0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
582 tayangan17 halaman

Metode Pemadatan Dinamis untuk Tanah

Metoda Dynamic Compaction (DC) dan Dynamic Replacement (DR) merupakan metode penguatan tanah dengan cara menjatuhkan beban berat dari ketinggian tertentu untuk memadatkan tanah dan meningkatkan daya dukungnya. Metoda ini dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah basah. DC bekerja dengan memadatkan tanah secara langsung, sedangkan DR lebih lanjut mengisi lubang yang terbentuk dengan batuan untuk membentuk

Diunggah oleh

Fadly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
582 tayangan17 halaman

Metode Pemadatan Dinamis untuk Tanah

Metoda Dynamic Compaction (DC) dan Dynamic Replacement (DR) merupakan metode penguatan tanah dengan cara menjatuhkan beban berat dari ketinggian tertentu untuk memadatkan tanah dan meningkatkan daya dukungnya. Metoda ini dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah basah. DC bekerja dengan memadatkan tanah secara langsung, sedangkan DR lebih lanjut mengisi lubang yang terbentuk dengan batuan untuk membentuk

Diunggah oleh

Fadly
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DYNAMIC COMPACTION

BAGIAN 1
Kilang migas dan derivatifnya seperti halnya kilang petrokimia/refinery banyak dibangun didaerah remote ataupun
onshore yang rata-rata kondisi daya dukung tanah alaminya kurang bagus. Daya dukung tanah yang cukup kuat
diperlukan untuk menempatkan pondasi dari equipment-equipment yang cukup banyak jumlahnya. Dan seperti kita
ketahui juga, banyak metode untuk meningkatkan kualitas daya dukung tanah/tapak pada suatu proyek.
Faktor keekonomian dan penghematan waktu, sedikit banyak menentukan metoda perbaikan tanah yang akan
dipilih, tentunya disamping faktor-faktor lain yang situasional. Dari berbagai pengalaman lapangan dan engineering
yang pernah saya geluti, beberapa metode perbaikan tanah dapat dilaksanakan sekaligus/sinergikal pada suatu tapak
proyek.
Dalam artikel bagian 1 ini, saya akan menyajikan metoda-metoda perbaikan daya dukung tanah yang dapat dilakukan
pada suatu waktu tertentu secara berkesinambungan. Metoda tersebut adalah Dynamic Compaction/DC (Pemadatan
Dinamis) dan Dynamic Replacement/DR. Untuk metoda DR ini bisa juga disebut metoda kolom batu (Stone
Column), nanti akan saya uraikan lebih lanjut.
Metoda DC/DR ini ditemukan oleh Menard (France, 1960). Metoda ini bisa menghemat biaya dalam mensubtitusi
penggunaan pile (tiang pancang) menjadi pondasi dangkal hingga penanggungan beban tertentu sesuai peningkatan
kapasitas daya dukung tanah. Di negara kita Indonesia, mungkin metoda ini belum banyak diketahui. Tetapi seiring
dengan mudahnya informasi yang didapat dan faktor komparasi dengan metode konvesional lainnya yang dikenal,
saya yakin kedepannya metoda ini bisa jadi pilihan yang patut [Link] untuk kondisi lahan di
Sumatera dan Kalimantan serta Sulawesi. Dimana yang saya tahu, pembukaan lahan untuk eksplorasi dan
pembuatan kilang pengolahan masih mengandalkan teknik pemadatan pola konvensional.
Sedangkan tulisan di bagian 2 nanti akan membahas pelaksanaan Pilot Test dan perhitungan kekuatan daya dukung
tanah setelah pelaksanaan metoda DC dan DR.
1. Metoda Dynamic Compaction (DC)

Secara garis besar, pengertian DC adalah suatu metoda peningkatan kondisi tanah yang dapat diterapkan pada tanah
yang kering, basah/lembab dan jenuh (saturated). Metoda ini bisa juga diterapkan pada tanah jenuh dengan
kandungan butiran halus mencapai hingga 30%. Target DC dicapai dengan menjatuhkan beban (pounder) dari suatu
ketinggian tertentu ke atas permukaan tanah yang akan dipadatkan. Proses pemadatan ini berlangsung pada sekian
banyak jatuhan pada lahan yang dituju.

