100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
163 tayangan7 halaman

Panduan RDS pada Bayi Neonatus

Rangkuman dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1) Respiratory Distress Syndrome (RDS) adalah kondisi dimana bayi mengalami kesulitan bernafas akibat kurangnya surfaktan di paru-paru 2) Gejala RDS antara lain kesulitan bernafas, dengkingan saat ekspirasi, dan sianosis 3) Tindakan keperawatan untuk RDS meliputi pemberian oksigen, manajemen saluran nafas, dan pencegahan hip

Diunggah oleh

sony_suryawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
163 tayangan7 halaman

Panduan RDS pada Bayi Neonatus

Rangkuman dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1) Respiratory Distress Syndrome (RDS) adalah kondisi dimana bayi mengalami kesulitan bernafas akibat kurangnya surfaktan di paru-paru 2) Gejala RDS antara lain kesulitan bernafas, dengkingan saat ekspirasi, dan sianosis 3) Tindakan keperawatan untuk RDS meliputi pemberian oksigen, manajemen saluran nafas, dan pencegahan hip

Diunggah oleh

sony_suryawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PANDUAN ASUHAN KEPERAWATAN (PAK)

RSU SURYA HUSADHA

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROM (RDS)

1. Pengertian Respiratory Distress Syndrom atau RDS adalah suatu keadaan


dimana bayi mengalami kegawatan pernafasan yang
diakibatkan kurang atau tidak adanya surfaktan dalam paru-
paru (Nelson, 2000)
2. Anamnesis
a. Pemeriksaan Fisik 1) Kesulitan dalam memulai respirasi normal
2) Dengkingan (grunting) pada saat ekspirasi, diamati pada
saat bayi tidak dalam keadaan menangis (disebabkan oleh
penutupan glottis) merupakan tanda/ indikasi awal
penyakit, berkurangnya dengkingan mungkin merupakan
tanda pertama perbaikan
3) Refraksi sternum dan interkosta
4) Nafas cuping hidung
5) Sianosis pada udara kamar
6) Respirasi cepat atau kadang lambat jika sakit parah
7) Auskultai: udara yang masuk kurang
8) Edema ekstremitas

b. Pemeriksaan 1) Pemeriksaan hasil Analisa Gas Darah


Penunjang a) Hipoksemia (penurunan PaO2)
b) Hipokapnia (penurunan PCO2) pada tahap awal karena
hiperventilasi)
c) Hiperkapnia (peningkatan PCO2) menunjukkan gagal
ventilasi
d) Alkalosis respiratori (pH > 7,45) pada tahap dini
e) Asidosis respiratori/ metabolik terjadi pada tahap lanjut
2) Pemeriksaan Rontgen Dada:
a) Tahap Awal : sedikit normal, infiltrasi pada perihilir
paru

92
b) Tahap lanjut : Interstisial bilateral difus pada paru,
infiltrat di alveoli
3) Test Fungsi Paru:
a) Penurunan komplian paru dan volume paru
b) Pirau kanan-kiri meningkat
3. Masalah a. Kerusakan pertukaran gas
Keperawatan b. Pola nafas tidak efektif
c. Hipotermia
4. Diagnose a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peubahan
Keperawatan memebran kapiler-alveolar
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas
neurologis (defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan
alveolar)
c. Hipotermia berhubungan dengan berada di lingkungan
yang dingin
5. Intervensi a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peubahan
Keperawatan memebran kapiler-alveolar
1) Monitor Respirasi :
a) Monitor rata-rata irama, kedalaman dan usaha untuk
bernafas.
b) Catat gerakan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan
otot bantu dan retraksi dinding dada.
c) Monitor suara nafas, saturasi oksigen, sianosis
d) Monitor kelemahan otot diafragma
e) Catat onset, karakteristik dan durasi batuk
f) Catat hasil foto rontgen
2) Terapi Oksigen :
a) Kelola humidifikasi oksigen sesuai peralatan
b) Siapkan peralatan oksigenasi
c) Kelola O2 sesuai indikasi
d) Monitor terapi O2 dan observasi tanda keracunan
O2

