0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
116 tayangan31 halaman

Metode Sampling untuk Eksplorasi Mineral

Metode sampling dapat berupa grab sampling, bulk sampling, atau sampling berinterval tergantung pada karakteristik endapan. Faktor seperti bentuk endapan, distribusi mineral, dan tahap proyek mempengaruhi metode yang digunakan. Sampling dilakukan untuk memperoleh informasi kualitas secara representatif.

Diunggah oleh

Handryan Prananda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
116 tayangan31 halaman

Metode Sampling untuk Eksplorasi Mineral

Metode sampling dapat berupa grab sampling, bulk sampling, atau sampling berinterval tergantung pada karakteristik endapan. Faktor seperti bentuk endapan, distribusi mineral, dan tahap proyek mempengaruhi metode yang digunakan. Sampling dilakukan untuk memperoleh informasi kualitas secara representatif.

Diunggah oleh

Handryan Prananda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Metode Sampling

Posted by Blogger KoetaiSunday, 27 June 20100 comments


Konsep sampling
Sampel (conto) merupakan satu bagian yang representatif atau satu bagian dari keseluruhan yang
bisa menggambarkan berbagai karakteristik untuk tujuan inspeksi atau menunjukkan bukti-bukti
kualitas, dan merupakan sebagian dari populasi stastistik dimana sifat-sifatnya telah dipelajari untuk
mendapatkan informasi keseluruhan.

Secara spesifik, conto dapat dikatakan sebagai sekumpulan material yang dapat mewakili jenis
batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) dalam arti kualitatif dan kuantitatif dengan pemerian
(deskripsi) termasuk lokasi dan komposisi dari batuan, formasi, atau badan bijih (endapan) tersebut.
Proses pengambilan conto tersebut disebut sampling (pemercontoan).

Sampling dapat dilakukan karena beberapa alasan (tujuan) maupun tahapan pekerjaan (tahapan
eksplorasi, evaluasi, maupun eksploitasi).
1. Selama fase eksplorasi sampling dilakukan pada badan bijih (mineable thickness) dan tidak
hanya terbatas pada zona mineralisasi saja, tetapi juga pada zona-zona low grade maupun
material barren, dengan tujuan untuk mendapatkan batas yang jelas antara masing-masing
zona tersebut.
2. Selama fase evaluasi, sampling dilakukan tidak hanya pada zona endapan, tapi juga pada
daerah-daerah di sekitar endapan dengan tujuan memperoleh informasi lain yang berhubungan
dengan kestabilan lereng dan pemilihan metode penambangan.
3. Sedangkan selama fase eksploitasi, sampling tetap dilakukan dengan tujuan kontrol kadar
(quality control) dan monitoring front kerja (kadar pada front kerja yang aktif, kadar pada bench
open pit, atau kadar pada umpan material).

Pemilihan metode sampling dan jumlah conto yang akan diambil tergantung pada beberapa faktor,
antara lain :
1. Tipe endapan, pola penyebaran, serta ukuran endapan.
2. Tahapan pekerjaan dan prosedur evaluasi,
3. Lokasi pengambilan conto (pada zona mineralisasi, alterasi, atau barren),
4. Kedalaman pengambilan conto, yang berhubungan dengan letak dan kondisi batuan induk.
5. Anggaran untuk sampling dan nilai dari bijih.
Beberapa kesalahan yang mungkin terjadi dalam sampling, antara lain :
1. Salting, yaitu peningkatan kadar pada conto yang diambil sebagai akibat masuknya material lain
dengan kadar tinggi ke dalam conto.
2. Dilution, yaitu pengurangan kadar akibatnya masuknya waste ke dalam conto.
3. Erratic high assay, yaitu kesalahan akibat kekeliruan dalam penentuan posisi (lokasi) sampling
karena tidak memperhatikan kondisi geologi.
4. Kesalahan dalam analisis kimia, akibat conto yang diambil kurang representatif.

Secara umum, dalam pemilihan metode sampling perlu diperhatikan karakteristik endapan yang akan
diambil contonya. Bentuk keterdapatan dan morfologi endapan akan berpengaruh pada tipe dan
kuantitas sampling. Aspek karakteristik endapan untuk tujuan sampling ini dapat dijelaskan sebagai
berikut :

Pada endapan berbentuk urat


1. Komponen mineral atau logam tidak tersebar merata pada badan urat.
2. Mineral bijih dapat berupa kristal-kristal yang kasar sehingga diperlukan sample dengan volume
yang besar agar representatif.
3. Kebanyakan urat mempunyai lebar yang sempit (jika dibandingkan dengan bukaan stope)
sehingga rentan dengan dilution.
4. Kebanyakan urat berasosiasi dengan sesar, pengisi rekahan, dan zona geser (regangan),
sehingga pada kondisi ini memungkinkan terjadinya efek dilution pada batuan samping,
sehingga batuan samping perlu dilakukan sampling.
5. Perbedaan assay (kadar) antara urat dan batuan samping pada umumnya tajam, berhubungan
dengan kontak dengan batuan samping, impregnasi pada batuan samping, serta pola urat yang
menjari (bercabang), sehingga dalam sampling perlu dicari dan ditentukan batas vein yang
jelas.
6. Fluktuasi ketebalan urat sulit diprediksi, dan mempunyai rentang yang terbatas, serta
mempunyai kadar yang sangat erratic (acak/tidak beraturan) dan sulit diprediksi, sehingga
diperlukan sampling dengan interval yang rapat.
7. Kebanyakan urat relatif keras dan bersifat brittle, sehingga cukup sulit untuk mencegah
terjadinya bias akibat variabel kuantitas per unit panjang sulit dikontrol.
8. Sampling lanjutan kadang-kadang terbatas terhadap jarak (interval), karena pada umumnya
harus dilanjutkan melalui pemboran inti.

Pada endapan stratiform


Endapan stratiform disini termasuk endapan-endapan logam dasar yang terendapkan selaras/sejajar
dengan bidang perlapisan satuan litologi (litofasies), dimana mineral bijih secara lateral dikontrol oleh
bidang perlapisan atau bentuk-bentuk sedimen yang lain (sedimentary hosted). Karakteristik umum
tipe endapan ini yang berhubungan dengan metode sampling antara lain :
1. Mempuyai ketebalan yang cukup besar.
2. Mempunyai penyebaran lateral yang cukup luas.
3. Kadang-kadang diganggu oleh struktur geologi atau tektonik yang kuat, sehingga dapat
menimbulkan masalah dalam sampling.
4. Arah kecenderungan kadar relatif seragam dan dapat diprediksi, namun kadang-kadang dapat
terganggu oleh adanya remobilisasi, metamorfisme, atau berbentuk urat.
5. Perubahan-perubahan gradual atau sistematis dalam kadar harus diikuti oleh perubahan dalam
interval sampling.
6. Dalam beberapa kondisi mungkin terdapat mineralisasi yang berbutir halus dan kemudian
berpengaruh pada besar volume material yang dilakukan sampling.
7. Pada tipe hosted by meta-sediment, perlu diperhatikan variabel ukuran conto akibat perubahan
ukuran, kekerasan batuan, atau nugget effect.
8. Setempat dapat terjadi perubahan kadar yang moderat dan dapat menyebabkan kesalahan pada
sampling yang signifikan.
9. Cut off kadar dapat gradasional (tidak konstan).
Pada endapan sedimen
Pada tipe endapan ini, termasuk endapan batubara, ironstones, potash, gipsum, dan garam, yang
mempunyai karakteristik :
1. Mempuyai kontak yang jelas dengan batuan samping.
2. Mempunyai fluktuasi perubahan indikator kualitas yang bersifat gradual.
3. Sampling sering dikontrol oleh keberadaan sisipan atau parting dalam batubara, sehingga
interval sampling lebih bersifat ply per ply.
4. Perubahan (variasi) ketebalan lapisan yang cenderung gradual, sehingga anomali-anomali yang
ditemukan dapat diprediksi lebih awal (washout, sesar, perlipatan, dll.), sehingga pola dan
kerapatan sampling disesuaikan dengan variasi yang ada.
5. Rekomendasi pola sampling (strategi sampling) adalah dengan interval teratur secara vertikal,
bed by bed (atau ply by ply), atau jika relatif homogen dapat dilakukan secara komposit.

