Rencana Aksi Daerah Pengurangan Resiko Bencana
(RAD PRB) Kabupaten Kayong Utara
PENDAHULUAN
encana dalam bentuk apapun dapat terjadi kapan saja dan dimana
B saja di muka bumi ini. Bencana tersebut ada yang datang dengan
didahului oleh peringatan namun ada juga yang datang secara
mendadak. Manusia sebagai mahluk yang ditakdirkan hidup di dunia ini
diberi kemampuan untuk bertahan hidup dalam kondisi dimana dia berada
termasuk dalam keadaan terjadinya bencana. Pada mulanya kesadaran
untuk bertahan dan tetap eksis dari bencana, hanya merupakan kepedulian
individu atau sekelompok kecil masyarakat. Namun, seiring berkembangnya
jumlah masyarakat, kebutuhan pengelolaan bencana yang lebih sistematis
secara bersamasama sangat diperlukan agar hasilnya lebih efektif dan
efisien.
LATAR BELAKANG Saat ini isu bencana sudah menjadi isu universal. Pada akhir dekada abad
yang lalu, beberapa negara telah berkumpul dan mendeklarasikan sebagai
dekade pengurangan resiko bencana. Dalam deklarasi telah disepakati
perlunya pemahaman dan komitmen bersama dari semua pihak dalam
penanggulangan bencana. Yang paling penting dari semuanya adalah
komitmen dari para pengambil keputusan di setiap negara.
Resolusi Nomor 63 tahun 1999 yang dikeluarkan Dewan Ekonomi dan Sosial
Perserikatan Bangsabangsa, menyerukan kepada pemerintahan di setiap
negara untuk menyusun suatu Rencana Tindak Nasional yang bertujuan
untuk mengurangi risiko bencana. Dengan rencana tersebut, diharapkan
keberlanjutan dari pembangunan di masingmasing negara akan tetap dapat
dilaksanakan.
Perkembangan internasional selanjutnya adalah pertemuan Hyogo yang
mencanangkan Hyogo Framework for Action 20052015 yang menyerukan
pada seluruh negara untuk menyusun mekanisme R e n c a n a A k s i
D a e r a h Pengurangan Risiko Bencana (RAD PRB) atau Disaster Risk
Reduction (DRR) yang terpadu dengan dukungan kelembagaan dan
sumberdaya yang tersedia.
Negara Republik Indonesia adalah bagian dari masyarakat dunia yang
bertanggung jawab untuk melindungi masyarakatnya sendiri dari bencana
telah mengeluarkan Undangundang Republik Indonesia Nomor 24 tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana (PB). Undangundang ini bertujuan
untuk memberi perlindungan kepada kehidupan dan penghidupan yang ada
di negara Republik Indonesia dari bencana dengan cara menyelenggarakan
penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan
terintegrasi. Disamping itu, undangundang ini juga mengakomodir kearifan
budaya lokal seperti sikap gotongroyong, kesetiakawanaan dan
kedermawanan dalam pelaksanaan kegiatan penanggulangan bencana di
daerahnya masingmasing.
Dalam undangundang tersebut, Pemerintah Daerah diwajibkan untuk
menyelenggarakan Penanggulangan Bencana di daerahnya. Penanggulangan
bencana tersebut meliputi pemenuhan hak masyarakat yang terkena
bencana, perlindungan dari dampak bencana, peningkatan kapasitas
masyarakat untuk mengurangi risiko bencana, dan pembangunan fisik yang
ramah bencana. Semua kegiatan tersebut wajib menggunakan anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Selain itu, Pemerintah Daerah juga
memiliki hak untuk menetapkan kebijakan Penanggulangan Bencana di
daerahnya selaras dengan kebijakan pembangunan daerah dengan
memasukkan unsurunsur potensi alam dan teknologi yang ada di
daerahnya.
Dalam penyusunan RAD PRB akan melibatkan partisipasi dari semua
pemangku kepentingan yang terkait dengan kebencanaan. Mereka
terdiri dari Akademisi, LSM, DinasDinas yang ada di Provinsi dan
Kabupaten/Kota, Perusahan Swasta, Media Massa, Tokohtokoh
Masyarakat, dan lainlain. Agar proses penyusunan RAD PRB lebih
sistematis, dibentuk Tim Inti yang memiliki kompetensi dibidang
kebencanaan untuk memandu, mengarahkan, dan mengkordinasikan
keselurahan proses.
Dalam pelaksanaannya, RAD PRB ini akan menjadi panduan bagi semua
pihak dalam pelaksanan pembangunan di wilayah Kabupaten Kayong Utara
yang berbasiskan kebencanaan. RAD PRB ini berlaku mulai tahun 2014
hingga tahun 2018.
TUJUAN Tujuan penyusunan Rencana Aksi Daerah Pengurangan Resiko Bencana
(RAD PRB) Kabupaten Kayong Utara adalah:
1. Mempersiapkan perencanaan yang terarah, terpadu dan terkoordinasi
untuk menurunkan risiko bencana di Kabupaten Kayong Utara.
2. Meningkatkan kinerja lembaga dan instansi Penanggulangan Bencana
di Kabupaten Kayong Utara menuju profesionalisme dengan
pencapaian yang terukur dan terarah.
3. Mensinergikan kinerja pemerintah, swasta, masyarakat dan instansi
terkait dalam penanggulangan bencana sesuai dengan budaya masing
masing daerah di wilayah Kabupaten Kayong Utara.
4. Melindungi masyarakat di wilayah Kabupaten Kayong Utara dari bahaya
yang mengancam.
LANDASAN HUKUM Rencana Penanggulangan Bencana Kabupaten Kayong Utara Tahun 2012
2018 dibuat berdasarkan landasan hukum yang berlaku di Indonesia dan
Kabupaten Kayong Utara. Landasanlandasan hukum tersebut adalah :
1. UndangUndang Nomor 23 Tahun 1997, tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
2. UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999, tentang Kehutanan.
3. UndangUndang Nomor 7 Tahun 2004, tentang Sumberdaya Air.
4. UndangUndang Nomor 25 Tahun 2004, tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN).
5. UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintah Daerah.
6. UndangUndang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan
Bencana.
7. UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang.
8. UndangUndang Nomor 27 Tahun 2007, tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan PulauPulau Kecil.
9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, tentang Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota.
10. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008, tentang
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana.
11. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008, tentang Pendanaan dan
Pengelolaan Bantuan Bencana Penanggulangan Bencana.
12. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2008, tentang Peran Serta
Lembaga Internasional dan Lembaga Asing NonPemerintah dalam
penanggulangan bencana.
RUANG LINGKUP Rencana Aksi Daerah Pengurangan Resiko Bencana Kabupaten Kayong
Utara yang terdiri dari 7 kecamatan. Diharapkan Rencana
Penanggulangan Bencana dapat memberikan solusi dalam menangani
masalah kebencanaan yang terjadi di wilayah Kabupaten Kayong Utara.
Dalam pelaksanaannya, RAD PRB ini dapat dilihat dari dua sudut
pandang yaitu dari sudut pandang Pemerintah Provinsi dan dari sudut
pandang Pemerintah Kabupaten. Di internal Pemerintahan Kabupaten
Kayong Utara, RAD PRB ini terbatas dalam pelaksanaan fungsi koordinasi,
fasilitasi dan motivasi/stimulasi Pemerintah di level kecamatan yang berada
di wilayah Kabupaten Kayong Utara. Sedangkan dalam lingkup Pemerintahan
Kabupaten, RAD PRB ini dapat dijadikan rujukan yang berisikan
kegiatankegiatan yang bersifat teknis sesuai dengan kondisi lokal.
Kabupaten Kayong Utara merupakan salah satu kabupaten yang baru
terbentuk dan memiliki luas wilayah sebesar 4.568,25 km2 yang tersebar
kedalam 6 Kecamatan. Kecamatan yang memiliki wilayah terluas adalah
Simpang Hilir, yaitu sebesar 1.538, 99 Km2 atau menempati wilayah sebesar
33.69 % dari luas Kabupaten Kayong Utara. Sedangkan kecamatan dengan luas
wilayah terkecil adalah Seponti, yaitu 158,01 Km2 atau setara dengan 3.46 %
dari luas Kabupaten Kayong Utara.
Diantara 14 Kabupaten/Kota di Propinsi Kalimantan Barat, Kabupaten Kayong
Utara adalah Kabupaten dengan luas wilayah yang terkecil setelah Kota
Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Pontianak. Terbentuknya wilayah
Kabupaten Kayong Utara merupakan pemekaran dari Kabupaten Ketapang
didasari oleh Undangundang RI No. 6 Tahun 2007 dan Surat Mendagri
No.135/439/SJ Tanggal 27 Februari 2007, luas wilayah Kabupaten Kayong
Utara adalah 4.568,26 km2 atau 3,11 persen dari seluruh luas wilayah
Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2011, Kabupaten Kayong Utara terbagi
menjadi 6 kecamatan, 43 Desa, 166 Dusun, dan 628 Rukun Tetangga (RT)
dalam membantu menjalankan roda pemerintahan.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Kayong Utara merupakan perairan laut dan
memiliki banyak pulau. Pulau yang ada di Kabupaten Kayong Utara berjumlah
103. Pulau pulau ini tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Sukadana,
Simpang Hilir, Pulau Maya dan Kepulauan Karimata. Dengan total keseluruhan
luas pulau 135.129 Ha. Selain itu Kabupaten Kayong Utara topografinya
memiliki banyak gunung, seperti gunung Cabang di Kepulauan Karimata,
gunung Sembilan dan gunung Panti di Sukadana, gunung Palung yang menjadi
tempat konservasi alam dan banyak gunung lainnya.
