0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan27 halaman

Pemeriksaan BOF untuk Diagnosa Abdomen

Dokumen tersebut membahas tentang foto polos abdomen (BOF) yang merupakan pemeriksaan radiologi untuk mendeteksi gangguan pada abdomen. Dokumen menjelaskan anatomi abdomen, indikasi, kontraindikasi, dan teknik pemeriksaan BOF dalam 3 posisi."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
85 tayangan27 halaman

Pemeriksaan BOF untuk Diagnosa Abdomen

Dokumen tersebut membahas tentang foto polos abdomen (BOF) yang merupakan pemeriksaan radiologi untuk mendeteksi gangguan pada abdomen. Dokumen menjelaskan anatomi abdomen, indikasi, kontraindikasi, dan teknik pemeriksaan BOF dalam 3 posisi."
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sekitar 4-10% dari kunjungan ke instalasi gawat darurat adalah nyeri akut
abdomen dan menjadi salah satu keluhan utama yang paling sering ditemui.
Anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium merupakan aspek
yang penting dalam penegakan diagnosis nyeri akut abdomen. Modalitas awal
yang dapat digunakan adalah foto polos abdomen.
Pemeriksaan diagnostik radiologi telah menjadi bagian yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, terutama di dalam penatalaksanaan klinis
pasien di dalam pelayanan kesehatan. Sejak ditemukannya sinar X oleh Roentgen
pada tahun 1895 dan kemudian diproduksinya peralatan radiografi pertama untuk
penggunaan diagnostik klinis. Prinsip dasar dari radiografi tidak mengalami
perubahan sama sekali, yaitu memproduksi suatu gambar pada film reseptor
dengan sumber radiasi dari suatu berkas sinar-X yang mengalami absorbsi.
Perkembangan teknologi radiologi telah memberikan banyak sumbangan tidak
hanya dalam perluasan wawasan ilmu, tetapi juga kemampuan diagnostik
radiologi. Dewasa ini penggunaan pemeriksaan radiologi semakin meningkat.
Begitu juga dalam penggunaannya sebagai alat bantu diagnosa sekaligus terapi
pada kelainan–kelainan abdomen. Berbagai kelainan baik kongential maupun
didapat dalam sistem ini dapat diperiksa dengan bantuan radiologi melalui
beberapa macam pemeriksaan yaitu, Foto Polos Abdomen (FPA), Ultrasonografi
(USG), CT Scan, Pemindaian Isotop, Arteriografi, sampai pemeriksaan dengan
menggunakan kontras. Dan tulisan ini akan mengkaji tentang Foto Polos
Abdomen (FPA) atau yang dikenal BOF.

BAB II

1
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Abdomen
Abdomen membentang dari diafragma hingga pelvis. Hanya lambung dan
kolon yang dalam keadaan normal mengandung udara di dalam lumennya. Usus
halus biasanya tidak mengandung udara di dalammnya. Batas udara-cairan normal
terdapat di dalam lambung, duodenum dan kolon, namun tidak lazim ditemukan
di dalam usus halus. Hati, kandung empedu dan limpa merupakan organ padat
intraperitoneum yang terletak berturut-turut di daerah subkostalis kanan dan kiri.
Di dalam retroperitoneum, terdapat ginjal dan fasia perirenalis, kelenjar adrenal,
kelenjar getah bening, pankreas, aorta, vena cava inferior, dan muskulus psoas.
Ada sembilan pembagian regio atau daerah di abdomen. Regio organ yang ada
didalamnya
1. Hypochondriaca kanan : sebagian hati, kantung empedu dan bagian atas
ginjal kanan.
2. Epigastrica : ginjal kanan dan kiri, sebagian hati dan lambung serta
sebagian kantung empedu.
3. Hypochondriaca kiri : limpa, sebagian lambung, bagian atas ginjal kiri,
sebagian usus besar.
4. Lateralis kanan : sebagian hati dan usus besar serta bagian bawah ginjal
kanan.
5. Umbilicalis : sebagian besar usus halus, pankreas, ureter bagian atas, usus
besar, serta bagian bawah kantung empedu.
6. Lateralis kiri : sebagian kecil usus besar dan bagian bawah ginjal kiri.
7. Inguinalis kanan : sebagian kecil usus besar.
8. Pubica : usus buntu, sebagian usus halus dan usus besar, ureter kanan dan
kiri, serta sebagian kantung kemih.
9. Inguinalis kiri : sebagian kecil usus besar

Regio abdomen serta gangguan khasnya

2
Gambar 1. Gambar regio abdomen
Gangguan khas di abdomen:
1. Hychondriaca kanan : pembesran hati, sirosis hati
2. Epigastrica : maag, pembesaran hati, batu empedu dan batu
ginjal, pembesaran hati serta sirosis hati
3. Hypochondiaca kiri : pembesaran limpa
4. Lateralis kanan : batu empedu, batu ginjal
5. Umbilicalis : ulcus usus halus, kerusakan usus halus batu ureter
6. Lateralis kiri : batu ginjal
7. Inguinalis kanan : hernia, hamil diluar rahim, usus buntu
8. Pubica : appendix, hernia, batu ureter
9. Inguinalis kiri : hernia, hamil diluar rahim

2.2 Definisi

Buick Oversic Foto (BOF) atau yang dikenal film polos standar abdomen
merupakan pemeriksaan abdomen tanpa menggunakan kontras dengan
sinar-x yang menggambarkan struktur dan organ di dalam abdomen yaitu
lambung, hati, limpa, usus halus, usus besar dan diafragma. Dapat
dilakukan dalam tiga posisi, berdiri, terlentang, dan terlentang miring
(LLD). Pandangan ini, seperti pandangan berdiri, menggunakan sorotan

3
sinar-x horizontal. Tujuan utama film sorotan horizontal untuk mendeteksi
batas udara-cairan serta udara bebas intraperitoneum. BOF ini menjadi
salah satu alat bantu dalam mendiagnosis terjadinya gangguan pada
abdomen.

2.3 Prinsip Kerja


Sinar X digunakan untuk semua radiografi konvensional dan untuk
tomografi dikomputerisasi. Mereka dihasilkan bila elektron berkecepatan tinggi
diperlambat dengan cepat, dicapai dengan melewatkan voltage yang sangat tingi
melintasi dua ujung yang ditempatkan dalam tabung yang telat [Link]
ujung katoda merupakan campuran tungsen, yang dipanaskan oleh arus listrik
terpisah. Ujung lain anoda merupakan sasaran dari campuran †ungsten dalam
cakram tembaga. Filamin dalam tungsten ini jika dipanasan melepaskan elektron
bebas dan bila diberikan voltage yang tinggi biasanya dalam rentang 50-150kV
diantara dua ujung, maka eletron ditarik ke arah anoda dengan kecepatan tinggi
yang akan menabrak sasaran tungsten dan menghasilkan sinar-x.
Beberapa sifat dari sinar-x yaitu, daya tembus, mengalami atenuasi
(diperlemah) saat melalui bahan, efek luluminesensi, efek fotografis.
1. Daya tembus (Penetrating Power)
Daya tembus dipengaruhi tegangan listrik filamen serta oleh jenis bahan
yang disinari. Semain besar tegangan, semakin tinggi daya tembusnya.
2. Mengalami atenuasi ( diperlemah) saat melalui bahan
Atenuasi semakin besar jika tebal bahan, kerapatan, dan noor atom
semakin besar. Lsnjutan sinar x dibelakang objek disebut bayangan
atenuasi. Bayangan ini yang memberikan gambar pada film.
3. Memiliki efek luminesasi (pertebaran)
Yaitu efek perpendaran bila sinar x mengenai logam tertentu.
4. Memiliki efek fotografik
Yaitu menghitamkan emulsi film (emulsi perak bromida).
5. Pendan fluor (Fluorensi)

2.4 Indikasi
Foto abdomen digunakan untuk pemeriksaan tambahan pada pasien
dengan gejala klinis; obstruksi usus, perforasi ulcus duodeni/ gaster dan perforasi

4
usus, nyeri renal, benda asing baik yang tertelan atau akibat trauma dan IUD yang
terdislokasi, Pada bayi yang baru lahir dengan muantah yang menetap atau
meconium yang tidak keluar.

2.5 Kontraindikasi
Pada pemeriksaan radiologis perlu diperhatikan terhadap adanya resiko
radiasi. Ten Day Rule perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya radiasi pada
kehamilan yang tak tak terduga sebelumnya,yaitu pemeriksaan radiologi pada
wanita usia 12 sampai 50 tahun pada 10 hari setelah menstruasi hari pertama perlu
diperhatikan, kecuali:
1. Wanita yang tak menikah (tidak berhubungan sex)
2. Wanita yang sedang menstruasi saat akan dilakukan foto
3. Wanita yang menggunakan kontrasepsi (pil) selama 3 bulan terakir
4. Wanita dengan IUD yang terbukti efekif selama 3 bulan
5. Wanita yang telah dilakukan sterilisasi

2.6 Macam Pemeriksaan Foto Polos Abdomen

1. Pemeriksaan radiodiagnostik sederhana tanpa persiapan terutama melihat


gambaran distribusi dari gas usus serta kelainannya.
2. Pemeriksaan radiodiagnostik sederhana dengan persiapan yang dikerjakan
terutama bila nantinya diperkirakan akan ada gangguan dari hasil foto bila
kondisi penderita belum memenuhi syarat, yaitu :

Foto polos abdomen melihat saluran kencing, dalam hal ini kotoran dalam
usus sangat mengganggu hasil foto sehingga harus dibersihkan sebelumnya, untuk
melihat kontur ginjal dan salurannya serta bagian belakang abdomen, dalam hal
ini kita harus membersihkan sisa makanan dari usus yang akan mengganggu
gambaran di film sehingga memerlukan penanganan sebelum pemeriksaan dengan
mempersiapkan penderita dengan makanan yang bebas serat selama beberapa hari
kemudian dibersihkan dengan pencahar agar kotoran dikeluarkan dari usus,
dengan demikian usus akan bersih dari kotoran sisa makanan yang menutupi
daerah di belakangnya.

5
Persiapan untuk Foto polos Abdomen:
Persiapan pasien:
Diet rendah serat 2-3 hari sebelum pemeriksaan, tujuannya untuk
mengurangi bentukan fecal yang dapat menutupi bayangan organ abdomen.
Malam hari sebelum pemeriksaan diberikan laxant 30gram. Tidak boleh merokok
untuk mengurangi pembentukan gas dalam usus. Kencing sebelum foto dibuat.
Puasa 6-8 jam sebelum pemeriksaan.
Persiapan foto:
1. Film
Dewasa : 30x 40 cm
35x42cm
Anak : 24 x 30cm

2. Tehnik:
Centrasi : +VL 4 (vertebrata lumbal 4)
Posisi Penderita : ditengah meja dengan vertebrae di garis
tengah.
3. Saat eksposure : Pasian insprirasi O2 dan diam
4. Faktor Eksposure : KV/ mAs/ FFD (fokus film distance)

2.7 Teknik pemeriksaan


Foto polos dilakukan dalam 3 posisi:

1. Tiduran terlentang (supine), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi antero
posterior (AP).
2. Tiduran miring kekiri ( Left Lateral decubitus = LLD ), dengan sinar
horizontal proyeksi AP.

3. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan


sinar horizontal proyeksi AP.

a)Posisi AP supine
 Persyaratan teknis : ukuran film 35x43 cm/30x40 cm, posisi
memanjang menggunakan grid yang bergerak maupun statis, dengan
variasi 70-80 kV dan 20-25 mAs.
 Sedangkan posisi pasien:

6
 Tidak ada persiapan khusus untuk pemeriksaan foto polos abdomen
 Penderita diminta untuk melepaskan pakaian dan perhiasan untuk
menghidanri terjadinya artefak pada film dan memakai
perlindungan untuk daerah gonad, terutama untuk pria
 Pasien tidur terlentang, lengan pasien diletakkkan di samping tubuh,
garis tengah badan terletak tepat pada garis tengah pemeriksaan,
kedua tungkai ekstensi.
 Posisi obyek : bagian tengah kaset setinggi krista iliaka dengan batas
tepi bawah setinggi simfisis pubis, tidak ada rotasi pelvis dan bahu.
Pusat sinar pada bagian tengah film dengan jarak minimal 102 cm

Gambar 2. Posisi AP Supine


 Kriteria hasil foto polos abdomen yang baik antara lain :
1. Tampak diafragma sampai dengan tepi atas simphisis pubis
2. Alignment kolom vertebra di tengah, densitas tulang costae, pelvis
dan panggul baik.
3. Processus spinosus terletak di tengah daan crista iliaca terletak
simetris
4. Pasien tidak bergerak saat difoto yang ditandai dengan tajamnya batas
gambar costae dan gas usus
5. Foto dapat menggambarkan batas bawah hepar, ginjal, batas lateral
muskulus psoas dan procesus transversus dari vertebra lumbal.
6. Marker yang jelas untuk mengindikasi posisi pasien saat pemeriksaan

7
b) Posisi Left Lateral Decubitis (LLD)
 Pasien tidur miring ke kiri, tekuk lengan melingkari kepala. Film
diletakan di depan atau belakang perut pasien. Mengikuti area
simphisis pubis pada film. Titik tengah terletak pada garis tengah film.
 Arah sinar horizontal 90o dengan film dengan proyeksi AP untuk
melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus.

Gambar 3. Posisi LLD

c) Posisi Setengah Duduk/ berdiri


 Pasien dapat dengan posisi duduk atau berdiri kalau memungkinkan,
dengan sinar horizontal proyeksi AP 90o dari film.
 Posisi pasien dalam posisi anteroposterior dengan bagian belakang
tegak. Pastikan punggung tidak rotasi. Letakan lengan dan tangan
dalam posisi anatomi. Pasien tidak boleh bergerak. Point sentral
terletak pada garis tengah tubuh dengan garis tengah film.

Gambar 4. Posisi AP

2.8 Cara melihat foto polos abdomen

8
1. Periksalah semua tulang, terutama vertebra lumbalis dan pelvis.
Carilah apakah ada perubahan densitas tulang, baik peningkatan
atau pengurangan densitas, dan carilah juga apakah ada vertebra
yang kolaps atau alignment yang abnormal. Periksa sendi sacro-
iliaca dan pastikan bahwa sendi tersebut bersih dan tidak
berselubung (menyatu).

2. Bila terdapat trauma baru, carilah apakah ada fraktur pada iga-iga
dan processus transversus vertebra lumbalis. Pastikan bahwa tidak
ada fraktur pada pelvis, terutama pada simfisis pubis dan sekitar
sendi panggul.

3. Lihat diafragma pada foto berdiri, adakah udara bebas di bawah


diafragma. Jangan keliru dengan udara di dalam gaster atau colon.
Bila ada foto thorax, konfirmasikan dengan foto thorax tersebut.

4. Carilah garis bentuk musculus psoas, yang tidak selalu bisa dilihat
pada satu atau kedua sisi, tetapi hal ini tidak penting. Bila terlihat
garis psoas haruslah lurus, penonjolan yang asimetris atau adanya
tambahan garis lain bisa merupakan suatu perdarahan, abses atau
tumor (limfoma) retroperitoneal.

5. Usahakan untuk mengidentifikasi tepi hepar.

6. Carilah apakah ada kalsifikasi abnormal, terutama di daerah


kandung empedu, pankreas, dan sepanjang traktus urinarius.

7. Lihat pola gas usus. Bila mengalami distensi, lihat pada foto berdiri
adakah fluid-level yang mendatar. Identifikasikan mana gaster,
usus halus dan colon. Pastikan bahwa terdapat gas di dalam
rectum.

2.9 Kriteria Foto Polos Abdomen

9
1. Tampak diafragma dan vertebra thoracal XII sebagai batas atas.
Sedangkan batas bawah adalah symphisis pubis (boleh terpotong).

2. Kontur ginjal kanan kiri terlihat, sebelah kanan lebih rendah daripada kiri
karena terdesak organ hepar.

3. Tampak peritoneal fat line tidak boleh terpotong.

4. Tampak musculus psoas mayor.

2.10 Gambaran Normal dari Radiografi Polos Abdomen

Udara akan terlihat hitam karena meneruskan sinar-X yang dipancarkan


dan menyebabkan kehitaman pada film sedangkan tulang dengan elemen kalsium
yang dominan akan menyerap seluruh sinar yang dipancarkan sehingga pada film
akan tampak putih. Diantara udara dengan tulang misalnya jaringan lunak akan
menyerap sebagian besar sinar-X yang dipancarkan sehingga menyebabkan
keabu-abuan yang cerah bergantung dari ketebalan jaringan yang dilalui sinar-X.

Udara akan terlihat relatif banyak mengisi lumen lambung dan usus besar
sedangkan dalam jumlah sedikit akan mengisi sebagian dari usus kecil. Sedikit
udara dan cairan juga mengisi lumen usus halus dan air fluid level yang minimal
bukan merupakan gambaran patologis. Air fluid level juga dapat dijumpai pada
lumen usus besar, dan tiga sampai lima fluid levels dengan panjang kurang dari
2,5 cm masih dalam batas normal serta sering dijumpai di daerah kuadran kanan
bawah. Dua air fluid level atau lebih dengan diameter lebih dari 2,5 cm panjang
atau caliber merupakan kondisi abnormal dan selalu dihubungkan dengan
pertanda adanya ileus baik obstruktif atau paralitik.

Banyaknya udara mengisi lumen usus baik usus halus dan besar
tergantung banyaknya udara yang tertelan seperti pada keadaan banyak bicara,
tertawa, merokok, dan lain sebagainya. Pada keadaan tertentu misalnya asma atau
pneumonia akan terjadi peningkatan jumlah udara dalam lumen usus halus dan

10
usus besar secara dramatis sehingga untuk pasien bayi dan anak kecil dengan
keluhan perut kembung sebaiknya juga difoto kedua paru sekaligus karena sangat
besar kemungkinan penyebab kembungnya berasal dari pneumonia di paru.
Beberapa penyebab lain yang mempunyai gambaran mirip dengan ileus antara
lain pleuritis, pulmonary infarct, myocardial infarct, kebocoran atau diseksi aorta
torakalis, payah jantung, perikarditis, dan pneumotoraks.

Selain komponen traktus gastrointestinal, juga dapat terlihat kontur kedua


ginjal dan muskulus psoas bilateral. Adanya bayangan yang menghalangi kontur
dari ginjal atau m. psoas dapat menunjukkan keadaan patologis di daerah
retroperitoneal.

Gambar 5. Foto Polos Abdomen Normal

2.11 Gambaran Patologis Radiografi Polos Abdomen

Untuk menentukan keadaan patologis atau bukan diperlukan pemahaman


anatomi topografi yang baik.

1. Single dark bubble pada bayi yang berhubungan dengan kelainan


kongenital pada gastric outlet (pyloric stenosis).

11
Gambar 6. Single Bubble Appearance pada stenosis pylorus

2. Double dark bubbles pada bayi juga berhubungan dengan kelainan


kongenital pada duodenum (atresia duodeni)

Gambar 7. Double Dark Bubbles pada Atresia Duodeni

3. Triple Buble Sign didapatkan pada bayi dengan atresia jejunum (jejunal
atresia).

12
Gambar 8. Triple Bubble Sign pada Jejunal Atresia

4. Kelainan kongenital pada bayi dan anak kecil lainnya seperti midgut
volvulus atau malrotasi karena perputaran intestinal yang tidak komplit
dalam masa pembentukannya juga terkadang dapat terlihat pada foto
radiografi polos abdomen namun akan lebih jelas apabila digunakan media
kontras berupa larutan barium sulfat.

Gambar 9. Foto Polos Abdomen dan Barium Enema pada volvulus

13
5. Megakolon kongenital (penyakit hirschprung) dari anorektal biasanya
memberi gambaran pelebaran dari organ tersebut. Kelainan tersebut
menyebabkan anak tidak dapat buang air besar dan foto radiografi polos
sangat mirip dengan gambaran ileus.

Gambar 10. Congenital Megacolon atau Penyakit Hirschprung

6. Coffee been sign merupakan gambaran khas volvulus dari usus ( sigmoid )
dan juga merupakan keadaan gawat bedah karena menyebabkan nekrosis
usus dan perforasi.

Gambar 11. Coffee Bean Sign pada Volvulus Sigmoid

14
7. Perforasi abdomen dapat dilihat dengan adanya udara bebas di daerah
bawah diafragma pada posisi berdiri atau pertanda riegler (Riegler’s sign)
yaitu adanya udara yang menjadi background intestinal sehingga dapat
dilihat dinding usus lebih jelas terutama dinding luar.

Gambar 12. Pneumoperitoneum pada perforasi abdomen

Gambar 13. Riegler’s sign

15
8. Gangguan pasase usus halus atau ileus dibagi menjadi dua golongan yaitu
ileus obstruksi ditandai dengan pelebaran lumen usus yang tidak dapat
mengalir ke distal dan biasa disebabkan oleh tumor intra lumen atau extra
lumen yang menjepit lumen usus. Dikatakan ileus obstruktif letak rendah
bila lokasi sumbatan pada level anorektal atau ileus obstruktif letak tinggi
jika sumbatan berada jauh dari anorektal seperti pada kolon sigmoid atau
sekum dan lain-lain. Sebelum terjadi peritonitis, jika penyebabnya adanya
gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada Foto Polos Abdomen
(FPA) 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain:

 Posisi tidur untuk melihat distribusi usus, preperitonian fat, ada tidaknya
penjalaran. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus diproksimal
daerah obstruksi, penebalan dinding usus, gambaran seperti duri ikan
(Herring bone appearance).

 Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus.
Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level
pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedang jika panjang-panjang
kemungkinan gangguan dikolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya
udara bebas infra diagfragma dan air fluid level.

 Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis diperoleh adanya


air fluid level dan step ladder appearance.

Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus
partial, air fluid level, dan herring bone appearance.

a. Coiled spring appearance

Coil spring sign atau pseudo ball sign adalah gambaran karakteristik
invaginasi atau intususepsi usus, yang menggambarkan masuknya segmen
proksimal usus atau intususeptum ke dalam lumen usus distal. Paling
sering terjadi di daerah ileokolika, tetapi dapat juga yeyuno-ileal. Pada

16
foto polos abdomen tampak tanda obstruksi usus halus berupa bayangan
seperti sosis di bagian tengah abdomen dan bayangan per mobil. Dengan
bantuan media kontras barium sulfat atau dikenal dengan barium enema,
dapat dilakukan percobaan reduksi sebelum dilakukan tindakan bedah
pada anak. Untuk usia dewasa gambaran itu dapat dijumpai pada pasien
dengan Ca caecum atau Ca colon lainnya.

Gambar 14. Coiled Spring Appearance

b. Herring bone sign

Terjadi pada kondisi ileus obstruktif. Ileus obstruktif merupakan


penyumbatan interstinal mekanik yang terjadi karena adanya daya
mekanik yang bekerja atau mempengaruhi dinding usus sehingga
menyebabkan penyempitan atau penyumbatan lumen usus terganggu
Penebalan dinding usus halus yang terdilatasi akibat pengumpulan gas
dalam lumen usus memberikan gambaran Herring bone appearance pada
foto polos abdomen, karena dua dinding usus halus yang menebal dan

17
menempel membentuk gambaran vertebra (dari ikan), dan muskulus
sirkuler menyerupai kostanya.

Gambar 15 . Herring Bone Appearance

c. Stepladder appearance

Pada foto polos abdomen tampak gambaran air fluid level yang pendek-
pendek dan bertingkat-tingkat seperti tangga disebut Step ladder
appearance karena cairan transudasi berada dalam usus halus yang
mengalami distensi.

18
Gambar 16. Stepladder Appearance

Bentuk lain ileus adalah ileus paralitik yang berupa pelebaran lumen usus
yang disebabkan infeksi, perlekatan, diabetes, koma hepatikum, obat-
obatan seperti spasmolitik atau morfin, pasca operasi dan lain-lain.
Gambaran ileus paralitik biasanya pelebaran lumen usus tanpa disertai atau
sedikit air fluid level. Bila pelebaran hanya setempat dengan beberapa loop
saja maka disebut sebagai sential loop seperti misalnya pada pankreatitis.
Terdapat suatu keadaan pelebaran tanpa tanda-tanda distensi lumen usus
baik usus halus atau usus besar terutama pasca gastroenteritis dengan atau
tanpa dehidrasi karena gangguan keseimbangan elektrolit. Keadaan itu
juga disebut sebagai meteorismus. Terlepasnya batu empedu pada lumen
intestinal dapat menimbulkan keadaan seperti ileus yang pada pencitraan
menunjukkan gambaran seperti ileus obstruktif namun tanpa disertai air
fluid levels yang signifikans dan biasanya ditemukan batu radiopak yang
berasal dari batu empedu.

Gambar 17. Ileus Paralitik, dilatasi usus keseluruhan

Pada kasus peritonitis karena perdarahan, gambarannya tidak jelas


pada FPA, gambaran akan lebih jelas pada USG. Gambaran radiologis
peritonitis, karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan FPA 3 posisi.

19
Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum, pecahnya usus
buntu atau karena sebab lain, tanda utama radiologi adalah:

 Posisi tiduran, didapatkan preperitonial fat menghilang, psoas line


menghilang, dan kekaburan pada cavum abdomen.
 Posisi duduk atau berdiri, didapatkan free air subdiafragma berbentuk
bulan sabit (semilunar shadow)

 Posisi LLD, didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang
paling tinggi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara
pelvis dengan dinding abdomen.

Jika terdapat suatu keadaan dimana terdapat cairan, pus, atau darah dalam
cavum peritoneum maka biasanya pada foto polos abdomen (BOF) didapatkan
gambaran Ground Glass Appearance.

Gambar 18. Ground Glass Appearance

Selain keadaan patologis traktus gastrointestinal, foto radiografi polos


abdomen juga dapat membantu untuk kelainan lainnya seperti trauma tumpul
abdomen yang dapat mengevaluasi awal kemungkinan kontusio ginjal, perdarahan
retroperitoneal dengan menilai kontur ginjal atau kontur psoas yang terlihat suram
atau terselebung.

20
Udara dalam lumen sistem bilier intra dan ekstrapatik atau yang disebut
sebagai pneumobilier biasanya menunjukkan infeksi sistem bilier ataupun
gangguan pada papilla vateri di daerah duodenum sehingga udara pada lumen
duodenum mengisis duktus bilier.

Kalsifikasi dapat dengan mudah dilihat langsung pada foto radiografi polos
abdomen. Batu pada traktus urinarius biasanya bersifat multilayer dan
permukaannya dapat kasar atau halus. Batu pada vesica urinaria lebih bulat
dengan permukaan regular sedangkan batu pada ureter atau uretra biasanya
berbentuk irregulear. Kadang-kadang dijumpai batu yang megisi dan menyerupai
pelviocalices ginjal disebut staghorn stone. Batu kecil dan halus yang dijumpai
pada calices minores kedua ginjal dijumpai pada kelainan yang disebut
nephrocalcinosis.

Gambar 19. Batu Vesica Urinaria atau Vesicolithiasis

21
Gambar 20. Staghorn Stone

Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di dalam ureter. Batu ureter pada
umumnya berasal dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter mungkin dapat
lewat sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter
juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu
kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil
menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter dan
hidronefrosis. Jika disertai dengan infeksi sekunder dapat menimbulkan
pionefrosis, urosepsis, abses ginjal, abses perinefrik, abses paranefrik, ataupun
pielonefritis.

Radiologinya foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu,


apakah terjadi bendungan atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak
dapat dilakukan; pada keadaan ini dapat dilakukan retrograd pielografi atau
dilanjutkan dengan antegrad pielografi, bila hasil retrograd pielografi tidak
memberikan informasi yang memadai. Pada foto BNO batu yang dapat dilihat
disebut sebagai batu radioopak, sedangkan batu yang tidak tampak disebut sebagai
batu radiolusen, berikut ini adalah urutan batu menurut densitasnya, dari yang

22
paling opaq hingga yang paling bersifat radiolusent; calsium fosfat, calsium
oxalat, magnesium amonium fosfat, sistin, asam urat, xantine.

Gambar 21. Batu ureter 1/3 distal

Masuknya corpus alienum (benda asing),contohnya kacang-kacangan,


wortel, bagian plastik mainan, sering terjadi pada anak usia dibawah 4 tahun.
Yang terburuk dapat terjadinya obstruksi total jalan nafas disertai oklusi total dari
trakea. Benda asing dari traktus gastrointestinal adalah benda asing apa saja, yang
masuk secara sengaja atau tidak sengaja ke sistem pencernaan. Benda asing dapat
tertelan masuk ke dalam tubuh atau masuk kedalam tubuh lewat luka trauma.
Masuknya benda asing ke dalam traktus gastrointestinal merupakan salah satu
penyebab utama kematian

23
Gambar 22. Corpus Alienum (benda asing) kancing dan uang logam

Batu pada kandung empedu dan salurannya biasa dijumpai pada kuadran
kanan atas dan biasanya berbentuk poligonal. Batu lusen adalah batu dengan
kandungan kalsium yang minimal sehingga tidak dapat dilihat dengan foto polos
abdomen yang biasanya mengandung komponen asam urat. Dalam keadaan
demikian dapat dilakukan pemeriksaan CT scan polos tanpa media kontras untuk
mengevaluasinya.

Gambar 23. Batu pada Kandung Empedu Berbentuk Poligonal

24
Adanya destruksi pada beberapa vertebral lumbal disertai pembengkakan
jaringan lunak di daerah paravertebral biasanya berhubungan erat dengan
spondilitis tuberkulosis. Selain infeksi, dapat dilihat kelainan lainnya pada tulang
vertebra seperti kelainan berupa spina bifida dan tumor tulang seperti paget,
metastasis dan lain-lain.

25
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
1. BOF atau yang dikenal foto polos abdomen ini menjadi salah satu alat
bantu dalam mendiagnosis terjadinya gangguan pada abdomen
2. Foto polos abdomen atau BOF merupakan modalitas diagnostik pertama
karena sederhana, murah, dan tersedia luas dengan radiasi yang rendah.
3. Indikasi foto BOF :
o Obstruksi usus
o Perforasi usus
o Nyeri renal atau bilier
o Benda asing yang tertelan, setelah trauma atau IUD yang dislokasi
o Pada bayi yang baru lahir, muntah yang menetap, atau meconium
yang tidak keluar
4. BOF dapat dibuat dalam tiga posisi, yaitu terlentang, berdiri / setengah
duduk dan LLD. Tujuan utama film sorotan horizontal untuk mendeteksi
batas udara-cairan serta udara bebas intraperitoneum dan adanya kelainan
patologis di abdomen.

26
DAFTAR PUSTAKA

1. Amstrong, Peter, Martin L Wastie, A. Norman A.G. Brenbridge. 1989.


Pembuatan Gambar Diagnostik. Edisi 2. Editor terjemahan: Andrianto,
DR Petrus, Jakarta: EGC.
2. Corr, Peter. 2011. Mengenali Pola Foto-Foto Diagnostik. Jakarta : EGC.

3. Eisenberg LR. The role of abdominal radiography in the evaluation of the


non trauma emergency patient: new thought on an old problem. Radiology
2008; 248:715-6.

4. Field. Plain abdomen in diagnostic and interventional radiology in surgical


practice. Dalam: Amstrong, Peter, Wasti, Martin L, editors. London:
Chapman and Hall Medical; 1997.p.15-46.

5. Kellow SZ, Maclinnes M, Kurzencwyg D, Rawal S, Jaffer R, et al. The


role of abdominal radiography in the evaluation of the nin trauma
emergency patient. Radiology 2008; 248 : 887-93.

6. Malueka, Rusdy Ghazali dkk. 2007. Radiologi Diagnostik. Yogyakarta:


Pustaka Cendekia Press Yogyakarta.

7. Palmer, PES et al. 1990. Petunjuk Membaca Foto Untuk dokter Umum.
Jakarta : EGC.

8. Patel, Pradip R. 2007. Lecture Notes : Radiologi. Jakarta : Erlangga.

9. Price, S.A 2000. Patofisiologi; Konsep Klinis proses-proses penyakit,


Editor; Price, S.A., McCarty, L.,Wilson Editor terjemahan; Wijaya,
Caroline, Jakarta: EGC.

10. Purnomo, B. Basuki, Dasar-dasar Urologi , cetakan I, CV. Infomedika,


Jakarta, 2002
11. Wim de Jong dan Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi,
EGC, Jakarta, 1998
12. Munter, D. W. (2014, April 21). Gastrointestinal Foreign Bodies. Diambil kembali
dari Emedicine Medscape: [Link]

27

Anda mungkin juga menyukai