a. Prinsip Dasar Peningkatan Tanah

Mengapa bisa terjadi pemadatan hanya dengan menjatuhkan beban? Pounder/beban yang dijatuhkan pada
ketinggian yang sudah ditetapkan akan memberikan impact energy (energy benturan). Energi benturan ini
menciptakan getaran dan mengatur ulang partikel-partikel tanah yang ada dan mendorong keluar gas dan air
terkandung didalam partikel didalam tanah asal. Hal ini dapat meningkatkan kepadatan tanah lunak. Metoda DC ini
selain dapat diterapkan pada kondisi tanah diatas, dapat juga secara terbatas, -berdasarkan hasil soil investigation
tentunya-, pada kondisi tanah kepasiran, lapisan tanah berbatu lepas, atau tanah hasil pembuangan.
Perilaku tanah setelah diterapkannya metoda DC ini bisa berbeda secara signifikan tergantung kondisi tanah, seperti
apakah tanah tersebut adalah tanah jenuh (saturated soil) ataupun tanah tidak jenuh (non saturated soil). Dalam
halnya tanah tidak jenuh, efek benturan yang muncul adalah seperti halnya kita melakukan Proctor Compaction Test
di laboratorium mekanika tanah.
Sedangkan jika kondisi tanah jenuh, akan terjadi berbagai bentuk gelombang benturan yang berpusat pada pusat
jatuhan beban. Gambar dibawah ini akan bisa memberikan gambaran tentang gelombang benturan yang dimaksud.
P wave atau gelombang tekan akan merombak struktur partikel tanah akibat Push-Pull Motion dan meningkatkan
tekanan pori. Sedangkan S wave atau gelombang geser memainkan peran menyusun ulang kepadatan partikel
meskipun kecepatan gelombang cukup pelan. Adapun Rayleigh wave adalah ringkasan dari gelombang geser dan
gelombang permukaan yang tersebar dekat dengan permukaan tanah. Sehingga akibat adanya berbagai macam
gelombang yang tercipta oleh karena beban benturan pounder, akan menghasilkan tekanan tarik dibawah tanah,
berujung pada retak tarik dalam bentuk radial (seperti gambar diatas) pada pusat beban benturan. Retak tarik ini
membuat jalur aliran yang berguna untuk mengeluarkan tekanan pori yang berlebihan dan membuang air pori dalam
tanah jenuh. Hal inilah yang berujung pada peningkatan kapasitas daya dukung tanah.

Illustrasi diatas adalah perilaku partikel tanah secara mikroskopik selama pemadatan berlangsung dan setelahnya.
Bagaimana dengan penurunan permukaan tanah? Penurunan tanah tergantung dari pada jenis tanah dan energi
jatuhan/pemadatan yang tercipta. Namun biasanya berkisar 3-8 % dari ketebalan tanah asal alami, sedangkan untuk
reklamasi lahan buangan sekitar 20-30 %. Tekanan pori yang berlebih terjadi karena jatuhan beban bisa saja masih
terjadi bahkan setelah proses jatuhan itu selesai. Namun tingkat disipasi (penghamburan/penghilangan) tekanan
pori berlebih ini sangat singkat jika dibandingkan dengan metoda pemadatan statis seperti halnya metoda pre-
loading.

b. Karateristik Metoda DC
1. Pekerjaan terapan yang cepat dengan tahapan sederhana, penghematan biaya dan sangat dimungkinkan
pelaksanaannya dengan pekerjaan lain pada saat yang sama.
2. Meskipun tergantung dari jenis tanah, kelangsungan pekerjaan lain diatas tanah setelah peningkatan terjadi
sangatlah diijinkan.
3. Dapat diterapkan pada berbagai jenis tanah termasuk jenis tanah hasil bongkaran/pembuangan, pasir tanah
kepasiran (dredging soil), tanah halus, lumpur buangan maupun hasil pengeboran atau bentonit.
4. Kualitas kerja dapat dikontrol dan hasil yang baik.
5. Tidak bermasalah terhadap lapisan batuan dibawahnya.
6. Tidak memerlukan material khusus.

