100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
39 tayangan16 halaman

Masterplan Pelabuhan RoRo Tanjung Leban

Masterplan Pembangunan Pelabuhan (RoRo) Tanjung Leban membahas pendekatan dan kedudukan masterplan tersebut. Masterplan ini merupakan pedoman pembangunan pelabuhan dengan mempertimbangkan aspek teknis, sosial budaya, keselamatan, pengembangan pelayaran, organisasi, dan sumber daya manusia. Masterplan ini mengacu pada peraturan dan hasil studi kelayakan tahun 2016 serta merujuk pada rencana induk pelabuhan nasional dan ren

Diunggah oleh

Mira Ramli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
39 tayangan16 halaman

Masterplan Pelabuhan RoRo Tanjung Leban

Masterplan Pembangunan Pelabuhan (RoRo) Tanjung Leban membahas pendekatan dan kedudukan masterplan tersebut. Masterplan ini merupakan pedoman pembangunan pelabuhan dengan mempertimbangkan aspek teknis, sosial budaya, keselamatan, pengembangan pelayaran, organisasi, dan sumber daya manusia. Masterplan ini mengacu pada peraturan dan hasil studi kelayakan tahun 2016 serta merujuk pada rencana induk pelabuhan nasional dan ren

Diunggah oleh

Mira Ramli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA

(RORO) TANJUNG LEBAN

BAB II
PEMAHAMAN MASTERPLAN

2.1 PENGERTIAN DAN KEDUDUKAN MASTERPLAN


2.1.1 Pengertian Masterplan Pelabuhan (RoRo) Tanjung Leban
Rencana Induk (Masterplan) Pelabuhan (RoRo) Tanjung Leban ini
dibuat selain mengacu pada peraturan yang terkait, juga mengacu pada hasil
Feseability Studi (FS) yang dilkukan tahun 2016, dengan mempertimbangkan
perkembangan kondisi eksisting sekarang. Selain itu Masterplan Pelabuhan
(RoRo) Tanjung Leban ini mempertimbangkan pendekatan dari beberapa
aspek, yaitu, pendekatan kebijakan Pemerintah, pendekatan tata guna lahan
dan perairan, pendekatan ekonomi, pendekatan Kependudukan dan social
budaya, aspek Keselamatan dan Keamanan Pelayaran, aspek Pengembangan
Pelayaran, aspek Teknis dan operasional pelabuhan, aspek organisasi dan
SDM kepelabuhan.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang
Kepelabuhanan telah ditetapkan antara lain bahwa setiap pelabuhan wajib
memiliki Rencana Induk Pelabuhan yang mengacu kepada Rencana Induk
Pelabuhan Nasional sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor
KP.414 Tahun 2013 tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional.
Oleh karena itu, Rencana Induk Pelabuhan Roro Tanjung Leban perlu
dilaksanakan karena merupakan salah satu syarat yang diperlukan dalam
rangka penyelenggaraan pelabuhan.
Sehingga Masterplan Pelabuhan Penyeberangan (RoRo) tanjung
Leban akan menjadi pedoman pembangunan dan pengembangan pelabuhan
yang mencakup seluruh kebutuhan dan penggunaan tanah serta perairan
untuk kegiatan kepelabuhanan dan kegiatan penunjangnya dengan
mempertimbangkan aspek-aspek teknis, pertahanan dan keamanan, sosial

28
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

budaya serta aspek-aspek terkait lainnya.


Rencana Induk (Masterplan) Pelabuhan (RoRo) Tanjung Leban adalah
panduan rancang bangun suatu tapak (site) lingkungan yang merupakan
rencana dan rancangan lebih rinci dari Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan, yang dimaksudkan untuk memanfaatkan ruang wolayah, yang
didalamnya dilakukan penataan tapak secara terbatas dengan fungsi
kepelabuhan.
Masterplan dirumuskan sesuai dengan permasalahan dan arahan
kebijakan berdasarkan urgensi atau prioritas penanganan lingkungan
pelabuhan tersebut. Menetapkan program bangunan dan lingkungan, materi
utama penyusunan masterplan ini adalah sebagai berikut:
a. Melakukan Identifikasi dan Apresiasi Konteks Lingkungan
b. Menetapkan Program Bangunan dan Lingkungan
c. Menetapkan Rencana Umum dan Panduan Rancangan
d. Menetapkan Rencana Investasi
e. Menetapkan Ketentuan Pengendalian Rencana
f. Menetapkan Manajemen Pengelolaan.

2.1.2 Kedudukan Masterplan


Rujukan Utama dalam penyusunan Masterplan Pelabuhan (RoRo)
Tanjung Leban adalah Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 414
tahun 2013 tentang Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional; draft
RTRW kabupaten Bengkalis tahun 2011-2031; dan hasil Studi Kelayakan
Pelabuhan (Roro) Tanjung Leban tahun 2016. Oleh karena itu, seluruh
rencana, rancangan, aturan, dan mekanisme dalam penyusunan dokumen
Masterplan, harus merujuk pada pranata pembangunan yang lebih tinggi,
baik pada lingkup kota maupun wilayah. Secara skematik dapat dilihat pada
gambar dibawah ini.

29
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

Gambar 2.1. Hirarki Perencanaan Dan Pelaksanaan

2.2 Pendekatan Masterplan


Dalam Penyusunan Masterplan Pembangunan Pelabuhan (RoRo) Tanjung
Leban secara komprehensif digunakan beberapa aspek pendekatan, dengan
maksud agar tujuan dan sasaran yang diharapkan dapat dicapai semaksimal
mungkin. Pendekatan-pendekatan utama yang digunakan adalah :

30
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

a. Pendekatan Kebijakan Pemerintah,


b. Pendekatan Tata Guna Lahan Dan Perairan,
c. Pendekatan Ekonomi,
d. Pendekatan Kependudukan dan Social Budaya,
e. Aspek Keselamatan dan Keamanan Pelayaran,
f. Aspek Pengembangan Pelayaran,
g. Aspek Teknis dan Operasional Pelabuhan,
h. Aspek Organisasi dan SDM Kepelabuhan

2.2.1 Pendekatan Kebijakan Pemerintah


Struktur ruang wilayah Kabupaten Bengkalis 2011 - 2031 secara
konseptual ditujukan untuk mewujudkan percepatan pemerataan
pembangunan wilayah, membentuk dan memperkuat jejaring pusat - pusat
kegiatan ekonomi Kabupaten Bengkalis dalam konstelasi regional dan
nasional, membentuk dan memperkuat fungsi pusat - pusat permukiman
perkotaan dan perdesaan secara berjenjang, terintegrasi dan terpadu.
Dihubungkan dengan pelayanan sistem transportasi, sarana dan prasarana
dasar yang memadai, serta memperkuat hubungan fungsional dan
keterkaitan kegiatan ekonomi kawasan pusat dan hinterlandnya yang
tersebar diwilayah daratan, pesisir maupun kepulauan.
Konsep pengembangan struktur ruang wilayah Kabupaten Bengkalis
yang akan dituju sampai dengan 2031, dapat dirumuskan sebagai berikut :
1) Membangun dan memantapkan fungsi jalur/koridor kegiatan ekonomi
utama yang mampu menggerakkan dan menumbuhkembangkan pusat -
pusat kegiatan ekonomi diwilayah daratan, pesisir dan kepulauan
(Bengkalis dan Rupat) secara terpadu dan terintegrasi;
2) Melakukan percepatan pembangunan pusat - pusat kegiatan ekonomi
diwilayah daratan, pesisir dan kepulauan dengan memperhatikan potensi
sumberdaya lokal (wilayah darat dan laut) dan sekaligus
mempertimbangkan posisi geografis wilayah yang dapat menciptakan

31
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

peluang pasar perdagangan regional dan internasional (Dumai,


Pekanbaru dan Malaysia);
3) Membentuk sistem pusat - pusat kegiatan ekonomi utama dan atau sistem
pusat - pusat permukiman diwilayah daratan, pesisir dan kepulauan
(Bengkalis dan Rupat) secara berjenjang dan terintegrasi yang mampu
menggerakkan percepatan pembangunan ekonomi wilayah hinterland-
nya;
4) Mempersiapkan dan mempromosikan sistem pusat - pusat diwilayah
daratan, pesisir dan kepulauan, dengan pembagian fungsi, sebagai berikut
:
a) Mempersiapkan pusat - pusat kegiatan ekonomi utama dan atau pusat
- pusat permukiman secara berjenjang dan terintegrasi diwilayah
daratan (mainland), pesisir dan kepulauan dalam satu koridor
pembangunan ekonomi wilayah;
b) Memperkuat fungsi kawasan perkotaan Bengkalis sebagai Pusat
Kegiatan Wilayah (PKW) sekaligus sebagai pusat ibukota Kabupaten
Bengkalis. Upaya pengembangan kawasan perkotaan Bengkalis
sebagai Pusat Kegiatan Wilayah perlu didukung dengan
pengembangan pusat - pusat kegiatan ekonomi dan pusat - pusat
permukiman diwilayah sekitarnya;
c) Memperkuat fungsi kawasan Buruk Bakul diwilayah pesisir sebagai
Pusat Kegiatan Lokal yang dikembangkan secara terpadu dengan
kawasan perkotaan Sei Pakning. Kawasan Buruk Bakul dan Sei
Pakning akan berfungsi strategis. Dari satu sisi, kawasan tersebut
sebagai outlet atau simpul pertemuan koridor ekonomi wilayah
daratan dan kepulauan. Dari sisi lain, dapat berfungsi sebagai
penggerak pembangunan ekonomi wilayah pesisir. Pengembangan
kawasan Buruk Bakul dan Sei Pakning amat dipengaruhi oleh
pengembangan jalur/koridor ekonomi Pekanbaru - Siak Indrapura -
Buruk Bakul - Dumai dikawasan pesisir dan koridor ekonomi Duri -
Buruk Bakul - Bengkalis diwilayah daratan, pesisir dan kepulauan;

32
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

d) Mendorong pengembangan kawasan perkotaan Bengkalis pada tahap


pertama yang didukung oleh pengembangan kegiatan perdagangan
dan jasa, pariwisata dan kawasan pusat pendidikan yang maju di
provinsi Riau. Pengembangan kawasan perkotaan Bengkalis didukung
oleh pengembangan kawasan Buruk Bakul dan Sei Pakning yang
diprioritaskan pada tahap kedua setelah kawasan perkotaan Bengkalis
mengalami perkembangan pembangunan ekonomi wilayah;
e) Mempromosikan kawasan Batu Panjang dan Tanjung Medang sebagai
pusat kegiatan lokal (PKLp), yang diharapkan mampu menggerakkan
pembangunan pusat - pusat kegiatan ekonomi dan atau pusat - pusat
permukiman di Pulau Rupat yang didukung oleh sektor pariwisata,
pertanian, perkebunan, perikanan dan perdagangan serta dikaitkan
dengan pengembangan kawasan perkotaan Kota Terpadu Mandiri
(KTM). Pusat - pusat pengembangan di Pulau Rupat diorientasikan ke
Dumai, Bengkalis dan pesisir Barat Malaysia;
5). Membangun dan meningkatkan fungsi dan kondisi jalan kolektor dan
lokal primer serta meningkatkan pelayanan pelabuhan eksisting sebagai
penghubung antar pusat - pusat kegiatan ekonomi atau pusat - pusat
permukiman perkotaan dan perdesaan diwilayah Kabupaten Bengkalis
sampai dengan tahun 2031.
1. Kebijakan :
Pengembangan sistem perkotaan untuk mewujudkan keterpaduan
wilayah daratan dengan wilayah lautan dalam konstelasi regional, nasional,
dan internasional (lintas batas negara).
2. Strategi :
a) menetapkan fungsi dan peran perkotaan secara berjenjang;:
 Kota Bengkalis sebagai PKW;
 Duri Sebagai PKWp
 Sei Pakning sebagai PKL;
 Selat Baru, Batu Panjang,Tanjung Medang dan Pinggir sebagai
PKLp;

33
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

 Lubuk Muda, Pangkalan Nyirih sebagai PPK;


 Sepotong, Bandar Jaya (Siak Kecil), Bukit Batu (Bukit Batu),
Muara Basung (Pinggir), Sekodi, Kembung Luar dan Teluk
Pambang (Bengkalis), Tanjung Kapal dan Teluk Lecah (Rupat)
sebagai PPL.
b) menjaga keterkaitan antar kawasan perkotaan, antara kawasan
perkotaan dan kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan dan
wilayah di sekitarnya;
 Jalur poros Duri – Sei Pakning;
 Pelabuhan penyeberangan Air Putih – Sei Selari;
 Pelabuhan penyeberangan Tanjung Kapal – (Dumai);
 Pelabuhan penyebrangan Ketam Putih – (Tanjung Padang);
 Jalan lingkar Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat;
 Pelabuhan - pelabuhan lokal di pesisir Utara Kecamatan Bukit
Batu, Pulau Bengkalis dan Pulau Rupat;
 Jaringan jalan lokal di seluruh kecamatan;
c) mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum
terlayani oleh pusat pertumbuhan;
 Pengembangan jalur poros Sei Pakning – Dumai;
 Pengembangan jalur poros Sei Pakning – Pekan Baru;
 Pengembangan pelabuhan penumpang di Bengkalis, Selat Baru, Sei
Pakning dan Tanjung Medang;
 Pengembangan pelabuhan barang di Bengkalis, Sei Pakning dan
Tanjung Medang
 Pengembangan koneksi kereta api trans Sumatera railway di Duri;
 Pengembangan Bandara Selat Baru dan Sei Pakning
d) mengembangkan kawasan pertumbuhan ekonomi di wilayah
perbatasan negara;
e) mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih
kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah di
sekitarnya.

34
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

2.2.2 Pendekatan Tata Guna Lahan Dan Perairan


1. mencegah dan menanggulangi terjadinya pencemaran lingkungan yang
bersumber dari kapal.
2. Kapal dengan jenis dan ukuran tertentu yang dioperasikan wajib
dilengkapi peralatan dan bahan penanggulangan pencemaran minyak dari
kapal yang mendapat pengesahan dari Pemerintah.
3. Setiap kapal dilarang melakukan pembuangan limbah, air balas, kotoran,
sampah, serta bahan kimia berbahaya dan beracun ke perairan.
4. Setiap kapal dilarang mengeluarkan gas buang melebihi ambang batas
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
5. Meningkatkan pemanfaatan ruang terbuka hijau, sebagai penetralisir
dampak dari asap pembuangan kapal.

2.2.3 Pendekatan Ekonomi


1. Sebagai sarana transportasi, Pelabuhan Penyeberangan (RoRo)
menunjang aktifitas perekonomian dari dan menuju kawasan
2. Meningkatkan potensi jual beli barang melalui jalur perdagangan air;
3. Sebagai akses masuk dan keluar kawasan sekitar, sehingga memudahkan
pendistribusian kebutuhan barang dan jasa sehari-hari
4. Mendukung sarana pariwisata yang dapat mendatangkan wisatawan;
2.2.4 Pendekatan Kependudukan dan Sosial Budaya
1. memberikan fungsi sebagai ruang interaksi sosial, sebagai sarana
transportasi maupun sarana rekreasi;
2. merupakan media komunikasi, gerbang masuk, serta penghubung
dengan kawasan sekitar;
3. Dapat dijadikan sebagai ikon daerah dengan memunculkan identitas
kawasan;
4. Tempat rekreasi

2.2.5 Aspek Keselamatan dan Keamanan Pelayaran


Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang
Pelayaran, Keselamatan dan keamanan pelayaran meliputi

35
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

keselamatan dan keamanan angkutan di perairan, pelabuhan, serta


perlindungan lingkungan maritim.
Penyelenggaraan keselamatan dan keamanan pelayaran
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh Pemerintah.
A. Keselamatan dan Keamanan Angkutan Perairan
Keselamatan dan keamanan angkutan perairan yaitu kondisi
terpenuhinya persyaratan:
a. kelaiklautan kapal; dan
b. kenavigasian.
1) Kelaiklautan kapal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf
a wajib dipenuhi setiap kapal sesuai dengan daerah
pelayarannya yang meliputi:
 keselamatan kapal;
 pencegahan pencemaran dari kapal;
 pengawakan kapal;
 garis muat kapal dan pemuatan;
 kesejahteraan Awak Kapal dan kesehatan penumpang;
 status hukum kapal;
 manajemen keselamatan dan pencegahan pencemaran dari
kapal; dan
 manajemen keamanan kapal.
Pemenuhan setiap persyaratan kelaiklautan kapal
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan
sertifikat dan surat kapal.
2) Kenavigasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1)
huruf b terdiri atas:
 Sarana Bantu Navigasi-Pelayaran;
 Telekomunikasi-Pelayaran;
 hidrografi dan meteorologi;
 alur dan perlintasan;

36
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

 pengerukan dan reklamasi;


 pemanduan;
 penanganan kerangka kapal; dan
 salvage dan pekerjaan bawah air.
Untuk menjamin keselamatan dan keamanan angkutan
perairan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 117 ayat (1)
Pemerintah melakukan perencanaan, pengadaan,
pengoperasian, pemeliharaan, dan pengawasan Sarana Bantu
Navigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaran sesuai dengan
ketentuan internasional, serta menetapkan alurpelayaran dan
perairan pandu.
Untuk menjamin keamanan dan keselamatan Sarana
Bantu Navigasi-Pelayaran dan Telekomunikasi-Pelayaran,
Pemerintah menetapkan zona keamanan dan
keselamatan di sekitar instalasi bangunan tersebut.
B. Keselamatan dan Keamanan Pelabuhan
Pembangunan dan pengoperasian pelabuhan dilakukan dengan
tetap memperhatikan keselamatan dan keamanan kapal yang beroperasi
di pelabuhan, bongkar muat barang, dan naik turun penumpang serta
keselamatan dan keamanan pelabuhan.
Keselamatan dan keamanan pelabuhan yaitu kondisi terpenuhinya
manajemen keselamatan dan system pengamanan fasilitas pelabuhan
meliputi:
1) prosedur pengamanan fasilitas pelabuhan;
2) sarana dan prasarana pengamanan pelabuhan;
3) sistem komunikasi; dan
4) personel pengaman.
Setiap pengoperasian kapal dan pelabuhan wajib memenuhi
persyaratan keselamatan dan keamanan serta perlindungan lingkungan
maritim.
C. Perlindungan Lingkungan Maritim

37
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

Perlindungan lingkungan maritim yaitu kondisi terpenuhinya


prosedur dan persyaratan pencegahan dan penanggulangan pencemaran
dari kegiatan:
1) kepelabuhanan;
2) pengoperasian kapal;
3) pengangkutan limbah, bahan berbahaya, dan beracun di perairan;
4) pembuangan limbah di perairan; dan
5) penutuhan kapal.
2.2.6 Aspek Pengembangan Pelayaran
Gagasan dan aspirasi pengembangan pelayaran di Tanjung Leban ini
berdasarkan orientasi destinasi yang ada dipulau Rupat, yang salah satunya
tujuannya merupakan Desa Pergam. Pengembangan Pelayaran dari Tanjung
Leban ini bertujuan untuk mempersingkat alur pelayaran dari pulau
Sumatera menuju ke pulau Rupat. Adapun alurnya seperti berikut :
Sumatera – Rupat – Pergam. Pengembangan Pelayaran di Tanjung Leban ini
juga telah didukung dengan adanya dermaga eksisting, serta dermaga tujuan
di Pergam, Rupat.

2.2.7 Aspek Teknis dan Operasional Pelabuhan


Pelabuhan bila ditinjau dari sub sistem angkutan (transportasi) adalah
salah satu simpul dari mata rantai bagi kelancaran angkutan muatan darat
dan laut. Secara umum pelabuhan adalah suatu daerah perairan yang
terlindung terhadap badai/ombak/arus, sehingga kapal dapat berputar
(turning basin), bersandar/ membuang sauh, sedemikian rupa sehingga
bongkar muat atas barang dan perpindahan penumpang dapat dilaksanakan.
Untuk mendukung fungsi-fungsi tersebut, dibangunlah dermaga, baik
dengan sistem piers (semenanjung dengan kapal bersandar pada kedua
sisinya) ataupun wharf (kapal berlabuh sejajar pelabuhan), jalan, gudang,
fasilitas penerangan, telekomunikasi dan sebagainya, sehingga fungsi antar
moda dari dan ke kapal yang bersandar di pelabuhan menuju tujuan
selanjutnya dapat tercapai. Berikut pendekatan teknis pelabuhan yang dapat
diterapkan melalui:
a. Kajian hidrooceanografi

38
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

b. Kajian alur dan kawasan keselamatan pelayaran (turning basin area)


c. Evaluasi jenis fasilitas pelabuhan yang dibutuhkan sampai dengan
rencana pembangunan tahap akhir (ultimate phase)
d. Analisis prakiraan kebutuhan lahan sampai dengan rencana
pembangunan pelabuhan tahap akhir
e. Evaluasi kondisi fisik dan daya dukung lahan di lokasi rencana
pelabuhan
f. Ketersediaan utilitas.
g. Evaluasi topografis permukaan lahan rencana lokasi pelabuhan.
h. Keterpaduan rencana pengembangan/pembangunan pelabuhan dengan
Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota setempat
i. Kondisi dan ketersediaan lahan
j. Potensi pendangkalan
k. Kendala pelaksanaan konstruksi
l. Ketersediaan akses/jalan masuk
Adapun Aspek Teknis Pelabuhan dari segi arsitektural berupa:
1. Menciptakan kawsan Pelabuhan Penyeberangan (RoRo) yang memiliki
fungsi yang sesuai dengan standar pelabuhan penyeberangan;
2. Mendesain kelengkapan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan pada kawasan
Pelabuhan Penyeberangan (RoRo);
3. Meningkatkan kenyamanan penggunan tidak hanya secara fungsional
namun juga meningkatkan kenyamanan melalui estetika bangunan;
4. menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan
tidak terbangun.
2.2.8 Aspek Organisasi dan SDM Kepelabuhan
Organisasi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas
III,terdiri atas:
a. Subbagian Tata Usaha
b. Seksi Status Hukum dan Sertifikasi Kapal
c. Seksi Keselamatan Berlayar, Penjagaan dan Patroli
d. Seksi Lalu Lintas dan Angkutan Laut, dan Usaha Kepelabuhanan.

39
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

Penyelenggaraan dan pengembangan sumber daya manusia


di bidang pelayaran dilaksanakan dengan tujuan tersedianya
sumber daya manusia yang profesional, kompeten, disiplin, dan
bertanggung jawab serta memenuhi standar nasional dan internasional.
Penyelenggaraan dan pengembangan sumber daya manusia
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup perencanaan, penelitian
dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan, penempatan, pengembangan
pasar kerja, dan perluasan kesempatan berusaha.
Penyelenggaraan dan pengembangan sumber daya manusia
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap aparatur
Pemerintah dan masyarakat.
Sumber daya manusia di bidang pelayaran sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) meliputi:
a. sumber daya manusia di bidang angkutan di perairan;
b. sumber daya manusia di bidang kepelabuhanan;
c. sumber daya manusia di bidang keselamatan dan keamanan
pelayaran; dan
d. sumber daya manusia di bidang perlindungan lingkungan maritim.
Pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 261 ayat (2) diselenggarakan oleh
Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat melalui jalur
pendidikan formal dan nonformal.
Jalur pendidikan formal sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diselenggarakan dalam jenjang pendidikan menengah dan perguruan
tinggi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Jalur pendidikan nonformal merupakan lembaga pelatihan
dalam bentuk balai pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran.
Pendidikan dan pelatihan di bidang pelayaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 261 ayat (2) merupakan tanggung jawab
Pemerintah, pembinaannya dilakukan oleh Menteri dan Menteri yang

40
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

bertanggung jawab di bidang pendidikan nasional sesuai dengan


kewenangannya.
Pemerintah dan pemerintah daera mengarahkan, membimbing,
mengawasi, dan membantu penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan
di bidang pelayaran sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
Masyarakat berkewajiban memberikan dukungan sumber daya
dalam penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan pelayaran.
1) Pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di bidang pelayaran
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26 ayat (2) disusun dalam model
pendidikan dan pelatihan yang ditetapkan oleh Menteri.
2) Model pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
paling sedikit memuat:
a) Jenis dan jenjang pendidikan dan pelatihan;
b) Peserta pendidikan dan pelatihan;
c) Hak dan kewajiban pendidikan dan pelatihan;
d) Kurikulum dan metode pendidikan dan pelatihan;
e) Tenaga pendidik dan pelatih;
f) Prasarana dan sarana pendidikan dan pelatihan;
g) Standardisasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan;
h) Pembiayaan pendidikan dan pelatihan; dan
i) Pengendalian dan pengawasan terhadap pendidikan dan pelatihan.
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan
kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan dan pelatihan di
bidan pelayaran yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
1) Perusahaan angkutan di perairan wajib menyediakan fasilitas praktik
berlayar di kapal untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia
di bidang angkutan perairan.
2) Perusahaan angkutan di perairan, Badan Usaha Pelabuhan, dan instansi
terkait wajib menyediakan fasilitas praktik di pelabuhan atau di lokasi

41
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

kegiatannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di


bidang pelayaran.
3) Perusahaan angkutan di perairan, organisasi, dan badan usaha yang
mendapatkan manfaat atas jasa profesi pelaut wajib memberikan
kontribusi untuk menunjang tersedianya tenaga pelaut yang andal.
4) Kontribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) berupa:
a) Memberikan beasiswa pendidikan;
b) Membangun lembaga pendidikan sesuai dengan standar internasional;
c) Melakukan kerja sama dengan lembaga pendidikan yang ada; dan/atau
d) Mengadakan perangkat simulator, buku pelajaran, dan terbitan
maritim yang mutakhir.

2.3 DASAR HUKUM


1. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 414 tahun 2013 tentang
Penetapan Rencana Induk Pelabuhan Nasional.
2. Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan.
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.
4. UU RI NO. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
5. Peraturan Pemerintah 54 tahun 2014 tentang Pelabuhan RoRo
6. Keputusan Menteri Perhubungan No: KM 52 Tahun 2004 tentang
Penyelenggaraan Pelabuhan Penyeberangan.
7. UU RI NO. 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang.
8. UU RI NO. 23 tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup.
9. UU RI NO. 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.
10. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005
tentang Peraturan Pelaksanaan.
11. Peraturan Menteri PU No. 29/PRT/2006 tentang Pedoman Persyaratan
Teknis Bangunan Gedung.
12. Peraturan Menteri PU No. 30/PRT/2006 tentang Persyaratan Teknis
Fasilitas dan Aksesibilitas pada Bangunan Umum dan Lingkungan.

42
PENYUSUNAN MASTERPLAN PEMBANGUNAN PELABUHAN LAPORAN ANTARA
(RORO) TANJUNG LEBAN

13. Peraturan Menteri PU No. 06/PRT/M/2007 tentang Rencana Tata


Bangunan dan Lingkungan.
14. Undang-undang No 38 Tahun 2004 Tentang Jalan;
15. Undang-undang No 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana;
16. Undang-undang No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan;
17. Peraturan Menteri (PM) No. 20 Tahun 2015 tentang Standar
Keselamatan

2.4 RUANG LINGKUP PERENCANAAN MASTERPLAN


Perencanaa Masterplan Pembangunan Pelabuhan Penyeberangan (RoRo)
Tanjung Leban dibatasi pada pedoman perencanaan pembangunan pelabuhan
penyeberangan sehingga pelaksanaan kegiatan pembangunan dapat dilakukan
secara terstruktur, menyeluruh dan tuntas, mulai dari perencanaan, konstruksi,
operasi dan pemeliharaan, pembiayaan serta partisipasi masyarakat dalam proses
pemeliharaan pelabuhan yang sudah terbangun.
Adapun batasan wilayah studi mencakup wilayah Kabupaten Bengkalis
berdasarkan Draft Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bengkalis,
Kecamatan Bukit Batu, Desa Tanjung Leban. Dengan lingkup tugas yang akan
dilaksanakan dalam proses perencanaan ini adalah :
a. Persiapan
b. Survey Lapangan
c. Penyusunan Master Plan (Rencana Induk)

43

Anda mungkin juga menyukai