0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
548 tayangan23 halaman

Fototerapi untuk Hiperbilirubinemia Bayi

[Ringkasan] Fototerapi adalah terapi pemberian sinar biru untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi bentuk yang larut dalam air agar dapat diekskresikan, dengan tujuan menurunkan kadar bilirubin pada darah bayi baru lahir.

Diunggah oleh

feby ayuna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
548 tayangan23 halaman

Fototerapi untuk Hiperbilirubinemia Bayi

[Ringkasan] Fototerapi adalah terapi pemberian sinar biru untuk mengubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi bentuk yang larut dalam air agar dapat diekskresikan, dengan tujuan menurunkan kadar bilirubin pada darah bayi baru lahir.

Diunggah oleh

feby ayuna
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK

FOTOTERAPI

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Keperawatan Anak Semester III tingkat II

Dosen Pengampu :

Ika Karunianingsih, S. Kep

Di Susun Oleh :
Kelompok 2
1. Dzulfikar Sri Bagus W (16.1225)
2. Eka Krisdayanti (16.1226)
3. Estawati (16.1227)
4. Euodia Triana Margareta (16.1228)
5. Feby Ayu Nur’aeni (16.1229)

AKADEMI KEPERAWATAN PRAGOLOPATI PATI


TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa, atas terselesaikannya makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Program Studi
Keperawatan Anak yang berjudul “Fototerapi”. Kami menyadari bahwa
dalam menyusun makalah ini banyak memenuhi tantangan dan hambatan,
tetapi berkat adanya bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak akhirnya
dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati,
penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ika Karunianingsih, S. Kep Dosen Pengampu Program Studi
Keperawatan Anak I.
2. Teman-temanku, terima kasih atas kebersamaan dan persahabatannya.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang ada
dalam penulisan makalah ini, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati
penulis bersedia menerima kritik serta saran dari pembaca untuk perbaikan
makalah ini. Dan semoga makalah ini akan bermanfaat bagi semua pihak
yang membacanya.

Pati, Desember 2017

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i


KATA PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................... 2
D. Manfaat ......................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi Fototerapi......................................................................... 4
B. Tujuan Fototerapi .......................................................................... 5
C. Bagian-bagian Fototerapi .............................................................. 5
D. Jenis-jenis Fototerapi..................................................................... 6
E. Indikasi Fototerapi ......................................................................... 7
F. Kontraindikasi Fototerapi .............................................................. 8
[Link] Kerja Fototerapi ................................................................. 9
I. Prosedur Pemberian Fototerapi .......................................................
H. Perawatan Alat Fototerapi .............................................................
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................... 25
B. Saran .............................................................................................. 25
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fototerapi merupakan modalitas terapi dengan menggunakan sinar
biru yang digunakan untuk pengobatan hiperbilirubinemia (unconjugated)
atau ikterus pada bayi baru lahir.
Fototerapi rumah sakit merupakan tindakan yang efektif untuk
mencegah kadar Total Bilirubin Serum (TBS) meningkat. Uji Klinis telah
divalidasi kemanjuran fototerapi dalam mengurangi hiperbilirubinemia tak
terkonjugasi yang berlebihan, dan implementasinya telah secara drastis
membatasi penggunaan transfusi tukar. Penelitian menunjukkan bahwa ketika
fototerapi belum dilakukan, 36% bayi dengan berat kelahiran kurang dari
1500 gram memerlukan transfusi tukar.
Penelitian berbasis rumah sakit di USA menyimpulkan bahwa 5
sampai 40 bayi dari 1000 bayi kelahiran cukup bulan dan kurang bulan
memperoleh fototerapi sebelum dipulangkan dari perawatan. Ketika
fototerapi telah digunakan, hanya 2 dari 833 bayi (0,24%) yang menerima
transfusi tukar.
Dalam kurun waktu 20 tahun angka kematian bayi (AKB) telah
berhasil diturunkan secara tajam, namun AKB menurut Survei Demografi
Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 adalah 35 per 1000 KH. Angka
tersebut masih tinggi,dan saat ini mengalami penurunan cukup lambat. Jika
dilihat dar umur saat bayi meninggal berdasarkan Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) 2001 sekitar 57% kematian terjadi di masa neonatal dengan
penyebab utama kematian adalah asfiksia bayi baru lahir 27%, prematuritas
dan berat badan lahir rendah (BBLR) 29%, masalah pemberian makan 10%,
tetanus neonaturum 10%, Masalah hematologi 6%, infeksi 5%, dan laninnya
13%.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi dari fototerapi ?
2. Apakah tujuan dilakukannya fototerapi ?
3. Apakah manfaat dari fototerapi ?
4. Apa sajakah bagian-bagian dari alat fototerapi ?
5. Apa sajakah jenis-jenis dari alat fototerapi ?
6. Apa sajakah indikasi dilakukannya fototerapi ?
7. Apa sajakah kontraindikasi dilakukannya fototerapi ?
8. Bagaimana prinsip kerja fototerapi ?
9. Bagaimana prosedur pemberian fototerapi ?
10. Bagaimana perawatan alat fototerapi ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan
Anak serta memahami tentang prinsip kerja alat fototerapi dan cara
memberi asuhan keperawatan pada bayi yang akan dilakukan fototerapi
maupun yang sudah dilakukan fototerapi.

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui definisi dari Fototerapi.
b. Mahasiswa mampu mengetahui tujuan dilakukannya Fototerapi.
c. Mahasiswa mampu mengetahui manfaat dari Fototerapi.
d. Mahasiswa mampu mengetahui bagian-bagian dari alat Fototerapi.
e. Mahasiswa mampu mengetahui jenis-jenis dari alat Fototerapi.
f. Mahasiswa mampu mengetahui indikasi dilakukannya Fototerapi.
g. Mahasiswa mampu mengetahui kontraindikasi dilakukannya
Fototerapi.
h. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana prinsip kerja alat
Fototerapi.
i. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana prosedur pemberian
Fototerapi.

9
j. Mahasiswa mampu mengetahui bagaimana perawatan Fototerapi.

D. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Diharapkan bagi mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan
ketrampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada bayi yang
dilakukan fototerapi.
2. Bagi masyarakat
Diharapkan mahasiswa dapat memberikan pengetahuan atau
informasi kepada masyarakat tentang fototerapi.
3. Bagi tenaga kesehatan
Diharapkan bagi tenaga kesehatan dapat memberikan asuhan
keperawatan pada bayi yang dilakukan fototerapi.

10
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Fototerapi adalah terapi yang diberikan pada bayi untuk
menurunkan kadar bilirubin dalam darah.

Fototerapi adalah penyinaran pada bayi menggunakan sinar biru,


sinar hijau untuk mengubah bilirubin indirek menjadi bentuk yang larut
dalam air untuk diekskresikan melalui empedu.

Fototerapi adalah suatu tindakan mengendalikan kadar bilirubin


darah dengan pemberian sinar untuk mengubah bilirubin menjadi bentuk
isomer yang larut dalam air (dieksresikan melalui empedu/urin)

Fototerapi adalah pemberian sinar biru yang dapat mengubah


struktur bilirubin tak terkonjugasi menjadi lumirubin, yang diubah di dalam
hati dan dibuang melalui feses.

B. Indikasi Fototerapi

Fototerapi direkomendasikan apabila :

1. Kadar bilirubin total 5-8 mg/dl pada bayi dengan berat badan <1500 gram.

2. Kadar 8-12 mg/dl pada bayi dengan berat badan 1500-1999 gram.

3. Kadar 11-14mg/dl pada bayi dengan berat badan 2000-2499 gram.

(wong et al., 2009)

11
C. Dampak fototerapi akan meningkat jika kadar bilirubin di kulit makin

tinggi

Fototerapi mengubah bilirubin di kapiler superfisial dan jaringan

interstitial dengan reaksi fotokimia dan fotooksidasi menjadi isomer

(isomerisasi struktural dan konfigurasi) secara cepat, yang larut dalam air dan

dapat diekskresi melalui hepar tanpa proses konjugasi sehingga mudah

diekskresi dan tidak toksik. Penurunan bilirubin total paling besar terjadi pada

6 jam pertama.

Faktor yang mengurangi efikasi terapi sinar adalah paparan kulit tidak

adekuat, sumber cahaya terlalu jauh dari bayi (radiasi menurun secara terbalik

dengan kuadrat jarak), lamu flouresens yang terlalu panas menyebabkan

perusakan fosfor secara cepat dan emisi spektrum dari lampu yang tidak

tepat. Idealnya, semua ruang perawatan perinatologi memiliki peralatan untuk

melakukan terapi sinar intensif.

(Giyatmo, 2011)

D. Efektivitas Fototerapi
1. Jenis Cahaya
Cahaya biru (fluoresens biru) dengan spektrum 460-490 nm
merupakan cahaya yang paling efektif dalam fototerapi karena dapat
menembus jaringan dan diabsorbsi oleh bilirubin (bilirubin menyerap lebih
kuar pada cahaya biru dengan spektrum 460 nm ini).
2. Saluran energi atau imadiance sumber cahaya
Imadiance diukur dengan radiometer atau spektroradiometer dalam
satuan watt/cm2 atau µ watt/cm2nm. Sebagai contoh, sumber cahaya (tipe
konvensional atau standar) yang diletakkan ±20 cm diatas bayi dapat
menghantarkan spektrum imadiance, berkisar 8-10 µ watt/cm2 nm pada

12
panjang gelombang cahaya 430-490 nm. Adapun cahaya flourenens biru
dapat menghantarkan spektrum imadiance berkisar 30-40 µ watt/cm2nm.
American academy of pediatriks mendefinisikan intensif fototerapi
sebagai fototerapi dengan spektrum imadiance berkisar 30-40 µ watt/cm2
nm yang dapat menjangkau permukaan tubuh bayi dengan lebih luas.
(Maisels & McDonagh, 2008).
3. Jarak antara bayi dengan sumber cahaya dan luasnya area kulit yang
terpajan.
Jarak antara bayi dengan sumber cahaya tidak boleh kurang dari 45

cm. Penelitian terkontrol menyebutkan bahwa semakin luas daerah kulit

yang terpajan, semakin besar reduksi kadar bilirubin total. (Wong et al.,

2009).

Efektivitas fototerapi tergantung pada kualitas cahaya yang

dipancarkan lampu (panjang gelombang), intensitas cahaya (iridasi), luas

permukaan tubuh, ketebalan kulit dan pigmentasi, lama paparan cahaya,

kadar bilirubuin total saat awal fototerapi (Sakundarno,2008).

E. Hal-hal yang harus diperhatikan

1. Toksisitas cahaya terhadap retina bayi yang imatur sehingga selama

pemberian fototerapi, penutup mata harus terpasang (Maisels &

McDonagh, 2008).

2. Gunakan diapers selama fototerapi untuk melindungi genetalia bayi (Wong

et al., 2009).

13
F. Durasi Fototerapi

Lamanya durasi fototerapi selah satunya ditentukan oleh nilai total serum

bilirubin saat mulai fototerapi dan fototerapi dihentikan jika nilai total serum

bilirubin mencapai nilai kurang dari 12 mg/dl (Moeslihchan et al, 2004 dalam

Rahmah et al, 2013).

G. Bagian-bagian Fototerapi
Bagian- bagian alat fototerapi
1. Kabel penghubung alat dengan sumber listrik
2. Pengatur jarak lampu dengan bayi
3. Tombol power on/off untuk menghidupkan atau mematikan lampu
fototerapi
4. Hourmeter (petunjuk berapa jam fototerapi yang sudah dipakai).

