0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan22 halaman

Prosedur Suctioning pada Saluran Pernapasan

Bab I pendahualan memberikan latar belakang tentang tujuan penghisapan saluran napas pada anak, serta tujuan penulisan makalah ini untuk memahami prosedur suctioning. Bab II berisi penjelasan anatomi dan fisiologi sistem pernapasan mulai dari hidung, faring, laring, trachea, bronkus beserta gambaran klinis gangguan pernapasan.

Diunggah oleh

rudiyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
70 tayangan22 halaman

Prosedur Suctioning pada Saluran Pernapasan

Bab I pendahualan memberikan latar belakang tentang tujuan penghisapan saluran napas pada anak, serta tujuan penulisan makalah ini untuk memahami prosedur suctioning. Bab II berisi penjelasan anatomi dan fisiologi sistem pernapasan mulai dari hidung, faring, laring, trachea, bronkus beserta gambaran klinis gangguan pernapasan.

Diunggah oleh

rudiyanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

I.A Latar Belakang


Tujuan penghisapan pada jalan napas adalah mempertahankan jalan napas dan
meningkatkan ventilasi dan oksigenasi. Penghisapan seperti itu juga meminimalkan
resiko atelektasis ( Prasad, 1995 ).
Namun itu bukanlah sebuah prosedur mudah dan efek fisiologis yang merugikan
langsung dihubungkan dengan saluran udara hisap didokumentasikan dengan baik. Efek
ini dapat menjadi pengetahuan segera dan jangka panjang, dan karena itu prosedur dan
dampaknya adalah prasyarat untuk melakukan prosedur suctioning, seperti ketersediaan
fasilitas resusitasi penuh.
Prosedur penyedotan saluran napas adalah praktek umum dalam perawatan anak-anak
dengan berbagai patologi Paling sering dilakukan untuk menghilangkan sekresi
berlebihan atau saldo dari saluran pernapasan anak, itu juga mungkin diperlukan untuk
mendapatkan spesimen untuk pemeriksaan laboratorium.. Mungkin dilakukan sebagai
prosedur tunggal oleh perawat dan staf medis (atau kadang-kadang oleh orang tua), atau
mungkin dimasukkan ke dalam rezim fisioterapi dada.
Prinsip-prinsip yang digunakan sama apakah dari faring anak atau melalui napas
buatan (misalnya tabung trakea atau trakeostomi).

I.B Tujuan :
1. Tujuan Umum
Tujuan dari pembuatan makalah ini diantaranya agar mahasiswa dapat
mengerti tentang anatomi dan fisiologi pernapasan dan prosedur suctioning.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa dapat memahami pengertian suctioning, tujuan, indikasi dan
prosedur suctioning.

1
I.C Sistem Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini kelompok menggunakan sistematika penulisan:
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
Terdiri dari Latar Belakang, Tujuan Penulisan, dan Sistematika
Penulisan.

BAB II ISI
Terdiri dari
Pengertian, Indikasi dan Kontraindikasi, Prosedur

BAB III PENUTUP


Kesimpulan yang terdiri dari umum dan khusus

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

II.A Anatomi dan Fisiologi Sistem Pernapasan

Hidung

Nares anterior adalah saluran-saluran di dalam rongga hidung. Saluran-saluran itu


bermuara ke dalam bagian yang dikenal sebagai vestibulum. Rongga hidung dilapisi
sebagai selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, dan bersambung dengan
lapisan farinx dan dengan selaput lendir sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam
rongga hidung. Septum nasi memisahkan kedua cavum nasi. Struktur ini tipis terdiri dari
tulang dan tulang rawan, sering membengkok kesatu sisi atau sisi yang lain, dan dilapisi
oleh kedua sisinya dengan membran mukosa. Dinding lateral cavum nasi dibentuk oleh
sebagian maxilla, palatinus, dan os. Sphenoidale. Tulang lengkung yang halus dan
melekat pada dinding lateral dan menonjol ke cavum nasi adalah : conchae superior,
media, dan inferior. Tulang-tulang ini dilapisi oleh membrane mukosa.

Dasar cavum nasi dibentuk oleh os frontale dan os palatinus sedangkan atap cavum
nasi adalah celah sempit yang dibentuk oleh os frontale dan os sphenoidale. Membrana
mukosa olfaktorius, pada bagian atap dan bagian cavum nasi yang berdekatan,
mengandung sel saraf khusus yang mendeteksi bau. Dari sel-sel ini serat saraf melewati
lamina cribriformis os frontale dan kedalam bulbus olfaktorius nervus cranialis I
olfaktorius.

Inus paranasalis adalah ruang dalam tengkorak yang berhubungan melalui lubang
kedalam cavum nasi, sinus ini dilapisi oleh membrana mukosa yang bersambungan
dengan cavum nasi. Lubang yang membuka kedalam cavum nasi :

1. Lubang hidung
2. Sinus Sphenoidalis, diatas concha superior
3. Sinus ethmoidalis, oleh beberapa lubang diantara concha superior dan media dan
diantara concha media dan inferior
4. Sinus frontalis, diantara concha media dan superior
5. Ductus nasolacrimalis, dibawah concha inferior.

6. Pada bagian belakang, cavum nasi membuka kedalam nasofaring melalui appertura
nasalis posterior.
3
Faring (tekak)

adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya
dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang
larinx (larinx-faringeal). Orofaring adalah bagian dari faring merrupakan gabungan sistem
respirasi dan pencernaan.

Laring (tenggorok)

Terletak pada garis tengah bagian depan leher, sebelah dalam kulit, glandula tyroidea,
dan beberapa otot kecila, dan didepan laringofaring dan bagian atas esopagus.
Laring merupakan struktur yang lengkap terdiri atas:

1. cartilago yaitu cartilago thyroidea, epiglottis, cartilago cricoidea, dan 2


cartilago arytenoidea

2. Membarana yaitu menghubungkan cartilago satu sama lain dan dengan os.
Hyoideum, membrana mukosa, plika vokalis, dan otot yang bekerja pada plica
vokalis

Cartilago tyroidea berbentuk V, dengan V menonjol kedepan leher sebagai jakun.


Ujung batas posterior diatas adalah cornu superior, penonjolan tempat melekatnya
ligamen thyrohyoideum, dan dibawah adalah cornu yang lebih kecil tempat beratikulasi
dengan bagian luar cartilago cricoidea. Membrana Tyroide mengubungkan batas atas
dan cornu superior ke os hyoideum.

Membrana cricothyroideum menghubungkan batas bawah dengan cartilago


cricoidea.

Epiglottis

Cartilago yang berbentuk daun dan menonjol keatas dibelakang dasar lidah. Epiglottis
ini melekat pada bagian belakang V cartilago thyroideum.

Plica aryepiglottica, berjalan kebelakang dari bagian samping epiglottis menuju


cartilago arytenoidea, membentuk batas jalan masuk laring

Cartilago cricoidea

Cartilago berbentuk cincin signet dengan bagian yang besar dibelakang. Terletak
dibawah cartilago tyroidea, dihubungkan dengan cartilago tersebut oleh membrane

4
cricotyroidea. Cornu inferior cartilago thyroidea berartikulasi dengan cartilago tyroidea
pada setiap sisi. Membrana cricottracheale menghubungkan batas bawahnya dengan
cincin trachea I

Cartilago arytenoidea

Dua cartilago kecil berbentuk piramid yang terletak pada basis cartilago cricoidea.
Plica vokalis pada tiap sisi melekat dibagian posterio sudut piramid yang menonjol
kedepan

Membrana mukosa

Laring sebagian besar dilapisi oleh epitel respiratorius, terdiri dari sel-sel silinder
yang bersilia. Plica vocalis dilapisi oleh epitel skuamosa.

Plica vokalis

Plica vocalis adalah dua lembar membrana mukosa tipis yang terletak di atas
ligamenturn vocale, dua pita fibrosa yang teregang di antara bagian dalam cartilago
thyroidea di bagian depan dan cartilago arytenoidea di bagian belakang.

lica vocalis palsu adalah dua lipatan. membrana mukosa tepat di atas plica vocalis
sejati. Bagian ini tidak terlibat dalarn produksi suara.

Otot

Otot-otot kecil yang melekat pada cartilago arytenoidea, cricoidea, dan thyroidea,
yang dengan kontraksi dan relaksasi dapat mendekatkan dan memisahkan plica vocalis.
Otot-otot tersebut diinervasi oleh nervus cranialis X (vagus).

Respirasi

Selama respirasi tenang, plica vocalis ditahan agak berjauhan sehingga udara dapat
keluar-masuk. Selama respirasi kuat, plica vocalis terpisah lebar.

Fonasi

Suara dihasilkan olch vibrasi plica vocalis selama ekspirasi. Suara yang dihasilkan
dimodifikasi oleh gerakan palaturn molle, pipi, lidah, dan bibir, dan resonansi tertentu
oleh sinus udara cranialis.

5
Gambaran klinis

Laring dapat tersumbat oleh:

(a) benda asing, misalnya gumpalan makanan, mainan kecil

(b) pembengkakan membrana mukosa, misalnya setelah mengisap uap atau pada
reaksi alergi,

(c) infeksi, misalnya difteri,

(d) (d) tumor, misalnya kanker pita suara.

Trachea atau batang tenggorok

Adalah tabung fleksibel dengan panjang kira-kira 10 cm dengan lebar 2,5 cm.
trachea berjalan dari cartilago cricoidea kebawah pada bagian depan leher dan dibelakang
manubrium sterni, berakhir setinggi angulus sternalis (taut manubrium dengan corpus
sterni) atau sampai kira-kira ketinggian vertebrata torakalis kelima dan di tempat ini
bercabang mcnjadi dua bronckus (bronchi). Trachea tersusun atas 16 - 20 lingkaran tak-
lengkap yang berupan cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan
yang melengkapi lingkaran disebelah belakang trachea, selain itu juga membuat beberapa
jaringan otot.

Bronchus

Bronchus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian kira-kira
vertebrata torakalis kelima, mempunyai struktur serupa dengan trachea dan dilapisi
[Link] sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan kesamping ke arah
tampuk paru. Bronckus kanan lebih pendek dan lebih lebar, dan lebih vertikal daripada
yang kiri, sedikit lebih tinggi darl arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang
utama lewat di bawah arteri, disebut bronckus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang
dan lebih langsing dari yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelurn di
belah menjadi beberapa cabang yang berjalan kelobus atas dan bawah.

Cabang utama bronchus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronchus lobaris dan
kernudian menjadi lobus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronchus
yang ukurannya semakin kecil, sampai akhirnya menjadi bronkhiolus terminalis, yaitu
saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveoli (kantong udara). Bronkhiolus
terminalis memiliki garis tengah kurang lebih I mm. Bronkhiolus tidak diperkuat oleh

6
cincin tulang rawan. Tetapi dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah.
Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat bronkbiolus terminalis disebut saluran
penghantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai penghantar udara ke tempat
pertukaran gas paru-paru.

Alveolus yaitu tempat pertukaran gas assinus terdiri dari bronkhiolus dan
respiratorius yang terkadang memiliki kantong udara kecil atau alveoli pada dindingnya.
Ductus alveolaris seluruhnya dibatasi oleh alveoilis dan sakus alveolaris terminalis
merupakan akhir paru-paru, asinus [Link] disebut lobolus primer memiliki tangan
kira-kira 0,5 s/d 1,0 cm. Terdapat sekitar 20 kali percabangan mulai dari trachea sampai
Sakus Alveolaris. Alveolus dipisahkan oleh dinding yang dinamakan pori-pori kohn.

Paru-Paru

Paru-paru terdapat dalam rongga thoraks pada bagian kiri dan kanan. Paru-paru
memilki :

1. Apeks, Apeks paru meluas kedalam leher sekitar 2,5 cm diatas


calvicula.

2. Permukaan costo vertebra, menempel pada bagian dalam dinding dada.

3. Permukaan mediastinal, menempel pada perikardium dan jantung.

4. dan basis Terletak pada diafragma paru-paru juga Dilapisi oleh pleura
yaitu parietal pleura dan visceral pleura.

Di dalam rongga pleura terdapat cairan surfaktan yang berfungsi untuk lubrikasi. Paru kanan
dibagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, medius dan inferior sedangkan paru kiri dibagi dua
lobus yaitu lobus superior dan inferior. Tiap lobus dibungkus oleh jaringan elastik yang
mengandung pembuluh limfe, arteriola, venula, bronchial venula, ductus alveolar, sakkus
alveolar dan alveoli. Diperkirakan bahwa stiap paru-paru mengandung 150 juta alveoli,
sehingga mempunyai permukaan yang cukup luas untuk tempat permukaan/pertukaran gas.

Suplai Darah

1. arteri pulmonalis

2. arteri bronkialis

7
Innervasi

1. Parasimpatis melalui nervus vagus

2. Simpatis mellaui truncus simpaticus

Sirkulasi Pulmonal

Paru-paru mempunyai 2 sumber suplai darah, dari arteri bronkialis dan arteri
pulmonalis. Darah di atrium kanan mengair keventrikel kanan melalui katup AV lainnya,
yang disebut katup semilunaris (trikuspidalis). Darah keluar dari ventrikel kanan dan
mengalir melewati katup keempat, katup pulmonalis, kedalam arteri pulmonais. Arteri
pulmonais bercabang-cabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang masing-
masing mengalir keparu kanan dan kiri. Di paru arteri pulmonalis bercabang-cabang
berkali-kali menjadi erteriol dan kemudian kapiler. Setiap kapiler memberi perfusi kepada
saluan pernapasan, melalui sebuah alveolus, semua kapiler menyatu kembali untuk
menjadi venula, dan venula menjadi vena. Vena-vena menyatu untuk membentuk vena
pulmonalis yang besar.

Darah mengalir di dalam vena pulmonalis kembali keatrium kiri untuk menyelesaikan
siklus aliran darah. Jantung, sirkulasi sistemik, dan sirkulasi paru. Tekanan darah
pulmoner sekitar 15 mmHg. Fungsi sirkulasi paru adalah karbondioksida dikeluarkan dari
darah dan oksigen diserap, melalui siklus darah yang kontinyu mengelilingi sirkulasi
sistemik dan par, maka suplai oksigen dan pengeluaran zat-zat sisa dapat berlangsung
bagi semua sel.

II.B Definisi
Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan nafas
sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat dengan cara
mengeluarkan secret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya sendiri.
( Ignativicius, 1999 ).

Pengisapan dilakukan untuk menjaga agar jalan napas (hidung dan mulut) tetap bersih
dari mucus agar anak dapat bernafas dengan lebih mudah.

Penghisapan lendir adalah suatu metode pengeluaran lendir atau secret dari jalan
napas. Pengisapan ini biasa dilakukan melalui mulut, nasofaring atau trakea. Prosedur ini

8
bertujuan untuk mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan menjaga kelancaran dan
membebaskan jalan napas dari secret/lendir yang menumpuk.
([Link]

II.C Mempertahankan Kepatenan Jalan napas

Teknik pengisapan. Apabila klien tidak mampu mengeluarkan sekresi dari


saluran pernafasan dengan batuk, maka perawat harus melakukan pengisapan untuk
membersihkan jalan nafas. Tiga teknik pengisapan primer adalah pengisapan
orofaring dan pengisapan nasofaring , pengisapan orotrakhea dan pengisapan
nasotrakhea dan pengisapan jalan nafas buatan.
Teknik ini didasarkan pada prinsip umum. Karena orofaring dan trachea
dianggap steril maka dilakukan teknik steril untuk pengisapan. Mulut dianggap bersih
dan dengan demikian pengisapan sekresi oral dilakukan setelh pengisapan orofaring
dan trachea. Setiap tipe pengisapan melakukan penggunaan kateter dengan ujung
bulat dengan sejumlah lubang disepanjang sisi kateter pada ujung distal. Frekuensi
pengisapa ditetapkan dengan pengkajian klien. Apabila sekresi diidentifikasi dengan
tehnik inspeksi atau tehnik auskultasi , maka dilakukan pengisapan sputum tidak
diproduksi secara terus menerus atau setiap 1 atau 2 jam , tetapi sputum dihasilkan
sebagai respon terhadap kondisi patologis. Oleh karena itu, tidak ada rasional untuk
melakukan pengisapan setiap 1 sampai 2 jam pada semua klien.
Pengisapan nasofaring dan orofaring . orofaring terletak dibelakang mulut dari
palatum durum diatas tulang hyoid dan terdiri dari tonsil. Nasofaring terletak
dibelakang hidung dan membentang sampai palatum durum . pengisapan orofaring
dan nasofaring digunankan saat klien mampu batuk efektif, tetapi tidak mampu
mengeluarkan sekresi dengan mencairkan sputum dan menelannya. Apabila jumlah
sekresi paru berkurang dank lien tidak lagi terlalu letih , klien mampu mencairkan
atau menelan lendir sehingga tidak lagi dibuthhkan pengisapan.
Pengisapan nasotrakhea dan orotakhea. Pengisapan nasotrakhea dan
orotrakhea dibutukan pada klien dengan sekresi pulmonary yang tidak mampu batuk
dan tidak menggunakan jalan nafas buatan. Sebuah kateter diinsersikan kealam mulut
atau hidung sampai kedalam trachea. Rute melalui hidung lebih disukai Karena
stimulus reflex muntah minimal. Prossedur penatalaksanaan sama dengan prosedur
penghsapan nasofaring, tetapi ujung kateter diinsersikan lebih jauh kedalam tubuh
9
klien supaya dapat menghisap trakea. Apabila klien menggunakan oksigen tambahan,
kanula oksigen atau masker oksigen harus dipasang kembali selama periode istirahat.
Jalan nafas bantuan. Jalan nafas bantuan diindikasikan untuk klien yang
mengalami penurunan tingkat kesadaran, klien yang mengalami obstruksi jaln nafas,
klien yang menggunakan ventilasi mekanis dan mengangkat sekresi trakea bronchial.
Penghisapan trakea. Penghisapan trakea dilakukan dengan jalan nafas buatan,
seperti selang endotrakea atau selang trakeostomi. Kateter penghisap tidak boleh lebih
besar dari setengah ukuran diameter internal jalan nafas buatan. Pengangkatan sekresi
sedapat mungkin diupayakan tidak menyebabkan trauma. Untuk menghindari trauma,
jangan pernah melakukan penghisapan selama insersi kateter. Kateter dirotasikan
dengan penghisapan diberikan secara intermiten selama selang dilakukan. Perawat
dianjurkan untuk mengenakan masker dan pelindung mata saat melakukan suksion
untuk mencegah percikan cairan tubuh. Saat ini digunakan dua metode penghisapan.
Penghisapan terbuka dilakukan dengan menggunakan kateter suksion steril yang baru
dibuka, yang dipegang dengan sarung tangan steril. Penghisapan tertutup dilakukan
dengan penggunaan ganda kateter penghisap, yang dibungkus didalam sarung plastic
dan digunakan selam 24 jam.
Jalan nafas oral. Jalan nafas oral, tipe jalan nafas yang paling sederhana,
mencegah obstruksi trakea dengan memindahkan lidah ke dalam orofaring. Jalan
nafas oral membentang dari gigi ke orofaring, sehingga memungkinkan untuk
mempertahankan posisi lidah yang normal. Ukuran jalan nafas yang benar ditetapkan
dengan mengukur jarak dari sudut mulut ke sudut rahang tepat dibawah telinga.
Jalan nafas trakea. Jalan nafas trakea meliputi selang endotrakea, selang
nasotrakea, dan selang trakea. Selang-selang ini memungkinkan akses yang mudah ke
trakea klien sehingga penghisapan trakea dapat dilakukan dengan dalam. Karena ada
jalan nafas buatan, mukosa trakea klien tidak lagi dihumidifikasikan secara normal.
Perawat harus memastikan bahwa jalan nafas dilembabkan dengan melakukan
nebulasi atau dengan system pemberian oksigen. Humidifikasi ini bertujuan untuk
proteksi dan membantu mengurangi resiko penyumbatan jalan nafas.

II.D Indikasi dan Kontraindikasi

Indikasi dilakukannya penghisapan adalah adanya atau banyaknya secret yang


menyumbat jalan nafas, ditandai dengan :
10
3. Terdengar adanya suara pada jalan nafas

4. Hasil auskultasi : ditemukan suara crackels atau ronkhi

5. Nadi dan laju pernafasan meningkat

6. Ditemukannya mukus pada alat Bantu nafas

7. Permintaan dari klien sendiri untuk disuction

8. Meningkanya peak airway pressure pada mesin ventilator

Prosedur ini di kontraindikasikan pada klien yang mengalami :


1. Kelainan yang dapat menimbulkan spasme laring ( terutama sebagai
akibat pengisapan melalui trakea )
2. Gangguan perdarahan,
3. Edema laring,
4. Varises esophagus,
5. Pembedahan trakea,
6. Pembedahan gaster dengan anastomis.
7. Infark miokard.

II.E Peralatan
Hudak ( 1997 ) menyatakan persiapan alat scara umum untuk tindakan
penghisapan adalah sebagai berikut ;

a. Kateter suction steril yang atraumatik

b. Sarung tangan

c. Tempat steril untuk irigasi

d. Spuit berisi cairan NaCl steril untuk irigasi trachea jika diindikasikan

Tekanan hisap rekomendasi adalah:

60-80 mmHg (8-10 kPa) untuk neonatus


Sampai dengan 120 mmHg (<16 kPa) untuk anak-anak yang lebih tua (
Young, 1984 )

11
II.F Prosedur

1. Menginformasikan pasien dan Keluarga


Penjelasan yang sesuai dengan usia dan kondisi pasien harus diberikan bahkan
jika pasien tersebut tampaknya tidak sadar.
Anggota keluarga juga harus menerima penjelasan yang sesuai.
Menginformasikan pasien dan keluarga sebagai berikut:
1. Alasan dilakukannya suction
2. Apa saja yang dlibatkan
3. Potensi risiko suction
4. Durasi prosedur

12
5. Hasil yang diharapkan dari suction

2. Persiapan pasien

Pasien harus diposisikan tepat dan aman pada saat dilakukan suction.

Setiap spesifik pertimbangan / persyaratan masing-masing pasien harus


ditangani, misalnya:

Nebulised diberikan sebagai obat resep


Pra-oksigenasi

Hiperinflasi mungkin diperlukan untuk anak-anak ventilasi yang telah


mengurangi kepatuhan paru-paru, misalnya edema paru.

3. Kaji adanya kebutuhan untuk dilakukannya tindakan penghisapan.

(usahakan tidak rutin melakukan penghisapan karena menyebabkan kerusakan


mukosa, perdarahan, dan bronkospasme ).

4. Lakukan cuci tangan, gunakan alat pelindung diri dari kemungkinan terjadinya
penularan penyakit melalui secret.

5. Jelaskan kepada pasien mengenai sensasi yang akan dirasakan selama penghisapan

13
seperti nafas pendek, , batuk, dan rasa tidak nyaman.

6. Check mesin penghisap, siapkan tekanan mesin suction pada level < 120 mmHg
untuk menghindari hipoksia dan trauma mukosa Siapkan tempat yang steril

7. Lakukan preoksigenasi dengan O2 100% selama 30 detik sampai 3 menit untuk


mencegah terjadinya hipoksemia.

8. Secara cepat dan gentle masukkan kateter, jangan lakukan suction saat kateter
sedang dimasukkan

9. Tarik kateter 1-2 cm, dan mulai lakukan suction. Lakukan suction secara
intermitten , tarik kateter sambil menghisap dengan cara memutar. Jangan pernah
melakukan suction lebih dari 10 15 .

10. Hiperoksigenasi selama 1-5 menit atau bila nadi dan SaO2 pasien normal.

11. Ulangi prosedur bila diperlukan ( maksimal 3 x suction dalam 1 waktu )

12. Tindakan suction pada mulut boleh dilakukan jika diperlukan, lakukan juga mouth
care setelah tindakan suction pada mulut.

13. Catat tindakan dalan dokumentasi keperawatan mengenai karakteristik Sputum


(jumlah, warna, konsistensi, bau, adanya darah ) dan respon Pasien.

14
15
Prosedur Perawatan Suctioning di Rumah

Pedoman tertentu sangat bermanfaat untuk pasien yang mempunyai masalah


pembersihan mucus dari bagian belakang hidung dan mulut (faring). Untuk menjaga
agar mucus tetap cair sehingga mudah untuk dikeluarkan pengisapan dan batuk,
tambahkan pelembab yang diperlukan. Dorong anak untuk minum sedikitnya 1 liter air
sehari dan tempatkan humidifier uap dingin di ruangan di mana anak tidur. Ganti air
dalam humidifier setiap hari dan bersihkan humidifier dengan teratur sesuai instruksi
pabrik.
Semua orang yang membersihkan perawatan pada pasien harus mengetahui
bagaimana caranya melakukan pengisapan sehingga mereka dapat membantu amda.
Tempelkan nomor telepon darurat, seperti 118 (bila tersedia di area anda), rumah sakit
setempat, professional kesehatan anda, dan nomor nomor lain yang diperlukan, pada
setiap telepon yang ada di rumah.
Pengisapan dilakukan untuk menjaga agar jalan napas (hidung dan mulut)
tetap bersih dari mucus agar anak dapat bernafas dengan lebih mudah.
Bila ank mengalami flu, akan lebih banyak lagi mucus yang diproduksi, sehingga
anda perlu melakukan pengisapan dengan lebih seringh. pasien dapat batuk atau muntah
ketika anda memasukkan atau mengeluarkan kateter pengisap. Beri tahu anak dengan
perlahan ketika anda sudah hampir selesai. Bila anak sudah cukup besar, ajarkan ia
bagaimana caranya membantu anda dengan memegang alat.

Persiapan bahan
Botol dan wadah bersih
Cuci wadah margarine atau wadah plastic dan botol kaca yang berpenutup dalam
pencuci piring atau air panas bersabun dan bilas dengan baik. Gunakan handuk bersih
untuk mengiringkan atau biarkan mongering dengan sendirinya. Pertahankan agar alat
tetap bersih dan kering.

Larutan garam (salin) :


Rebus air selama 5 menit. Tambahkan sendok the garam pada setiap 2 cangkir
ait ketika anda memanaskan air. Biarkan mendingin, kemudian alirkan ke dalam wadah
gelas bersih dan tutupi. Simpan salin steril ini dalam lemari es.

16
Alat alat
Mesin pengisap dengan selang Kateter pengisap, Salin (dingin), Wadah bersih
untuk membilas kateter.

Instruksi
1. Siapkan alat.
2. Cuci tangan anda dengan sabun dan [Link] samapi 10 sambil mencuci, kemudian
bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kertas bersih atau handuk.
3. Buka kemasan kateter pengisap dan sambungkan dengan mesin pengisap.
4. Pastikan bahwa pengisap sudah dipasang dan dapat befungsi.
5. Ukur selang untuk jarak yang akan anda masukkan. Tempatkan ujung kateter pada
daun telinga anak anda tandai jaranya sampai ujung hidung anak. Pegang kateter pada
tanda ini (Gbr. 2).
6. Tempatkan ujung kateter dalam salin steril dan temapatkan ibu jari anda di atas
lubang untuk mendapatkan pengisapan. Salin membasahi kateter (Gbr. 3).
7. Beri tahu anak untuk menarik napas dalam.
8. Masukkan kateter pengisap pada salah satu lubang hidung untuk mengukur jarak
dengan ibu jari tidak menutupi lubang (tidak ada pengisapan) (Gbr. 4.A).
9. Tempatkan ibu jari anada pada lubang pengisap untuk mendapatkan pengisapan.
10. Putar atau pilin kateter dengan gerakan ,perlahan dan stabil pada saat anda
melepasnya (Gbr. 4.B). Baik pemasukkan kateter maupun pengisapan tidak boleh
lebih dari 5 detik. Ingat anak mungkin bernafas saat anda mengisap. Cobalah untuk
menahan napas anda saat ibu jari anda pada lubang pengisap. Hal ini akan
meningkatkan anda terhadap waktu.
11. Perhatikan mukus. Periksa adanya perubahan warna, bau, dan konsistensi.
12. Bilas kateter pengisap dengan larutan salin steril dengan ibu jari ada pada lubang
pengisap.
13. Biarkan anak menarik napas dalam beberapa kali.
14. Ulangi langkah 7 samapi 14 sebanyak 2 kali, bila perlu (untuk mukus yang jumlahnya
sangat banyak), kemudian ulangi untuk lubang yang lain.
15. Setelah pengisapanhidung, anda dapat menggunakan kateter yang sama untuk
membersihkan mulut anak.
16. Tempatkan ujung kateter dalam salin dan tempatkan ibu jari anda diatas lubang untuk
mengisap.
17. Beri tahu pasien untuk menarik napas dalam.

17
18. Dengan ibu jari anda tidak pada lubang pengisap (tidak ada pengisapan), masukan
kateter pengisap pada mulut anak sepanjang salah satu sisi mulut sampai selang
mencapai bagian belakang tenggorok.
19. Tempatkan ibu jari anda pada lubang pengisap untuk mendapatkan pengisapan.
20. Putar atau pilih kateter saat anda mengeluarkannya dengan gerakan mantap perlahan.
Pemasukkan kateter dan pengisapan tidak boleh lebih dari 5 detik. Ingat, anak
mungkin tidak bernapas saat anda mengisap. Cobalah menahan napas anda pada saat
ibu jari anda berada di lubang pengisap. Hal ini akan mengingatkan anda terhadap
waktu.
21. Perhatikan mukus. Periksa adanya perubahan warna, bau dan konsistensi.
22. Bilas kateter pengisap dengan larutan salin steril dengan ibu jari pada lubang
pengisap.
23. Biarkan anak menarik napas dalam beberapa kali.
24. Ulangi langkah 17 samapi 23 sampai 3 kali.
25. Gendong dan nyamankan anak.
26. Puji anak atas kerjasamanya.
27. Setelah setiap penggunaan, buang larutan salin dan cuci wadah. Mesin pengisap harus
bersih dan siap pakai untuk digunakan di waktu yang akan datang.
28. Profesional kesehatan anda akan mengistruksikan anda tentang perawatan kateter
pengisap.
29. Cuci tangan anda dengan sabun dan air. Hitung sampai 10 sambil mencuci, kemudian
bilas dengan air bersih dan keringkan dengan kertas bersih atau handuk.

INSTRUKSI PEMBERSIHAN KATETER PENGISAP

1. Bilas kateter pengisap dengan air kran dingin. Jangan menggunakan air panas karena
akan memasak mukus, yang membuatnya sulit untuk dibuang.
2. Tempatkan kateter dalam wadah bersih berisi air panas bersabun.
3. Bilas bagian dalam dan luar selang dengan air panas mengalir. Pegang selang dengan
penjepit sehingga anda tidak terbakar.
4. Kibaskan untuk menghilangkan air yang tersisa.
5. Untuk mengeringkannya letakkan diatas handuk kertas yang bersih. Bila selang sudah
kering secara menyeluruh, tempatkan pada kantong plastik bersih.
6. Tutup kantong dan simpan sampai waktu pengisapan berikutnya.
7. Bila anda melihat adanya kelembaban pada kantong, ulangi prosedur pembersihan
secara menyeluruh.

INSTRUKSI PENGGUNAAN ASPIRATOR NASAL

18
Apabila hidung pasien tersumbat oleh mukus encer atau berair, aspirator nasal sangat
membantu untuk menghilangkannya. Aspirator juga dapat digunakan bila hidung
tersumbat oleh mukus kering dan krusta. Tetes hidung harus digunakan terlebih dahulu
untuk melembabkan mukus sebelum dihilangkan. Tetes hidung hidung salin adalah
produk yang paling aman digunakan. Obat ini dapat dibeli atau dibuat di rumah. Untuk
membuat tetes hidung di rumah campurkan sendok teh garam dengan 1 cangkir atau
500 ml air hangat atau campuran yang yang diresepkan oleh professional kesehatan anda.
Larutan ini dapat disimpan pada wadah tertutup yang bersih. Gunakan pipet mata yang
bersih untuk memasukkan larutan pada hidung anak, atau basahi bola kapas dan biarkan
salin menetes dalam hidung. Setelah mukus yang kering itu diangkat, barulah aspirator
nasal daapt digunakan.

Instruksi Perawatan Di Rumah


Pengisapan Hidung Dan Mulut
Instruksi
1. Peras ujung bulat bulb untuk mengeluarkan udara.

2. Tempatkan ujung bulb dengan tepat ke dalam salah satu lubang hidung.

3. Biarkan bulb masuk dengan perlahan, bulb akan mengisap mukus keluar dari hidung.

4. Pada saat bulb dikembungkan lagi, keluarkan dari hidung.

5. Peras bulb ke dalam tisu untuk mengeluarkan mukus.

6. Ulangi langkah 1 sampai 5 untuk sisi hidung yang lain.

7. Ulang proses ini sesering yang diperlukan untuk menjaga kebersihan hidung.

Membersihkan aspirator nasal

Bersihkan aspirasor nasal dengan mengisinya air hangat. Kemudian peras bulb untuk
menghilangkan air dan mukus. Isi ulang bulb dengan air dan didihkan selama 10 menit.
Biarkan bulb mendingin dan sebelum digunakan kembali, air diperas keluar.

19
BAB III
PENUTUP

III.A Kesimpulan

Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk


mempertahankan jalan nafas sehingga memungkinkan terjadinya proses

20
pertukaran gas yang adekuat dengan cara mengeluarkan secret pada klien yang
tidak mampu mengeluarkannya sendiri.

III.B Saran
Setelah diperoleh kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, maka
dapat diajukan saran-saran bagi pengembangan pendidikan mahasiswa pada
khususnya, mahasiswa dapat mengetahui definisi pengkajian dalam
keperawatan serta konsep dasar pengkajian untuk penerapan pelayanan
kesehatan asuhan keperawatan oleh perawat.

DAFTAR PUSTAKA

Urachmah, Elly dan Ratna S. Sudarsono.2000. Buku Saku Prosedur Keperawatan Medikal
[Link]: EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda [Link]. 20001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah.
Jakarta: EGC
Eliastam, M., Sternbach, G., & Bresler, M. (1998). Buku saku : Penuntun kedaruratan medis.

21
( edisi 5 ). Jakarta ; EGC.

[Link]

22

Anda mungkin juga menyukai