0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
217 tayangan22 halaman

Pengujian Ultrasonik: Metode dan Prinsip

Makalah ini membahas pengujian ultrasonik, yaitu metode pengujian non-rusak yang memanfaatkan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi untuk mendeteksi cacat di dalam material. Prinsipnya adalah gelombang akan terpantul jika menemui cacat dan pantulan dapat diukur untuk mengetahui lokasi dan ukuran cacat. Metode ini sering digunakan karena mampu mendeteksi cacat dalam dan presisi hasilnya.

Diunggah oleh

Zeolite
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
217 tayangan22 halaman

Pengujian Ultrasonik: Metode dan Prinsip

Makalah ini membahas pengujian ultrasonik, yaitu metode pengujian non-rusak yang memanfaatkan gelombang ultrasonik berfrekuensi tinggi untuk mendeteksi cacat di dalam material. Prinsipnya adalah gelombang akan terpantul jika menemui cacat dan pantulan dapat diukur untuk mengetahui lokasi dan ukuran cacat. Metode ini sering digunakan karena mampu mendeteksi cacat dalam dan presisi hasilnya.

Diunggah oleh

Zeolite
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS MAKALAH

PENGUJIAN TIDAK MERUSAK


Ultrasonic Testing

Disusun oleh:

Andri Subekti
Dipo Wiro Sekti
M. Ikhwanul Hakim
Rizqi Novid
Rezza Putra Samudra
Syuqron Fajri Shiddiq
Ulya

JURUSAN TEKNIK METALURGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON-BANTEN
2015
BAB I
PENDAHULUAN

Material merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan


manusia. Semua alat yang digunakan dalam kehidupan manusia terbuat dari
material, mulai dari alat-alat yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti
alat makan, alat tulis, alat mandi, sampai pada alat-alat yang digunakan untuk
pekerjaan khusus seperti alat-alat berat untuk konstruksi atau alat-alat yang
digunakan dalam pertambangan. Alat-alat khusus tersebut sangat penting dan jika
alat tersebut mengalami kerusakan akan sangat berdampak besar, tidak hanya
menimbulkan kerugian finansial yang besar tetapi juga berbahaya bagi
keselamatan manusia. Sudah banyak terjadi kecelakaan yang memakan banyak
korban yang diakibatkan karena alat-alat tersebut mengalami cacat. Misalnya,
kecelakaan yang terjadi akibat kebocoran pipa gas, ledakan karena pressure vessel
yang tidak cukup kuat untuk menahan tekanan, dan sebagainya. Oleh karena itu,
pengetahuan mengenai pengujian dan inspeksi material memegang peranan yang
sangat penting.
Pengujian material sudah dilakukan sejak dahulu dan sampai saat ini
metode-metode pengujian material tersebut telah sangat berkembang. Pengujian
material sendiri bisa dibagi menjadi 2 bagian yaitu uji rusak (Destructive Test)
dan uji tak rusak (Non Destructive Test). Uji merusak biasanya hanya dilakukan
pada saat alat tersebut baru diproduksi, sedangkan uji tak rusak bisa dilakukan
pada saat alat tersebut telah dipasang atau telah digunakan.
Terdapat metode-metode uji tak rusak antara lain Visual Testing, Liquid
Penetrant Testing, Magnetic Particle Testing, Eddy Current Testing, Ultrasonic
Testing, dan Radiography Testing. Pada makalah ini akan dibahas lebih dalam
mengenai Ultrasonic [Link] ultrasonic (UT test) adalah salah satu
jenis pengujian non destructive test dengan cara memberikan gelombang frekuensi
tinggi ke dalam material benda uji untuk mengukur sifat geometris dan fisik dari
bahan. Biasanya frekuensi yang dipakai antara 20 kHz – 50 kHz.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengujian Ultrasonik