3) Manajemen Jalan Nafas :


a) Bersihkan saluran nafas dan pastikan airway paten

93
b) Monitor perilaku dan status mental pasien,
kelemahan , agitasi dan konfusi
c) Posisikan klien dgn elevasi tempat tidur
d) Bila klien mengalami unilateral penyakit paru,
berikan posisi semi fowlers dengan posisi lateral
10-15 derajat / sesuai tole-ransi
e) Monitor efek sedasi dan analgetik pada pola nafas
klien
4) Manajemen Asam Basa :
a) Kelola pemeriksaan laboratorium
b) Monitor nilai AGD dan saturasi oksigen dalam
batas normal

b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas


neurologis (defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan
alveolar)
1) Manajemen Jalan Nafas :
a) Bebaskan jalan nafas dengan posisi leher ektensi
jika memungkinkan.
b) Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi
dan mengurangi dispnea
c) Auskultasi suara nafas
d) Monitor respirasi dan status oksigen
2) Monitor Respirasi :
a) Monitoring kecepatan, irama, kedalaman dan
upaya nafas.
b) Monitor pergerakan, kesimetrisan dada, retraksi
dada dan alat bantu pernafasan
c) Monitor adanya cuping hidung
d) Monitor pola nafas : bradipnea, takipnea,
hiperventilasi, respirasi kusmaul, apnea
e) Monitor adanya lelemahan otot diafragma
f) Auskultasi suara nafas, catat area penurunan dan
ketidak adanya ventilasi dan bunyi nafas

94
c. Hipotermia berhubungan dengan berada di lingkungan
yang dingin
1) Pengobatan Hipotermi :
a) Pindahkan bayi dari lingkungan yang dingin ke
dalam lingkungan / tempat yang hangat (didalam
inkubator atau lampu sorot)
b) Segera ganti pakaian bayi yang dingin dan basah
dengan pakaian yang hangat dan kering, berikan
selimut.
c) Monitor gejala dari hopotermia : fatigue, lemah,
apatis, perubahan warna kulit
d) Monitor status pernafasan
e) Monitor intake dan output
6. Implementasi a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan peubahan
Keperawatan memebran kapiler-alveolar
1) Memonitor Respirasi :
a) Memonitor rata-rata irama, kedalaman dan usaha
untuk bernafas.
b) Mencatat gerakan dada, lihat kesimetrisan,
penggunaan otot bantu dan retraksi dinding dada.
c) Memonitor suara nafas, saturasi oksigen, sianosis
d) Memonitor kelemahan otot diafragma
e) Mencatat onset, karakteristik dan durasi batuk
f) Mencatat hasil foto rontgen
2) Terapi Oksigen :
a) Mengelola humidifikasi oksigen sesuai peralatan
b) Menyiapkan peralatan oksigenasi
c) Mengelola O2 sesuai indikasi
d) Memonitor terapi O2 dan observasi tanda
keracunan O2
3) Manajemen Jalan Nafas :
a) Membersihkan saluran nafas dan pastikan airway
paten

95
b) Memonitor perilaku dan status mental pasien,
kelemahan , agitasi dan konfusi
c) Memposisikan klien dgn elevasi tempat tidur
d) Bila klien mengalami unilateral penyakit paru,
memberikan posisi semi fowlers dengan posisi
lateral 10-15 derajat / sesuai toleransi
e) Memonitor efek sedasi dan analgetik pada pola
nafas klien
4) Manajemen Asam Basa :
a) Mengelola pemeriksaan laboratorium
b) Memonitor nilai AGD dan saturasi oksigen dalam
batas normal

