100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
288 tayangan11 halaman

Ciri dan Persebaran Timah di Indonesia

1. Struktur industri timah memiliki ciri khas tersendiri dibanding komoditas lainnya. 2. Persebaran timah terdapat di beberapa negara Asia Tenggara dan Amerika Selatan. 3. Niaga timah dipengaruhi kebijakan internasional seperti ITA yang menstabilkan harga timah.

Diunggah oleh

Bella Puspa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
288 tayangan11 halaman

Ciri dan Persebaran Timah di Indonesia

1. Struktur industri timah memiliki ciri khas tersendiri dibanding komoditas lainnya. 2. Persebaran timah terdapat di beberapa negara Asia Tenggara dan Amerika Selatan. 3. Niaga timah dipengaruhi kebijakan internasional seperti ITA yang menstabilkan harga timah.

Diunggah oleh

Bella Puspa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Abstrak

Setiap industri mineral memiliki strukturnya masing-masing dengan segala ciri


khas/keunikannya. Timah pun memiliki ciri khas struktur industri yang membuat timah
menjadi spesial dibandingkan komoditi yang lain.

Pembahasan

 Geologi Persebaran Timah

Timah merupakan elemen yang jarang ditemukan. Sabuk timah (Tin Belt) dapat
ditemukan di daerah-daerah pesisir tenggara Amerika Selatan dan pesisir barat daya Afrika.
Tin Belt juga tersebar dari Cina menuju selatan ke Kamboja, Thailand, Malaysia, Indonesia,
dan Pesisir Australia. Di eropa terdapat pula sebaran timah tapi besarannya tidak lebih banyak
dengan yang tersebar di Pesisir Amerika Selatan (tepatnya di daerah Samudera Pasifik).

Sehingga bukan suatu hal yang aneh jika dilihat dari table 6.1 didapatkan bahwa pada
akhir abad ke-19, negara-negara Asia Tenggara menjadi produsen timah terbesar di dunia
khususnya Malaysia yang menjadi produsen nomor satu.

 Tata Niaga Komoditas Timah

Pada industri timah terdapat suatu sifat yaitu adanya pemisahan antara kegiatan
pertambangan dan pasar dari timah itu sendiri. Selama ini sumber dari pemasaran timah
berada di Negara-negara berkembang khususnya negara yang beriklim tropis. Negara-negara
berkembang ini pula masih memiliki kendala dalam memenuhi kebutuhan timah dari negara-
negara industri.

Pemasaran komoditi timah tidak terlepas dari kebijakan/kesepakatan politik. Para


pemangku kebijakan membuat suatu gagasan untuk mengurangi pemasaran komoditi
tambang dalam bentuk raw materials (contohnya kebijakan buffer stock melalui ITA). Hal
tersebut mempengaruhi kondisi ekonomi dari negara-negara yang menggantungkan roda
ekonominya kepada penjualan timah di pasar dunia.

Pada nyatanya hasil produksi timah belum dapat dinikmati langsung oleh masyarakat
dari negara-negara penghasil/produsen timah itu sendiri. Timah sendiri masih lebih banyak
langsung diekspor ke luar negeri dibandingkan diolah di dalam negeri. Standar hidup
masyarakat dari negara produsen juga masih jauh di bawah masyarakat negara konsumen.
Hal ini merupakan suatu dilema tersendiri bagi negara-negara produsen timah.

Suatu organisasi/dewan internasional dapat pula mempengaruhi tingkatan produksi


timah dari negara-negara produsen. Contohnya pada akhir tahun 1970an keputusan Dewan
Timah Internasional yang berisikan pembatasan ekspor timah membuat produksi beberapa
negara produsen menurun, termasuk Indonesia. Tujuan pembatasan ekspor yang dilakukan.
Dewan Timah Internasional sejak triwulan II tahun 1982 adalah untuk menanggulangi
kemerosotan harga timah yang lebih jauh di pasaran internasional. Hal ini mengakibatkan
ekspor timah Indonesia dalam tahun 1982/83 mengalami penurunan.

Produk yang diperdagangkan pada pasar internasional telah bergerser dari yang
mulanya dalam bentuk konsentrat menjadi dalam bentuk timah ingot. Hal ini disebabkan oleh
pabrik-pabrik peleburan yang telah dimiliki langsung oleh negara-negara produsen timah.
Peleburan yang dilakukan oleh produsen juga menyebabkan hubungan antara produsen dan
konsumen telah lebih langsung. Hanya 11 persen dari timah dunia yang dilebur di luar negara
produsen (1978).
Perubahan jenis bentuk timah yang dipasarkan, dikarenakan dibangunnya pabrik
peleburan. Smelter berada secara terpisah dari aktivitas tambang timah dan industri yang
membutuhkan timah sebagai bahan bakunya. Smelter memberikan harga yang tetap kepada
produsen (tidak bergantung dengan harga timah). Smelter tidak memiliki fungsi pemasaran.
Pembangunan smelter domestik bukan mengenai alasan keekonomian melainkan berdasarkan
keputusan politik dan kebanggaan suatu negara.
Pada industri hilirnya, timah biasanya digunakan pada tinplate, soldier, logam
paduan perunggu, dan pada industri kimia dan petrokimia. Inggris adalah yang paling ahli di
reklamasi timah sekunder. Timah belum digunakan sebagai unsur utama dalam produk hasil
industry, timah baru sebagai konstituen minor dari produk bi-metalic. Tidak digunakannya
timah sebagai unsur utama menyebabkan konsumsi timah rentan bergantung kepada
eksistensi dari produk-produk industri.
Dalam mengatasi perkiraan turunnya konsumsi timah dunia dan merosotnya harga
timah dunia saat itu, maka dibentuklah sebuah kesepakatan timah internasional (ITA) dan
selanjutnya dibentuklah Dewan Timah Internasional (ITC). ITA sendiri memiliki peranan
antara lain pengentasan penderitaan sosial di negara produsen pada saat permintaan
berkurang, pencegahan fluktuasi yang berlebihan di harga timah, penyediaan basis untuk
perencanaan jangka panjang, dan memastikan persediaan yang memadai dari timah di harga
yang wajar setiap saat.
ITC tidak hanya menjaring negara-negara produsen saja untuk menandatangani
perjanjian Internasional timah tapi negara-negara konsumen seperti Jepang dan USA juga
terjaring di dalam ITC dan terikat oleh ITA. Keberhasilan ITA di pasar internasional adalah
adalah harga timah yang didirikan pada tiga pasar timah; London, Penang, New York. Harga
ditetapkan kompetitif dalam terang pasokan dan permintaan.
Walaupun ITA dianggap telah bekerja dengan baik tetap saja ada negara produsen
yang merasa kebijakan ITA untuk menstabilkan harga timah dunia merugikan produsen,
contohnya saat pengurangan jumlah ekspor timah, Bolivia mengkritik kebijakan tersebut.
Alasannya adalah sumber setengah pendapatan devisa Bolivia sangat bergantung kepada
ekspor timah.

 Tata Niaga Timah di Malaysia

Pada awal-awal 1960an Malaysia memimpin produksi timah dunia tapi produksinya
makin menurun, awalnya dikarenakan perubahan metode yang awalnya dredge menjadi
menggunakan gravel pumps. Perusahaan di Malaysia yang memegang produksi terbesar
adalah Malaysian Mining Corporation (MMC) yang merupakan perusahaan BUMN dan
Thaisarco.

MMC menyumbang 30% produksi timah dan mengoperasikan dua perusahaan di


Thailand serta memiliki saham di Nigeria. Pada tahun 1979, MMC mulai bergabung pad
proyek-proyek pengembangan tambang dengan negara-negara bagian Malaysia terlepas dari
federasi, hal tersebut menyebabkannya keikutsertaan dana publik pada pendanaan industri
timah semakin besar. MMC juga melakukan praktik penjualan timah langsung kepada
konsumen, hal ini melanggar praktik penjualan pada umumnya yang biasanya melalu market
metal di Penang, London, dan New York.

Pada pertengahan abad ke-20, sebelum negara-negara Asia tenggara lainnya memiliki
smelter,Malaysia telah memiliki domestik smelter sendiri bersamaan dengan negara-negara
eropa lainnya. Tepatnya di Penang yang didanai oleh para investor dari Inggris. Malaysia
menjadi negara paling besar dalam produksi timah pada tahun 1978 dengan total produksi
sebesar 72.000 ton.
Pelaku usaha smelter komoditas timah di Malaysia terbesar dipegang oleh Malaysia
Smelting Corporation (MSC). Sejak tahun 1887, MSC telah memulai usaha dalam hal
peleburan timah. MSC mengklaim menawarkan biaya paling murah untuk peleburan timah
paling murah sedunia. Smelter milik MSC memiliki kapasitas produksi 40.000 ton timah
yang telah dimurnikan per tahun. Pada pertengahan tahun 90-an, MSC mulai melakukan
pemasaran dan perdagangan timah. Produk MSC tercatat pada KLTM/LME. Kadar dari metal
timah yang dihasilkan MSC sekitar 99,85% Sn – 99,99% Sn. Pada tahun 2006, MSC bersama
sejumlah investor tambang Malaysia menyampaikan keinginannya mengolah timah di
wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Investasinya direncanakan di Kundur, Bintan dan Lingga.

Dalam paparan International Tin Research Institute disebut bahwa Malaysia Smelting
Corp (MSC) dan Thaisarco termasuk 10 besar eksportir timah olahan skala global pada 2014.
Padahal, di laporan United States Geological Survey 2015 terungkap bahwa Indonesia
menambang 84.000 ton pasir timah selama 2014. Sementara Malaysia dan Thailand
menambang masing-masing 3.500 ton dan 200 ton pada periode sama. Hal tersebut
menimbulkan suatu spekulasi bahwa hasil pasir timah dan logam timah berkadar rendah yang
diselundupkan ke Malaysia. Dugaan penyelundupan pasir timah juga pernah terbukti, antara
lain, dengan penyitaan pasir timah oleh Pangkalan TNI AL (Lanal) Belinyu, Bangka, pada
awal Juni 2015.

Salah satu pelaku industri hilir timah adalah Selayang Solder Sdn. Bhd. Didirikan
pada tahun 1989, Selayang Solder Sdn. Bhd bergerak dalam bidang pembuatan produk solder
dan menyediakan solusi penyolderan total untuk perusahaan manufaktur elektronik & listrik
dan otomotif. Dengan kapasitas produksi 2.400 ton per tahun. Selayang Solder menyediakan
berbagai macam bahan solder seperti Solder Bar / Wire, Flux Cored Solder Wire, Solder
Paste, Solder Ball, Solder Anodes, Solder Rods dan lain-lain.

 Tata Niaga Timah di Indonesia

Produksi timah di Indonesia mayoritas berasal dari Bangka Belitung. Cadangan timah
di Bangka telah menyumbang 2/3 dari timah Indonesia. Dari sistem penambangan
pengerukan, 2/3nya berasal dari tambang offshore. Pertambangan timah di Bangka dimulai
diambil alih oleh pemerintahan Belanda sejak tahun 1816 – 1959. Setelah itu diambil alih
oleh pemerintahan Indonesia. Saat pemerintah Orba, mulai melakukan kerjasama dengan
investor asing, sehingga penemuan akan cadangan baru berhasil ditemukan dan produksi
pada tahun 1978 lebih dari 2x lipat dibandingkan tahun 1966.

Perusahaan yang memiliki produksi timah terbesar adalah PT Timah. Produksi PT


Timah pada tahun 1978 sebesar 24.000 ton. Sebelum dibangunnya smelter di Indonesia pada
tahun 1970an, konsentrat timah Indonesia diekspor di Belanda untuk diolah di sana, sebagai
negara industri penghasil produk turunan dari timah. Setelah smelter dibangun, maka proses
peleburan telah dapat dilakukan di dalam negeri.

Tata niaga timah di Indonesia, melalui perdagangan bursa logam. Produk-produk yang
dihasilkan PT Timah mempunyai kualitas yang telah diterima oleh pasar internasional dan
terdaftar dalam pasar bursa logam di London (London Metal Exchange). Jenis-jenis produk
yang diproduksi oleh PT Timah dibedakan atas kualitas dan bentuknya. Berdasarkan kualitas
produk dapat dibedakan atas Banka Tin (99,9% Sn), Mentok Tin (99,85% Sn), Banka Low
Lead (Banka LL) terdiri dari Banka LL 100ppm, Banka LL 50ppm, Banka LL 40ppm, Banka
LL80ppm, Banka LL200ppm dan Banka Four Nine (99,99% Sn). Sementara bila berdasarkan
bentuk dapat dibedakan atas Banka Small Ingot, Banka Tin Shot, Banka Pyramid, dan Banka
Anoda.

Kegiatan pemasaran mencakup kegiatan penjualan dan pendistribusian.


Pendistribusian logam timah hampir 95 % dilaksanakan untuk memenuhi pasar di luar negeri
(ekspor) dan sekitar 5 % untuk memenuhi pasar domestik. Untuk negara-negara yang
menjadi tujuan ekspor timah antara lain Asia yang meliputi Jepang, Korea, Taiwan, Cina, dan
SIngapura. Untuk wilayah Eropa meliputi Inggris, Belanda, Perancis, Spanyol, Italia, serta
wilayah Amerika dan Kanada.

Pendistribusian dilaksanakan melalui pelabuhan di Singapura untuk kegiatan ekspor


sedangkan untuk domestic dilaksanakan secara langsung melalui gudang yang berada di
Jakarta. Tipe pembeli logam timah dapat dikelompokkan atas pengguna langsung (end user)
seperti pabrik, industri solder, industri pelat timah atau pedagang-pedagang besar (trader).

PT Timah (Persero) Tbk mengembangkan bisnisnya ke arah hilir (downstream), yang


diantaranya adalah tin chemical yang banyak digunakan dalam proses penggulungan,
pembentukan, dan penyuntikan bahan cetakan PVC, dan stabilizer panas (heat
stabilizer). Disamping tin chemical, produk lainnya adalah tin solder dalam bentuk gulungan
kawat yang dihasilkan oleh salah satu anak perusahaannya yaitu PT Tambang Timah dengan
bahan baku yang sebagian besarnya menggunakan timah putih (Sn).

Terdapat revisi kebijakan mengenai tata niaga timah di Indonesia. Revisi dilakukan
terhadap Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-Dag/Per/7/2014 tentang ketentuan
ekspor timah. Peraturan itu direvisi melalui Permendag Nomor 33/ M-Dag/Per/5/2015.
Peraturan baru ini berlaku pada 1 Agustus 2015. Revisi ini untuk mendorong peningkatan
nilai tambah ekspor dan menjamin ketelusuran sumber bahan baku timah.

Perubahan peraturan dalam Permendag baru di antaranya mengatur jenis timah.


Dalam peraturan lama, jenis timah yang dapat diekspor dikelompokkan dalam empat jenis,
yakni timah murni batangan, timah murni bukan batangan, timah solder, dan timah bukan
solder. Dalam peraturan baru, jenis timah dikelompokkan jadi tiga, yaitu timah murni
batangan, timah solder, dan barang lainnya dari timah. Selain tiga jenis timah tersebut,
dilarang untuk diekspor.

Permendag 33 Tahun 2015 juga mengatur perdagangan bursa timah. Timah murni
batangan wajib diperdagangkan melalui bursa timah, baik yang akan diekspor maupun
diperdagangkan di dalam negeri. Sedangkan mengenai tata niaga ekspor melalui instrumen
eksportir terdaftar timah (ET-timah), perusahaan timah wajib memperoleh pengakuan sebagai
eksportir terdaftar timah.

Setiap perusahaan hanya dapat memiliki satu jenis pengakuan sebagai ET-timah
murni batangan atau ET-timah industri (perusahaan yang telah mendapat pengakuan untuk
melakukan ekspor timah solder dan barang timah lainnya). Pengakuan tersebut berlaku
selama tiga tahun. Sebelum diekspor, timah wajib diverifikasi oleh surveyor yang telah
ditetapkan oleh Menteri Perdagangan dengan melibatkan pemerintah provinsi penghasil
timah.

Terdapat 26 perusahaan yang telah memiliki Surat Persetujuan Ekspor (SPE) dari
Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode November-Desember 2015.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Luar Negeri dinas perindustrian dan perdagangan
(Disperindag) Babel, Muhammad Ayub merilis data 26 perusahaan pertambangan yang sudah
mengantongi SPE 23 Industri dengan jenis timah murni batangan dan 3 perusahaan yang
mengekspor timah industri dengan jenis solder bar, wire bar dan Solder Bar Extrude dan
Casting.
Tujuh industri perdagangan yang baru mengantongi SPE dalam kurun dua bulan
terakhir ialah PT SI Tech Indonesia, PT Timah Industri, PT Bangka Prima Tin, PT Mitra
Stania Prima, PT Bukit Timah, PT Prima Timah Utama, dan CV Ayi Jaya. Adapun
perusahaan yang sudah memiliki SPE periode sebelumnya ialah PT Timah Tbk, PT refined
Bangka Tin, PT Mitra Stania Prima, PT Solder Indonesia, PT Sumber Jaya Indah, PT
Stanindo Inti Perkasa, PT Aries Kencana Sejahtera, PT DS Jaya Abadi, PT Bangka Tin
Industry, PT Prima Timah Utama, PT Tommy Utama, CV Venus Inti Perkasa, PT Tinindo Inti
Perkasa, PT Sariwiguna Binasntosa, PT Eunindo Usaha Mandiri, PT Arta Cipta Langgeng,
PT Belitung Industri Sejahtera, PT Inti Stania Prima, dan PT ATD Makmur Mandiri.

 Tata Niaga Timah di Thailand

Produksi timah Thailand hampir sebanyak dengan Indonesia pada tahun 1970an
sampai dengan 1980an. Sebenarnya pada tahun 1950an produksi timah Thailand hanya 1/3
dari jumlah produksi Indonesia saat menggunakan metode pengerukan, tapi semenjak
penggunaan metode kapal hisap pada tahun 1970an yang dilakukan pada laut Andaman,
dimana pada lokasi tersebut kaya akan timah, produksi timah di Thailand menjadi makin
meningkat.

Metode dengan kapal hisap tersebut dilakukan dengan sekala operasi kecil yang
dilakukan oleh pendudukan asli Thailand maupun etnis tionghoa. Pada awal metode ini
dilakukan, para penambang “liar” ini langsung menjual hasil timah mereka dalam bentuk raw
material ke luar negeri untuk menghindari pajak. Pada tahun 1977-1978 Pemerintah Thailand
membuat peraturan yang lebih ketat mengenai pertambangan air, sehingga produksi nasional
timah di Thailand menjadi meningkat.

Meskipun metode dengan kapal hisap ini lebih menguntungkan daripada metode
pengerukan tapi persentase recoverynya rendah, hanya sekitar 40%, hal ini membuat
kementerian pertambangan Thailand menjadi lebih memperhatikan mengenai pertambangan
Timah. Pelaku usaha asing tambang timah yang sudah melakukan dengan metode
pengerukan, pemerintah Thailand memfasilitasi agar dapat menjadi kontraktor pada tambang
timah offshore dan sisanya bergabung dengan perusahaan tambang timah yang dimiliki oleh
Thailand.

Pembangunan Smelting telah dilakukan jauh sebelum metode kapal hisap


diberlakukan di Thailand. Pembangunan Smelting pertama pada tahun 1956 yang dibangun
oleh pihak swasta. Pada tahun 1977, Thailand mengekspor timah dalam bentuk logam
sebanyak 23.295 ton.

Terdapat perusahaan Thaisarco yang bergerak pada industri timah. Didirikan pada
tahun 1963 dengan hak istimewa BOI Dibangun sebagai smelter kelas tinggi pada tahun 1965
oleh Union Carbide (70%) dan Perusahaan Thailand (30%) dan mulai beroperasi pada
tanggal 29 Juli 1965. Kapasitas Saat Ini: 25-35.0000 ton konsentrat / 35-40.000 ton logam.
Fokus strategis terakhir adalah mengembangkan menjadi pelebur nilai tambah dan pemurni
timah timah dan timah hilir sebagai berikut:

o Timah bermutu tinggi dan logam mulia 4N, 4N5 dan 5N bermutu tinggi

o Solder Lead-Free dan Tin-Lead Solder

o Bubuk timah dan timah paduan, bubuk tembaga

o Timah

THAISARCO telah mengirimkan pelanggan domestik dan internasionalnya sekitar


2.500 ton per tahun produk solder. Pelanggan THAISARCO untuk solder termasuk
perusahaan elektronik internasional yang beroperasi di Thailand dan produsen solder di pasar
ekspor (Jepang, Malaysia, Singapura dan Eropa).
Daftar Pustaka

[Link]

[Link]

[Link]

[Link]
[Link]

[Link]

[Link]

[Link]

Fox, D.J. [Link] of The World Tin Industry. New York: Pergamon.
TUGAS EKONOMI CADANGAN
Structure of The World Tin Industry
Diajukan untuk memenuhi tugas Ekonomi Cadangan

Disusun oleh:
 Bella Puspa Octaviani NIM: 11160980000044

PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
2017

Anda mungkin juga menyukai