BLOK ILMU KEDOKTERAN HERBAL
REFERAT
HERBAL AFRODISIAK
Disusun oleh :
Fatma Nashriati
1413010036
Tutor :
dr. Dyah Retnani Basuki [Link]. AAAK
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2
Kata Pengantar ........................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 4
A. Latar Belakang ............................................................................................. 4
A. Tujuan .......................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 6
A. Purwoceng .................................................................................................... 6
A. Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl) ....................................................... 12
B. Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) ........................... 16
C. Pasak Bumi ................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 25
2
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang tanaman obat afroksida.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang obat afrodisiak
dapat memberikan ilmu dan manfaat terhadap pembaca.
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infertilitas merupakan masalah perlu perhatian. Masalah infertiitas daoat
terjadi baik pria mapun wanita. Pada pria infertilitas berkaitan dengan
gangguan kesuburan. Mekanisme infertilitas pada pria dapat terjadi
melalui atas 3 golongan yaitu Pre-testikuler, Testikuler serta Post-
testikuler. Gangguan pre-testikuler berkaitan dengan gangguan hormonal
yang mempengaruhi proses spermatogenesis seperti menurunnya produksi
Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH)
sehingga menimbulkan keadaan yang disebut hipogonadisme. Gangguan
testikuler dapat terjadi di dalam tubulus seminiferus, misalnya testis rusak
akibat trauma atau infeksi. Adapun gangguan post-testikuler adalah
berbagai gangguan yang terjadi setelah spermatozoa keluar dari tubulus
seminiferus, misalnya gangguan viabilitas dan motilitas spermatozoa
karena infeksi atau sebab lain. Untuk mengatasi infertilitas dapat diberikan
tanaman obat yang mempunyai kandungan androgen.
4
A. Tujuan
Untuk mengetahui deskripsi, toksonomi, uji preklinik, uji klinik,
kandungan kimia, keamanan, indikasi, kontraindikasi, efek samping, serta
resep dari tanaman obat seperti :
1. Purwoceng
2. Cabe Jawa
3. Som Jawa
4. Pasak Bumi
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Purwoceng
1. Definisi
Purwoceng merupakan tanaman herba komersial yang akarnya
dilaporkan berkhasiat sebagai afrodisiak (meningkatkan gairah seksual
dan menimbulkan ereksi), diuretik (melancarkan saluran air seni), dan
tonik (mampu meningkatkan stamina tubuh). Tanaman tersebut
merupakan tanaman asli Indonesia yang hidup secara endemik di
daerah pegunungan seperti dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah,
Gunung Pangrango di Jawa Barat, dan area pegunungan di Jawa Timur.
6
2. Toksonomi
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dycotiledone
Famili : Apiaceae
Genus : Pimpinella
Spesies : Pimpinella alpine Molk (Lailatusifah, 2011).
3. Morfologi
Tanaman purwoceng memiliki pohon yang membentuk roset, tangkai
daun tumbuh rapat menutupi batang tanaman, seolah batang tanaman
tidak ada (Darwati,2006). Daun tanaman perwoceng berbentuk
majemuk yang berhadapan berpasang- pasangan dan di ujung tangkai
terdapat daun tunggal. Bentuk anak daun membulat dengan pinggiran
bergerigi. Warna permukaan daun hijau, dan permukaan bawahnya
berwarna hijau keputih-putihan. Purwoceng memiliki akar tunggang,
akar bagian pangkal semakin bertambahnya umur tanaman maka akan
semakin besar pula ukuran perakaran seolah membentuk umbi seperti
bentuk perakaran gingseng dan rambut-rambut akar keluar pada
ujungnya (Raharjo,2005).
7
Tabel 2.1. Deskripsi Tanaman Perwoceng
Deskripsi
Habitus Semak, menutup tanah, tinggi 25 cm
Batang Semu, bulat, lunak, hijau pucat
Daun Majemuk, bentuk jantung, panjang + 3 cm, lebar 2,5
cm, tepi
bergerigi, ujung tumpul, pangkal bertoreh, tangkai
panjang 5 cm, coklat kehijauan, pertulangan
menyirip, hijau
Bunga Majemuk berbentuk paying, tangkai silinder, panjang
+2 cm,
kelopak bentuk tabung, hijau, benang sari putih, putik
bulat, hijau, mahkota berambut, coklat
Buah Lonjong, kecil, hijau
Biji Lonjong, kecil, coklat
Akar Tunggang, putih kotor
4. Kandungan Kimia
Purwoceng mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yaitu
turunanan kumarin, sterol, saponin, dan alkaloid. Kelompok
furanokumrin seperti isobergapten dan sphondin (Sidik,2004) serta
senyawa turunan kumarin seperti bergapten, xanthotoksin, marmesin,
6.8 dimetoksi umbeliferon. Saponin dan sterol golongan triterpenoid
8
yaitu senyawa yang memiliki kerangka karbon berasal dari 6 satuan
isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik
skualena ( Darwati, 2007).
Seluruh bagian tanaman purwoceng (akar, daun dan bunga) dapat
berguna sebagai obat, serta mengandung turunan senyawa verol, yaitu
sitosterol, stigmasterol dan turunan senyawa furanokumarin yaitu
bergapten dan vitamin E. Kandungan dari komponen kimia tersebut
begitu kompaknya dengan fungsi yang saling mengisi dimana sitosterol
dan stigmasterol berfungsi sebagai aprodisiak atau meningkatkan
vitalitas seks bagi kaum pria.
Tabel 2.2. Kandungan Fitokimia Purwoceng
Senyawa aktif
Lomonena (terkandung Menghambat pertumbuhan jamur Candida
dalam seluruh bagian albicans penyebab keputihan,
tanaman) merangsang peristaltic
Anisketone (terkandung Merangsang dan menambah semangat, dan
dalam pereda lelah
buah)
Asam kafeat Merangsang semangat, merangsang aktifitas
(Terkandung dalam saraf pusat, merangsang keluarnya
9
seluruh bagian prostaglandin,
tanaman) dan menghambat keluarnya histamine
Dianethole (terkandung Merangsang hormon estrogen
dalam
seluruh bagian tanaman)
Hydroquinone Merangsang ereksi, mengurangi sekresi
(terkandung dalam cairan pada liang vagina, anti pendarahan
seluruh bagian diluar haid,
tanaman) merangsang semangat, menaikkan tekanan
darah
Isoorietin (terkandung Menambah produksi sperma
dalam
seluruh bagian tanaman)
Phlellandrene (terkandung Memacu ereksi, sebagai bahan
dalam seluruh pewangi dan pengharum
bagian tanaman)
Squalena (terkandung Merangsang semangat, melancarkan transfer
dalam oksigen dalam darah
seluruh bagian tanaman)
Stigmasterol Merangsang hormon estrogen, merangsang
(terkandung dalam terjadinya proses ovulasi, bahan baku
seluruh bagian pembuatan
tanaman) hormon steroid
10
5. Uji Praklinik
Penelitian pada tikus jantan usia 40 hari menunjukkan bahwa
pemberian po ekstrak purwoceng 25 mg selama 53 hari meningkatkan
spermatogenesis, meningkatkan jumlah dan motilitas sperma dibanding
control akuades (P < 0,01). Penelitian lainnya pada tikus jantan usia 90
hari menunjukkan bahwa pemberian 2 mL po ekstrak purwoceng 25
mg/mL (2,5% b/v) selama 7 hari meningkatkan kadar testosteron dan
LH yang diukur dengan metode RIA. (Kemenkes, 2016)
6. Uji Klinik
Penelitian dilakukan terhadap 40 laki-laki berumur 40 tahun dibagi
dalam 2 klompok. Kelompok pertama diberikan kapsul plasebo dan
Kelompok kedua kapsul ekstrak purwoceng 50 mg/hari untuk 15 hari.
Hasil menunjukkan ekstrak purwoceng meningkatkan kadar LH, indeks
androgen bebas dan indeks defisiensi androgen (Kemenkes, 2016)
7. Indikasi
Aprodisiak dan disfungsi ereksi.
8. Kontraindikasi pada gagal ginjal, hipertensi, kelainan jantung.
Peringatan Konsumsi Purwoceng secara berlebihan mengakibatkan
iritasi ginjal (Kemenkes, 2016).
9. Resep dan Interaksi
1 x 2 kapsul (500 mg ekstrak akar), diminum 1 jam sebelum melakukan
aktivitas dan interaksi purwoceng belum diketahui (Kemenkes, 2016)
11
B. Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl)
1. Toksonomi
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Viridaeplantae
Filum : Magnoliophyta
Subfilum : Spermatophyta
Infrafilum : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Magnoliidae,
Superorder : Piperanae
Ordo : Piperales
Family : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper retrofractum Vahl
12
2. Morfologi
Tanaman cabe jawa merupakan tumbuhan menahun. Batang cabe jawa
dengan percabangan liar, tumbuh memanjat, melilit dengan akar
lekatnya panjang mencapai 10 meter. Percabangan dimulai dari
pangkalnya yang menyerupai kayu. Daun cabe jawa tunggal, berbentuk
bulat telur sampai lonjong, pangkal membulat, ujung meruncing, tepi
rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, permukaan bawah
berbintik-bintik, panjang 8,530 sentimeter, lebar 3-13 sentimeter dan
berwarna hijau (Haryudin, 2009)
Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak
atau sedikit merunduk, bulir jantan lebih panjang dari betina. Buah
majemuk berupa bulir, berbenntuk bulat panjang sampai silindris,
bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur,
panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm, bertangkai panjang. Bagian
tanaman yang digunakan sebagai pengobatan adalah buahnya, tetapi
kadang-kadang ada yang menggunakan daun dan akarnya. Buah cabe
jawa yang sudah tua dapat digunakan untuk pengobatan perut
kembung, mulas, muntah-muntah, diaforetik, karminatif, merangsang
nafsu makan, demam, influenza, migren, peluruh keringat, encok,
infeksi pada hati, tekanan darah rendah, urat saraf lemah, sukar bersalin,
dan sebagai afrodisiaka. Akar dapat digunakan untuk sakit gigi, luka,
dan kejang, sedangkan daunnya untuk obat kumur. (Haryudin, 2009)
13
3. Kandungan Kimia
Cabe jawa mengandung senyawa kimia antara lain asam amino bebas,
damar, minyak atsiri, beberapa jenis alkaloid seperti piperine, piperidin,
piperatin, piperlonguminine, -sitosterol, sylvatine, guineensine,
piperlongumine, filfiline, sitosterol, methyl piperate, minyak atsiri
(terpenoid), n-oktanol, linalool, terpinil asetat, sitronelil asetat, sitral,
alkaloid, saponin, polifenol, dan resin (kavisin). Alkaloid utama yang
terdapat di dalam cabe jawa adalah piperin (Vinay et al.,2012).
4. Uji Praklinik
Infusa buah cabe jawa dosis 0,21; 2,1 dan 21 mg/10 g BB yang
diberikan pada tikus putih jantan selama 33 hari, pembanding
metiltestosteron 12,5 g/10 g BB, hasil dosis 2,1 mg/10 g BB
memberikan efek androgenik dan anabolik maksimal.
5. Uji Klinik: Ekstrak buah cabe jawa dosis 100 mg/hari diberikan pada 9
pria hipogonad, hasil 7 dari 9 pria hipogonad mengalami peningkatan
kadar testosteron, bersifat androgenik lemah dan 9 pria tersebut
meningkat frekuensi koitusnya.
6. Indikasi
Membantu memelihara stamina pria.
7. Kontraindikasi
Tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan menyusui.
14
8. Peringatan
Dapat menimbulkan reaksi anafilaksis bagi yang alergi.
9. Efek yang Tidak Diinginkan
Dapat menyebabkan respiratory distress syndrome bila terinhalasi.
10. Keamanan
Nilai LD50 ekstrak etanol buah cabe jawa adalah 2,324 mg/kg BB per
oral pada tikus. Pemberian ekstrak buah cabe jawa dosis 1,25; 3,75
dan 12,5 mg/kg BB selama 90 hari tidak menimbulkan kerusakan
organ. Teratogenik pada dosis bertingkat 140, 1400, 14000 mg/kg BB
tikus hamil 7 hari. Diberikan setiap hari sampai hari ke-16 kehamilan.
LD50 oral ekstrak etanol-air 1:1 pada mencit sebesar 3,32 mg/10 g
mencit. Uji subkronik selama 90 hari dengan dosis ekstrak etanol 12,5
mg/200 g BB tikus tidak menimbulkan kerusakan pada organ penting
(Kemenkes, 2016)
11. Resep dan Interaksi
Buah sebanyak 2,5-5 g dijadikan pil atau direbus, lalu diminum.
Penyimpanan Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah
tertutup rapat, jauh dari jangkuan anak-anak (Vinay et al.,2012).
Interaksi cabai jawa dapat meningkatkan absorpsi dari kadar obat
fenitoin, propranolol dan teofilin dalam darah apabila obat tersebut
digunakan bersama dengan herbal ini (Kemenkes, 2016)
15
C. Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)
1. Toksonomi
Kingdom : Plantae
Division : Magnoliophyta
Class : Magnoliopsida
Ordo : Caryophyllales
Family : Portulacaceae
Genus : Talinum
Species : Talinum paniculatum Gaertner
2. Deskripsi
Ginseng jawa merupakan tanaman herba tahunan yang memiliki batang
bulat sukulen dan berdiri tegak mencapai tinggi 40-60cm, daun tersebar
bersilang berhadapan dengan bentuk bulat telur terbalik, memiliki
permukaan daun lembut dan licin, agak berdaging, bagian atas
16
berwarna hijau terang, licin dan gundul, sedangkan permukaan bagian
bawah hijau muda, ukuran daun 3-10 x 1,5-5cm, pangkal daun runcing,
ujung membulat dan tumpul, pertulangan daun menyirip, dan berwarna
hijau pucat. Buah berbentuk bola atau agak kotak berwarna merah
kecoklatan dengan diameter 3 mm, memiliki biji kecil bentuk agak
membundar pipih atau gepeng dengan ukuran 0,7-1 mm yang berwarna
hitam mengkilat (Hidayat et al, 2008).
Tanaman ginseng jawa memiliki bakal buah yang menumpang dan
buah kotak membuka dengan 3 katup serta akar tunggang, berwarna
cokelat . Akar dan daun ginseng jawa mengandung saponin dan
flavonoid, serta tannin (Harmanto, 2007)
3. Kandungan Kimia
Tanaman ginseng jawa memiliki kandungan zat kimia antara lain
adalah saponin, flavonoid, dan tannin . Secara farmakologis akar
tanaman ginseng jawa juga mengandung senyawa-senyawa kimia yang
bersifat androgenik (Nurchayati et al, 2006). Senyawa androgenik yang
berhasil diidentifikasi dari akar tanaman ginseng jawa adalah stigmast
5-en- 3-ol atau disebut juga senyawa B-sitosterol yang termasuk dalam
golongan sterol tumbuhan . Saponin dapat menghambat pertumbuhan
sel kanker, mengikat kolesterol, dan bersifat antibiotik . Flavonoid
berfungsi sebagai antibakteri, antiinflamasi, antialergi, antimutagenik,
antivirus, antineoplastik, antitrombosis, antioksidan, dan aktivitas
vasodilatasi. Tannin mempunyai aktivitas biologis sebagai pengkhelat
17
ion logam, agen penggumpal protein dan antioksidan (Hagerman,
2002).
4. Manfaat
Bagian tanaman ginseng jawa yang dapat digunakan sebagai obat yaitu
akar dan daun. Akar ginseng jawa dapat dimanfaatkan sebagai tonikum,
kebugaran tubuh, menghilangkan lelah, berkeringat dingin, pusing,
aprodisiaka, batuk dahak, radang paru-paru, diare, banyak kencing, haid
tidak teratur dan keputihan (Hidayat, 2005). Daun ginseng dapat
digunakan untuk meningkatkan produksi ASI, meningkatkan nafsu
makan, sebagai obat bisul, aprodisiaka (obat kuat) (Hariana, 2008).
5. Keamanan
LD50 pada tikus per oral > 15.000 mg/kg BB, menurut batasan Gleason
dalam Weil, CS termasuk kategori praktis tidak toksik (Kemenkes,
2016).
6. Uji Preklinik
Pemberian infusa Som Jawa dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 mg/10 g BB bahan
diberikan selama 50 hari pada mencit (satu siklus spermatogenesis).
Hasil, dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 mg/10 g BB dapat meningkatkan
motilitas spermatozoa mencit secara bermakna (P<0,05).
Infusa Som jawa dosis 0,7; 7 dan 70 mg/20 g BB dan heptamil dosis
0,78 mg/20 g BB diberikan pada mencit untuk menguji ketahanan
renang. Hasil, dosis 70 mg/20 g BB dapat meningkatkan lama berenang
18
secara bermakna (P<0,05) dibanding heptamil. Akar Som jawa
berkhasiat sebagai obat disfungsi ereksi. (Kemenkes, 2016)
7. Indikasi
Disfungsi ereksi dan aprodisiak
8. Kontraindikasi
Belum diketahui
9. Peringatan
Belum diketahui
10. Efek samping
Belum diketahui
11. Interaksi
Belum diketahui
12. Resep
1 x 1 tea bag (50 g serbuk akar/serbuk umbi)/kali, seduh dengan 2
cangkir air.
19
D. Pasak Bumi
Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) memiliki beberapa nama lokal
antara lain: penaar pahit, bedara pahit, bedara puteh, tongkat ali, lempung
pahit, paying ali, tongkat baginda, muntah bumi, petala bumi, akar jangat
seining, tungke ali, pasak bumi (Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan),
dan tung saw (Thailand) .
20
1. Taksonomi
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnolipsida
Ordo : Sapindales
Famili : Simaroubaceae
Genus : Eurycoma
Species : Eurycoma longifolia Jack
2. Morfologi
Pasak bumi umumnya berbentuk semak, atau pohon kecil yang
pohonnya mencapai 10 meter, namun ada juga yang tingginya lebih dari
15 meter. Batang pasak bumi umumnya tidak bercabang namun ada
juga yang bercabang sedikit menyerupai payung dengan kedudukan
daunnya melingkar (rosette), batang kokoh berwarna coklat keabu-
abuan, licin. Daun majemuk dan menyirip dengan daun berbentuk
lanset atau bundar telur dan ujungnya sedikit meruncing, jumlah ganjil
(13-41 lembar daun atau anak daun), berdaun tipe pinatus dengan
panjang dari pangkal tangkai 20-40 cm, berbentuk oblong,
bergelombang, warna anak daunnya hijau tua berukuran 5-25 cm x
1,25-3 cm, pinggirnya bergelombang, tangkai daun berwarna coklat
kehitaman. Bunga bersifat monoceous atau diceous (tetapi biasa
dijumpai diceous), berwarna merah jingga, lebar bunga 0,6 cm, berbulu
halus dengan benjolan kelenjar di ujungnya, ada dua kelompok
21
tumbuhan bunga yaitu tumbuhan berbunga jantan (tidak menghasilkan
buah)dan tumbuhan berbunga betina (mampu menghasilkan buah).
Buah yang masak berwarna hijau gelap kemerahan, panjang 1-2 cm dan
lebarnya 0,5-1 cm. Akar pasak bumi berupa akar tunjang yang
menghujam tanah hingga kedalaman 2 meter dan sedikit memunculkan
cabang akar .
3. Keamanan
LD50 > 15.000 mg/kg BB oral pada tikus (praktis tidak toksik). Gejala
toksisitas yaitu depresi, respirasi dangkal, dan konvulsi.
4. Uji Preklinik
Efek ekstrak E. longifolia per oral dengan dosis 2 x 200, 400 dan 800
mg/kg BB selama 10 hari sebelum dan selama pengujian terhadap
inisiasi kinerja seksual dan berat aksesori seksual pada tikus yang
dikastrasi. Sebagai kontrol testosterone 15 mg/kg BB/hari subkutan
selama 32 hari. Hasil menunjukkan bahwa E. longifolia meningkatkan
kinerja seksual secara tergantung dosis pada tikus yang diterapi E.
longifolia, tetapi lebih rendah dari kelompok testosterone dalam hal
mounting, intromission dan ejakulasi. E. longifolia meningkatkan
pertumbuhan prostat bagian ventral dan vesikula seminalis dibanding
kontrol, tetapi pertumbuhan aksesori seksual pada fraksi butanol,
metanol, air dan kloroform dari E. longifolia 800 mg/kg BB lebih kecil
dari pada kelompok testosterone. Studi ini memperlihatkan efek E.
longifolia sebagai aphrodisiak. Studi terhadap kualitas seksual tikus
22
usia pertengahan dilakukan dengan pemberian E. longifolia 0,5 g/kg BB
dengan kontrol mendapat 3 mL/kg BB saline, setiap hari selama 12
minggu. Hasil menunjukkan bahwa longifolia meningkatkan kualitas
seksual dengan menurunkan hesitation time dibanding kontrol dengan
berbagai fraksi E. Longifolia. peningkatan sementara dalam persentase
tikus yang berespon pada pilihan yang benar setelah pemberian kronik
0,5 g/kg BB E. longifolia, dengan skor > 50% pilihan benar setelah
terapi 2 minggu dan tidak ada peningkatan pada kontrol dan pilihan
benar hanya 45-55%. Disimpulkan E. longifolia meningkatkan kualitas
seksual tikus, dan efek aphrodisiak.
5. Uji Klinik
Kombinasi ekstrak Eurycoma longifolia dan Polygonum minus
(antioksidan) 300 mg digunakan sebagai aprodisiaka pada 12 laki-laki
berumur 40-65 tahun selama 12 minggu secara RCT, dengan kontrol
plasebo (14). Hasil menunjukkan peningkatan skor bermakna terhadap
fungsi ereksi maksimal (P < 0.05 ). Studi lain menggunakan 300 mg
ekstrak air Eurycoma longifolia atau plasebo selama 12 minggu
terhadap 109 lakilaki usia 30-55 tahun. Tujuan penelitian adalah untuk
mengetahui kualitas hidup melalui kuisioner SF-36 dan Sexual Well-
Being melalui International Index of Erectile Function (IIEF) and
Sexual Health Questionnaires (SHQ); Seminal Fluid Analysis (SFA),
massa lemak dan profil keamanan. Kelompok perlakuan secara
23
bermakna meningkatkan Physical Functioning dari SF-36, dari baseline
dibandingkan plasebo.
6. Indikasi
Indikasi Disfungsi ereksi dan aprodisiak
7. Kontraindikasi
Kehamilan dan laktasi.
8. Peringatan
Belum diketahui
9. Efek samping
Insomnia, gelisah, dan tidak sabar.
10. Resep
1 x 1 kapsul (400 mg ekstrak batang/akar).
24
DAFTAR PUSTAKA
Darwati, I. & I. Roostika. (2006). Status Penelitian Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.)
di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah. 12 (No. 1)
Darwati, I. 2007. Pengaruh Jenis Eksplan dan 2,4-D Terhadap Pertumbuhan Kalus
Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.). Bogor: Penelitian IPB
Hagerman, A.E. 2002. Condensed Tannin Structural Chemistry. Department of
Chemistry and Biochemistry, Miami University, Oxford, OH 45056
Hariana, A. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Cetakan Kelima. Penebar Swadaya.
Jakarta
Harmanto, Ning & Subroto, M. (2007). Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Efek Samping.
Cetakan Pertama Elekmedia
Haryudin, W dan Rostiana, Otih. 2009. Karakteristik Morfologi Tanaman Cabe
Jawa (Piper retrofractum. Vahl) di Beberapa Sentra Produksi. Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Bul. Littro. Vol. 20 No. 1, 2009,
1 10
Hidayat, O. et al.. (2008). Dasar-dasar Entomology. IMSTEP-JICA.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia .(2016). Peraturan Menteri Kesehatan
Repuplik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Formularium Obat Herbal
Asli Indonesia. 1226.
Lailatussifah, A. (2011). Evaluasi Keragaan Populasi Putatif Mutan Purwoceng
(Pimpinella Pruatjan Molk.) Generasi M3 Dan Potensi Produksinya Di Dataran
Menengah. Skripsi. Institut Pertanian Bogor
Rahardjo, M. (2005). Purwoceng Tanaman Obat Aprodisiak Yang Langka. Warta
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 9 (2): 9-7.
Sidik, S. E. (2004). Usaha Isolasi Turunan Kumarin dari Akar Purwoceng Asal Dataran
Tinggi Dieng. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Obat I. Bogor: Bag.
Farmakologi Dept. Fisiologi dan Farmakologi, Fak. Kedokteran Hewan- IPB.
Vinay, S., K. Renuka, V. Palak, C.R. Harisha, and Prajapati. (2012).
Pharmacognostical and phytochemical study of Piper Longum L. and
Piper retrofractum Vahl. Journal of Pharmaceutical and Scientific
Innovation 1(1): 62-66.
25
26