0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan17 halaman

Gipsum dalam Kedokteran Gigi: Tipe dan Karakteristik

Paragraf pertama menjelaskan pengertian gipsum secara umum dan kegunaannya dalam bidang konstruksi dan kedokteran. Paragraf berikutnya menjelaskan penggunaan gipsum khususnya dalam kedokteran gigi untuk pembuatan model studi dan kerja. Kemudian dibahas klasifikasi 5 jenis gipsum berdasarkan sifatnya sesuai standar ADA. Proses pembuatan gipsum kedokteran gigi juga dijelask

Diunggah oleh

hasnamagda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan17 halaman

Gipsum dalam Kedokteran Gigi: Tipe dan Karakteristik

Paragraf pertama menjelaskan pengertian gipsum secara umum dan kegunaannya dalam bidang konstruksi dan kedokteran. Paragraf berikutnya menjelaskan penggunaan gipsum khususnya dalam kedokteran gigi untuk pembuatan model studi dan kerja. Kemudian dibahas klasifikasi 5 jenis gipsum berdasarkan sifatnya sesuai standar ADA. Proses pembuatan gipsum kedokteran gigi juga dijelask

Diunggah oleh

hasnamagda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gipsum
Gipsum merupakan mineral yang berasal dari alam yang telah dikenal selama
berabad-abad. Gipsum terbentuk secara alamiah dari hasil penguapan air di
pedalaman perairan kuno yang mengendap.16 Gipsum atau kalsium sulfat dihidrat
yang murni berwarna putih transparan, namun terkadang dapat berwarna abu-abu,
coklat atau merah muda dan memiliki struktur kimia CaSO4.2H2O. Ketika
dipanaskan, gipsum kehilangan sekitar tiga perempat kadar air dan menjadi gipsum
hemihidrat (CaSO4.½H2O), yang lembut dan dapat dengan mudah dihancurkan yang
disebut plaster of paris.1 Kegunaan gipsum secara umum dapat dijadikan sebagai
bahan bangunan, selain itu dapat juga digunakan di bidang kedokteran dan
kedokteran gigi.

2.2 Gipsum Kedokteran Gigi


Produk gipsum merupakan salah satu bahan yang paling memadai dalam
membantu profesi kedokteran gigi dibandingkan bahan-bahan lain. Gipsum di
kedokteran gigi paling banyak digunakan untuk pembuatan model studi atau model
kerja dan sebagai bahan pengisian kuvet atau biasa disebut dengan bahan tanam.
Model studi digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis dan rencana
perawatan, sedangkan model kerja digunakan sebagai media untuk mendesain
gigitiruan. Gipsum banyak dipakai di bidang kedokteran gigi karena memiliki sifat
mudah untuk dimanipulasi, dimensi yang stabil dan kompatibilitas dengan bahan-
bahan lainnya.17

2.2.1 Klasifikasi Gipsum Kedokteran Gigi


Gipsum di bidang kedokteran gigi terdiri dari beberapa tipe. American
Dental Association (ADA) No.25 membagi gipsum menjadi lima tipe.13 Masing –

Universitas Sumatera Utara


9

masing tipe memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda, hal ini disesuaikan untuk
kegunaannya.
1. Tipe I (Impression Plaster)
Gipsum tipe I digunakan untuk mencetak pasien yang telah kehilangan gigi,
hal ini disebabkan sifatnya yang tidak elastis dan mudah patah. Apabila gipsum tipe
ini digunakan untuk mencetak pada pasien yang memiliki gigi, maka undercut gigi
tidak dapat tercetak dengan baik. Gipsum tipe ini memiliki karakteristik waktu
pengerasan (setting time) yang pendek, ekspansi yang kecil sekitar 0,13%, w/p ratio
yang tinggi dan kekuatan kompresi yang rendah.11
2. Tipe II (Laboratory or Model Plaster)
Pada dasarnya gipsum tipe II merupakan plaster of Paris, gipsum ini
digunakan sebagai model studi dan sebagai bahan pengikat model kerja ke
artikulator. Gipsum tipe II memiliki karakteristik w/p ratio yang rendah, ekspansi
yang lebih tinggi dibandingkan gipsum tipe I, setting time yang pendek dan kekuatan
kompresi yang lebih tinggi daripada gipsum tipe I.1
3. Tipe III (Dental Stone)
Dental stone umumnya digunakan sebagai bahan pembuatan model kerja.
Gipsum tipe III memiliki karakteristik lebih keras dan lebih kuat dibandingkan
gipsum tipe II sehingga lebih tahan lama. Dental stone memiliki w/p ratio yang lebih
rendah dibandingkan gipsum tipe II, ekspansi sebesar 0,15-0,2% dan kekuatan
kompresi sebesar 20,7–34,5 MPa.2,13
4. Tipe IV (Dental Stone, High Strength)
Gipsum tipe IV atau biasa disebut dengan die stone digunakan untuk media
pembuatan dai. Gipsum ini memiliki ketahanan terhadap abrasi yang cukup baik
untuk menghindari perubahan bentuk gipsum saat mengukir wax, w/p ratio yang
rendah dan kekuatannya dua kali lipat dari gipsum tipe III.2
5. Tipe V (High-Strength, High Expansion Dental Stone)
Gipsum tipe V memiliki kekuatan kompresi dan ekspansi yang lebih tinggi
dibandingkan gipsum tipe IV, hal ini diperoleh dari pengurangan perbandingan air

Universitas Sumatera Utara


10

dan bubuk (w/p ratio). Gipsum tipe ini digunakan sebagai model kerja dalam
pembuatan gigitiruan berbasis logam.13

2.2.2 Proses Pembuatan Gipsum Kedokteran Gigi


Gipsum kedokteran gigi diproduksi dengan cara mengkalsinasi kalsium sulfat
dihidrat. Kalsinasi merupakan proses pemanasan gipsum untuk mengeluarkan air dan
mengubah kalsium sulfat dihidrat menjadi kalsium sulfat hemihidrat. Berdasarkan
metode kalsinasi, berbagai bentuk hemihidrat dapat diperoleh. Bentuk-bentuk yang
dapat diperoleh antara lain α-hemihidrat, α-hemihidrat modifikasi dan β-hemihidrat.
Perbedaan antara α- dan β-hemihidrat yaitu ukuran partikel kristal hemihidrat dan
luas permukaan. β-hemihidrat atau dental plaster (tipe I dan II) diperoleh dari proses
pemanasan di ketel terbuka dengan suhu 110°-120°C, partikel yang dihasilkan
berukuran besar, berbentuk ireguler dan spongious, sementara α-hemihidrat diperoleh
dari proses pemanasan di autoklaf dengan tekanan uap 120°-130°C memiliki partikel
berukuran lebih kecil dan berbentuk batang atau prisma yang teratur. α-hemihidrat
modifikasi diperoleh dari proses pendidihan gipsum di dalam 30% larutan kalsium
klorida dan magnesium klorida. Proses ini menghasilkan partikel hemihidrat yang
paling halus, berbentuk kuboid dan lebih padat sehingga digunakan sebagai dai. α-
hemihidrat modifikasi lebih dikenal sebagai die stone atau gipsum tipe IV.7,13
(Gambar 1)

Universitas Sumatera Utara


11

Gambar 1. Diagram pembentukan gipsum kedokteran gigi7

2.2.3 Karakteristik Gipsum Kedokteran Gigi


Gipsum kedokteran gigi mempunyai beberapa karakteristik yaitu :
1. Setting time
Setting time atau waktu pengerasan merupakan waktu yang dibutuhkan bubuk
gipsum dan air untuk bereaksi sempurna yang dihitung saat dimulai pengadukan
sampai campuran gipsum mengeras. Reaksi pengerasan yang terjadi adalah sebagai
berikut :
a. Ketika bubuk hemihidrat gipsum dicampurkan dengan air, terbentuk suatu
suspensi cair dan dapat dimanipulasi
b. Bubuk hemihidrat terlarut sampai terbentuk larutan jenuh
c. Larutan jenuh ini sangat penuh dengan dihidrat sehingga dihidrat
mengendap

