Peningkatan Kompetensi Guru RPP
Peningkatan Kompetensi Guru RPP
OLEH
KALIMANTAN BARAT
2010
i
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa Laporan Penelitian Tindakan Sekolah
(PTS) yang berjudul :
Disusun oleh :
………………………………………………………………………………
Pembimbing :
…………………….. 2010
…………………………………
NIP ……………………….
ii
DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan…………………………………………………………………… ii
Kata Pengantar………………………………………………………………………… iv
Daftar Lampiran……………………………………………………………………… v
Ringkasan…………………………………………………………………………….. vi
BAB I PENDAHULUAN.………………………………………………………….. 1
A. Latar Belakang……………………………………………………………….. 1
B. Identifikasi Masalah…………………………………………………………. 5
C. Pembatasan Masalah…………………………………………………………. 6
D. Rumusan Masalah……………………………………………………………. 6
E. Pemechan Masalah…………………………………………………………… 6
F. Tujuan Penelitian…………………………………………………………….. 7
G. Manfaat Penelitian…………….……………………………………………… 7
A. Pengertian Guru..………………………………………………………………… 10
B. Standar Kompetensi Guru………………………………………………………. 11
C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran…………………………………………… 14
D. Bimbingan Berkelanjutan…………….……………………………………… 18
A. Setting Penelitian…………………………………………………………….. 20
B. Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah.……………………………………… 21
C. Subjek Penelitian…………………………………………………..…………. 21
D. Sumber data…………………………………………………………… 21
E. Teknik Dan Alat Pengumpulan D……………………………………… 21
F. Prosedur Penelitian…..………………………………………………… 22
iii
G. Rencana Pelaksanaan………………………………………………………… 25
H. Indikator Pencapaian Hasil………………………………………………………… 26
A. Simpulan …………………………………………………………………… 37
B. Saran………………………………………………………………………… 37
Daftar Pustaka……………………………………………………………………… 39
LAMPIRAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat
dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
iv
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada
Diklat Penguatan kepala Sekolah.
Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala SEkolah, setiap peserta wajib
membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan
Sekolah pada saat On the Job Learning.. Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan
Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.
Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan
kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis
menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan
penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai
pihak yang berkompeten.
………………………. 2010
Peneliti
………………………….
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
v
Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan
dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen
sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
tenaga kependidikan guru dan nonguru . Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang
bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan
pendidikan ( penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan ).” Tenaga gurulah yang
Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus
Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam
melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh
kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan
beban, (3) seringnya siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4)
masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).
Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut,
perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus menerus untuk
meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk
”Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan belajar
mengajar di tempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan
vi
supervisi kepala sekolah” (Pidarta, 1992:3). Pada pelaksanaan KTSP menuntut kemampuan baru
pada guru untuk dapat mengelola proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Tingkat
( peserta didik, masyarakat ) akan sangat tergantung pada kualitas gurunya yang terlibat langsung
dalam proses pembelajaran dan keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab
Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di
kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru
harus mempersiapkan ( merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan
dengan efektif.
Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario
pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari,
metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta
penilaian.
vii
Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan
evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan karena
di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara
langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya.
Seorang guru dikatakan profesional apabila (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2)
kompetensinya, (4) bekerja dengan sungguh tanpa harus diawasi, (5) menjaga nama baik
menyatakan standar proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan
Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan . Guru pada satuan
pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik.
Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri
maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di
rumah dan bagi guru yang sudah membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum
viii
melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta
langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian ( penskoran
dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu
dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode
pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain
yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan
pengembangan RPP. Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang
dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan
orang lain. Hal ini peneliti ketahui pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi
Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah berusaha untuk memberi
bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan
pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional
pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah berdasarkan
Permendiknas No.12 Tahun 2007 tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang
biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP
ix
dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat
penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
B. Identifikasi Masalah
1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan
3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan.
4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen
C. Pembatasan Masalah
x
D. Perumusan Masalah
Apakah dengan bimbingan berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam
menyusun RPP ?
E. Pemecahan Masalah/Tindakan
1. Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan
berkelanjutan serta arahan kepada guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP
menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam
mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi dapat tersampaikan semua
karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun
RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu berupa lembar
pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil
belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP
xi
dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat RPP yang dibuat oleh
F. Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru
G. Manfaat Penelitian
peneliti.
artikel ilmiah.
d. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai syarat untuk kenaikan
golongan ke- IV b.
xii
e. Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-
f. Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam
menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada
a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih
lengkap.
tugasnya.
b. Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar sehingga apa yang diinginkan dalam
terhadap pelajaran.
b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga tercapai
target kompetensinya.
xiii
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Guru
Secara etimologi ( asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang artinya ”
orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” Shambuan, Republika, ( dalam
Suparlan 2005:11).
Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun
Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan
keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan kecerdasan intelektual
xiv
kinesthetic), seperti guru tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian,
guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek
lainnya.
kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini
hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai
pendidik dan pelatih. Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan,”
guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua
UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik
profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur
pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional
pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
(guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat
jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”
xv
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang
menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses
pembelajaran.
nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak” . “Secara sederhana
kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan
keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas
pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana
Sudjana 2009:1).
nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya
menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi
diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai
pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya,
sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-
baiknya.”
xvi
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang
direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi
adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta
penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.
Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Dari rumusan di atas
jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus
dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan
Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru
yakni (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4)
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk
penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan
bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru
dipilah ke dalam tiga komponen yang kait- mengait, yakni: 1) pengelolaan pembelajaran, 2)
xvii
pengembangan profesi, dan 3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat
kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua
interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut
wawasan kependidikan, dan 7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata
yang harus dimiliki guru, yakni: (1) menguasai materi atau bahan ajar, (2) antusiasme, dan
Depdiknas (2004: 4) tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan
dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan
tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak
tugasnya. Adapun manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan
pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak
yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian
sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan
dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah
secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan
mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai
dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran
adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan . Selanjutnya Oemar Hakim
(RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam
silabus.”
adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan
xix
Dalam KTSP, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun kurikulum dan
perencanaan program pembelajaran, meliputi: program tahunan, program semester, silabus, dan
untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar.
RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiap KD. Oleh karena
itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas
Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari a). identitas
mata pelajaran, (b) standar kompetensi, (c) kompetensi dasar, (d) indikator pencapaian
kompetensi, (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu , (h) metode
pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi: pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar,
(k) penilaian hasil belajar meliputi: soal, skor dan kunci jawaban.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 (2005 pasal 20) menyatakan bahwa,
”RPP minimal memuat sekurang-kurangnya lima komponen yang meliputi: (1) tujuan
pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil
belajar.”
xx
mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut,
b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c)
Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah
disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah
dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan
metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari
kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i)
menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci
jawaban
Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP disusun untuk
setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih, b) tujuan
pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus di capai oleh peserta didik
sesuai dengan kompetenrsi dasar, c) tujuan pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator,
atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus
dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPP
tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk
xxi
indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap
pertemuannya.
D. Bimbingan Berkelanjutan
“bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih,
mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang
“bimbingan membantu individu untuk lebih mengenal berbagai informasi tentang dirinya
sendiri.”
Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan
lingkungannya. Menurut Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”bimbingan adalah
Dari beberapa pengertian bimbingan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan
adalah pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan
oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat
memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan
lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan
xxii
dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi
bahwa bimbingan berkelanjutan adalah pemberian bantuan yang diberikan seorang ahli
kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan berlangsung secara terus menerus untuk
dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.
BAB III
METODE PENELITIAN
xxiii
A. Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian , jadwal
1. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di salah satu sekolah binaan berstatus swasta
2. Waktu Penelitian
PTS ini dilaksanakan pada semester satu tahun 2010 selama kurang lebih satu
4. Siklus Penelitian
xxiv
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat
(RPP ).
Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input instrument yang digunakan untuk
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru SMP Tunas Harapan Sebawi.
D. Sumber Data
Sumber data dalam PTS ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat
guru.
1. Teknik
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan
diskusi.
xxv
a. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang
c. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan
guru.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu
sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru, dalam meningkatkan
kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran .
xxvi
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan
menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus.
”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan
dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya
(Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti
guru dalam menyusun RPP. Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau usaha guna
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut
1. Rencana : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam
2. Pelaksanaan: Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi
guru dalam menyusun RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan
xxvii
3. Observasi: Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat untuk
lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru
Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan
4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari
tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti
bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhadap RPP yang telah
disusun agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai
Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari awal sampai akhir.
Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang
dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1)
perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling
terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan
penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai
xxviii
Perencanaan Pelaksanaan
Permasalahan
tindakan I
Pengamatan/
Refleksi I
pengumpulan data I
Permasalahan baru
hasil refleksi Perencanaan
Pelaksanaan
tindakan II
tindakan II
Refleksi II Pengamatan/
pengumpulan data II
Apabila
permasalahan belum
Dilanjutkan ke siklus
terselesaikan
berikutnya
G. Rencana Pelaksanaan
xxix
a).Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat format/instrumen
b). Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan atau
b). Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.
d). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua,
b). Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.
c). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
xxx
H. Indikator Pencapaian Hasil
Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru
ketercapaiannya 75%.
BAB IV
xxxi
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
Dari hasil wawancara terhadap delapan orang guru, peneliti memperoleh informasi
bahwa semua guru (delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang
memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti
pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan
guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus
acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan
Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada
siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya
dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan
penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada
Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi
Siklus I (Pertama)
xxxii
Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi,
1. Perencanaan ( Planning )
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum
sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya
komponen RPP yang belum dibuat oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni: 1) identitas
9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11) penilaiaan hasil belajar
( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat
Observasi dilaksanakan Selasa, 31 Agustus 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya
menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen
maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan
- Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.
Siklus II (Kedua)
Siklus kedua juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini:
Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya
menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam
menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil
- Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang
dipilih.
B. Pembahasan
xxxiv
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Tunas Harapan Sebawi Kabupaten
Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta, terdiri atas delapan guru, dan
dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan
termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan
Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari
siklus ke siklus.
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran
dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat
skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas
mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam
Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan
baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru
tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3
(baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi
xxxv
3. Komponen Kompetensi Dasar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam
RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu
orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik).
Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut
mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan
enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan
Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi
satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru
masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru
mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator
pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang
mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari
siklus I.
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam
Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),
dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut
xxxvi
mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik)
dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84%, terjadi
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya
(melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru
masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat
skor 2 (cukup baik), dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan
guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3
(baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81%, terjadi
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-
nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika
dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi
waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4
(sangat baik). Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran
72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), lima orang mendapat skor 3 (baik),
xxxvii
dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut
mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup
baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan
pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),
sedangkan satu orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut
mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan,
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-
nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang
guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada
siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua
orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar
dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman
xxxviii
penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang
guru masing-masing mendapat skor 1 dan 3 (kurang baik dan baik), tiga orang mendapat
skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua
kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada
guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang
mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan,
Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP.
Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%, pada siklus II nilai rata-rata komponen
Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada
lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus SMP Tunas Harapan
xxxix
BAB V
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.
dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP
Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara
Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa
terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus . Pada
siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi
xl
B. Saran
Telah terbukti bahwa dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi dan
kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa
1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus
pembelajaran.
3. Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan
xli
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan Sastra Indonesia Dengan
Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
xlii
2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran SMA. Jakarta.
2009. Petunjuk Teknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya
Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.
Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Pidarta, Made . 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta : Binamitra
Publishing.
xliii
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
LAMPIRAN - LAMPIRAN
xliv
Mutu pendidikan amat ditentukan oleh mutu gurunya Mendiknas, Bapak Abdul Malik Fadjar
“ (Republika, 2003). Untuk membangun pendidikan yang bermutu, yang paling penting bukan
membangun gedung sekolah atau sarana dan prasarananya, melainkan harus dengan upaya
Ada beberapa pertanyaan yang akan ditanyakan kepada guru yang berhubungan dengan
Pelaksanaan Pembelajaran ?
xlv
5. Jika ada, apakah bapak/ ibu menyusunnya sendiri atau mengadopsi RPP atau mengadaptasi
10. Apakah Bapak/Ibu tahu komponen-komponen yang harus ada pada RPP?
xlvi
Lampiran 1
Beberapa pertanyaan yang ditanyakan kepada guru yang berhubungan dengan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.
Jawab: Enam dari delapan orang guru menyatakan belum pernah mengikuti pelatihan
pengembangan/penyusunan RPP.
Jawab: Semuanya menyatakan telah membuat RPP, tapi tidak tahu apakah RPP yang telah
mereka buat, benar/salah, lengkap/belum.
5. Jika ada, apakah Bapak/ Ibu menyusunnya sendiri atau mengadopsi RPP atau mengadaptasi
RPP yang dibuat oleh orang lain ?
Jawab: Sebagian besar menyatakan mengadopsi dan mengadaptasi RPP orang lain.
Jawab: -
xlvii
7. Bagaimanakah pendapat Bapak/Ibu jika seorang guru mengajar tanpa menggunakan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ?
Jawab: Mereka mengatakan akan merasa kesulitan dalam melaksanakan pembelajaran dan
berlangsung kurang sistematis karena tidak ada acuan/pedoman dalam
melaksanakannya.
xlviii
ANGKET YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI
NAMA GURU :
ASAL SEKOLAH :
ALAMAT SEKOLAH :
4. Dalam penyusunan RPP paling sedikit memuat lima komponen yaitu tujuan pembelajaran,
materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
5. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh
peserta didik
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
6. Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsif dan prosedur yang relevan
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
7. Metode pembelajaran sesuai dengan karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang
hendak dicapai pada setiap mata pelajaran
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
8. Sumber belajar didasarkan pada SK, KD, Materi ajar, kegiatan pembelajaran dan indikator
pencapaian kompetensi
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
xlix
10. Komponnen penilaian dilengkapi dengan soal, pedoman penskoran dan kunci jawaban
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
11. RPP yang sudah dibuat perlu direvisi apabila tidak dapat dilaksanakan di kelas
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
KETERANGAN :
Kolom komponen/aspek motivasi diisi dengan angka yang sesuai dengan kriteria berikut :
STS = Sangat tidak setuju, skor 1
TS = Tidak setuju skor 2
S = Setuju skor 3
ST = Sangat setuju skor 4
NIP/NUPTK :………………………………………………………….
KELAS :…………………………………………………………...
l
No Komponen NILAI Keterangan
1 2 3 4
1. Mencantumkan Identitas
2. Mencantumkan Indikator
3. Mencantumkan Tujuan
Pembelajaran
4. Mencantumkan Materi
Pembelajaran
5. Mencantumkan Metode
Pembelajaran
6. Mencantumkan langkah-langkah
kegiatan pembelajaran
7. Mencantumkan Sumber Belajar
8. Mencantumkan Penilaian
Jumlah Total =
Catatan :
Skor 1 : Tidak Mencantumkan
Skor 2 : Mencantumkan tapi tidak sinkron
Skor 3 : Mencantumkan secara singkat
Skor 4 : Mencantumkan secara lengkap dan sinkron
Saran :
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
Perbaikan :
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………..
Sambas,…………2010
Kepala Sekolah
li
A fully developed RPP benefits teachers by providing a clear and structured guide for implementing lessons, ensuring that all important educational standards and objectives are addressed. It also enables teachers to deliver lessons more confidently and effectively due to better preparation . For students, a detailed RPP ensures that lessons are interactive, engaging, and tailored to their developmental needs, encouraging active participation and maximizing learning outcomes . This comprehensive planning contributes to a more effective and enriching learning experience .
Teachers face several challenges, including limited professional development opportunities, particularly in private schools, which hinder their ability to construct and implement effective lesson plans . Incomplete understanding of RPP development can lead to unfulfilled learning objectives and fragmented instructional delivery. Additionally, reliance on external RPP templates rather than creating tailored plans further complicates tailored teaching practices to students' needs . Addressing these challenges requires effective guidance and continuous professional development .
The iterative cycle in School Action Research (SAR) is significant because it fosters continuous improvement and reflective practice among teachers. The cycle, which includes planning, acting, observing, and reflecting, allows teachers to systematically test and refine instructional strategies and lesson plans based on real-time feedback and outcomes . By iterating over these cycles, teachers can adapt their approach to meet evolving classroom needs and educational objectives, thus improving teaching efficacy and student learning . This method supports sustainable professional development and cultivates a growth-oriented educational environment .
Academic supervision plays a crucial role by providing guidance and feedback loops that help teachers understand and implement comprehensive lesson planning. The supervisory process involves structured observations and reflective discussions that enable teachers to identify gaps in their RPP and receive constructive feedback to improve these plans. It also facilitates a deeper understanding of educational standards and better alignment of lesson activities with learning objectives . Through this structured support, teachers can enhance their instructional strategies and outcomes .
Motivation is critical for teachers in developing comprehensive lesson plans because it drives their engagement with the planning process and commitment to improving pedagogical practice. Motivated teachers are more likely to actively participate in professional development, adopt new methodologies, and iteratively refine their lesson plans to meet educational standards, ultimately enhancing learning outcomes . The sources suggest that intrinsic motivation supported by external guides, like continuous professional development workshops, further encourages this commitment .
Professional development opportunities are more accessible to teachers in state schools compared to those in private schools, leading to disparities in the quality of lesson planning. Teachers in private schools reportedly have fewer chances to participate in training programs aimed at enhancing their professional competencies, resulting in a lack of understanding of how to create thorough and effective lesson plans . This gap impacts the overall effectiveness of instructional delivery in private educational settings .
An effective Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) should include components such as subject identity, learning standards, basic competencies, competency achievement indicators, learning objectives, teaching materials, time allocation, teaching methods, learning activities, learning resources, and outcome assessments (including questions, scoring guidelines, and answer keys). These elements ensure that lesson plans are comprehensive, allowing for structured, focused, and goal-oriented teaching that meets educational standards .
Continuous guidance significantly improves teachers' competence in lesson planning. The research indicates a positive correlation between sustained mentorship and the quality of RPP developed by teachers, leading to notable improvements across various components of lesson plans, from identifying objectives to formulating assessments . The iterative nature of evaluating, observing, and reflecting on lesson plans over multiple cycles reinforces learning and encourages comprehensive mastery of RPP .
Incomplete lesson planning, or Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), affects the teaching process by leading to non-systematic learning activities and unfulfilled learning objectives. It can result in less interactive, less engaging teaching environments which may not fully motivate students to participate actively . Furthermore, the incompleteness in constructing RPP, such as missing components of learning objectives and assessment, impairs the effectiveness of the learning process .
A professional teacher is characterized by taking their professional duties seriously, being proud of their profession, consistently working to improve their competence, working diligently without supervision, maintaining the good name of the profession, and being grateful for the rewards from their profession .