0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan22 halaman

Stoikiometri Kompleks Ammin-Tembaga II

Laporan praktikum ini membahas stoikiometri kompleks ammin-tembaga(II) dengan metode ekstraksi pelarut. Tujuannya adalah menentukan rumus molekul kompleks ammin-tembaga(II) berdasarkan koefisien distribusi amonia dalam pelarut air dan kloroform. Prinsip dasarnya adalah hukum distribusi yang menyatakan zat terlarut akan terdistribusi ke dalam dua lapisan pelarut berdasarkan kesetimbangan.

Diunggah oleh

SHALANA SARMAL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan22 halaman

Stoikiometri Kompleks Ammin-Tembaga II

Laporan praktikum ini membahas stoikiometri kompleks ammin-tembaga(II) dengan metode ekstraksi pelarut. Tujuannya adalah menentukan rumus molekul kompleks ammin-tembaga(II) berdasarkan koefisien distribusi amonia dalam pelarut air dan kloroform. Prinsip dasarnya adalah hukum distribusi yang menyatakan zat terlarut akan terdistribusi ke dalam dua lapisan pelarut berdasarkan kesetimbangan.

Diunggah oleh

SHALANA SARMAL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN V
STOIKIOMETRI KOMPLEKS AMMIN-TEMBAGA (II)
DENGAN METODE EKSTRAKSI PELARUT

OLEH :

NAMA : SARMAL

STAMBUK : A1L1 15 042

KELOMPOK : III B

ASISTEN : YULIA AYU PRAHASTI

LABORATORIUM JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
HALAMAN PERSETUJUAN

Telah diperiksa secara teliti dan disetujui oleh asisten pembimbing

praktikum Kimia Anorganik dengan judul percobaan Stoikiometri Kompleks

Ammin-Tembaga (II) Dengan Metode Ekstraksi Pelarut yang bertempat di

Laboratorium Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu

Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari, yang dilaksanakan pada :

Hari/tanggal : Selasa, 5 Desember 2017

Waktu : 13.30 WITA selesai

Kendari, Desember 2017

Menyetujui,

Asisten Pembimbing

Yulia Ayu Prahasti


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Senyawa kompleks telah banyak dipelajari dan diteliti melalui suatu

tahapan-tahapan reaksi (mekanisme reaksi) dengan menggunakan ion-ion logam

serta ligan yang berbeda-beda. Ligan memiliki kemampuan sebagai donor

pasangan elektron sehingga dapat dibedakan atas ligan monodentat, bidentat,

tridentat dan polidentat. Sejumlah senyawa kompleks terjadi dan terdapat secara

alamiah dalam sistem biologi. Proses pengikatan oksigen oleh besi menjadi

senyawa kompleks dalam tubuh merupakan salah satu contoh aplikasi senyawa

kompleks. Studi pembentukan kompleks menjadi hal yang menarik untuk

dipelajari karena kompleks yang tebentuk dimungkinkan memberi banyak

manfaat misalnya untuk ekstraksi, sebagai katalis dan penangan keracunan logam

berat. Senyawa kompleks terdiri dari ion logam yang dikelilingi oleh molekul-

molekul atau ion-ion yang disebut ligan.

Tembaga (II) merupakan salah satu ion logam transisi deret pertama yang

mempunyai orbital d yang terisi sebagian atau belum terisi penuh. Pada dasarnya

stoikiometri kompleks ammintembaga (II) menggunakan prinsip proses ekstraksi

pelarut, dimana dalam prinsip ini berlaku hukum distribusi yang menyatakan

apabila suatu system yang terdiri dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak

saling bercampur satu sama lain, ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut), maka

senyawa itu akan terdistribusi (terpartisi) kedalam dua lapisan tersebut, dengan

syarat Nerst bila zat terlarut nya tidak menghasilkan perubahan pada kedua pelarut
(solvent) atau zat yang terlarut yang terbagi (terpartisi) dalam dua pelarut tidak

mengalami asosiasi, disosiasi atau reaksi dengan pelarut.

Pelarut yang digunakan dalam menentukan kekompleksan senyawa

tembaga memiliki peran yang penting dalam pembentukan senyawa kompleksnya.

