bENAYA
DAN DARA
hal [Link] 1 10/03/2017 12:00:39
bENAYA
DAN DARA
novel
Inge Shafa
Penerbit PT Elex Media Komputindo
hal [Link] 3 10/03/2017 12:00:40
bENAYA DAN DARA
Copyright ©2017 Inge Shafa
Editor: Pradita Seti Rahayu
Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Diterbitkan pertama kali tahun 2017 oleh PT Elex Media Komputindo,
Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta
713030613
ISBN: 978-602-04-1261-0
Dilarang mengutip, memperbanyak, dan menerjemahkan sebagian atau
seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.
Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta
Isi di luar tanggung jawab Percetakan
hal [Link] 4 10/03/2017 12:00:40
BENAYA
DAN DARA
“Saat kita tak bisa bersama.”
[Link] 1 10/03/2017 12:00:57
BEDA
Aku menunggu datangnya takdir
Kapan kita akan menjadi ‘sama’
tanpa adanya rasa ketidaknyamanan ini
[Link] 2 10/03/2017 12:00:57
Aku Pikir...
K ata orang, saat-saat paling berbahaya adalah saat kita me
nyukai teman sendiri. Ketika kita berani mengambil risiko
menyukai orang itu—teman kita—berarti kita sudah ambil
akibat-akibat yang akan diterima. Mungkin akan kehilangan
rasa nyaman, kedekatan sebagai teman, dan yang paling parah
adalah jarak yang menjauh. Akhirnya, jadi pura-pura tidak kenal
satu sama lain. Mungkin untuk beberapa orang kedengarannya
klise. Tapi, untuk beberapa orang yang belum pernah merasakan
perasaan itu rasanya ... seperti ingin menggenggam angin.
Mustahil memang, tapi bisa digenggam lewat perasaan kita saja.
Angin itu akan mengisi telapak tangan kita dan bisa dirasakan
semilirnya. Hanya itu.
Itu juga yang dirasakan gadis berumur enam belas tahun ini.
Yang sudah beberapa tahun merasakan letup-letup di dada saat
melihat salah seorang teman sekelasnya berjalan di dekatnya,
berdiri di dekatnya, atau sekadar berbicara pada teman lain
dan dia curi-curi dengar. Awalnya, perasaan itu biasa saja.
Lama-kelamaan ada perasaan ingin mencoba utarakan isi hati.
Bermaksud agar dia bisa mengetahui isi hatinya dan perasaan
lega bisa mengalir di dada.
Tapi, lagi-lagi, semua tak semudah itu. Setiap langkah yang
ia ambil malah membuatnya semakin kehilangan. Tidak ada
[Link] 3 10/03/2017 12:00:57
bENAYA DAN DARA
perasaan lega. Mungkin memang ada, namun hanya beberapa
detik kemudian dia tidak bernapas lagi dengan baik. Rasanya,
dadanya kian sesak saat berdiri berdampingan. Tanpa bicara satu
patah kata pun.
Dan itu membuatnya sesak tak berkesudahan.
Ternyata, suka pada seorang teman memang jauh lebih
rumit.
[Link] 4 10/03/2017 12:00:57
Bab 1
I a diam dan memikirkan nasibnya setelah beberapa hari ke
marin mengatakan hal yang tidak-tidak pada teman yang
dia suka.
Seharusnya Dara diam daripada membuat dirinya malu
bertemu dengan teman-nya. Kenapa juga mulutnya tidak mau
berhenti berbicara waktu itu? Dara menepuk kepalanya, pelan.
Dia sudah mempunyai berbagai cara untuk menghindarinya,
tapi itu tidak mungkin karena mereka satu kelas. Tidak mungkin
Dara harus bolos setiap hari. Tidak mungkin juga dia harus rela
pergi ke kantin saat pelajaran. Satu lagi, dia tidak mungkin
membuat list berbagai alasan izin ke belakang kepada gurunya.
Tidak, Dara tidak senekat itu.
Tapi, ini berbahaya. Kamu berada di ruangan yang sama
dengan orang yang kamu suka dan baru saja menyatakan
perasaanmu—ralat, Dara tidak pernah mengatakan rasa
sukanya. Lebih parah daripada itu, dia ‘menembak’ temannya.
Temannya yang bernama Benaya, si mulut pedas bertubuh
tegap. Benaya yang selalu mengejeknya karena dia mendapat
nilai empat di setiap pelajaran menghitung, termasuk Fisika.
Benaya yang selalu mengejeknya karena menyukai teori Janet
Polasky dengan bukunya yang berjudul panjang. Benaya yang
suka memberi permen Milkita berbagai macam rasa tiap hari.
[Link] 5 10/03/2017 12:00:57
bENAYA DAN DARA
Dara menghela napas. Ya, Benaya Alghariz.
Kenapa dia bisa menyukai cowok itu, sedangkan lebih banyak
cowok di luar sana yang lebih aman dan tampan? Aman karena
dia tidak perlu pusing memikirkan hal semacam ini nanti. Bisa
dibilang, Dara ini terjebak friendzone. Sebenarnya, Dara tidak
menyetujui istilah friendzone. Cinta awalnya memang dari
kenalan dan pertemanan. Siklus itu pun terus bergulir.
Dara mengacak rambutnya frustrasi. Entah kenapa,
pikirannya jadi melantur pada hal itu dan berhenti memikirkan
bagaimana cara dirinya menghindar. Dara terlalu malu, tapi ada
perasaan lega di dalam hati.
“Pelangi pelangi, alangkah indahmu. Merah, kuning, hijau,
di langit yang biru. Mukamu kok lucu, mukamu kok bete.
Kenapa, kenapa, bisa saya bantu?”
Anang, pentolan kelas XI MIPA 4 datang ke meja Dara
dan Nia sambil menyanyikan lagu Pelangi dengan nada
sumbang. Teman Anang yang selalu menemani, Cahyo dan
Bangkit, memegang botol plastik berwarna biru milik Dara
sebagai mic Anang. Tak lupa, kentrung berwarna cokelat dengan
stiker Avenged Sevenfold dibawa oleh Anang sebagai pengiring.
Mereka tidak merasa mengganggu temannya, malahan
nyanyiannya itu membuat suasana lebih asyik.
Dara merengut sebal sambil menatap Anang. Sedangkan
sahabatnya, Nia, sudah menutup telinga. “Ish, rese ah, Mas,”
sahut Nia kesal. Bibirnya yang tipis sudah maju beberapa senti.
Anang tidak peduli, toh dia tidak mengganggu Nia. Jika Nia
merasa terganggu, itu bukan salahnya. Niatnya hanya ingin
menghibur saja.
“Lha wong aku nyanyiin Dara kok kamu yang sewot,
Ni?” Anang mengomel pelan, tapi cukup jelas didengar Nia
yang sudah akan pergi meninggalkan sahabatnya yang sedang
[Link] 6 10/03/2017 12:00:57
Inge Shafa
dikerubungi. Dara menatap melas Anang yang sedang cengar-
cengir sambil memegang kentrung. Tatapannya bermaksud
menyuruh Anang pergi karena suasana hati Dara sedang tidak
bagus. Tetapi, cowok berkulit cokelat itu malah tetap bergeming
di depan mejanya.
Anang menggoda Dara bukan berarti dia suka dengan gadis
itu. Memang dasarnya saja Anang sangat suka menggoda cewek-
cewek di kelasnya. Bahkan pernah sampai membuat salah satu
cewek di kelasnya menangis dan melapor guru Bimbingan
Konseling. Alhasil, Anang ditegur oleh guru tersebut. Ditambah,
Anang selalu bandel jika urusan masuk-memasukkan seragam
atasan dan sering terlambat. Membuat gurunya mengelus dada,
mencoba sabar. Tetapi, kadang kelakuannya yang seperti itu
membuat beberapa teman di kelas merasa terhibur. Sering juga
tertawa lebar melihat kekonyolan gerombolan Anang.
Anang memberikan cengirannya. Nia sudah berlalu beberapa
detik setelah ia memukul lengan Anang dengan pelan karena
merasa paginya diganggu.
“Kenapa, Dar?” Anang menaikturunkan alisnya sambil
bertanya dengan nada super duper lembut.
Tidak menjawab, gadis berkucir biru itu malah me
nelungkupkan kepala di antara lekukan tangan. Matanya ter
pejam dan napasnya sangat berat. “Mas Anang daripada nggak
jelas, nyanyiin gue lagu dong,” gumam Dara akhirnya tidak
peduli bahwa orang yang dipanggilnya ‘Mas Anang’ itu memang
berniat mengganggu atau sekadar menghibur. Jadi, daripada
Dara mengomel tak tentu arah, ia meminta pada Anang untuk
nyanyi lagi.
Mas Anang, sapaan akrab Anang, menyetujui permintaan
Dara dengan anggukan kepala walaupun gadis itu tidak melihat.
Jarinya mengetuk permukaan meja beberapa kali seperti
memimpin orkestra.
[Link] 7 10/03/2017 12:00:57