LAPORAN TUGAS TUTORIAL BLOK 15 UP 5
RUMINANSIA I
DISTOKIA PADA SAPI
Disusun oleh :
Nama : Kelviano Muqit
NIM : 09/284105/KH/06282
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011
Bab VII Distokia 170
Tujuan Pembelajaran
1. Apakah yang dimaksud dengan Distokia, meliputi :
Definisi, etiologi, gejala klinis, dan penanganan berdasarkan jenis distokia
2. Bagaimana perawatan induk dan pedet pasca distokia?
3. Bagaimana perawatan induk yang baik untuk mencegah distokia?
MENGETAHUI TENTANG DISTOKIA
Distokia adalah suatu gangguan dari suatu proses kelahiran atau partus, yang mana dalam
stadium pertama dan stadium kedua dari partus itu keluarnya fetus menjadi lebih lama dan sulit,
sehingga menjadi tidak mungkin kembali bagi induk untuk mengeluarkan fetus kecuali dengan
pertolongan manusia. Pada umumnya kejadian distokia lebih sering terjadi pada sapi perah
disbanding sapi potong (Putro, 2012).
Kelahiran adalah suatu proses yang sangat rumit dan distokia dapat muncul apabila beberapa
bagian dari proses tersebut mengalami kegagalan atau menjadi tidak terkoordinasi. Untuk
memudahkan penggambaran, maka penyebab distokia dibedakan menjadi 2 yakni, penyebab dasar
dan penyebab langsung. Penyebab langsung distokia pun terbagi menjadi dua, yakni : penyebab
maternal dan fetus (Jackson, 2007).
Penyebab-penyebab dasar distokia pada sapi antara lain :
Faktor Lingkungan
1. Diet : hewan yang diberi makan yang jelek dan berada dalam kondisi yang buruk maka
dapat mengalami kasus distokia yang tinggi, dan mengurangi daya hidup pedet.
Pemberian pakan yang terlalu banyak juga dapat menyebabkan meningkatnya berat fetus,
timbunan lemak intrapelvis, dan beresiko besar mengalami distokia. Namun pengurangan
diet secara drastis pada beberapa minggu terakhir kebuntingan juga harus dihindari karena
fetus akan terus tumbuh, sedangkan tubuh induk akan menjadi korban karena nutrisinya
terserap ke fetus (Jackson, 2007).
Bab VII Distokia 170
2. Penyakit : Hipokalsemia pada saat kelahiran adalah salah satu penyebab inersia uterine
primer. Beberapa penyakit lain seperti salmonellosis dan brucellosis juga dapat
menyebabkan distokia
Faktor Intrinsik
1. Umur, berat badan, ukuran pelvis induk : insiden distokia yang tinggi terjadi pada sapi
dara, yang dikawinkan sewaktu muda, dan pada kelahiran pertama sapi, namun hal ini
dapat hilang seiring bertambah besarnya induk. Diameter pelvis dan area pelvis juga
meningkat seiring pertumbuhan dari berat badan induk. Jarak eksternal diantara tuber
coxae juga harus lebih besar dari 40 cm sebelum sapi dara dikawinkan (Jackson, 2007).
2. Lama kebuntingan : hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada beberapa ras continental
(Bos taurus) menunjukkan waktu kebuntingan lebih lama, sampai hampir 290 hari
dibandingkan waktu normal sapi yakni 283 hari. Pada sapi yang bunting lebih lama juga
dapat meningkatkan berat anak sapi rata-rata 0,5 kg per hari dan panjang tulang fetus juga
meningkat (Jackson, 2007)
3. Presentasi fetus : insiden distokia dan lahir mati juga kasus-kasus tertinggi dalam kasus
distokia (Jackson, 2007).
Sedangkan penyebab langsung akan dijelaskan pada tabel di bawah ini :
Penyebab maternal
Kegagalan untuk mendorong keluar
Uterus Inersia uterina Gangguan myometrium, pemekaran yang
primer berlebihan, degenerasi (ketuaan, toksik, dll),
infeksi uterus, penyakit sistemik, jumlah
anak sekelahiran yang sedikit, heriditer.
Defisiensi biokimiawi : rasio
estrogen/progesterone, oksitosin,
prostaglandin F2α, relaksin, kalsium, glukosa.
Histeris/gangguan lingkungan.
Oligoamnion (defisiensi cairan amnion)
Kelahiran prematur
Inersia uterine Sebagai konsekuensi dari penyebab distokia
sekunder lain
Kerusakan uterus Termasuk rupture
Bab VII Distokia 170
Torsi uterus Dapat juga menyebabkan obstruksi saluran
peranakan
Abdominal Ketidakmampuan Karena umur, kesakitan, kelemahan, ruptur
untuk mengejan diapragma, kerusakan trakea/laryngeal.
Obstruksi saluran peranakan
Tulang pelvis Fraktur, ras, diet, belum dewasa, neoplasia, penyakit
Jaringan lunak Vulva Cacat kongenital, fibrosis, belum dewasa.
Vagina Cacat kongenital, fibrosis, prolapse,
neoplasia, abses perivagina, hymen.
Servik Cacat kongenital, fibrosis, kegagalan untuk
dilatasi
Uterus Torsi, deviasi, herniasi, adhesi, stenosis
Penyebab fetal
Defisiensi hormon ACTH/cortisol : inisiasi kelahiran
Disproporsi fetopelvis Fetus yang terlalu Cacat pelvis
besar
Monster fetus
Maldisposisi fetal Malpresentasi Transversal, lateral, vertical, simultaneous
Malposisi Ventral, lateral, miring
Malpostur Deviasi dari kepala dan kaki
Kematian fetus
Sumber : Jackson (2007)
GEJALA KLINIS SAPI DISTOKIA
Mengidentifikasi batas pasti dimana kelahiran normal berhenti dan distokia terjadi tidaklah
mudah. Walaupun keseluruhan durasi kelahiran sangat bervariasi, harus ada tanda-tanda kemajuan
yang terus-menerus selama pengeluaran fetus. Kelahiran mungkin menjadi melambat pada
keturunan-keturunan tertentu, seperti pada Charolais, atau jika anak sapi relatif besar. Anak sapi
dapat bertahan hingga 8 jam selama tahap kedua kelahiran tetapi waktu pengeluaran biasanya lebih
pendek. Penyimpangan dari kondisi normal yang tampak atau diduga ada harus diperiksa. Indikasi
dari terjadinya distokia meliputi:-
Tahap pertama kelahiran yang lama dan tidak progresif
Sapi berdiri dengan postur abnormal selama tahap pertama kelahiran. Pada kasus torsi uterus
sapi dapat berdiri dengan punggung menurun dalam postur ‘saw horse’.
Pengejanan kuat selama 30 menit tanpa munculnya anak sapi
Kegagalan anak sapi untuk dikeluarkan dalam waktu 2 jam setelah amnion tampak pada
vulva.
Malpresentasi, malpostur atau maldiposisi yang nyata. Misalnya, tampaknya kepala fetus
tanpa kaki depan, ekor tanpa kaki belakang, kepala dan salah satu kaki depan.
Bab VII Distokia 170
Tampak korioallantois terpisah, mekonium fetus, atau cairan amnion tercemar darah pada
vulva. Tanda-tanda ini menunjukkan bahwa hipoksia fetus mungkin ada dan kematian fetus
telah terjadi (Toelihere, 1979).
Penanganan distokia memerlukan cairan buatan yang berfungsi sebagai cairan pengganti janin asli
saat kondisi saluran peranakan induk mengalami kekeringan. Cairan janin buatan dibuat dengan
mencampurkan tepung pati kanji, antibiotik, dan air diatas kompor lalu diaduk hingga konsistensinya
mengental.
MACAM-MACAM POSISI DISTOKIA DAN CARA PENANGANANNYA
1. Presentasi : Longitudinal anterior
Posisi : Dorso sacral
Postur : Unilateral shoulder flexion posture
Prognosa : Fausta
Penanganan : Ujung kaki yang menjulur diikat dengan tali,
dan biarkan menjulur, kemudian direpulsi, ekstensi bagian bahunya. Ujung teracak dilindungi
agar tidak melukai saluran reproduksi. Tali ujung kaki
kemudian ditarik keluar. (Cady, 2009)
2. Presentasi : Longitudinal anterior
Posisi : Dorso sacral
Posture : Head neck flexion posture dorsal
Penanganan : salah satu kaki fetus di ikat, lalu fetus direpulsikan kemudian di ekstensi
sehingga posisi kepala menghadap ke arah vagina. Setelah posisi extended, fetus siap untuk
diretraksi keluar. Cara lain jika fetus tidak dapat dikeluarkan dan masih dalam keadaan hidup
adalah dengan operasi sesar (Cady, 2009).
3. Presentasi : Longitudinal anterior
Posisi : Dorso sacral
Posture : Dog sitting
Prognosa : Fausta
Bab VII Distokia 170
Penanganan : Kaki diikat dengan tali, direpulsi, ekstensi kaki depan, dibuat dorsal sacral,
ekstensi, kemudian diretraksi. Penarikan harus cepat karena umbilicus tergencet, jika tidak
fetus akan mati kehabisan nafas (Anonim, 2010).
4. Presentasi : Longitudinal anterior
Posisi : Dorso sacral
Posture : Vertex Posture
Prognosa : Fausta-Infausta
Penanganan :Salah satu kaki fetus diikat, lalu fetus
direpulsikan kemudian dirotasi sehingga posisi kepala tepat sedikit menengadah dan tidak
mengganjal kembali pada tulang pubis. Setelah posisi extended, fetus siap untuk diretraksi
keluar. Cara lain jika fetus tidak dapat dikeluarkan dan masih dalam keadaan hidup adalah
dengan operasi sesar (Anonim, 2010).
5. Presentasi : longitudinal posterior
Posisi : Dorso illial
Posture : Bilateral hip flexion posture (Breech
Posture)
Prognosa : Infausta
Penanganan : ikat salah satu kaki fetus sebagai acuan, lalu dengan bantuan porok
kebidanan fetus diekstensi, kemudian di keluarkan kaki belakangnya dan diretraksi perlahan
sesuai dengan irama kontraksi dari induk (Putro,2012).
6. Presentasi : Ventro transversal presentation
Posisi : chepalo pubic
Postur :Dorso illiaca sinister/dexter
Prognosa : Fausta
Penanganan : ikat salah satu kaki depan fetus, lalu dengan
bantuan porok kebidanan fetus didorong (ekstensi), lalu dirotasi dan siap untuk diretraksi
(Putro, 2012).
7. Presentasi : longitudinal posterior
Posisi : Dorso sacrum
Posture : Hock flexion posture
Prognosa : fausta-infausta
Bab VII Distokia 170
Penanganan : terlebih dahulu harus dilakukan palpasi vaginal untuk mendapatkan kaki
fetus, setelah dirasa dapat maka kaki fetus lalu di ikat dengan tali, posisi tubuh di repulse lalu
diekstensikan untuk membenahi posisi badan dari fetus. Lalu dengan perlahan dilakukan
versio, agar pas posisi depan-belakang, kemudian dilakukan retraksi dengan perlahan sesuai
irama kontraksi induk.
8. Presentasi : longitudinal anterior
Posisi :Dorso sacrum
Postur : bilateral hip flexio posture
Penanganan : pada posisi seperti gambar disamping,
maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengikat
kaki depan fetus tersebut, lalu dengan bantuan porok kebidanan, posisi fetus direpulsi.
Setelah mengalami repulse maka hal selanjutnya adalah ekstensi, dalam hal ini adalah
pembenaran posisi untuk kaki belakang, setelah posisi sesuai dengan posisi normal maka
dilakukan penarikan fetus atau retraksi sesuai dengan kontraksi dari uterus induk.
PERAWATAN INDUK DAN PEDET PASCA DISTOKIA
Setelah kelahiran fetus, uterus harus selalu diperiksa untuk mendapatkan bukti fetus lainnya.
Saluran peranakan lalu diperiksa untuk mendapatkan tanda-tanda kerusakan dan pendarahan.
Involusi uterus biasanya mulai segera setelah kelahiran pedet tersebut, jika tonus uterus lemah, maka
20 IU oksitosin harus diberikan dengan injeksi intramuscular. Dan kemudian ambingnya diperiksa
kembali untuk mengetahui gejala mastitis (Jackson, 2007).
Anak sapi harus di dorong untuk menghisap kolostrum dalam 6 jam kelahiran. Pusarnya
harus di cekupkan ke dalam iodine atau disemprot dengan aerosol antibiotik sesegera mungkin
setelah lahir. Pusarnya juga harus dioeriksa berkala setelah lahir untuk memastikan tidak terjadi
hemoraghi yang tertunda dari umbilicus tidak terjadi. Apabila terdapat hal tersebut, pembuluh asal
hilangnya darah harus segera diligasi. Dalam kasus yang terabaikan dimana terjadi kehilangan darah
dalam jumlah cukup besar, maka perlu kiranya dilakukan transfusi darah (Jackson, 2007).
Pemberian nutrisi pada sapi dan pedet haruslah diperhatikan setelah dilalukan tindakan, hal
ini dikarenakan kondisi tubuh induk dan neonatal (pedet) dalam kondisi yang lebih lemah
dibandingkan dengan kelahiran normal (eutokia). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemberian nutrisi ke pedet antara lain ;
1. Pedet
Bab VII Distokia 170
Kolustrum diberikan pada pedet minimal 3 hari setelah melahirkan. Pemberian dapat
dilakukan 3 jam setelah dilahirkan. Kolustrum diberikan 2-4 x sehari. Tahapannya yaitu ;
a. Hari 1 ; 5% BB , sekitar 1,5- 2 liter
b. Hari 2 ; 8-10% BB, sekitar 4 liter
Pemberian Calf Starter di berikan pada umur 2 minggu sampai umur sapih yaitu
pakan konsentrat khusus untuk pedet. Pakan ini harus disukai pedet dengan kandungan
TDN 72-75%, PK 16-18% serat kasar minimal 7% (Sunarko dkk, 2009)
2. Induk
Untuk memenuhi standar kebutuhan pakan sapi perah pada periode laktasi yang perlu
diperhatikan adalah ;
a. Pemberian air secukupnya, ketersediaan air pada sapi perah merupakan hal penting.
b. Serat Kasar 18-22%
c. Protein Kasar pada awal laktasi sebanyak 16-18% selanjutnya dapat diturunkan menjadi
14-16%.
d. TDN 64-72%
e. Konsumsi bahan kering pada sapi dengan produksi susu tinggi adalah 3,5 % BB
sedangkan pada sapi produksi susu rendah 2,5-3 %BB (Sunarko dkk, 2009)
3. Pembuatan Kolostrum Buatan
Apabila induk tidak dapat mengeluarkan kolostrum, salah satu cara yang paling tepat
adalah pemberian kolostrum buatan. Kolostrum buatan dapat dibuat dari susu skim, madu,
antibiotik, MgSO4, NaCl, kuning telur, dan air hangat yang digunakan sebagai pelarut.
PENCEGAHAN DISTOKIA
Beberapa tindakan atau cara yang dapat dilakukan sebagai usaha pencegahan distokia yaitu
berikan pakan yang cukup pada sapi dara yang akan melahirkan selama 24 bulan sehingga sapi-sapi
berada dalam kondisi tubuh yang baik untuk melahirkan tetapi tidak overconditioned, area kelahiran
harus bersih, kering dan mempunyai ventilasi baik, obsevasi kelahiran secara seksama, berikan
waktu yang cukup pada sapi untuk menyiapkan kelahiran sendiri, lakukan prosedur sanitasi yang
ketat ketika pemeriksaan dilakukan, mengetahui batas waktu untuk memanggil bantuan dokter
hewan ketika kesulitan terjadi dan sebelum sapi menjadi lemah, berikan perawatan neo-natal yang
baik, dan seleksi induk untuk sapi dara dengan kelahiran yang normal (Anonim, 2010)
a. Pengawasan rencana perkawinan sapi
Bab VII Distokia 170
Menyeleksi ras dari spesies yang akan dikawinkan yang mempunyai tingkat kejadian
distokia yang rendah sambil memepertahankan standar ras yang baik.
Hindari sejauh mungkin mengawinkan hewan dengan riwayat distokia. Lakukan
perawatan khusus pada hewan tersebut apabila secra kebetulan ataupun dengan sengaja
dikawinkan lagi (Jackson, 2007).
b. Pengawasan kebuntingan
Diagnosa kebuntingan secara akurat: agar tanggal kelahiran dapat diketahui. Variasi lama
kebuntingan pada kuda menyebabkan kesulitan dalam mamprediksi tanggal kelahiran
yang akurat.
Pengawasan hormon pendukung kebuntingan: pengukuran secara teratur hormon
progesteron dalam plasma pada hewan dengan riwayat kebiasaan (habitual) abortus
memberikan informasi yang berguna berkenaan dengan keamanan kebuntingan mereka
saat ini. Hewan yang progesteron plasmanya jatuh dibawah kadar normal telah diberikan
suplementasi progesteron atau progestagen. Saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa
suplementasi tersebut efektif.
Pemeriksaan rektal pada sapi: pemeriksaan yang penting dan sederhana pada sapi adalah
pemeriksaan rektal pada 10-14 hari sebelum kelahiran. Hal ini mungkin – meskipun
kadang-kadang sulit untuk memperkirakan ukuran anak dan presentasinya. Jika anak sapi
diperkirakan besar, induksi kelahiran dapat dipertimbangkan. Jika anak sapi pada
presentasi posterior, penanganan khusus perlu dilakukan saat kelahiran untuk memastikan
kelahiran tidak berkepanjangan (Anonim, 2010).
.
Sedangkan pencegahan terjadi kembalinya distokia dapat dicegah dengan cara :
1. Pengaturan manajemen pakan yang baik sebelum dan saat kebuntingan
2. Sapi tidak di IB dengan semen ras yang ukuran badan lebih besar
3. Pencegahan penyakit reproduksi sapi seperti Salmonellosis dan Brucellosis
4. Exercise yang cukup pada sapi bunting
5. Pengawasan kebuntingan sejak dini
6. Pemeriksaan organ reproduksi
(Jackson, 2007)
DAFTAR PUSTAKA
Bab VII Distokia 170
Anonim. 2010. Gannguan Reproduksi Pada Ternak. Di unduh dari
[Link] .html
pada 18 Januari 2012 pukul 20.12
Cady, RA. 2009. Dystocia—Difficult Calving, What It Costs and How to Avoid It. University of New
Hampshire.
Jackson, P, G. 2007. Handbook Obstetrik Veteriner. Edisi ke-2. Diterjemahkan oleh Aris Junaidi.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Putro, P.P., Prihatno, S.A., Setiawan, E.M.N. 2012. Petunjuk Praktikum Ruminansia I Blok1 15.
Bagian Reproduksi dan Kebidanan. Fakultas Kedokteran Hewan UGM : Yogyakarta
Sunarko, Chandra, Bambang Sutrasno, TH Tiwi S, Apsari Kumalajati, Heri Supriadi, Akhmad
Marsudi, Budiningsih. 2009. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah. BBPTU Sapi Perah
Baturraden.
Toelihere, M.R. 1979. Ilmu Kebidanan dan Kemajiran. Penerbit Angkasa. Bandung.
Bab VII Distokia 170