PRAKTIKUM FISIK - MEKANIKA
PERCOBAAN M6 - MODULUS PUNTIR
[Link]
1. Mengamati bahwa puntiran diteruskan pada arah memanjang,
2. Menentukan modulus puntir batang logam
II. ALAT-ALAT
1. Alat pemuntir.
2. Mikrometer sekrup.
3. Mistar gulung.
4. Penyangkut beban.
5. Beban (5 buah).
6. Batang logam (2 buah).
7. Jarum penunjuk (2 buah).
8. Busur pengukur (2 buah).
III. TEORI
Suatu benda atau material memiliki sifat mekanik yang berbeda-beda seperti keras, ulet,
getas, tangguh dan lain sebagainya. Sifat-sifat tersebut harus dimiliki oleh suatu benda
(material) yang sesuai dengan beban yang diterima atau fungsi dari benda tersebut. Untuk
mendapatkan sifat – sifat tersebut dilakukan pengujian pada material seperti ujitarik, uji keras,
uji puntir, dan lain sebagainya. Pada percobaan kali ini akan dibahas mengenai uji puntir,
dimana dengan menggunakan uji puntir ini dapat di ketahui nilai modulus puntirnya.
Modulus puntir merupakan suatu konstanta yang menunjukan elastisitas suatu benda
terhadap momen puntir. Contoh elastisitas suatu benda dapat dilihat ketika suatu batang
logam silinder dipuntir salah satu ujungnya danujung lainnya ditahan, saat dilakukan puntiran
maka akan muncul tegangan geser pada struktur logam tersebut yang mengakibatkan
simpangan posisi berupa simpangan sudut (θ), dan ketika puntiran dihilangkan maka
simpangan kembali keposisi semula. Simpangan sudut tersebut dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1
Hal ini terjadi karena tegangan geser akibat puntiran yang bekerja masih dalam daerah
elastisitas material logam tersebut. Besarnya regangan sebanding dengan tegangan yang
terjadi, oleh karena itu dapat dikatakan gaya yang bekerja pada poros masih dalam daerah
elastisitas material batang yang dapat dilihat pada kurva tegangan terhadap regangan. Pada
gambar 2 dapat dilihat daerah elastisitas material berada dibawah garis linier antara tegangan
dan regangan.
Gambar 2
Bila sebatang logam pejal dengan panjang L dan jari-jari R, salah satu ujungnya dijepit,
dan ujung yang lain dipuntir dengan gaya F. maka akan terjadi simpangan atau pergeseran
sebesar α(lihat gambar 1).
Besar pergeseran (α)untuk setiap logam berbeda-beda, tergantung koefisien elastisitasnya.
Hubungan tersebut dinyatakan sebagai berikut
2𝑀𝐿
𝐺 = 𝜋𝜃𝑅4 ……………………………………………………………………………….……..(1)
atau
360𝑔𝑟𝑙𝑚
𝐺= ………………………………………………………………………………….(2)
𝜋𝑅 4 𝛼
Dengan
G = modulus puntir (dyne/𝑐𝑚2 atau N/𝑚2 )
g = percepatan gravitasi (m/ 𝑠 2 atau cm/ 𝑠 2 )
R = jari-jari batang (cm atau m)
L = panjang batang dari penjepit ke jarum penunjuk skala (m atau cm)
m = massa beban yang menyebabkan puntiran (kg)
α = besar simpangan pada jarak L (°)
r = jari-ari roda pemuntir (cm atau m)
M = momen puntir ([Link] atau Nm)
θ = sudut puntir (rad)
IV. TUGAS PENDAHULUAN
1. Sebutkan dan jelaskan tujuan praktikum modul M6
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan
a) Perbedaan tegangan dan tekanan
b) Tegangan geser dan tegangan normal
c) Regangan geser dan regangan normal
d) Deformasi elastis dan plastis
e) Modulus young
f) Modulus puntir
3. Jelaskan cara mendapatkan nilai modulus young pada kurva tegangan terhadap regangan!
Bagaimana hubungan antara modulus young dengan modulus puntir secara umum!
4. Gambarkan dan jelaskan mengenai kurva tegangan dan regangan!
360𝑔𝑟𝑙𝑚
5. Buktikan persamaan = !
𝜋𝑅 4 𝛼
Jawab:
1. – Mengamati bahwa puntiran diteruskan pada arah memanjang, maksudnya adalah saat
melakukan percobaan puntiran kita mengamati simpangan yang terjadi di setiap titik
sepanjang benda yang kemudian dihitung nilai modulus puntirnya.
– Menentukan modulus puntir batang logam, maksudnya adalah untuk menghitung nilai
modulus puntir yang terjadi pada batang logam.
2. a. Tegangan merupakan gaya yang muncul pada suatu material yang di akibatkan oleh
gaya dari luar, sedangkan tekanan merupakan gaya tekan yang bekerja terhadap luas
penampang suatu material, perbedaanya terletak pada gaya yang bekerja, gaya yang
terjadi pada tegangan muncul dari dalam, sedangkan tekanan gaya yang bekerja berada di
luar.
b. Tegangan geser merupakan tegangan yang diakibatkan oleh gaya yang bekerja sejajar
terhadap luas penampang material, sedangkan tegangan normal merupakan tegangan yang
diakibatkan oleh gaya yang bekerja tegak lurus terhadap luas penampang material.
c. Regangan geser merupakan nilai yang menunjukan perubahan bentuk yang diakibatkan
oleh tegangan geser, sedangkan regangan normal merupakan yang menunjukan perubahan
bentuk yang diakibatkan oleh tegangan normal.
d. Deformasi elastic merupakan kecenderungan perubahan bentuk pada material untuk
kembali ke bentuk semula ketika diberi gaya, sedangkan deformasi plastis merupakan
perubahan bentuk pada material secara permanen (tidak dapat kembali ke bentuk semula).
e. Modulus young merupakan suatu konstanta yang menunjukan ketahan material
terhadap deformasi elastic.
f. Modulus puntir merupakan suatu konstanta yang menunjukan elastisitas suatu benda
terhadap momen puntir.
3. Cara mendapatkan nilai modulus young pada kurva tegangan terhadap regangan adalah
dengan menghitung luas di daerah liniear.
Modulus young merupakan suatu konstanta yang menunjukan ketahan material terhadap
deformasi elastic, sedangkan modulus puntir merupakan suatu konstanta yang
menunjukan elastisitas suatu benda terhadap momen puntir. Yang membedakannya adalah
arah gaya dan tegangan yang terjadi. Pada modulus young gaya bekerja tegak lurus
terhadap luas penampang, sedangkan pada moudulus puntir gaya yang bekerja sejajar
terhadap luas penampang. Pada modulus young bekerja tegangan normal sedangakan pada
modulus puntir bekerja tegangan geser.
4.
Kurva tegangan terhadap regangan merupakan kurva standar eksperimen uji tarik. Kurva
naik berdasarkan tegangan terhadap regangan sampai titik yield (titik luluh) yang
merupakan nilai elastisitas (modulus elastisitas) dari material. Setelah melewati titik luluh
kurva menunjukan bahwa material sudah mengalami deformasi plastis yaitu perubahan
secara permanen. Pada titik tersebut juga akan mengalami necking yaitu pengecilan luas
penampang. Dari titi luluh tersebut kurva naik sampai titik ultimate tensile strength yang
merupakan titik puncak yaitu kemampuan maksimal material untuke menerima beban.
Setelah itu kurva mulai turun karena terus menerus mengalami pengecilan luas
penampang hingga putus pada titik putus.
2𝑀𝐿
5. Diektahui : 𝐺 = 𝜋𝜃𝑅4
𝜋
𝜃 = 180 × 𝛼
𝑀 = 𝐹 .𝑟
𝑀 = 𝑚 .𝑔 .𝑟
2𝑀𝐿
Jawab : 𝐺 = 𝜋𝜃𝑅4
2(𝑚 . 𝑔 . 𝑟)𝐿
𝐺= 𝜋
𝜋( ×𝛼)𝑅 4
180
2 . 180 . 𝑚 . 𝑔 . 𝑟 . 𝐿
𝐺= 𝜋2 𝛼 𝑅4
360𝑔𝑟𝑙𝑚
𝐺= 𝜋 2 𝑅4 𝛼
V. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Catat keadaan ruang sebelum percobaan
2. Ukurlah diameter batang pada 5 titik yaitu 15cm, 25cm, 35cm, 45cm, 55m dan 65cm
yang diukur dari ujung batang yang dijepit!
3. Ukur keliling roda pemuntir dengan menggunakan tali dan ukur dengan mistar gulung!
Lakukan 5 kali
4. Pasang batang logam yang akan digunakan sebagai spesimen uji pada pemuntir,
kencangkan sekrup pada ujung yang dijepit dan putar kunci untuk mengunci ujung batang
yang dipuntir! (lihat gambar 2 dan tanya asisten!)
5. Gantungkan penyangkut beban pada tali sehingga roda pemuntir dan batang akan sedikit
terpuntir, pasangkan jarum penunjuk pertama pada posisi 𝐿1 15cm dan jarum penunjuk
kedua pada posisi 𝐿2 25cm yang diukur dari ujung yang dijepit! posisikan jarum pada
skala nol pada busur derajat yang telah disediakan.
6. Pastikan kunci dari kedua ujung batang terpasang dengan keneang, dan posisikan batang
agar lurus tepat ditengah busur derajat (pada 90°) !
7. Berilah beban secara bertahap dari mulai 0,5 hingga 2,5kg (lihat table pengamatan), catat
simpangan jarum pada 𝐿1 dan 𝐿2 pada masing-masing pembebanan dan catat pada kolom
𝛼+.
8. Kurangi beban secara bertahap dari mulai 2,5kg hingga 0,5kg, catat simpangan jarum
pada Li dan L2 pada masing-masing pembebanan dancatat pada kolom 𝛼 +
9. Ulangi langkah 5 s.d. 8 untuk posisi penunjuk 𝐿1 dan 𝐿2 sebesar 35cm- 45cm, 55cm-
65cm (ihat tabel pengamatan).
10. Ulangi langkah 4 s.d. 9 untuk batang logam yang berbeda.
11. Catat keadaan ruang sesudah percobaan dan kembalikan alat-alat pada posisi semula!
VI. DATA PENGAMATAN
Data Ruangan
Awal Akhir
Suhu (ºC) (2,70 ± 0,05)10 (2,70 ± 0,05)10
Tekanan
(mmHg) (7,395 ± 0,005)102 (7,395 ± 0,005)102
Kelembapan (%) (6,10 ± 0,05)10 (6,00 ± 0,05)10
Tabel Pengamatan
No Diameter batang 1(cm) Diameter batang 2(cm) Keliling roda pemuntir (cm)
1 (0,4450±0,0005) (0,4050±0,0005) (2,980±0,005)×10
2 (0,4480±0,0005) (0,4040±0,0005) (2,970±0,005)×10
3 (0,4470±0,0005) (0,4040±0,0005) (3,000±0,005)×10
4 (0,4450±0,0005) (0,4030±0,0005) (2,980±0,005)×10
5 (0,4430±0,0005) (0,4050±0,0005) (3,000±0,005)×10
6 (0,4420±0,0005) (0,4040±0,0005)
Batang Hitam
L(cm) Percobaan 1
L1 = 15 L2 = 25
M(kg) α+ α- α+ α-
(°) (°) (°) (°)
0.5 (1,0±0,5) (2,0±0,5) (1,0±0,5) (0,0±0,5)
1 (2,0±0,5) (3,0±0,5) (2,0±0,5) (2,0±0,5)
0.5 (4,0±0,5) (4,0±0,5) (4,0±0,5) (4,0±0,5)
2 (5,0±0,5) (4,0±0,5) (5,0±0,5) (4,0±0,5)
2.5 (5,0±0,5) (5,0±0,5) (5,0±0,5) (5,0±0,5)
L(cm) Percobaan 2
L1 = 35 L2 = 45
M(kg) α+
α -
α +
α-
(°) (°) (°) (°)
0.5 (4,0±0,5) (3,0±0,5) (3,0±0,5) (2,0±0,5)
1 (5,0±0,5) (4,0±0,5) (5,0±0,5) (5,0±0,5)
0.5 (7,0±0,5) (6,0±0,5) (8,0±0,5) (6,0±0,5)
2 (1,00±0,05) (9,0±0,5) (1,00±0,05) (1,00±0,05)
10 10 10
2.5 (1,10±0,05) (1,10±0,05) (1,20±0,05) (1,20±0,05)
10 10 10 10
L(cm) Percobaan 3
L1 = 55 L2 = 65
M(kg) α+
α -
α +
α-
(°) (°) (°) (°)
0.5 (2,0±0,5) (2,0±0,5) (2,0±0,5) (2,0±0,5)
1 (4,0±0,5) (4,0±0,5) (4,0±0,5) (5,0±0,5)
0.5 (8,0±0,5) (8,0±0,5) (9,0±0,5) (8,0±0,5)
2 (1,10±0,05) (1,00±0,05) (1,30±0,05) (1,10±0,05)
10 10 10 10
2.5 (1,40±0,05) (1,40±0,05) (1,50±0,05) (1,50±0,05)
10 10 10 10
Batang Emas
L(cm) Percobaan 1
L1 = 15 L2 = 25
M(kg) α+
α -
α +
α-
(°) (°) (°) (°)
0.5 (3,0±0,5) (6,0±0,5) (5,0±0,5) (5,0±0,5)
1 (5,0±0,5) (8,0±0,5) (8,0±0,5) (8,0±0,5)
0.5 (9,0±0,5) (1,10±0,05) (1,20±0,05) (1,20±0,05)
10 10 10
2 (1,40±0,05) (1,40±0,05) (1,60±0,05) (1,80±0,05)
10 10 10 10
2.5 (1,60±0,05) (1,60±0,05) (2,10±0,05) (2,10±0,05)
10 10 10 10
L(cm) Percobaan 2
L1 = 35 L2 = 45
M(kg) α+
α -
α +
α-
(°) (°) (°) (°)
0.5 (5,0±0,5) (5,0±0,5) (6,0±0,5) (7,0±0,5)
1 (1,00±0,05) (1,20±0,05) (1,30±0,05) (1,50±0,05)
10 10 10 10
0.5 (1,60±0,05) (1,70±0,05) (2,10±0,05) (2,30±0,05)
10 10 10 10
2 (2,30±0,05) (2,30±0,05) (3,00±0,05) (3,00±0,05)
10 10 10 10
2.5 (3,00±0,05) (3,00±0,05) (3,90±0,05) (3,90±0,05)
10 10 10 10
L(cm) Percobaan 3
L1 = 55 L2 = 65
M(kg) α+ α- α+ α-
(°) (°) (°) (°)
0.5 (9,0±0,5) (9,0±0,5) (1,10±0,05) (1,10±0,05)
10 10
1 (1,70±0,05) (1,70±0,05) (2,20±0,05) (2,30±0,05)
10 10 10 10
0.5 (2,70±0,05) (2,70±0,05) (3,40±0,05) (3,50±0,05)
10 10 10 10
2 (3,50±0,05) (3,60±0,05) (4,50±0,05) (4,60±0,05)
10 10 10 10
2.5 (4,50±0,05) (4,50±0,05) (5,50±0,05) (5,50±0,05)
10 10 10 10
IX. ANALISIS
Percobaan ini menggunakan dua batang logam sebagai bahan percobaan yaitu batang
warna kuning dan batang warna hitam. Masing masing diuji dengan cara dipuntir di salah satu
ujungnya. Berdasarkan hasil percobaan didapatkan nilai simpangan yang terjadi pada batang di
setiap titik. Nilai simpangan tersebut kemudian dihitung melalui pengolahan data. Berdasarkan
hasil perhitungan pada pengolahan data didapat hasil sebagai berikut:
- Secara Teori:
Batang Kuning: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (2,9 ± 0.5)1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Batang Hitam: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (7,36 ± 1,37)1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
- Secara Grafik 𝛼 𝑣𝑠 𝑚
Batang Kuning: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (2,9 ± 0,8)109 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Batang Hitam: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (2,4 ± 0,8)109 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
- Secara Grafik 𝛼 𝑣𝑠 𝐿
Batang Kuning: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (1,0 ± 0,9)1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Batang Hitam: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (7,7 ± 6,6)1010 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Setelah dibandingkan antara hasil secara teori dengan hasil secara grafik terdapat
perbedaan yang sangat signifikan, hal ini terjadi karena disebabkan oleh kesalahan dalam
mengamati simpangan yang terjadi pada saat percobaan, kesalahan pemasangan jarum pada alat
pemuntir, kesalahan dalam perhitungan pada pengolahan data secara teori, dan kesalahan dalam
pembuatan grafik dalam pengolahan data secara grafik. Hal tersebut yang kemudian menjadi
faktor kesalahan yang menyebabkan nilai G (modulus puntir) berbeda.
Kemudian hasil dari perhitungan dalam pengolahan data tersebut dibandingkan dengan
literature. Data berdasarkan literature sebagai berikut:
- Brass : 𝐺 = 3,5 × 1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
- Iron (wrought): 𝐺 = 7,7 − 8,3 × 1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Setelah dibandingkan antara hasil dari perhitungan pada pengolahan data dengan literatur
terdapat perbedaan, hal terjadi karena disebabkan oleh batang logam yang di uji sudah tidak utuh
lagi, batang logam sudah mengalami deformasi, dan batang logam mengalami momen puntir saat
sebelum diberi beban. Hal tersebut yang kemudian menjadi faktor perbedaan nilai modulus
puntir. Kemudia hasil perbandingan nilai modulus puntir tersebut didapatkan jenis logam. Secara
teori batang warna kuning adalah brass sedangkan batang warna hitam adalah iron (wrought)
jenis ditentukan jenis tersebut karena nilai modulus puntir yang paling mendekati.
Secara grafik simpangan terhadap massa batang warna kuning adalah brass sedangkan batang
warna hitam adalah alumunium. Secara grafik simpangan terhadap panjang batang dari penjepit
ke jarum skala batang warna kuning adalah sedangkan batang warna hitam adalah iron
(wrought).
Pada data pengamatan juga dapat diamati bahwa setiap panjang batang dari penjepit ke
jarum skala mengalami simpangan yang berbeda hal ini membuktikan bahwa puntiran diteruskan
pada arah memanjang. Selain itu simpangan yang paling besar terdapat pada panjang batang
yang paling dekat dengan titik pembebanan, hal ini membuktikan bahwa simpangan terbesar
akan terjadi di titik terdekat dengan titik pembebanan.
X. KESIMPULAN
Modulus puntir merupakan suatu konstanta yang menunjukan elastisitas suatu benda
terhadap momen puntir.
Suatu material memiliki sifat mekanik yang berbeda.
Nilai modulus puntir setiap material berbeda.
Nilai modulus puntir yang didapatkan:
Secara Teori:
Batang Kuning: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (2,9 ± 0.5)1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Batang Hitam: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (7,36 ± 1,37)1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Secara Grafik 𝛼 𝑣𝑠 𝑚
Batang Kuning: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (2,9 ± 0,8)109 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Batang Hitam: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (2,4 ± 0,8)109 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Secara Grafik 𝛼 𝑣𝑠 𝐿
Batang Kuning: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (1,0 ± 0,9)1011 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Batang Hitam: (𝐺 ± 𝛥𝐺) = (7,7 ± 6,6)1010 𝑑𝑦𝑛𝑒/𝑐𝑚2
Jenis logam yang diamati :
Batang Kuning : Brass
Batang Hitam : Iron (wrought)
Hal-hal yang menyebabkan perbedaan nilai modulus puntir yaitu kesalahan dalam
mengamati simpangan yang terjadi pada saat percobaan, kesalahan pemasangan jarum
pada alat pemuntir, kesalahan dalam perhitungan pada pengolahan data secara teori,
dan kesalahan dalam pembuatan grafik dalam pengolahan data secara grafik.
Hal-hal yang menyebabkan perbedaan nilai modulus puntir yang didapat dengan
literature yaitu batang logam yang di uji sudah tidak utuh lagi, batang logam sudah
mengalami deformasi, dan batang logam mengalami momen puntir saat sebelum
diberi beban.
Puntiran diteruskan pada arah memanjang.
Simpangan yang paling besar terjadi pada titik terdekat dengan titik pembebanan.
XI. DAFTAR PUSTAKA
Tyler, F., [Link]., Ph.D., [Link].P. 1967. A Laboratory Manual of Physics.
Edward Arnold (Publishers) Ltd.: London.
Haryadi Bambang 2008. Fisika Kelas XI Bandung: Teguh Karya.