Universitas Sumatera Utara


12

d. Ketika dihidrat mengendap, larutan sudah tidak lagi jenuh dengan


hemihidrat, maka hemihidrat akan terus terlarut. Kemudian proses berlanjut1,3
2. Setting expansion
Setting expansion merupakan hasil dari pertumbuhan kristal dari nukleus yang
saling berikatan satu dengan lainnya dan menyebabkan suatu tekanan atau dorongan
keluar yang terjadi pada semua kristal gipsum. Hal ini juga yang memengaruhi
perubahan dimensi dari suatu hasil cetakan. Setiap tipe gipsum memiliki ekspansi
massa yang berbeda-beda yang dapat diamati pada saat perubahan partikel hemihidrat
menjadi dihidrat, berdasarkan komposisi produk gipsum ekspansi linier yang dapat
diamati sekitar 0,06% - 0,5%.1,3
3. W/p ratio
W/p ratio atau perbandingan air dan bubuk gipsum merupakan faktor penting
dalam menentukan sifat fisik dan kimia dari produk akhir gipsum. Semakin banyak
air yang digunakan untuk pengadukan maka akan semakin sedikit jumlah nukleus
pada unit volume, misalnya semakin tinggi perbandingan air dan bubuk gipsum akan
menyebabkan semakin lama waktu pengerasan yang dibutuhkan dan semakin lemah
kekuatannya. Setiap tipe gipsum memiliki w/p ratio yang berbeda, namun secara
umum gipsum tipe I memiliki w/p ratio 50-75 ml air : 100 gram bubuk gipsum,
gipsum tipe II memiliki w/p ratio 45-50 ml air : 100 gram bubuk gipsum, gipsum tipe
III memiliki w/p ratio 28-30 ml air : 100 gram bubuk gipsum, gipsum tipe IV
memiliki w/p ratio 22-24 ml air : 100 gram bubuk gipsum dan gipsum tipe V
memiliki w/p ratio 18-22 ml air : 100 gram bubuk gipsum.1,3
4. Kekuatan kompresi
Kekuatan produk gipsum umumnya dinyatakan dalam istilah kekuatan
kompresi. Berdasarkan teori pengerasan, maka suatu produk gipsum akan memiliki
kekuatan yang meningkat pada saat bahan mulai mengeras. Kekuatan kompresi
gipsum berbeda setiap tipenya, gipsum tipe I memiliki kekuatan kompresi 4 MPa atau
sekitar 580 psi, gipsum tipe II memiliki kekuatan kompresi 9 MPa atau sekitar 1300
psi, gipsum tipe III memiliki kekuatan kompresi 20,7 MPa atau sekitar 3000 psi,

Universitas Sumatera Utara


13

gipsum tipe IV memiliki kekuatan kompresi 34,5 MPa atau sekitar 5000 psi dan
gipsum tipe V memiliki kekuatan kompresi 48,3 MPa atau sekitar 7000 psi.1,3
5. Perubahan dimensi
Idealnya sebuah bahan untuk pembuatan model gigi harus memiliki sifat
kestabilan dimensi yang baik, sehingga ukuran struktur rongga mulut dapat tercetak
secara akurat. Namun, bahan gipsum mengalami sedikit perubahan dimensi pada saat
pengerasan. Perubahan dimensi dapat dipengaruhi oleh perbandingan air dan bubuk
gipsum, perbandingan air dan bubuk yang tinggi akan menyebabkan ekspansi yang
lebih sedikit. Sementara itu, penambahan air pada saat pengadukan awal dapat
meningkatkan ekspansi pada saat pengerasan. Jenis ekpansi ini disebut ekspansi
higroskopis. Ekspansi higroskopis dapat meningkat secara signifikan, pada gipsum
tipe IV, ekspansi higroskopis dapat meningkat dari 0,05% tanpa penambahan air
menjadi 0,1% setelah penambahan air.3

2.3 Kekuatan Kompresi Gipsum Kedokteran Gigi


Dalam ilmu kekuatan bahan, kekuatan kompresi dapat diartikan sebagai
kapasitas suatu bahan untuk menahan beban yang diberikan kepada bahan tersebut,
dimana beban yang diberikan cenderung dapat menghancurkannya. Kekuatan
kompresi dapat diukur dengan menghancurkan spesimen bahan berbentuk silindris
pada alat uji tekan. Kekuatan kompresi dihitung dari kegagalan suatu bahan
menerima tekanan dibagi dengan cross-sectional area beban yang dinyatakan dalam
satuan per square inch (psi) atau megapascal (MPa).16
Kekuatan kompresi pada gipsum dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
kekuatan basah dan kekuatan kering. Kekuatan yang diperoleh pada saat kelebihan air
yang dibutuhkan pada proses hidrasi hemihidrat tertinggal di dalam bahan disebut
kekuatan basah, sedangkan kekuatan kering adalah kekuatan yang diperoleh apabila
bahan atau gipsum dikeringkan dari kelebihan air. Kekuatan kering dinyatakan
memiliki kekuatan yang lebih hingga dua kali lipat dari kekuatan basah. Apabila
waktu pengeringan ditambah maka kekuatan kompresi gipsum dapat meningkat pula.
Pada umumnya, produk gipsum atau model kerja mencapai kekuatan maksimum

Universitas Sumatera Utara


14

setelah mengalami pengeringan selama 24 jam. Hal ini disebabkan pada saat tetesan
air yang terakhir keluar, kristal-kristal gipsum mengendap dan akan menjangkarkan
kristal-kristal yang lebih besar berfungsi sebagai penguat ikatan antar kristal.1,3
Kekuatan kompresi gipsum dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1. W/p ratio
Semakin banyak air yang digunakan, maka semakin sedikit jumlah nukleus
per unit volume dan kristal-kristal gipsum yang kecil akan langsung terlarut sehingga
penjangkaran antar kristal menghilang, hal ini menyebabkan semakin sedikit jumlah
kristal per unit volume untuk berat hemihidrat tertentu. Keadaan ini disebut porositas,
semakin besar porositas maka akan semakin kecil kekuatan kering yang dihasilkan
dan semakin rendah kekuatan kompresinya.1,3
2. Kecepatan dan waktu pengadukan
Sebagian kristal gipsum langsung terbentuk pada saat bubuk gipsum
berkontak dengan air, pada saat pengadukan dimulai pembentukan kristal meningkat,
pada saat yang bersamaan ikatan kristal yang dibentuk diputuskan oleh spatula
pengaduk dan didistribusikan secara merata sehingga nukleus kristal lebih banyak
terbentuk. Waktu pengadukan juga berpengaruh terhadap kekuatan kompresi produk
gipsum, umumnya dengan peningkatan waktu pengadukan kekuatan kompresi akan
meningkat pula sampai batas optimalnya, namun apabila pengadukan terlalu lama,
kristal-kristal gipsum yang sudah terbentuk akan pecah dan jumlah ikatan antar
kristal sedikit, hal ini yang menyebabkan kekuatan kompresi dapat menurun.1,3
3. Akselerator dan retarder
Penambahan akselerator ataupun retarder dapat mengurangi kekuatan basah
ataupun kekuatan kering dari produk gipsum. Hal ini disebabkan oleh penambahan
garam yang dilakukan memengaruhi kemurnian serta mengurangi kohesi antar kristal
gipsum.1,3
4. Kemurnian bubuk gipsum
Gipsum merupakan material yang higroskopis (dapat menyerap air dari
udara). Apabila bubuk gipsum dibiarkan di udara terbuka selama beberapa hari, maka
bubuk gipsum tersebut akan menyerap air dari udara dan permukaan dari partikel

Universitas Sumatera Utara


15

hemihidrat akan berubah menjadi dihidrat. Efek yang ditimbulkan pada saat
pengadukan yaitu penurunan waktu pengerasan karena rendahnya kelarutan dari
partikel hemihidrat yang dapat menurunkan kekuatan kompresi.1,3
5. Suhu dan kelembaban udara
Gipsum hanya stabil apabila berada dibawah suhu 40°C. Apabila pengeringan
produk gipsum dilakukan pada suhu yang tinggi harus dapat dikontrol dengan baik.
Kehilangan air akan sangat cepat terjadi apabila berada pada suhu diatas 100°C dan
dapat menyebabkan pengerutan dan penurunan kekuatan kompresi.1,3

2.4 Daur Ulang


Definisi daur ulang berdasarkan SNI 19-2454-2002 adalah proses pengolahan
sampah yang menghasilkan produk baru. Sampah ini bisa dimanfaatkan secara
langsung atau harus mengalami proses terlebih dahulu untuk menjadi bahan baku
baru. Pada pemahaman yang terbatas, proses daur ulang harus menghasilkan produk
yang mirip dengan aslinya, dalam hal ini gipsum bekas atau limbah gipsum didaur
ulang menjadi gipsum siap pakai. Terdapat beberapa alasan daur ulang yaitu:
1. Alasan ketersediaan sumber daya alam, terutama untuk sumber daya alam
yang tidak dapat diperbaharui.
2. Alasan nilai ekonomi, sampah dapat bernilai ekonomi bila dimanfaatkan
kembali dalam bentuk pemanfaatan energi atau pemanfaatan bahan (bahan utama dan
bahan pembantu).
3. Alasan perlindungan terhadap lingkungan karena sampah berdampak
negatif terhadap lingkungan (pencemaran). Hal ini yang menjadi dasar kegiatan daur
ulang gipsum perlu dilakukan. Limbah gipsum kedokteran gigi tidak dapat diurai oleh
bakteri di tanah menyebabkan pencemaran lingkungan seperti timbulnya gas H2S dan
SO2.5,17
Proses daur ulang dapat meliputi beberapa tahap :
1. Pemisahan dan pengelompokan: hal ini ditujukan untuk mendapatkan
limbah gipsum yang sejenis, yaitu model kerja yang dibuat dari gipsum tipe III.

Universitas Sumatera Utara


16

2. Pemurnian: untuk mendapatkan bahan/elemen semurni mungkin, melalui


proses fisik, kimia, biologi atau termal. Gipsum disaring menggunakan ayakan dan
melalui pemanasan di autoklaf.
3. Pencampuran: Untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat, dalam hal
ini limbah gipsum ditambahkan garam dapur.
4. Pengolahan/perlakuan: Untuk mengolah sampah menjadi bahan yang siap
pakai.17

2.5 Daur Ulang Gipsum Kedokteran Gigi


Gipsum kedokteran gigi merupakan bahan yang cukup banyak digunakan
dalam bidang kedokteran gigi, terutama dalam pembuatan model studi atau model
kerja. Model kerja yang digunakan dalam proses pembuatan gigitiruan apabila telah
selesai dipakai akan menjadi limbah dan dibuang begitu saja. Abdelfatah dan Tabsh
(2008) menyatakan bahwa limbah gipsum tidak mudah diuraikan dan dapat
menimbulkan gas SO2 dan H2S apabila terkena radiasi sinar infra merah dan
ultraviolet.5 Gas SO2 merupakan gas yang dapat mencemari lingkungan dan
berbahaya bagi kesehatan manusia. Pencemaran udara oleh gas SO2 dapat
menyebabkan terjadinya iritasi pada sistem pernapasan. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm
di udara atau lebih. Bahkan bagi penderita yang mempunyai penyakit kronis pada
sistem pernapasan, kardiovaskular dan penderita lanjut usia dengan paparan gas SO2
yang rendah saja yaitu sebesar 0,2 ppm sudah dapat menyebabkan iritasi
tenggorokan. Selain dampak terhadap kesehatan manusia, gas SO2 juga berpengaruh
negatif pada benda-benda maupun tanaman melalui pembentukan hujan asam, dengan
reaksi:
½ O2 + SO2 + H2O  H2SO4
dan menyebabkan pH air hujan cenderung rendah (pH < 7) .18
Untuk mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan oleh gas SO2, perlu
adanya upaya yang dilakukan untuk mengurangi kadar emisi gas yang ditimbulkan

Universitas Sumatera Utara


17

dari limbah gipsum kedokteran gigi, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan cara mendaur ulang.
Gipsum kedokteran gigi merupakan bahan yang bersifat reversibel atau
dengan kata lain dapat didaur ulang. Partikel gipsum yang diperoleh dari limbah
model kerja memiliki kandungan air yang terjebak di kristalnya, Cindy (2014)
menemukan kadar air yang terkandung di dalam gipsum tipe III pabrikan sebesar
0,57% dan di dalam limbah gipsum tipe III sebesar 8,88%.10 Perbedaan kandungan
air pada partikel gipsum pabrikan dan limbah gipsum akan memengaruhi kekuatan
kompresi gipsum, semakin sedikit kandungan air dalam partikel gipsum akan
meningkatkan kekuatan kompresinya. Untuk mendapatkan kekuatan kompresi
gipsum daur ulang yang optimum, kadar air di dalam partikel gipsum daur ulang
harus sedikit, sehingga diperlukan proses pemanasan atau kalsinasi untuk
mengeluarkan kadar air dari partikel limbah gipsum yang akan didaur ulang.

2.5.1 Faktor yang Memengaruhi Daur Ulang Gipsum Kedokteran Gigi


Untuk mencapai kekuatan kompresi gipsum daur ulang yang maksimum,
gipsum harus memenuhi salah satu karakteristiknya yaitu kemurnian bubuk gipsum.
Hal ini dapat diperoleh dari proses penyaringan dan penyimpanan sehingga bubuk
gipsum daur ulang tidak terkontaminasi oleh zat lain, penyaringan dilakukan dengan
ayakan partikel dan penyimpanan di wadah tertutup. Selain itu, proses pembuatan
gipsum daur ulang harus sesuai dengan proses pembuatan gipsum kedokteran gigi.
Pada penelitian kali ini, proses pembuatan gipsum daur ulang mengikuti proses
pembentukan gipsum tipe III yang memiliki kekuatan kompresi cukup besar agar
dapat digunakan sebagai model kerja ataupun model studi.1,13

2.5.2 Syarat Daur Ulang Gipsum Kedokteran Gigi


Syarat yang harus dipenuhi dalam proses daur ulang ialah limbah yang
digunakan harus homogen dan tidak terkontaminasi. Limbah gipsum yang digunakan
haruslah berasal dari jenis yang sama dengan perlakuan yang sama, artinya dalam
manipulasi gipsum memiliki perbandingan air dan bubuk yang sama pula. Hal ini

Universitas Sumatera Utara


18

harus diperhatikan agar tidak memengaruhi kekuatan kompresi gipsum daur ulang.
Limbah gipsum yang digunakan juga tidak boleh terkontaminasi oleh zat lain, maka
dari itu proses pemisahan dan pengelompokkan merupakan langkah awal proses daur
ulang.

2.5.3 Mekanisme Daur Ulang Gipsum Kedokteran Gigi


Sifat reversibel yang dimiliki gipsum dapat mengubah partikel dihidrat
menjadi partikel hemihidrat dan sebaliknya karena adanya peristiwa dehidrasi/hidrasi
atau keluar masuknya partikel air.4 Untuk memperoleh bubuk gipsum daur ulang
maka partikel dihidrat harus diubah menjadi parikel hemihidrat, ini diperoleh apabila
partikel air dikeluarkan dari senyawa kalsium sulfat dihidrat. Peristiwa dehidrasi atau
keluarnya partikel air dapat terjadi melalui proses pemanasan atau kalsinasi. Hal ini
dibuktikan oleh penelitian yang telah dilakukan oleh Ibrahim (1995) dan Abidoye dan
Bello (2010). Mereka menyatakan bahwa daur ulang gipsum dapat dilakukan melalui
proses pemanasan dan hasilnya menunjukkan mikrostruktur yang mirip dengan
gipsum pabrikan.5-9 Gipsum atau kalsium sulfat dihidrat (CaSO4.2H2O) apabila
dipanaskan pada suhu < 200°C akan kehilangan 1,5 gram mol dari 2 gram mol H2O
dan berubah menjadi kalsium sulfat hemihidrat (CaSO4.½H2O).
2CaSO4.2H2O + pemanasan  (CaSO4)2.H2O + 3H2O
Kalsium sulfat dihidrat Kalsium sulfat hemihidrat
Sesuai dengan prinsipnya, proses daur ulang harus menghasilkan produk yang
mirip dengan aslinya, maka daur ulang gipsum kedokteran gigi harus memenuhi
kriteria yang mirip dengan gipsum pabrikan. Gipsum kedokteran gigi memiliki
karakteristik seperti setting expansion, perubahan dimensi, kekuatan kompresi, w/p
ratio dan setting time.
Ary (2012) melakukan penelitian tentang perbandingan setting time gipsum
daur ulang tipe III dengan gipsum tipe III pabrikan, hasilnya menunjukkan ada
perbedaan antara setting time gipsum tipe III daur ulang berdasarkan perbandingan
air dan bubuk. Setting time tercepat diperoleh dengan w/p ratio 60 ml : 100 gram
yaitu 3,3171 menit, dan setting time terlama diperoleh dengan w/p ratio 90 ml : 100

Universitas Sumatera Utara


19

gram yaitu 28,4315 menit. Sedangkan setting time gipsum daur ulang yang paling
mendekati setting time gipsum pabrikan diperoleh dengan w/p ratio 80 ml : 100 gram
yaitu 23,0808 menit.19
Sri (2014) meneliti mengenai perbandingan perubahan dimensi antara gipsum
tipe III pabrikan dengan gipsum tipe III daur ulang dan hasilnya menunjukkan
perubahan dimensi gipsum tipe III daur ulang lebih kecil daripada gipsum tipe III
pabrikan. Perubahan dimensi yang diteliti oleh Sri berkaitan dengan setting ekspansi,
di bidang kedokteran gigi material yang memiliki perubahan dimensi yang minimum
diperlukan terutama dalam pembuatan model kerja.20
Cindy (2014) meneliti mengenai kekuatan kompresi antara gipsum tipe III
pabrikan dengan gipsum tipe III daur ulang dengan pemanasan menggunakan oven.
Hasilnya menunjukkan kekuatan kompresi gipsum tipe III daur ulang jauh lebih
rendah dibandingkan gipsum tipe III pabrikan dengan nilai rata-rata 26,72 ± 1,43
MPa (gipsum tipe III pabrikan) dan 1,34 ± 0,16 MPa (gipsum tipe III daur ulang).10
Metode daur ulang gipsum dalam penelitian ini dibuat seperti proses
pembentukan gipsum tipe III yaitu pemanasan di autoklaf dengan suhu 120º - 130ºC,
hal ini dikarenakan limbah gipsum berasal dari gipsum tipe III dan hasil daur ulang
yang diharapkan dapat digunakan sesuai fungsi pemakaian gipsum tipe III pula, yaitu
untuk pembuatan model kerja. Nilai kekuatan kompresi gipsum untuk pembuatan
model kerja harus tinggi, maka pada tahap ketiga proses daur ulang, yaitu
pencampuran yang bertujuan untuk mendapatkan bahan yang lebih bermanfaat, dapat
ditambahkan garam dapur untuk meningkatkan kekuatan kompresinya. Hal ini
didasari dengan teori pembentukan gipsum tipe IV yaitu dilakukan pemanasan
dengan sedikit asam organik atau garam dengan air di dalam autoklaf, proses ini
menghasilkan partikel gipsum yang berbentuk kuboid dan lebih padat, sehingga
memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi daripada gipsum tipe III.7,13

Universitas Sumatera Utara


20

2.6 Garam Dapur


2.6.1 Definisi Garam Dapur
Garam dapur adalah sejenis mineral yang lazim dimakan manusia. Garam
dapur merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan
pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia. Bentuknya kristal
putih, dihasilkan dari air laut. Biasanya garam dapur yang tersedia secara umum
adalah natrium klorida (NaCl).21

2.6.2 Kandungan Garam Dapur


Sesuai dengan SK Menteri Perindustrian Nomor 29/M/SK/2/1995 tentang
pengesahan serta penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) nomor 01-3556-2000,
garam dapur adalah garam yang memiliki kadar NaCl minimal 94,7%, air maksimal
7%, iodium (KIO3) 30 mg/kg dan beberapa kandungan logam lain seperti timbal (Pb)
maksimal 10 mg/kg, tembaga (Cu) maksimal 10 mg/kg, raksa (Hg) maksimal 0,1
mg/kg dan arsen (As) maksimal 0,1 mg/kg.22-23

2.7 Mekanisme Garam Dapur Meningkatkan Kekuatan Kompresi


Gipsum
Garam dapur atau NaCl pada umumnya banyak digunakan dalam proses
manipulasi gipsum sebagai akselerator. Bahan akselerator adalah bahan kimia yang
ditambahkan pada saat manipulasi gipsum untuk memperpendek setting time,
biasanya berbentuk garam.1 Beberapa penelitian menyatakan bahwa pemberian
larutan garam dapur juga dapat meningkatkan kekuatan kompresi dari gipsum.
Shen (1981) dalam penelitiannya menyatakan bahwa pemberian larutan garam
dapat meningkatkan kekuatan kompresi gipsum dalam waktu 24 jam.24 Christine
(2012) meneliti tentang pengaruh penambahan larutan garam dapur dan NaCl 2%
terhadap setting time dan kekuatan kompresi gips tipe III sebagai bahan model kerja
gigitiruan. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata kekuatan kompresi gips tipe III
dengan penambahan larutan garam dapur adalah 28,34±2 MPa, kelompok gips tipe
III dengan penambahan NaCl 2% adalah 23,67±2,1 MPa, dan kelompok gips tipe III

Universitas Sumatera Utara


21

tanpa penambahan larutan garam adalah 25,71±2,22 MPa. Kelompok gipsum yang
ditambah larutan garam dapur menunjukkan nilai rerata tertinggi dibandingkan
dengan kelompok lainnya, dalam pembahasannya Christine mengungkapkan hal ini
terjadi karena garam dapur yang dipakai tidak hanya mengandung senyawa NaCl,
namun juga mengandung beberapa unsur logam lain seperti Pb, Cu, Hg dan As yang
umumnya bersifat keras. Adanya logam-logam tersebut yang menyebabkan
meningkatnya kekuatan kompresi gipsum.15
Aipipidely (2013) meneliti tentang perbedaan kekuatan kompresi dental
plaster dengan penambahan larutan garam dapur dalam berbagai variasi konsentrasi.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kekuatan kompresi dengan
penambahan larutan garam dapur 1,5% yaitu sebesar 12,2 MPa, sementara kekuatan
kompresi dental plaster yang tidak diberikan tambahan larutan garam dapur (kontrol)
sebesar 8,63 MPa. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan kekuatan kompresi,
berdasarkan pembahasannya hal ini terjadi karena adanya pemakaian elektron
bersama dari bubuk hemihidrat gipsum dan NaCl, sehingga terjadi ikatan-ikatan
kimia yang stabil.14

Universitas Sumatera Utara


2.8 Kerangka Teori
Mineral Gipsum
(CaSO4.2H2O)

kalsinasi

Gipsum (CaSO4.½H2O) Air

Klasifikasi

Tipe I Tipe II Tipe III Tipe IV Tipe V

Pemanasan
Pemanasan autoklaf + asam
r autoklaf organik / garam
e 120°C -130°C 140°C
v
e
r
s Fungsi Karakteristik
i
b
e
Molekul air terperangkap dalam
l Model Kerja kisi kristal gipsum  jarak Setting Perubahan W/P Setting
(CaSO4.2H2O) antara kristal gipsum renggang Expansion Dimensi Ratio Time

Limbah
Kelemahan : Kekuatan W/P Ratio
kompresi menurun
Daur Ulang
Kecepatan & Waktu
Pengadukan
Penanggulangan :
Faktor yang Mekanisme Syarat Penambahan Larutan Garam
Memengaruhi Dapur pada Suhu 128°C  Akselerator & Kekuatan
jarak antara kristal gipsum rapat Retarder Kompresi

Gipsum Daur Ulang Murni kalsinasi Kemurnian Bubuk


(CaSO4.½H2O) Gipsum
Gipsum Daur Ulang + Larutan Garam
Dapur (CaSO4.½H2O)
Suhu &
Kelembaban Udara
Karakteristik

Setting Perubahan W/P Setting


Expansion Dimensi Ratio Time 22

Kekuatan Kompresi Universitas Sumatera Utara


2.9 Kerangka Konsep

Mineral Gipsum kalsinasi Gipsum Tipe III Model Kerja Gipsum Tipe III Daur Ulang (CaSO4.
(CaSO4.2H2O) Pabrikan (CaSO4.2H2O) ½H2O) + Larutan Garam Dapur 1,5%
r
e
pada Suhu 128°C
(CaSO4.½H2O) v
e
r
s
i Partikel hemihidrat
b
Partikel hemihidrat e Gipsum Tipe III Daur
l
berbentuk prisma dan Ulang (CaSO4. ½H2O)
teratur
Bereaksi dengan air

Ukuran partikel, w/p


ratio, pengadukan Molekul air Pemakaian elektron secara bersama
terperangkap dalam kisi dari partikel hemihidrat gipsum dan
kristal gipsum
garam dapur
Bereaksi dengan air
Banyak ruang kosong Ikatan kimia stabil
untuk pertumbuhan kristal
Terbentuk interaksi
antar partikel stabil
yang banyak Kandungan logam Pb, Cu,
Bereaksi dengan air Hg dan As

Kristal dihidrat mulai


tumbuh
Ikatan antar kristal sedikit Kekuatan kompresi meningkat
dibandingkan tanpa penambahan garam
dapur
Kristal berkontak satu
Kekuatan kompresi menurun
dengan yang lain

Kekuatan kompresi
tinggi

Kekuatan Kompresi 23

Universitas Sumatera Utara


24

2.10 Hipotesis Penelitian


Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan, maka dapat disusun
hipotesis sebagai berikut :
Terdapat perbedaan kekuatan kompresi antara gipsum tipe III pabrikan,
gipsum tipe III daur ulang dan gipsum tipe III daur ulang dengan penambahan larutan
garam dapur 1,5%.

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai