Metode Sampling untuk Eksplorasi Mineral
Metode Sampling untuk Eksplorasi Mineral
Secara spesifik, conto dapat dikatakan sebagai sekumpulan material yang dapat mewakili jenis
batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) dalam arti kualitatif dan kuantitatif dengan pemerian
(deskripsi) termasuk lokasi dan komposisi dari batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) tersebut.
Proses pengambilan conto tersebut disebut sampling (pemercontoan).
Sampling dapat dilakukan karena beberapa alasan (tujuan) maupun tahapan pekerjaan (tahapan
eksplorasi, evaluasi, maupun eksploitasi).
1. Selama fase eksplorasi sampling dilakukan pada badan bijih (mineable thickness) dan tidak
hanya terbatas pada zona mineralisasi saja, tetapi juga pada zona-zona low grade maupun
material barren, dengan tujuan untuk mendapatkan batas yang jelas antara masing-masing
zona tersebut.
2. Selama fase evaluasi, sampling dilakukan tidak hanya pada zona endapan, tapi juga pada
daerah-daerah di sekitar endapan dengan tujuan memperoleh informasi lain yang berhubungan
dengan kestabilan lereng dan pemilihan metode penambangan.
3. Sedangkan selama fase eksploitasi, sampling tetap dilakukan dengan tujuan kontrol kadar
(quality control) dan monitoring front kerja (kadar pada front kerja yang aktif, kadar pada bench
open pit, atau kadar pada umpan material).
Pemilihan metode sampling dan jumlah conto yang akan diambil tergantung pada beberapa faktor,
antara lain :
1. Tipe endapan, pola penyebaran, serta ukuran endapan.
2. Tahapan pekerjaan dan prosedur evaluasi,
3. Lokasi pengambilan conto (pada zona mineralisasi, alterasi, atau barren),
4. Kedalaman pengambilan conto, yang berhubungan dengan letak dan kondisi batuan induk.
5. Anggaran untuk sampling dan nilai dari bijih.
Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi dalam sampling, antara lain :
1. Salting, yaitu peningkatan kadar pada conto yang diambil sebagai akibat masuknya material lain
dengan kadar tinggi ke dalam conto.
2. Dilution, yaitu pengurangan kadar akibatnya masuknya waste ke dalam conto.
3. Erratic high assay, yaitu kesalahan akibat kekeliruan dalam penentuan posisi (lokasi) sampling
karena tidak memperhatikan kondisi geologi.
4. Kesalahan dalam analisis kimia, akibat conto yang diambil kurang representatif.
Secara umum, dalam pemilihan metode sampling perlu diperhatikan karakteristik endapan yang akan
diambil contonya. Bentuk keterdapatan dan morfologi endapan akan berpengaruh pada tipe dan
kuantitas sampling. Aspek karakteristik endapan untuk tujuan sampling ini dapat dijelaskan sebagai
berikut :
Grab sampling
Secara umum, metode grab sampling ini merupakan teknik sampling dengan cara mengambil bagian
(fragmen) yang berukuran besar dari suatu material (baik di alam maupun dari suatu tumpukan) yang
mengandung mineralisasi secara acak (tanpa seleksi yang khusus). Tingkat ketelitian sampling pada
metode ini relatif mempunyai bias yang cukup besar.
Beberapa kondisi pengambilan conto dengan teknik grab sampling ini antara lain :
1. Pada tumpukan material hasil pembongkaran untuk mendapatkan gambaran umum kadar.
2. Pada material di atas dump truck atau belt conveyor pada transportasi material, dengan tujuan
pengecekan kualitas.
3. Pada fragmen material hasil peledakan pada suatu muka kerja untuk memperoleh kualitas
umum dari material yang diledakkan, dll.
Bulk Sampling
Bulk sampling (conto ruah) ini merupakan metode sampling dengan cara mengambil material dalam
jumlah (volume) yang besar, dan umum dilakukan pada semua fase kegiatan (eksplorasi sampai
dengan pengolahan). Pada fase sebelum operasi penambangan, bulk sampling ini dilakukan untuk
mengetahui kadar pada suatu blok atau bidang kerja. Metode bulk sampling ini juga umum dilakukan
untuk uji metalurgi dengan tujuan mengetahui recovery (perolehan) suatu proses pengolahan.
Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, salah satu penerapan metode bulk sampling ini adalah dalam
pengambilan conto dengan sumur uji (lihat Gambar).
Chip sampling
Chip sampling (conto tatahan) adalah salah satu metode sampling dengan cara mengumpulkan
pecahan batuan (rock chip) yang dipecahkan melalui suatu jalur (dengan lebar 15 cm) yang
memotong zona mineralisasi dengan menggunakan palu atau pahat. Jalur sampling tersebut biasanya
bidang horizontal dan pecahan-pecahan batuan tersebut dikumpulkan dalam suatu kantong conto.
Kadang-kadang pengambilan ukuran conto yang seragam (baik ukuran butir, jumlah, maupun
interval) cukup sulit, terutama pada urat-urat yang keras dan brittle (seperti urat kuarsa), sehingga
dapat menimbulkan kesalahan seperti oversampling (salting) jika ukuran fragmen dengan kadar tinggi
relatif lebih banyak daripada fragmen yang low grade.
Channel sampling
Channel sampling adalah suatu metode (cara) pengambilan conto dengan membuat alur (channel)
sepanjang permukaan yang memperlihatkan jejak bijih (mineralisasi). Alur tersebut dibuat secara
teratur dan seragam (lebar 3-10 cm, kedalaman 3-5 cm) secara horizontal, vertikal, atau tegak lurus
kemiringan lapisan (Gambar).
Gambar Sketsa pembuatan channel sampling pada urat (Chaussier et al., 1987)
Gambar Sketsa pembuatan channel sampling pada endapan yang berlapis (Chaussier et al.,
1987)
Ada beberapa cara atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengumpulkan fragmen-fragmen
batuan dalam satu conto atau melakukan pengelompokan conto (sub-channel) yang tergantung pada
tipe (pola) mineralisasi, antara lain :
1. Membagi panjang channel dalam interval-interval yang seragam, yang diakibatkan oleh variasi
(distribusi) zona bijih relatif lebar. Contohnya pada pembuatan channel dalam sumur uji pada
endapan laterit atau residual.
2. Membagi panjang channel dalam interval-interval tertentu yang diakibatkan oleh variasi
(distribusi) zona mineralisasi.
3. Untuk kemudahan, dimungkinkan penggabungan sub-channel dalam satu analisis kadar atau
dibuat komposit.
4. Pada batubara atau endapan berlapis, dapat diambil channel sampling per tebal seam (lapisan)
atau ply per ply (jika terdapat sisipan pengotor).
Gambar Sketsa pembuatan sub-channel pada mineralisasi berupa urat (Dimodifikasi dari
Annels, 1991)
Informasi-informasi yang harus direkam dalam pengambilan conto dari setiap alur adalah sebagai
berikut :
1. Letak lokasi pengambilan conto dari titik ikat terdekat.
2. Posisi alur (memotong vein, vertikal memotong bidang perlapisan, dll.).
3. Lebar atau tebal zona bijih/endapan (lebar horizontal, tebal semu, atau tebal sebenarnya).
4. Penamaan (pemberian kode) kantong conto, sebaiknya mewakili interval atau lokasi sub-
channel.
5. Tanggal pengambilan dan identitas conto.
Sedangkan informasi-informasi yang sebaiknya juga dicatat (dideskripsikan) dalam pengambilan conto
adalah :
1. Mineralogi bijih atau deskripsi endapan yang diambil contonya.
2. Penaksiran visual zona mineralisasi (bijih, waste, pengotor, dll.).
3. Kemiringan semu atau kemiringan sebenarnya dari badan bijih.
4. Deskripsi litologi atau batuan samping.
5. Dan lain-lain yang dianggap perlu dalam penjelasan kondisi endapan
Sistem pembentukan mineralisasi di lingkaran Pasifik secara umum terdiri dari endapan
mineral tipe porfiri, mesotermal sampai epitermal (Corbett dan Leach, 1996). Tipe
porfiri terbentuk pada kedalaman lebih besar dari 1 km dan batuan induk berupa
batuan intrusi. Sillitoe, 1993a (dalam Corbett dan Leach, 1996) mengemukakan bahwa
endapan porfiri mempunyai diameter 1 sampai > 2 km dan bentuknya silinder.