Penggunaan pelarut asam akan memungkinkan ligan akan terprotonasi oleh H+

dari pelarut sehingga menyebabkan kompleks tidak terbentuk. Sifat kelarutan ion

logam dan ligan juga perlu diperhatikan. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka

dilakukan percobaan stoikiometri kompleks ammin-tembaga (II) dengan ekstraksi

pelarut. Pelarut yang digunakan adalah kloroform dan air.

1.2 Tujuan Praktikum

Praktiukm ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan rumus molekul

kompleks Ammin-Tembaga (II).

1.3 Prinsip Dasar Percobaan

Prinsip percobaan ini didasarkan pada penentuan rumus molekul kompleks

ammin-tembaga (II) berdasarkan koefisien distribusi amonia dalam pelarut air dan

kloroform.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stoikiometri

Stoikiometri kimia adalah konsep luas yang diterapkan di banyak bidang

kimia, terutama kimia analitik, dimana hubungan kuantitatif antara jumlah mol

reaktan dan produk ditunjukkan oleh persamaan seimbang. Konsep stoikiometri

terkait ini sangat penting dalam kimia kuantitatif. Sebagai contoh, perhitungan

stoikiometri diperlukan untuk mengevaluasi hasil analisis kuantitatif seperti titrasi

(Hanson, 2016).

2.2 Senyawa Kompleks

Menurut Cotton dan Wilkinson (1998) bahwa senyawa kompleks

didefinisikan sebagai senyawa yang terdiri dari ion logam yang dikelilingi oleh

molekul-molekul atau ion-ion yang disebut ligan. Ion pusat pada umumnya

merupakan ion-ion logam transisi karena ion logam ini memiliki orbital d yang

tersisi sebagian atau belum terisi penuh. Ligan adalah molekul-molekul atau ion-

ion yang mempunyai atom donor elektron. Banyaknya atom donor ligan yang

terkoordinasi pada atom atau ion pusat disebut bilangan koordinasi (Suciningrum,

2011).

Senyawa kompleks dapat digunakan dalam analisis kualitatif sebagai

pengembangan prosedur analisis logam berat. Senyawa kompleks merupakan

senyawa yang tersusun dari atom pusat dan ligan. Atom pusat bisa berupa logam

transisi, alkali atau alkali tanah. Ion atau molekul netral yang memiliki atom -
atom donor yang dikoordinasikan dengan atom pusat disebut dengan ligan.

Senyawa kompleks terbentuk akibat terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara

ion logam atom pusat dengan suatu ligan. Menurut Ngatijo (1995) sintesis

senyawa kompleks melibatkan reaksi antara larutan yang mengandung molekul

atau ion negatif sebagai ligan. Teknik ekstraksi pelarut merupakan salah satu

metode yang terus dipelajari dan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensinya

dalam pemisahan dan pemekatan logam pada skala industri. Pemilihan metode

ekstraksi mempunyai keunggulan dalam penggunaannya karena tidak

membutuhkan peralatan mahal dan rumit. Selain itu, pelarutnya dapat digunakan

kembali untuk proses pemisahan selanjutnya (Lestari, 2014).

2.3 Ligan

Senyawa ion logam yang berkoordinasi dengan ligan disebut dengan

senyawa kompleks. Sebagian besar ligan adalah zat netral atau anionik tetapi

kation, seperti kation tropilium juga dikenal. Ligan netral, seperti amonia, NH3,

atau karbon monoksida (CO) dalam keadaan bebas pun merupakan molekul yang

stabil, semenatara ligan anionik, seperti Cl- atau C5H5 distabilkan hanya jika

dikoordinasikan ke atom logam pusat. Ligan representatif didaftarkan di tabel 6.1

menurut unsur yang mengikatnya. Ligan umum atau yang dengan rumus kimia

rumit diungkapkan dengan singkatannya. Ligan dengan satu atom pengikat

disebut ligan monodentat, dan yang memiliki lebih dari satu atom pengikat

disebut ligan polidentat, yang juga disebut ligan khelat. Jumlah atom yang diikat

pada atom pusat disebut dengan bilangan koordinasi.


Tabel 6.1 Ligan representatif.
Nama Singkatan Rumus
Hidrido H-
Karbonil CO
Siano CN-
Metil Me CH3-
Siklopentadienil Cp C5H5-
Karbonato CO32-
Piridin py C5H5N
Bipiridin bipy C10H8N2
Trifenilfosfin PPh3 P(C6H5)3
Akuo aq H2O
Asetilasenato acac CH3C(O)CH2C(O)CH3
Tiosianato SCN
Khloro Cl-
Etilendiamintetraasetato edta (OOCCH2)2NCH2CH2N(CH2COO)24-

(Saito, 1996).

2.4 Ekstraksi Pelarut

Proses pemisahan secara ekstraksi dilakukan jika campuran yang akan

dipisahkan berupa larutan homogen (cair cair) dimana titik didih komponen

yang satu dengan komponen yang lain yang terdapat dalam campuran hampir

sama atau berdekatan. Pada proses pemisahan secara ekstraksi , face cairan II

segera terbentuk setelah sejumlah massa solven ditambahkan kedalam campuran

(ciaran I) yang akan dipisahkan. Sebeelum campuran dua fase dipisahkan

meenjadi produk ekstrak dan produk rafinat, suatu uasah harus dilakukan dengan

mempertahankan kontak antara face cairan I dengan fase cairan II sedemikian

hingga pada suhu dan tekanan tertentu campuran dua fase berada dalam

kesetimbangan (Maulida dan Naufal, 2010).


2.5 Titrasi Asam Basa

Titrasi asan basa merupakan metode analisis kimia konvensional yang

digunakan untuk menentukan konsentrasi asam maupun basa. Titrasi asam basa

didasarkan pada titik ekuivalen antara asam dan basa. Titik ekuivalen biasanya

ditentukan dengan titik akhir titrasi yaitu pada saat konsentrasi asam ekuivalen

dengan konsentrasi basanya. Titik akhir titrasi ditandai dengan penambahan

substansi ke dalam larutan analit sehingga terjadi perubahan warna setelah titik

ekuivalen terjadi. Substansi yang ditambahkan ke dalam analit tersebut disebut

sebagai indikator. Indikator yang sering digunakan dalam titrasi asam basa adalah

indikator phenolptalin (PP) dan indikator metil orange (MO). Indikator-indikator

ini merupakan indikator kimiawi dan dijual di pasaran dengan harga yang relatif

mahal (Marwati, 2010).

2.6 Logam Tembaga

Tembaga adalah logam yang relatif lunak, dan sering digunakan sebagai

logam paduan, misalnya kuningan dan perunggu. Tembaga membentuk senyawa

dengan tingkat oksidasi +1 dan +2, namun hanya tembaga (II) yang stabil dan

mendominasi dalam larutannya. Dalam air, hampir semua garam tembaga (II)

berwarna biru oleh karena warna ion kompleks koordinasi enam, [Cu(H2O)6]2+.

Jika larutan amonia ditambhakan ke dalam larutan ion Cu2+, larutan biru berubah

menjadi biru tua karena terjadinya pendesakan ligan air oleh ligan amonia

menurut reaksi:

[Cu(H2O)6]2+ (aq) + 5 NH3 (aq) [Cu(NH3)(4-5) (H2O)(2-1)] 2+ + 5 H2O (l)

(Sugiarto dan Retno, 2008).


Menurut Darmono (1995) bahwa logam berat tembaga (Cu) merupakan

salah satu logam berat yang mencemari lingkungan perairan. Logam berat Cu

dapat menyebabkan pengaruh negatif atau bersifat toksit terhadap organisme air

dan manusia pada batas konsentrasi tertentu. Gejala-gejala yang nampak akibat

toksikasi logam Cu pada manusia adalah hawa mulut berbau, kerongkongan dan

perut kering, rasa ingin muntah dan diare terus menerus selama berhari-hari,

terdapat darah pada kotoran (feces), pusing-pusing dan demam (Solecha dan

Bambang, 2002).

2.7 Indikator Metil Orange (MO)

Metil Orange (MO) merupakan salah satu jenis pewarna sintesis azo yang

banyak ditemukan dalam limbah industri tekstil Pewarna azo merupakan pewarna

sintetik aromatik yang tersusun dari satu atau lebih gugus azo yang mengandung

dua atom nitrogen dengan ikatan azo (-N=N-) dan tersubstitusi dengan elektron

penstabil gugus azo. Pada proses mineralisasi pewarna azo terjadi pemutusan

ikatan azo cincin aromatik sehingga membentuk senyawa amina aromatik, seperti

arilamina yang bersifat karsiogenik. Sudha menyatakan umumnya pewarna azo

larut dalam air, mudah teradsorbsi dalam kulit, terhirup sehingga berpotensi

bersifat racun dan menyebabkan kanker. Pewarna azo juga merupakan agen

mutagenik pada manusia dan lingkungan ((Mauliddawati, 2014).


BAB III
METODELOGI PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada hari selasa, 5 Desember 2017, Pukul

13:30 WITA sampai selesai. Bertempat di Laboratorium Jurusan Pendidikan

Kimia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Halu Oleo, Kendari.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu buret 50 mL, corong pisah

100 mL, erlenmeyer 250 mL, pipet volume 10 ml dan 25 mL, gelas piala 100 mL,

statif dan klem, filler, dan aquades.

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu larutan NH3 1 M, larutan

Cu2+ 0,1 M, larutan HCl 0,055 M, kloroform, indikator metil orange, dan

aquades.

3.3 Prosedur Kerja

3.3.1 Penentuan Koefisien Distribusi Ammonia Antara Air Dan Kloroform

Penentuan koefisien distribusi ini dimulai dengan menambahkan 10 mL

larutan NH3 1 M dan 10 mL aquades ke dalam corong pisah 100 mL dan

dihomogengkan. Ditambahkan 25 mL kloroform ke dalam corong pisah dan

dikocok selama 5 menit. Didiamkan hingga terbentuk dua lapisan. Dipisahkan


kedua lapisan tersebut. Dipindahkan 10 mL larutan kloroform ke dalam

erlenmeyer yang berisisi 10 mL air dan ditambahkan indikator MO. Dititrasi

secara perlahan-lahan larutan ini dengan menggunakan HCl standar 0,055 M

menggunakan buret 50 mL. Titik ekuivalen ditandai dengan perubahan warna.

Diulangi titrasi untuk 10 mL kedua dan kemudian untuk sisanya. Dihitung

koefisien distribusi ammonia dengan menggunakan persamaan:

[ ammonia]kloroform
Kd=
[ ammonia]air

Sehingga diperoleh Kd ammonia sebesar 0,023.

3.3.2 Penentuan Rumus Kompleks Cu-Ammin

Penentuan rumus kompleks Cu-ammin dimulai dengan menambahkan 10

mL larutan NH3 1 M dan 10 mL larutan Cu2+ 0,1 M kedalam corong pisah 100

mL dan dikocok agar homogen. Ditambahkan 25 mL kloroform kedalam corong

pemisah dan kocok selama 5 menit. Didiamkan hingga terbentuk dua lapisan.

Kemudian dipisahkan kedua lapisan tersebut. Dipindahkan 10 mL larutan

kloroform ke dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL air dan ditambahkan indikator

MO. Dititrasi secara perlahan larutan ini dengan menggunakan larutan HCl

standar 0,055 M menggunakan buret 50 mL. Titik ekuivalen ditandai dengan

terjadinya perubahan warna . Diulangi titrasi untuk 10 mL kedua dan kemudian

untuk sisanya. Dari langkah ini dengan menggunakan harga koifisien distribusi,

dapat dihitung jumalah ammonia yang dalam air dan kloroform. Banyaknya

ammonia yang terkomplekskan dapat dihitung dengan mengurangi jumlah

ammonia dalam kloroform dan air dari jumlah total ammonia awal. Dengan
membandingkan jumlah mol ion Cu2+ dengan ammonia terkompleks dapat

ditentukan rumus kompleksnya. Rumus molekul kompleks dari ammin tembaga

(II) adalah [Cu(NH3)2]2+.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Hasil Pengamatan

