BAB III.
PEMBAHASAN
A. Prinsip Pengasapan
Proses pengasapan ikan merupakan gabungan aktifitas penggaraman,
penggeringan dan pengasapan. Adapun tujuan utama proses penggaraman dan
penggeringan adalah membunuh bakteri dan membantu mempermudah
melekatnya partikel-partikel asap waktu proses pengasapan berlangsung.
Dalam proses pengasapan,unsur yang paling berperan adalah asap yang
dihasilkan dari pembakaran kayu. Pada pengasapan menghasilkan efek
pengawetan yang berasal dari beberapa senyawa kimia yang terkandung di
dalamnya, khususnya senyawa-senyawa :
-Aldehide ( formaldehide dan acetaldehyde)
-Asam-asam organic (asam semut dan asam cuka)
B. Bahan Baku
a. Ikan
Ikan yang akan diolah harus dalam keadaan segar dan tidak mengalami
cacat fisik. Berbagai jenis ikan diolah menjadi produk asap misalnya tongkol,
cucut, tenggiri, belanak, bandeng, cumi-cumi, dll
b. Bahan Bakar / Kayu
Untuk menghasilkan ikan asap yang bermutu tinggi sebaiknya digunakan
jenis kayu yang mampu menghasilkan asap dengan kandungan unsure phenol dan
asam organik tinggi, karena kedua unsur lebih banyak melekat pada tubuh ikan
dan dapat menghasilkan rasa, aroma maupun warna daging ikan asap yang khas.
Sebaiknya digunakan jenis kayu yang keras atau tempurung kelapa sebagai bahan
bakar.
C. Metode Pengasapan
Pengasapan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengasapan dingin dan
pengasapan panas
a. Pengasapan dingin (cold smoking) adalah proses pengasapan dengan cara
meletakkan ikan yang akan diasap agak jauh dari sumber asap (tempat
pembakaran kayu), dengan suhu sekitar 40 500C dengan lama proses
pengasapan beberapa hari sampai dua minggu
b. Pengasapan panas ( hot smoking )
Pengasapan panas (hot smoking) adalah proses pengasapan ikan dimana
akan diasapi diletakkan cukup dekat dengan sumber [Link] sekitar 70
1000C, lamanya pengasapan 2 4 jam
D. Cara Membuat Ikan Asap
1. Buang insang dan isi perut melalui tutup insang / rongga mulut dengan
menggunakan pinset atau kawat lengkung
2. Cuci bersih dan tiriskan
3. Buat larutan garam 20 25% ( untuk 8 kg ikan siapkan 5 liter air dan
tambahkan 1 1 kg gram )
4. Rendam ikan dalam larutan garam tersebut selama 30 60 menit dan beri
pemberat di atasnya agar ikan tidak terapung
5. Cuci ikan , kemudian tiriskan sambil diangin-anginkan sampai permukaan ikan
kelihatan kering. Penirisan ikan dengan cara mengantung ikan pada kawat
(mengait bagian anus dengan posisi mulut di bawah)
6. Nyalakan kayu bakar dalam rumah asap, sampai didapat asap dengan
temperature ruang 60 700C
7. Atur ikan di atas rak pengasapan kemudian lakukan proses pengasapan sampai
ikan matang dan berwarna kuning kecoklatan mengkilap
8. Keluarkan rak ikan dari rumah asap dan biarkan hingga dingin.
H. Pengawetan Ikan
Menurut perkiraan FAO,2 % dari hasil tangkapan ikan dunia diawetkan
dengan cara pengasapan sedangkan di negara-negara tropik jumlahnya mencapai
30%. Seperti halnya dengan metode-metode pengawetan tradisional,asal mula
penemuan pengawetan ikan dengan cara pengasapan mungkin secara kebetulan
aja di mana sewaktu ikan dikeringkan di atas nyala api yang berasap ternyata
selain menjadi lebih awet ikan juga mempunyai rasa dan aroma yang sedap
Ikan asap merupakan produk akhir yang siap untuk dimakan artinya tanpa
diolah lagi sudah dapat disantap. Di beberapa negara Eropa, ikan asap merupakan
makanan yang biasa disantap pada waktu sarapan pagi. Dibandingkan dengan cara
pengawetan ikan dengan cara penggaraman atau pengasinan, pengawetan ikan
dengan cara pengasapan di Indonesia kurang begitu luas dipraktikkan, hal ini
mungkin disebabkan pemasarannya yang agak sulit, karena konsumen ikan asap
masih sangat terbatas
.
II. Prinsip Pengawetan Ikan Dengan Cara Pengasapan
Asap kayu terdiri dari uap dan padatan yang berupa partikel-partikel yang
amat kecil yang keduanya mempunyai komposisi kimia yang sama tetapi dalam
perbandingan yang berbeda. Senyawa-senyawa kimia yang menguap diserap oleh
ikan terutama dalam bentuk uap, senyawa tersebut memberikan warna dan rasa
yang diinginkan pada ikan asap. Partikel-partikel padatan tidak begitu penting
pada proses pengasapan dan asap akan mengawetkan makanan karena adanya aksi
desinfeksi dari formaldehid, asam asetat dan phenol yang terkandung dalam asap.
Butiran-butiran asap mengambil peranan penting dalam pewarnaan.
Pengeringan mempunyai fungsi penting dalam pengawetan ikan asap, kecepatan
penyerapan asap kedalam daging ikan dan pengeringannnya tergantung kepada
banyaknya asap yang terjadi, suhu dan kandungan air dari ikan yang diasapi.
Bila kayu atau serbuk kayu dibakar, maka selulose akan diuraikan menjadi
alkohol-alkohol berantai lurus yang lebih pendek, aldehid-aldehid, keton-keton
dan asam-asam organic. Selain lignin diuraikan menjadi turunan-turunan phenol,
quinol, guaikol dan piragatol. Dengan menggunakan teknik kromatografi kertas
telah diketahui adanya kurang lebih 20 macam senyawa kimia dalam asap.
Persentase setiap senyawa kimia pada asap yang dihasilkan tergantung kepada
jenis kayu yang digunakan.
Untuk mendapatkan ikan asap yang bermutu tinggi maka harus digunakan
jenis kayu keras ( non-resinous) atau sabut dan tempurung kelapa, sebab kayu-
kayu yang lunak akan menghasilkan asap yang mengandung senyawa-senyawa
yang dapat menyebabkan hal-hal dan bau yang tidak diinginkan.
Tinggi rendahnya efisiensi proses pengeringan dipengaruhi oleh
kelembaban udara sekelilingnya, bila udara dingin yang masuk kedalam unit
pengasapan dipanasi, maka beratnya kan manjadi lebih ringan daripada udara di
luar, dan udara ini akan masuk atau naik dengan cepat ke unit pengasapan dan
melintasi ikan-ikan [Link] uap air yang diserap oleh udara
tergantung suhunya, jadi bila udara dingin dipanasi maka kapasitas pengeringan
akan lebih [Link] keadaan lembab, udara jenuh yang telah panas tidak dapt
dipanasi lagi secara cepat untuk mengurangi kandungan uap airnya dan oleh
karena itu kapasitas menurun.
Jadi pada tahap pengasapan, kecepatan penguapan air tergantung pada
kapasitas pengering udara dan asap juga kecepatan pengaliran asap. Pada tahap
kedua, dimana permukaan ikan sudah agak kering suhu ikan akan mendekati suhu
udara dan [Link] pengeringan akan menjadi lambat karena air harus
merembes dahulu dari lapisan dalam daging ikan,bila pengeringan mula-mula
dilakukan pada suhu yang terlalu tingi dan terlalu cepat, maka permukaan ikan
akan menjadi keras dan akan menghambat penguapan air selanjutnya dari lapisan
dalam,sehingga kemungkinan daging ikan bagian dalam tidak mengalami efek
pengeringan.
III. Macam-Macam Cara Pangasapan Dan Peralatan
Ada 2 cara pengasapan utama yang biasa dilakukan ialah Pengasapan
Dingin (cold smoking) dan Pengasapan Panas (hot smoking), pada pengasapan
dingin suhu asap tidak boleh melebihi 400C, kelembaban nisbi (R.H) yang terbaik
antara 60 70%. Di atas 70% proses pengeringan berlangsung sangat lambat dan
di bawah 60 % permukaan ikan akan mengering terlalu cepat, kadar air ikan asap
yang dihasilkan dengan cara pengasapan dingin relatif rendah, sehingga
pengasapan terutama diterapkan untuk tujuan pengawetan ikan (ikan asapnya
lebih awet dari pada yang dihasilkan dengan cara pengasapan panas).
Pada pengasapan panas, suhu asap mencapai 1200C atau lebih dan suhu
pada daging ikan bagian dalam dapat mencapai 600C. Kadar air ikan asap yang
dihasilkan relatif masih tinggi, sehingga daya awetnya lebih rendah daripada yang
dihasilkan dengan cara pengasapan dingin. Pengasapan panas biasanya
menghasilkan ikan asap yang mempunyai rasa yang baik. Untuk memperoleh rasa
ikan asap yang diinginkan, perlu dilakukan variasi pada penggaraman dan
perlakuan-perlakuan pendahuluannya
Peralatan yang dipergunakan pada pengasapan panas dan pengasapan
dingin ialah kamar asap tradisional atau mekanik, kamar tradisional sangat
sederhana dan ikan hanya di gantungkan di atas api yang berasal dari serbuk
gergaji. Kontrol terhadap jumlah panas dan asap yang dihasilkan sangat sulit
dilakukan, oleh karena itu dalam usaha memperbaiki proses pengasapan telah
dikembangkan berbagai pola kamar asap mekanik. Dalam kamar asap mekanik ini
suhu dan asap yang mengalir kedala kamar asap dapat dikontrol dengan baik dan
mudah.
IV. Proses-Proses Pada Pengasapan Yang Mempunyai Efek Pengawetan
Pada pengasapan terdapat beberapa proses yang mempunyai efek
pengawetan, yaitu : penggaraman, pengeringan, pemanasan dan pengasapannya
sendiri.
A. Penggaraman
Proses penggaraman dilakukan sebelum ikan diasapi, penggaraman dapat
dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara penggaraman kecil ( dry salting)
dan penggaraman basah atau larutan (brine salting). Penggaraman menyebabkan
daging ikan menjadi lebih kompak, karena garam menarik air dan
menggumpalkan protein dalam daging ikan. Pada konsentrasi tertentu,garam
dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Disamping itu garam juga menyebabkan
daging ikan menjadi enak.
B. Pengeringan
Ikan yang sudah digarami dan ditiriskan dimasukkan ke dalam kamar asap yang
berisi asap panas hasil pembakaran. Pemanasan secara tidak langsung
menyebabkan terjadinya penguapan air pada daging ikan, sehingga permukaan air
dan dagingnya mengalami pengeringan. Hal ini akan memberikan efek
pengawetan karena bakteri-bakteri pembusuk lebih aktif pada produk-produk
berair. Oleh karena itu, proses pengeringan mempunyai peranan uang sangat
penting dan ketahanan mutu produk tergantung kepada banyaknya air yang
diuapkan.
C. Pemanasan
Ikan dapat diasapi dengan pengasapan panas atau dengan pengasapan
dingin. Pada pengasapan dingin panas yang timbul karena asap tidak begitu tinggi
efek pengawetannya hamper tidak ada. Untuk meningkatkan daya awet ikan,
waktu untuk penasapan harus diperpanjang. Pada pengasapan panas karena jarak
antara sumber api (asap) dengan ikan biasanya dekat, maka suhunya lebih tinggi
sehingga ikan menjadi masak. Suhu yang tinggi dapat menghentikan aktifitas
enzim-enzim yang tidak diinginkan, menggumpalkan protein ikan dan
menguapkan sebagian air dari dalam jaringan daging ikan. Jadi disini ikan selain
diasapi juga terpanggang sehingga dapat langsung dimakan
D. Pengasapan
Tujuan dari pengasapan adalah utnuk mengawetkan dan member warna
dan rasa spesifik pada ikan. sebenarnya asap sendiri daya pengawetnya sangat
terbatas (yang tergantung kepada lama dan ketebalan asap), sehingga agar ikan
dapat tahan lama, pengasapan harus dikombinasikan dengan cara-cara pengawetan
lainnya, misalnya dengan pemakaian zat-zat pengawet atau penyimpanan pada
suhu rendah.
[Link] Dan Kekurangan Dalam Pengasapan Ikan
A. Daya Awet Ikan
Seperti telah disebutkan tadi, bahwa asap mengandung zat-zat yang dapat
menghambat pertumbuhan bahkan membunuh bakteri-bakteri pembusuk. Namun
jumlah zat-zat tersebut yang terserap selama ikan diasapi sangat sedikit sekali,
sehingga daya awetnya sangat terbatas.
B. Rupa Ikan
Kulit ikan yang sudah diasapi biasanya akan menjadi [Link] ini
disebabkan karena terjadinya reaksi-reaksi kimia di antara zat-zat yang terdapat
dalam asap, yaitu antara formaldehid dengan phenol yang menghasilkan lapisan
damar tiruan pada permukaan ikan sehingga menjadi mengkilap. Untuk
berlangsungnya reaksi ini diperlukan suasan asam dan asam ini telah tersedia di
dalam asap itu sendiri.
C. Warna Ikan
Warna ikan asap yang baik biasanya kuning emas sampai kecoklatan dan warna
ini timbul karena terjadinya reaksi kimia antara phenol dari asap dengan oksigen
dari udara
D. Rasa Ikan
Setelah diasapi ikan mempunyai rasa yang sangat spesifik, yaitu rasa keasap-
asapan yang sedap. Rasa tersebut dihasilkan oleh asam-asam organic dan phenol
serta zat-zat lain sebagai pembantu
Pengasapan ikan mempunyai beberapa kelemahan, antara lain:
tekstur ikan dapat berubah menjadi keras terutama jika pengasapan
dilakukan pada suhu rendah dalam waktu lama.
proses pengasapan secara sempurna memerlukan waktu yang cukup lama.
ikan asap yang teksturnya menjadi sangat keras diperlukan proses rehidrasi
(pembasahan kembali) sebelum ikan dapat dikonsumsi.
VII. Kesimpulan
Ikan yang diawetkan dengan pengasapn hanya mempunyai daya awet yang
relative singkat,tergantung kepada kesegaran ikan yang dipakai,lama pengasapan,
banyaknya asap yang terserap, serta kadar garam dan kadar air pada produk
[Link] memperpanjang daya awet dapat dilakukan dengan cara
mengkombinasikannya dengan cara-cara pengawetan lainnya, misalnya
menggunakan zat-zat pengawet ( preservative), penggalengan atau penyimpanan
pada suhu renda. Menurut hasil percobaan yang dilakukan di Lembaga Penelitian
Teknologi Perikanan, ikan bandeng yang diasap dengan cara kombinasi
pengasapan panas dan dinginbila disimpan pada suhu kamar hanya tahan sampai 7
hari, sedangkan bila disimpan pada suhu rendah (+30C) dapat tahan lebih dari 150
hari. Kadar garam dan kadar air bandeng asap tersebut masing-masing 4% 57%.
DAFTAR PUSTAKA
Budiman, M.S. 2004. Teknik Penggaraman dan Pengeringan. Departemen
Pendidikan Nasional. Direktorat Pemasaran Dalam Negeri. 2012. Warta Pasar
Ikan dan Kemandirian Pangan. Dirjen PPHP Effendi, M.I. 1979. Biologi
Perikanan. Yayasan Pustaka Tama. Yogyakarta. Ishikawa K.1988. Teknik
Penuntun Pengendalian Mutu (Terjemahan). Di dalam Muhandri T dan D.
Kasarisma. Sistem Jaminan Mutu Industri Pangan. Bogor. IPB Press. Moeljanto
R. 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil Perikanan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tri Margono, Detty Suryati, Sri Hartinah, Buku Panduan Teknologi Pangan, Pusat
Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPIbekerjasama dengan Swiss
Development Cooperation, 1993 Teknologi [Link] : Direktorat
Pengembangan dan Perluasan Kerja, 1983. Seri PengolahanPangan. Hal. 14-16
jufry zelyn /jufryzelyn jufry dan selin Selengkapnya... IKUTI Memuat... 0 0 0
KOM
Laporan Formalin
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu produk makanan seperti mie basah memiiki kadar air yang
tergolong tinggi sehingga daya awetnya rendah. Penyimpanan mie basah pada
suhu kamar selama 40 jam menyebabkan tumbuhnya kapang. Untuk itu, dalam
pembuatan mie basah diperlukan bahan pengawet agar mie bisa bertahan lebih
lama.
Mungkin karena faktor ketidaktahuan banyak produsen yang menggunakan
formalin sebagai pengawet. Selain memberikan daya awet, bahan tersebut juga
murah harganya dan dapat memperbaiki kualitas produk makanan. Menurut
beberapa produsen, penggunaan formalin pada produk makanan akan
menghasilkan produk yang lebih awet, yaitu dapat disimpan hingga 4 hari.
Menurut Winarno dan Rahayu (1994), pemakaian formalin pada makanan
dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. Gejala yang biasa timbul
antara lain sukar menelan, sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret
berdarah, timbulnya depresi susunan saraf, atau gangguan peredaran darah.
Konsumsi formalin pada dosis sangat tinggi dapat mengakibatkan konvulsi
(kejang-kejang), haematuri (kencing darah), dan haimatomesis (muntah darah)
yang berakhir dengan kematian injeksi formalin dengan dosis 100 gram dapat
mengakibatkan kematian dalam waktu 3 jam. Oleh karena itu perlu diakukan
praktikum tentang uji formalin pada beberapa produk makanan.
1.2 Tujuan
1. Mengetahui cara mengidentifikasi formalin dalam bahan pangan dan makanan.
2. Mengetahui ciri-ciri makanan yang mengandung formalin.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Formalin
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk.
Didalam formalin mengandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air, biasanya
ditambah methanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin dikenal sebagai
bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri. Nama
lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid,
Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform, Superlysoform,
Formaldehyde, dan Formalith ( Astawan, 2006 ).
2.2 Karakteristik Formalin
Berat Molekul Formalin adalah 30,03 dengan Rumus Molekul HCOH.
Karena kecilnya molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel
tubuh. Gugus karbonil yang dimilikinya sangat aktif, dapat bereaksi dengan gugus
NH2 dari protein yang ada pada tubuh membentuk senyawa yang mengendap
(Harmita, 2006).
Menurut Hart (1983), formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan
baunya sangat menusuk. Di dalam larutan formalin terkandung 30-50% gas
formaldehid dan ditambahkan metanol sebanyak 10-15% untuk mencegah
terjadinya polimerisasi formaldehid.
Formaldehid merupakan bentuk aldehid yang paling sederhana.
Formaldehid bersifat mudah terbakar, berbau tajam, tidak berwarna, dan mudah
dipolimerisasi pada suhu ruang. Formadehid bersifat larut di dalam air, aseton,
benzene, dietil eter, kloroform, dan etanol (IARC, 1982).
Pada suhu 150C, formaldehid mudah terdekomposisi menjadi metanol
dan karbonmonoksida. Formaldehid mudah dioksidasi oleh oksigen di atmosfer
membentuk asam format, yang kemudian diubah menjadi karbondioksida oleh
sinar matahari (WHO, 2002). Karakteristik fisiko kimia formaldehid menurut
WHO (2002) :
Nama Formaldehid,metanal, metil aldehid,
metilen oksida
Struktur
Rumus kimia H2CO
Berat molekul 30.03
Titik leleh -118 to -92 C
Titik didih -21 to -19 C
Triple point 155.1 K (-118.0 C)
Densitas 1.13 x 103 kg/m3
Tekanan Uap (Pa, 25C) 516000
Kelarutan (mg/liter, 25C) 400000 - 550000
Faktor konversi 1 ppm = 1.2 mg/m3
2.3 Fungsi Formalin
Penggunaan formalin antara lain sebagai pembunuh kuman sehingga
digunakan sebagai pembersih lantai, gudang, pakaian dan kapal, pembasmi lalat
dan serangga lainnya, bahan pembuat sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan
bahan peledak. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan untuk pengeras lapisan
gelatin dan kertas, bahan pembentuk pupuk berupa urea, bahan pembuatan produk
parfum, bahan pengawet produk kosmetik dan pengeras kuku, pencegah korosi
untuk sumur minyak, bahan untuk isolasi busa, bahan perekat untuk produk kayu
lapis (playwood), dalam konsentrasi yang sangat kecil ( < 1 % ) digunakan
sebagai pengawet, pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut,
perawat sepatu, shampo mobil, lilin dan karpet ( Astawan, 2006 ).
2.4 Macam-macam Metode Uji Formalin
2.4.1 Uji kualitatif
a. Dengan Fenilhidrazina
Menimbang seksama 10 gram sampel kemudian memotong kecil-kecil,
dan memasukkan ke dalam labu destilat, menambahkan aquadest 100 ml kedalam
labu destilat, mendestilasi dan menampung filtrat dengan menggunakan labu ukur
50 ml. Mengambil 2-3 tetes hasil destilat sampel, menambahkan 2 tetes
Fenilhidrazina hidroklorida, 1 tetes kalium heksasianoferat (III), dan 5 tetes HCl.
Jika terjadi perubahan warna merah terang (positif formalin) (Ditjen POM, 1979).
b. Dengan asam kromatofat
Mencampurkan 10 gram sampel dengan 50 ml air dengan cara
menggerusnya dalma lumpang. Campuran dipindahkan ke dalam labu destilat dan
diasamkan dengan H3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan pendingin dan
didestilasi. Hasil destilasi ditampung.
Larutan pereaksi Asam kromatofat 0,5% dalam H2SO4 60% (asam 1,8
dihidroksinaftalen 3,6 disulfonat) sebanyak 5 ml dimasukkan dlam tabung reaksi,
ditambahkan 1 ml larutan hasil destilasi sambil diaduk. Tabung reaksi
dimasukkan dalam penagas air yang mendidih selam 15 menit dan amati
perubahan warna yang terjadi. Adanya HCHO ditunjukkan dengan adanya warna
ungu terang sampai ungu tua (Cahyadi, 2008).
c. Dengan Larutan Schiff
Menimbang 10 gram sampel dan dipotong potong kemudian dimasukkan
kedalam labu destilat, ditambahkan 50 ml air, kemudian diasamkan dengan 1 ml
H3PO4. Labu destilat dihubungkan dengan pendingin dan didestilasi. Hasil
destilasi ditampung labu ukur 50 ml. Diambil 1 ml hasil destilat dalam tabung
reaksi, ditambahkan 1 ml H2SO4 1:1 (H2SO4 pekat) lewat dinding, kemudian
ditambahkan 1 ml larutan schiff, jika terbentuk warna ungu maka positif formalin.
4.2.2 Uji Kuantitatif
a. Dengan metode Asidialkalimetri
Dipipet 10,0 ml hasil destilat dipindahkan ke erlenmeyer, kemudian
ditambah dengan campuran 25 ml hidrogen peroksida encer P dan 50 ml natrium
hidroksida 0,1 N. Kemudian dipanaskan di atas penangas air hingga pembuihan
berhenti, dan dititrasi dengan asam klorida 0,1 N menggunakan indikator larutan
fenolftalein P. Dilakukan penetapan blanko, dipipet 50,0 ml NaOH 0,1 N,
ditambah 2-3 tetes indikator fenolftalein, dititrasi dengan HCl 0,1 N. Dimana 1 ml
natrium hidroksida 0,1 N ~ 3,003 mg HCHO (Ditjen POM, 1979).
b. Dengan metode Spektrofotometri
1. Asam Kromatofat
Dibuat larutan baku induk dari konsentrasi 1000 ppm dari formalin 37 %,
kemudian diencerkan dalam labu takar 100 ml dengan aquadest sampai tanda
batas, kemudian larutan tersebut dibuat larutan baku standar. Larutan pereaksi
asam kromatofat 5 ml dimasukkan kedalam tabung reaksi kemudian ditambahkan
1 ml larutan standar formalin sambil diaduk tabung reaksi ditangas selam 15
menit dalam penangas air yang mendidih, angkat dan didinginkan. Penetapan
kadar formalin sampel, mencampurkan 10 g sampel dengan 50 ml aquadest
dengan cara menggerusnya didalam lumpang. Kemudian didestilat dan diasamkan
dengan H3PO4, ditampung dengan labu ukur 50 ml. Ditambahkan 5 ml asam
kromatofat. Kemudian diukur absorbansi sampel dan standar dengan panjang
gelombang 560 nm dan dihitung kadar formalinnya (Cahyadi, 2008).
2. Larutan Schiff
Diambil 5,0 ml hasil destilat kemudian ditambahkan ditambahkan 1 ml
H2SO4 1:1 (H2SO4 pekat) lewat dinding, kemudian ditambahkan 1,0 ml larutan
schift. Dibaca dengan spektrofotometri. Dibuat juga blanko serta baku seri.
Dengan dicari panjang gelombang optimum, lama waktu kestabilan pada
spektrofotometer, dan kurva baku standar formalin.
2.5 Karakteristik Sampel
2.5.1 Tahu
Tahu merupakan produk kedelai non-fermentasi yang disukai dan
digemari di Indonesia seperti halnya tempe, kecap, dan tauco. Tahu adalah salah
satu produk olahan kedelai yang berasal dari daratan Cina. Pembuatan tahu dan
susu kedelai ditemukan oleh Liu An pada zaman pemerintahan Dinasti Han, kira-
kira 164 tahun sebelum Masehi (Shurtleff dan Aoyagi 2001). Kata tahu berasal
dari bahasa Cina yaitu tao-hu, teu-hu/tokwa. Kata tao/teu berarti kacang untuk
membuat tahu, orang menggunakan kacang kedelai kuning (putih) yang disebut
wong-teu (wong = kuning). Hu/kwa itu artinya rusak, lumat, hancur, menjadi
bubur. Kedua istilah itu digabungkan menjadi tahu. Pengertian tahu adalah
makanan yang terbuat dari kedelai yang dilumatkan atau dihancurkan menjadi
bubur (Kastyanto 1999).
Tahu adalah suatu produk makanan berupa padatan lunak yang dibuat
melalui proses pengolahan kedelai (Glycne species) dengan prinsip pengendapan
protein, dengan atau tidak ditambah bahan lain yang diizinkan (SNI 1998).
Sedangkan menurut Shurtleff dan Aoyagi (2001), tahu adalah gumpalan protein
dari susu kedelai yang telah dipisahkan dari bagian yang tidak menggumpal
(whey) dengan cara pengepresan.
Tahu terdiri dari berbagai jenis, yaitu tahu putih, tahu kuning, tahu sutra,
tahu cina, tahu keras, dan tahu kori (Sarwono dan Saragih 2003). Perbedaan dari
berbagai jenis tahu tersebut ialah pada proses pengolahannya dan jenis
penggumpal yang digunakan.
Komposisi zat gizi dalam tahu cukup baik. Tahu mempunyai kadar protein
sebesar 8-12%, sedangkan mutu proteinnya yang dinyatakan sebagai NPU sebesar
65% (Shurtleff dan Aoyagi 2001). Tahu juga mempunyai daya cerna yang sangat
tinggi karena serat dan karbohidrat yang bersifat larut dalam air sebagian besar
terbuang pada proses pembuatannya. Dengan daya cerna sekitar 95%, tahu dapat
dikonsumsi dengan aman oleh semua golongan umur dari bayi hingga orang
dewasa, termasuk orang yang mengalami gangguan pencernaan (Shurtleff dan
Aoyagi 2001)..
Komposisi Satuan Jumlah
Energi Kal 68
Air g 84.8
Protein g 7.8
Lemak g 4.6
Karbohidrat g 1.6
Kalsium mg 124.0
Fosfor mg 63.0
Besi mg 0.8
Vitamin B1 mg 0.06
Komposisi kimia dalam 100 g tahu (Direktorat Gizi Depkes RI 1981)
2.5.2 Lontong
Lontong adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari beras dibungkus
dalam daun pisang dan direbus dalam air selama beberapa jam dan jika air habis
dituangkan air lagi demikian berulang samapi beberapa kali. Cara pembuatan
lontong lebih mudah dari ketupat. Karena direbus dalam daun pisang, lontong
dapat berwarna hijau di luarnya, sedangkan berwarna putih didalamnya. Lontong
banyak ditemui diperbagai daerah di Indonesia sebagai makanan alternative
pengganti nasi putih. Walau juga dibuat dari beras, lontong memiliki aroma yang
khas.
2.5.3 Ikan Asin
Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan
mengandung asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu
nilai biologisnya mencapai 90 persen, dengan jaringan pengikat sedikit sehigga
mudah dicerna (Adawyah, Rabiatul, 2007). Ikan merupakan komoditi ekspor yang
mudah mengalami pembusukan dibandingkan produk daging, buah dan sayuran.
Pembusukan pada ikan terjadi karena beberapa kelemahan dari ikan yaitu tubuh
ikan mengandung kadar air tinggi (80%) dan pH tubuh mendekati netral, sehingga
memudahkan tumbuhnya bakteri pembusuk, daging ikan mengandung asam
lemak tak jenuh berkadar tinggi yang sifatnya mudah mengalami proses oksidasi
sehingga seringkali menimbulkan bau tengik, jaringan ikat pada daging ikan
sangat sedikit sehingga cepat menjadi lunak dan mikroorganisme cepat
berkembang.
Oleh karena beberapa kelemahan tersebut, para produsen melakukan
penghambatan kebusukan dari ikan dengan membuat kondisi lingkungan yang
tidak sesuai dengan pertumbuhan mikroba, sehingga mikroba dapat ditekan
pertumbuhannya. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan proses
penggaraman dan pengeringan yang kemudian hasil produksinya disebut dengan
ikan asin. Ikan asin diproduksi dari bahan ikan segar atau ikan setengah basah
yang ditambahkan garam 15-20%. Walaupun kadar air didalam tubuh ikan masih
tinggi 30-35 persen, namun ikan asin dapat disimpan agak lama karena
penambahan garam yang relatif tinggi tersebut. Untuk mendapatkan ikan asin
berkualitas bahan baku yang digunakan harus bermutu baik, garam yang
digunakan biasanya garam murni berwarna putih bersih. Garam ini mengandung
kadar natrium chlorida (NaCl) cukup tinggi, yaitu sekitar 95 %. Komponen yang
biasa tercampur dalam garam murni adalah MgCl2 (magnesium chlorida), CaCl2
(calsium chlorida), MgSO4 (magnesium sulfat), CaSO4 ( calsium sulfat), lumpur,
dll. Jika garam yang digunakan Mg (magnesium) dan Ca (calsium) akan
menghambat proses penetrasi garam ke dalam daging ikan, akibatnya daging ikan
berwarna putih, keras, rapuh dan rasanya pahit. Jika garam yang digunakan
mengandung Fe (besi) dan Cu (tembaga) dapat mengakibatkan ikan asin berwarna
coklat kotor atau kuning (Djarijah, 1995).
2.5.4 Cilok
Pentol cilok adalah makanan ringan yang menyerupai pentol dan terbuat
dari tepung kanji, berasa gurih dan kenyal. Awalnya makanan ini merupakan khas
dari Jawa Barat, namun sekarang sudah mulai merambah kedaerah lain. Cilok
termasuk makanan jajanan. Makanan jajanan menurut FAO didefisinikan sebagai
makanan dan minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di
jalanan dan di tempat tempat keramaian umum lain yang langsung dimakan atau
dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut.
Perlu diwaspadai akan kemananpangan dari pentol cilok tersebut, karena
biasanya pentol cilok dijual dalam keadaan terbuka dan dibiarkan dalamwaktu
yang lama, sehingga memungkinkan terjadinya cemaran oleh mikroba. Cemaran
oleh mikroba pada pentol cilok juga dipengaruhi oleh sanitasi selama proses
pengolahan serta higiene dari penjamah makanan. Selain cemaran oleh mikroba,
keamanan pangan pentol cilok juga dipengaruhi oleh bahan-
bahan yang digunakan, kualitas dari bahan-bahan tersebut, penggunaan bahan
tambahan makanan serta keberadaan bahan berbahaya dalam pembuatan pentol
cilok.
2.5.5 Mie Basah
Menurut Astawan (1999), mie basah adalah jenis mie yang mengalami
proses perebusan setelah tahap pemotongan dan sebelum dipasarkan. Kadar air
mencapai 52 % sehingga daya tahan simpannya relatif singkat yaitu 40 jam dalam
suhu kamar.
Zat Gizi Mie Basah Zat Gizi Mie Basah
Energy (kal) 86 Besi 0,8
Protein (g) 0,6 Vitamin A -
Lemak (g) 3,3 Vitamin B1 (mg) -
Karbohidrat (g) 14 Vitamin C (mg) -
Kalsium (mg) 13 Air (mg) 80
Komposisi Gizi Mie Basah per 100 g Bahan
Menurut Astawan, (1999), mie basah yang baik adalah mie yang secara
kimiawi mempunyai nilai kimia yang sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan
oleh Departemen Perindustrian melalui SII 2046-90.
2.5.6 Bakso
Bakso merupakan produk dari protein daging, baik daging sapi, ayam ikan
maupun udang. Bakso dibuat dari daging giling dengan bahan tambahan utama
garam dapur (NaCl), tepung tapioka, dan bumbu berbentuk bulat seperti kelereng
dengan berat 25-30 gr per butir. Setelah Bakso memiliki tekstur kenyal seperti ciri
spesifiknya, kualitas bakso sangat bervariasi karena perbedaan bahan baku dan
bahan tambahan yang digunakan, proporsi daging dan tepung dan proses
pembuatannya (Widyaningsih, 2006).
BAB 3. METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
a. Beakker Glass 500 ml
b. Beakker Glass 50 ml
c. Spatula Pengaduk
d. Cawan Petri
e. Cawan Porselin dan Mortar
f. Gelas Ukur 10 ml
g. Tabung Reaksi
h. Rak Tabung Reaksi
i. Sentrifugator
j. Penangas Listrik
k. Keranjang Plastik
l. Sendok Plastik
3.1.2 Bahan
a. Tahu
b. Lontong
c. Ikan Asin
d. Cilok
e. Mie Basah
f. Bakso
g. HCl
h. Cairan Reagent
i. Air Mendidih
j. Tissue
k. Label
3.2 Skema Kerja
3.2.1 Uji Formalin
10 gram Sampel
Cincang dan Haluskan
20 ml Air Mendidih
(+) Jika warna Berubah menjadi Ungu
Tunggu sampai Dingin
Ambil Filtratnya
+ 4 Tetes Reagen A dan B
Ambil Filtratnya
Kocok dan Amati
BAB 4. HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
4.1 Hasil Pengamatan
a. Tanpa Perendaman Air Panas
Sampel Formalin Boraks
Hasil Uji Warna Hasil Uji Warna
Tahu - - - -
Lontong - - - -
Ikan Asin + ++++ - -
Cilok - - - -
Mie Basah + ++ + ++++
Bakso + +++ - -
b. Dengan Perendaman Air Panas
Sampel Formalin Boraks
Hasil Uji Warna Hasil Uji Warna
Tahu - - - -
Lontong - - - -
Ikan Asin + ++++ - -
Cilok - - - -
Mie Basah - - - -
Bakso + ++ - -
Keterangan :
- Formalin semakin + semakin ungu
- Boraks semakin + semakin merah bata
- Maksimal hingga 4+
3.2 Hasil Perhitungan
Dalam praktikum tidak dilakukan perhitungan.
BAB 5. PEMBAHASAN
5.1 Skema Kerja dan Fungsi Perlakuan
Pada praktikum uji kandungan formalin sampel yang digunakan adalah tahu,
lontong, ikan asin, cilok, mie basah dan bakso. Pertama sampel tersebut disiapkan
sebanyak 10 gram. Kemudian diberikan dua perlakuan yang berbeda pada sampel
tersebut yaitu dilakukan perendaman dan tanpa perendaman. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh perendaman terhadap kandungan formalin dalam
sampel. Kemudian sampel dicincang dan dihaluskan supaya pelarutan zat-zat
yang terdapat dalam sampel menjadi lebih mudah. Selanjutnya ditambahkan 20 ml
air mendidih. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pelarutan zat-zat yang
terdapat di dalam sampel karena pengaruh suhu tinggi yang dapat mepercepat laju
reaksi.
Setelah itu ditunggu sampai campuran tersebut dingin supaya kandungan
dalam sampel benar-benar bereaksi dengan air. Selanjutnya diambil filtratnya
kemudian ditetesi dengan 4 tetes reagen A dan reagen B. Reagen ini
berfungsi sebagai peraksi agar dapat terjadi perubahan warna pada larutan sampel
untuk menunjukkan ada atau tidaknya kandungan formalin pada sampel.
Selanjutnya, dilakukan pengocokan menggunakan vortex untuk
menghomogenkan larutan. kemudian ditunggu 5 sampai 10 menit agar reaksi yang
terjadi dalam larutan lebih optimal. Terakhir adalah dilakukan pengamatan
terhadap perubahan warna pada larutan tersebut. Apabila larutan berubah menjadi
ungu maka dapat disimpulkan bahwa sampel tersebut positif mengandung
formalin.
5.2 Analisis Data
Berdasarkan data pengamatan, dapat diketahui bahwa pada perlakuan tanpa
perendaman, sampel yang hasil ujinya terbukti positif mengandung formalin
adalah ikan asin, mie basah dan bakso. Setelah dilakukan pengujian dan
pengamatan warna, sampel ikan asin memiliki warna yang paling ungu, kemudian
bakso agak ungu dan mie basah sedikit ungu. Hal ini menunjukkan bahwa pada
sampel ikan asin memiliki kandungan formalin yang paling banyak, karena
semakin berwarna ungu maka kandungan formalin pada sampel tersebut semakin
banyak.
Sedangkan pada perlakuan perendaman dengan air panas menunjukkan bahwa
sampel yang positif mengandung formalin adalah ikan asin dan bakso. Setelah
dilakukan pengujian sampel ikan asin memiliki warna yang paling ungu dan pada
sampel bakso agak ungu. Hal ini menunjukkan bahwa sampel ikan asin memiliki
kandungan formalin yang paling banyak, karena semakin berwarna ungu maka
kandungan formalin dalam sampel tersebut semakin banyak. Pada perlakuan
perendaman dengan air panas, sampel mie basah tidak terdeteksi kandungan
formalinnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses perendaman menggunakan air
panas dapat mempengaruhi kandungan formalin, yaitu dapat menurunkan
kandungan formalinnya.
BAB 6. PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diperoleh kesimpulan sebagai
berikut :
a. Sampel yang positif mengandung formalin akan berwarna ungu setelah di uji.
b. Pada perlakuan tanpa perendaman, sampel yang hasil ujinya terbukti mengandung
formalin adalah ikan asin, mie basah dan bakso.
c. Sampel ikan asin memiliki warna yang paling ungu pada kedua perlakuan yakni
tanpa perendaman dan dengan perendaman.
d. Pada perlakuan perendaman dengan air panas diketahui bahwa sampel yang
positif mengandung formalin adalah ikan asin dan bakso.
e. Pada perlakuan perendaman dengan air panas sampel mie basah tidak terdetksi
kandungan formalinnya.
f. Proses perendaman menggunakan air panas dapat mempengaruhi kandungan
formalin, yaitu dapat menurunkan kandungan formalinnya.
6.2 Saran
Sebaiknya praktikan tidak gaduh pada saat melakukan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Adawyah, R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta : PT. Bumi Aksara.
Astawan ,M. 1999. Membuat mie dan Bihun. Jakarta : Penebar Swadaya.
Astawan, M., 2006. Membuat Mie dan Bihun. Jakarta : Penebar Swadaya.
BSNI. 1998. SNI 01-3142-1998 : Syarat Mutu Tahu. Jakarta : Badan Standarisasi
Nasional Indonesia.
Cahyadi, W. 2008. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan. Jakarta :
Penerbit Bumi Aksara.
Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI. 1981. Daftar Komposisi Bahan Makanan:
Jakarta
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi ketiga. Jakarta : Depertemen Kesehatan
RI.
Djarijah, A.S. 1995. Pakan ikan alami . Yogyakarta : Kanisius
Harmita,APT. 2006. Analisis Fisikokimia. Jakarta :UI Press.
Hart H. 1983. Kimia Organik. Suminar Achmadi (penerjemah). Jakarta : Erlangga.
International Agency for Research on Cancer (IARC). 1982. Some Industrials
Chemicals and Drystuffs. IARC Monograph.
Kastyanto, F.W.1999. Membuat Tahu. Jakarta : Penebaran Swadaya.
Sarwono,S dan Saragih Y.P.2003. Membuat Aneka Tahu. Jakarta : Penebar Swadaya.
Shurtleff W, Aoyagi A. 2001. Tofu and Soymilk Producton, The Book of Tofu Vol II.
Lafayete: Soyinfo Center.
Widyaningsih, D.T., Murtini, E.S. 2006. Alternatif Pengganti Formalin Pada Produk
pangan. Surabaya : Trubus Agriarana.
Winarno F.G, Rahayu TS. 1994. Bahan Tambahan Untuk Makanan dan Kontaminan.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
World Health Organization (WHO). 2002. Formaldehyde. Concise International
Chemical Assessment Document 40. Geneva.
erikanan
Date: November 21, 2015Author: elfian permana 0 Comments
1 Vote
Jadilah Pencopy yang bijak dengan menuliskan pengarang dari kutipan yang anda
ambil (elfian Permana)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masa sekarang, produk pangan semakin baragam bentuknya, baik itu dari segi
jenisnya maupun dari segi rasa dan cara pengolahannya. Namun seiring dengan
semakin pesatnya teknologi pengolahan pangan, penambahan bahan-bahan aditif
pada produk pangan sulit untuk dihindari. Akibatnya keamanan pangan telah
menjadi dasar pemilihan suatu produk pangan yang akan dikonsumsi. Keamanan
pangan merupakan hal yang sedang banyak dipelajari, karena manusia semakin
sadar akan pentingnya sumber makanan dan kandungan yang ada di dalam
makanannya. Hal ini terjadi karena adanya kemajuan ilmu pengetahuan serta
kemajuan teknologi, sehingga diperlukan suatu cara untuk mengawasi keamanan
pangan.
Dalam proses keamanan pangan, dikenal pula usaha untuk menjaga daya tahan
suatu bahan sehingga banyaklah muncul bahan-bahan pengawet yang bertujuan
untuk memperpanjang masa simpan suatu bahan pangan. Namun dalam
praktiknya di masyarakat, masih banyak yang belum memahami perbedaan
penggunaan bahan pengawet untuk bahan-bahan pangan dan non pangan.
Formalin merupakan salah satu pengawet non pangan yang sekarang banyak
digunakan untuk mengawetkan makanan.
Formalin adalah nama dagang dari campuran formaldehid, metanol dan air.
Formalin yang beredar di pasaran mempunyai kadar formaldehid yang bervariasi,
antara 20% 40%. Formalin memiliki kemampuan yang sangat baik ketika
mengawetkan makanan, namun walau daya awetnya sangat luar biasa, formalin
dilarang digunakan pada makanan karena berbahaya untuk kesehatan manusia.
Bahaya yang ditimbulkan akibat penggunaan formalin bermacam-macam, misal
mual, muntah, bahakan dapat menyebabkan kanker. Hal ini disebabkan oleh
bahaya residu yang ditinggalkannya bersifat karsinogenik bagi tubuh manusia.
Oleh karena itu perlu dilakukan uji formalin pada berbagai produk pangan seperti
ikan asin, ikan teri, udang rebon, terasi dan produk perikanan lainnya. Hal ini
bertujuan agar kita dapat mengetahui produk apa saja yang mengandung pengwet
buatan (formalin).
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengindetifikasi formalin dalam bahan pangan dan
makanan
2. Untuk ciri ciri makanan yang mengandung formalin
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Formalin
Formalin merupakan cairan jernih yang tidak berwarna dengan bau menusuk,
uapnya merangsang selaput lendir hidung dan tenggorokan dan rasa membakar.
Bobot tiap mililiter adalah 1,08 gram. Dapat bercampur dengan air dan alkohol,
tetapi tidak bercampur dengan kloroform dan eter (Norman and Waddington,
1983). Didalam formalin mengandung sekitar 37% formaldehid dalam air,
biasanya ditambah methanol hingga 15% sebagai pengawet. Formalin dikenal
sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam
industri. Nama lain dari formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin,
Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal, Formoform,
Superlysoform, Formaldehyde, dan Formalith (Astawan, Made, 2006). Berat
Molekul Formalin adalah 30,03 dengan Rumus Molekul HCOH. Karena kecilnya
molekul ini memudahkan absorpsi dan distribusinya ke dalam sel tubuh. Gugus
karbonil yang dimilikinya sangat aktif, dapat bereaksi dengan gugus NH2 dari
protein yang ada pada tubuh membentuk senyawa yang mengendap (Harmita,
2006).
Formaldehid (formalin) adalah larutan tidak berwarna, reaktif, dan dapat
membentuk polimer pada suhu normal pada saat berwujud gas. Kalor pembakaran
untuk gas formalin 4,47 Kcal / gram. Daya bakar dilaporkan pada rentang volume
12,5 80 % di udara. Campuran 65 70 % formaldehid di dalam udara sangat
mudah terbakar. Formaldehid dapat terdekomposisi menjadi metanol dan
karbonmonooksida pada suhu 150oC dan pada suhu 300C jika dekomposisi tidak
menggunakan katalis. Pada tekanan atmosfer formaldehid mudah mengalami
fotooksidasi menjadi karbondioksida (WAAC Newsletter, 2007). Larutan
formaldehid atau larutan formalin mempunyai nama dagang formalin, formol atau
mikrobisida dengan rumus molekul CH2O mengandung 37 % gas formaldehid
dalam air. Biasanya ditambahkan 10 15% metanol untuk menghindari
polimerisasi. Larutan ini sangat kuat dan dikenal dengan larutan formalin 40%
yang mengandung 40 gram formaldehid dalam 100 ml pelarut (Cahyadi, 2006).
2.2 Karakteristik Formalin
Formalin atau Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan
aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehida awalnya
disintesis oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi
oleh Hoffman tahun 1867. Formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan
yang mengandung karbon. Terkandung dalam asap pada kebakaran hutan, knalpot
mobil, dan asap tembakau. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari
aksi cahaya matahari dan oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada
di atmosfer. Formaldehida dalam kadar kecil sekali juga dihasilkan sebagai
metabolit kebanyakan organisme, termasuk manusia (Reuss 2005).
Meskipun dalam udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa
larut dalam air (biasanya dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk
dagang formalin atau formol ). Dalam air, formaldehida mengalami
polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam bentuk monomer H2CO.
Umumnya, larutan ini mengandung beberapa persen metanol untuk membatasi
polimerisasinya. Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar
antara 10%-40%. Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada
umumnya aldehida, senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya.
Formaldehida merupakan elektrofil, bisa dipakai dalam reaksi substitusi aromatik
elektrofilik dan sanyawa aromatik serta bisa mengalami reaksi adisi elektrofilik
dan alkena. Dalam keberadaan katalis basa, formaldehida bisa mengalami reaksi
Cannizzaro, menghasilkan asam format dan metanol. Formaldehida bisa
membentuk trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena.
Formasi zat ini menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas
ideal, terutama pada tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa
dioksidasi oleh oksigen atmosfer menjadi asam format, karena itu larutan
formaldehida harus ditutup serta diisolasi supaya tidak kemasukan udara (Reuss
2005).
2.3 Fungsi Formalin
Oleh karena harganya yang terjangkau, formalin banyak digunakan dalam
berbagai jenis industri seperti pembuatan perabot dan juga digunakan sebagai
bahan campuran dalam pembuatan bangunan. Selain itu, formalin juga digunakan
sebagai bahan pengawet mayat dan agen fiksasi di laboratorium. Bahan pengawet
ini, menurut Kepala Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dr. Leonardus Broto Kardono
(2006).
Penggunaan formalin diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pembunuh kuman sehingga digunakan sebagai pembersih lantai, gudang,
pakaian dan kapal.
2. Pembasmi lalat dan serangga.
3. Bahan pembuat sutra bahan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak.
4. Dalam dunia fotografi digunakan sebagai pengeras lapisan gelatin dan kertas.
5. Bahan pembentuk pupuk berupa urea.
6. Bahan pembuatan produk parfum.
7. Pencegah korosi untuk sumur minyak.
8. Bahan untuk isolasi busa.
9. Bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood) (Oke, 2008).
Larutan formaldehid adalah disinfektan yang efektif melawan bakteri vegetatif,
jamur atau virus tetapi kurang efektif melawan spora bakteri. Formaldehid
bereaksi dengan protein dan hal tersebut mengurangi aktivitas mikroorganisme.
Efek sporosidnya meningkat, yang meningkat tajam dengan adanya kenaikan
suhu. Larutan 0,5 % formaldehid dalam waktu 6 12 jam dapat membunuh
bakteri dan dalam waktu 2 4 hari dapat membunuh spora, sedangkan larutan 8%
dapat membunuh spora dalam waktu 18 jam. Formaldehid memiliki daya
antimicrobial yang luas yaitu terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli,
Klebsiella pneumonia, Pseudomonas aerogenosa, Pseudomonas
florescens, Candida albicans, Aspergillus niger, atau Penicillium notatum.
Mekanisme formaldehid sebagai pengawet diduga bergabung dengan asam amino
bebas dari protoplasma sel atau mengkoagulasikan protein (Cahyadi, 2006).
Formaldehid membunuh bakteri dengan membuat jaringan dalam bakteri
dehidrasi (kekurangan air) sehingga sel bakteri akan kering dan membentuk
lapisan baru di permukaan. Artinya formalin tidak saja membunuh bakteri, tetapi
juga membentuk lapisan baru yang melindungi lapisan di bawahnya supaya tahan
terhadap serangan bakteri lain. Bila desinfektan lainnya mendeaktifasikan
serangan bakteri dengan cara membunuh maka formalin akan bereaksi secara
kimiawi dan tetap ada di dalam materi tersebut untuk melindungi dari serangan
berikutnya (Cipta Pangan, 2006)
Mekanisme formalin sebagai pengawet adalah jika formaldehid bereaksi dengan
protein sehingga membentuk rangkaian-rangkaian antara protein yang berdekatan.
Akibat dari reaksi tersebut protein mengeras dan tidak dapat larut (Herdiantini,
2003). Sifat penetrasi formalin cukup baik, tetapi gerakan penetrasinya lambat
sehingga walaupun formaldehid dapat digunakan untuk mengawetkan sel-sel
tetapi tidak dapat melindungi secara sempurna, kecuali jika diberikan dalam
waktu lama sehingga jaringan menjadi keras (Herdiantini, 2003)
2.4 Karakteristik Sampel
2.4.1 Ikan Asin
Ikan sebagai bahan makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung
asam amino essensial yang diperlukan oleh tubuh, disamping itu nilai biologisnya
mencapai 90%, dengan jaringan pengikat sedikit sehigga mudah dicerna
(Adawyah, 2007). Ikan merupakan komoditi ekspor yang mudah mengalami
pembusukan dibandingkan produk daging, buah dan sayuran. Pembusukan pada
ikan terjadi karena beberapa kelemahan dari ikan yaitu tubuh ikan mengandung
kadar air tinggi (80%) dan pH tubuh mendekati netral, sehingga memudahkan
tumbuhnya bakteri pembusuk, daging ikan mengandung asam lemak tak jenuh
berkadar tinggi yang sifatnya mudah mengalami proses oksidasi sehingga
seringkali menimbulkan bau tengik, jaringan ikat pada daging ikan sangat sedikit
sehingga cepat menjadi lunak dan mikroorganisme cepat berkembang.
Oleh karena beberapa kelemahan tersebut, para produsen melakukan
penghambatan kebusukan dari ikan dengan membuat kondisi lingkungan yang
tidak sesuai dengan pertumbuhan mikroba, sehingga mikroba dapat ditekan
pertumbuhannya. Salah satu cara yang dilakukan yaitu dengan proses
penggaraman dan pengeringan yang kemudian hasil produksinya disebut dengan
ikan asin. Ikan asin diproduksi dari bahan ikan segar atau ikan setengah basah
yang ditambahkan garam 15-20%. Walaupun kadar air didalam tubuh ikan masih
tinggi 30-35 persen, namun ikan asin dapat disimpan agak lama karena
penambahan garam yang relatif tinggi tersebut. Untuk mendapatkan ikan asin
berkualitas bahan baku yang digunakan harus bermutu baik, garam yang
digunakan biasanya garam murni berwarna putih bersih. Garam ini mengandung
kadar natrium chlorida (NaCl) cukup tinggi, yaitu sekitar 95 %. Komponen yang
biasa tercampur dalam garam murni adalah MgCl2 (magnesium chlorida),
CaCl2 (calsium chlorida), MgSO4 (magnesium sulfat), CaSO4 (calsium sulfat),
lumpur, dll. Jika garam yang digunakan Mg (magnesium) dan Ca (calsium) akan
menghambat proses penetrasi garam ke dalam daging ikan, akibatnya daging ikan
berwarna putih, keras, rapuh dan rasanya pahit. . Jika garam yang digunakan
mengandung Fe (besi) dan Cu (tembaga) dapat mengakibatkan ikan asin berwarna
coklat kotor atau kuning (Djarijah, 1995).
BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum uji formalin pada produk perikanan ini di laksanakan pada
tanggal 08 Juni 2015 bertempat di Laboratorium Analisis Politeknin Negeri
Jember.
3.2 Alat dan Bahan
Tabel 3.1. Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum uji formalin
Alat Bahan
Tabung reaksi dan rak tabung reaksi Aquades
Pipet tetes Garam
Erlenmeyer Asam kromatofat
Pipet Susu segar
Penjepit HCl 25%+0,2 ml FeCl2
Bunsen
3.3 Prosedur Kerja
1. Masukan sampel ke dalam tabung reaksi.
2. Tambahkan 0,5 ml asam kromatofat dan garam sebanyak 10 gram.
3. Tambahkan air suling 50 ml.
4. Masukan tabung reaksi ke dalam alat destilasi selama 5 menit.
5. Masukan cairan destilat sebanyak 5 ml ke dalam erlenmeyer.
6. Tambahkan 2 ml susu segar dan 7 ml HCl 25%+0,2 ml FeCl2.
7. Kemudian didihkan diatas bunsen sampai dengan mendidih.
8. Lihat perubahan warna tersebut, jika warna berubah menjadi fiolet atau
lembayung itu bertanda sampel tersebut positif mengandung formalin.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Formalin
Nama Sampel
Hasil Uji Warna
Ikan Asin
Udang Rebon
Ikan Asin (Teri)
Ikan Teri Nasi ++++ ++++
Terasi ++++ ++++
Udang ++ ++
Keterangan
Formalin semakin + semakin ungu
Boraks semakin + semakin merah bata
Maksimal hingga 4+
4.2 Pembahasan
Penggunaan formalin pada bahan pangan berbahaya karena. Oleh sebab itu,
sangat dilarang menggunakan formalin sebagai bahan campuran dan pengawet
makanan. Dapat kita ketahui bahwa formalin merupakan senyawa kimia
yang biasanya digunakan sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam
berbagai keperluan jenis industri, pengawet produk kosmetika, pengeras kuku dan
bahan untuk insulasi busa dan masih banyak lainnya. Namun, penggunaan
formalin oleh sebagian orang disalah gunakan dengan menggunakannya pada
bahan pangan untuk mengawetkan makanan.
Bahan Pengujian yang digunakan ikan asin, udang rebon, ikan asin teri, ikan teri
nasi, terasi, dan udang. Keenam sempel tersebut di beli secara terpisah di pasar
pasar dan tempat penjuaalan ikan olahan. Untuk mengetahui jumlah formalin yang
tergandung dalam sebuah bahan pengelolaan ikan dengan analisis kimia.
Bahan seberat 20 gram di tambah dengan 10 gram NaCl dan di tambah 0,5 asam
laktat. Kemudian di destilasi sampai 5 ml destilat kemudian di tambahkan susu
yang mengandung protein sebagai pengikat 2 ml dan 7 ml (HCL 25 % dan 0,2 ml
FeCl2 ) di adukan kemudian dipanaskan. Setelah di panaskan akan terlihat warna
yang berbeda jika berwarna kebiru biruan makan bahan tersebut mengandung
formalin.
Setelah dilakukan pemanansan menggunakan bunsen hasil percobaan terlihat ikan
asin, ikan rebon, ikan asin teri berwarna kuning, dan sedangkan udang berwarna
sedikit keunguan, ikan teri dan terasi berwarna ungu sehinga positif bahwa bahan
baku tersebut mengandung formalin.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Bahan berpormalin didapatkan di pasar bebas yang sulit diketahui oleh manusia.
Bahan seberat 20 gram di tambah dengan 10 gram NaCl dan di tambah 0,5 asam
laktat. Kemudian di destilasi sampai 5 ml destilat kemudian di tambahkan susu
yang mengandung protein sebagai pengikat 2 ml dan 7 ml (HCL 25 % dan 0,2 ml
FeCl2 ) di adukan kemudian dipanaskan.
Percobaan terlihat ikan asin, ikan rebon, ikan asin teri negatif mengandung
formalin ikan teri dan terasi positif mengandung formalin.
5.2 Saran
Pengunaan analisis kimia dapat memnujukan bahan pengelolaan ikan berbahaya
atau tidak sehingga pembeli dapat berhati hati dalam membeli. Penggunaan
analisis harus di lakukan setiap minggu dan di bagikan ke masyarakat agar
masyarakat terhindar dari zat berbahaya tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Adawyah R. 2007. Pengolahan dan Pengawetan Ikan. Jakarta: Bumi Aksara
Astawan. 1999. Membuat Mei dan Bihun. Jakarta: Penerbit Swadaya
Astawan, Made. 2006. Mengenal Formalin dan bahayanya. Jakarta: Penebar
Swadya
Bayuputra, 2011. Kandungan Gizi Tahu. [Link] [Diakses pada 02
Januari 2014].
Cahyadi, W., 2006. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan.
Bumi Aksara, Jakarta.
Djarijah, Abbas Siregar. 1995. Teknologi Tepat Guna : lkan Asin. Yogyakarta:
Kanisius.
Harmita. 2006. Buku Ajar Analisis Fisikokimia. Depok: departemen farmasi
FMIPA Universitas Indonesia
Herdiantini, E., 2003. Analisis Bahan Tambahan Kimia (Bahan Pengawet Dan
Pewarna) Yang Dilarang Dalam Makanan. Bandung: Fakultas Teknik
Universitas Pasundan.
Norman, R.O.C and D.J. Waddington, 1983. Modern Organic Chemistry. New
York: Colliens Educational.
Oke, 2008. Mengenal Formalin. [Link] [ Diakses pada 10 Juni
2015]
Reuss G, W. Disteldorf, [Link]. 2005. Formaldehyde in
Ullmanns Encyclopedia ofIndustrial Chemistry Wiley-VCH.
WAAC Newsletter, 2007. Formaldehid: Detection and
[Link]://[Link] . [Diakses pada 10 Juni 2015].
UJI KUALITATIF KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN
SEGAR DAN PRODUK PERIKANAN
Riska Ayu Nuryahya
4443130741
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015
Abstrak
Formaldehid adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat
menusuk. Formalin adalah larutan formaldehid 37% dalam air apabila
diencerkan dinamai formalin dan harus dinyatakan kadarnya. Formalin
sebenarnya bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan merupakan zat
yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Formalin sangat berbahaya jika
dihirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika dikonsumsi dalam jangka panjang maka
formadehid dapat merusak hati, ginjal, limpa, pankreas dan lain-lain. Tapi efek
dari bahan pangan berformalin baru bisa terasa beberapa tahun kemudian.
Praktikum yang dilakukan pada tanggal 09 Apri 2015 di laboratorium TPHP,
membahas tentang uji kualitatif kandungan formalin pada ikan segar dan produk
olahan ikan dengan tujuan mahasiswa dapat mengetahui kandungan formalin
secara kualitatif pada ikan segar dan produk olahan ikan dari pasar Rau. Yang
memiliki hasil berbeda-beda, beberapa ada yang positif (+), sangat positif (+ +)
dan sangat positif sekali (+ + +) mengandung bahan pengawet formalin dan
berbahaya untuk dikonsumsi. Tetapi tidak semua sampel mengadung formalin,
ada yang hanya tereduksi oleh larutan PK sehingga produk tersebut bisa
dikatakan aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Kata Kunci : Formalin, Ikan Segar, Produk Olahan Ikan, Uji Kualitatif
PENDAHULUAN
Ikan merupakan salah satu sumber protein hewani yang banyak
dikonsumsi masyarakat, mudah didapat, dan harganya murah. Namun ikan cepat
mengalami proses pembusukan karena memiliki kadar air yang cukup tinggi. Oleh
sebab itu pengawetan ikan perlu diketahui oleh semua masyarakat. Tetapi
sekarang ini banyak masyarakat yang menyalahgunakan bahan kimia untuk
mengawetkan ikan dan juga produk olahannya, salah satunya seperti formalin.
Formaldehid yang lebih dikenal dengan nama formalin ini adalah salah
satu zat tambahan makanan yang dilarang. Meskipun sebagian banyak orang
sudah mengetahui terutama produsen bahwa zat ini berbahaya jika digunakan
sebagai pengawet, namun penggunaannya bukannya menurun tetapi malah
semakin meningkat dengan alasan harganya yang relatif murah dibanding
pengawet yang tidak dilarang.
Formalin sebenarnya bukan merupakan bahan tambahan makanan, bahkan
merupakan zat yang tidak boleh ditambahkan pada makanan. Memang orang yang
mengkonsumsi bahan pangan seperti tahu, mie, bakso, ayam, ikan dan bahkan
permen, yang berformalin dalam beberapa kali saja belum merasakan akibatnya.
Kini formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Disektor industri sebenarnya formalin sangat banyak manfaatnya seperti untuk
pembersih lantai, kapal, gudang-gudang, pakaian, pembasmi lalat dan berbagai
serangga. Lemahnya perhatian pemerintah kita, karena selain digunakan dalam
sektor industri, formalin juga disalahgunakan untuk keperluan lain seperti
pengawetan makanan yang sangat tidak baik apabila dikonsumsi oleh tubuh
manusia salah satunya pada pengawetan ikan segar dan produk olahannya.
Formalin sangat berbahaya jika dihirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika
dikonsumsi dalam jangka panjang maka formadehid dapat merusak hati, ginjal,
limpa, pancreas dan lain-lain. Tapi efek dari bahan pangan berformalin baru bisa
terasa beberapa tahun kemudian.
Pada prakikum kali ini, dilakukan uji kualitatif kandungan formalin pada
ikan segar dan produk olahan ikan dengan tujuan mahasiswa dapat mengetahui
kandungan formalin secara kualitatif pada ikan segar dan produk olahan ikan dari
pasar Rau. Untuk sampel yang digunakan menggunakan beberapa ikan segar
seperti ikan kembung (Rastrelliger sp.), ikan bandeng (Chanos chanos) dan ikan
bawal (Pampus argenteus). Sedangkan untuk produk olahan ikan menggunakan
sampel cumi asin, bakso ikan dan otak-otak yang dijual di pasar Rau.
TINJAUAN PUSTAKA
Penggunaan pengawet pada bahan makanan sampai ini masih banyak
dijumpai. Terutama penggunaan formalin sebagai pengawet bahan makanan
seperti tahu, bakso, kerupuk, ikan kering, ikan laut yang pada umumnya dapat
menyebabkan keracunan pada tubuh manusia. berdasarkan beberapa penelitian
disimpulkan bahwa formalin tergolong sebagai karsinogen, yaitu senyawa yang
dapat menyebabkan timbulnya kanker, oleh karena itu senyawa formalin tidak
boleh digunakan dalam makanan maupun minuman (Elmatris,2007).
Formaldehid adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat
menusuk. Formalin adalah larutan formaldehid 37% dalam air apabila diencerkan
dinamai formalin dan harus dinyatakan kadarnya, misalnya formalin yang
diencerkan dengan air yang sama volumenya, dinamai larutan formalin 50%,
berarti kadar formaldehidnya 18,5% dengan demikian pemakaian istilah larutan
formalin harus dinyatakan kadarnya, misalnya larutan formalin 50%, larutan
formalin 25% dan sebagainya.
Identifikasi keberadaan formaldehida pada bahan pangan, termasuk ikan
dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Jika pada uji kualitatif hasilnya
positif maka akan dilanjutkan dengan pengujian secara kuantitatif memakai
spektrofotometer. Pada uji kualitatif produk yang akan mengandung formalin
akan ditunjukan dengan berubahnya warna air dan bening menjadi merah muda
hingga ungu. Semakin ungu berarti kadar formalin makin tinggi (Hastuti, 2010).
Formalin dapat bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran pencernaan
dan saluran pernafasan. Di dalam tubuh cepat teroksidasi membentuk asam format
terutama di dalam organ hati dan sel darah merah. Pemakaian pada makanan dapat
mengakibatkan keracunan pada tubuh manusia, yaitu rasa sakit perut yang akut
disertai muntah-muntah, timbulnya depresi susunan syaraf atau kegagalan
peredaran darah (Effendi, 2009).
METODOLOGI
Praktikum tentang pengujian kualitatif kandungan formalin pada ikan
segar dan produk olahan ikan dilakukan di laboratorium TPHP Jurusan Perikanan,
Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Pada tanggal 08 April
2015 pukul 15.30-17.30 WIB.
Alat yang digunakan pada praktikum yaitu berupa tabung reaksi dan rak
tabung reaksi, saringan, wadah atau piring, sendok, pisau, timbangan elektrik,
pipet ukur, ruber bulp, kompor, talenan, panci dan alat tulis. Sedangkan untuk
bahan menggunakan beberapa sampel ikan segar yaitu ikan kembung, ikan
bandeng, ikan bawal merah, ikan tongkol, ikan payus, dan ikan patin. Dan untuk
produk olahan ikan yaitu ada bakso ikan, cumi asin, otak-otak, pempek, dan teri
nasi. Kemudian ada larutan PK, Antalin dan air panas.
Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan, sambil menunggu rebusan air
mendidih, potong sampel yang akan diteliti kecil-kecil dan timbang dua bagian.
Bagian pertama 10 gram sedangkan bagian pertama hanya 1 gram lalu haluskan
sampai menjadi ampas dengan menggunakan campuran 20 ml air panas. Ambil
ampas atau ekstrak sampel yang akan diteliti sebanyak 2,5 ml dengan pipet ukur
ke dalam tabung reaksi. Pada tabung pertama yang telah berisi sampel
dicampurkan dengan 5 ml larutan PK lalu homogenkan dan tunggu 10 menit
sampai berubah warna, untuk tabung kedua diteteskan dengan cairan antilin
sebanyak 2-3 tetes dan homogenkan sampai berubah warna, kemudian catat waktu
dan hasil.
10 gram sampel + 20 ml air panas
Ambil ekstrak sebanyak 2,5 ml
Teteskan antilin (Al-a 2 tetes, Al-b 2 tetes)
Tunggu 10 menit dan amati perubahan warna
1 gram sampel + 5 ml PK
Tunggu perubahan warna
Catat waktu
Gambar 1. Diagram alir
HASIL DAN PEMBAHAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai
berikut :
Tabel 1. Hasil data uji kualitatif kandungan formalin pada ikan segar
Kandungan Formalin
No. Ikan segar
Antilin PK
1. Ikan kembung + Positif
2. Ikan Bandeng + Positif
3. Ikan Bawal Merah +++ Positif
4. Ikan Tongkol + +
5. Ikan Payus +++ +
6. Ikan Patin + +
Tabel 2. Hasil data uji kualitatif kandungan formalin pada produk olahan ikan
Kandungan Formalin
No. Produk Perikanan
Antilin PK
1. Otak-otak - Positif
2. Cumi Asin ++ Positif
3. Bakso Ikan - Positif
4. Teri Nasi ++++ +
5. Pempek _ +
6. Bakso Ikan _ +
Dari data yang telah diperoleh, dapat dibahas bahwa uji kualitatif
kandungan formalin pada ikan kembung, ikan bandeng, ikan tongkol dan ikan
patin memiliki hasil yang positif (+) mengandung bahan pengawet formalin.
Sedangkan untuk ikan bawal merah dan ikan payus memiliki hasil yang sangat
positif (+ +) mengandung bahan pengawet formalin.
Kemudian untuk uji kualitatif pada produk olahan ikan didapatkan hasil
yang berbeda dengan uji kualitatif pada ikan segar. Pada produk bakso ikan,
pempek dan otak-otak didapatkan hasil yang positif (+) pada campuran larutan PK
dan negatif (-) pada campuran tetesan antilin, hal ini dikarenakan bukan
mengandung bahan formalin melainkan pada saat penghomogenan ekstrak dengan
larutan PK, kedua mekanisme cairan tersebut bersatu sehingga warna dari ekstrak
produk olahan ikan tersebut tereduksi oleh warna larutan PK yang mengakibatkan
menjadi positif dan berubah warna. Sedangkan untuk produk cumi asin memiliki
hasil yang sangat positif (+ +) mengandung bahan pengawet formalin, dan produk
teri nasi didapatkan hasil yang sangat positif sekali (+ + +) mengandung bahan
pengawet formalin.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa, hasil pengujian
secara kualitatif kandungan formalin pada ikan segar dan produk olahan ikan ada
beberapa yang positif (+), sangat positif (+ +) dan sangat positif sekali (+ + +)
mengandung bahan pengawet formalin dan berbahaya untuk dikonsumsi. Tetapi
tidak semua sampel mengadung formalin, ada yang hanya tereduksi oleh larutan
PK sehingga produk tersebut bisa dikatakan aman untuk dikonsumsi oleh
masyarakat.
Praktikum yang dilakukan sudah sangat baik dan sesuai dengan prosedur
yang ditentukan, hanya saja saat pemberian materi terlalu cepat dan kurang jelas
sehingga harus memberikan materi dua kali karena belum langsung dipahami oleh
praktikan.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianto. E dan E. Liviawati. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Poedjiadi, Anna dan F. M. Titin Supriyanti.(2005). Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta:
Universitas Indonesia-Press
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Penerbit Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Suhartini S dan N Hidayat. 2005. Olahan Ikan Segar. Surabaya: Penerbit Trubus
Agrisarana.
Uji Formalin
Oleh
SUHARMITA DARMIN
O111 10 127
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Akibat kemajuan ilmu teknologi pangan di dunia dewasa ini, maka semakin
banyak jenis bahan makanan yang diproduksi, dijual, dan dikonsumsi dalam bentuk yang
lebih awet dan lebih praktis dibandingkan dengan bentuk segarnya. Berkembangnya
produk pangan awet tersebut hanya mungkin terjadi karena semakin tingginya
kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap berbagai jenis makanan yang praktis dan
awet.
Produksi dan suplai produk jadi yang awet biasanya dilakukan secara sentral
dalam pabrik pengolahan dan pengawetan makanan. Dengan demikian waktu yang
diperlukan untuk menyiapkan sajian sampai siap untuk dapat disantap dapat
dipersingkat, dengan hasil makanan yang sama lezatnya seperti bila diolah sendiri dari
bahan segar. Di kalangan konsumen pangan masih sering terjadi kontroversi mengenai
penggunaan bahan tambahan makanan di industri pangan, khususnya mengenai resiko
kesehatan, terutama yang berasal dari bahan sintetik kimiawi. Sebab masalah keamanan
pangan bukan hanya merupakan isu dunia, tetapi juga telah menjadi masalah setiap
orang.
Kebanyakan makanan yang dikemas mengandung bahan tambahan, yaitu suatu
bahan yang dapat mengawetkan makanan atau merubahnya dengan berbagai teknik
dan cara. Bahan Tambahan Makanan didefinisikan sebagai bahan yang tidak lazim
dikonsumsi sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komposisi khas makanan,
dapat bernilai gizi atau tidak bernilai gizi, ditambahkan ke dalam makanan dengan
sengaja untuk membantu teknik pengolahan makanan (termasuk organoleptik) baik
dalam proses pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan,
pengemasan, pengangkutan dan penyimpanan produk makanan olahan, agar
menghasilkan atau diharapkan menghasilkan suatu makanan yang lebih baik atau secara
nyata mempengaruhi sifat khas makanan tersebut. Jadi kontaminan atau bahan-bahan
lain yang ditambahkan ke dalam makanan untuk memperbaiki atau meningkatkan mutu
gizi bukan merupakan bahan makanan tambahan.
TUJUAN DAN MANFAAT
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan zat
pengawet yang berupa formalin pada makanan sampel yang diuji atau diperiksa yaitu
bakso.
Manfaat praktikum ini adalah untuk memberikan informasi tentang ada
tidaknya residu bahan pengawet yang berbahaya pada bakso di Kota Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Formalin
Formalin adalah larutan formaldehid dalam air dengan kadar 37% yang biasa di
gunakan untuk mengawetkan sampel biologi atau mengawetkan mayat. Formalin
merupakan bahan kimia yang disalahgunakan pada pengawetan tahu, mie basah, dan
bakso (Djoko, 2006).
Formaldehid (HCOH) merupakan suatu bahan kimia dengan berat molekul 30,03
yang pada suhu kamar dan tekanan atmosfer berbentuk gas tidak berwarna, berbau
pedas (menusuk) dan sangat reaktif (mudah terbakar). Bahan ini larut dalam air dan
sangat mudah larut dalam etanol dan eter (Moffat, 1986).
Formalin sudah sangat umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila
digunakan secara benar, formalin akan banyak kita rasakan manfaatnya, misalnya
sebagai antibakteri atau pembunuh kuman dalam berbagai jenis keperluan industri,
yakni pembersih lantai, kapal, gudang dan pakaian, pembasmi lalat maupun berbagai
serangga lainnya. Dalam dunia fotografi biasanya digunakan sebagai pengeras lapisan
gelatin dan kertas. Formalin juga sering digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk
urea, bahan pembuat produk parfum, pengawet bahan kosmetika, pengeras kuku.
Formalin boleh juga dipakai sebagai bahan pencegah korosi untuk sumur minyak. Di
bidang industri kayu, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk produk kayu lapis
(polywood). Dalam kosentrasi yang sangat kecil (< 1%) digunakan sebagai pengawet
untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci
piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet (Yuliarti, 2007).
Produsen sering kali tidak tahu kalau penggunaan formalin sebagai bahan
pengawet makanan tidaklah tepat karena bisa menimbulkan berbagai gangguan
kesehatan bagi konsumen yang memakannya. Beberapa penelitian terhadap tikus dan
anjing menunjukkan bahwa pemberian formalin dalam dosis tertentu pada jangka
panjang bisa mengakibatkan kanker saluran cerna. Penelitian lainnya menyebutkan
peningkatan risiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada
pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan (Yuliarti, 2007).
Pengertian formalin
Formalin adalah berupa cairan dalam suhu ruangan, tidak berwarna, bau sangat
menyengat, mudah larut dalam air dan alkohol. Formalin adalah nama dagang
formaldehida yang dilarutkan dalam air dengan kadar 36 40 %.
Formalin biasa juga mengandung alkohol 10 15 % yang berfungsi sebagai stabilator
supaya formaldehidnya tidak mengalami polimerisasi.
Formalin atau Senyawa kimia formaldehida (juga disebut metanal), merupakan
aldehida berbentuknya gas dengan rumus kimia H2CO. Formaldehida awalnya disintesis
oleh kimiawan Rusia Aleksandr Butlerov tahun 1859, tapi diidentifikasi oleh Hoffman
tahun 1867. Formaldehida bisa dihasilkan dari pembakaran bahan yang mengandung
karbon. Dalam atmosfer bumi, formaldehida dihasilkan dari aksi cahaya matahari dan
oksigen terhadap metana dan hidrokarbon lain yang ada di atmosfer. Meskipun dalam
udara bebas formaldehida berada dalam wujud gas, tetapi bisa larut dalam air (biasanya
dijual dalam kadar larutan 37% menggunakan merk dagang 'formalin' atau 'formol' ).
Dalam air, formaldehida mengalami polimerisasi dan sedikit sekali yang ada dalam
bentuk monomer H2CO.
Formalin adalah larutan formaldehida dalam air, dengan kadar antara 10%-40%.
Meskipun formaldehida menampilkan sifat kimiawi seperti pada umumnya aldehida,
senyawa ini lebih reaktif daripada aldehida lainnya. Formaldehida bisa membentuk
trimer siklik, 1,3,5-trioksana atau polimer linier polioksimetilena. Formasi zat ini
menjadikan sifat-sifat gas formaldehida berbeda dari sifat gas ideal, terutama pada
tekanan tinggi atau udara dingin. Formaldehida bisa dioksidasi oleh oksigen atmosfer
menjadi asam format, karena itu larutan formaldehida harus ditutup serta diisolasi
supaya tidak kemasukan udara.
Kegunaan formalin
Penggunaan formalin sebagai desinfektan, cairan pembalsem, pengawet
jaringan, untuk pembunuh hama, pengawet mayat, bahan disinfektan dalam industri
plastik, busa, dan resin untuk kertas, digunakan di indutri tekstil dan kayu lapis. Formalin
tidak boleh digunakan sebagai bahan pengawet untuk makanan.
([Link]
Bahaya formalin
Formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh
manusia, dengan gejala: sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah,
depresi susunan syaraf dan gangguan peredaran darah. Injeksi formalin (suntikan)
dengan dosis 100 gram dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam.
Akibat masuknya formalin pada tubuh bisa akut maupun kronis. Kondisi akut
tampak dengan gejala alergi, mata berair, mual, muntah, seperti iritasi, kemerahan, rasa
terbakar, sakit perut, dan pusing. Kondisi kronis tampak setelah dalam jangka lama dan
berulang bahan ini masuk ke dalam tubuh. Gejalanya iritasi parah, mata berair, juga
gangguan pencernaan, hati, ginjal, pankreas, sistem saraf pusat, menstruasi, dan
memicu kanker
Pengaruh Formalin Terhadap Kesehatan
a. Jika terhirup
Rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan, sukar bernafas, nafas pendek, sakit
kepala, kanker paru-paru.
a. Jika terkena kulit
b. Kemerahan, gatal, kulit terbakar
c. Jika terkena mata
Kemerahan, gatal, mata berair, kerusakan mata, pandangan kabur, kebutaan
d. Jika tertelan
Mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala, pusing, gangguan jantung, kerusakan
hati, kerusakan saraf, kulit membiru, hilangnya pandangan, kejang, koma dan kematian.
Mendeteksi Formalin secara fisik
Berikut ini terdapat beberapa ciri penggunaan formalin, walaupun tidak
terlampau khas untuk mengenali pangan berformalin, namun dapat membantu
membedakannya dari pangan tanpa formalin.
a. Ciri-ciri basah yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih
dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat Celsius).
2. Bau agak menyengat, bau formalin.
3. Tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal
b. Ciri-ciri tahu yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih
dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius)
2. Tahu terlampau keras, namun tidak padat
3. Bau agak mengengat, bau formalin (dengan kandungan formalin 0.5-1ppm)
c. Ciri-ciri baso yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
2. Teksturnya sangat kenyal
d. Ciri-ciri ikan segar yang mengandung formalin:
1. Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius)
2. Warna insang merah tua dan tidak cemerlang, bukan merah segar dan warna daging
ikan putih bersih
3. Bau menyengat, bau formalin
2. Bakso
Bakso atau baso adalahjenis bola daging yang paling lazim dalam masakan
Indonesia. Bakso umumnya dibuat dari campuran daging sapi giling dan tepung tapioka,
akan tetapi ada juga bakso yang terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang. Dalam
penyajiannya, bakso umumnya disajikan panas-panas dengan kuah kaldu sapi bening,
dicampur mi, bihun, taoge, tahu, terkadang telur, ditaburi bawang goreng dan seledri.
Bakso sangat populer dan dapat ditemukan di seluruh Indonesia; dari gerobak pedagang
kaki lima hingga restoran besar. Berbagai jenis bakso sekarang banyak ditawarkan dalam
bentuk makanan beku yang dijual di pasar swalayan dan mal-mal. Irisan bakso dapat
juga dijadikan pelengkap jenis makanan lain seperti mi goreng, nasi goreng, atau cap cai
(Wikipedia).
Bakso adalah makanan yang terbuat dari daging giling yang dicampur dengan
tepung tapioka yang sudah dibulatkan berbentuk bola kecil yang dalam penyajiannya
biasanya dilengkapi dengan kuah kaldu berwarna bening, serta dicampur dengan mi
bihun, taoge, tahu, dan terkadang dengan telur, serta ditaburi dengan bumbu bawang
goreng dan seledri. Bakso yang secara umum dapat ditemukan diseluruh wilayah
Indonesia biasanya terbuat dari daging sapi, tetapi tidak tertutup kemungkinan juga bila
kadang-kadang bakso terbuat dari daging ayam, ikan, atau udang
([Link]).
Bakso adalah jenis makanan yang sangat populer, ditemui mulai dari restoran
hingga pedagang keliling. Pernah popularitas bakso merosot lantaran isu penggunaan
boraks dan formalin untuk mengawetkan bakso. Bakso dapat dibuat dari berbagai jenis
daging, seperti daging sapi, kerbau atau kelinci. Yang penting tahu rahasia formulasinya
agar bakso enak, kenyal, empuk, bergizi, dan aman dikonsumsi
([Link]).
BAB III
METEDOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Hasanuddin Makassar pada hari Rabu 15 Mei 2013 pukul 10.00 sampai
selesai.
B. Alat dan Bahan
Alat dan kegunaannya yang di gunakan dalam praktikum Uji Formalin adalah :
No. Alat Kegunaan
1 Cawan Petri Untuk meletakkan objek pengamatan
2 Silet atau Pisau Untuk mengiris sampel pengamatan
3 Pipet tetes
4 Korek Api Memanaskan sampel
Bahan dan kegunaannya yang di gunakan dalam praktikum Uji Formalin yaitu
sebagai berikut :
No. Bahan Kegunaan
1 Bakso Sebagai sampel pengamatan
2 KMNO4 Pereaksi Formalin
C. Prosedur Praktikum
1. Sampel makanan yaitu bakso di iris kecil dan simpan di cawan petri
2. Berikan label pada sampel
3. PK (Kalium Permanganat) dilarutkan dalam air
4. Bahan makanan yang akan diuji dimasukkan ke dalam larutan PK tersebut
5. Amati perubahan warnanya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil
No. Sampel Perlakuan Reaksi Hasil
1. Bakso 1 Ditambahkan Formalin Terjadi perubahan +
warna dari ungu
menjadi bening
2. Bakso 2 Ditambahkan Formalin Terjadi perubahan +
warna dari ungu
menjadi bening
2. Pembahasan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, sampel bakso menunjukkan hasil
yang positive mengandung formalin. Hal ini disebabkan karena terjadinya reaksi saat
sampel ditetesi KMNO4. Terjadinya perubahan warna yang terjadi pada sampel yang
membuktikan bahwa sampel tersebut mengandung bahan pengawet walaupun dengan
kadar yang renda
Beberapa survei menunjukkan, alasan para produsen menggunakan bahan
pengawet seperti formalin karena daya awet dan mutu bakso yang dihasilkan menjadi
lebih bagus, serta murah harganya tanpa peduli bahaya yang dapat ditimbulkan.
Tuntutan itu melahirkan konsekuensi yang bisa saja membahayakan, karena bahan kimia
semakin lazim digunakan untuk mengawetkan makanan termasuk juga formalin yang
dikenal menjadi bahan pengawet mayat. Hal tersebut ditunjang oleh perilaku konsumen
yang cenderung untuk membeli makanan yang harganya lebih murah, tanpa
memperhatikan kualitas makanan. Dengan demikian, penggunaan formalin pada
makanan seperti mie, bakso, kerupuk dan makanan lainnya dianggap suatu hal yang
biasa. Sulitnya membedakan makanan seperti bakso biasa dan bakso yang dibuat
dengan penambahan formalin juga menjadi salah satu faktor pendorong perilaku
konsumen itu sendiri.
Bakso menjadi salah satu jajanan yang menjadi favorit bagi banyak orang
Indonesia. Sehingga tidak susah untuk mencari jajanan ini. Mulai dari warung di
sekolahan hingga perkantoran, bakso menjadi salah satu menu favorit. Namun
sayangnya, masih banyak produsen bakso yang tidak memperhatikan sisi kesehatan
konsumen. Sebagai konsumen kita perlu waspada dengan memperhatikan ciri-ciri bakso
yang memakai zat berbahaya berikut ini:
1. Bakso mengandung Boraks memiliki struktur yang kenyal dan lebih keras
2. Bakso mengandung boraks pasti memiliki daya tahan lebih lama
3. Mampu bertahan sampai lima hari.
4. Teksturnya sangat kental, warna tidak kecokelatan seperti penggunaan daging namun
lebih cenderung keputihan
5. Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
6. Bau terasa tidak alami. Ada bau lain yang muncul.
7. Bila dilemparkan ke lantai akan memantul seperti bola.
Selain itu tingkat pengetahuan masyarakat mengenai bahan pengawet dan zat
aditif pada makanan sangat rendah sehingga mereka tidak memperhatikan makanan
yang dikonsumsinya dan bahaya apa yang bisa ditimbulkannya. Terkadang nilai gizi yang
terkandung pada makanan yang dikonsumsi merekapun tidak dipedulikan. Mereka
kurang menyadari pentingnya menjaga kesehatan yang salah satu caranya adalah
dengan memperhatikan dan menghindari konsumsi terhadap makanan-makanan yang
mengandung zat pengawet berbahaya dan mengandung zat-zat aditif yang beracun dan
berlebih.
Hasil survei dan pemeriksaan laboratorium menunjukkan, sejumlah produk
pangan menggunakan formalin sebagai pengawet. Formalin tidak boleh digunakan
sebagai bahan pengawet untuk pangan. Akibatnya jika digunakan pada pangan dan
dikonsumsi oleh manusia akan menyebabkan beberapa gejala diantaranya adalah
tenggorokan terasa panas dan kanker yang pada akhirnya akan mempengaruhi organ
tubuh lainnya, serta gejala lainnya
Departemen Kesehatan RI tahun 2006 telah memaparkan tertang bahaya utama
formalin yang sangat berbahaya bila terhirup, mengenai kulit, dan tertelan. Akibat yang
ditimbulkan dapat berupa luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi
alergi, dan bahaya kanker pada manusia.
Penggunaan formalin untuk bahan pangan dilarang karena tidak sesuai dengan
Undang Undang Pangan Nomor 7 Tahun 1996 dan PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang
keamanan, mutu dan Gizi pangan. Sedangkan tatacara perniagaannya diatur dengan
keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MMP/Kep/7/2000.
Formalin dalam bahan pangan tidak dapat dihilangkan dengan mencuci dan
merendam produk makanan tersebut dengan air panas bersuhu 800 C selama lima
hingga sepuluh menit. Meski terjadi penurunan kadar, namun masih terdapat
kandungan formalin.
Kandungan formalin pada makanan memang sulit untuk dideteksi. Secara
akurat, ia hanya bisa terdeteksi di laboratorium melalui uji formalin dengan
menggunakan bahan kimia lainnya. Namun makanan yang proses pembuatannya
dengan zat-zat kimia berbahaya, kini sudah beredar luas di pasaran dan sangat mudah
didapat.
Mengonsumsi bahan pangan berformalin sangat berbahaya bagi kesehatan
manusia. Jika kandung formali dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan
hampir semua zat di dalam sel sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian
sel yang menyebabkan keracunan pada tubuh.
Pada prinsipnya, senyawa formalin yang biasanya digunakan sebagai bahan
pengawet mayat dapat bereaksi dengan asam amino yang menyebabkan protein
terdenaturasi sehingga formalin akan bereaksi cepat dengan lapisan lendir saluran
pernafasan dan saluran pencernaan. Dari segi fisiknya, uap formalin yang terkontak
secara langsung akan mengakibatkan iritasi mata, hidung, esophagus dan saluran
pernafasan. Dalam konsentrasi yang tinggi akan mengakibatkan krjang kejang di
sekitar pangkal tenggorokkan. Yang menjadi masalah adalah kandungan pengawet
formalin akan bereaksi dengan cepat dalam saluran dan organ pencernaan apabila
kondisi perut dalam keadaan kosong. Selain itu, pemakaian formalin dalam makanan
dapat menyebabkan keracunan pada organ fungsional tubuh manusia. Hal tersebut
ditandai dengan gejala sukar menela, nafsu makan berkurang, mual sebagai reaksi
penolakan dari lambung, sakit perut yang akut sebagai reaksi penolakan dari hati,
lambung dan usus besar, diare dan pada akhirnya disertai dengan muntah muntah.
Pada tingkat yang parah akan mengakibatkan depresi pada susunan syaraf atau
gangguan peredaran darah.
Berdasarkan sifatnya yang karsinogenik, jika konsentrasi formalin tinggi dalam
tubuh, maka akan bereaksi secara kimia dengan hampir seluruh sel penyusun tubuh
sehingga menyebabkan kerusakna sel dan bahkan mutasi sel yang memicu
berkembangnya kanker, setelah terakumulasi dalam waktu yang relative lama dalam
tubuh. Selain itu, kandungan formalin yang tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi
lambung, alergi, bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) dan bersifat mutagen
(menyebabkan perubahan fungsi sel/jaringan).
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suatu bahan makanan dikatakan mengandung formalin, jika dalam melakukan
percobaan ,bahan makanan tersebut akan berubah warna dari merah keunguan menjadi
bening, jika ditetesi pereaksi 1 dan/atau pereaksi 2 formalin. Dan sebaliknya, jika suatu
bahan makanan tidak mengandung formalin, jika tidak terjadi perubahan warna apabila
ditetesi dengan pereaksin 1 dan/atau pereaksi 2. Dari hasil praktikum uji formalin
dengan menggunakan Kalium Permanganat (PK) sampel berupa bakso mengandung
formalin.
B. Saran
Dalam melakukan praktikum yang berkaitan dengan alat maupun bahan-bahan
kimia, diharapkan agar kita tidak menyentuh ataupun menghirup secara langsung
bahan-bahan tersebut, karena keteledoran ini akan berakibat fatal bagi kesehatan kita.
Dalam menuang maupun meneteskan pereaksi formalin, disarankan agar hidung kita
berada jauh dari tabung reaksi, sehingga bahan tersebut tidak terhirup secara langsung
dan membahayakan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Formalin dan Boraks. (http: //oliveoile. wordpress. com/2008/01/07/formalin-
boraks/). Diakses pada tanggal 20 Mei 2013
Pipit. 2005. Makanan Yang Mengandung Formalin. ([Link] Wordpress
.com/2005/12/30/ciri-ciri-makanan-yang-mengandung-formalin). Diakses pada tanggal
20 Mei 2013
Sitti. 2013. Uji Kandungan Boraks dan Formalin. http:// sittiassambo. blogspot.
com/2013/04/[Link]. Diakses pada tanggal 20
Mei 2013
Wahyu. 2008. Identifikasi Formalin Pada Produk. ([Link]
[Link]/2008/11/identifikasi-formalin-pada-produk_04.html). Diakses
pada tanggal 20 Mei 2013