BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Neonatus
1. Pengertian Neonatus
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berumur 28 hari pertama
setelah kelahiran bayi hidup (Bobak, 2005:1057). Bayi baru lahir
(neonatus) adalah bayi dari lahir sampai usia 4 minggu, lahir biasanya
dengan usia gestasi 38-42 minggu (Wong, 2003:417).
2. Karakteristik Neonatus
Neonatus kelihatan seperti besar pada kepala dan badannya,
dengan tungkai pendek, kecil dan paha yang kecil. Lehernya pendek
dan goyah, hidungnya datar dan bayi terlihat seperti tidak memiliki
dagu. Telapak kakinya yang kecil terlihat janggal dan datar karena
bantalan lemak pada telapak kaki bawahnya. Genitalia, walaupun kecil
terlihat membengkak dan melebihi proporsinya. Lengannya terlihat
seperti sangat kecil dengan tubuh yang lebih besar (Hamilton,
1995:217).
3. Bayi Baru Lahir Normal
a. Definisi
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam
presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada
usia kehamilan genap 37-42 minggu dengan berat badan 2500-4000
gram, nilai Apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan (Rukiyah, 2010:2)
12
13
b. Tanda-tanda Bayi Normal
Menurut Mochtar (1998) bayi baru lahir dikatakan normal
jika mempunyai beberapa tanda antara lain:
1) Warna kulit kemerahan
2) Frekuensi jantung > 100x/menit
3) Reaksi terhadap rangsangan (menangis, bersin)
4) Tonus otot (gerakan aktif)
5) Usaha untuk bernapas
B. Respiratory Distress Syindrome (RDS)
1. Pengertian
Sindrom gawat napas/Respiratory Distress Syndrome (RDS)disebut
juga sebagai penyakit hialin (Hyalin membrane disease/HMD) atau
penyakit paru akibat defisiensi surfaktan. Gangguan paling umum yang
mengenai bayi preterm (kurang bulan) (Lissauer & Fanaroff, 2009:72).
Sindrom kegawatan pernapasan adalah kondisi yang berkaitan
dengan keadaan preterm (Ladewig, 2006:186). Menurut Martin (1993)
dalam Gomella (1999:503) Hialin membran disease (HMD) juga
disebut Sindrom distres pernafasan (RDS), diagnosis klinis diperlukan
pada bayi baru lahir prematur dengan kesulitan termasuk pernapasan
takipnea (> 60x napas / menit), retraksi dada, dan sianosis berlangsung
selama 48-96 jam pertama kehidupan.
Sindrom Distres Pernapasan adalah perkembangan yang imatur
pada sistem pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam
14
paru. RDS dikatakan sebagai hyaline membrane disease (HMD)
(Suriadi, 2006:240).
2. Klasifikasi Respiratory Distress Syndrome (RDS)
Menurut buku Pedoman Manajemen masalah BBL untuk Dokter,
Perawat dan Bidan di Rumah Sakit dalam Ali Usman, dkk (2010:129),
secara klinis gangguan napas dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:
a. Gangguan napas berat
b. Gangguan napas sedang
c. Gangguan napas ringan
Tabel 2.1
Klasifikasi Gangguan Napas
No. Klasifikasi Frekuensi Napas Gejala Tambahan
1. Gangguan >90x/menit Dengan sianosis sentral
napas berat dan tarikan dinding
dada atau merintih saat
ekspirasi. Dengan atau
tanpa gejala lain dari
gangguan napas.
2. Gangguan 60-90x/menit Dengan tarikandinding
napas sedang dada atau merintih saat
ekspirasi tetapi tanpa
sianosis sentral. Tanpa
tarikan dinding dada
atau merintih saat
ekspirasi atau sianosis
sentral.
3. Gangguan 60-90x/menit Tanpa tarikan dinding
napas ringan dada atau merintih saat
ekspirasi atau sianosis
sentral.
Sumber:Pedoman Manajemen masalah BBL untuk Dokter, Perawat
dan Bidan di Rumah Sakit dalam Ali Usman, dkk (2010:129).
15
3. Penyebab Respiratory Distress Syindrome (RDS)
Penyebab penyakit Respiratory Distress Syindrome (RDS)
sampai saat ini belum diketahui dengan pasti. Kelainan yang terjadi
dianggap karena faktor pertumbuhan atau karena pematangan paru
belum sempurna. Penyakit ini biasanya mengenai bayi prematur,
terutama bila ibu yang menderita gangguan perfusi darah uterus selama
kehamilan, misalnya pada ibu yang menderita diabetes melitus,
toksemia gravidarum, hipotensi, sectio caesarea, dan perdarahan
antepartum (Abdoerrachman, dkk, 1985:1084).
Menurut Gomella (1999:504), terjadinya Respiratory Distress
Syndrome (RDS) dapat disebabkan oleh:
a. Bayi prematur
b. Bayi laki-laki
c. Riwayat bayi terkena RDS
d. Persalinan sectio caesarea
e. Asfiksia perinatal
f. Korioamnionitis
g. Hidrosepalus
4. Patofisiologi
Penyakit Respiratori Distress Syndrome (RDS) merupakan akibat
dari imaturitas anatomi paru-paru dan kekurangan surfaktan. Sintesa
surfaktan paru-paru pneumocytes tipe II dimulai pada usia kehamilan
24-28 minggu dan secara berangsur-angsur meningkat sampai usia
16
kehamilan aterm. Surfaktan paru-paru berfungsi untuk menurunkan
tegangan permukaan dalam alveolus saat ekspirasi.
Pada bayi prematur dengan tidak adanya surfaktan menyebabkan
compliance paru-paru buruk (atelektasis), penurunan gas, hipoksia dan
asidosis. Kurangnya surfaktan dan akibat compliance (pengembangan
paru-paru yang buruk akan menyebabkan debris/sel-sel mati yang
terdiri dari sel yang rusak atau terkelupas, nekrosis eksudatif dan
bocornya protein yang melapisi alveolar. Sehingga bayi tersebut harus
berusaha dengan kuat untuk mengembangkan paru-paru mereka setiap
kali bernapas dan pada akhirnya dapat terjadi gagal napas. (Anik M,
2009:69-70)
5. Manifestasi Klinis
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat
dipengaruhi oleh tingkat maturitas paru. Semakin rendah berat badan
dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yang ditujukan.
Menurut Lissauer (2009:72) manifestasi klinis yang muncul adalah
sebagai berikut:
a. Takipnea (>60x/menit)
b. Napas cuping hidung
c. Suara napas yang berat saat ekspirasi (grunting)
d. Sianosis
e. Retraksi suprasternal dan substernal
Menurut Suriadi (2006:242), tanda dan gejala Respiratory Distress
Syndrome (RDS) dapat disimpulkan sebagai berikut:
17
a. Pernapasan cepat (tachypnea)
b. Retraksi dada
c. Pernapasan terlihat paradiks
d. Cuping hidung
e. Apnea
f. Murmur
g. Sianosis pusat
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Analisis Gas Darah
Untuk menentukan ada tidaknya gagal napas akut yang ditandai
dengan PaCO2 >50 mmHg, PaO2 <60 mmHg, atau saturasi
oksigen arterial < 90%.
2) Elektrolit
Kenaikan kadar serum bikarbonat mungkin karena kompensasi
metabolik untuk hiperkapnea kronik. Kadar glukosa darah untuk
menentukan ada tidaknya hipoglikemia. Kelainan elektrolit juga
dapat diakibatkan oleh karena kondisi kelemahan tubuh,
hipokalemia, hipokalsemia dan hipofosfatemia dapat
mengakibatkan gangguan kontraksi otot.
3) Pemeriksaan jumlah sel darah
Polisitemia mungkin karena hipoksemia kronik
b. Pemeriksaan Radiologi
18
Pemeriksaan radiologi pada bayi dengan SGN/RDS menunjukkan
gambaran retikulo granular yang difus bilateral atau gambaran
bronkhogram udara dan paru tidak berkembang.
(Ali Usman, dkk, 2010:133-134)
7. Komplikasi
Menurut Lissauer & Fanaroff (2009:72), komplikasi yang dapat terjadi
pada penyakit Respiratory Distress Syindrome (RDS) adalah:
a. Kebocoran udara
b. Perdarahan pulmonal
c. Duktus arteiosus paten
d. Infeksi/kolaps paru
e. Perdarahan intraventrikular
f. Displasia bronkopulmonal
8. Penatalaksanaan
Menurut Surasmi (2003) tindakan untuk mengatasi masalah
kegawatan pernapasan meliputi:
a. Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekuat
b. Mempertahankan keseimbangan asam basa
c. Mempertahankan suhu optimal netral
d. Mempertahankan perfusi jaringan adekuat
e. Mencegah hipotermia
f. Mempertahankan cairan dan elektrolit adekuat.
Sedangkan menurut Lissauer & Fanaroff (2009:73), penatalaksanaa
medisnya meliputi:
19
a. Pemberian korkosteroid antenatal
b. Terapi surfaktan-profilaksis/penyelamatan melalui selang trakea
c. Terapi oksigen
d. Pencegahan kolaps paru dengan menggunakan CPAP (continuous
positive airway pressure, tekanan jalan napas positif kontinu) atau
PEEP (positive end expiratory pressure, tekanan ekspirasi akhir
positif) pada ventilator mekanis.
e. Ekspansi paru dengan memberikan tekanan inspirasi puncak dengan
ventilator mekanis jika perlu berikan tindakan intensif.
9. Tindakan Pencegahan
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah
komplikasi pada bayi risiko tinggi adalah mencegah terjadinya
kelahiran prematur, mencegah tindakan sectio caesarea yang tidak
sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat
terhadap kehamilan dan kelahiran bayi dengan risiko tinggi dan pada
penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32 minggu atau
kurang dianjurkan memberi dexametason atau betametason 48-72 jam
sebelum persalinan. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan karena
berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin (Nelson, 2000:594).
20
C. Faktor Risiko Terjadinya Penyakit Respiratory Distress Syndrome
(RDS)
1. Bayi Prematur
Menurut WHO dalam Nelson (2000:561), prematur adalah bayi
lahir hidup yang dilahirkan sebelum 37 minggu dari hari pertama
menstruasi terakhir. Kelahiran preterm adalah satu dari situasi utama
yang mengancam kesehatan manusia, menjadi penyebab terbesar dari
morbiditas dan mortalitas neonatus (Kenneth, 2009:496).
Penyebab kelahiran preterm yang dapat di identifikasi meliputi
faktor janin seperti gawat janin, kehamilan multipel, eritroblastosis,
hidrops nonimun. Faktor plasenta seperti plasenta previa dan abrupsio
plasenta. Faktor uterus seperti uterus bikornus dan serviks tidak
kompeten. Faktor ibu sperti pre-eklamsia, penyakit medis yang kronis,
infeksi dan penyalahgunaan obat. Sedangkan faktor lainnya seperti
ketuban pecah prematur, polihidramnion dan iatrogenik (Nelson,
2000:562).
Bayi prematur berisiko karena sistem-sistem organnya tidak
matur dan cadangannya kurang. Angka morbiditas dan mortalitas lebih
tinggi tiga sampai empat kali daripada bayi yang lebih tua dengan berat
yang dapat dibandingkan. Masalah-masalah potensial dan kebutuhan
perawatan bayi prematur dengan berat 2000 gram berbeda dari
kebutuhan perawatan bayi aterm, pascaterm, atau bayi pascamatur
dengan berat badan yang sama (Philip (1987) dalam Bobak (2005).
Menurut Ladewig (2006:194), komplikasi yang dapat timbul
dari kelahiran prematur meliputi apnea preterm, patent ductus
21
arteriosus, sindrom kegawatan pernapasan, perdarahan intraventrikular,
hipokalsemia, hipoglikemia, anemia preterm, hiperbilirubinemia,
infeksi.
Menurut Ali Usman, dkk (2010:132), terdapat hubungan antara
penyakit respiratory distress syndrome (RDS) dengan bayi prematur.
Paru bayi kurang bulan secara biokimiawi masih imatur, dengan
kekurangan zat surfaktan yang melapisi rongga alveoli maka alveoli
pun akan mengalami kolaps sehingga akan terjadilah gagal napas.
