Wahyu Ramadhan
Yoga Yudanto Eko Pujiantoro
Hendra Prayitno
Rizki Ramdhan
Apa itu Piroelektrisitas?
Piroelektrisitas adalah kemampuan material tertentu untuk mengubah energy
potensial panas (heat potential) menjadi energy potensial listrik (electric
potential) saat material tersebut menerima perubahan temperature
(dipanaskan atau di dinginkan)
Akibat perubahan suhu ini, muatan positif serta negative bergerak ke ujung-
ujung yang berhadapan/berlawanan melalui migrasi (misalnya bahan menjadi
terpolarisasi) dan dengan begitu, terbentuklah energy potensial listrik
History
Efek piroelektrik untuk pertama kalinya dicatat oleh Theophrastus pada 314
SM, yang mencatat bahwa turmalin yang dipanaskan menarik jerami dan abu.
Dalam 1747, Carolus Linnaeus adalah ilmuwan yang pertama kali
menghubungkan fenomena itu dengan elektrik,meski hal itu baru dibuktikan
oleh Franz Ulrich Theodor Aepinus pada 1756.
Adalah Sir David Brewster yang menamai efek itu sebagai efek piroelektrik
pada 1824. Baik William Thomson, 1st Baron Kelvin pada 1878 dan Woldemar
Voigt pada 1897 menolong mengembangkan sebuah teori mengenai berbagai
proses di belakang piroelektrisitas.
Sifat piroelektrisitas
merupakan perubahan terukur dalam polarisasi netto (sebuah vektor)
proporsional terhadap perubahan suhu. Total koefisien piroelektrik yang
diukur pada tekanan konstan merupakan jumlah koefisien piroelektrik pada
keregangan yang konstan (efek piroelektrik primer) serta kontribusi
piezoelektrik dari ekspansi termal (efek piroelektrik sekunder).
BAHAN-BAHAN PYROELECTRIC
Ada banyak bahan piroelektrik yang tersedia, tiga di antaranya biasa digunakan
pada detektor pirolelektrik: DLaTGS, LiTaO3, dan PZT. Kemajuan telah dicapai
dalam pembuatan berbagai bahan piroelektrik buatan, biasanya dalam bentuk film
tipis, dari galium nitrida (GaN), sesium nitrat (CsNO3), polivinil fluorida, sejumlah
turunannya phenylpyrazine, and kobal phthalosianin
DLaTGS LiTaO3 PZT
Kelompok-kelompok kristal piroelektrik
Struktur kristal bisa dibagi menjadi 32 kelompok, berdasarkan pada jumlah
sumbu putar dan bidang pantulan pada kristal yang membuat struktur kristal
tidak berubah. Dari 32 kelompok kristal tersebut, 21 di antaranya adalah non-
centrosymmetric (tidak memiliki sebuah pusat simetri)
Dari 21 kelompok tadi, 20 di antaranya menunjukkan sifat piezoelektrik yang
langsung, sedang 1 kelompok tetap berada di kelompok kubus 432
Sepuluh dari 20 kelompok piezoelektrik memiliki sifat polar (berkutub)
mereka memiliki polarisasi yang spontan, memiliki sebuah dipol dalam sel
satuan mereka, dan menunjukkan piroelektrisitas. Jika dipol ini bisa
dibalikkan dengan menerapkan medan listrik, maka berarti bahan itu bersifat
feroelektrik
Berbagai Kelompok Kristal Piezoelektrik: 1, 2, m, 222, mm2, 4, -4, 422, 4mm,
-42m, 3, 32, 3m, 6, -6, 622, 6mm, -62m, 23, -43m
Piroelektrik: 1, 2, m, mm2, 3, 3m, 4, 4mm, 6, 6mm
Perkembangan terbaru
Kemajuan telah dicapai dalam pembuatan berbagai bahan piroelektrik
buatan, biasanya dalam bentuk film tipis, dari galium nitrida (GaN), sesium
nitrat (CsNO3), polivinil fluoride, sejumlah turunannya phenylpyrazine, dan
kobal phthalosianin. (Lihat kristal piroelektrik.)
Litium tantalit (LiTaO3) merupakan kristal yang menunjukkan sifat
piezoelektrik serta piroelektrik, yang telah digunakan untuk menciptakan fusi
nuklir berskala kecil (fusi piroelektrik)
Uraian matematis
Koefisien piroelektrik bisa dideskripsikan sebagai perubahan vektor polarisasi
yang spontan dengan suhu
dimana pi (Cm-2K-1) merupakan vektor bagi koefisien piroelektrik
Rangkaian pyroelectric
Rangkaian dibawah ini merupakan rangkaian yang terdiri dari 1 kapasitor, 1
resistor dan satu pyroelectric
Pyroelectric digunakan dalam hal apa?
Pyroelectric biasa digunakan dalam perancangan detector gerakan berbasis PIR
(passive infra red). Karena semua benda memancarkan energy radiasi, sebuah
gerakan akan terdeteksi ketika sumber infra merah dengan suhu tertentu melewati
sumber infra merah yang lain dengan suhu berbeda (misal: dinding), maka sensor
yang akan membandingkan pancaran infra merah yang diterima setiap satuan
waktu, sehingga jika ada pergerakan maka terjadi perubahan pembacaan pada
sensor
Bagian dari sensor PIR terdiri dari
Fresnel lens
IR filter
Pyroelectric sensor
Amplifier
Komprator
SENSOR PIR (Passive Infrared
Receiver)
PIR (Passive Infrared Receiver) merupakan sebuah sensor
berbasiskan infrared
KOMPONEN PENYUSUN PIR
Fresnel Lens
IR Filter
Pyroelectric sensor
Amplifier
Comaparator
1. FRESNEL LENS
Untuk membantu kinerja dari sensor ini diperlukan Fresnel
Lens yang dimana fungsi dari lensa tersebut adalah untuk
mempertajam jarak focus dari sensor.
2. IR FILTER
IR Filter dimodul sensor PIR ini mampu menyaring panjang
gelombang sinar infrared pasif antara 8 sampai 14 mikrometer
3. Pyroelectric Sensor
Material pyroelectric bereaksi menghasilkan arus listrik karena
adanya energi panas yang dibawa oleh inframerah pasif.
Prosesnya hampir sama seperti arus listrik yang terbentuk
ketika sinar matahari mengenai solar sel.
4. Amplifier
Sebuah sirkuit amplifier yang ada menguatkan arus yang masuk
pada material pyroelectric
5. Comparator
Berfungsi untuk mengkoparasi hasil penguatan oleh amplifier
sehingga penghasilkan output
Pyroelectric pada PIR (passive Infra Red)
Pancaran sinar infrared inilah yang kemudian ditangkap oleh pyroelectric
sensor yang merupakan inti dari sensor PIR ini sehingga menyebabkan
pyroelectric sensor yang terdiri dari gallium nitride, caesium nitrat dan litium
tantalite menghasilkan arus listrik.
Mengapa bias menghasilkan arus listrik ?
Karena pancaran sinar inframerah pasif ini membawa energy panas. Material
pyroelectric bereaksi menghasilkan arus listrik karena adanya energy panas yang di
bawa oleh infrared pasif tersebut. Prosesnya hamper sama seperti arus listrik yang
terbentuk ketika sinar matahari mengenai solar cell