b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas


neurologis (defisiensi surfaktan dan ketidakstabilan
alveolar)
1) Manajemen Jalan Nafas :
a) Membebaskan jalan nafas dengan posisi leher
ektensi jika memungkinkan.
b) Memposisikan klien untuk memaksimalkan
ventilasi dan mengurangi dispnea
c) Melakukan auskultasi suara nafas
d) Memonitor respirasi dan status oksigen
2) Memonitor Respirasi :
a) Memonitoring kecepatan, irama, kedalaman dan
upaya nafas.
b) Memonitor pergerakan, kesimetrisan dada, retraksi
dada dan alat bantu pernafasan
c) Memonitor adanya cuping hidung
d) Memonitor pola nafas : bradipnea, takipnea,
hiperventilasi, respirasi kusmaul, apnea
e) Memonitor adanya lelemahan otot diafragma
f) Melakukan auskultasi suara nafas, catat area
penurunan dan ketidak adanya ventilasi dan bunyi

96
nafas

c. Hipotermia berhubungan dengan berada di lingkungan


yang dingin
1) Melakukan pengobatan Hipotermi :
a) Memindahkan bayi dari lingkungan yang dingin ke
dalam lingkungan / tempat yang hangat (didalam
inkubator atau lampu sorot)
b) Segera mengganti pakaian bayi yang dingin dan
basah dengan pakaian yang hangat dan kering,
berikan selimut.
c) Memonitor gejala dari hopotermia : fatigue, lemah,
apatis, perubahan warna kulit
d) Memonitor status pernafasan
e) Memonitor intake dan output
7. Evaluasi Keperawatan a. Status Respirasi (Ventilasi) :
1) Pasien menunjukkan peningkatan ventilasi dan
oksigenasi adequat berdasarkan nilai AGD sesuai
parameter normal pasien
2) Menunjukkan fungsi paru yang normal dan bebas dari
tanda-tanda distres pernafasan
b. Status Respirasi (Ventilasi) :
1) Pernapasan pasien 30-60X/menit.
2) Pengembangan dada simetris.
3) Irama pernapasan teratur
4) Tidak ada retraksi dada saat bernapas
5) Inspirasi dalam tidak ditemukan
6) Saat bernapas tidak memakai otot napas tambahan
7) Bernapas mudah
8) Tidak ada suara napas tambahan
c. Termoregulasi Neonatus :
1) Suhu axila 36-37˚ C
2) RR : 30-60 X/menit
3) Warna kulit merah muda

97
4) Tidak ada distress respirasi
5) Tidak menggigil
6) Bayi tidak gelisah
7) Bayi tidak letargi
8. Informasi dan Edukasi Penjelasan mengenai perkembangan penyakit, rencana terapi,
pertumbuhan dan perkembangan bayi, komplikasi yang
mungkin terjadi
9. Discharge a. Jadwal kontrol
Planning b. Obat yang diminum dirumah
c. Leaflet/ informasi kesehatan tentang penyakitnya
[Link] Kritis Kepala Tim
11. Kriteria pulang a. Fungsi paru yang normal dan bebas dari tanda-tanda
distres pernafasan
b. Pernapasan 30-60X/menit, pengembangan dada simetris
c. Suhu 36-37,50C
[Link] Anonym.2010. Sindroma Distres Pernafasan (Penyakit
Membran Hialin).[Link].2 april 2010.
19.07
Anur, Risa Etika dan [Link]
Surfaktan pada Bayi dengan RDS (Lab/SMF Ilmu
Kesehatan Anak [Link]/ Rs. Dr
Soetomo). [Link]
id=235186. 2 april 2010
Budiman Arief.2008. Asuhan Keperawatan Pada Neonatus
Dengan Gangguan Sistem Pernafasan Respiratory
Distress Syndrom (Rds) Diruang Nicu Rsud Gunung
Jati Kota [Link]’s Blog. 5 april 2010
Budi [Link] Diagnosa Keperawatan Nanda. 2005-
2006. Prima Medika
Betz, Cecily Lynn dan Sowden Linda A. 2004. Keperawatan
Pediatri (Penyakit RDS / PMH)
Wilkinson J.M .[Link] Saku Diagnosis Keperawatan NIC
NOC, Edisi [Link]:EGC

98

Anda mungkin juga menyukai