2. Metoda Dynamic Replacement (DR)/Stone Column (Kolom Batu)

Metoda DR ini adalah lanjutan dari metoda DC dan biasanya dilaksanakan pada tanah dengan kandungan lempung
dan lapisan lanau sangat tebal serta diketahui dengan metoda DC tidaklah cukup untuk meningkatkan daya dukung
tanah pada kondisi tanah tersebut seperti yang ditargetkan. Seperti kita ketahui, setelah pounder dijatuhkan berkali-
kali akan terbentuk suatu kawah yang disebut crater. Dalam penerapan metoda DR, crater yang tercipta akan diisi
dengan batuan/material non plastis (berdasarkan pengujian ASTM D 4318), atau batuan alam yang ada dilokasi
tanah lunak. Crater akan terus diisi batuan dengan berulang kali melakukan jatuhan pounder (tamping) hingga
kedalaman yang diinginkan ataupun berhenti ketika crater yang terbentuk sudah tidak bisa lagi melesak lebih dalam.

a. Prinsip Dasar DR

Secara prinsip, metoda pelaksanaan pada awal pekerjaan sama dengan metoda DC tetapi ada tahapan kerja yang
berkelanjutan yaitu pengisian material kasar kedalam crater yang terbentuk akibat tamping. Material yang diisikan
terus menerus akan membentuk pola seperti kolom batu, maka dari itulah metoda DR ini dapat pula disebutkan
metoda kolom batu. Pada saat batuan kedalam crater ataupun granular soil (seperti gravel ukuran tertentu misalnya),
area tekanan pada tanah lunak didistribusikan ke kolom batu (stone column/pillar). Sehingga tanah lunak memadat
dan menghasilkan daya dukung yang ditargetkan. Penerapan DR ini berdasarkan data tanah (hasil dari soil
investigation report) yang dilanjutkan pada tahapan experiment lapangan (seperti halnya uji trial and error) serta
dilakukan dengan interval tertentu berdasarkan rumus yang tertulis berikut ini.

b. Karateristik Metoda DR

1. Sementara kolom DR terbentuk dengan mengisikan material non plastis (batuan pecah, gravel), terjadi kontraksi
dilapisan tanah lunak sekeliling kolom DR. Yang menyebabkan tekanan pori berlebih terlepas terus menerus. Proses
ini pada dasarnya sama dengan dengan teknik konsolidasi tanah dengan metode pre-loading, hanya saja konsolidasi
tersebut terjadi lebih cepat sekaligus menaikkan daya dukung tanah.
2. Tahanan geser lebih besar terjadi didalam kolom DR dan kekuatan tanah diantara kolom DR meningkat secara
signifikan.
3. Pada saat kolom DR terbentuk didalam tanah setelah proses dilakukan, komposisi kandungan tanah akan berubah.
Pengertiannya yaitu lapisan tanah terdiri dari batuan dan tanah asal yang mana partikel awal menjadi tersusun
ulang. Dalam hal ini tekanan tanah sebagian besar diakomodasi oleh kolom DR sedangkan tanah asal hanya
menderita tekanan lebih kecil.
Gambar illustrasi metoda DR:

Contoh foto pelaksanaan DR dilapangan:

Gambar dibawah adalah contoh crane lengkap dengan pounder (beban).


Gambar dibawah adalah kondisi lapangan seelah dilaksanakan DC dan DR. Crater yang tercipta harus ditutup dengan
urugan/backfill hingga ketinggian level yang disyaratkan dalam Plot Plan.

Contoh hasil tamping dan bentuk crater yang tercipta (cukup besar ukurannya sekitar 2 x 2 m):

BAGIAN 2
Pada bagian 2 ini saya akan menuliskan tentang pengujian Metoda DC dan DR lengkap dengan asumsi perhitungan
peningkatan daya dukung tanah (soil bearing capacity).
Sebelum beranjak lebih jauh kedalam pelaksanaan pekerjaan DC dan DR, ada tahapan yang sebaiknya dilakukan,
yaitu Pilot Test (PT) atau istilah lainnya Pengujian Awal. PT ini dilakukan untuk mengesahkan perhitungan teoritikal
daya dukung tanah, mendapatkan perilaku lapisan tanah serta panduan detail pelaksanaan. Detail yang dimaksud
misalnya berat pounder/beban yang akan dipakai, tinggi jatuh, jenis crane, jarak antar crater, perhitungan energi
benturan yang berkorelasi pada jumlah jatuhan pounder, penentuan berapa kali pelaksanaan pada lahan yang sama
(number of series for execution), hingga penentuan durasi pelaksanaan.

1. PILOT TEST

a. Target yang ingin dicapai

PT dilakukan untuk memverifikasi syarat teknis pelaksanaan tamping (penjatuhan beban/pounder) metoda DC/DR
langsung dilapangan sesuai kondisi asli tanah. Target yang ingin dicapai adalah optimalisasi energy jatuhan, efisiensi
dan kepastian kondisi tanah baik sebelum dan sesudah pengujian.
Data kondisi tanah setelah diadakan DC/DR inilah yang menjadi tujuan utama. Data yang ingin didapatkan tersebut
antara lain; target N-value (SPT), daya dukung tanah ijin (Q all), penurunan ijin/allowable settlement (S all)
disamping data sekunder mencakup suara dan getaran yang ditimbulkan. Selain itu, hasil yang didapat bisa
dipergunakan untuk memodifikasi lebih baik lagi rencana DC/DR yang sudah ada.
Adapun tujuan lainnya adalah untuk mendapatkan parameter-parameter seperti:
 Jumlah jatuhan (drop) untuk tiap spot pada setiap seri DC.
 Optimalisasi jarak antar DC (grid spacing).
 Optimalisasi jumlah seri pelaksanaan DC.
 Jeda waktu antara 2 seri DC dilokasi yang sama.
 Rerata penurunan permukaan tanah akibat DC.
 Dan lain sebagainya yang berkaitan dan disesuaikan dengan pelaksanaan pekerjaan DC/DR nantinya.

b. Pengujian Penetrasi dan Level Muka Tanah akibat Tamping


Tahapan ini bertujuan untuk:
 Penentuan frekwensi optimum tamping.
 Menentukan metoda tamping yang tepat.
 Mengetahui detail crater yang tercipta akibat tamping (diameter, kedalaman dan penetrasi pounder).
 Menganalisa hasil setelah uji ini dilakukan.

Contoh illustrasi pengujian penetrasi pounder (tamping) dan muka tanah akibat tamping tersebut:

c. Rencana pelaksanaan Pilot Test harus juga menentukan didaerah mana dan lokasi penempatan peralatan penguji
(Pressure Meter Tester/PMT). Misalnya seperti contoh dibawah ini:
• Area PT untuk DC
• Area PT untuk DR
a) DR dangkal

b) DR dalam.
d. Contoh rencana aplikasi energy Tamping
■ Dynamic Compaction (W:Pounder weight, H:Drop height, N:No of tamping blows)
e. Contoh jumlah PT yang direncanakan

f. Contoh prosedur kerja pelaksanaan DC/DR (patokan area pengujiannya adalah illustrasi diatas).
Dynamic Compaction:
1. Melaksanakan pra PMT Test, cukup 1 lubang.
2. Pengujian 1 lobang penetrasi dan penancapan patok penguji level muka tanah seri 1 (pertama).
3. Lanjutan pengujian penetrasi seri 1 sebanyak 8 lobang.
4. Perataan lahan (pengurugan lubang)
5. Untuk seri 2, langkah 2-4 diulang kembali, hanya saja pengujian penetrasi cukup 3 lobang.
6. Melaksanakan 1 kali tamping diarea pengujian kemudian dilakukan perataan.
7. Melaksanakan test PMT akhir, cukup 1 lobang.
Dynamic Replacement:
1. Tahapan-tahapannya sama dengan DC (langkah 1 – 7) hanya saja untuk DR dalam/deep, berbeda dijumlah lobang
pengujian penetrasi (11 lubang).
2. Namun meski secara garis besar sama, ada perbedaan pelaksanaan antara lain dilaksanakan terlebih dahulu
penggalian awal (kedalaman sekitar 50 cm) kemudian dilakukan pengisian material kedalam crater yang terbentuk di
spot hole.
3. Pengisian material pada tahap awal dilakukan hingga kedalaman 2 meter setelah tamping sebanyak 3-4 kali.
Selanjutnya dilakukan tamping lagi diatas material tersebut. Demikian terus berulang sehingga kolom batu DR
terbentuk.
4. Langkah terakhir adalah melakukan tamping penutupan 2 kali setelah pengurugan spot hole.

2. CONTOH PERHITUNGAN
Dibawah ini merupakan contoh perhitungan estimasi pencapaian daya dukung tanah dan settlement setelah
dilakukan pekerjaan DC dan DR berdasarkan hasil dari PMT Test.
Sebelumnya kita harus menentukan target nilai PMT Test setelah dilaksanakan PT untuk DC/DR ini, misalnya;
DC area kita tentukan nilai Pl= 5 bar dan Ep= 60 bar. Sedangkan untuk DR area kita tentukan nilai Pl= 11 bar dan
Ep= 100 bar serta untuk tanah disekitar area pelaksanaan yaitu Pl= 4 bar dan Ep= 60 bar.
a. Dynamic Compaction area:

b. Dynamic Replacement area:


c. Target nilai SPT (N-value) diharapkan berkisar pada angka N=17

3. PEMANTAUAN EFEK GETARAN DAN SUARA

Perlu disadari bahwa pekerjaan DC/DR ini juga menimbulkan efek samping yaitu suara dan getaran. Untuk itu perlu
diadakan antisipasi sebaik mungkin untuk meminimalisasikan dampaknya. Terutama jika DC/DR dilaksanakan pada
daerah dimana sudah terdapat suatu struktur yang sudah berdiri. Berdasarkan pengalaman lapangan/best practice
dan teoritis, dampak samping yang ditimbulkan bisa diredam sekecil mungkin.
Dari data grafik gelombang Rayleigh berdasarkan perhitungan Menard (France 1960), dari energi benturan yang
dihasilkan dapat dilihat kecepatan rambat permukaan terhadap jarak dari titik benturan. Besaran kecepatan
permukaan inilah yang dapat mempengaruhi seberapa besar efek yang bakal diterima oleh suatu bangunan/struktur
yang sudah berdiri. Menard adalah formulator/penemu metoda pengujian DC/DR dengan Pressure Meter Test
(PMT).
Untuk PT yang dilakukan kita ambil contoh penggunaan energy tamping sebesar 300 t.m, menghasilkan kecepatan
getar V= 10 mm/sec pada jarak 27 m dari titik tamping. Angka V= 10 mm/sec ini adalah angka aman untuk kriteria
energi yang dipakai berbanding sifat tanah dan efisiensi pekerjaan nantinya.

Jika ternyata jarak aman 27 m belum terpenuhi dibeberapa titik tamping, maka pembuatan galian/trench disekeliling
pekerjaan dapat secara signifikan mengurangi efek getaran dengan memutus kecepatan rambat permukaan. Sehingga
jarak titik tamping terhadap struktur yang sudah ada dapat lebih dekat lagi. Dimensi galian, berdasarkan best
practice untuk energi 300 t.m, tersebut adalah berkedalaman 1,5 – 2,5 m.
Disamping itu kita laksanakan pengujian suara (noise testing) sekaligus uji getaran. Contoh illustrasinya sebagai
berikut:
Berikut adalah contoh alat pengujian dan tabel efek getaran dibeberapa negara serta tabel suara peralatan:
Untuk aplikasi PMT device, berikut contoh illustrasinya:
Semoga artikel ini membantu memberikan tambahan pengetahuan buat rekan-rekan semua. Silahkan menuliskan
komentar, kritik membangun dan saran.

Common questions

Didukung oleh AI

Pilot Test diperlukan dalam metode Dynamic Compaction (DC) untuk memverifikasi syarat teknis pelaksanaan dan kondisi tanah secara langsung di lapangan. Ini termasuk optimalisasi energi jatuhan, efisiensi pekerjaan, dan memastikan kualitas tanah sebelum dan sesudah proses DC . Hasil dari uji coba ini memberikan data penting seperti nilai N-value (SPT), daya dukung tanah, dan penurunan yang diizinkan, serta membantu memodifikasi rencana pelaksanaan agar lebih optimal .

Metode Dynamic Compaction (DC) memiliki kelebihan dalam hal kecepatan pelaksanaan, tahapan pekerjaan yang sederhana, dan tidak memerlukan material khusus seperti metode konvensional lainnya . Selain itu, metode ini lebih ekonomis dan memungkinkan pelaksanaan bersamaan dengan pekerjaan lain di lokasi yang sama. Metode DC juga memberikan kontrol kualitas yang baik dan hasil yang memadai pada berbagai jenis tanah termasuk tanah hasil tambang dan reklamasi .

Penurunan tanah yang terjadi setelah pelaksanaan Dynamic Compaction biasanya berkisar antara 3-8% dari ketebalan tanah asal, dan bisa mencapai 20-30% untuk tanah reklamasi. Dampak ini dapat mempengaruhi kelangsungan pekerjaan konstruksi, terutama pada tanah jenuh yang masih dapat mengalami tekanan pori berlebih setelah proses jatuhan selesai . Untuk menanganinya, rekayasa tanah dapat dilakukan dengan mengatur ulang permukaan tanah dengan pengurugan (backfill) hingga ketebalan yang disyaratkan, serta memonitor penurunan secara berkelanjutan .