H. Jenis-Jenis Fototerapi
Fototerapi ada dua jenis, yaitu:
1. UVA
UVA fototerapi biasanya diberikan dalam hubungannya dengan tablet
kepekaan cahaya yang disebut psoralen (PUVA terapi). Kadang-kadang
kepekaan cahaya krim atau lotion yang mengandung psoralen dapat
digunakan di daerah kulit lokal, misalnya kaki (PUVA topikal). UVA
adalah bagian dari spektrum UV dikaitkan dengan pigmentasi.
2. UVB
Fototerapi UVB memanfaatkan bagian sunburning dari spektrum
UV."Narrowband" menggunakan sinar UVB dari satu panjang gelombang
saja.

14
I. Contoh penyakit yang di sembuhkan dengan fototerapi
1. Penyakit bilirubin
a. Metabolisme bilirubin
Segera setelah lahir bayi harus mengkonjugasi Bilirubin (merubah
Bilirubin yang larut dalam lemak menjadi Bilirubin yang mudah larut
dalam air) di dalam hati.
Frekuensi dan jumlah konjugasi tergantung dari besarnya hemolisis
dan kematangan hati, serta jumlah tempat ikatan Albumin (Albumin
binding site). Pada bayi yang normal dan sehat serta cukup bulan,
hatinya sudah matang dan menghasilkan Enzim Glukoronil
Transferase yang memadai sehingga serum Bilirubin tidak mencapai
tingkat patologis
b. Konsep Dasar
Ikterus Fisiologis
Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis
adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa,
1987):
1) Timbul pada hari kedua-ketiga
2) Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15
mg% pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
3) Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per
hari
4) Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %
5) Ikterus hilang pada 10 hari pertama
6) Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis
tertentu
Ikterus Patologis /
1) Hiperbilirubinemi
Adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah
mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan
Kern Ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau

15
mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown
menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai
12mg% pada cukup bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan.
Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
2) Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin Indirek
pada otakterutama pada Korpus Striatum, Talamus, Nukleus
Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus pada
dasar Ventrikulus IV.
c. Cara Kerja Fototerapy
1. Cara kerja terapi sinar adalah dengan mengubah bilirubin menjadi
bentuk yang larut dalam air untuk dieksresikan melalui empedu
atau urin.
2. Ketika bilirubin mengabsorbsi cahaya, terjadi reaksi fotokimia
yaitu isomerisasi.
3. Terdapat konversi ireversibel menjadi isomer kimia lainnya
bernama lumirubin yang dengan cepat dibersihkan dari plasma
melalui empedu.
4. Lumirubin adalah produk terbanyak degradasi bilirubin akibat
terapi sinar pada manusia.
5. Sejumlah kecil bilirubin plasma tak terkonyugasi diubah oleh
cahaya menjadi dipyrole yang diekskresikan lewat urin. Foto
isomer bilirubin lebih polar dibandingkan bentuk asalnya dan
secara langsung bisa dieksreksikan melalui empedu
6. Dari empedu kemudian diekskresi ke dalam Deodenum untuk
dibuang bersama feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery
dan Taeusch, 1984).
7. Hanya produk foto oksidan saja yang bisa diekskresikan lewat
urin.

16
8. Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan
kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab
Kekuningan dan Hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
d. Kriteria Alat
1. Menggunakan panjang gelombang 425-475 nm.
2. Intensitas cahaya yang biasa digunakan adalah 6-12 mwatt/cm2 per
nm.
3. Cahaya diberikan pada jarak 35-50 cm di atas bayi.
4. Jumlah bola lampu yang digunakan berkisar antara 6-8 buah,
terdiri dari biru (F20T12), cahaya biru khusus (F20T12/BB) atau
daylight fluorescent tubes .
e. Prosedur Pemberian Fototerapi
Persiapan Unit Terapi sinar
1. Hangatkan ruangan tempat unit terapi sinar ditempatkan, bila perlu,
sehingga suhu di bawah lampu antara 380C sampai 300C.
2. Nyalakan mesin dan pastikan semua tabung fluoresens berfungsi
dengan baik.
3. Ganti tabung/lampu fluoresens yang telah rusak atau berkelip-kelip
(flickering):
a) Catat tanggal penggantian tabung dan lama penggunaan tabung
tersebut.
b) Ganti tabung setelah 2000 jam penggunaan atau setelah 3
bulan, walaupun tabung masih bisa berfungsi.
4. Gunakan linen putih pada basinet atau inkubator, dan tempatkan
tirai putih di sekitar daerah unit terapi sinar ditempatkan untuk
memantulkan cahaya sebanyak mungkin kepada bayi
Pemberian Terapi sinar
1. Tempatkan bayi di bawah sinar terapi sinar.
a) Bila berat bayi 2 kg atau lebih, tempatkan bayi dalam keadaan
telanjang pada basinet. Tempatkan bayi yang lebih kecil dalam
inkubator.

17
b) Letakkan bayi sesuai petunjuk pemakaian alat dari pabrik.
2. Tutupi mata bayi dengan penutup mata, pastikan lubang hidung
bayi tidak ikut tertutup. Jangan tempelkan penutup mata dengan
menggunakan selotip.
3. Balikkan bayi setiap 3 jam
4. Pastikan bayi diberi makan:
a) Motivasi ibu untuk menyusui bayinya dengan ASI ad libitum,
paling kurang setiap 3 jam
b) Selama menyusui, pindahkan bayi dari unit terapi sinar dan
lepaskan penutup mata
5. Pemberian suplemen atau mengganti ASI dengan makanan atau
cairan lain (contoh: pengganti ASI, air, air gula, dll) tidak ada
gunanya.
6. Bila bayi menerima cairan per IV atau ASI yang telah dipompa
(ASI perah), tingkatkan volume cairan atau ASI sebanyak 10%
volume total per hari selama bayi masih diterapi sinar .
7. Bila bayi menerima cairan per IV atau makanan melalui NGT,
jangan pindahkan bayi dari sinar terapi sinar .
8. Perhatikan: selama menjalani terapi sinar, konsistensi tinja bayi
bisa menjadi lebih lembek dan berwarna kuning. Keadaan ini tidak
membutuhkan terapi khusus.
9. Teruskan terapi dan tes lain yang telah ditetapkan
10. Pindahkan bayi dari unit terapi sinar hanya untuk melakukan
prosedur yang tidak bisa dilakukan di dalam unit terapi sinar .
11. Bila bayi sedang menerima oksigen, matikan sinar terapi sinar
sebentar untuk mengetahui apakah bayi mengalami sianosis sentral
(lidah dan bibir biru)
12. Ukur suhu bayi dan suhu udara di bawah sinar terapi sinar setiap 3
jam. Bila suhu bayi lebih dari 37,5 0C, sesuaikan suhu ruangan
atau untuk sementara pindahkan bayi dari unit terapi sinar sampai
suhu bayi antara 36,5 0C - 37,5 0C.

18
13. Ukur kadar bilirubin serum setiap 24 jam, kecuali kasus-kasus
khusus
14. Hentikan terapi sinar bila kadar serum bilirubin < 13mg/dL
15. Bila kadar bilirubin serum mendekati jumlah indikasi transfusi
tukar, persiapkan kepindahan bayi dan secepat mungkin kirim bayi
ke rumah sakit tersier atau senter untuk transfusi tukar. Sertakan
contoh darah ibu dan bayi.
16. Bila bilirubin serum tidak bisa diperiksa, hentikan terapi sinar
setelah 3 hari.
Setelah terapi sinar dihentikan:
1. Observasi bayi selama 24 jam dan ulangi pemeriksaan bilirubin
serum bila memungkinkan, atau perkirakan keparahan ikterus
menggunakan metode klinis.
2. Bila ikterus kembali ditemukan atau bilirubin serum berada di atas
nilai untuk memulai terapi sinar , ulangi terapi sinar seperti yang
telah dilakukan. Ulangi langkah ini pada setiap penghentian terapi
sinar sampai bilirubin serum dari hasil pemeriksaan atau perkiraan
melalui metode klinis berada di bawah nilai untuk memulai terapi
sinar.
3. Bila terapi sinar sudah tidak diperlukan lagi, bayi bisa makan
dengan baik dan tidak ada masalah lain selama perawatan,
pulangkan bayi.
4. Ajarkan ibu untuk menilai ikterus dan beri nasihat untuk membawa
kembali bayi bila bayi bertambah kuning.

