100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
648 tayangan51 halaman

Peningkatan Kompetensi Guru RPP

Laporan ini membahas upaya meningkatkan kompetensi guru SMP Tunas Harapan Sebawi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP setelah mendapat bimbingan. Hasilnya menunjukkan peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP yang sesuai standar.

Diunggah oleh

waosutro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
648 tayangan51 halaman

Peningkatan Kompetensi Guru RPP

Laporan ini membahas upaya meningkatkan kompetensi guru SMP Tunas Harapan Sebawi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP setelah mendapat bimbingan. Hasilnya menunjukkan peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP yang sesuai standar.

Diunggah oleh

waosutro
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MELALUI BIMBINGAN
BERKELANJUTAN DI SMP TUNAS HARAPAN SEBAWI KABUPATEN SAMBAS
TAHUN 2010

OLEH

IWAN SUPARDI, SPD

NIP. 19691011 19890511 1 012

DINAS PENDIDIKAN SAMBAS

KALIMANTAN BARAT

2010

i
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa Laporan Penelitian Tindakan Sekolah
(PTS) yang berjudul :

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MELALUI BIMBINGAN
BERKELANJUTAN DI ……………………………………………………………………
TAHUN 2010

Disusun oleh :

………………………………………………………………………………

Pembimbing :

Dra. Lili : …DTO………

…………………….. 2010

Kepala Dinas Pendidikan …………..

…………………………………

NIP ……………………….

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul …………………………………………………………………………. i

Lembar Pengesahan…………………………………………………………………… ii

Daftar Isi………………………………………………………………………………. iii

Kata Pengantar………………………………………………………………………… iv

Daftar Lampiran……………………………………………………………………… v

Ringkasan…………………………………………………………………………….. vi

BAB I PENDAHULUAN.………………………………………………………….. 1

A. Latar Belakang……………………………………………………………….. 1

B. Identifikasi Masalah…………………………………………………………. 5

C. Pembatasan Masalah…………………………………………………………. 6

D. Rumusan Masalah……………………………………………………………. 6

E. Pemechan Masalah…………………………………………………………… 6

F. Tujuan Penelitian…………………………………………………………….. 7

G. Manfaat Penelitian…………….……………………………………………… 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………….. 10

A. Pengertian Guru..………………………………………………………………… 10
B. Standar Kompetensi Guru………………………………………………………. 11
C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran…………………………………………… 14
D. Bimbingan Berkelanjutan…………….……………………………………… 18

BAB III METODE PENELITIAN…………………..……………………………….. 20

A. Setting Penelitian…………………………………………………………….. 20
B. Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah.……………………………………… 21
C. Subjek Penelitian…………………………………………………..…………. 21
D. Sumber data…………………………………………………………… 21
E. Teknik Dan Alat Pengumpulan D……………………………………… 21
F. Prosedur Penelitian…..………………………………………………… 22

iii
G. Rencana Pelaksanaan………………………………………………………… 25
H. Indikator Pencapaian Hasil………………………………………………………… 26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN…………………………….. 28

A. Deskripsi Hasil Penelitian……………………………………………………… 28


B. Pembahasan ……………… ……………………………………………… 31

BAB V Simpulan Dan Saran

A. Simpulan …………………………………………………………………… 37
B. Saran………………………………………………………………………… 37

Daftar Pustaka……………………………………………………………………… 39

LAMPIRAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat
dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.

iv
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada
Diklat Penguatan kepala Sekolah.

Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, khususnya kualitas pengelolaan kelas sangat


ditentukan oleh penguasaan kompetensi secara memadai oleh guru. Untuk meningkatkan
kompetensi guru antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .

Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala SEkolah, setiap peserta wajib
membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan
Sekolah pada saat On the Job Learning.. Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan
Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.

Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan
kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis
menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan
penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai
pihak yang berkompeten.

………………………. 2010

Peneliti

………………………….

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

v
Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan

dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen

sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu:

tenaga kependidikan guru dan nonguru . Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang

Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, ”komponen-komponen sistem pendidikan yang

bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan

pendidikan ( penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan ).” Tenaga gurulah yang

mendapatkan perhatian lebih banyak di antara komponen-komponen sistem pendidikan.

Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus

seperti kenaikan tunjangan fungsional guru dan sertifikasi guru.

Usaha-usaha untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak dilakukan.

Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam

melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh

kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan

beban, (3) seringnya siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4)

masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).

Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut,

perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus menerus untuk

meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk

belajar dapat berkembang.

”Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan belajar

mengajar di tempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan

vi
supervisi kepala sekolah” (Pidarta, 1992:3). Pada pelaksanaan KTSP menuntut kemampuan baru

pada guru untuk dapat mengelola proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Tingkat

produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan-pelayanan secara efisien kepada pengguna

( peserta didik, masyarakat ) akan sangat tergantung pada kualitas gurunya yang terlibat langsung

dalam proses pembelajaran dan keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab

individual dan kelompok.

Direktorat Pembinaan SMA (2008:3) menyatakan ”kualitas pendidikan sangat ditentukan


oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi
adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, mempunyai andil dalam menentukan
kualitas pendidikan konsekuensinya, adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan )
segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif”.

Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di

kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru

harus mempersiapkan ( merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan

dengan efektif.

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan

pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran berjalan

secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario

pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari,

metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta

penilaian.

vii
Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan

evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan karena

di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara

langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya.

Seorang guru dikatakan profesional apabila (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2)

bangga dengan tugas profesinya, ( 3) selalu menjaga dan berupaya meningkatkan

kompetensinya, (4) bekerja dengan sungguh tanpa harus diawasi, (5) menjaga nama baik

profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh dari profesinya.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional Pendidikan

menyatakan standar proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan

menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses

pembelajaran, 3) Penilaian hasil pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran.

Perencanaan pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan . Guru pada satuan

pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar

pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi

peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,

kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis

peserta didik.

Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri

maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di

rumah dan bagi guru yang sudah membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum

viii
melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta

langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban

merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian ( penskoran

dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu

dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode

pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain

yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan

pengembangan RPP. Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang

mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan Profesionalisme Guru

dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan

memahami penyusunan/pembuatan RPP secara baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP

orang lain. Hal ini peneliti ketahui pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi

kunjungan kelas) ke sekolah binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap

pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah berusaha untuk memberi

bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan

pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional

pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah berdasarkan

Permendiknas No.12 Tahun 2007 tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang

salah satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan

sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran,

biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP
ix
dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat

penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat

diidentifikasikan sebagai berikut.

1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan

Pembelajaran dengan lengkap.

2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan KTSP.

3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan.

4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen

langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.

5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.

C. Pembatasan Masalah

Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi menjadi:

1. Guru belum paham dalam menyusun RPP. 2. RPP

yang dibuat guru belum lengkap.

x
D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas, diajukan

rumusan masalah sebagai berikut.

Apakah dengan bimbingan berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam

menyusun RPP ?

E. Pemecahan Masalah/Tindakan

1. Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan

berkelanjutan serta arahan kepada guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP

secara lengkap. Dengan bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam

menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam

mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi dapat tersampaikan semua

karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat

pada siklus pertama.

2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun

RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu berupa lembar

observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat sebelas komponen yaitu: 1) identitas

mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian

kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode

pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil

belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP

xi
dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat RPP yang dibuat oleh

guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada siklus ke-2.

F. Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru

dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan di

sekolah binaan (swasta) Kabupaten Sambas.

G. Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan manfaat

1. Manfaat bagi peneliti

a. Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan penelitian

tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah binaan

peneliti.

b. Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menyusun serta menulis laporan dan

artikel ilmiah.

c. Sebagai motivasi bagi peneliti dalam membuat karya tulis ilmiah.

d. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai syarat untuk kenaikan

golongan ke- IV b.

xii
e. Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-

teman pengawas dan guru yang akan menulis.

f. Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam

menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada

guru di sekolah binaan.

2. Manfaat bagi sekolah

a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih

lengkap.

b. Dapat meningkatkan kualitas pendidikan karena Standar Kompetensi dan

Kompetensi Dasar sudah tersampaikan.

3. Manfaat bagi guru

a. Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan lengkap serta

menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan

tugasnya.

b. Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar sehingga apa yang diinginkan dalam

standar isi dapat tersampaikan.

4. Manfaat bagi siswa

a. Adanya kesiapan belajar, keseriusan , keingintahuan, dan semangaat belajar tinggi

terhadap pelajaran.

b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga tercapai

target kompetensinya.

xiii
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Guru

Secara etimologi ( asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang artinya ”

orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” Shambuan, Republika, ( dalam

Suparlan 2005:11).

Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan istilah Shanti

Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun

spiritualitas anak-anak bangsa di India ( spiritual intelligence).

Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan

keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan kecerdasan intelektual

(intellectual intelligence), tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik jasmaniah (bodily

xiv
kinesthetic), seperti guru tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian,

guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan

bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek

lainnya.

Poerwadarminta ( dalam Suparlan 2005:13) menyatakan, “guru adalah orang yang

kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini

hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai

pendidik dan pelatih. Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan,”

guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua

untuk ikut mendidik anak-anak.”

UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional

menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan

melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan

pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi

pendidik pada perguruan tinggi.”

PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik

(guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat

jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”

xv
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang

profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,

menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses

pembelajaran.

B. Standar Kompetensi Guru

1. Pengertian Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-

nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak” . “Secara sederhana

kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan

keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas

pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana

Sudjana 2009:1).

Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan

nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya

menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi

diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai

pengetahuan,

keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya,

sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-

baiknya.”

xvi
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang

direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi

adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta

penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu

kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun

keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.

Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib

memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta

memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Dari rumusan di atas

jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus

dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan

menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.

Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru

yakni (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4)

kompetensi profesional. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan

pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan standar Kompetensi guru

adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk

penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan

bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru

dipilah ke dalam tiga komponen yang kait- mengait, yakni: 1) pengelolaan pembelajaran, 2)

xvii
pengembangan profesi, dan 3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat

kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua

kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi

tujuh kompetensi dasar, yaitu: 1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan

interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut

hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, 5) pengembangan profesi, 6) pemahaman

wawasan kependidikan, dan 7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata

pelajaran yang diajarkan).

Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga kompetensi dasar

yang harus dimiliki guru, yakni: (1) menguasai materi atau bahan ajar, (2) antusiasme, dan

( 3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik.

2. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004: 4) tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan

dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan

tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak

yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang

tugasnya. Adapun manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan

pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak

yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan

ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.

C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


xviii
1. Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian

sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan

dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah

penjabaran tujuan yang disusun berdasarkan indikator yang ditetapkan.

Philip Combs ( dalam Kurniawati, 2009:66 ) menyatakan bahwa perencanaan program

pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran

secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan

mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai

dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran

adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan . Selanjutnya Oemar Hakim

(dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa perencanaan program pembelajaran pada

hakekatnya merupakan perencanaan program jangka pendek untuk memperkirakan suatu

proyeksi tentang sesuatu yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”.

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk

mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam

silabus.”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran

adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan

kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.

xix
Dalam KTSP, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun kurikulum dan

perencanaan program pembelajaran, meliputi: program tahunan, program semester, silabus, dan

rencana peleksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus

untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar.

RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiap KD. Oleh karena

itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas

pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.

2. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari a). identitas

mata pelajaran, (b) standar kompetensi, (c) kompetensi dasar, (d) indikator pencapaian

kompetensi, (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu , (h) metode

pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi: pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar,

(k) penilaian hasil belajar meliputi: soal, skor dan kunci jawaban.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 (2005 pasal 20) menyatakan bahwa,

”RPP minimal memuat sekurang-kurangnya lima komponen yang meliputi: (1) tujuan

pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil

belajar.”

3. Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan dalam menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a) memperhatikan

perbedaan individu peserta didik, b) mendorong partisipasi aktif peserta didik, c)

xx
mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut,

e) keterkaitan dan keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP .

4. Langkah- langkah Menyusun RPP

Langkah-langkah menyusun RPP adalah a) mengisi kolom identitas,

b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c)

Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah

disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah

ditentukan, e) mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat

dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan

metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari

kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i)

menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci

jawaban

5. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun RPP

Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP disusun untuk

setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih, b) tujuan

pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus di capai oleh peserta didik

sesuai dengan kompetenrsi dasar, c) tujuan pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator,

atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus

mengacu pada pencapaian indikator, d) Kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran)

dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPP

tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk
xxi
indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap

pertemuannya.

D. Bimbingan Berkelanjutan

Pengertian Bimbingan dan berkelanjutan

Frank Parson. 1951 (dalam RM Fatihah [Link] menyatakan,

“bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,

mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang

dipilihnya.” Chiskon 1959 (dalam RM Fatihah [Link] ) menyatakan,

“bimbingan membantu individu untuk lebih mengenal berbagai informasi tentang dirinya

sendiri.”

Berikutnya Bernard dan Fullmer 1969 (dalam RM Fatihah [Link]

) menyatakan, ”bahwa bimbingan dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri individu.”

Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan

lingkungannya. Menurut Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”bimbingan adalah

petunjuk penjelasan cara mengerjakan sesuatu, tuntutan.”

Dari beberapa pengertian bimbingan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan

adalah pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan

oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat

memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan

lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan

xxii
dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi

Kedua, ”berkelanjutan adalah berlangsung terus menerus, berkesinambungan.”

Berdasarkan pengertian bimbingan dan berkelanjutan dapat ditarik suatu kesimpulan

bahwa bimbingan berkelanjutan adalah pemberian bantuan yang diberikan seorang ahli

kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan berlangsung secara terus menerus untuk

dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.

BAB III

METODE PENELITIAN

xxiii
A. Setting Penelitian

Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian , jadwal

penelitian, dan siklus PTS sebagai berikut :

1. Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di salah satu sekolah binaan berstatus swasta

yaitu SMP Tunas Harapan Sebawi.

Pemilihan sekolah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru

dalam menyusun rencana perlaksanaan pembelajaran (RPP) dengan lengkap.

2. Waktu Penelitian

PTS ini dilaksanakan pada semester satu tahun 2010 selama kurang lebih satu

setengah bulan mulai Agustus sampai dengan Oktober 2010.

3. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal

pelaksanaan penelitian seperti pada tabel berikut.

No. Kegiatan Waktu

1. Membuat proposal 24 s.d. 25 Agustus 2010

2. Merevisi proposal 26 s.d. 28 Agustus 2010

3. Melaksanakan PTS 30 Agustus s.d. 25 September 2010

4. Membuat laporan PTS 26 s.d. 30 September 2010

5. Mempresentasikan hasil PTS 4 s.d. 6 Oktober 2010

4. Siklus Penelitian

xxiv
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat

peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP ).

B. Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah

Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input instrument yang digunakan untuk

mendapatkan data dan informasi.

C. Subjek Penelitian

Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru SMP Tunas Harapan Sebawi.

D. Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat

guru.

E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1. Teknik

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan

diskusi.
xxv
a. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang

pemahaman guru terhadap RPP.

b. Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui kompetensi

guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.

c. Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.

2. Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.

a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal

yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP yang

telah dibuat dan yang belum dibuat oleh guru .

c. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan

guru.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu

sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru, dalam meningkatkan

kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran .

xxvi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan

menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus.

”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan

menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat,

dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya

(Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti

kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara, observasi/pengamatan, dan diskusi

yang berupa persentase atau angka-angka.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh

guru dalam menyusun RPP. Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau usaha guna

meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut

Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:

1. Rencana : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam

menyusun RPP secara lengkap. Solusinya yaitu dengan melakukan : a)

wawancara dengan guru dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi

dalam suasana yang menyenangkan dan c) memberikan bimbingan dalam

menyusun RPP secara lengkap.

2. Pelaksanaan: Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi

guru dalam menyusun RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan

berkelanjutan pada guru sekolah binaan .

xxvii
3. Observasi: Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat untuk

memotret seberapa jauh kemampuan guru dalam menyusun RPP dengan

lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru

dalam mencapai sasaran.

Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan

wawancara. Rekaman dari pertemuan dan wawancara akan digunakan untuk

analisis dan komentar kemudian.

4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari

tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti

bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhadap RPP yang telah

disusun agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai

dengan yang peneliti inginkan.

Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari awal sampai akhir.

Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang

dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1)

perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling

terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan

penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai

tujuan penelitian dapat tercapai.”

Alur PTS dapat dilihat pada Gambar berikut :

xxviii
Perencanaan Pelaksanaan
Permasalahan
tindakan I

Pengamatan/
Refleksi I
pengumpulan data I

Permasalahan baru
hasil refleksi Perencanaan
Pelaksanaan
tindakan II
tindakan II

Refleksi II Pengamatan/
pengumpulan data II

Apabila
permasalahan belum
Dilanjutkan ke siklus
terselesaikan
berikutnya

Gambar Alur Penelitian Tindakan Kelas

G. Rencana Pelaksanaan

Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu:

1. Siklus Pertama (Siklus I )

xxix
a).Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat format/instrumen

wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP).

b). Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan atau

hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b). Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.

c). Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.

d). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.

f). Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan

pembelajaran yang lengkap.

e). Peneliti dan guru melakukan refleksi.

2. Siklus Kedua (Siklus II)

a). Peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada

revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua,

mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP.

b). Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.

c). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.

d). Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP.

d). Peneliti dan guru melakukan refleksi.

xxx
H. Indikator Pencapaian Hasil

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru

membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.

1. Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.

2. Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 85%.

3. Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.

4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.

5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.

6. Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.

7. Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.

8. Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%.

9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.

10. Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.

11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban) diharapkan

ketercapaiannya 75%.

BAB IV

xxxi
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

Dari hasil wawancara terhadap delapan orang guru, peneliti memperoleh informasi

bahwa semua guru (delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang

memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti

pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan

guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus

menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan

acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan

komponen-komponen RPP secara lengkap.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada

siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya

dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan

penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada

komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif,

menantang, dan sistematis.

Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi

Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus (Lampiran 4).

Siklus I (Pertama)

xxxii
Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi,

dan (4) refleksi seperti berikut ini.

1. Perencanaan ( Planning )

a. Membuat lembar wawancara

b. Membuat format/instrumen penilaian RPP

c. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II

d. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP dari siklus ke siklus

2. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum

sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya

komponen RPP yang belum dibuat oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni: 1) identitas

mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian

kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran,

9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11) penilaiaan hasil belajar

( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat

dideskripsikan berikut ini:

Observasi dilaksanakan Selasa, 31 Agustus 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya

menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen

maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan

komponen indikator pencapaian kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar,

dapat dikemukakan sebagai berikut.

- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.


xxxiii
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman

penskoran, dan kunci jawaban.

- Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

- Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

- Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

Siklus II (Kedua)

Siklus kedua juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)

observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini:

Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya

menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam

langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/

menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil

belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

- Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.

- Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang

dipilih.

- Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.

- Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

B. Pembahasan
xxxiv
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Tunas Harapan Sebawi Kabupaten

Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta, terdiri atas delapan guru, dan

dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan

termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan

pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.

Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari

siklus ke siklus.

1. Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran

dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika

dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat

skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas

mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika

dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

2. Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam

RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%.

Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan

baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru

tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3

(baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi

peningkatan 13% dari siklus I.

xxxv
3. Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam

RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu

orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik).

Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut

mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan

enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan

13% dari siklus I.

4. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi

dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan

satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru

masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru

mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator

pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang

mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari

siklus I.

5. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam

RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%.

Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),

dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut

xxxvi
mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik)

dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84%, terjadi

peningkatan 21% dari siklus I.

6. Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya

(melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru

masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat

skor 2 (cukup baik), dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan

guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3

(baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81%, terjadi

peningkatan 15% dari siklus I.

7. Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-

nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika

dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi

waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4

(sangat baik). Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

8. Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran

dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan,

72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), lima orang mendapat skor 3 (baik),

xxxvii
dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut

mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup

baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).

Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

9. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan

pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan

pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),

sedangkan satu orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut

mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang

mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan,

72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.

10. Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-

nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang

guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada

siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua

orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika

dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

11. Komponen Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar

dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman
xxxviii
penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang

guru masing-masing mendapat skor 1 dan 3 (kurang baik dan baik), tiga orang mendapat

skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua

kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada

guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang

mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan,

78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP.

Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%, pada siklus II nilai rata-rata komponen

RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.

Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada

lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus SMP Tunas Harapan

Sebawi (Lampiran 4).

xxxix
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP

dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP

apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti.

Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara

dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.

2. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP.

Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa

terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus . Pada

siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi

peningkatan 14% dari siklus I.

xl
B. Saran

Telah terbukti bahwa dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi dan

kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa

saran sebagai berikut.

1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus

dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .

2. RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara

lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan

pembelajaran.

3. Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan

satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

xli
DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.

Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan Sastra Indonesia Dengan
Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.

Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Jakarta: Depdiknas.

2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses. Jakarta:


Depdiknas.

2007. Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007b tentang Standar Pengawas


Sekolah/Madrasah. Jakarata: Depdiknas.

xlii
2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran SMA. Jakarta.

2008. Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Depdiknas.

2009. Petunjuk Teknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya
Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.

Fatihah, RM . 2008. Pengertian konseling (Http://[Link], diakses 19 Maret 2009).

Imron, Ali. 2000. Pembinaan Guru Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

2010. Supervisi Akademik. Jakarta.

Kumaidi. 2008. Sistem Sertifikasi ([Link] diakses 10 Agustus 2009).

Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pidarta, Made . 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta : Binamitra
Publishing.

Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan


pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.

xliii
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua

LAMPIRAN - LAMPIRAN

xliv
Mutu pendidikan amat ditentukan oleh mutu gurunya Mendiknas, Bapak Abdul Malik Fadjar

“ (Republika, 2003). Untuk membangun pendidikan yang bermutu, yang paling penting bukan

membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya, melainkan harus dengan upaya

peningkatan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan, dan mencerdaskan.

Kesemuanya itu hanya dapat dilakukan oleh guru yang bermutu.

Lembar Wawancara kepada Guru

Ada beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan kepada guru yang berhubungan dengan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

1. Apakah bapak/Ibu mengetahui kerangka dalam menyusun RPP ?

2. Apakah bapak/Ibu memiliki dokumen Standar Proses ?

3. Apakah bapak/Ibu pernah mengikuti pelatihan/penataran dalam menyusun Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran ?

4. Apakah bapak/Ibu ada membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?

xlv
5. Jika ada, apakah bapak/ ibu menyusunnya sendiri atau mengadopsi RPP atau mengadaptasi

RPP yang dibuat oleh orang lain ?

6. Kalau tidak mengapa ? Jelaskan !

7. Bagaimanakah pendapat bapak/Ibu jika seorang guru mengajar tanpa menggunakan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?

8. Apakah ada kendala dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?

9. Apakah bapak/Ibu setuju guru mengajar menggunakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

10. Apakah Bapak/Ibu tahu komponen-komponen yang harus ada pada RPP?

xlvi
Lampiran 1

Lembar Wawancara kepada Guru

Beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada guru yang berhubungan dengan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.

1. Apakah Bapak/Ibu mengetahui kerangka dalam menyusun RPP ?


Jawab: Semua guru mengatakan belum mengetahuinya.
2. Apakah Bapak/Ibu memiliki dokumen Standar Proses ?
Jawab: Semua guru mengatakan tidak memilikinya. Hanya sebuah sebagai dokumen
sekolah.

3. Apakah Bapak/Ibu pernah mengikuti pelatihan/penataran dalam menyusun Rencana


Pelaksanaan Pembelajaran ?

Jawab: Enam dari delapan orang guru menyatakan belum pernah mengikuti pelatihan
pengembangan/penyusunan RPP.

4. Apakah Bapak/Ibu ada membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?

Jawab: Semuanya menyatakan telah membuat RPP, tapi tidak tahu apakah RPP yang telah
mereka buat, benar/salah, lengkap/belum.

5. Jika ada, apakah Bapak/ Ibu menyusunnya sendiri atau mengadopsi RPP atau mengadaptasi
RPP yang dibuat oleh orang lain ?

Jawab: Sebagian besar menyatakan mengadopsi dan mengadaptasi RPP orang lain.

6. Kalau tidak mengapa ? Jelaskan !

Jawab: -

xlvii
7. Bagaimanakah pendapat Bapak/Ibu jika seorang guru mengajar tanpa menggunakan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?

Jawab: Mereka mengatakan akan merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran dan
berlangsung kurang sistematis karena tidak ada acuan/pedoman dalam
melaksanakannya.

8. Apakah ada kendala dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?

Jawab: Sebagian besar menjawab “ada.”

9. Apakah Bapak/Ibu setuju guru mengajar menggunakan Rencana Pelaksanaan


Pembelajaran ?

Jawab: Semuanya menyatakan “setuju.”

10. Apakah Bapak/Ibu tahu komponen-komponen RPP secara lengkap?

Jawab: Sebagian besar menyatakan belum tahu.

xlviii
ANGKET YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI

NAMA GURU :
ASAL SEKOLAH :
ALAMAT SEKOLAH :

1. Guru wajib memiliki Standar proses dan standar penilaian


a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

2. Guru berkewajiban membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran


a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

3. Rencana Pelaksanaan pembelajaran digunakan sebagai acuan dalam mengajar


a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

4. Dalam penyusunan RPP paling sedikit memuat lima komponen yaitu tujuan pembelajaran,
materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

5. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh
peserta didik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

6. Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsif dan prosedur yang relevan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

7. Metode pembelajaran sesuai dengan karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang
hendak dicapai pada setiap mata pelajaran
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

8. Sumber belajar didasarkan pada SK, KD, Materi ajar, kegiatan pembelajaran dan indikator
pencapaian kompetensi
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

9. Penilaian hasil belajar mengacu kepada standar penilaian


a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

xlix
10. Komponnen penilaian dilengkapi dengan soal, pedoman penskoran dan kunci jawaban
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

11. RPP yang sudah dibuat perlu direvisi apabila tidak dapat dilaksanakan di kelas
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju

KETERANGAN :
Kolom komponen/aspek motivasi diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut :
STS = Sangat tidak setuju, skor 1
TS = Tidak setuju skor 2
S = Setuju skor 3
ST = Sangat setuju skor 4

PEDOMAN PENILAIAN RPP

NAMA RESPONDEN :…………………………………………………………..

NIP/NUPTK :………………………………………………………….

BIDANG STUDY :………………………………………………………….

KELAS :…………………………………………………………...

l
No Komponen NILAI Keterangan
1 2 3 4
1. Mencantumkan Identitas
2. Mencantumkan Indikator
3. Mencantumkan Tujuan
Pembelajaran
4. Mencantumkan Materi
Pembelajaran
5. Mencantumkan Metode
Pembelajaran
6. Mencantumkan langkah-langkah
kegiatan pembelajaran
7. Mencantumkan Sumber Belajar
8. Mencantumkan Penilaian
Jumlah Total =

Catatan :
Skor 1 : Tidak Mencantumkan
Skor 2 : Mencantumkan tapi tidak sinkron
Skor 3 : Mencantumkan secara singkat
Skor 4 : Mencantumkan secara lengkap dan sinkron

Saran :
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………

Perbaikan :
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………..

Sambas,…………2010
Kepala Sekolah

li

Common questions

Didukung oleh AI

A fully developed RPP benefits teachers by providing a clear and structured guide for implementing lessons, ensuring that all important educational standards and objectives are addressed. It also enables teachers to deliver lessons more confidently and effectively due to better preparation . For students, a detailed RPP ensures that lessons are interactive, engaging, and tailored to their developmental needs, encouraging active participation and maximizing learning outcomes . This comprehensive planning contributes to a more effective and enriching learning experience .

Teachers face several challenges, including limited professional development opportunities, particularly in private schools, which hinder their ability to construct and implement effective lesson plans . Incomplete understanding of RPP development can lead to unfulfilled learning objectives and fragmented instructional delivery. Additionally, reliance on external RPP templates rather than creating tailored plans further complicates tailored teaching practices to students' needs . Addressing these challenges requires effective guidance and continuous professional development .

The iterative cycle in School Action Research (SAR) is significant because it fosters continuous improvement and reflective practice among teachers. The cycle, which includes planning, acting, observing, and reflecting, allows teachers to systematically test and refine instructional strategies and lesson plans based on real-time feedback and outcomes . By iterating over these cycles, teachers can adapt their approach to meet evolving classroom needs and educational objectives, thus improving teaching efficacy and student learning . This method supports sustainable professional development and cultivates a growth-oriented educational environment .

Academic supervision plays a crucial role by providing guidance and feedback loops that help teachers understand and implement comprehensive lesson planning. The supervisory process involves structured observations and reflective discussions that enable teachers to identify gaps in their RPP and receive constructive feedback to improve these plans. It also facilitates a deeper understanding of educational standards and better alignment of lesson activities with learning objectives . Through this structured support, teachers can enhance their instructional strategies and outcomes .

Motivation is critical for teachers in developing comprehensive lesson plans because it drives their engagement with the planning process and commitment to improving pedagogical practice. Motivated teachers are more likely to actively participate in professional development, adopt new methodologies, and iteratively refine their lesson plans to meet educational standards, ultimately enhancing learning outcomes . The sources suggest that intrinsic motivation supported by external guides, like continuous professional development workshops, further encourages this commitment .

Professional development opportunities are more accessible to teachers in state schools compared to those in private schools, leading to disparities in the quality of lesson planning. Teachers in private schools reportedly have fewer chances to participate in training programs aimed at enhancing their professional competencies, resulting in a lack of understanding of how to create thorough and effective lesson plans . This gap impacts the overall effectiveness of instructional delivery in private educational settings .

An effective Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) should include components such as subject identity, learning standards, basic competencies, competency achievement indicators, learning objectives, teaching materials, time allocation, teaching methods, learning activities, learning resources, and outcome assessments (including questions, scoring guidelines, and answer keys). These elements ensure that lesson plans are comprehensive, allowing for structured, focused, and goal-oriented teaching that meets educational standards .

Continuous guidance significantly improves teachers' competence in lesson planning. The research indicates a positive correlation between sustained mentorship and the quality of RPP developed by teachers, leading to notable improvements across various components of lesson plans, from identifying objectives to formulating assessments . The iterative nature of evaluating, observing, and reflecting on lesson plans over multiple cycles reinforces learning and encourages comprehensive mastery of RPP .

Incomplete lesson planning, or Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), affects the teaching process by leading to non-systematic learning activities and unfulfilled learning objectives. It can result in less interactive, less engaging teaching environments which may not fully motivate students to participate actively . Furthermore, the incompleteness in constructing RPP, such as missing components of learning objectives and assessment, impairs the effectiveness of the learning process .

A professional teacher is characterized by taking their professional duties seriously, being proud of their profession, consistently working to improve their competence, working diligently without supervision, maintaining the good name of the profession, and being grateful for the rewards from their profession .

Anda mungkin juga menyukai