0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan26 halaman

Tanaman Obat Afrodisiak dan Manfaatnya

Dokumen tersebut membahas tentang tanaman purwoceng yang memiliki khasiat sebagai afrodisiak. Purwoceng mengandung berbagai senyawa kimia seperti turunan kumarin, sterol, dan saponin yang bermanfaat untuk meningkatkan gairah seksual dan menimbulkan ereksi. Uji praklinik menunjukkan pemberian ekstrak purwoceng dapat meningkatkan produksi sperma pada tikus.

Diunggah oleh

Fatma Nashriati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan26 halaman

Tanaman Obat Afrodisiak dan Manfaatnya

Dokumen tersebut membahas tentang tanaman purwoceng yang memiliki khasiat sebagai afrodisiak. Purwoceng mengandung berbagai senyawa kimia seperti turunan kumarin, sterol, dan saponin yang bermanfaat untuk meningkatkan gairah seksual dan menimbulkan ereksi. Uji praklinik menunjukkan pemberian ekstrak purwoceng dapat meningkatkan produksi sperma pada tikus.

Diunggah oleh

Fatma Nashriati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BLOK ILMU KEDOKTERAN HERBAL

REFERAT

HERBAL AFRODISIAK

Disusun oleh :

Fatma Nashriati

1413010036

Tutor :

dr. Dyah Retnani Basuki [Link]. AAAK

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2


Kata Pengantar ........................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 4
A. Latar Belakang ............................................................................................. 4
A. Tujuan .......................................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 6
A. Purwoceng .................................................................................................... 6
A. Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl) ....................................................... 12
B. Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) ........................... 16
C. Pasak Bumi ................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 25

2
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah ilmiah tentang tanaman obat afroksida.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan

bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah

ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang

telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang obat afrodisiak

dapat memberikan ilmu dan manfaat terhadap pembaca.

3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Infertilitas merupakan masalah perlu perhatian. Masalah infertiitas daoat

terjadi baik pria mapun wanita. Pada pria infertilitas berkaitan dengan

gangguan kesuburan. Mekanisme infertilitas pada pria dapat terjadi

melalui atas 3 golongan yaitu Pre-testikuler, Testikuler serta Post-

testikuler. Gangguan pre-testikuler berkaitan dengan gangguan hormonal

yang mempengaruhi proses spermatogenesis seperti menurunnya produksi

Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH)

sehingga menimbulkan keadaan yang disebut hipogonadisme. Gangguan

testikuler dapat terjadi di dalam tubulus seminiferus, misalnya testis rusak

akibat trauma atau infeksi. Adapun gangguan post-testikuler adalah

berbagai gangguan yang terjadi setelah spermatozoa keluar dari tubulus

seminiferus, misalnya gangguan viabilitas dan motilitas spermatozoa

karena infeksi atau sebab lain. Untuk mengatasi infertilitas dapat diberikan

tanaman obat yang mempunyai kandungan androgen.

4
A. Tujuan

Untuk mengetahui deskripsi, toksonomi, uji preklinik, uji klinik,

kandungan kimia, keamanan, indikasi, kontraindikasi, efek samping, serta

resep dari tanaman obat seperti :

1. Purwoceng

2. Cabe Jawa

3. Som Jawa

4. Pasak Bumi

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Purwoceng

1. Definisi

Purwoceng merupakan tanaman herba komersial yang akarnya

dilaporkan berkhasiat sebagai afrodisiak (meningkatkan gairah seksual

dan menimbulkan ereksi), diuretik (melancarkan saluran air seni), dan

tonik (mampu meningkatkan stamina tubuh). Tanaman tersebut

merupakan tanaman asli Indonesia yang hidup secara endemik di

daerah pegunungan seperti dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah,

Gunung Pangrango di Jawa Barat, dan area pegunungan di Jawa Timur.

6
2. Toksonomi

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Dycotiledone

Famili : Apiaceae

Genus : Pimpinella

Spesies : Pimpinella alpine Molk (Lailatusifah, 2011).

3. Morfologi

Tanaman purwoceng memiliki pohon yang membentuk roset, tangkai

daun tumbuh rapat menutupi batang tanaman, seolah batang tanaman

tidak ada (Darwati,2006). Daun tanaman perwoceng berbentuk

majemuk yang berhadapan berpasang- pasangan dan di ujung tangkai

terdapat daun tunggal. Bentuk anak daun membulat dengan pinggiran

bergerigi. Warna permukaan daun hijau, dan permukaan bawahnya

berwarna hijau keputih-putihan. Purwoceng memiliki akar tunggang,

akar bagian pangkal semakin bertambahnya umur tanaman maka akan

semakin besar pula ukuran perakaran seolah membentuk umbi seperti

bentuk perakaran gingseng dan rambut-rambut akar keluar pada

ujungnya (Raharjo,2005).

7
Tabel 2.1. Deskripsi Tanaman Perwoceng

Deskripsi

Habitus Semak, menutup tanah, tinggi 25 cm

Batang Semu, bulat, lunak, hijau pucat

Daun Majemuk, bentuk jantung, panjang + 3 cm, lebar 2,5

cm, tepi

bergerigi, ujung tumpul, pangkal bertoreh, tangkai

panjang 5 cm, coklat kehijauan, pertulangan

menyirip, hijau

Bunga Majemuk berbentuk paying, tangkai silinder, panjang

+2 cm,

kelopak bentuk tabung, hijau, benang sari putih, putik

bulat, hijau, mahkota berambut, coklat

Buah Lonjong, kecil, hijau

Biji Lonjong, kecil, coklat

Akar Tunggang, putih kotor

4. Kandungan Kimia

Purwoceng mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yaitu

turunanan kumarin, sterol, saponin, dan alkaloid. Kelompok

furanokumrin seperti isobergapten dan sphondin (Sidik,2004) serta

senyawa turunan kumarin seperti bergapten, xanthotoksin, marmesin,

6.8 dimetoksi umbeliferon. Saponin dan sterol golongan triterpenoid

8
yaitu senyawa yang memiliki kerangka karbon berasal dari 6 satuan

isoprene dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik

skualena ( Darwati, 2007).

Seluruh bagian tanaman purwoceng (akar, daun dan bunga) dapat

berguna sebagai obat, serta mengandung turunan senyawa verol, yaitu

sitosterol, stigmasterol dan turunan senyawa furanokumarin yaitu

bergapten dan vitamin E. Kandungan dari komponen kimia tersebut

begitu kompaknya dengan fungsi yang saling mengisi dimana sitosterol

dan stigmasterol berfungsi sebagai aprodisiak atau meningkatkan

vitalitas seks bagi kaum pria.

Tabel 2.2. Kandungan Fitokimia Purwoceng

Senyawa aktif

Lomonena (terkandung Menghambat pertumbuhan jamur Candida

dalam seluruh bagian albicans penyebab keputihan,

tanaman) merangsang peristaltic

Anisketone (terkandung Merangsang dan menambah semangat, dan

dalam pereda lelah

buah)

Asam kafeat Merangsang semangat, merangsang aktifitas

(Terkandung dalam saraf pusat, merangsang keluarnya

9
seluruh bagian prostaglandin,

tanaman) dan menghambat keluarnya histamine

Dianethole (terkandung Merangsang hormon estrogen

dalam

seluruh bagian tanaman)

Hydroquinone Merangsang ereksi, mengurangi sekresi

(terkandung dalam cairan pada liang vagina, anti pendarahan

seluruh bagian diluar haid,

tanaman) merangsang semangat, menaikkan tekanan

darah

Isoorietin (terkandung Menambah produksi sperma

dalam

seluruh bagian tanaman)

Phlellandrene (terkandung Memacu ereksi, sebagai bahan

dalam seluruh pewangi dan pengharum

bagian tanaman)

Squalena (terkandung Merangsang semangat, melancarkan transfer

dalam oksigen dalam darah

seluruh bagian tanaman)

Stigmasterol Merangsang hormon estrogen, merangsang

(terkandung dalam terjadinya proses ovulasi, bahan baku

seluruh bagian pembuatan

tanaman) hormon steroid

10
5. Uji Praklinik

Penelitian pada tikus jantan usia 40 hari menunjukkan bahwa

pemberian po ekstrak purwoceng 25 mg selama 53 hari meningkatkan

spermatogenesis, meningkatkan jumlah dan motilitas sperma dibanding

control akuades (P < 0,01). Penelitian lainnya pada tikus jantan usia 90

hari menunjukkan bahwa pemberian 2 mL po ekstrak purwoceng 25

mg/mL (2,5% b/v) selama 7 hari meningkatkan kadar testosteron dan

LH yang diukur dengan metode RIA. (Kemenkes, 2016)

6. Uji Klinik

Penelitian dilakukan terhadap 40 laki-laki berumur 40 tahun dibagi

dalam 2 klompok. Kelompok pertama diberikan kapsul plasebo dan

Kelompok kedua kapsul ekstrak purwoceng 50 mg/hari untuk 15 hari.

Hasil menunjukkan ekstrak purwoceng meningkatkan kadar LH, indeks

androgen bebas dan indeks defisiensi androgen (Kemenkes, 2016)

7. Indikasi

Aprodisiak dan disfungsi ereksi.

8. Kontraindikasi pada gagal ginjal, hipertensi, kelainan jantung.

Peringatan Konsumsi Purwoceng secara berlebihan mengakibatkan

iritasi ginjal (Kemenkes, 2016).

9. Resep dan Interaksi

1 x 2 kapsul (500 mg ekstrak akar), diminum 1 jam sebelum melakukan

aktivitas dan interaksi purwoceng belum diketahui (Kemenkes, 2016)

11
B. Cabai Jawa (Piper retrofractum Vahl)

1. Toksonomi

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Viridaeplantae

Filum : Magnoliophyta

Subfilum : Spermatophyta

Infrafilum : Angiospermae

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Magnoliidae,

Superorder : Piperanae

Ordo : Piperales

Family : Piperaceae

Genus : Piper

Spesies : Piper retrofractum Vahl

12
2. Morfologi

Tanaman cabe jawa merupakan tumbuhan menahun. Batang cabe jawa

dengan percabangan liar, tumbuh memanjat, melilit dengan akar

lekatnya panjang mencapai 10 meter. Percabangan dimulai dari

pangkalnya yang menyerupai kayu. Daun cabe jawa tunggal, berbentuk

bulat telur sampai lonjong, pangkal membulat, ujung meruncing, tepi

rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, permukaan bawah

berbintik-bintik, panjang 8,530 sentimeter, lebar 3-13 sentimeter dan

berwarna hijau (Haryudin, 2009)

Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak

atau sedikit merunduk, bulir jantan lebih panjang dari betina. Buah

majemuk berupa bulir, berbenntuk bulat panjang sampai silindris,

bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur,

panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm, bertangkai panjang. Bagian

tanaman yang digunakan sebagai pengobatan adalah buahnya, tetapi

kadang-kadang ada yang menggunakan daun dan akarnya. Buah cabe

jawa yang sudah tua dapat digunakan untuk pengobatan perut

kembung, mulas, muntah-muntah, diaforetik, karminatif, merangsang

nafsu makan, demam, influenza, migren, peluruh keringat, encok,

infeksi pada hati, tekanan darah rendah, urat saraf lemah, sukar bersalin,

dan sebagai afrodisiaka. Akar dapat digunakan untuk sakit gigi, luka,

dan kejang, sedangkan daunnya untuk obat kumur. (Haryudin, 2009)

13
3. Kandungan Kimia

Cabe jawa mengandung senyawa kimia antara lain asam amino bebas,

damar, minyak atsiri, beberapa jenis alkaloid seperti piperine, piperidin,

piperatin, piperlonguminine, -sitosterol, sylvatine, guineensine,

piperlongumine, filfiline, sitosterol, methyl piperate, minyak atsiri

(terpenoid), n-oktanol, linalool, terpinil asetat, sitronelil asetat, sitral,

alkaloid, saponin, polifenol, dan resin (kavisin). Alkaloid utama yang

terdapat di dalam cabe jawa adalah piperin (Vinay et al.,2012).

4. Uji Praklinik

Infusa buah cabe jawa dosis 0,21; 2,1 dan 21 mg/10 g BB yang

diberikan pada tikus putih jantan selama 33 hari, pembanding

metiltestosteron 12,5 g/10 g BB, hasil dosis 2,1 mg/10 g BB

memberikan efek androgenik dan anabolik maksimal.

5. Uji Klinik: Ekstrak buah cabe jawa dosis 100 mg/hari diberikan pada 9

pria hipogonad, hasil 7 dari 9 pria hipogonad mengalami peningkatan

kadar testosteron, bersifat androgenik lemah dan 9 pria tersebut

meningkat frekuensi koitusnya.

6. Indikasi

Membantu memelihara stamina pria.

7. Kontraindikasi

Tidak boleh diberikan pada wanita hamil dan menyusui.

14
8. Peringatan

Dapat menimbulkan reaksi anafilaksis bagi yang alergi.

9. Efek yang Tidak Diinginkan

Dapat menyebabkan respiratory distress syndrome bila terinhalasi.

10. Keamanan

Nilai LD50 ekstrak etanol buah cabe jawa adalah 2,324 mg/kg BB per

oral pada tikus. Pemberian ekstrak buah cabe jawa dosis 1,25; 3,75

dan 12,5 mg/kg BB selama 90 hari tidak menimbulkan kerusakan

organ. Teratogenik pada dosis bertingkat 140, 1400, 14000 mg/kg BB

tikus hamil 7 hari. Diberikan setiap hari sampai hari ke-16 kehamilan.

LD50 oral ekstrak etanol-air 1:1 pada mencit sebesar 3,32 mg/10 g

mencit. Uji subkronik selama 90 hari dengan dosis ekstrak etanol 12,5

mg/200 g BB tikus tidak menimbulkan kerusakan pada organ penting

(Kemenkes, 2016)

11. Resep dan Interaksi

Buah sebanyak 2,5-5 g dijadikan pil atau direbus, lalu diminum.

Penyimpanan Simpan di tempat sejuk dan kering, di dalam wadah

tertutup rapat, jauh dari jangkuan anak-anak (Vinay et al.,2012).

Interaksi cabai jawa dapat meningkatkan absorpsi dari kadar obat

fenitoin, propranolol dan teofilin dalam darah apabila obat tersebut

digunakan bersama dengan herbal ini (Kemenkes, 2016)

15
C. Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

1. Toksonomi

Kingdom : Plantae

Division : Magnoliophyta

Class : Magnoliopsida

Ordo : Caryophyllales

Family : Portulacaceae

Genus : Talinum

Species : Talinum paniculatum Gaertner

2. Deskripsi

Ginseng jawa merupakan tanaman herba tahunan yang memiliki batang

bulat sukulen dan berdiri tegak mencapai tinggi 40-60cm, daun tersebar

bersilang berhadapan dengan bentuk bulat telur terbalik, memiliki

permukaan daun lembut dan licin, agak berdaging, bagian atas

16
berwarna hijau terang, licin dan gundul, sedangkan permukaan bagian

bawah hijau muda, ukuran daun 3-10 x 1,5-5cm, pangkal daun runcing,

ujung membulat dan tumpul, pertulangan daun menyirip, dan berwarna

hijau pucat. Buah berbentuk bola atau agak kotak berwarna merah

kecoklatan dengan diameter 3 mm, memiliki biji kecil bentuk agak

membundar pipih atau gepeng dengan ukuran 0,7-1 mm yang berwarna

hitam mengkilat (Hidayat et al, 2008).

Tanaman ginseng jawa memiliki bakal buah yang menumpang dan

buah kotak membuka dengan 3 katup serta akar tunggang, berwarna

cokelat . Akar dan daun ginseng jawa mengandung saponin dan

flavonoid, serta tannin (Harmanto, 2007)

3. Kandungan Kimia

Tanaman ginseng jawa memiliki kandungan zat kimia antara lain

adalah saponin, flavonoid, dan tannin . Secara farmakologis akar

tanaman ginseng jawa juga mengandung senyawa-senyawa kimia yang

bersifat androgenik (Nurchayati et al, 2006). Senyawa androgenik yang

berhasil diidentifikasi dari akar tanaman ginseng jawa adalah stigmast

5-en- 3-ol atau disebut juga senyawa B-sitosterol yang termasuk dalam

golongan sterol tumbuhan . Saponin dapat menghambat pertumbuhan

sel kanker, mengikat kolesterol, dan bersifat antibiotik . Flavonoid

berfungsi sebagai antibakteri, antiinflamasi, antialergi, antimutagenik,

antivirus, antineoplastik, antitrombosis, antioksidan, dan aktivitas

vasodilatasi. Tannin mempunyai aktivitas biologis sebagai pengkhelat

17
ion logam, agen penggumpal protein dan antioksidan (Hagerman,

2002).

4. Manfaat

Bagian tanaman ginseng jawa yang dapat digunakan sebagai obat yaitu

akar dan daun. Akar ginseng jawa dapat dimanfaatkan sebagai tonikum,

kebugaran tubuh, menghilangkan lelah, berkeringat dingin, pusing,

aprodisiaka, batuk dahak, radang paru-paru, diare, banyak kencing, haid

tidak teratur dan keputihan (Hidayat, 2005). Daun ginseng dapat

digunakan untuk meningkatkan produksi ASI, meningkatkan nafsu

makan, sebagai obat bisul, aprodisiaka (obat kuat) (Hariana, 2008).

5. Keamanan

LD50 pada tikus per oral > 15.000 mg/kg BB, menurut batasan Gleason

dalam Weil, CS termasuk kategori praktis tidak toksik (Kemenkes,

2016).

6. Uji Preklinik

Pemberian infusa Som Jawa dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 mg/10 g BB bahan

diberikan selama 50 hari pada mencit (satu siklus spermatogenesis).

Hasil, dosis 0,35; 3,5 dan 10,5 mg/10 g BB dapat meningkatkan

motilitas spermatozoa mencit secara bermakna (P<0,05).

Infusa Som jawa dosis 0,7; 7 dan 70 mg/20 g BB dan heptamil dosis

0,78 mg/20 g BB diberikan pada mencit untuk menguji ketahanan

renang. Hasil, dosis 70 mg/20 g BB dapat meningkatkan lama berenang

18
secara bermakna (P<0,05) dibanding heptamil. Akar Som jawa

berkhasiat sebagai obat disfungsi ereksi. (Kemenkes, 2016)

7. Indikasi

Disfungsi ereksi dan aprodisiak

8. Kontraindikasi

Belum diketahui

9. Peringatan

Belum diketahui

10. Efek samping

Belum diketahui

11. Interaksi

Belum diketahui

12. Resep

1 x 1 tea bag (50 g serbuk akar/serbuk umbi)/kali, seduh dengan 2

cangkir air.

19
D. Pasak Bumi

Pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) memiliki beberapa nama lokal

antara lain: penaar pahit, bedara pahit, bedara puteh, tongkat ali, lempung

pahit, paying ali, tongkat baginda, muntah bumi, petala bumi, akar jangat

seining, tungke ali, pasak bumi (Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan),

dan tung saw (Thailand) .

20
1. Taksonomi

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnolipsida

Ordo : Sapindales

Famili : Simaroubaceae

Genus : Eurycoma

Species : Eurycoma longifolia Jack

2. Morfologi

Pasak bumi umumnya berbentuk semak, atau pohon kecil yang

pohonnya mencapai 10 meter, namun ada juga yang tingginya lebih dari

15 meter. Batang pasak bumi umumnya tidak bercabang namun ada

juga yang bercabang sedikit menyerupai payung dengan kedudukan

daunnya melingkar (rosette), batang kokoh berwarna coklat keabu-

abuan, licin. Daun majemuk dan menyirip dengan daun berbentuk

lanset atau bundar telur dan ujungnya sedikit meruncing, jumlah ganjil

(13-41 lembar daun atau anak daun), berdaun tipe pinatus dengan

panjang dari pangkal tangkai 20-40 cm, berbentuk oblong,

bergelombang, warna anak daunnya hijau tua berukuran 5-25 cm x

1,25-3 cm, pinggirnya bergelombang, tangkai daun berwarna coklat

kehitaman. Bunga bersifat monoceous atau diceous (tetapi biasa

dijumpai diceous), berwarna merah jingga, lebar bunga 0,6 cm, berbulu

halus dengan benjolan kelenjar di ujungnya, ada dua kelompok

21
tumbuhan bunga yaitu tumbuhan berbunga jantan (tidak menghasilkan

buah)dan tumbuhan berbunga betina (mampu menghasilkan buah).

Buah yang masak berwarna hijau gelap kemerahan, panjang 1-2 cm dan

lebarnya 0,5-1 cm. Akar pasak bumi berupa akar tunjang yang

menghujam tanah hingga kedalaman 2 meter dan sedikit memunculkan

cabang akar .

3. Keamanan

LD50 > 15.000 mg/kg BB oral pada tikus (praktis tidak toksik). Gejala

toksisitas yaitu depresi, respirasi dangkal, dan konvulsi.

4. Uji Preklinik

Efek ekstrak E. longifolia per oral dengan dosis 2 x 200, 400 dan 800

mg/kg BB selama 10 hari sebelum dan selama pengujian terhadap

inisiasi kinerja seksual dan berat aksesori seksual pada tikus yang

dikastrasi. Sebagai kontrol testosterone 15 mg/kg BB/hari subkutan

selama 32 hari. Hasil menunjukkan bahwa E. longifolia meningkatkan

kinerja seksual secara tergantung dosis pada tikus yang diterapi E.

longifolia, tetapi lebih rendah dari kelompok testosterone dalam hal

mounting, intromission dan ejakulasi. E. longifolia meningkatkan

pertumbuhan prostat bagian ventral dan vesikula seminalis dibanding

kontrol, tetapi pertumbuhan aksesori seksual pada fraksi butanol,

metanol, air dan kloroform dari E. longifolia 800 mg/kg BB lebih kecil

dari pada kelompok testosterone. Studi ini memperlihatkan efek E.

longifolia sebagai aphrodisiak. Studi terhadap kualitas seksual tikus

22
usia pertengahan dilakukan dengan pemberian E. longifolia 0,5 g/kg BB

dengan kontrol mendapat 3 mL/kg BB saline, setiap hari selama 12

minggu. Hasil menunjukkan bahwa longifolia meningkatkan kualitas

seksual dengan menurunkan hesitation time dibanding kontrol dengan

berbagai fraksi E. Longifolia. peningkatan sementara dalam persentase

tikus yang berespon pada pilihan yang benar setelah pemberian kronik

0,5 g/kg BB E. longifolia, dengan skor > 50% pilihan benar setelah

terapi 2 minggu dan tidak ada peningkatan pada kontrol dan pilihan

benar hanya 45-55%. Disimpulkan E. longifolia meningkatkan kualitas

seksual tikus, dan efek aphrodisiak.

5. Uji Klinik

Kombinasi ekstrak Eurycoma longifolia dan Polygonum minus

(antioksidan) 300 mg digunakan sebagai aprodisiaka pada 12 laki-laki

berumur 40-65 tahun selama 12 minggu secara RCT, dengan kontrol

plasebo (14). Hasil menunjukkan peningkatan skor bermakna terhadap

fungsi ereksi maksimal (P < 0.05 ). Studi lain menggunakan 300 mg

ekstrak air Eurycoma longifolia atau plasebo selama 12 minggu

terhadap 109 lakilaki usia 30-55 tahun. Tujuan penelitian adalah untuk

mengetahui kualitas hidup melalui kuisioner SF-36 dan Sexual Well-

Being melalui International Index of Erectile Function (IIEF) and

Sexual Health Questionnaires (SHQ); Seminal Fluid Analysis (SFA),

massa lemak dan profil keamanan. Kelompok perlakuan secara

23
bermakna meningkatkan Physical Functioning dari SF-36, dari baseline

dibandingkan plasebo.

6. Indikasi

Indikasi Disfungsi ereksi dan aprodisiak

7. Kontraindikasi

Kehamilan dan laktasi.

8. Peringatan

Belum diketahui

9. Efek samping

Insomnia, gelisah, dan tidak sabar.

10. Resep

1 x 1 kapsul (400 mg ekstrak batang/akar).

24
DAFTAR PUSTAKA

Darwati, I. & I. Roostika. (2006). Status Penelitian Purwoceng (Pimpinella alpina Molk.)
di Indonesia. Buletin Plasma Nutfah. 12 (No. 1)

Darwati, I. 2007. Pengaruh Jenis Eksplan dan 2,4-D Terhadap Pertumbuhan Kalus
Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.). Bogor: Penelitian IPB

Hagerman, A.E. 2002. Condensed Tannin Structural Chemistry. Department of


Chemistry and Biochemistry, Miami University, Oxford, OH 45056

Hariana, A. 2008. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Cetakan Kelima. Penebar Swadaya.
Jakarta

Harmanto, Ning & Subroto, M. (2007). Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Efek Samping.
Cetakan Pertama Elekmedia

Haryudin, W dan Rostiana, Otih. 2009. Karakteristik Morfologi Tanaman Cabe


Jawa (Piper retrofractum. Vahl) di Beberapa Sentra Produksi. Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Bul. Littro. Vol. 20 No. 1, 2009,
1 10
Hidayat, O. et al.. (2008). Dasar-dasar Entomology. IMSTEP-JICA.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia .(2016). Peraturan Menteri Kesehatan


Repuplik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Formularium Obat Herbal
Asli Indonesia. 1226.

Lailatussifah, A. (2011). Evaluasi Keragaan Populasi Putatif Mutan Purwoceng


(Pimpinella Pruatjan Molk.) Generasi M3 Dan Potensi Produksinya Di Dataran
Menengah. Skripsi. Institut Pertanian Bogor

Rahardjo, M. (2005). Purwoceng Tanaman Obat Aprodisiak Yang Langka. Warta


Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri, 9 (2): 9-7.

Sidik, S. E. (2004). Usaha Isolasi Turunan Kumarin dari Akar Purwoceng Asal Dataran
Tinggi Dieng. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Obat I. Bogor: Bag.
Farmakologi Dept. Fisiologi dan Farmakologi, Fak. Kedokteran Hewan- IPB.

Vinay, S., K. Renuka, V. Palak, C.R. Harisha, and Prajapati. (2012).


Pharmacognostical and phytochemical study of Piper Longum L. and
Piper retrofractum Vahl. Journal of Pharmaceutical and Scientific
Innovation 1(1): 62-66.

25
26

Anda mungkin juga menyukai