BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertambangan merupakan kegiatan yang padat modal, padat keterampilan dan
padat teknologi, sehingga kegiatan pertambangan mempunyai banyak resiko.
Secara garis besar tahap-tahap kegiatan dalam usaha pertambangan meliputi
penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, development, eksploitasi,
pengangkutan, pemurnian atau pengolahan dan pemasaran.
Bahan galian yang dihasilkan dari tambang biasanya selain mengandung
mineral berharga yang diinginkan juga memngandung mineral pengotor (gangue
mineral) sehingga hasil tambang tidak bisa langsung dimanfaatkan atau
diperdagangkan. Untuk memisahkan mineral berharga dan mineral pengotor
tersebut maka dilakukan proses pengolahan bahan galian (ore/mineral drresing).
Pengolahan bahan galian merupakan proses pemisahan mineral berharga dari
ganguenya (mineral tak berharga), yang dapat dilakukan secara mekanis atau non
mekanis, sehingga dihasilkan produk yang kaya mineral berharga (konsentrat) dan
produk yang harga mineralnya berkadar rendah, karena terdiri dari gangue
mineral (tailing).
Dalam pengolahan bahan galian salah satu tahap yang perlu dilakukan adalah
proses pengecilan ukuran butir, sehingga pada pengolahan mangan memegang
peranan penting dalam penentu dari kualitas produk yang dihasilkan yang dalam
prakteknya banyak kendala yang dihadapi terkait proses pengecilan ukuran butir
(crushing) sehingga pada akhirnya sasaran produksi atau permintaan pasar tidak
dapat terpenuhi.
PT. Anugrah Nusantara Sejahtera merupakan salah satu perusahaan yang
bergerak dalam bidang pertambangan yaitu pada proses penambangan,
pengolahan dan pemasaran mangan yang dimanfaatkan sebagai keperluan-
keperluan industri. Mangan diolah dengan memisahkan mangan dari pengotor
yang diolah dengan menggunakan unit pengolahan yang ada. Dalam unit
pengolahan adanya proses peremukan menggunakan Crusher untuk dapat
memenuhi target produksi dari PT. Anugrah Nusantara Sejahtera. Maka
diperlukan pengkajian produktifitas yang dihasilkan kerja alat peremuk (Crusher)
untuk dapat memenuhi target produksi yang ditentukan perusahaan.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul “OPTIMALISASI KERJA ALAT PEREMUK
(CRUSHER) DALAM MEMENUHI TARGRET PRODUKSI MANGAN DI
PT. ANUGRAH NUSANTARA SEJAHTERA KABUPATEN TIMOR
TENGAH UTARA PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR ”.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka masalah yang dirumuskan dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut:
1. Berapakah produktifitas nyata crusher, hopper, dan belt conveyor di PT.
Anugrah Nusantara Sejahtera?
2. Apa saja hambatan-hambatan yang mempengaruhi pengolahan mangan
pada crushing plant ?
3. Alternatif apa yang harus dipakai agar dapat mengoptimalisasi target
produksi mangan di PT. Anugrah Nusantara Sejahtera dan bagaimana
hasil perbaikan dari alternatif tersebut?
1.3. Batasan Masalah
Agar pembahasan yang dilakukan dalam penelitian dapat terarah dan tidak
menyimpang dari pokok permasalahan, maka perlu dilakukan pembatasan
masalah sebagai berikut:
1. Perhitungan produktifitas crusher
2. Perhitungan kapasitas crushing plant sebatas pada unit hopper, crusher,
belt conveyor tanpa mengkaji masalah ekonomi.
3. Penelitian dilakukan dengan mengamati dari unit yang dianalisis hanya
unit crushing plant.
4. Tidak membahas mengenai biaya produksi.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Mengetahui produktifitas crusher.
2. Mengetahui kapasitas pada unit crushing plant.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi crushing plant
4. Melakukan usaha pengoptimalan hasil produksi.
1.5. Manfaat Penelitian
1. Perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
optimalisasi kerja alat crusher dalam memenuhi target produksi mangan
di PT. Anugrah Nusantara Sejatera.
2. Perguruan Tinggi
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dokumen akademik yang
berguna untuk dijafikan bahan acuan bagi mahasiswa lainnya yang
membutuhkan informasi mengenai optimalisasi kerja alat crusher dalam
memenuhi target produksi mangan di PT. Anugrah Nusantara Sejatera.
3. Penulis
Penelitian ini dapat menambah wawasan penulis dalam
optimalisasi kerja alat crusher dalam memenuhi target produksi di PT.
Anugrah Nusantara Sejatera.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Pengertian Mangan
Mangan ditemukan oleh Johann Gahn pada tahun 1774 di Swedia. Logam
mangan berwarna putih keabu-abuan. Mangan termasuk logam berat dan sangat
rapuh tetapi mudah teroksidasi. Logam dan ion mangan bersifat paramagnetic.
Mangan biasanya ditemukan di alam bebas dan terdapat di beberapa macam
mineral, tetapi terkadang Mangan ditemukan dalam kondisi tercampur oleh besi.
Sebagai unsur bebas, Mangan (Mn) adalah logam yang berperan penting dalam
hal percampuran logam dalam bidang industri, khususnya pada stainless steels.
Endapan bijih mangan dapat terbentuk dari beberapa cara yaitu proses
hidrotermal yang dapat dijumpai dalam bentuk (vein), metamorfik dan cebakan
sedimenter dan residual (Asril Riyanto, 1989). Bijih mangan utama adalah
pirolusit (MnO2) dan psilomelan [(BaH2O)2.Mn5O10] yang mempunyai komposisi
oksida dan terbentuk dalam cebakan sedimenter dan residu. Mangan mempunyai
warna abu-abu besi dengan kilap metalik sampai submetalik. Mangan
berkomposisi oksida lainnya namun berperan bukan sebagai mineral utama dalam
cebakan bijih adalah bauxit, manganit (Mn2O3.H2O), hausmanit (Mn3O4), dan
lithiofori, sedangkan yang berkomposisi karbonat adalah rhodokrosit (MnCO3),
serta rhodonit yang berkomposisi silica (Arifin, M. 1997).
Biji mangan (Mn) 95% dimanfaatkan untuk industri baja. Kegunaan
mangan sangat luas, baik untuk tujuan metalurgi maupun non-metalurgi. Untuk
tujuan non-metalurgi, mangan digunakan untuk produksi baterai, kimia, keramik
dan gelas, glasir dan frit, pertanian, proses produksi uranium, dan lainnya. Di
Indonesia, industri hilir pemakai mangan adalah industri baterai, keramik dan
porselein, industri logam, dan industri korek api. Kegunaan lainnya: untuk rel
kereta api; dibuat dengan baja yang berisi sebanyak 1,2% mangan, untuk
memberikan kaca warna amethyst dan bertanggung jawab untuk warna batu
permata kecubung, sebagai zat pengering di cat hitam, dll.
Potensi bijih mangan di Indonesia salah satunya di Provinsi NTT. Deposit
bijih mangan sebagian besar terdapat di pulau Timor (kawasan lempeng
metalurgi) dan di pulau Flores khususnya di Kabupaten Manggarai.
2.2 Pengolahan Bahan Galian
Yang dimaksud dengan bahan galian adalah bijih (ore), mineral industri
(industri al minerals) atau bahan galian Golongan C dan batu bara (coal).
Pengolahan bahan galian adalah suatu proses pengolahan mineral dengan
tujuan untuk memisahkan mineral berharga dengan mineral pengotornya yang
dilakukan secara mekanis, menghasilkan produk yang kaya mineral berharga
(konsentrat) dan yang kadarnya rendah (tailing)
Setiap proses pengolahan bahan galian industri sudah pasti melakukan proses
pengecilan ukuran material. Proses pengolahan dilakukan dengan cara kominusi.
2.3 Tahapan Kominusi
Kominusi adalah proses pengecilan ukuran butir atau meliberasi mineral
berharga dari material pengotornya, menghasilkan ukuran dan bentuk partikel
yang sesuai dengan kebutuhan pada proses berikutnya, .
Proses mereduksi ukuran butir atau material dilakukan dengan dua kegiatan,
yaitu crushing (peremukan) gaya yang dominan adalah compressive strength, dan
grinding (penggilingan) gaya yang dominan adalah impact, abrasion dan shear
stress. Kominusi dilakukan dalam tiga tahap yaitu :
1. Primary Crushing
Merupakan peremukan tahap pertama, alat peremukan yang
biasanya digunakan pada tahap ini adalah Jaw Crusher dan Gyratory
Crusher. Umpan material yang digunakan biasanya berasal dari hasil
penambangan dengan ukuran berkisar 1500 mm, dengan ukuran setting
antara 30 mm sampai 100 mm. Ukuran terbesar dari produk peremukan
material tahap pertama biasanya kurang dari 200 mm.
2. Secondary Crushing
Merupakan tahap kedua alat peremuk yang digunakan adalah Jaw
Crusher ukuran kecil, Gyratory Crusher ukuran kecil, Cone Crusher,
Hammer Mill dan Rolls. Umpan yang digunakan berkisar 150 mm, dengan
ukuran antara 12,5 mm sampai 25,4 mm. Produk terbesar yang dihasilkan
adalah 75 mm.
3. Fine Crushing
Merupakan peremukan tahap lanjut dari secondary crushing, alat
yang digunakan adalah Rolls, Dry Ball Mills, Disc Mills dan Ring Mills.
Umpan material yang biasanya digunakan kurang dari 25,4 mm.
2.4 Peralatan pada Unit Peremuk
2.4.1 Hopper
Hopper merupakan salah satu alat bantu dari unit peremukan yang
berfungsi sebagai tempat penampungan sementara dari material umpan batuan
selanjutnya material tersebut di umpankan ke alat peremuk oleh alat pengumpan
(feeder). Hopper ini terbuat dari beton yang dilapisi oleh lembaran baja pada
dindingnya dengan tujuan agar terhindar dari keausan akibat gesekan dan
benturan dinding dan material.
Kapasitas hopper dihitung berdasarkan volume trapesium, yaitu :
Vh = t ( L atas + L bawah + ....................... (2.1)
Setelah volume diketahui maka, kapasitas hopper adalah:
........................................................................................ (2.2)
Dimana :
K = kapasitas hopper (ton)
Vh = volume hopper (m3)
Bi = bobot isi material berai (ton/m3)
Gambar 2.1. Contoh Hopper
2.4.2 Pengumpan (Feeder)
Feeder adalah alat pengumpan material dari hopper atau dari ROM ( Run
Of Mine) ke unit peremuk atau keatas belt conveyor dengan kecepatan konstan.
Penggunaan alat pengumpan bertujuan agar proses pengumpan dari hopper
menuju ke alat peremuk dapat berlangsung dengan laju yang konstan tidak terlalu
besar dan tidak terlalu kecil, sehingga dapat mencegah terjadinya penumpukan
batubara atau tidak ada umpan di dalam hopper ataupun pada alat peremuk.
Pada bagian pengumpan terdapat macam-macam pengumpan antara lain :
1. Vibrating Feeder merupakan tipe pengumpan yang didesain untuk memisahkan
material dari debu-debu halus hasil penambangan. Pengumpan tipe ini terdiri
dari lembaran baja bergelombang dengan jarak tertentu, cara kerjanya adalah
berdasarkan getaran yang ditimbulkan oleh motor penggerak.
2. Belt Feeder, merupakan pengumpan yang terdiri dari belt (sabuk) karet yang
dihubungkan dengan pulley seperti pada belt conveyor.
3. Reciprocating Feeder, merupakan tipe pengumpan yang cara kerjanya adalah
mendorong material yang ada di dalam hopper dengan kecepatan teratur,
yang dapat bergerak maju mundur secara teratur. Pengumpan ini biasanya
dipakai pada alat peremuk sekunder.
4. Chain Curtain Feeder/Ross Feeder adalah pengumpan yang menggunakan
rantai yang menjulur di bawah hopper yang ditahan oleh lembaran baja,
fungsinya adalah mengontrol pengumpanan pada alat peremuk primer dengan
efek berat dari rantai tersebut.
5. Grizzly Feeder. pengumpan yang dirancang untuk memindahkan material yang
cara kerjanya lebih selektif, dimana material yang lolos (undersize) langsung
masuk ban berjalan sedangkan yang tidak lolos (oversize) akan masuk ke alat
peremuk.
6. Chain and Flight Feeder, adalah pengumpan yang terdiri dari rangkaian flight
(batangan baja) dengan ketebalan tertentu dan jarak tertentu yang berfungsi
sebagai pendorong material menuju alat peremuk. Flight (batangan baja)
tersebuit dihubungkan dengan rangkaian rantai (chain) serta lantai yang berupa
lembaran baja sebagai penahan material (plate).
[Link] Perhitungan Kapasitas Pengumpan (Feeder)
Kapasitas pengumpan (feeder) dapat dihitung menggunakan
persamaan CEMA (Conveyor Equipment Manufactures Association), Belt
Conveyor For Bulk Materials, second edition 1979) yaitu :
Q = V x T x L x d x 60 ....................................... (2.3)
dimana :
Q = Kapasitas feeder (ton/jam)
V = Kecepatan angkut feeder (m/second)
T = Tinggi tumpukan material diatas feeder (m)
L = Lebar feeder (m)
d = Denmsitas lepas material (ton/m3)
2.4.3 Alat Peremuk (Crusher)
Alat peremuk yang biasa digunakan untuk menghancurkan material antara
lain:
[Link]. Jaw Crusher (Pemecah Tipe Rahang)
Jaw Crusher digunakan untuk mengurangi besar butiran pada
tingkat pertama, untuk kemudian dipecah lebih lanjut oleh crusher lain.
Jenis ini paling efektif digunakan untuk batuan sedimen sampai batuan
yang paling keras seperti granit atau basalt.
Keuntungan yang diperoleh dari jaw crusher antara lain karena
kesederhanaan konstruksinya, ekonomis dan memerlukan tenaga yang
relatif kecil. Ukuran material yang dapat dipecah oleh crusher ini
tergantung dari feed opening (bukaan) dan kekerasan batu yang akan
dipecah. Umumnya untuk material hasil peledakan, material yang
berukuran sampai dengan 90% dari feed opening (bukaan) dapat
diterima. Untuk batuan yang tidak terlalu keras disarankan berukuran
80% dari feed opening (bukaan)
a. Prinsip dan Mekanisme Jaw Crusher
Jaw crusher merupakan crusher primer yang digunakan
untuk memecahkan batuan dengan ukuran setting antara 30 mm dan
100 mm. Jaw crusher terdiri dari dua tipe yaitu blake dan dodge. Alat
peremuk jaw crusher dalam prinsip kerjanya adalah alat ini memiliki
2 buah rahang dimana salah satu rahang diam dan yang satu dapat
digerakan, sehingga dengan adanya gerakan rahang tadi
menyebabkan material yang masuk kedalam kedua sisi rahang akan
mengalami proses penghancuran. Material yang masuk diantara dua
rahang akan mendapat jepitan atau kompresi. Ukuran material hasil
peremukan tergantung pada pengatuiran mulut pengeluaran
(setting), yaitu bukaan maksimum dari mulut alat peremuk.
Ga
mbar 2.2. Jaw Crusher
Berdasarkan porosnya jaw crusher terbagi dalam dua macam :
a). Blake Jaw Crusher, dengan proros diatas
b). Dodge Jaw Crusher, dengan poros dibawah
Perbandingan Dodge dengan Blake Jaw Crusher, yaitu:
a. Ukuran Produk Pada Balke Jaw lebih heterogen dibandingkan
dengan Dodge Jaw yang relatif seragam.
b. Pada Blake Jaw porosnya diatas sehingga gaya yang terbesar
mengenai partikel yang terkecil.
c. Pada Dodge Jaw porosnya dibawah sehingga gaya yang terbesar
mengenai partikel yang terbesar sehingga gaya mekanis dari
Dodge Jaw Crusher lebih besar dibandingkan dengan Blake Jaw.
d. Kapasitas Dodge Jaw jauh lebih kecil dari Blake Jaw pada ukuran
yang sama.
e. Pada Dodge Jaw sering terjadi penyumbatan.
Pecahnya batuan dari jaw crusher karena adanya :
a). Daya tahan batuan lebih kecil dari gaya yang menekan.
b). Nip angle.
c). Resultante gaya yang arahnya kebawah.
Gaya-gaya yang ada pada jaw crusher, adalah :
a. Gaya tekan (aksi)
b. Gaya gesek
c. Gaya gravitasi
d. Gaya yang menahan (reaksi)
Arah-arah gaya tergantung dari kemiringan atau sudutnya.
Resultante gaya akhir arahnya harus ke bawah, yang berarti mineral itu
dapat dihancurkan. Tapi jika gaya itu arahnya keatas maka material itu
hanya meloncat-loncat ke atas saja. Faktor-faktor yang mempengaruhi
efisiensi jaw crusher :
a). Lebar lubang bukaan
b). Kecepatan
c). Ukuran Umpan
d). Reduction Ratio (RR)
e). Kapasitas yang dipengaruhi oleh jumlah umpan perjam dan berat
jenis umpan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan energi jaw crusher :
1. Ukuran feed
2. Ukuran produk
3. Kapasitas Mesin
4. Sifat batuan
5. Persen waktu yang tidak terpakai
6. Gyratory Crusher (pemecah giratori)
[Link]. Kapasitas Jaw Crusher
Kapasitas jaw crusher dinyatakan dalam rumus :
T = 0,6 x L x S ........................................ (2.4)
Dimana :
T = Kapasitas Jaw Crusher
L = Panjang lubang penerimaan (inchi)
S = Lebar lubang pengeluaran (inchi)
Rumusan tersebut adalah untuk perhitungan kasar dari kapasitas
Jaw crusher, karena hanya tergantung pada discharge (pengeluaran) pada
saat open setting.
Keuntungan dari Jaw Crusher adalah :
1. Sederhana dalam konstruksi
2. Memerlukan tenaga yang relative kecil,
3. Mudah dalam penyetelan ukuran hasil pemecahan yang dikehendaki.
2.4.4 Belt Conveyor
Ban berjalan (belt conveyor) adalah suatu alat angkut material yang
berupa karet dan dapat bekerja secara kesinambungan pada kemiringan tertentu
maupun mendatar (CEMA, CBI Publishing [Link], Second Edition, 1979).
Sabuk dibuat dengan menyatukan beberapa jenis anyaman kapas atau
nilon, rayon dan kabel baja menjadi kontruksi tulangan yang memberikan kek
cuatan untuk menahan tarikan dalam sabuk. Lapisan itu ditutup dengan perekat
yang terbuat dari karet yang menggabungkannya menjadi struktur yang menyatu
(Peurifoy,1988). Sabuk berjalan digerakan oleh motor penggerak yang dipasang
pada head pulley. Sabuk akan kembali ke tempat semula karena dibelokkan oleh
pulley awal dan pulley akhir.
Material yang di distribusikan melalui pengumpan akan dibawa oleh sabuk
berjalan dan berakhir pada head pulley. Pada saat proses kerja di unit peremuk
dimulai, sabuk berjalan harus bergerak terlebih dahulu sebelum alat peremuk
bekerja. Hal ini bertujuan menecegah terjadinya kelebihan muatan pada sabuk.
Pemakaian sabuk bejalan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Sifat Fisik dan Kondisi Material Batuan
Kemampuan sabuk berjalan dalam mengangkut material sangat berhubungan
dengan material yang diangkutnya.
a. Ukuran dan bentuk material
b. Kandungan air
c. Komposisi material
2. Keadaan Topografi
3. Jarak Pengangkutan
[Link] Kapasitas Produksi Nyata Sabuk Berjalan
Rumusan umum yang digunakan dalam menghitung kapasitas
produksi nyata adalah (Reference book, Kurimoto. Ltd Crushing and
Grinding) :
..................................................... (2.4)
dimana :
P = Produksi nyata sabuk berjalan (ton/jam)
V = Kecepatan sabuk berjalan (m/menit)
G = Berat material conto (kg)
L = Panjang pengambilan conto pada sabuk (m)
[Link] Sudut Kemiringan Sabuk Berjalan (Belt Conveyor)
Bila sabuk berjalan dipakai untuk mengangkut material dengan
kemiringan tertentu maka sudut kemiringan maksimummnya
tergantung dari:
a. Bentuk material, bentuk yang cenderung mudah
menggelinding, maka hanya bisa diangkat dengan sudut
kecil, yaitu 10º - 12º.
b. Kesinambungan aliran umpan, umpan yang
berkesinambungan akan menyebabkan penggumpalan atau
penutupan pada ujung bawah sabuk, sehingga memperbesar
kemungkinan meluncurnya material.
c. Ukuran butir, ukuran seragam akan lebih mudah
menggelincir.
d. Kandungan air, bila terlalu banyak akan menyebabkan
material mudah meluncur.
Gambar 2.3. Contoh Belt Conveyor
2.5 Ketersediaan Alat Peremuk
Menurut Partanto, 1993 ada beberapa pengertian yang dapat menunjukan
keadaan peralatan sesungguhnya dan efktifitas pengoperasiannya, antara lain:
a. Mechanical Availability (MA)
Mechanical Availability adalah suatu cara untuk mengetahui kondisi
peralatan yang sesungguhnya dari alat yang digunakan.
...................................... (2.5)
Dimana :
W = Jumlah jam kerja, yaitu waktu yang dibebankan kepada suatu alat
yang dibebankan dalam kondisi yang dapat dioperasikan,
artinya tidak rusak. Waktu ini meliputi pula tiap hambatan
(delay time) yang ada.
R = Jumlah jam untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena
menunggu saat perbaikan termasuk juga waktu untuk
penyediaan suku cadang seta waktu perawatan prefentif.
b. Physical Availability (PA)
Physical Availability adalah catatan ketersediaan mengenai keadaan
fisik dari alat yang sedang dipergunakan.
..........................................(2.6)
Dimana :
S = Jumlah jam suatu alat yang tidak dapat dipergunakan, akan tetapi
alat tersebut tidak dalam keadaan rusak dan siap untuk
dioperasikan.
c. Use of Availability (UA)
Angka Use of Availability biasanya dapat memperlihatkan seberapa
efektif suatu alat yang sedang tidak rusak untuk dapat dimanfaatkan,
hal ini dapat dijadikan suatu ukuran seberapa baik pengelolaan
pemakaian peralatan.
........................................ (2.7)
d. Effective Utilization (Eut)
Effective Utilization merupakan cara untuk menunjukan bebrapa
persen dari seluruh waktu kerja yang tersedia yang dapat
dimanfaatkan untuk kerja produktif.
.................................... (2.8)
2.6 Efektifitas Penggunaan Peralatan
Efektifitas alat peremuk berhubungan dengan produksi yang dihasilkan
dari peralatan tersebut. Efektifitas digunakan untuk mengetahui sampai sejauh
mana tingkat penggunaan dan kemampuan yang dicapai saat ini dengan kapasitas
desainnyadan dinyatakan dalam persen.
Perhitungan efektifitas pemakaian peralatan menggunakan persamaan :
...................................... (2.9)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1Lokasi
Lokasi penelitian berada di PT. Anugrah Nusantara Sejahterah
sebagai tempat pengambilan data pada bagian proses pengolahan
mangan.
3.1.2Waktu Penelitian
Penelitian ini berlangsung dari bulan Agustus sampai September
2017.
3.2. Jadwal Penelitian
Bulan
I II
Kegiatan
Minggu Minggu
1 2 3 4 1 2 3 4
Persiapan
Studi Literatur
Pengambilan Data
Pengolahan Data
Penyusunan Laporan
Seminar
3.3. Tahapan Penelitian
3.3.1 Studi Literatur
Tahapan ini dilakukan sebelum maupun selama penelitian
berlangsung. Literatur yang digunakan berasal dari jurnal-jurnal
penelitian, skripsi, maupun artikel yang dimuat di internet.
3.3.2 Pengamatan Lapangan
Kegiatan pengamatan lapangan ini perlu dilakukan pada awal
kegiatan penelitian untuk mengetahui langkah-langkah selanjutnya yang
akan dilakukan dalam penelitian. Pada tahap ini dilakukan pengamatan
awal terhadap kondisi aktual dari lokasi yang akan dilakukan penelitian
yaitu pada bagian proses pengolahan mangan PT. Anugrah Nusantara
Sejahterah.
3.3.3 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil dari data yang sudah ada
dalam hal ini diperoleh baik dari arsip-arsip perusahaan, maupun data
hasil penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Data tersebut antar
lain target produksi perusahaan, spesifikasi alat pengolahan, peta geologi,
peta lokasi kesampaian daerah penelitian, dan data curah hujan.
3.3.4 Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dalam
penelitian, yaitu perhitungan produktifitas Crushing Plant, hambatan-
hambatan yang mempengaruhi proses pengolahan.
3.3.5 Pengolahan Data
Dari data primer dan sekunder yang dikumpulkan kemudian diolah
dan disajikan dalam bentuk suatu laporan penelitian.
3.4. Diagram Alir
Mulai
Studi Pustaka
Perumusan Masalah
Pengumpulan Data
Data Primer Data Sekunder
Perhitungan produktifitas Target produksi perusahaan,
Crushing Plant, faktor-faktor spesifikasi alat pengolahan,
yang mempengaruhi proses Data curah hujan, peta lokasi
pengolahan penelitian
Pengolahan dan Perhitungan
Pembahasan
Hasil & Kesimpulan
Selesai