Pada endapan porfiri


Karakteristik umum dari tipe endapan ini yang perlu diperhatikan adalah :
1. Mempuyai dimensi yang besar, sehingga sampling lebih diprioritaskan dengan pemboran inti
(diamond atau percussion).
2. Umumnya berbentuk non-tabular, umumnya mempunyai kadar yang rendah dan bersifat erratic,
sehingga kadang-kadang dibutuhkan conto dalam jumlah (volume) yang besar, sehingga
kadang-kadang dilakukan sampling melalui winze percobaan, adit eksplorasi, dan paritan.
3. Zona-zona mineralisasi mempunyai pola dan variabilitas yang beragam, seperti tipe
disseminated, stockwork, vein, atau fissure, sehingga perlu mendapat perhatian khusus dalam
pemilihan metode sampling.
4. Keberadaan zona-zona pelindian atau oksidasi, zona pengkayaan supergen, dan zona hipogen,
juga perlu mendapat perhatian khusus.
5. Mineralisasi dengan kadar hipogen yang relatif tinggi sering terkonsentrasi sepanjang sistem
kekar sehingga penentuan orientasi sampling dan pemboran perlu diperhatikan dengan
seksama.
6. Zonasi-zonasi internal (alterasi batuan samping) harus selalu diperhatikan dan direkam
sepanjang proses sampling.
7. Variasi dari kerapatan pola kekar akan mempengaruhi kekuatan batuan, sehingga interval
(kerapatan) sampling akan sangat membantu dalam informasi fragmentasi batuan nantinya.

Grab sampling
Secara umum, metode grab sampling ini merupakan teknik sampling dengan cara mengambil bagian
(fragmen) yang berukuran besar dari suatu material (baik di alam maupun dari suatu tumpukan) yang
mengandung mineralisasi secara acak (tanpa seleksi yang khusus). Tingkat ketelitian sampling pada
metode ini relatif mempunyai bias yang cukup besar.
Beberapa kondisi pengambilan conto dengan teknik grab sampling ini antara lain :
1. Pada tumpukan material hasil pembongkaran untuk mendapatkan gambaran umum kadar.
2. Pada material di atas dump truck atau belt conveyor pada transportasi material, dengan tujuan
pengecekan kualitas.
3. Pada fragmen material hasil peledakan pada suatu muka kerja untuk memperoleh kualitas
umum dari material yang diledakkan, dll.
Bulk Sampling
Bulk sampling (conto ruah) ini merupakan metode sampling dengan cara mengambil material dalam
jumlah (volume) yang besar, dan umum dilakukan pada semua fase kegiatan (eksplorasi sampai
dengan pengolahan). Pada fase sebelum operasi penambangan, bulk sampling ini dilakukan untuk
mengetahui kadar pada suatu blok atau bidang kerja. Metode bulk sampling ini juga umum dilakukan
untuk uji metalurgi dengan tujuan mengetahui recovery (perolehan) suatu proses pengolahan.
Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, salah satu penerapan metode bulk sampling ini adalah dalam
pengambilan conto dengan sumur uji (lihat Gambar).

Chip sampling
Chip sampling (conto tatahan) adalah salah satu metode sampling dengan cara mengumpulkan
pecahan batuan (rock chip) yang dipecahkan melalui suatu jalur (dengan lebar 15 cm) yang
memotong zona mineralisasi dengan menggunakan palu atau pahat. Jalur sampling tersebut biasanya
bidang horizontal dan pecahan-pecahan batuan tersebut dikumpulkan dalam suatu kantong conto.
Kadang-kadang pengambilan ukuran conto yang seragam (baik ukuran butir, jumlah, maupun
interval) cukup sulit, terutama pada urat-urat yang keras dan brittle (seperti urat kuarsa), sehingga
dapat menimbulkan kesalahan seperti oversampling (salting) jika ukuran fragmen dengan kadar tinggi
relatif lebih banyak daripada fragmen yang low grade.

Channel sampling
Channel sampling adalah suatu metode (cara) pengambilan conto dengan membuat alur (channel)
sepanjang permukaan yang memperlihatkan jejak bijih (mineralisasi). Alur tersebut dibuat secara
teratur dan seragam (lebar 3-10 cm, kedalaman 3-5 cm) secara horizontal, vertikal, atau tegak lurus
kemiringan lapisan (Gambar).

Gambar Sketsa pembuatan channel sampling pada urat (Chaussier et al., 1987)

Gambar Sketsa pembuatan channel sampling pada endapan yang berlapis (Chaussier et al.,
1987)
Ada beberapa cara atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengumpulkan fragmen-fragmen
batuan dalam satu conto atau melakukan pengelompokan conto (sub-channel) yang tergantung pada
tipe (pola) mineralisasi, antara lain :
1. Membagi panjang channel dalam interval-interval yang seragam, yang diakibatkan oleh variasi
(distribusi) zona bijih relatif lebar. Contohnya pada pembuatan channel dalam sumur uji pada
endapan laterit atau residual.
2. Membagi panjang channel dalam interval-interval tertentu yang diakibatkan oleh variasi
(distribusi) zona mineralisasi.
3. Untuk kemudahan, dimungkinkan penggabungan sub-channel dalam satu analisis kadar atau
dibuat komposit.
4. Pada batubara atau endapan berlapis, dapat diambil channel sampling per tebal seam (lapisan)
atau ply per ply (jika terdapat sisipan pengotor).

Gambar Sketsa pembuatan sub-channel pada mineralisasi berupa urat (Dimodifikasi dari
Annels, 1991)
Informasi-informasi yang harus direkam dalam pengambilan conto dari setiap alur adalah sebagai
berikut :
1. Letak lokasi pengambilan conto dari titik ikat terdekat.
2. Posisi alur (memotong vein, vertikal memotong bidang perlapisan, dll.).
3. Lebar atau tebal zona bijih/endapan (lebar horizontal, tebal semu, atau tebal sebenarnya).
4. Penamaan (pemberian kode) kantong conto, sebaiknya mewakili interval atau lokasi sub-
channel.
5. Tanggal pengambilan dan identitas conto.

