0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan17 halaman

Praktikum 555 Timer: Frekuensi dan Pulsa

Laporan praktikum elektronika II membahas percobaan menggunakan timer 555 untuk mengukur frekuensi astable dan monostable timer serta membuat osilator tegangan terkontrol dan sawtooth generator. Percobaan dilakukan oleh kelompok 8 pada hari Selasa, 21 Maret 2017.

Diunggah oleh

Ravi Naldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
20 tayangan17 halaman

Praktikum 555 Timer: Frekuensi dan Pulsa

Laporan praktikum elektronika II membahas percobaan menggunakan timer 555 untuk mengukur frekuensi astable dan monostable timer serta membuat osilator tegangan terkontrol dan sawtooth generator. Percobaan dilakukan oleh kelompok 8 pada hari Selasa, 21 Maret 2017.

Diunggah oleh

Ravi Naldi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

ELEKTRONIKA II
SEMESTER GENAP A.T.A 2016/2017

Nama / NPM : Ravi Naldi / 1506670143


Kelompok :8
Rekan Kerja : Josua Pangaribuan
Hari Praktikum : Selasa
Tanggal Percobaan : 21 Maret 2017
Nama Modul : THE 555 TIMER

Nomor Modul : 03

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS INDONESIA

2017
A. Tujuan
1. Mengukur frekuensi dan siklus dari astable 555 timer
2. Menghitung panjang pulsa dari monostable timer 555
3. Menentukan sinyal output pada Voltage-controlled oscillator
4. Membuat sawtooth generator menggunakan timer 555
B. Teori Dasar

RS Flip-Flop

S-R flip-flop merupakan sirkuit penyimpan data yang bisa dibuat


menggunakan dua gerbang NOR gate.

Saat Set diberikan input HIGH dan Reset diberikan input LOW, disebut Set
Condition. Input HIGH pada Set akan menghasilkan output pada NOR gate
bagian atas menjadi 0, dan nilai tersebut dikirim ke NOR gate bagian bawah
yang mana bersama input LOW pada Reset menghasilkan nilai output 1.
Lalu kita ingin merubah dari Set Condition menjadi Reset Condition.
Dengan mengubah input pada S = 0 dan R = 1. Pada R = 1, menjadikan
output pada NOR bagian bawah 0, lalu menempatkan dua input bernilai 0
pada NOR gate bagian atas menghasilkan output bernilai 1.

Berikut adalah tabel kebenaran dari S-R flip-flop:


Input R dan S menyebabkan output untuk menyala dan mati sperti flip
flop dimana Q bernilai HIGH dan 𝑄̅ bermilai LOW.

Gambar 1

Simbol skematik RS flip flop

Gbr. 2 Simbol Flip-Flop, dan Skema Flip-Flop (a) Set Condition (b) Reset
Condition

Saat kondisi Set, maka Input HIGH pada Set dan LOW pada Reset,
menghasilkan Output Q HIGH dan Q LOW. Kondisi output Q dan Q akan
bertahan walaupun Input Set diganti – ganti LOW atau HIGh, hingga pada
Input reset diberikan HIGH, itulah kondisi Reset. Kondisi ini memenuhi
konsep dasar NOR gate, dimana outputnya HIGH hanya saat kedua
inputnya LOW.

Konsep dasar Timing

Gambar 3 mengilustrasikan beberapa ide dasar yang dibutuhkan dalam


diskusi selanjutnya mengenai 555 Timer. Misalkan output Q HIGH,
transistor akan mengalami saturasi dan tegangan kapasitor terjepit pada
ground. Dengan kata lain, kapasitor menjadi short dan tidak dapat mengisi
muatan.
Vcc

R19 R18

Vout

R17
0.01µF R16

Gbr. 3. Konsep dasar Timing

Tegangan input yang tidak dibalik pada op amp disebut tegangan treshold,
dan tegangan input yang dibalik disebut tegangan kontrol. Dengan
pengaturan flip-flop RS, transistor yang tersaturasi memiliki tegangan
treshold pada 0. Tegangan kontrol pada sisi lain, tetap pada +10 V karena
adanya pembagi tegangan.
Tegangan tinggi pada input R akan me-reset flip-flop RS. Output Q menuju
0, dan transistor menjadi cut off. Kapasitor C sekarang bebas mengisi
muatan. Ketika kapasitor mengisi muatan, tegangan threshold meningkat.
Secepatnya, tegangan threshold menjadi sedikit lebih besar dari tegangan
kontrol (+10 V). output op amp menjadi tinggi, memaksa flip-flop RS
terpasang. Output Q tinggi menyaturasi transistor dan dengan cepat
membongkar muatan kapasitor. Bentuk gelombang eksponensial naik
melewati kapasitor dan pulsa positif muncul pada output 𝑄̅ .
Diagram Blok 555

NE555 yang diperkenalkan oleh Signetics adalah sebuah IC 8 pin yang


dapat terhubung ke komponen eksternal untuk operasi astabil atau
monostabil. Gambar 41-3 menunjukkan sebuah diagram blok sederhana.
Perhatikan bagian atas op amp memiliki input threshold (pin 6) dan input
kontrol (pin 5). Dalam kebanyakan aplikasi input kontrol tidak digunakan
sehingga tegangan kontrol sama dengan +2Vcc/3 dikembangkan oleh tiga
pembagi tegangan 5 kΩ. Seperti sebelumnya, kapanpun tegangan threshold
melampaui tegangan kontrol, output tinggi dari op amp akan men-set flip-
flop.

Kolektor pada transistor yang mengalami discharge ada di pin 7. Ketika pin
terhubung ke kapasitor waktu eksternal, output Q tinggi dari flip-flop akan
menyaturasi transistor dan membongkar muatan kapasitor. Ketika Q rendah,
transistor terbuka dan kapasitor dapat mengisi muatan seperti yang telah
dideskripsikan sebelumnya.

Sinyal komplementer dari flip-flop ada di pin 3, output. Ketika reset


eksternal (pin 4) di-ground-kan, devais dihambat (proses kerja dicegah).
ON-OFF ini berguna pada waktu tertentu. Pada kebanyakan aplikasi,
bagaimanaun, reset eksternal tidak digunnakan dan pin 4 dihubungkan
secara langsung ke tegangan supply.

Perhatikan op amp paling bawah. Input yang dibalik disebut trigger (pin 2).
Karena adanya pembagi tegangan, input yang tidak dibalik memiliki
tegangan tetap VCC/3. Ketika tegangan input trigger sedikit dibawah
+VCC/3, output op amp menjadi tinggi dan me-reset flip-flop. Terakhir, pin
1 adalah chip ground, sementarra pin 8 adalah pin supply. Pewaktu 555 akan
bekerja dengan tegangan supply antara 4,5 dan 16 V.

Operasi Monostabil

Gambar 41-4a menunjukkan pewaktu 555 terhubung umtuk operasi


monostabil (one-shot) yang menghasilkan pulsa tunggal tetap setiap satu
pulsa trigger diberikan ke pin 2 (Gambar 41-4b). Ketika input trigger lebih
kecil dari +VCC/3, op amp yang lebih rendah memiliki output tinggi dan me-
reset flip-flop. Transistor cut off ini memungkinkan kapasitor untuk mengisi
muatan.

Ketika tegangan threshold lebih besar dari +2Vcc/3, op amp yang lebih
tinggi memiliki output tinggi, yang men-set flip-flop. Secepat Q menjadi
tinggi, transistor menyala dan membongkar muatan kapasitor dengan cepat.

Input trigger berupa sebuah pulsa sempit dengan nilai tetap +VCC. Pulsa
harus jatuh di bawah +VCC/3 untuk me-reset flip-flop dan mengisi muatan
kapasitor. Ketika tegangan threshold melampaui +VCC/3, flip-flop terpasang
dan menyaturasi transistor dan membongkat muatan kapasitor. Sebagai
hasil, didapat pulsa output kotak.

Kapasitor C harus mengisi muata melalui resistansi R. Semakin besar


konstanta waktu RC, semakin lama tegangan kapasitor mencapai +VCC/3.
Dengan kata lain, konstanta waktu RC mengontrol lebar pulsa output.
Penyelesaian persamaan eksponensial untuk tegangan kapasitor diberikan
dalam rumus lebar pulsa:

W = 1,1 RC (41-1)

Sebagai contoh, jika R = 22kΩ, dan C = 0,068 μF, output pewaktu 555
monostabil menjadi

W = 1,1 x 22(103) x 0,068(10-6) = 1,65 ms.

Secara normal, diagram skematik tidak menunjukkan op amp, flip-flop, dan


komponen lain di dalam pewaktu 555. Lebih jauh lagi, kamu akan melihat
diagram skematik seperti Gambar 41-5 untuk rangkaian 555 monostabil.
Hanya pin dan komponen eksternal yang terlihat. Perhatikan pin 5 (kontrol)
di-bypass ke ground melalui sebuah kapasitor kecil, 0,01 μF. Ini
menyediakan penyaringan noise untuk tegangan kontrol.
Operasi Astabil

Gambar 41-6a menunjukkan pewaktu 555 terhubung untuk operasi astabil


atau free-running. Outputnya berupa sinyal gelombang kotak. Ketika Q
rendah, transistor mengalami cut off dan kapasitor mengisi muatan melalui
resistansi total RA + RB sehingga konstanta waktu pengisian menjadi (RA +
RB)C. Selama kapasitor mengisi muatan, tegangan threshold meningkat.