Ultrasonic testing merupakan metode uji tak rusak dengan memanfaatkan
gelombang ultrasonik. Gelombang ultrasonik adalah gelombang suara dengan
frekuensi tinggi (20 kHz – 50 kHz). Gelombang ultrasonik tersebut diarahkan ke
material yang akan dites. Pantulan gelombang ultrasonik tersebut menandakan ada
atau tidaknya cacat pada material. Ultrasonic testing merupakan metode
pengujian yang serba guna karena selain dapat mengetahui apakah terdapat cacat
pada material, kita juga dapat mengetahui ukuran dari cacat tersebut.
Ultrasonic testing bisa digunakan untuk menguji material baik metal
maupun non metal. Ultrasonic testing ini juga dapat digunakan untuk produk yang
telah mengalami treatment lebih lanjut, misalnya produk hasil welding, forging,
casting, dengan bentuk yang bermacam-macam (sheet atau tube).
Gelombang ultrasonik memiliki kelebihan yaitu dapat mendeteksi cacat
yang berada di bawah permukaan dengan hanya melalui testing melalui salah satu
sisi [Link] ultrasonik di bahan yang berbeda akan menghasilkan
kecepatannya yang berbeda. Gelombang ultrasonik akan terus merambat melalui
material dengan kecepatan tertentu dan tidak kembali kecuali hits reflektor.
Reflektor memperkirakan adanya retak atau cacat antara dua material yang
berbeda.

Gambar 2.1 Alat Ultrasonic Testing


2.2. Prinsip Pengujian Ultrasonik
Prinsip Ultrasonic testing ini berdasarkan fakta bahwa material padat
merupakan konduktor gelombang suara yang baik. Gelombang suara bergerak
dengan getaran atom dan molekul dengan kecepatan yang bergantung pada
mechanical properties dari mediumnya. Imperfeksi dan pengotor dalam benda
padat menyebabkan gelombang suara menjadi menyebar, sehingga menghasilkan
pantulan dan gema dari gelombang bunyi tersebut.
Dalam ultrasonic testing kita menggunakan getaran ultrasonik. Ada 2 hal
mengenai getaran yang harus kita ketahui :
a. Getaran bergerak bolak-balik
b. Getaran merupakan energi
Getaran bergerak melalui material padat disebabkan karena rangkaian “particle
displacements” yang dapat diilustrasikan sebagai berikut :

Gambar 2.2 Getaran Bolak-balik Pada Bandul


Struktur material terdiri dari partikel-partikel kecil atau kumpulan atom-
atom. Partikel-partikel ini memiliki posisi normal yang dapat berpindah tempat
karena adanya suatu gaya, pada saat gaya dilepaskan partikel-partikel tersebut
akan kembali ke posisi semula.
Energi ditransmisikan melalui material padat dengan adanya rangkaian
perpindahan tempat dari partikel-partikel kecil dalam material tersebut. Transmisi
gelombang ultrasonik melalui material tersebut berhubungan dengan sifat elastis
material. Jika kita memukul permukaan suatu logam, permukaannya akan
bergerak ke dalam. Karena metal tersebut elastis maka permukaannya akan
kembali ke posisi semula. Permukaannya juga akan bergerak kembali ke bentuk
semula dan bergerak sejauh jarak maksimum dengan arah berlawanan arah
pukulan.

Gambar 2.3 Ilustrasi Suatu Logam Yang Dipukul


Urutan lengkap pergerakan ini didefinisikan sebagai satu siklus. Waktu
yang digunakan oleh suatu benda untuk bergerak selama satu siklus disebut
periode. Jumlah siklus yang dilakukan selama suatu periode waktu disebut
frekuensi dengan satuan Hertz (1 hertz = 1 siklus/detik) .Energi yang digunakan
pada ultrasonic testing ini dihasilkan dari transduser yang mengakibatkan
perpindahan material di dalam spesimen. Transduser adalah alat yang mengubah
energi dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain. Contoh : speaker radio
(energi listrik menjadi energi mekanik atau sebaliknya).

