal yang memprihatinkan penulis adalah ternyata
definisi buku ini perihal khotbah ekspositori telah dipakai juga menjadi definisi pribadi
pembacanya mengenai khotbah ekspositori.
240 Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
Bagi Greidanus, pendefinisian seperti ini bukan merupakan suatu
tindakan pembedaan, tetapi tindakan yang membingungkan.13 Ini juga
bukan pengertian ekspositori karena ekspositori dapat bersumber hanya
dari satu ayat Alkitab. Ekspositori berbicara tentang filosofi khotbah
bukan metode khotbah.
Kedua, ekspositori bukan berbicara tentang bentuk khotbah. Ada
beberapa pengajar homiletika yang secara tidak sadar mengidentikkannya
dengan khotbah yang terdiri atas poin-poin—John A. Broadus
menyebutnya khotbah dengan pola label14 dan Dori Wuwur Hendrikus
menyebutnya skema pengembangan tematis15 —atau yang lebih beken
dengan sebutan khotbah tiga poin. Ini juga bukan pengertian ekspositori
karena khotbah narasi juga dapat disebut khotbah ekspositori jika ia
menyampaikan berita atau khotbah dari Alkitab.
KEPENTINGAN KHOTBAH EKSPOSITORI
Dari pengertian khotbah ekspositori di atas, kita dapat melihat
beberapa kepentingan dari khotbah ekspositori. Pertama, dalam kaitan
dengan sumber khotbah, Alkitab merupakan satu-satunya bahan dasar
atau substansi khotbah ekspositori. Seorang ekspositor menyadari
bahwa hanya Alkitablah satu-satunya buku yang dapat menjadi sumber
khotbahnya. Ia melihat bahwa hanya Alkitab yang memiliki otoritas
ilahi. Oleh sebab itu, ia hanya akan mengkhotbahkan apa yang tertulis
dan yang dikatakan dalam Alkitab. Dengan menjadikan Alkitab sebagai
sumber khotbahnya, maka ia telah menempatkan Alkitab sebagai sumber
otoritasnya dan ia akan memiliki otoritas ilahi di dalam khotbahnya.
Yang menjadi filosofi khotbah ekspositori adalah Alkitab menjadi
sumber khotbah dan oleh sebab itu, pengkhotbah wajib menguraikan
arti teks tersebut di sepanjang zaman. Alasannya, pengkhotbah bukan
berkhotbah dengan otoritasnya, tetapi dengan otoritas Allah. Oleh sebab
itu, ia harus dan hanya mengkhotbahkan firman Allah sebagai berita
khotbahnya. Robinson mengatakan, “. . . the preacher speaks with an
authority not his own, and the man in the pew will have a better chance
to hear God speak to him directly.”16
Kedua, dalam kaitan dengan otoritas Allah, khotbah ekspositori
membuat seorang pengkhotbah semakin bersandar pada kuasa Roh Kudus.
Para pengkhotbah ekspositori yang menyampaikan berita Alkitab
13The Modern Preacher
14On the Preparation and Delivery of Sermon (San Fransisco: Harper and Row,
1979) 69.
15Berkhotbah: Suatu Petunjuk Praktis (Yogyakarta: Kanisius, 1989) 50-51.

16“What is Expository Preaching” 58.


Kembali kepada Khotbah Ekspositori 241
akan menyadari bahwa ia memerlukan kuasa Roh Kudus agar jemaat
bisa mengerti apa yang menjadi berita dari Allah untuk umat-Nya. Ia
menyadari bahwa kuasa manusia tidak akan dapat membuat manusia
lain tunduk pada kebenaran Allah. Hanya Roh Kudus yang dapat
membuat manusia melihat Allah.17 Oleh sebab itu, para pengkhotbah
harus bergantung dan bersandar kepada kuasa Roh Kudus. Tanpa kuasa
Roh Kudus, tidak akan ada nilai kekal yang tercapai walaupun mungkin
ada banyak orang yang mengagumi daya persuasi, menikmati ilustrasi
khotbah atau belajar doktrin dari sang pengkhotbah.18
Hal ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan konsep mimbar
seorang pengkhotbah. Pengkhotbah perlu menyadari dan mengakui
trinitarian khotbah, yaitu tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah, berita
khotbah adalah salib Kristus, dan kuasa khotbah adalah kuasa Roh
Kudus.19 Dengan demikian, seorang pengkhotbah akan menyadari bahwa
tugasnya hanyalah sebagai juru bicara Allah. Jika khotbahnya membawa
seseorang berbalik kepada Allah, ia harus menyadari bahwa bukan
dirinya sendiri yang membuat orang-orang tersebut bertobat. Mereka
percaya karena Roh Kudus bekerja di dalam hati mereka.20 Namun,
seorang pengkhotbah juga tidak akan berkecil hati jika ia tidak melihat
hasil apapun dari khotbahnya.21 Ia tahu bahwa hanya Roh Kudus yang
membuat seseorang berbalik kepada Allah. Ia akan tetap setia melakukan
tugasnya sebagai pengkhotbah.22
Ketiga, dalam kaitan dengan bentuk-bentuk khotbah, khotbah
ekspositori memberikan banyak alternatif bentuk khotbah.23 Pengertian
khotbah ekspositori mungkin sering menimbulkan pertanyaan perihal
penggunaan teks Alkitab dalam kaitannya dengan bentuk khotbah. Jika
kita kembali kepada pengertian khotbah ekspositori, maka seorang
pengkhotbah harus tetap menguraikan teks Alkitab yang menjadi dasar
khotbahnya, entah apakah teks itu panjang atau pendek.
Seorang pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu ayat—yang
menurut beberapa ahli disebut sebagai khotbah tekstual. Seorang
pengkhotbah dapat mengkhotbahkan suatu perikop Alkitab—sering
disebut sebagai khotbah ekspositori. Ia juga dapat mengkhotbahkan
topik-topik tertentu, khususnya yang berkaitan dengan doktrin Kristen—
17Stott, Between Two Worlds 329.
18John Piper, The Supremacy of God in Preaching (Grand Rapids: Baker, 1990) 39.
19Ibid. 19.

20J. I. Packer, Evangelism and Sovereignty of God (Downers Grove: IVP, 1961)

113.
21Tentu saja dengan catatan, ia sudah sungguh-sungguh mempersiapkan dan

menggumulkan khotbah tersebut


22Packer, Evangelism and Sovereignty 119.

23Robinson, “What is Expository Preaching” 59.


242 Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
sering disebut sebagai khotbah topikal. Khotbah ini sering menimbulkan
pertanyaan, apakah mungkin khotbah topikal menjadi khotbah yang
alkitabiah? Sehubungan dengan hal ini, Robinson mengatakan, “To do
this, the preacher finds the many places which a topic or doctrine is
considered. First, he relates the topic to the particular passage in which
it is found, then he relates the different passages to each other.”24 Yang
paling penting dari semua ini, para pengkhotbah harus selalu
mengkhotbahkan berita Alkitab.
Keempat, dalam kaitan dengan diri sang pengkhotbah, khotbah
ekspositori membuat seorang pengkhotbah mengalami pertumbuhan
secara rohani. Pada waktu seorang pengkhotbah mempersiapkan
khotbah, sadar atau tidak sadar, Allah sedang mempersiapkannya juga
untuk menjadi alat-Nya. Ketika ia mengeksegesis dan menafsirkan
Alkitab, berita tersebut akan berbicara terlebih dahulu kepadanya di
tangan Roh Kudus. Mayhue melihat bahwa proses ini merupakan proses
pertama dalam penyampaian khotbah ekspositori.25 Proses ini harus
terlebih dahulu ia alami sebelum berpindah pada diri jemaat pada saat
ia berdiri di atas mimbar untuk berkhotbah. Proses ekspositori ini akan
membuat seorang pengkhotbah mengalami pertumbuhan rohani.
KEUNTUNGAN KHOTBAH EKSPOSITORI
Khotbah ekspositori memiliki banyak keuntungan. Dari sekian
banyak keuntungan tersebut, penulis melihat ada lima hal yang paling
menonjol; tiga hal berkaitan dengan diri pengkhotbah dan dua hal
berkaitan dengan diri jemaat. Pertama, ekspositori memberikan pagar
atau batasan kepada pengkhotbah. Dengan berkomitmen kepada Alkitab
sebagai satu-satunya sumber khotbah, ekspositori akan membuat
pengkhotbah hanya mengkhotbahkan teks Alkitab saja. Pengkhotbah
tidak akan menguraikan topik-topik yang bersumber dari literatur
sekuler, sebuah pidato politik atau bahkan buku-buku agama.26 Hal ini
secara tidak langsung akan membuat seorang pengkhotbah dituntut
untuk memiliki integritas dan komitmen untuk setia kepada Alkitab
sebagai sumber khotbahnya.
Kedua, ekspositori memberikan rasa percaya diri kepada
pengkhotbah. Hal ini memiliki kaitan dengan yang pertama. Dengan
khotbah ekspositori, pengkhotbah akan memiliki rasa aman dan percaya
diri sebab yang dikhotbahkannya adalah firman Allah. Jika ia sudah
menyiapkan khotbahnya dengan sebaik-baiknya, maka dampak yang
24Ibid.
25“Rediscovering Expository Preaching” 14.
26Stott, Between Two Worlds 126.
Kembali kepada Khotbah Ekspositori 243
mungkin timbul dari khotbahnya, entah itu yang positif atau negatif,
bukan merupakan hal yang harus dipikirkan olehnya. Ia tidak perlu
kuatir tentang apa yang akan terjadi pada gereja atau pendengarnya,
sebab ia memberitakan firman Allah.27 Di sini kita dapat melihat tugas
seorang pengkhotbah dengan jelas. Ia hanya menyediakan bibir dan
lidahnya untuk menyampaikan firman Allah dengan benar. Hasil dari
pemberitaan tersebut merupakan bagian Allah.
Ketiga, ekspositori menunjukkan perangkap-perangkap yang harus
dihindari oleh para pengkhotbah. Stott melihat ada dua perangkap yang
dapat diwaspadai yaitu kelalaian dan ketidaktaatan. Ia mengatakan
bahwa seorang ekspositor yang lalai akan kehilangan pandangan teksnya
dengan berjalan pada suatu garis singgung dan mengikuti khayalannya
sendiri. Seorang ekspositor yang tidak setia nampaknya tetap tinggal
bersama teksnya, tetapi memaksakan dan merentangkan teks tersebut
ke dalam sesuatu yang sedikit berbeda dari makna asli dan naturalnya.28
Dengan adanya batasan yang diberikan oleh ekspositori, seorang
pengkhotbah akan dituntut untuk setia pada Alkitab dan tidak akan
mengkhotbahkan suatu berita yang bukan berasal dari Alkitab.
Keempat, ekspositori memberikan jaminan kepada jemaat bahwa
yang mereka dengar adalah firman Allah.29 Dengan jiwa dan filosofi
khotbah ekspositori, khotbah yang disampaikan dari mimbar jelas
merupakan suatu khotbah yang bersumber dari firman Allah. Hal ini
akan memberi dampak kepada jemaat yaitu mereka pun akan memiliki
kesetiaan kepada Alkitab, sehingga pertumbuhan rohani dalam jemaat
sangat dimungkinkan untuk terjadi. Hanya firman Allah sebagai
makanan rohani yang bisa membuat jemaat bertumbuh, bukan literaturliteratur
lain di luar Alkitab.
Kelima, ekspositori membuat jemaat membaca Alkitab mereka. D.
A. Carson melihat bahwa dengan khotbah ekspositori jemaat akan diajar
untuk membaca Alkitab mereka, sebab khotbah ekspositori bersumber
dari Alkitab. Secara khusus, jika kita mengambil suatu bagian Alkitab
yang agak panjang, khotbah ekspositori akan mengajar jemaat untuk
memikirkan bagian Alkitab tersebut, bagaimana mengertinya dan
mengaplikasikan firman Tuhan tersebut dalam kehidupan mereka.30 Hal
yang sama juga dilihat oleh Robinson. Ia mengatakan bahwa khotbah
ekspositori akan merefleksikan suatu bagian Alkitab bukan hanya sebagai
pesan utamanya, tetapi juga dalam pembuatan, tujuan dan keadaannya.
27D. A. Carson, “Accept No Substitutes: 6 Reasons Not to Abandon Expository
Preaching,” Leadership 17/3 (Summer 1996) 88.
28Stott, Between Two Worlds 129-30.

29Greidanus, The Modern Preacher 16.

30“Accept No Substitutes” 88.


244 Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
Akibatnya, jemaat bukan hanya belajar Alkitab melalui khotbah yang
mereka dengar, tetapi juga mereka dirangsang untuk mempelajari Alkitab
bagi diri mereka sendiri.31 Dengan demikian, khotbah ekspositori akan
membuat jemaat menjadi suatu jemaat yang aktif, tidak hanya mau
mendengar firman Tuhan melalui khotbah saja, tetapi juga melalui dirinya
sendiri yang dipacu untuk dapat memahami berita Alkitab tersebut.
Dari keuntungan-keuntungan yang ada di atas, penulis melihat
bahwa khotbah ekspositori memiliki kesetiaan kepada Alkitab, yang kalau
dikaitkan dengan reformasi gereja, bisa dikatakan khotbah ekspositori
juga menyerukan Sola Scriptura.
PENUTUP
Di dalam artikel ini, penulis telah mencoba untuk memberikan
pengertian tentang khotbah ekspositori, kepentingan serta
keuntungannya. Sehubungan dengan hal itu, penulis melihat ada
beberapa hal yang perlu kita renungkan dan lakukan bersama-sama.
Pertama, setiap pengkhotbah Kristen perlu untuk kembali
mengkhotbahkan khotbah ekspositori di mimbarnya masing-masing.
Melalui penguraian di atas, penulis melihat bahwa kesetiaan untuk
mengkhotbahkan Alkitab sebagai berita Allah untuk zaman ini
merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar dalam menghadapi abad
21. Dalam hal ini dituntut kesetiaan seorang pengkhotbah untuk
menguraikan berita Alkitab dan mengkhotbahkannya, bukan hanya
dipakai sebagai “pendahuluan” khotbah belaka.
Kedua, setiap pengkhotbah harus memiliki kesungguhan dalam
berkhotbah. Ia adalah juru bicara Allah yang harus sungguh-sungguh
mempersiapkan khotbah yang akan disampaikannya. Ia memikul
tanggung jawab ilahi untuk menyampaikan berita ilahi, demi kepentingan
ilahi. Oleh sebab itu, seorang pengkhotbah harus memiliki keseriusan
dalam menyiapkan dan menyampaikan suatu khotbah.
Ketiga, para pengkhotbah harus selalu bersandar kepada kuasa Roh
Kudus. Kuasa inilah yang membuat sebuah khotbah menjadi efektif dan
penuh kuasa. Persiapan yang memadai memang diperlukan, namun
kehadiran kuasa Roh Kudus tidak boleh dilupakan. Hanya Dialah yang
menjadi sumber kuasa khotbah. Lloyd-Jones pernah berkata bahwa ia
akan memilih untuk melupakan teks-teks khotbahnya jika perlu, agar
kuasa Allah lebih nyata dalam khotbah tersebut.32 Tentu saja ini bukan
berarti seorang pengkhotbah tidak perlu membuat teks khotbah. Yang
“What is Expository Preaching” 58
31

Preaching and Preachers 325.


32
Kembali kepada Khotbah Ekspositori 245

ingin ia katakan adalah kita harus selalu bergantung pada kuasa Roh
Kudus, bukan pada teks-teks khotbah. Teks khotbah memang
diperlukan, tetapi ia hanya merupakan suatu alat bantu dalam
berkhotbah, bukan yang menentukan efektivitas suatu khotbah. Oleh
sebab itu, sangat vital bagi seorang pengkhotbah untuk bersandar dan
bergantung pada-Nya.
Yang terakhir, sadarilah bahwa berkhotbah merupakan suatu tugas
yang mulia. Para pengkhotbah dipercaya untuk menjadi wakil Allah
dalam menjalankan misi Allah di dunia. Tugas tersebut bukan hanya
berdampak pada masa sekarang, tetapi juga di masa yang akan datang,
yaitu dalam kekekalan. Dengan demikian, tepatlah apa yang dikatakan
oleh Lloyd Jones, “The work of Preaching is the highest and the greatest
and the most glorious calling to which anyone can ever be called.”33
Ibid. 9.
33

Selain bentuk khotbah ekspositori, bentuk khotbah yang sering diterapkan di kalangan pembicara
adalah bentuk khotbah topikal dan tekstual.

I. Bentuk Khotbah Topikal


Khotbah yang dibangun dengan garis besarnya berdasarkan sebuah topik.

Cara membuat khotbah topikal:

1. Buatlah judul satu topik dalam sebuah kalimat pendek.


Contoh: Menguasai Diri
2. Buatlah pokok besar untuk menguraikan judul topik tersebut.
Ide pokok besar bisa dari penjelasan topik, bisa juga dengan menjawab pertanyaan.
3. Isilah pokok bestir dengan ayat pendukung.
Ayat dukungan harus sesuai isi pokok besar.
4. Berilah isian dalam setiap pokok besar.
Untuk menjelaskan pokok besar bisa diisi dengan uraian, tafsiran, ilustrasi, penerapan.
5. Buatlah pendahuluan dan penutup.
Membuat pendahuluan dan penutup sesingkat mungkin, tetapi menarik.

Contoh khotbah topikal (1)

Topik : Menguasai Diri


Ayat emas : "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya,
melebihi orang yang merebut kota" (Amsal 16:32).

Pendahuluan

Di antara sembilan buah Roh, salah satu di antaranya adalah menguasai diri. Menguasai diri
artinya kemampuan mengontrol, mengatur, mengendalikan diri sendiri.

1. Apa maksud menguasai diri?


1. Menguasai diri dari keinginan hawa nafsu (1 Korintus 7:9).
2. Menguasai diri dari karakter atau watak pribadi (Titus 1:8, 2:6).
3. Menguasai diri dalam segala hal (2 Timotius 4:5; Titus 2:6).
4. Menguasai diri dalam: makan, tidur, bekerja, berkata, di jalan, kelimpahan,
kekurangan, dan lain-lain.
2. Menguasai diri untuk apa?
1. Menguasai diri supaya bisa berdoa (1 Petrus 4:7).
2. Menguasai diri demi kepentingan bersama (2 Korintus 5:13).
3. Menguasai diri menurut ukuran iman (Roma 12:3).
4. Menguasai diri karena suara hati nurani (Roma 13:5).
5. Menguasai diri karena ada mahkota (1 Korintus 9:25).

Ilustrasi contoh buruk: Kain tidak bisa menguasai diri, sehingga membunuh adiknya
sendiri (Habel). Saul tidak bisa menguasai diri, sehingga sebagai seorang raja, memburu
anak menantunya (Daud) seperti memburu anjing, atau melenyapkan kutu? (1 Samuel
24:15).

3. Apa gambaran orang yang bisa menguasai diri?


1. Menguasai diri seperti pahlawan (Amsal 16:32, 25:28)
2. Menguasai diri seperti olahragawan (1 Korintus 9:25).
3. Menguasai diri seperti nahkoda (Yakobus 3:4).
4. Menguasai diri seperti pawang (Yakobus 3:8).

Ilustrasi: Dalam mobil, terdapat pedal gas dan pedal rem. Seorang pengemudi harus
bisa menguasai diri, kapan waktu yang tepat untuk menggunakan pedal gas dan pedal
rem tersebut, sehingga memperlancar perjalanan.
Kesimpulan:

Kedewasaan perilaku seseorang dapat dilihat taktala ia bisa menguasai diri. Ia seperti
pahlawan (Amsal 16:32), bukan seperti tembok yang mau roboh (Amsal 25:28). Dan, bagi
mereka yang dapat menguasai diri, tersedia mahkota (1 Korintus 9:25).

Contoh khotbah topikal (2)

Topik : Kamu Adalah Garam Dunia


Ayat emas : "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang" (Matius
5:13).

Pendahuluan

Menjadi garam bukan sebuah perintah, bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah ketetapan
(kodrat baru) bagi orang percaya. Tidak ada perintah: Jadilah garam dunia. Tidak ada
pertanyaan: Maukah jadi garam dunia? Yang ada adalah pernyataan: Kamu adalah garam dunia.

1. Menjadi garam adalah kodrat murid Kristus


"Kamu adalah garam dunia" (Matius 5:13).
Dua macam garam:
1. Garam Laut Mati
Luas Laut Mati 85x16 kilometer, dalamnya 491 meter. Disebut Laut Mati karena
hanya menerima aliran air, tanpa mengalirkan ke tempat lain. Airnya berasa pahit
atau asin. Lingkungan Laut Mati yang membahayakan kehidupan dipandang
sebagai kutukan dan melambangkan kesunyian maupun kerusakan. Sering disebut
dengan nama Laut Asin (Bilangan 34:12). Namun, banyaknya plankton
menjadikan kadar garam di laut mati enam kali lebih baik dibanding Danau
Galilea. Untuk membuat garam, air itu tidak perlu diberi campuran.
2. Garam Danau Galilea
Luas Danau Galilea 21x11 kilometer. Banyak ikan, dan sebagian besar murid
berasal dari daerah ini. Namun airnya tawar, dan mengandung kadar garam sangat
kecil, sehingga pembuatan garam sering dicampur dengan tepung. Dan, jika kadar
garamnya habis, yang tinggal adalah tepungnya (hilang asinnya).
2. Menjadi garam harus berfungsi
'"Kamu adalah garam dunia" (Matius 5:13). Untuk berfungsi garam harus, ditabur,
dilebur, dihanyutkan:
1. Sebagai bumbu masakan (Ayub 6:6).
2. Sebagai tanda perjanjian (Bilangan 18:19; 2 Tawarikh 13:5).
3. Sebagai pelengkap persembahan (Imamat 2:13).
4. Sebagai pupuk tanah (Lukas 14:34,35).
5. Sebagai pelarut kotoran dalam air (2 Raja-raja 2:2 1).
6. Mensterilkan tali pusar bayi (Yehezkiel 16:4).
Fungsi lainnya: Mengawetkan, membersihkan atau menyegarkan sayuran, mengusir
ular.

3. Garam bisa menjadi tawar


"Jika garam itu menjadi tawar" (Matius 5:13). Garam campuran bisa hilang asinnya.
Atau kalau kena panas atau angin akan luntur asinnya. Hasilnya? Tidak ada gunanya!
Selain diinjak-injak orang. Garam yang hilang fungsinya, tidak ada gunanya sama sekali.

Penerapan

Sebagai murid Yesus, kita digambarkan sesuai kebutuhan lingkungan. Kita adalah garam,
kita adalah terang. Prinsipnya, kita harus memengarui lingkungan, bukan dipengaruhi
lingkungan, sebab kita adalah manusia baru. "Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah
ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus
5:17).

II. Bentuk Khotbah Tekstual


Khotbah yang dibangun dengan garis besarnya berdasarkan sebuah teks ayat Alkitab.

Cara membuat khotbah tekstual:

1. Bacalah satu perikop atau nas secara berulang-ulang.


2. Dapatkan satu ayat kunci (ayat emas) dalam perikop tersebut.
3. Kupaslah ayat kunci (ayat emas) tersebut dalam beberapa pokok pikiran.
4. Pokok pikiran bukan hanya menjelaskan ayat tersebut, melainkan juga menjelaskan
perikop, sehingga ayat kunci tidak akan terlepas dari konteksnya.
5. Pokok pikiran tersebut disusun secara logis dan sistematis. Dan, perlu diperlengkapi
dengan uraian, definisi, ilustrasi, dan penerapan.
6. Buatlah pendahuluan dan penutup. Membuat pendahuluan dan penutup sesingkat
mungkin, tetapi menarik.
7. Sangat baik jika ayat kunci (ayat emas) dijadikan ayat hafalan.

Contoh bentuk khotbah tekstual (1)

Judul : Doa Pagi


Teks Ayat : "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi
ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana" (Markus 1:35).

Pendahuluan

Martin Luther mengatakan, "Doa adalah napas orang beriman." Alkitab mengatakan bahwa
kita harus berdoa tidak putus-putusnya (Efesus 6:18), tidak jemu-jemu (Lukas 18:1). Tetapi,
semua itu harus diatur. Lihat contoh doa pagi dari Tuhan Yesus.
1. Doa pagi waktunya perlu diatur
o Ada frasa "pagi-pagi benar" (Markus 1:35).
o "Hiduplah dengan penuh hikmat, pergunakanlah waktu yang ada" (Kolose 4:5).
o "Karena itu kuasailah dirimu dan waspadalah, supaya kamu dapat berdoa"(1
Petrus 4:7).
o "TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku
mengatur nersembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu" (Mazmur 5:4).
o "Berdoalah setiap waktu ... itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya"
(Efesus 6:18).
2. Doa pagi tempatnya perlu disediakan
o Ada frasa "Ia bangun dan pergi ke luar" (Markus 1:35).
o "Yudas, yang mengkhianati Yesus, tahu juga tempat itu, karena Yesus sering
berkumpul di situ dengan murid-murid-Nya" (Yohanes 18:2). Getsemani adalah
tempat rutin Yesus berdoa.
3. Doa pagi acaranya perlu disiapkan
Ada frasa "berdoa di sana" (Markus 1:35). Doa pagi memungkinkan kita berkonsentrasi
tanpa terganggu oleh hiruk pikuknya sekeliling kita. Pagi hari memungkinkan kondisi
fisik, emosi, pikiran kita masih segar, belum terforsir untuk hal lain, sehingga pada pagi
hari kita bisa berdoa dengan tenang, menyembah, memohon, dan berserah kepada Tuhan.
Acaranya bisa penyembahan, pujian, renungan, saat teduh, berdoa untuk keluargaa
gereja, dan syafaat, doa untuk pekerjaan (Mazmur 90:14, 5:4).

Ilustrasi: Menurut tradisi Yahudi, para pemuka agama Yahudi merasa malu jika
mendengar ayam berkokok lebih dahulu, sebelum mereka berdoa pagi. Seolah-olah ayam telah
lebih dahulu menyapa Sang Pencipta. Untuk itu, sebelum ayam berkokok, para pemuka agama
Yahudi menyediakan diri untuk berdoa. Doa pagi.

Penerapan: Aturlah waktu, pilihlah tempat, mari bersaat teduh, bersimpuh di hadapan
Tuhan.

Contoh bentuk khotbah tekstual (2)

Judul : Sikap Kita terhadap Firman Allah


Teks ayat : "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya
serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel" (Ezra 7:10).

Pendahuluan

Sekarang zaman informasi. Televisi, koran, internet, beritanya sangat sensasional, up to


date. Adapun Alkitab beritanya tidak berubah. Bagaimana sikap kita terhadap Alkitab?

Pendahuluan Sejarah

Israel dibuang ke Babel selama tujuh puluh tahun. Pada zaman Raja Koresy, mereka mulai
dipulangkan dalam tiga tahap. Dan, Ezra merupakan pemimpin tahap ketiga. Ezra merupakan
imam diaspora, kemudian menjadi imam di Israel. Pemimpin lainnya pulang untuk membangun
politik, bangunan, sosial, keamanan, dan lain-lain. Tetapi, Ezra bertekad lain.

1. Dimulai dengan tekad


"Sebab Ezra telah bertekad" (Ezra 7:10). Sebuah tekad. "Mencurahkan segala
perhatiannya" (BIS); "Membetulkan hatinya" (TL), bukan usaha emosional mendadak,
bukan otomatis, melainkan ada suatu usaha keras. Ia menjadi imam di Pembuangan.
Budaya Yahudi mengajarkan membaca kepada kita sejak kecil (Ulangan 6:6-9).
2. Ada usaha meneliti
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan" (Ezra 7:10).
Begitu pentingnya Firman Tuhan digambarkan dengan banyak hal:
o "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105)
o "Roti" (Matius 4:4).
o "Benih" (Matius 13:20)
o "Pedang bermata dua mana pun" (Ibrani 4:12).
o "Cermin" (Yakobus 1:23).
o "Air susu yang murni" (1Petrus 2:2).
o "Gada-Mu dan tongkat-Mu" (Mazmur 23:4).
o "Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya" (Amsal 30:5 ).
3. Ada bukti mempraktikkan
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya" (Ezra
7:10).
"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab
jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri" (Yakobus 1:22).
Ilustrasi empat sikap terhadap firman: Benih jatuh di jalan, di tanah berbatu, di tengah
semak duri, tanah yang baik (Matius 13:1-8).
4. Ada sukacita untuk mengajarkan
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya serta
mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel" (Ezra 7:10). Ada banyak metode
dalam Ulangan 6:6-9. Setiap keluarga bangsa Israel diwajibkan mengajarkan firman
Allah dalam setiap usia dan kegiatannya-melalui cerita, melalui lagu, melalui tulisan,
melalui percakapan, melalui SMS, melalui sarana formal (renungan, PA), dan
sebagainya.

Ada sebuah lingkaran yang tak terputus: Bertekad, meneliti, melakukan, mengajar firman Tuhan.
Dampak positif dari suka firman Tuhan

"Tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan
malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada
musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil" (Mazmur 1:2,3).