(Corbett, 2002)
Gambar 4: Model fluida sulfida tinggi dan rendah (Corbett dan Leach, 1996)
Tabel 1: Asosiasi mineral petunjuk sistem hipogen dalam proses magmatik yang
Serisit Smektit-illit
Philik Propilitik
Gambar 5: Zonasi proksimal – distal tipe endapan urat logam dasar yang berasosiasi
dengan endapan porfiri tembaga/molibdenum (Panteleyev, 1994)
Berdasarkan pada kisaran temperatur dan pH, komposisi alterasi pada sistem emas-
tembaga hidrotermal di lingkaran Pasifik dapat dikelompokan menjadi 6 tipe
alterasi (Corbett dan Leach, 1996), yaitu:
3) Philik tersusun oleh anggota kaolin (piropilit-andalusit) dan illit (serisit-mika putih)
berasosiasi dengan mineral pada temperatur tinggi seperti serisit-mika-klorit.
4) Subpropilitik tersusun oleh klorit-zeolit yang terbentuk pada temperatur rendah dan
propilitik tersusun oleh klorit-epidot-aktinolit terbentuk pada temperatur rendah.
b. Proses Hidrotermal
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat “aqueos” sebagai hasil diferensiasi
magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan merupakan sumber
terbesar (90%) dari proses pembentukan deposit mineral. Berdasarkan cara pembentukan
endapan, dikenal dua macam endapan hydrothermal yaitu Cavity Filling atau mengisi lubang-
lubang yang sudah ada dalam batuan, dan Metasomatisme, dengan mengganti unsur-unsur yang
telah ada dalam batuan dengan unsur baru larutan hydrothermal.
Berdasarkan cara pembentukannya, maka dikenal beberapa jenis endapan hidrotermal,
antara lain :
Endapan mineral Ephitermal, yaitu endapan mineral yang terjadi pada suhu < 200 ˚C
Endapan mineral Mesothermal, yaitu endapan mineral yang terjadi pada suhu antara 200-300˚C
dengan tekanan moderat
Endapan mineral Hipothermal, yaitu endapan mineral yang terjadi pada suhu 300-500˚C dengan
tekanan yang tinggi.
Paragenesis dari endapan mesothermal dan mineral gangue antara lain stanite (Sn, Cu)
sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3),
tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan
mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.
Lindgren (1933) menyatakan bahwa endapan mesothermal tidak mengandung mineral
garnet, topas, piroksen, amphibole, dan tourmaline yang merupakan mineral dengan suhu
pembentukan yang tergolong tinggi. sedangkan endapan mesothermal juga tidak mengandung
zeolite yang proses pembentukannya pada suhu yang tergolong rendah.
Endapan mineral mesothermal berhubungan erat dengan batuan beku secara spasial ataupun
secara genetic (genesa), sedangkan dalam hal lain, tidak ada asosiasi genetic yang bisa
dijabarkan.
b. Lokasi Pembentukan Endapan Mineral Mesothermal
Lokasi Pembentukan dari Endapan Mineral Mesothermal adalah pada Urat-urat
polimetalikpada batuan yang berumur paleozoikum bawah, dengan contoh batuan yang telah
diketahui dari Pembrokeshire, melewati Wales tengah ke Snowdonia dan pada Anglesey.
Secara khusus, urat-urat polimetalik terdapat pada patahan, rekahan-rekahan batuan dan
zona patahan. Proses mineralisasi dimungkinkan terdapat pada struktur, atau berkembang dengan
pola minim (jarang). Gerakan perulangan dan proses aktivitas mineralisasi adalah hal yang
khusus. Dip-dip sangat dimungkinkan untuk berubah-ubah dan dip-dip curam merupakan hal
yang lazim pada batuan-batuan yang berkompeten (contoh batupasir, dolerite sills) dan dip-dip
yang kurang curam terdapat pada batuan-batuan yang tidak berkompeten (contoh serpih,
batulempung). Wallrock biasanya teralterasi, dengan kenampakkan yang agak memudar.
Di dalam Urat-urat polimetalik terkandung tembaga, timbal, seng, perak, dan emas (sangat
ekonomis), arsenic, dan logam putih, selalu didapatkan sufida langka, arsenide atau telluride,.
Material – material ini terbentuk dari sejumlah proses, yang berada di Wales,
Ketika sekuen sedimen tebal dan batuan vulkanik terkubur sangat dalam, hal ini digunakan
untuk penambahan tekanan dan suhu, menghasilkan produk dalam metamorfisme tingkat rendah.
Jumlah kebebasan air yang signifikan ini berasal dari mineral yang terhidrasi, seperti lanau,
sebagai rekristalisasinya. Unsur yang mengandung air ini lalu pindah sebagai fluida hidrotermal
sepanjang jalan yang dapat dilewati air pada batuan, seperti patahan dan zona rekahan, dimana
mineral-mineral terdepositkan.
Beberapa sampel terbaik yang berasal dari Welsh, sama seperti urat-urat yang berada di
sabuk emas Dolgellau, diisi oleh batuan sedimen berumur tengah sampai atas kambrian, dan
intrusi, dan terbentuk lebih dahulu dari deformasi Caledonian yang terangkat menjadi cekungan
Welsh pada masa Devonian. Urat-urat tersebut mengisi rekahan patahan dengan
panjang strikehingga beberapa kilometer dan khususnya terungkap menyerupai struktur pita
sebagai contoh ilustrasi diatas.
Reaksi metamorfisme menyebabkan pengisian air berskala luas pada batuan yang terkubur
sangat dalam, dipercaya telah mengalami proses mekanisme yang memicu fluida hidrotermal.
3. POTENSI
a. Nilai ekonomis mineral mesothermal
Produk atau hasil dari endapan mineral mesothermal beberapa diantaranya adalah timbal,
tembaga, seng, perak, dan emas yang terendapkan bersama dengan mineral-mineral seperti
mineral kuarsa, pirit, dan juga mineral karbonat. Mineral-mineral tersebut merupakan mineral
yang memilki nilai ekonomis yang sangat tinggi.
Endapan mineral emas yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi diantaranya adalah, native
gold, calaverite, dan sylvanite. Dari macam-macam endapan mineral tersebut, native gold
merupakan jenis endapan mineral emas yang paling ekonomis. Hal tersebut dikarenakan
kandungan atau komposisi dari unsur Au yang lebih besar daripada jenis endapan mineral
emas,calaverite, dan sylvanite.
Endapan mineral perak dibagi menjadi beberapa jenis mineral berdasarkan komposisi atau
kandungan dari unsur Ag. Endapan mineral yang paling banyak kandungan unsur Ag adalah
mineral native silver, kemudian dibawah mineral native silver yang mana kandungan Ag nya
lebih sedikit yakni 25%-50% adalah mineral argentite dan cerargirite.
Endapan Mineral Tembaga merupakan salah satu dari beberapa mineral bijih yang cukup
potensial. Tembaga terbagi menjadi beberapa kelas berdasarkan kandungan unsur Cu, urutan
kelas tersebut antara lain Native Cooper, Bornite, Chalcosite, Chalcopyrite, Covellite, Cuprite,
Enargite, Malachite, Azurite.
Endapan mineral lain adalah mineral timbal yang diklasifikasikan berdasarkan kandungan
Pb nya. Nilai kandungan Pb yang besar adalah Galena. Sementara kandungan unsur Pb yang
lebih kecil dari mineral Galena adalah Cerussite dan Anglesite. Semakin tinggi kandungan Pb
nya, maka semakin tinggi nilai ekonomis dari mineral tersebut.
Seng adalah endapan mineral yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Mineral ini
dibagi menjadi beberapa kelas. Yaitu Sphaleite, Smitshsonite, Hemimorphite, dan Zincite. Nilai
kandungan unsur Zn yang besar akan mempengaruhi nilai ekonomis dari mineral tersebut. Kelas
endapan mineral ini yang memilki nilai Zn terbesar adalah Sphaleite.