Tegangan threshold melampaui +2VCC/, lalu op amp yang lebih tinggi


memiliki output tinggi dan men-set flip-flop. Dengan Q tinggi, transistor
menyaturasi dan men-ground-kan pin 7. Sekarang kapasitor membongkar
muatan melalui RB. Konstanta waktu pembongkaran muatan adalah RBC.
Ketika tegangan kapasitor jatuh di bawah +VCC/3, op amp yang lebih rencah
memiliki output lebih tinggi dan me-reset flip-flop.

Gambar 41-6b mengilustrasikan bentuk gelombang. Seperti yang terlihat,


kapasitor waktu meningkat secara eksponensial dan memiliki tegangan
jatuh. Outputnya berupa gelombang kotak. Karena konstanta waktu
charging lebih lama dari konstanta waktu discharging, output menjadi tidak
simetris. Kondisi tinggi berakhir lebih lama dari keadaan rendah.

Untuk menspesifikasi output yang tidak simetris, gunakan siklus tugas:

D = (W/T) x 100%

Sebagai contoh, W = 2 ms, dan T = 2,5 ms,


D = (2/2,5) x 100% = 80%

Berdasarkan pada RA dan RB, siklus tugas berada di antara 50 dan 100
persen.

Solusi matematis untuk persamaan charging dan discharging memberikan


rumus frekuensi output berikut:
1,44
𝑓=
(𝑅𝐴 + 2𝑅𝐵 )𝐶

Dan siklus tugas:

𝑅𝐴 + 𝑅𝐵
𝐷= 𝑥100%
𝑅𝐴 + 2𝑅𝐵
Jika RA lebih kecil dari RB, siklus tugas mendekati 50%.

Gambar 41-7 menunjukkan pewaktu 555 astabil tang biasa digunakan.


Perhatikan lagi bagaimana pin 4 (reset) terhubung ke tegangan supply dan
pin 5 (kontrol) di-bypass ke groun melalui 0,01μF kapasitor.

Osilator Tegangan Terkontrol

Gambar 41-8a menunjukkan osilator tegangan terkontrol (VCO). Ingat


kembali pin 5 (kontrol) terhubung ke input yang dibalik pada op amp yang
lebih tinggi. Secara normal, tegangan kontrol +2VCC/3 karena pembagi
tegangan internal. Pada Gambar 41-8a, tegangan dari potensiometer
eksternal mengesampingkan tegnangan internal. Dengan kata lain, dengan
mengatur potensiometer, kita dapat mengubah tegangan kontrol.

Gambar 411-8b mengilustrasikan tegangan yang melewati kapasitor waktu


yang bervariasi antara +Vcontrol/2 dan +Vcontrol. Jika kita menaikkan Vcontrol,
kapasitor akan mengalami charge dan discharge yang lebih lama, sekalipun
frekuensi dikurangi. Sebagai hasil, kita bisa mengubah frekuensi rangkaian
dengan memvariasikan tegangan kontrol.

Tegangan kontrol bisa berasal dari potensiometer atau output rangkaian


transistor yang lain, op amp, dan sebagaiya.
Generator Sawtooth

Sawtooth generator dapat dibangun menggunakan transistor dan IC 555


timer. Sebagaimana ditunjukkan pada diagram dibawah. Diagram ini terdiri
dari transistor, sebuah kapasitor, sebuah dioda zener, dan beberapa resistor,
serata digunakan pula sumber arus yang konstan yang berfungsi untuk
mengisi kapasitor. Awalnya, mari kita asumsikan bahwa kapasitor
sepenuhnya habis/kosong. Tegangan kapasitor adalah nol dan output dari
IC 555 adalah high karena komparator internal terhubung dengan pin 2.

Kapasitor memulai pengisian untuk memasok tegangan karena transistor


internal 555 shorting kapasitor ke ground. Selama pengisian, output 555
merendah apabila tegangan meningkat sebesar 2/3 tegangan sumber.
Selama pemakaian, output 555 meninggi apabila tegangan yang melewati
kapasitor dibawah 1/3 tegangan sumber.

Arus charging konstan menghasilkan ramp linier pada tegangan yang


melalui kapasitor. Transistor PNP pada Gambar 41-9a menghasilkan arus
charging konstan setara:

𝑉𝐶𝐶 − 𝑉𝐸
𝐼𝐶 =
𝑅

dimana

𝑅2
𝑉𝐸 = 𝑉𝐵𝐸 + 𝑉
𝑅1 + 𝑅2 𝐶𝐶

Sebagai contoh, jika VCC = 15 V, R = 20 kΩ, R1 = 5 kΩ, R2 = 10 kΩ, dan


VBE = 0,7 V.

VE = 0,7 V + 10 V = 10,7 V

15 𝑉 − 10,7 𝑉
𝐼𝐶 = = 0,215 𝑚𝐴
20 𝑘𝛺

Ketika sebuah trigger memulai pewaktu 555 monostabil pada Gambar 41-
9b, sumber arus PNP memaksa arus charging konstan ke dalam kapasitor.
Tegangan melalui kapasitor berupa ramp linier seperti tampak pada Gambar
41-9b. Slope S pada ramp linier didefinisikan sebagai:

𝑉
𝑆=
𝑇

Dimana V merupakan tegangan puncak pada waktu T. Sebagai contoh, jika


V = 10 V dan T = 2 ms, lalu slope:

10𝑉 5𝑉
𝑆= =
2𝑚𝑠 𝑚𝑠

Hal ini menunjukkan ramp meningkat 5V/ms.

Karena persamaan kapasitor dasar:

𝑄
𝑉=
𝐶

Kita dapat membagi kedua sisi dengan T sehingga didapat:

𝑄
𝑉 𝑇
=
𝑇 𝐶

Ketika arus charging konstan:

𝐼
𝑆=
𝐶

Dengan kata lain, kita dapat memprediksikan slope ramp linier


menggunakan rasio arus charging terhadap kapasitansi. Jiika arus charging
0,215 mA dan kapasitansi 0,022 μF, ramp akan memiliki slope

0,215 𝑚𝐴 9,77𝑉
𝑆= =
0,022𝜇𝐹 𝑚𝑠

One Shoot Timer

Pada one shoot timer, timer bekerja jika timer coil mendapat logika 1
dari inputnya, timer akan menghitung sampai preset value dan timer contact
akan aktif. Untuk jenis On Delay Timer (deafult). Timer akan mati (kembali
ke nilai awal) jika inputnya dimatikan.

C. Simulasi
Percobaan I
Rangkaian Astable 555 Timer
Simulasi

Hasil
Percobaan II
Rangkaian Voltage-controlled Oscillator
Simulasi

Hasil
Percobaan III
Rangkaian Monostable 555 Timer
Simulasi

Hasil
Percobaan IV
Rangkaian Sawtooth Generator
Simulasi

Hasil
R = 10 kΩ
R = 22 kΩ

R = 33 k
D. Tugas Pendahuluan
Pertanyaan :
1. Apa fungsi dari 555 timer?
2. Apa perbedaan dari monostable operation dan astable operation?
Jawab :

1. dapat menghasilkan sinyal pendetak/sinyal kotak. Tergantung


kreativitas saja untuk merangkainya, beberapa diantaranya adalah
sebagai clock untuk jam digital, hiasan menggunakan lampu LED,
menyalakan 7-segment dengan rangkaian astable, metronome dalam
industry music, timer counter, atau dengan lebih dalam mengutak-
atik lagi dapat memberikan PWM (pulse width modulation) yang
mengatur frekuensi sinyal logika high untuk mengatur duty
cycle yang diinginkan.
2. Monostable operation adalah sirkuit generator pulsa di mana durasi
pulsa ditentukan oleh jaringan R-C, yang terhubung secara eksternal
ke IC 555. Dalam vibrator seperti itu, salah satu keadaan output
stabil sementara yang lain adalah kuasi-stabil (tidak stabil). Untuk
pemicu otomatis output dari keadaan kuasi-stabil ke keadaan stabil
disimpan oleh kapasitor C terhubung secara eksternal. Waktu yang
dibutuhkan dalam penyimpanan menentukan lebar pulsa. Transisi
output dari kondisi stabil ke kondisi quasi-stabil dicapai dengan
memicu eksternal. Dan astable operation adalah adalah sirkuir
generator untuk rectangular-wave. Berbeda dengan monostable
multivibrator, sirkui ini tidak memerlukan pemicu eksternal untuk
mengubah keadaa dari output. Waktu antara output bernilai HIGH
atau LOW ditentukan oleh dua resistor dan sebuah kapasitor yang
terhubung secara eksternal.
E. Referensi
 Penuntun Praktikum Elektronika II modul 3
 Kleitz, William. Digital Electronics: A Practical Approach with VHDL 9th
Edition. 2012. Pearson Education
 [Link]

Anda mungkin juga menyukai