Di daerah dengan kondisi tanah lempung yang tebal, metode Dynamic Replacement (DR) dilakukan setelah metode Dynamic Compaction (DC) karena DR memakai prinsip pengisian crater dengan material non-plastis untuk meningkatkan daya dukung. Craters dari tamping diisi dengan material seperti batu pecah hingga kedalaman tertentu sambil mengulangi proses tamping. Kolom-kolom batu yang terbentuk mendistribusikan beban dan membantu mempercepat konsolidasi tanah lempung, yang meningkatkan tahanan geser kolom dan secara signifikan memperbaiki kekuatan tanah di antara kolom . Optimalisasi dilakukan melalui pelaksanaan Pilot Test untuk menentukan parameter ideal, seperti jumlah jatuhan dan jarak antar titik tamping .

Penerapan metoda Dynamic Replacement pada tanah lempung yang sangat tebal membantu mengatasi masalah dengan membentuk kolom batu yang memperkuat tanah. Dalam prosesnya, crater yang terbentuk dari jatuhan beban diisi dengan material non-plastis yang mempercepat konsolidasi dan penurunan tekanan pori, meningkatkan spontan daya dukung tanah . Kolom-kolom batu menyebarkan beban lebih efektif, mengurangi transfer tekanan ke tanah lempung dan mencegah penurunan berlebihan . Dilengkapi dengan pengukuran parameter yang tepat dari Pilot Test, memastikan bahwa penguatan tanah sesuai dengan spesifikasi teknik yang ditargetkan .

Setelah pelaksanaan Dynamic Compaction/Dynamic Replacement, target nilai N-value (SPT) yang diharapkan adalah sekitar N=17. Elemen penting ini diperlukan untuk memastikan tanah memiliki kapasitas dukung yang memadai untuk menopang struktur yang akan dibangun . Dalam proyek di tanah lunak, mencapai atau melebihi target N-value tersebut menunjukkan bahwa tanah telah mengalami perbaikan signifikan dalam hal kepadatan dan kekuatan, sehingga mengurangi risiko penurunan dan failure structural .

Metode Dynamic Replacement (DR) bekerja dengan cara mengisi crater yang terbentuk dari proses tamping menggunakan material non-plastis seperti batu pecah atau gravel. Proses ini menyebabkan kontraksi di lapisan tanah lunak di sekitar kolom, mengeluarkan tekanan pori berlebih, yang efeknya mirip dengan konsolidasi tanah pada metode pre-loading . Akibatnya, tanah lunak lebih terkompresi, sementara tekanan tanah lebih banyak didistribusikan pada kolom batu, meningkatkan secara signifikan daya dukung tanah .

Dynamic Replacement meningkatkan tahanan geser dan kekuatan tanah lebih signifikan dibandingkan metode konvensional karena proses mengisi crater dengan material granular menciptakan kolom batu. Kolom ini menahan tekanan geser lebih besar, dan tanah di antara kolom mengalami peningkatan kekuatan signifikan . Metode konvensional sepert pre-loading memerlukan waktu lebih lama untuk konsolidasi dan tidak selalu meningkatkan kekuatan tanah seefisien metode DR yang mengkombinasikan tamping dengan penggunaan material pengisi .

Efek suara dan getaran yang timbul dari metode DC/DR dapat berdampak pada struktur yang sudah ada di dekat lokasi proyek. Oleh karena itu, dampaknya perlu diminimalisasi dengan memonitor dan mengendalikan kecepatan getar pada permukaan tanah . Salah satu cara efektif untuk menguranginya adalah dengan menggali trench disekeliling area pekerjaan untuk memotong kecepatan rambat permukaan getaran, memperkecil dampaknya. Dimasukkan juga pengujian suara dan getaran untuk menjaga angka getaran seperti V=10 mm/sec pada jarak aman .

Selama Dynamic Compaction pada tanah jenuh, berbagai jenis gelombang benturan seperti P wave, S wave, dan Rayleigh wave terbentuk dan menyebabkan perubahan struktur tanah. P wave merombak struktur partikel dengan meningkatkan tekanan pori, sedangkan S wave menyusun ulang kepadatan partikel meskipun gelombang ini bergerak lebih lambat . Rayleigh wave, gabungan dari gelombang geser dan permukaan, menciptakan tekanan tarik yang menyebabkan retakan radial di pusat beban, yang membantu mengeluarkan air pori dan mengurangi tekanan pori berlebih, sehingga meningkatkan daya dukung tanah .

Anda mungkin juga menyukai