Diambil dari:

Judul buku : "Khotbah itu Indah Khotbah itu Mudah"


Penulis : Thomas Eny Marsudi
Penerbit : Gloria Grafika, 2010
Halaman : 278-286

5. SASARAN YANG HENDAK DICAPAI MELALUI KHOTBAH

1. Benih yang terpilih

# Menanamkan kebenaran-kebenaran yang teringat seumur hidup.

# Keseimbangan antara batu-batu fondasi dan batu-batu bangunan.

Tidak mengulang-ulang prinsip dasar terus menerus, tidak juga mengabaikan mereka

yang baru hadir.

2. Bukan untuk bela diri.

# Anda harus menang dahulu terhadap persoalan pribadi anda. Kemenangan itu yang

berharga untuk ditiru pendengar anda.


# Membeberkan persoalan anda dengan orang lain sering menjadi sumber gossip yang tak

sehat bagi jemaat.

3. Bukan untuk tembak orang lain.

# Khotbah tempelak bisa terjadi karena Roh Kudus yang memberi bahan secara murni,

bukan karena anda dengar masukan dari orang lain.

# Pelihara kekudusan mimbar dengan tidak mencela hamba-hamba Tuhan lain.

4. Bukan untuk orang lain bisa mengerti pergumulan pribadi anda.

# Menangkan perasaan tertolak atau kesepian sebelum anda naik mimbar. Anda adalah

representative Allah.

Maz 106: 32-33 Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena

celaka karena mereka; sebab mereka memahitkan hatinya, sehingga ia teledor dengan

kata-katanya.

6. PERSIAPAN-PERSIAPAN

1.

Terlalu banyak kesaksian dalam sebuah khotbah juga dapat membosankan

pendengar. Orang datang untuk mendengar Firman Allah. Kesaksian-kesaksian hanya

sebagai peneguhan dari Firman yang anda sampaikan.

2.

Pakai kutiban-kutiban yang benar dari Alkitab. Baca dahulu kutiban-kutiban itu

dengan teliti sebelum anda pakai sebagai ilustrasi.

Elia melawan para dukun……………………..?

Ketika Abraham keluar dari Mesir……………….

Wanita Samaria itu telah mempunyai empat suami dan yang kelima bukan suaminya
juga.

3.

Buat keseimbangan waktu antara pokok-pokok pembicaraan, jangan coba

memasukkan terlalu banyak bahan dalam satu khotbah. Empat atau lima point saja

biasanya sudah cukup untuk 60 sampai 75 menit.

4.

Tiap khotbah jangan lebih dari 75 menit.

5.

Menyebutkan pokok-pokok percakapan anda pada awal khotbah anda akan

membantu pendengar mengikuti arah pembicaraan anda dan memudahkan editing kaset

khotbah anda, kalau itu direkam.

6.

Susun khotbah anda secara sistimatik agar proses pemindahan fikiran anda jelas

dan maksimal. Anda harus menolong pendengar anda menyusun dengan teratur didalam

fikiran mereka.

7.

Bagi bahan khotbah anda menjadi beberapa blok dan beri alokasi waktu yang

masuk diakal dan secukupnya untuk menguraikannya sedemikian hingga anda tak

melanggar alokasi waktu itu ketika berbicara.

PRAKTEK

1.

Topic hari ini: Khotbah topical tentang Hidup berkemenangan !

Sampaikan Satu saja pokok fikiran dalam 15 menit.


7. BERKHOTBAH DENGAN KUASA

1. Keluar dari keyakinan pribadi

Mr 1:22 Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai

orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.

2. Pemberi bukti ( proof producer )

Mr 1:27 Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa

ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintah-Nya

dan mereka taat kepada-Nya."

3. Hanya Firman Allah yang murni

# Hindari apa kata koran hari ini, apa kata penyiar TV, apa kata theolog, apa kata Hamba

Tuhan lain.

4. Persekutuan Pribadi dengan Tuhan.

Acts 4:13 Now when they saw the boldness of Peter and John, and perceived that they

were uneducated and untrained men, they marveled. And they realized that they had been

with Jesus.

5. Pengalaman yang baru dengan Yesus

Mark 16:8 Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya

memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang

keselamatan yang kekal itu.

8. SUMBER-SUMBER INSPIRASI
1. Roh Kudus langsung.

# Ayat demi ayat langsung muncul dalam vision atau mental picture anda.

2. Konseling pribadi.

# Suatu conflict dalam konseling dan bagaimana Allah memecahkannya.

3. Pergumulan dan kemenangan pribadi.

# Konflik anda pribadi dan cara mencari jawaban dari Tuhan.

4. Situasi saat ini.

# Bersifat memberi penyuluhan atau mempersiapkan jemaat untuk menghadapinya

dengan iman.

5. Kebenaran-kebenaran baru.

# Jadikan hidupmu sendiri dan pelayananmu sebagai laboratorium hidup pekerjaan Roh

Kudus.

9. PENYAMPAIAN

1.

Langsung mulai dengan Firman Tuhan, hindari perkenalan yang bertele-tele atau

lelucon-lelucon yang tidak ada hubungannya. Apa berita utama ?

2.

Perulangan kata terlalu sering akan menjemukan pendengar.

3.

Buang kebiasaan mengucapkan suara-suara seperti : eeeee, mmmmm, apa itu-apa

itu, saudaraku, sesedaraku, sudareku !

4.

Jangan terlalu sering menggunakan kata-kata penekan seperti: amin! amin!, yah!,
yah! bener nggak? Ya nggak ……etc.

5.

Jangan terlalu sering memakai penekanan kata dengan suara tinggi pada setiap

akhir kalimat demi menuntut response pendengar.

6.

Menangis karena emosi anda tersentuh dalam suatu kesaksian adalah baik tapi

jaga agar tidak terus meledak tak terkendalikan. Belajar untuk menguasai diri sesegera

mungkin dengan menghela nafas panjang beberapa kali.

7.

Jangan memakai bahasa daerah atau dialek yang tak sesuai dengan lingkungan

pendengar anda. Misalnya memakai istilah-istilah bahasa Jawa ditengah-tengah orang

Batak tidaklah tepat.

8.

Jangan terlalu cepat melompat dari suatu pokok percakapan ke pokok yang lain,

itu membingungkan pendengar anda. Akibatnya anda akan kehilangan kontrol terhadap

konsentrasi mereka.

9.

Akhiri tiap kalimat sampai sempurna sebelum anda ganti kalimat lain.

10. Hindari menceriterakan ilustrasi atau ceritera-ceritera yang telah sering didengar

orang.

11. Bicara terlalu cepat cenderung memberi kesan bahwa anda tak terlalu yakin akan

apa yang anda percakapkan.

12. Pakai tatabahasa yang baik. Batasi pemakaian bahasa ‘slang’ hanya bila perlu sekali

untuk menekankan topic yang anda bicarakan.

13. Hati-hati mempergunakan bahasa asing, ucapkan dengan lafal yang benar dan
hanya kalau anda tahu betul artinya.

14. Jangan memasukkan terlalu banyak topik dalam satu khotbah. Ingat kemampuan

manusia untuk mengingat terbatas. Terlalu banyak yang harus diingat membuat mereka

lelah dan kehilangan minat. Khotbah anda malah menjadi mubazir.

15. Hati-hati dengan tekanan suara yang salah atau lagu membaca yang keliru. Beri

tekanan yang benar pada suku kata yang betul.

16. Lelucon yang tak ada sangkut pautnya dengan pokok pembahasan anda akan

mengganggu dan menyimpangkan konsentrasi pendengar.

17. Jangan-jangan-jangan pernah mengkritik ajaran pendeta lain, apalagi menyebut

nama-nama mereka diatas mimbar.

18. Nikmati khotbah anda sendiri, karena anda tak akan mampu membuat orang lain

menikmati khotbah anda lebih dari anda.

19. Bila pendengar tidak memberi response seperti yang anda harapkan, jangan-jangan-

jangan pernah marah atau menyalahkan mereka, salahkan dirimu sendiri yang kurang

mempersiapkan diri dengan baik.

PRAKTEK

1.

Topic hari ini: Khotbah Textual: Ibr 12:1-2

2.

Jangan lupa membuat rangkuman khotbah anda pada akhir khotbah

10. KUASA DALAM KHOTBAH

1. Urapan yang mengerjakannya


Kis 2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada

hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

# Urapan pertobatan di Pensacola.

# urapan yang mengalir dari pembicara.

# Urapan yang turun dari atas.

2. Team doa dan peperangan rohani

# Manado – pembersihan penguasa udara dan dibeli dengan darah Yesus.

# Christian – pendukung doa kecil.

3. Persiapan pribadi

# Christian dominion dan pengakuan Iman

# Doa puasa dan expectation.

11. MEMAKAI KONKORDANSI DAN BIBLE SOFTWARE

[Link]

# Membantu memilih topic yang tepat dengan ayat-ayat yang lengkap

# Cara memakai Strong Concordance & Dictionary.

2. Bible Software

# Mempercepat persiapan khotbah.

# Arti kata yang sebenarnya, Mencari ayat pembanding, Apa pendapat para akhli ?

# Opini Theologia sebagai pembanding.

12. BERCERITERA MEMBUTUHKAN BEBERAPA TEKNIK

1.

Bagaimana caranya agar tidak kehilangan jejak bila anda menyimpang dari
pembicaraan utama anda? Sebelum anda menyimpang, ingat baik-baik titik dimana anda

meninggalkan ceritera utama., seperti program computer yang hendak jump kedalam

subroutine. Ia menaruh catatan program counter dan stack pointer serta status kedalam

stack sebelum meloncat ke subroutine.

2.

Jangan pernah membicarakan persoalan pribadi anda terlalu banyak dan

berpanjang-panjang didepan jemaat karena mereka datang untuk mendengar firman,

bukan problem anda sampai yang sekecil-kecilnya.

3.

Perhatikan perpindahan suasana, dari ceritera yang sedih kedalam suasana yang

lucu, lakukan dengan logis, tidak berubah terlalu mendadak.

4.

Jangan menyebut terlalu banyak nama-nama orang sekaligus dalam sebuah kisah,

kemampuan mengingat nama-nama pendengar terbatas.

5.

Lebih baik pakai nama-nama palsu supaya pendengar anda bisa membedakan siapa

yang sedang anda maksudkan, sebagai ganti pakai ‘ia’, ‘dia’ dan sebagainya.

13. YANG MENARIK DAN YANG MEMBOSANKAN

1.

Kesaksian-kesaksian selalu menarik untuk didengar, asal tidak terlalu banyak.

2.

Jangan bicarakan hal-hal yang sudah biasa dan sering didengar orang.

3.

Mengulang-ulang hal yang tak penting hanya mengesankan pendengar anda bahwa
anda tak siap atau sedang kehilangan arah pembicaraan.

4.

Buat suatu pernyataan ( statement ) atau definisi dan ulang berkali-kali supaya

tertanam dalam sanubari pendengar anda.

5.

Sedikit lelucon disana sini akan melepaskan ketegangan dan menolong kembalinya

konsentrasi.

6.

Jangan membuat lelucon sama sekali bila urapan Roh Kudus sedang penuh !

7.

Pertanyaan-pertanyaan yang tepat membuat pendengar anda berfikir sebagai ganti

kebosanan karena terlalu panjang mendengar khotbah.

8.

Lukiskan gagasan anda! Ilustrasi, perumpamaan, pengalaman pribadi, pengalaman

orang lain adalah lukisan-lukisan khotbah yang menarik.

PRAKTEK

1.

Buat khotbah expository singkat tentang : Elia. Tidak perlu sampai sempurna

dan mendetail. Tapi usahakanlah membuatnya dari dalam diri anda sendiri hanya

berdasarkan Alkitab.

==========================================
CONTOH KHOTBAH EXPOSITORY

DIDASARKAN PADA INJIL YOHANES PASAL 1.

Saya paling suka berkhotbah dengan jenis Expository. Saya biasanya mengambil

bahan khotbah saya dari Alkitab secara langsung dan mengupasnya ayat demi ayat.

Keuntungan dari khotbah seperti ini adalah karena itu berisi kebanyakan Firman Allah

dan bukan manusia. Kemudian kalau anggota kita dibelakang hari membaca pasal atau

ayat-ayat itu kembali secara pribadi, mereka akan teringat beberapa hal yang kita pernah

khotbahkan mengenai nats itu, dan menyebabkan mereka mengulangi kembali dan

jadi lebih mendalam dan matang dalam kupasan yang pernah kita bawakan.

Saya akan kirimkan khotbah-khotbah saya yang berdasarkan Injil Yohanes, buku yang

saya paling sukai dan rasa paling penting untuk kita ketahui dan selidiki disamping

Daniel dan Wahyu. Dari permulaan sampai akhirnya Rasul Yohanes mengatakan bahwa

Yesus , Firman itu adalah Tuhan Allah. TEmanya dari pe=rtama adalah "Tengoklah

Yesus dari Nazaret, yang adalah Allah sendiri menjelma menjadi manusia!"

Pada ayat pertama saja dia langsung tanpa basa basi dan maaf serta dalih dengan tegas

memaparkan bahwa Kristus Yesus adalah Kalam dan Allah sendiri. Begitu seterusnya

dalam kitab Injil itu dia menyampaikan peristiwa-peristiwa sekitar pelayanan Tuhan

Yesus yang dia paparkan dengan hanya satu tujuan:

Yesus adalah Allah, dan kamu harus percaya kepadaNya supaya beroleh selamat! Beda

dengan Injil-injil lainnya, yaitu Matius, Markus dan Lukas, yang juga digolongkan

kepada Synoptic Gospel atau Injil sinoptis yang artinya: Ringkasan dan mempunyai

persamaan atau kemiripan. Jadi ketiga Injil yang terdahulu itu mempunyai persamaan
dalam isinya, tapi Injil yang keempat itu ada menyimpang dari kebiasaan menulis

dizaman itu dan dengan lantang langsung membeberkan temanya: Yesus adalah Allah,

tengoklah kepadaNya supaya kamu percaya dan boleh selamat! Yohanes juga adalah

murid Tuhan Yesus yang paling akrab dengan Dia, sehingga digelar murid yang terkasih,

atau dikasihi. The Beloved Disciple. Selain dari Paulus, Yohanes adalah yang kedua

terbanyak menulis buku dalam Alkitab, yaitu Injil Yohanes, 1 Yohanes, 2 Yohanes, 3

Yohanes dan Wahyu. Dalam semua tulisannya itu, kata "Tengoklah!" menjadi ciri yang

khas.

Pada penutup bukunya Yohanes menegaskan apa maksudnya menuliskan buku itu:

20:30 Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-

Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,

20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa

Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh

hidup dalam nama-Nya.

Berbeda dengan ketiga penulis Injil yang mendahuluinya Yohanes tidak

merasa perlu untuk menceritakan silsilah Tuhan Yesus, atau mengenai

tempat dan cara kelahiranNya, masa kanak-kanakNya, pencobaanNya,

pengangkatan murid-muridNya, saat Dia dipermuliakan diatas bukit,

perumpamaanNya, kenaikanNya kesorga, atau Amanat Agung yang

diberikanNya kepada murid-muridNya.

Bagi Yohanes Yesus adalah Pencipta, Allah yang kekal, yang selalu ada
sejak dari permulaan dan tidak ada akhirnya. Dia adalah Firman yang

penuh kuasa yang dengan mengucapkan sepatah saja, maka semuanya

bermunculan. Dia adalah Pembuat mujizat yang mengherankan. Dia adalah

Allah yang tak terbatas kuasanya. Dari 8 mujizat yang disebutkan dalam

buku itu, 7 diantaranya hanya ada didalam Injil Yohanes dan tidak muncul

dalam Injil-injil lainnya. Begitu pula dengan percakapan Yesus dalam pasal

14 sampai 17, itu hanya terdapat dalam buku Yohanes, dan tidak terdapat

dalam buku lainnya. Malah boleh dikata 90 persen dari isi Yohanes itu

hanya ada disitu, dan tidak disebutkan penulis Injil lainnya.

Buku ini kemungkinan telah dituliskan pada saat mendekati akhir hidupnya,

yaitu sekitar tahun 85 - 90 TM. Ini dituliskan sesudah terjadi kehancuran

dari kota Yerusalem dan sebelum dia dibuang ke Pulau Patmos.

Kitab ini boleh dibagi menjadi tiga bagian:

I. (Yohanes 1:1-2:11) Kelahiran dan Persiapan Yesus Anak Allah dalam

palayananNya sebagai Messias.

II. Yohanes 2:11-12:50) Pekabaran dan Pelayanan Yesus sebagai Anak

Allah.

III. Yohanes 3:1-21:25) Kematian dan Kebangkitan dari Yesus sebagai

Anak Allah.

Yohanes memulaikan dengan mengingatkan pembacanya bagaimana langit


dan bumi ini diciptakan oleh Firman dan hanya dengan bersabda saja.

Kemudian dia langsung perkenalkan bahwa yang menjadi Pencipta alam

semesta ini kemudian, menjelma dengan secara ajaib, lahir menjadi manusia

biasa, yang terdiri dari darah dan daging, dan memilih untuk tinggal diantara

kita diatas dunia ini.

Setelah memaklumkan siapa Yesus sebenarnya dari semula, yaitu Allah

Pencipta semesta alam ini sendiri, walaupun telah dilahirkan diantara

manusia dan mengenakan tubuh fana seperti manusia, dia langsung

membuktikan bahwa Yesus itu adalah Allah.

Buku Injil Yohanes sungguh merupakan suatu buku yang penuh dengan

action. Kita seolah-olah diajak olehnya keatas panggung sandiwara dan

dengan bangga dia menunjukkan pemegang peranan pentingnya, atau

hoofdrollnya, bintang utamanya dan dengan berapi-api dia memberikan

narasinya dengan berkata: Nah, tengoklah, bukankah Dia itu satu-satuNya

Messias yang dijanjikan akan datang? Dia adalah Allah sendiri.

Walaupun dia katakan bahwa mujizat yang pertama itu dibuat oleh Yesus

di Kana dan dicatat pada pasal ke 2. Namun dari pertama Dia sudah

menyebutkan temanya bahwa Yesus yang diperkenalkannya itu adalah

Allah, tidak mungkin manusia belaka.

Dia sebutkan bagaimana Yohanes Pembaptis, yaitu gurunya sendiri


sudah mengumumkan kepada orang banyak dengan kesaksiannya yang

tidak terdapat keragu-raguan sedikitpun bahwa Yesus yang telah datang

kepadanya untuk dibaptiskan itu tidak lain dari Allah sendiri, dan bahwa dia

adalah sang Pembaptis itu hanyalah satu suara yang memberikan kesaksian

dan mempersiapkan jalanNya.

Walaupun Yohanes menuliskan bukunya lebih dari setengah abad kemudian,

tapi peristiwa yang terjadi itu masih sangat jelas pada ingatannya seolah-

olah baru terjadi sehari sebelumnya. Dia masih ingat dengan sangat terang

bagaimana gurunya Yohanes Pembaptis telah membaptiskan Yesus disungai

Yordan dan mengumumkan kepada khalayak ramai keesokan harinya

bahwa Dialah Anak Domba Allah yang mengangkat dosa seisi dunia.

Karena seruannya yang menggemparkan itu, menyebabkan Yohanes dengan

kawannya Andreas telah mengikuti Yesus dari belakang, ingin berkenalan

lebih jauh dan menjadi muridNya yang pertama.

Terngiang terus ditelinganya ucapan dari gurunya, ketika Yohanes

Pembaptis itu ditanya oleh orang-orang Lewi dan imam-imam yang

mendatanginya. "Siapakah anda ini?" tanya mereka. "Apakah anda Messias

itu? mengapa anda membaptiskan orang disungai ini?"

Yohanes menjawab bahwa dia bukan Messias dan bukan pula Elia bahkan

bukan Nabi. Dia hanyalah seorang yang menjadi penyedia jalan atau satu

suara yang berseru-seru untuk mempersiapkan kedatangan Raja itu. Apa

yang dikatakan oleh Yohanes adalah sebagai suatu pekerjaan sederhana


dan seorang yang biasanya diutus kesebuah desa yang akan dikunjungi

oleh seorang raja di zaman dahulu. Orang itu bertugas menyampaikan

berita bahwa raja akan berkunjung ketempat mereka, dan supaya penduduk

menyediakan jalan supaya rata dan tidak berlubang-lubang dan berbatu-batu

yang sulit dilalui oleh para pengusung usungannya ataupun kereta kuda yang

akan ditungganginya.

Yohanes Pembaptis mengutip dari buku nabi Yesaya yang terdapat pada

pasal 40:3-5.

40:3 Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk

TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!40:4 Setiap

lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-

bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi

dataran;40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia

akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya."

Orang-orang Lewi dan imam-imam sebagai penyelidik yang dikirim dari Yerusalem

untuk mengecek siapa sebenarnya Yohanes Pembaptis dan apakah yang

diajarkannya sehingga mereka mendengar bahwa banyak orang yang telah

menjadi pengikutnya. Mereka menanyakan siapa dia sebenarnya, tapi Yohanes

Pembaptis tidak mau menjawab dengan terus terang. Dia hanya menyatakan

ketidak layakannya untuk menjadi seorang hamba dari Messias itu pun. Malah

dia hanya mau meperkenalkan siapa Kristus yang dia persiapkan jalanNya. Dia

katakan: "Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku
akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku."

(Yohanes 1:15) Seolah-olah Yohanes Pembaptis berkata: Siapa aku ini tidaklah

penting sama sekali. Tapi siapa Dia yang kukabarkan adalah yang paling penting.

Siapa aku ini tidak akan mempengaruhi kehidupan kamu, tapi Dia itulah yang

penting kamu pelajari dan percayai serta terima untuk mendapat pengampunan

dosa dan kehidupan yang kekal. Dialah esensi dari semua persembahan bangsa

Israel selama 1500 tahun ini, bahkan sejak dari permulaan alam. Dialah Anak

Domba Allah yang tersembelih untuk kita. Dialah benih perempuan yang dijanjikan

dalam Kejadian 3:15 itu.

Bayangkan anda hidup pada zamannya Yohanes Pembaptis. Kira-kira apa yang

tersebar sebagai desas desus di gereja anda? “Saudara, apakah sudah mendengar

mengenai itu pengkhotbah aneh di padang belantara disamping sungai Yordan? Dia

katakan bahwa Messias yang kita tunggu-tunggu itu sudah hampir tiba, dan bahwa

kita harus bertobat.” Ditambah dengan keanehan pakaiannya, dan makanannya,

dan tegurannya yang sangat berani bahkan sampai tidak gentar dan segan-segan

menegur raja Herodes yang telah berzinah memelihara isteri dari saudaranya

sendiri. Ini telah membuat kehebohan dan menjadi bahan perbincangan dimana-

mana, dan menimbulkan perasaan panasaran masyarakat untuk pergi ke tepian

sungai Yordan yang di Bethany.

Yohanes Pembaptis mengerti benar akan tugasnya sebagaimana diceritakan

kepadanya oleh orang tuanya, bahwa dia telah disisihkan sejak sebelum lahir pun,

untuk satu tugas khusus, mempersiapkan tanah hati bangsanya untuk menyambut
kedatangan Messias. Dia tidak memikirkan kenyamanan dirinya sendiri, tidak

perduli dengan pandangan orang lain terhadap dirinya. Tidak mau berkompromi

dengan dosa dan tidak gentar meletakkan nyawanya sekalipun.

Sama seperti nabi Elia dizaman dahulu. Dia pun tidak takut langit akan runtuh

diatas kepalanya. Baginya tidak ada jalan tengah, tidak ada warna kelabu. Dia

tidak peduli apa yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin agama. Dia berani berdiri

sendiri, sama seperti Elia yang menjadi renungan dan panutannya. Rakyat ataupun

raja dia lakukan sama.

Tuhan Yesus tidak menjanjikan jalan kita akan bertaburan dengan bunga

mawar. Dia katakan jalan orang benar itu sukar, curam dan berbatu-batu. Dia

amarkan bahwa akan ada penganiayaan dan ancaman bahaya kematian. Dia

perintahkan kita mengangkat salib, bukan mengangkat piala penghargaan dunia,

melainkan palang penderitaan. Tapi hidup ini bukanlah hidup yang sebenarnya

kecuali kita menurut perintahNya dan melakukan kehendakNya. Dunia berlalu

begitu cepat. Umur manusia begitu singkat. Senyaman-nyamannya, dan

semakmur-makmur masih diselingi penderitaan. Lebih baik tidak pernah hidup

didalam dunia ini daripada memiliki semuanya yang dapat ditawarkan, tapi tidak

boleh melanjutkan dalam dunia yang baru.

Bagi Yohanes Pembaptis lebih baik menderita terus dari lahir sampai mati,

hidup sengsara tidak punya apa-apa di padang belantara, terpencil dan terpisah

dari semua. Baginya setiap hari hanyalah untuk melakukan perintah Tuhan,

menyerukan sabdaNya, walaupun dianggap orang gila atau apa pun juga.
Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa dari antara orang yang dilahirkan oleh

seorang perempuan tidak ada yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis bukan Terang itu. Dia hanya lampu atau pelita kecil yang

digunakan untuk menuntun orang yang berjalan dalam kegelapan sehingga tiba

pada fajar yang menyingsing dipagi hari dan berubah menjadi siang yang terang

benderang. Pada saat mana pelita atau suluh yang kecil itu tidak diperlukan lagi.

Dia insyaf akan hal itu. Dia tahu setelah tugasnya selesai, dan setelah Dia yang

dipersiapkan jalanNya itu tiba, maka dia harus mengundurkan diri. Dia harus

berkurang-kurang dan Terang itu harus bertambah-tambah menjadi cerah dan

benderang selamanya. Dia tahu murid-muridNya seperti Yohanes dan Andreas

akan meninggalkan dia untuk mengikuti Yesus. Dia tidak merasa sakit hati, malah

dengan bersuka dia memperkenalkan Yesus yang dia telah rintis jalanNya. Dengan

penuh kesukaan dia berseru: ”Tengoklah Anak Domba Allah yang mengangkut dosa

seisi dunia. Dia tahu tugasnya hanya mempersiapkan hati mereka dengan basuhan

air. Tapi Yesus telah datang dengan tugas yang lebih besar, membaptiskan mereka

itu dengan Roh Kudus.

Yohanss Pembaptis hanya menjadi ”saksi”, hanya sebagai suara yang berseru

dipadang belantara. Hanya kalau kita insyaf akan hal ini, bahwa kita hanya

memantulkan cahaya dari Yesus, sebagai reflektor lampu, dan bukan lampunya

sendiri. Kita hanya sebagai alat yang dimaksudkan untuk menyampaikan Pemberian

dari Sorga itu.

Berbeda dengan Simson yang juga dipersiapkan sejak dari saat mulai dikandung

untuk menjadi azis Tuhan. Malah pada saat itu, Yesus sendiri yang datang
menyampaikan kabar tentang kelahirannya kepada ibu dan bapanya, dan bukan

hanya malaikat Gabriel yang mendatangi Elizabeth, ibu dari Yohanes Pembaptis.

Namun demikian Yohanes Pembaptis memusatkan perhatiannya hanya kepada

tugasnya sebagai utusan Allah. Sebaliknya Simson hanya memikirkan wanita cantik

saja. Kiranya kita boleh menjadi sama seperti Yohanes Pembaptis dan Elia. Kedua-

duanya mempunyai sifat yang sama. Berdedikasi penuh atas tugas yang telah

ditanggungkan kepada mereka. Kedua-duanya tidak gentar terhadap ancaman

manusia, walapun benar pada saat yang terakhir ada juga keragu-raguan sedikit

pada keduanya. Ini adalah menyatakan bahwa mereka adalah manusia biasa yang

tidak luput dari godaan Setan tapi menang pada akhirnya. Nabi Elia dianggap layak

untuk diangkat hidup-hidup dan langsung bergaul dengan para malaikat disorga,

sedangkan Yohanes Pembaptis mengalami nasib yang lebih buruk tampaknya.

Namun sebenarnya dalam penyampaian tugasnya yang begitu singkat, berhasil

mendapat penghargaan dari Tuhan Yesus sendiri yang menyebutkannya sebagai

seorang yang terbesar dari semua yang pernah menjadi bayi dan dilahirkan ibunya.

Semoga kita boleh mengikuti teladan keduanya, apa pun yang akan terjadi kepada

kita. Baik kita akan hidup sampai pada akhirnya dan diangkat hidup-hidup seperti

nabi Elia, atau mengalami kematian dipancung kepala kita atau cara sahid yang

lain, tapi kalau kita setia sampai pada akhirnya, mahkota kita tidak akan berpindah

keatas kepala orang lain. Dan kita tidak akan menyesal tak berguna karena

menyangkal Dia dalam menghadapi ancaman maut.

Kalau kita mempunyai sikap dan dedikasi seperti Yohanes Pembaptis, tidak dapat

ditawar atau dibeli dengan apa pun, tidak bergeming menghadapi ancaman maut
dan kematian yang paling mengerikan pun, tetap gamblang menyampaikan

pekabaran yang diletakkan pada lidah kita untuk disampaikan, maka dimanapun

kita berada, bahkan dipadang belantara yang terpencil, orang akan datang mencari

kita untuk mendengarkan khotbah kita. Tapi kalau kita tidak mempunyai tekad dan

penyerahan seperti Yohanes Pembaptis, maka kita hanya akan menjadi seperti gong

yang gemerincing tetapi kosong melompong, tak ada isinya, dan tak berarti pada

pemandangan sorga

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik)


Book Review
This entry was posted on January 23, 2012, in Book Reviews and tagged Bagaimana Berkotbah, Cara
Berkotbah, Cara Berkotbah yang Baik, Expository Preaching. Bookmark the permalink. Leave a comment

Expository Preaching (Cara Berkotbah yang Baik) adalah sebuah

karya yang luar biasa yang dirumuskan dari pengalaman mengajar Homiletika Haddon W.

Robinson selama kurang lebih sembilan belas tahun di Dallas Theological Seminary. Dalam

bukunya kali ini, ia mencoba menyampaikan sebuah metode berkotbah yang Alkitabiah dan di

dasari oleh teori-teori Homiletika yang mendalam namun disertai dengan cara-cara penerapan

yang praktis.

Robinson, sesuai dengan pengalamannya sebagai Guru Besar Homiletika, mampu menyajikan

uraian-uraian yang sistematis, namun juga sederhana dalam arti sangat mudah dipahami oleh
pembaca. Apalagi ia juga langsung memberikan contoh-contoh untuk menjelaskan lebih lanjut

setiap poin pembahasannya. Dalam buku ini, ia secara eksplisit juga menekankan akan “the

spirit within” dari dua aspek utama dari penyampaian Firman Tuhan, yaitu: Firman Tuhan dan

Pengkotbah itu sendiri.

Oleh sebab itu dalam penjelasannya, ia bukan sekedar menyampaikan metode atau bagaimana

cara berkotbah yang baik itu dalam pengertian pelaksanaan kotbah itu sendiri yaitu di mimbar,

namun lebih kepada proses pergumulan yang mendalam, menyeluruh terhadap Firman Tuhan

yang benar-benar harus dihayati oleh Pengkotbah di dalam kehidupannya.

Buku ini menjelaskan tentang kotbah dalam pengertian kotbah ekspositori, yang memang bagi

sebagian orang tidak begitu populer. Oleh sebab itu Robinson justru mencoba memberikan suatu

pengantar yang sangat terperinci dan alkitabiah mengenai kotbah ekspositori, yang baginya

merupakan kotbah yang berisi kebenaran Firman Tuhan yang disertai dengan otoritas ilahi.

Jadi kotbah ekspositori merupakan sebuah komunikasi yang berasal dari suatu proses

pengintegrasian dari studi yang mendalam mengenai Alkitab baik secara historis, gramatikal,

maupun konteks yang harus dialami dulu oleh pengkotbahnya dan kemudian baru diterapkan

kepada pendengar, sesuai dengan pimpinan Roh Kudus. Menurut Robinson, proses ini dimulai

dari pemahaman akan teks dari perikop yang dipilih yang nantinya akan memberikan suatu

konsep tertentu.

Konsep inilah yang menurutnya disebut konsep Alkitabiah yang kemudian harus dihayati dan

diterapkan pertama oleh pengkotbah dan pada pendengar. Selanjutnya menurut Robinson,

kotbah ekspositori harus difokuskan pada satu ide (ide tunggal), yaitu ide yang muncul dari

proses pergumulan hidup pengkotbah bersama dengan Tuhan, yang mana akan menghasilkan

suatu konsep Alkitabiah yang berkuasa untuk menegur dan menguatkan jemaat sebagai

pendengar.

Oleh karenanya sangat penting bagi pengkotbah untuk mengembangkan wawasan, imajinasi dan

kepekaan rohaninya sebagai sebuah proses yang dinamis. Proses ini merupakan penggabungan

dari pergumulan yang erat dengan Tuhan maupun dengan menggali Alkitab dengan bantuan

alat-alat yang ada (Alkitab, Leksikon, Konkordansi dll). Semua ini akan dapat dipakai Allah untuk

membangkitkan ide-ide dasar dari kotbah ekspositori yang Alkitabiah tersebut.


Setelah menguraikan bagian-bagian mendasar seperti di atas, Robinson dalam bukunya ini juga

menjelaskan akan kekuatan sebuah tujuan di dalam menghasilkan kotbah yang [Link]

setelah itu ia membahas secara teknis bagaimana membedakan jenis kotbah, bagaimana

menyusun outline kotbah yang berisi dan menghidupkan. Dan pada akhirnya ia menutup

penjelasannya dengan menguraikan aspek-aspek yang sangat penting dan praktis berkaitan

dengan penyampaian kotbah itu sendiri yaitu di mimbar.

Pengalaman-pengalaman inilah yang pada akhirnya coba dibagikan oleh Robinson dalam buku

ini. Pemahaman yang ditulis bukan dari pemahaman teori saja, namun lebih kepada sebuah

perjalanan panjang seorang pendengar kotbah, dan seorang pengajar Homelitika.

Dari sisi kedalaman isi dan sistematika penulisan, serta cara penyampaian, buku ini patut

diacungi jempol, karena mampu menggabungkan dengan sangat baik tentang teori-teori

Homiletika yang mungkin sangat monoton dengan gaya penyampaian yang segar dan

sederhana, sehingga menjadikan buku ini sangat mudah dibaca dan tidak membosankan.

Selain itu, penjelasan Robinson dalam buku ini tentu saja sangat efektif, karena telah diuji

waktu dan berdasarkan pengalaman yang kompeten di bidangnya. Oleh sebab itu sesuai dengan

judulnya, Robinson telah berhasil menguraikan dengan sangat jelas, ringkas dan kompeten

dalam kaitan dengan Homiletika, yaitu mampu menjadi sumber inspirasi yang dalam, sederhana

dan praktis.

Dalam hal ini saya setuju dengan pendapatnya yang terdapat di dalam bagian pendahuluannya

yang sangat mencerminkan suatu inti pemahaman yang ingin disampaikannya dalam kaitan

dengan penerapan praktis kita sebagai pengkotbah, “Namun untuk menjadi alat yang demikian

(Pemberita Firman Tuhan), pembaca perlu mempersembahkan dirinya sendiri terlebih dahulu-

hidupnya, wawasannya, kedewasaannya, imajinasinya, dan dedikasinya.” (hlm.3).

Christopher Andios

Rate this:

[Link] Pertama,80 % mengatakan khotbah adalah

menyampaikan isi hati Tuhan yang dalam Alkitab, pesan yang


disampaikan berkaitan dengan suatu masalah yang menarik perhatian saat

itu yang dialami oleh pendengarnya.

Hamba Tuhan dan Khotbah

Salah satu sumbangsih Teologia Reformed yang memberikan pengaruh

besar bagi gereja-gereja (termasuk yang bukan gereja Reformed) adalah

penekanannya yang sangat kuat dalam "pelayanan Firman". Menurut

Rev. Yap Un Han, Th.M. yang menekankan urgensi dan keseriusan

tugas "berkotbah".dalam kaitan antara Hamba Tuhan dengan Khotbah

Tugas apakah yang terpenting bagi seorang hamba Tuhan? Berdasarkan

pengalaman penulis selama 56 tahun, penulis mengambil kesimpulan

bahwa tugas yang terpenting dari seorang hamba Tuhan adalah

menyampaikan Firman (berkotbah). Jika seorang hamba Tuhan tidak

menyampaikan Firman, maka ia ibarat seekor kucing yang tidak mau

menangkap tikus, seekor anjing yang tidak mau menjaga pintu, sehingga

ia kehilangan fungsi dan tugasnya yang terpenting.


Dari pengamatan selama puluhan tahun, penulis ditemukan banyak

sekali hamba Tuhan yang hanya berkhotbah satu kali sebulan dalam

Kebaktian Hari Minggu di gerejanya dan jika sudah ditahbiskan menjadi

pendeta, maka akan ditambah dengan khotbah pendek sebelum

Perjamuan Kudus. Selebihnya selama tiga minggu gereja mengundang

para dosen teologia, pimpinan organisasi rohani, pendeta yang sudah

pensiun atau tamu yang kebetulan lewat untuk mengisi mimbar gereja.

Gereja-gereja yang demikian ini, secara umum pasti tidak mempunyai

program tema khotbah dan karena pengkhotbahnya terlalu sibuk maka ia

selalu menyampaikan khotbah yang sudah pernah disampaikan sehingga

penyampaiannya tidak lagi sesuai kebutuhan dan akibatnya anggota

jemaat tentu tidak memperoleh apa-apa dari khotbahnya.

Memang diakui bahwa menyiapkan naskah khotbah tidak mudah.

Apalagi naskah khotbah yang bisa mencukupi kebutuhan anggota

jemaat, ini akan jauh lebih sulit. Penulis ingin membagikan pengalaman

masa lalu yang cukup pahit. Pada waktu itu penulis memegang jabatan

rangkap, disamping menjadi pendeta gereja juga menjadi dosen di


sekolah teologia. Tugas "berkhotbah" penulis rasakan sebagai suatu

beban yang berat. Jika Minggu itu kebetulan ada pendeta lain yang

sedang lewat dan dapat diundang untuk berkhotbah, maka penulis

merasa seperti baru saja terlepas dari pikulan yang berat dan sepanjang

minggu itu, khususnya malam minggu, hati merasa ringan dan enak

sekali.

Seorang hamba Tuhan yang dipanggil untuk menggembalakan, ia

sebenarnya bukan saja bertanggung-jawab terhadap Tuhan dan

bertanggung-jawab kepada gereja yang digembalakan tetapi ia juga

bertanggung-jawab kepada ribuan jiwa yang belum diselamatkan.

Menurut hemat penulis, tugas penting seorang hamba Tuhan dalam

menggembalakan sidang adalah "menyampaikan Firman" (berkhotbah).

Hamba Tuhan yang menjadi gembala lebih mengetahui kebutuhan dari

anggota jemaat dari pada pendeta tamu. Rasul Paulus menganggap

hubungannya dengan anggota jemaat adalah seperti hubungan seorang

ibu dengan anaknya. Ia pernah berkata kepada anggota jemaat di

Tesalonika, "Tapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti


seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya" (1 Tes. 2:7). Tugas

seorang ibu adalah menyusui bayi, dan ia tidak akan mengizinkan ibu

lain untuk menggantikan tugasnya. Demikian juga, seorang hamba

Tuhan yang bertanggung-jawab, ia akan menganggap bahwa

"berkhotbah" adalah tugas yang mendesak, sehingga ia tidak akan

dengan mudah dan sembarangan menyerahkan tugas mimbar kepada

orang lain. Ia akan secara sistematis, berdasarkan kebenaran Alkitab dan

sesuai dengan kebutuhan gereja dan masyarakat, mengajar dan membina

para anggota jemaatnya.

URGENSI KHOTBAH

Mantan pendeta yang telah melayani selama 30 tahun di Westminster

Chapel, Inggris, Dr. Martyn Lloyd-Jones, dalam bukunya yang berjudul

"I Believe in Preaching" mengatakan, "Menurut hematku, 'berkhotah'

adalah jabatan yang paling agung dan mulia dari semua jabatan yang

ada. Jika anda mau lebih mengetahui hal ini, maka aku tanpa ragu-ragu

mengatakan bahwa kebutuhan yang mendesak dari gereja-gereja Kristen

adalah khotbah yang benar dan sejati." Lebih lanjut ia mengatakan,


"Pekerjaan 'penyampaian Firman' tidak dapat dibandingkan dengan

pekerjaan apapun yang lain. Berkhotbah adalah pekerjaan yang terbesar,

yang patut digandrungi, yang patut dipuji, yang patut dikerjakan dan

pekerjaan yang paling ajaib." Apakah pernyataan Dr. Lloyd-Jones ini

berlebihan? Jawaban penulis adalah, "Tidak!".

Dalam bukunya yang berjudul "History of Preaching, E. C. Dargon

mengatakan, "Berkhotbah adalah unsur dan ciri penting dari agama

Kristen." Lebih lanjut ia mengatakan bahwa "Khotbah" adalah ciptaan

dari agama Kristen. Mengapa demikian? Ia mengatakan, "Karena

Pendiri Agama Kristen adalah seorang 'Pengkhotbah'. Baik

pendahuluNya, yaitu Yohanes Pembaptis maupun penerusNya, yaitu

para rasul, semuanya adalah pengkhotbah yang menyampaikan Firman

Allah. Sebab itu, khotbah yang mengajar dan memproklamasikan

Firman Tuhan, merupakan karakteristik dasar yang tidak berubah dari

agama Kristen."
Injil Matius 9:35, "Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan

desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil

Kerajaan sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan."

Dengan berdirinya gereja hasil Pentakosta, para rasul disibukkan dengan

urusan sosial, akhirnya mereka meminta pada anggota jemaat, agar

mereka dilepaskan dari tugas sosial, sehingga dapat mengkonsentrasikan

diri pada doa dan khotbah (Kis. 6:4).

Setelah itu, rasul Paulus yang dikenal sebagai rasulnya orang kafir, juga

berpendapat bahwa tugas "berkhotbah" itu sangat penting. Ia

mengatakan bahwa Kristus mengutusnya bukan untuk membaptis,

melainkan untuk mengabarkan Injil. Ia menekankan bahwa "berkotbah"

adalah model yang ditentukan Tuhan agar orang berdosa mendengar

berita Injil dan dapat diselamatkan. Paulus dengan nada tanya, berkata,

"Bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak

percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika

mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar

tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya." (Rom. 10:14). Ia


bersaksi di dalam 2 Timotius 4:6, "Mengenai diriku, darahku sudah

mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah

dekat." Waktu menjelang ajalnya, ia merasa perlu menyampaikan pesan

terakhirnya kepada Timotius. Apakah pesan terakhirnya itu? Tidak lain,

yaitu: "Beritakanlah Firman, siap sedialah baik atau tidak baik

waktunya...." (2 Tim. 4:2)

Mari kita membaca sejarah dan mendengarkan apa yang disampaikan

oleh orang yang dipakai Tuhan tentang urgensinya "khotbah".

Reformator Martin Luther mengatakan, "Keberadaan dan hidup gereja

adalah bersandarkan pada 'Firman' yang penuh berisi perjanjian Tuhan

dan karena "Firman' inilah gereja didirikan, dibina dan bertahan. Lebih

lanjut ia mengatakan, "Jiwa roh manusia, boleh tidak diisi oleh apapun,

tapi tidak bisa jika tidak diisi oleh 'Firman Tuhan'.... dengan adanya

'Firman Tuhan' ia menjadi kaya dan tidak kekurangan apapun". Luther

berpendapat bahwa "penyampaian Firman" tidak dapat ditawar-tawar,

karena dengan menyampaikan tentang Kristus, berarti memberi makan

pada jiwa roh manusia.


Yohanes Kalvin juga sangat menitik-beratkan Firman Tuhan. Ia

menekankan bahwa ciri gereja yang sejati adalah kesetiaannya dalam

menyampaikan Firman Tuhan. Ia mengatakan, "Di mana saja, asal

Firman Tuhan dijaga kemurniannya, lalu dikabarkan, diterima dan

Perjamuan Kudus dilaksanakan sesuai dengan yang diadakan oleh

Tuhan, maka di sana pasti gereja Tuhan itu eksis."

Pendiri gereja Methodis, John Wesley dalam buku hariannya menulis,

"Aku dilahirkan adalah untuk menyampaikan Firman Tuhan." Pada usia

yang ke 86, ia pernah berkunjung ke Irlandia memimpin Kebaktian

Kebangunan Rohani. Ia menggunakan waktu selama sembilan minggu,

mengunjungi 60 kota dan desa dan berkotbah sebanyak seratus kali dan

enam kali berkotbah di lapangan terbuka.

Meskipun kita tidak menyetujui pandangan teologia Karl Barth, tapi

kesaksiannya tentang penyampaian Firman Tuhan perlu kita dengar. Ia

mengatakan, "Semua orang mengakui bahwa tidak ada satu pekerjaan

yang lebih bernilai, lebih mendesak, lebih berguna, lebih bisa

menyelamatkan, lebih berfaedah dari pada menyampaikan dan


mendengarkan Firman Tuhan. Dari sudut langit dan bumi kita boleh

melihat, tidak ada perkara yang situasinya lebih praktis dari pada

menyampaikan dan mendengarkan Firman Tuhan."

Deitrich Benhoeffer meskipun pandangan teologianya dipermasalahkan,

tapi mempunyai pandangan yang baik tentang penyampaian Firman

Tuhan. Ia mengatakan "Keberadaan semua bahasa di dunia, dipakai

untuk menyampaikan Firman Tuhan. Dengan berkotbah telah diletakkan

dasar dunia baru. Melalui khotbah orang mendengarkan Firman Tuhan

....., setiap hamba Tuhan harus berkeyakinan bahwa Kristus akan masuk

ke dalam setiap hati manusia melalui khotbah yang berlandaskan pada

Alkitab."

KESUAMAN GEREJA DAN KHOTBAH

Mungkin banyak orang tidak menyetujui sebutan "kesuaman gereja"

untuk mengungkapkan keadaan gereja masa kini. Memang benar, secara

lahiriah, keadaan gereja sekarang menunjukkan kemajuan. Gereja-gereja

di Amerika ramai dikunjungi orang dan gejala seperti ini belum pernah
terlihat pada waktu-waktu sebelumnya. Dari segi kepadatan penduduk,

Jamaika yang berada di Amerika Latin Tengah adalah negara yang

paling banyak gedung gerejanya di seluruh dunia. Filipina adalah negara

Katolik satu-satunya di Asia yang boleh dikatakan di setiap rumah ada

tanda salib dan gereja setiap minggu dipenuhi dengan orang yang

berbakti.

Tetapi jika diamati dengan seksama keadaan masyarakat Amerika, maka

jelas terlihat kejahatan, kerawanan di bidang keamanan, kemerosotan

moral dan kehancuran rumah tangga yang menjamur, menunjukkan

ketimpangan yang menyolok dengan keadaaan pertumbuhan gereja.

Kejahatan yang terjadi di Jamaika merupakan suatu pelecehan terhadap

banyak gedung gereja di sana. Demikian pula dengan keadaaan yang

terjadi di Filipina.

Pada abad ke-20 gereja dan jemaat di berbagai daerah Afrika dikabarkan

makin bertambah dan berkembang secara pesat. Tetapi Afrika, yang

pada abad ke 18 dikenal sebagai "tempat pemakaman para misionaris"

yang gelap ini, sampai saat ini tetap dinaungi oleh suasana kegelapan,
bahkan makin hari makin kelam. Banyak terjadi pembantaian etnis,

sistem politik yang bobrok, perekonomian yang memprihatinkan,

kemiskinan yang meluas, ditambah lagi dengan bencana alam dan

sebagainya, sehingga nyawa penduduk tidak terjamin. Peristiwa yang

terjadi di Afrika, menimbulkan suatu tanda tanya besar, berapa besarkah

sebenarnya pengaruh pertambahan gereja dan Injil bagi suasana yang

"gelap" di Afrika ini?

Penulis sudah melayani selama 56 tahun, sebagian besar hidup penulis

hanya mengerjakan satu hal, yaitu mengabarkan tentang Yesus Kristus.

Melalui pengalaman dan penyelidikan selama 56 tahun ini, secara jujur

dalam lubuk hati selalu timbul satu pertanyaan: pada abad yang

menggalakkan gerakan misi ini, seberapa besarkah pengaruh yang telah

diberikan oleh agama Kristen terhadap dunia ini? Kita sering melagukan

bahwa agama Kristen adalah satu-satunya yang menyediakan

keselamatan yang sejati, tapi sebenarnya berapakah diantara mereka

yang ada di dunia ini sudah mendengar tentang berita keselamatan?


Sepertinya unsur yang ditekankan oleh "Ilmu Pertumbuhan Gereja",

adalah "pertumbuhan" dari segi kwantitas di dalam gereja saja.

Pimpinan gereja sering bergembira dan puas dengan bertambahnya

anggota tetapi terhadap permintaan Tuhan Yesus agar anggota jemaat

menjadi "garam dunia" dan gereja menjadi "terang dunia", masih jauh

dari kenyataan.

Tidak dapat disangkal bahwa gereja masa kini termasuk gereja yang

disebut Tuhan sebagai "Gereja Laodikia", yaitu gereja yang suam-suam.

Memang tidak salah jika gereja masa kini disebut 'tidak dingin', karena

seruan untuk mengerjakan pelayanan misi keluar begitu nyaring, tetapi

didalamnya tidak ada kehangatan dan kegairahan. Tata ibadah

dipersiapkan sedemikian baik, sehingga para pengunjung kebaktian

merasa keenakan; khotbah yang disampaikan dengan sebutan yang

terbaik itu, sering menjadi "irama yang membuaikan". Tetapi Tuhan

mengatakan, "Aku tahu segala pekerjaanmu; engkau tidak dingin dan

tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas, jadi
karena kamu suam-suam kuku.... Aku akan memuntahkan engkau dari

mulutKu." (Wahyu 3:15-16).

Tuhan menghendaki gereja menjadi "panas" dan cobalah kita bertanya

pada diri sendiri, "Apakah jiwa pelayanan kita "panas" (bergairah)?

Apakah pelayanan mimbar kita "panas"? apakah kehidupan doa kita,

juga "panas"? Apakah kita yang sering meninggikan "rasio", mencela

"emosi" dan "gerakan" ini bersikap "suam-suam kuku" dalam memimpin

jemaat, sehingga akhirnya menjadi orang dan gereja yang

"dimuntahkan" Tuhan?

Menurut pendapat penulis, jika gereja mau memperoleh "kebangunan",

tidak ada jalan lain kecuali kembali ke hadirat Tuhan yang menunggu

"kebangunan" itu. Mencari kehendakNya, mentaati pimpinan Roh

Kudus agar Tuhan memakai alat yang membangunkan gereja selama dua

ribu tahun ini, yaitu: Khotbah!

Tuhan Yesus di dalam Matius 24:45 mengatakan, "Siapakah hamba

yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-
orangnya untuk memberikan mereka makan pada waktunya?" Siapakah

yang dimaksud hamba yang setia dan bijaksana itu? Mereka adalah

hamba-hamba yang memberi makan orang-orang pada waktunya! Untuk

memberi "pada waktunya", dibutuhkan "kesetiaan" sedangkan untuk

memberi "makan", dibutuhkan "kebijaksanaan". Jika dipakai istilah

masa kini, maka yang dimaksudkan memberi "makan" adalah

"menyampaikan khotbah".

Dr. W. Sangster dalam bukunya yang berjudul "Skill Berkhotbah" tidak

mempunyai kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan keagungan

pekerjaan dari hamba Tuhan ini. Ia hanya menulis demikian, "Hamba

Tuhan yang dipanggil, adalah orang yang diutus untuk mengajarkan

kebenaran; adalah utusan dari Maha Raja adalah saksi dari Injil yang

kekal! Adakah pekerjaan yang lebih mulia dari pekerjaan ini? Allah

Bapa mengutus PutraNya adalah untuk mengerjakan pekerjan yang tidak

ada bandingnya ini." Pada akhir dari bukunya, ia mengungkapkan

kesannya dengan mengatakan, "Mengabarkan kabar baik tentang Yesus

Kristus, adalah persembahan aktivitas yang tertinggi yang bisa dilakukan


seseorang. Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang sangat dirindukan para

malaekat, bahkan penghulu malaekat akan rela meninggalkan

kedudukan tinggi di sorga, asal bisa mendapatkan pekerjaan ini."

Profesor Homiletik terkenal di Amerika, Dr. Andrew Blackwood

mengatakan, "Profesi sebagai pengkhotbah, seyogyanya ditempatkan

dijajaran yang tertinggi dari semua profesi yang ada." Berdasarkan

penelitian pendeta terkenal asal Inggris, Dr. John Stott, ditemukan

bahwa sejak tahun 60-an, secara umum kesan orang terhadap "khotbah"

semakin hari semakin merendah. Menurut pendapatnya "kemerosotan"

penilaian terhadap khotbah adalah suatu tanda dari kemerosotan gereja."

Pentingnya pengajaran "khotbah" yang dulu sering diabaikan oleh pihak

Katolik, sekarang sudah mendapat tempat yang penting. Teolog Karl

Rahner berpandangan bahwa hal yang urgen dan yang perlu diselesaikan

sekarang adalah "kesulitan dalam berkhotbah". Masalah yang sangat

berat yang sedang dihadapi gereja masa kini adalah ketidak serasian

keyakinan Kristen dengan dunia nyata, ia mengatakan, "Banyak orang

meninggalkan gereja, karena apa yang disampaikan melalui mimbar


tidak berarti bagi mereka, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan

mereka. Banyak masalah dan tekanan yang dialami dalam kehidupan

tetapi tidak dibicarakan dalam pelayanan mimbar; .... hal ini membawa

problem yang semakin besar dalam "khotbah".

Uskup Agung gereja Anglikan di Inggris, Donald Logen berusaha

menggalakkan pembaharuan dalam hal berkhotbah. Ia mengatakan,

"Allah mengerjakan satu hal yang mengherankan, yaitu: yang berdiri di

antara Allah Sang Pengampun dengan manusia yang berdosa adalah

"pengkhotbah"; yang berdiri di antara Allah sebagai Pemberi dengan

manusia sebagai penerima adalah "Pengkhotbah; yang berdiri di antara

Allah sebagai Kebenaran dan manusia sebagai pencari Kebenaran adalah

"pengkhotbah". Sebab itu fungsi dari pengkhotbah adalah pekerjaan

"menyatukan" antara dosa manusia dengan pengampunan Allah, antara

kebutuhan manusia dan kemahakuasaan Allah, antara yang didambakan

manusia dengan wahyu dari Allah.

PEMBAHARUAN KHOTBAH
Kunci kebangunan gereja yang sebenarnya terletak pada kebangunan

hamba Tuhan itu sendiri, dan salah satu tanda kebangunan hamba Tuhan

tersebut adalah kesungguhannya, kehangatannnya dan kerajinan

sikapnya dalam menyampaikan Firman Tuhan. Yang dimaksudkan

dengan "kesungguhan" adalah sikapnya terhadap Tuhan; "kehangatan"

adalah sikapnya terhadap orang yang mendengarkan khotbahnya;

"kerajinan" adalah sikapnya dalam menyiapkan diri dalam khotbah.

KESUNGGUHAN - SIKAP TERHADAP TUHAN

Hamba Tuhan adalah orang yang berdiri antara Allah dan manusia,

sebab itu seyogyanya ia menunjukkan kesungguhan sikap di hadapan

Allah. Jika ia mengetahui bahwa dirinya adalah juru bicara Allah dan

bertanggung- jawab terhadap Allah, maka ia tidak akan berani bersikap

melecehkan tugas khotbah yang sangat kudus itu. Ia tentu saja juga tidak

akan berani menganggap "berkhotbah" sebagai satu "pekerjaan",

sehingga dirinya disebut "tukang khotbah" ... melainkan dengan sikap

gentar dan takut ia akan berkata kepada Tuhan, "Tuhan, mohon

rahmatMu untuk memakai dan memimpin saya, agar sebelum


menyampaikan khotbah di depan orang banyak, saya tahu bahwa

terlebih dahulu saya akan berkhotbah bagi diri sendiri. Dan saya lebih

dulu akan memberi contoh dengan melaksanakan kebenaran tersebut;

biarlah keberadaan saya di depan orang, bukan hanya menjadi

"terompet" dari kebenaran itu, melainkan menjadi fakta kebenaran itu

sendiri.

Pendeta Amerika yang terkenal di abad ke 19, Dr. Philips Brooks

mengatakan, "Pengkhotbah adalah orang yang menyampaikan

kebenaran kepada khalayak ramai. Di dalamnya terdapat dua unsur,

yaitu: kebenaran dan karakter...... Pengkhotbah melalui karakternya

menunjukkan kebenaran.... Kebenaran itu sendiri adalah unsur yang

tidak berubah, tetapi karakter adalah unsur yang berubah dan

bertumbuh."

Colin Morris mengatakan, "Berita yang mengandung kuasa, bukan

disampaikan melalui mimbar, melainkan melalui salib. Khotbah yang

berhasil, bukan hanya "didengar" tapi juga "dilihat". Jika hanya

mengandalkan "kefasihan lidah", "skill berkhotbah", "pengetahuan


Alkitab" hal itu belumlah cukup, karena masih perlu ditambah dengan

kesedihan yang sangat, penderitaan, pergumulan, keringat, darah,

sehingga bisa mengekspresikan kebenaran yang disampaikan. Hanya

dengan demikianlah baru kita bisa menaklukkan hati para pendengar.

KEHANGATAN - SIKAP TERHADAP PARA PENDENGAR

Abad ini dikenal dengan abad yang menitik-beratkan pada "rasio".

Banyak sekali cendekiawan dan pendeta besar berpendapat bahwa kita

hanya bisa menggunakan "rasio" untuk menaklukkan hati para

pendengar dan bukan dengan "emosi". Ada seorang pendeta yang

bertemu dengan seorang aktor dan bertanya, bagaimana bisa memainkan

peran yang begitu mengesankan dan menarik? Dimana letak rahasianya?

Dan pendeta itu juga mengemukakan bahwa dalam menyampaikan

khotbah, ia tidak mempunyai kekuatan seperti itu. Dengan tertawa aktor

itu menjawabnya, "Peran yang kami tampilkan bisa sedemikian menarik

karena cerita fiktif itu telah kami mainkan dengan sungguh-sungguh,

sehingga cerita itu seperti sungguh-sungguh terjadi. Tetapi tidak

demikian dengan kalian yang menyampaikan kebenaran yang sejati,


anda menampilkannya dengan sembrono, sehingga orang menerimanya

seperti berita yang hanya bohong-bohongan saja.

Siapa yang mengatakan bahwa dalam berkhotbah tidak diperlukan

"emosi"? Tuhan Yesus menangis untuk penduduk Yerusalem yang tidak

mau bertobat (Luk. 19:4). Paulus sangat marah terhadap orang Atena

yang menyembah kepada berhala; demi Allah yang benar, hatinya

menjadi panas (Kis. 17:16). Ia sangat peduli terhadap kemuliaan Allah,

sebab itu ia memberitahukan orang di Filipi, "karena, seperti yang telah

kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang

sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus."

(Flp. 3:18). Paulus juga memberitahukan para penatua di Efesus, "Sebab

itu, berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa aku tiga tahun lamanya, siang

malam dengan tiada berhenti-hentinya menasehati kamu masing-masing

dengan mencucurkan air mata." (Kis. 20:31).

Jangan mengira mempunyai perasaan demikian (mengucurkan air mata),

hanya berlaku pada masa Perjanjian Baru saja, karena kita juga harus

memilikinya pada masa kini. James Alexander mengatakan, "Hamba


Tuhan yang tidak memiliki perasaan yang demikian besar tidak akan

bisa menjadi hamba Tuhan yang besar pula."

Pada waktu berdiri di atas mimbar, hendaklah ingat bahwa kita sedang

mengurusi masalah antara hidup kekal dan mati kekal, dan kita berdiri di

antara orang yang hidup dan mati. Sebab itu, hendaklah kita memandang

penting pelayanan mimbar dan jauhkanlah sikap apatis dan anggapan

bahwa mimbar hanya sebagai sarana untuk berbicara saja.

Richard Baxter pernah mengutarakan kata-kata bagi dirinya sebagai

berikut: "Aku merasa heran terhadap diriku, bagaimana aku bisa

berkhotbah dengan sikap yang dingin tanpa perasaan dan bagaimana aku

bisa bersikap apatis terhadap mereka yang sedang berada di dalam

belenggu dosa? Seharusnya aku mendatangi mereka dan memohon

dengan sangat agar mereka demi kasih Tuhan bertobat.... Aku sering

turun dari mimbar dengan hati nurani yang tidak tenang, karena merasa

khotbahku tadi kurang sungguh-sungguh dan kurang semangat. Aku

tidak mempersalahkan diri karena kurang fasih dalam berkata-kata dan

aku juga tidak menyalahkan diri karena tidak menggunakan kata-kata


yang tepat, tapi aku sering bertanya pada diri sendiri, 'bagaimana kamu

bisa bersikap demikian di dalam menyampaikan masalah besar yang

mempunyai kaitan mati dan hidupnya manusia, bukankah seharusnya

aku menangis untuk mereka dan membiarkan air mataku menyela

khotbahku? Bukankah seharusnya aku berteriak dengan kesungguhan

untuk mengatakan dosa dan kesalahan mereka dan dengan sangat

memohon seperti seorang yang sedang menghadapi pilihan antara hidup

dan mati?"

John Stott menganggap sikap yang penuh dengan kesungguhan sangat

mudah menarik hati dan perhatian orang. Dr. John R. Rice mengatakan,

"Pada waktu seorang hamba Tuhan berdiri di mimbar, menyampaikan

tema yang sangat penting dan serius tentang neraka dan api yang tanpa

padam; seharusnya ini menyebabkan ia bertelut di hadapan Tuhan dan

bersikap sungguh-sungguh dalam penyampaiannya. Tapi patut

disesalkan, karena banyak hamba Tuhan dalam menyampaikan tema

yang penting dan serius ini dengan sikap santai tanpa perasaaan.

Berbicara panjang lebar tentang teologi "nekara" tanpa bara api dalam
hati dan air di mata. Gembala Sidang di Inggris, Campbell Morgan

mengatakan, tiga unsur khotbah adalah: kebenaran, kejelasan dan

emosi."

RAJIN - SIKAP MEREVISI KHOTBAH

Seorang hamba Tuhan yang bersikap sungguh-sungguh pada Tuhan dan

hangat pada para pendengarnya, pasti pula seorang hamba Tuhan yang

rajin untuk selalu merevisi bahan khotbahnya. Ia pasti rajin membaca

Alkitab dan berdoa, rajin pula menunggu berita dari hadirat Tuhan; rajin

membaca buku-buku rohani dan buku-buku lain yang bisa menambah

wawasannya; rajin berkunjung dan mengetahui secara jelas kebutuhan

rohani dari individu maupun keluarga anggota gereja; rajin

mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan khotbahnya.

Dr. Harry E. Jesssop mengatakan, "Seorang hamba Tuhan yang tidak

putus-putusnya menuntut kemajuan, bisa menjaga hati yang bersifat

rohani dan sensitif akan memiliki otak yang terisi dengan pengetahuan

yang luas. Seorang hamba Tuhan yang sudah berusia pertengahan, yang
tidak lagi menuntut kemajuan, yang tidak lagi membaca buku-buku akan

mendatangkan malapetaka bagi gereja. Hamba Tuhan yang demikian ini,

bukan saja sering mengulang khotbah yang sudah disampaikan tapi juga

malas untuk mengubah dan menyempurnakan bahan khotbahnya.

Hamba Tuhan yang demikian ini, bukan saja kehilangan semangat untuk

menyelamatkan jiwa yang tersesat, bahkan semangat untuk berdoa bagi

jiwa-jiwa yang tersesat pun sudah tidak ada lagi.... Tidak ada hamba

Tuhan yang karena usia tua tidak lagi perlu berkhotbah. Jika ia benar-

benar rajin membaca, rajin berpikir, rajin berdoa, maka usianya yang tua

bukan menjadi penghalang tapi sebaliknya menjadi sumber berkat!".8

Langkah-langkah menyusun khotbah yang mengubah

kehidupan

8
Yap Un Han, Th.M. Problematika Hamba Tuhan Persekutuan Alumni Singapore Bible College, Jakarta
dan Yayasan Daud Family, Menado,
1998
Semangat pelayanan seorang hamba Tuhan tentu akan

meningkat ketika ia mengetahui bahwa khotbah-khotbahnya

bukan hanya didengar dengan penuh antusias oleh jemaat,

melainkan juga mendorong jemaat bertumbuh dalam pengenalan

yang benar akan Yesus Kristus. Terlebih lagi, saat menyaksikan

kehidupan jemaatnya berubah. Mereka yang dulu hidup dalam

kekuatiran bertumbuh menjadi jemaat yang makin beriman;

mereka yang dulu tak peduli dengan pelayanan sekarang menjadi

majelis gereja yang mengasihi Tuhan; juga yang rumah

tangganya pernah di ambang kehancuran kini hidup dalam

kerukunan. Semua itu menjadi tanda bahwa Tuhan menyertai

pemberitaannya dan memberkati segala upaya pelayanannya.

Namun sering kali realitas yang ditemui justru sebaliknya, bukan?

Pada umumnya hamba Tuhan lebih sering melihat jemaat tidak

bergairah mendengarkan khotbah-khotbahnya. Bertahun-tahun

mereka mendengar firman Tuhan, namun tidak tampak

perubahan yang konsisten; tidak ada pertumbuhan yang nyata


dalam iman mereka. Kelihatannya, firman Tuhan seperti masuk

telinga kiri ke luar telinga kanan. Tidak mengubah apapun.

Kita semua yakin bahwa firman Tuhan adalah firman yang

hidup. Kuasanya setajam pedang bermata dua dan mampu

mengubah kehidupan manusia. Seharusnyalah firman Tuhan

yang kita beritakan membawa pengaruh pada kehidupan jemaat.

Bila yang terjadi adalah sebaliknya, ada dua kemungkinan yang

bisa menjadi penyebabnya. Kemungkinan pertama adalah karena

para pendengar mengeraskan hati mereka terhadap firman

Tuhan. Seperti bangsa Israel yang menolak firman Tuhan yang

disampaikan oleh para nabi, demikianlah pendengar masa kini.

Ada berbagai alasan yang bisa mereka kemukakan, namun

intinya mungkin sama, yakni mereka tidak mempunyai keinginan

yang kuat agar benih firman Tuhan itu bertumbuh dan berbuah

dalam hidup mereka. Kemungkinan kedua adalah adanya

masalah dalam khotbah-khotbah yang disampaikan. Walaupun

kemungkinan kedua ini bisa jadi tidak terlalu nyaman untuk


diterima, namun perlu ditanggapi dengan kepala dingin agar kita

dapat menemukan akar masalah yang sesungguhnya sekaligus

mencari solusi yang tepat untuk memperbaikinya. Dengan begitu,

kita berharap bahwa kelak khotbah-khotbah yang kita sampaikan

sungguh-sungguh mampu mengubah kehidupan jemaat dan

tentunya kehidupan kita juga. Selanjutnya, pembahasan buku ini

akan difokuskan pada kemungkinan kedua.

Persoalan pada Khotbah-khotbah Masa Kini

Bila kita amati dengan cermat, setidaknya ada lima persoalan

pokok yang menjadi masalah pada khotbah-khotbah masa kini.

Pertama, persoalan tentang kebergantungan pada Roh

Kudus

Dewasa ini, sarana penolong dalam membuat khotbah

sangat mudah diperoleh. Buku-buku tafsiran, software-softw8are


Alkitab, ribuan website yang menyediakan khotbah serta ilustrasi

gratis memberikan banyak kemudahan bagi pengkhotbah dalam

menyusun khotbah. Buku-buku tentang sosiologi, psikologi, dan

filosofi, serta berita-berita up to date dari media cetak dan

eletronik dapat menolong pengkhotbah dalam menganalisis

dunia pendengar. Selain itu, kecanggihan teknologi multimedia

seperti PowerPoint juga membantu pengkhotbah dalam

menyajikan khotbah dengan lebih menarik. Semua ini merupakan

berkat yang luar biasa bagi pengkhotbah. Namun ironisnya, di

tengah-tengah kemudahan tersebut, tidak jarang kita mendengar

keluhan jemaat bahwa khotbah-khotbah yang mereka dengar

tidak menarik, tidak relevan, dan tidak memiliki kuasa. Apa yang

menyebabkan hal ini bisa terjadi? Tentu ada banyak faktor yang

bisa menjadi penyebabnya, namun kemungkinan besar faktor

utamanya adalah karena kegagalan pengkhotbah dalam

memahami peranan Roh Kudus. Pengkhotbah tidak lagi

mempunyai sense of the supernatural dalam berkhotbah

sehingga khotbah dirasakan hanya merupakan suatu aktivitas


manusia belaka, bukan aktivitas Allah. Pada masa kini, mungkin

saja berkhotbah telah dianggap sebagai suatu profesi, tugas rutin,

pameran kemampuan akademis, atau dipandang sebagai suatu

acara “entertainment”. Arturo G. Azurdian III dalam bukunya Spirit

Empowered Preaching menegaskan, “Saya sangat yakin bahwa

kekurangan terbesar dalam pelayanan khotbah ekspositori zaman

sekarang adalah tidak adanya kuasa; dengan kata lain, khotbah

tidak mengandung daya hidup dari Roh Kudus.”[1] Ia kemudian

mengutip pernyataan seorang pendeta Presbiterian yang tidak

dikenal yang berkata:

Keingingan terbesar pada zaman sekarang adalah pelayanan

yang lebih kudus. Kita tidak membutuhkan lebih banyak polemik

pendukung, apologet yang hebat, atau pengkhotbah yang

berpengetahuan luas, walaupun semua ini penting. Tetapi kita

membutuhkan utusan Allah yang membawa suasana sorga ke

mimbar dan berbicara dari perbatasan dunia lain.[2]


Azurdian III lebih lanjut menjelaskan bahwa khotbah-khotbah

yang membuat pendengar merasakan kuasa Allah dan yang

mendorong mereka mengasihi Tuhan adalah khotbah-khotbah

yang berasal dari penguraian firman Tuhan yang teliti dan cermat.

Lebih dari itu, khotbah-khotbah itu juga dialiri oleh kuasa yang tak

terbatas yang melampaui kekuatan manusia, yaitu kuasa ilahi,

kuasa yang berasal dari surga sendiri.[3] Hal itu hanya terwujud

bila pengkhotbahnya mempunyai kebergantungan yang penuh

pada pimpinan Roh Kudus. Jemaat masa kini merindukan

khotbah-khotbah yang membuat mereka merasakan hadirat

Allah, di mana Allah berbicara kepada mereka secara pribadi dan

kuasa-Nya mengubah hidup mereka.

Kedua, persoalan tentang isi khotbah


Persoalan lain yang umumnya terjadi pada khotbah-khotbah

masa kini adalah persoalan isi khotbah. Alih-alih menyampaikan

berita utama dari teks Alkitab, kebanyakan khotbah isinya lebih

cenderung menyampaikan ide atau imajinasi pengkhotbah

terhadap teks tersebut sehingga khotbah bukanlah hasil

eksegese tetapi eisegese.[4] Fungsi khotbah yang seharusnya

menjadi sarana untuk menyampaikan apa yang dikatakan oleh

teks itu – sebagaimana yang dimaksud oleh penulisnya – telah

dijadikan sarana untuk menuangkan pikiran-pikiran pengkhotbah

tentang teks tersebut. Pembacaan teks Alkitab sebelum khotbah

hanyalah sekadar tradisi untuk memulai khotbah. Setelah itu, isi

khotbahnya sama sekali tidak bersangkut paut dengan berita

utama dari teks Alkitab yang dibacakan. Keadaan ini tentunya

memprihatinkan. Bagaimanapun, seorang pengkhotbah

hendaknya mempunyai konsep bahwa ia harus mengkhotbahkan

berita utama teks atau yang disebut dengan amanat teks. Ia

seharusnya gelisah bila menyampaikan firman Tuhan tanpa

mengetahui amanat dari teks yang dikhotbahkannya itu.


Persoalan lain yang menyangkut isi khotbah adalah

diabaikannya hakikat doktrin yang solid. Adakalanya

pengkhotbah beranggapan bahwa doktrin atau teologi merupakan

momok yang menakutkan; tidak mengherankan, khotbah hanya

dipenuhi oleh hal-hal praktis sehari-hari tanpa struktur teologi

yang jelas. Tidak salah bila suatu khotbah berisi hal-hal yang

bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari, itu sangat

diperlukan. Tetapi masalahnya adalah apakah kebenaran yang

dikhotbahkan itu sesuai dengan kebenaran Alkitab secara holistik.

Pengabaian doktrin Alkitab akan menghasilkan khotbah dengan

muatan kebenaran Alkitab yang tidak utuh, bahkan menyimpang.

Khotbah yang benar adalah khotbah yang mempunyai kerangka

teologi dari seluruh kebenaran Alkitab. Salah satu keunikan dari

pengkhotbah-pengkhotbah besar pada masa lalu – dan hal inilah

yang membuat khotbah-khotbah mereka tetap hidup ratusan

tahun meskipun mereka telah tiada – adalah khotbah-khotbah

mereka memiliki bobot doktrin yang kuat, sehingga jemaat benar-


benar berhadapan dengan kebenaran ilahi yang kokoh, bukan

kebenaran parsial dan temporal.

Sehubungan dengan kebenaran doktrinal dalam khotbah, kita

perlu berhati-hati agar tidak jatuh pada salah satu dari dua

ekstrem berikut. Ekstrem pertama, khotbah doktrinal yang tidak

dilandasi pada teks dan penggalian eksegese. Khotbah seperti ini

nampaknya solid dan berbobot, tetapi sangat riskan karena

pikiran atau gagasan pengkhotbah cenderung “terbang”

melampaui apa yang dikatakan oleh teks. Teks Alkitab hanya

menjadi “landasan pacu” sesaat yang “menerbangkan”

pengkhotbah ke tempat yang diinginkannya. Ekstrem kedua,

khotbah doktrinal yang terpaku hanya pada teks dan eksegese

yang ketat tanpa menghubungkannya dengan keseluruhan

doktrin Alkitab. Akibatnya, sering kali kebenaran yang dipaparkan

adalah kebenaran yang segmental; kebenaran seperti itu bisa jadi

bertentangan dengan teks pada bagian lain dari Alkitab.


Seharusnya, berita sebuah khotbah berasal dari amanat teks dan

dibangun di atas fondasi doktrin yang solid.

Ketiga, persoalan tentang aplikasi khotbah

Dalam kebanyakan khotbah masa kini, masalah aplikasi

khotbah sering jatuh ke salah satu dari dua ketimpangan berikut.

Pertama, khotbah dengan sedikit aplikasi. Kedua, khotbah sarat

dengan pesan-pesan moral. Pada kasus pertama, khotbah

dipenuhi penjelasan alkitabiah atau doktrinal dengan bobot

akademis yang sangat menonjol – seperti pembahasan materi di

ruang kuliah – tetapi aplikasinya hanya sekadar ada seolah-olah

pengkhotbah sendiri tidak berminat membicarakannya. Khotbah

seperti itu oleh jemaat dikategorikan sebagai khotbah yang

“kering” karena mereka tidak dapat menarik relevansinya dengan

kehidupan mereka. Mereka tahu bahwa khotbah semacam itu

baik dan berbobot, tetapi mereka tidak paham sangkut-pautnya

dengan kehidupan mereka. Sedangkan pada kasus yang kedua,


pengkhotbah memberondong jemaat dengan pelbagai aplikasi.

Setiap ayat, bahkan setiap kalimat “dibumbuinya” dengan pesan-

pesan moral yang sebenarnya tidak pernah dimaksudkan oleh si

penulis teks. Terlalu banyaknya nasihat membuat jemaat tidak

tahu lagi mana sebenarnya yang Tuhan ingin mereka lakukan.

Alhasil, khotbah seperti itu membuat jemaat frustrasi. Dewasa ini,

jemaat sangat membutuhkan khotbah-khotbah yang selain tinggi

bobot akademisnya, juga berbicara telak ke dalam hati mereka.

Keempat, persoalan tentang cara penyajian khotbah

Cara penyajian khotbah menjadi persoalan umum bagi

pengkhotbah masa kini. Ini pula yang banyak dikeluhkan jemaat,

terlebih oleh pemuda dan remaja. Walaupun ada berbagai cara

penyajian khotbah, namun kita bisa temukan dua ekstrem.

Ekstrem pertama, khotbah-khotbah yang cara penyajiannya

sangat komunikatif tetapi isinya lemah. Khotbah-khotbah

semacam ini digemari oleh sebagian jemaat karena dapat


membuat mereka terpukau, termotivasi, dan mungkin juga

tertawa. Namun amat disayangkan, isinya tidak memiliki dasar

penafsiran Alkitab yang kuat. Pengkhotbah tidak mampu

membawa jemaat lebih dalam mengenal Allah dan firman-Nya.

Uraian khotbahnya tidak beda dengan ceramah seorang

motivator yang terus menyemangati pendengarnya agar mereka

tetap hidup optimis, hanya itu. Ekstrem kedua, khotbah-khotbah

yang isinya baik tetapi cara penyajiannya lemah. Isi khotbah tidak

diragukan bobotnya: sangat akademis dan bertanggung jawab,

kuat sistematika penjelasannya, ketat argumennya, dan akurat

kutipannya. Namun khotbah disampaikan dengan monoton,

dengan cara membaca hampir seluruh naskah khotbah, tanpa

menghiraukan apakah jemaat memperhatikannya atau tidak.

Bagaimanapun, kedua ekstrem cara penyajian khotbah

seperti ini perlu dihindari. Masyarakat Kristen rindu mendengar

khotbah-khotbah yang isinya kuat dan penyampaiannya

komunikatif serta aplikatif. Khotbah yang mengubah kehidupan


bukan hanya beritanya berasal dari teks Alkitab dan aplikasinya

mengena, melainkan juga disampaikan secara menarik.

Kelima, persoalan tentang diri pengkhotbah

Persoalan berikutnya yang dapat terjadi pada khotbah-

khotbah masa kini adalah faktor pengkhotbah itu sendiri.

Sejatinya, ini adalah persoalan klasik yang hadir pada setiap

zaman, bahkan juga terjadi pada zaman Imam Eli. Tetapi pada

zaman kini, umat Kristen lebih kritis. Meskipun tidak banyak dari

mereka yang secara eksplisit mengungkapkan ketidakpuasannya

kepada hamba Tuhan, tetapi secara diam-diam mereka

menilainya. Hasilnya, makin lama makin berkurang hormat

mereka pada figur yang berpredikat pendeta, penginjil, atau

pengerja. Integritas para hamba Tuhan yang diragukan berimbas

negatif bagi kepercayaan mereka pada khotbah-khotbah yang

mereka dengar. Bila mereka masih mendengarkan khotbah-

khotbah para hamba Tuhan, itu belum tentu karena mereka


percaya kepada kehidupan para hamba Tuhan, tetapi mungkin

ada banyak sebab lain.

Bagaimanapun, kehidupan pengkhotbah turut “membidani”

khotbah yang mengubah kehidupan, kecuali khotbah hanya

dianggap sebagai suatu seni peran. Bila pendengar percaya pada

integritas seorang pengkhotbah, akan lebih mudah bagi mereka

untuk menerima dan melakukan apa yang dikhotbahkan.

Sebaliknya, bila intergritas pengkhotbah diragukan, maka apapun

yang disampaikannya akan sulit diterima, apalagi membuat

perubahan yang berarti. Seorang pengkhotbah dituntut untuk

memiliki integritas hidup yang berpadanan dengan Injil. Beban

tuntutan ini lebih besar dirasakan oleh pengkhotbah yang

sekaligus adalah gembala sebuah gereja di mana ia berkhotbah

setiap minggu pada jemaat yang sama. Ia haruslah berupaya

keras untuk memupuk integritas dan karakternya. Untuk itu, hidup

bergaul dengan Allah di dalam kekudusan-Nya merupakan syarat

yang tidak dapat dihindari.


Khotbah yang mengubah kehidupan

Kelima persoalan di atas dapat dikatakan merupakan

kenyataan sehari-hari yang dapat kita jumpai pada gereja-gereja

dewasa ini. Tentu saja, observasi ini bersifat umum. Kita percaya

masih cukup banyak khotbah-khotbah yang baik dan hamba

Tuhan yang berintegritas, walaupun tidak dipungkiri jumlahnya

makin berkurang. Namun, keadaan seperti itu tidak boleh

dibiarkan. Jemaat, sebagai umat Allah, layak mendengar firman

Allah yang murni, bukan firman hasil rekaan atau karangan

pengkhotbah. Mereka rindu mendengar khotbah-khotbah yang

mengubah kehidupan mereka, bukan khotbah klise yang

membosankan. Karenanya, diperlukan suatu perubahan

mendasar dalam paradigma dan cara berkhotbah para

pengkhotbah masa kini.

Perubahan itu bukan kepada sesuatu yang di luar Alkitab,

melainkan justru kembali ke Alkitab. Pengkhotbah harus


mempunyai keyakinan yang kuat bahwa khotbah yang mengubah

kehidupan adalah khotbah yang berakar pada Alkitab. Ia dengan

setia mengkhotbahkan amanat yang pernah diinspirasikan oleh

Roh Allah kepada para penulis Alkitab. Kemudian, secara

komunikatif dan aplikatif, ia menghubungkannya dengan

kehidupan jemaat masa kini sambil mengawasi ajaran dan

hidupnya sendiri di bawah terang firman Tuhan dan Roh Kudus.

Bila para pengkhotbah kembali menjadi “corong suara”

kebenaran Allah, maka Allah sendiri yang akan membela firman-

Nya. Allah berfirman, “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari

mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi

ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki dan akan berhasil

dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yes. 55:11). Hal yang

senada disuarakan oleh penulis kitab Ibrani, “Sebab firman Allah

hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua

manapun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa

dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan

pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr. 4:12). Kuasa firman-Nya


yang mengubah – mengajar, menyatakan kesalahan,

memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran –

menjadi nyata baik dalam kehidupan jemaat maupun dalam

kehidupan pengkhotbah. Untuk mewujudkan hal itu, tidak ada

jalan lain kecuali kita kembali kepada pola khotbah yang

seharusnya, yaitu khotbah yang menyampaikan amanat yang

pernah Tuhan sampaikan kepada para nabi, rasul, dan penulis

Alkitab untuk umat-Nya. Khotbah yang seharusnya itu disebut

khotbah ekspositori.9

[4] Eksegese adalah usaha untuk menemukan berita utama

suatu teks Alkitab dengan menerapkan prinsip-prinsip penafsiran

yang sehat di mana penafsir memperhatikan tentang latar

9
[Link]
belakang sejarah, budaya, analisis kata, genre suatu teks dan

lain-lain. Sedangkan eisegese adalah usaha untuk memasukkan

ide penafsir ke dalam suatu teks sehingga teks itu berbicara

seperti yang dikehendaki oleh penafsirnya.

Common questions

Didukung oleh AI

The effectiveness of church ministry greatly depends on the preacher's role as a conduit between divine truths and human understanding. Historical and contemporary theologians emphasize that preaching is a sacred calling that demands integrity, deep biblical knowledge, and the ability to make God's message relevant to contemporary life . This involves not just delivering sermons, but embodying a moral and spiritual example, acting as a shepherd to the congregation . The preacher’s role is pivotal in nurturing faith, offering guidance, and inspiring greater community support within the church .

Expository preaching is critically emphasized because it involves a systematic explanation of biblical text, ensuring that the preacher remains faithful to scriptural intent. It connects closely with hermeneutics and helps convey theological truths accurately, fostering spiritual growth among congregants . It is considered more authoritative and spiritually enriching because it bases understanding and application on the actual texts of scripture rather than isolated themes or topics .

Expository preaching can be challenging due to its potential to become monotonous if not delivered creatively, risking disengagement from the congregation . Homiletic experts suggest addressing these challenges by ensuring vibrancy and relevance in application. It involves the preacher engaging deeply with the text and context, using illustrative stories and applications that connect with contemporary life. Proper training and a return to biblical roots are also emphasized to maintain sermon freshness and depth .

Textual sermons are focused directly on a specific passage of scripture, allowing for an in-depth exploration of its meaning within the context of the Bible . Topical sermons, on the other hand, address broader themes by collating scriptures on a particular subject. While textual sermons offer depth of insight and fidelity to the scripture, topical sermons provide flexibility in addressing current issues and needs of the congregation. Each type has its strengths: textual sermons foster deep biblical literacy, whereas topical sermons allow for engagement with relevant, real-world concerns .

Modern preachers face challenges such as maintaining the relevance of biblical teachings amidst rapidly changing social contexts and avoiding disengagement due to traditional structures in sermons. To combat this, preachers must incorporate contemporary illustrations and applications that resonate with their audience, ensuring sermons are not only doctrinally sound but also practically applicable . Emphasizing personal connection with the congregants and fostering honest dialogues around challenging topics can aid in maintaining engagement and relevance .

The Gospel of John emphasizes transformative recognition of Jesus' messianic identity by illustrating encounters that fundamentally change lives, such as the call of the first disciples who followed after John the Baptist declared Jesus as the Lamb of God. The narrative consistently portrays acceptance of Jesus as a turning point leading to renewed belief and purpose . This recognition of Jesus as the prophesied Messiah directly impacts individual destinies as it propels characters into deeper spiritual roles and missions, exemplified by figures like Andrew and Peter .

John the Baptist's ministry reflects values of humility, selflessness, and devotion to divine purpose, contrasting significantly with Biblical figures like Samson, who is often noted for succumbing to personal desires. John's consistent focus on heralding Jesus and diminishing his own ministry highlights unconditional commitment and service as higher spiritual values . Samson, though endowed with strength, often prioritized personal goals, drawing parallels between divine calling and human inclination .

Suffering is integral to both Jesus and John the Baptist's teachings, serving as a path to spiritual maturation and ultimate fulfillment of divine will. Jesus warned of a challenging path for the righteous, advocating for bearing sufferings as part of following Him . John the Baptist’s lifestyle of austerity and isolation in the wilderness embodies the virtue of enduring trials as part of God's calling . Together, they underscore that worldly comfort is less significant than spiritual fidelity and the higher call of righteousness .

The Gospel of John uniquely portrays Jesus as both fully human and fully divine, commencing with the assertion that Jesus is the incarnate Word, the Creator of the universe who chose to live among humans in a finite body. John vividly illustrates this by recounting events like the baptism of Jesus by John the Baptist, who announced Jesus as the Lamb of God, substantiating His divine mission to redeem the world from sin .

John the Baptist's role in the Gospel of John serves as a forerunner to Jesus, preparing the way for His coming by baptizing and calling people to repentance. Theologically, he symbolizes a transitional figure between the old and new covenants. His proclamation of Jesus as the Lamb of God highlights Jesus' sacrificial role and prefigures His atoning death . John the Baptist represents the voice in the wilderness, a prophetic fulfillment paving the way for the Messiah .

Anda mungkin juga menyukai