J. Efek samping fototerapi


1. Tanning (perubahan warna kulit) : induksi sintesis melanin dan atau
disperse oleh cahaya ultra violet.
2. Syndrome bayi Bronze : penurunan ekskresi hepatic dari foto
produk bilirubin.
3. Diare : bilirubin menginduksi seksresi usus.

19
4. Intoleransi laktosa : trauma mukosa dari epitel villi.
5. Hemolisis : trauma fotosensitif pada eritrosist
sirkulasi.
6. Kulit terbakar : paparan berlebihan karena emisi
gelombang pendek lampu fluoresen.
7. Dehidrasi : peningkatan kehilangan air yang tak
disadari karena energy foton yang
diabsorbsi.
8. Ruam kulit : trauma fotosensitif pada sel mast kulit
dengan pelepasan histamine.

K. Prinsip Kerja Fototerapi


Foto terapi dapat memecah bilirubin menjadi dipirol yang tidak toksis
dan di ekskresikan dari tubuh melalui urine dan feses. Cahaya yang
dihasilkan oleh terapi sinar menyebabkan reaksi fotokimia dalam kulit
(fotoisomerisasi) yang mengubah bilirubin tak terkonjugasi ke dalam
fotobilirubin dan kemudian di eksresi di dalam hati kemudian ke empedu,
produk akhir reaksi adalah reversible dan di ekresikan ke dalam empedu
tanpa perlu konjugasi. Energy sinar dari foto terapi mengubah senyawa 4Z-
15Z bilirubin menjadi senyawa bentuk 4Z-15E bilirubin yang merupakan
bentuk isomernya yang mudah larut dalam air.

L. Prosedur Pemberian Fototerapi


1. Persiapan Unit Fototerapi
a. Pastikan bahwa tutup plastik atau pelindung berada pada posisinya. Hal
ini mencegah cedera pada bayi jika lampu pecah dan membantu
menapis sinar ultraviolet yang berbahaya.
b. Hangkatkan ruangan tempat unit diletakkan, bila perlu, sehingga suhu
dibawah sinar adalah 28oC sampai 30oC.
c. Nyalakan unit, dan pastikan bahwa semua tabung fluoresen bekerja
d. Ganti tabung fluoresen yang terbakar atau yang berkedip-kedip

20
1. Catat tanggal tabung diganti dan ukur durasi total penggunaan
tabung tersebut.
2. Ganti tabung setiap 2000 jam penggunaan atau setelah tiga bulan,
mana saja yang terlebih dahulu, walaupun tabung masih bekerja.
e. Gunakan seprai putih pada pelbet, tempat tidur bayi, atau inkubator, dan
letakkan tirai putih disekitar tempat area tempat unit diletakkan untuk
memantulkan sinar sebanyak mungkinkembali ke bayi.
2. Pemberian Fototerapi
Prosedur Pemberian Fototerapi pada bayi yaitu :
a. Letakkan bayi di bawah fototerapi
1) Jika berat badan bayi 2 kg atau lebih, letakkan bayi telanjang pada
pelbet atau tempat tidur. Letakkan atau jaga bayi kecil dalam
inkubator.
2) Perhatikan adanya bilier atau obstruksi usus.
Rasional : Fototerapi dikontraindikasikan pada kondisi ini karena
fotoisomer bilirubin yang diproduksi dalam kulit dan
jaringan subkutan dengan pemajanan pada terapi sinar
tidak dapat diekskresikan.
3) Ukur kuantitas fotoenergi bola lampu fluorensen (sinar putih atau
biru) dengan menggunakan fotometer.
Rasional : Intensitas sinar menembus permukaan kulit dari spectrum
biru menentukan seberapa dekat bayi ditempatkan terhadap
sinar. Sinar biru khusus dipertimbangkan lebih efektif
daripada sinar putih dalam meningkatkan pemecahan
bilirubin.
4) Letakkan bayi di bawah sinar sesuai dengan yang di indikasikan.
5) Tutupi mata bayi dengan potongan kain, pastikan bahwa potongan
kain tersebut tidak menutupi hidung bayi. Inspeksi mata setiap 2 jam
untuk pemberian makan. Sring pantau posisi.
Rasional :Mencegah kemungkinan kerusakan retina dan
konjungtiva dari sinar intensitas tinggi. Pemasangan yang

21
tidak tepat dapat menyebabkan iritasi, abrasi kornea dan
konjungtivitis, dan penurunan pernapasan oleh obstruksi
pasase nasal.
6) Tutup testis dan penis bayi pria
Rasional : Mencegah kemungkinan kerusakan penis dari panas
b. Ubah posisi bayi setiap 2 jam
Rasional :Memungkinkan pemajanan seimbang dari permukaan kulit
terhadap sinar fluoresen, mencegah pemajanan berlebihan
dari bagian tubuh individu dan membatasi area tertekan.
c. Pastikan bayi diberi makan :
1. Dorong ibu menyusui sesuai kebutuhan tetapi minimal setiap 2 jam :
a. Selama pemberian makan, pindahkan bayi dari unit fototerapi dan
lepaskan kain penutup mata.
b. Memberikan suplemen atau mengganti ASI dengan jenis
makanan atau cairan lain tidak diperlukan (mis: pengganti
ASI,air, air gula,dsb)
c. Jika bayi mendapatkan cairan IV atau perasaan ASI, tingkatkan
volume cairan dan/atau susu sebanyak 10% volume harian total
perhari selama bayi dibawah sinar fototerapi
d. Jika bayi mendapatkan cairan IV atau diberi makan melalui slang
lambung, jangan memindahkan bayi dari sinar fototerapi.
e. Perhatikan bahwa feses bayi warna dan frekuensi defekasi dapat
menjadi encer dan urin saat bayi mendapatkan fototerapi. Hal ini
tidak membutuhkan penangan khusus.
Rasional : Defekasi encer, sering dan kehijauan serta urin
kehijauan menandakan keefektifan fototerapi
dengan pemecahan dan ekskresi bilirubin.
f. Dengan hati- hati cuci area perianal setelah setiap defekasi ,
inspeksi kulit terhadap kemungkinan iritasi dan kerusakan.
Rasional : Membantu mecegah iritasi dan ekskoriasi dari
defekasi yang sering atau encer.

22
a. Lanjutkan terapi dan uji yang diprogramkan lainnya:
1. Pindahkan bayi dari unit foterapi hanya selama prosedur yang tidak
dapat dilakukan saat dibawah sinar fototerapi
2. Jika bayi mendapka 5n oksigen, matikan sinar sebentar saat
mengamati bayi untuk mengetahui adanya sianosis sentral (lidah dan
bibir biru).
b. Pantau kulit bayi dan suhu inti setiap 2 jam atau lebih sering sampai
stabil (misalnya, suhu aksila 97,8 F, suhu rectal 98,9 F).
Rasional : Fluktuasi pada suhu tubuh dapat terjadi sebagai respons
terhadap pemajanan sinar, radiasi dan konveksi.
c. Pantau masukan dan haluaran cairan, timbang BB bayi dua kali sehari.
Perhatikan tanda- tanda dehidrasi (mis, penurunan haluaran urine,
fontanel tertekan, kulit hangat atau kering dengan turgor buruk, dan
mata cekung). Tingkatkan masukan cairan per oral sedikitnya 25%.
Rasional : Peningkatan kehilangan air melalui feses dan evaporasi
dapat menyebabkan dehidrasi.
d. Ukur kadar bilirubin serum setiap 12 jam:
Rasional : Penurunan kadar bilirubin menandakan keefektifan
fototerapi, peningkatan yang kontinu menandakan hemolisis yang
kontinu dan dapat menandakan kebutuhan terhadap transfuis tukar.
1. Hentikan fototerapi jika kadar bilirubin serum di bawah kadar saat
fototerapi di mulai atau 15mg/dl (260umol), mana saja yang lebih
rendah.
2. Jika bilirubin serum mendekati kadar yang membutuhkan tranfusi tukar
atau pemindahan dan segera rujuk bayi kerumah sakit tersier atau pusat
spesialisasi untuk tranfusi tukar, jika memungkinkan. Kirim sampel
darah ibu dan bayi.
e. Jika serum bilirubin tidak dapat diukur, hentikan fototerapi setelah tiga
hari. Bilirubin pada kulit dengan cepat menghilang dibawah fototerapi.
Warna kulit tidak dapat digunakan sebagai panduan kadar bilirubin
serum selama 24 jam setelah penghentian fototerapi

23
f. Setelah fototerapi dihentikan :
a. Amati bayi selama 24 jam dan ulangi pengukuran bilirubin serum, jika
memungkinkan atau perkiraan ikterus dengan menggunakan metode
klinis.
b. Jika ikterus kembali ke atau di atas kadar di mulainya fototerapi, ulangi
fototerapi dengan banyak waktu yang sama seperti awal pemberian.
Ulangi langkah ini setiap kali fototerapi dihentikan sampai pengukuran
atau perkiraan bilirubin tetap di bawah kadar yang membutuhkan
fototerapi.
g. Jika fototerapi tidak lagi dibutuhkan, bayi makan dengan baik dan tidak
terjadi masalah lain yang membutuhkan hospitalisasi, pulangkan bayi.
h. Ajari ibu cara mengkaji ikterus, dan anjurkan ibu kembali jika bayi
menjadi lebih ikterus.

24
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran

25
DAFTAR PUSTAKA

Bunyaniah, Dahru. 2013. Pengaruh Fototerapi Terhadap Derajat Ikterik Pada


Bayi Baru Lahir Di RSUD DR. Moewardi Surakarta. Diunduh11
oktober 2015.

Gumilar, Hairul. 2010. Pemberian Fototerapi Dengan Penurunan Kadar


Bilirubin Dalam Darah Pada Bayi BBLR Dengan
Hiperbilirubinemia. Diakses11oktober 2015.

26
Kosim, M,S., Soetandio, Robert. M Sakundaro. 2008. Dampak Lama Fototerapi
Terhadap Penurunan Kadar Bilirubin Total Pada
Hiperbilirubinemia Neontal. Diakses 12 oktober 2015.

Rahmah., Yetti, K., Besral. 2013. Pemberian ASI Efektif Mempersingkat Durasi
Pemberian Fototerapi. Diakses 11 oktober 2015.

Shinta P, Tina. 2015. Pengaruh Perubahan Posisi Tidur Pada Bayi Baru Lahir
Hiperbilirubinemia Dengan Total Fototerapi Terhadap Kadar
Bilirubin Total. Diakses 12 oktober 2015.

Suraiyah. 2014. [Link] Diakses


10 oktober 2015.

Yuhanidz, H., Saryono., Giyatmo. 2011. Efektivitas Fototerapi 24 Jam Dan 36


Jam Terhadap Penurunan Bilirubin Indirect Pada Bayi Ikterus
Neonatorum. Diakses 10 oktober 2015.

27

Anda mungkin juga menyukai