BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. MINYAK NILAM
Minyak atsiri yang disebut juga minyak eteris atau minyak terbang banyak
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kemajuan teknologi di bidang
minyak atsiri maka usaha penggalian sumber-sumber minyak atsiri dan
pendayagunaannya dalam kehidupan manusia semakin meningkat (Trubus,1989)
Nilam (Pogostemon cablin benth) merupakan jenis tanaman yang dapat
menghasilkan minyak atsiri dan sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia
yaitu sebagai pengharum pakaian (Trubus,1989)
Di pasar perdagangan Internasional, nilam diperdagangkan dalam bentuk
minyak dan dikenal dengan nama patchouli oil. Diantara berbagai jenis minyak
atsiri yang ada di Indonesia minyak nilamlah yang jadi primadona, setiap
tahunnya lebih dari 45% devisa negara yang dihasilkan dari minyak atsiri berasal
dari minyak nilam (Santoso,1990).
Indonesia merupakan pemasok minyak nilam terbesar di pasaran dunia
dengan kontribusi 70%. Ekspor minyak nilam pada tahun 2004 sebesar 2.074 ton
dengan nilai US $ 27,136 juta (Ditjen Perkebunan,2006). Meskipun demikian
industri minyak nilam memiliki persoalan utama yaitu mutu yang rendah serta
harga yang berfluktuasi. Hal ini disebabkan sebagian besar unit pengolahan
minyak atsiri masih menggunakan teknologi sederhana/tradisional dan umumnya
memiliki kapasitas produksi yang terbatas (Gunawan,2009).
2.2. Standar Mutu
Perkembangan nilam di Indonesia terutama perluasan areal dan produksi
tanaman nilam mengalami peningkatan. Luas areal perkebunan dan produksi
tanaman nilam di Indonesia menunjang kegiatan ekspor, data luas perkebunan dan
produksi tanaman nilam di Indonesia dapat dilihat pada table 2.1 dan tabel 2.2
Tabel 2.1 Luas Areal dan Produksi Tanaman nilam di Indonesia
NO Tahun Luas (Ha) Produksi
(Ton/Tahun)
1 2009 1.587.136 809.583
2 2010 1.650.621 837.918
3 2011 1.732.641 712.231
4 2012 1.732.954 936.266
5 2013 1.736.403 938.843
(Sumber BPS -Indonesia 2015)
Standar mutu minyak nilam belum seragam untuk seluruh dunia, karena
setiap Negara penghasil dan pengimpor menentukan standar mutu minyak nilam
sendiri. Standar mutu minyak nilam mengacu kepada Standar Nasional Indonesia
No. 06-2385-2006.
Tabel 2.3. Parameter syarat mutu minyak nilam sesuai dengan SNI 06-2385-2006
NO Jenis Uji Satuan Persyaratan
1 Warna - Kuning muda-coklat kemerahan
2 Bobot jenis 25oC/25oC - 0,95-0,975
3 Indeks bias (nD20) - 1,507-1,517
4 Kelarutan dalam etanol 90% - Larutan jernih atau opelesensi
pada suhu 20oC+-3oC ringan dalam perbandingan 1:10
5 Bilangan asam - Maks 8
6 Bilangan ester - Maks 20
7 Putaran optic - (-)48oC- (-)65oC
8 Patchouli alkohol (C12H26O) % Min 30
9 Alpha Copaene (C15H24) % Maks 0,5
10 Kandungan besi Fe mg/kg Maks 25
2.3. PEMISAHAN MINYAK NILAM
Pada penyulingan minyak atsiri dari tanaman, uap berfungsi untuk
mentransmisikan panas. Berbeda dengan cairan, bahan tanaman tidak mampu
untuk meneruskan panas ke seluruh bagian tanaman. Energi panas ditransmisikan
melalui air mendidih ke dalam bahan dengan cara perendaman bahan atau dengan
melakukan uap panas di antara bahan tanaman tersebut.
Minyak atsiri dalam tanaman aromatik dikelilingi oleh kelenjar minyak,
pembuluh-pembuluh, kantung minyak atau rambut granular. Apabila bahan
dibiarkan utuh, minyak atsiri hanya dapat diekstraksi apabila uap air berhasil
melalui jaringan tanaman dan mendesaknya ke permukaan. Untuk memudahkan
pemisahan minyak atsiri tersebut maka jaringan tanaman harus dirajang/dipotong
yang bertujuan untuk membuka kelenjar minyak sebanyak mungkin sehingga
minyak dapat dengan mudah diuapkan. Jika bahan tidak dirajang/dipotong, berarti
minyak dalam tanaman sewaktu distilasi harus dibebaskan dengan kekuatan difusi
air (hidrodifussion).
Penguapan minyak atsiri melalui dinding jaringan tanaman tidak dapat
berjalan secara langsung, minyak tersebut harus terlebih dahulu diangkut ke
permukaan bahan melalui proses hidrodifusi, dengan bantuan air sebagai media
pembawa (carrying medium).(Guenther, Ernest. 1987).
Untuk mengeluarkan minyak dari sel daun dan batang nilam perlu dilakukan
pemecahan atau perusakan sel sebelum maupun selama destilasi. (Sugiarto, ST.
MT, dkk, 2013).
Pemecahan sel dilakukan dengan cara pelayuan/pengeringan, perajangan/
pemotongan, penggilingan, fermentase, delignifikasi dengan NaOH, maupung
dengan cara pembekuan. Preparasi ini bertujuan untuk memudahkan penetrasi uap
ke dalam sel sehingga minyak lebih mudah diangkut dari dalam sel menuju
kondensor.
Penurunan jumlah rendemen tersebut karena ukuran partikelnya sangat
halus sehingga kemungkinan jumlah minyak atsiri yang terdapat pada bahan baku
jahe tersebut telah terjadi banyak kehilangan pada tahap persiapan bahan baku
terutama pada proses penggilingan. Ukuran bahan yang terlalu halus dan terlalu
besar tidak memberikan peningkatan terhadap perolehan rendemen minyak.(
Fitriana Djafar, M, 2010). Beberapa pemisahan minyak nilam yang pernah
dilakukan Yaitu dengan kukus, uap dan air dan uap langsung.
2.3.1. Destilasi Dengan Uap Dan Air
Pada destilasi uap-air, antara air dan minyak atsiri dalam kulit kayu manis
tidak menguap secara bersama-sama. Pada awalnya air akan menguap setelah
proses pemanasan dilakukan, setelah mencapai suatu keseimbangan tekanan
tertentu maka uap air akan masuk ke dalam jaringan dalam bahan dan mendesak
minyak atsiri ke permukaan.(Fuki Tri Yuliarto, dkk, 2012).
Penyulingan menggunakan air (water distillation), air dan uap (kukus), dan
uap (steam distillation) umum digunakan untuk mendapatkan minyak nilam
Proses penyulingan tersebut terdiri dari beberapa mekanisme penting yang dapat
membantu dalam memahami fenomena yang terjadi selama proses. Mekanisme
penyulingan menggunakan air disajikan dalam Gambar dibawah ini.
Difusi Pemisahan
osmosis Kondensasi
Pemanasa Penguapan
n
Gambar 2. Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan air (water
distillation) (Azlina 2005)
Pina Barus, melakukan penyempurnaan peralatan suling sehingga
distribusi uap di dalam ketel lebih sempurna. Penyulingan dilakukan dengan
tekanan bertahap 1 atm, 1,5 atm hingga 2 atm dan lama penyulingan 5 jam
menghasilkan minyak nilam dengan rendemen hingga 3,25 % dengan kandungan
PA 32,68%. (Barus, P. 2008).
Sugono, melakukan penelitian dengan cara menghitung volume uap panas
yang mengalir ke destilator per menit. Menurut beliau, setiap menit 1 kg uap
panas mampu membawa 0,5% minyak. Jika ingin uap air membawa 1% minyak,
maka harus disediakan 2 kg uap panas per menit. Dengan meningkatkan kalori,
uap panas yang dihasilkan boiler pun meningkat sehingga minyak lebih cepat
keluar. Dampaknya adalah durasi penyulingan jauh lebih singkat: cuma 5-6 jam;
penyuling lain 12-14 jam.
Pada 1,5 jam pertama, Sugono mempertahankan suhu 90-100oC dengan
tekanan 0 bar. Tujuannya untuk mengeluarkan senyawa terpen. Baru kemudian ia
meningkatkan suhu penyulingan 120oC dan tekanan 1 bar pada jam berikutnya
hingga penyulingan usai. Dengan cara itu Sugono menghasilkan minyak nilam
berkadar PA tinggi 35-40%.