Wilayah Kabupaten Kayong Utara terdiri dari 6 Kecamatan. Dimana
kecamatankecamatan terebut berbatasan langsung dengan laut. Dengan
demikian masingmasing kecamatan mempunyai potensi kelautan yang
tentunya dapat dikembangkan guna meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya.
Ratarata curah hujan di Kabupaten Kayong Utara sepanjang tahun 2011
adalah 200,00 mm, lebih rendah dari tahun sebelumnya. Curah Hujan tertinggi
terjadi di bulan November, 430 mm dan terendah di bulan Agustus 18 mm.
Dilihat dari jenis tanahnya sebagian besar daerah KKU terdiri dari tanah
kuarter (322.040 hektar atau 76,30%), intusif dan plutoni asam (68,145 hektar
atau 16,14%), efusif tak terbagi (24,825 hektar atau 5,88%,intrusif dan
plutonik basa menengah (6,325 hektar atau 1.50 %) yang terhampar
disebagian besar kecamatan.
Sebagian besar wilayah Kabupaten Kayong Utara merupakan perairan laut dan
memiliki banyak pulau. Pulau yang ada di Kabupaten Kayong Utara berjumlah
103. Pulaupulau ini tersebar di empat kecamatan yaitu Kecamatan Sukadana,
Simpang Hilir, Pulau Maya dan Kepulauan Karimata. Dengan total keseluruhan
luas pulau 135.129 Ha.
Iklim di wilayah Kabupaten Kayong Utara berdasarkan klasifikasi Schmid
dan Ferguson termasuk iklim type A yang sangat basah dengan curah
hujan antara 2500 s/d 5000 mm per tahun. Kondisi iklim tersebut sangat
menunjang bagi kegiatan pertanian khususnya pertanian lahan basah dan
kecukupan tersedianya sumberdaya air.
Panjang jalan di wilayah kabupaten Kayong Utara pada tahun 2011 sepanjang
334,16 Km, jika dibagi menurut kondisinya, jalan yang kondisinya baik
sepanjang 77,83 Km, rusak ringan 84,49 Km, dan rusak berat 171,84 Km.
Jumlah penduduk Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2011 sebanyak 97.643
jiwa (49.882 jiwa berjenis kelamin lakilaki dan 47.761 jiwa berjenis kelamin
perempuan), Jika dibandingkan dengan luas wilayah Kabupaten Kayong Utara
yaitu 4.568,26 Km2, maka kepadatan penduduk yang hanya sekitar 21 jiwa
per Km2 terhitung masih sedikit. Dari enam kecamatan yang ada di Kabupaten
Kayong Utara, kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah
Kecamatan Simpang Hilir, yaitu sekitar 30,05% dari total penduduk Kabupaten
Kayong Utara.
Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Kayong Utara pada periode
19902000 sebesar 1,29% dan pada periode 20002010 laju pertumbuhan
penduduknya sebesar 1,94%. Jika dilihat menurut kecamatan yang ada,
maka laju pertumbuhan penduduk pada tahun 20002010 lebih tinggi jika
dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk pada tahun 19902000.
Dengan pertumbuhan penduduk tertinggi terdapat pada Kecamatan Sukadana
dan Simpang Hilir (masing masing 2,79% dan 3,61%). Kepadatan penduduk di
Kabupaten Kayong Utara pada tahun 2011 masih 21 jiwa per Km2. Apabila
dilihat per kecamatan maka kecamatan yang paling padat penduduknya ada di
Kecamatan Seponti (65 jiwa per Km2), sedangkan yang terjarang penduduknya
ada di Kecamatan Kepulauan Karimata (7 jiwa per Km2).
Dari data makro Kabupaten Kayong Utara maka lingkup fase bencana yang
dibahas, RAD PRB ini mencakup seluruh tahapan dalam penanggulangan
bencana yaitu fase mitigasi/pencegahan, fase kesiapsiagaan, fase
tanggap darurat dan fase pemulihan bencana. Sementara itu, jenis
bencana yang dibahas dalam Rencana Penanggulangan Bencana ini,
disesuaikan dengan tipe bencana yang ada di Undangundang NOMOR 24
TAHUN 2007 TENTANG Penanggulangan Bencana. Sedangkan prioritas
bencana yang ditangani dalam RAD PRB disesuaikan dengan kondisi
daerah yang diperoleh dari identifikasi data dan hasil penampungan ide
secara partisipatif dari seluruh kelompok yang terlibat dalam penyusunan
RAD PRB ini.
PENGERTIAN Untuk menyamakan persepsi dalam memahami Rencana Penanggulangan
Bencana Kabupaten Kayong Utara, disajikan pengertianpengertian kata dan
kelompok kata sebagai berikut:
Bencana (disaster) adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam
(seperti gempabumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan,
angin topan, tanah longsor, epidemi dan wabah penyakit) atau ulah
manusia (seperti gagal teknologi, gagal modernisasi, konflik sosial
antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror) sehingga
menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian
harta benda dan dampak psikologis.
Bahaya (hazard) adalah situasi, kondisi atau karakteristik biologis,
klimatologis, geografis, geologis, sosial, ekonomi, politik, budaya dan
teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu
tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.
Kerentanan (vulnerability) adalah tingkat kekurangan kemampuan
suatu masyarakat untuk mencegah, menjinakkan, mencapai kesiapan,
dan menanggapi dampak bahaya tertentu. Kerentanan dapat berupa
kerentanan fisik, ekonomi, sosial dan tabiat, yang dapat ditimbulkan
oleh beragam penyebab.
Kemampuan (capacity) adalah penguasaan sumberdaya, cara dan
kekuatan yang dimiliki penduduk, yang memungkinkan mereka untuk,
mempersiapkan diri, mencegah, menjinakkan, menanggulangi,
mempertahankan diri serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat
bencana.
Risiko (risk) bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat
bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu berupa
kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.
Pencegahan (prevention) adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah
terjadinya sebagian atau seluruh bencana.
Mitigasi (mitigation) adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi
risiko bencana dengan menurunkan kerentanan dan/atau
meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Mitigasi Fisik (Structure Mitigation) adalah upaya dilakukan untuk
mengurangi risiko bencana dengan menurunkan kerentanan dan/atau
meningkatkan kemampuan menghadapi ancaman bencana dengan
membangun infrastruktur.
Mitigasi NonFisik (Non Structure Mitigation) adalah upaya yang
dilakukan untuk mengurangi risiko bencana dengan menurunkan
kerentanan dan/ atau meningkatkan kemampuan menghadapi
ancaman bencana dengan meningkatkan kapasitas pemerintah dan
masyarakat dalam menghadapi bencana.
Kesiapsiagaan (preparedness) adalah upaya yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian langkahlangkah
yang tepatguna dan berdayaguna.
Peringatan dini (early warning) adalah upaya pemberian peringatan
sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya
bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
Tanggap darurat (emergency response) bencana adalah upaya yang
dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani
dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan,
evakuasi korban dan harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar,
perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan
prasarana dan sarana.
Bantuan darurat (relief) bencana adalah upaya memberikan bantuan
untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat.
Pemulihan (recovery) adalah upaya mengembalikan kondisi
masyarakat, lingkungan hidup dan pelayanan publik yang terkena
bencana melalui rehabilitasi.
Rehabilitasi (rehabilitation) adalah perbaikan semua aspek pelayanan
publik dan kehidupan masyarakat sampai tingkat yang memadai pada
wilayah bencana.
Rekonstruksi (reconstruction) adalah upaya perbaikan jangka
menengah dan jangka panjang berupa fisik, sosial dan ekonomi untuk
mengembalikan pelayanan publik dan kehidupan masyarakat pada
kondisi yang sama atau lebih baik dari sebelum bencana.
Penanggulangan Bencana (disaster management) adalah upaya yang
meliputi: penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya
bencana; pencegahan bencana; mitigasi bencana; kesiapsiagaan;
rehabilitasi dan rekonstruksi.
Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan
oleh Pemerintah untuk jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi
badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana.
Pengungsi adalah orang atau sekelompok orang yang terpaksa atau
dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum
pasti sebagai akibat dampak buruk bencana.
Setiap orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau
badan hukum.
Korban bencana adalah orang atau sekelompok orang yang menderita
atau meninggal dunia akibat bencana.
Prosedur Tetap adalah serangkaian upaya terstruktur yang disepakati
secara bersama tentang siapa berbuat apa, kapan, dimana dan
bagaimana cara penanganan bencana.
Gagal teknologi adalah jenis ancaman bahaya yang disebabkan oleh
tidak berfungsinya atau kesalahan operasi suatu media/aplikasi
tertentu.
Pengurangan Risiko Bencana (Disaster Risk Reduction) adalah segala
tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kerentanan dan
meningkatkan kapasitas terhadap jenis bahaya tertentu atau
mengurangi potensi jenis bahaya tertentu.
Rencana Anggaran Untuk menmelaksanakan Rencana A k s i D a e r a h Pengurangan Resiko
Bencana Kabupaten Kayong Utara, berikut ini uraian Rencana Anggaran
Biaya: