PROGRAM KERJA TAHUNAN
BIMBINGAN KONSELING
SMP NEGERI 1 BUNGAH TAHUN 2015-2016
DISUSUN OLEH : KOORDINATOR BK
NAMA KOORDINATOR BK : Drs. A S K U R
NIP : 19570104 199512 1 001
BIDANG STUDI : BIMBINGAN KONSELING
ISI PROGRAM : PROGRAM UMUM
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN GRESIK
TAHAUN 2015
PENUGASAN BEBAN KERJA PENGAMPUAN SISWA
BAGI GURU BIMBINGAN KONSELING
SATUAN PENDIDIKA : SMP NEGERI 1 BUNGAH
TAHUN PELAJARAN : 2015 2016
NO NAMA GURU JUMLAH
JABATAN KELAS
dan NIP SISWA
Muhammad Tajuddin Nur, [Link] 66 Siswa
1 Kep. Sekolah IX A, VIII A
NIP. 19621111 198303 1 014
Drs. Askur Koordinator IX
205 Siswa
2 Nip; 195701041995121001 BK B, C, D, E, F, G, H
Dra. Issumiati VII 241 Siswa
3 Guru BK
NIP; 196302061995122001 A,B,C,D,E,F,G,H
Guru BK VIII 239 siswa
4 Reni Restiawati saputri. Spd
B,C,D,E,F,G,H
Mengetahui Gresik, 27 Juli 2015
Kepala SMP Negeri 1 Bungah Koordinator Bimbingan Konseling
Muhammad TajuddinNur, [Link] Drs. A s k u r
NIP. 19621111 198303 1 014 NIP. 19570104 199512 1 001
HALAMAN PENGESAHAN
Pada hari Rabu tanggal 27 Juli 20015 telah diselesaika Penyusunan Program
Umum Tahunan Bimbingan dan Konseling, adapun program semester,
bulanan, mingguan maupun harian telah disusun oleh masing2 guru yang
memiliki tugas dalam rombongan belajar masing-masing. Adapun landasan
dan acuan dalam penyusuan program ini disesuaikan dengan Kurikulum tahun
2006 yaitu kurikulum yang berdasar pada karakter atau disebut KTSP,
meskipun dalam penyusunannya masih banyak kekurangan itu merupakan
awal dari proses pembelajaran kami
Mengetahui Gresik, 27 Juli 2015
Kepala SMP Negeri 1 Bungah Koordinator Bimbingan Konseling
Muhammad TajuddinNur, [Link] Drs. A s k u r
NIP. 19621111 198303 1 014 NIP. 19570104 199512 1 001
BAB I
PENDAHULUAN
Landasan Penyusunan Program
Program bimbingan dan konseling (BK) merupakan bagian yang terpadu
dari keseluruhan program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, upaya guru
pembimbing maupun berbagai aspek yang terlingkup dalam program merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari seluruh kegiatan yang diarahkan kepada
pencapaian tujuan pendidikan di lembaga yang bersangkutan.
Sebagai isi dari Kurikulum 2013 bahwa untuk pelayanan Bimbingann
Konseling, diarahkan kepada upaya yang memfasilitasi siswa asuh mengenal dan
menerima dirinya sendiri serta lingkungannya secara positif dan dinamis, dan
mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab, mengembangkan serta
mewujudkan diri secara efektif dan produktif, sesuai dengan peranan yang
diinginkan di masa depan serta menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik
agar mampu mengembangkan potensi dirinya atau mencapai tugas-tugas
perkembangannya.
Kompetensi merupakan pengetahuan, ketrampilan, nilai-nilai dan sikap
dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak yang bersifat
dinamis, berkembang serta dapat diraih setiap waktu. Kebiasaan berfikir secara
konsisten dan terus menerus memungkinkan siswa menjadi kompeten, dalam
arti memiliki pengetahuan , ketrampilan, nilai sikap dasar dalam melakukan
sesuatu yang didasari oleh budi pekerti luhur baik dalam kehidupan pribadi,
sosial, kemasyarakatan, keberagamaan serta kehidupan berbangsa dan
bernegara, sesuai dengan kaidah-kaidah agama
Peserta didik sebagai individu sedang berada dalam proses berkembang
atau menjadi (becoming), yaitu berkembang ke arah kematangan atau
kemandirian. Untuk mencapai kematangan tersebut, peserta didik memerlukan
bimbingan karena mereka masih kurang memiliki pemahaman atau wawasan
tentang dirinya dan lingkungannya juga pengalaman dalam menentukan arah
kehidupannya. Di samping itu terdapat suatu keniscayaan bahwa proses
perkembangan individu tidak selalu berlangsung secara mulus, atau steril dari
masalah. Dengan kata lain, proses perkembangan itu tidak selalu berjalan dalam
alur linier, lurus, atau searah dengan potensi, harapan dan nilai-nilai yang
dianut. Untuk itulah perlu disusun suatu program bimbingan dan konseling yang
dirancang secara baik agar mampu menfasilasi individu kearah kematangan dan
kemandirian, yang meliputi aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir.
Pengertian Bimbingan Dan Konseling
Pelayanan bantuan untuk peserta didik baik individu / kelompok agar mandiri
dan berkembang secara optimal dalam hubungan pribadi, sosial, karir, melalui
berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung atas dasar norma-norma
yang berlaku.
Tujuan Bimbingan Dan Konseling
Membantu memandirikan peserta didik dan mengembangkan potensi- otensi
mereka agar berkembang secara optimal.
Visi Bimbingan Dan Konseling
Terwujudnya perkembangan diri dan kemandirian secara optimal dengan
hakekat kemanusiaannya sebagai hamba Tuhan YME, sebagai makhluk sosial
dalam berhubungan dengan manusia dan alam semesta.
Misi Bimbingan Dan Konseling
Menunjang perkembangan diri dan kemandirian siswa untuk dapat menjalani
kehidupannya sehari-hari sebagai siswa secara efektif, kreatif, dan dinamis
serta memiliki kecakapan hidup untuk masa depan karir dalam :
Beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME.
Pemahaman pengembangan diri dan lingkungan.
Pengarahan diri ke arah dimensi spiritual.
Pengambilan keputusan berdasarkan IQ, EQ, dan SQ.
Pengaktualisasian diri secara optimal.
Tujuan dan Sasaran :
Adapun tujuan penyusunan program Bimbingan dan Konseling ini adalah :
1. Sebagai pedoman yang jelas terhadap arah pelaksanaan Bimbingan dan
Konseling di sekolah,
2. Memudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan
3. Agar kegiatan BK di sekolah dapat terlaksana dengan lancar, efisien dan
efektif serta hasil-hasilnya dapat dinilai
Adapun tujuan khusus layanan Bimbingan Konseling di sekolah adalah
siswa dapatmenyelesaikan tugas perkembangannya dalam hidupnya sesuai
dengan situasi dan kondisinya. Adapun Tugas-tugas perkembangan peserta
didik tingkat SMP pada pokoknya adalah sebagai berikut :
1. Mencapai perkembangan diri sebagai remaja yang beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memantapkan cara bertingkah laku yang dapat diterima dalam kehidupan
social.
3. Mengenal seperangkat system etika dan nilai-nilai bagi pedoman hidup
sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga Negara dan anggota umat
manusia.
4. Menumbuhkan sikap kritis dan rasional sehingga mampu membela hak
pribadi dan menilai diri sendiri.
5. Menumbuhkan rasa tanggung jawab atas tindakan pribadii, disiplin,mawas
diri,dan berpartisipasi di dalam lingkungan.
6. Mengarahkan diri pada peranan social sebagai pria dan wanita
7. Mempersiapkan diri, menerima dan bersikap positif serta dinamis terhadap
perubahan fisik dan psikhis yang terjadi pada diri sendiri.
8. Mengenal gambaran dan mengembangkan sikap tentang kehidupan mandiri,
baik secara emosional maupun social ekonomis.
9. Mengenal kemampuan , bakat dan minat , serta arah kecenderungan karir
Mencapai pola hubungan yang baik dengan teman sebaya dalam peranannya
sebagai pria dan wanita.
Fokus Pelayanan
Pelayanan Bimbingan dan Konseling didasarkan pada kebutuhan peserta didik
yang mencakup:
1. Kebutuhan yang bersifat umum dalam rangka pemenuhan tugas
perkembangan peserta didik.
2. Dalam upaya mewujudkan tugas perkembangan itu yang mampu mendo-rong
peserta didik mengenal diri dan lingkungan, mengembangkan diri dan sikap positif,
mengembangkan arah karir dan masa depan
3. Kegiatan bimbingan konseling meliputi Bimbingan pribadi, sosial, belajar,karir
yang bersifat aktual sesuai dengan peristiwa dan atau kondisi masyarakat
terjadi yang berdampak tertentu terhadap peserta didik
Pelaksanaan Pelayanan
Arah Kegiatan Bimbingan Konseling
Tugas
Perkembangan
Bimbingan Bimbingan Bimbingan Bimbingan
Pribadi Sosial Belajar Karir
Materi Bimbingan
Kegiatan BK
- Layanan
- Pendukung
- - Penilaian
Cara Penanganan Siswa Bermasalah
Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat
dilihat dalam bagan berikut ini:
Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan Bimbingan Konseling lebih
mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengembangan,
pelayanan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa bermasalah tetap masih
menjadi perhatian. Dalam hal ini, perlu diingat bahwa tidak semua masalah
siswa harus ditangani oleh guru BK (konselor).
Unit Pelayanan Bimbingan dan Konseling
Manajemen pelayanan BK pada satuan-satuan pendidikan merupakan
bagian integral dari manajemen pendidikan pada satuan pendidikan yang
dimaksud. Dalam hal ini manajemen pelayanan BK terwadahi dalam Unit
Pelayanan BK (UPBK). Secara khusus manajemen BK pada satuan pendidikan
adalah sebagaimana tergambar pada diagram berikut.
Diagram 2
Saling Hubungan Komponen dalam Struktur UPBK
P P
R R
O O
G G
R R
A A
M M
Keterangan Diagram :
Unsur Manajemen BK Kewenangan
A. KoordinatorBK/Guru BK 1. Otoritas pelayanan BK
B. Siswa/OSIS 2. Implementasi Pelayanan BK
C. Wali Kelas 3. Otoritas kepempimpinan satuan pendidikan
D. Guru Mata Pelajaran 4. Otoritas Guru Mata Pelajaran/wali kelas
E. Kepala/Wakil Kepala Sek 5. Koordinasi Guru BK/ Wali Kelas dan Guru
F. Tata Usaha Mata Pelajaran
G. Dinas Pendidikan/ 6. Materi Koordinasi Guru BK dengan Wali Kelas
Pengawas BK dan Guru Mata Pelajaran
H. Orang tua 7. Otoritas pelayanan orang tua/ahli
I. Tenaga Ahli 8. Koordinasi antara Guru BK dengan Orang tua
J. Organisasi Profesi Komite Pendidikan dan tenaga ahli
Dengan memperhatikan unsur-unsur dan kewenangan sebagaimana
tergambar dalam diagram di atas, kinerja manajemen pelayanan BK yang
diselenggarakan oleh Unit Pelayanan BK (UPBK) terkait dengan hal-hal pokok
berikut.
1. Wilayah Kerja dan Tugas Pokok UPBK
a. Spektrum Kinerja Guru BK atau Konselor
Dalam kelembagaan UPBK bertugas sejumlah Guru BK atau Konselor yang
semuanya bertanggung jawab kepada Kepala Sekolah dan dikoordinasikan
oleh seorang Koordinator BK. Dalam hal ini wilayah kerja UPBK adalah
penyelenggaraan pelayanan BK untuk semua peserta didik pada satuan
pendidikan, yang secara keseluruhan diselenggarakan oleh Guru BK atau
Konselor sebagai pelaksana utama. Wilayah kerja yang dimaksud meliputi
pokok-pokok sebagai berikut:
1) Spektrum pelayanan BK yang menjadi ruang lingkup kinerja seluruh Guru
BK dan Konselor adalah program BK yang meliputi konsep dasar tentang
BK, bidang pelayanan, jenis layanan dan kegiatan pendukung, serta aspek-
aspek
terkait lainnya sebagaimana diuraikan pada bab-bab terdahulu pada buku
Panduan ini.
2) Masing-masing Guru BK atau Konselor wajib bekerja dalam keseluruhan
spektrum program pelayanan BK tersebut untuk semua peserta didik yang
menjadi tugas pengasuhannya.
3) Kegiatan Guru BK atau Konselor dalam spektrum program pelayanan BK
tersebut dilaksanakan dengan mengikuti tahap-tahap kegiatan yaitu:
P = Perencanaan : Perencanaan (Program Tahunan, Bulanan, dan
Harian).
: Pengorganisasian prasarana, sarana, personalia,
P = Pengorganisasian tempat, waktu dan administrasi dalam kesiapan
untuk pelaksanaan kegiatan.
: Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan perencanaan
P = Pelaksanaan dan pengorganisasiannya.
M = Monitoring : Pengontrolan, dalam arti monitoring dan
evaluasi kegiatan.
T = Tindak lanjut : Upaya tindak lanjut hasil evaluasi kegiatan.
b. Kerjasama
1) Umum
Dalam melaksanakan tugas pelayanan BK Guru BK atau Konselor
bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan di luar satuan
pendidikan untuk suksesnya pelayanan yang dimaksud. Kerjasama ini
dalam rangka manajemen BK yang menjadi bagian integral dari
manajemen satuan pendidikan secara menyeluruh.
2) Kerjasama Interen
a) Kerjasama dengan Guru Mata Pelajaran
Guru Mata Pelajaran merupakan mitra kerja utama bagi GURU BK
atau Konselor untuk suksesnya pengembangan peserta didik secara
menyeluruh dan optimal. Kerjasama ini dilaksanakan dalam hal :
(1) Pengumpulan dan penghimpunan data akademik dan data
lainnya tentang peserta didik yang menjadi tanggungjawab Guru
BK atau Konselor dengan tetap menjaga asas kerahasiaan peserta
didik
(2) Alih tangan kasus dari Guru Mata Pelajaran kepada Guru BK atau
Konselor dan dari Guru BK atau Konselor kepada Guru Mata
Pelajaran agar peserta didik mendapat penanganan yang tepat,
luas dan mendalam sesuai dengan kebutuhan dan
permasalahannya.