2. Bayi dari Ibu dengan Penyakit Diabetes
Ibu dengan penyakit diabetes melitus dapat disebabkan oleh
karena hiperglikemia kronis pada ibu (misalnya, diabetes melitus
gestasional atau diabetes melitus yang sudah berlangsung lama dengan
atau tanpa perubahan vaskuler). Hiperglikemia pada ibu tanpa
perubahan vaskuler menyebabkan sejumlah besar asam amino, asam
lemak bebas dan glukosa di transfer ke janin tetapi insulin ibu tidak
menembus plasenta. Berbagai macam komplikasi yang dapat
ditimbulkan dari IDM ini salah satunya adalah risiko sindrom gawat
napas/respiratory distress syndrome. Hal ini disebabkan karena kadar
insulin yang tinggi dapat mempengaruhi produksi surfaktan paru
sehingga paru mengalami ketegangan saat ekspirasi dan terjadi gawat
napas (Stright, 2005:335).
3. Kehamilan Kembar
Menurut Taber (2002:282) kehamilan ganda merupakan suatu
keadaan kehamilan dengan jumlah janin dua atau lebih. Kembar terjadi
22
hampir mendekati satu dalam 80 atau 90 persalinan. Triplet terjadi
hampir mendekati satu dalam 8.000 persalinan. Secara umum, kembar
dibedakan menjadi dua yaitu: monozigotik atau identik dan dizigotik
atau fraternal. Kembar monozigotik tampak relatif konstan di seluruh
dunia mendekati satu pasang dari 250 kehamilan dan tidak dipengaruhi
oleh ras, keturunan, paritas ataupun usia. Sedangkan pada kembar
dizikotik merupakan akibat dari ovulasi ganda yang bersamaan dan
dipengaruhi oleh keturunan, paritas dan usia.
Menurut Anik Maryunani (2009:69), terdapat hubungan antara
penyakit respiratory distress syndrome (RDS) dengan kehamilan
multijanin. Bayi-bayi yang dilahirkan kembar biasanya prematur. Hal
ini yang menyebabkan produksi surfaktan masih sedikit sehingga akan
mempengaruhi alveoli saat bernapas dan berakhir pada gagal napas.
4. Persalinan Sectio Caecarea
Sectio caesarea didefinisikan sebagai lahirnya janin melalui
insisi dinding abdomen (laparotomi) dan dinding uterus (histerektomi)
(Cunningham, 2006:592). Menurut Martius (1997:105), terdapat
beberapa bahaya yang telah dikenal bagi fetus bila persalinan dilakukan
sectio caesarea, risiko ini meliputi:
a. Hipoksia akibat sindroma hipotensi
b. Depresi pernapasan karena anestesia
c. Sindrom gawat pernapasan, jelas lebih lazim pada bayi yang
dilahirkan dengan sectio caesarea.
23
Mortalitas dan morbiditas bayi yang lahir dengan sectio
caesarea lebih besar bila dibandingkan dengan bayi yang lahir spontan.
Hal ini disebabkan oleh: indikasi sectio caesarea pada ibu sering
merupakan keadaan yang telah menyebabkan hipoksia pada bayi
sebelum lahir, obat anestesia yang diberikan pada ibu sedikit banyak
akan mempengaruhi bayi, kemungkinan trauma yang terjadi pada waktu
operasi, sectio caesarea yang dikerjakan pada bayi prematur, ketuban
pecah lama, infeksi intrapartum dan lain-lain akan mempunyai risiko
terhadap bayi (Abdoerrahman, 1985:1069).
Menurut Nelson (2000:592), terdapat hubungan antara penyakit
respiratory distress syndrome (RDS) dengan persalinan sectio caesarea.
Persalinan sectio caesarea akan menyebabkan atelektasis progresif
sehingga terjadi hipoventilasi, meningkatnya pCO2, pO2 dan pH
menurun dan dapat berlanjut pada shock hipotensi, vasokontriksi paru,
hipoperfusi alveolus dan gangguan metabolisme seluler. Sedangkan
menurut Arsinah, dkk (2010:135) seorang bayi yang dilahirkan melalui
sectio caesarea kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada ini
dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama.
5. Asfiksia
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat
bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan
tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea dan sampai
ke asidosis (Hidayat, 2005:198). Asfiksia neonatorum adalah keadaan
dimana bayi yang baru dilahirkan tidak segera bernapas secara spontan
24
dan teratur setelah dilahirkan. Asfiksia dapat terjadi selama kehamilan
atau persalinan (Mochtar, 1998:427). Apabila asfiksia tidak dapat
penanganan dini yang baik maka akan menyebabkan kematian
(Wiknjosastro, 1999:48). Menurut Manuaba (2006:255) penyebab
terjadinya asfiksia adalah:
a. Faktor Intrauteri, meliputi: Keadaan ibu, Uterus, Plasenta, Tali pusat,
dan Fetus.
b. Faktor umur kehamilan, meliputi: Persalinan prematur, Persalinan
presipitatus, Persalinan lewat waktu.
c. Faktor persalinan, meliputi: Persalinan memanjang/terlantar,
Persalinan dengan tindakan operatif, Persalinan dengan induksi,
Persalinan dengan anestesia, Perdarahan (solusio plasenta
marginalis).
d. Faktor buatan (iatrogenik), meliputi: Sindrom hipotensi-suspansi
(posisi tidur), asfiksia intrauteri pada induksi persalinan, asfiksia
intrauteri pada persalinan dengan anestesia.
Menurut Abdoerrachman (1985:1084), terdapat hubungan antara
penyakit Respiratory Distress Syndrome (RDS) dengan asfiksia. Hal ini
disebabkan karena pada bayi dengan asfiksia mengalami penurunan
tekanan O2 dalam darah, meningginya tekanan CO2 dalam darah dan
menurunnya pH darah, sehingga akan menyebabkan tergangguanya
sirkulasi darah di paru-paru yang akan menghambat terbentuknya
substansi surfaktan. Dengan terhambatnya produksi surfaktan maka
25
akan menyebabkan alveoli kolaps dan bayi akan mengalami kegagalan
dalam bernapas.
6. Stres Dingin
Stres dingin timbul ketika bayi diletakkan di lingkungan yang
lebih dingin dari suhu lingkungan netralnya. Ketika bayi menggigil,
dapat meningkatkan pemakaian oksigen dan penggunaan glukosa untuk
proses fisiologis. Keadaan preterm, kecil untuk masa gesyasi, hipoksia,
hipoglikemia dan depresi sistem saraf pusat bayi baru lahir, merupakan
kelompok bayi berisiko tinggi mengalami hipotermi. Komplikasi yang
muncul karena gangguan dalam proses metabolik yaitu kegawatan
pernapasan, asidosis respiratori dan metabolik, hipoglikemi dan ikterik.
Hal ini disebabkan bayi baru lahir belum mampu mengatur suhu
tubuh mereka, sehingga akan mengalami stres dengan adanya
perubahan-perubahan lingkungan. Pada saat meninggalkan lingkungan
rahim ibu yang hangat, bayi kemudian masuk ke lingkungan ruang
bersalin yang jauh lebih dingin. Suhu dingin menyebabkan air ketuban
menguap lewat kulit, sehingga mendinginkan darah bayi. Seorang bayi
yang mengalami kedinginan akan mulai mengalami hipoglikemi,
hipoksia dan asidosis (Arsinah, dkk, 2010:137).
Terdapat hubungan antara penyakit Respiratory Distress
Syndrome (RDS) dengan stres dingin. Hal ini disebabkan karena
hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang
akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama
pada paru-paru, ikterus dan kematian (Ladewig, 2006)
26
D. Kerangka Teori
Kerangka teori disusun berdasarkan rangkuman tinjauan pustaka
yang ada, khususnya mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan
kejadian penyakit Respiratory Distress Syndrome (RDS). Faktor risiko
yang bisa mempengaruhi terjadinya penyakit Respiratory Distress
Syndrome (RDS) adalah bayi prematur, bayi dari riwayat ibu dengan
diabetes, kehamilan multijanin, persalinan sectio caesarea, bayi yang
menderita asfiksia dan bayi yang mempunyai riwayat stres dingin pun
dapat mengakibatkan terjadinya penyakit Respiratory Distress Syndrome
(RDS).
Bagan 2.1
Kerangka Teori
1. Bayi prematur
2. Bayi dari ibu diabetes Respiratory Distress
3. Kehamilan multijanin Syndrome (RDS)
4. Persalinan sectio caesarea
5. Asfiksia
6. Stres dingin
Sumber: Nelson (2000:592)
Ket:
Cetak tebal:variabel yang diteliti