4.1.1 Penentuan Koefisien Distribusi Amonia antara Air dan Kloroform

Tabel 4.1 Hasil penentuan koefisien distribusi amonia antara air dan kloroform
No Perlakuan Pengamatan
1. Dipipet 10 mL aquades dimasukkan ke Terbentuk 2 fase. Lapisan
dalam corong pisah 100 mL + 10 mL lapisan atas adalah air (keruh)
NH3 1 M dan dan 25 mL kloroform lapisan bawah kloroform
kemudian dikocok hingga homogen dan (bening) dan
didiamkan.
2. Dipipet 10 mL kloroform disimpan Larutan berwarna orange
dalam erlenmeyer yang berisi 10 mL air,
kemudian ditambahkan 3 tetes indikator
MO.
3. Dititrasi dengan HCl standar 0,055 M Larutan menjadi merah,
Volume HCl :
CHCl3 10 mL ke-1 = 4,2 mL
CHCl3 10 mL ke-2 = 4,1 mL
CHCl3 sisa = 4 mL
Vrata-rata HCl = 4,1 mL

4.1.1 Penentuan Rumus Kompleks Ammin-Tembaga(II)

Tabel 4.2 Hasil penentuan rumus kompleks ammin-tembaga(II).


No Perlakuan Pengamatan
1. Dipipet 10 mL NH3 1 M dimasukkan ke Terbentuk 2 fase. Lapisan
dalam corong pisah 100 mL + 10 mL Cu2+ bawah kloroform (bening)
0,1 M + 25 mL kloroform kemudian dan lapisan atas adalah Cu2+
dikocok hingga homogen dan didiamkan. (biru tua)
2. Dipipet 10 mL kloroform disimpan dalam Larutan berwarna orange
erlenmeyer yang berisi 10 mL air,
kemudian ditambahkan 3 tetes indikator
MO.
3. Dititrasi dengan HCl standar 0,055 M Larutan menjadi merah
CHCl3 10 mL ke-1 = 3,4 mL
CHCl3 10 mL ke-2 = 0,7 mL
CHCl3 sisa = 0,3 mL
Vrata-rata HCl =1,467 mL
4.2 Reaksi Lengkap

Cu2+ + 2 NH3 [Cu(NH3)2]2+

[Cu(OH)5]2+ + 2 NH3 [Cu(NH3)2]2+ + 2 H2O

4.3 Pembahasan

Senyawa ion logam yang berkoordinasi dengan ligan disebut dengan

senyawa kompleks. ligam zat netral atau anionik tetapi kation, seperti kation

tropilium juga dikenal. Ligan netral, seperti amoniak, NH3, atau karbon

monoksida, CO, dalam keadaan bebas pun merupakan molekul yang stabil,

sementara ligan anionik, distabilkan hanya jika dikoordinasikan ke atom logam

pusat. Ligan repsentatif di daftarkan di tabel menurut unsur yang mengikatnya.

Logam umum atau yang dengan rumus kimia rumit diungkapkan dengan

singkatannya.

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan rumus molekul kompleks

ammin-tembaga (II) berdasarkan koefisien distribusi ammonia ke dalam dua

pelarut yaitu air dan kloroform. Apabila amonia berlebih ditambahkan ke dalam

larutan Cu (II) yang telah diketahui jumlahnya maka akan terbentuk senyawa

kompleks. Untuk penetuan koefisien distribusi ammonia dalam air dan kloroform

digunakan prinsip ekstraksi pelarut dengan tujuan untuk diketahui berapa jumlah

ammonia yang terdistribusi ke dalam kedua pelarut tersebut. Pada ekstraksi

pelarut berlaku hukum distribusi yang menyatakan apabila suatu sistem terdiri

dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak saling bercampur satu sama lain,

dan ketika ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut), maka senyawa itu akan
terdistribusi (terpartisi) ke dalam kedua lapisan tersebut seperti yang telah

dijelaskan oleh Nerst.

Percobaan ini dilakukdan dengan dua kali perlakuan. Perlakuan pertama

penetuan koefisien distribusi ammonia dalam air dan kloroform. Sedangkan

perlakuan kedua penentuan rumus kompleks tembaga-ammin. Penentuan

koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform dilakukan dengan

pencampuran NH3 dan aquades di dalam corong pisah yang kemudian dikocok

selama 5-10 menit. Tujuan pengocokan dilakukan agar larutan dapat homogen.

Larutan yang telah homogen ditambahakan kloroform sebagai pelarut organik dan

kembali dikocok. Pengocokan bertujuan agar amonia terdistribusi ke dalam air

dan kloroform. Pada proses ini, tampak terjadi dua lapisan dimana lapisan atas

merupakan air dan lapisan bawah adalah kloroform. Hal ini terjadi karena antara

air dan klorofrom memiliki perbedaan massa jenis yang cukup jauh. Air memiliki

massa jenis sebesar 1 kg/L sedangkan massa jenis kloroform adalah 1,47 kg/L.

Selain itu, terbentuknya dua lapisan ini juga dipengaruhi oleh perbedaan

kepolaran air dengan klorofrom. Lapisan kloroform yang berada di bawah

dikeluarkan dan diambil 10 mL untuk dilakuakn titrasi dengan menggunakan

larutan standar HCl 0,055 M yang sebelumnya telah ditambahkan indikator metil

orange. Warna titran sebelumnya adalah orange dan setelah dititrasi larutan

menjadi warna merah. Titrasi dilanjutkan dengan 10 mL larutan kedua dan

kemudian sisanya. Perubahan warna ini menandakan bahwa larutan menjadi asam

dan pH larutan semakin menurun. Dimana kita ketahui bahwa HCl dapat berperan

dalam penurunan nilai pH larutan sehingga larutan yang pada awalnya bersifat
basa menjadi asam. Pada keadaan ini, volume HCl yang digunakan adalah 4,1 mL

sehingga koefisien distribusi NH3 dalam pelarut air dan kloroform diperoleh

sebesar 0,023.

Percobaan penentuan rumus kompleks ammin-tembaga(II) dilakukan

dengan pencampuran 10 mL larutan NH3 dengan 10 mL larutan ion Cu2+. Larutan

biru berubah menjadi biru tua karena terjadinya pendesakan ligan air oleh ligan

amonia. Larutan kemudian ditambahkan kloroform dan dikocok serta didiamkan

sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan atas adalah larutan Cu2+ yang terdistribusi

dalam ammonia sedangkan lapisan bawah adalah larutan Cu2+ dalam kloroform.

Larutan terbentuk dua lapisan karena disebabkan perbedaan kepolaran dan massa

jenis antara amonia dengan kloroform. Lapisan bawah dikeluarkan dan diambil 10

mL untuk dititrasi dengan larutan standar HCl yang sebelumnya telah

ditambahkan indikator metil orange. Dari hasil perhitungan jumlah mol ion Cu2+

dengan ammonia terkompleks diperoleh 2 dengan perbandingan 1:1 dan dengan

rumus kompleksnya adalah [Cu(NH3)2]2+. Sehingga atom NH3 bertindak sebagai

atom pusat.
BAB V
SIMPULAN

Simpulan dari percobaan ini bahwa KOEFISIEN DISTRIBUSI AMONIA

dalam pelarut air dan kloroform sebesar 0,023. Sedangkan rumus molekul

kompleks dari ammin tembaga (II) adalah [Cu(NH3)2]2+.


DAFTAR PUSTAKA

Bambang, Kuswandi B., dan Solecha, D.I. 2002. Penentuan Ion Cu (II) dalam
Sampel Air Secara Spektrofotometri Berbasis Reagen Kering TAR/PVC.
Jurnal Ilmu Dasar. 2(3).

Darmono. 1995. Logam dan Sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta: Universitas
Indonesia Press.

Hanson, Ruby. 2016. Ghanaian Teacher Trainees Conceptual Understanding of


Stoichiometry. Journal of Education and e-Learning Research. 1(3).

Lestari, I., Afrida, dan Aulia, S. 2014. Sintensis dan karakterisasi senyawa
kompleks logam Kadmium (II) dengan Ligan Kufperon. Jurnal Penelitian
Universitas Jambi Seri Sains, 1(16).

Marwati, Siti. 2010. Aplikasi Beberapa Ekstrak Bunga Berwarna sebagai


Indikator Alami pada Titrasi Asam Basa. Seminar Nasional. MIPA UNY.

Maulida, D., dan Naufal Z. 2010. Ekstraksi Antioksidan ( Likopen ) Dari Buah
Tomat Dengan Menggunakan Solven Campuran, N Heksana, Aseton,
Dan Etanol. Universitas Diponegoro. Semarang.

Mauliddawati, V.T., dan Purnomo, A.S. (2014). Biodegradasi Metil Orange Oleh
Jamur Pelapuk Coklat Daedalea Dickinsii. Jurnal Seni Dan Sains, 1(2).

Saito, Taro 1996. Kimia Anorganik. Permission of Iwanami Shoten. Tokyo.

Suciningrum, Endah. 2011. Sintesis dan karakterisasi kompleks tembaga (II)


dengan difenilamin. USM. Surakarta.

Sugiarto, Kristian H., dan Retno D. Suyanti. 2008. Kimia Anorganik Logam.
Graha Ilmu: Yogyakarta.
LAMPIRAN PROSEDUR KERJA

Penentuan Koefisien Distribusi Ammonia Antara Air Dan Kloroform

10 mL NH3 + 10 mL air

- Dimasukkan ke dalam corong pisah 100


mL
- Ditambahkan 25 mL kloroform
- Dikocok selama 5 menit

10 mL NH3 + 10 mL air +
25 mL kloroform

- Didiamkan sampai terbentuk dua lapisan


- Dipisahkan kedua lapisan

Lapisan amonia dalam kloroform Lapisan ammonia dalam air


- Dipindahkan 10 mL ke erelenmeyer yang berisi 10 mL air
- Ditambahkan indicator MO
- Dititrasi dengan larutan standar HCl 0,055 M
- Diulangi titrasi dengan 10 mL kedua dan sisanya
- Dihitung nilai Kd amonia

Kd ammonia= 0,023
Penentuan Rumus Kompleks Cu-Amin

10 mL NH3 1 M + 10
mL Cu2+

- Dimasukkan ke dalam corong pisah 100 mL


- Ditambahkan 25 mL kloroform
- Dikocok selama 5 menit
- Didiamkan sampai tampak 2 lapisan
- Dipisahkan kedua lapisan

Lapisan amonia dalam kloroform Lapisan ammonia dalam air

- Dipindahkan 10 mL kedalam
Erlenmeyer yang berisi 10 mL air
- Ditambahkan indicator MO
- Dititrasi dengan larutan standar HCl 0,055 M
- Diulangi titrasi dengan 10 mL kedua dan sisanya
- Ditentukan rumus kompleks Cu-amin

[Cu(NH3)2]2+
LAMPIRAN ANALISIS DATA

Penentuan Koefisien Distribusi Amonia antara Air dan Kloroform

Dik:

Volume HCl yang dipakai = 4,1 mL

[HCl]baku = 0,055 M

Volume NH3 dalam CHCl3 terpakai = 10 mL

Penye:

mol HCl mol NH3


V1. M1 = V2 . M 2
V1. M1 4,1 x 0,055
M2 = = 0,02255 M
V2 10

[NH3]kloroform = 0,02255 M

[NH3]air = [NH3]awal - [NH3]kloroform

[NH3]air = (1 0,02255) M

= 0,97745 M

[NH3 ]
Kd = [NH3 ]

0,02255
Kd = 0,97745

Kd = 0,023.

Penentuan Rumus Kompleks Ammin-Tembaga(II)

Dik:

Volume HCl yang dipakai = 1,467 mL


[HCl]baku = 0,055 M

Volume NH3 dalam CHCl3 terpakai = 10 ml

Peny:

mol HCl mol NH3


V1 . M1 = V2 . M 2
V1 . M1 1,467 x 0,055
M2 = = 0,00806 M
V2 10

[NH3]kloroform = 0,00806 M

[NH3]air bebas = 0,99194 M

[Cu-NH3] = 1,98388 M

= [NH3]awal - [NH3]kloroform + mol [NH3]air bebas
3

= (1 - 0,00806) + 0,99194

= 1,98388 M
1,98388
Mol Cu = 0,99194 = 2

Jadi rumus senyawa kompleksnya = [Cu(NH3)2]2+.

Anda mungkin juga menyukai