Gambar 2.4 Ilustrasi Dari Transduser


Pada View A diatas mengilustrasikan Efek Piezoelektrik. Energi listrik
diberikan melalui dua kabel yang terhubung ke sebuah kristal, menyebabkan
kristal piezoelektrik tersebut mengembang dan berkontraksi menimbulkan getaran
mekanik. Sebuah transduser piezoelektrik juga dapat mengubah energi mekanik
menjadi energi listrik. Sehingga, transduser dapat mengirim sekaligus menerima
[Link] yang ditransmisikan dari transduser dapat didefinisikan sebagai
grup pendek gelombang yang ditransmisikan sebelum dan sesudah dimana
transduser tersebut dapat bertindak sebagai receiver.
Gambar 2.5 Refleksi Bunyi Pada Spesimen
Baja, air, dan minyak akan mentransmisikan ultrasonik dengan sangat
baik, tetapi tidak dengan udara. Udara adalah transmitter ultrasonik yang buruk
karena densitas partikelnya sangat rendah sehingga sulit untuk mentransmisikan
energi suara dari partikel ke partikel, karena itu sebelum dilakukan ultrasonik
testing diberikan air atau gemuk diantara transduser dan [Link]
partikel dari suatu material membantu untuk menentukan kecepatan suara.
Kecepatan suara akan berganti pada saat berpindah dari suatu medium ke medium
lain

Gambar 2.6 Ilustrasi Getaran Bandul Pada Berbagai Medium


Panjang gelombang adalah perbandingan dari kecepatan (bernilai tetap)
dibagi frekuensi (nilainya dapat diubah-ubah). Pada ultrasonic testing cacat
terkecil yang dapat dideteksi oleh alat adalah sebesar ½ lamda. Karena itu, untuk
mendeteksi ukuran yang lebih kecil kita harus memperbesar frekuensi.
Untuk menggambarkan cara merambatnya gelombang ultrasonik pada
bahan, digambarkan sebagai atom yang saling terikat melalui pegas.
Force atom

pegas

Gambar 2.7 Ilustrasi Cara Merambatnya Gelombang


Dari cara bergetar dan perambatanya, gelombang Ultrasonik dapat
menjalar didalam bahan dengan berbagai mode.
a. Mode Longitudinal
Mode longitudinal terjadi bila gelombang ultrasonik merambat pada suatu
arah sejajar gerakan atom yang digetarkan. Gelombang long (longitudinal
ataupressure wave), dapat merambat pada semua bahan (gas, cair, padat)

λ F

λ
V V

Gambar 2.8 Ilustrasi Gelombang Ultrasonik Mode Longitudinal

b. Mode Transversal
Mode transversal terjadi bila gelombang merambat pada arah tegak lurus pada
arah gerakan atom yang digetarkan. Gelombang transversal atau shear wave
hanya dapat merambat pada benda padat.
Gambar 2.9 Ilustrasi Gelombang Ultrasonik Mode Transversal

c. Mode Permukaan
Mode permukaan terjadi bila gelombang transversal merambat pada
permukaan, gerakan atom berbentuk elips(Surface Releigh Wave). Hanya
merambat pada permukaan bahan benda padat pada kedalaman max 1 λ.

particle
Medium Surface
Direction of propagation

Particle
motion

Gambar 2.10 Ilustrasi Gelombang Ultrasonik Mode Permukaan

d. Mode Pelat
Mode pelat terjadi bila gelombang longitudinal merambat pada bahan pelat
tipis yang tebalnya kurang dari ½ λ. gerakan atom yang bergetar berbentuk
ELLIPS. Gel pelat ataulamb wave merambat pada seluruh benda uji pelat
tipis, berbentuk simetris atau asimetris.

THIN SHEET (PLATE)

DIRECTION OF PROPAGATION DIRECTION OF PROPAGATION

Gambar 2.11 Ilustrasi Gelombang Ultrasonik Mode Pelat


Untuk mode pelat kecepatan rambat tidak hanya tergantung pada jenis bahan.
Tetapi tergantung pula pada tebal bahan dan frekuensinya untuk itu sulit
dirumuskan.
Gelombang ultrasonik yang merambat dalam suatu bahan, dapat berubah
mode, dari satu mode ke mode lain. perubahan ini terjadi misalnya karena
pantulan atau pembiasan. Mode berubah kecepatan rambat berubah, sedangkan F
tetap akibatnya λ berubah.
Ada beberapa jenis transmisi yang dapat digunakan pada ultrasonic
testing:
 Tipe Transmisi
a. Through Transmission Mode
Pemancar gelombang ultrasonik (emitter) terpisah dengan detector yang
menerima gelombang. Gelombang yang ditransmisikan dapat berupa
gelombang pendek maupun gelombang yang kontinyu. Kualitas material
yang diuji diukur berdasarkan energi yang hilang karena perambatan
gelombang suara pada material.

Gambar 2.12 Skema Through Transmission mode


b. Reflected (pulse-echo) Transmission Mode
Pemancar gelombang ultrasonik (emitter) menyatu dengan detector yang
menerima gelombang. Gelombang dengan waktu singkat ditransmisikan
ke dalam material yang akan diuji. Gelombang ini akan memantul dari
jalur dimana terdapat cacat. Lalu pantulan yang telah diterima
ditampilkan pada cathode ray tube (CRT)
Gambar 2.13 Skema Reflected (pulse-echo) Transmission Mode
 Tipe Scan
Scan digunakan untuk menginterpretasikan gelombang yang sudah
dipantulkan ke material. Dari scanner kita akan dapat mengetahui dimana
letak cacat dalam material. Beberapa tipe scan:
a. A Scan (Single Pulse – Ice Pick)
Menerima amplitudo gelombang yang direpresentasikan sebagai
perpindahan tempat sepanjang satu sumbu dan waktu rambat
gelombangnya direpresentasikan sebagai perpindahan pada sumbu yang
lain. A scan lebih kompleks karena seluruh pantulan ditampilkan, sehingga
sinyal (dinding belakang material, waterpath) harus sangat diperhatikan.

Gambar 2.14A-Scan Presentation


b. B Scan (Cross Section)
Dipresentasikan dalam grafik dua dimensi, dalam koordinat persegi,
dimana waktu rambat gelombang ultrasonik direpresentasikan sebagai
perpindahan tempat sepanjang satu axis, dan pergerakan transduser
merepresentasikan perpindahan tempat sepanjang axis yang lain.
Gambar 2.15 B-Scan Presentation
c. C Scan (Defect Location Map)
Dipresentasikan ke dalam grafik dua dimensi dimana pantulan gelombang
pada diskontinuitas (cacat) ditampilkan melalui tampak atas pada
permukaan material yang dites. Biasanya tidak ada keterangan mengenai
kedalaman cacat.

Gambar 2.16 C-Scan Presentation


d. D Scan
Dipresentasikan dalam grafik dua dimensi, dimana nilai waktu tempuhnya
ditampilkan dalam tampak atas permukaan sampel. D scan ini merupakan
C Scan yang telah dimodifikasi sehingga nilai amplitudonya ditampilkan
Gambar 2.17 D-Scan Presentation
2.3. Peralatan Ultrasonic Testing
Pantulan gelombang ultrasonik menghasilkan gelombang elektrik dengan
tegangan tinggi dalam waktu yang singkat. Gelombang ini diberikan ke transduser
yang akan mengubahnya menjadi getaran mekanik yang lalu diberikan ke material
yang akan diuji.

Gambar 2.18 Skema Peralatan Ultrasonic Testing


Gelombang ultrasonik yang biasa dipakai pada NDT memiliki spesifikasi sebagai
berikut :
a. Panjang gelombang : 1 – 10 mm
b. Frekuensi : 0.1 – 15 MHz, tetapi kebanyakan kurang dari 10 MHz
c. Kecepatan suara : 1 – 10 km/s
Gelombang suara dengan persentase besar dipantulkan dari permukaan
depan sampel ke transduser. Gelombang suara yang dipantulkan ke transduser
diubah kembali menjadi gelombang listrik yang ditampilkan ke cathode ray tube
(CRT) sebagai gelombang vertikal.
Secara umum ada dua metode dalam ultrasonic testing :
a. Contact Testing
Transduser ditempelkan ke material melalu sebuah lapisan tipis kuplan

Gambar 2.19 Metode Contact Testing


b. Immersion testing
Material dan transdusernya dicelupkan ke dalam sebuah tanki berisi
kuplan (biasanya air).

Gambar 2.20 Metode Contact Testing


Kegunaan utama kuplan adalah untuk membantu membuat permukaan
menjadi lebih rata sehingga gelombang suara yang ditransmisikan tidak tersebar.
Material yang bertindak sebagai kuplan harus basah dan memiliki kontak penuh
antara permukaan sampel dengan transduser.
Gambar 2.21 Proses Kerja Kuplan
Sifat-sifat kuplan :
a. Dalam kuplan tidak boleh ada udara karena udara adalah konduktor yang
buruk untuk suara
b. Kuplanmenghaluskan permukaan sampel yang kasar
c. Kuplan harus mudah dipakai dan mudah dihapus. Kuplan juga tidak boleh
merusak permukaan sampel.
Kuplan biasanya terbuat dari minyak atau air dicampur dengan gliserin
(perbandingan air dengan gliserine 2:1). Kuplan yang lebih berat seperti gemuk
atau minyak yang berat dapat digunakan pada permukaan yang vertikal atau kasar.
Permukan sampel sangat mempengaruhi perambatan gelombang ultrasonik.
Permukaan yang kasar dapat mengakibatkan efek yang tidak diinginkan seperti
amplitudo diskontinuitas dan permukaan belakang yang tidak terbaca karena
distorsi pada arah gelombang. Pada teknik kontak langsung, bila permukaan halus
lapisan kuplan sangat tipis tidak mempengaruhi arah rambatan tapi mempengaruhi
amplitudo dari indikasi yang timbul pada layar, maka dari itu untuk pengukuran
besarnya cacat tekanan yang diberikan ke dalam probe diusahakan [Link]
adalah kuplan yang cukup baik, tetapi ada yang lebih baik daripada oli yaitu
Gliserin, selain itu juga ada yang dapat digunakan sebagai kuplan diantarnya
adalah elmulsi air, air, stempet, kanji dan lain sebagainya. Dalam aflikasinya
kuplan disesuaikan dengan benda uji.
Transduser gelombang ultrasonik terbuat dari piezoelektrik materials.
Kristal yang biasa digunakan antara lain :
a. Kuarsa
Merupakan material yang paling pertama digunakan sebagai transduser.
Kuarsa memiliki karakteristik frekuensi yang stabil. Namun, kuarsa adalah
penghasil energi yang buruk dan sudah sering diganti dengan material lain
yang lebih efisien.
b. Lithium Suphate
Merupakan receiver yang sangat efisien namun rapuh, larut dalam air dan
penggunaannya terbatas sampai temperatur dibawah 165°F.
c. Keramik yang telah dipolarisasi
Menghasilkan energi yang paling efisien tapi memiliki kecenderungan untuk
aus. Keramik yang sering digunakan antara lain, barium titanate, timbal
metaniobate, dan timbal zirconate atau titanate.
Kemampuan transduser dideskripsikan ke dalam tiga karakteristik :
1. Senstivitas : kemampuan untuk mendeteksi cacat kecil
2. Resolusi : kemampuan untuk memisahkan pantulan suara dari dua buah
cacat yang letaknya dekat
3. Efisiensi : keefektifan dalam konversi energi
Material transduser biasanya dipotong dengan dua cara :
a. Dipotong tegak lurus sumbu x, akan menghasilkan gelombang longitudinal
b. Dipotong tegak lurus sumbu y, akan menghasilkan gelombang transversal
Frekuensi transduser merupakan faktor penting dalam pengujian ultrasonik.
1. Semakin besar frekuensi transduser, semakin sedikit gelombang suara yang
tersebar dan semakin baik sensitivitas dan resolusinya. Jika gelombang suara
tersebar, gelombang tersebut akan lebih sedikit terpantul dari cacat yang kecil.
2. Semakin kecil frekuensi transduserm semakin dalam penetrasi suara dan
semakin sedikit tersebar. Semakin banyak gelombang tersebar dapat
membantu mendeteksi pemantul yang tidak tegak lurus terhadap sumbu
gelombang suara.
3. Ketebalan kristal juga berpengaruh terhadap frekuensi transduser. Semakin
tinggi frekuensi transduser, semakin tipis kristalnya.
Kebanyakan ultrasonic testing dilakukan antara 0,2 MHz sampai 25 MHz tetapi
kristal yang digunakan untuk frekuensi 10 MHz ke atas sangat tipis dan rapuh
sehingga biasanya frekuensi transduser maksimal 10 MHz. Transduser yang
memiliki frekuensi lebih dari itu biasanya digunakan pada immersion testing.
Suara dapat ditimbulkan melalui berbagai cara. Misalnya mekanik
(memukul, memetik) atau dengan cara elektronik melalui transduser (pengeras
suara) dsb. Gelombang ultrasonik dapat ditimbulkan oleh perubahan energi listrik
ke energi mekanik dari transduser yang disebut probe, melalui efek
Piezoelektrikdan Maknetostriktif. Kedua efek ini reversible dapat terjadi dari
listrik ke mekanik dan sebaliknya, karena sifat reversible maka probe dapat
berfungsi sebagai sumber dan penerima gelombang ultrasonik.

A. Efek Piezoelektrik
Efek ini terjadi pada kristal bahan tertentu seperti barium titanat, kuarsa dsb.
Bila kristal menerima tegangan listrik, dimensi kristal akan berubah, dan
apabila aliran listrik dimatikan maka dimensi kristal akan kembali ke dimensi
semula dan terjadi getaran.

+ + m
v.

Gambar 2.22Efek Dari Piezoelektrik


Bila kristal ditempatkan pada benda lain maka getaran akan diteruskan dan
merambat kedalam benda uji. makin tinggi tegangan yang diberikan pada kristal
amplitude getaran makin besar. Frekuensi getaran tergantung pada dimensi kristal
piezoelektrik, makin tipis (tebal kristal) maka frekuensi yang timbul makin besar.
Sebagai contoh : tebal kristal 1mm untuk barium titanate dapat menghasilkan
gelombang ultrasonik 2,2 MHz. Kristal piezoelektrik dengan kontak listriknya
diberi wadah keseluruhanya disebut probe.
Bila bidang permukaan Kristal sejajar dengan bidang permukaa probe →
disebut probe normal, gelombang yang keluar adalah gelombang longitudinal dan
arah rambatannya tegak lurus terhadap permukaan [Link] bidang permukaan
tidak sejajar antara kristal dengan permukaan probe. disebut probe sudut
gelombang yang masuk kebenda uji adalahgelombang transversal dan membentuk
sudut tertentu misalnya sudut 450, sudut 600, Sudut, 700 jadi ada 4 macam probe:
a. Probe Normal tunggal
b. Probe Normal kembar (TR).
c. Probe sudut tuggal
d. Probe sudut kembar

B. Efek Maknetostriktif
Beberapa macam bahan seperti : Baja, ferrit, nikel dan paduaanya dapat
berubah dimensainya bila berada dalam magnet yang kuat. Bahan ini mempunyai
sifat effek maknetostriktif, medan magnet yang timbul dari kumparan yang dilalui
arus listrik.
Bahan ini akan berubah dimensinya bila arus listrik dihentikan dan
kembali ke semula dan bergetar, menimbulkan getaran UT. Juga sebaliknya gel
UT datang pada bahan. Dalam bahan akan terjadi medan magnet, menginduksi
kumparan sehingga terjadi tegangan listrik. Medan magnet ini menginduksi
kumparan sehingga terjadi tegangan listrik yang selanjutrnya diperkuat untuk
penditeksian. Untuk mengurangi panas sebagai akibat arus yang timbul pada
bahan maknetostriktif, bahan ini dibuat berlapis-lapis seperti inti transformator.
Bahan maknetostriktif juga mempunyai sipat reversible.
Seperti pada gelombang suara , gelombang UT yang keluar dari probe
dan merambat pada benda uji , membentuk pola penyebaran 3 dimensi ke semua
arah. Intensitas maximum terjadi pada arah sumbu kristal piezoeleotrik (central
beam). Meskipun menyebar ke semua arah, dalam akustik di tetapkan batas-batas
intensitas dimana gelombang masih dapat dimanfaatkan untuk pengukuran yaitu
10% (-20 B), terhadap intensitas maximum (central beam) pada setiap penampang
lintang

Dead 10% ~ -20


T zone dB

D γ
Central
beam

F 100% ~ 0
N dB
10 % ~ -20
dB
Gambar 2.23 Persebaran gelombang
Didaerah medan dekat N gelombang merambat secara silindris (tidak
menyebar), arah dan intensitas gel tidak teratur, daerah ini pengukuran tidak teliti.
Didaerah medan jauh (F), gelombang menyebar secara konis, arah dan intensitas
gel teratur, pengukuran lebih teliti.

Secara singkat pesawat UT bekerja sebagai berikut :


Layar merupakan bagian depan dari suatu tabung hampa, bagian dalam
layar dilapisi zat fluresen yang dapat menyala terang bila tertembak electron,
electron berasal dari sumber yang terletak dibagian belakang tabung hampa.
Antara sumber electron dan layar terdapat lempeng vertikal dan horizontal dan
pengaturan focus. Lempeng mempengaruhi gerakan horizontal, juga lempeng
horizontal mempengaruhi gerakan vertical dari sinar electron dalam perjalanan
menuju layar.
Berkas electron yang terfokus mengenai layar menimbulkan bintik yang
menyala. Bila lempeng A,B,C,D tidak diberi tegangan maka sinar electron akan
jatuh ditengah layar bintik nyala. Bila lempeng A lebih positip dari pada B, bintik
nyala akan berpindah ke titik 1, besarnya perpindahan tergantung besarnya beda
tegangan antara lempeng A & B dan apabila lempeng B lebih positip bintik nyala
akan berpindah ke titik 2, demikian pula dengan lempeng C dan [Link] lempeng
C dan B diberi tegangan tertentu maka bintik nyala akan berpindah ke skala 0,
dalam keadaan ini bila lempeng D diberi tegangan secara bertahap maka bintik
nyala akan bergerak kearah skala 10 dan bila tegangan D dihilangkan maka bintik
nyala kembali ke O.

A D
. 1

3
. . . 4

B C
. 2

Tabung 0 CRT 10
hampa
Gambar 2.24 Ilustrasi Tabung Hampa dan Layar Monitor
Probe mempunyai hubungan langsung dengan pemancar juga melalui
lempeng A melalui penguat pada saat pemancar memberikan tegangan pada
kristal. Kristal mulai bergetar mengeluarkan gelombang ultrasonik, sehingga pada
layar akan terjadi penyimpangan bintik nyala kearah vertical dan menghasilkan
pulsa [Link] gelombang ultrasonik dipantulkan kembali dan ditangkap oleh
probe maka pada saat penerimaan gelombang ini, bintik nyala ini juga akan
menyimpang vertikal menghasilkan indikasi. Makin besar kekuatan gel pantulan,
makin tinggi amplitudo yang terjadi pada layar, dari lokasi indikasi yang terjadi,
dapat diketahui lokasi dari permukaan pemantul atau cacat. Pulsa awal merupakan
petunjuk, bahwa gelombang mulai dipancarkan, mempunyai lebar tertentu,
dimana pada daerah selebar pulsa tersebut. Pengamatan pantulan gel tidak dapat
dilakukan daerah ini disebut dead zone.

Tahapan dalam pengujian ultrasonic test


1. Persiapan Pengujian
Sebelum melakukan pengujian dengan menggunakan metode ultrasonik ada
beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu yaitu melakukan kalibrasi
pada alat ultrasonik dengan menggunakan blok kalibraasi V1 (K1=IIW Blok), V2
(K2), step wedge dan sebagainya. Apabila ultrasonik sudah terkalibrasi maka
ultrasonik siap digunakan.
2. Langkah pengujian menggunakan probe normal
- Cleaning
Kondisi permukaan harus dibersihkan terlebih dahulu dari kotoran yang
menempel dipermukaan sehingga tidak mengganggu proses inspeksi pada
benda kerja.
- Apply kuplan
Setelah permukaan dipastikan bersih dari kotoran maka dilakukan
pengolesan kuplan secara merata pada bagian yang ingin diinspeksi
menggunakan ultrasonik. Hal ini dilakukan untuk memudahkan
merambatnya gelombang ultrasonik dari probe ke dalam benda uji.
- Apply flow detector dengan probe normal
Probe yang sudah dikalibrasi ditempelkan pada benda kerja lalu
digerakkan sedikit demi sedikit secara merata ke seluruh permukaan benda
kerja sehingga ditemukan cacat yang berada di dalam permukaan benda
kerja.
- Record
Dimaksudkan untuk merekam atau menginterpretasikan hasil inspeksi
yang dilakukan pada benda kerja sehingga dapat terlihat pada plan view
scan A, B, dan C.
- Post Cleaning
Post cleaning dimaksudkan untuk membersihkan benda uji dari sisa-sisa
pemberian kuplan pada permukaan benda kerja setelah pengujian.
Kelebihan Ultrasonic Testing
a. Mempunyai kekuatan penetrasi yang tinggi sehingga bisa digunakan pada
material dengan ketebalan samapi 6 meter.
b. Memiliki sensitivitas tinggi, sehingga bisa mendeteksi cacat yang sangat kecil
c. Memiliki akurasi yang lebih baik dari metode NDT lainnya dalam
menentukan posisi, orientasi ukuran, dan bentuk cacat internal
d. Hanya membutuhkan satu permukaan yang dapat diakses
e. Outputnya bisa diproses dengan computer untuk mengetahui karakteristik
cacat dan untuk menentukan sifat sifat material.
Kekurangan Ultrasonic Testing
a. Pengoperasian secara manual harus dilakukan oleh teknisi yang
berpengalaman
b. Pengetahuan taknik yang baik dibutuhkan untuk mengembangkan prosedur
inspeksi
c. Bagian yang tidak rata, ketidakteraturan bentuk, komponen yang sangat kecil
atau sangat tipis, atau yang tidak homogen sulit diinspeksi
d. Dibutuhkan reference standards untuk pengkalibrasian dan untk mengetahui
karakteristik cacat
DAFTAR PUSTAKA

Avner, S.H. 1964. Introduction to Physical Metallurgy. New York: Mc. Graw-
Hill.
Callister. 2001. Materials Science and Engineering An Introduction. United States
of America : John Wiley & Sons, Inc
Davis, H.E, dan G.E, Troxell. 1964. The Testing and Inspection of Engineering
Material. New York : John Wiley & Sons, Inc.
Lakhtin, Y. 1968. Engineering Physical Metallurgy. Moscow: MIR Published
Lavender, J. D. Ultrasonic Testing of Steel Castings. England: Steel Castings
Research & Trade Association Sheffield.

Anda mungkin juga menyukai