(3) Sebagaimana dikutip dari Permendiknas Nomor 65 Tahun 2013
(4) tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah (Bab
V), yaitu : hasil penilaian otentik dapat digunakan oleh guru
untuk merencanakan program perbaikan (remedial),
pengayaan (enrichment) atau pelayanan konseling, maka tindak
lanjut terhadap hasil penilaian itu dapat menjadi materi
kerjasama antara Guru BK atau Konselor dan Guru Mata
Pelajaran.
(5) Kegiatan bersama yang dilakukan dan/atau dihadiri bersama
oleh Guru BK atau Konselor dan Guru Mata Pelajaran, misalnya
dalam layanan informasi, monitoring dan pembinaan peserta
didik dalam rangka pelayanan arah peminatan dan kegiatan
ekstrakurikuler.
b) Kerjasama dengan Wali Kelas sesuai dengan perannya dalam
pengelolaan rombongan belajar (kelas) peserta didik.
c) Kerjasama dengan personalia administrasi dan unsur kelembagaan
lainnya pada satuan pendidikan demi kelancaran dan
berlangsungnya program-program pelayanan BK dan kegiatan
satuan pendidikan pada umumnya.
d) Kerjasama dengan organisasi siswa (OSIS) baik dalam kaitannya
dengan pelayanan BK maupun kegiatan pembinaan siswa pada
umumnya.
3) Kerjasama Eksteren
a) Kerja Sama dengan Orang Tua
Kerja sama dengan orang tua peserta didik adalah penting terlebih-
lebih karena orang tua dan kondisi keluarga sangat berpengaruh
terhadap kehidupan peserta didik baik dalam kondisi sehari-hari
maupun dalam kondisi yang menyangkut perkembangan peserta
didik pada umumnya. Dalam hal ini peranan orang tua sangat
signifikan (lihat arah pelayanan dasar BK). Meskipun demikian,
berkenaan dengan penanganan peserta didik Guru BK atau Konselor
perlu memperhatikan bahwa :
(1) Permasalahan peserta didik tidak harus seketika dan serta merta
disampaikan kepada orang tua
(2) Masalah yang dimaksud perlu diketahui oleh oarang tua hanya
Apabila orang tua dapat merespon dan/atau bertindak yang
memberikan dampak positif terhadap penanganan masalah
tersebut.
(3) Keikutsertaan orang tua dalam menangani masalah anaknya
dapat diawali atau diiringi dengan layanan konsultasi terhadap
orang tua.
(4) Keikutsertaan orang tua terhadap penanganan masalah anaknya
sedapat-dapatnya didasarkan pada kemauan dan kemampuan
peserta didik sendiri dalam berkontribusi secara poisitif dengan
(5) orang tua dan anggota keluarganya.
b) Kerjasama dengan Pihak Lain
Guru BK atau Konselor yang tergabung dalam UPBK, dalam
keseluruhan kinerjanya bekerjasama dengan unsur-unsur eksternal
SMP, yaitu :
(1) Komite Satuan Pendidikan (Komite Sekolah/ Madrasah) dalam
rangka memberdayakan lembaga tersebut untuk suksesnya kegiatan
pembelajaran peserta didik dan kegiatan satuan pendidikan pada
umumnya.
(2) Tenaga ahli, baik dari kalangan profesi BK (ABKIN: Asosiasi
Bimbingan dan Konseling Indonesia dan IKI: Ikatan Konselor
Indonesia) maupun profesi terkait lainnya, dalam rangka kegiatan
instrumentasi terhadap kemampuan dasar siswa, layanan Informasi
dan Orientasi, Konfrensi Kasus, dan Alih Tangan Kasus demi
suksesnya pelayanan BK terhadap peserta didik pada umumnya.
(3) Badan atau lembaga pembina di luar satuan pendidikan, dengan
izin dari/ atau penugasan dari Kepala Satuan Pendidikan, dalam
rangka pengembangan dan pembinaan kompetensi dan
profesionalisme pelayanan BK, seperti: penataran, seminar,
penelitian, studi lanjut.
(4) Lembaga kedinasan negeri ataupun swasta, seperti lembaga
pendidikan pada berbagai jalur, jenjang, dan jenis pendidikan,
lembaga kerja/bisnis, organisasi sosial/kemsyarakatan yang dapat
berpartisipasi dalam pelayanan BK untuk kegiatan layanan ataupun
pendukung seperti layanan Orientasi, Informasi, Penempatan dan
Penyaluran, Konferensi Kasus.
Pelaksanaan Pelayanan
1. Menyusun program bimbingan dan konseling
Menetapkan tujuan program bimbingan dan konseling
Mengkomunikasikan program BK kepada pimpinan dan guru
- Merumuskan komponen program
- Memilih dan menetapkan strategi, pendekatan, atau teknik secara adekuat
- Merumuskan materi layanan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan
- Menetapkan sasaran layanan
- Menetapkan sekuensi dan jadwal layanan
- Merancang anggaran biaya penyelenggaraan program
- Memadukan program bimbingan dan konseling sebagai bagian integral
program sekolah
2. Mengelola program bimbingan dan konseling
Melaksanakan strategi layanan bimbingan dan konseling
Mengembangkan jejaring (network) layanan bimbingan dan konseling
Mengelola administrasi bimbingan dan konseling
3. Mengevaluasi program bimbingan dan konseling
Menjelaskan peranan atau fungsi evaluasi dalam proses pengembangan
Program
Menjelaskan tujuan evaluasi program
Merancang evaluasi program
Menyusun instrumen untuk mengevaluasi program
Melakukan kegiatan evaluasi program
Menganalisis hasil evaluasi program
4. Memanfaatkan hasil evaluasi untuk mengembangkan program
bimbingan dan konseling
Merancang tindak lanjut berdasarkan hasil evaluasi
Melakukan perbaikan atau pengembangan program berdasarkan hasil
evaluasi
Strategi
Pelatihan dilaksanakan melalui strategi kegiatan sebagai berikut.
1. Ceramah
2. Diskusi kelompok atau kelas
3. Simulasi
4. Pengerjaan tugas-tugas, terutama latihan menyusun rumusan program BK
5. Refleksi
BAB II
PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
A. Manfaat Penyusunan Program
Program bimbingan dan konseling disusun dan dikembangkan didasarkan
atas pertimbangan bahwa program yang disusun dengan baik akan memberikan
banyak keuntungan, baik bagi para siswa yang mendapat layanan bimbingan
dan konseling maupun bagi petugas yang menyelenggarakan. Di samping itu
program bimbingan dan konseling yang baik, memungkinkan keberhasilan
suatu layanan bimbingan dan konseling. Prayitno (2000) mengemukakan
beberapa keuntungan disusunnya suatu program, yaitu :
1. Memungkinkan Guru Pembimbing untuk menghemat waktu, usaha, biaya,
dengan menghindarkan kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi, dan
usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.
2. Siswa asuh akan menerima pelayanan bimbingan dan konseling secara
seimbang dan menyeluruh, baik dalam hal kesempatan, bidang bimbingan
dan jenis-jenis layanan bimbingan yang diperlukan.
3. Setiap Guru Pembimbing mengetahui peranannya masing-masing dan
mengetahui pula bilamana dan dimana harus bertindak, dalam pada itu Guru
Pembimbing akan menghayati pengalaman yang sangat berguna untuk
kemajuannya sendiri dan untuk kepentingan siswa-siswa asuhnya.
Sedangkan Rochman Natawidjaja (1984) menjelaskan bahwa program
bimbingan yang direncanakan dengan baik dan terinci, akan memberikan
banyak keuntungan. Keuntungan-keuntungan tersebut adalah :
(a) Memungkinkan para petugas bimbingan menghemat waktu, usaha, biaya
dengan menghindarkan kesalahan-kesalahan dan usaha coba-coba yang
tidak menguntungkan,
(b) Memungkinkan siswa untuk mendapatkan pelayanan bimbingan secara
seimbang dan menyeluruh, baik dalam kesempatan ataupun dalam jenis
pelayanan bimbingan yang diperlukan,
(c) Memungkinkan setiap petugas mengetahui dan memahami peranannya
dan mengetahui bagaimana dan dimana mereka harus melakukan upaya
secara tepat,
(d) Memungkinkan para petugas untuk menghayati pengalaman yang berguna
untuk kemajuan sendiri untuk kepentingan para siswa yang dibimbingnya.
D. Unsur dan Syarat Penyusunan Program Bimbingan dan
Konseling
Dalam penyusunan program bimbingan dan konseling diharapkan
memenuhi unsur-unsur dan persyaratan tertentu. Menurut Prayitno (1998)
unsur-unsur yang harus diperhatikan dan menjadi isi program bimbingan dan
konseling meliputi : kebutuhan siswa, jumlah siswa yang dibimbing, kegiatan di
dalam dan di luar jam belajar sekolah, jenis bidang bimbingan dan jenis
layanan, volume kegiatan BK, dan frekuensi layanan terhadap siswa.
Sedangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan program
bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
(a) Berdasarkan kebutuhan bagi pengembangan peserta didik sesuai dengan
kondisi pribadinya, serta jenjang dan jenis pendidikannya.
(b) Lengkap dan menyeluruh, artinya memuat segenap fungsi bimbingan.
Kelengkapan program ini disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik
peserta didik pada satuan pendidikan yang bersangkutan.
(c) Sistematik, dalam arti program disusun menurut urutan logis,
tersinkronisasi dengan menghindari tumpang tindih yang tidak perlu, serta
dibagi-bagi secara logis.
(d) Terbuka dan luwes, artinya mudah menerima masukan untuk
pengembangan dan penyempurnaan, tanpa harus merombak program itu
secara menyeluruh.
(e) Memungkinkan kerja sama dengan fihak yang terkait dalam rangka
sebesar-besarnya memanfaatkan berbagai sumber dan kemudahan yang
tersedia bagi kelancaran dan keberhasilan pelayanan BK.
(f). Memungkinkan diselenggarakannya penilaian dan tindak lanjut untuk
penyempurnaan program pada khususnya dan peningkatan keefektifan dan
keefisienan penyelenggaraan program BK pada umumnya.
Sedangkan menurut Kaufan, F. W. Miller dalam Natawidjaja menyebutkan
bahwa suatu program dikatakan baik jika memenuhi persyaratan
sebagai berikut
1. Program itu disusun dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata dari
para siswa sekolah yang bersangkutan.
2. Kegiatan bimbingan diatur menurut skala prioritas yang juga ditentukan
berdasarkan kebutuhan siswa dan kemampuan petugas.
3. Program itu dikembangkan berangsur-angsur, dengan melibatkan semua
tenaga kependidikan di sekolah dalam merencanakannya.
4. Program itu memiliki tujuan yang ideal, tetapi realistik dalam
pelaksanaannya.
5. Program itu mencerminkan komunikasi yang berkesinambungan diantara
semua anggota staf pelaksananya.
6. Menyediakan fasilitas yang diperlukan.
7. Penyusunan disesuaikan dengan program pendidikan di lingkungan
sekolah yang bersangkutan.
8. Memberikan kemungkinan pelayanan semua siswa.
9. Memperlihatkan peranan yang penting dalam menghubungkan dan
memadukan sekolah dengan masyarakat.
10. Berlangsung sejalan dengan proses penilaian diri, baik mengenai program
itu sendiri maupun kemajuan pengetahuan, keterampilan dan sikap petugas
pelaksanaanya.
11. Program itu hendaknya menjamin keseimbangan dan kesinambungan
seluruh pelayanan bimbingan.
E. Tahap-tahap Penyusunan Program Bimbingan dan Konseling
Suatu program hendaknya disusun dengan baik. Untuk menyusun suatu
program bimbingan dan konseling memerlukan langkah-langkah yang bersifat
menyeluruh dan terintegral. Harold J. Burbach & Larry E. Decker (1977:198)
mengemukakan langkah-langkah dalam suatu perencanaan sebagai berikut :
a. Menentukan tujuan yang akan dicapai
b. Menganalisis tentang sumber-sumber dan kendala yaitu yang
berhubungan dengan
personil, sikap, biaya, peraturan-peraturan, fasilitas dan waktu.
c. Menganalisis tentang kebutuhan-kebutuhan
d. Menentukan tujuan-tujuan yang lebih spesifik dan dapat diukur.
e. Menentukan prioritas.
f. Menentukan strategi-strategi dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan
dengan tujuan- tujuan yang spesifik.
g. Mengadakan evaluasi terhadap perencanaan yang mencakup (a) untuk
melihat sejauh mana tujuan-tujuan yang telah dicapai, dan (b) untuk
melihat sejauh mana kegiatan- kegiatan yang telah direncanakan itu
dilaksanakan.
h. Mengadakan beberapa perubahan yang perlu untuk perbaikan program.
Sedangkan Yoseph W. Holis (1965:23-24) menjelaskan bahwa langkah-
langkah penyusunan program bimbingan dan konseling yang baik agar efektif,
ada beberapa bentuk yang harus dilakukan, yaitu:
(a) Mengidentifikasi kebutuhan,
(b) Studi mengenal layanan bimbingan yang telah ada dan mengembangkan
pedoman kegiatan untuk layanan yang baru atau layanan yang
diperbaharui ,
(c) Menetapkan cara-cara untuk mengumpulkan data dan menyebarkan data,
(d) Memodifikasi program,
(e) Seleksi tipe organisasi bimbingan dan konseling dan menetapkan peranan
tenaga pelaksana,
(f) Menyeleksi koordinator dan pimpinan masing-masing bagian program
layanan bimbingan dan konseling,
(g) Menetapkan fasilitas yang memadai,
(h) Pemeliharaan catatan dan laporan yang memadai dalam seluruh kegiatan
layanan bimbingan dari setiap individu,
(h) Pendidikan in-service bagi rekan sekerja (sejawat),
(i) Memanfaatkan sumber daya masyarakat dan referal, dan
(j) Menyusun alokasi dan biaya kegiatan bimbingan.
Mencermati proses perencanaan program bimbingan dan konseling tersebut
di atas, maka dalam penyusunan program bimbingan dan konseling ada
beberapa aspek yang seharusnya mendapatkan penekanan, yaitu
(b) Tujuan,
(c) Kebutuhan-kebutuhan siswa,
(d) Materi dan kegiatan layanan yang diberikan,
(d) Kegiatan evaluasi,
(d) Sumber daya manusia, dan
(e) Sarana dan prasarana.
F. Jenis Program
Program bimbingan dan konseling yang perlu dibuat guru pembimbing guna
merencanakan kegiatan bimbingan antara lain :
1. Program harian, yaitu program yang langsung diadakan pada hari-hari
tertentu dalam satu minggu.
2. Program mingguan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh
untuk kurun waktu satu minggu tertentu dalam satu bulan.
3. Program bulanan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh
untuk kurun waktu satu bulan tertentu dalam satu cawu.
4. Program semester, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh
untuk kurun waktu satu semester tertentu dalam satu tahun ajaran.
5. Program Tahunan, yaitu program yang akan dilaksanakan secara penuh
untuk kurun waktu satu tahun tertentu dalam satu jenjang sekolah.
Kelima jenis program tersebut satu sama lain saring terkait. Program
tahunan didalamnya meliputi program semester, program semester
didalamnya
meliputi program bulanan, program bulanan didalam meliputi agenda
mingguan, dan agenda mingguan didalamnya meliputi agenda harian. Agenda
harian ini merupakan jabaran dari agenda mingguan guru pembimbing pada
kelas yang diasuhnya. Agenda ini dibuat secara tertulis pada buku agenda yang
berupa satuan layanan dan atau satuan pendukung.
G. Unsur-unsur Program Bimbingan dan Konseling
Program bimbingan dan konseling untuk setiap periode disusun dengan
memperhatikan unsur-unsur :
1. Kebutuhan siswa yang diketahui melalui pengungkapan masalah dan
data yang terdapat di dalam himpunan data.
2. Jumlah siswa asuh yang wajib dibimbing :
Guru Pembimbing 150 orang (minimal) sampai 225 orang (maksimal)
sesuai SKB Mendikbud dan Kepala BAKN No. 0433/P/1993 dan No. 25
tahun 1993. Kepala Sekolah yang berasal dari Guru Pembimbing
40 orang, dan Wakil Kepala Sekolah yang berasal dari Guru Pembimbing
75 orang.
3. Bidang-bidang bimbingan : pribadi, sosial, belajar, dan karir.
4. Jenis-jenis layanan : layanan orientasi, informasi, penempatan dan
penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok,
konseling kelompok, konsultasi dan mediasi.
5. Kegiatan pendukung : aplikasi instrumentasi, himpunan data, konferensi
kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan kasus.
6. Volume kegiatan yang diperkirakan antara 4% s.d. 25% pada kegiatan
berikut diatur secara porposional : Kegiatan layanan terdiri : layanan
orientasi, layanan informasi, layanan penempatan dan penyaluran,
layanan pembelajaran, layanan konseling perorangan, layanan bimbingan
kelompok, layanan konseling kelompok, layanan konsultasi, dan layanan
mediasi. Dan kegiatan pendukung terdiri : aplikasi instrumentasi,
himpunan data konferensi kasus, kunjungan rumah, dan alih tangan
kasus
7. Frekuensi layanan : guru pembimbing dalam satu minggu wajib
memberikan minimal sembilan kali kegiatan layanan bimbingan dan
konseling.
8. Lama kegiatan : setiap kegiatan (kegiatan layanan dan pendukung)
berlangsung sesuai dengan kebutuhan.
9. Waktu kegiatan : kegiatan layanan dan pendukung dilaksanakan pada :
(1) jam pelajaran sekolah, digunakan khusus untuk format klasikal
(2) di luar jam pelajaran sekolah sampai 50 % dari seluruh kegiatan
bimbingan dan konseling, untuk kegiatan format lapangan, kelompok,
10. Kegiatan khusus : pada semester pertama setiap tahun ajaran baru
diselenggarakan layanan orientasi kelas/sekolah, dan himpunan data
bagi siswa baru.
11. Ekuifalensi : setiap kali penyelenggaraan jenis layanan/kegiatan
pendukung bimbingan dan konseling diakui setara dengan 2 jam
pelajaran. Dengan demikian guru pembimbing melaksanakan minimal
BAB III
PENYUSUNAN PROGRAM BIMBINGAN KONSELING
Program pelayanan bimbingan dan konseling disusun berdasarkan
kebutuhan, lengkap dan menyeluruh, sistematik, terbuka dan luwes,
memungkinkan bekerja sama, dan memungkinkan diselenggarakannya
penilaian dan tindak lanjut.
Analisis Kebutuhan
Guru pembimbing perlu mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan peserta
didik yang terkait dengan tugas-tugas dan tingkat perkembangannya. Sebelum
merumuskan program bimbingan dan konseling, ada dua hal yang perlu
diperhatikan dalam mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan, yaitu :
(1) Mengkaji kebutuhan atau masalah peserta didik yang nyata di lapangan,
dan
(2) Mengkaji harapan peserta didik, sekolah dan masyarakat terhadap materi
bimbingan dan konseling. Kebutuhan atau masalah siswa dapat
diidentifikasi melalui
(1). Karakteristik siswa,
seperti aspek-aspek fisik (kesehatan dan keberfungsiannya),
kecerdasan, motif belajar, sikap dan kebiasaan belajar, temperamen
(periang, pendiam, pemurung, atau mudah tersinggung), dan
karakternya (seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab);
dan
(2) Harapan peserta didik, sekolah, dan masyarakat dapat dianalisis dari
tugas-tugas perkembangan yang dijabarkan dalam rumusan
kompetensi dan materi pengembangan kompetensi dalam
pengembangan silabus.
Perumusan Tujuan
Tujuan merupakan pernyataan yang menggambarkan hasil yang diharapkan,
atau sesuatu yang ingin dicapai melalui berbagai kegiatan yang diprogramkan.
Tujuan bimbingan dan konseling merupakan pernyataan yang menggambarkan
kualitas perilaku atau pribadi siswa yang diharapkan berkembang melalui
berbagai strategi layanan kegiatan yang diprogramkan.
Pengembangan Materi Bimbingan dan Konseling
Pengembangan materi bimbingan dan konseling dilakukan setelah kita
mengetahui materi yang akan diberikan oleh peserta didik melalui analisis
kebutuhan materi bimbingan dan konseling. Pengembangan materi bimbingan
dan konseling dimaksudkan sebagai acuan guru dalam memberikan kegiatan
layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Pengembangan materi adalah segala bentuk pengembangan bahan yang
digunakan untuk membantu guru pembimbing dalam melaksanakan kegiatan
layanan bimbingan dan konseling. Bahan bimbingan dimaksud bisa berupa
bahan bimbingan tertulis maupun bahan bimbingan tidak tertulis. Bahan
bimbingan yang dimaksud adalah seperangkat materi bimbingan dan konseling
yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari bentuk
kompetensi yang ada pada diri peserta didik sehingga guru pembimbing dapat
memberikan perlakuan lebih lanjut terhadap kompetensi yang diharapkan
dimiliki oleh peserta didik.
Pengembangan materi merupakan hal penting yang harus
dilakukan guru pembimbing. Pengembangan materi bertujuan
untuk :
1. Memperkaya informasi yang diperlukan dalam menyusun materi layanan
bimbingan dan konseling.
2. Dapat digunakan sebagai pedoman dalam memberikan layanan bimbingan
dan konseling.
3. Memudahkan bagi peserta didik untuk mempelajari suatu kompetensi
tertentu
Agar pengembangan materi bermakna, maka guru pembimbing dituntut
untuk dapat secara kreatif mendesain suatu materi yang memungkinkan
peserta didik dapat secara langsung memanfaat bentuk pengembangan
materi tersebut.
Perumusan Kegiatan Layanan dan Kegiatan Pendukung
Setelah materi bimbingan dan konseling tersusun maka langkah
selanjunya adalah menentukan kegiatan layanan dan pendukung apa yang
akan digunakan dalam pemberian layanan materi bimbingan dan konseling.
Subtansi Layanan dan kegiatan Pendukung Bimbingan Konseling
a. Layanan Orientasi
(1) Layanan Orientasi: materi pengembangan pribadi berkarakter, yaitu
objek-objek orientasi seperti:
Fasilitas olah raga; latihan bina raga; bela diri.
Sanggar seni dan budaya
Tempat peribadatan
Rehabilitasi penderita narkoba
(2) Layanan Orientasi: materi pengembangan hubungan sosial
berkarakter, yaitu objek-objek orientasi seperti:
Kegiatan gotong royong
Perjamuan
Diskusi, dan kegiatan kelompok lainnya
Rapat besar
(3) Layanan Orientasi: materi pengembangan kemampuan belajar yaitu
materi-materi orientasi, seperti:
Lembaga bimbingan belajar
Fasilitas belajar di sekolah
Perpustakaan sekolah
Satuan-satuan pendidikan dengan pola belajar tertentu
Sekolah Lanjutan
Catatan :
Dalam layanan orientasi dengan materi pengembangan peminatan
dan kemampuan belajar perlu ditekankan nilai-nilai karakter dalam
belajar seperti disiplin, ulet dan kerja keras, kewajiban pengembangan
potensi diri secara optimal.
(4) Layanan Orientasi: Materi pengembangan wawasan, arah dan
implementasi karir,yaitu objek-objek orientasi karir, terkait dengan aspek-
aspek seperti:
Nama, bentuk dan kondisi berbagai lembaga Pendidikan Lanjutan (jalur,
jenjang, dan jenisnya).
Kursus-kursus keterampilan
Bengkel
Perusahaan/pabrik, industri
Kantor
Perkebunan, pertanian, perikanan, pertambangan
Catatan :
Dalam layanan orientasi dengan materi pengembangan peminatan,
wawasan, arah dan implementasi karir perlu ditekankan nilai-nilai
karakter dalam bekerja seperti disiplin, ulet dan kerja keras, jujur,
produktif, nilai tambah, manfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan.
b. Layanan Informasi
(5) Layanan Informasi: Informasi tentang pengembangan potensi,
kemampuan dan kondisi pribadi yang berkarakter, seperti:
Kecerdasan
Bakat
Minat
Karakteristik pribadi; pemahaman diri
Tugas perkembangan, tahap perkembangan
Gejala perkembangan tertentu
Perbedaan individual
Keunikan diri
(6) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan dan
kondisi hubungan sosial yang berkarakter, seperti :
Pemahaman terhadap orang lain
Kiat berteman
Hubungan antar remaja
Hubungan dalam keluarga
Hubungan dengan guru, orangtua, pimpinan masyarakat
Data sosiogram
(7) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, kegiatan
dan hasil belajar, seperti:
Peminatan dalam belajar : peminatan akademik, vokasional, dan studi
lanjutan
Kiat belajar
Kegiatan belajar di dalam kelas
Belajar kelompok
Belajar mandiri
Hasil belajar mata pelajaran
Persiapan ulangan, ujian UAS dan UAN
Catatan :
Dalam layanan informasi dengan materi pengembangan kemampuan
belajar dan peminatan perlu ditekankan nilai-nilai karakter dalam
belajar seperti disiplin, ulet dan kerja keras, kewajiban pengembangan
potensi diri secara optimal.
(8) Layanan Informasi: Informasi tentang potensi, kemampuan, arah dan
kondisi karir, termasuk aspek-aspek yang disebut dalam KKNI, seperti:
Hubungan antara bakat, minat, pekerjaan, dan pendidikan
Persyaratan karir
Pendidikan umum dan pendidikan kejuruan
Informasi karir/pekerjaan/pendidikan
Catatan :
Dalam layanan informasi dengan materi pengembangan wawasan,
arah dan implementasi peminatan karir perlu ditekankan nilai-nilai
karakter
dalam bekerja seperti disiplin, ulet dan kerja keras, jujur, produktif,
nilai tambah, manfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
c. Layanan Penempatan dan Penyaluran
(9) Layanan Penempatan/Penyaluran: Penempatan dan penyaluran
untuk pengembangan kemampuan pribadi dan sosial yang berkarakter,
belajar, dan peminatan kelanjutan studi dan karir dapat dilakukan melalui
penempatan di dalam kelas (berkenaan dengan tempat duduk), pada
kelompok belajar; diskusi, magang; krida; latihan keberbakatan/prestasi,
kegiatan lapangan, kepanitiaan, serta kegiatan layanan bimbingan/BK
kelompok. Masing-masing penempatan/penyaluran itu dapat
dimaksud-kan untuk mengembangkan satu atau lebih kemampuan
peserta didik: kemampuan pribadi, sosial, belajar, karir, dalam kaitannya
dengan peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan.
d. Layanan Penguasaan Konten
(13) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan
dalam kehidupan pribadi yang berkarakter,seperti:
Mengatur jadwal kegiatan sehari-hari: di rumah, di sekolah, di luar
rumah/sekolah.
Menyampaikan kondisi diri sendiri kepada orang lain
Mengambil keputusan
Menggunakan waktu senggang
Memperkuat ibadat keagamaan
Mengendalikan diri
Berpikir dan bersikap positif; apresiatif
Mematuhi peraturan lalu-lintas
(14) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan
dalam kehidupan sosial yang berkarakter,seperti:
Cara berbicara dengan orang yang berbeda-beda (teman sebaya,
orang yang lebih tua, anggota keluarga)
Kemampuan berpidato
Menyampaikan pendapat secara lugu (asertive) kepada orang lain
Mendengar, memahami dan merespon secara tepat dan positif
pendapat orang lain
Melihat kebaikan orang lain dan mengekspresikannya
Menulis surat persahabatan
Mengucapkan salam; terima kasih; meminta maaf
Kemampuan berdiskusi; bermusyawarah
(15) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan dalam
kegiatan dan penguasaan bahan belajar, seperti:
Menyusun jadwal belajar
Bertanya/menjawab di dalam kelas
Meringkas materi bacaan
Menyusun kalimat efektif dalam paragraf
Menyusun laporan kegiatan/tugas pelajaran
Menyusun makalah
Catatan :
Dalam layanan penguasaan konten dengan materi pengembangan
kemampuan belajar perlu ditekankan nilai-nilai karakter dalam
belajar seperti disiplin, ulet dan kerja keras, kewajiban
pengembangan potensi diri secara optimal, dalam kaitannya dengan
peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan.
(16) Layanan Penguasaan Konten: Kompetensi dan kebiasaan
dalam pengembangan karir, seperti:
Menyalurkan peminatan sesuai dengan bakat, minat, kegemaran yang
mengarah ke karir tertentu
Memelihara perabotan rumah tangga: pakaian, perabot, peralatan
listrik
Memperbaiki peralatan sederhana
Menyusun lamaran pekerjaan; currikulum vitae
Mempertimbangkan dan memilih pekerjaan
Mempertimbangkan dan memilih pendidikan sesuai dengan arah
peminatan karir
Catatan :
Dalam layanan penguasaan konten dengan materi pengembangan
wawasan, arah dan implementasi karir perlu ditekankan nilai-nilai
karakter dalam bekerja seperti disiplin, ulet dan kerja keras, jujur,
produktif, nilai tambah, manfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan, dalam kaitannya dengan peminatan akademik,
vokasional dan studi lanjutan.
e. Layanan Konseling Perorangan
(17) Layanan BK Perorangan: Materi yang dibahas dalam layanan BK
perorangan tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu, melainkan akan
diungkapkan oleh klien ketika layanan dilaksanakan. Apapun masalah
yang diungkapkan oleh klien (masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun
(18) karir), maka masalah itulah yang dibahas dalam layanan BK perorangan.
Dalam hal ini konselor dapat memanggil siswa (yaitu siswa yang menjadi
tanggung jawab asuhannya) untuk diberikan layanan BK untuk masalah
tertentu (masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir, termasuk di
dalamnya masalah peminatan), namun konselor harus lebih
mengutamakan masalah yang dikemukakan sendiri oleh siswa yang
menerima layanan BK perorangan. Pembahasan materi dalam layanan
BK perorangan diorientasikan pada pemahaman dan pengamalan nilai-
nilai karakter yang terpuji.
f. Layanan Bimbingan Kelompok
(21) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan dan
kondisi pribadi yang pembahasannya diorientasikan pada pemahaman
dan pengembangan nilai-nilai karakter, seperti:
Potensi diri
Kiat menyalurkan bakat, minat, kegemaran, hobi
Kebiasaan sehari-hari di rumah; kegiatan rutin, membantu orang tua,
belajar
Sikap terhadap narkoba; KKN; pembunuhan; perkosaan; perang
Sikap terhadap bencana alam; kecelakaan; HAM; kemiskinan; anak
terlantar
Perbedaan individu
(22) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang Kemampuan dan
kondisi hubungan sosial yang pembahasannya diorientasikan pada
pemahaman dan pengamalan nilai-nilai karakter, seperti:
Hubungan muda-mudi
Suasana hubungan di sekolah: antar siswa, guru-siswa, antar personil
sekolah lainnya
Peristiwa sosial di masyarakat: demo brutal, bentrok antar warga
Peranan RT/RW
Toleransi, solidaritas
(23) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang kemampuan,
kegiatan dan hasil belajar, seperti:
Kiat-kiat belajar; belajar sendiri; belajar kelompok
Sikap terhadap mata pelajaran; tugas/PR; suasana belajar di sekolah,
perpustakaan, laboratorium
Sikap terhadap hasil ulangan, ujian
Masalah menyontek dalam ulangan/ujian
Pemanfaatan buku pelajaran
Catatan :
Dalam layanan bimbingan kelompok dengan materi pengembangan
kemampuan belajar perlu ditekankan nilai-nilai karakter dalam belajar
seperti disiplin, ulet dan kerja keras, kewajiban pengembangan potensi
diri secara optimal, dalam kaitannya dengan peminatan akademik,
vokasional dan studi lanjutan.
(24) Layanan Bimbingan Kelompok: Topik tentang pengembangan
karir, seperti:
Hidup adalah untuk bekerja
Masa depan kita; masalah pengangguran; lowongan pekerjaan; PHK
Memilih pekerjaan; memilih pendidikan lanjutan
Masalah TKI/TKW
Catatan :
Dalam layanan bimbingan kelompok dengan materi pengembangan
wawasan, arah dan implementasi karir perlu ditekankan nilai-nilai
karakter dalam bekerja seperti disiplin, ulet dan kerja keras, jujur,
produktif, nilai tambah, manfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan, dalam kaitannya dengan peminatan akademik, vokasional
dan studi lanjutan.
g. Layanan Konseling Kelompok
(25) Layanan Konseling Kelompok: Seperti untuk layanan BK
perorangan, materi yang dibahas dalam BK kelompok tidak dapatd
itetapkan terlebih dahulu oleh konselor, melainkan akan dikemukakan
oleh masing-masing anggota kelompok. Apapun masalah yang
diungkapkan oleh anggota kelompok tersebut, dan terpilih untuk
dibicarakan (apakah masalah pribadi, sosial, belajar, ataupun karir,
termasuk permasalahan peminatan) itulah yang dibahas melalui layanan
BK kelompok. Dalam hal ini konselor dapat mengikut sertakan seorang
atau lebih siswa yang diasuhnya untuk menjadi anggota kelompok dan
menjalani layanan BK kelompok dengan masalah tertentu (masalah
pribadi, sosial, belajar, atau karir) dan dapat mengupayakan agar
masalah tersebut dapat dibahas, namun konselor harus lebih
mengutamakan masalah yang dipilih oleh kelompok untuk dibahas
dalam BK kelompok. Pembahasan materi dalam layanan BK kelompok
diorientasikan pada pemahaman dan pengamalan nilai-nilai karakter
yang terpuji.
h. Layanan Konsultasi
(29) Layanan Konsultasi:
Seperti untuk layanan BK perorangan, materi yang dibahas dalam
layanan konsultasi tidak dapat ditetapkan terlebih dahulu oleh konselor,
melainkanakan dikemukakan oleh konsulti ketika layanan berlangsung.
Apapun masalah yang diungkapkan oleh konsulti tentang siswa yang
hendak dibantunya (apakah masalah pribadi, sosial, belajar, atau karir)
itulah yang dibahas dalam layanan konsultasi, dalam kaitannya dengan
peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan. Konselor dapat
memperkirakan apa yang hendak dikemukakan oleh konsulti untuk
dibahas dalam layanan konsultasi, namun konselor harus mengutamakan
pembahasan masalah yang dikemukakan sendiri oleh konsulti. Dalam
layanan konsultasi kegiatan dan materi pembahasan diorientasikan pada
pemahaman dan pengamalan nilai-nilai karakter yang terpuji.
i. Layanan Mediasi
Layanan Mediasi: Masalah yang menyebabkan perselisihan pada
dasarnya adalah masalah sosial. Dalam hal ini layanan mediasi pertama-
tama menangani hubungan sosial di antara pihak-pihak yang berselisih.
Dalam pelaksanaan layanan mediasi boleh jadi akan muncul masalah
pribadi, masalah belajar, masalah karir (termasuk masalah peminatan)dan
masalah sosial lainnya yang perlu ditangani oleh konselor. Seluruh kegiatan
dan materi pembahasan diorientasikan pada pemahaman dan pengamalan
nilai-nilai karakter yang terpuji.
j. Layanan Advokasi
(37) Layanan Advokasi: Seperti pada layanan konsultasi dan mediasi,
masalah yang dibahas dalam layanan advokasi terkait dengan
sejumlah pihak. Secara khusus layanan advokais menekankan pada
upaya pembelaan terhadap hak-hak pribadi yang kurang diperhatikan
oleh pihak lain dan atau mendapat perlakuan yang salah. Dalam hal ini
layanan advokasi boleh jadi akan membahas masalah pribadi, masalah
belajar, masalah karir (termasuk masalah peminatan), dan masalah
sosial lainnya yang perlu ditangani oleh konselor, termasuk dalam
kaitannya dengan peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan.
Seluruh kegiatan dan materi pembahasan diorientasikan pada
pemahaman dan pengamalan nilai-nilai karakter yang terpuji.
k. Kegiatan Pendukung Aplikasi Instrumentasi
(41) Aplikasi Instrumentasi:
Instrumentes dan nontes untuk mengungkapkan kondisi dan masalah
pribadi, sosial, belajar, dan karir (termasuk masalah peminatan) yang
bentuk dan isinya bermacam-macam, seperti:
Tes Inteligensi
Tes Bakat
Inventori Minat Karir
Inventori Kreativitas
Inventori Kepribadian: Self-Esteem; Locus of Control
Inventori Hubungan Sosial
Inventori Tahap Perkembangan
Sosiometri
Alat Ungkap Masalah: Masalah Belajar, dan Masalah-masalah lainnya
Tes Hasil Belajar
Tes Diagnostik
Masing-masing instrumen di atas ada yang mengukur atau
mengungkapkan satu atau lebih kondisi diri peserta didik/sasaran
layanan: kondisi diri pribadi, hubungan sosial, kemampuan belajar, dan
atau arah/kemampuan karir. Dalam aplikasi instrumentasi perlu
ditekankan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, objektivitas,
penghargaan terhadap perbedaan individu.
l. Kegiatan Pendukung Himpunan Data
(45) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi dan lingkungan diri
pribadi, seperti:
Identitas diri
Potensi dasar: inteligensi, bakat, minat
Identitas keluarga
Riwayat kesehatan
Catatan anekdot (kejadian khusus)
Masalah diri pribadi
(46) Himpunan Data: Data perkembangan, kondisi hubungan dan
lingkungan sosial, seperti:
Sosiogram
Teman dekat
Data hubungan sosial
Masalah sosial
(47) Himpunan Data: Data kemampuan, kegiatan dan belajar, seperti:
Nilai hasil belajar
Data kegiatan belajar
Riwayat pendidikan
Masalah belajar
(48) Himpunan Data: Data kemampuan, arah dan persiapan karir, seperti:
Pekerjaan orang tua/keluarga
Bakat-minat karir; jurusan yang diambil
Masalah karir
Catatan
Dalam penyelenggaraan himpunan data perlu ditekankan peminatan
akademik, vokasional dan studi lanjutan, dengan menerapkan asas
kerahasiaan dan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, objektivitas,
penghargaan terhadap perbedaan individu.
m. Kegiatan Pendukung Konferensi Kasus
(49) Konferensi Kasus: Masalah pribadi, seperti:
Sering absen; membolos
Tingkah laku menyimpang; nakal
(50) Konferensi Kasus: Masalah sosial,seperti:
Suka menyendiri
Menganggu teman
(51) Konferensi Kasus: Kasus masalah belajar, seperti:
Menganggu suasana kelas ketika sedang belajar
Lalai mengerjakan PR
Nilai pelajaran rendah
Sulit mengikuti pelajaran
(52) Konferensi Kasus: Masalah karir,seperti:
Masalah penjurusan
Pilihan karir
Kegiatan praktik;magang
Catatan
Dalam penyelenggaraan konferensi kasus perlu ditekankan peminatan
akademik, vokasional dan studi lanjutan dengan menerapkan asas
kerahasiaan dan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, objektivitas,
penghargaan terhadap perbedaan individu.
n. Kegiatan Pendukung Kunjungan Rumah
(53) KunjunganRumah:
Kegiatan kunjungan rumah dapat membawa/membahas satu atau lebih
masalah siswa (masalah pribadi, sosial, belajar, dan atau karir dalam
kaitannya dengan peminatan akademik, vokasional dan studi lanjutan)
untuk dibicarakan dengan orang tua dan atau keluarga. Kunjungan
rumah dilaksanakan seizin sasaran layanan yang bersangkutan dan orang
tua serta dalam suasana pengamalan nilai-nilai karakter.
o. Kegiatan Pendukung Tampilan Kepustakaan
(57) Tampilan Kepustakaan: Materibacaan, film, rekaman vidio dan
audio tentang perkembangan dan kehidupan pribadi karakter, seperti:
Tahap-tahap perkembangan
Tugas-tugas perkembangan
Penampilan dan pengembangan bakat, minat, kegemaran
Sistem penjurusan, peminatan, SKS
Kehidupan keagamaan
Bahan relaksasi
Motivasi berprestasi
Otobiografi: Kisah orang-orang sukses
Studi lanjutan
(58) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman vidio dan
audio tentang kemampuan hubungan sosial berkarakter, seperti:
Suasana hubungan Saya Oke, Kamu juga Oke
Kiat bergaul
Kepemimpinan
Mengatasi konflik dengan win-winsolution
(59) Tampilan Kepustakaan: Materi bacaan, film, rekaman video dan
audio tentang kemampuan dan kegiatan belajar, seperti:
Kiat belajar di sekolah
Panduan menulis makalah
Bagaimana menyiapkan dari untuk ulangan/ujian
Belajar secara mandiri
Belajar kelompok
Arah peminatan melanjutkan studi
Catatan :
Dalam kegiatan pendukung tampilan kepustakaan dengan materi
pengembangan kemampuan belajar perlu ditekankan nilai-nilai
karakter dalam belajar seperti disiplin, ulet dan kerja keras,
kewajiban pengembangan potensi diri secara optimal, dan arah
peminatan melanjutkan studi.
(60) Tampilan Kepustakaan: Materi becaan, film, rekaman vidio dan
audio tentang arah dan kehidupan karir, misalnya:
Apa bakat dan karir Anda?
Informasi karir
Panduan penjurusan
Panduan memilih sekolah lanjutan
Lowongan pekerjaan
Keselamatan kerja
Kiat sukses dalam karir
Arah peminatan karir
Catatan :
Dalam kegiatan pendukung tampilan kepustakaan dengan materi
pengembangan wawasan, arah dan implementasi karir perlu ditekankan
nilai-nilai karakter dalam bekerja seperti disiplin, ulet dan kerja keras,
jujur, produktif, nilai tambah, manfaat untuk diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan, dalam kaitannya dengan peminatan akademik, vokasional
dan studi lanjutan.
p. Kegiatan Pendukung Alih Tangan Kasus
(61) Alih Tangan Kasus:
Materialih tangan kasus merupakan pendalaman terhadap masalah
pribadi, sosial, belajar, dan atau karir siswa yang semula ditangani oleh
konselor, dalam kaitannya dengan peminatan akademik, vokasional dan
studi lanjutan yang selanjutnya memerlukan penanganan oleh pihak
lain yang berkeahlian/berkewenangan.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Program bimbingan dan konseling mempunyai tujuan untuk
membantu siswa dalam usaha pengembangan kehidupan pribadi, sosial,
belajar dan bidang karir. Dalam pelayanan dan konseling diharapkan siswa
mampu untuk mencapai pengembangan potensi yang dimiliki secara
optimal.
Dalam pelaksanaan program yang ada pada layanan bimbingan dan
konseling diharapkan partisipasi dan dukungan pihak yang terkait antara
lain :
1. Pihak sekolah, bantuan dan dukungan material dan spritual demi
tercapainya suasana pendidikan yang menyenangkan.
2. Guru dan wali kelas dapat kontribusi dalam penanganan membantu
permasalahan yang dialami oleh siswa.
3. Tenaga kependidikan yang ada di sekolah agar turut berperan serta
dalam pelaksanaan dibidang administrasi yang dibutuhkan.
4. Peran serta siswa dan seluruh unsur-unsur yang ada disekolah agar
dapat memahami dan menempatkan pungsi bimbingan konseling
secara nyata, ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab.
Bungah, 27 Juli 2015
Wassalamualaikum wr wb