Endapan mineral lain yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah timah. Kandungan
Sn yang besar pada mineral ini akan mempengaruhi nilai ekonomis suatu mineral. Mineral
Timah yang mengandung Sn terbesar adalah Cassiterite dan Stannite.
b. Persebaran endapan mineral mesothermal di Indonesia
Endapan mineral mesothermal banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, misalnya
1. Timah
Daerah-daerah penghasil timah di Indonesia adalah Pulau Bangka, Belitung,dan Singkep yang
menghasilkan lebih dari 20% produksi timah putih dunia. Di Muntok terdapat pabrik peleburan
timah.
2. Nikel
Nikel terdapat di sekitar Danau Matana, Danau Towuti, dan di Kolaka (Sulawesi Selatan).
3. Tembaga
Tembaga terdapat di Tirtomoyo dan wonogiri (Jawa Tengah), Muara Sipeng (Sulawesi) dan
Tembagapura (Papua/Irian Jaya).
4. Emas dan perak
Emas dan Perak merupakan logam mulia. Pusat tambang emas dan perak terdapat di daerah-
daerah berikut:
Tembagapura di Papua (Irian Jaya)
Batu hijau di Nusa Tenggara Barat
Tasikmalaya dan Jampang di Jawa Barat
Simao di Bengkulu
Logos di Riau
Meulaboh di Naggroe Aceh Darusalam
2. Kalkopirit
suatu mineral besi sulfide tembaga yang mengeristal sistem bersudut empat
mempunyai komposisi kimia yaitu (CuFeS2)
mempunyai warna kuning keemasan, dan mempunyai skala kekerasan 3,5 – 4, Lapisan nya adalah
diagnostik seperti sedikit warna hijau kehitam.
saat kalkopirit berada di udara terbuka maka kalkopirit akan beroksidasi dengan berbagai oksida,
hidroksid dan sulfatesRekanan Mineral Tembaga meliputi sulfida bornite ( Cu5FeS4), chalcocite
( Cu2S), covellite ( CuS), digenite ( Cu9S5); karbonat seperti perunggu dan azurit, dan oksida
jarang seperti cuprite ( Cu2O).
Warna kalkopirit kuning gelap dengan sedikit warna kehijau – hijauan dan kilap berminyak
diagnostic. Dalam kaitan dengan warna nya dan isi tembaga tinggi, kalkopirit telah sering
dikenal sebagai ” tembaga kuningan”.
digunakan di dalam pembuatan asam belerang dan belerang dioksida, butir dari pyrite debu telah
digunakan untuk memulihkan besi, emas, tembaga, unsur kimia/kobalt, nikel, dll.
3. Emas
Logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala
Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu
dengannya.
Mempunyai kandungan unsur Au
Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral
ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non
logam.
Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi.
Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa, dll.
Potensi endapan emas terdapat di hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera,
Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan
Papua.
4. Perak
Perak merupakan logam yang terbentuk dan selalu bersama-sama dengan logam emas, yang
mempunyai warna putih.
Mempunyai kandungan unsur Ag
Kegunaannya adalah untuk perhiasan, cindera mata, logam campuran, dll. Potensinya selalu
berasosiasi dengan logam lainnya seperti emas dan tembaga
5. Seng
Merupakan unsur pertama golongan 12 pada tabel periodik.
Beberapa aspek kimiawi seng mirip dengan magnesium. Hal ini dikarenakan ion kedua unsur ini
berukuran hampir sama. Selain itu, keduanya juga memiliki keadaan oksidasi+2.
Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifatdiamagnetik. Walau
demikian, kebanyakan seng mutu komersial tidak berkilau. Seng sedikit kurang padat
daripada besi dan berstruktur kristal heksagonal
Seng merupakan unsur paling melimpah ke-24 di kerak Bumi dan memiliki
lima isotopstabil. Bijih seng yang paling banyak ditambang adalah sfalerit (seng sulfida).
