Program PMKP RSUD Bitung 2023
Program PMKP RSUD Bitung 2023
BAB I
PENDAHULUAN
Upaya meningkatkan mutu pelayanan dan upaya meningkatkan keselamatan pasien di rumah sakit
sudah merupakan suatu gerakan universal. Di Negara maju telah menggeser paradigma quality ke arah
paradigma baru quality-safety. Ini berarti bukan hanya mutu pelayanan yang harus ditingkatkan tapi juga
harus menjaga keselamatan pasien secara konsisten dan terus menerus.
Pelayanan yang berkualitas merupakan cerminan dari suatu proses yang berkesinambungan
dengan berorientasi pada hasil yang memuaskan. Saat ini perkembangan masyrakat yang semakin kritis
mengharuskan mutu pelayanan rumah sakit tidak hanya disorot dari aspek klinis medisnya saja namun
juga dari aspek keselamatan pasien dan aspek pemberian pelayanannya. Tujuan keselamatan pasien di
rumah sakit adalah mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan
suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Sejalan dengan visi, misi dan moto Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bitung, maka program
peningkatan mutu dan keselamatan pasien harus disusun secara objektif dan sistematik untuk
memantau dan menilai mutu serta kewajaran asuhan terhadap pasien, mengurangi risiko Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD) sehingga mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit dapat ditingkatkan dan
kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit dapat ditingkatkan. Upaya untuk mengurangi
risiko terhadap pasien dan staf dilakukan secara terus menerus. Risiko dapat muncul dalam proses klinis
maupun lingkungan fisik rumah sakit.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB II
LATAR BELAKANG
Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, padat pakar, padat
modal. Kompleksitas ini terjadi karena pelayanan di rumah sakit menyangkut berbagai fungsi pelayanan,
pendidikan dan penelitian, serta mencakup berbagai tingkatan maupun jenis disiplin. Rumah sakit harus
memiliki sumber daya manusia yang profesional baik dibidang teknik medis maupun administrasi
kesehatan.
Upaya peningkatkan mutu dan keselamatan pasien rumah sakit harus dapat menilai diri (self
assesment) dan memberikan pelayanan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Oleh karena
itu, rumah sakit harus mempunyai suatu ukuran yang menjamin peningkatan mutu dan keselamatan
pasien.
Peningkatan mutu merupakan prioritas utama di semua rumah sakit. Upaya tersebut dilaksanakan
melalui pembangunan sarana, prasarana, pengadaan peralatan dan ketenagaan serta perangkat lunak
lainnya, sejalan dengan pembangunan rumah sakit pada umumnya. Namun demikian, disadari pula
masih banyak kendala yang dihadapi, terutama yang berkaitan dengan standar kebutuhan dan tuntutan
sistem pelayanan yang masih belum selaras dengan perkembangan dunia kedokteran dan kesehatan
yang semakin pesat.
Semakin meningkatnya pendidikan dan keadaan sosial ekonomi masyarakat maka sistem nilai dan
orientasi dalam masyarakatpun mulai berubah, masyarakat mulai cenderung menuntut pelayanan umum
yang lebih baik, lebih ramah dan lebih bermutu termasuk pula pelayanan kesehatan. Dengan semakin
meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan tadi maka fungsi pelayanan kesehatan
termasuk pelayanan dalam rumah sakit secara bertahap perlu terus ditingkatkan agar menjadi lebih
efektif dan efisien serta memberi kepuasan terhadap pasien, keluarga maupun masyarakat.
Upaya peningkatan mutu Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bitung tercapai seperti yang
diharapkan maka dirasa perlu disusun program upaya peningkatan mutu rumah sakit yang merupakan
konsep dan prinsip peningkatan mutu rumah sakit. Program ini diharapkan dapat sebagai acuan bagi
rumah sakit dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu pelayanan RSUD Bitung.
Program peningkatan mutu pelayanan kesehatan adalah program yang berkelanjutan yang disusun
secara objektif dan sistematik untuk memantau dan mengevaluasi kualitas pelayanan kesehatan.
Program peningkatan mutu dan keselamatan pasien RSUD Bitung menetapkan indikator rumah sakit
yang sesuai dengan standar Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien dari akreditasi Pelayanan
KARS Versi 2012 dan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Tahun 2013. Indikator
kunci yang ditetapkan oleh RSUD Bitung diantaranya berdasarkan pada indikator mutu yang ada di
masing-masing unit dan skoring high risk, high volume dan problem prone.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB III
TUJUAN
A. TUJUAN UMUM
- Memberikan pelayanan kepada pasien yang memenuhi standar pelayanan, keselamatan pasien,
dan memberikan kepuasan kepada pasien.
- Meningkatkan mutu terus-menerus secara keseluruhan.
B. TUJUAN KHUSUS
Dipilih dan ditetapkan indikator mutu di area klinis, area manajerial, area sasaran keselamatan
pasien, dan indikator International Library of Measures
Dipilih dan ditetapkannya 5 area prioritas
Dilakukannya validasi data
Dilakukannya benchmark
Dilakukannya publikasi data (internal dan eksternal)
Diselenggarakannya manajemen resiko
Dimonitornya kejadian tidak diharapkan, sentinel events dan near miss
Dimonitornya indikator dan kegiatan pencegahan dan pengendalian infeksi
Dianalisisnya secara periodik indikator mutu di area klinis, manajerial, keselamatan pasien,
kejadian tidak diharapkan, 5 area prioritas, dan International Library of Measures periode tahun
2016-2017 di tiap-tiap unit perawatan dan bagian, dengan membandingkan hasil pencapaian
dengan standar atau target yang telah ditetapkan.
Dilaporkannya kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit secara periodik
kepada Direkturdan Satuan Pengawas Internal.
Diterimanya rekomendasi rencana kegiatan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah
Sakit secara periodik dari Direktur dan Satuan Pengawas Internal.
Dimonitornya dan dievaluasinya pelaksanaan kontrak kerjasama
Dimonitornya dan dievaluasinya penilaian kinerja
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB IV
KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
A. KEGIATAN POKOK
I. Penentuan prioritas
II. Pemilihan indikator mutu
III. Pemantauan Indikator mutu
IV. Pemantauan 5 area prioritas
V. Pemantauan Program Keselamatan Pasien
VI. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
VII. Pendidikan Staf
VIII. Penilaian Kinerja
IX. Evaluasi kontrak dan perjanjian lainnya
X. Pencatatan dan Pelaporan
B. RINCIAN KEGIATAN
I. Penentuan prioritas
Penentuan prioritas masalah dilakukan dengan tujuan untuk menentukan masalah apa yang
akan diprioritaskan untuk segera ditangani. Masalah yang telah dipilih kemudian dibuatkan indikator
untuk memudahkan memantau dan mengukur perubahan sesuai dengan yang diharapkan/
ditargetkan. Pemantauan harus dilakukan pada area klinis, manajerial, dan area sasaran
keselamatan pasien serta terhadap indikator International Library of Measures. Pemantauan
terhadap indikator-indikator ini dilakukan untuk periode setahun dan akan dievaluasi pada tahun
berikutnya.
a. Penyusunan program upaya peningkatan mutu oleh setiap unit/ instalasi
Kegiatan dilakukan di tingkat unit/instalasi dimana setiap unit/ instalasi membuat program
mengenai upaya peningkatan mutu.
b. Penentuan prioritas RSUD Bitung
Penentuan prioritas dilakukan oleh Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien bersama
Manajemen dan unit/ bagian terkait.
Prioritas ditentukan berdasarkan metode skoring dengan menggunakan nilai dan bobot. Nilai
ditentukan dengan rentang nilai 1-5, sedangkan bobot ditentukan berdasarkan :
High volume
High risk
Problem Prone
Hasil penentuan prioritas masalah di tingkat unit/bagian akan dikaji berdasarkan matriks skoring.
Metode skor yang digunakan menggunakan rumus :
b. Indikator Manajemen
Masing-masing area manajemen minimal ada satu (1) indikator, sehingga dalam area
manajemen ditentukan minimal ada sembilan (9) indikator manajemen yang akan dievaluasi.
AREA INDIKATOR
NO KODE STANDAR UNIT PELAYANAN
MANAJEMEN MANAJEMEN
1. Pengadaan rutin Ketersediaan obat di RS IAM.1.2 100 % Instalasi Farmasi
peralatan
kesehatan dan
obat yang penting
untuk memenuhi
kebutuhan pasien
2. Pelaporan Ketepatan waktu IM2.1 100 % Sub Bidang
aktivitas yang penyampaian keuangan Perencanaan dan
diwajibkan oleh sesuai Pedoman Keuangan
peraturan Akuntansi Rumah Sakit
perundang – (PARS)
undangan
3. Manajemen Kejadian pasien pulang IM3.3 0% Ruang rawat inap
Resiko APS
4. Manajemen Utilisasi ruang VIP IM4.3 100 % Ruang rawat inap
Penggunaan VIP
Sumberdaya
5. Harapan dan Tingkat kepuasan pasien IM5.1 ≥ 80 % Ruang rawat inap
kepuasan pasien terhadap perawat
dan keluarga
6. Harapan dan Tingkat kepuasan perawat IM6.3 ≥ 80 % Sub Bidang
kepuasan staf terhadap manajemen Kepegawaian,
Pendidikan dan
Pelatihan
7. Demografi pasien diagnosis pasien dengan IM7.2 100 % Sub Bidang
dan diagnosis klinis DHF Rekam Medis
klinis
8. Manajemen Cost recovery rate IM8.1 ≥ 70% Sub Bidang
Keuangan Perencanaan dan
Keuangan
9. Pencegahan dan Edukasi Hand Hygiene IM9.1 100 % Ruang rawat inap
pengendalian dari
kejadian yang
dapat
menimbulkan
masalah bagi
keselamatan
pasien, keluarga
pasien, dan staf
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
AREA SASARAN
INDIKATOR SASARAN
NO KESELAMATAN KODE STANDAR UNIT PELAYANAN
KESELAMATAN PASIEN
PASIEN
1. Ketepatan Persentase ISKP1 100 % IGD
identifikasi pelaksanaan prosedur Ruang Rawat
pasien identifikasi pada Inap
pemberian tranfusi
darah dan produk darah
2. Peningkatan Verifikasi pelap[oran ISKP2 100 % Ruang Rawat
komunikasi yang hasil kritis pemeriksaan Inap
efektif Laboratorium dengan
teknik READBACK dari
petugas rawat inap
kepada DPJP dan
ditandatangani dalam
24 jam
3. Peningkatan Persentase ISKP3 100 % Instalasi Farmasi
keamanan obat pemantauan
yang perlu penggunaan KCl 7,46%
diwaspadai yang diencerkan
4. Kepastian tepat Kelengkapan pengisian ISKP4 100 % Instalasi Bedah
lokasi, tepat format check list Sentral
prosedur, tepat keselamatan pasien
pasien operasi operasi
5. Pengurangan Persentase kepatuhan ISKP5 ≥ 80% Semua area klinis
infeksi terkait petugas kesehatan
pelayanan dalam melakukan
kesehatan kebersihan tangan
metode enam langkah
dan lima momen
6. Pengurangan Insiden pasien jatuh ISKP6 0% IGD
risiko pasien selama perawatan Ruang Rawat
jatuh rawat inap di rumah Inap
sakit
yang akan dievaluasi.
2. Stroke (STK) Pasien Stroke yang I-STK-10 100% Ruang rawat inap
diperiksa untuk
mendapatkan
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
pelayanan rehabilitasi
b. Monitoring Insiden Sentinel, Kejadian Tidak Diharapkan, dan Kejadian Nyaris Cedera
c. Root Cause Analysis (RCA)
Pembuatan RCA berdasarkan laporan insiden yang masuk ke Komite Peningkatan Mutu Dan
Keselamatan Pasien dengan grading risiko warna kuning dan merah.
d. Failure Mode Effect Analysis (FMEA)/Analisis Modus Kegagalan dan Dampak (AMKD)
FMEA merupakan proses proaktif, dimana kesalahan dapat dicegah dan diprediksi dan
mengantisipasi kesalahan sehingga meminimalkan dampak buruk. RSUD Bitung membuat
FMEA/ AMKD 1 tahun sekali.
BAB V
CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
Cara melaksanakan kegiatan adalah metode untuk melaksanakan kegiatan pokok dan rincian
kegiatan. Dalam melaksanakan program Tim PMKP agar dapat berjalan dengan lancar dan sinergis,
maka dilakukan antara lain :
I. Penentuan prioritas
Pemantauan harus dilakukan pada area klinis, manajemen, dan area sasaran keselamatan pasien,
serta indikator Internasional Library of Measure. Pemantauan terhadap indikator-indikator ini
dilakukan untuk periode setahun dan akan dievaluasi pada tahun berikutnya.
a. Penyusunan program upaya peningkatan mutu oleh setiap unit/ instalasi
- Kegiatan dilakukan di tingkat unit/ instalasi dimana setiap unit/ instalasi membuat program
mengenai upaya peningkatan mutu.
- Program unit dipresentasikan kepada Direktur dan Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan
Pasien untuk selanjutnya dibuat area prioritas untuk RSUD Bitung untuk satu tahun berjalan.
b. Penentuan prioritas RSUD Bitung
- Penentuan prioritas dilakukan oleh Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien bersama
Direktur dan unit/ bagian terkait.
- Hasil penentuan prioritas masalah di tingkat unit/ bagian akan dikaji berdasarkan matriks
skoring. Proses pemberian skor dilakukan oleh Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan
Pasien bersama direktur dan unit/ instalasi terkait.
- Dalam menentukan proses pemilihan penetapan indikator kunci kita menentukan skala
prioritas berdasarkan total skor tertinggi.
- Prioritas ditentukan berdasarkan nilai dan bobot.
Nilai ditentukan dengan rentang nilai 1-5.
Bobot ditentukan berdasarkan :
High risk
1. Tidak berisiko
2. Risiko ringan
3. Risiko sedang
4. Risiko tinggi
5. Risiko sangat tinggi
High risk dengan bobot 40
High volume
1. Tidak ada volume
2. Volume sedikit
3. Volume sedang
4. Volume banyak
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Problem Prone
1. Hampir tidak pernah terjadi
Dapat terjadi dalam lebih dari 5 tahun
2. Jarang
Dapat dalam 2-5 tahun
3. Kadang
Dapat terjadi tiap 1-2 tahun
4. Sering
Dapat terjadi dalam minggu atau bulan
5. Sangat sering dan pasti
Terjadi dalam minggu atau bulan
Problem Prone dengan bobot 25
Penentuan dengan metode skor menggunakan rumus :
UNIT
NO AREA KLINIS INDIKATOR KLINIS KODE STANDAR
PELAYANAN
1. Asesmen Pasien Asesmen awal medis IAK1.1 100% Ruang rawat inap
dalam 24 jam pada
pasien rawat inap
2. Pelayanan Waktu tunggu hasil IAK2.1 ≤ 140 menit Instalasi
Laboratorium pelayanan laboratorium kimia darah Laboratorium
& darah
rutin
3. Pelayanan Waktu tunggu hasil IAK3.1 ≤ 3 jam Instalasi Radiologi
radiologi pelayanan thoraks foto
4. Prosedur bedah Waktu tunggu operasi IAK4.1 ≤ 2x 24 jam Ruang rawat inap
elektif Kamar operasi
dan Kebidanan
5. Penggunaan Penulisan resep sesuai IAK5.2 ≥ 80% Instalasi Farmasi
antibiotik dan formularium
obat lainnya
6. Kesalahan Kesalahan Penulisan IAK6.1 0% Instalasi Farmasi
medikasi Resep (Prescription
(medication Errors)
error)dan
kejadian nyaris
cedera (KNC)
7. Penggunaan Pengkajian pre anestesi IAK7.1 100 % Instalasi Bedah
anestesi dan dilaksanakan untuk Sentral
sedasi pasien pra-operasi elektif
dengan anestesi umum
8. Penggunaan Kebutuhan darah bagi IAK8.1 100 % Bank Darah
darah dan produk setiap pelayanan tranfusi
darah
9. Ketersediaan, isi Kelengkapan pengisian IAK9.1 100 % Ruang rawat inap
dan penggunaan rekam medik 24 jam
rekam medis setelah selesai
pasien pelayanan rawat inap
10. Pencegahan dan Angka Phlebitis IAK10.5 5% Ruang rawat inap
pengendalian
infeksi,
surveilans dan
pelaporan
11. Riset klinis Penelitian dengan IAK11.3 ≥ 90% Sub Bidang
Informed Consent Kepegawaian,
Pendidikan dan
Pelatihan
b. Indikator Manajemen
Langkah penentuan indikator manjemen oleh Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan pasien :
1. Mengacu pada indikator yang ada di Standar Pelayanan Minimal RS tahun 2013.
2. Indikator manajemen dipilih berdasarkan salah satu indikator mutu unit dan juga
berdasarkan indikator standar pelayanan minimal rumah sakit tahun 2013 yang telah
melalui proses skoring di Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien dan memiliki
skor tertinggi.
3. Indikator yang sudah dipilih, ditetapkan oleh Direktur dan dilengkapi dengan profil/ kamus
indikator, formulir pencatatan harian, dan formulir untuk rekapitulasi data.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Masing-masing area manajemen minimal ada satu (1) indikator, sehingga dalam area
manajemen ditentukan minimal ada sembilan (9) indikator manajemen yang akan dievaluasi.
AREA INDIKATOR
NO KODE STANDAR UNIT PELAYANAN
MANAJEMEN MANAJEMEN
1. Pengadaan rutin Ketersediaan obat di RS IAM.1.2 100 % Instalasi Farmasi
peralatan
kesehatan dan
obat yang penting
untuk memenuhi
kebutuhan pasien
2. Pelaporan Ketepatan waktu IM2.1 100 % Sub Bidang
aktivitas yang penyampaian keuangan Perencanaan dan
diwajibkan oleh sesuai Pedoman Keuangan
peraturan Akuntansi Rumah Sakit
perundang – (PARS)
undangan
3. Manajemen Kejadian pasien pulang IM3.3 0% Ruang rawat inap
Resiko APS
4. Manajemen Utilisasi ruang VIP IM4.3 100 % Ruang rawat inap
Penggunaan VIP
Sumberdaya
5. Harapan dan Tingkat kepuasan pasien IM5.1 ≥ 80 % Ruang rawat inap
kepuasan pasien terhadap perawat
dan keluarga
6. Harapan dan Tingkat kepuasan perawat IM6.3 ≥ 80 % Sub Bidang
kepuasan staf terhadap manajemen Kepegawaian,
Pendidikan dan
Pelatihan
7. Demografi pasien diagnosis pasien dengan IM7.2 100 % Sub Bidang
dan diagnosis klinis DHF Rekam Medis
klinis
8. Manajemen Cost recovery rate IM8.1 ≥ 70% Sub Bidang
Keuangan Perencanaan dan
Keuangan
9. Pencegahan dan Edukasi Hand Hygiene IM9.1 100 % Ruang rawat inap
pengendalian dari
kejadian yang
dapat
menimbulkan
masalah bagi
keselamatan
pasien, keluarga
pasien, dan staf
Masing-masing area sasaran keselamatan pasien minimal ada satu (1) indikator, sehingga
dalam area sasaran keselamatan pasien terdapat enam (6) indikator sasaran keselamatan
pasien yang akan dievaluasi.
AREA SASARAN
INDIKATOR SASARAN
NO KESELAMATAN KODE STANDAR UNIT PELAYANAN
KESELAMATAN PASIEN
PASIEN
1. Ketepatan Persentase ISKP1 100 % IGD
identifikasi pelaksanaan prosedur Ruang Rawat
pasien identifikasi pada Inap
pemberian tranfusi
darah dan produk darah
2. Peningkatan Verifikasi pelap[oran ISKP2 100 % Ruang Rawat
komunikasi yang hasil kritis pemeriksaan Inap
efektif Laboratorium dengan
teknik READBACK dari
petugas rawat inap
kepada DPJP dan
ditandatangani dalam
24 jam
3. Peningkatan Persentase ISKP3 100 % Instalasi Farmasi
keamanan obat pemantauan
yang perlu penggunaan KCl 7,46%
diwaspadai yang diencerkan
4. Kepastian tepat Kelengkapan pengisian ISKP4 100 % Instalasi Bedah
lokasi, tepat format check list Sentral
prosedur, tepat keselamatan pasien
pasien operasi operasi
5. Pengurangan Persentase kepatuhan ISKP5 ≥ 80% Semua area klinis
infeksi terkait petugas kesehatan
pelayanan dalam melakukan
kesehatan kebersihan tangan
metode enam langkah
dan lima momen
6. Pengurangan Insiden pasien jatuh ISKP6 0% IGD
risiko pasien selama perawatan Ruang Rawat
jatuh rawat inap di rumah Inap
sakit
2. Stroke (STK) Pasien Stroke yang I-STK-10 100% Ruang rawat inap
diperiksa untuk
mendapatkan
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
pelayanan rehabilitasi
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menginput data indikator mutu ke dalam
sistem komputer
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien merekap dan menganalisa hasil
pemantauan indikator mutu secara periodik setiap 3 bulan sekali.
- Data yang dianalisa disajikan dalam bentuk grafik.
- Hasil analisa data indikator mutu dilaporkan kepada Direktur dan Pemilik Rumah Sakit
(Satuan Pengawas Internal).
d. Trend di dalam rumah sakit (pemantauan data antar ruangan)
- Data indikator mutu setiap unit yang telah tervalidasi dan terverifikasi dilakukan analisa.
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membandingkan hasil analisa data indikator
mutu antara unit satu dengan lainnya.
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat analisa trend terhadap
pencapaian indikator.
e. Pelaksanaan Benchmark
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyiapkan surat permohonan benchmark
dan mengirim surat permohonan yang telah ditandatangani oleh Direktur ke Rumah Sakit
yang akan dilakukan benchmarking.
- Data indikator mutu RSUD Bitung 3 bulan terakhir dilakukan benchmark dengan data
indikator mutu Rumah Sakit tersebut.
f. Melakukan Publikasi Data
Internal
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien memfasilitasi rapat triwulan
pencapaian program PMKP RSUD Bitung.
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat dan mengedarkan analisa
data pencapaian program PMKP RS ke unit/ bagian/ instalasi terkait dalam bentuk
grafik tren.
Eksternal
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyiapkan data mutu PMKP yang
hendak dipublikasikan berupa grafik tren pencapaian indikator mutu RSUD Bitung.
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melaporkan data mutu PMKP dan
meminta persetujuan data yang hendak dipublikasikan ke Direktur.
- Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyampaikan surat permohonan
publikasi sesuai dengan persetujuan Direktur dengan dilengkapi data mutu PMKP yang
hendak dipublikasikan kepada Sub Bagian Humas untuk dipublikasikan melalui website
RSUD Bitung dan kepada Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit untuk dipublikasikan..
- Sub Bagian Humas mengunggah data mutu PMKP ke website resmi RSUD Bitung.
- Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit RSUD Bitung mempublikasikannya.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Berdasarkan rapat koordinasi antara Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien
dengan Direktur serta Komite Medik dan Bidang Pelayanan Medik, dan telah dilakukan proses
skoring dalam pemilihan clinical pathway, maka untuk tahun 2016 ditetapkan lima area prioritas
yaitu :
1. Area: Penyakit Dalam
2. Area: Neurologi
3. Area: Bedah
KASUS Apendisitis
Latar Belakang Apendisitis merupakan inflamasi apendiks, suatu bagian seperti kantung
yang non fungsional dan terletak di bagian inferior sekum (Ester, 2002).
Inflamasi akut pada kuadran bawah kanan abdomen adalah penyebab
paling umum untuk bedah darurat. Kira-kira 7% dari populasi akan
mengalami apendisitis pada waktu bersamaan dalam hidup mereka
(Smeltzer & Bare, 2002). Angka kematian yang timbul akibat terjadinya
perforasi adalah 10%-15% dari kasus yang ada, sedangkan angka
kematian klien apendisitis akut adalah 0,2%-0,8% yang berhubungan
dengan komplikasi penyakitnya dari pada akibat intervensi tindakan
(Akhyar Yayan, 2008).
Berdasarkan data yang didapatkan menurut DepKes RI tahun 2009,
jumlah pasien yang menderita penyakit apendisitis di Indonesia
berjumlah sekitar 27% dari jumlah penduduk di Indonesia. Berdasarkan
penelitian secara deskriptif retrospektif di Bagian Medik RSUP Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado pada periode Oktober 2012-September 2015
didapatkan 650 pasien apendisitis. Dari jumlah tersebut kasus
apendisitis yang paling banyak ialah apendisitis akut sebanyak 412
kasus (63%).
Data tahun 2015 dari KSM Bedah dan ruang rawat inap bedah
sebanyak kasus.
Clinical Pathway Ada
Panduan Praktek
Ada
Klinis
Ukuran Kinerja
Berkurangnya angka komplikasi dan lama rawat pasien Apendisitis
Klinis
4. Area: Pediatri
KASUS Bronkopneumonia
Latar Belakang Bronkopneumonia merupakan penyakit yang seringkali juga menimpa
pada anak-anak. Bronkopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia
yang mempunyai pola penyebaran bercak, teratur dalam satu atau lebih
area terlokalisasi di dalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang
berdekatan disekitarnya (Smeltzer, Suzanne & Bare, 2002).
Insiden penyakit ini pada Negara berkembang hamper 30% pada anak-
anak di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi.
Menurut Riskesdas 2007 bronkopneumonia merupakan penyebab
kematian kedua setelah diare (15,5% diantara semua balita). Dari tahun
2007 hingga tahun 2009 Provinsi Sulawesi Utara, prevalensi
Bronkopneumonia termasuk daerah yang insidennya rendah.
Data tahun 2015 Bronkopneumonia dari KSM Ilmu Kesehatan Anak dan
ruang rawat inap anak sebanyak 74 kasus.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
membandingkan antara apa yang tercatat di clinical pathway dengan standar yang telah
ditetapkan.
- Hasil pengukuran ditulis di lembar audit atau di dalam bentuk file komputer.
- Hasil pengambilan sampel audit akan diverifikasi oleh orang kedua yang tidak terlibat dalam
pengambilan data yang pertama untuk memastikan validitas data.
- Komite Medik membuat laporan hasil pengumpulan data dan analisa data serta rencana
perbaikan.
- Area prioritas manajemen risiko adalah instalasi bedah sentral dan semua ruangan
intensif.
b. Monitoring Insiden Sentinel, Kejadian Tidak Diharapkan, dan Kejadian Nyaris Cedera
1. Sub Tim Keselamatan Pasien menerima laporan hasil investigasi dan laporan insiden dari
unit kerja.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
2. Tim Investigator menganalisa kembali hasil investigasi dan laporan insiden untuk
menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan Root Cause Analysis (RCA)
dengan melakukan re-grading.
3. Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melakukan analisis akar masalah/ RCA
untuk grade kuning atau merah
4. Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan dan rekomendasi untuk
perbaikan serta “pembelajaran” setelah melakukan RCA.
5. Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melaporkan hasil RCA, rekomendasi, dan
rencana kerja kepada Direktur, Satuan Pengawas Internal, dan Pemerintah Kota Bitung.
6. Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien memberikan umpan balik kepada unit
kerja terkait terhadap rekomendasi untuk ’perbaikan dan pembelajaran.
7. Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien memonitoring dan mengevaluasi
perbaikan yang dijalankan unit kerja.
Tahun 2017 RSUD Bitung, menetapkan insiden yang termasuk dalam kejadian nyaris cedera
adalah :
1. Salah pemberian obat
2. Salah pasien
3. Salah interpretasi hasil laboratorium
4. Salah interpretasi hasil radiologi
5. Salah prosedur operasi
6. Salah darah
diperoleh hasil grading warna kuning dan merah maka dilakukan analisa akar masalah/
RCA untuk menentukan tindakan yang perlu dilakukan. Sedangkan bila hasil diperoleh
grading warna hijau dan biru tidak perlu dilakukan RCA hanya berupa investigasi
sederhana.
- Selanjutnya dibuat Tim RCA, yang terdiri dari tim investigator, Tim Peningkatan Mutu Dan
Keselamatan Pasien, dan unit terkait dengan insiden.
- Mengadakan pertemuan untuk membahas RCA dari insiden yang masuk dalam grading
risiko merah atau kuning.
- Tim RCA dan Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyusun laporan dan
rekomendasi hasil RCA.
- Selanjutnya hasil RCA oleh Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien dilaporkan
kepada Direktur.
d. Failure Mode Effect Analysis (FMEA)/Analisis Modus Kegagalan dan Dampak (AMKD)
FMEA merupakan proses proaktif, dimana kesalahan dapat dicegah dan diprediksi dan
mengantisipasi kesalahan sehingga meminimalkan dampak buruk. RSUD Bitung membuat
FMEA/ AMKD 1 tahun sekali.
FMEA dibuat dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Tim Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (TPMKP) bersama Manajemen memilih
topik masalah berisiko tinggi dan membentuk Tim FMEA tahun 2016.
2. Tim FMEA membuat diagram/ gambarkan alur proses dan Brainstorming modus kegagalan/
Failure Mode sesuai topik yang telah ditentukan oleh Tim FMEA.
3. Tim FMEA menentukan dampak /Effects
4. Tim FMEA menentukan prioritas modus kegagalan
5. Tim FMEA mengidentifikasi penyebab terjadinya risiko
6. Tim FMEA membuat redesain proses sesuai topik yang dipilih
7. Tim FMEA membuat analisis dan uji coba proses sesuai topik yang dipilih
8. Tim FMEA bersama Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melakukan
implementasi dan monitor proses baru yang telah dirancang.
- Pemilihan topik FMEA ditentukan berdasarkan Register Manajemen Risiko RSUD
Bitung dengan skoring tertinggi dan grading risiko merah.
- Penentuan redesign proses menggunakan rumus skoring Risk Priority Number (RPN)
yang terdiri dari 3 dimensi pengukuran yaitu : severity, occurrence, dan detection.
Penentuan skor RPN berdasarkan cut of point.
Perkirakan severity of failure (severity scale rank)
1. Minor
Tidak ada cedera
2. Moderate
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Bila terjadi cedera ringan atau cedera yang dapat diatasi dengan pertolongan
pertama
3. Minor Injury
Bila terjadi :
- cedera sedang
- berkurangnya fungsi motorik/ sensorik/ psikologis atau intelektual secara
reversibel dan tidak berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya
- setiap kasus yang memperpanjang perawatan
4. Mayor Injury
Bila terjadi :
- cedera luas/ berat
- kehilangan fungsi utama permanen (motorik, sensorik, psikologis,
intelektual)/ irreversibel, tidak berhubungan dengan penyakit yang
mendasarinya.
5. Terminal Injury/ death
Kematian yang tidak berhubungan dengan perjalanan penyakit yang
mendasarinya.
Perkirakan likelihood of failure (occurrence scale rank), yang terdiri atas :
1. Hampir tidak pernah terjadi
Dapat terjadi dalam lebih dari 5 tahun
2. Jarang
Dapat dalam 2-5 tahun
3. Kadang
Dapat terjadi tiap 1-2 tahun
4. Sering
Dapat terjadi dalam minggu atau bulan
5. Sangat sering dan pasti
Terjadi dalam minggu atau bulan
Perkirakan probability that failure is detectable (detectable scale rank), yang terdiri
atas :
1. Selalu terdeteksi
2. Sangat mungkin terdeteksi
3. Mungkin terdeteksi
4. Kemungkinan kecil terdeteksi
5. Tidak mungkin terdeteksi
kemudian dilakukan perhitungan Risk Priority Number (RPN)
Menentukan RPN dengan menggunakan rumus perkalian dari Severity
(Keparahan), Occurance (Keseringan), dan Detectable (Terdeteksi).
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat rekapitulasi sesuai jenis
insiden.
b. Pelaporan
- Pelaporan Analisa Data Indikator Mutu
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyusun laporan triwulan dan tahunan
hasil analisa indikator mutu.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien memfasilitasi kegiatan rapat triwulan dan
tahunan untuk mensosialisasikan hasil pemantauan program PMKP rumah sakit kepada
Direktur, pejabat struktural, dan Ketua KSM/ Bagian/ instalasi/ unit kerja
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyampaikan laporan triwulan dan
tahunan hasil pemantauan program PMKP rumah sakit yang telah disetujui Direktur
kepada Satuan Pengawas Internal.
- Pelaporan Benchmark
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan hasil benchmark
dengan Rumah Sakit yang akan dilakukan benchmarking.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyerahkan hasil laporan kepada
Direktur dan Satuan Pengawas Internal.
- Pelaporan Insiden
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan dan rekomendasi
untuk perbaikan serta pembelajaran setelah melakukan RCA terhadap insiden dengan
grading kuning dan merah untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melaporkan hasil RCA, rekomendasi,
dan rencana kerja kepada Direktur dan Satuan Pengawas Internal yang telah disetujui
oleh Direktur.
- Pelaporan FMEA
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan FMEA yang telah
ditentukan.
Laporan FMEA dibuat 1 tahun sekali
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melaporkan hasil FMEA kepada Direktur
dan Satuan Pengawas Internal yang telah disetujui oleh Direktur.
Setiap ada kebijakan yang baru akan diberlakukan sehubungan dengan peningkatan mutu
dan keselamatan pasien.
Rapat insidentil diselenggarakan sewaktu-waktu bila ada masalah atau sesuatu hal yang
perlu dibahas dengan segera
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB V
SASARAN
A. Sasaran Strategis
No SASARAN Kegiatan Sasaran Person
1 Tercapainya penetapan a. Penyusunan program upaya Kepala Instalasi/ Ketua
prioritas upaya peningkatan peningkatan mutu oleh setiap unit/ KSM/ Komite Medik
mutu pada area klinis, area instalasi
manajemen, dan area b. Penentuan prioritas RSUD Bitung
sasaran keselamatan pasien
2 Terlaksananya dan a. Mengumpulkan data indikator mutu Penanggung jawab
tercapainya pemantauan di area klinis, area manajemen, dan pengumpul data
indikator mutu sesuai sasaran keselamatan pasien indikator mutu
indikator mutu yang terpilih b. Melakukan validasi data indikator Kepala Instalasi
sesuai target mutu Kepala Ruangan
Pengumpul data I
Validator (Pengumpul
data II)
c. Melaksanakan analisa data indikator Tim Peningkatan Mutu
mutu di area klinis, manajerial, dan dan Keselamatan
area sasaran keselamatan pasien Pasien
secara periodik
d. Melaksanakan benchmark
e. Melakukan publikasi data capaian
indikator mutu di area klinis,
manajemen, dan area sasaran
keselamatan pasien, secara :
Internal, terdapat data di setiap Seluruh bagian/
unit bidang/ instalasi
Eksternal
Website RSUD Bitung Bagian Hukormas dan
3. Terlaksananya pemantauan a. Memilih dan menetapkan clinical Komite Medik dan
5 area prioritas pathway sesuai 5 area prioritas KSM, Bidang
b. Melaksanakan audit clinical pathway Pelayanan Medik
secara periodik
4. Terlaksananya pemantauan a. Menetapkan register manajemen Ketua KSM/ Bagian/
program keselamatan risiko RSUD Bitung Kepala Instalasi
pasien Seluruh unit
b. Melaksanakan manajemen risiko Tim Peningkatan Mutu
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
dan Keselamatan
Pasien
c. Memonitor insiden sentinel, tidak Seluruh unit
diharapkan, dan near miss Tim Peningkatan Mutu
dan Keselamatan
Pasien
d. Membuat RCA untuk insiden dengan Unit terkait,
grading risiko kuning dan merah Tim Investigator,
Tim Peningkatan Mutu
dan Keselamatan
Pasien
e. Membuat FMEA 1 tahun 1 kali Unit terkait
Tim Peningkatan Mutu
dan Keselamatan
Pasien
11 Tercapainya indikator Memonitor kegiatan pencegahan dan Komite PPI,
pencegahan dan pengendalian infeksi IPCN
pengendalian infeksi sesuai
target
10 Tercapainya pendidikan dan Menyelenggarakan pendidikan dan Sub Bidang Diklat
pelatihan kepada staf sesuai pelatihan PMKP
target
11 Tercapainya indikator Memonitor kegiatan pencegahan dan Komite PPI
pencegahan dan pengendalian infeksi IPCN
pengendalian infeksi sesuai
target
12 Tercapainya pemantauan a. Melaksanakan penilaian kinerja Sub Bagian
dan penilaian kinerja individu Kepegawaian
individu dan unit sesuai b. Melaksanakan penilaian kinerja unit
target
13 Terlaksananya pemantauan Melakukan monitoring dan evaluasi Unit terkait
dan evaluasi pelaksanaan terhadap pelaksanaan kontrak dan
kontrak dan perjanjian perjanjian kerjasama lainnya
kerjasama lainnya
14 Terlaksananya pencatatan Melaporkan kegiatan Peningkatan Mutu Satuan Pengawas
dan pelaporan kegiatan dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit Internal,
peningkatan mutu dan secara periodik kepada Direktur dan Direktur
keselamatan pasien Satuan Pengawas Internal
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
b. Indikator Manajemen
Masing-masing area manajemen minimal ada satu (1) indikator, sehingga dalam area
manajemen ditentukan minimal ada sembilan (9) indikator manajemen yang akan dievaluasi.
AREA INDIKATOR
NO KODE STANDAR UNIT PELAYANAN
MANAJEMEN MANAJEMEN
1. Pengadaan rutin Ketersediaan obat di RS IAM.1.2 100 % Ruang Rawat
peralatan Inap
kesehatan dan
obat yang penting
untuk memenuhi
kebutuhan pasien
2. Pelaporan Ketepatan waktu IM2.1 100 % Sub Bagian
aktivitas yang penyampaian keuangan Keuangan
diwajibkan oleh sesuai Pedoman
peraturan Akuntansi RS (PARS)
perundang –
undangan
3. Manajemen Kejadian pasien pulang IM3.3 100 % Ruang rawat inap
Risiko APS
4. Manajemen Utilisasi ruang VIP IM4.3 100 % Ruang rawat inap
Penggunaan VIP
Sumber Daya
5. Harapan dan Tingkat kepuasan pasien IM5.1 ≥ 80 % Ruang rawat inap
kepuasan pasien terhadap perawat
dan keluarga
6. Harapan dan Tingkat kepuasan perawat IM6.3 ≥ 80 % Sub Bagian
kepuasan staf terhadap manajemen Kepegawaian
7. Demografi pasien diagnosis pasien dengan IM7.2 100 % Ruang rawat inap
dan diagnosis klinis DHF
klinis
8. Manajemen Cost recovery rate IM8.1 ≥ 70% Sub Bagian
Keuangan Keuangan
9. Pencegahan dan Edukasi Hand Hygiene IM9.1 100 % Ruang rawat inap
pengendalian dari
kejadian yang
dapat
menimbulkan
masalah bagi
keselamatan
pasien, keluarga
pasien, dan staf
AREA SASARAN
INDIKATOR SASARAN
NO KESELAMATAN KODE STANDAR UNIT PELAYANAN
KESELAMATAN PASIEN
PASIEN
1. Ketepatan Persentase ISKP1 100 % IGD
identifikasi pelaksanaan prosedur Ruang Rawat
pasien identifikasi pada Inap
pemberian tranfusi
darah dan produk darah
2. Peningkatan Verifikasi pelap[oran ISKP2 100 % Ruang Rawat
komunikasi yang hasil kritis pemeriksaan Inap
efektif Laboratorium dengan
teknik READBACK dari
petugas rawat inap
kepada DPJP dan
ditandatangani dalam
24 jam
3. Peningkatan Persentase ISKP3 100 % Farmasi
keamanan obat pemantauan Apotik
yang perlu penggunaan KCl 7,46%
diwaspadai yang diencerkan
4. Kepastian tepat Kelengkapan pengisian ISKP4 100 % Kamar operasi
lokasi, tepat format check list
prosedur, tepat keselamatan pasien
pasien operasi operasi
5. Pengurangan Persentase kepatuhan ISKP5 100 % IGD
infeksi terkait petugas kesehatan Ruang Rawat
pelayanan dalam melakukan Inap
kesehatan kebersihan tangan
metode enam langkah
dan lima momen
6. Pengurangan Insiden pasien jatuh ISKP6 100 % IGD
risiko jatuh selama perawatan Ruang Rawat
rawat inap di rumah Inap
sakit
AREA INDIKATOR
IINTERNATION INTERNATIONAL UNIT
NO KODE STANDAR
AL LIBRARY LIBRARY OF PELAYANAN
OF MEASURES MEASURES
1. Acute Aspirin diresepkan I-AMI-1 100% Ruang ICU
Myocardial untuk pasien dengan
Infraction (AMI) acute myocardial
infarction (AMI) saat
pulang/ keluar rumah
sakit
2. Stroke (STK) Pasien Stroke yang I-STK-10 100% Ruang rawat inap
diperiksa untuk
mendapatkan
pelayanan rehabilitasi
3. Children’s Pemberian I-CAC-2 100 % Ruang rawat inap
Asthma Care Kortikosteroid untuk Anak
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB VII
JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
4. Pelaksanaan benchmark
RSUD Bitung merencanakan kegiatan benchmark. Kegiatan ini dilaksanakan untuk
membandingkan data indikator mutu RSUD Bitung dengan data indikator mutu Rumah Sakit
lain dalam upaya peningkatan mutu rumah sakit.
Penanggung jawab kegiatan ini adalah Tim PMKP.
BULAN
NO URAIAN KEGIATAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI JULI AGUSTUS SEPTEMBER OKTOBER NOVEMBER DESEMBER
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV
1 Penentuan Prioritas
a. Penyusunan Program upaya peningkatan mutu oleh setiap unit/
instalasi
b. Penentuan Prioritas RSUD Bitung
2 Pemilihan Indikator Mutu
a. Indikator Klinis
b. Indikator Manajemen
c. Indikator Sasaran Keselamatan Pasien
d. Indikator International Library Measures
e. Penyusunan dan Penetapan Kamus Indikator Mutu
3 Pemantauan Indikator Mutu
a. Pengumpulan Data Indikator Mutu
b. Pelaksanaan Validasi Data Indikator Mutu
4 Pelaksanaan 5 Area Prioritas
a. Pemantauan Clinical Pathway
b. Audit Clinical Pathway
5 Pemantauan Program Keselamatan Pasien
a. Pelaksanaan Manajemen Resiko : Sesuai Kebutuhan
- Presentasi dan Penetapan Manajemen Resiko di Setiap Unit
- Penetapan Register Manajemen Resiko RSUD Bitung
b. Monitoring Insiden Sentinel, KNC, KTD
Sesuai terjadinya Insiden Keselamatan Pasien dengan kategori high dan extreme
c. Pembuatan RCA
6
d. Pembuatan FMEA
Pelaksanaan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
3 Bulan Sekali Sesuai register manajemen rumah sakit dengan skor tertinggi dan grading risiko merah
7 Pelaksanaan Pendidikan Staf
a. Pelatihan Pengumpulan Data Indikator Mutu dan Analisa Data
b. Workshop Manajemen Resiko
c. Workshop Gugus Kendali Mutu 3 Bulan Sekali
d. Pelatihan Komunikasi Efektif
e. Pelatihan BHD
f. Pelatihan Patient Safety
g. Pelatihan K3RS
h. Pelatihan PPI
1x/ tahun
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB VIII
EVALUASI KEGIATAN
Evaluasi kegiatan upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien RSUD Bitung dilakukan setiap
bulan. Evaluasi dilaksanakan melalui :
- Rapat rutin dilaksanakan setiap bulan baik dengan pengumpul data, Kepala Instalasi dan Case
Manager, maupun dengan Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien
- Rapat koordinasi dengan manajemen, Komite Medik, Komite PPI, unit terkait, Tim IPCN, Tim K3RS
- Rapat evaluasi insiden keselamatan pasien
- Rapat insidentil
Evaluasi kegiatan ini perlu dilaksanakan guna meningkatkan kualitas mutu maupun mengendalikan
kualitas mutu seluruh kegiatan yang ada di lingkungan RSUD Bitung. Tim Peningkatan Mutu Dan
Keselamatan Pasien akan membuat metode PDCA/ PDSA dalam rangka upaya proses perbaikan
terhadap indikator mutu rumah sakit yang belum mencapai target yang telah ditentukan. Hasil evaluasi
tersebut akan disampaikan kembali oleh Tim PMKP ke masing-masing unit untuk ditindaklanjuti melalui
PDCA/ PDSA yang telah dibuat dan usul saran perbaikan.
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
BAB IX
PENCATATAN DAN PELAPORAN
A. Pencatatan
- Pencatatan Data Monitoring Indikator Mutu
Pencatatan sensus harian data indikator mutu di area klinis, area manajemen, dan di area
sasaran keselamatan pasien dilakukan oleh pengumpul data di setiap unit.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat pencatatan sensus harian data
indikator mutu di area klinis, area manajemen, dan di area sasaran keselamatan pasien
dilakukan oleh pengumpul data dari setiap unit ke dalam sistem komputer.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat pencatatan rekapitulasi sensus
harian semua indikator terpilih dari setiap unit di dalam sistem komputer.
- Pencatatan Validasi Data Indikator Mutu
Pengumpul data mencatat hasil validasi data dari indikator terpilih dan diserahkan kepada
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien untuk dilakukan komparasi validasi.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melakukan pencatatan hasil validasi data
indikator mutu dan dimasukkan ke dalam sistem komputer.
- Pencatatan Analisa Data Indikator Mutu
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat analisa hasil pemantauan
indikator mutu yang telah diinput di dalam sistem komputer
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien mencatat analisa hasil pemantauan
indikator mutu secara periodik setiap 3 bulan sekali.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien mencatat analisa hasil pemantauan
indikator mutu dalam bentuk grafik.
- Pencatatan Laporan Insiden
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien mendokumentasikan setiap laporan
insiden yang masuk ke Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat rekapitulasi sesuai jenis insiden.
B. Pelaporan
- Pelaporan Analisa Data Indikator Mutu
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyusun laporan triwulan dan tahunan
hasil analisa indikator mutu.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien memfasilitasi kegiatan rapat triwulan dan
tahunan untuk mensosialisasikan hasil pemantauan program PMKP rumah sakit kepada
Direktur, dan KSM/ Bagian/ instalasi/ unit kerja
Program Kerja Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menembuskan laporan triwulan dan
tahunan hasil pemantauan program PMKP rumah sakit yang telah disetujui Direktur kepada
Satuan Pengawas Internal.
- Pelaporan Benchmark
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan hasil benchmark dengan
rumah sakit lain
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien menyerahkan hasil laporan kepada
Direktur dan Satuan Pengawas Internal
- Pelaporan Insiden
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan dan rekomendasi
untuk perbaikan serta pembelajaran setelah melakukan RCA terhadap insiden dengan
grading merah dan kuning untuk mencegah kejadian yang sama terulang kembali.
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melaporkan hasil RCA, rekomendasi, dan
rencana kerja kepada Direktur dan Satuan Pengawas Internal yang telah disetujui oleh
Direktur.
- Pelaporan FMEA
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien membuat laporan FMEA yang telah
dibuat.
Laporan FMEA dibuat 1 tahun sekali
Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien melaporkan hasil FMEA kepada Direktur
dan Satuan Pengawas Internal yang telah disetujui oleh Direktur
PENUTUP
Demikian telah disusun Program Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien RSUD Bitung. Upaya
peningkatan mutu dan keselamatan pasien merupakan kegiatan peningkatan mutu yang berjalan secara
berkesinambungan dan berkelanjutan. Diharapkan dengan adanya Program ini dapat dipakai sebagai
acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan sehingga dapat lebih meningkatkan kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang ada di RSUD Bitung.
Upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien akan lebih berhasil jika didukung oleh
pimpinan rumah sakit dan kerja sama yang baik dari seluruh unit kerja RSUD Bitung.
Semoga Tuhan selalu memberkati segala upaya yang kita kerjakan.