0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan12 halaman

Metode Pengendalian Hama di Industri Makanan

Dokumen tersebut membahas mengenai pengendalian hama secara terpadu di industri pangan yang mencakup tindakan pencegahan dan pengendalian hama. Tindakan pencegahan meliputi pemasangan barier, sanitasi, dan modifikasi lingkungan, sedangkan tindakan pengendalian terdiri atas pengendalian fisik, mekanik, biologi, dan kimia. Dokumen ini juga menjelaskan metode-metode pengendalian hama secara rinci.

Diunggah oleh

Meylan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
183 tayangan12 halaman

Metode Pengendalian Hama di Industri Makanan

Dokumen tersebut membahas mengenai pengendalian hama secara terpadu di industri pangan yang mencakup tindakan pencegahan dan pengendalian hama. Tindakan pencegahan meliputi pemasangan barier, sanitasi, dan modifikasi lingkungan, sedangkan tindakan pengendalian terdiri atas pengendalian fisik, mekanik, biologi, dan kimia. Dokumen ini juga menjelaskan metode-metode pengendalian hama secara rinci.

Diunggah oleh

Meylan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

2.2.2.

8 Pengendalian Hama dari Unit Pengolahan


Bagian pengolahan dan penanganan yang berhubungan dengan lingkungan luar harus
dilengkapi alat untuk mencegah burung, serangga, tikus dan binatang lainnya. Jalan atau lubang
tikus dan serangga harus ditutup dengan screen (saringan) logam tahan karat. Pembasmian
serangga dengan pestisida harus mendapat persetujuan pemerintah dan penggunaannya harus
dalam pengawasan. Menurut Susiwi (2009), pemberantasan hama pengerat dilakukan dengan
menggunakan jebakan tikus, agar lebih efisien dan aman.
Berdasarkan hasil kunjungan lapang di perusahaan Sari Roti, bangunan dan bagian-
bagiannya bersih, kuat, terpelihara dan dapat berfungsi dengan baik, ada usaha pencegahan
masuknya serangga dan hama, prosedur dan dosis penggunaan bahan kimia beracun berdasarkan
peraturan, bahan kimia berbahaya disimpan dalam ruang tersendiri, penanganan limbah hasil
pengolahan pangan dilakukan dengan baik, alat / perlengkapan pengendalian serangga dan hama
tersedia dan berfungsi dengan baik. Berdasarkan perbandingan data yang dibandingkan dengan
literatur dapat disimpulkan perusahaan Sari Roti telah menerapkan SSOP dalam pengendalaian
hama dari unit pengolahan.

````

Pabrik Sari Roti mempunyai standar kualifikasi kebersihan diri yang tinggi sebelum turun ke area proses
produksi . Area ini disebut area wajib GMP, yaitu sebelum memasuki area produksi, terlebih dahulu kita
menggunakan baju laboratorium, masker, hairnet,dan covershoes . Setelah itu kita wajib mencuci
tangan dengan sabun antibakteri,dan mengeringkan tangan dengan mesin pengering, kemudian tangan
kita diberi alkohol agar tangan steril dan bebas sari kuman. Setelah tangan bersih dan steril,kita akan
memasuki ruangan air shower,yaitu ruangan pembersihan semua debu pada rambut,debu pada
pakaian,debu pada kulit,dll .Setelah melewati proses sterilisasi yang cukup panjang,baru kita dapat
memasuki area produksi.

````

METODE PENGENDALIAN HAMA (TREATMENT)

Manajemen Pengendalian hama terpadu didefinisikan sebagai : penggunaan


beberapa cara atau metode pengendalian hama (pest control) dengan cara terorganisasi
dan harmonis dengan tujuan untuk mendapatkan pengendalian hama dalam jangka
panjang. Dalam IPM, yang disebut treatment umumnya terdiri atas dua kategori, yaitu
Tindakan Pencegahan dan Tindakan Pengendalian. Tindakan pencegahan termasuk
penggunaan barier (supaya hama tetap di luar), sanitasi dan modifikasi lingkungan.
Sedangkan Tindakan Pengendalian meliputi pengendalian fisik, mekanik, biologi dan
kimia.