Menurut Sugono, jika menggunakan bahan bakar kayu, 1 kg kayu bakar-
bertekstur keras-rata-rata 5.000 kkal. Untuk mendidihkan 50 kg air perlu 5.000
kkal dan menghasilkan 1 liter uap panas. Jika ingin meningkatkan volume uap
maka tinggal menambahkan kayu bakar itu.([Link]
[Link]/delapan-inovasi-paling-top-efisiensi-dan-mutu-tinggi/2009)
Amir Hambali, di Kampung Sukan, Kecamatan Sambaliung, Kabupaten
Berau, Kalimantan Timur melakukan penyulingan minyak nilam dengan
menggunakan alat destilasi hasil desain Sugono. Satu tahun menyuling, Amir
mendapatkan rendemen rata-rata 3-4 % dan kadar PA 42 %. Perlakuan awal,
nilam Pogostemon cablin dijemur selama 1 hari kemudian diangin-anginkan
selama 3-5 hari agar layu dan berkadar 15 %.Saat menyuling pada jam pertama,
suhu dipertahankan 800C dengan tekanan 1 bar. Setelah itu, suhu ditingkatkan
menjadi 100-1200C dan tekanan 1,5 bar selama 7-9 jam. Durasi penyulingan lebih
lama karena menggunakan bahan bakar kayu.(Trubus 507-Februari 2012/XLIII.)
Khoiril Mustofa di Kelurahan Ngawongso, Kecamatan Ceper, Kabupaten
Klaten, Provinsi Jawa Tengah memodifikasi alat penyuling nilam dengan sistem
uap langsung dengan memasang 4 pipa berbahan besi nirkarat berbentuk T di
bagian bawah tangki. Posisinya terendam oleh air yang prinsip kerja pipa itu
seperti pemanas air . Dengan menggunakan alat suling metode ini, Dr.
Muhammad Nurhuda dari Jurusan Fisika Universitas Brawijaya, Malang Jawa
Timur melakukan penyulingan pada suhu 1500C dan tekanan 5 bar . hasilnya
adalah minyak nilam dengan rendemen 3,7 %. Penggunaan pipa T tersebut
berfungsi untuk meningkatkan laju penguapan . (Trubus 507-Februari
2012/XLIII.)
2.3.2. Destilasi Uap
Secara umum minyak memiliki berat jenis lebih kecil dari berat jenis air (=1),
sehingga minyak akan berada di lapisan atas. Pada proses ekstraksi minyak atsiri
dengan menggunakan uap (steam distillation), ada sedikit perbedaan mekanisme
yang terjadi. Variasi mekanisme pada proses penyulingan dengan steam
distillation disajikan pada Gambar 5.
Gambar 5. Mekanisme proses penyulingan minyak atsiri dengan
uap (steam distillation) (Azlina 2005)
Pertama-tama uap akan berdifusi ke dalam bahan, untuk melepas minyak
yang terdapat dalam bahan akan larut. Campuran minyak yang dibawa uap ini ke
luar menuju permukaan bahan melalui peristiwa osmosis. Setelah mencapai
permukaan, minyak dibawa oleh uap yang melewati bahan. Penambahan jumlah
minyak yang larut dalam air dan proses osmosis sangat tergantung pada jumlah air
yang masuk ke dalam jaringan tanaman tersebut. Air masuk ke dalam jaringan
tanaman melalui proses difusi. Dengan kata lain, peristiwa osmosis dan difusi
terjadi dalam waktu yang bersamaan (simultaneously). Proses-proses ini
berlangsung terus menerus hingga semua komponen volatil minyak keluar dari
jaringan tanaman.
Penyulingan nilam dari bahan yang dijemur dan dikering anginkan selama
penyimpanan 0,1 dan 2 minggu dengan cara penyulingan uap adalah 2,92 %
dengan kadar Patchouli Alkohol 33,48 % dan dengan cara penyulingan uap dan
air adalah 2,41 % dengan kadar Patchouli Alkohol 31,41 %. Penyulingan
dilakukan pada tekanan 1 pada awal penyulingan kemudian dinaikkan secara
bertahap hingga tekanan 2 atm. Terlihat bahwa penyulingan dengan uap disertai
dengan peningkatan tekanan secara bertahap terbukti menghasilkan rendemen
minyak nilam lebih tinggi dan juga kadar Patchouli Alkohol lebih tinggi jika
dibandingkan dengan penyulingan dengan uap dan air. Penyulingan dilakukan 6
jam. Jika bahan tersebut disuling dengan uap pada tekanan konstan 1 atm, maka
rendemen yang dihasilkan adalah 1-2 %.(Yuliani, Sri, 2012)
Hartono, Penyuling nilam di bekasi menghabiskan waktu 7 jam hingga
menghasilkan minyak berkadar Patchouli alkohol 32 % dengan rendemen 1,5%.
(Trubus, April 2012/XLIII)
Pada destilasi uap, untuk menyuling minyak nilam dari 40 kg daun nilam
kering, dibutuhkan uap air sebesar 614,949 kg dengan lama penyulingan 6-8 jam.
Petani nilam di Parongil Kabupaten Dairi menghabiskan 210-280 kg kayu bakar
untuk menyuling 40 kg daun nilam.(Andri, daniel, 2012).
Denys J. Charles, dkk melakukan percobaan perbandingan ekstraksi
minyak esensial dari tumbuhan Ocium basilicur, O. kilimandscharicum, and O.
Micranthum dengan ekstraksi pelarut, destilasi air dan destilasi uap. Dari hasil
percobaan diperoleh kesimpulan bahwa destilasi uap akan menghasilkan
rendemen lebih tinggi jika dibandingkan dengan destilasi air bahkan dari metode
ekstraksi pelarut. (Denys J. Charles, dkk.1990).
2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rendemen dan MutuMinyak Nilam
2.4.1. Perlakuan Pendahuluan Terhadap Nilam
Perlakuan pendahuluan pada bahan sebelum proses penyulingan dapat
meningkatkan rendemen dan memperbaiki mutu minyak. Perlakuan pendahuluan
terhadap nilam sebelum proses penyulingan antara lain pembersihan, pengeringan,
dan pengecilan ukuran. Peningkatan rendemen minyak yang diawali perlakuan
pendahuluan telah dibuktikan Adams et al. (2008) dengan proses pembersihan,
Bacon dalam Jong (1987) dengan proses pengeringan, serta Rusli (1985), Sudibyo
(19890, dan Moestafa et al. (1998) dengan proses pengecilan ukuran.
Pada proses pengeringan, sebagian besar membran sel akan pecah sehingga
cairan sel bebas melakukan penetrasi dari satu sel ke sel yang lain hingga
membentuk senyawa-senyawa yang mudah menguap (Sastrohamidjojo 2004).
Oleh karenanya Ketaren (1985) dan Thorpe (1947) menyebutkan bahwa
pengeringan akan mempercepat proses penyulingan, menaikkan rendemen serta
memperbaiki mutu minyak meskipun kemungkinan sebagian minyak akan hilang
karena penguapan dan oksidasi oleh oksigen udara. Thorpe (1947) menyebutkan
bahwa pengeringan akan mempercepat proses penyulingan, menaikkan rendemen
serta memperbaiki mutu minyak meskipun kemungkinan sebagian minyak akan
hilang karena penguapan dan oksidasi oleh oksigen udara.
2.4.2. Kondisi Penyulingan
Selain metode penyulingan dan perlakuan bahan, kondisi proses penyulingan
juga akan mempengaruhi rendemen minyak. Menurut Ketaren (1985) jumlah
minyak yang menguap ditentukan oleh tekanan uap, berat molekul komponen-
komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak dikeluarkan dari bahan.
1. Ukuran Bahan
Pada proses penyulingan, pengisian bahan harussehomogen mungkin.
Apabila bahan yang dirajang terlalu halus akan membentuk saluran uap
dan, apabila terlalu kasar akan menyebabkan kelonggran antara bahan
dengan tangki, sehingga mengurangi optimalisasi hasil penyulingan
(Guenther, 1947).
2. Kepadatan bahan
Kepadatan bahan di dalam ketel sangat berpengaruh pada
kemudahan uap berpenetrasi kedalam bahan untuk membawa molekul
minyak, sehingga mempengaruhi rendemen dan efisiensi penyulingan
(Risfaheri & Mulyono 2006). Guenther (1990) menyebutkan bahwa
tingkat kepadatan bahan berhubungan erat dengan besar ruangan antar
bahan. Kepadatan bahan yang terlalu tinggi dan tidak merata
menyebabkan terbentuknya jalur uap rat holes yang dapat menurunkan
rendemen dan mutu minyak.
Jarak yang baik saat pengisian bahan baku adalah 75% dari
kapasitas tangki. Jikalebih dari 75%, maka jarak yang ditempuh dan
halangan yang dialami tangki uap semakin besar (Syahbana, 2010).
Penyulingan dengan api maksimal 808oC (Susanti, 2012) akan
meningkatkan rendemen, dimana transfer panas ke air dan bahan baku
akan makin besar, dan meningkatkan laju penguapan(Rusli, 1976). Untuk
memperoleh minyak atsiri berkualitas baik, sebaiknya penyulingan
menggunakan suhu minimum 99oCdengan waktu yang lama 4 jam 5
jam (Gunther, 1948 dan Abdurachman, 2009). Apabila penyulingan
dilakukan dengan suhu maksimum140oC, resident time yang diterapkan
harus lebih cepat dibandingkan dengan suhu [Link] diketahui
bahwa, resident time tinggi (melebihi waktu 3 jam) akan dihasilkan
minyak yang mengandung resin dan bau yang kurang enak (Rusli, 1976).
3. Perlakuan Terhadap Minyak Setelah Penyulingan.
Setelah proses penyulingan selesai, sebaikanya minyak harus
segera dipisahkan dengan air, untuk mencegah terjadinya proses hidrolisa
pada senyawa senyawa ester dan eter. Air yang tersisa dalam minyak
dapat diserap menggunakan Na2SO4 anhidrida (Ketaren, 1985). Minyak
atsiri-pun mempunyai sifat mudah menguap pada suhu kamar 26oC,
sehingga mudah bereaksi dan dapat rusak akibat pengaruh cahaya dan
oksigen (Guenther, 1947).
4. Berikut adalah cara menghitung persentase rendemen minyak atsiri:
Massa Minyak (gr)
Rendemen Minyak (%)= x 100%
Massa Bahan Baku (gr)
(SNI 06-3735-1995).
2.4.3. Bahan Penyulingan
Bahan penyulingan yang digunakan berupa daun nilam kering dan juga
termasuk batangnya dengan komposisi yang lebih sedikit. Untuk bahan yang
berupa rumput-rumputan harus diberikan peroses awal yaitu pemotongan bahan
menjadi ukuran yang lebih kecil-kecil agar bahan dapat masuk kedalam tanki
bahan lebih optimal tanpa membentuk rongga-rongga yang cukup besar sehingga
uap dapat berpenetrasi kedalam bahan lebih lama. Untuk bahan yang dapat
disuling dalam kondisi kering,dilakukan peroses pengeringan dengan menjemur
bahan di bawah sinar matahari dalam waktu yang tidak terlalu lama (sinar
matahari dibawah jam 12 siang ) atau dengan menggunakan alat pengering agar
kadar air terdapat di dalamnya berkuang , sehingga uap akan lebih menyerap
kedalam daun.
2.4.4. Tekanan uap
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap penguapan minyak pada proses
penyulingan adalah besarnya tekanan uap yang digunakan (Ketaren 1985).
Menurut Guenther (1990), agar diperoleh minyak yang bermutu tinggi maka
penyulingan hendaknya berlangsung pada tekanan rendah dan dapat juga pada
tekanan tinggi tetapi dalam waktu yang singkat. Proses penyulingan dengan
menggunakan tekanan dan suhu rendah mempunyai keuntungan yaitu minyak
yang dihasilkan tidak mengalami kerusakan akibat panas. Disamping itu
mengurangi penguapan komponen bertitik didih tinggi dan larut di air.
Penyulingan dengan tekanan tinggi tidak selalu memghasilkan rendemen dan
mutu yang lebih baik. Penggunaan tekanan uap yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan kerusakan komponen komponen penyusun minyak.
Lestari (1993) membuktikan bahwa pada penyulingan sereh wangi dengan
tekanan 228.53 kPa memberikan rendemen 3.51% basis kering dan tingkat mutu
bagus. Sedangkan penggunaan tekanan 297.2 kPa dihasilkan rendemen 2.52%
dengan tingkat mutu biasa. Penyulingan minyak nilam dengan menggunakan uap
langsung selama 4 jam menghasilkan rendemen sebesar 3.21%, 3.11%, 3.44%,
dan 3.27% berat kering masing-masing untuk tekanan penyulingan 158.86,
173.57, 190.24, dan 206.96 kPa (Dahlan 1989). Kondisi penyulingan minyak akar
wangi menggunakan tekanan 1.2 kg/cm2 menghasilkan rendemen 2.3% (Rusli &
Anggraeni 1999)
2.4.5. Laju Penyulingan
Laju penyulingan menyatakan jumlah air suling yang dihasilkan per satuan
waktu. Pengaturan laju penyulingan disesuaikan dengan diameter ketel dan
volume antar ruang bahan (Guenther 1990). Laju penyulingan yang rendah
menyebabkan uap terhenti pada bahan yang padat, sehingga proses ekstraksi
minyak tidak berjalan sempurna. Sebaliknya, jika laju penyulingan terlalu cepat
maka uap dalam ketel akan keluar melalui bahan dengan membentuk jalur uap
serta mengangkut bahan partikel ke dalam kondensor, sehingga menghambat
aliran uap di dalam kondensor (Risfaheri & Mulyono 2006).
2.4.6. Lama Penyulingan
Lama penyulingan mempengaruhi kontak air atau uap air dengan bahan.
Pada penyulingan yang lebih lama, jumlah minyak yang terbawa oleh uap
semakin banyak sehingga rendemen minyak yang diperoleh lebih banyak. Lama
penyulingan juga berpengaruh terhadap penguapan fraksi yang bertitik didih
tinggi. Semakin lama penyulingan, penguapan fraksi yang bertitik didih tinggi
akan semakin besar (Guenther 1990).
Hasil penelitian penyulingan pada beberapa minyak atsiri menunjukkan
lama waktu penyulingan menghasilkan minyak yang semakin banyak.
Penyulingan nilam selama 6 jam menghasilkan rendemen 2.59% dibandingkan
penyulingan selama 4 dan 5 jam yaitu 2.28% dan 2.52% (Setiadji & Tamtarini
2006). Biji jintan yang disuling selama 3, 5, dan 7 jam menghasilkan rendemen
1.90%, 2.10%, dan 2.23% (Sudibyo 1989). Begitu pula halnya pada penyulingan
minyak jeruk purut (Moestafa, et al. 1998). Penyulingan jeruk purut selama 8 jam
menghasilkan rendemen 4.58%, nilai ini lebih tinggi dari rendemen minyak yang
disuling selama 6 jam yaitu 3.58%. Rusli & Anggraeni (1999) juga memperoleh
rendemen minyak akar wangi lebih tinggi pada penyulingan yang lebih lama yaitu
2.07% selama 12 jam dibandingkan dengan penyulingan 8 jam yang hanya 1.78%.
Namun perpanjangan waktu penyulingan berdampak pada besarnya biaya bahan
bakar yang digunakan (Feryanto 2007).
2.4.7. Proses penyulingan
Keluarnya minyak dari bahan baku adalah suatu proses penguapan. Laju
penguapan pada mulanya besar dan semakin lama semakin mengecil karena
minyak makin sulit menerobos permukaan bahan dan persediaan minyak dalam
bahan semakin lama makin sedikit. Laju aliran keluarnya minyak ini diasumsikan
mengikuti model persamaan differensial ordo pertama (Heldman dan
Singh,1981):
= - kC .............................................................. (1)
Dengan mengintegrasikan persamaan (1) di atas dan dengan memasukkan
kondisi batas untuk t= 0, C = Co, maka :
C = Co exp (-kt) ..................................................................(2)
Co adalah kandungan minyak awal (kg) di dalam bahan baku dan t adalah
lamanya penyulingan (jam). Besarnya Co adalah besarnya kandungan minyak
dalam bahan (%) dikalikan dengan massa bahan (kg), sedangkan laju penyulingan
(k) sangat tergantung pada besarnya tekanan kerja atau P (Pascal). Dahlan (1989),
telah membuat persamaan empiris laju penyulingan minyak nilam sebagai fungsi
dari tekanan kerja yang dirumuskan sebagai berikut :
K = -0,326 + 0,00446 P ........................................................(3)
[Link]. Sumber Kalor
Untuk melakukan penyulingan dengan metode uap langsung diperlukan
sumber kalor untuk meningkatkan tekanan pada boiler. Pada pengujian alat
destilasi penyuling minyak nilam ini digunakan bahan bakar Gas LPG untuk
mengubah uap air dalam ketel menjadi uap dengan jumlah yang telah
diperkirakan sebelumnya dalam peroses desain alat
Sumber panas pada proses penyulingan yang dihasilkan pada Tungku
sebagai dasar menentukan besarnya bahan bakar yang dibutuhkan pada setiap
proses penyulingan adalah :
Mbb= Qtotal/Lbb .....................(10)
Dimana mbb adalah massa bahan bakar (kg) dan Lbb adalah panas laten dari
bahan bakar (kJ/kg).
Energi yang dibutuhkan oleh distilator untuk mengubah air menjadi uap
merupakan jumlah dari energi untuk memanaskan air dan energi untuk penguapan
dengan rumus:
Energi untuk pemanasan :
Qp = mw Cp (Ts Tw) ............................................................(4)
Energi untuk penguapan :
Qu = mw .L .....(5)
Total energi yang dibutuhkan untuk menguapkan air, adalah :
Qtotal = Qp + Qu .........................(6)
2.4.8. Proses Pendidihan Air
Dalam peroses pendidihan air dalam ketel berlangsung krang lebih 50
sampai 60 menit dengan api kompor besar yang stabil. Tekanan dalam ketel yang
digunakan pada peroses ini adalah 0 gauge. Sehingga air dalam ketel diharapkan
akan mendidih pada suhu 100 oC.
Massa uap yang terbentuk pada proses penyulingan adalah :
ms = Eff. Qtotal/(h2 h1) ......................(7)
dimana (h2 h1) adalah perubahan entalpi (kJ/kg)
Dimana:
Qp = Energi untuk pemanasan, kJ (kilo Joule)
Qu = Energi untuk penguapan, kJ (kilo Joule)
Eff. = Effisiensi
ms = massa uap, kg
h = entalpi, kJ/kg
2.4.9. Proses Kondensasi
Peroses kondensasi terjadi setelah penyulingan berlangsung kurang lebih
satu jam. Indikasi jika ingin terjadi peroses kondensasi yaitu apabila sudah terjadi
perpindahan kalor dari tube kondensor ke air pendingi dengan terlihatnya
kenaikan pada display alat pengukur suhu digital yang disambungkan dengan
thermokopel yang ditempatkan dalam air pendingin pada bagian atas kondensor.
Apabila terjadi kenaikan suhu air pendingin yang cukup tinggi, maka aliran air
pendingin masuk dan keluar dari kondensor harus di atur kembali sampai suhu air
pendingin turun dan stabil pada suhu tertentu.
Keseimbangan panas yang terjadi dalam kondensor diasumsikan mengikuti
Hukum Thermodinamika I, yaitu energi yang masuk ke dalam sistem akan sama
besarnya dengan energi yang keluar dari sistem tersebut (Welty, 1974; Burghart,
1982; Sitompul, 1992). Perubahan suhu uap dan air pendingin dapat dirumuskan :
dTuap h 4
= - c (TIn ) ........................................(8)
dx p Vx [Link]
sedangkan untuk air pendingin dirumuskan sebagai berikut :
dTair h 4
= (T Tlingk ) ..........................(9)
dx cp Vx Dair [Link]
Dimana :
q = energi dalam kondensor, kJ (kilo Joule)
= massa jenis uap, kg/m3
cp = panas jenis uap, kJ/kg.0C
T = suhu uap, oC
N = jumlah pipa dalam kondensor
v = laju aliran uap dalam kondensor, m/detik
D = diameter, m
t = suhu air pendingin, oC
2.4.10. Proses Penampungan Kondensat
Setelah terjadi peroses kondensasi dengan menetesnya air komndensat
kedalam alat penampung, maka kondensat tersebut semakin lama memenuhi alat
penampung dan terlihat pemisahan antara minyak dan air karna adanya perbedaan
massa jenis. Minyak dengan massa jenis yang lebih kecil daripada air akan berada
diatas dan komponen-komponen lain yang ikut tersuling dengan massa jenis yang
lebih besar dari air dan minyak akan turun di dasar penampung. Untuk
penyulingan daun nilam kering terlihat pada hasil kondensat diatas air. Pada
kondisi normal, semakin lama terlihat berwarna kuning kecoklatan dan
menimbulkan aroma yang khas. Metode penampungan terdapat beberapa macam.
Di antaranya yaitu dengan alat penampung yang pada bagian atasnya yaitu
memiliki saluran untuk mengalirkan minyak yang sudah terkumpul diatas air
langsung ketempat penampungan yang berbeds apabila tinggi kondensat telah
mencapai sisi keluar saluran tersebut. Metode yang lain yaitu dengan membiarkan
minyak berkumpul diatas air dalam alat penampung sampai peroses penyulingan
selesai. Kemudian minyak yang berada diatas air akan diambil dengan
menggunakan pipet. Tinggi level kondensat dijaga konstan dengan menggunakan
saluran drain yang keluar dari bagian bawah alat penampung.
4.3 Proses Pengambilan Data Pengujian
Untuk mengetahui kerja kndisi dari alat penyuling minyak nilam, maka
dilakukan pengujian-pengujian untuk mengambil data-data operasi yang akan
memberikan gambaran mengenai kinerja dari alat tersebut. Parameter-parameter
yang diambil dari pengujian tersebut yaitu :
a) Air Penyuling Awal Dan Akhir
Pada awal peroses penyulingan, air penyuling dalam ketel di ukur
ketinggiannya dari dasar ketel dan begitu juga setelah peruses penyulingan
selesai. Ketinggian air penyulingan yang diukur dikonversi menjadi besaran
volume dalam satuan liter.
b) Waktu Penyulingan
Waktu penyulingan didapatkan dengan mencatat jam pada saat peruses
penyulingan dimulai dan juga pada peroses penyulingan selesai.
c) Berat Bahan
Sebelum melakukan penyulingan terlebih dahulu bahan yang akan disuling
ditimbang terlebih dahulu agar mengetahui jumlah bahan yang dimasukkan
kedalam tanki.
d) Jumlah Bahan Bakar
Jumlah bahan bakar diketahui dengan mengukur berapa tabung gas LPG yang
digunakan selama proses penyulingan
e) Suhu Lingkungan
Suhu lingkungan di sekitar alat penyuiling
f) Suhu Air Penyuling
Suhu air penyuling diukur dalam ketel sebelum dilakukan peroses
pemanasan.
g) Laju Aliran Air Pendingin
Laju aliran pendingin di ukur dengan menghitung jumlah volume air dalam
liter yang keluar darai tanki kondenser dan ditampung dalam wadah takaran
per satuan waktu. Sehingga akan didapat kan laju aliran aliran pendingin
dalam liter/jam.
h) Suhu Air Pendingin Masuk Kondensor
i) Suhu air pendingin masuk kondensor di ukur pada saluran pipa sebelum
masuk kondensor dengan menggunakan thermo kopel/Suhu Air Pada Bagian
atas Kondensor Parameter ini didapatkan dengan memasukkan ujung
thermokopel pada bagian atas air pendingin dalam tnki kondensor.
j) Suhu Air Pendingin Keluar Kondensor
Suhu air pendingin keluar kondensor di ukur setelah pipa keluar air pendingin
pada bagian bawah kondensor.
k) Suhu Air Kondensat
Suhu air kondensat di ukur pada bagian atas alat penampung setelah peruses
kondensi berjalan stabil/konstan.
l) Laju Air Kondensat
Laju air kondensat di ukur pada saat uap air dan minyak mulai terkondensasi
dengan mencatat kenaikan kondensat pada alat penampung sampai batas
bertemu dan mencatat lamanya waktu yang diperlukan dalam peroses
tersebut. Ketika kondensat yang dihasilkan tidak mengalami kenaikan lagai
dalam alat penampung/sudah mencapai level konstan, maka laju air
kondensat di ukur pada saat kondisi tersebut tercapai sampai selesai peroses
penyulingan dengan menghitung banyaknya air kandensat dalam ember yang
keluar daei alat penampung selama peroses tersebut berlangsung.
m) Jumlah Minyak Yang Di Hasilkan Minyak diambil dari alat penampung
dengan menggunakan pipet sambil mengukur volumenya dan kemudian di
masukkan dalam waqdah sampel.
n) Jumlah Rendemen
Rendemen yang didapat berdasarkan jumlah minyak yang di hasilkan darai
peroses penyulingan dibagi dengan banyaknya bahan yang disuling dalam
satuan liter/g atau ml/g dan dinyatakan dalam persen (%).
2.4.11. Dimensi peralatan
Untuk menentukan dimensi peralatan penyulingan pada setiap kapasitas
penyulingan dilakukan melalui optimasi biaya sebagai fungsi dari dimensi
peralatan tersebut. Optimasi biaya dilakukan terhadap masing-masing sub-sistem
dengan menggunakan metode pengali Lagrange dan penyelesaian persamaan
linier non simultan Newton-Raphson serta Runge-Kutta.
1. Distilator
Penyelesaian biaya untuk distilator dilakukan dengan menggunakan pengali
Lagrange (Soemartojo, 1987; Kamaruddin, et al. 1990) yaitu :
F(D,L, ) = f(D,L) + g(D,L) .........(11)
Kondisi di atas dapat dipenuhi dengan persyaratan :
F(D,L, F(D,L, F(D,L,
= 0, = 0, =0 .............................(12)
D L
Persamaan (12), selanjutnya diselesaikan dengan metode Newton-
Raphson untuk persamaan simultan non linier (Sediawan dan Prasetyo,
1997).
2. Kondensor
Panjang kondensor (L) ditentukan dengan metode Runge-Kutta untuk
penyelesaian persamaan differensial orde 1, yaitu :
dy
= f(x, y) .......................................... (13)
dx
dengan batas x = xo; y = yo.
2.5.8. Analisa Ekonomi
Dalam analisis ekonomi tersebut digunakan persamaan-persamaan baku
untuk menentukan Biaya Tetap, Biaya Tidak Tetap, Biaya Produksi yang
didasarkan pada pola permintaan sampai pada keuntungan yang diperoleh pada
berbagai skala usaha (Pramudya dan Dewi, 1991).
Rangkaian metode di atas selanjutnya diselesaikan melalui pemrograman
komputer berbasis numerik dan dikemas dengan paket multimedia. Paket ini
memungkinkan pengguna dengan mudah bisa berinteraksi di dalamnya sehingga
beberapa informasi yang dibutuhkan untuk perencanaan awal sebuah usaha
penyulingan bisa diperoleh.