Pelapisan seng pada baja untuk mencegah perkaratan merupakan aplikasi utama seng. Aplikasi-
aplikasi lainnya meliputi penggunaannya pada baterai dan aloi. Selain itu juga seng dapat
digunakan dalam pembuatan konstruksi bangunan dan juga merupakan mineral yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh manusia. Pada anak-anak, defisiensi ini menyebabkan gangguan
pertumbuhan, mempengaruhi pematangan seksual, mudah terkena infeksi, diare, dan setiap
tahunnya menyebabkan kematian sekitar 800.000 anak-anak di seluruh dunia. Konsumsi seng
yang berlebihan dapat menyebabkan ataksia, lemah lesu, dan defisiensi tembaga.
5. DAFTAR PUSTAKA
Park, Charles.F Jr. and Macdiarmid, Roy A. 1964. Ore Deposite. San Francisco: W.H. Freeman and
Company.
[Link]
[Link]
[Link] %20
dan%20Pembentukan%[Link]
Both lode gold and Cobar-type Cu-Au-Zn-Pb-Ag deposits, the two main deposit types in the orogenic
mineral system, are associated with continental margin accretionary (oceanic-continental) and collisional
(continent-continent) orogens. They typically occur in granite-greenstone terranes or in terranes
dominated by turbiditic (meta-sedimentary) rocks, and are commonly associated with second- and third-
order faults and shear zones (Vearncombe et al., 1989; Lawrie and Hinman, 1998). Temporally, the
deposits commonly form during the late stages of orogenesis. Although present in rocks that are
characterised by a large range in metamorphic grade (pumpellyite-prehnite to granulite facies), these
deposits are most common in low to mid-greenschist facies rocks (Groves et al., 1998). This observation
on lode gold deposits led Groves et al. (1998) to propose a crustal continuum model for lode gold
deposits, in which metal assemblages change with depth, with Hg and Sb enriched in high level systems
(a trend also present in the porphyry-epithermal mineral system). As Cobar-type deposits are much less
common and less studied, variations in deposit characteristics with crustal depth have not been
documented, although Zn-Pb-rich deposits seem to be slightly younger than Cu-Au-rich deposits in the
Cobar district (cf., Champion et al., 2009).
Figure 2.7.1: Diagrammatic sketch of the orogenic mineral system illustrating the relative location of deposits types
within the overall setting and the likely distribution of critical and other commodities within and around these deposit
types. In the commodity lists, blue indicates critical commodities, underlined bold indicates major products, bold
indicates commonly recovered by-products, underlined normal font indicates commodities with limited recovery as a
by-product (usually during downstream processing), and normal text indicates commodities that are geochemically
anomalous, but not recovered.
The relation between mineralisation in the orogenic mineral system and magmatism is fraught. In several
major lode gold provinces, such as the Eastern Goldfields Superterrane and the Tanami province, there is
a close temporal and, in some cases, spatial relationship between magmatism and mineralisation
(Blewett et al., 2010; Huston et al., 2007), yet in other major gold events, such as the ˜440 Ma
Benambran event in Victorian goldfields, magmatism has not been found to overlap gold mineralisation,
despite extensive geochronologic studies of granites and lode gold deposits (Champion et al., 2009). In
the Cobar Cu-Au-Zn-Pb-Ag district, magmatism is not known to overlap in time with mineralisation (e.g.,
van der Wielen and Glen, 2007; Champion et al., 2009).
Endapan Volcanic-Hosted Massive Sulphide atau ada pula yang menyebutkan Volcanic-
Associated Massive Sulphide, Volcanogenic Massive Sulphide (VMS) merupakan endapan
sulfida logam dasar yang berhubungan dengan vulkanisme terkait dengan proses hidrotermal
di lingkungan bawah laut. Endapan ini terjadi sebagai lensa polymetallic masif sulfida yang
terbentuk pada atau mendekati dasar laut di lingkungan vulkanik submarine.
Sebagian besar endapan VMS berupa akumulasi mineral sulfida berlapis yang mengendap
dari cairan hidrotermal di bawah dasar laut dalam berbagai setting geologi dari masa
terbentuknya hingga sekarang. Adapun beberapa hal yang khas dari endapan VMS adalah:
Aggarwal & Nesbit (1984) menyebutkan bahwa endapan VMS terbentuk di dasar laut yaitu
di antara batas lempeng divergen di mana ophiolite berasosiasi dengan endapan yang
terbentuk akibat pemekaran lantai samudera (endapan Baie Verte-Siprus) dan pada batas
lempeng konvergen (endapan Kuroko-Jepang) yang berasosiasi dengan lempeng samudera.
Herzig dan Hannington (1995) berpendapat bahwa endapan VMS umumnya terbentuk pada
tektonik ekstensional dasar laut yaitu di lingkungan pemekaran samudera aktif (Mid Oceanic
Ridge, MOR) dan di lingkungan back arc basin pada tatanan busur vulkanik. Kedua pendapat
tersebut pada intinya sama. Terdapat pendapat lain juga yang mengatakan bahwa endapan
VMS berasosiasi dengan kaldera submarine.
Gambar B.1 Tatanan tektonik endapan VMS
C. Genesa Endapan
Endapan VMS diduga bersasosiasi dengan beberapa mineral berbeda seperti calc-
alkaline. Pada beberapa kasus, calc-alkaline merupakan batuan induk. Dugaan inilah yang
membuat beberapa scientist untuk melakukan tes untuk memastikannya. Dari hasil tes, tidak
terlihat distribusi waktu pembentukan
endapan yang berkisar pada umur 3500 SM di Blok Pilbara-Australia. Hutcison
mencatat bahwa umur endapan VMS disesuaikan dengan periode ketebalan endapan,
akumulasi supracrustal, sehingga tidak termasuk dalam fenomena metalogenik serta dari area
singkapan endapan dapat diperkirakan umur endapan. Bagaimanapun tidak ada keraguan
bahwa aktifitas vulkanik dilaut dalam, berumur dan memilike tipe petrokimia yang sama, ini
sangatjelas terjadi distribusi sebagian pada endapan VMS. Sebagai contoh, 83
endapan VMS ekonomis diketahui terjadi di tahun 2650-2730 yang terjadi akibat sabuk
vulkanik di Canadian Shield, tapi hanya 2 komposisi sabuk vulkanik yang diketahui berumur
sama dengan yang ada di Australia (Franklin et al, 1981). Pada endapan yang termetamorfosa,
biasanya bijih akan mengalami peningkatan kekasaran dengan meningkatnya kadar
metamorfosa. Tekstur
dan struktur pada kebanyakan pada lapisan sulfida massif yang telah
termetamorfosa dan terdeformasi lebih tepatnya dideskripsikan sebagai
gneiss. Kemungkinan ciri-ciri yang didasarkan pada endapan VMS telah terlihat pada zonasi
dari kimia, mineralogi dan tekstur bijih dan perubahan metasomatisme menjadi batuan induk
dalam jalur alterasi hidrotermal.
Mineral logam lainnya, pirotit, magnetit dan bornit (jika ada) cenderung untuk
terkonsentrasi pada inti zona stockwork dan bagian tengah basalt pada lapisan sulfida massif.
Barit, umumnya terjadi dengan konsentrasi spalerit dan galena yang paling tinggi pada zona
paling luar dari lapisan sulfida massif. Pirit, umumnya lebih dulu berada di sepanjang pola
zonasi sulfida, cenderung untuk mencapai bagian yang relatif maksimum dimana spalerit
menjadi dominan daripada kalkopirit.
1. Karena adanya tekanan hidrostatis, air laut meresap melalui rekahan-rekahan yang terbentuk
di lantai samudera (recharge). Air laut ini mempunyai karakter kimiawi tertentu.
2. Fluida tersebut dipanaskan oleh batuan bagian dalam yang melebur pada kerak samudera
sampai ketinggian temperatur 400°C. Reaksi fluida magmatis dengan air laut menyebabkan
tingginya kadar sulfida dan sulfat.
3. Fluida yang panas perlahan naik ke permukaan dikarenakan adanya perbedaan suhu
(discharge)
Tipe endapan VMS diklasifikasikan berasarkan pada kandungan logam dasar, kandungan
emas dan litologi hostrock-nya. Terdapat beberapa klasifikasi VMS:
1. Endapan yang terbentuk di pusat penyebaran dan biasanya banyak mengandung Cu –Zn.
2. Endapan yang terbentuk di busur pulau yang biasanya memiliki konsentrasi dari Pb, Zn, Ag
dan Ba yang relatif tinggi.
1. Tipe Kuroko, felsic, calc-alkali urutan Arkean usiaTersier di lempeng konvergen pada wilayah
laut.
1. tipe Zn-Cu
2. tipe Pb-Zn-Cu
3. tipe Cu
1. jenis Zn-Pb-Cu
2. jenis Zn-Cu
3. jenis Cu
Klasifikasi berdasarkan jenis hostrock termasuk semua urut-urutan litologi dalam ruang
dan waktu yang berbeda, berhubungan dengan lingkungan tektonik bawah laut yang berbeda,
dari lingkungan ophiolite ke oceanic rift arc, continental back arc dan sediment back arc,
diilustrasikan sebagai berikut:
Endapan ini terbentuk di pusat penyebaran. Black smoker mempunyai suhu lebih dari 3600C,
endapan mineral yang dihasilkan, yaitu pirit (FeS2), kalkopirit (CuFeS2), anhidrit
(CaSO4) dan mineral yang dihasilkan yaitu mineral sulfida.
Bahan bijih yang diendapkan dalam fumarol atau black smoker ketika
didorong ke laut dingin dan bercampur dengan air laut mengakibatkan
pengendapan mineral sulfida sebagai bijih sulfida stratiform.
2. White Smoker
Endapan ini terbentuk di busur pulau yang memiliki suhu antara 2600-3000C,
endapan mineral yang dihasilkan yaitu pirit (FeS2) dan sphalerit (ZnS), dan kaya
akan zinc. Disebut white smoker karena menghasilkan unsur Al sebagai ciri khasfelsic.
1. Cyprus type : berhubungan dengan tholeiitic batuan basalt dalam sekuenofiolit(back arc
spreading ridge), contoh: Troodos Massif (Siprus).
2. Besshi-type : berasosiasi dengan lempeng vulkanik dan turbiditkontinental, contoh:
Sanbagwa (Jepang).
3. Kuroko-type : berasosiasi dengan batuan vulkanik felsik terutama kubahrhyolite (back arc
rifting), contoh: Kuroko deposits (Jepang).
Karakteristik dan genesa endapan ini sangat menarik karena berbeda dengan tipe endapan
lain, sehingga masih menjadi perdebatan diantara para geoscientist. Namun belakangan ini
telah dilakukan penelitian
lebih lanjut dan ditemukan bahwa endapan ini dapat ditemukan akibat semburan
larutan hidrotermal bersuhu tinggi (350oC) yang timbul akibat celah di sepanjang timur
punggungan samudera pasifik yang juga menunjukan aktifitas presipitasi mineral
logam, yang serupa dengan endapan VMS.
Dari penemuan tersebut dihasilkan model endapan bijih yang terdiri dari 2 komponen
utama, yaitu:
1. Model deskriptif: menceritakan model badan bijih antara lain geologi, morfologi, sifat kimia,
mineralogi setiap tipe endapan.
2. Model genetik: memberikan penjelasan yang rasional dan konsisten tentang karakteristik tipe
endapan yang menceritakan tentang proses geologi yang terjadi.
Endapan VMS terdiri dari lapisan konkordan pada kadar sulfida yang tinggi, komposisi 60%
atau lebih mineral sulfida (Sangster dan Scott, 1976), yang secara stratigrafi didasari
olehstockwork diskordan atau pada zona urat-urat stringer. Mineralisasi tipe sulfida terjadi
pada jalur alterasi batuan hidrotermal. Kontak bagian atas dari lapisan VMS (dengan batuan
dinding atas) tajam, kontak terendah biasanya tergadrasi masuk ke zona stringer.
Perbandingan panjang dengan ketebalan yaitu antara 3-10 : 1. Endapan yang akan ditambang
mungkin terdiri dari beberapa lapisan
VMS dan lapisan tersebut mendasari zona stockwork.
Gambar E.1. Anatomi (cross-section VMS)
Adapun komoditas utama yang dihasilkan berupa bijih Cu , Zn , Pb , Au , dan Ag, serta
produk tambang Co, Sn, Ba, S,Se, Mn, Cd, Bi, Te, Ga dan Ge.
Pustaka