a. Pencegahan (Prevention)

Tujuan IPM dalam industri pangan sebaiknya bersifat pencegahan. Hal ini
dilakukan dengan pemasangan konstruksi yang bersifat barier terhadap serangga dan
tikus (untuk membuat hama tetap di luar gedung atau gudang), sanitasi (pembersihan),
dan modifikasi lingkungan (misalnya penghilangan sumber makanan dan sumber air).
Dalam banyak kasus, hama dapat dihilangkan atau dikurangi hanya dengan tindakan
pencegahan tersebut. Metode pencegahan yang diterapkan juga akan membuat metode
lainnya (yaitu pengendalian) akan lebih efektif.

Barier atau Eksklusi : Menghilangkan jalan masuk hama ke dalam bangunan


merupakan salah satu paktek IPM yang paling dasar dan penting. Cara pencegahan ini
disebut metode eksklusi atau metode barier. Contoh-contoh cara eksklusi/barier antara
lain pemasangan kawat saringan pada lubang udara, ventilasi dan saluran air untuk
mencegah serangga dan tikus masuk; penutupan retakan di dinding atau tempat lain.
Dengan mencegah hama masuk ke dalam bangunan, maka kebutuhan treatment kimia
dalam pengendalian hama dapat sangat dikurangi.

Berapa besar lubang yang dibutuhkan serangga dan tikus untuk masuk ke
bangunan ? sebagai gambaran seekor tikus dapat masuk melalui lubang selebar ¼ inci di
bawah pintu atau celah lainnya atau melalui pipa terbuka atau pipa yang bocor. Serangga
dapat masuk ke dalam bangunan pabrik atau gudang melalui celah dimana cahaya dari
luar dapat masuk atau terlihat dari dalam. Misalnya jika dapat melihat cahaya luar
melalui celah pintu dan dilihat dari dalam, maka cukup bagi semut, jangkrik, laba-laba
dan serangga lain untuk memasuki gedung. Semua entri point tersebut harus ditutup dan
diinspeksi secara hati-hati.

Sanitasi : Dalam banyak kasus, pencegahan dengan sanitasi mempunyai keuntungan


rendahnya biaya operasi, dan pengaruh atau bahaya terhadap kesehatan pekerja dan
lingkungan sangat rendah. Tetapi karena bersifat pencegahan, maka pengendalian dengan
sanitasi harus direncanakan dengan baik dan rutin. Metode ini juga harus
memperhitungkan kesesuaiannya dengan kegiatan lain dalam industri, misalnya proses
produksi, pengemasan, bongkar muat di gudang dan lain-lain.

Sanitasi yang baik adalah termasuk dalam manajemen hama, karena dapat
membatasi kebutuhan hama untuk hidup dan berkembang biak. Karena hama hanya
membutuhkan sedikit makanan untuk bertahan hidup, maka standar sanitasi yang harus
diterapkan dalam industri pangan harus tinggi. Praktek-praktek sanitasi dalam
manajemen hama terpadu meliputi :

 Pembersihan secara menyeluruh pada ruang produksi, gudang dan ruang lain
termasuk ruangan atau daerah yang sulit dicapai.

 Manajemen sampai atau limbah yang baik

 Penyimpanan bahan pangan dalam wadah yang tertutup rapat.

 Membenahi atau membuang barang-barang bekas yang tidak terpakai misalnya
membuang karton-karton yang tidak terpakai.

 Pembersihan dan pemeliharaan peralatan pengolahan pangan, lantai dan
ventilasinya.

 Pembetulan bagian-bagian yang bocor dan air yang tergenang.

 Menutup gap atau lubang menuju rongga-rongga di dalam dinding atau ke
tempat-tempat persembunyian hama lainnya.
Modifikasi lingkungan : menyangkut antara lain menghilangkan sumber makanan dan
air, meningkatkan kondisi suhu dan kelembaban.
b. Pengendalian (Controls)

Idealnya tindakan pengendalian hanya dilakukan jika tindakan pencegahan yang


telah dilalukan tidak memecahkan masalah. Dalam prakteknya, sering juga tindakan
pengendalian dilakukan tanpa sempat melakukan tindakan pencegahan. Tindakan
pengendalian hama yang dilakukan dalam industri pangan terdiri atas 4 jenis :

Pengendalian Fisik

Pengendalian mekanis
Pengendalian Biologis
Pengendalian Kimia

Tindakan pengendalian dapat dilakukan secara terpisah atau kombinasinya untuk


menghasilkan tingkat pengendalian yang diinginkan. Dalam memilih tindakan
pengendalian, pilihlah tindakan pengendalian yang :

Lebih sedikit bahayanya bagi kesehatan manusia

Lebih sedikit sifat toksiknya bagi organisma non target


Lebih kecil kerusakan yang timbul bagi lingkungan

Lebih disukai yang menmghasilkan perlindungan permanen


Lebih murah (cost effective)

Pengendalian Fisik

Pengendalian fisik dapat dilakukan dengan pemasangan pembatas (barier),


jebakan lem untuk tikus dan serangga, dan berfbagai jebakan berumpan. Penggunaan
suhu ekstrim untuk membunuh hama juga merupakan pengendalian secara fisik.
Jebakan berumpan : umumnya berisi makanan yang menarik hama untuk terjebak.
Contoh yang paling umum adalah jebakan tikus, dan jebakan lem untuk serangga dan
tikus yang diberi umpan berupa makanan.

Temperatur Ekstrim : serangga dapat menjadi stress dan mulai mengalami kematian
jika suhu dinaikkan sampai di atas 40 oC.

Pengendalian Mekanis

Pengendalian mekanis menggunakan peralatan untuk mengendalikan hama.

Termasuk di dalamnya adalah vakum, jebakan lampu ultra violet dan repeller untrasonik.

Vakum : menggunakan vakum untuk menyedot hama, misalnya untuk semut dan kecoa.

Jebakan Lampu Ultraviolet : jebakan lampu ultraviolet ini berisi satu atau dua lampu
UV yang dikelilingi oleh kawat-kawat yang bermuatan listrik. Serangga apapun yang
terbang ke arah lampu UV akan terkena sengatan listrik dari kawat yang mengelilinginya.
Biasanya digunakan dalam ruangan (indoor) untuk mengendalikan nyamuk dan serangga
lain di kantor, gudang dan lain-lain. Alat ini tidak efektif untuk mengendalikan serangga
di luar gedung. Salah satu kelemahan alat ini adalah serangga yang terkena aliran listrik
akan “meledak” , dan ada kemungkinan ada bagian tubuh serangga yang jatuh di luar alat
ini, sehingga dapat dapat mencemari jika dipasang di atas ruang mengolahan pangan.
Untuk mengatsi masalah ini dikembangkan jebakan ultraviolet dengan sistem lem atau
sticky traps, bukan dengan aliran listrik.

Repellent Ultrasonik : biasanya digunakan untuk mengusir tikus dengan menggunakan


gelombang ultrasonik yang dapat mengganggu pendengaran mereka tetapi tidak
terdengar oleh manusia. Cara ini akan efektif jika dikombinasikan dengan sanitasi,
terutama pembersihan sisa-sisa makanan. Hal ini karena, jika banyak makanan, tikus
akan belejar menyesuaikan diri atau mengabaikan suara ultrasonik tersebut dengan tujuan
untuk mendapatkan makanan yang terdapat di tempat tersebut.
Pengendalian Biologis

Pengendalian biologis menggunakan musuh alami hama untuk mengendalikan


hama. Musauh alami hama dilepas di lingkungan temloat hama berada. Biasanya
dilepaskan berkali-kali sampai tingkat pengendalian yang dikehendaki telah tercapai,
misalnya jika musuh alaminya berupa patogen. Misalnya Bio-Path Cockroach Control
Chamber merupakan sejenis jamur yang dapat menginfeksi kecoa melalui makanannya.
Kecoa yang terinfeksi akan mnyebarkan jamur tersebut ke kecoa lainnya.

Pengendalian Kimia

Pengendalian secara kimia dimaksudkan sebagai penggunaan senyawa beracun


atau pestisida untuk membunuh atau mengusir hama. Keuntungan penggunaan
pengendalian dengan cara kimia antara lain : dapat diterapkan pada sebagian besar hama;
bersifat pembasmian atau kuratif; dan perusahaan dapat menggunakannya kapan dan
ditempat yang diinginkan.

Sedangkan kelemahan dari metode ini antara lain : kemungkinan menimbulkan


hama yang resisten terhadap pestisida; adanya bahaya kesehatan bagi penggunan dan
timbulnya masalah residu pestisida dalam bahan pangan dan lingkungan; dan biayanya
cukup tinggi dan sifat pengontrolannya tidak permanen.

Dalam program IPM, keputusan penggunaan pestisida harus berdasarkan pada


informasi yang diperoleh dari monitoring dan inspeksi, pengetahuan terhadap treshold
ekonomi dan kesehatan serta kesadaran akan keuntungan dan resiko penggunaan cara
kimia tersebut.

Pada saat telah diputuskan untuk menggunakan pestisida, pertanyaan-pertanyaa


yang harus dijawab antara lain :

 Apakah hama yang ingin diberatas tertera dalam label pestisida tersebut ?

 Apakah label menyatakan bahwa pestisida tersebut dapat membunuh atau
mengurangi hama sasaran ?

 Apakah penggunaan pestisida tersebut direkomendasikan oleh badan yang
berwenang, misalnya di indonesia oleh Depkes RI ?

 Apakah frekuensi dan banyaknya penggunaan pestisida tersebut bersifat ekonomis
jika dioperasikan di perusahaan ?

 Bagaimana sifat racun dari pestisida tersebut secara dermal atau oral ?

 Apakah penggunaan pestisida tersebut dibatasi ?

 Apakah pestisida tersebut mempunyai potensi untuk mengkontaminasi lingkungan
sekitarnya meskipun telah digunakan sesuai petunjuk penggunaan ?

 Apakah penggunaan pestisida ini mengakibatkan manusia terekspose terhadap
kesehatan atau keselamatannya
5. EVALUSI

Evaluasi adalah bagian penting dari seriap program IPM. Adanya evaluasi akan
memberikan masukan apada manajer pengendalian hama hal-hal berikut :

Mana program yang jalan dan mana yang tidak.

Mengidentifikasi peningkatan yang mungkin dapat dilakukan


Menilai niaya jangka panjang dari program IPM.

Baik koordinator IPM atau manajer pest control dan staf yang membantunya
harus menyadari bahwa masalah hama dapat berubah. Hama dapat masu ke dalam pabrik
dengan berbagai cara, misalnya dari bahan baku, lingkungan sekitar, pallet, kayu, karton
dan lain-lain. Karena itu program IPM harus dievaluasi secara periodik. Informasi dari
laporan kehadiran hama, inspeksi visual, jebakan dan cara monitor yang lain digunakan
sebagai sumber data untuk evaluasi program IPM.

Hasil evaluasi tersebut harus menunjukkan apakah serangan hama berkurang atau
justru meningkat, pengaruh perubahan lingkungan (banjir, panen, penumpukan sampah)
sekitar pabrik terhadap kemungkinan adanya serangan hama baru, apakah perlu ada
tindakan perbaikan dalam penanganan hama yang perlu dilakukan dan lain-lain.

Untuk dapat mengevaluasi program IPM, manajer IPM memerlukan laporan dan
catatan yang akurat dari treatment yang telah dilakukan dan hasilnya. Data-data yang
diperlukan untuk menilai sukses tidaknya program pengenbdalian hama antara lain :

Hasil diskusi dengan klien (bagian dalam dalam industri pangan selain bagian
pengendalian hama, misalnya bagian gudang, produksi, QC dll).

Catatan monitoring jumlah hama dan lokasinya sebelum treatment.


Spesifikasi treatment yang dilakukan, termasuk tanggal dan waktunya.
Catatan monitoring tingkat hama setelah dilakukan treatments

````

5. Sistem pengendalian hama


 Program pengenegndalian untuk mencegah hama diarahkan
- Sanitasi yang baik
- Pengawasan atas barang/bahan yang masuk
- Penerapan/Praktek higienis yang baik
 Upaya pencegahan masuknya hama :
- Menutup lubang dan saluran yang memungkinkan hama dapat masuk
- Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi
- Mencegah hewan piaraan berkeliaran di lokasi unit usaha

````

[Link] INDOSARI CORPINDO Tbk.

Untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat, Perseroan mengembangkan usahanya
dengan mendirikan pabrik di Pasuruan pada tahun 2005. Besarnya permintaan masyarakat atas produk
Sari Roti membuat Perseroan kembali membangun pabrik ketiga pada tahun 2008 yang juga berlokasi di
Kawasan Industri Jababeka Cikarang. Kemudian disusul dengan pembangunan pabrik di Semarang,
Medan dan Cikarang Barat pada tahun 2011. Pada tahun 2012, Perseroan membangun 2 pabrik baru
yang berlokasi di Palembang dan Makassar. Perseroan secara resmi mencatatkan saham di Bursa Efek
Indonesia dan menjual kepada publik pada tahun 2010.

Pada tahun 2006 Perseroan mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yaitu
sertifikat jaminan keamanan pangan sebagai bukti komitmen Perseroan dalam mengedepankan prinsip
3H (Halal, Healthy, Hygienic) pada setiap produk Sari Roti. Selain itu, seluruh produk Sari Roti telah
terdaftar melalui Badan BPOM Indonesia dan memperoleh sertifikat Halal yang dikeluarkan oleh Majelis
Ulama Indonesia.

PT. Nippon Indosari Corpindo, Tbk Plant Makassar merupakan pabrik kedelapan yang mulai dibangun
pada bulan Juni 2012. Pabrik pertama yang dibangun di wilayah Indonesia Timur & resmi
beroperasi pada tanggal 28 Januari 2013 Pabrik Sari Roti Makassar dibangun diatas lahan seluas 10.327
m2 dengan luas bangunan 3.732,5 m2 Pabrik di Plant Makassar mempunyai 2 Line yakni 1 line roti manis
dan 1 line roti tawar . Area Pemasaran Produk Sari Roti Plant Makassar meliputi wilayah Propinsi :
· Propinsi Sulawesi Selatan terdiri dari 3 Kotamadya & 21 Kabupaten

· Propinsi Sulawesi Barat terdiri dari 6 Kabupaten

· Propinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari 1 Kabupaten

Sebagai produsen roti terbesar di Indonesia Perseroan telah meraih beragam penghargaan, antara lain
Top Brand dan Top Brand for Kids sejak 2009 hingga sekarang, Marketing Award 2010, Original Brand
2010, Investor Award 2012, hingga penghargaan dari Forbes Asia.

Komitmen dan prinsip 3H

· Halal. Tidak menggunakan bahan yang tidak diijinkan dalam agama islam dan memenuhi
persyaratan halal. Hal ini didukung dengan diperolehnya sertifikat halal dari LPPOM MUI.

· Healthy. Roti mengandung protein dan karbohidrat sebagai sumber energi.

· Hygienic. Berpedoman pada standar GMP dan HACCP atau sistem jaminan keamanan pangan yang
pelaksanaannya dimonitor dalam suatu sistem pengawasan dan penjaminan mutu yang.

visi dan misi

[Link] indosari corpindo Tbk memiliki visi dan misi yaitu:

Visi :

• Senantiasa tumbuh dan mempertahankan posisi sebagai perusahaan roti terbesar di Indonesia
melalui penetrasi pasar yang lebih luas dan dalam dengan menggunakan jaringan distribusi yang
luas untuk menjangkau konsumen di seluruh Indonesia.

Misi :

• Memproduksi dan mendistribusikan beragam produk yang halal, berkualitas tinggi, higienis dan
terjangkau bagi seluruh Konsumen Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai