Yoga sebagai Daya Tarik Wisata Ubud
Yoga sebagai Daya Tarik Wisata Ubud
PROPOSAL TESIS
Oleh
Putu Urip Wijaya
S701508013
PASCASARJANA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2017
1
YOGA SEBAGAI ATRAKSI WISATA MINAT KHUSUS DI UBUD BALI
(StudiOtentisitasAtraksiWisata)
Oleh
PutuUripWijaya
S701508013
Telahdinyatakanmemenuhisyarat
padatanggal........................2017
2
DAFTAR ISI
3
BAB I
PENDAHULUAN
4
yang dapat dikembangkan menjadi objekwisata yang mempunyai unggulan kompetitif
untuk bersaing dengan objek wisata Negara lain (Spillane 1997: 4)
Untuk mendukung hal tersebut perlu diupayakan penggalian, pengembangan potensi
wisata yang ada di Indonesia, dengan tujuan agar kunjungan wisata [Link] karena
itu, terkait dengan kepariwisataan, perlu diupayakan pengemasan yang menunjang sektor
pariwisata lebih khusus yang berkaitan dengan wisata minat khusus.
Hampir di seluruh wilayah Indonesia terdapat objek wisata yang berpotensi untuk
dikemas sebagai tujuan wisata minat khusus. Di antaranya objek wisata alam, sejarah, dan
budaya. Objek wisata yang memiliki berbagai keunikan dan ragamnya, di antaranya berupa
kesenian, masakan, adat, upacara, batik, dan kerajinan. Perkembangan wisata minat khusus
(special interest tourism) di Bali semakin meningkat. Itu terlihat dari berbagai aktivitas
yang mulai digarap oleh sejumlah pelaku wisata dan beberapa bisnis perhotelan yang
membuat satu paket wisata dan menginap.
Selera wisatawan pun mulai bergeser dewasa [Link] minat khusus merupakan
salah satu jenis wisata yang mulai banyak digemari oleh wisatawan. Wisata minat khusus
merupakan kegiatan wisata yang memiliki fokus kegiatan yang lebih [Link]
khusus menawarkan sesuatu yang lebih dari biasanya, suatu pengalaman yang baru dan
unik. Menurut [Link] ada 7 jenis wisata minat khusus yaitu: wisata sejarah
danbudaya, wisata alam dan ekowisata, wisatakuliner dan belanja, wisata MICE,
wisataolahraga dan rekreasi, wisata cruise ship, danwisata spa.
Menurut Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenparekraf Firmansyah
dalam harian Suara Pembaruanversi web ([Link]) Selasa, 7 Oktober 2014,
bahwa fokus pengembangan diperlukan mengingat Indonesia memiliki alam dan budaya
yang sangat beragam dan semuanya dapat dikembangkan sebagai wisata minat khusus.
Seperti yang disebutkan dalam [Link] bentuk wisata minat
khusus ini memiliki beberap aprinsip yaitu (1) Motivasi wisatawan mencari sesuatu yang
baru, otentik dan mempunyai pengalaman perjalanan wisata yang berkualitas. (2) Motivasi
dan keputusan untuk melakukan perjalanan ditentukan oleh minat tertentu atau khusus dari
wisatawan dan bukan dari pihak-pihak lain. (3) Wisatawan melakukan perjalanan
5
berwisata pada umumnya mencari pengalaman baru yang dapat diperoleh dari objek wisata
sejarah, makanan lokal, olah raga, adat istiadat, kegiatan dilapangan dan petualangan alam.
Pemerintah Provinsi Bali saat ini tengah berupaya meningkatkan jumlah kunjungan
wisatawan mancanegara untuk segmen minat khusus yoga sebagai salah satu daya tarik
wisata di Pulau Dewata, Menurut Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Anak Agung
Yuniarta, Wisata yoga termasuk dalam pengembangan pariwisata untuk menarik
wisatawan mancanegara yang ingin minat khusus. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan
kunjungan wisata ke [Link] pihak yang digandeng untuk merealisasikan kegiatan
pariwisata tersebut diantaranya Konsulat Jenderal India di Denpasar, sebagai negara asal
olahraga gabungan pernafasan dan olah fisik itu, untuk mempromposikan destinasi Bali
dan wisata yoga. Diharapkan semakin banyak wisatawan mancanegara yang ingin berlibur
di Pulau Dewata sembari melakukan yoga dengan lingkungan yang berbeda dengan
[Link] merupakan salah satu olahraga yang kini banyak digemari masyarakat di
seluruh dunia karena dinilai memberikan manfaat bagi kesehatan. Aktivitas fisik itu
meliputi meditasi, pengaturan pernapasan, latihan fisik guna melatih kekuatan otot dan
fleksibilitas tubuh sehingga menjadikan olahraga itu berbeda dengan olahraga lainnnya.
Menurut Sutarya yoga telah berkembang di Bali sejak spa-spa menjadi daya tarik
wisata hotel di Nusa Dua Bali. Spa selalu bergandengan dengan yoga. Perkembangan di
Nusa Dua ini mendorong perkembangan sejenis di Sanur dan [Link]
[Link] Pasca tahun
2006 terutama sejak diluncurkannya film Eat, Pray and Love, yoga semakin popular di
Bali. Film tersebut betul-betul telah memposisikan pariwisata Bali pada posisinya kembali.
Kini banyak sekali pengusaha pariwisata seperti Hotel yang menawarkan sebuah paket
wisata dimana terdapat aktivitas yoga dan menikmati ralaksasi Spa serta akomodasi
menginap. Seorang narasumber dari Akademi pariwisata Denpasar, pada seminar
International Bali-India Yoga Festival,menyatakan bahwa pariwisata spiritual berkembang
pesat di Bali (Aditya: 2016). Ubud sangat terkenal dengan atraksi wisata spiritual Yoga.
Hal ini ditunjukan tingginya permintaan dan paket tour yoga yang ditawarkan di Ubud,
Banyak wisatawan mancanegara dan domestik yang tertarik dengan paket tersebut seperti
6
salah satu contoh hotel yang menawarkan paket tersebut Om Ham Resort and Reatret dan
Yoga Barn yang berlokasi di Ubud Bali. Namun dari pengamatan yang dilakukan di Yoga
Barn banyak Instruktur yoga yang sering disebut Healer di tempat tersebut adalah warga
negara asing dan hanya sedikit yang berasal dari warga negara Indonesia khusunya
masyarakat lokal. Hal inimenunjukkan kesenjangan antara kenyataan dengan Peraturan
Daerah (Perda) Nomer 2 tahun 2012 tentang Kepariwisataan Budaya
Bali Bab IV Pasal 8 (2) yang menyatakan usaha pariwisata harus bercirikan
budaya Bali, memiliki visi pemeliharaan budaya Bali, dan berpartisipasi dalam
pengembangan budaya Bali. Data jumlah healers asing ini juga menunjukkan
kesenjangan antara kenyataan dengan teori pariwisata yang menyatakan
wisatawan melakukan perjalanan untuk mencari authenticity, tetapi yang
ditemukan di Bali adalah healers yang tidak asli Bali. Sementara itu,Om Ham Resort and
Retreat menyajikan paket yoga yang langsung dikelola oleh bapak Ketut Arsana yaitu
seorang healer yang berasal dari Bali dalam kelas yoga yang ditawarkan mengarah pada
kesehatan jasmani dan rohani yang bernama Kundalini Tantra Yoga. Dari kedua
perbedaan healer akan mempengaruhi bentuk Yoga yang ditampilkansesuai yogaberasal
dari ajaran agama Hindu. Permasalahan inilah yang akan dikaji lebih jauh, yaitu tentang
bagaimana bentuk yoga yang ditampilkan healer asis dan lokal sebagaiatraksi wisata minat
khusus di Bali.
7
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Tujuan Umum penelitian ini adalah mengkaji, menganalisis, dan merumuskan
keunikan Yoga yang dikembangkan masyarakat lokal dalam Wisata Minat Khusus di
Bali, sehingga keunggulan Yoga itu dapat ditemukan untuk mengembangkan
pariwisata Bali, sehingga kontribusi Yoga menjadi nyata dalam mewujudkan
pariwisata Bali yang berkelanjutan sebagai atraksi wisata minat khusus.
8
atraksi wisata minat khusus. (2) Memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa
masyarakat lokal mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan
pariwisata minat khusus di Bali dan Indonesia dalam ruang lingkup yang lebih
luas.3) pengelola, supaya memahami konsep atraksi wisata minat khusus berbasis
wellness tourism sesuai dengan perda yang berlaku 4) wisatawan, supaya mengenal
bentuk atraksi wisata minat khusus berbasis wellness tourism khususnya yoga agar
tidak menjadi bagian dari utopia wisatawan gelembung; 5) peneliti, baik dari
kalangan akademis dan non-akademis agar semakin memperdalam dan
mempertajam kajian penelitiannya di bidang ilmu kajian budaya fokus kajian
pariwisata.
9
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI,
DAN KERANGKA PEMIKIRAN
10
sama-sama membahas mengenai wisata spiritual yaitu yoga di Ubud Bali, namun
perbedaannya terletak pada penggunaan teori dan fokus objek materialnya. Penelitian yang
dilakukan oleh I Wayan Putra Aditya berfokus pada studi kajian pariwisata menggunakan
studi eksplorasi pariwisata, dengan objek material arsitektur dan pelayanan, serta
karakteristik wisatawan di tempat pelatihan Yoga di Ubud Bodywork Center dan Yoga
Barn Ubud Gianyar, Bali, sedangkan peneliti sendiri menggunakan teori Otentisitas
dengan objek material berfokus pada otentisitas ciri-ciri Yoga Ubud Bali. Hasil penelitian
yang akan peneliti lakukan diharapkan dapat menghasilkan sebuah pandangan baru
terhadap otentisitas bentuk dari yoga yang sedang berkembang di Bali. Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh I Putra Aditya tersebut, memberikan banyak sumbangsih
konsep berpikir bagi peneliti dalam memahami objek formalnya yaitu tentang penggunaan
teori otentisitas dan objek material yaitu Yoga.
I Gede Sutarya (2016) Desertasi yang berjudul “Spiritual Healing dalam Pariwisata
Bali: Analisis Tentang Keunikan, Pengembangan, dan Kontribusinya dalam Pariwisata”
Desertasi S3 Kajian Pariwisata Program Pascasarjana Udayana, Denpasar, Bali. Dalam
penelitiannya Spiritual healing adalah pembangunan kesehatan badan, pikiran, dan spirit
yang telah menjadi pariwisata alternatif, yang berpeluang meningkatkan
pendapatan masyarakat lokal melalui lama tinggal dan pengeluaran wisman.
Peluang pendapatan melalui lama tinggal ini terbukti di Ashram Munivara, Ubud
dan Ashram Ratu Bagus, Muncan yang lama tinggal wismannya kebanyakan
sekitar tujuh [Link] orang lokal ini mendapatkan tantangan di Kawasan Pariwisata
Ubud, sebab pariwisata spiritual healing ini mulai dirambah orang-orang asing seperti di
Yoga Barn dan Radiantly Alive. Keikutsertaan orang-orang asing ini menjadi
perhatian, sebab merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan teori-teori
pariwisata tentang pencarian wisman pada authenticity (keaslian) dalam
pariwisata. Kesenjangan ini memunculkan masalah-masalah penelitian tentang keunikan,
pengembangan, dan kontribusi spiritual healing di Bali untuk pariwisata Bali yang
[Link] spiritual healing yang berbasis lingkungan dan aset-aset
budaya Bali merupakan keunikan secara tangible. Pengetahuan healersdan
11
pengalaman wisman adalah keunikan secara intangible. Pola bisnisnya
menggunakan pola gerakan spiritual, pola jalan tengah, dan pola bisnis murni.
Pola bisnis ini berbasis authenticity produk, dengan pengembangan pasar baru
melalui jaringan murid-murid di luar [Link] spiritual healing dalam
mewujudkan pariwisata Bali yang berkelanjutan, terletak pada produk spiritual healing
yang berbasis destinasi, dan berorientasi sumber daya dalam destinasi [Link] spiritual
healing yang berbasis destinasi, dan berorientasi sumber daya pada destinasi Bali
inimerupakan temuan dalam penelitian ini.
Dalam penelitian I Gede Sutarya akan menjadi sumber rujukan dan referensi bagi
peneliti sendiri, karena ada persamaan pada objek formalnya yaitu sama-sama membahas
mengenai otentisitas dalam ranah industri pariwisata spiritual, namun perbedaannya hanya
terletak pada objek materialnya. Penelitian yang dilakukan oleh I Gede Sutarya
menggunakan teori pariwisata otentisitas dengan objek material Spiritual Healing di Bali
serta berfokus pada pengobatan atau terapi kepada wisatawan menggunakan teori
psikoanalisis untuk mengetahui riwayat psikologi dan tingkat stress tiap wisatawan
Sedangkan peneliti lebih memfokuskan penelitiannya dari konsep yoga yang merupakan
bagian dari spiritual healing. Hasil penelitian yang akan peneliti lakukan diharapkan dapat
menghasilkan sebuah pandangan baru terhadap otentisitas bentuk dari yoga yang
merupakan bagian dari spiritual healing yang sedang berkembang di Bali. Dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh I Gede Sutarya tersebut, dapat memberikan banyak
sumbangsih berpikir bagi peneliti sendiri dalam memahami objek formalnya yaitu tentang
penggunaan teori otentisitas.
I Made Darma Oka (2010) dalam Jurnal Analisis Pariwisata Vol 10 no.1, 2010
berjudul Potensi Pengembangan Pariwisata Minat Khusus (Trekking) Di Desa Pejaten-
Tabanan, Politeknik Negeri Bali. Dalam penelitian I Made Darma Oka menjelaskan bahwa
Kabupaten Tabanan merupakan salah satu kabupaten di Bali, memiliki panorama alam
yangsangatindahdanmenarikuntukdikunjungi [Link] Tabanan terdapat beberapa
daerahtujuanwisatayangterkenal di mancanegara seperti Tanah Lot, Bedugul, Alas Kedaton
dan [Link] alam dan budaya masyarakat lokal Desa Pejaten memiliki daya tarik
12
tersendiri bagi wisatawan. Alamnya yang sangat indah dengan terasering hamparan
persawahan menghijau merupakan kenangan yang tak [Link] tempat rekreasi
atau wisata, tidak hanya mengandalkan kondisi daya tarik yang terdapat di
obyek tersebut, tetapi juga dilengkapi oleh dengan hasil kerajinan keramik masyarakat
lokal yang menunjang kegiatan wisata. Didukung masyarakat sekitar, pengembangan
potensi wisata alam dan budaya Desa Pejaten dimaksudkan untuk menarik wisatawan
untuk datang ke daerah tersebut. Pengumpulan data dilakukan dalam survey lapangan
melalui penyebaran kuesioner yang diberikan kepada masyarakat Desa Pejaten. Desa
Pejaten terdiri atas 7 banjar dinas, dimana masing-masing banjar dinas dikuotakan
sebanyak 5 orang responden sehingga diperoleh sampel sebanyak 35 orang. Data primer
meliputi potensi wisata alam dan budaya Pejaten dan persepsi masyarakat terhadap
pengembangan wisata trekking di [Link] kepariwisataan selain
diperlukan daya tarik juga harus didukung oleh sarana dan prasarana yang terdapat di
daerah tersebut serta sikap masyarakat sekitar dan wisatawan dalam mensikapi
pengembangan wisata trekking. Berdasarkan hasil survey dapat disimpulkan bahwa;
Pengembangan wisata alam dan budaya melalui aktivitas trekking di desa Pejaten
berpotensitinggiuntuk dikembangkan, Masyarakat desa Pejaten sangat mendukung
terhadapupayapengembanganwisataalam dan budaya terutama masyarakat yang
wilayahnyadilaluijalur trekking, Pengembangan yang dapat dilakukan di Desa Pejaten
adalah pengembanganwisataminat khusus (trekking) yang memiliki daya tarik tersendiri
bagi wisatawan.
Dalam penelitian I Made Darma Oka akan menjadi sumber rujukan dan referensi bagi
peneliti sendiri, karena memiliki kesaaman pada objek material yang diteliti yaitu sama-
sama membahas mengenai wisata minat khusus, namun perbedaannya terletak pada
penggunaan teori dan fokus objek materialnya. Penelitian yang dilakukan oleh I Made
Darma Oka berfokus pada studi kajian pariwisata menggunakan studi pariwisata minat
khusus (trekking) di Pejaten Tabanan, Bali, sedangkan peneliti sendiri menggunakan teori
pariwisata minat khusus dengan objek material berfokus pada yoga. Hasil penelitian yang
akan peneliti lakukan diharapkan dapat menghasilkan pemahaman baru terhadap atraksi
13
wisata minat khusus yaitu yoga yang sedang berkembang di Bali. Dari hasil penelitian
yang dilakukan oleh I Made Darma Oka tersebut, memberikan banyak sumbangsih konsep
berpikir bagi peneliti dalam memahami objek formalnya yaitu tentang penggunaan teori
pariwisata minat khusus.
Menurut Hartono (2005) dalam jurnalnya berjudul “Pengembangan Pariwisata minat
Khusus kesenian tradisional” dikatakan Indonesia mempunyai banyak objek wisata baik
wisata budaya, wisata buatan manusia, ataupun wisata alam. Peluang Indonesia untuk
menjadi pemasok turis terbesar di ASEAN bahkan ASIA masih terbuka lebar karena
Indonesia memiliki kemajemukan tradisi dan budaya, serta peninggalan sejarah dan
purbakala yang
dapat dikembangkan menjadi objek wisata minat [Link] dan nilai
positif pengemasan kesenian tradisional baik berupa tari, musik, batik, ataupun
kerajinan tangan, di samping merupakan upaya-upaya pelestarian, juga untuk
pengembangan kesenian itu sendiri, sebagai sarana kreatifitas seniman, serta
juga dalam upaya pengenalan keluar. Selain hal tersebut juga mempunyai
unggulan kompetitif untuk bersaing dengan objek wisata negara lain.
Dalam penelitian Hartono akan menjadi sumber rujukan dan referensi bagi peneliti
sendiri, karena memiliki kesaaman pada objek material yang diteliti yaitu sama-sama
membahas mengenai wisata minat khusus dan memberikan banyak sumbangsih konsep
berpikir bagi peneliti dalam memahami objek formalnya yaitu tentang penggunaan teori
pariwisata minat khusus.
Menuurut Gita Harmony (2015) dalam jurnalnya berjudu”Kajian Potensi Gua Sebagai
Arahan Wisata Minat Khusus Penelusuran Gua di Pulau Nusakambangan” dikatakan Gua
merupakan fenomena alamiah di bawah tanah yang banyak dijumpai pada
daerah karst. Gua yang di dalam perkembangannya menjadi salah satu obyek wisata yang
diminati yaitu wisata minat khusus penelusuran gua. Di Pulau Nuskambangan, sebagian
besar gua-gua yang ada hanya berupa potensi dan hanya sedikit yang telah berkembang.
Oleh karena itu, tidak semua gua berpotensi tinggi untuk dikembangkan menjadi wisata
minat khusus melainkan beberapa gua ada pula yang termasuk dalam gua yang bersifat
14
mass tourism. Dimasa yang akan datang, perkembangan gua sebagai obyek wisata
sebaiknya sadar akan lingkungan, kemudian kegiatan ini berlokasi pada daerah karst
yang dimana mudah rusak lingkungannya sehingga tetap memperhatikan konservasi gua
supaya ekosistem gua dapat terjaga kelestariannya. Dalam penelitian Gita Harmony akan
menjadi sumber rujukan dan referensi bagi peneliti sendiri, karena memiliki kesaaman
pada objek material yang diteliti yaitu sama-sama membahas mengenai wisata minat
khusus dan memberikan banyak sumbangsih konsep berpikir bagi peneliti dalam
memahami objek formalnya yaitu tentang penggunaan teori pariwisata minat khusus.
Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman baru terhadap atraksi
wisata minat khusus yaitu yoga yang sedang berkembang di Bali
2.2 Konsep
Menurut Koentjaraningrat, Konsep merupakan generalisasi dari sekelompok fenomena
yang serupa kenyataanya yang mempunyai tingkat generalisasi yang berbeda, semakin
dekat suatu konsep kepada realita, maka semakin mudah konsep tersebut diukur dan
diartikan (1994:4). Konsep merupakan deskripsi secara singkat dari sekelompok fakta atau
[Link] dari itu, dalam penelitian diuraikan konsep secara langsung berkaitan dengan
penelitian [Link] memperjelas pembahasan dalam penelitian ini, maka digunakan
beberapa konsep terkait objek formal dan material yang berkaitan dengan judul penelitian
yaitu, (1) Yoga (2) Daya Tarik wisata minat khusus (3) Pariwisata Spiritual (4) Otentisitas.
2.2.1 Pengertian Yoga
Yoga dalam The Hindus Encyclopedia Hindums (2000:1069) The word yoga has
two meaning in India 1. Contemplation raised to a formal art , and 2. The system to be
treated below, which is entirely taken up with it, gives it a philosophical basis, and
ranks as one of six system of brahmanic philosophy. Contemplation exercises for the
attainment of higher states of consciousness and faculties are very old in India.
Menurut Worby (2007), yoga merupakan salah satu teknik latihan untuk
mengenal diri sehingga dapat menganalisis lebih lanjut tentang pikiran dan tindakan
yang sudah dilakukan. Latihan dilakukakan melalui sikap tubuh pernafasan dan
15
tekhnik relaksasi sehingga dapat mengembangkan kecerdasan intuisi alamiah dan
membantu pikiran agar dapat terpusat dan pada akhirnya dapat membuat perubahan
berupa ketenangan- ketenangan pikiran dan terpusatnya [Link] kamus besar
bahasa Indonesia, yoga bermakna sistem filsafatHindu yang bertujuan mengheningkan
pikiran, bertafakur dan menguasai diri. Sebenarnya ajaran ini merupakan suatu sistem
latihan dengan penuh kesungguhan untuk membersihkan, mempertinggi dan
memperdalam nilai-nilai kerohanian dalam mendekatkan diri dengan Tuhan,
sehingga cara itu segala konsentrasi selalu tertuju kepada-Nya
([Link]
Yoga memiliki arti “penyatuan”, yang bermakna “penyatuan dengan alam”.
Yoga merupakan salah satu dari ajaran Hindu yang menitikberatkan pada aktifitas
meditasi atau bertapa, yang bertujuan untuk memusatkan pikiran untuk mengontrol
panca indra dan tubuh secara keseluruhan ([Link]). Ajaran yoga didirikan oleh
Maharsi Patanjali, yang merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran [Link]
juga berarti Yuj atau berhubungan yaitu bertemunya roh individu dengan roh universal
([Link]).Yoga adalah latihan yang berfungsi untuk memelihara kesehatan
tubuh dan ketenangan pikiran dan bukan merupakan terapi untuk pengembuhan
[Link] memiliki manfaat yang baik untuk jiwa dan raga manusia. Adapun
beberapa manfaat yoga bagi tubuh adalah ([Link], Sulaksono, 2015),
(1) Menghilangkan depresi dan stress, (2) Mengendalikan hipertensi, (3) Untuk
menyehatkan jantung (3) Meredakan nyeri pada bagian punggung bawah (4)
Membantu mengatasi gangguan pada perut, (5) Mengatasi osteoarthritis, (6)
Mengatasi asma dan bronchitis, (7) Menurunkan berat badan, (8) Meningkatkan
fleksibilitas sendi dan otot, (9) Mengeluarkan racun atau detoksifikasi bagi tubuh.
Dalam kitaab sastra hindu Bhagavad gita dapat diklasifikasi sebagai berikut (1)
Hatha Yoga, yaitu yoga yang dilakukan dengan pose fisik (Asana), teknik pernafasan
(Pranayana) disertai dengan meditasi. Ketiga poin ini dilakukan untuk membuatpikiran
menjadi tenang dan tubuh sehat penuh vitalitas (2) Bhakti Yoga, yaitu yoga yang
memfokuskan diri untuk menuju hati. Jika seorang yogi berhasil menerapkannya,
16
maka dia akan dapat melihat kelebihan orang lain dan cara untuk menghadapi sesuatu.
Keberhasilan yoga ini juga membuat yogis menjadi lebih welas asih dan menerima
segala yang ada di sekitarnya, karena dalam yoga ini diajarkan untuk mencintai alam
dan beriman kepada Tuhan (3) Raja Yoga, yaitu yoga yang menitikberatkan pada
teknik meditasi dan kontemplasi. Yoga ini nantinya akan mengarah pada cara
penguasaan diri sekaligus menghargai diri sendiri dan sekitarnya. Raja yoga
merupakan dasar dari yoga sutra (4) Jnana Yoga, yaitu yoga yang menerapkan metode
untuk meraih kebijaksanaan dan [Link] ini cenderung untuk
menggabungkan antara kepandaian dan kebijaksanaan, sehingga nantinya
mengdapatkan hidup yang dapat menerima semua filosofi dan agama (5) Karma Yoga,
yaitu yoga ini mempercayai adanya reinkarnasi. Di sini Anda akan dibuat untuk
menjadi tidak egois, karena yakin bahwa perilaku Anda saat ini akan berpengaruh
pada kehidupan yang akan datang (6) Tantra Yoga. Untuk yoga ini sedikit berbeda
dengan yoga yang lain, bahkan ada yang menganggapnya mirip dengan ilmu sihir.
Teknik pada yoga ini terdiri atas kebenaran (kebenaran) dan hal-hal yang mistik
(mantra).Tujuan dari teknik ini supaya dapat menghargai pelajaran dan pengalaman
hidup.
2.2.2 Daya tarik wisata minat khusus
Salah satu penyebab terjadinya segmentasi atau spesialisasi pasar pariwisata
adalah karena adanya kecendrungan wisatawan dengan minat khusus baik dalam
jumlah wisatawan maupun area minatnya. Hal ini sangat berbeda dari jenis pariwisata
tradisional karena calon wisatawan memilih sebuah destinasi wisata tertentu sehingga
mereka dapat mengikuti minat khusus dan spesifik yang diminati. Pariwisata dengan
minat khusus ini diperkirakan aakan menjadi trend perkembangan pariwisata ke depan
sebab calon wisatawan telah menginginkan jenis pariwisata yang fokus, yang mampu
memenuhi kebutuhan spesifik wisatawan (Pitana dan Diarta, 2009: 76), jadi Daya tarik
wisata minat khusus (special interest) adalah daya tarik wisata yang dikembangkan
dengan lebih banyak berbasis pada aktivitas dan destinasi untuk pemenuhan keinginan
wisatawan secara spesifik yang diminati dan biasanya terkait dengan hobi atau
17
kegemaran wisatawan tersebut. Menurut Sunaryo (2013: 27), untuk mempromosikan
dan menjual produk wisata minat khusus di atas, penyelenggaraanya dapat dikemas
menjadi sebuah events dan festival yang sangat menarik dan diselenggarakan secara
periodik serta terjadwal dalam suatu Calender of Events dan dipromosikan secara
meluas dan sistematis. Beberapa contoh kemasan event dari tata cara kehidupan
tradisional yang disajikan diIndonesia sebagai daya tarik wisata minat khusus adalah
(1) Pembakaran mayat (ngaben) di Bali, (2) Upacara pemakaman mayat di Tana
Toraja, (3) Upacara Batagak penghuli di Minangkabau, (4) Upacara Khitanan di
daerah Parahayangan, (5) Upacara Sekaten di Solo dan Yogyakarta, (6) Upacara
Waisak di Candi Mendut dan Borobudur. Objek pariwisata dan segala atraksi yang
diperlihatkan merupakan daya tarik utama mengapa seseorang datang berkunjung pada
suatu tempat. Oleh karena itu, keaslian dari objek dan atraksi yang ditampilkan harus
dipertahankan sehingga wisatawan merasa betah ditempat tersebut.
Dalam [Link]
menyebutkan ada bebera paprinsip yang mendasari Wisata Minat Khusus; (1)
Motivasi mencari sesuatu yang baru, (2) Kepuasan dalam melakukan sesuatu, (3)
Mencari pengalaman [Link] minat khusus (Special Interest Tourism) merupakan
bentuk kegiatan dengan wisatawan individu, kelompok atau rombongan kecil yang
bertujuan untuk belajar dan berupaya mendapatkan pengalaman tentang hal di daerah
yang dikunjungi (Fandeli, 1992 dalam Madafuri, 2016).Ada beberapa kriteria yang
dapat dipergunakan sebagai pedoman dalam menetapkan suatu bentuk wisata minat
khsus, yaitu adanya unsur : (1) Learning, yaitu kegiatan wisata yang mengarah pada
unsur pembelajaran. (2) Rewarding, yaitu kegiatan wisata yang memasukkan unsur
pemberian penghargaan atau mengagumi keindahan / keunikan kekayaan dari suatu
atraksi yang kemudian menimbulkan penghargaan. (3) Enriching, yaitu pariwisata
yang memasukkan peluang terjadinya pengkayaan pengetahuan masyarakat. (4)
Adventuring, yaitu pariwisata yang dirancang sebagai wisata petualangan.
Sedangkan dalam Peraturan Menteri Kebudayaan Dan Pariwisata Nomer: Km.67
/ Um. 001 / Mkp / 2004 Tentang Pedoman Umum Pengembangan Pariwisata di Pulau-
18
Pulau Kecil Wisata minat khusus merupakan suatu bentuk perialanan dimana
wisatawan mengunjungi suatu tempat karena memiliki minat atau tujuan khusus
mengenai suatu jenis objek atau kegiatan yangdapatditemui atau dilakukan dilokasi
atau daerah tujuan wisata tersebut. Dalam wisata minat khusus, wisatawan terlibat
secara aktif pada berbagai kegiatan di lingkungan fisik atau komunitas yang
dikunjunginya.
Di bawah ini merupakan jenis-jenis sumber daya pariwisata minat khusus yang
bisa dijadikan atraksi wisata menurut Richardson dan Fluker (dalam Pitana dan Diarta,
2009:76-78).
Table 2.1 Sumber Daya Minat Khusus
No Klasifikasi Contoh
1 Active adventure Caving, Parachute Jumping, Trekking, Off-
road adventure, Mountain climbing
2 Nature and wildlife Birdwatching, Ecoturism, Geology,
National Parks, Rainforest
3 Affinity Artist‟s workshop, Senior tour, Tour for the
handicapped
4 Romance Honeymoon, Island vacation, Nightlife,
Single tour, Spa / hot spring
5 Family Amusemen park, Camping, Shopping trips,
Whalewathcing
6 Soft adventure Backpacking, Bicycle touring, Canoing,
Scuba diving, Walking tours
7 History / culture Agriculture, Art/architecture, Art festival,
Film
8 Hobby Antique, Beer festival, Craft tour,
Gambling, Videography tour
9 Spiritual Pilgrimage, Religion/spiritual, Yiga
10 Sport Basket ball, Car racing, Olypic games,
19
2.2.2 Konsep Pariwisata Spiritual
Pariwisata spiritual adalah salah satu bagian dari konsep pariwisata budaya
yang merupakan jasa pelayanan bagi seseorang atau kelompok wisatawan ke suatu
daerah wisata dengan tujuan melakukan aktivitas spiritual seperti meditasi, yoga,
pilgrimage (tirtayatra) dan banyak aktivitas lainnya. Istilah spiritual sendiri mulai
populer sejak 1847, ketika penulis Amerika, Andrew Jackson, menerbitkan bukunya
mengenai spiritualisme yang berjudul Nature”s Divine Revelation (Arifin, 1989).
Spiritual adalah sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, roh, atau kesadaran diri, serta
dengan keberadaan Sang Pencipta. Dalam pariwisata spiritual, wisatawan terlibat atau
berpartisipasi langsung dengan aktivitas spiritual, tidak sekadar melancong atau
melihat-lihat sebagaimana yang umum berlaku dalam pariwisata konvensional.
Namun belum ditemukan batasan yang tegas kegiatan apa saja yang dapat
dikatagorikan ke dalam pariwisata spiritual. mengenai spiritualisme yang berjudul
Nature”s Divineevelation (Arifin,1989). Spiritual adalah sesuatu yang berhubungan
dengan jiwa,roh ,atau kesadarandiri,sertadengan keberadaan Sang Pencipta. Dalam
pariwisata spiritual, wisatawan terlibat atau berpartisipasi langsung dengan aktivitas
spiritual,tidak sekada rmelancong atau melihat-lihat sebagaimana yang umum berlaku
dalam pariwisata konvensional. Namun belum ditemukan batasan yang tegas kegiatan
apa saja yang dapat dikatagorikan kedalam pariwisata spiritual (ruki, 201:41).
Menurut Ruki dikatakaan Pariwisata Spiritual bagiann dari pariwisata budaya,
namun sekarang ini pariwisata spiritual masuk dalam kategori Pariwissata minat
khusus, karena atraksi wisata ini memiliki minat dan tujuan yang khusus bagi
wisatawan seperti Yoga, Tirta Yatra, Ibadah Haji dan Umroh, Perayaan Waisak di
Borobudur, Ziarah ke Gua Maria dan Vatikan.
20
data yang bisa dipertanggung jawabkan secara keilmuan. Adapun teori yang digunakan,
sebagai landasan untuk menganalisis permasalahan yaitu teori otentisitas.
2.3.1 Pengertian Otentisitas (Authenticity)
Otentisitas (Authenticity) adalah nilai terdalam dari keunikan. Karena itu,
keunikan adalah hal-hal yang tampak dari Otentisitas (Authenticity) tersebut. Hal-hal
yang tampak tersebut adalah karakteristik atraksi yang membedakan atraksi yang satu
dengan yang lainnya. Keunikan ini dalam studi pariwisata merupakan keunggulan
kompetitif dari berbagai persaingan dalam dunia pariwisata (Hall, 2003:398 dalam
Sutarya, 2016) Apostolokis (2003:803) menyatakan, karakteristik atraksi merupakan
bentuk-bentuk keunikan, yang bila digabungkan dengan pengalaman wisatawan
menjadi otentik. Oleh karena itu, keunikan merupakan faktor daya tarik yang ada
dalam atraksi tersebut, sedangkan Otentisitas (Authenticity) adalah factor pendorong
yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang melakukan perjalanan.
Pengertian lain tentang Otentisitas yaitu Authenticity is a conceptualisation of
elusive, inadequately defined, other cultural, socially ordered genuineness' (Spooner
1986: 225 dalam Hilman). dari pemaparan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
otentisitas merupakan sebuah konsep yang terdalam dari sebuah keunikan yang dapat
dilihat tidak hanya dari segi budaya namun biasa ditelusuri dari pengalaman
perjalanan wisatawan.
Menurut Trilling (1972) Kata otentisitas berasal dari konteks museum dan
mengacu pada objek yang mereka klaim otentik. Menurut Ashworth and Tunbridge
(1990:23) Sesuai dengan anggapan bahwa keaslian berasal dari objek yang
dilestarikan, dan jelaskan bahwa suatu benda dapat dianggap otentik karena "estetika
intrinsiknya atau kualitas historis ". Namun, banyak yang berpendapat bahwa gagasan
adanya yang ketat dan serangkaian tindakan 'otentik' yang obyektif yang tidak
realistis, dan oleh karena itu, sebuah konsep yang lebih fleksibel harus diadopsi.
Cohen juga berpendapat masa sekarang menganggap keaslian sebagai konsep yang
dibangun secara sosial, dimana kriteria untuk otentik bersifat subyektif dan berbeda
21
untuk setiap pengunjung individual, dan inilah posisi yang diadopsi dalam hal ini studi
sekarang (cahyadi 2015: 4) Selain itu Cohen berpendapat;
“some tourists perceive the inauthenticity of their settings. The elaboration of the
authenticity concept offered in this paper highlights the need to define authenticity of
both actors and their settings when appraising a tourist scene. Cohen's emphasis on
tourists' ability to perceive authenticity and inauthen ticity is included as an important
element in the framework outlined. Accurate and inaccurate perceptions of authenticity,
it was argued, need to be considered, together with tourists' preference levels for
authenticity, in order to explain tourist satisfaction. Some research possibilities
generated by this framework included the study of tourist satisfaction, and the social
status and identity con cerns inherent in tourists' social behaviour.” (Pearce:1986).
Menurut Pitana, Konsep keaslian ”autenthic”itu sendiri adalah sesuatu yang sangat
problematic. Ada beberapa permasalahan yang sangat mendasardalam membicarakan
keaslian ini. Pada umumnya citra yang terbayangkan adalah adanya masyarakat yang
dicirikan oleh keadaan yang alami, primitif, dan eksotik. Kenyataannya, tidak ada suatu
kebudayaan pun yang sepenuhnya statis, yang tidak berubah dalam denyut waktu.
Semua masyarakat dan kebudayaannya selalu berubah, walau dengan laju perubahan
yang berbeda. (pitana, 2005:145)
Pendapat lain menurut pitana pendefinisian terhadap suatu “keaslian”. Pada
penelitian di Bali (pitana, 1996) menunjukkan bahwa wisatawan memberikan
penekanan yang sangat bervariasi tentang makna “keaslian” tersebut. Hal ini sejalan
dengan teori yang dikembangkan oleh ahli pariwisata Erik Cohen (1988) yang
mengatakan bahwa keaslian adalah suatu yang negotiable, karena keaslian adalah suatu
konsep yang merupakan hasil konstruksi sosial, dan sangat kontekstual, terlebih lagi
dalam kaitanya dengan pariwisata, keaslian bukanlah suatu yang stastis karena
wisatawan sendiri bukanlah konsumer pasif, melainkan konsumer aktif yang turut
menentukan tingkat keaslian sesuatu masyarakat atau hasil kebudayaan.
22
Menurut Asworth (1994) mengemukakan, masalah otentsitas yang dirasakan tidak
berasal dari apapun perbedaan antara produk warisan yang ditafsirkan dan beberapa
kebenaran historis ... perbedaan, dan masalahnya, terletak pada versi keaslian yang
berbeda seperti yang idefinisikan. oleh pelanggan yang berbeda ". Setiap pengunjung
individu mengotentikasi sumber daya untuk dirinya atau dirinya sendiri. Hal ini
menunjukkan fakta bahwa pengunjung mungkin tidak mencari jenis pengalaman yang
sama, bahkan kapan pun mereka mengunjungi tempat yang sama (cahyadi 2015: 4).
Trinlling (1972) Menjelaskan "Kata keaslian terdengaar begitu mudah akhir-akhir
ini dan dalam begitu banyak hubungan yang mungkin berbeda dengan definisi itu
sendiri". Namun, Literatur yang relevan yang mengkonseptualisasikan keaslian dapat
ditempatkan dalam tiga luas namun sering kategori yang tumpang tindih. Ini otentisitas
sebagai 'primitif', otentisitas sebagai 'konstruksi sosial' masyarakat modern, dan
otentisitas sebagai 'konstruksi sosial' atau 'negosiasi konstruksi'. (cahyadi 2015: 4).
1. Otentisitaas sebagai sesuatu yang primitif
Menurut Cornet (1972) asal mula 'otentik' di museum, kurator dan Ahli etnografi
cenderung memandang keaslian sebagai kualitas pra-modern atau pra-industri
kehidupan, dan produk budaya yang dihasilkan sebelum pengaruh barat modern
berpengalaman. Banyak penulis juga menekankan tidak adanya komodifikasi dalam
hubungan pasar sebagai pertimbangan penting dalam menilai keaslian, dinyatakan
otentik sebagai "benda apapun yang dibuat untuk tujuan tradisional dan oleh
seniman tradisional aapa bila sesuai dengan bentuk tradisional ". Cornet juga
berpendapat bahwa, agar bisa dianggap otentik, produk tidak boleh diproduksi
untuk pasar selain itu Cohen (1988) berpendapat bahwa turis modern dalam
pencarian Keasliannya terlihat murni, primitif dan natural. Yang terpenting, turis
modern mencari yang tidak terpengaruh oleh modernitas, dan bisa dipandang
primitif. Karakteristik masyarakat primitif atau pra-modern terletak pada tidak
adanya industrialisasi, seperti produksi massal dan teknologi seperti komunikasi
massa melalui televisi, radio dan komunikasi satelit baru-baru ini. Dalam
pengertian inilah yang "Primitif" sering dianggap asli.
23
2. Otentisitas sebagai sebuah konstruksi sosial
Otentik dapat dianggap sebagai nilai modern yang sangat tinggi (Trilling 1972;
Berger, 1973), yang kemunculannya erat kaitannya dengan dampak modernitas
pada keberadaan sosial. Artinya, sebuah objek hanya asli jika dibuat tanpa bantuan
bahan modern, peralatan atau mesin. Konsep ini bisa dikatakan tidak hanya benda
fisik tetapi juga masyarakat akan kehilangan keasliannya karena telah disesuaikan,
dipengaruhi, diubah atau terkontaminasi oleh dunia modern dan barat. Jadi
keasliannya sering terjadi dianggap berasal dari budaya tradisional, ini
menunjukkan rasa asli nyata atau unik. Sharpley (1994) mengamati bahwa dalam
pariwisata kata asli sering digunakan untuk dijelaskan produk atau karya seni,
masakan, pakaian, bahasa, festival, ritual, arsitektur-sebenarnya, segala sesuatu
yang terdiri dari budaya masyarakat. Apalagi di dalam pariwisata, itu juga biasa
menggambarkan berbagai jenis perjalanan, perjalanan bahkan liburan Yang
penting, konseep keasliaan sering digunakan untuk membedakan antara wisata
spesialis atau niche-market tourism dan produk pariwisata massal, yang
menyiratkan bahwa pariwisata massal entah bisa bersifat tidak autentik. Hal ini
dapat dikaitkan dengan deskripsi Cornet (1975) tentang keaslian yang menekankan
pada tidak adanya modernitas Implikasinya adalah pariwisata massal itu sengaja
diproduksi hususnya untuk pasar massal dengan volume tinggi.
3. Otentisitas sebagai 'konstruksi sosial' atau 'negosiasi konstruksi'
Cohen (1988: 383) otentisitas merupakan konsep pembangunan sosial yang dapat
dinegosiasikan, bukan sekadar membangun mengacu pada benda yang diproduksi
dengan menggunakan teknik primitif dan pra-modern. Cohen (1988: 383)
menyatakan bahwa keaslian adalah konstruksi sosial yang dinegosiasikan berulang
- ulang, oleh individu, jenis wisatawan, dan intelektual yang berbeda. Getz (1994:
319) mendukung argumen ini saat mengkonseptualisasikan keaslian sebagai alat
untuk mengukur persepsi wisatawan dan menunjukkan bahwa wisatawan tersebut
puas atau kecewa dengan dengan wisata yang dikunjungi. Dengan kata lain,
24
keasliannya harus dinilai dari sudut pandang individu wisatawan dan akan menjadi
unik bagi turis tersebut.
Pendapat lain tentang otentisitas menurut Derre Jenis turis sekarang telah berubah.
Pada awal tahun 2000-an orang lebih memilih untuk bepergian dalam kelompok. Tapi
sekarang mereka lebih suka bepergian sendiri atau dalam kelompok kecil. Pelancong
tunggal berpikir bahwa mereka dapat mengatur apapun dengan cara mereka sendiri dan
melakukan perjalanan secara fleksibel. Tujuan perjalanan di era ini juga berubah. Di
masa lalu orang melakukan perjalanan untuk melihat tempat-tempat yang menarik tapi
sekarang mereka pergi ke suatu tempat untuk mencari keasliannya. Keaslian berarti
sesuatu yang unik yang hanya bisa ditemukan di satu tempat. Misalnya, orang bepergian
ke suatu tempat untuk mencoba makanan otentik mereka yang bisa berada di daerah
terpencil. Kegiatan ini kebanyakan tidak bisa dilakukan jika orang bepergian dalam
kelompok di bawah travel guide.
Lagipula, wisatawan indipidual yang mencari keaslian membutuhkan akomodasi
bergaya baru seperti asrama. Di asrama mereka dapat berbagi pengalaman mereka yang
mengasyikkan dengan sesama pelancong dan ini dapat mendukung keingintahuan
mereka akan keaslian. Hostel adalah akomodasi yang paling dicari bagi wisatawan
perorangan atau kebanyakan disebut backpacker. Perjalanan adalah gaya hidup, menjadi
perlu bahkan wajib bagi semua orang. Mereka perlu menyegarkan pikiran mereka
dengan bepergian dan menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang otentik. (Derre;
2010)
Menurut Weisse anggapan otentik itu rumit Keaslian gastronomi adalah konsep
"lunak", biasanya mengacu pada kesesuaian untuk menghubungkan ramuan, teknik atau
resep khusus, atau hubungan antara piring atau antara anggur dan piring, ke waktu dan
tempat tertentu. Pertanyaannya adalah, apakah polemik seperti itu ditakdirkan
membekukan bahasa dan resep pada waktunya atau untuk menciptakan kemungkinan
baru. Apa yang akan merupakan hidangan asli? Lingkup leksikal dari istilah ini bersifat
menghakimi dan deskriptif, Penggunaan yang dapat diterima dapat dijelaskan dalam
25
pengertian konsep spesifik spesifisitas lokasi, dimana resep terkait erat dengan tempat,
waktu, budaya.
1. Keaslian yang terdapat pada ex post facto: Ini (keaslian) Ini bukan indikasi asal
usul, tapi juga konfigurasi nilai budaya.
2. Keaslian adalah sosok yang tidak jelas: Batas kemungkinan hidangan otentik
adalah seperangkat varian resep - terus direvisi, terus bergeser-didistribusikan di atas
wilayah geografis yang terbatas.
3. Keaslian adalah sosok dialogis: rasanya bukan apa-apa jika tidak diperdebatkan,
polemik, dialogis.
4. Keaslian adalah gagasan dinamis: ... hidangan hanya ada dalam konteks semua
variannya dari waktu dan tempat. Ini menunjukkan setiap hidangan masuk akal dalam
beberapa cara yang berbeda, beragam dirasakan dalam konteks pribadi, lokal, regional,
nasional, dan global. (Weisse; 2011)
Sedangkan apa yang ditemukan Bruner adalah empat definisi atau konteks untuk
istilah otentisitas, 'berdasarkan pada verisimilitude yaitu sesuatu yang kokoh pada
kenyataannya, keaslian, orisinalitas, dan otoritas. Konsep Keaslian disini dikaarena
peserta menggunakannya, lebih sering menunjukkan perkiraan dari yang asli. Sampai
pada tingkat dimana rumah-rumah terlihat tua dan lapuk, mereka lebih dapat dipercaya
oleh pengunjung [verisimilitude] tapi reproduksinya kurang akurat pada tahun 1830-an
(keaslian). Dalam konteks pameran benda apapun, sebuah konsep keaslian mendekati
yang asli semaksimal mungkin, keaslian yang tercapai (Hart: 2007: 107)
Menurut Alan Jonhson membayangkan keaslian diciptakan oleh seniman yang terkait
dengan orang lokal ... seseorang dikenal sebagai orang yang" lebih asli ", meskipun
identitas ini dan memang" keaslian "yang ditemukan jauh lebih banyak yang harus
dilakukan ... daripada apa yang bisa ditemukan (Johnson: 2007: 402) Berdasarkan
beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan Otentisitas adalah sebuah konsep
terdalam dari sebuah keunikan yang dapat dilihat tidak hanya dari segi kebudayaan yang
selalu berubah namun makna keaslian atau otentik tersebut bisa ditelusuri dari
pengalaman perjalanan wisatawan karena wisatawan tersebut merupakan consumer
26
aktif, pengalaman setiap wisatawan pun berbeda-beda untuk memahami sebuah
keunikan atau keaslian dari sebuah objek atau atraksi wisata. Pemahaman otentisitas
tersebuat didapat dari studi kepuasan wisatawan dari pengalaman wisatawan tersebut,
dan status sosial dan identitas yang melekat pada perilaku sosial wisatawan.
27
2.4 Kerangka Berpikir
Pariwisata
Bali
Pariwisata Minat
Khusus
Yoga
dalam Pariwisata
Bali
Kesimpulan
Rekomendasi
28
Kejenuhan dari para wisatawan yang datang ke Bali berdampak positif dengan
lahirnya wisata minat khusus seperti dalam prinsip-prinsip wisata minta khusus diatas (1)
Motivasi mencari sesuatu yang baru, (2) Kepuasan dalam melakukan sesuatu, (3) Mencari
pengalaman baru.
Di Indonesia sendiri yoga menjadi sebuah tren di kalangan masyarakat dari
kalangan selebritis maupun kalangan masyrakat [Link] menjadi salah satu
selebritis Indonesia yang menekuni yoga hingga menjadi seornagt instruktur yoga seperti
yang di paparkan dalam [Link]
selain itu di bali pun banyak bermunculan tempat untuk berlatih yoga dan beberapa
festival yoga yang di dukung pemerintah setempat untuk menarik wisatawan. Tidak kalah
dengan yoga Spa pun mulai menjadi tren dengan ditunjukakan banyaknya pelatihan spa
yang ada serta bnyak nya spa-spa baru yang mulai bermunculan. Di Bali sendiri Spa dan
Yoga menjadi sebuah satu kesatuan paket yang mulai bnyak ditawarkan kepada wisatawan
dengan minat khusus, seperti contohnya di Om Ham Retret dan Yoga Barn ini menawarkan
sebuah paket menginap beserta atraksi wisata yoga yang dapat dilakukan oleh wisatawan
tersebut dan tak lupa termasuk di dalamnya paket untuk menikmati perawatan spa yang
ada di resort tersebut.
Penelitian ini akan meneliti dari kedua resort yang disampaikan di atas
menawarkan sebuah paket wisata bagi wisataan yang tertarik dengan atraksi wisata minat
khusus yaitu Yoga. Dari sana peneliti ingi menggali lebih dalam tentang otentisitas dari
Yoga yang ditawarkan oleh kedua resort tersebut yang ditinjau dari healer lokal dan asing
serta wisatawan yang ikut dalam kegiatan yoga.
29
BAB III
METODE PENELITIAN
30
analisis data dilakukan secara simultan untuk menjawab bagaimanan bentuk dan cirri
aktivitas yoga yang otentik / orisinal itu menurut wisatawan dan faktor yang menjadikan
yoga sebagai atraksi wisata minat khusus.
31
Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yakni sumber data primer dan
sekunder, sumber data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian,
yaitu melalui proses wawancara dengan informan seperti, pihak Manajemen Hotel, pelaku
yoga yakni healer atau instruktur yoga yang ada di Om Ham Resort dan Yoga Barn, dan
wisatawan yang mengikuti yoga. Data yang diambil meliputi informasi dan keterangan
mengenai bentuk, fungsi, dan makna yoga, otentisitas yoga menurut ajaran Hindu dan
menurut wisatawan, penyebab yoga dijadikan atraksi wisata minaat khusus di Ubud Bali
yang ke semua data tersebut bersumber dari hasil wawancara dan observasi. Selain itu data
primer lainnya berupa peneliti ikut langsung di dalam kelas yoga bersama wisatawan.
Sumber data sekunder dalam penelitian ini adalah data berupa dokumen atau sumber-
sumber tertulis seperti brosur/iklan dan informasi dari website hotel tersebut yang
berkaitan dengan yoga, sedangkan data sekunder diperlukan sebagai penunjang data
primer.
32
ada di Om Ham Resort. Selanjutnya dalam penentuan informan dalam penelitian ini,
dilakukan dengan cara mengelompokkan informan menjadi dua, yaitu informan kunci dan
informan biasa. Perbedaan informan kunci dan informan biasa adalah jika informan kunci
merupakan orang yang memberi data serta informasi secara mendetail, komprehensip dan
mempunyai pengetahuan serta pemahaman tentang masalah yang diteliti sedangkan
informan biasa adalah orang yang dapat memberikan informasi tambahan mengenai objek
yang diteliti (Endraswara, 2006:115).
Informan kunci dalam penelitian ini, yaitu Healer atau instruktur yoga di Om Ham
Resort dan Yoga Barn Ubud Bali. Sedangkan informan biasa dalam penelitian ini adalah
orang-orang yang terlibat langsung dalam pelaksanaan yoga yakni wisatawan yang ikut
dalam aktivitas yoga tersebut serta para pemegang kebijkan daerah seperti Dinas
Pariwisata, dan diharapkan mampu memberikan informasi yang seluas-luasnya sesuai
dengan permasalahan yang diteliti.
33
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Khuta Ratna, Teknik pengumpulan data adalah suatu cara yang digunakan
untuk mendapatkan data tertentu dengan menggunakan teknik tertentu. Data yang
dikumpulkan dihimpun secara sistematis dan terencana, agar tujuan tercapai dengan baik
(2010:48). Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah : (1)
teknik observasi, (2) teknik wawancara, dan (3) studi dokumen.
3.7.1 Teknik Observasi
Metode dan teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi atau
pengamatan, sesungguhnya metode observasi adalah metode pengumpulan data yang
digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui pengamatan dan pengindraan
(Burhan, 2006:142).Sehubungan dengan hal tersebut, maka peneliti terjun ke lokasi
tepatnya di Om Ham Resort dan Yoga Barn Ubud Bali. Hal ini dilakukan agar peneliti
dapat membaur dengan masyarakat setempat dan dapat melakukan perekaman secara
mendalam terhadap beberapa fenomena otentisitas dan orisinalitas yoga. Melalui
observasi tersebut, diperoleh data awal yang meyakinkan penulis untuk melanjutkan
penelitian ini.
Beberapa langkah lainnya dalam observasi yang digunakan untuk mendapatkan
data penelitian ini adalah mencermati otentisitas dan orisinalitas yoga yang ada di
Ubud Bali. Cara yang dibutuhkan ialah persiapan khusus sebelum memilih strategi
yang sesuai, yakni melihat dan memahami berbagai dimensi yang terkait pada
otentisitas yoga yang ada di Ubud Bali antara lain aspek visual dan konseptual yang
nantinya menetapkan rumusan permasalahan untuk menentukan pengambilan
[Link] melakukan observasi, diperlukan alat tulis untuk mencatatan secara
manual dan elektronik untuk merekam data secara akurat.
34
sesuai dengan status dan peran mereka masing-masing , yaitu pencari informasi
(interviewer) dengan sumber Informasi (interviewee) (Zuriah 2009:179).
Dalam penelitian ini, wawancara dilakukan secara mendalam untuk
mendapatkan informasi secara langsung dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan
kepada [Link] dalam wawancara tersebut, digunakan pedoman wawancara
dengan beberapa pertanyaan yang mengarah kepada masalah-masalah yang ingin
[Link] dilakukan dengan beberapa informan yang dirancang oleh
peneliti dengan pertimbangan-pertimbangan atau tujuan tertentu. Ada sejumlah
informan untuk diwawancarai, dan syarat-syarat informan adalah sebagai berikut. (1)
Orang yang menguasai masalah yang berkaitan dengan penelitian ini. (2) Orang yang
mudah ditemui dan dihubungi dan bersedia sebagai informan. Dalam kaitannya
dengan penelitian ini wawancara dilakukan kepada Bapak Ketut Arsana sebagai
healer atau instruktur yoga di Om Ham Retret dan beberapa healer di Yoga Barn,
danwisatawan yang melakukan yoga di keduat tempat tersebut. Untuk menghindari
kerancuan data, maka saat wawancara dilakukan pencatatan secara manual dan
melakukan perekaman dengan tape recorder.
3.7.3 Studi Dokumen.
Teknik pengumpulan data selanjutnya yang dilakukan adalah studi
[Link] yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu; (1) Dokumen berupa
penelitian yang berkaitan dengan Yoga atau spiritual tourism di Bali, (2) Dokumen
berupa arsip-arsip pemerintah melalui Dinas Pariwisata terkait dengan kebijakan
wisata minat khusus di Indonesia, dan (3) Dokumen tambahan seperti brosur dan paket
wisata.
35
diolah, dianalisis dan diuraikan. Metode yang digunakan untuk mendapatkan fakta
yang akan dipertanggung jawabkan sebagai kajian penelitian, disusun, dan dijelaskan
kemudian akan disesuaikan dengan data-data yang didapatkan dari hasil diskusi dan
dokumentasi serta data yang dihasilkan dari sumber-sumber lain berupa teori. Peneliti
sudah menemukan setiap jawaban dari setiap rumusan masalah yang dibuat pada tahap
[Link] ilustrasi dalam analisis data model interaktif yang dibuat oleh Miles dan
Hubberman.
Ilustrasi 1.1 Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif menurut Miles dan
Huberman (1992: 20)
36
Setelah data yang disajikan selasai, akan dilakukan teknik triangulasi data
digunakan untuk mendapatkan keabsahan data dalam penarikan kesimpulan/
verivikasi. Djamal (2015) membagi triangulasi menjadi dua frasa yaitu tri yang berarti
tiga dan angulasi dari kata angle yang berarti sudut pandang. Dari penjabaran yang
disampaikan oleh Djamal tersebut, triangulasi dapat diartikan sebagai cara
mengkonfirmasi atau memverivikasi data sebuah penelitian lewat 3 sudut pandang. 3
sudut pandang tersebut adalah para ahli, narasumber, dan buku teori. Oleh karenan itu,
peneliti akan melakukan verivikasi data dengan ahli pariwisata, informan inti, dan
teori pada penelitian ini.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengolahan data tersebut antara lain
sebagai berikut:
1. Mengumpulkan dan mengidentifikasi data dari hasil observasi, wawancara dan
studi pustaka tentang atraksi wisata minat khusus Yoga di Bali
2. Mengkalsifikasikan bentuk yoga yang ada di Om Ham Retret dan Yoga
Barnberdasarkan ajaran hindu, kebudayaan bali serta industri pariwisata.
3. Menganalisis otentisitas bentuk yoga yang ada di Om Ham Retret dan Yoga
Barnberdasarkan ajaran hindu, healer asing dan healer lokal.
4. Menyimpulkan hasil penelitian terhadap otentisitas bentuk yoga yang ada di Om
Ham Retret dan Yoga Barn berdasarkan ajaran hindu, healer asing dan healer
lokal serta pengalaman wisatawan
5. Mendeskripsikan hasil penelitian yang telah mengalami proses pengolahan
sehingga bisa disebut sebuah kesimpulan dan disampaikan dalam bentuk tulisan.
37
DAFTAR PUSTAKA
Aditya, I Wayan Putra. 2016. “Studi Eksplorasi Pariwisata Spiritual di Sentra Pariwisata
Ubud, Gianyar”. Jurnal IPTA Vol. 4 No.1 Th. 2016 Fakultas Pariwisata
Universitas Udayana.
D. Chhabra, dkk, 2003. “Staged authenticity and heritage tourism,” Ann. Tour. Res., vol.
30, no. 3, pp. 702–719.
G. Brown. 2006. “Mapping Landscape Values and,” Tourism, vol. 113, no. November
2012, pp. 101–113.
Harmon, Gita. 2012. “Kajian Potensi Gua Sebagai Arahan Wisata Minat Khusus
Penelusuran Gua di Pulau Nusakambangan” Jurnal Bumi Indonesia Vol. 1 No. Th.
2012 Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada
J. Bryon and L. Derre. 2010. “The Relationship between Authenticity and the Tourist
Experience - Case Study: Budget Travellers in Bruges,” pp. 1–10.
Jumarani, Louise. 2009. “The Essence of Indonesian Spa” Spa Indonesia Gaya Jawa dan
Bali. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Kaufmann, Rudi, dkk. 2011. “Nicosia - Concerted Retailing And Tourism Strategies To
Awaken A Neglected And Sleeping Beauty”. University of Nicosia
38
Koentjaraningrat.1994. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
L. Hart. 2007. “Authentic recreation : living history and leisure,” Museum Soc., vol. 5, no.
July, pp. 103–124.
Oktara, Leny.2005. Kajian Perwatakan Tokoh Utama dalam Roman Le Dernier Jour d‟un
Comdamné Karya Victor Hugo. Skripsi UPI. Tidak diterbitkan
Pearce, Philip L. 1986. “The Concept of Authenticity in Tourist Experiences” Sage Journals
Vol. 22 Issue 1 Th. 1986
Pitana, I Gde, dkk. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: CV Andi Offset
R. Sims. 2009. “Food, place and authenticity: Local food and the sustainable tourism
experience,” J. Sustain. Tour., vol. 17, no. 3, pp. 321–336.
Spillane, James,S.J. 1997. “Wisata Minat Khusus Sebagai Sektor Andalan dalam
Pariwisata Indonesia: Ekoturism dan Wisata Bahari”. Makalah Seminar Nasional
Gegama, 8 September di Yogyakarta.
Sutarya, I Gede. 2016. “Spiritual Healing Dalam Pariwisata Bali: Analisis Tentang
Keunikan, Pengembangan, Dan Kontribusinya Dalam Pariwisata” (desertasi).
Denpasar: Universitas Udayana
39
W. Hillman. 2007. “Revisiting the concept of (objective) authenticity,” Public Sociol.
Lessons Trans-Tasman.
Y, Ram, dkk. 2016. “Authenticity and place attachment of major visitor attractions,” Tour.
Manag., vol. 52, pp. 110–122.
Zuriah, Nurul.2009. Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori – Aplikasi: Jakarta
: PT. Bumi Aksara.
[Link]
instruktur-yoga-sejak-2013 diakses 6 april 2017
[Link]
yogadiakses pada tanggal 12 jan 2017 jam 17.30
[Link]
[Link] diakses pada tanggal 17 april 2017 jam 08.05
40