PEMISAHAN DIFUSIONAL
Difusi Molekuler dimanfaatkan
untuk pemisahan campuran
homogen:
-distilasi
-ekstraksi cair-cair
-ekstraksi padat-cair(leaching)
-absorpsi dan adsorpsi
1
PEMISAHAN DIFUSIONAL
Memanfaatkan kesetimbangan
o Distilasi
o Absorbsi (gas)
o Ekstraksi (cair-cair)
o Humidifikasi
o Pengeringan (drying)
2
Distilasi
- Perbedaan kemudahan menguap
- Relative volatility, αAB
Absorpsi
Perbedaan keberadaan gas S
-
di gas/cair
-Kemudahan gas S melarut
dalam cairan
3
Ekstraksi cair cair
Perbedaan kelarutan
cairan S dalam
cairan α / cairan β
4
Jika terjadi pengubahan fasa cair menjadi uap
Proses pemisahan uap-cair
DISTILASI
•Kesetimbangan : uap-cair
• Bahasan awal →campuran biner A dan B
A lebih mudah menguap daripada B
5
Ditentukan oleh kondisi
• P (tekanan)
• T (temperatur)
6
→Hubungan yA dan xA sebagai
fungsi P dan T (sifat alamiah)
7
Kesetimbangan uap-cair
Data yang harus diketahui untuk menyelesaikan persoalan
distilasi adalah data kesetimbangan fasa antara
fasa uap - fasa cair dari sistem yang akan dipisahkan
dengan cara distilasi tersebut.
Kurva kesetimbangan, diagram x-y dan diagram titik didih.
Jika ada dua komponen ( A dan B) berada pada sistem dua
fasa, maka pada saat tercapai kondisi kesetimbangan :
komponen A yang lebih mudah menguap akan lebih banyak
berada di fasa uap dibandingkan dengan komponen B yang
lebih sukar menguap.
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Cara menentukan kesetimbangan uap-cair
Hukum Raoult, untuk larutan biner ideal :
pA = [Link] ,
dengan pA = tek. parsial A di fasa uap,
poA = tek. uap murni A pada suhu yg sama, dan
xA = fraksi mol A di fasa cair.
Kemuapan relatif (relative volatility) :
untuk larutan biner AB, jika komponen A lebih mudah
menguap dibanding B, maka kemuapan relatif A terhadap B
ditulis sebagai :
y A / x A y A / x A
AB
y B / x B 1 y A / 1 x A
17
Perbandingan kesetimbangan uap-cair.
Apabila fasa cair dan uap tidak mengikuti
Hukum Raoult, maka :
yA = KAxA
dengan :
1 KB
xA
KA KB
• Hukum Henry : p A = H xA
18
Kurva kesetimbangan
Kemuapan relatif dapat ditulis sebagai fraksi dari komponen ringan
(light key ) dalam campuran biner tersebut sebagai :
y1 / x1 y1 / x1 y1 1 x1
1,2 K1 / K2
y2 / x2 1 y1 / 1 x1 x11 y1
Untuk komponen-komponen yg berdekatan titik didihnya, nilai di kolom
lebih konstan, sehingga hubungan y – x ditulis sebagai : 1,2 x1
y1
1 x1 1,2 1
Komponen-komponen dengan titik didih tdk berdekatan, bervariasi.
Kurva kesetimbagan terlihat seperti untuk yg konstan.
kemuapan relatif
Kurva mkn besar
kesetimbangan
y1
y1
diagonal grs 45 0
19
x1 x1
Data kesetimbangan sistem Bensena - Toluena
Temperatur Tekanan Uap Fraksi mol Bensena
Bensena (poA) Toluena (poB) 101,323 kPa
K OC kPa mmHg kPa mmHg xA yA
353,3 80,1 101,32 760 1,000 1,000
358,2 85 116,9 877 46,0 345 0,780 0,900
363,2 90 135,5 1016 54,0 405 0,581 0,777
368,2 95 155,7 1168 63,3 475 0,411 0,632
373,2 100 179,2 1344 74,3 557 0,258 0,456
378,2 105 204,2 1532 86,0 645 0,130 0,261
383,8 110,6 240,0 1800 101,32 760 0,000 0,000
20
21
Diagram titik didih untuk bensena (A) – toluena (B)
pada tekanan total 101,325 kPa
115
110
fasa uap
105
100
uap –cair
Suhu ( oC)
95
90
85
80 fasa cairan
75
x y*
70
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
fraksi mol bensena, x , y
22
23
24
Kontak kesetimbangan satu tahap
sistem uap-cair
V1 tahap V2 uap
pengontakan
L0 L1 cairan
Neraca massa total :
L0 + V2 = M = L1 + V1
aliran masuk aliran keluar
Neraca massa komponen A :
L0xA0 + V2yA2 = L1xA1 + V1yA1 = MxAM
25
DISTILASI
Distilasi adalah suatu proses pemisahan campuran cairan
yang saling larut dan dapat menguap menjadi komponennya
masing-masing atau sekelompok komponen tertentu.
Supaya pemisahan dengan proses distilasi tersebut dapat
terlaksana maka pada saat terjadi kesetimbangan uap-cair
komposisi di fasa uapnya harus berbeda dengan komposisi di
fasa cairnya.
Secara teoritis distilasi tidak akan menghasilkan produk murni,
karena untuk memperoleh produk pemisahan 100 % murni
diperlukan energi yang besar.
26
Metoda distilasi untuk sistem biner
1. Distilasi satu tahap,yaitu :
a. Distilasi kesetimbangan
b. Distilasi sederhana
c. Distilasi uap sederhana
2. Distilasi multi tahap
27
DISTILASI KESETIMBANGAN
(Equilibrium/Flash distillation)
V (mol/jam)
yB
pemisah
F, xF
pemanas
L, xB
Neraca massa total : F = V + L
28
Bila F = 1 mol, dan jumlah yg menguap V adalah f mol, maka :
yg keluar sebagai cairan L adalah ( 1 – f) mol.
Neraca massa menjadi : xF = [Link] + ( 1 – f). xB
1 f xF
atau y .x
f f
adalah garis neraca massa, berupa garis lurus dengan kemiringan
1 f
f
memotong kurva kesetimbangan pada x = xB, dan y = yB.
Jika x = xF , maka pers menjadi :
1 f xF
y .x F
f f
29
Contoh :
Uap yang terdiri dari 0,40 fraksi mol bensena (A) dan 0,60 fraksi mol toluena (B)
berada pada tekanan 101,32 kPa dan titik embunnya. Uap sebanyak 100 kmol tsb
dikontakkan dengan cairan yang mengandung 0,30 fr. mol A dan 0,70 fr. mol tB yg
berada pada titik didihnya. Kontak dua fasa tersebut dilakukan pada tahap tunggal
dan pada saat keluar dari tahap pengontakan, aliran cairan dan gas keluar berada
pada kondisi kesetimbangan. Dengan anggapan laju alir molar konstan, hitung jumlah
dan komposisi aliran cairan dan gas di aliran keluar yg telah setimbang tersebut.
V1 = V 2 V2 = 100 kmol,
yA2 = 0,40
1
L1 = L0
L0 = 110 kmol
xA0 = 0,30
Neraca massa komponen A :
L0xA0 + V2yA2 = L1xA1 + V1yA1
30
L0xA0 + V2yA2 = L1xA1 + V1yA1
110.(0,30) + 100.(0,40) = 110.xA1 + 100.yA1
33 + 40 = 110.xA1 + 100.yA1
110.xA1 + 100.yA1 = 73
Hubungan xA1 dan yA1 ditentukan dari kurva kesetimbangan.
Jika dimasukkan xA1 = 0,20, maka yA1 = (73 – 22)/100 = 0,51
xA1 = 0,40, maka yA1 = (73 – 44)/100 = 0,29
Plot dan hubungkan kedua titik tersebut pada kurva kesetimbangan,
garis lurus tersebut akan memotong kurva kesetimbangan di titik
yg dikehendaki.
31
Kesetimbangan bensena-toluena
0,9
0,8
0,7
0,6
(0,20 ; 0,51)
y-bensena
0,5
0,4
0,3 ( 0,40 , 0,29 )
0,2
0,1
0 xA*
0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1
x-bensena
32
DISTILASI SEDERHANA
(Simple Distillation)
Proses distilasi dilaksanakan secara batch di dalam sebuah bejana.
V mol uap ke kondensor, yA
L mol residu (cairan), xA
Neraca massa komponen A :
A mula-mula = A yg tertinggal di residu + A yg menguap
xA.L = ( xA – dxA).( L – dL) + [Link]
xA.L = ( xA L – xAdL– LdxA + dxAdL) + [Link]
33
Operasi Teknik Kimia 3 - Kuliah 1 34
[Link] diabaikan, maka :
Ldx = ydL – xdL , atau dL
dx
L y x
diintegrasi dari L2 ke L1 :
L1 x
2
dL L1 dx
L disebut pers. Rayleigh
L 2 x2 y x
ln
L2
penyelesaian dilakukan dengan cara grafik, yaitu mengalurkan
1
y x terhadap x, kemudian menghitung luas daerah di bawah
kurva antara x1 dan x2.
Komposisi rata-rata massa yang terdistilasi dihitung dengan :
L1x1 = L2x2 + ( L1 – L2) yrata-rata
35
Contoh: Distilasi sederhana (differential distillation)
Campuran yang terdiri dari 50 % mol n-pentana dan 50 % mol n-heptana
sebanyak 100 mol didistilasi secara diferensial pada tekanan 101,3 kPa
hingga terdistilasi sebanyak 40 mol. Berapa komposisi rata-rata uap hasil
distilasi tersebut dan komposisi cairan di residu.
Data kesetimbangan,
x dan y adalah fraksi mol n-pentana di fasa cair dan di fasa uap.
x 1,00 0,867 0,594 0,398 0,254 0,145 0,059 0,00
y 1,00 0,984 0,925 0,836 0,701 0,521 0,271 0,00
36
L1 = 100 mol , x1 = 0,50 .
N-pentana yang terdisilasi sebanyak V (mol yang teruapkan) = 40 mol,
sehingga sisa cairan residu L2 = (100 – 40) mol = 60 mol.
100 dx
Dengan persamaan Rayleigh : ln 0,51
60 y x
Karena x2 (komposisi cairan L2 pada akhir proses distilasi)
tidak diketahui maka integrasi di atas diselesaikan dengan cara grafik.
1
Buat alur/grafik antara dan x pada gambar berikut :
y x
37
4
3.5
2.5
1/(y-x)
1.5
0.5
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
x
38
Dari batas atas :
0,51 = (x1 – x2).2,45 (0,50 – x2) = 0,208 x2 = 0,292
Dari batas bawah :
0,51 = (x1 – x2).2,25 (0,50 – x2) = 0,227 x2 = 0,273
Maka diperoleh nilai x2 rata-rata =
( 0,292 + 0,273 ) / 2 = 0,2825
Komposisi rata-rata dari 40 mol yang teruapkan ,
dengan persamaan neraca massa :
L1x1 = L2x2 + (L1 – L2) yrata-rata
100.(0,50) = 60.(0,2825) + 40.(yrata-rata)
50 = 16,95 + 40.(yrata-rata)
(yrata-rata) = ( 50 – 16,95 ) / 40 = 0,8625
39
4
3.5
2.5
1/(y-x)
2
luas area = 0,51
1.5
0.5
x2 x1= 0,50
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6
x
40
Cairan yang mempunyai titik didih tinggi tidak dapat dimurnikan dengan
proses distilasi pada tekanan atmosfir, jika komponen yang terdapat di
cairan tersebut akan terurai dan rusak pada suhu yang tinggi.
Oleh karena itu maka pemurniannya dilakukan dengan distilasi uap
karena biasanya bahan dengan titik didih tinggi tidak larut dalam air
sehingga pemisahan dengan distilasi uap ini dapat dilakukan pada suhu
yang lebih rendah.
Ada 2 alternatif, yang pertama uap yang dipakai adalah uap lewat jenuh
dan mempunyai panas yang tinggi hingga dapat menguapkan zat yang akan
dipisahkan tanpa mengalami kondensasi.
Alternatif lain sebagian uap akan terkondensasi hingga terbentuk fasa
cairnya.
41
Jika lapisan air (A) dan komponen (B) yang tak larut mempunyai
titik didih tinggi seperti hidrokarbon akan dididihkan pada
tekanan 101,3 kPa absolut, maka sistem tersebut terdiri dari 3 fasa
(terbentuk uap dan dua cairan) dan 2 komponen A dan B.
Bila, tekanan atau suhu sistem telah ditetapkan maka tekanan partial
masing-masing komponen akan sama dengan tekanan uapnya masing-masing.
PAo + PBo = P
PAo = tekanan uap murni air A dan
PBo = tekanan uap murni komponen B
42
Komposisi uap adalah :
yA = PA/P dan yB = PB/P
Selama terdapat dua fasa cair, campuran akan mendidih pada suhu
yang sama, dan memberikan komposisi uap yang konstan, yA .
Suhu ditentukan dengan menggunakan kurva tekanan uap murni A dan B.
Dengan menggunakan distilasi uap, maka cairan komponen B yang
mempunyai titik didih tinggi akan menguap pada temperatur yang lebih
rendah dari titik didih normalnya tanpa menggunakan tekanan vakum.
Uap (A) dan uap (B) yang mempunyai titik didih tinggi tersebut biasanya
akan terkondensasi dan menghasilkan dua fasa cair yang yang tak saling
larut sehingga dapat dipisahkan.
Metode ini tidak menguntungkan jika jumlah panas yang digunakan
untuk menguapkan air dengan komponen yang titik didih tinggi sangat besar.
43
Perbandingan mol B yang teruapkan dan mol A yang teruapkan adalah :
n B PB
n A PA
Kadang-kadang distilasi uap digunakan di industri makanan untuk
menghilangkan bau dan noda yang mudah menguap dari lemak dan minyak.
44
Refluks adalah aliran kondensat yang dikembalikan ke kolom distilasi.
Kondensasi dilakukan di kondensor yang ada di luar kolom distilasi.
Kolom ini terdiri dari beberapa tahap yg disusun secara seri,
dengan arah aliran uap berlawanan dengan cairan.
Kontak antara uap dan cairan berlangsung di setiap tahap
hingga tercapai kesetimbangan.
45
Distilasi
Batch Sederhana
Dipakai hanya untuk proses
berskala kecil, terutama pada
industri farmasi atau produk
bahan kimia spesial.
46
47
48
Faktor-faktor penting pada
perancangan kolom distilasi bertahap :
[Link] tahap,
[Link] diameter kolom,
[Link] antar 2 tahap (yg berturutan),
[Link] baki (plate),
[Link] yg dibuang di kondensor,
[Link] yg diperlukan reboiler, dan
[Link] detail dari kolom dan baki (plate).
49
Kontak antar fasa pada kolom tahap
D aras cairan
C
B
aliran gas
aliran
cairan
Weir
(parit)
Froth
(buih)
Aliran uap (warna merah)
mengalir bergelembung melewati
Pelat froth. Aliran cairan mengalir
melewati froth dan parit (weir)
50
kondensor
uap
produk atas
refluks
umpan
reboiler cairan
produk bawah
51
Kondensor
uap overhead Drum Refluks
1 Distilat
Refluks
Daerah rektifikasi
2
Umpan
f tahap umpan
Daerah pelucutan Boilup
N
Partial reboiler
Bottoms
52
CONTOH SOAL
Bagaimanakah komposisi uap yang seimbang dengan cairan yang
mempunyai komposisi 46% mol heptana dan 54% mol heksana pada titik
didihnya.
Diketahui titik didih cairan itu 80oC, Po heksana 1050 torr & Po heptana
427 torr. Pada suhu & tekanan tersebut bagaimana komposisi uapnya?
Penyelesaian :
Pheksana = [Link] = 0,54 x 1050 torr = 567,00 torr
Pheptana = [Link] = 0,46 x 427 torr = 196,42 torr
Ptotal = (567,00 + 196,42) torr = 763,42 torr
Komposisi Uap :
567
Heksana x100% 74,27%mol
763,42
Heptana 196,42
x100% 25,73%mol
763,42
STUDI TERMODINAMIKA KESETIMBANGAN UAP-CAIR
LANDASAN TEORI
dGi fi (T, P, (1) ,....... (n) ) 0
^V ^L 1(1) 2(1) 3(1) ....... j(1)
fi fi ...........................................
1(n) 2(n) 3(n) ....... j(n)
Psat pada T yang diberikan Faktor koreksi Poynting
Koef. Fugasitas i dalam camp pada Komposisi cairan i pada kest. atau dihitung dari pers. (PF)
T,P dengan yi pada T,P Antoine atau lainya biasanya mendekai satu jika
Dihitung untuk non-ideal dalam gas P besar sekali
^V
P
_
L
i yi P i x i i pi exp
sat. sat (Vi )
dP
sat RT
Pi
Koef. aktivitas untuk i dalam
campuran Koef. fugasitas kompone i murni pada T,Psat.
Komposisi uap i pada
hitungan menggunakan:
[Link] xi pada T,P pada T, P ; Lee Kesler, dsb
ln (z 1)dp / p
dihitung dengan pers. UNIFAC, atau
dapat pula sbg fungsi semua xi, T
dan P, hitungan untuk non-ideal
GE 1 (nG E ) PF= Poynting correction factor
ln i dalam lautan cair dihitung dari GE
RT RT n i T,P,n 54
j1 ([Link], Van Laar,
UNIQUAC)
KASUS KASUS TERTENTU
1. Gas ideal , larutan cair ideal, P rendah
Ф=1, =1, PF=1 yiP=xiPisat. (HK. Raoult)
2. Gas ideal , larutan cair non-ideal, P rendah
Ф=1, PF=1 yiP= ixiPisat. (Mod. Raoult)
3. Gas non-ideal , larutan cair, P moderat
^V
PF=1 i yi P i x i [Link]
4. Kelarutan gas (sangat kecil/rendah) dalam cairan
fi
y P Hi .x i
i
V
i
H i lim
x i 0 x
(HK. Henry)
i 55
SOAL LATIHAN
1. Campuran 60 % mol n-heptana dan 40 % mol etil bensena dengan laju alir
400 kmol/jam dipisahkan menjadi distilat yang mengandung 92,5 % mol n-heptana
dan produk bawah yang masih mengandung 5 % mol n-heptana.
Umpan yang terdiri dari sepertiga cairan dan duapertiga uap tersebut, dimasukkan
ke dalam kolom yang beroperasi pada 101,32 kPa.
Hitung :
a. Hitung laju alir distilat dan produk bawah dalam kmol/jam.
b. Berapa nilai q umpan ? , gambarkan garis umpan tersebut.
c. Berapa perbandingan refluks minimumRm
d. Dengan cara grafik, tentukan jumlah tahap ideal
jika digunakan perbandingan refluks R = 1,5 x Rm
56
Mula-mula letakkan xF = 0,60 , xD= 0,925 dan xW = 0,05 di grafik
1
0,9
0,8
0,7
yn-heptana0,6
0,5
0,4
0,3
0,2
0,1
0
0 xW 0,2 0,4 0,6
xF
0,8 xD 1
= 0,05 = 0,60 = 0,925
xn-heptana 57