Sedangkan informasi-informasi yang sebaiknya juga dicatat (dideskripsikan) dalam pengambilan conto
adalah :
1. Mineralogi bijih atau deskripsi endapan yang diambil contonya.
2. Penaksiran visual zona mineralisasi (bijih, waste, pengotor, dll.).
3. Kemiringan semu atau kemiringan sebenarnya dari badan bijih.
4. Deskripsi litologi atau batuan samping.
5. Dan lain-lain yang dianggap perlu dalam penjelasan kondisi endapan

Mineralisasi dan Alterasi dalam Sistem Hidrotermal


Larutan hidrotermal terbentuk pada fase akhir siklus pembekuan magma. Interaksi
antara larutan hidrotermal dengan batuan yang dilewati akan menyebabkan terubahnya
mineral-mineral penyusun batuan samping dan membentuk mineral alterasi. Larutan
hidrotermal tersebut akan terendapkan pada suatu tempat membentuk mineralisasi
(Bateman, 1981). Faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pengendapan mineral di
dalam sistem hidrotermal terdiri dari empat macam (Barnes, 1979; Guilbert dan Park,
1986), yaitu: (1) Perubahan temperatur; (2) Perubahan tekanan; (3) Reaksi kimia
antara fluida hidrotermal dengan batuan yang dilewati; dan (4) Percampuran antara
dua larutan yang berbeda. Temperatur dan pH fluida merupakan faktor terpenting yang
mempengaruhi mineralogi sistem hidrotermal. Tekanan langsung berhubungan dengan
temperatur, dan konsentrasi unsur terekspresikan di dalam pH batuan hasil mineralisasi
(Corbett dan Leach, 1996).

Guilbert dan Park (1986) mengemukakan alterasi merupakan perubahan di dalam


komposisi mineralogi suatu batuan (terutama secara fisik dan kimia), khususnya
diakibatkan oleh aksi dari fluida hidrotermal. Alterasi hidrotermal merupakan konversi
dari gabungan beberapa mineral membentuk mineral baru yang lebih stabil di dalam
kondisi temperatur, tekanan dan komposisi hidrotermal tertentu (Barnes, 1979; Reyes,
1990 dalam Hedenquist, 1998). Mineralogi batuan alterasi dapat mengindikasikan
komposisi atau pH fluida hidrotermal (Henley et al., 1984 dalam Hedenquist, 1998).

Corbett dan Leach (1996) mengemukakan komposisi batuan samping berperan


mengkontrol mineralogi alterasi. Mineralogi skarn terbentuk di dalam batuan
karbonatan. Fase adularia K-feldspar dipengaruhi oleh batuan kaya potasium. Paragonit
(Na-mika) terbentuk pada proses alterasi yang mengenai batuan berkomposisi albit.
Muskovit terbentuk di dalam alterasi batuan potasik.

Sistem pembentukan mineralisasi di lingkaran Pasifik secara umum terdiri dari endapan
mineral tipe porfiri, mesotermal sampai epitermal (Corbett dan Leach, 1996). Tipe
porfiri terbentuk pada kedalaman lebih besar dari 1 km dan batuan induk berupa
batuan intrusi. Sillitoe, 1993a (dalam Corbett dan Leach, 1996) mengemukakan bahwa
endapan porfiri mempunyai diameter 1 sampai > 2 km dan bentuknya silinder.

Tipe mesotermal terbentuk pada temperatur dan tekanan menengah, dan


bertemperatur > 300oC (Lindgren, 1922 dalam Corbett dan Leach, 1996). Kandungan
sulfida bijih terdiri dari kalkopirit, spalerit, galena, tertahidrit, bornit, dan kalkosit.
Mineral penyerta terdiri dari kuarsa, karbonat (kalsit, siderit, rodokrosit), dan pirit.
Mineral alterasi terdiri dari serisit, kuarsa, kalsit, dolomit, pirit, ortoklas, dan lempung.
Tipe epitermal terbentuk di lingkungan dangkal dengan temperatur < 300 oC, dan fluida
hidrotermal diinterpretasikan bersumber dari fluida meteorik. Endapan tipe ini
merupakan kelanjutan dari sistem hidrotermal tipe porfiri, dan terbentuk pada busur
magmatik bagian dalam di lingkungan gunungapi kalk-alkali atau batuan dasar sedimen
(Heyba et al., 1985 dalam Corbett dan Leach, 1996). Sistem ini umumnya mempunyai
variasi endapan sulfida rendah dan sulfida tinggi (gambar 4). Mineral bijih terdiri dari
timonidsulfat, arsenidsulfat, emas dan perak, stibnite, argentit, cinabar, elektrum,
emas murni, perak murni, selenid, dan mengandung sedikit galena, spalerit, dan
galena. Mineral penyerta terdiri dari kuarsa, ametis, adularia, kalsit, rodokrosit, barit,
flourit, dan hematit. Mineral alterasi terdiri dari klorit, serisit, alunit, zeolit, adularia,
silika, pirit, dan kalsit.

Gambar 3: Model mineralisasi emas-perak lingkaran Pasifik

(Corbett, 2002)
Gambar 4: Model fluida sulfida tinggi dan rendah (Corbett dan Leach, 1996)

Morrison, 1997, mengemukakan beberapa asosiasi mineral petunjuk sistem hipogen


dalam proses magmatik yang berhubungan dengan mineralisasi epigenetik sebagai
berikut:

Tabel 1: Asosiasi mineral petunjuk sistem hipogen dalam proses magmatik yang

berhubungan dengan mineralisasi epigenetik (Morrison, 1997).


Zonasi alterasi dapat mempunyai bentuk geometri yang berbeda-beda, mulai dari
bentuk konsentris, linier, sampai tidak teratur dan komplek. Zonasi alterasi endapan
Porfiri Cu mempunyai bentuk konsentris. Bagian inti/tengah terdiri dari alterasi potasik,
berkomposisi potasium feldspar dan biotit. Bagian tengah merupakan zonasi alterasi
philik tersusun oleh kuarsa-serisit-pirit. Bagian paling luar mempuyai alterasi propilitik,
mineraloginya tersusun oleh kuarsa-klorit-karbonat, dan setempat-setempat terdapat
epidot, albit atau adularia. Endapan epitermal berbentuk urat/vein yang berasosiasi
dengan struktur mayor mempunyai pola linier dan paralel dengan arah struktur. Urut-
urutan zonasi alterasi dari temperatur tinggi ke temperatur rendah adalah argilik
sempurna, serisit, argilik, dan propilitik.

Mineralisasi/alterasi endapan urat yang berasosiasi dengan endapan logam dasar


dicirikan oleh zonasi pembentukan mineral dari temperatur tinggi sampai rendah.
Urat/vein di daerah proksimal kaya kandungan tembaga dan rasio logam dibanding
sulfur tinggi. Daerah ini dicirikan oleh hadirnya alterasi argillik sempurna di bagian
dalam dan ke arah luar berubah menjadi alterasi serisitik. Daerah distal kaya
kandungan timbal dan zeng, dan terdiri dari mineral sulfida dengan rasio logam
dibanding sulfur rendah. Alterasi yang berkembang di daerah ini berupa alterasi
propilitik, semakin ke arah jauh dari urat tersusun oleh batuan tidak teralterasi
(Panteleyev, 1994; Corbett, 2002).

Tabel 2: Dominasi komposisi mineralisasi/alterasi pada temperatur tinggi dan rendah

(disederhanakan dari Corbett, 2002)

TEMPERATUR TINGGI TEMPERATUR RENDAH

Kalkopirit Galena, spalerit

Kuarsa kristalin (comb stucture) Kalsedon-opal

Kuarsa butir kasar Kuarsa butir halus

Serisit Smektit-illit

Philik Propilitik

Gambar 5: Zonasi proksimal – distal tipe endapan urat logam dasar yang berasosiasi
dengan endapan porfiri tembaga/molibdenum (Panteleyev, 1994)

GuilbertdanPark, 1986, mengemukakan model hubungan antara mineralisasi dan


alterasi dalam sistem epitermal (gambar 6). Beberapa asosiasi mineral bijih maupun
mineral skunder erat hubungannya dengan besar temperatur larutan hidrotermal pada
waktu mineralisasi. Mineral bijih galena, sfalerit dan kalkopirit terbentuk pada horison
logam dasar bagian bawah dengan temperatur ≥ 350 oC. Pada horison ini alterasi
bertipe argilik sempurna dan terbentuk mineral alterasi temperatur tinggi seperti
adularia, albit dan feldspar. Fluida hidrotermal di horison logam dasar (bagian tengah)
bertemperatur antara 200o– 400oC. Mineral bijih terdiri dari argentit, elektrum,
pirargirit dan proustit. Mineral ubahan terdiri dari serisit, adularia, ametis, sedikit
mengandung albit. Horison bagian atas terbentuk pada temperatur < 200 oC. Mineral
bijih terdiri dari emas di dalam pirit, Ag-garamsulfo dan pirit. Mineral ubahan berupa
zeolit, kalsit, agat.

Gambar 6: Alterasi hubungannya dengan mineralisasi dalam tipe endapan epitermal

logam dasar (Guilbert dan Park, 1986)

Berdasarkan pada kisaran temperatur dan pH, komposisi alterasi pada sistem emas-
tembaga hidrotermal di lingkaran Pasifik dapat dikelompokan menjadi 6 tipe
alterasi (Corbett dan Leach, 1996), yaitu:

1) Argilik sempurna (silika pH rendah, alunit, dan group mineral alunit-kaolinit.


2) Argilik tersusun oleh anggota kaolin (halosit, kaolin, dikit) dan illit (smektit, selang-
seling illlit-smektit, illit) dan group mineral transisi (klorit-illit).

3) Philik tersusun oleh anggota kaolin (piropilit-andalusit) dan illit (serisit-mika putih)
berasosiasi dengan mineral pada temperatur tinggi seperti serisit-mika-klorit.

4) Subpropilitik tersusun oleh klorit-zeolit yang terbentuk pada temperatur rendah dan
propilitik tersusun oleh klorit-epidot-aktinolit terbentuk pada temperatur rendah.

5) Potasik tersusun oleh biotit-K-feldspar-aktinolit+klinopiroksen.

6) Skarn tersusun oleh mineral kalk-silikat (Ca-garnet, klinopiroksen, tremolit).


Gambar 7: Mineralogi alterasi di dalam sistem hidrotermal (Corbett dan Leach, 1996
1. PROSES PEMBENTUKAN ENDAPAN MINERAL MESOTHERMAL
a. Pembentukan Mineral Primer
Sebelum membahas mengenai proses pembentukan endapan mineral mesothermal, terlebih
dahulu harus diketahui tentang pembentukan endapan mineral menurut proses pembentukannya, adalah
sebagai berikut :
Pembentukan bijih primer secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi lima jenis endapan, yaitu :
a. Fase Magmatik Cair
b. Fase Pegmatitil
c. Fase Pneumatolitik
d. Fase Hidrothermal
e. Fase Vulkanik
Dari kelima jenis fase endapan di atas akan menghasilkan sifat-sifat endapan yang berbeda-beda, yaitu
yang berhubungan dengan :
a. Kristalisasimagmanya
b. Jarak endapan mineral dengan asal magma
 intra-magmatic, bila endapan terletak di dalam daerah atuan beku
 peri-magmatic, bila endapan terletak di luar (dekat batas) batuan beku
 crypto-magmatic, bila hubungan antara endapan dan batuan beku tidak jelas
 apo-magmatic, bila letak endapan tidak terlalu jauh terpisah dari batuan beku
 tele-magmatic, bila disekitar endapan mineral tidak terlihat (terdapat) batuan beku
 Fase Magmatik Cair (Liquid Magmatic Phase)
Liquid magmatic phase adalah suatu fase pembentukan mineral, dimana mineral terbentuk langsung pada
magma (differensiasi magma), misalnya dengan cara gravitational settling. Mineral yang banyak terbentuk
dengan cara ini adalah kromit, titamagnetit, dan petlandit.
 Fase Pegmatitik (Pegmatitic Phase)
Pegmatit adalah batuan beku yang terbentuk dari hasil injeksi magma. Sebagai akibat kristalisasi pada
magmatik awal dan tekanan disekeliling magma, maka cairan residual yang mobile akan terinjeksi dan
menerobos batuan disekelilingnya sebagai dyke, sill, dan stockwork.
 Fase Pneumatolitik (Pneumatolitik Phase)
Pneumatolitik adalah proses reaksi kimia dari gas dan cairan dari magma dalam lingkungan yang dekat
dengan magma. Dari sudut geologi, ini disebut kontak-metamorfisme, karena adanya gejala kontak antara
batuan yang lebih tua dengan magma yang lebih muda. Mineral kontak ini dapat terjadi bila uap panas dengan
temperatur tinggi dari magma kontak dengan batuan dinding yang reaktif. Mineral-mineral kontak yang
terbentuk antara lain : wolastonit (CaSiO3), amphibol, kuarsa, epidot, garnet, vesuvianit, tremolit, topaz,
aktinolit, turmalin, diopsit, dan skarn.
 Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai hasil differensiasi magma.
Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari
proses pembentukan endapan.
 Fase Vulkanik (Vulkanik Phase)
Endapan phase vulkanik merupakan produk akhir dari proses pembentukkan bijih secara primer. Sebagai
hasil kegiatan phase vulkanis adalah :
1. Lava flow
2. Ekshalasi
3. Mata air panas

b. Proses Hidrotermal
Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat “aqueos” sebagai hasil diferensiasi
magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relative ringan, dan merupakan sumber
terbesar (90%) dari proses pembentukan deposit mineral. Berdasarkan cara pembentukan
endapan, dikenal dua macam endapan hydrothermal yaitu Cavity Filling atau mengisi lubang-
lubang yang sudah ada dalam batuan, dan Metasomatisme, dengan mengganti unsur-unsur yang
telah ada dalam batuan dengan unsur baru larutan hydrothermal.
Berdasarkan cara pembentukannya, maka dikenal beberapa jenis endapan hidrotermal,
antara lain :
 Endapan mineral Ephitermal, yaitu endapan mineral yang terjadi pada suhu < 200 ˚C
 Endapan mineral Mesothermal, yaitu endapan mineral yang terjadi pada suhu antara 200-300˚C
dengan tekanan moderat
 Endapan mineral Hipothermal, yaitu endapan mineral yang terjadi pada suhu 300-500˚C dengan
tekanan yang tinggi.

