0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan22 halaman

Potensi dan Pemrosesan Minyak Nilam

Bab 2 memberikan tinjauan pustaka tentang minyak nilam, termasuk definisi, produksi, ekspor, standar mutu, dan metode pemisahan minyak nilam seperti destilasi dengan uap dan air serta destilasi uap. Metode pemisahan yang dijelaskan adalah proses penyulingan untuk mengekstrak minyak nilam dari tanaman nilam.

Diunggah oleh

Roy Sianturi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan22 halaman

Potensi dan Pemrosesan Minyak Nilam

Bab 2 memberikan tinjauan pustaka tentang minyak nilam, termasuk definisi, produksi, ekspor, standar mutu, dan metode pemisahan minyak nilam seperti destilasi dengan uap dan air serta destilasi uap. Metode pemisahan yang dijelaskan adalah proses penyulingan untuk mengekstrak minyak nilam dari tanaman nilam.

Diunggah oleh

Roy Sianturi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. MINYAK NILAM

Minyak atsiri yang disebut juga minyak eteris atau minyak terbang banyak

diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi di bidang

minyak atsiri maka usaha penggalian sumber-sumber minyak atsiri dan

pendayagunaannya dalam kehidupan manusia semakin meningkat (Trubus,1989)

Nilam (Pogostemon cablin benth) merupakan jenis tanaman yang dapat

menghasilkan minyak atsiri dan sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia

yaitu sebagai pengharum pakaian (Trubus,1989)

Di pasar perdagangan Internasional, nilam diperdagangkan dalam bentuk

minyak dan dikenal dengan nama patchouli oil. Diantara berbagai jenis minyak

atsiri yang ada di Indonesia minyak nilamlah yang jadi primadona, setiap

tahunnya lebih dari 45% devisa negara yang dihasilkan dari minyak atsiri berasal

dari minyak nilam (Santoso,1990).

Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasaran dunia

dengan kontribusi 70%. Ekspor minyak nilam pada tahun 2004 sebesar 2.074 ton

dengan nilai US $ 27,136 juta (Ditjen Perkebunan,2006). Meskipun demikian

industri minyak nilam memiliki persoalan utama yaitu mutu yang rendah serta

harga yang berfluktuasi. Hal ini disebabkan sebagian besar unit pengolahan

minyak atsiri masih menggunakan teknologi sederhana/tradisional dan umumnya

memiliki kapasitas produksi yang terbatas (Gunawan,2009).


2.2. Standar Mutu

Perkembangan nilam di Indonesia terutama perluasan areal dan produksi

tanaman nilam mengalami peningkatan. Luas areal perkebunan dan produksi

tanaman nilam di Indonesia menunjang kegiatan ekspor, data luas perkebunan dan

produksi tanaman nilam di Indonesia dapat dilihat pada table 2.1 dan tabel 2.2

Tabel 2.1 Luas Areal dan Produksi Tanaman nilam di Indonesia

NO Tahun Luas (Ha) Produksi

(Ton/Tahun)

1 2009 1.587.136 809.583

2 2010 1.650.621 837.918

3 2011 1.732.641 712.231

4 2012 1.732.954 936.266

5 2013 1.736.403 938.843

(Sumber BPS -Indonesia 2015)

Standar mutu minyak nilam belum seragam untuk seluruh dunia, karena

setiap Negara penghasil dan pengimpor menentukan standar mutu minyak nilam

sendiri. Standar mutu minyak nilam mengacu kepada Standar Nasional Indonesia

No. 06-2385-2006.

Tabel 2.3. Parameter syarat mutu minyak nilam sesuai dengan SNI 06-2385-2006

NO Jenis Uji Satuan Persyaratan

1 Warna - Kuning muda-coklat kemerahan

2 Bobot jenis 25oC/25oC - 0,95-0,975

3 Indeks bias (nD20) - 1,507-1,517


4 Kelarutan dalam etanol 90% - Larutan jernih atau opelesensi

pada suhu 20oC+-3oC ringan dalam perbandingan 1:10

5 Bilangan asam - Maks 8

6 Bilangan ester - Maks 20

7 Putaran optic - (-)48oC- (-)65oC

8 Patchouli alkohol (C12H26O) % Min 30

9 Alpha Copaene (C15H24) % Maks 0,5

10 Kandungan besi Fe mg/kg Maks 25

2.3. PEMISAHAN MINYAK NILAM

Pada penyulingan minyak atsiri dari tanaman, uap berfungsi untuk

mentransmisikan panas. Berbeda dengan cairan, bahan tanaman tidak mampu

untuk meneruskan panas ke seluruh bagian tanaman. Energi panas ditransmisikan

melalui air mendidih ke dalam bahan dengan cara perendaman bahan atau dengan

melakukan uap panas di antara bahan tanaman tersebut.

Minyak atsiri dalam tanaman aromatik dikelilingi oleh kelenjar minyak,

pembuluh-pembuluh, kantung minyak atau rambut granular. Apabila bahan

dibiarkan utuh, minyak atsiri hanya dapat diekstraksi apabila uap air berhasil

melalui jaringan tanaman dan mendesaknya ke permukaan. Untuk memudahkan

pemisahan minyak atsiri tersebut maka jaringan tanaman harus dirajang/dipotong

yang bertujuan untuk membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin sehingga

minyak dapat dengan mudah diuapkan. Jika bahan tidak dirajang/dipotong, berarti

minyak dalam tanaman sewaktu distilasi harus dibebaskan dengan kekuatan difusi

air (hidrodifussion).
Penguapan minyak atsiri melalui dinding jaringan tanaman tidak dapat

berjalan secara langsung, minyak tersebut harus terlebih dahulu diangkut ke

permukaan bahan melalui proses hidrodifusi, dengan bantuan air sebagai media

pembawa (carrying medium).(Guenther, Ernest. 1987).

Untuk mengeluarkan minyak dari sel daun dan batang nilam perlu dilakukan

pemecahan atau perusakan sel sebelum maupun selama destilasi. (Sugiarto, ST.

MT, dkk, 2013).

Pemecahan sel dilakukan dengan cara pelayuan/pengeringan, perajangan/

pemotongan, penggilingan, fermentase, delignifikasi dengan NaOH, maupung

dengan cara pembekuan. Preparasi ini bertujuan untuk memudahkan penetrasi uap

ke dalam sel sehingga minyak lebih mudah diangkut dari dalam sel menuju

kondensor.

Penurunan jumlah rendemen tersebut karena ukuran partikelnya sangat

halus sehingga kemungkinan jumlah minyak atsiri yang terdapat pada bahan baku

jahe tersebut telah terjadi banyak kehilangan pada tahap persiapan bahan baku

terutama pada proses penggilingan. Ukuran bahan yang terlalu halus dan terlalu

besar tidak memberikan peningkatan terhadap perolehan rendemen minyak.(

Fitriana Djafar, M, 2010). Beberapa pemisahan minyak nilam yang pernah

dilakukan Yaitu dengan kukus, uap dan air dan uap langsung.

2.3.1. Destilasi Dengan Uap Dan Air

Pada destilasi uap-air, antara air dan minyak atsiri dalam kulit kayu manis

tidak menguap secara bersama-sama. Pada awalnya air akan menguap setelah

proses pemanasan dilakukan, setelah mencapai suatu keseimbangan tekanan


tertentu maka uap air akan masuk ke dalam jaringan dalam bahan dan mendesak

minyak atsiri ke permukaan.(Fuki Tri Yuliarto, dkk, 2012).

Penyulingan menggunakan air (water distillation), air dan uap (kukus), dan

uap (steam distillation) umum digunakan untuk mendapatkan minyak nilam

Proses penyulingan tersebut terdiri dari beberapa mekanisme penting yang dapat

membantu dalam memahami fenomena yang terjadi selama proses. Mekanisme

penyulingan menggunakan air disajikan dalam Gambar dibawah ini.

Difusi Pemisahan

osmosis Kondensasi

Pemanasa Penguapan
n
Gambar 2. Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan air (water

distillation) (Azlina 2005)

Pina Barus, melakukan penyempurnaan peralatan suling sehingga

distribusi uap di dalam ketel lebih sempurna. Penyulingan dilakukan dengan

tekanan bertahap 1 atm, 1,5 atm hingga 2 atm dan lama penyulingan 5 jam

menghasilkan minyak nilam dengan rendemen hingga 3,25 % dengan kandungan

PA 32,68%. (Barus, P. 2008).

Sugono, melakukan penelitian dengan cara menghitung volume uap panas

yang mengalir ke destilator per menit. Menurut beliau, setiap menit 1 kg uap

panas mampu membawa 0,5% minyak. Jika ingin uap air membawa 1% minyak,

maka harus disediakan 2 kg uap panas per menit. Dengan meningkatkan kalori,

uap panas yang dihasilkan boiler pun meningkat sehingga minyak lebih cepat
keluar. Dampaknya adalah durasi penyulingan jauh lebih singkat: cuma 5-6 jam;

penyuling lain 12-14 jam.

Pada 1,5 jam pertama, Sugono mempertahankan suhu 90-100oC dengan

tekanan 0 bar. Tujuannya untuk mengeluarkan senyawa terpen. Baru kemudian ia

meningkatkan suhu penyulingan 120oC dan tekanan 1 bar pada jam berikutnya

hingga penyulingan usai. Dengan cara itu Sugono menghasilkan minyak nilam

berkadar PA tinggi 35-40%.

Menurut Sugono, jika menggunakan bahan bakar kayu, 1 kg kayu bakar-

bertekstur keras-rata-rata 5.000 kkal. Untuk mendidihkan 50 kg air perlu 5.000

kkal dan menghasilkan 1 liter uap panas. Jika ingin meningkatkan volume uap

maka tinggal menambahkan kayu bakar itu.([Link]

[Link]/delapan-inovasi-paling-top-efisiensi-dan-mutu-tinggi/2009)

Amir Hambali, di Kampung Sukan, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten

Berau, Kalimantan Timur melakukan penyulingan minyak nilam dengan

menggunakan alat destilasi hasil desain Sugono. Satu tahun menyuling, Amir

mendapatkan rendemen rata-rata 3-4 % dan kadar PA 42 %. Perlakuan awal,

nilam Pogostemon cablin dijemur selama 1 hari kemudian diangin-anginkan

selama 3-5 hari agar layu dan berkadar 15 %.Saat menyuling pada jam pertama,

suhu dipertahankan 800C dengan tekanan 1 bar. Setelah itu, suhu ditingkatkan

menjadi 100-1200C dan tekanan 1,5 bar selama 7-9 jam. Durasi penyulingan lebih

lama karena menggunakan bahan bakar kayu.(Trubus 507-Februari 2012/XLIII.)

Khoiril Mustofa di Kelurahan Ngawongso, Kecamatan Ceper, Kabupaten

Klaten, Provinsi Jawa Tengah memodifikasi alat penyuling nilam dengan sistem

uap langsung dengan memasang 4 pipa berbahan besi nirkarat berbentuk T di


bagian bawah tangki. Posisinya terendam oleh air yang prinsip kerja pipa itu

seperti pemanas air . Dengan menggunakan alat suling metode ini, Dr.

Muhammad Nurhuda dari Jurusan Fisika Universitas Brawijaya, Malang Jawa

Timur melakukan penyulingan pada suhu 1500C dan tekanan 5 bar . hasilnya

adalah minyak nilam dengan rendemen 3,7 %. Penggunaan pipa T tersebut

berfungsi untuk meningkatkan laju penguapan . (Trubus 507-Februari

2012/XLIII.)

2.3.2. Destilasi Uap

Secara umum minyak memiliki berat jenis lebih kecil dari berat jenis air (=1),

sehingga minyak akan berada di lapisan atas. Pada proses ekstraksi minyak atsiri

dengan menggunakan uap (steam distillation), ada sedikit perbedaan mekanisme

yang terjadi. Variasi mekanisme pada proses penyulingan dengan steam

distillation disajikan pada Gambar 5.

Gambar 5. Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan

uap (steam distillation) (Azlina 2005)

Pertama-tama uap akan berdifusi ke dalam bahan, untuk melepas minyak

yang terdapat dalam bahan akan larut. Campuran minyak yang dibawa uap ini ke
luar menuju permukaan bahan melalui peristiwa osmosis. Setelah mencapai

permukaan, minyak dibawa oleh uap yang melewati bahan. Penambahan jumlah

minyak yang larut dalam air dan proses osmosis sangat tergantung pada jumlah air

yang masuk ke dalam jaringan tanaman tersebut. Air masuk ke dalam jaringan

tanaman melalui proses difusi. Dengan kata lain, peristiwa osmosis dan difusi

terjadi dalam waktu yang bersamaan (simultaneously). Proses-proses ini

berlangsung terus menerus hingga semua komponen volatil minyak keluar dari

jaringan tanaman.

Penyulingan nilam dari bahan yang dijemur dan dikering anginkan selama

penyimpanan 0,1 dan 2 minggu dengan cara penyulingan uap adalah 2,92 %

dengan kadar Patchouli Alkohol 33,48 % dan dengan cara penyulingan uap dan

air adalah 2,41 % dengan kadar Patchouli Alkohol 31,41 %. Penyulingan

dilakukan pada tekanan 1 pada awal penyulingan kemudian dinaikkan secara

bertahap hingga tekanan 2 atm. Terlihat bahwa penyulingan dengan uap disertai

dengan peningkatan tekanan secara bertahap terbukti menghasilkan rendemen

minyak nilam lebih tinggi dan juga kadar Patchouli Alkohol lebih tinggi jika

dibandingkan dengan penyulingan dengan uap dan air. Penyulingan dilakukan 6

jam. Jika bahan tersebut disuling dengan uap pada tekanan konstan 1 atm, maka

rendemen yang dihasilkan adalah 1-2 %.(Yuliani, Sri, 2012)

Hartono, Penyuling nilam di bekasi menghabiskan waktu 7 jam hingga

menghasilkan minyak berkadar Patchouli alkohol 32 % dengan rendemen 1,5%.

(Trubus, April 2012/XLIII)

Pada destilasi uap, untuk menyuling minyak nilam dari 40 kg daun nilam

kering, dibutuhkan uap air sebesar 614,949 kg dengan lama penyulingan 6-8 jam.
Petani nilam di Parongil Kabupaten Dairi menghabiskan 210-280 kg kayu bakar

untuk menyuling 40 kg daun nilam.(Andri, daniel, 2012).

Denys J. Charles, dkk melakukan percobaan perbandingan ekstraksi

minyak esensial dari tumbuhan Ocium basilicur, O. kilimandscharicum, and O.

Micranthum dengan ekstraksi pelarut, destilasi air dan destilasi uap. Dari hasil

percobaan diperoleh kesimpulan bahwa destilasi uap akan menghasilkan

rendemen lebih tinggi jika dibandingkan dengan destilasi air bahkan dari metode

ekstraksi pelarut. (Denys J. Charles, dkk.1990).

2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rendemen dan MutuMinyak Nilam

2.4.1. Perlakuan Pendahuluan Terhadap Nilam

Perlakuan pendahuluan pada bahan sebelum proses penyulingan dapat

meningkatkan rendemen dan memperbaiki mutu minyak. Perlakuan pendahuluan

terhadap nilam sebelum proses penyulingan antara lain pembersihan, pengeringan,

dan pengecilan ukuran. Peningkatan rendemen minyak yang diawali perlakuan

pendahuluan telah dibuktikan Adams et al. (2008) dengan proses pembersihan,

Bacon dalam Jong (1987) dengan proses pengeringan, serta Rusli (1985), Sudibyo

(19890, dan Moestafa et al. (1998) dengan proses pengecilan ukuran.

Pada proses pengeringan, sebagian besar membran sel akan pecah sehingga

cairan sel bebas melakukan penetrasi dari satu sel ke sel yang lain hingga

membentuk senyawa-senyawa yang mudah menguap (Sastrohamidjojo 2004).

Oleh karenanya Ketaren (1985) dan Thorpe (1947) menyebutkan bahwa

pengeringan akan mempercepat proses penyulingan, menaikkan rendemen serta

memperbaiki mutu minyak meskipun kemungkinan sebagian minyak akan hilang

karena penguapan dan oksidasi oleh oksigen udara. Thorpe (1947) menyebutkan
bahwa pengeringan akan mempercepat proses penyulingan, menaikkan rendemen

serta memperbaiki mutu minyak meskipun kemungkinan sebagian minyak akan

hilang karena penguapan dan oksidasi oleh oksigen udara.

2.4.2. Kondisi Penyulingan

Selain metode penyulingan dan perlakuan bahan, kondisi proses penyulingan

juga akan mempengaruhi rendemen minyak. Menurut Ketaren (1985) jumlah

minyak yang menguap ditentukan oleh tekanan uap, berat molekul komponen-

komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak dikeluarkan dari bahan.

1. Ukuran Bahan

Pada proses penyulingan, pengisian bahan harussehomogen mungkin.

Apabila bahan yang dirajang terlalu halus akan membentuk saluran uap

dan, apabila terlalu kasar akan menyebabkan kelonggran antara bahan

dengan tangki, sehingga mengurangi optimalisasi hasil penyulingan

(Guenther, 1947).

2. Kepadatan bahan

Kepadatan bahan di dalam ketel sangat berpengaruh pada

kemudahan uap berpenetrasi kedalam bahan untuk membawa molekul

minyak, sehingga mempengaruhi rendemen dan efisiensi penyulingan

(Risfaheri & Mulyono 2006). Guenther (1990) menyebutkan bahwa

tingkat kepadatan bahan berhubungan erat dengan besar ruangan antar

bahan. Kepadatan bahan yang terlalu tinggi dan tidak merata

menyebabkan terbentuknya jalur uap rat holes yang dapat menurunkan

rendemen dan mutu minyak.


Jarak yang baik saat pengisian bahan baku adalah 75% dari

kapasitas tangki. Jikalebih dari 75%, maka jarak yang ditempuh dan

halangan yang dialami tangki uap semakin besar (Syahbana, 2010).

Penyulingan dengan api maksimal 808oC (Susanti, 2012) akan

meningkatkan rendemen, dimana transfer panas ke air dan bahan baku

akan makin besar, dan meningkatkan laju penguapan(Rusli, 1976). Untuk

memperoleh minyak atsiri berkualitas baik, sebaiknya penyulingan

menggunakan suhu minimum 99oCdengan waktu yang lama 4 jam 5

jam (Gunther, 1948 dan Abdurachman, 2009). Apabila penyulingan

dilakukan dengan suhu maksimum140oC, resident time yang diterapkan

harus lebih cepat dibandingkan dengan suhu [Link] diketahui

bahwa, resident time tinggi (melebihi waktu 3 jam) akan dihasilkan

minyak yang mengandung resin dan bau yang kurang enak (Rusli, 1976).

3. Perlakuan Terhadap Minyak Setelah Penyulingan.

Setelah proses penyulingan selesai, sebaikanya minyak harus

segera dipisahkan dengan air, untuk mencegah terjadinya proses hidrolisa

pada senyawa senyawa ester dan eter. Air yang tersisa dalam minyak

dapat diserap menggunakan Na2SO4 anhidrida (Ketaren, 1985). Minyak

atsiri-pun mempunyai sifat mudah menguap pada suhu kamar 26oC,

sehingga mudah bereaksi dan dapat rusak akibat pengaruh cahaya dan

oksigen (Guenther, 1947).

4. Berikut adalah cara menghitung persentase rendemen minyak atsiri:

Massa Minyak (gr)


Rendemen Minyak (%)= x 100%
Massa Bahan Baku (gr)

(SNI 06-3735-1995).
2.4.3. Bahan Penyulingan

Bahan penyulingan yang digunakan berupa daun nilam kering dan juga

termasuk batangnya dengan komposisi yang lebih sedikit. Untuk bahan yang

berupa rumput-rumputan harus diberikan peroses awal yaitu pemotongan bahan

menjadi ukuran yang lebih kecil-kecil agar bahan dapat masuk kedalam tanki

bahan lebih optimal tanpa membentuk rongga-rongga yang cukup besar sehingga

uap dapat berpenetrasi kedalam bahan lebih lama. Untuk bahan yang dapat

disuling dalam kondisi kering,dilakukan peroses pengeringan dengan menjemur

bahan di bawah sinar matahari dalam waktu yang tidak terlalu lama (sinar

matahari dibawah jam 12 siang ) atau dengan menggunakan alat pengering agar

kadar air terdapat di dalamnya berkuang , sehingga uap akan lebih menyerap

kedalam daun.

2.4.4. Tekanan uap

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penguapan minyak pada proses

penyulingan adalah besarnya tekanan uap yang digunakan (Ketaren 1985).

Menurut Guenther (1990), agar diperoleh minyak yang bermutu tinggi maka

penyulingan hendaknya berlangsung pada tekanan rendah dan dapat juga pada

tekanan tinggi tetapi dalam waktu yang singkat. Proses penyulingan dengan

menggunakan tekanan dan suhu rendah mempunyai keuntungan yaitu minyak

yang dihasilkan tidak mengalami kerusakan akibat panas. Disamping itu

mengurangi penguapan komponen bertitik didih tinggi dan larut di air.

Penyulingan dengan tekanan tinggi tidak selalu memghasilkan rendemen dan


mutu yang lebih baik. Penggunaan tekanan uap yang terlalu tinggi dapat

menyebabkan kerusakan komponen komponen penyusun minyak.

Lestari (1993) membuktikan bahwa pada penyulingan sereh wangi dengan

tekanan 228.53 kPa memberikan rendemen 3.51% basis kering dan tingkat mutu

bagus. Sedangkan penggunaan tekanan 297.2 kPa dihasilkan rendemen 2.52%

dengan tingkat mutu biasa. Penyulingan minyak nilam dengan menggunakan uap

langsung selama 4 jam menghasilkan rendemen sebesar 3.21%, 3.11%, 3.44%,

dan 3.27% berat kering masing-masing untuk tekanan penyulingan 158.86,

173.57, 190.24, dan 206.96 kPa (Dahlan 1989). Kondisi penyulingan minyak akar

wangi menggunakan tekanan 1.2 kg/cm2 menghasilkan rendemen 2.3% (Rusli &

Anggraeni 1999)

2.4.5. Laju Penyulingan

Laju penyulingan menyatakan jumlah air suling yang dihasilkan per satuan

waktu. Pengaturan laju penyulingan disesuaikan dengan diameter ketel dan

volume antar ruang bahan (Guenther 1990). Laju penyulingan yang rendah

menyebabkan uap terhenti pada bahan yang padat, sehingga proses ekstraksi

minyak tidak berjalan sempurna. Sebaliknya, jika laju penyulingan terlalu cepat

maka uap dalam ketel akan keluar melalui bahan dengan membentuk jalur uap

serta mengangkut bahan partikel ke dalam kondensor, sehingga menghambat

aliran uap di dalam kondensor (Risfaheri & Mulyono 2006).

2.4.6. Lama Penyulingan

Lama penyulingan mempengaruhi kontak air atau uap air dengan bahan.

Pada penyulingan yang lebih lama, jumlah minyak yang terbawa oleh uap

semakin banyak sehingga rendemen minyak yang diperoleh lebih banyak. Lama
penyulingan juga berpengaruh terhadap penguapan fraksi yang bertitik didih

tinggi. Semakin lama penyulingan, penguapan fraksi yang bertitik didih tinggi

akan semakin besar (Guenther 1990).

Hasil penelitian penyulingan pada beberapa minyak atsiri menunjukkan

lama waktu penyulingan menghasilkan minyak yang semakin banyak.

Penyulingan nilam selama 6 jam menghasilkan rendemen 2.59% dibandingkan

penyulingan selama 4 dan 5 jam yaitu 2.28% dan 2.52% (Setiadji & Tamtarini

2006). Biji jintan yang disuling selama 3, 5, dan 7 jam menghasilkan rendemen

1.90%, 2.10%, dan 2.23% (Sudibyo 1989). Begitu pula halnya pada penyulingan

minyak jeruk purut (Moestafa, et al. 1998). Penyulingan jeruk purut selama 8 jam

menghasilkan rendemen 4.58%, nilai ini lebih tinggi dari rendemen minyak yang

disuling selama 6 jam yaitu 3.58%. Rusli & Anggraeni (1999) juga memperoleh

rendemen minyak akar wangi lebih tinggi pada penyulingan yang lebih lama yaitu

2.07% selama 12 jam dibandingkan dengan penyulingan 8 jam yang hanya 1.78%.

Namun perpanjangan waktu penyulingan berdampak pada besarnya biaya bahan

bakar yang digunakan (Feryanto 2007).

2.4.7. Proses penyulingan

Keluarnya minyak dari bahan baku adalah suatu proses penguapan. Laju

penguapan pada mulanya besar dan semakin lama semakin mengecil karena

minyak makin sulit menerobos permukaan bahan dan persediaan minyak dalam

bahan semakin lama makin sedikit. Laju aliran keluarnya minyak ini diasumsikan

mengikuti model persamaan differensial ordo pertama (Heldman dan

Singh,1981):


= - kC .............................................................. (1)

Dengan mengintegrasikan persamaan (1) di atas dan dengan memasukkan

kondisi batas untuk t= 0, C = Co, maka :

C = Co exp (-kt) ..................................................................(2)

Co adalah kandungan minyak awal (kg) di dalam bahan baku dan t adalah

lamanya penyulingan (jam). Besarnya Co adalah besarnya kandungan minyak

dalam bahan (%) dikalikan dengan massa bahan (kg), sedangkan laju penyulingan

(k) sangat tergantung pada besarnya tekanan kerja atau P (Pascal). Dahlan (1989),

telah membuat persamaan empiris laju penyulingan minyak nilam sebagai fungsi

dari tekanan kerja yang dirumuskan sebagai berikut :

K = -0,326 + 0,00446 P ........................................................(3)

[Link]. Sumber Kalor

Untuk melakukan penyulingan dengan metode uap langsung diperlukan

sumber kalor untuk meningkatkan tekanan pada boiler. Pada pengujian alat

destilasi penyuling minyak nilam ini digunakan bahan bakar Gas LPG untuk

mengubah uap air dalam ketel menjadi uap dengan jumlah yang telah

diperkirakan sebelumnya dalam peroses desain alat

Sumber panas pada proses penyulingan yang dihasilkan pada Tungku

sebagai dasar menentukan besarnya bahan bakar yang dibutuhkan pada setiap

proses penyulingan adalah :

Mbb= Qtotal/Lbb .....................(10)

Dimana mbb adalah massa bahan bakar (kg) dan Lbb adalah panas laten dari

bahan bakar (kJ/kg).


Energi yang dibutuhkan oleh distilator untuk mengubah air menjadi uap

merupakan jumlah dari energi untuk memanaskan air dan energi untuk penguapan

dengan rumus:

Energi untuk pemanasan :

Qp = mw Cp (Ts Tw) ............................................................(4)

Energi untuk penguapan :

Qu = mw .L .....(5)

Total energi yang dibutuhkan untuk menguapkan air, adalah :

Qtotal = Qp + Qu .........................(6)

2.4.8. Proses Pendidihan Air

Dalam peroses pendidihan air dalam ketel berlangsung krang lebih 50

sampai 60 menit dengan api kompor besar yang stabil. Tekanan dalam ketel yang

digunakan pada peroses ini adalah 0 gauge. Sehingga air dalam ketel diharapkan

akan mendidih pada suhu 100 oC.

Massa uap yang terbentuk pada proses penyulingan adalah :

ms = Eff. Qtotal/(h2 h1) ......................(7)

dimana (h2 h1) adalah perubahan entalpi (kJ/kg)

Dimana:

Qp = Energi untuk pemanasan, kJ (kilo Joule)

Qu = Energi untuk penguapan, kJ (kilo Joule)

Eff. = Effisiensi

ms = massa uap, kg

h = entalpi, kJ/kg
2.4.9. Proses Kondensasi

Peroses kondensasi terjadi setelah penyulingan berlangsung kurang lebih

satu jam. Indikasi jika ingin terjadi peroses kondensasi yaitu apabila sudah terjadi

perpindahan kalor dari tube kondensor ke air pendingi dengan terlihatnya

kenaikan pada display alat pengukur suhu digital yang disambungkan dengan

thermokopel yang ditempatkan dalam air pendingin pada bagian atas kondensor.

Apabila terjadi kenaikan suhu air pendingin yang cukup tinggi, maka aliran air

pendingin masuk dan keluar dari kondensor harus di atur kembali sampai suhu air

pendingin turun dan stabil pada suhu tertentu.

Keseimbangan panas yang terjadi dalam kondensor diasumsikan mengikuti

Hukum Thermodinamika I, yaitu energi yang masuk ke dalam sistem akan sama

besarnya dengan energi yang keluar dari sistem tersebut (Welty, 1974; Burghart,

1982; Sitompul, 1992). Perubahan suhu uap dan air pendingin dapat dirumuskan :

dTuap h 4
= - c (TIn ) ........................................(8)
dx p Vx [Link]

sedangkan untuk air pendingin dirumuskan sebagai berikut :

dTair h 4
= (T Tlingk ) ..........................(9)
dx cp Vx Dair [Link]

Dimana :

q = energi dalam kondensor, kJ (kilo Joule)

= massa jenis uap, kg/m3

cp = panas jenis uap, kJ/kg.0C

T = suhu uap, oC
N = jumlah pipa dalam kondensor

v = laju aliran uap dalam kondensor, m/detik

D = diameter, m

t = suhu air pendingin, oC

2.4.10. Proses Penampungan Kondensat

Setelah terjadi peroses kondensasi dengan menetesnya air komndensat

kedalam alat penampung, maka kondensat tersebut semakin lama memenuhi alat

penampung dan terlihat pemisahan antara minyak dan air karna adanya perbedaan

massa jenis. Minyak dengan massa jenis yang lebih kecil daripada air akan berada

diatas dan komponen-komponen lain yang ikut tersuling dengan massa jenis yang

lebih besar dari air dan minyak akan turun di dasar penampung. Untuk

penyulingan daun nilam kering terlihat pada hasil kondensat diatas air. Pada

kondisi normal, semakin lama terlihat berwarna kuning kecoklatan dan

menimbulkan aroma yang khas. Metode penampungan terdapat beberapa macam.

Di antaranya yaitu dengan alat penampung yang pada bagian atasnya yaitu

memiliki saluran untuk mengalirkan minyak yang sudah terkumpul diatas air

langsung ketempat penampungan yang berbeds apabila tinggi kondensat telah

mencapai sisi keluar saluran tersebut. Metode yang lain yaitu dengan membiarkan

minyak berkumpul diatas air dalam alat penampung sampai peroses penyulingan

selesai. Kemudian minyak yang berada diatas air akan diambil dengan

menggunakan pipet. Tinggi level kondensat dijaga konstan dengan menggunakan

saluran drain yang keluar dari bagian bawah alat penampung.


4.3 Proses Pengambilan Data Pengujian

Untuk mengetahui kerja kndisi dari alat penyuling minyak nilam, maka

dilakukan pengujian-pengujian untuk mengambil data-data operasi yang akan

memberikan gambaran mengenai kinerja dari alat tersebut. Parameter-parameter

yang diambil dari pengujian tersebut yaitu :

a) Air Penyuling Awal Dan Akhir

Pada awal peroses penyulingan, air penyuling dalam ketel di ukur

ketinggiannya dari dasar ketel dan begitu juga setelah peruses penyulingan

selesai. Ketinggian air penyulingan yang diukur dikonversi menjadi besaran

volume dalam satuan liter.

b) Waktu Penyulingan

Waktu penyulingan didapatkan dengan mencatat jam pada saat peruses

penyulingan dimulai dan juga pada peroses penyulingan selesai.

c) Berat Bahan

Sebelum melakukan penyulingan terlebih dahulu bahan yang akan disuling

ditimbang terlebih dahulu agar mengetahui jumlah bahan yang dimasukkan

kedalam tanki.

d) Jumlah Bahan Bakar

Jumlah bahan bakar diketahui dengan mengukur berapa tabung gas LPG yang

digunakan selama proses penyulingan

e) Suhu Lingkungan

Suhu lingkungan di sekitar alat penyuiling


f) Suhu Air Penyuling

Suhu air penyuling diukur dalam ketel sebelum dilakukan peroses

pemanasan.

g) Laju Aliran Air Pendingin

Laju aliran pendingin di ukur dengan menghitung jumlah volume air dalam

liter yang keluar darai tanki kondenser dan ditampung dalam wadah takaran

per satuan waktu. Sehingga akan didapat kan laju aliran aliran pendingin

dalam liter/jam.

h) Suhu Air Pendingin Masuk Kondensor

i) Suhu air pendingin masuk kondensor di ukur pada saluran pipa sebelum

masuk kondensor dengan menggunakan thermo kopel/Suhu Air Pada Bagian

atas Kondensor Parameter ini didapatkan dengan memasukkan ujung

thermokopel pada bagian atas air pendingin dalam tnki kondensor.

j) Suhu Air Pendingin Keluar Kondensor

Suhu air pendingin keluar kondensor di ukur setelah pipa keluar air pendingin

pada bagian bawah kondensor.

k) Suhu Air Kondensat

Suhu air kondensat di ukur pada bagian atas alat penampung setelah peruses

kondensi berjalan stabil/konstan.

l) Laju Air Kondensat

Laju air kondensat di ukur pada saat uap air dan minyak mulai terkondensasi

dengan mencatat kenaikan kondensat pada alat penampung sampai batas

bertemu dan mencatat lamanya waktu yang diperlukan dalam peroses

tersebut. Ketika kondensat yang dihasilkan tidak mengalami kenaikan lagai


dalam alat penampung/sudah mencapai level konstan, maka laju air

kondensat di ukur pada saat kondisi tersebut tercapai sampai selesai peroses

penyulingan dengan menghitung banyaknya air kandensat dalam ember yang

keluar daei alat penampung selama peroses tersebut berlangsung.

m) Jumlah Minyak Yang Di Hasilkan Minyak diambil dari alat penampung

dengan menggunakan pipet sambil mengukur volumenya dan kemudian di

masukkan dalam waqdah sampel.

n) Jumlah Rendemen

Rendemen yang didapat berdasarkan jumlah minyak yang di hasilkan darai

peroses penyulingan dibagi dengan banyaknya bahan yang disuling dalam

satuan liter/g atau ml/g dan dinyatakan dalam persen (%).

2.4.11. Dimensi peralatan

Untuk menentukan dimensi peralatan penyulingan pada setiap kapasitas

penyulingan dilakukan melalui optimasi biaya sebagai fungsi dari dimensi

peralatan tersebut. Optimasi biaya dilakukan terhadap masing-masing sub-sistem

dengan menggunakan metode pengali Lagrange dan penyelesaian persamaan

linier non simultan Newton-Raphson serta Runge-Kutta.

1. Distilator

Penyelesaian biaya untuk distilator dilakukan dengan menggunakan pengali

Lagrange (Soemartojo, 1987; Kamaruddin, et al. 1990) yaitu :

F(D,L, ) = f(D,L) + g(D,L) .........(11)

Kondisi di atas dapat dipenuhi dengan persyaratan :

F(D,L, F(D,L, F(D,L,


= 0, = 0, =0 .............................(12)
D L
Persamaan (12), selanjutnya diselesaikan dengan metode Newton-

Raphson untuk persamaan simultan non linier (Sediawan dan Prasetyo,

1997).

2. Kondensor

Panjang kondensor (L) ditentukan dengan metode Runge-Kutta untuk

penyelesaian persamaan differensial orde 1, yaitu :

dy
= f(x, y) .......................................... (13)
dx

dengan batas x = xo; y = yo.

2.5.8. Analisa Ekonomi

Dalam analisis ekonomi tersebut digunakan persamaan-persamaan baku

untuk menentukan Biaya Tetap, Biaya Tidak Tetap, Biaya Produksi yang

didasarkan pada pola permintaan sampai pada keuntungan yang diperoleh pada

berbagai skala usaha (Pramudya dan Dewi, 1991).

Rangkaian metode di atas selanjutnya diselesaikan melalui pemrograman

komputer berbasis numerik dan dikemas dengan paket multimedia. Paket ini

memungkinkan pengguna dengan mudah bisa berinteraksi di dalamnya sehingga

beberapa informasi yang dibutuhkan untuk perencanaan awal sebuah usaha

penyulingan bisa diperoleh.

Anda mungkin juga menyukai