Gbr. Proses hydrothermal dalam mineralisasi batuan

c. Pembentukan Endapan Mineral Mesothermal


Endapan mineral mesothermal merupakan endapan mineral yang terbentuk pada temperature
dan tekanan menengah. Bijih endapan mineral ini terbentuk pada suhu sekitar 200-300˚C dengan
kedalaman sekitar 1200-3600m dibawah permukaan bumi. Pada dasarnya pembentukannya tidak
jauh berbeda dengan pembentukan endapan mineral epitermal dan hipotermal, yang
membedakan hanya suhu dan tekanan pada saat pembentukannya.
Magma mengalami diferensiasi seiring penurunan suhu secara bertahap, mineral yang
pertama kali terbentuk adalah mineral yang terbentuk secara pegmatitic yang sarat akan unsur
logam, selanjutnya pada tingkat diatasnya kandungan unsur logam mulai berkurang seiring
pembentukan mineral secara pneumolitik, sehingga tahapan pembentukan mineral yang
selanjutnya adalah melalui proses hidrotermal akibat kandungan unsur mineral logam yang
sudah mulai berkurang. Dalam proses pembentukan endapan mineral hidrotermal ini diawali
dengan endapan mineral hypothermal pada suhu sekitar 300-500˚C dengan tekanan yang masih
sangat tinggi, kemudian terbentuk endapan mineral mesothermal pada suhu 200-300˚C pada
tekanan moderat, dan yang terakhir adalah endapan mineral epitermal pada suhu sekitar 150-
200˚C dengan tekanan rendah dekat dengan permukaan.
Semakin mendekati permukaan, maka mineral-mineral yang terbentuk cenderung kepada
mineral yang bersifat acid(asam) seiring berkurangnya kandungan unsur logam sehingga
kandungan silikanya secara otomatis akan mendominasi.

2. KEBERADAAN ENDAPAN MINERAL MESOTHERMAL


a. Macam Endapan Mineral Mesothermal
Endapan mineral mesothermal terdiri dari beberapa beberapa mineral logam yang beberapa
diantaranya adalah timbal, seng, perak, dan emas. Mineral-mineral logam tersebut dapat
terendapkan bersama dengan mineral-mineral lain seperti kuarsa, pirit, dan juga mineral
karbonat. Zona altrasi yang luas mengeliilingi endapan mineral mesothermal tersebut. Produk
dari altrasi itu antara lain, sericite, kuarsa, kalsit, pirit, dolomit, piroklas, klorit , dan mineral
lempung. Ortoklas sekunder dan mineral lempung dijumpai pada endapan tembaga yang tersebar
dalam zona tersebut. Beberapa mineral tersebut seperti klorit dan lempung lebih memiliki
karakteristik seperti endapan epithermal, akan tetapi biasanya endapan tersebut terdapat
pada bagian luar dari endapan mesothermal.
Berikut merupakan ciri-ciri umum dari endapan mesothermal
 Pada endapan ini tekanan temperaturnya medium(300o - 200oC),
 Karena bertemperaturnya medium maka proses pengendapan hanya mengisi cela-cela(cavity
filling) pada batuan yang dibentuk oleh tekanan dan juga kadang-kadang
mengalami replacement karena temperature yang masih medium.
 Asosiasi mineral yang ada berupah berupah sulfide Ag, As, Au, Sb dan oksida (Sn) yang
berasosiasi dengan batuan beku asam yang didekat permukaan bumi oleh karena itu, mineral Au,
Cu dapat dijumapi pada mineral kuarsa dan kalsit pada batuan beku asam dan batuan sedimen.
Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral yang tertentu
(spesifik), berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan dinding. Tetapi minera-
mineral seperti pirit (FeS2), kuarsa(SiO2), kalkopirit (CuFeS2), florida-florida hampir selalu
terdapat dalam ke tiga tipe endapan hidrothermal. Sedangkan alterasi yang ditimbulkan untuk
tipe endapan mesothermal khususnya pada dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Batuan dinding Hasil Alterasi


batuan gamping silisifikasi
serpih, lava selisifikasi, mineral-mineral lempung
batuan beku asam sebagian besar serisit, kwarsa, beberapa
batuan beku basa mineral lempung
serpentin, epidot dan klorit

Tabel 1. Alterasi-alterasi yang terjadi pada tipe endapan Mesothermal

Paragenesis dari endapan mesothermal dan mineral gangue antara lain stanite (Sn, Cu)
sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida, Sb sulfida, stibnit (Sb2S3),
tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena (PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan
mineral-mineral ganguenya : kabonat-karbonat, kuarsa, dan pirit.
Lindgren (1933) menyatakan bahwa endapan mesothermal tidak mengandung mineral
garnet, topas, piroksen, amphibole, dan tourmaline yang merupakan mineral dengan suhu
pembentukan yang tergolong tinggi. sedangkan endapan mesothermal juga tidak mengandung
zeolite yang proses pembentukannya pada suhu yang tergolong rendah.
Endapan mineral mesothermal berhubungan erat dengan batuan beku secara spasial ataupun
secara genetic (genesa), sedangkan dalam hal lain, tidak ada asosiasi genetic yang bisa
dijabarkan.
b. Lokasi Pembentukan Endapan Mineral Mesothermal
Lokasi Pembentukan dari Endapan Mineral Mesothermal adalah pada Urat-urat
polimetalikpada batuan yang berumur paleozoikum bawah, dengan contoh batuan yang telah
diketahui dari Pembrokeshire, melewati Wales tengah ke Snowdonia dan pada Anglesey.
Secara khusus, urat-urat polimetalik terdapat pada patahan, rekahan-rekahan batuan dan
zona patahan. Proses mineralisasi dimungkinkan terdapat pada struktur, atau berkembang dengan
pola minim (jarang). Gerakan perulangan dan proses aktivitas mineralisasi adalah hal yang
khusus. Dip-dip sangat dimungkinkan untuk berubah-ubah dan dip-dip curam merupakan hal
yang lazim pada batuan-batuan yang berkompeten (contoh batupasir, dolerite sills) dan dip-dip
yang kurang curam terdapat pada batuan-batuan yang tidak berkompeten (contoh serpih,
batulempung). Wallrock biasanya teralterasi, dengan kenampakkan yang agak memudar.
Di dalam Urat-urat polimetalik terkandung tembaga, timbal, seng, perak, dan emas (sangat
ekonomis), arsenic, dan logam putih, selalu didapatkan sufida langka, arsenide atau telluride,.
Material – material ini terbentuk dari sejumlah proses, yang berada di Wales,
Ketika sekuen sedimen tebal dan batuan vulkanik terkubur sangat dalam, hal ini digunakan
untuk penambahan tekanan dan suhu, menghasilkan produk dalam metamorfisme tingkat rendah.
Jumlah kebebasan air yang signifikan ini berasal dari mineral yang terhidrasi, seperti lanau,
sebagai rekristalisasinya. Unsur yang mengandung air ini lalu pindah sebagai fluida hidrotermal
sepanjang jalan yang dapat dilewati air pada batuan, seperti patahan dan zona rekahan, dimana
mineral-mineral terdepositkan.
Beberapa sampel terbaik yang berasal dari Welsh, sama seperti urat-urat yang berada di
sabuk emas Dolgellau, diisi oleh batuan sedimen berumur tengah sampai atas kambrian, dan
intrusi, dan terbentuk lebih dahulu dari deformasi Caledonian yang terangkat menjadi cekungan
Welsh pada masa Devonian. Urat-urat tersebut mengisi rekahan patahan dengan
panjang strikehingga beberapa kilometer dan khususnya terungkap menyerupai struktur pita
sebagai contoh ilustrasi diatas.
Reaksi metamorfisme menyebabkan pengisian air berskala luas pada batuan yang terkubur
sangat dalam, dipercaya telah mengalami proses mekanisme yang memicu fluida hidrotermal.

3. POTENSI
a. Nilai ekonomis mineral mesothermal
Produk atau hasil dari endapan mineral mesothermal beberapa diantaranya adalah timbal,
tembaga, seng, perak, dan emas yang terendapkan bersama dengan mineral-mineral seperti
mineral kuarsa, pirit, dan juga mineral karbonat. Mineral-mineral tersebut merupakan mineral
yang memilki nilai ekonomis yang sangat tinggi.
Endapan mineral emas yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi diantaranya adalah, native
gold, calaverite, dan sylvanite. Dari macam-macam endapan mineral tersebut, native gold
merupakan jenis endapan mineral emas yang paling ekonomis. Hal tersebut dikarenakan
kandungan atau komposisi dari unsur Au yang lebih besar daripada jenis endapan mineral
emas,calaverite, dan sylvanite.
Endapan mineral perak dibagi menjadi beberapa jenis mineral berdasarkan komposisi atau
kandungan dari unsur Ag. Endapan mineral yang paling banyak kandungan unsur Ag adalah
mineral native silver, kemudian dibawah mineral native silver yang mana kandungan Ag nya
lebih sedikit yakni 25%-50% adalah mineral argentite dan cerargirite.
Endapan Mineral Tembaga merupakan salah satu dari beberapa mineral bijih yang cukup
potensial. Tembaga terbagi menjadi beberapa kelas berdasarkan kandungan unsur Cu, urutan
kelas tersebut antara lain Native Cooper, Bornite, Chalcosite, Chalcopyrite, Covellite, Cuprite,
Enargite, Malachite, Azurite.
Endapan mineral lain adalah mineral timbal yang diklasifikasikan berdasarkan kandungan
Pb nya. Nilai kandungan Pb yang besar adalah Galena. Sementara kandungan unsur Pb yang
lebih kecil dari mineral Galena adalah Cerussite dan Anglesite. Semakin tinggi kandungan Pb
nya, maka semakin tinggi nilai ekonomis dari mineral tersebut.
Seng adalah endapan mineral yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Mineral ini
dibagi menjadi beberapa kelas. Yaitu Sphaleite, Smitshsonite, Hemimorphite, dan Zincite. Nilai
kandungan unsur Zn yang besar akan mempengaruhi nilai ekonomis dari mineral tersebut. Kelas
endapan mineral ini yang memilki nilai Zn terbesar adalah Sphaleite.
Endapan mineral lain yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah timah. Kandungan
Sn yang besar pada mineral ini akan mempengaruhi nilai ekonomis suatu mineral. Mineral
Timah yang mengandung Sn terbesar adalah Cassiterite dan Stannite.
b. Persebaran endapan mineral mesothermal di Indonesia
Endapan mineral mesothermal banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, misalnya
1. Timah
Daerah-daerah penghasil timah di Indonesia adalah Pulau Bangka, Belitung,dan Singkep yang
menghasilkan lebih dari 20% produksi timah putih dunia. Di Muntok terdapat pabrik peleburan
timah.
2. Nikel
Nikel terdapat di sekitar Danau Matana, Danau Towuti, dan di Kolaka (Sulawesi Selatan).
3. Tembaga
Tembaga terdapat di Tirtomoyo dan wonogiri (Jawa Tengah), Muara Sipeng (Sulawesi) dan
Tembagapura (Papua/Irian Jaya).
4. Emas dan perak
Emas dan Perak merupakan logam mulia. Pusat tambang emas dan perak terdapat di daerah-
daerah berikut:
Tembagapura di Papua (Irian Jaya)
Batu hijau di Nusa Tenggara Barat
Tasikmalaya dan Jampang di Jawa Barat
Simao di Bengkulu
Logos di Riau
Meulaboh di Naggroe Aceh Darusalam

4. PENGGUNAAN DAN PEMANFAATAN


1. Galena
 Mineral sulfida yang alami
 Mineral bijih yang paling utama
 Mempunyai rumus bahan kimia (PbS) Sulfida
 System kristalnya isometric hexoctahedral, mempunyai belahan yang sempurna, dengan kekerasn
2,5 – 2,75 dan berat jenis 7,58, kilap logam, dengan warna abu – abu timah
 Mineral galena sekali – kali di gunakan sebagai semikonduktor (yaitu kristalnya) di dalam
pesawat radio. kristal galena menjadi bagian dari suatu titik- dioda kontak digunakan untuk
mendeteksi isyarat/sinyal radio.
 Batuan galena merupakan bahan baku dari logam timah hitam (Pb).

2. Kalkopirit
 suatu mineral besi sulfide tembaga yang mengeristal sistem bersudut empat
 mempunyai komposisi kimia yaitu (CuFeS2)
 mempunyai warna kuning keemasan, dan mempunyai skala kekerasan 3,5 – 4, Lapisan nya adalah
diagnostik seperti sedikit warna hijau kehitam.
 saat kalkopirit berada di udara terbuka maka kalkopirit akan beroksidasi dengan berbagai oksida,
hidroksid dan sulfatesRekanan Mineral Tembaga meliputi sulfida bornite ( Cu5FeS4), chalcocite
( Cu2S), covellite ( CuS), digenite ( Cu9S5); karbonat seperti perunggu dan azurit, dan oksida
jarang seperti cuprite ( Cu2O).
 Warna kalkopirit kuning gelap dengan sedikit warna kehijau – hijauan dan kilap berminyak
diagnostic. Dalam kaitan dengan warna nya dan isi tembaga tinggi, kalkopirit telah sering
dikenal sebagai ” tembaga kuningan”.
 digunakan di dalam pembuatan asam belerang dan belerang dioksida, butir dari pyrite debu telah
digunakan untuk memulihkan besi, emas, tembaga, unsur kimia/kobalt, nikel, dll.
3. Emas
 Logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2,5 – 3 (skala
Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu
dengannya.
 Mempunyai kandungan unsur Au
 Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral
ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non
logam.
 Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi.
 Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa, dll.
 Potensi endapan emas terdapat di hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di Pulau Sumatera,
Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan
Papua.
4. Perak
 Perak merupakan logam yang terbentuk dan selalu bersama-sama dengan logam emas, yang
mempunyai warna putih.
 Mempunyai kandungan unsur Ag
 Kegunaannya adalah untuk perhiasan, cindera mata, logam campuran, dll. Potensinya selalu
berasosiasi dengan logam lainnya seperti emas dan tembaga
5. Seng
 Merupakan unsur pertama golongan 12 pada tabel periodik.
 Beberapa aspek kimiawi seng mirip dengan magnesium. Hal ini dikarenakan ion kedua unsur ini
berukuran hampir sama. Selain itu, keduanya juga memiliki keadaan oksidasi+2.
 Seng merupakan logam yang berwarna putih kebiruan, berkilau, dan bersifatdiamagnetik. Walau
demikian, kebanyakan seng mutu komersial tidak berkilau. Seng sedikit kurang padat
daripada besi dan berstruktur kristal heksagonal
 Seng merupakan unsur paling melimpah ke-24 di kerak Bumi dan memiliki
lima isotopstabil. Bijih seng yang paling banyak ditambang adalah sfalerit (seng sulfida).
Pelapisan seng pada baja untuk mencegah perkaratan merupakan aplikasi utama seng. Aplikasi-
aplikasi lainnya meliputi penggunaannya pada baterai dan aloi. Selain itu juga seng dapat
digunakan dalam pembuatan konstruksi bangunan dan juga merupakan mineral yang sangat
dibutuhkan oleh tubuh manusia. Pada anak-anak, defisiensi ini menyebabkan gangguan
pertumbuhan, mempengaruhi pematangan seksual, mudah terkena infeksi, diare, dan setiap
tahunnya menyebabkan kematian sekitar 800.000 anak-anak di seluruh dunia. Konsumsi seng
yang berlebihan dapat menyebabkan ataksia, lemah lesu, dan defisiensi tembaga.
5. DAFTAR PUSTAKA
Park, Charles.F Jr. and Macdiarmid, Roy A. 1964. Ore Deposite. San Francisco: W.H. Freeman and
Company.
[Link]
[Link]
[Link] %20
dan%20Pembentukan%[Link]

Both lode gold and Cobar-type Cu-Au-Zn-Pb-Ag deposits, the two main deposit types in the orogenic
mineral system, are associated with continental margin accretionary (oceanic-continental) and collisional
(continent-continent) orogens. They typically occur in granite-greenstone terranes or in terranes
dominated by turbiditic (meta-sedimentary) rocks, and are commonly associated with second- and third-
order faults and shear zones (Vearncombe et al., 1989; Lawrie and Hinman, 1998). Temporally, the
deposits commonly form during the late stages of orogenesis. Although present in rocks that are
characterised by a large range in metamorphic grade (pumpellyite-prehnite to granulite facies), these
deposits are most common in low to mid-greenschist facies rocks (Groves et al., 1998). This observation
on lode gold deposits led Groves et al. (1998) to propose a crustal continuum model for lode gold
deposits, in which metal assemblages change with depth, with Hg and Sb enriched in high level systems
(a trend also present in the porphyry-epithermal mineral system). As Cobar-type deposits are much less
common and less studied, variations in deposit characteristics with crustal depth have not been
documented, although Zn-Pb-rich deposits seem to be slightly younger than Cu-Au-rich deposits in the
Cobar district (cf., Champion et al., 2009).
Figure 2.7.1: Diagrammatic sketch of the orogenic mineral system illustrating the relative location of deposits types
within the overall setting and the likely distribution of critical and other commodities within and around these deposit
types. In the commodity lists, blue indicates critical commodities, underlined bold indicates major products, bold
indicates commonly recovered by-products, underlined normal font indicates commodities with limited recovery as a
by-product (usually during downstream processing), and normal text indicates commodities that are geochemically
anomalous, but not recovered.

The relation between mineralisation in the orogenic mineral system and magmatism is fraught. In several
major lode gold provinces, such as the Eastern Goldfields Superterrane and the Tanami province, there is
a close temporal and, in some cases, spatial relationship between magmatism and mineralisation
(Blewett et al., 2010; Huston et al., 2007), yet in other major gold events, such as the ˜440 Ma
Benambran event in Victorian goldfields, magmatism has not been found to overlap gold mineralisation,
despite extensive geochronologic studies of granites and lode gold deposits (Champion et al., 2009). In
the Cobar Cu-Au-Zn-Pb-Ag district, magmatism is not known to overlap in time with mineralisation (e.g.,
van der Wielen and Glen, 2007; Champion et al., 2009).

ENDAPAN VOLCANIC-HOSTED MASSIVE SULPHIDE (VMS)


A. Deskripsi Umum

Endapan Volcanic-Hosted Massive Sulphide atau ada pula yang menyebutkan Volcanic-
Associated Massive Sulphide, Volcanogenic Massive Sulphide (VMS) merupakan endapan
sulfida logam dasar yang berhubungan dengan vulkanisme terkait dengan proses hidrotermal
di lingkungan bawah laut. Endapan ini terjadi sebagai lensa polymetallic masif sulfida yang
terbentuk pada atau mendekati dasar laut di lingkungan vulkanik submarine.
Sebagian besar endapan VMS berupa akumulasi mineral sulfida berlapis yang mengendap
dari cairan hidrotermal di bawah dasar laut dalam berbagai setting geologi dari masa
terbentuknya hingga sekarang. Adapun beberapa hal yang khas dari endapan VMS adalah:

 Endapan bijih dengan kadar sulfida sangat tinggi (mencapai 95%)


 Kandungan barit dan anhidrit yang dominan.
 Kandungan logam dasar mempunyai nilai ekonomis yang lebih besar
daripada depositemasnya.

B. Tatanan Geologi dan Tektonik

Aggarwal & Nesbit (1984) menyebutkan bahwa endapan VMS terbentuk di dasar laut yaitu
di antara batas lempeng divergen di mana ophiolite berasosiasi dengan endapan yang
terbentuk akibat pemekaran lantai samudera (endapan Baie Verte-Siprus) dan pada batas
lempeng konvergen (endapan Kuroko-Jepang) yang berasosiasi dengan lempeng samudera.
Herzig dan Hannington (1995) berpendapat bahwa endapan VMS umumnya terbentuk pada
tektonik ekstensional dasar laut yaitu di lingkungan pemekaran samudera aktif (Mid Oceanic
Ridge, MOR) dan di lingkungan back arc basin pada tatanan busur vulkanik. Kedua pendapat
tersebut pada intinya sama. Terdapat pendapat lain juga yang mengatakan bahwa endapan
VMS berasosiasi dengan kaldera submarine.
Gambar B.1 Tatanan tektonik endapan VMS

C. Genesa Endapan

C.1. Sumber atau Jenis Batuan Induk

Endapan VMS diduga bersasosiasi dengan beberapa mineral berbeda seperti calc-
alkaline. Pada beberapa kasus, calc-alkaline merupakan batuan induk. Dugaan inilah yang
membuat beberapa scientist untuk melakukan tes untuk memastikannya. Dari hasil tes, tidak
terlihat distribusi waktu pembentukan
endapan yang berkisar pada umur 3500 SM di Blok Pilbara-Australia. Hutcison
mencatat bahwa umur endapan VMS disesuaikan dengan periode ketebalan endapan,
akumulasi supracrustal, sehingga tidak termasuk dalam fenomena metalogenik serta dari area
singkapan endapan dapat diperkirakan umur endapan. Bagaimanapun tidak ada keraguan
bahwa aktifitas vulkanik dilaut dalam, berumur dan memilike tipe petrokimia yang sama, ini
sangatjelas terjadi distribusi sebagian pada endapan VMS. Sebagai contoh, 83
endapan VMS ekonomis diketahui terjadi di tahun 2650-2730 yang terjadi akibat sabuk
vulkanik di Canadian Shield, tapi hanya 2 komposisi sabuk vulkanik yang diketahui berumur
sama dengan yang ada di Australia (Franklin et al, 1981). Pada endapan yang termetamorfosa,
biasanya bijih akan mengalami peningkatan kekasaran dengan meningkatnya kadar
metamorfosa. Tekstur
dan struktur pada kebanyakan pada lapisan sulfida massif yang telah
termetamorfosa dan terdeformasi lebih tepatnya dideskripsikan sebagai
gneiss. Kemungkinan ciri-ciri yang didasarkan pada endapan VMS telah terlihat pada zonasi
dari kimia, mineralogi dan tekstur bijih dan perubahan metasomatisme menjadi batuan induk
dalam jalur alterasi hidrotermal.
Mineral logam lainnya, pirotit, magnetit dan bornit (jika ada) cenderung untuk
terkonsentrasi pada inti zona stockwork dan bagian tengah basalt pada lapisan sulfida massif.
Barit, umumnya terjadi dengan konsentrasi spalerit dan galena yang paling tinggi pada zona
paling luar dari lapisan sulfida massif. Pirit, umumnya lebih dulu berada di sepanjang pola
zonasi sulfida, cenderung untuk mencapai bagian yang relatif maksimum dimana spalerit
menjadi dominan daripada kalkopirit.

C.2. Proses Pembentukan Endapan

Tahapan-tahapan mineralisasi endapan VMS sebagai berikut :

1. Karena adanya tekanan hidrostatis, air laut meresap melalui rekahan-rekahan yang terbentuk
di lantai samudera (recharge). Air laut ini mempunyai karakter kimiawi tertentu.

2. Fluida tersebut dipanaskan oleh batuan bagian dalam yang melebur pada kerak samudera
sampai ketinggian temperatur 400°C. Reaksi fluida magmatis dengan air laut menyebabkan
tingginya kadar sulfida dan sulfat.
3. Fluida yang panas perlahan naik ke permukaan dikarenakan adanya perbedaan suhu
(discharge)

4. Lalu memancar ke permukaan dan terbentuklah black smoker.

Gambar C.2.1 Pembentukan endapan VMS

D. Tipe Endapan VMS

Tipe endapan VMS diklasifikasikan berasarkan pada kandungan logam dasar, kandungan
emas dan litologi hostrock-nya. Terdapat beberapa klasifikasi VMS:

Klasifikasi Silitoe (1973):

1. Endapan yang terbentuk di pusat penyebaran dan biasanya banyak mengandung Cu –Zn.

2. Endapan yang terbentuk di busur pulau yang biasanya memiliki konsentrasi dari Pb, Zn, Ag
dan Ba yang relatif tinggi.

Klasifikasi Sawkins (1976):

1. Tipe Kuroko, felsic, calc-alkali urutan Arkean usiaTersier di lempeng konvergen pada wilayah
laut.

2. Tipe Cyprus, terjadi di batuan basaltik vulkanik.


3. Tipe Besshi, terjadi pada sedimen klastik dan volkanik mafik.

Klasifikasi menurut Hutchinson (1973)

1. tipe Zn-Cu

2. tipe Pb-Zn-Cu

3. tipe Cu

Klasifikasi Solomon (1976):

1. jenis Zn-Pb-Cu

2. jenis Zn-Cu

3. jenis Cu

Klasifikasi Hannington dan Poulsen (1996).

Klasifikasi ini berdasarkan kandungan logam dasar relatif (Cu+Zn+Pb) dibandingkan


dengan kandungan logam mulia (Ag, Au).

Gambar D.1. Endapan VMS normal vs kaya Au


Klasifikasi Berdasarkan Jenis Hostrock

Klasifikasi berdasarkan jenis hostrock termasuk semua urut-urutan litologi dalam ruang
dan waktu yang berbeda, berhubungan dengan lingkungan tektonik bawah laut yang berbeda,
dari lingkungan ophiolite ke oceanic rift arc, continental back arc dan sediment back arc,
diilustrasikan sebagai berikut:

Gambar D.2. Klasifikasi berdasarkan hostrock

Black Smoker dan White Smoker


1. Black smoker

Endapan ini terbentuk di pusat penyebaran. Black smoker mempunyai suhu lebih dari 3600C,
endapan mineral yang dihasilkan, yaitu pirit (FeS2), kalkopirit (CuFeS2), anhidrit
(CaSO4) dan mineral yang dihasilkan yaitu mineral sulfida.
Bahan bijih yang diendapkan dalam fumarol atau black smoker ketika
didorong ke laut dingin dan bercampur dengan air laut mengakibatkan
pengendapan mineral sulfida sebagai bijih sulfida stratiform.

2. White Smoker

Endapan ini terbentuk di busur pulau yang memiliki suhu antara 2600-3000C,
endapan mineral yang dihasilkan yaitu pirit (FeS2) dan sphalerit (ZnS), dan kaya
akan zinc. Disebut white smoker karena menghasilkan unsur Al sebagai ciri khasfelsic.

Gambar D.3. Black smoker dan white smoker

Endapan VMS berdasarkan litologi footwall dan sistem geoteknik:

1. Cyprus type : berhubungan dengan tholeiitic batuan basalt dalam sekuenofiolit(back arc
spreading ridge), contoh: Troodos Massif (Siprus).
2. Besshi-type : berasosiasi dengan lempeng vulkanik dan turbiditkontinental, contoh:
Sanbagwa (Jepang).

3. Kuroko-type : berasosiasi dengan batuan vulkanik felsik terutama kubahrhyolite (back arc
rifting), contoh: Kuroko deposits (Jepang).

4. Primitive-type : berasosiasi dengan differensiasi magma, contoh: Canadian archean rocks.

E. Bentuk Endapan, Variasi dan Karakteristik Setiap Bentuk Endapannya

Karakteristik dan genesa endapan ini sangat menarik karena berbeda dengan tipe endapan
lain, sehingga masih menjadi perdebatan diantara para geoscientist. Namun belakangan ini
telah dilakukan penelitian
lebih lanjut dan ditemukan bahwa endapan ini dapat ditemukan akibat semburan
larutan hidrotermal bersuhu tinggi (350oC) yang timbul akibat celah di sepanjang timur
punggungan samudera pasifik yang juga menunjukan aktifitas presipitasi mineral
logam, yang serupa dengan endapan VMS.

Dari penemuan tersebut dihasilkan model endapan bijih yang terdiri dari 2 komponen
utama, yaitu:

1. Model deskriptif: menceritakan model badan bijih antara lain geologi, morfologi, sifat kimia,
mineralogi setiap tipe endapan.

2. Model genetik: memberikan penjelasan yang rasional dan konsisten tentang karakteristik tipe
endapan yang menceritakan tentang proses geologi yang terjadi.

Endapan VMS terdiri dari lapisan konkordan pada kadar sulfida yang tinggi, komposisi 60%
atau lebih mineral sulfida (Sangster dan Scott, 1976), yang secara stratigrafi didasari
olehstockwork diskordan atau pada zona urat-urat stringer. Mineralisasi tipe sulfida terjadi
pada jalur alterasi batuan hidrotermal. Kontak bagian atas dari lapisan VMS (dengan batuan
dinding atas) tajam, kontak terendah biasanya tergadrasi masuk ke zona stringer.
Perbandingan panjang dengan ketebalan yaitu antara 3-10 : 1. Endapan yang akan ditambang
mungkin terdiri dari beberapa lapisan
VMS dan lapisan tersebut mendasari zona stockwork.
Gambar E.1. Anatomi (cross-section VMS)

F. Keterdapatan Endapan VMS

Contoh endapan VMS yang sudah dieksplorasi aat ini:

1. Endapan Bathurst, Noranda, Windy Craggy, and Flin Flon (Kanada)

2. Endapan Mt. Windsor Group and Mt. Read Volcanics (Australia)

3. Endapan dari Sabuk Pyrite (Iberia, Portugal dan Spanyol)

4. Endapan Tambo Grande District (Perú)

5. Endapan Kuroko, Besshi (Jepang)

6. Endapan tipe Cyprus (Trodos, Siprus)

7. Endapan Au-Ag di Lerokis dan Kalikuning (Kep. Wetar, Indonesia)

G. Komoditas Utama yang Dihasilkan

Adapun komoditas utama yang dihasilkan berupa bijih Cu , Zn , Pb , Au , dan Ag, serta
produk tambang Co, Sn, Ba, S,Se, Mn, Cd, Bi, Te, Ga dan Ge.

Pustaka

Anonim. 2010. Hidrotermal. Diunduh dari [Link] 10/11/20 pada 17


November 2015

Bahan ajar Endapan Mineral Teknik Geologi ITB

Anda mungkin juga menyukai